1. Bagaimana hubungan antara Harian Waspada dan Waspada Online?
Waspada Online memang berbeda manajemen dengan Harian Waspada. Sementara, Harian Waspada sudah memiliki media online juga, yaitu manajemennya juga punya Waspada.
2. Bagaimana pandangan anda mengenai perkembangan media online?
Perkembangan media online, porspek ke depan sepertinya cerah. Punya potensi yang baik untuk berkembang. Masih butuh proses karena orang masih belum bisa meninggalkan cetak, apalagi di Medan. Namun 10-15 tahun lagi mungkin orang akan mulai meninggalkan cetak. Karena kemudahan untuk mengakses itu ada di
online. Sekarang kalau mau baca berita cukup dengan satu alat, handphone. Itu salah satu yang membuat media online ini cepat berkembang.
Kemudian dari sisi konten berita, kecepatan menyiarkan ada di media online. Jadi begitu pagi ini ada peristiwa, sudah bisa dimuat di online dalam hitungan menit. Nanti setiap jam kita juga bisa melihat perkembangannya. Jadi wartawan juga terus mobile untuk mengirimkan berita bahkan hingga tengah malam. dan kita bisa mengakses itu.
Yang menjadi persoalan mendasar, pertama penggunaan teknologinya. Banyak orang yang belum memanfaatkan maksimal teknologi komunikasi ini. smartphone
belum dimanfaatkan untuk kemudahan akses berita. Kedua, konten di berita online masih belum lengkap. Memang sudah mencakup 5 W 1 H, tapi masih terus harus diperbarui. Kalau media cetak, karena waktu liputannya seharian, jadi beritanya juga sudah lengkap di tulisan tersebut. jadi berita itu lebih komperhensif, utuh. Ini berbeda dengan cara penyajian berita di online yang sepintas-sepintas. Jadi kalau pembaca kurang puas dengan membaca berita di
online, mereka masih bisa membacanya di koran cetak.
3. Apakah perkembangan media online memengaruhi ruang redaksi Waspada secara struktur maupun konten?
Online tidak mempengaruhi struktur redaksi dan konten berita. Tidak ada
perubahan, isi cetak dan online sama. Online hanya perpindahan dari cetak. Tidak ada penambahan untuk berita panjang. Tapi lihat kebutuhan juga. Cara penulisan berita tetap sama. Manajemennya juga sama, tapi ada kerangka mainnya.
E-papaer Waspada memang tidak pernah di-share, tapi kita sudah pernah
launching kok. Itu memang sudah lama. Tidak terkenal karena memang tidak
dikenalkan, karena akan mengancam koran cetak waspada.
4. Bagaimana Waspada menghadapi perkembangan media massa?
Harian Waspada juga memiliki media online dan di dalamnya terdapat e-paper
waspada sama terbitnya dengan waspada, karena itu sebagai alat bantu. Bedanya hanya pada medianya saja. Keberadaan epaper.waspadamedan.com untuk mengantisipasi nanti ketika akan mengarah ke media online. Seandainya nanti
media cetak tidak bisa dipertahankan lagi, manajemennya bisa langsung beralih ke online.
Kalau kita bikin media online yang sebenarnya, sulit. Karena kita masih belum bisa memenuhi itu. Setidaknya ada wartawan yang harus bersiap 24 jam di lapangan. Makanya media online kita hanya sebagai pendamping saja, tapi manjemen kita sudah siap. Jadi ketika harus beralih, tinggal memindahkan saja. Sekarang belum ke arah sana. Kita hanya sebagai pemudah akses jika ada keterlambatan koran tiba di daerah seperti di Aceh dan Padang Sidimpuan. Persoalannya, sebagaian daerah kan masih belum punya jaringan internet yang memadai. Isi cetak dan onlinen-nya sama. Kenapa? Karena media online
dipersiapkan untuk penyangga saja. Kalau kita buat media online waspada seperti layaknya detik.com, maka koran kita akan tertinggal. Sementara oplah koran masih cukup besar.
Di sumatera utara koran belum akan ditinggalkan. Tapi mungkin 20-25 tahun lagi baru media online mulai hidup. Indikatornya, buktinya masih ada saja koran baru yang muncul, jadi belum akan mati. Media cetak masih diminati, masih bisa tumbuh dan berkembang. Tapi prediksi para pakar perkembangan online tidak bisa dibendung lagi, tinggal menunggu waktu. Ada juga pemikiran bagaimana iklan dan karyawan ketika sudah jadi media online. Media online tidak butuh banyak karyawan. Saat mulai mesin cetak digital saja, sudah ada pengurangan tenaga kerja.
Kita punya banyak tantangan dan hambatan terutama teknologi. Bagaimanapun media tidak bisa terlepas dari teknologi, kita harus mengikuti teknologi. Misalnya perkembangan mesin cetak, kita harus beli baru, yang lama tidak mungkin dipakai lagi karena kemampuan cetaknya terbatas. Sementara semua media cetak berlomba-lomba merebut pasar. Persaingan ini jadi tantangan kita, kalau tidak cepat sampai ke pasar, akan masuk koran lain. Sementara tingkat kebutuhan informasi masyarakat sangat tinggi. Jika koran langganannya sering terlambat tiba di pasar, mereka akan cari koran lain. Menghadapi ini kita harus melakukan strategi signifikan, pertama SDM, kalau tidak S1 tidak diterima. Kemudian perbaikan teknologi cetak dan komputer. Melakukan hubungan baik dengan pembaca, dengan cara memperbaiki konten. Caranya setiap pagi ada rapat redaksi.
Transkrip Wawancara Nama : Ucok Faisal
1. Bagaimana pandangan Anda mengenai perkembangan media online
Media online tercepat dalam menyebar informasi. Namun online belum tentu bisa masuk ke daerah-daerah pedalaman. Berbeda dengan koran dan TV. Itulah mengapa koran masih eksis, belum semua masyarakat Indonesia melek internet. Koran masih menjadi tempat beriklan kedua favorit setelah televisi. Online membesar sejalan dengan perkembangan jaringan internet. Internet belum begitu meluas penyebarannya di Indonesia. Dulu koran juga pernah diprediksi tak akan laku di tahun 2000-an, tapi sampai sekarang koran masih dicari masyarakat, meski beberapa surat kabar tidak bisa bersaing di tengah gempuran media online. 2. Bagaimana Harian Waspada menghadapi perkembangan media massa?
Menyikapi perkembangan online, koran harus berinovasi. Waspada juga melengkapi diri dengan media online dan tidak berlangganan alias gratis. Waspada juga sediakan e-paper. Ke depan mungkin akan membuat sistem di mana pembaca harus registrasi dan berbayar untuk membaca waspada di online. Secara struktur, kita buka divisi baru, yaitu divisi online. Tapi keseluruhan tetap di bawah pimred waspada koran. Berita di media online tetap di-update setiap ada perkembangan isu, paling dua alenia. Untuk baca berita lengkap tetap di koran cetak.
Waspada Medan online ke depan akan konvergensi. Sekarang sudah ada rancangan waspada TV. Hanya saja jaringan internet di wilayah kita masih belum begitu bagus. Jadi kita merasa belum begitu penting untuk merealisasikan Waspada TV. Wartawan cetak sudah dilengkapi dengan alat meliput dalam format video. Secara strategi sudah matang. Wartawan juga sudah dilatih.
Kita bikin streaming pun orang akan kesulitan dengan jaringan yang sering lemot. Standar peletakan berita di cetak dengan online pada dasarnya sama. Tapi di
online kan ada berita yang harus diperbarui. Kalau gaya tulisannya sama. Kalau ada berita baru meski belum dimuat di cetak akan tetap di muat di online. Tapi kita sengaja bikin tidak lengkap. Jadi hanya dua alenia. Tidak selalu segera diperbarui. Misalnya peristiwa yang update per jam, ya kita update. kalau updatenya lebih dari hitungan 7 jam, kita tunggu untuk berita esok hari di koran cetak.
3. Apakah ada perbedaan berita layak muat di koran cetak dengan online? Apakah ada perubahan gaya penulisan berita?
Tetap ada perbedaan untuk standar berita layak muat di online dan di cetak. Di
online tidak perlu kroscek berita secara utuh. Di cetak, berita yang dimuat lebih lengkap. Koran cetak tidak selalu diisi dengan feature. Hanya untuk peristiwa besar tertentu yang kita buat berita yang mendalam yang mengandung human interet. Tapi di hari Minggu cukup banyak karena kita anggap di hari Minggu orang ingin santai. Kita tambahkan info pariwisata, budaya dan halaman untuk anak. Di online tidak ada rubrik untuk feature.
Transkrip Wawancara Nama : Muhammad Agus Utama
1. Bagaimana pandangan anda mengenai perkembangan media
Media online yang pasti akan semakin maju dengan berkembangnya teknologi sekarang tidak harus beli koran. Seharusnya koran dan online bersinergi. Kalau orang butuh informasi dengan segera, pasti akan langsung membukan gadget. Koran sudah sangat lama, memang belum ada prediksi pasti kapan koran akan hilang.
online?
2. Aapakah ada hubungan manajemen antara Harian Waspada dan Waspada Online?
Ada hubungan antara Harian Waspada dengan Waspada online. Misalnya berbagi berita, tapi tidak banyak. Awalnya apa yang ada di waspada bulat-bulat ada di waspada online. Dulu, sejak berdiri 1995. Tapi ada versi baru oleh pemimpin redaksi berikutnya, sejak 2008 berita 90% manajemen sendiri dari online. Hanya 10% saja yang berbagi dengan cetak, misalnya editorial, opini.
Wartawan online hanya untuk online, wartawan cetak hanya untuk cetak. Secara redaksional terpisah, tapi secara manajemen tetap di bawah atap yang sama.
3. Bagaimana arah masa depan Waspada Online?
Sejak 2008 sudah dirancang waspada tv sedemikian rupa. Tapi untuk mengarah ke sana butuh biaya yang besar dan SDM yang terampil. Hal ini belum bisa kita wujudkan. Tapi rancangannya sudah ada untuk waspada tv. Kemudian berlangganan berita dengan pembaca setia melalui aplikasi tertentu. Tapi belum bisa diwujudkan. Sampai sekarang belum ada gambaran pasti kapan hal itu bisa diwujudkan. Pemimpin redaksi sekarang masih sibuk di luar kota.
4. Bagaimana standar layak muat tulisan di Waspada Online?
Standar tulisan untuk waspada online, yang pasti berita itu lebih pada narrative journalism. Kita tetap ada straihgt news, tapi melengkapi diri juga dengan berita panjang seperti narrative journalism, di mana di setiap paragraf pasti terdapat ide pokok. Akurasi vs kecepatan, bergantung penting tidaknya berita untuk diberitakan. Bahkan kita pernah hanya menaikkan jugulnya dulu. Kemuidan baru disusul dengan berita lengkapnya.
5. Bagaimana penyebaran berita yang dilakukan oleh Waspada Online? Ada personil khusus sebagai admin untuk membagi berita melalui media sosial. Berita yang dibagikan hanya berita terbaru saja. Berita yang boleh masuk paling lama 3 jam, setelah itu tidak dibagikan lagi. Jumlah pengunjung per hari yang pasti di atas seribu. Jumlah pengunjung penting untuk menarik para calon pengiklan. Waspada online termasuk media online terlama di sumatera utara. Penghasilan iklan rata-rata per bulan untuk tahun ini hanya 15-20 juta. Ada penurunan dari tahun sebelumnya yang mencapa 100-an juta. Belum tahu alasan pasti, mungkin karena tim marketing kita masih kosong. Pendapatan tersebut sejauh ini masih bisa memenuhi biaya operasional.