C. Tradisi Pernikahan Yogyakarta Menurut Subjek Penelitian

1. Tradisi Pernikahan Yogyakarta Menurut Subjek ahli

a. Pelaksanaan Tradisi Pernikahan Yogyakarta Menurut Tokoh 1 Berdasarkan hasil wawancara dengan Tokoh 1, diperoleh data tentang pelaksanaan Tradisi Pernikahan Yogyakarta secara baku. Pertanyaan pertama yang diajukan oleh peneliti adalah tentang rangkaian upacara yang dilaksanakan dalam Tradisi Pernikahan Yogyakarta. Pertanyaan ini dijawab oleh Tokoh 1 sebagai berikut:

“Prosesi pernikahan ala adat Yogyakarta, pertama nontoni. Nontoni adalah perkenalan dua keluarga dari pihak calon pengantin kakung (pengantin putra) kepada pihak keluarga calon pengantin putri. Waktu nontoni, dari pihak kakung bisa, keluarga pengantin kakung dengan membawa saksi. Dan nontoni itu dari pihak calon pengantin putri tidak boleh menjamu makanan yang berlebihan. Cuma sekedar minuman ala kadarya dengan ya cuma minuman plus snack tidak boleh dijamu makan besar itu pantangan karena masih nontoni. Ya kalau jadi, kalau nggak?

Menanyakan apakah si gadis sudah ada yang meminang atau belum? Kalau belum dari keluarga pihak lelaki mau melamar. Dari pihak putri, belum bisa memberi jawaban. Di lain waktu baru memberikan jawaban. Caranya dari pihak keluarga pengantin putri tanya kepada putrinya, Ndhuk apakah sudah punya calon atau belum? Kalau belum

tamu yang tadi atau pihak kemarin akan mempersunting Gendhuk (sebutan orang Jawa untuk anak perempuan) atau akan menjadikan putra atau mantu anakku atau putriku. jawabannya diterima atau tidak. Lalu lain waktu baru diberikan jawaban, terus jawabannya, dari pihak calon pengantin putri datang ke keluarga calon pengantin kakung. Kalau berkenan atau dari pihak calon pengantin putri oke, berkenan, maka memberikan jawaban secepat mungkin.

Lalu suatu saat atau di lain waktu akan melamar putrinya dan memberikan seperti ikatan. Ikatan itu, apa berupa cincin, apa berupa surat perjanjian, ya pokoknya yang diberikan itu, seolah-olah orang lain sudah tidak berhak atau orang tua anak perempuan itu sudah tidak berhak memberikan kepada orang lain lagi.

Lalu kunjungan yang kedua itu Lamaran, dengan membawa syarat-syarat. Itu, dari kelarga pihak pengantin kakung membawa saksi, membawa ya sekedar oleh-oleh buah tangan, dengan ini, cincin. Itu cincin juga tidak mutlak ya, pokoknya janji. Mengadakan perjanjian dengan kesepakatan melamar, meminang. Dengan menentukan kapan hari-H pelaksanaan kedua belah pihak.

Itu permulaan, poin berikutnya tata pelaksanaan rencana Ijab Kobul. Sebelum Ijab Kobul ada upacara namanya nyantri. Nyantri adalah dari keluarga pengantin kakung sebelum hari H-1 sorenya min-1 (sorenya sebelum Ijab), pihak calon pengantin kakung datang ke rumah pengantin putri, nyantri. Artinya nyantri, calon pengantin kakung harus bermalam di tempat pengantin putri dengan didampingi dua orang remaja putra. Kenapa diadakan nyantri? Pertama supaya calon pengantin kakung itu tenang sewaktu-waktu dibutuhkan dari pihak calon pengantin putri. Jadi jika pengantin kakung sudah lenggah (tinggal) di pihak pengantin putri itu rasanya ayem, tenang. Soalnya kalau mendadak, orang kan tidak tahu namanya halangan itu tidak ada rencana, tetapi kalau sudah di pihak calon pegantin putri rasanya ayem. Ditemani dengan dua remaja itu kenapa? Biar jika pengantin kakung itu membutuhkan sesuatu bisa disuruh. Jadi pengantin kakung tidak pergi kemana-mana. Kedua (mengapa diadakan Nyantri) supaya ada komunikasi antara calon pengantin kakung dan pengantin putri itu, apa yang besok pagi akan direncanakan. Pokoknya ada komunikasi positif.

Terus sekarang Ijab Kobul. Dari pihak keluarga calon pengantin kakung beserta rombongan menyerahkan kepada pihak calon pengantin putri untuk supaya putranya dinikahkan dengan putrinya pada saat hari yang sudah ditentukan. Adapun syarat yang dibawa, pisang raos satu tangkep. Itu wajib tidak boleh ketinggalan! Soalnya apa? Pisang raja itu bahasa Jawanya pisang raos, raos itu rasa. Rasa dari keluarga pihak kakung biar manunggal, satu rasa dengan pihak pengantin putri. Itu harus disoroti itu filsafatnya! Yang pertama pisang raja satu tanggkep, yang kedua sirih ayu, jadi gini, ‘suruh, padha mlumah mengkurepe yen dirasake dimamah digeget podo rasane’ artinya di dalam rumah tangga itu padha dilakoni sama-sama dirasakan. Lalu membawa oleh-oleh atau tanda tali asih, tali kasih semampunya, lebih banyak lebih bagus tapi itu juga tidak mutlak. Lalu sekedar bantuan untuk beli bumbu berupa uang. Untuk pengantin kakung hanya mas kawin. Ini kan yang dibawa rombongan, termasuk jago, bombongan atau ayam jantan. Jago ini maksudnya kalau kita itu punya cita-cita jadilah jagoan yang tangguh. Jadi ini menyerahkan calon pengantin putra untuk dinikahkan dengan membawa saksi, dari pihak kakung satu saksi. Lalu prosesi Ijab Kobul. Ini yang dibahas baru dari pihak kakung ya Mbak!”

Demikianlah penjelasan dari Tokoh 1 tentang upacara sebelum pernikahan yang dilihat dari segi pihak pengantin putra. Selanjutnya Tokoh 1 menjelaskan tentang upacara-upacara pernikahan dari sudut pandang pihak pengantin putri, dan disampaikan sebagai berikut:

“Upacara Tarub. Yang dipakai daun-daunan yang mengandung filsafat. Pertama daun lancur, daun puring, daun alang-alang, tebu ireng atau tebu wulung, pisang raos satundun. Itu semuanya satu jodo maksudnya kiri kanan. Apakah artinya Tarub? Tarub adalah sejarah dari Joko Tarub untuk pertanda bahwa disitulah ada orang hajatan. Tarub untuk, pertama pertanda yang punya hajat, kedua untuk tolak balak. Itu kan ada janur kuning juga ya Mbak!

Jadi itu, kalau ada makhluk halus itu tidak masuk kerumah. Ini kan sebenarnya kepercayaan animisme, dan barang-barang itu kan dari kuburan ya Mbak ya! Jadi Tarub itu sebagai tolak balak jadi makhluk halus itu bermain dalam Tarub itu sehingga tidak mengganggu yang ada di dalam rumah.

Terus pasang bleketepe. Bleketepe itu yang memasang ayah dari pengantin putri. Jadi, ibu membawa bleketepe kemudian bapak yang sudah siap di atas tangga menerima beleketepe dari ibu dan kemudian dipasang. Kemudian ibu pengantin putri memasang padi di kiri kanan Tarub.”

Berdasarkan penjelasan tentang Tarub tersebut, peneliti mengajukan pertanyaan tentang makna dari setiap barang yang digunakan. Pertanyaan ini dijawab sebagai berikut:

“Daun alang-alang maknanya supaya tidak ada halangan. Daun lancur supaya yang punya hajat itu meluncur cita-citanya terus melesat. Terkabul. Tebu wulung, anteping kalbu. Mantep di dalam mengadakan hajat itu, mantep madep marep. Janur adalah mengharap nur dari Tuhan supaya mendapatkan cahaya dari Tuhan. Pisang raja itu supaya dia bisa luhur budinya, bijaksana, dan selalu mengharap ridho Allah. Dan ini, bisa menjaga, menyangga ekonomi keluarga. Daun puring itu untuk mainan makhluk yang tidak terlihat. Kelapa gading, biar makin mantep dan berpikiran yang jernih. Jadi pikirannya hanya menyatu kepada Tuhan, dan mengharap kerukunan dalam rumah tangga. Padi, pengharapan rejeki, karena kalau punya beras itu kan ayem Mbak!. Bleketepe itu, simbol rumah tangga. Besok, si pengantin itu, minimal dapat membuat rumah rampak (rumah sederhana orang Jawa pada jaman dahulu)”.

Setelah acara Tarub acara selanjutnya yang dilaksanakan adalah Jual Dawet. Upacara Jual Dawet ini dijelaskan oleh Tokoh 1 sebagai berikut:

“Acara selanjutnya adalah Jual Dawet. Ibu (meng)gendong tenggok bahasa Indonesianya bakul. Nggendong bakul, dihadapan sudah tersedia sepikul dawet. Bapak memberikan keteduhan atau mayungi ibu. Siapkan uang dari genting atau kereweng. Uang atau kereweng dibagikan kepada yang membantu perhelatan, ‘sing rewang’. Jadi uang atau koin genteng diberikan kepada yang membantu perhelatan atau keluarga atau para tamu, itu supaya untuk membeli dawet. Dengan harapan tamunya biar seperti cendol, jadi mengandung harapan biar seperti cendol tamunya tidak terhitung banyaknya.

Kemudian Siraman. Siraman yang menyirami harus masih komplit, yang pertama orang tua pengantin putri. Siapkan pengaron yang telah diisi air dari tujuh sumber mata air. Tujuh bunga, tapi kebanyakan Cuma lima warna atau panca warna. Siapkan tujuh ibu yang sudah berumah tangga dan masih komplit. Masih komplit itu yang masih ada suami istri.”

Sampai pada penjelasan ini, peneliti bertanya yang menyirami pengantin putri apakah ibu yang sudah berumah tangga atau sudah menikahkan anaknya, kemudian Tokoh 1 menjawab demikian

“Yang sudah eyang karena yang diharapkan itu doanya Mbak... kan kita tidak sekedar nyirami tetapi memberi doa kepada pengantin supaya pengantin itu, ya bersama-sama kedua hidup rukun, rejeki bagus. Kalau yang pengantin kakung yang nyirami juga kakungg semua. Jadi yang nyirami itu yang sudah punya cucu”.

Kemudian Tokoh 1 menjelaskan tentang perlengkapan yang diperlukan dalam upacara Siraman dan juga tata cara pada prosesi itu. Penjelasan ini dijelaskan sebagai berikut:

“Satu rakit kelapa hijau. Satu rakit itu, dua kelapa yang diikat jadi satu, dan dimasukkan ke dalam pengaron. Siapkan konyoh lulur, sampo, handuk, kain jumputan. Kain jumputan itu nanti setelan sama baju.

Sekarang prosesi Siraman. Prosesi diawali dari orang tuanya, dari ibunya. Setelah ibunya, ayahnya tiga gayung, tiga guyuran. Setiap personil tiga guyuran, dari arah atas ke bawah. Terakhir, setelah selesai semuanya ibu juru perias. Ibu perias menyiapkan kendi yang telah diisi air tujuh sumber. Supaya menyucikan calon pengantin putri. Terus

memecah kendi dengan mengucapkan ‘wis pecah pamore’. Pengantin putri dihanduki kering digendong sama ayahnya masuk kedalam panti busana.

Sekarang Upacara Midodareni atau malam turunnya bidadari. Pengantin putri menghadap juru rias dihilangkan rambut atau bulu-bulu yang halus di sekitar dahi. Di tumbuhnya rambut itu dibuat cengkorongan atau goresan berbentuk kalau Jogjakarta (Yogyakarta) itu, satu dibuat cengkorongan itu di tengah, kemudian penitih, pengapit, godheg. Ya itu dibentuk juga! Setelah pengerikan ketiga bentuk cengkorongan selesai, di sanggul tekuk. Make up minimalis, konde tekuk berkain, non perhiasan. Dikelilingi remaja putri, atau yang mendampingi remaja putri. Tidak boleh remaja putra masuk. Walaupun itu adiknya, tidak boleh! Memberikan doa bersama atau hiburan yang sifatnya positif. Tidak boleh tidur sebelum jam sebelas malam. Jadi ibaratnya sebelas itu bidadari sudah turun, lalu istirahat. Baru pagi harinya hari-H nya. Sekali lagi, busananya Midodareni berkain komplit tapi sederhana, kalau bisa jumputan, atau kalau ndak ya ini pakai kain Jogjakarta (Yogyakarta), kebaya Jogjakarta.”

Setelah menjelaskan sampai pada upacara Midodareni ini, Tokoh 1 berinisiatif untuk memberikan buku panduan yang beliau gunakan sebagai acuan. Hal ini beliau lakukan sebab adanya keterbatasan waktu dan tenaga dari tokoh 1. Buku tersebut berjudul Tata Rias Pengantin Gaya Yogyakarta karangan R. Supadmi Murtiadji dan R. Suwardanidjaja. Tidak lupa peneliti menanyakan kredibilitas buku tersebut, dan Tokoh 1 menyampaikan bahwa buku ini diperoleh dari hasil kursus menjadi juru paes. Dari buku yang diberikan oleh Tokoh 1 diperoleh informasi sebagai berikut:

1) Siraman

Siraman merupakan simbol persiapan lahir dan batin bagi kedua calon pengantin sebelum mereka menjalani puncak upacara perkawinan. Air yang digunakan dalam upcara siraman ini terdiri dari tujuh sumber mata air dan dicampur dengan tujuh bunga. Siraman untuk kedua calon pengantin

dilakukan oleh orang tua dan beberapa tetua yang telah ditunjuk. Upacara siraman diakhiri dengan kegiatan muloni oleh jurupaes. Muloni adalah kaitannya dengan kegiatan membersihkan muka, tangan, dan kaki seperti sebelum sembahyang.

2) Ngerik

Ngerik merupakan pemotongan sebagian rambut halus yang tumbuh di bagian dahi dan bertujuan agar calon pengantin bersih lahir dan batin dan nantinya pengantin tampak cemerlang. Upacara ngerik ini diawali dengan rambut calon pengantin putri diratus, kemudian digambar cengkorongan. Selanjutnya rambut calon pengantin dikerik, dan rias samar-samar. Upacara ngerik dilakukan segera setelah upacara siraman.

3) Midodareni

Midodareni merupakan malam kedatangan dewi Nawang Wulan (tokoh pada cerita Joko Tarub) yang akan merestui dan mempercantik calon pengantin putri. Calon pengantin putri tinggal di kamar pengantin yang dihias dan dilengkapi dengan perlengkapan Midodareni, serta ditemani para sesepuh. Sementara itu, di luar kamar pengantin dapat dilakukan upacara Srah-srahan, yaitu upacara penyerahan calon pengantin putra kepada orang tua calon pengantin putri.

Setelah itu, calon pengantin putra menjalani Nyantri. Kemudian pada malam hari pukul 24.00 calon pengantin putri keluar kamar untuk makan bersama dengan keluarga dan tamu yang hadir.

4) Ijab

Upacara Ijab mengikuti ketentuan agama yang dianut, dan tidak terdapat upacara khusus menurut tradisi Jawa. 5) Upacara Panggih

Upacara Panggih diawali dengan penyerahan sanggan oleh keluarga mempelai putra kepada ibu mempelai putri. Kemudian pengantin wanita keluar dan dilanjutkan dengan balang-balangan suruh, wijikan, dan memecah telur. Setelah itu, kedua calon pengantin menuju pelaminan dengan saling mengaitkan kelingking mereka. Sesampainya kedua pengantin tiba di pelaminan dan duduk. Upacara dilanjutkan dengan Tampa Kaya.

Upacara Tampa Kaya merupakan simbol perekonomian keluarga yang akan dibangun oleh kedua pengantin. Pada upacara ini, pengantin putra menuangkan kaya yang terdiri dari biji-bijian dan uang receh, ke kain mori yang ada di pangkuan pengantin putri. Selanjutnya penganti putri membungkus Kaya tersebut dan menitipkannya kepada ibunya. Setelah upacara

Tampa Kaya selesai, selanjutnya adalah upacara Dhahar Klimah.

Upacara Dhahar Klimah ini dimulai dengan penyerahan nasi kuning oleh juru paes kepada pengantin putra. Selanjutnya pengantin putra mencuci tangan dan membuat kepalan nasi kuning tersebut sebanyak tiga butir. Kepalan dibuat satu persatu dan diletakkan di atas piring yang telah dibawa oleh pengantin putri. Setelah ketiga kepalan selesai dibuat, kedua pengantin mencuci tangan, kemudian pengantin putri memakan kepalan nasi yang telah dibuat. Setelah itu, kedua pengantin minum bersama-sama.

Setelah upacara Dhahar Klimah selesai, orang tua pengantin putri menjemput orang tua pengantin putra atau besan di Tarub (pintu gerbang). Kemudian mereka menuju pelaminan, dan setelah duduk kedua pengantin sungkem kepada orang tua mereka. Upacara sungkem yang pertama adalah kepada ayah pengantin putri oleh pengantin putri, dan diikuti oleh pengantin putra, selanjutnya kepada ibu pengantin putri, kemudian kepada ayah pengantin putra dan terakhir adalah kepada ibu pengantin putra. Sungkeman oleh pengantin putri ini, dikuti oleh pengantin putra satu persatu.

Demikianlah rangkaian upacara pada Tradisi Pernikahan Yogyakarta yang dilaksanakan menurut Tokoh 1, dan berdasarkan buku panduan yang Tokoh 1 gunakan.

b. Pelaksanaan Tradisi Pernikahan Yogyakarta Menurut Tokoh 2 Berdasarkan hasil wawancara dengan tokoh 2 pada tanggal 19 Februari 2017 diperoleh informasi tentang pelaksanaan Tradisi Pernikahan Yogyakarta menurut Tokoh 2. Peneliti mengajukan pertanyaan tentang apa saja rangkaian upacara yang dilaksanakan dalam Tradisi Pernikahan Yogyakarta, dan bagaimana rangkaiannya, perlengkapan, serta maknanya kemudian, Tokoh 2 menjawab sebagai berikut

“Persiapan pernikahan ada Lamaran, pasang Tarub dan bleketepe, pasang tuwuhan, Upacara Bucalan, Langkahan, Sungkem Orang Tua, Siraman, Meratus Rambut Ngerik, Dulangan Pungkasan, Potong Rambut Dan Tanam Riko, Midodareni. Lalu, Lamaran merupakan peristiwa penting yang mengawali rangkaian persiapan pernikahan. Utusan dari orang tua calon pengantin pria datang ke kediaman orang tua pengantin wanita untuk meminang sang putri.

Tarub. Tarub artinya suatu atap sementara atau halaman rumah yang dihias dengan janur melengkung pada bagian tiang penyangga dan pada tepi Tarub untuk perayaan pengantin. Upacara Pasang Tarub ditandai dengan pemasangan bleketepe, anyaman daun kelapa tua. Dilaksanakan secara simbolis oleh bapak dan ibu pengantin pemangku hajat dipihak putri.

Tuwuhan merupakan bagian dari hiasan atau pajangan yang berupa aneka ragam daun-daunan, buah-buahan, umbi-umbian yang menurut tradisi dan kepercayaan adat Jawa khususnya Jogja Tuwuhan itu kan ada tebu wulung, beringin, daunya itu Mbak, dadap srep, dua tandan pisang raja dan pohonnya, dua janjang kelapa muda cengkir. Maksud(nya) isih cengkir durung tuwo gitu lho Mbak! Untuian padi, dipasang di kanan kiri pintu gerbang. Maknanya alam yang memberi kehidupan segenap makhluk di dunia sekaligus simbol dari sesuatu yang sangat penting bagi kehidupan dan terus tumbuh kembang menuju kebahagiaan rumah tangga. Tuwuh sama dengan tumbuh memberi harapan kepada putra putri yang akan dimantu dapat memperoleh keturunan.

Bucalan atau buangan. Simbol-simbol yang digunakan dalam tradisi persiapan hajat mantu dengan harapan agar diberi keselamatan. Sajen Bucalan diletakkan di bawah tempat Tuwuhan kanan dan kiri masing-masing satu. Empat pojok rumah, tengah rumah, kamar

pengantin, pelaminan, kamar mandi, sumur, pintu masuk halaman, perempatan atau pertigaan terdekat. Perlengkapannya ada takir kecil berisi bulatan ketan warna lima. Takir kecil berisi empon-empon, kunyit, lengkuas. Takir kecil berisi beras merah, kacang-kacangan, uang logam. Takir kecil lagi, bunga telon, kemenyan, suruh, sebatang rokok. Terus takir kecil lagi, telur ayam kampung satu. Takir kecil bersi pala gumantung, pala kependem misale mentimun, bengkoang, umbi-umbian, jagung. Takir kecil berisi gecok mentah, berupa irisan daging mentah yang diberi bumbu cabai merah dan santan mentah. Seluruh piranti Bucalan diletakkan dan keranjang anyaman atau tampah ya bisa, diberi alas daun pisang. Maknanya dalam Tradisi Jogja, Bucalan dimaknai sebagai persembahan kepada roh leluhur dan penolak balak”.

Langkahan, dalam Jawa dikenal urut tua bagi putra-putri yang mau menikah. Apabila adik hendak menikah mendahului kakaknya yang masih lajang, maka secara adat dapat melaksanakan langkahan. Pada prinsipnya adalah permohonan ijin adik kepada kakaknya untuk menikah dahulu sebagai simbol penghormatan”.

Sampai pada penjelasan ini, Tokoh 2 menyerahkan buku yang dijadikan sebagai acuan supaya peneliti dapat menggali sendiri. Buku tersebut berjudul Pengantin Yogya Putri & Paes Ageng : Prosesi, Tata Rias & Busana oleh Puspa Martha International Beauty School. Selanjutnya, peneliti melanjutkan pertanyaan upacara yang masih umum dilaksanakan, khususnya di Kecamatan Minggir, dan Tokoh 2 menjawab sebagai berikut “Kalau manten kan kadang tidak mau repot karena syarat-syaratnya, nah, yang umum sekarang itu Lamaran pasti, pasang Tarub itu kaitannya dengan pasang Tuwuhan, Bucalan itu tidak pasti, malah sudah tidak ada itu yang melaksanakan. Midodareni, Meratus Rambut dan Ngerik, Sungkeman, sama rangkaian waktu upacara Panggih setelah akad nikah”.

Peneliti kemudian mengajukan pertanyaan kembali rangakaian acara setelah pernikahan dan Tokoh 2 menjawab

“Sepasaran, sama Boyong Manten atau Ngunduh Mantu.”

Berdasarkan buku yang diberikan oleh tokoh 2, diperoleh informasi sebagi berikut:

1) Lamaran

Melamar merupakan peristiwa yang mengawali rangkaian pernikahan. Pada Lamaran ini, utusan dari orang tua calon pengantin putra yang terdiri atas rombongan kecil yang berjumlah tiga hingga tujuh orang berkunjung ke rumah orang tua calon pengantin putri. Kunjungan ini berisi penyampaian maksud dari orang tua calon pengantin putra untuk meminang sang putri. Kemudian, orang tua calon pengantin putri tidak langsung memberikan jawaban atas pinangan tersebut. Apabila pinangan tersebut diterima oleh sang putri, maka utusan dari orang tua calon pengantin putri menyampaikan jawaban tersebut kepada orang tua calon pengantin putra. Kunjungan ini sekaligus membicarakan waktu peresmian.

2) Pasang Tarub dan Bleketepe

Pemasang Tarub ditandai dengan pemasangan Bleketepe, yaitu anyaman daun kelapa tua. Sebelum pemasangan Tarub dimulai, dibuat terlebih dahulu gapura Tarub yang dibuat dengan mengggunakan janur kuning. Janur memiliki makna simbolis yaitu sebagai harapan agar dikaruniai kesejahteraan, keselamatan, dan dihindarkan dari bermacam-macam musibah. 3) Pasang Tuwuhan

Tuwuhan atau Tetuwuhan merupakan bagian dari hiasan Tarub yang terdiri dari berbagai macam daun-daunan dan

umbi-umbian. Tuwuhan melambangkan kekayaan alam yang memberikan kehidupan bagi segenap makhluk di dunia, dan sekaligus sebagai simbol sesuatu yang sangat penting bagi kehidupan khususnya bagi kehidupan rumah tangga yang akan dibangun supaya dapat terus tumbuh menuju kebahagiaan. Pemasangan Tuwuhan ini dilakukan oleh kedua orang tua calon pengantin putri dan serangkaian dengan pemasangan Tarub dan Bleketepe.

4) Sungkeman Orang tua

Sungkeman Orang Tua dilakukan sebelum upacara Siraman. Tujuannya adalah permintaan restu oleh calon pengantin putri kepada orang tuanya untuk melaksanakan pernikahan.

5) Siraman

Siraman adalah upacara memandikan calon pengantin putra dan putri. Harapan dari upacara ini adalah untuk membersihkan dan menyucikan kedua calon pengantin dari hal-hal yang tidak baik, sehingga pada saat perkawinan, kedua calon pengantin dalam keadaan bersih dan suci. Upacara siraman biasanya dilaksanakan pada pukul 10.00 atau pukul 15.00, yang memandikan calon pengantin adalah orang tuanya serta beberapa tetua yang telah ditunjuk. Tetua yang ditunjuk hendaknya dapat memberikan teladan yang baik kepada calon

pengantin. Siraman untuk calon pengantin putra dilakukan di rumahnya sendiri dengan menggunakan air kiriman dari kediaman calon pengantin putri.

6) Potong dan Tanam Rikmo

Setelah utusan pembawa air Siraman untuk calon pengantin putra kembali lagi ke rumah calon pengantin putri dengan membawa potongan rambut calon pengantin putra, diadakan upacara Potong DAN Tanam Rikmo. Upacara Potong Rikmo merupakan upacara potong ujung rambut calon

Dalam dokumen Kajian etnomatematika terhadap tradisi pernikahan Yogyakarta oleh masyarakat di kecamatan Minggir, Sleman, DIY, dalam rangka penentuan aspek aspek matematis yang dapat digunakan dalam pembelajaran (Halaman 63-93)