• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN STRUKTURAL DALAM NOVEL PULANG KARYA LEILA

2.1 Tokoh dan Penokohan

2.1.2 Tokoh Utama Tambahan

2.1.2.1 Hananto Prawiro

Hananto Prawiro merupakan sosok lelaki ambisius, ia menjabat sebagai pimpinan di Kantor Berita Nusantara serta penganut golongan kiri. Ia seorang

pengagum realisme sosialis, tenang dalam menghadapi masalah, terobsesi terhadap karya Karl Mark yang peduli terhadap kaum bawah. Pencinta karya Pramudya Anantatoer. Ia adalah sahabat baik, abang, lawan debat dari Dimas Suryo:

“Dia bukan hanya atasanku tetapi juga sahabatku, mungkin sesekali dia ingin menjadi mentorku..” (Chudori, 2012: 30).

“....terutama karena Pemimpin Redaksi adalah kepala suku kelompok Mas Hananto dan Mas Nug yang dianggap kiri..” (Chudori, 2012: 32).

“Mas Hananto tahu, cara untuk mendekatiku bukan dengan memerangi dan membantah seleraku. Dia tahu aku mudah menertawakan novel-novel yang katanya membela rakyat. Aku pernah bertanya kembali, bukankah kita harus membela kemanusiaan, bukan hanya rakyat kelas bawah saja? Kenapa kita tak menamakannya saja : merangkul humanitas dalam diri kita. Mas Hananto hanya tertawa terkekeh-kekeh...mas Hananto tampak mencoba memaklumiku seperti seorang abang sulung yang tengah mendidik adik bungsunya yang tengil.” (Chudori, 2012: 31).

Dari kutipan di atas dapat dilihat bagaimana hubungan antara Dimas Suryo dengan Hananto. Mereka adalah rekan kerja di Kantor Berita Nusantara. Mereka sudah berteman baik sejak masa kuliah. Hananto adalah seorang yang peduli terhadap sahabatnya, meskipun mereka memiliki dua pandangan yang berbeda dalam hal politik. Hananto Prawiro banyak terlibat dengan pergerakan kiri dan hidup berkelompok dengan orang-orang yang sepemikiran dengannya khususnya Lekra dan PKI dapat dilihat dalam kegiatan Hananto dalam kutipan di bawah:

“Mobil mas Hananto berhenti di Jalan Cidurian, Menteng. Aku terdiam. Aku tahu itu adalah markas Lekra. Kulihat dari kejauhan beberapa orang tengah duduk dan saling berdisusi dengan santai.

“Mas aku berbisik” “Tenang..aku ingin kau mengenal kawan-kawan..” (Chudori, 2012: 36).

“Siapa saja yang ingin menjilat Pemimpin Redaksi yang sangat dekat dengan petinggi Partai Komunis Indonesia itu, tinggal sebut realisme sosial...” (Chudori, 2012: 30).

Dari kutipan di atas dapat diketahui bahwa Hananto Prawiro adalah seorang pengikut paham kiri yang menjadikannya sebagai buronan pemerintah Orba.Ia menjadi target operasi militer sejak pasca peristiwa 30 September 65. Namun, setelah tiga tahun persembunyianya Hananto di ciduk di sebuah tempat ‘Tjahaja foto’ di pojok Jalan Sabang pada tanggal 6 April 1968 hingga pada akhirnya Ia di eksekusi mati.

“Ternyata berita buruk itu tiba juga. Mas Hananto sahabatku, atasanku, dan rekanku berdiskusi: suami Surti serta ayah Kenanga, Bulan, dan Alam, akhirnya di tangkap ditempatnya bekerja di Jalan Sabang sebulan lalu.” (Chudori, 2012: 11).

Dari kutipan di atas menjelaskan bahwa Hananto Prawiro yang menjadi target perburuan militer selama tiga tahun dan pada akhirnya tertangkap di jalan Sabang. Hananto menikah dengan Surti Anandari dan dikaruniai tiga orang anak yaitu Kenanga, Bulan dan Alam. Hubungan Hananto dan Surti tidak begitu harmonis karena Hananto menganggap Surti bukan perempuan yang dapat memuaskan hasratnya. Bagi Hananto Surti hanyalah sebagai pendamping hidup.

“Surti adalah isteri, pendamping hidup. Dengan Marni, aku merasakan nafsu kaum proletar yang bergelora.” (Chudori, 2012: 68).

“Ini batang rokok yang kelima. Lama betul Mas Hananto bergulat dengan perempuan itu. Aku melirik arloji. Sudah pukul dua pagi.

Kalau rokok ini sudah habis dan dia belum juga beres nafsunya, aku akan Pulang meninggalkannya...”..”Tak ada alasan apapun bagi Hananto untuk mengkhianati bunga seindah Surti..” (Chudori, 2012:38).

“Ini kali ketiga aku terpaksa mengantar Mas Hananto menemui Marni di tempat kos-nya di kawasan Traveli. Dia membutuhkan aku karena aku adalah tameng bagi Surti.” (Chudori, 2012: 38).

Dalam kutipan di atas Hananto tampak berhubungan dengan beberapa perempuan lain diantaranya Marni adalah salah satu perempuan simpanan Hananto Prawiro. Kutipan berikutnya juga menjelaskan bahwa Dimas yang menemani Hananto menemui Marni merasa kecewa atas sikap sahabatnya itu. Hananto juga mengaku kepada Dimas bahwa ia merasa tidak puas terhadap istrinya. Surti adalah seorang perempuan berkelas, memiliki keagungan yang tidak bisa digapai olehnya,

“Ada sesuatu di dalam diri Surti, mungkin keagungan dan keindahannya yang dimata mas Hananto terasa begitu ‘tinggi’yang tak pernah bisa dia gapai. Sesuatu yang begitu sublim, yang di mata mas Hananto dianggap sebagai unsur ‘borjuasi’ yang membuat Mas Hananto gerah dan menolak.” (Chudori, 2012: 69).

Dalam kutipan di atas menjelaskan bagaimana seorang Surti dalam pandangannya. Hananto dikenal anti terhadap kaum borjuasi menyebabkan dia mengkhianati Surti. Diketahui bahwa Hananto adalah laki-laki yang sudah merampas Surti dari Dimas. Namun, hubungan mereka masih berjalan dengan baik meskipun Dimas masih belum bisa melupakan Surti. Mereka bagaikan benang merah yang menyatu namun tidak terlihat. Ada cinta segitiga diantara mereka. Hingga akhirnya Dimas harus merelakan Surti kepada Hananto Prawiro.

2.1.2.2 Vivianne Devereaux

Vivianne adalah seorang perempuan berkebangsaan Prancis, mengalami le coup de foudre alias cinta pada pandangan pertama pada lelaki Asia yang ditemuinya di tengah ribuan massa aksi mahasiswa dan buruh dalam revolusi Paris, Mei 1968 di depan Universitas Sorbone.

“Sampai di suatu malam bulan Mei 1968 yang riuh oleh tuntutan mahasiswa kepada pemerintah Prancis; aku bertemu dengan Vivianne Deveraux di kampus Universitas Sorbonne.” (Chudori, 2012: 79).

Dalam kutipan di atas menjelaskan bagaimana pertemuan antara Dimas Suryo denga Vivianne dalam aksi mahasiswa dan buruh melawan pemerintahan Prancis pada Mei 1968. Viviannne memiliki mata hijau, berbadan sintal dan berambut brunette. Ia adalah istri dari Dimas Suryo;

“Matanya, aku ingin sekali terjun ke-dalam matanya yang hijau itu, dan terkubur selamanya di situ.” (Chudori, 2012: 18).

“Tetapi yang luar biasa dari tubuh padat sintal berambut brunette itu adalah Vivianne tak memaksa aku untuk segera mengeluarkan seluruh rinci sejarah kehidupanku versi ensiklopedik. Dia sengaja membiarkan aku meneteskannya sedikit demi sedikit dari botol ingatanku.” (Chudori, 2012: 16).

Dalam kutipan di atas Dimas menjelaskan bahwa Vivienne yang memiliki mata hijau tersebut adalah seorang perempuan yang baik. Vivianne tidak pernah memaksa Dimas untuk bercerita mengenai masa lalunya dari pelarian militer. menurut Dimas, Vivianne adalah seorang wanita yang penuh pengertian dan peka terhadap situasi apapun.

“Dia sungguh perempuan yang penuh pengertian...Yang membedakan Vivienne dari kedua sepupunya adalah kepekaannya. Vivienne segera saja paham bahwa sikapnya yang terbuka padaku itu tidak otomatis mendapat barter sejarah hidupku.” (Chudori, 2012: 16).

“Kau mempunyai Ibu dan Aji, adikmu.” Aku tak menjawab. Aku tahu Vivianne ingin menghiburku. Dia memang perempuan yang baik dan lembut hati. Tetapi aku sama sekali tak akan bisa terhibur setiap kali mengingat nasib Surti dan anak-anaknya...” (Chudori, 2012: 38).

Kutipan di atas menjelaskan bahwa Dimas merasa bahwa Vivianne adalah seorang perempuan yang mampu memahaminya serta memberikan kenyamanan meskipun Dimas berada dalam situasi yang rumit. Le coup de foundre yang dirasakan Dimas terhadap Vivianne karena Ia merupakan sosok perempuan cantik, cerdas dan berasal dari keluarga berpendidikan:

“Vivianne jelas seorang perempuan cerdas yang kepandaiannya dipupuk oleh kehidupan keluarga intelektual kelas menengah Prancis yang mementingkan pencapaian akademik...” (Chudori, 2012:16).

Dalam kutipan di atas Dimas menggambarkan sosok Vivianne yang terpelajar serta memiliki selera terhadap karya-karya sastra klasik seperti halnya Dimas yang cinta dengan Sastra. Namun, hubungan Dimas dan Vivianne menjadi renggang akibat perekonomian mereka yang semakin buruk serta kekecewaan Vivianne terhadap Dimas yang masih belum bisa melupakan masalalunya terhadap Surti. Pada akhirnya Vivianne memutuskan untuk berpisah dari lelaki yang dicintainya.

2.1.2.3 Surti Anandari

Surti Anandari adalah istri dari Hananto Prawiro serta mantan kekasih dari Dimas Suryo. Sosok perempuan ini digambarkan sebagai perempuan cantik, berpendidikan, rendah hati, serius, berpendirian dan memiliki naluri yang kuat. Surti digambarkan seperti bunga melati yang suci oleh teman-temannya. Surti berasal dari keluarga priyayi dr. Sastrowidjojo yang berasal dari keluarga turun-temurun dokter terkemuka.

“Surti adalah anak keluarga dr.Sastrowidjojo yang berdiam di jalan Papandayan, Bogor, daerah kaum priyayi elite yang dipayungi pepohonan rimbun. Sebuah keluarga yang turun-temurun dokter terkemuka, yang ikut berperan besar meletakkan fondasi rumah sakit CBZ.” (Chudori, 2012: 52).

Dari kutipan di atas memperlihatkan kehidupan surti yang bersal dari keluarga priyayi dan berpendidikan. Namun, ia tidak mengikuti jejak ayahnya untuk sekolah di Fakultas kedokteran. Surti memilih menjadi mahasiswi di Fakultas Sastra dan Filsafat, Universitas Indonesia. Dimas Suryo dan Hananto Prawiro adalah teman semasa kuliahnya. Pilihannya untuk menikah dengan Hananto karena rasa cinta. Namun hubungan mereka tidak harmonis lantaran Surti yang merasa di khianati oleh Hananto Prawiro.

“Aku tahu, persoalannya bukan hanya petualangan ranjang Mas Hananto, melainkan karena Surti merasa dikhianati dan ditolak oleh suaminya sendiri.” (Chudori, 2012: 68).

Dalam kutipan di atas menjelaskan bahwa Surti dikhianati oleh suaminya Hananto Prawiro karena perempuan lain. Mereka dikaruniai tiga orang anak, Kenanga, Bulan, dan Alam. Sejak Hananto dinyatakan sebagai target operasi oleh

pemerintah Orde Baru, Surti dan anak-anaknya menderita di interogasi polisi selama bertahun-tahun. Pada akhirnya Surti harus merelakan Hananto di eksekusi mati oleh Pemerintah Orba sementara itu Surti berjuang membesarkan anak-anaknya dengan bantuan teman-teman dari Empat Pilar Tanah air.

2.1.2.4 Lintang Utara

Lintang Utara adalah seorang perempuan cantik, berambut hitam ikal dan blasteran. Lintang putri tunggal dari Dimas Suryo dan Vivianne Deveraux yang cerdas dan penuh dengan rasa ingin tahu.

“Semua yang ada pada Lintang adalah perwujudan Ibunya, kecuali rambutnya yang hitam dan ikal adalah rambut keluarga Suryo. Tak henti-hentinya kutatap mahkluk hidup yang bulat, cantik, dan berambut hitam ikal itu.” (Chudori, 2012: 85).

“Aku lahir di sebuah tanah asing. Sebuah negeri bertumbuh cantik dan harum bernama Prancis. Tetapi menurut Ayah darahku berasal dari seberang benua Eropa, sebuah tanah yang mengirim aroma cengkih dan kesedihan yang sia-sia...Di dalam tubuhku ini mengalir sebersit darah yang tak ku kenal, bernama Indonesia, yang ikut bergabung dengan percikan darah lain bernama Prancis. ” (Chudori, 2012: 137).

Dari kutipan di atas menjelaskan bahwa Lintang merupakan anak campuran Prancis-Indonesia dengan paras yang cantik serta dianugrahi oleh intelektual Ibunya dan pemahaman kesusastraan Ayahnya. Meskipun Ia tidak pernah ke Indonesia namun ia sudah mengenal banyak Indonesia dari cerita Ayah dan kawan-kawannya. Lintang melanjutkan pendidikan di Universitas Sorbonne, Paris. Untuk menyelesaikan tugas akhirnya dosen pembimbing memintanya untuk mencari tahu mengenai tanah kelahirannya Indonesia.

“Tak inginkah kau menjenguk kembali asal mula dirimu? Tak inginkah kau mengetahui apa yang membawa ayahmu dan kawan-kawannya terbang ke sini, sebuah negara yang nyaris tak memiliki hubungan historis dengan Indonesia?” (Chudori, 2012: 134).

“Entah bagaimana, aku merasa ingin keluar dari metro dan menenangkan pikiran. Perintah Didier Dupont sama sekali bukan sesuatu yang bisa ditawar lagi. Artinya: aku harus membuat dokumenter yang ada hubungannya dengan Ayah atau dengan Indonesia.” (Chudori, 2012: 138).

Dalam kutipan di atas menjelaskan bahwa, Monsieur Dupont yang merupakan dosen pembimbingnya meminta untuk meneliti dan memuat dokumenter tentang sejarah dan politik yang terjadi di Indonesia. Lintang Utara sebagai anak dari eksil politik, merasa perlu mencari jati diri tentang dirinya dan keluarganya. Lintang akhirnya memutuskan berkunjung ke Indonesia untuk tujuan tugas akhir kuliahnya dengan merekam pengalaman keluarga korban tragedi September 1965 sekaligus mencari tahu asal-usulnya. Sampai suatu hari Ia dipertemukan kepada Segara Alam yang nantinya menjadi pasangan hidupnya.

2.1.2.5 Segara Alam

Segara Alam adalah seorang lelaki tinggi, berambut ikal, bekulit cokelat gosong, dan berwajah kasar.

“...Lelaki tinggi, berambut ikal, berkulit cokelat gosong karena jilatan matahari, dan berwajah kasar oleh bekas jenggot yang dicukur...” (Chudori, 2012: 364).

Dalam kutipan di atas Alam digambarkan mewarisi wajah ganteng ayahnya Hananto Prawiro. Alam terlahir dari keluarga yang kuat akan terpaan cobaan. Semenjak Ayahnya Hananto Prawiro di eksekusi karena di cap sebagai

anggota PKI, Alam mengalami banyak cobaan. Sejak kecil ia sudah terdidik dengan keras sehingga membuat alam tumbuh menjadi anak yang kuat, penuh dengan pertanyaan-pertanyaan dan kemarahan. Alam digambarkan sebagai sosok yang idealis serta kritis dan pintar. Ia tumbuh menjadi laki-laki yang pemberani, tempramen serta menjadi pelindung bagi sahabatnya Bimo. Mereka adalah dua intelektual muda yang bersemangat:

“Saya mendapat kesan, orang-orang muda seperti Alam dan Bimo bukanlah perwakilan generasi muda Indonesia umumnya. Mereka adalah aktivis dan intelektual yang terbentuk karena sejarah.” (Chudori, 2012: 410).

Dari kutipan di atas menjelaskan bagaimana pandangan Lintang terhadap Alam dan Bimo. Mereka adalah dua sosok lelaki tangguh yang berasal dari keluarga eks tapol. Alam merupakan pelindung bagi sahabatnya Bimo. Mereka bekerja di sebuah LSM sebagai aktivis. Pada suatu hari Alam dipertemukan dengan Lintang anak Dimas Suryo yang ditugaskan ke Indonesia untuk tugas akhir kuliahnya. Namun, pertemuan itu berujung pada cinta segitiga.

“Ternyata le coup de foundre itu menghantamku dalam seorang Alam. Lelaki tinggi, berambut ikal, berkulit cokelat gosong karena jilatan matahari, dan berwajah kasar oleh bekas jenggot yang dicukur...” (Chudori, 2012: 364).

Dari kutipan di atas Lintang mengalami cinta pada pandangan pertama kepada Alam, walaupun dia sadar bahwa dia sudah memiliki kekasih Narayana.

2.1.2.6 Tjai Sin Soe (Thahjadi Sukarna)

Tjai Sin Soe (Thahjadi Sukarna) adalah salah satu sahabat Dimas yang bekerja di Kantor Berita Nusantara. Ia salah satu tokoh yang paling apolitis dari semua temannya. Tjai adalah bagian dari empat Pilar Tanah Air. Ia seorang lulusan sarjana ekonomi, tidak banyak bicara, pekerja keras, rasional dan penuh perhitungan. Tjai sendiri berasal dari etnis Tionghoa. Tjai dan keluarga merasa tidak nyaman tinggal di Indonesia, sejak prahara tragedi 65 ia melarikan diri bersama istri dan keluarganya.

“Tjai adalah lem yang merekatkan kami semua. Dia satu-satunya yang tak punya keanehan atau kekenesan. Dia datang dari keluarga Tionghoa Surabaya yang percaya pada kerja keras. Terdamparnya Tjai ke luar Indonesia, seperti juga banyak keluarga Tionghoa lainnya, sebetulnya bukan karena Ideologi belaka, karena Tjai samasekali tidak suka berpolitik.” (Chudori, 2012: 98).

Dalam kutipan di atas menjelaskan bahwa Tjai adalah sahabat yang baik bagi teman-temannya. Ia dan keluarganya melarikan diri ke luar negeri dan menetap di P{rancis. Tjai sama sekali tidak tertarik dengan politik. Namun, Ia tahu bahwa etnis Tionghoa tidak aman berada di Indonesia pasca prahara 65. Tjai dan kawan-kawannya Empat Pilar Tanah Air mendirikan Restoran Tanah Air di Paris. Karena ia teliti dan cekatan dipilih menjadi bagian keuangan di Restoran Tanah Air. Dapat dilihat dalam kutipan di bawah.

“Tjai Sin Soe (yang terkadang dikenal dengan nama Thahjadi Sukarna) yang lekat dengan kalkulator di tangan kirinya jauh melebihi nyawanya sendiri, lebih banyak berbuat, berpikir cepat dari pada coa-coa.” (Chudori, 2012: 50).

“Setiap kali menjelang tengah malam, saat tamu-tamu Pulang , Tjai sibuk menghitung uang yang masuk dengan kalkulator dan membagikan uang tips..” (Chudori, 2012: 50).

Dari kutipan di atas menjelaskan kegiatan sehari-hari Tjai Sin Soe di Restoran Tanah Air. Tjai dipercayakan teman-temannya dalam urusan keuangan. Tjai merupakan seorang yang serius, bertanggung jawab, tidak banyak bicara namun dapat diandalkan. Tjai juga salah satu dari kawan-kawannya yang tidak tertarik dengan politik, Ia lebih menyibukkan diri dalam urusan hitung-menghitung karena itu merupakan keahliannya.

2.1.2.7 Risjaf

Risjaf adalah salah satu dari empat pilar Tanah Air yang ikut mendirikan restoran Indonesia di Paris bersama Dimas Suryo. Risjaf adalah seorang lelaki tampan, jantan, berambut ombak, berasal dari Riau, berhati lurus, dan tulus.

“Risjaf lelaki kelahiran Riau yang begitu tampan, berambut ombak, dan bertubuh tinggi besar..” (Chudori, 2012: 55-56).

“Risjaf sahabatku yang paling tampan, berambut ombak, berhati lurus dan tulus.” (Chudori 2012: 50).

Dari kutipan di atas menjelaskan bahwa Risjaf adalah sosok laki-laki polos dan baik, ia juga salah satu teman baik Dimas semasa kuliah. Dimas menganggap bahwa Risjaf lelaki yang polos dan pintar memainkan alat musik harmonika dan seruling dengan nada mendayu-dayu.

“Kamipun selonjor di ruang atas dan menikmati “Als de Orchideeen Bloeien” dari harmonika Risjaf. Bergetar dan mengiris hati.”(Chudori, 2012: 51)

“Dan 45 tahun kemudian, tiupan harmonika Risjaf masih saja sayup-sayup menembus Paris di musim semi: “Als de Orchideeen Bloeien”.(Chudori, 2012: 65)

Dalam kutipan di atas menjelaskan bahwa Risjaf seorang yang gemar memainkan alat musik khususnya Harmonika. Risjaf adalah salah satu teman Dimas Suryo yang bekerja di kantor Berita Nusantara. Risjaf mendapat tugas untuk dikirim ke Havana dalam konferensi jurnalis.

“Risjaf juga kita kirim ke Havana untuk urusan Organisasi Asia-Afrika.” (Chudori, 2012: 45).

Dalam kutipan di atas menjelaskan Bahwa Hananto sebagai atasan dari Risjaf menugaskannya untuk menghadiri konferensi jurnalis ke havana yang akhirnya membuat Risjaf tidak dapat Pulang ke Indonesia. Risjaf dan kawan-kawan yang terlibat dalam konferensi internasional mengalami pengasingan di luar negeri dan dianggap sebagai pengikut paham kiri. Mereka menjadi eksil politik Indonesia di Prancis. Sejak saat itu Risjaf ikut berperan dalam berdirinya restoran Tanah Air dan menetap di Paris bersama kawan-kawan seperjuangannya. Risjaf menemukan pasangan hidupnya di Prancis dengan latar belakang yang sama yaitu berasal dari Indonesia.

2.1.2.8 Nugroho Dewantoro

Nugroho Dewantoro adalah lelaki asal Yogyakarta yang bekumis seperti Clark Gable dan selalu gembira serta berhati baja. Nugroho lebih senior diantara sahabatnya empat pilar Tanah Air. Namun, berprinsip egaliter dalam kelompok. Nugroho digambarkan sebagai sosok paling ceria, percaya diri, optimis, gemar

menyanyi dan bersiul serta menjadi motor penyemangat bagi teman-teman sesama eksil politik. Ia juga memiliki keahlian dalam memijat dan akupuntur yang dipelajarinya selama berada di Peking.

“Dengan percaya diri yang tinggi, kemampuan memijat dan akupuntur yang dipelajari selama berada di Peking, ditambah kumis nak Clark Gable, Mas Nug merasa cukup modal untuk selalu optimistik.” (Chudori, 2012: 93).

Dalam kutipan di atas menjelaskan bahwa Nugroho adalah seorang yang optimis dalam kehidupannya. Ia juga memiliki keahlian dalam akupuntur dan menjadi salah satu sumber penghasilannya selama menjadi eksil politik. Namun, dalam urusan asmara Nugroho kurang beruntung meskipun ia juga salah satu penggila perempuan. Sejak menyandang status eksil politik dan bermukim di Paris, Nugroho hidup tanpa pendamping hidup karena istri yang sudah menemaninya selama bertahun-tahun meninggalkannya dan memilih menikah dengan seorang tentara.

“Vivianne perlahan mengambil surat itu dari tangan Mas Nug dan memberikannya padaku. Aku membuka dan membacanya. Sebuah surat cerai. Rukmini. Sang anggrek, Orchideeen Bloeien, itu meminta cerai dari Mas Nugroho yang berkumis seperti Clark Gable ini?” (Chudori, 2012: 88).

“Satu-satunya momen Mas Nug tak bisa mengontrol kesedihannya adalah ketika dia menerima surat cerai dari Rukmini. Selebihnya, dia adalah orang yang sangat optimistik dan mencoba mencari hikmah dalam bencana apapun yang menimpanya.” (Chudori, 2012: 92).

“Dia berkencan dengan seorang tentara yang senantiasa melindunginya selama perburuan sepanjang 1966 dan 1967.

Semula aku mengira Letkol Prakosa sekedar teman ayahnya yang baik budi ingin menolong keluarga Rukmini.” (Chudori, 2012: 88)

Dari kutipan di atas menjelaskan bahwa Nugroho menerima surat cerai dari istrinya Rukmini yang berada di Indonesia. Rukmini memutuskan bercerai dengan Nugroho dan menikah dengan seorang tentara bernama Prakosa. Pasca tragedi 65 Nugroho dan keluarga terpisah jauh. Pernikahannya dengan Rukmini dikaruniai seorang anak bernama Bimo Nugroho. Bimo ditinggal ayahnya ketika berumur satu tahun, mereka hampir tidak pernah bertemu lagi.

2.1.3 Tokoh Tambahan utama

2.1.3.1 Andini

Andini adalah anak kedua dari Aji Suryo. Andini merupakan anak periang, lincah dan tangkas. Andini adalah adik dari Rama. Mereka adalah anak dari Aji Suryo. Andini berbeda dengan kakaknya Rama:

“Berbeda dengan abangnya yang selalu tegang, Andini yang lahir sebagai anak yang riang, lincah, dan tangkas hampir tak pernah mempersoalkan penghargaan setelah dia berhasil meraih prestasi...” (Chudori, 2012: 332).

Dapat di lihat dari kutipan di atas bahwa Andini merupakan anak yang mandiri, periang, percaya diri dan berani. Rama dan Andini adalah dua bersaudara yang memiliki karakter yang berbeda dan sifat yang berbeda. Mereka sering bermusuhan setiap kali bertemu. Lihat kutipan berikut.

“Bisa dibayangkan bagaimana Andini yang mandiri itu menghadapi Rama. Abangnya lebih tua lima tahun daripada dia, tetapi justru lebih sering mutung dan mengeluh. Akibatnya, rumah

itu berisi perang yang tak berkesudahan antara abang dan adik itu.” (Chudori, 2012: 293).

Dalam kutipan di atas menjelaskas dua karakter antara Andini dengan kakaknya Rama. Andini merupakan anak yang mandiri dan suka mengalah terhadap kakaknya. Meskipun hubungan mereka kurang akrab namun, mereka

Dokumen terkait