• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA Kolaborasi Perawat-Dokter

Dalam dokumen Perilaku Caring Perawat dan Kepuasan Pas (Halaman 58-64)

DI RSUP H ADAM MALIK MEDAN

TINJAUAN PUSTAKA Kolaborasi Perawat-Dokter

kali dibahas dikalangan pelayan kesehatan khususnya keperawat an. Namun pelaksanaan praktik kolaborasi perawat-dokter jarang dipraktikkan dengan baik, hal ini disebabkan kurangnya definisi bersama mengenai kolaborasi perawat-dokter, kompleksitas dari kolaborasi, dan ketrampilan yang diperlukan untuk memfasilitasinya (Gardner, 2005).

Kepuasan kerja merupakan sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia. Pada dasarnya kepuasan kerja merupakan hal yang bersifat individual. Setiap individu akan memiliki tingkat kepuasan yang berbeda-beda sesuai dengan sistem nilai-nilai yang berlaku pada dirinya.

TINJAUAN PUSTAKA Kolaborasi Perawat-Dokter

Kolaborasi perawat-dokter digambar kan sebagai suatu hubungan kerja sama yang dibangun berdasarkan rasa saling percaya, rasa hormat dan kekuasaan serta memahami pentingnya peran masing-masing anggota tim dan mampu bertindak dalam situasi kesehatan stres tinggi, kolegialiti dan komunikasi ( Messmer, 2008). Praktek kolaboratif yang kuat memberikan kepuasan untuk pelayanan yang berkualitas tinggi, hemat biaya perawatan pasien tetapi juga untuk profesional perawat dan dokter. Untuk membangun komunikasi dan kolaborasi antara dokter dan perawat perlu dilakukan beberapa cara (LeTourneau, 2004) yaitu:

1. Melibatkan dokter dalam memberikan pendidikan berkelanjutan bagi perawat, keduanya dikelas secara resmi juga secara informal dalam pengaturan pekerjaan.

2. Kembangkan kelompok kolaboratif perawatan di- mana perawat-dokter bertemu dan membahas perba- ikan perawatan dalam bidang mereka.

3. Libatkan dokter dan perawat dalam melakukan anali- sis akar penyebab dan kegagalan, mode, dan efek. 4. Menunjuk perawat melayani di Komite-komite kunci staf medis seperti kredensial, kualitas, atau Komite Eksekutif medis. Tugas ini melambangkan bahwa Anda menghargai dan menghormati perawat. 5. Memilih dokter dan pemimpin staf medis untuk

duduk di Komite praktek Keperawatan.

Thomas Jefferson University, Philadelphia, Pennsyl- vania, USA mengembangkan sebuah skala yang diguna- kan untuk mengukur kolaborasi perawat-dokter yaitu The Jefferson Scale of Atitudes toward Physician-Nurse Collaboration (JSAPNC). Skala ini digunakan untuk mengidentifikasi sikap perawat dan dokter terhadap kolaborasi perawat-dokter di rumah sakit. Ada empat faktor utama yang dibandingkan antara kelompok dokter dan perawat menggunakan JSAPNC yaitu: 1) Berbagi

pendidikan dan kolaborasi (shared education and

collaboration), 2) Merawat vs menyembuhkan (Caring

vs curing), 3) Otonomi perawat (Nurse’s autonomy) dan 4) Otoritas dokter (Physician’s authority) (Ward, Schaal, Sullivan, Bowen, Erdmann, & Hajat, 2008).

Nilai yang tinggi pada faktor “berbagi pendidikan dan kolaborasi” menunjukkan sebuah orientasi yang lebih besar ke arah pendidikan interdisiplinari dan kola- borasi interprofesional. Nilai yang tinggi pada faktor “ merawat lawan menyembuhkan/caring lawan curing” menunjukkan pandangan yang lebih positif akan kontri- busi perawat terhadap aspek psikososial dan pendidikan pasien. Nilai yang tinggi pada faktor “otonomi perawat” menunjukkan persetujuan yg lebih terhadap keterlibatan perawat dalam membuat keputusan tentang perawatan pasien dan kebijakan. Nilai yang lebih tinggi pada faktor “otoritas dokter” menunjukkan penolakan terhadap peran dominasi total dokter dalam aspek pelayanan pasien (Sterchi, 2007).

Kepuasan Kerja Dokter

Kepuasan kerja adalah adanya reaksi emosional positif seseorang dalam memandang pekerjaannya sebagai hasil interaksi daya lingkungan kerja (Nurhayani, 2006). Untuk banyak dokter, kepuasan kerja bergantung pada hubungan yang baik dengan staf dan kolega, kontrol waktu , sumber daya yang memadai, dan otonomi klinis (Williams, dkk., 2003 dalam Leary, dkk., 2009).

Lichtenstein (1984) menjelaskan bahwa ada tiga faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja dokter yaitu :1 ) tenaga perawat yang cakap dan terampil, 2) perawat harus mampu meyelesaikan tugas-tugas yang didele- gasikan dokter dengan baik, 3) perawat harus mampu menyelesaikan tugas rutin klinis seperti mengukur tekanan darah, mengukur suhu, dan lain-lain. Seibolt dan Walker dalam Misener et al, ( 1996 ) mengatakan bahwa sikap perawat yang mampu dan mengerti apa yang seharusnya

dikerjakandan mengerjakannya tidak dalam keadaan

terpaksa merupakan elemen kunci untuk membina

hubungan dengan dokter. Jika hubungan tersebut berjalan dengan baik akan membuat pekerjaan lebih efektif dan

efisien sehingga pada akhirnya akan menimbulkan

kepuasan terhadap pekerjaan yang akan dilakukan.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain penelitian deskriptif korelasi. Lokasi penelitian di RSUP H.Adam Malik Medan, pengambilan data dilakukan pada bulan Mei sampai awal bulan juni 2013. Responden dalam penelitian ini adalah dokter spesialis 140 orang dan ners 127 orang. Pengambilan sampel

dokter spesialis menggunakan teknik simple random

sampling.

Sikap ners & dokter spesialis tentang kolaborasi perawat-dokter diukur menggunakan skala:The Jefferson Scale of Atitudes toward Physician-Nurse Collaboration (JSAPNC) (Ward, Schaal, Sullivan, Bowen, Erdmann, dan Hojat, 2008). Kepuasan kerja dokter spesialis diukur

Program Studi Magister Ilmu Keperawatan Universitas Sumatera Utara

| 116

Sikap Ners & Dokter Spesialis tentang Kolaborasi Perawat – Dokter dan Kepuasan Kerja Dokter Spesialis di RSUP H. Adam Malik Medan

dan dikembangkan berdasarkan ide Lichtenstein (1984) dan Seibolt dan Walker (1996).

Statistik yang digunakan adalah analisis bivariat

menggunakan tehnik uji korelasi pearson product

moment. Content validity indeks (CVI) kuesioner kepuasan kerja dokter spesialis didapat adalah 0.94. Uji reliabilitas didapat hasil reliabilitas Cronbach’s Alpha 0.951.

HASIL PENELITIAN

Sikap Ners tentang Kolaborasi Perawat-Dokter

Sikap ners tentang kolaborasi didapatkan Mean Total = 54.13. Faktor kolaborasi berbagi pendidikan dan kolaborasi (shared education and collaboration)/ F1 didapatkan Mean = 25.39. Faktor kolaborasi merawat vs menyembuhkan (Caring vs curing)/ F2 didapatkan Mean = 11.30. Faktor kolaborasi Otonomi perawat (Nurse’s autonomy)/ F3 didapatkan Mean = 10.98. Faktor kolaborasi otoritas dokter (Physician’s authority)/ F4 didapatkan Mean = 6.46. Sikap ners tentang kolaborasi dan faktor-faktor yang mempengaruhinya dapat dilihat pada Table 1.

Sikap Dokter Spesialis tentang Kolaborasi Perawat- Dokter

Sikap dokter spesialis tentang kolaborasi didapatkan Mean Total = 47.79. Faktor kolaborasi berbagi pendidikan dan kolaborasi (Shared education and collaboration)/ F1 didapatkan Mean = 22.70. Faktor kolabo rasi merawat vs menyembuhkan (Caring vs curing)/ F2 didapatkan Mean = 10.20. Faktor kolaborasi Otonomi perawat (Nurse’s autonomy)/ F3 didapatkan Mean = 10.71. Faktor kolaborasi otoritas dokter (Physician’s authority)/ F4 di dapatkan Mean = 4.18. Sikap dokter spesialis tentang kolaborasi perawat-dokter dapat dilihat pada table 2.

Kepuasan Kerja Dokter Spesialis

Kepuasan kerja dokter spesialis berdasarkan faktor kecakapan dan ketrampilan perawat yang pernah bekerja sama dengan dokter spesialis (F1) didapatkan 56.4% merasa puas, pada faktor kemampuan perawat dalam menyelesaikan tugas delegasi dokter (F2) didapatkan 50% merasa puas, pada faktor kemampuan perawat dalam menyelesai kan tugas rutin klinis (F3) didapatkan 51.4% merasa puas, pada faktor kepribadian dan keramahan perawat yang pernah bekerja sama dengan dokter spesialis (F4) didapatkan 50.7% merasa puas, dan pada faktor kemampuan perawat dalam berkomunikasi (F5) didapatkan 50.7% merasa tidak puas. Distribusi ini dapat dilihat pada Table 3. Kepuasan kerja dokter spesialis dalam kinerja perawat didapatkan 52.1% merasa tidak puas dan dapat dilihat pada Table 4.

Hubungan antara Sikap Dokter Spesialis tentang Kolaborasi Perawat Dokter dengan Kepuasan Kerja Dokter Spesialis.

Hasil penelitian ini menunjukkan ada hubungan antara sikap dokter spesialis tentang kolaborasi perawat-dokter dengan kepuasan kerja dokter spesialis.

Didapat nilai p kurang dari • dimana pvalue 0.009 dan • = 0.05 dan kekuatan hubungan korelasi (r) 0.219 berarti hubungan kedua variabel adalah lemah (0.00 – 0.25) dapat dilihat pada Table 5.

Table 3. Distribusi Kepuasan Dokter Spesialis berda- sarkan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya (n = 140)

% 43.6 50.0 48.6 49.3 50.7 f 61 70 68 69 71 % 56.4 50.0 51.4 50.7 49.3 f 79 70 72 71 69 Faktor-faktor

1. Kecakapan dan ketrampilan perawat 2. Kemampuan perawat dalam meyele-

saikan tugas delegasi dokter 3. Kemampuan perawat dalam menyele-

saikan tugas rutin klinis

4. Kepribadian dan keramahan perawat yang pernah bekerja sama dengannya 5. Kemampuan perawat dalam

berkomunikasi

Puas Tidak Puas F-4 Otoritas dokter Range (2-8) 4.18 F-3 Otonomi perawat Range (3-12) 10.71 F-2 Merawat vs menyem- buhkan Range (3-12) 10.20 F-1 Berbagi pendidikan & kolaborasi Range (7-28) 22.70 Mean total Score Range (15-60) 47.79 Disiplin Ilmu Dokter Spesialis

Tabel 2. Sikap Dokter Spesialis tentang Kolaborasi Perawat-Dokter (n = 140) F-4 Otoritas dokter Range (2-8) 6.46 F-3 Otonomi perawat Range (3-12) 10.98 F-2 Merawat vs menyem- buhkan Range (3-12) 11.30 F-1 Berbagi pendidikan & kolaborasi Range (7-28) 25.39 Mean total Score Range (15-60) 54.13 Disiplin Ilmu Ners

Tabel 1. Sikap Ners tentang Kolaborasi Perawat-Dokter (n=127) % 47.9 52.1 f 67 73 Puas Tidak Puas

Table 4. Kepuasan kerja Dokter Spesialis dalam Kinerja Perawat (n=40)

PEMBAHASAN

Sikap Ners tentang Kolaborasi Perawat-Dokter

Hasil Penelitian menunjukkan bahwa sikap ners lebih positif tentang kolaborasi perawat-dokter (54.13). Pendidikan ners mengakibatkan peningkatan wawasan perawat di RSUP H. Adam Malik khususnya sikap mereka tentang kolaborasi perawat-dokter. Hasil temuan peneliti sebelumnya menyebutkan adanya perbedaan sikap tentang kolaborasi perawat-dokter berkaitan dengan peningkatan pengetahuan umum perawat, peran dan pemanfaatan melalui berbagai pengaturan dan spesialisasi (Sterchi, 2007; Nelson, King, & Brodine, 2008; Jones & Fitzpatrick, 2009; Tailor, 2009; Maxson, Dozois, Holubar, Wrobleski, Dube, Klipfel, dkk., 2011; ).

Hasil penelitian ini sesuai juga dengan hasil penelitian yang didapat oleh Jones dan Fitzpatrick (2009) yang melakukan penelitian sikap perawat anestesi dan dokter anestesi. Temuannya menunjukkan sikap perawat anestesi terhadap kolaborasi perawat-dokter lebih positif. Sterchi (2007) menemukan adanya perbedaan yang signifikan antara sikap perawat dan dokter terhadap kolaborasi perawat-dokter dalam pengaturan perioperatif. Taylor (2009) juga menemukan sikap yang lebih positif pada perawat anestesi tentang kolaborasi perawat-dokter. Pada faktor berbagi pendidikan dan kolaborasi (Shared education and collaboration) didapatkan sikap ners lebih positif (25.39). Hal ini menunjukkan ners mempunyai kontribusi yang besar ke arah pendidikan interdisiplin dan kolaborasi interprofesional.

Pada faktor merawat vs menyembuhkan (Caring vs curing ) didapatkan sikap ners lebih positif (11.30). Hal ini menunjukkan pandangan ners lebih positif terhadap aspek psikososial dan pendidikan pasien.

Pada faktor otonomi perawat (Nurse’s autonomy) didapatkan sikap ners lebih positif (10.98), hal ini menunjukkan persetujuan ners untuk lebih dilibatkan dalam membuat keputusan tentang perawatan pasien dan kebijakan.

Pada faktor otoritas dokter (Physician’s authority) didapatkan sikap ners lebih positif (6.46). Hal ini menun- jukkan penolakan ners terhadap peran dominasi total

Sikap Dokter Spesialis tentang Kolaborasi Perawat- Dokter

Sikap dokter spesialis tentang kolaborasi perawat- dokter didapatkan Mean Total = 47.79. Faktor kolaborasi berbagi pendidikan dan kolaborasi (Shared education and collaboration)/ F1 didapatkan Mean = 22.70. Faktor

kolaborasi merawat vs menyembuhkan (Caring vs

curing)/ F2 didapatkan Mean = 10.20. Faktor kolaborasi Otonomi perawat (Nurse’s autonomy)/ F3 didapatkan Mean = 10.71. Pada faktor kolaborasi otoritas dokter (Physician’s authority)/ F4 didapatkan Mean = 4.18 berarti sikap dokter spesialis lebih positif. Hal ini menunjukkan persetujuan dokter spesialis terhadap peran dominasi total dokter dalam aspek pelayanan pasien. Peneliti sebelumnya yaitu Jones dan Fitzpatrick (2009) menemukan bahwa para dokter menganggap pendidikan keperawatan menimbulkan bias dalam peran perawat di dalam tim. Menurut beliau ketrampilan interpersonal yang terbatas dalam kerja tim disebut sebagai penyebab ketegangan hubungan antara perawat anestesi dan dokter anestesi dan perlu adanya kerja sama dan saling menghormati. Jones dan Fitzpatrick (2009) juga menemukan kurangnya otonomi perawat anestesi disebut berkaitan dengan kepuasan kerja dan ruang lingkup praktek. Mengenai otoritas dokter terutama mengenai seorang dokter yang menjadi pimpinan tim,

mengatakan teamwork dan saling menghargai belum

optimal (Jones dan Fitzpatrick, 2009)

Kepuasan Kerja Dokter Spesialis dalam Kinerja Perawat

Hasil penelitian menunjukkan lebih dari setengah dokter spesialis merasa tidak puas dalam kinerja perawat di RSUP H. Adam Malik Medan (52.1%). Berkaitkan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja dokter spesialis, didapatkan 50.7% dokter spesialis mengatakan tidak puas terhadap kemampuan perawat dalam berkomunikasi. Kemampuan perawat dalam berkomunikasi meliputi; menghubungi dokter bila terjadi kegawatan pada pasien, mengkomunikasikan hasil pantauan, konsultasi tentang pasien, berdiskusi tentang kondisi pasien dengan baik, dan komunikasi interpersonal dengan pasien. Gordon, (2005) menemukan dalam penelitiannya bahwa kurangnya komunikasi antara perawat dan dokter dapat mengakibatkan kesalahan medis dan mengganggu keselamatan pasien. Berdasarkan hasil penelitian kurangnya kepuasan kerja dokter spesialis berkaitan dengan faktor kemampuan perawat dalam berkomunikasi. Kurangnya kemampuan perawat dalam berkomunikasi meliputi kemampuan perawat dalam menghubungi dokter apabila terjadi kegawatan pada pasien, mengkomunikasikan hasil pantauan secara sistematis apabila terjadi perubahan kondisi pasien, melakukan konsultasi tentang perawatan pasien, berdiskusi tentang kondisi pasien, mengendalikan dirinya sehingga bisa membuat suasana pelayanan

Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Sikap Dokter Spesialis 1 140 .219** .009 140 Kepuasan Kerja Dokter Spesialis . 219** .009 140 1 140 Sikap Dokter Spesialis Kepuasan Kerja Dokter Spesialis

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). Tabel 5. Korelasi Sikap Dokter Spesialis tentang Kolaborasi Perawat-Dokter dengan Kepuasan Kerja Dokter Spesialis (n = 140)

Program Studi Magister Ilmu Keperawatan Universitas Sumatera Utara

| 118

dan pasien, dan berkomunikasi interpersonal dengan pasien.

Kurangnya kepuasan dokter spesialis disebabkan kurangnya kemampuan dan pengetahuan perawat tentang komunikasi yang efektif, pengelolaan konflik, negosiasi, advokasi dan mendengarkan. Umumnya perawat tidak percaya diri pada gaya komunikasi mereka selama bertugas, terutama komunikasi antara perawat dan dokter. Kemampuan Perawat masih kurang untuk mengantisipasi kebutuhan dokter dan memahami kebutuhan dokter dengan benar. Dokter hanya memberikan sedikit waktu untuk melakukan komunikasi dengan perawat dan terkadang kurang menganggap penting informasi yang diperoleh dari perawat dan sering menganggapnya sebagai gangguan. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh McCaffrey, Hayes, Stuart, Cassell, Farrell, Miller- Reyes, dkk., (2010) yang menemukan kebanyakan perawat tidak percaya pada gaya komunikasi yang mereka alami di tempat kerja, dokter hanya memberikan sedikit waktu dalam berkomunikasi, perawat kurang memahami kebutuhan dokter, dan dokter menganggap informasi yang diberikan oleh perawat sebagai hal yang kurang penting dan menganggapnya sebagai gangguan.

Sebagai sebuah RS pendidikan seringkali yang melakukan pelaporan kepada dokter spesialis bila terjadi kegawatan pada pasien, mengkomunikasi kan hasil pantauan, dan konsultasi tentang pasien adalah residen/ program pendidikan dokter spesialis (PPDS). Hasil observasi peneliti selama bertugas di RSUP H. Adam Malik Medan, hal ini membuat kurangnya kemauan perawat untuk berkomunikasi dengan dokter spesialis, perawat lebih merasa nyaman melakukan komunikasi dengan PPDS. Wajar jika dokter spesialis kurang puas terhadap komunikasi yang dilakukan oleh perawat karena memang perawat sangat jarang melakukan komunikasi dengan dokter spesialis.

Perawat secara maksimal harus terus meningkatkan kemampuan mereka untuk berkomunikasi demikian juga dengan dokter spesialis harus melakukan komunikasi yang baik sebagai salah satu upaya membangun kerja sama diantara dokter spesialis dan perawat. Sebagaimana peneliti sebelumnya menemukan bahwa untuk banyak dokter, kepuasan kerja bergantung pada hubungan yang baik dengan staf dan kolega, kontrol waktu, sumber daya yang memadai, dan otonomi klinis (Williams dkk., 2003 dalam Leary dkk., 2009)

Kecakapan dan ketrampilan perawat, kemampuan perawat melaksanakan tugas delegasi dan kemampuan dalam melaksanakan tugas rutin klinis harus mendapat perhatian dari manajemen rumah sakit, karena hal ini adalah menjadi faktor yang penting dalam meningkatkan kepuasan kerja dokter spesialis. Sesuai dengan pendapat Lichtenstein, (1984) bahwa kepuasan kerja dokter spe- sialis dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu: 1) tenaga perawat yang cakap dan terampil, 2) perawat harus mampu menyelesaikan tugas-tugas yang didelegasikan dokter

dengan baik, dan 3) perawat harus mampu menyelesaikan tugas rutin klinis. Kepribadian dan keramahan perawat dan kemampuan perawat dalam berkomunikasi adalah faktor lain yang mempengaruhi kepuasan kerja dokter spesialis dalam kinerja perawat. Hal ini sesuai dengan pendapat Walker dalam Misener dkk., (1996) mengatakan bahwa sikap perawat yang mampu dan mengerti apa yang seharusnya dikerjakan dan mengerjakannya tidak dalam keadaan terpaksa merupakan elemen kunci untuk membina hubungan dengan dokter. Jika hubungan tersebut berjalan dengan baik akan membuat pekerjaan lebih efektif dan efisien sehingga pada akhirnya akan menimbulkan kepuasan terhadap pekerjaan yang dilakukan.

Hubungan antara Sikap Dokter Spesialis tentang Kolaborasi Perawat-dokter dengan Kepuasan Kerja Dokter Spesialis.

Penelitian ini didapat nilai p kurang dari • dimana pvalue = 0.009 dan • = 0.05 yang berarti hipotesa alternatif diterima, ada hubungan yang signifikan antara sikap dokter spesialis tentang kolaborasi perawat-dokter dengan kepuasan kerja dokter spesialis dan kekuatan hubungan korelasi (r) 0.219 berarti hubungan kedua variabel adalah lemah (0.00 – 0.25) (Tabel 5).

Sikap dokter spesialis tentang kolaborasi perawat dokter (M = 47,79) berhubungan dengan kepuasan kerja dokter spesialis dalam kinerja perawat. Sikap dokter spesialis menunjukkan kurangnya hubungan kerjasama yang seharusnya dibangun berdasarkan rasa saling percaya, rasa hormat, kemampuan serta memahami pentingnya peran masing-masing anggota tim dan mampu bertindak dalam situasi kesehatan stress tinggi, kolegialiti dan komunikasi (Messmer, 2008).

Menunjukkan adanya peran yang dominan dan otoriter dalam perawatan pasien, hal ini berbeda dengan sikap ners tentang kolaborasi perawat-dokter. Perbedaan sikap ini dapat saja menjadi penyebab terjadi konflik diantara ners dan dokter spesialis. Temuan penelitian sebelumnya menyebutkan konflik dengan dokter telah diidentifikasi sebagai satu stres dalam lingkungan kerja perawat (Greenfield,1999, dalam Nelson, King dan Brodine, 2008). Perawat mungkin menghadapi pelecehan verbal dan fisik ketika konplik timbul dengan dokter (Rosenstein, 2002, Nelson, King dan Brodine, 2008). Konplik yang mungkin timbul dari perbedaan pendapat mengenai kebutuhan pasien, atau dari hubungan hirarki berlangsung lama didominasi oleh dokter (Greenfield,1999, dalam Nelson, King dan Brodine, 2008).

Sikap dokter spesialis tentang kolaborasi berhubungan dengan kepuasan kerja dokter spesialis dalam kinerja perawat. Sebagaimana dijelaskan bahwa tujuan kolaborasi adalah meningkatkan hasil klinis dan kepuasan bagi pasien, dapat mengurangi biaya rumah sakit ( Ward, Schall, Sullivan, Bowen, Erdmann, & Hojat, 2008), dan meningkatkan kepuasan bagi keluarga pasien, perawat,

dan dokter (McGrail, Morse, Glessner & Gardner, 2008). Kompleksitasnya masalah kepuasan kerja dokter spesialis terutama yang berkaitan dengan kolaborasi perawat-dokter dan kompleksitasnya perawat yang bertugas di RSUP H. Adam Malik juga menjadi masalah dalam pencapaian kepuasan kerja dokter spesialis. Sebagai mana disampaikan oleh dokter spesialis selama proses pengumpulan data bahwa perawat yang bertugas di RSUP H. Adam Malik Medan mempunyai kecakapan dan ketrampilan yang sangat berbeda antara satu ruangan dengan ruangan lainnya. Berbeda kemampuan perawat antara rawat inap biasa dengan rawat inap khusus atau ruangan khusus seperti: ICU, kamar operasi, kardio- vaskuler, HD, dll. Temuan penelitian sebelumnya juga menjelaskan bahwa struktur komponen yang juga berperan dalam tingginya kolaborasi adalah; kedekatan fisik perawat dan dokter, berada di tempat/ unit yang sama misalnya di ICU; kontinuitas dan stabilitas perawat dan dokter seperti kamar operasi, ruang pemulihan, ruang gawat darurat dan departemen rawat jalan; melihat dan menilai pasien bersama-sama (McGrail, Morse, Glessener dan Gardner, 2008).

SIMPULAN

Sikap perawat khususnya ners tentang kolaborasi perawat-dokter didapat mean total = 54.13, hal ini disebabkan oleh tingkat pendidikan perawat di RSUP H. Adam Malik Medan yang semakin meningkat sehingga meningkatkan wawasan perawat khususnya sikap mereka terhadap kolaborasi perawat-dokter.

Sikap dokter spesialis tentang kolaborasi perawat- dokter didapat mean total = 47.79, hal ini menunjukkan adanya persetujuan dokter spesialis terhadap peran dominasi total dokter dalam aspek pelayanan pasien. Dokter spesialis mengatakan tidak puas dalam kinerja perawat 52.1% dan mengatakan tidak puas terhadap kemampuan perawat dalam berkomuni kasi 50.7%, hal ini disebabkan kurangnya kemampuan dan pengetahuan perawat tentang komunikasi yang efektif, pengelolaan konflik, negosiasi, advokasi dan mendengarkan. Terdapat hubungan antara sikap dokter spesialis tentang kolaborasi perawat-dokter dengan kepuasan kerja dokter spesialis. Kompleksitas perawat yang bertugas di RSUP H. Adam Malik juga menjadi masalah dalam pencapaian kepuasan kerja dokter spesialis.

SARAN

Pihak manajemen RS supaya memfasilitasi penga- daan wadah atau organisasi yang berkomitmen dalam pengembangan kolaborasi perawat-dokter di RSUP H. Adam Malik Medan.

Memprioritaskan peningkatan keterampilan dan kemampuan perawat khususnya kemampuan perawat dalam berkomunikasi di RSUP H.Adam Malik Medan. Melanjutkan penelitian tentang faktor-faktor yang menghambat pelaksanaan kolaborasi perawat-dokter

secara kualitatif di RSUP H. Adam Malik Medan, agar pihak manajemen dapat mencari solusinya. Membangun komunikasi dan kolaborasi antara dokter dan perawat dengan beberapa cara yaitu: a) menempatkan keduanya dikelas secara resmi juga secara informal dalam pengaturan pekerjaan, b) mengembangkan kelompok kolaboratif perawatan di mana perawat-dokter bertemu dan membahas perbaikan perawatan dalam bidang mereka, c) melibatkan dokter dan perawat dalam melakukan analisis akar penyebab dan kegagalan, mode, dan efek, d) menunjuk perawat melayani di komite- komite kunci staf medis seperti kredensial, kualitas, atau komite eksekutif medis, tugas ini melambangkan bahwa dokter menghargai dan menghormati perawat, f) memilih dokter dan pemimpin staf medis untuk duduk di Komite Keperawatan.

DAFTAR RUJUKAN

Copnell, B., Johnson, L., Wilson, A., Ronson, A., Mul- cahy, C., McDonell, G., & Best, C. (2004) Doctor’s and nurses’ perceptions of interdiciplinary collaboration in the NICU, and the infact of a neonatal nurse practitioner model of practice. Journal of Clinical Nursing, 13, 105-113. Dahlan, M.S., (2012). Statistik untuk kedokteran dan

kesehatan: Deskriptif, Bivariat, dan Mltivariat, Dilengkapi Aplikasi dengan menggunakan SPSS Edisi 5. Jakarta: Salemba Medika.

Gardner, D. ( 2005). "Ten Lessons in Collaboration" Journal of Issues in Nursing,10, 1-15.

LeTourneau, B. (2004). Physician and Nurses: Friends

or Foes. Journal of Healthcare Management,

49(1)

Grembowski, D., Paschane, D., Diehr, P., Katon, W., Martin, D., & Patrick, D. L. (2005). Managed Care, Physician Job Satisfaction, and the Quality of Primary Care.Journal Gen Intern Med, 20, 271-277.

Jones, T. S., & Fitzpatrick, J. J. (2009). CRNA-Physician Collaboration in Anesthesia. AANA journal, 77(6). Krejcie, R.V., Morgan, D.W. (1970). Educational and Psychological Measurement. 30, 607-610. Leary, P. O., Wharton, N., & Quilan, T. (2009). Job Satisfaction of Physician in Russia. International Journal of Health Care, 22(3), 221-231. Lichtenstein, R. (1984). Measuring The Job Satisfaction

of Physician in Organized Settings. Journal of Medical care, 22, 56-68.

McCaffrey, R.G., Hayes, R., Stuart, W., Cassell, A., Farrell, C., Miller-Reyes, C., & Donaldson, A. (2010). A Program to Improve Communication and Collaboration Between Nurses and Medical Residents. The journal of Continuing Education

Dalam dokumen Perilaku Caring Perawat dan Kepuasan Pas (Halaman 58-64)