C. Konseptualisasi Kampanye
2. Tujuan Kampanye
Adapun tujuan dari kampanye yaitu:54
a. Kegiatan kampanye biasanya diarahkan untuk menciptakan perubahan pada tataran pengetahuan kognitif. Pada tahap ini pengaruh yang diharapkan adalah munculnya kesadaran, berubahnya keyakinan atau meningkatnya pengetahuan khalayat terhadap isu tertentu.
b. Pada tahap berikutnya diarahkan pada perubahan sikap. Sasarannya adalah untuk memunculkan simpati, rasa suka, kepedulian atau keberpihakan khalayak pada isu-isu yang menjadi tema kampanye. c. Sementara pada tahap terakhir kegiatan kampanye ditunjukan untuk
mengubah perilaku khalayak secara konkrit dan terukur. Tahap ini menghendaki adanya tindakan tertentu yang dilakukan oleh sasaran kampanye.
3. Karakteristik Kampanye
Kampanye pada hakikatnya adalah tindakan komunikasi yang bersifat goal oriented. Pada kegiatan kampanye selalu ada tujuan yang hendak dicapai. Pencapai tujuan tersebut tetap saja tidak dapat dilakukan melalui tindakan yang sekenanya, melainkan harus disadari pengorganisasian tindakan secara sistematis dan strategis. Dalam kaitan ini Johnson-Cartee dan Copeland (1997:71)
54
Gun Gun Heryanto dan Ade Rina, Komunikasi Politik (Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2011), h. 36.
menyebut kampanye sebagai an organized behaviour, harus direncanakan dan diterapkan secara sistematis dan berhati-hati.55
Di Indonesia kampanye pun mengalami berbagai momentumnya, mulai dari pangggung yang dibuat oleh kandidat untuk berkampanye dan dihadiri ratusan masa bahkan ribuan untuk melihat kandidatnya berorasi, meski sebenarnya masyarakat lebih tertarik pada penyanyi yang dibayar oleh para kandidat untuk menghibur masyarakat ketimbang mendengar orasi sang kandidat. Tak sampai di situ, kampanye pun mampu menggerakan masa turun kejalan, bersorak sorak mendukung sang kandidat dengan menggunakan sepeda motor tanpa memperdulikan aturan yang berlaku. Kadang keributanpun tak dapat dihindari dalam pesta rakyat tersebut, baku hantam antara pendukung kerap terjadi. Setelah runtuhnya rezim Soeharto yang membawa udara kebebasan disetiap aspek negeri ini, kampanye pun mempunyai wadah baru, yakni dengan menggunakan frekuensi milik public, media penyiaran. Pada akhirnya kampanye pun menjadi sangat sulit untuk dijadikan sebagai salah satu alat pendidikan politik bagi rakyat Indonesia.
Dapat diketahui beberapa karakteristik dari uraian diatas yang dapat penulis rangkum dari buku Antar Venus yang berjudul Manajemen Kampanye:56
a. Kampanye mangharuskan adanya sumber yang jelas b. Kampanye mempunyai batas waktu yang telah ditentukan.
c. Pesan-pesan kampanye terbuka untuk diperdebatkan bahkan dikritisi, karna hal ini menyangkut kepentingan publik.
55
Antar Venus, Manajemen Kampanye: Panduan Teoritis dan Praktis dalam mengefektifkan Kampanye Komunikasi (Bandung: Simbiosa Rektama Media, 2009), h. 25-26.
56
Antar Venus, Manajemen Kampanye: Panduan Teoritis dan Praktis dalam mengefektifkan Kampanye Komunikasi (Bandung: Simbiosa Rektama Media, 2009), h. 5-6.
d. Pesan yang disampaikan tidak bersifat memaksa, melainkan dilandasi oleh prinsip persuasi yakni mengajak dan mendorong publik untuk menerima atau melakukan sesuatu yang dianjurkan atas dasar kesukarelaan.
e. Tindakan yang dilakukan saat kampanye diatur dalam kode etik
f. Kepentingan yang ada pada kampanye bukanlah kepentingan sepihak, melainkan kepentingan dua belah pihak. Maksudnya adalah mereka yang terjun dalam politik harus mengetahui betul bahwa mereka mengemban tugas yang telah diamanatkan publik untuk melayani serta merealisaikan apa yang baik untuk publik.
D. Konseptualisasi Regulasi Media Penyiaran
Broadcasting dalam bahasa Inggris diartikan pengiriman program oleh media radio dan televisi (the sending out programmes by radio or television). Broadcasting berasal dari kata kerja to broadcast yang diartikan sebagai alat berbicara atau menampakan diri di radio atau televisi (to speak appear on radio or television). Dalam kamus lain, broadcasting diartikan sebagai siaran radio dan televisi atau media penyiaran. Dengan demikian menyebut media penyiaran maka yang dimaksud adalah televisi dan radio, yaitu dua media komunikasi yang menggunakan spektrum frekuensi untuk menyampaikan dalam program dan bentuk gabungan suara atau suara saja.57
Istilah penyiaran secara makro mengacu pada media elektronik baik radio ataupun televisi. Dalam makna denotatifnya, istilah penyiaran dirumuskan
57
sebagai: radio or television presentation, Weiner mengemukakan bahwa penyiaran atau broadcasting adalah:58
... a single or TV program, the transmission or duration of a program any message that is transmitted over a large area.
Sedangkan dalam Undang-Undang Tentang Penyiaran Nomor 32 Tahun 2002 pasal 1 butir 2 didefinisikan, bahwa penyiaran sebagai berikut:
“kegiatan pemancarluasaan siaran melalui sarana pemancaran
dan/atau sarana transmisi di darat, di laut, atau di antariksa dengan menggunakan spektrum frekuensi radio melalui udara, kabel, dan/atau media lainnya untuk dapat diterima secara serempak dan bersamaan oleh
masyarakat dengan perangkat penerima siaran”.
Di samping itu penyiaran dipahami sebagai alat penerusan gambaran-gambaran tentang barang bagi produsen ke konsumen, dan sebagai cara untuk menciptakan pengalam bersama bagi jutaan orang yang tinggal bersama dalam komunitas atau negara. Untuk itu, televisi merupakan medium ritual di mana muncul persaan adanya komunikasi lebih penting dari pada pesannya. Dengan demikian televisi menimbulkan dampak, yakni berupa dorongan sosial, dan terciptanya proses adaptasi sosial.
Televisi merupakan salah satu media yang banyak dikonsumsi oleh khalayak Indonesia. Salah satu media penyiaran ini sebagai media audio-visual, tidak memberikan banyak syarat untuk dapat dinikmati. Terlebih seperti dikemukan oleh Sunardian Wiradono dalam bukunya Matikan TV-Mu!, menuliskan bahwa masyarakat Indonesia, yang lebih kuat dengan budaya lisan, media televisi menjadi tidak memiliki jarak.
58
Hermin Indah Wahyuni, Televisi dan Intervensi Negara, Konteks Politik Kebijakan Publik Industri Penyiaran Televisi ( Yogyakarta: Media Pressindo, 2000), h. 5.
Pendek kata, media televisi telah menjadi bagian dari kehidupan sebagian besar masyarakat Indonesia. Apalagi dalam deretan media informasi, media ini memiliki daya penetrasi jauh lebih besar dari pada media lainnya. Sedangkan media radio, telah malampaui jaman keemasannya, dan berubah menjadi media yang lebih personal serta spesifik.59
Pada negara berkembang, media penyiaran umumnya ditempatkan sebagai medium penerangan kekuasaan karena lebih mengutamakan tujuan, memperkuat kekuasaan dan kesejahteraan daripada kebijakan yang berkeadilan sosial maka kebijakan penyiaran yang dikembangkan lebih mengarah pada mendahulukan propaganda kekuasaan.60
Sedangkan diberbagai belahan dunia yang lain, terutama negara yang dapat dikatagorikan negara maju, regulasi menjadi sangat penting dan mutlak untuk diberlakukan. Hal ini bertujuan untuk melindung yang mejadi hak-hak publik. Regulasi yang ada bukan untuk membatasi isi, malainkan agar tercipta sistem yang berkeadilan. Tentunya demokrasi tak hanya menjamin kebebasan dan mekanisme pasar untuk menjadi salah satu produk terbaik dari demokrasi. Namun, demokrasi juga memerelukan regulasi, tanpanya adanya regulasi keadilan akan terreduksi oleh kelompok yang memiliki kekuatan di atas kekuatan publik.
Profesor Komunikasi London University, James Curran, (2000: 121-154), menegaskan bahwa penerapan konsep pasar bebas tanpa regulasi yang jelas mendorong media untuk bertindak korup dan menciptakan bias mekanisme pasar. Peran media sebagai watchdog kekuasaan negara pada gilirannya tidak berfungsi dengan baik karena bergantung pada kerangka ekonomi pasar yang
59
Sunardian Wiradono, Matikan TV-Mu! Teror Media Televisi Indonesia, cetakan ke-2 (Yogyakarta: Resist Book, 2006), hal. viii.
60
mengutamakan profit perusahaan. Konsekuensinya, liberalisasi media menciptakan kondisi elitis dari kalangan bermodal besar, sehingga menutup kesempatan terpenuhinya konsep keberagaman program dan kepemilikan dalam wahana kenegaraan demokratis dimana kesetaraan pelayanan informasi terhadap seluruh publik semestinya menjadi keluaran utamanya.61
Secara historis, regulasi penyiaran bermula dari kenyataan bahwa penyiaran menggunakan sumber daya publik, yakni frekuensi. Frekuensi dialokasikan untuk masing-masing negara oleh lembaga perserikatan bangsa-bangsa, Internasional Telecommunication Union (ITU), dan selanjutnya masing-masing negara kemudian membagi frekuensi yang menjadi saluran terpisah dan menetapkannya ke penyiar. Karena banyaknya frekuensi yang tersedia bagi negara dan merupakan sumber daya yang langka maka perlunya pengaturan untuk memastikan bahwa frekuensi dialokasikan secara adil dan transparan kepada lembaga penyiaran yang akan menggunakan secara bertanggung jawab.
Regulasi menurut Better Regulation Task Force, Principles Of Good Regulation dapat didefinisikan sebagai setiap tindakan pemerintah atau intervensi yang bertujuan untuk mengubah perilaku individu atau kelempok. Memberikan hak-hak rakyat serta membatasi perilaku mereka. Pada dasranya ada pertentangan mengenai gagasan mengatur apa yang seharusnya menjadi sarana bebas berekspresi dan informasi dalam masyarakat. Peraturan pada dasarnya menetapkan batas-batas kebebasan, yang merupakan prinsip paling dasar dari masyarakat demokratis. Paling tidak, ini berarti bahwa harus ada alasan yang jelas dan meyakinkan untuk regulasi. Alasan utama dari tingginya pengaturan pada
61
Nadiah Abidin, Badan Regulator Penyiaran dalam Perspektif Hubungan Antara Negara, Pasar, dan Masyarakat. (Jakarta: Tesis, Ilmu Komunikasi, Kekhususan Manajemen Komunikasi Program Pasca Sarjana UI, 2005), hal. 37-38.
penyiaran dapat dinyatakan sebagai berikut dari pandangan Hoffman-Rein dan Feintuck:62
a. Untuk memastikan secara keseluruhan tersedianya layanan penyiaran bagi masyarakat.
b. Untuk mengalokasikan frekuensi dan konsensi penyiaran secara adil, tertib, dan mengawasi kesesuaian dengan aturan yang ditetapkan.
c. Untuk memastikan layanan dan peluang akses sesuai dengang kebutuhan masyarakat, yang berarti keragaman, sosial, politik, dan budaya.
d. Untuk mempromosikan dan meningkatkan kualitas dari konten yang disediakan sedapat mungkin sesuai dengan nilai-nlai lokal dan standart yang telah diputuskan, dengan refrensi tertentu untuk informasi, pendidikan, iklan, budaya, rasa, dan kesusilaan.
e. Untuk menjaga kepentingan dasar negara dalam hal keamanan dan ketertiban.
Leen d’Heanens dan Frieda Saeys juga mengemukakan pentingnya regulasi
penyiaran.63 Pertama, adalah pertimbangan teknis untuk memastikan siaran bebas
dari intervensi, mengingat bahwa media merupakan “locus publicus” dan terlebih
media penyiaran mempunyai ciri khas tersendiri dengan menggunakan frekuensi. Kedua, untuk menjamin keberagaman politik dan budaya. Negara yang mengusung demokrasi sebagai jati dirinya dipastikan memiliki aturan tentang akses politik ke penyiaran, serta harus adanya keberagaman kepemilikan yang
62University of Leicester, “Module Media Regulation” modul diakses pada 27 Desember
2013 dari http://www.le.ac.uk/oerresources/media/ms7501/mod2unit11/page_27.htm
63Leen d’Haenens and Frieda Saeys. Western Broadcasting at the Dawn of the 21st Century (Berlin: Mouton de Gruyter, 2001), h. 25-28.
dapat mendorong keberagaman isi. Ketiga, ekonomi menurut d’Heanens dan
Saeys menjadi hal paling mendasar dalam mengatur media. Pemerintah dapat memilih untuk tidak mengintervensi dengan memberikan sepenuhnya kepada pasar bebas, memberikan yang menjadi kebutuhan masyarakat sekaligus menawarkan berbagai manfaat ekonomi. Namun Gibbson (1998: 79) melihat banyak hal buruk yang akan timbul dari pasar bebas, seperti konsentarsi media bahkana monopoli yang pada akhirnya mereduksi keberagaman.
Mike Feintuck dan Mike Varney secara lebih rinci dalam bukunya Media Regulation, Public Interest and The Law 2th edition memaparkan beberapa alasan yang dapat menjustifikasi penyusunan regulasi penyiaran karena empat hal,64 yaitu: effective communication, diversity both political and cultural, economic justifications, dan yang terakhir public service.
a. Effective communications
Selain berhubungan dengan keterbatasan frekuensi, effective communication juga berkaitan dengan demokratisasi komunikasi, yang meliputi jaminan negara untuk memungkinkan terjadinya keberagaman komunikasi (diverse communication).65 Keragaman adalah sesuatu yang berbeda. Ini adalah tentang akses ke media dan terdapat berbagai jenis informasi dan sudut pandang yang didengar.66 Seperti halnya yang terjadi di Inggris, di mana hampir dua pertiga sirkulasi koran dikuasai oleh dua kelompok, News Corporation 37% dan Mirror Group 26%, maka ketika salah satu terjun ke dunia penyiaran, dapat dipastikan terdapat rentan sudut pandang
64
Mike Feintuck and Mike Varney, Media Regulation, Public Interest and The Law, 2 th ed. (Britain: Edinburgh University Scholarly Publishing, 2006), h. 58-60.
65
Muhammad Mufid, Komunikasi dan Regulasi Penyiaran, cetakan ke-2 (Jakarta: Kencana, 2007), h. 68.
66
(range of view) yang ditampilkan media penyiaan. Tanpa regulasi yang menjamin keberagaman penyiaran, kondisi yang berkembang cenderung monopolistik.67
Effective communication juga menyiratkan kepentingan demokrasi (interest of democracy).68 Tidak dapat disangkal bahwa media massa mempunyai peran yang luar biasa besar dalam membangun sebuah sistem demokrasi yang sehat dan mandiri. Di negara demokratis manapun, media penyiaran senantiasa diatur oleh hukum. Media penyiaran memiliki regulasi yang lebih ketat ketimbang media lainnya.69 Sistem penyiaran demokratis bercirikan perlindungan kepentingan publik, pluralitas, dan kompetisi yang teratur sesama institusi penyiaran.70
Selain itu effective communication bertalian erat dengan kebebasan berekspresi dan komunikasi (freedom of expression and communication). Pentingnya kebebasan berekspresi tidak dapat diremehkan, Universal Declaration on Human Rights (UDHR) menetapkan kebebasan berekspresi sebagai masalah hukum internsional dan menjamin kebebsan berekspresi sebagai berikut:71
“Setiap orang berhak atas kebebasan berpendapat dan berekspresi; hak ini mencakup hak untuk memiliki pendapat tanpa gangguan, dan untuk mencari, menerima dan menyampaikan informasi dan buah pikiran melalui media apa saja dan dengan tidak memandang batas-batas”.
67
Muhammad Mufid, Komunikasi dan Regulasi Penyiaran, cetakan ke-2 (Jakarta: Kencana, 2007), h. 68.
68
Mike Feintuck and Mike Varney, Media Regulation, Public Interest and The Law, 2 th ed. (Britain: Edinburgh University Scholarly Publishing, 2006), h. 59
69
Agus Ngadiro, “Penegasan Relasi Negara dan Media Massa Dalam Kerangka Demokrasi,” Simbur Cahaya, vol. xv, no. 43 (September 2010): h. 14-13.
70
Masduki, Regulasi Penyiaran dari Otoriter ke Liberal (Yogyakarta: Lkis, 2007), h. 96. 71
Article 19 Global Campaign for Free Expression, Statement on The Right to Communicate (London; Article 19, 2003), h. 3.
Partisipasi warga (citizen participation) juga sangat diperlukan untuk tetap menjaga komunikasi yang efektif, apabila media didominasi oleh satu atau beberapa pemain yang dapat mengontrol konten editorial tentu hal ini dapat mengancam keragaman dalam sudut pandang dan demikian dapat merusak potensi bagi warga negara untuk terlibat secara efektif dalam proses triangulasi.72
UU No. 32 Tahun 2002 semenjak disahkan menjadi pembatas peran negara yang sebelumnya terlalu besar terhadap media penyiaran. Masyarakat harus diberikan ruang yang lebih besar untuk ikut mengatur, memantau, serta
menggerakan ranah penyiaran atas nama “demokrasi”. Untuk itu pada pasal 6 ayat (4) UU No. 32 Tahun 2002 tentang penyiaran disebutkan bahwa untuk penyelenggraan penyiaran dibentuk sebuah komisi penyiaran yaitu Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) sebagai independent state regulatory body. KPI merupakan lembaga independen, non pemerintah, yang dibentuk berdasarkan undang-undang dan bertanggung jawab kepada DPR. Check and balance menjadi fungsi dari KPI terhadap kekusaan eksekutif.
Keberadaan KPI sebagai lembaga negara independen dan regulator penyiaran sangat diharapkan sebagai representasi dari masyarakat. KPI sebagai penjamin hak-hak rakyat mendapat informasi secara bebas dan berkeadilan serta menjamin kemandirian dan keterlibatan masyarakat dalam mengelola lembaga-lembaga penyiaran.
Singkatnya tanpa regulasi yang menjamin keberagaman penyiaran, kondisi yang berkembang akan cenderung monopolistik, kondisi yang
72
Mike Feintuck and Mike Varney, Media Regulation, Public Interest and The Law, 2 th ed. (Britain: Edinburgh University Scholarly Publishing, 2006), h. 59.
monopolistik merupakan jalan terbaik menuju monopoli informasi, yang berujung pada monopoli kebenaran. Hal ini dipandang oleh Feintuck sebagai
“komunikasi yang tidak efektif’.
b. Diversity Both Political And Cultural
Keberagaman berhubungan dengan dua hal, yaitu politik dan budaya. Secara politis, diversitas bertalian erat dengan nilai demokrasi yang mengehendaki terjadinya aliran ide secara bebas (democratic idea) melalui suatu instrument yang memungkin semua orang dapat mengaksesnya secara merata (equitable access). Jika sejumlah pemilik mendominasi kepemilikan dan menggunakan posisi ini untuk mengontrol isi tampilan media, maka yang terjadi adalah reduksi keberagaman sudut pandang (heterodox views).73 Selain itu negara berkewajiban menjamin akses yang adil untuk sarana komunikasi. Membuka akses bagi setiap warga negara untuk menggunakan dan mengembangkan penyelenggaraan penyiaran nasional.74 Apabila kepemilikan media hanya berada disegelintir orang maka akan terjadi reduksi „keberagaman sudut pandang’ seperti apa yang dikatakan oleh Feintuck:
“If a small number of owners dominate press ownership, and use this position to control editorial content, there is likely to be limited scope for heterodox views”.75
Selain itu Feintuck juga menyinggung mengenai “pluralism in content”,
kenakeragaman menyiratkan pluralisme lembaga penyiaran. Secara khusus
73
Mike Feintuck and Mike Varney, Media Regulation, Public Interest and The Law, 2 th ed. (Britain: Edinburgh University Scholarly Publishing, 2006), h. 59-60.
74KPI, “Ketentuan UU No. 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran terkait Haluan Dasar,
Karakteristik Penyiaran, dan Prinsip Dasar Penyiaran di Indonesia,” artikel diakses pada 18 Maret
2014 dari http://www.kpi.go.id/download/regulasi/ Ketentuan%20UU%20Penyiaran%20terkait %20Haluan%20Dasar,%20Karakteristik,%20dan%20Prinsip%20Dasar%20Penyiaran%20di%20In donesia.doc
75
Mike Feintuck and Mike Varney, Media Regulation, Public Interest and The Law, 2 th ed. (Britain: Edinburgh University Scholarly Publishing, 2006), h. 59-60.
keanekaragaman menyiratkan berbagai macam lembaga penyiaran independen dan pemerograman yang mewakili dan mencerminkan masyarakat secara keseluruhan. Pluralism in content mengandung arti bahwa seluruh isi siaran betul-betul memperhatikan keragaman aspek kehidupan masyarakat sebagai penikmat siaran. Isi siaran tidak melecehkan profesi, etnis, agama, kepercayaan, idiologi, adat istiadat dan kelompok tertentu.76
Diversity of media ownership tentu menjadi pembahasan dari diversity both political and cultural yang harus didorong menjadi dasar fundamental bagi regulasi media penyiaran. Dikarenakan dampak yang luar biasa apabila kepemilikan media hanya dikuasai segelintir elite. Pertama, arus informasi ke publik menjadi monolitik. Terpusatnya kepemilikan media tidak memenuhi kaidah keragaman kepemilikan (diversity of ownership) yang berakibat pada sedikitnya keberagaman isi (diversity of content). Kedua, terabaikannya agenda publik. Apa yang ditampilkan dalam media disesuaikan dengan alur kepentingannya pemilik modal. Ketiga, terjadi migrasi peran warga negara yang direduksi semata-mata menjadi konsumen.
Oleh karena itu prinsip diversity of media ownership menjadi prinsip dasar yang harus dipegang teguh untuk menciptakan sistem persaingan yang sehat, mencegah terjadinya monopoli dan oligopoli, serta memiliki manfaat ekonomi bagi masyarakat luas.
Keragaman politis sebagaimana disebut di atas Pada banyak titik sangat berkaitan dengan keragaman kultural. Kesepakatan yang banyak diterima menyebutkan bahwa suatu program penyiaran akan semakin baik dinilai bila
76Nyoman Mardika, “Menikmati Siaran Keragaman di Langit Indonesia”, Arah Baru Politik
Keragaman di Indonesia dan Tantangan: Seminar dari Yayasan Manika Kauci bersama Centre For Religious and Cross Cultural Studies, 25-27 November 2012.
semakin tinggi tingkat relevansinya untuk beragam ras, gender, umur, jenis kelamin sampai pada wilayah geografis. Namun demikian, mainstreaming program penyiaran bukan untuk memberengus keberagaman kultural yang ada. Maka, masih tetap diperlukan program penyiaran yang ditunjukan untuk kelompok minoritas (minority interest) kultural tertentu.77 Permasalahnya saat ini kelompok minoritas kerap diabaikan haknya dan dianggap tidak memiliki nilai ekonomi bagi pengiklan, akibatnya kelompok minoritas terpenjara oleh kelompok yang dinilai memiliki nilai ekonomi tinggi bagi pengiklan. Feintuck mengungkapkan bahwa:78
….„minority interests‟ serves to identify part of the issue. There would be wide-ranging agreement that the provision of programming relevant to varying groups, based on race, gender, age, sexual orientation or other social variants, is a positive development.
Dalam konteks internasional, justifikasi keragaman budaya untuk regulasi mengambil dimensi lebih lanjut, dengan identifikasi media massa sebagai faktor penting dalam kelanjutan atau kematian budaya nasional(Continuation or demise of national culture). Eve Salomon mengatakan salah satu alasan yang sangat penting mengapa media penyiaran memerlukan adanya aturan adalah untuk memastikan bahwa apa yang disajikan media penyiaran merepresentasikan budaya, nilai, dan etika yang ada pada masyarakat. Hal ini untuk mengurangi dampak globalisasi yang mampu memberenggus kebudayaan nasional maupun lokal, selain itu berbagai
77
Muhammad Mufid, Komunikasi dan Regulasi Penyiaran, cetakan ke-2 (Jakarta: Kencana, 2007), h. 69.
78
Mike Feintuck and Mike Varney, Media Regulation, Public Interest and The Law, 2 th ed. (Britain: Edinburgh University Scholarly Publishing, 2006), h.61.
kebudayaan yang disampaikan melalui media penyiaran dapat bertindak
sebagai „lem’ kohesi sosial serta melindungi budaya nasional.79 c. Economic Justification
Pertahanan ekonomi pasar dan hukum persaingan didasarkan pada presepsi keuntungan yang muncul dari operasi pasar yang kompetitif. Competitive market adalah sebuah jenis pasar dengan penjual dan pembeli yang sangat banyak dan produk yang dijual sangat homogen dengan produk yang bersifat identik. Hal ini menutut pasar untuk efisien. Namun, tuntutan keuntungan memproduksi efisiensi biaya mungkin bertentangan dengan harapan akan keadilan sosial. Faktor ini turut menetukan kebijakan pemerintah akan regulasi media.
Peraturan di sini biasanya dilakukan untuk mengimbangi ancaman terhadap media penyiaran, seperti kartel atau oligopoli yang dapat membatasi arus informasi. Faktor ini juga sangat berkaitan dengan „public service” yang
akan dibahas selanjutnya, terutama mengenai hak dan kebetuhan warga negara.
d. Public Service
Public service tidak lepas dari perhatian Feintuck sebagai salah satu alasan pentingnya regulasi di media penyiaran. Adanya public service broadcasting diharapkan mampu untuk mempromosikan keragaman dalam penyiaran demi kepentingan publik secara keseluruhan dengan menyediakan
79
Eva Salomon, Guidelines For Broadcasting Regulation (London: Commonwealth Broadcasting Association, 2008), h.
berbagai informasi, pendidikan, budaya, dan hiburan. Mandatnya harus termasuk menyediakan pelayanan yang:80
1)Memberikan kualitas, pemerograman independen yang berkontribusi terhadap pluralitas pendapat dan menyebarluaskan informasi kepada publik;
2) Termasuk berita yang komprehensif dan program terkini yang imparsial, akurat dan seimbang;
3) Menyediakan berbagai macam isi siaran yang mencapai keseimbangan antara program umum dan program-program khusus yang melayani kebutuhan audiens yang berbeda;
4) Dapat diakses secara universal dan dapat melayani semua orang serta daerah di negara itu, termasuk kelompok minoritas;
5) Menyediakan program yang mendidik dan program yang diarahkan untuk anak-anak;
6) Mempromosikan produksi program lokal dan memiliki quota yang jelas untuk program lokal.
e. Election Coverage
Pemilu adalah suatu periode ketika regulasi konten penyiaran cenderung