Berdasarkan dari rumusan masalah maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Mendiskripsikan pelaksanaan PTMT kelas II SD Negeri 2 Gunem 2021-2022.
2. Mendiskripsikan kualitas pembelajaran dari sistem PTMT yang dilaksanakan kelas II SD Negeri 2 Gunem 2021-2022.
7 D. Manfaat Penelitian
Penulis berharap bahwa hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat kontribusi positif, baik secara teoritis maupun secara praktis, manfaat tersebut adalah:
1. Manfaat Teoritis
Penulis berharap hasil penelitian ini memberikan kontribusi positif khususnya dalam dunia kependidikan. Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan sumbangan akan wawasan dan keilmuan terkait peralihan pembelajaran daring ke luring dan kualitas pembelajaran pada siswa sekolah dasar.
2. Manfaat Praktis
Penulis berharap hasil penelitian ini bermanfaat bagi beberapa pihak terkait.
Manfaat praktis akan dapat diambil apabila dengan paparan sebagai berikut:
a. Bagi Sekolah
Penulis berharap hasil penelitian ini dapat memberikan bahan acuan atau pertimbangan dalam mengetahui keefektifan proses pembelajaran yang dilakukan, yaitu pembelajaran luring atau pembelajaran tatap muka terbatas (PTMT) yang sedang berjalan khususnya di kelas II dengan memperhatikan kualitas pembelajarannya.
b. Bagi Guru
Dengan adanya penelitian ini diharap dapat memberikan koreksi dan rekonstruksi dalam memberikan pengalaman dan melakukan pembelajaran dengan siswa baik secara daring atau luring (PTMT) dengan memperhatikan kualitas pembelajarannya.
c. Bagi Siswa
Penulis berharap hasil dari penelitian ini dapat memberikan motivasi kepada siswa untuk lebih meningkatkan motivasi belajarnya, terlebih saat dilaksanakannya pembelajaran daring, agar harapan untuk mencapai tujuan pembelajaran dan hasil belajar dapat maksimal.
8 d. Bagi Peneliti
Setelah terselesainya penelitian ini, diharapkan dapat memberikan pengalaman serta wawasan peneliti terkait pelaksanaan pembelajaran daring dan luring di sekolah dasar dengan memperhatikan kualitas pembelajaran yang dilakukan.
9 BAB II
KAJIAN PUSTAKA A. Deskripsi Konseptual
1. Pembelajaran Tatap Muka Terbatas a. Pembelajaran
Terkemuka dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran adalah proses untuk memperoleh maklumat dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, penguatan keterampilan, dan pembentukan sikap, serta kepercayaan yang ada pada diri seseorang.
1) Ciri–Ciri Pembelajaran
Sugandi, dkk (2000) berpendapat tentang ciri-ciri dan karakteristik pembelajaran, diantaranya adalah sebagai berikut: 1) pembelajaran yang dilakukan secara sadar dan direncanakan secara sistematis. 2) pembelajaran dapat menumbuhkan perhatian dan motivasi siswa dalam proses belajarnya. 3) pembelajaran dapat menyediakan bahan belajaar yang menarik dan menantang bagi siswa. 4) pembelajaran dapat menggunakan alat bantu belajar yang tepat dan menarik. 5) pembelajaran dapat menciptakan suasana belajar yang aman dan menyenangkan bagi siswa. 6) pembelajaran dapat membuat siswa siap untuk menerima pembelajaran baik secara fisik maupun secara psikologis.
2) Tujuan Pembelajaran
Pada dasarnya, tujuan pembelajaran adalah apa yang menjadi tujuan (kognitif, psikomotor, dan afektif) sebagai harapan kepada siswa setelahnya melakukan proses pembelajaran dalam jangka waktu tertentu.
Adapun penentu dalam menentukan tujuan proses pembelajaran adalah sebagai berikut:
10 a) Kebutuhan siswa
Berdasarkan kebutuhan siswa adalah dapat ditetapkannya tujuan pembelajaran disesuaikan dengan kebutuhan siswa, apa saja yang hendak dicapai dalam proses belajarnya, dan bagaimana diapresiasikan.
b) Mata pelajaran/ materi yang disampaikan, dan
Berdasarkan mata pelajaran/ materi yang disampaikan adalah petunjuk kurikulum yang sudah tersedia yang dapat ditentukan dari hasil-hasil pendidikan yang diinginkan.
c) Guru itu sendiri
Maksud dari guru itu sendiri adalah guru yang merupakan sumber utama tujuan dari siswa-siswi dan guru harus mumpuni dalam menuliskan dan menentukan tujuan pendidikan yang bermakna serta dapat diukur. Gagne dan Briggs (1979) mengemukakan bahwa pembelajaran bertujuan untuk membantu terlaksananya proses pembelajaran siswa, yang berisi tentang suatu rangkaian peristiwa yang telah dirancang untuk mempengaruhi dan mendukung terjadinya belajar siswa yang sifatnya internal.
Adapun suatu tujuan harus memenuhi kriteria sebagai berikut:
1) Tujuan pembelajaran tersebut menyediakan situasi ataupun kondisi untuk belajar. Misalnya adalah dalam situasi bermain peran.
2) Tujuan pembelajaran mendefinisikan tingkah laku siswa dalam bentuk dapat diukur dan juga dapat diamati, dan
3) Tujuan pembelajaran menyatakan tingkat minimal perilaku yang dikehendaki.
Misalnya adalah pada peta Pulau Jawa, siswa diminta memberikan warna, label, dan tulisan sekurang-kurangnya pada tiga gunung utama.
Keberhasilan dalam pembelajaran dapat dilihat melalui dua aspek, yaitu aspek produk yang berarti keberhasilan siswa menyangkut hasil yang diperoleh dengan mengabaikan prosesnya, dan aspek proses (Sanjaya, 2011)
11 b. Pembelajaran Luring atau Offline
Pembelajaran adalah proses interaksi antar peserta didik, antara peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar (Permendikbud Nomor 23 Tahun 2016) Pembelajaran luring atau offline adalah suatu kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan secara langsung, langsung tatap muka, dan secara nyata. Luring berarti luar jaringan, yaitu kegiatan yang dilaksanakan terputus dari jejaring computer (KBBI). Pembelajaran luring atau offline tidak dapat diwakilkan dengan penggunaan alat bantu apapun seperti halnya pada proses pelaksanaan pembelajaran daring atau PJJ. Dalam aktivitas pembelajaran luring sama sekali tidak menggunakan jaringan internet atau intranet dalam proses pelaksanaannya.
Contohnya seorang siswa melakukan kegiatan chatting di WhatsApp dalam proses pelaksanaan pembelajaran yang artinya mereka melakukan aktivitas pembelajaran daring. Namun jika siswa melakukan aktivitas menulis/ mengetik tulisan di mmicrosoft word/ excel maka mereka sedang melakukan aktivitas pembelajaran luring. Sama-sama menggunakan teknologi dalam proses pembelajarannyaa namun beda dalam pemanfaatannya.
c. Pengertian PTMT
Pembelajaran tatap muka terbatas (PTMT) adalah kebijakan proses pendidikan yang dimana dalam prosesnya siswa tidak harus melakukan pembelajaran tatap muka dengan waktu yang penuh atau full pembelajaran, dalam arti adanya ketetapan dan batasan yang telah ditetapkan oleh KemenDikBud tentang waktu yang dibatasi, jumlah siswa yang masuk mengikuti pembelajaran tatap muka, posisi duduk yang diberikan jarak, dan lainnya yang mendukung kebijakan pemberintah serta meminimalisir rantai penularan virus.
Jumeri, Dirjen PAUD Dikdasmen Kemendikbudristek (2021) menyatakan dalam konferensi persnya tentang daring (Selasa, 8 Juni 2021) bahwa ….
12
PTM terbatas ini pemahamannya yang benar adalah anak tidak perlu mengikuti pembelajaran penuh dalam sehari, tapi diatur sesuai kebutuhan di sekolah masing-masing, jumlah harinya tidak harus setiap hari.
Dalam penetapan kebijakan inipun mendapatkan pro dan kontra dari berbagai pihak. salah satu alasan yang tidak pro dengan kebijakan ini adalah karena sampai saat ditetapkannya PTM terbatas ini, kondisi atau angka covid di Indonesia masih tinggi.
Dimana standarisasi atau positivity rate yang ditetapkan oleh WHO kepada daerah yang boleh melaksanakan PTM adalah berada di bawah 5%, namun Indonesia pada saat itu masih pada angka 37% yang artinya masih jauh dari ketetapan WHO (Epidemiologi UNAIR, Dr. Windhu Purnomo). Namun saat ini positivity rate Indonesia sudah berada di bawah 5% dengan adanya naik turun angka setiap harinya.
d. Kebijakan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas
Berdasarkan surat edaran (SE) yang dikeluarkan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan No. 420/04/60728 tentang penyelenggaraan KBM tatap muka tahun pelajaran 2021-2022 yaitu sekolah yang berada di bawah naungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dinyatakan diperbolehkan untuk menyelenggarakan pembelajaran tatap muka, namu dengan beberapa ketentuan yaitu: 1) masuk untuk semua kelas (I s.d III), 2) 1 jam pelajaran, 3) istirahat 1 (satu) kali selama 15 menit, siswa tetap di dalam kelas, 4) 1 (satu) ruang maksimal 16 siswa, 5) apabila siswa lebih dari 16, maka dibuat shift di hari berikutnya, dan 6) jarak tempat duduk antar siswa minimal 1 meter. (Nissa
& Haryanto, 2020) e. Tujuan PTMT
Johnny G. Plate (2021) yaitu menteri komunikasi dan informatika mengugkapkan alasan dilaksanakannya pembelajaran tatap muka terbatas adalah : 1) karena dengan pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang berkepanjangan akan memberikan dampak negatif bagi siswa, karena dengan pembelajaran yang dilakukan jarak jauh maka banyak siswa yang bekerja untuk membantu krisis keuangan keluarga di tengah
13
pandemi dan tidak belajar, 2) menghindari siswa putus sekolah, 3) banyak orang tua/
wali siswa yang tidak melihat peranan sekolah dalam pelaksanaan pembelajaran jarak jauh, 4) untuk menghindari capaian belajar siswa yang menurun, pasalnya dalam pelaksanaan PJJ sangat berbeda terkait akses, kualitas materi pembelajaran, dan sarana yang dapat memberikan kesenjangan capaian belajar terutama siswa yang memeiliki permasalahan sosio-ekonomi, dan 5) untuk menhindari adanya risiko psiko-sosial atau terkait dengan kondisi individu yang mencakup aspek psikis dan sosial pada siswa, yaitu resiko akan kekerasan pada siswa di rumah, resiko pernikahan dini, resiko akan eksploitasi siswa terutama perempuan, serta resiko kehamilan dini.
f. Sistem Pemberlakuan
Merujuk dari surat edaran mendikbudristek Nomor 2 Tahun 2022 tentan diskresi pelaksanaan keputusan bersama 4 (empat) menteri tentang panduan penyelenggaraan pembelajaran di masa pandemi coronavirus disease 2019 (Covid-19) yang menetapkan pembelajaran tatap muka terbatas atau PTMT ini mengklasifikasikan sistem pelaksanaan pembelajaran yang dapat dilakukan berdasarkan status keamanan di wilayah masing-masing sekolah, yaitu sebagai berikut: 1) ketentuan sekolah tatap muka terbatas pada wilayah PPKM level 1 dan 2, 2) ketentuan sekolah tatap muka terbatas pada wilayah PPKM 3, dan 3) ketentuan sekolah tatap muka terbatas pada wilayah PPKM 4. Klasifikasi pelaksanaan pembelajaran tatap muka terbatas dapat dipahami sebagai berikut:
1. Ketentuan sekolah tatap muka terbatas wilayah PPKM 1 dan 2
a) Satuan pendidikan dengan capaian vaksinasi dosis 2 dengan 80% pada siswa dan tenaga pendidik dan capaian vaksinasi dosis 2 pada masyarakat wilayah setempat yaitu masyarakat lansia di atas 50% dan siswa sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di wilayah setempat tingkat kabupaten/ kota. Dengan ketentuan tersebut, proses pelaksanaan pembelajaran dilakukan dengan sebagai berikut:
14 1) Sistem masuk siswa setiap hari
2) Jumlah siswa yang masuk 100% dari kapasitas ruang kelas
3) Lama pembelajaran paling banyak enam jam pelajaran di setiap harinya b) Satuan pendidikan dengan capaian vaksinasi dosis 2 dengan tenaga pendidik dan
tenaga kependidikan sebanyak antara 50% - 80%, capaian vaksinasi dosisi 2 dengan warga lansia sebanyak 40% - 50%, dan siswa sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di wilayah setempat tingkat kabupaten/ kota.
Dengan ketentuan tersebut, proses pelaksanaan pembelajaran dilakukan dengan sebagai berikut:
1) Sistem masuk siswa setiap hari namun secara bergantian
2) Jumlah siswa yang masuk adalah sebanyak 50% dari kapasitas ruang kelas 3) Lama pembelajaran paling banyak enam jam pelajaran di setiap harinya c) Satuan pendidikan dengan capaian vaksinasi dosis 2 dengan pendidik dan tenaga
kependidikan sebanyak di bawah 50%, capaian vaksinasi dosisi 2 dengan warga lansia di bawah 40% dan siswa sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di wilayah setempat tingkat kabupaten/ kota. Dengan ketentuan tersebut, proses pelaksanaan pembelajaran dilakukan dengan sebagai berikut:
1) Sistem masuk siswa setiap hari namun secara bergantian
2) Jumlah siswa yang masuk adalah sebanyak 50% dari kapasitas ruang kelas 3) Lama pembelajaran paling banyak 4 (empat) jam pelajaran di setiap
harinya
2. Ketentuan sekolah tatap muka terbatas wilayah PPKM 3
Ketentuan untuk satuan pendidikan di wilayah PPKM 3 melaksanakan sekolah tatap muka terbatas dengan pembelajaran jarak jauh yaitu sebagai berikut:
a) Satuan pendidikan dengan capaian vaksinasi dosis 2 dengan pendidik dan tenaga kependidikan paling sedikitnya adalah sebanyak 40%, capaian vaksinasi dosis 2 dengan warga lansia paling sedikitnya adalah sebanyak 10% dan siswa sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di wilayah setempat tingkat
15
kabupaten/ kota. Dengan ketentuan tersebut, proses pelaksanaan pembelajaran dilakukan dengan sebagai berikut:
1) Sistem masuk siswa setiap hari namun secara bergantian
2) Jumlah siswa yang masuk adalah sebanyak 50% dari kapasitas ruang kelas 3) Lama pembelajaran paling banyak 4 (empat) jam pelajaran di setiap
harinya.
b) Satuan pendidikan dengan capaian vaksinasi dosis 2 dengan pendidik dan tenaga kependidikan adalah sebanyak di bawah 40%, capaian vaksinasi dosis 2 pada warga masyarakat lansia di bawah 10% di tingkat kabupaten/kota, dilaksanakan pembelajaran jarak jauh.
3. Ketentuan sekolah tatap muka terbatas wilayah PPKM 4
Ketentuan untuk satuan pendidikan pada wilayah PPKM level 4 melakukan pembelajaran jarak jauh atau daring. Dengan ketentuan tersebut, proses pelaksanaan pembelajaran dilakukan dengan sebagai berikut:
1) Tidak terkonfirmasi/ terpapar Covid-19 dan tidak melalukan kontak erat Covid-19
2) Tubuh dalam kondisi sehat, apabila terdeteksi mengidap penyakit penyerta atau komorbid maka harus dalam kondisi terkontrol
3) Tidak memiliki gejala akan Covid-19, termasuk orang yang serumah dengan warga satuan pendidikan.
g. Kelebihan PTMT
Jika dibandingkan dengan sistem pelaksanaan pembelajaran secara daring atau online maka sistem pembelajaran secara tatap muka langsung memiliki kelebihan, yaitu sebagai berikut:
a. Siswa dapat mengakses atau mendapatkan materi pembelajaran dengan porsi yang sama tanpa ada kendala.
16
b. Siswa dapat memahami materi dengan lebih mudah karena materi dipaparkan langsung oleh guru dan dapat dijelaskan secara mendalam apabila ada yang merasa kesulitan.
c. Beban orang tua/ wali siswa akan lebih berkurang, baik dalam membelian dan penggunaan kuota belajar siswa atau dalam memantau dan membantu proses belajar siswa.
d. Meminimalisir adanya loss of learsing atau hilangnya pembelajaran baik dalam skala besar ataupun kecil serta resiko psikososial terhadap siswa.
e. Siswa dapat melakukan sosialisasi dengan orang-orang yang ada di sekitarnya kembali (guru, siswa, staf sekolah) tentunya dengan menaati protokol kesehatan yang dianjurkan.
f. Interaksi yang terjalin antara siswa dan guru terjalin secara maksimal.
g. Guru dapat mengawasi siswa lebih dalam, baik terkait kemampuan siswa dalam menerima materi pembelajaran. psikososialnya, hasil belajar, dll.
2. Kualitas Pembelajaran a. Pengertian
Kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengatakan bahwa kualitas adalah tingkat baik buruknya sesuatu, kadar, derajat atau taraf, mutu. Dalam pendidikan, konteks pengertian dari mutu merujuk pada proses pendidikan dan hasil dari pendidikan itu. Dari pendapat tersebut, maka kualitas atau mutu dalam pendidikan harus ditingkatkan lagi, baik dari segi sumber daya manusia (SDM), sumber daya material, mutu dan kualitas dalam proses pembelajaran, kualitas kelulusan, dan lain-lain. Kualitas merupakan suatu kondisi dinamis yang dapat mengukur suatu keadaan, proses, dan hasil yang kemudian dapat dilakukan kesimpulan untuk keefektifan dan mutu (Hamdani, 2010: 193). Kualitas pembelajaran adalah keterkaitan sistemik yang terjalin antara siswa, guru, lingkungan pembelajaran, proses pembelajaran, metode dan strategi pembelajaran, dan media pembelajaran yang dapat mengukur sejauh mana
17
keberhasilan proses dan hasil dari tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sesuai dengan kurikulum.
Dari beberapa pegertian tersebut dapat dipahami bahwa kualitas pembelajaran adalah mutu atau baik buruknya suatu proses atau hasil dari pembelajaran yang dilakukan dalam kurun wkatu tertentu berdasarkan kurikulum yang berlaku.
b. Tujuan
Secara garis besarnya, pengukuran akan kualitas suatu sistem pembelajaran yang dilakukan adalah bertujuan untuk:
1) Mengukur kemajuan dan perkembangan siswa setelah melakukan kegiatan belajar mengajar selama jangka waktu tertentu,
2) Mengukur sampai mana keberhasilan sistem pembelajaran yang diterapkan, 3) Sebagai bahan pertimbangan dalam rangka melakukan perbaikan proses belajar
mengajar (evaluasi), dan
4) Untuk keperluan bimbingan dan konseling.
c. Faktor Kualitas Pembelajaran
Dalam proses pelaksanaan pembelajaran terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas pembelajaran, yaitu: 1) guru, 2) siswa, 3) sarana dan prasarana, 4) lingkungan. Dapat dipahami sebagai berikut:
1) Faktor guru
Guru adalah komponen penting dalam pembelajaran, tidak hanya sebagai model atau keteladanan siswa namun juga pengelola pembelajaran baik dalam menentukan strategi maupun dalam pelaksanaan. Menurut Dunkin (1974) ada beberapa aspek yang dilihat dari guru, yaitu: 1) teacher formative experience, 2) teacher trining experience, dan 3) teacher properties.
2) Faktor siswa
18
Faktor-faktor yang mempengaruhi proses pembelajaran dilihat dari faktor siswa adalah: 1) latar belakang siswa atau pupil formative experience, dan 2) sifat yang dimiliki siswa atau pupil properties. Siswa adalah organisme yang unik untuk berkembang sesuai dengan tahapa perkembangannya.
3) Faktor saran dan prasarana
Sarana adalah segala sesuatu yang mendukung terlaksananya pembelajaran, yaitu media pembelajaran, alat pembelajaran, sumber belajar, dan perlengkapan sekolah lainnya. Prasarana adalah segala sesuatu yang dilihat secara tidak langsung mendukung keberhasilan pembelajaran, yaitu jalan menuju sekolah, kamar mandi, dan fasilitas lain.
4) Faktor lingkungan
Terdapat dua faktor yang mempengaruhi, yaitu: 1) faktor akan organisasi kelas, meliputi 6 (enam) hal yaitu sumber daya kelompok dalam kelas yang semakin luas sesuai dengan jumlah siswa, kelompok belajar yang kurang mampu memanfaatkan sumber daya yang ada, kepuasan setiap siswa, perbedaan individu, perasaan ingin maju bersama kelompok yang mengakibatkan membutuhkan waktu yang banyak, dan 2) faktor iklim sosial-psikologis, yang secara internal adalah hubungan antar warga sekolah, misalnya kerjasama antar guru, faktor iklim sosial-psikologi secara eksternal adalah keharmonisan hubungan sekolah dengan pihak di luar sekolah, misalnya hubungan sekolah dengan orang tua/ wali siswa atau dengan lembaga di luar sekolah.
d. Indikator Kualitas Pembelajaran
Adapun indikator kualitas pembelajaran menurut Depdiknas dalam (Prasetyo, 2013:
13) yang dapat diketahui ke beberapa aspek yaitu:
1. Perilaku Seorang Pendidik (Guru) 2. Perilaku atau aktivitas siswa 3. Iklim pembelajaran
4. Materi pembelajaran 5. Media pembelajaran
19 6. Sistem pembelajaran
Kualitas atau mutu dalam suatu pendidikan merupakan sebagai kemampuan lembaga pendidikan untuk menghasilkan suatu proses, hasil, serta dampak yang optimal. Kualitas atau mutu dalam pendidikan yang optimal dapat dilihat pada gambar 2.1.
Gambar 2. 1 Kualitas atau Mutu Pembelajaran Optimal
a. Guru
Kualitas atau mutu dalam proses pembelajaran dapat dikatakan optimal apabila guru dapat memfasilitasi dalam segala proses belajar siswa. Semua guru memiliki tanggung jawab akan tingkat keberhasilan siswa dalam belajarnya dan dalam melakukan pembelajaran di kelas. Proses belajar dapat terjadi atau terlaksana apabila siswa telah terstimulus untuk belajar, guru harus mempersiapkan pembelajaran yang interaktif dan inovatif dan mampu menyampaikan manfaat pembelajaran yang
Kualitas Pembelajaran
Optimal
Guru Iklim
Siswa
Materi
Media Sistem
20
dilakukan. Guru memiliki tanggung jawab dan sangat dituntut untuk terus aktif untuk tetap berusaha menanamkan sikap positif dalm belajar, karena sangat penting untuk siswa merasakannya di dalam proses belajar untuk mampu belajar dengan juga mengikuti perkembangan zaman siswa. Dalam Depdiknas (2010: 8) dipaparkan perihal indikator perilaku seorang pendidik atau guru adalah sebagai berikut:
1. Membangun persepsi dan sikap positif siswa terhadap belajar 2. Menguasai disiplin ilmu.
3. Memahami keunikan setiap siswa dengan setiap kelebihan, kekurangan, dan kebutuhannya.
4. Menguasai pengelolaan pembelajaran yang tercermin dalam kegiatan merencanakan, melaksanakan, serta mengevaluasi dan memanfaatkan hasil evaluasi pembelajaran.
Keterampilan dasar mengajar guru dapat diklasifikasikan menjadi 9 keterampilan (Rusman, 2011: 80) yaitu sebagai berikut:
1. Keterampilan membuka pembelajaran (Set Induction Skiils) 2. Keterampilan bertanya
3. Keterampilan memberikan penguatan materi (Reinforcement Skiils) 4. Keterampilan mengadakan variasi (Variation Skiils)
5. Keterampilan menjelaskan (Explaining Skiils) 6. Keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil 7. Keterampilan mengelola kelas
8. Keteampilan pembelajaran perseorangan
9. Keterampilan menutup pembelajaran (Closure Skiils) b. Siswa
Sekolah merupakan salah satu tempat untuk melakukan aktivitas belajar. Dalam kegiatan belajar tidak hanya mendengarkan dan mencatat dengan lazim yang terdaoat di sekolah-sekolah tradisional namun ada juga kegiatan di luar kelas seperti
21
ekstrakurikuler atau kegiatan yang lainnya. Dalam Depdiknas (2010: 8) dipaparkan perihal indikator perilaku siswa adalah sebagai berikut:
1. Memiliki persepsi dan sikap positif terhadap belajar.
2. Mau dan mampu mendapatkan dan mengintegrasikan pengetahuan dan keterampilan serta membangun sikapnya.
3. Mau dan mampu menerapkan pengetahuan, keterampilan, dan sikapnya secara bermakna.
4. Mau dan mampu memperluas serta memperdalam pengetahuan dan keterampilan serta memantapkan sikapnya.
5. Mau dan mampu membangun kebiasaan berpikir, bersikap dan bekerja produktif.
6. Mampu menguasai materi ajar mata pelajaran dalam kurikulum sekolah.
Macam kegiatan aktivitas siswa menurut Diedrich (dalam Sardiman 2011:101) antara lain dapat digolongkan sebagai berikut:
1. Visual activities, yang termasuk di dalamnya adalah, membaca, memperhatikan gambar demonstrasi, percobaan, pekerjaan orang lain.
2. Oral activities, contohnya: menyatakan, merumuskan, bertanya, memberi saran, mengeluarkan pendapat, mengadakan wawancara, diskusi, interupsi.
3. Listening activities, seperti mendengarkan uraian, percakapan, diskusi, musik, pidato.
4. Writing activities, misalnya yaitu menulis cerita, karangan, laporan, angket, menyalin.
5. Drawing activities, contohnya: menggambar, membuat grafik, peta diagram.
6. Motor activities, yang termasuk didalamnya antara lain: melakukan percobaan, membuat konstruksi, model mereparasi, bermain, berkebun, beternak.
7. Mental activities, sebagai contoh: menanggapi, mengingat, memecahkan soal, menganalisis, melihat hubungan, mengambil keputusan.
8. Emotional activities, seperti misalnya: menaruh minat, merasa bosan, bergembira, bersemangat, bergairah, berani, tenang, gugup.
22 c. Iklim pembelajaran
Melalui aspek iklim pembelajaran, kualitas atau mutu yang optimal bisa dilihat dari seberapa besarnya suasana dalam pelaksanaan proses pembelajaran ini mendukung dan terciptanya suatu kegiatan belajar yang menarik, menantang, menyenangkan, dan bermakna sehingga mampu membentuk profesionalitas kependidikan bagu guru.
Dalam Depdiknas (2010: 8) dipaparkan perihal iklim pembelajaran dapat dikatakan optimal apabila sebagai berikut:
1. Suasana kelas yang kondusif.
2. Perwujudan nilai dan semangat ketauladanan.
3. Suasana sekolah latihan dan tempat berpraktik lainnya yang kondusif bagi tumbuhnya penghargaan siswa.
d. Materi pembelajaran
Jika dipandang dari sisi aspek materi pembelajaran, suatu kualitas atau mutu yang optimal dapat diketahui dan dilihat dari kesesuaian materi pembelajaran dengan tujuan dan kompetensi pembelajaran yang harus dimiliki dan dikuasai oleh siswa.
Kualitas atau mutu suatu proses pembelajaran secara operasional dapat dipahami sebagai intensitas ketertarikan sistemik dan sinergis guru, siswa, kurikulum dan bahan ajar, media pembelajaran, fasilitas belajar, dan sistem pembelajaran dalam menghasilkan proses dan hasil pembelajaran yang optimal dan sesuai dengan tuntutan kurikulum yang sedang berlaku. Dalam Depdiknas (2010: 8) dipaparkan perihal materi pembelajaran dapat dikatakan optimal apabila sebagai berikut:
1. Kesesuaiannya dengan tujuan pembelajaran dan kompetensi yang harus dikuasai siswa.
2. Ada keseimbangan antara keluasan dan kedalaman materi dengan waktu yang
2. Ada keseimbangan antara keluasan dan kedalaman materi dengan waktu yang