• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tinjauan Aspek Belajar Gerak dan Perkembangan Gerak …. 43

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

3. Tinjauan Aspek Belajar Gerak dan Perkembangan Gerak …. 43

Teori tentang belajar gerak akan sangat dibutuhkan dalam pembinaan prestasi cabang olahraga. “Konsep belajar gerak adalah bagaimana individu belajar tentang ketrampilan gerak dan factor-faktor yang mempengaruhi penampilan fisik, yang dapat memberikan informasi penting terhadap guru pendidikan jasmani, pelatih, dan perancang kurikulum, (Drowatzky 1981: 1).” Seperti yang telah disebutkan bahwa diharapkan kepada para pelaku olahraga hendaknya memahami tentang konsep belajar gerak. Dalam pelaksanaan latihan seorang pelatih harus menyesuaikan dengan subyek yang dilatih, seorang guru pendidikan jasmani juga harus menyesuaikan dengan yang diajar pada saat menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran. Oleh karena itu sangat penting menjadikan teori belajar gerak sebagai landasan utama dalam penerapan kegiatan yang berhubungan dengan aktifitas fisik.

Pembinaan prestasi futsal akan juga dipengaruhi oleh teori belajar gerak. Dalam olahraga futsal memerlukan aktifitas fisik yang cukup kompleks sehingga teori penguasaan gerak membutuhkan perhatian yang cukup serius. Belajar gerak merupakan langkah awal dalam pengusaan keterampilan yang berhubungan dengan gerak tubuh. “Belajar gerak merupakan proses adaptasi dalam bentuk gerak dan respon muscular yang dikembangkan, (Drowatzky 1981: 16).” Jadi dapat disimpulkan bahwa adaptasi bentuk gerak dan respon muscular terhadap karakteristik olahraga futsal akan sangat mendukung dalam pencapaian penguasaan berbagai keterampilan dalam olahraga futsal.

a. Konsep kemampuan gerak (motor ability)

Kajian tentang konsep kemampuan gerak yang relevan dengan aspek gerak permainan futsal yaitu: respon gerak (motor response), pola gerak (motor pattern), dan keterampilan gerak (motor skill). Implementasi dalam permainan

futsal adalah sebagai berikut:

1) Respon gerak (motor response) Drowatzky (1981:16) menyimpulkan:

Tanggapan/respon gerak dapat ditempatkan ke dalam tiga kategori: (a) pergerakan postural, untuk mengatur posisi badan berkenaan dengan gravitasi; (b) lokomotor atau gerak perpindahan memungkinkan seseorang untuk memindah/menggerakkan tubuh/badan atau bagian-bagiannya melalui ruang dan (c) manipulasi, memungkinkan seseorang untuk belajar dan mengendalikan objek. Pola kontak (manipulasi dari objek yang diam) telah dibedakan dari penerimaan dan dorongan (manipulasi dari objek yang bergerak).

Dalam permainan futsal tentu akan memanfaatkan 3 jenis respon gerak yang masing-masing memiliki karakteristik tersendiri seperti tersebut di atas. Keterampilan gerak dalam futsal tentu akan mengakomodasi dari tiga bentuk respon gerak tersebut. Aktifitas fisik yang terdapat dalam futsal sudah menuntut ke arah respon gerak yang lebih kompleks.

Dari kesimpulan respon gerak di atas terdiri-dari 3 respon gerakan yang disimpulkan peneliti, yaitu:

(1). Gerakan postural adalah gerakan yang merupakan penyesuaian dari tubuh menyeluruh untuk mengatur tubuh dalam merespon grafitasi dan akselerasi, misalnya: posisi siap pemain saat akan menerima

pass-commit to user

ing dan posisi awal pemain saat akan melakukan shooting maupun heading.

(2). Gerakan transport atau lokomotor gerakan yang dapat menjadikan seseorang untuk menjelajah ruang, misalnya: gerakan pemain melakukan dribbling.

(3). Gerakan manipulatif adalah respon gerak yang melibatkan benda ter-tentu sebagai obyek yang dimanipulasi, misalnya: gerakan melakukan shooting, dribling, passing dan heading.

2) Pola gerak (motor pattern)

Pola gerak adalah tanggapan umum dengan jenis dan penerapan pada bidang aktivitas berbeda, yang digunakan untuk tujuan yang luas di dalam gerak tubuh. ”Ketrampilan gerak adalah tanggapan gerak spesifik, yang terbatas dalam variabilitas dan applicabilitas, yang mana dikembangkan untuk menghasilkan pergerakan spesifik di dalam aktivitas tertentu, (Drowatzky 1981: 16).” Jadi dapat disimpulkan bahwa pola gerak dari masing-masing individu akan sangat mempengaruhi dalam penguasaan keterampilan bermain futsal karena penerapan pola tersendiri harus dapat diterapkan pada aktifitas yang berbeda yang nantinya akan menghasilkan keterampilan gerak yang dalam hal ini keterampilan bermain futsal.

3) Keterampilan gerak (motor skill)

Keterampilan gerak dapat diklasifikasi dari berbagai sudut pandang yaitu berdasarkan kecermatan gerakan, berdasarkan titik dan awal gerakan, berdasarkan stabilitas lingkungan dan berdasarkan kompleksitas gerakan.

 Ketrampilan gerak kasar (Gross Motor Skills)

”Gerak yang memerlukan interaksi dari banyak otot dengan aktivitas badan/tubuh pada umumnya, seperti lari, menangkap, melemparkan dan ketrampilan menggunakan raket, (Drowatzky 1981: 16).” Unsur-unsur keterampilan gerak kasar yang juga terdapat dalam olahraga futsal yang terdapat dalam teknik-teknik dasar maupun strategi permainan futsal seperti passing, heading shooting, dribbling, dan the goalkeeper catching and deflecting.

 Keterampilan gerak halus (Fine Motor Skills)

”Ketrampilan gerak yang baik melibatkan otot yang kecil baik lengan maupun kaki dan digunakan di dalam latihan terbatas, (Drowatzky 1981:16).” Keterampilan gerak halus ini lebih cenderung melibatkan anggota ekstremitas gerak pada tubuh. Dalam olahraga futsal, peranan ekstremitas anggota gerak tubuh sangat dominan sehingga membutuhkan keterampilan gerak halus dalam penunjang keterampilan gerakanya. b) Klasifikasi gerak berdasarkan titik dan awal gerakan

Drowatzky (1981: 16) menyimpulkan:

Gerak diskrit adalah peristiwa tunggal dengan suatu permulaan dan akhir yang digambarkan secara jelas. Gerak serial mempunyai suatu permulaan dan akhir yang terbatas tetapi berkombinasi dengan beberapa gerakan individu yang mengikuti satu sama lain dalam urutan yg cepat. Gerak dengan peristiwa stimulus berlanjut (seperti menggiring bola) dan perulangan, mendekati respon serupa yang berlanjut.

Dari sudut pandang bisa ditandai pada bagian mana merupakan awal gerakan dan pada bagian mana merupakan akhir dari pada gerakan. Hal ini dapat diklasifikasikan menjadi 3 macam, yaitu:

commit to user

(1). Keterampilan diskrit adalah keterampilan gerak yang dengan mudah ditandai awal dan akhir dari gerakan, contohnya: gerakan passing bola, haeding bola dan shooting bola.

(2). Keterampilan gerak serial adalah keterampilan gerak diskret yang dilakukan berulang-ulang, contohnya: menggiring bola.

(3). Keterampilan kontinyu adalah keterampilan gerak yang merupakan rangkaian gerakan yang dilakukan secara berlanjut, contoh pada gerakan berenang. Pada cabang olahraga futsal, gerakannya termasuk klasifikasi gerak diskrit dan serial sedangkan kontinyu tidak ada.

c) Klasifikasi gerak berdasarkan stabilitas lingkungan

 Keterampilan gerak tertutup (close skill) adalah keterampilan gerak yang dilakukan pada lingkungan yang stabil dan dapat diprediksi, dilakukan karena stimulus dari diri perilaku tanpa dipengaruhi stimulus dari luar. Misalnya berjalan, berlari, melempar, melompat.

 Keterampilan gerak terbuka (open skill) adalah keterampilan gerak yang dilakukan dalam kondisi lingkungan yang berubah-ubah, dilakukan selain karena dari dalam juga dipengaruhi oleh stimulus dari luar.

Permainan futsal ditinjau dari klasifikasi gerak berdasarkan stabilitas lingkungan termasuk keterampilan gerak terbuka (open skill) karena gerakan yang ada pada futal ditimbulkan adanya stimulus dari dalam dan juga dipengaruhi stimulus dari luar, misalnya pemain melakukan kick off maupun tendangan bebas yang dipengaruhi stimulus dari luar yaitu peluit wasit dan posisi lawan.

d) Klasifikasi gerak berdasarkan kompleksitas gerakan

 Keterampilan gerak sederhana, adalah keterampilan gerak yang hanya terdiri atas 1 atau 2 elemen gerak saja. Misanya menangkap bola, melempar bola dan menendang bola.

 Keterampilan gerak kompleks, adalah keterampilan gerak yang terdiri atas elemen gerak yang dikoordinasikan menjadi satu rangkaian gerakan. Misalnya menyemes bolavoli, menyundul bola, menembak ke ring basket dan rangkaian gerak senam lantai

Permainan futsal ditinjau dari klasifikasi gerak berdasarkan kompleksitas rangkaian gerakan termasuk keterampilan gerak kompleks karena gerakan dalam futsal terdiri dari beberapa elemen gerakan. Misalnya pemain saat melakukan heading, teknik dasar heading terdiri dari elemen gerak awalan, tolakan, sundulan,

dan pendaratan. 4) Respon fisik

”Suatu respon fisik mempunyai dua tahap, yaitu tahap persiapan/awalan dan tahap penyelesaian, (Drowatzky 1981: 16).” Tahap-tahap dalam respon fisik dapat dijelaskan sebagai berikut:

a) Tahap persiapan/awalan

Seorang atlet akan mempersiapkan dirinya (posisi tubuhnya) apabila akan melaksanakan suatu gerakan. Dalam hal ini adalah tahapan awalan dari suatu pelaksanaan keterampilan. Dapat dicontohkan secara nyata dalam futsal yaitu pada saat pemain futsal akan melakukan heading dan shooting. Sikap ataupun gerakan awalan dari gerakan tersebut merupakan tahapan persiapan dari respon fisik.

commit to user b) Tahap penyelesaian

Dapat dikategorikan masuk ke dalam tahap ini apabila seluruh rangkaian gerakan dari suatu keterampilan olahraga telah dilakukan. Dalam olahraga futsal dapat dicontohkan, yaitu pada saat pemain setelah melakukan awalan loncatan melakukan sundulan terhadap bola ke gawang lawan dan setelah itu melakukan gerakan pendaratan. Sikap ataupun gerakan pelaksanaan dan akhir dari gerakan tersebut merupakan tahap penyelesain dari respon fisik.

Berdasarkan beberapa teori dasar belajar gerak yang dikemukakan, dapat disimpulkan bahwa pembinaan serta pemberian latihan untuk pengusaan keterampilan bermain futsal harus berlandaskan pada teori tersebut. Hal ini dikarenakan bahwa setiap individu akan melalui tahapan-tahapan belajar gerak dalam jenjang kehidupannya. Tahapan ini akan dilewati untuk menuju pada pembentukan gerakan yang akan semakin lebih baik pada masing-masing individu disetiap urutan jenjang hidup. Oleh karena itu penerapannya sangat dibutuhkan untuk pembelajaran maupun pembinaan khususnya pada usia dini.

Selanjutnya aplikasi dari teori untuk mengetahui penguasaan beberapa komponen belajar gerak tersebut dalam pembinaan, baik pembinaan prestasi maupun penguasaan keterampilan, pada tahap awal dapat dilakukan dengan identifikasi keberbakatan (talent scouting). Hal ini sangat penting dilakukan karena dapat digunakan untuk pengelompokan individu berdasarkan keberbakatan yang dimiliki dalam dunia olahraga. Demikian pula manfaatnya terhadap pembinaan prestasi olahraga futsal. Apabila seorang individu telah diketahui

commit to user

bahwa memiliki tingkat dominansi keberbakatan dalam futsal maka akan sangat memudahkan dalam upaya pembinaan prestasi.

b. Komponen Gerak yang Efisien

Drowatzky (1981) mengemukakan suatu skema yang menggambarkan komponen-komponen penting yang membentuk gerakan yang efisien yaitu terdiri dari komponen fitness dan kemampuan gerak (fitness and motor abilities), ke-mampuan mengindera (sensori abilities), dan proses-proses perceptual (perceptu-al processes). D(perceptu-alam permainan futs(perceptu-al komponen-komponen tersebut

digam-barkan dalam 3 lingkaran seperti dibawah ini.

KEBUGARAN DAN KEMAMPUAN GERAK

Gambar 2. 19. Komponen-komponen dari gerakan yang efisien

Penglihatan Kinestetis Pendengaran Sentuhan Propriosepsi Kesadaran tubuh Persepsi Kedalaman Konstansi Rencana Gerak Kesadaran spasial Pemorosesan informasi Kesadaran temporal Kekuatan Ketahanan Waktu Reaksi Koordinasi Keseimbangan Kecepatan Kelincahan Fleksibilitas Fleksibilitas KEMAPUAN SENSORI PROSES PERSEPTUAL GERAKAN EFISIEN

commit to user c. Proses Belajar Gerak

Fase Belajar Gerak Menurut Fits dan Posner 1) Fase kognitif atau fase awal

Fase kognitif merupakan fase awal dalam belajar gerak keterampi-lan. Pada fase kognitif pelajar berusaha memahami ide atau konsep gerakan melalui mendengarkan penjelasan atau melihat contoh gerakan. Agar pelajar benar-benar memahami tentang konsep gerakan yang diberikan guru atau pelatih dalam memberikan contoh gerakan harus jelas dan intruksi verbal juga harus jelas pula.

2) Fase asosiatif atau fase menengah

Dalam fase ini konsep gerak keterampilan yang difahami pada fase kognitif kemudian dicoba untuk dilaksanakan dalam praktik. Konsep gerak yang kemudian menjadi rencana gerak, yang ada di dalam fikiran dicoba untuk dipraktikkan dalam wujud gerakan tubuh.

3) Fase otonom atau fase akhir

Fase ini merupakan puncak keterampilan gerak dimana pelajar mampu melakukan gerakan keterampilan secara otonom dan otomatis. Fase otonom ini dalam permainan futsal dicontohkan pada saat menggiring bola.

Berdasarkan beberapa teori dasar belajar gerak yang dikemukakan, dapat disimpulkan bahwa pembinaan serta pemberian latihan untuk pengusaan keterampilan bermain futsal harus berlandaskan pada teori terse-but. Hal ini dikarenakan bahwa setiap individu akan melalui tahapan-tahapan belajar motorik dalam jenjang kehidupannya. Tahapan ini akan dilewati untuk menuju pada pembentukan gerakan yang akan semakin lebih baik pada

mas-commit to user

ing-masing individu disetiap urutan jenjang hidup. Oleh karena itu penera-pannya sangat dibutuhkan untuk pembelajaran maupun pembinaan khususnya pada usia dini.

d. Perkembangan Gerak

Perkembangan gerak manusia adalah komponen penting dalam pemberian latihan. Faktor-faktor yang berhubungan dengan karakteristik pertumbuhan serta perkembangan individu dapat di dasarkan pada pola-pola gerak yang harus dilakukan oleh individu pada setiap rentang usia. Sehingga di dapatkan suatu relevansi antara program yang dilaksanakan dengan tujuan yang ingin di capai. pembinaan prestasi cabang olahraga futsal ditinjau dari karakteristik pertumbuhan dan perkembangan individu merupakan hal yang sangat fundamental sehingga wajib diperhatikan oleh para praktisi olahraga, baik tenaga pengajar, penyusun program, maupun pelatih. Kemudian untuk menyesuaikan pemberian latihan maka dikelompokkan berdasarkan rentang usia yang didasarkan pada aktifitas-aktifitas fisik yang diperlukan.

Peningkatan kemampuan dan keterampilan bermain futsal dipengaruhi oleh beberapa faktor. Aspek-aspek yang terkait dalam pembinaan prestasi olahraga diantarnyan meliputi:

1) Aspek fisik 2) Aspek teknik 3) Aspek taktik

4) Aspek mental. (Harsono, 1988).

commit to user

Sneyers (1998: 21) mengatakan ” latihan yang diberikan haruslah berbobot, bermutu, sistematis dan bertujuan”. Jadi latihan yang diberikan untuk pemain haruslah teratur, terus-menerus, dan sistimatis.

1) Tingkatan Penguasaan Berdasarkan Usia Kronologis a) Atlet Futsal Pemula

Usia 9-12 tahun merupakan awal mula program pembinaan prestasi dapat diberikan karena fungsi-fungsi tubuh dari individu mulai berjalan dengan baik. Ditinjau dari usia pemula 10-12 tahun menurut teori perkembangan dan pertumbuhan adalah fase anak besar. Anak besar adalah anak yang berusia antara 6 sampai 12 tahun. Perkembangan fisik pada anak besar cenderung berbeda dengan masa sebelum dan sesudahnya. Pertumbuhan tangan dan kaki lebih cepat dibandingkan pertumbuhan togok.

Pada anak besar mengalami perkembangan kemampuan gerak yaitu berupa perkembangan koordinasi gerak, dan perkembangan penguasaan gerak dasar. Perkembangan koordinasi gerak pada anak besar mulai tampak, terlihat dari keterampilan pelaksanaan gerak tertentu, misalnya keterampilan memegang, memukul, melempar, menangkap, memantul-mantulkan bola, berjengket, dan berbagai gerakan mengubah posisi tubuh secara cepat. Di dalam melakukan berbagai gerak keterampilan tersebut, pada umumnya anak-anak mengalami peningkatan secara berangsur-angsur. Perkembangan koordinasi gerak tubuh merupakan kunci perkembangan penguasaan berbagai macam gerak keterampilan.

Pemusatan latihan fisik tidak dilakukan pada masa pemula yang notabennya adalah anak-anak karena faktor pertumbuhan yang masih rentan. Russel (1992) menyatakan, ”pertimbangan tesebut berasal dari kenyataan bahwa rangka si anak belum matang dan sedang mengalami pertumbuhan yang pesat. Selama periode ini rangka tersebut rawan terhadap cidera yang jika tidak didiagnosis dan tidak diperlakukan dengan tepat dapat menyebabkan kerusakan yang tetap”. Pertimbangan ini hendaknya menjadi acuan, agar lebih hati-hati dalam memberikan program latihan untuk para usia pemula.

b) Atlet Futsal Tahap Spesialisasi

Ditinjau dari usia pemula 11-13 tahun, menurut teori perkembangan dan pertumbuhan adalah fase adolesensi. Masa adolesensi merupakan masa transisi atau peralihan dari masa anak-anak menjadi dewasa. Menurut Sugiyanto (1998: 9) “masa adolesensi untuk perempuan yaitu usia 10 sampai 18 tahun, laki-laki usia 12 samapi 20 tahun”. Usia latihan berdasarkan teori perkembangan dan pertumbuhan tersebut, sama halnya yang disebutkan oleh Harsono (1988: 111), “tahap spesialisasi dimulai pada umur 11-13 tahun dan tahap prestasi top dimulai pada usia 18-24 tahun”.

Ukuran dan proporsi tubuh pada anak laki-laki adolesensi meningkat ke arah berotot terutama pada anggota badan, peningkatan tersebut untuk anak laki-laki berlangsung dengan cepat terutama menjelang dewasa. Pada masa adolesensi sistem reproduksi mencapai taraf kematangan. Sugiyanto (1998: 177), menyatakan “di daerah panas (khatulistiwa) cenderung lebih cepat terjadinya kematangan reproduksi pertama dibanding dengan daerah

commit to user

dingin (utara atau selatan)”. Espenchade and Heler (1980: 56), menyatakan “Iklim merupakan salah satu faktor lingkuangan jangka panjang yang menyumbang terjadinya perbedaan rasial. Usia rata-rata menarse (pubertas awal) Afro-Amerika pada usia 12,5 tahun, Eropa pada usia 12,8 tahun. Asia cenderung tempo pertumbuhan sama dengan Afrika terutama pada anak besar. Tempo pertumbuhan lebih cepat untuk Afrika dibanding Eropa dalam kematangan skeletal dan perkembangan gerak”.

c) Atlet Futsal Top Performance

Ditinjau dari usia top performance 18-24 tahun, menurut teori perkembangan dan pertumbuhan adalah fase dewasa muda. Menurut Gunarsa (1995), “usia 18-21 tahun merupakan tahap remaja lanjut”. Masa dewasa merupakan periode dimana tidak terjadi lagi perubahan karena faktor pertumbuhan setelah masa adolesensi yang mengalami pertumbuhan cepat. Peningkatan kemampuan fisik masa dewasa bukan lagi merupakan peningkatan yang dihasilkan proses oleh pertumbuhan yang menyertai bertambahnya usia, tetapi merupakan hasil dari pengalaman dan latihan yang dilakukan secara teratur mulai dari anak-anak hingga menginjak akhir adolesensi. Sugiyanto (1998: 210), “pada masa muda merupakan puncak dari kemampuan fisik, seperti kecepatan, kekuatan, tenaga, dan kegiatan yang memerlukan kelenturan. Umur puncak kecepatan terjadi pada umur 20 tahun, kekuatan pada umur 30 tahun, dan daya tahan berlangsung pada umur sekitar 40 tahun.

Normalnya pria di usia ini memiliki badan yang lebih panjang dengan rongga dada lebih besar menjadikan kapasitas vital lebih besar pula.

Kapasitas vital yang lebih besar meningkatkan kemampuan fungsi pernafasan yang berarti meningkatkan kemampuan fungsi pernafasan yang berarti meningkatkan kemampuan fungsi kardiovaskuler. Mulai usia anak-anak sampai umur 20 tahun daya tahan kardiovaskuler meningkat dan mencapai maksimal sampai umur 30 tahun. Anggota badan bagian atas maupun bawah pria biasanya juga lebih panjang sehingga menghasilkan daya ungkir yang lebih besar.

Akan tetapi terjadi pembesaran badan karena perimbangan volume jaringan otot dan lemak tubuh yang dapat meningkat karena faktor latihan fisik dan gizi yang dikonsumsi. Sebelum usia 25 tahun terjadi kenaikan daya tahan otot secara teratur. Daya ungkit yang besar dapat memberikan kekuatan yang lebih besar dan dapat melakukan gerakan lebih cepat. Apalagi didukung oleh pundak (bahu) yang lebih besar dengan otot-otot yang kokoh. Sugiyanto (1998: 212) menyatakan, “kekuatan maksimal untuk pria maupun wanita umumnya dicapai pada usia 25 tahun samapai 30 tahun, tetapi pada pria ada yang sudah mencapai kekuatan maksimal pada usia 21 tahun”.

2) Tingkatan Penguasaan Berdasarkan Struktur Latihan

Selain pengelompokkan berdasarkan pada usia kronologis dan fase pertumbuhan serta perkembangan, penguasaan keterampilan atau pembinaan prestasi futsal dapat dilakukan dengan mengelompokkan berdasarkan struktur latihannya. Dalam periode yang panjang ini akan dibagi menjadi:

commit to user a) Atlet Tahap Latihan Dasar atau Pemula

Dalam tahap ini penentuan awal usia dan tipe latihan sangat penting. Hal ini bertujuan untuk menentukan kelompok untuk anak-anak dapat dimasukkan. Namun cenderung lebih rumit dalam penentuannya. Pada fenomena yang terjadi di lapangan banyak sekali ditemukan anak yang dilatih mulai usia 5 tahun dan sebelum memasuki awal mula usia untuk pembinaan prestasi, anak tersebut sudah mulai menjadi juara anak-anak.

Namun yang paling penting dalam tahapan ini adalah dimana pengembangan kapasitas fisik dari masing-masing individu. Seperti disimpulkan Nossek (dalam Furqon 1995: 129) menyatakan bahwa, ”tahap ini dapat mengembangkan kapasitas fisik yang lainnya seperti: keterampilan dasar, pola, pengalaman gerak yang berbeda-beda.” Keterampilan gerak yang diberikan masih dala bentuk kasar sehingga penting untuk melatih konsentrasi, kemauan serta identifikasi afektif.

b) Atlet Tahap Pembinaan atau Intermediate

Tahap ini berlangsung dua tahun setelah latihan dasar. Penguasaan keterampilan, pada tahap ini sudah setingkat lebih baik dari tahap pemula. Nossek (dalam Furqon 1995: 129-130) menyimpulkan: (1) Melanjutkan pengkondisian umum, tetapi lebih diarahkan pada pengkondisian khusus untuk event tertentu, (2) perbaikan kemampuan koordinasi, contohnya koordinasi halus dari gerakan-gerakan yang berkaitan dengan keterampilan gerak yang lebih sulit dan perbedaan-perbedaannya, (3) Taktik dan juga pengembangan komponen kognitif yang lebih penting yang harus ditransfer ke dalam latihan dan kompetisi.

Penekanan utamanya diarakan pada pengembangan yang diarahkan pada tujuan. Kegiatan-kegiatan latihannya mengarah pada pengkondisian terhadap penguasaan keterampilan. Gerakan-gerakan yang diberikan sudah lebih halus dibandingkan dengan tingkatan pemula. Penguatan tingkat koordinasi lebih diutamakan terkait dengan gerakan-gerakan yang diberikan. Pemberian materi latihan masih mengarah pada teknik dan fisik. Namun taktik juga dapat diberikan tetapi hanya pada pengkondisian pengembangan komponen kognitif.

c) Atlet Tahap Penampilan Puncak atau Lanjut

Tujuan dari tahap ini adalah untuk mencapai penampilan prestasi yang setinggi mungkin dan mempertahankan tingkatan kemampuannya selama mungkin. Nossek (dalam Furqon 1995: 130) menyimpulkan: (1) Kelanjutan penguasaan keterampilan gerak yang diperlukan, kestabilannya di bawah kondisi pertandingan yang berbeda-beda dan pengembangan gaya perorangan, (2) perbaikan kondisi tubuh yang paling tinggi, (3) pengalaman berkompetisi yang beragam, (4) keluwesan taktik dan kemandirian dalam mengatasi atau menghadapi situasi kompetisi yang beragam, (5) kebutuhan standar tekad dan semangat yang etinggi mungkin agar dapat mencapai penampilan puncak.

Pada tahap ini atlet akan dituntut berprestasi setinggi mungkin. Pemberian materi latihan akan menjadi yang paling berat pada tahapan ini. Penguasaan keterampilan sudah berada pada tingkatan yang sangat kompleks. Kondisi tubuh sudah terjaga dengan baik dan pengalaman yang banyak serta kapasitas psikologis yang sudah cukup terlatih dengan baik. Kompleksitas

commit to user

materi latihan menjadi sangat diutamakan karena tuntutan akan pencapaian prestasi serta tingkatan kemampuan yang berada pada tingkatan paling tinggi.

Pada penelitian ini, peneliti akan membahas tentang pengembangan model latihan strategi serangan pada pemain futsal tingkat intermediate. Sehingga penyusunan program latihannya akan disesuaikan dengan karakteristik pemain pada tahap intermediate. Penyusunan model latihannya didasarkan pada kemampuan serangan dikarenakan pada cabang olahraga futsal memerlukan kondisi fisik dan keterampilan penuh. Penyusunan model latihan juga mempertimbangkan usia fase pertumbuhan dan perkembangan dimana subyek penelitian berada pada fase adolesensi akhir.

Tinjauan mengenai perkembangan sangat penting dalam menunjang pemberian latihan. Berbagai karakter individu yang bersifat homogen tentu membutuhkan perhatian yang khusus. Tingkatan pertumbuhan dan

Dokumen terkait