• Tidak ada hasil yang ditemukan

MEMBANGUN KESEJAHTERAAN RAKYAT DAN KETAHANAN BUDAYA

MENINGKATKAN PEMBANGUNAN DAERAH

C. TUJUAN DAN SASARAN

Dengan memperhatikan keadaan dewasa ini dan arahan GBHN 1999, maka tujuan pembangunan daerah yang akan dicapai dalam jangka waktu lima tahun ke depan adalah:

(1) Memantapkan perwujudan otonomi daerah melalui peningkatan kapasitas daerah agar terselenggara pemerintahan yang baik, kinerja pelayanan umum yang efektif, efisien, serta tumbuhnya prakarsa dan partisipasi masyarakat. (2) Meningkatkan pengembangan potensi wilayah melalui pengembangan ekonomi daerah, pembangunan perdesaan dan perkotaan, pengembangan wilayah tertinggal dan perbatasan; pengembangan permukiman; dan pengelolaan penataan ruang dan pertanahan guna mendukung pemulihan ekonomi nasional dan penguatan landasan pembangunan yang berkelanjutan dan sekaligus mempercepat pemerataan pertumbuhan ekonomi antardaerah.

(3) Meningkatkan keberdayaan masyarakat melalui penguatan lembaga dan organisasi masyarakat setempat, penangulangan kemiskinan dan perlindungan sosial masyarakat, dan peningkatan keswadayaan masyarakat luas guna membantu masyarakat untuk memperoleh dan memanfaatkan hak masyarakat untuk meningkatkan kehidupan ekonomi, sosial, dan politik.

(4) Mempercepat penanganan khusus DI Aceh, Irian Jaya, dan Maluku sesuai dengan aspirasi, kemampuan, dan akar budaya masyarakat setempat, dan asas persatuan dan kesatuan bangsa melalui pemulihan dan pengembangan sosial-ekonomi masyarakat, penyelesaian masalah politik dan pelanggaran hak asasi masyarakat, dan penguatan kapasitas pemerintah daerah.

Sasaran umum pembangunan daerah yang akan dicapai dalam jangka waktu lima tahun adalah:

(1). Meningkatnya otonomi daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan, dan pelayanan umum.

(2). Terwujudnya pemerataan pertumbuhan wilayah dan berkurangnya kesenjangan antardaerah, antara perdesaan dan perkotaan, dan meningkatnya kondisi sosial-ekonomi masyarakat di wilayah tertinggal dan perbatasan.

(3). Meningkatnya keberdayaan masyarakat dalam kehidupan ekonomi, sosial dan politik khususnya masyarakat miskin, rentan sosial, dan pelaku ekonomi kecil.

(4). Terwujudnya percepatan penanganan khusus daerah Aceh, Irian Jaya dan Maluku untuk menjamin pemulihan sosial-ekonomi, peningkatan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah, dan keutuhan bangsa.

D. MENGEMBANGKAN OTONOMI DAERAH

GBHN 1999 mengamanatkan bahwa arah kebijakan bagi perwujudan otonomi daerah dalam rangka pembangunan daerah dan pemerataan pertumbuhan daerah dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia meliputi: mengembangkan otonomi daerah yang luas, nyata dan bertanggung jawab; melakukan pengkajian atas kebijakan tentang berlakunya otonomi daerah bagi propinsi, kabupaten/kota dan desa; dan mewujudkan perimbangan keuangan antara pusat dan daerah secara adil dengan mengutamakan kepentingan daerah yang lebih luas melalui desentralisasi perijinan dan investasi serta pengelolaan sumberdaya; serta memberdayakan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dalam rangka melaksanakan fungsi dan perannya guna penyelenggaraan otonomi daerah yang luas, nyata dan bertanggung jawab.

Otonomi daerah yang luas, nyata, dan bertanggung jawab mensyaratkan terwujudnya kemampuan dan kemandirian pemerintah daerah yang semakin meningkat dalam pengambilan keputusan publik, pelaksanaan tugas dan fungsi atau wewenangnya, dan pengelolaan keuangan secara mandiri. Dengan demikian, pelayanan kepada masyarakat dapat dilaksanakan sebaik-baiknya, sesuai dengan kaidah pemerintahan yang bersih dan baik, serta memenuhi aspirasi dan kebutuhan masyarakat yang semakin dinamis. Sejalan dengan itu, pelaksanaan otonomi daerah perlu didukung dengan perwujudan perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah secara adil dengan mengutamakan kepentingan daerah yang lebih luas melalui desentralisasi perijinan investasi, serta pengelolaan sumberdaya alam.

Dalam rangka memantapkan dan menjamin penyelenggaraan otonomi daerah yang luas, nyata dan bertanggung jawab, pemantapan peran Dewan Perwakilan Rakyat Daerah sebagai wahana untuk melaksanakan demokrasi merupakan faktor yang penting. Pemantapan peran tersebut sangat membantu terciptanya pemerintahan yang baik dan bersih, dan pelaksanaan tugas dan fungsi pemerintah daerah sebagai pelayan masyarakat. Peran penting Dewan Perwakilan Rakyat Daerah adalah berkenaan langsung dengan proses perumusan kebijakan dan pengesahan peraturan perundang-undangan, khususnya dalam pengesahan anggaran pendapatan dan belanja daerah, pengawasan terhadap pelaksanaannya, serta penampungan aspirasi masyarakat.

Penyelenggaraan otonomi daerah pada akhirnya harus disertai pula dengan meningkatnya kemampuan lembaga-lembaga di masyarakat untuk mengembangkan pilihan dalam kehidupan sosial ekonomi serta partisipasi masyarakat secara aktif dalam pengambilan keputusan yang menyangkut kepentingan masyarakat.

1. Masalah dan Tantangan

Permasalahan yang dihadapi dalam mengembangkan otonomi daerah yang luas, nyata, dan bertanggungjawab meliputi antara lain adalah terbatasnya kemampuan aparatur pemerintah daerah untuk menjalankan kewenangan bagi pelayanan masyarakat, baik dari segi jenis, jumlah, maupun mutu; dan belum efektifnya unit-unit organisasi pemerintah daerah di dalam mengemban tugas dan fungsi pelayanan kepada masyarakat. Permasalahan penting lainnya adalah belum tersedianya perangkat peraturan perundang-undangan yang mendukung upaya peningkatan pendapatan daerah sehingga mengakibatkan rendahnya kemampuan keuangan pemerintah daerah untuk membiayai pelaksanaan tugas dan fungsinya.

Terkait dengan hubungan kegiatan eksekutif dan legislatif, terdapat kesenjangan pemahaman sebagian anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah

penegakan kedudukannya yang sejajar dan sebagai mitra pemerintah daerah khususnya pemahaman terhadap proses perumusan kebijakan yang berkualitas, aspirasi masyarakat, dan mekanisme pengawasan atas penyelenggaraan pemerintahan daerah sesuai dengan semangat desentralisasi dan otonomi daerah. Di lain pihak, terdapat permasalahan yaitu belum berkembangnya mekanisme partisipasi lembaga dan organisasi masyarakat yang efektif dan demokratis dalam proses pengambilan keputusan sehingga pembangunan yang dilaksanakan belum dapat mengakomodasi kreasi dan aspirasi masyarakat secara optimal.

Meningkatnya kesadaran dalam kehidupan berbangsa dan bernegara telah melahirkan komitmen untuk memberikan kewenangan kepada daerah secara luas untuk menyelesaikan berbagai permasalahan di tingkat lokal sesuai dengan kreasi dan aspirasi setempat, di pihak lain mengingat potensi sumberdaya alam yang berbeda antardaerah dalam mendukung kemampuan keuangan daerah, maka tantangan ke depan yang akan dihadapi dalam pelaksanaan otonomi daerah meliputi antara lain adalah kebutuhan untuk menjaga keseimbangan pembangunan daerah dan pemerataan pertumbuhan antardaerah dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tantangan lain adalah kebutuhan untuk menjamin tersedianya dan terselenggaranya pelayanan masyarakat yang semakin meningkat, baik ditinjau dari segi jenis, kuantitas maupun kualitasnya; serta tuntutan untuk mewujudkan penyelenggaraan pemerintahan daerah yang efisien dan efektif serta terciptanya kehidupan masyarakat yang demokratis. Kemauan politik yang telah melahirkan UU No. 22/ 1999 dan UU No. 25/1999 serta berbagai produk peraturan perundang-undangan pendukungnya memberikan peluang bagi pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah yang luas, nyata, dan bertanggung jawab. Berkembangnya kehidupan demokrasi telah pula menciptakan peluang bagi upaya penyelesaian permasalahan lokal sesuai dengan kreasi dan aspirasi masyarakat.

2. Strategi Kebijakan

Untuk mengembangkan otonomi daerah yang luas, nyata dan bertanggungjawab, strategi kebijakan yang akan ditempuh meliputi:

(1) Meningkatkan kapasitas pemerintahan daerah melalui pengembangan profesionalisme sumberdaya manusia, baik aparatur pemerintah maupun anggota dewan; peningkatan komunikasi dan konsultasi dengan masyarakat dan pemerintah daerah; serta pengembangan komunikasi dan interaksi antar pelaku pembangunan baik dari pemerintah, masyarakat, organisasi swadaya masyarakat, organisasi politik, dan dunia usaha.

(2) Meningkatkan kapasitas kelembagaan pemerintahan daerah melalui penataan kembali organisasi dan manajemen pemerintahan daerah yang dilandasi oleh pengetahuan manajemen modern serta dijalankan oleh sumberdaya manusia yang mempunyai kemampuan dalam proses pengambilan keputusan yang berorientasi pada kepentingan publik, pelayanan masyarakat, perlindungan kepada masyarakat miskin, kemitraan antara pemerintah dan masyarakat.

(3) Meningkatkan kemampuan keuangan pemerintah daerah melalui perwujudan perimbangan keuangan antara pusat dan daerah secara adil dan proporsional; serta pemberian kewenangan yang lebih luas bagi daerah dalam menggali sumber-sumber pendapatan daerah tanpa mengabaikan aspek kemampuan daya beli masyarakat dan kelestarian sumberdaya alam dan lingkungan hidup.

(4) Meningkatkan partisipasi berbagai lembaga dan organisasi yang tumbuh dan berkembang di masyarakat, baik lembaga adat, lembaga keagamaan, lembaga swadaya masyarakat dan lembaga lainnya secara aktif dalam proses pengambilan keputusan, pelaksanaan, maupun pengendalian jalannya pemerintahan, pembangunan, dan pelayanan masyarakat.

Untuk mengatasi permasalahan yang ada dalam rangka mewujudkan otonomi daerah, program pembangunan yang perlu diupayakan adalah:

a. Peningkatan Kapasitas Aparat Pemerintahan Daerah

Program ini ditujukan untuk meningkatkan profesionalisme dan kemampuan manajemen aparatur pemerintah daerah dan anggota dewan guna mendukung penyelenggaraan otonomi daerah. Sasaran yang ingin dicapai adalah tersedianya jumlah aparatur pemerintah daerah dan anggota dewan perwakilan rakyat daerah yang profesional dengan kualifikasi sesuai dengan kebutuhan dan tugas serta wewenang, baik pada tingkat propinsi maupun pada tingkat kabupaten dan kota, dan kinerja sumberdaya manusia yang tinggi.

Komponen-komponen program yang penting meliputi antara lain: standardisasi kompetensi jabatan aparatur daerah; analisis kebutuhan peningkatan sumberdaya manusia aparatur daerah; perbaikan sistem kompensasi, serta penyediaan pendidikan dan pelatihan.

b. Peningkatan Kapasitas Kelembagaan Pemerintahan Daerah

Program ini ditujukan untuk meningkatkan kapasitas kelembagaan pemerintahan daerah yang menyangkut mekanisme kerja, struktur organisasi, dan peraturan perundangan-undangan yang memadai guna menjamin pelaksanaan otonomi daerah. Sasaran yang ingin dicapai adalah desain struktur organisasi yang tepat, kinerja kelembagaan yang tinggi, terbangunnya hubungan kerja antarorganisasi di lingkungan pemerintahan daerah, antara organisasi pemerintah dan masyarakat, dan terciptanya pemerintahan yang bersih dan baik.

Komponen-komponen program yang diupayakan meliputi antara lain: penataan struktur organisasi dan manajemen pemerintahan daerah yang mengikuti kaidah organisasi yang maju dan norma pemerintahan yang baik; dan pengembangan hubungan kerja antarorganisasi di lingkungan pemerintah secara horisontal dan vertikal, dan antara pemerintah dan masyarakat secara interaktif dan sejajar.

c. Penataan Pengelolaan Keuangan Daerah

Program ini ditujukan untuk meningkatkan kemampuan pemerintah daerah dalam pengelolaan keuangan daerah secara profesional, efisien, transparan, dan bertanggungjawab. Sasaran yang ingin dicapai adalah semakin meningkatnya proporsi pendapatan asli daerah secara signifikan dalam pembiayaan bagi kegiatan pelayanan masyarakat dan pembangunan.

Komponen-komponen program yang perlu dilakukan antara lain adalah: perluasan dan peningkatan sumber penerimaan daerah; penyederhanaan peraturan dan pembenahan kelembagaan keuangan; pengembangan mekanisme pembiayaan dan pengembangan sistem akuntansi, pengembangan sistem informasi keuangan yang transparan dan bertanggung jawab, dan penataan manajemen keuangan daerah.

d. Peningkatan Partisipasi Lembaga Masyarakat

Program ini ditujukan untuk meningkatkan keterlibatan berbagai lembaga yang tumbuh dan berkembang di masyarakat, baik lembaga adat, lembaga keagamaan, lembaga swadaya masyarakat dan lembaga lainnya secara aktif dalam proses pengambilan keputusan, pelaksanaan serta pengendalian jalannya pemerintahan, pembangunan, dan pelayanan masyarakat. Sasaran yang hendak dicapai meliputi terbangunnya mekanisme partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan keputusan, dan pengawasan sosial secara demokratis.

Komponen-komponen program yang penting meliputi antara lain: pengembangan forum komunikasi dan konsultasi lintas pelaku pembangunan; pengembangan mekanisme penanganan keluhan masyarakat; dan pengembangan mekanisme pengawasan serta pengendalian pembangunan.

E. MENINGKATKAN PENGEMBANGAN WILAYAH

Pembangunan selama ini selain menghasilkan kemakmuran dan kesejahteraan juga menimbulkan kesenjangan ekonomi baik antarpelaku, antargolongan, antardaerah, antara desa dan kota, antarkawasan, dan antarwilayah. Untuk itu GBHN 1999 mengamanatkan perlunya upaya mempercepat pembangunan ekonomi daerah yang efektif dan kuat dengan memberdayakan pelaku dan potensi ekonomi daerah, serta memperhatikan penataan ruang, baik fisik maupun sosial sehingga terjadi pemerataan pertumbuhan ekonomi. Di samping itu, diperlukan percepatan pembangunan perdesaan melalui penyediaan prasarana, pembangunan agribisnis, industri kecil dan kerajinan rakyat, pengembangan kelembagaan, penguasaan teknologi, dan pemanfaatan sumberdaya alam. Pembangunan daerah, terutama di kawasan timur Indonesia, daerah perbatasan, dan wilayah tertinggal lainnya juga perlu ditingkatkan.

GBHN juga mengamanatkan pentingnya upaya menyediakan kebutuhan pokok terutama papan dan pangan rakyat, dan meningkatkan pembangunan dan pemeliharaan sarana dan prasarana publik termasuk air bersih guna mendorong pemerataan pembangunan, menyediakan pelayanan kebutuhan masyarakat dengan harga terjangkau, serta membuka keterisolasian wilayah pedalaman dan terpencil.

Untuk memenuhi amanat tersebut, maka pembangunan daerah dilaksanakan melalui pengembangan wilayah yang berdasarkan pada pemanfaatan keunggulan komparatif dan kompetitif di setiap daerah agar tercipta keserasian pertumbuhan ekonomi antardaerah. Dalam pengembangan wilayah tersebut diperlukan keterkaitan antara pembangunan perdesaan, perkotaan, wilayah tertinggal, daerah perbatasan, dan wilayah potensial lainnya dengan tetap memperhatikan penataan ruang, pertanahan, serta pemanfaatan dan pelestarian sumberdaya alam dan lingkungan.

1. Masalah dan Tantangan

Dalam rangka pengembangan wilayah terdapat beberapa isu strategis yaitu pengembangan ekonomi wilayah, pembangunan perdesaan dan perkotaan, pengembangan permukiman, pengembangan wilayah tertinggal dan perbatasan, serta pengelolaan penataan ruang dan pertanahan.

Dalam kaitannya dengan pengembangan ekonomi wilayah ditemui berbagai kesenjangan ekonomi yang disebabkan oleh konsentrasi kegiatan ekonomi yang terjadi hanya di beberapa wilayah maju dan terjadinya penguasaan aset tidak adil dan merata antarpelaku dan antargolongan masyarakat. Masalah yang terkait dengan pengembangan ekonomi wilayah adalah belum memadainya jaringan prasarana yang menunjang pengembangan potensi dan keterkaitan ekonomi wilayah, dan terpusatnya investasi sehingga manfaat pertumbuhan ekonomi hanya dinikmati oleh daerah-daerah tertentu. Tidak berkembangnya kegiatan ekonomi di berbagai daerah juga diakibatkan oleh kurang kuatnya struktur kelembagaan ekonomi lokal sehingga mata rantai produksi, pengolahan, dan pemasaran dikuasai hanya oleh sebagian pelaku ekonomi kuat. Di samping itu, pemanfaatan keunggulan komparatif masing-masing daerah, terutama keunggulan geografis, agraris dan maritim, sebagai basis ekonomi masyarakat selama ini belum optimal.

Untuk mempercepat pembangunan perdesaan, terdapat beberapa hambatan pokok yaitu keterbatasan akses masyarakat terhadap input produksi, ketidakpastian jaminan pemasaran hasil, maupun labilnya harga produk pertanian. Disamping itu kurang kuatnya posisi tawar masyarakat petani dan nelayan disebabkan oleh lemahnya organisasi ekonomi masyarakat perdesaan terlibat dan menguasai jaringan kerja produksi dan pemasaran. Permasalahan lain yang masih dijumpai terutama adalah adanya keterbatasan akses masyarakat prasarana dan sarana yang menyebabkan kurang optimalnya pemanfaatan potensi ekonomi perdesaan,