Batasan Serta Pengertian Pariwisata dan Ekowisata
Pariwisata adalah pergerakan temporer wisatawan ke obyek dan daya tarik wisata (ODTW) di luar tempat mereka tinggal dan bekerja. Selama tinggal di ODTW tersebut mereka melakukan kegiatan rekreasi di tempat yang terdapat fasilitas akomodasi untuk memenuhi kebutuhan mereka (Mathieson dan Wall, 1982). Program pariwisata yang dikenal dengan slogan ”Sapta Pesona Pariwisata Indonesia” diusahakan perwujudannya, sehingga mampu menumbuhkan pesona yang dapat dinikmati oleh wisatawan. Sapta Pesona Pariwisata Indonesia bertujuan mewujudkan suasana aman, ketertiban lingkungan, kesejukan, lingkungan bersih, keramahan masyarakat, dan kenangan indah bagi wisatawan (Fandeli, 1995).
Cooper et al. (1999) mendefinisikan pariwisata dari dua sisi demanddan supply. Definisi pariwisata biasanya lebih berorientasi pada sisi demand daripada sisi supply (Gambar 2).
Gambar 2 Pariwisata dari sisidemanddansupply(Cooperet al, 1999).
Adapun ekowisata merupakan suatu konsep yang telah mengakomodasi tourism demand dan tourism supply, dimana hal tersebut terlihat dalam enam unsur yang mengikuti konsep ekowisata yaitu : konservasi, edukasi, etika, sustainable development, impact dan local benefit. Sedangkan jika dilihat konsep pariwisata dari sisi demand, sangat dipengaruhi oleh situasi ruang dan waktu. Dengan berbagai motivasi yang mengikutinya (McIntosh et al., 1995) yang meliputi :
Fisik : motivasi terkait dengan aktivitas yang bertujuan untuk mengurangi tekanan fisik (penyegaran pikiran, kesehatan dan ketenangan)
Budaya : motivasi untuk melihat, mengetahui lebih banyak mengenai budaya lain, gaya hidup, musik, seni dan dansa.
Tourism Demand Indikator Classifications of Tourism Concept Motivation Consumer Behavior Decision Making Market Intermedia Accommodati on Socio-Culture Economic Transport Attraction Destination Envr Tourism Development Government Organization Carrying Capacity Tourism Supply
Antar-orang : motivasi untuk mendapat pengalaman baru yang berbeda seperti ; bertemu dengan orang baru, teman dan relasi.
Status atauprestise : motivasi untuk mengunjungi ODTW yang masih alami dan mengandung unsur pendidikan atau interpretasi.
Perilaku wisatawan saat ini telah berubah dimana wisatawan lebih memilih ODTW yang bernuansa alami. Mayoritas wisatawan sekarang ini menginginkan pariwisata yang bersifat rekreasi plus, yaitu dalam bentuk: 1) mendapatkan pengalaman berwisata dalam suasana yang merefleksikan keunikan lingkungan setempat dan terpelihara secara lestari, 2) interaksi aktif dengan masyarakat setempat untuk mengenal lebih jauh tentang budaya, adat istiadat, tradisi dan nilai-nilai sosial masyarakat (Sekartjakrarini, 2004). Kedua bentuk ini selain untuk memenuhi hasrat untuk memperoleh pengalaman berwisata yang khas tidak dijumpai di tempat lain, juga dimaksudkan sebagai pembelajaran (faktor interpretasi) untuk lebih memahami nilai-nilai lingkungan dari tempat yang dikunjungi. Menurut Cooper et al (1999) keputusan wisatawan untuk berwisata ditentukan oleh waktu luang, dana dan perilaku wisatawan itu, sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku wisatawan meliputi: promosi, persepsi resiko berwisata dan motivasi.
Jika dilihat dari sisi supply, faktor-faktor pariwisata mencakup; transportasi, atraksi, akomodasi, pelayanan, informasi, promosi, sosial budaya, daya dukung, destinasi, dampak fisik lingkungan, kebijakan dan kelembagaan. Dari pemaparan tentang persepsi pariwisata dari sisi demand dan supply menunjukkan bahwa faktor interpretasi merupakan faktor penunjang pariwisata yang perlu di kembangkan untuk menunjang produk pariwisata. Adapun ekowisata itu merupakan bentuk wisata yang bertanggung jawab terhadap kelestarian area yang masih alami (natural area), memberi manfaat secara ekonomi dan mempertahankan keutuhan budaya bagi masyarakat setempat (Fandeli dan Muklison, 1998). Ekowisata adalah bentuk baru dari perjalanan bertanggung jawab ke arah alami dan berpetualang yang dapat menciptakan industri pariwisata (Eplerwood, 1999).
Pengertian baru ekowisata berdasarkan hasil kajian dari 45 pakar, terdiri dari 31 pakar mancanegara dan 14 pakar nasional mengindikasikan ada tiga kelompok ekowisata (Hengky, 2006) yaitu:
1. Tahun 1987-1990 menitik beratkan pada mengurangi dampak negatif lingkungan, destinasi dan motivasi wisatawan.
2. Tahun 1991-2000 menekankan pada mengurangi dampak negatif lingkungan, penghasilan masyarakat lokal, perjalanan yang bertanggung jawab dan budaya. 3. Tahun 2001-2005 menitik beratkan pada mengurangi dampak negatif lingkungan,
sustainable developmentdan penghasilan masyarakat lokal.
Adapun yang menjadi batasan ekowisata meliputi: (1) pengembangan dan penyelenggaraan kegiatan berbasis pemanfaatan lingkungan untuk perlindungan, (2) berintikan partisipasi aktif masyarakat, (3) penyajian produk bermuatan pendidikan dan pembelajaran, (4) berdampak negatif minimum, dan (5) memberikan kontribusi positif terhadap pembangunan perekonomian daerah dan diberlakukan bagi kawasan lindung; kawasan terbuka; kawasan alam binaan serta kawasan budaya (Sekartjakrarini dan Legoh, 2004). Pada umumnya, pasar ekowisata tertuju pada daerah aktivitas jalan (walking) di desa atau mendaki gunung. Pariwisata dengan kombinasi pedesaan, pantai,
bukit, bentang alam, dan kuatnya komponen budaya umumnya akan lebih menarik minat wisatawan ekowisata (Anderson, 2001)
Berdasarkan konsep ekowisata ada beberapa kegiatan yang dapat dijadikan dasar untuk menyatakan bahwa sebuah kegiatan dapat dikategorikan sebagai ekowisata (Justiano, 1998), yaitu:
1. Kegiatan hanya dilakukan oleh grup wisata yang kecil.
2. Mempekerjakan penduduk lokal dalam bentuk kegiatan wisata tersebut. 3. Mempromosikan pendidikan lingkungan.
4. Membayar biaya masuk untuk melihat keindahan alam yang ada.
5. Melarang para wisatawan untuk membuang sampah serta mempromosikan kebersihan lingkungan.
6. Melarang para wisatawan untuk merusak tanaman dan membunuh hewan. 7. Tidak menggunakan kendaraan untuk melakukan wisata.
8. Melarang untuk memakan dan memberikan daging hewan liar.
The Ecotourism Society (Eplerwood 1999) menyebutkan ada delapan prinsip ekowisata, yaitu:
1. Mencegah dan menanggulangi dampak dari aktivitas wisatawan terhadap alam dan budaya, pencegahan dan penanggulangan disesuaikan dengan sifat dan karakter alam dan budaya setempat.
2. Pendidikan konservasi lingkungan. Mendidik wisatawan dan masyarakat setempat akan pentingnya arti konservasi. Proses pendidikan ini dapat dilakukan langsung di alam.
3. Pendapatan langsung untuk kawasan. Mengatur agar kawasan yang digunakan untuk ekowisata dan manajemen pengelolaan kawasan pelestarian dapat menerima langsung penghasilan atau pendapatan. Retribusi dan conservation tax dapat dipergunakan secara langsung untuk membina, melestarikan dan meningkatkan kualitas kawasan pelestarian alam.
4. Partisipasi masyarakat dalam perencanaan. Masyarakat diajak dalam merencanakan pengembangan ekowisata, demikian pula di dalam pengawasan peran masyarakat di harapkan ikut secara aktif.
5. Penghasilan masyarakat. Keuntungan secara nyata terhadap ekonomi masyarakat dari kegiatan ekowisata mendorong masyarakat menjaga kelestarian kawasan alam. 6. Menjaga keharmonisan dengan alam. Semua upaya pengembangan termasuk
pengembangan fasilitas dan utilitas harus tetap menjaga keharmonisan dengan alam. Apabila ada upaya disharmonize dengan alam akan merusak produk wisata ekologis ini. Menghindari sejauh mungkin penggunaan minyak, mengkonservasi flora dan fauna serta menjaga keaslian budaya masyarakat.
7. Daya dukung lingkungan. Pada umumnya lingkungan alam mempunyai daya dukung yang lebih rendah dengan daya dukung kawasan buatan. Meskipun mungkin permintaan sangat banyak, tetapi daya dukunglah yang membatasi.
8. Peluang penghasilan pada porsi yang besar terhadap negara. Apabila suatu kawasan pelestarian dikembangkan untuk ekowisata, maka devisa dan belanja wisatawan didorong sebesar-besarnya dinikmati oleh negara atau negara bagian atau pemerintah daerah setempat.
Ekowisata adalah bagian dari pariwisata berkelanjutan (Wight, 1993; Western dan David, 1993). Perbedaan ekowisata dengan pariwisata (Gambar 3) terletak pada
karakteristiknya. Karakteristik ekowisata lebih ke arah primitif dan alami, sedangkan karakteristik pariwisata lebih ke arah hiburan (Wight, 1995a).
Primitif Alami (ekowisata)
Hiburan
(Pariwisata masal)
Gambar 3 Diskriminan keunggulan ekowisata terhadap pariwisata (Crosseley dan Lee, 1994)
Dilihat dari bentuk kegiatannya, ekowisata tampaknya tidak berbeda dari kegiatan wisata alam biasa. Dalam pengembangan dan penyelenggaraan kegiatan ekowisata, kepedulian, tanggung-jawab, dan komitmen tersebut harus diwujudkan dengan berpegang teguh pada prinsip dan kriteria-kriteria pengembangan ekowisata.
Sejarah Munculnya Istilah Ekowisata
Pariwisata merupakan salah satu industri terbesar di dunia dan World Travel and Tourism Council 2006 menyebutkan bahwa sektor pariwisata memiliki pertumbuhan yang sangat besar, yaitu 4% per-tahun dan menyumbang sebesar 11,6% pada GNB dunia. Namun demikian, kebijakan pembangunan pariwisata yang telah dilakukan lebih mengutamakan manfaat ekonomi sehingga mengakibatkan terabaikannya pelestarian lingkungan dan terpinggirkannya penduduk lokal (Lindberg, 1995).
Degradasi lingkungan seperti berkurangnya keragaman hayati dapat terjadi sebagai akibat dari pembangunan berbagai sarana akomodasi, transportasi dan perilaku wisatawan yang kurang ramah terhadap lingkungan. Selain itu pelaku industri pariwisata pada umumnya didominasi oleh pengusaha sedangkan penduduk lokal pada banyak kasus hanya menjadi pihak yang menjual tanah, tenaga dan lainnya untuk kepentingan pengusaha dan kemudian mereka termajinalkan. Keadaan ini mendorong timbulnya kesadaran untuk mengembangkan pariwisata yang ramah terhadap lingkungan (ecological friendly) dan peningkatan perekonomian masyarakat lokal, sehingga terjadi kesetaraan ekonomi bagi penduduk lokal dengan pengusaha wisata.
Istilah ekowisata mulai diperkenalkan pada tahun 1987 oleh Hector Ceballos Lascurain, setelah itu beberapa pakar mendefinisikan ekowisata yang masing-masing meninjau dari sudut pandang yang berbeda. Definisi ekowisata menurut The Ecotourism Society (1990) sebagai berikut; ekowisata adalah suatu bentuk perjalanan wisata kearah alami yang dilakukan dengan tujuan mengkonservasi lingkungan dan melestarikan kehidupan dan kesejahteraan penduduk setempat. Perjalanan mengeksplorasi yang ingin mengetahui keadaan di benua lain telah dilakukan oleh Marcopollo, Washington,Wallacea, Weber, Junghuhn, dan Van Sreines dan masih banyak yang lain
Karakteristik
1. Lokasi yang leluasa, jauh, dan bebas dari aktivitas 2. Melihat tumbuhan, hewan, margasatwa dan alami 3. Penduduk asli, seni dan budaya
4. Benefit bagi masyarakat setempat 5. Tantangan fisik
6. Tempat belanja dan tempat makan yang baik 7. Atraksi populer
merupakan awal perjalanan antar pulau dan antar benua yang penuh dengan tantangan. Paraadventurer ini melakukan perjalanan ke alam yang merupakan awal dari perjalanan ekowisata. Indonesia sebagai negara megabiodiversitynomor dua di dunia, telah dikenal memiliki kekayaan alam, flora dan fauna yang sangat tinggi. Para explorer dari dunia barat maupun timur telah mengunjungi Indonesia pada abad lima belas yang lalu.
Taman nasional, Fungsi dan Sistem Pengelolaannya
Definisi taman nasional Indonesia yang dinyatakan dalam UU no 5/1990 tentang Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Ekosistemnya adalah “kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi dan dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, penunjang budidaya, pariwisata
dan rekreasi”.
Taman nasional awalnya dibentuk dengan tujuan sebagai penyangga kawasan produktif untuk menjaga keseimbangan ekologis suatu wilayah regional agar tetap terjaga. Penetapan kawasan taman nasional biasanya dilakukan pada lahan-lahan marginal yang tidak atau belum terjangkau oleh pembangunan intensif. Menurut MacKinnonet al.(1992), dasar untuk menetapkan suatu kawasan sebagai Taman nasional adalah: 1) Kharakteristik atau keunikan ekosistem, 2) Mempunyai keanekaragaman spesies atau spesies khusus yang ‘bernilai’, 3) Mempunyai lansekap dengan ciri geofisik
atau estetik yang ‘bernilai’, 4) Mempunyai fungsi perlindungan hidrologi (tanah, air,
iklim lokal), 5) Mempunyai sarana untuk rekreasi alam dan kegiatan wisata, dan 6) Mempunyai tempat peninggalan budaya yang tinggi (candi, peninggalan purbakala dan lain sebagainya).
Adapun fungsi taman nasional sangat beraneka ragam untuk memenuhi kebutuhan manusia terutama kaitannya yang relevan dengan tujuan pembangunan ekonomi, sosial dan pengelolaan lingkungan antara lain berupa: 1) Pemeliharaan contoh yang memiliki unit-unit biotik utama untuk melestarikan fungsinya dalam ekosistem, 2) Pemeliharaan keragaman ekologi dan hukum lingkungan, 3) Pemeliharaan sumberdaya genetika, 4) Pemeliharaan obyek, struktur dan tapak warisan kebudayaan, 5) Perlindungan keindahan panorama alam, 6) Penyediaan fasilitas pendidikan, penelitian dan pemantauan lingkungan dalam areal alamiah, 7) Penyediaan fasilitas rekreasi dan turisme, 8) Pendukung pembangunan dan pengembangan daerah pedesaan serta penggunaan lahan marginal secara rasional, 9) Pemeliharaan produksi daerah aliran sungai, dan 10) Pengendalian erosi dan sedimentasi serta melindungi investasi daerah hilir (Miller, 1978 dalam Abbas, 2005).
Menurut UU no 5/1990, beberapa zona yang dimungkinkan terdapat dalam suatu taman nasional adalah zona pemanfaatan yakni daerah dalam kawasan taman nasional yang menjadi pusat kegiatan (terutama rekreasi). Berikutnya adalah zona inti yakni bagian dari kawasan taman nasional yang mutlak untuk dilindungi dan memiliki kemurnian hewan dan tumbuh-tumbuhan secara alamiah, daerah ini tidak boleh diganggu kecuali untuk penelitian. Selanjutnya adalah zona penyangga, yakni wilayah-wilayah yang berada di luar kawasan taman nasional yang penggunaan tanahnya terbatas untuk lapisan perlindungan tambahan bagi kawasan taman nasional dan sekaligus bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya (umumnya adalah kegiatan budidaya seperti pertanian, perkebunan, atau pemanfaatan hutan produksi). Ada juga yang menetapkan zona rimba
dalam taman nasional yakni kawasan hutan yang berperan atau berfungsi sebagai pelindung daerah inti dari perusakan, fungsinya hanya sebagai kawasan lindung.
Tujuan perencanaan taman nasional sendiri relatif luas dan mencakup kegiatan yang beraneka ragam seringkali merepotkan organisasi pengelola taman nasional. Akibatnya seringkali pengelola tidak mungkin untuk melaksanakan sendiri seluruh kegiatan yang menjadi tujuan perencanaan tersebut karena berbagai macam keterbatasan. Untuk menunjang keberhasilannya, maka partisipasi masyarakat sangat dibutuhkan.
Pulau-Pulau Kecil. Pengertian Pulau-Pulau Kecil
Menurut Undang-undang No. 27 Tahun 2007 tentang pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil definisi Pulau Kecil adalah pulau dengan luas lebih kecil atau sama dengan 2000 km2 (dua ribu kilometer persegi) beserta kesatuan ekosistemnya. Berdasarkan karakteristik pulau-pulau kecil juga diartikan sebagai wilayah daratan yang terbentuk secara alamiah yang dikelilingi oleh air laut dan selalu berada di atas permukaan air pada waktu air pasang.
Briguglio (1995) menyatakan bahwa karakteristik pulau-pulau kecil adalah secara ekologis terpisah dari pulau induknya (mainland island), memiliki batas fisik yang jelas dan terpencil dari habitat pulau induk, sehingga bersifat insular; mempunyai sejumlah besar jenis endemik dan keanekaragaman yang tipikal dan bernilai tinggi; tidak mampu mempengaruhi hidroklimat; memiliki daerah tangkapan air (catchment area) relatif kecil sehingga sebagian besar aliran air permukaan dan sedimen masuk ke laut serta dari segi sosial, ekonomi dan budaya masyarakat pulau-pulau kecil bersifat khas dibandingkan dengan pulau induknya.
1. Ada tiga kriteria yang dapat digunakan dalam membuat batasan pulau kecil yaitu : Batasan fisik (luas pulau).
2. Batasan ekologis (proporsi spesies endemik dan terisolasi). 3. Keunikan budaya.
Selain ketiga kriteria tersebut, terdapat indikasi besar-kecilnya pulau terlihat dari kemandirian penduduknya dalam memenuhi kebutuhan pokok (Dahuriet al2004). Sumberdaya alam dan Jasa Lingkungan Pulau-Pulau Kecil
Kawasan pulau-pulau kecil menyediakan sumberdaya alam yang produktif baik sebagai sumber pangan dari kekayaan ekosistemnya, seperti ekosistem mangrove, lamun, dan terumbu karang, beserta biota yang hidup di dalamnya. Disamping itu pula menjadi media komunikasi, kawasan rekreasi, pariwisata, konservasi, dan jenis pemanfaatan lainnya (Dahuri 2002). Ekosistem pulau-pulau kecil juga memiliki peran dan fungsi yang dapat menentukan bukan saja bagi kesinambungan pembangunan ekonomi, tetapi juga bagi kelangsungan hidup umat manusia.
Meningkatnya pertumbuhan penduduk dan pesatnya kegiatan pembangunan di pulau-pulau kecil bagi berbagai peruntukan, misalnya : pemukiman, perikanan (baik tangkap maupun budidaya), pariwisata, apalagi pertambangan, akan membuat tekanan ekologis terhadap ekosistem dan sumberdaya laut. Meningkatnya tekanan, baik secara langsung misalnya kegiatan konversi lahan, maupun tidak langsung misalnya pencemaran oleh limbah berbagai kegiatan pembangunan, akan mengancam keberadaan dan
kelangsungan kehidupan di pulau-pulau kecil. Oleh karena itu pemanfaatan sumberdaya di kawasan tersebut mestinya secara seimbang dibarengi dengan upaya konservasi, sehingga dapat berlangsung secara optimal dan berkelanjutan.
Pemanfaatan pulau-pulau kecil
Perhatian pengelolaan pulau-pulau kecil di Indonesia baru dimulai sejak berdirinya Departemen Kelautan dan Perikanan. Pengelolaannya pun tidak akan sama untuk seluruh Indonesia, tetapi disesuaikan dengan latar geografisnya, karakter ekosistem, dan sosial budaya masyarakat setempat. Ada beberapa hal yang menjadi dasar bagi penzonasian untuk pemanfaatan pulau-pulau kecil (Bengen 2002), yaitu :
1) Ukurannya yang sangat kecil, sehingga sumberdaya lahan menjadi sangat penting. 2) Ketersediaan air tawar yang sangat terbatas, sehingga sering menjadi faktor penentu
yang membatasi daya dukung pulau.
3) Tingkat kerentanan yang tinggi terutama oleh pengaruh eksternal (pencemaran, sampah, dan lain-lain).
4) Tekanan penduduk yang besar dalam eksploitasi sumberdaya. 5) Tuntutan pertumbuhan ekonomi.
6) Ketidak serasi pemanfaatan dan adanya konflik pemanfaatan.
Pemanfaatan sumberdaya pulau-pulau kecil harus dicapai melalui pemberdayaan masyarakat (community based management). Artinya, memberi perhatian utama pada masyarakat yang mendiami pulau-pulau kecil tersebut, sebab mereka merupakan bagian dari sistem yang ada. Lebih jauh lagi Fauzi (2002), menyatakan bahwa kebijakan menyangkut pulau-pulau kecil pada dasarnya haruslah berbasiskan kondisi dan karakteristik biogeo- fisik serta sosial ekonomi masyarakatnya, mengingat peran dan fungsi kawasan tersebut sangat penting baik bagi kehidupan ekosistem sekitar maupun bagi kehidupan ekosistem daratan (mainland). Maksudnya agar sumberdaya tersebut dapat dimanfaatkan secara terus menerus. Salah satu cara yang diterapkan adalah menetapkan Daerah Perlindungan laut (DPL), dengan maksud : perlindungan sumberdaya perikanan, pelestarian genetik dan plasma nutfah serta mencegah rusaknya bentang alam (Salmet al2000).
Ekosistem terumbu karang Fungsi dan manfaat ekosistem terumbu karang
Komponen penting di suatu terumbu karang adalah hewan karang, baik karang batu maupun karang lunak. Disamping itu sangat banyak spesies biota yang hidupnya mempunyai kaitan erat dengan hewan karang ini. Kesemuanya ini terjalin dalam hubungan fungsional dalam satu ekosistem de dikenal dengan ekosistem terumbu karang. Sebagai ekosistem yang ada di pesisir maupun laut, terumbu karang memiliki fungsi ekologi yang tidak dapat tergantikan. Fungsi ekologi terumbu karang diantaranya sebagai habitat (tempat hidup) ribuan biota, tempat pemijahan, pengasuhan. Pembesaran dan mencari makan dari banyak biota laut. Menurut Kordi (2010) fungsi terumbu karang adalah:
1. Habitat
Ekosistem terumbu karang merupakan habitat bagi ribuan biota, baik sementara maupun menetap sepanjang hidupnya.
2. Pendukung ekosistem laut
Ekosistem terumbu karang adalah bagian dari ekosistem pesisir dan laut secara keseluruhan. Karena itu terumbu karang merupakan salah satu pendukung ekosistem pesisir dan laut.
3. Pelindung pantai
Terumbu karang berfungsi melindungi komponen ekosistem pesisir lainnya (lahan pantai) dari gempuran gelombang dan badai.
Kerusakan ekosistem terumbu karang akibat kegiatan pariwisata.
Terumbu karang merupakan ekosistem yang memiliki pemandangan yang menarik di bawah laut, sehingga dapat dijadikan sebagai objek dan daya tarik wisata. Kegiatan wisata yang dapat dilakukan di daerah terumbu karang berupa snorkeling dan penyelaman. Snorkeling biasanya dilakukan oleh wisatawan pada daerah tepi terumbu karang yang menyebabkan patahan karang-karang bercabang karena terinjak. Berdasarkan pengamatan menunjukkan bahwa kegiatan snorkeling menyebabkan kerusakan karang lebih besar dari kegiatan menyelam (Kordi 2010). Hal yang sama juga dikemukan oleh Turak (2004) bahwa kerusakan akibat membuang sauh dalam beberapa menit sangat besar dibandingkan dengan yang dilakukan ratusan penyelam dalam beberapa jam.
Perahu dan kapal-kapal wisatawan juga menyumbang kerusakan terumbu karang, dimana perahu tersebut membuang sauh atau jangkar di atas terumbu karang. Hal tersebut menyebabkan terjadi patahan karang atau karang hancur akibat terkena jangkar. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan di Pulau Virgin menunjukkan pada suatu lokasi tempat penyelaman yang di kunjungi 440 perahu dalam satu bulan dan semuanya membuang jangkar, karang di daerah tersebut rusak sepanjang 122 m dengan lebar 3 m, sedangkang 283 m2 kawasan tersebut karangnya patah-patah(Ikawati et al 2001; Kordi 2010).
Kerusakan terumbu karang yang terjadi di Taman Nasional Bunaken akibat kegiatan pariwisata adalah akibat jangkar, tertabrak perahu, dan penyelam yang berdiri di atas terumbu karang. Kerusakan juga terjadi pada dinding karang yang dipenuhi fauna, terutama gorgonian fan corals, mulai dari kerusakan yang disengaja maupun tidak, dan kemungkinan akibat dampak gelembung oksigen penyelaman secara berkala. Pada titik-titik penyelaman yang banyak dikunjungi rata-rata tingkat puing-puing batu karang mati adalah 1000 batu karang yang rusak dan pecah untuk setiap kawan. Hal ini memang konsisten dengan dampak tingkat tinggi yang berhubungan dengan kegiatan selam.
Dampak kerusakan terumbu karang yang berhubungan dengan pariwisata (Turak 2004) adalah:
1) Kerusakan pada penyelam 2) Kerusakan pada sauh
3) Kerusakan akibat tabrakan perahu dan gangguan pada baling-baling yang menyebabkan pendangkalan dasar lautt, dan perahu cepat yang merusak batu karang dan para penyelam
4) Polusi akibat limbah padat
5) Polusi akibat pembuangan kotoran
7) Tekanan akibat penangkapan ikan dengan menggunakan racun untuk memenuhi kebutuhan perdagangan dan akuarium hias
8) Penjarahan batu karang akibat fluktuasi suhu atau tekanan lainnya Analisis Sistem
Pengertian sistem.
Sistem adalah keseluruhan interaksi antara unsur dari sebuah obyek dalam batas lingkungan tertentu yang bekerja mencapai tujuan (Muhammadi et al. 2001). Pengertian keseluruhan adalah lebih dari sekedar penjumlahan atau susunan (aggregate), yaitu terletak pada kekuatan (power) yang dihasilkan oleh keseluruhan itu jauh lebih besar dari suatu penjumlahan atau susunan. Apabila di dalam aljabar 1 ditambah 1 adalah 2, maka dalam sistem 1 ditambah 1 tidak sama dengan 2, nilainya bisa tak terhingga.
Pengertian interaksi adalah pengikat atau penghubung antara unsur, yang memberi bentuk/struktur kepada obyek, membedakan objek dengan obyek lainnya, dan mempengaruhi perilaku dari obyek. Pengertian unsur adalah benda, baik konkrit maupun abstrak yang menyusun obyek sistem. Unjuk kerja dari sistem ditentukan oleh fungsi unsur. Gangguan salah satu fungsi unsur mempengaruhi unsur lain sehingga mempengaruhi unjuk kerja sistem sebagai keseluruhan. Unsur yang menyusun sistem ini disebut juga bagian sistem atau sub sistem.
Pengertian objek adalah sistem yang menjadi perhatian dalam suatu batas tertentu sehingga dapat dibedakan antara sistem dengan lingkungan sistem. Artinya semua yang di luar batas sistem adalah lingkungan sistem. Pada umumnya, semakin luas bidang perhatian semakin kabur batas sistem. Demikian pula sebaliknya, semakin spesifik/konkrit obyek semakin jelas batas sistem. Dengan demikian, jelas, bahwa batas