• Tidak ada hasil yang ditemukan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Trend Perkembangan Pajak daerah

a. Perkembangan Pajak daerah di Propinsi DIY tahun 2001-2005 dan trend estimasi pajak daerah tahun 2010-2020.

Berdasarkan tabel perhitungan V.2 di atas, dapat diketahui bahwa trend perkembangan pajak daerah di Propinsi DIY selama lima tahun anggaran (2001-2005) berkisar antara 86,65 sampai dengan 89,6 persen. Sedangkan untuk trend estimasi pajak daerah propinsi DIY periode 2010-2020 mempunyai kecenderungan yang meningkat, yakni pada tahun 2010 sebesar 134,26%, tahun 2015 sebesar 167,46% dan pada tahun 2020 sebesar 200,66%.

Jika dilihat dari setiap tahun anggaran, berdasarkan (tabel V.1) nilai trend pajak daerah propinsi DIY berfluktuasi berkisar antara 86,45% sampai dengan 89,10% dari total Pendapatan Asli Daerah. Pada dasarnya proporsi pajak daerah terhadap PAD cukup besar bila dibandingkan dengan komponen PAD yang lain. Ini mengindikasikan bahwa pajak daerah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta memberi kontribusi yang berarti terhadap peningkatan nilai PAD tiap tahunnya. Trend perkembangan pajak daerah propinsi DIY dipengaruhi peningkatan nilai pajak daerah dengan rata-rata 26,6%, yaitu tahun 2001 sebesar 40%, tahun 2002 sebesar 29,6%, tahun 2003 sebesar 23%, tahun 2004 sebesar 25,8%, dan tahun 2005 sebesar 14,6%.

Adanya peningkatan nilai pajak daerah Pemerintah Propinsi DIY setiap tahunnya secara umum dipengaruhi oleh kenaikan sub-item sektor pajak daerah antara lain: sub-item pajak kendaraan bermotor, item bea balik nama kendaraan bermotor, pajak bahan bakar kendaraan bermotor dan P3ABT&AP. Pada tahun 2001

trend pajak daerah propinsi DIY sebesar 86,45% dan nilai pajak daerah propinsi DIY mencapai Rp123.516.267.000 atau sebesar 86,81% dari total realisasi Pendapatan Asli Daerah sebesar Rp386.316.725.000. Jumlah pajak daerah pada tahun 2001 berasal dari sub-item pajak daerah yaitu : a) Pajak Kendaraan Bermotor sebesar Rp50.641.669.470 atau sebesar 41% dari total penerimaan

115

pajak daerah, b) Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor Rp53.111.994.810 atau sebesar 43%, c) Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor Rp19.021.505.118 atau sebesar 15,7%, dan d) Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan Rp741.097.602 atau sebesar 0,6 % dari total penerimaan pajak daerah.

Sedangkan pada tahun 2002 trend pajak daerah propinsi DIY sebesar 87,11% dan nilai pajak daerah Propinsi DIY mencapai Rp175.519.261.000 atau sebesar 87,40% dari total realisasi Pendapatan Asli Daerah sebesar Rp449.779.669.000. Jumlah pajak daerah pada tahun 2002 berasal dari sub-item pajak daerah yaitu : a) Pajak Kendaraan Bermotor sebesar Rp70.207.704.400 meningkat 27,86% dari tahun sebelumnya atau sebesar 40% dari total penerimaan pajak daerah, b) Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor Rp77.228.474.840 meningkat 31,23% atau sebesar 44% dari total realisasi pajak daerah, c) Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor Rp26.678.927.672 meningkat 28,7% atau sebesar 15,2% dari total realisasi pajak daerah dan d) Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan Rp1.404.154.088 meningkat 47,22% atau sebesar 0,8 % dari total penerimaan pajak daerah.

Pada tahun 2003 trend pajak daerah propinsi DIY sebesar 87,78% dan nilai pajak daerah Propinsi DIY mencapai

Rp228.143.584.000 atau sebesar 43,04% dari total realisasi Pendapatan Asli Daerah sebesar Rp530.075.187.000. Jumlah pajak daerah pada tahun 2003 berasal dari sub-item pajak daerah yaitu : a) Pajak Kendaraan Bermotor sebesar Rp95.820.305.280 meningkat 26,73% dari tahun sebelumnya atau sebesar 42% dari total penerimaan pajak daerah, b) Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor Rp 98.101.741.120,- meningkat 21,28% atau sebesar 43% dari total realisasi pajak daerah, c) Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor Rp33.080.819.680 meningkat 19,35% atau sebesar 14,5% dari total realisasi pajak daerah dan d) Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan Rp1.140.717.920 menurun 23,09% atau sebesar 0,5 % dari total penerimaan pajak daerah.

Pada tahun 2004 nilai pajak daerah Propinsi DIY mencapai Rp307.572.364.000 atau sebesar 47,64% dari total realisasi pendapatan daerah sebesar Rp645.617.697.000. Jumlah pajak daerah pada tahun 2004 berasal dari sub-item pajak daerah yaitu : a) Pajak Kendaraan Bermotor sebesar Rp119.953.221.960 meningkat 20,12% dari tahun sebelumnya atau sebesar 39% dari total penerimaan pajak daerah, b) Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor Rp135.331.840.160 meningkat 27,51% atau sebesar 44% dari total realisasi pajak daerah, c) Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor Rp46.135.854.680 meningkat 28,3% atau sebesar 15,0%

117

dari total realisasi pajak daerah dan d) Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan Rp6.151.447.280 meningkat 81,42% atau sebesar 2 % dari total penerimaan pajak daerah.

Pada tahun anggaran 2005 nilai pajak daerah Propinsi DIY mencapai Rp360.119.664.000 atau sebesar 51,47% dari total realisasi pendapatan daerah sebesar Rp699.579.306.000. Jumlah pajak daerah pada tahun 2005 berasal dari sub-item pajak daerah yaitu : a) Pajak Kendaraan Bermotor sebesar Rp149.291.828.905 meningkat 19,65% dari tahun sebelumnya atau sebesar 41,45% dari total penerimaan pajak daerah, b) Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor Rp154.710.634.950 meningkat 12,5% atau sebesar 42,96% dari total realisasi pajak daerah, c) Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor Rp53.914.945.004 meningkat 14,43% atau sebesar 15,0% dari total realisasi pajak daerah dan d) Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan Rp2.202.254.895 menurun 64,19% atau sebesar 0,6 % dari total penerimaan pajak daerah.

b. Perkembangan Pajak Daerah di Propinsi Jawa Timur tahun 2001-2005 dan trend estimasi pajak daerah tahun 2010-2020.

Berdasarkan tabel perhitungan V.5 di atas, dapat diketahui bahwa trend perkembangan pajak daerah di Propinsi Jawa Timur selama lima tahun anggaran (2001-2005) berkisar antara 86,77 sampai dengan 88,85. Sedangkan untuk trend estimasi pajak daerah

propinsi Jawa timur periode 2010-2020 mempunyai kecenderungan yang meningkat, yakni pada tahun 2010 sebesar 91,45%, tahun 2015 sebesar 94,05% dan pada tahun 2020 sebesar 96,65%.

Trend perkembangan pajak daerah propinsi Jawa Timur tersebut dipengaruhi oleh jumlah penerimaan dari sektor pajak daerah yang terus meningkat setiap tahunnya, yaitu berkisar pada 86,46% sampai dengan 89,16% terhadap total Pendapatan Asli Daerah. Seperti halnya propinsi DIY, posisi pajak daerah di Jawa timur mempunyai proporsi terbesar diantara item-item Pendapatan Asli Daerah lainnya. Pada tahun 2001 hingga 2005 terjadi peningkatan nilai pajak daerah dengan rata-rata 26%, yaitu tahun 2001 sebesar 42,7%, tahun 2002 sebesar 26%, tahun 2003 sebesar 18,6%, tahun 2004 sebesar 24,8%, dan tahun 2005 sebesar 17,7%. Adanya peningkatan nilai pajak daerah Pemerintah Propinsi Jawa Timur setiap tahunnya secara umum dipengaruhi oleh kenaikan sub-item sektor pajak daerah antara lain: item a) pajak kendaraan bermotor, b) item bea balik nama kendaraan bermotor, c) pajak bahan bakar kendaraan bermotor, d) pajak pengambilan dan pemanfaatan air bawah tanah serta pajak pengambilan dan pemanfaatan air permukaan.

Pada tahun 2001 trend pajak daerah propinsi Jawa Timur sebesar 86,77% dan realisasi pajak daerah propinsi Jawa Timur berjumlah Rp1.149.711.972.000 diperoleh dari sub-item pajak,

119

yakni pajak kendaraan bermotor Rp402.399.190.000, atau sebesar 35% terhadap pajak daerah, Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor Rp574.855.986.000 atau sebesar 50%, Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor Rp149.462.556.000 atau 13%,- dan pajak pengambilan dan pemanfaatan air bawah tanah serta pajak pengambilan dan pemanfaatan air permukaan. Rp22.994.239.400 atau sebesar 2%. Sedangkan pada tahun 2002 trend pajak daerah propinsi Jawa Timur sebesar 87,29% dan pajak daerah berjumlah Rp1.553.761.732.000 diperoleh dari a) pajak kendaraan bermotor Rp466.128.520.000 meningkat 13,67% dari tahun sebelumnya dan berkontribusi sebesar 30% terhadap pajak daerah, b) Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor Rp745.805.631.000 meningkat 23% dan menyumbang sebesar 48% atas pajak daerah, c) Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor Rp233.064.260.000 meningkat 35,87%, mampu menyumbang sebesar 15,2% atas pajak daerah, d) pajak pengambilan dan pemanfaatan air bawah tanah serta pajak pengambilan dan pemanfaatan air permukaan. Rp108.763.321.000 meningkat 78,85% dan mampu menyumbang 6,96% terhadap pajak daerah.

Untuk tahun 2003 trend pajak daerah propinsi Jawa Timur sebesar 87,81% dan jumlah pajak daerah Propinsi Jawa Timur mencapai Rp1.910.498.450.000 yang diperoleh dari a) pajak kendaraan bermotor Rp674.341.318.451 meningkat 30,87%, dan

proporsi terhadap pajak daerah sebesar 35,30%, b) Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor Rp918.784.337.171 meningkat 18,83% dan bagian terhadap pajak daerah 48,09% c) Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor Rp286.786.387.647 meningkat 18,73% dan berkontribusi sebesar 15,01% terhadap pajak daerah d) pajak pengambilan dan pemanfaatan air bawah tanah serta pajak pengambilan dan pemanfaatan air permukaan Rp30.711.407.051 menurun 254,16% dan berkontribusi sebesar 1,61% terhadap pajak daerah

Pada tahun 2004 trend pajak daerah propinsi Jawa Timur sebesar 88,33% dan tahun 2005 trend pajak daerah propinsi Jawa Timur sebesar 88,85%. Di tahun 2004 dan 2005 mayoritas sub-item pajak daerah mengalami kenaikan. Untuk tahun 2004 terjadi kenaikan keseluruhan komponen pajak daerah, sedangkan tahun 2005 hanya komponen P3ABT&AP yang menurun. Adapun rinciannya sebagai berikut, tahun 2004 pajak kendaraan bermotor meningkat 28,75% dari tahun sebelumnya atau sebesar Rp946.484.147.791, BBN kendaraan bermotor meningkat 25% atau sebesar Rp1.223.676.995.181, PBB kendaraan bermotor meningkat 14,25% atau sebesar Rp334.475.175.081, dan P3ABT&AP meningkat 13,5% atau sebesar Rp35.496.147.492.

Pada tahun 2005 sub-item tersebut di atas masing-masing sebesar a) Rp1.167.373.343.614 b) Rp1.431.302.655.305, c)

121

Rp457.118.693.480, dan d) Rp33.383.367.934. Ada beberapa sub-item yang meningkat sebesar a) 19%, b) 5,6%, c) 26,8%, yaitu pajak kendaraan bermotor, bea balik nama kendaraan bermotor dan pajak bahan bakar kendaraan bermotor, sedangkan yang menurun yaitu perolehan pajak P3ABT&AP, menurun sebesar 6,33%. c. Perkembangan Pajak Daerah di Propinsi DKI Jakarta tahun

2001-2005 dan trend estimasi pajak daerah tahun 2010-2020. Berdasarkan perhitungan (tabel V.8) di atas, dapat diketahui bahwa trend perkembangan pajak daerah di Propinsi DKI Jakarta selama lima tahun anggaran (2001-2005) berkisar antara 79,16 sampai dengan 81,97 persen. Sedangkan untuk trend estimasi pajak daerah propinsi DKI Jakarta periode 2010-2020 mempunyai kecenderungan yang terus meningkat, yakni pada tahun 2010 sebesar 85,48%, tahun 2015 sebesar 88,99% dan pada tahun 2020 sebesar 92,50%.

Jika dilihat dalam tabel V.8 di atas, trend perkembangan pajak daerah propinsi DKI Jakarta periode 2001-2005 cenderung meningkat. Trend peningkatan tersebut dipengaruhi oleh sejumlah peningkatan nilai pajak daerah tiap tahunnya, antara lain : tahun 2001 sebesar 30,7%, 2002 sebesar 17,5%, 2003 sebesar 15,8%, 2004 sebesar 19,9%, dan tahun 2005 sebesar 6,5%. Peningkatan nilai pajak daerah tahun anggaran 2001-2005 secara umum dipengaruhi kenaikan beberapa sub-item pajak, seperti pajak kendaraan bermotor, BBN kendaraan bermotor, pajak bahan bakar

kendaraan bermotor, pajak pengambilan dan pemanfaatan air permukan dan bawah tanah.

Pada tahun 2001 trend pajak daerah propinsi DKI Jakarta sebesar 79,16% dan realisasi pajak daerah meningkat sebesar 30,7% dari tahun sebelumnya atau Rp3.056.748.123.000. Pajak daerah tahun ini diperoleh dari sub-item pajak daerah, antara lain : Pajak Kendaraan Bermotor 50% dari total penerimaan pajak atau senilai Rp1.528.374.061.500, BBN Kendaraan Bermotor 30,4% atau sebesar Rp929.251.429.392, PBB kendaraan bermotor 15,6% atau Rp476.852.707.188 dan P3ABT&AP 4% atau senilai Rp12.226.992.492

Di tahun 2002 trend pajak daerah propinsi DKI Jakarta sebesar 79,16% dan realisasi pajak daerah meningkat sebesar 17,5% dari tahun 2001 atau sebesar Rp3.703.572.683.000. Dan pajak daerah tahun 2002 diperoleh dari pemungutan pajak kendaraan bermotor 48,7% atau sebesar Rp1.803.639.896.621 meningkat 15,26% dari tahun sebelumnya, BBN Kendaraan Bermotor 32,3% atau sebesar Rp 1.196.253.976.689,- meningkat 22,32% dari tahun 2001, PBB kendaraan bermotor 15%, atau senilai Rp555.535.982.450 meningkat 14,16% dan P3ABT&AP 4% atau Rp148.142.987.320 meningkat 91,74%.

Tahun 2003 trend pajak daerah propinsi DKI Jakarta sebesar 80,57% dan realisasi pajak daerah meningkat sebesar 15,8% dari

123

tahun 2002, dan perolehan penerimaan pajak daerah sebesar Rp4.401.724.704.000 berasal dari pajak kendaraan bermotor 49,3% atau sebesar Rp2.170.058.279.872 meningkat 16,88%, BBN Kendaraan Bermotor 32,7% atau sebesar Rp1.439.363.978.208 meningkat 16,89%, PBB kendaraan bermotor 14,2%, atau senilai Rp625.044.987.968 meningkat 11,12% dan P3ABT&AP 3,8% atau Rp167.265.538.752 meningkat 11,43% dari tahun sebelumnya.

Pada tahun 2004 trend pajak daerah propinsi DKI Jakarta sebesar 81,27% dan realisasi pajak daerah meningkat 19,9% dari tahun sebelumnya. Dan pajak daerah tahun 2004 sebesar Rp5.497.782.460.000 diperoleh dari pemungutan pajak kendaraan bermotor 51% atau sebesar Rp2.803.841.514.600 meningkat 22,6% dari tahun anggaran 2003, BBN Kendaraan Bermotor 33,5% atau sebesar Rp1.841.757.124.100 meningkat 20,38%, PBB kendaraan bermotor 12,5%, atau senilai Rp687.222.807.500 meningkat 9,05% dan P3ABT&AP 3% atau Rp164.933.473.800 menurun sebesar 1,41%.

Pada tahun 2005 trend pajak daerah propinsi DKI Jakarta sebesar 81,97% dan realisasi pajak daerah meningkat sebesar 6,5% dari tahun 2004 atau sebesar Rp6.499.708.700.000. Dan pajak daerah tahun 2005 diperoleh dari pemungutan pajak kendaraan bermotor 42,16% atau sebesar Rp2.740.277.190.000 menurun sebesar 2,32% dari tahun 2004, BBN Kendaraan Bermotor 38,8%

atau sebesar Rp2.521.886.980.000 meningkat 26,97%, PBB kendaraan bermotor 15,04%, atau senilai Rp977.556.180.000 meningkat 29,7% dan P3ABT&AP 4% atau Rp259.988.348.000 meningkat 36,56% dari tahun sebelumnya.

Secara umum Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Propinsi Jawa Timur dan Propinsi DKI Jakarta mempunyai trend

perkembangan pajak daerah yang sama, yaitu sama-sama mempunyai trend pajak daerah yang meningkat. Seperti halnya yang sudah dibahas di atas, trend pajak daerah 2001-2005 propinsi DIY berkisar 86,65% sampai 89,6%, propinsi Jawa Timur 86,77% sampai 88,85% dan propinsi DKI Jakarta sebesar 79,16% sampai 81,97%. Trend pajak daerah dari 3 propinsi tersebut setiap tahunnya terus meningkat yakni masing-masing sebesar 0,66%, 0,52%, dan 0,7% per tahun. Kenaikan trend diatas masing-masing dipengaruhi oleh beberapa hal antara lain : kenaikan sektor pajak daerah propinsi DIY pada tahun 2001 hingga saat 2005, secara umum disebabkan (1) setiap tahun nilai PDRB per kapita riil (Product Domestic Regional Bruto) propinsi DIY meningkat yakni sebesar 5,76%, (2) perkembangan tingkat inflasi per tahun yang kondusif, (3) Pemerintah Propinsi DIY membuat kebijakan yang mempermudah birokrasi kepada wajib pajak / masyarakat dalam membayar pajak, misalnya selama ini kantor SAMSAT(Satuan Sistem Administrasi Satu Atap) digunakan sebagai tempat resmi

125

untuk mengurusi segala hal mengenai kepentingan lalu-lintas jalan dan pembayaran pajak, contoh konkret yaitu pengadaan layanan mobil keliling pembuatan SIM (surat ijin mengemudi) yang selama ini hanya bisa diaplikasikan di SAMSAT namun kemudian masyarakat dapat membuat SIM walaupun hanya perpanjangan dan memberikan kemudahan kepada warga masyarakat dalam perpanjangan STNK Tahunan di semua jenis kendaraan bermotor yang habis masa berlakunya dapat melalui layanan mobil keliling yang menjangkau pelosok daerah, (5) bertambahnya jumlah kantor representatif pelayanan pajak daerah (KPPD) yang tersebar di wilayah kabupaten/kota propinsi DIY sehingga mempermudah masyarakat dalam membayar pajak, serta pemberian penghargaan kepada wajib pajak yang taat membayar pajak, (6) populasi kendaraan bermotor yang terus meningkat (15% per tahun) diikuti oleh peningkatan penggunaan bahan bakar minyak (BBM) yang besar. Sedangkan kenaikan sektor pajak daerah propinsi Jawa Timur pada tahun 2001 hingga saat 2005, secara umum disebabkan (1) setiap tahun nilai PDRB per kapita riil (Product Domestic Regional Bruto) propinsi Jawa Timur meningkat, diiringi oleh kemampuan daya beli masyarakat yang cukup tinggi (2) kepemilikan kendaraan bermotor yang bertambah setiap tahunnya (7%) hampir 80% adalah kendaraan roda dua / sepeda motor, (3) diterbitkannya peraturan daerah (Peraturan Gubernur Nomor 51

tahun 2005) yang mendukung penerimaan pajak, antara lain: Keringanan (Pembebasan) Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor Berupa Besaran Penetapan Nihil Atas Penyerahan Kedua, Pembebasan Sanksi Administrasi Berupa Kenaikan Dan Bunga, Keringanan 2 persen dari Pokok Pajak Kendaraan Bermotor (Reward) terhadap wajib pajak yang melakukan pendaftaran H-14 dari jatuh tempo, petugas lapangan tidak banyak menemui kesulitan ketika menghubungi wajib pajak untuk menyampaikan surat pemberitahuan tentang akhir waktu jatuh tempo membayar pajak, kondisi dan keberadaan kendaraan serta status kepemilikannya dapat diketahui dengan mudah dan cepat serta pembaruan domisili/identifikasi wajib pajak, Wajib pajak yang belum melakukan balik nama tidak direpotkan lagi karena harus mencari pemilik asal kendaraannya untuk pinjam KTP setiap kali akan membayar pajak kendaraan bermotor, Diberlakukan sistem

reward bagi wajib pajak yang membayar sebelum jatuh tempo sebagai pengembangan sistem perpajakan daerah ke depan (Dispenda Jatim), (4) ketaatan pajak (tax compliance) masyarakat relatif baik, (5) perkembangan tingkat inflasi per tahun yang kondusif, (6) Membayar pajak kendaraan bermotor (PKB) dengan Pelayanan Samsat Drive Thru, artinya wajib pajak (WP/pemilik kendaraan) dapat dengan mudah dalam membayar pajak tanpa harus turun/keluar dari kendaraan yaitu cukup membuka jendela

127

mobilnya dan mendatangi loket I untuk menyerahkan BPKB, STNK, dan KTP asli kepada petugas yang langsung mengentry datanya, lalu Wajib Pajak menuju ke loket II untuk membayar pajak yang sudah ditetapkan, (7) program pengingat pajak melalui SMS JT (Jatuh Tempo PKB). SMS JT merupakan sistem intormasi elektronik yang memberitahukan jatuh tempo kendaraan bermotor agar para pemilik kendaraan bermotor tidak lupa begitu saja dan terhindar dari denda pajak.

Sedangkan kenaikan sektor pajak daerah Propinsi DKI Jakarta (2001-2005) dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain : (1) per tahun tingkat PDRB per kapita riil (Product Domestic Regional Bruto) propinsi DKI Jakarta meningkat, (2) pemerintah propinsi DKI Jakarta menaikkan tarif pajak kendaraan bermotor dan BBN kendaraan bermotor secara proporsional sehingga ada kenaikan penerimaan dari pajak kendaraan bermotor, (3) sejak tahun 2002 Pemerintah Propinsi DKI Jakarta memberikan keringanan berupa bebas denda dan menghilangkan pajak berganda bagi kendaraan yang masuk Jakarta. Keringanan lain telah diberikan pemerintah dengan pengenaan satu bulan pajak bagi kendaraan yang akan keluar DKI Jakarta agar tidak terjadi keterlambatan di daerah tujuan, (4) jumlah kepemilikan kendaraan bermotor yang terus meningkat (26% per tahun terutama kendaraan roda empat) diikuti oleh peningkatan penggunaan bahan bakar

minyak (BBM) yang besar, (5) ketaatan pajak (tax compliance) masyarakat cukup baik, (6) bertambahnya jumlah kantor representatif pelayanan pajak daerah (KPPD) yang tersebar di wilayah kabupaten/kota propinsi DKI Jakarta sehingga mempermudah masyarakat dalam membayar pajak