• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

E. Uji Asumsi Klasik

Uji ini biasanya didesain untuk menguji apakah suatu variabel penjelas

cocok atau tidak dimasukkan dalam suatu model estimasi, uji ini digunakan

untuk menguji apakah bentuk fungsi suatu model estimasi linier atau tidak

linier dengan cara melihat nilai probabilitasnya.

Untuk mengetahui suatu model linier atau tidak, dapat dilakukan dengan

cara Uji Ramsey (RESET), yaitu suatu pengujian yang dikembangkan oleh

dikenal dengan sebutan uji kesalahan spesifikasi regresi (Regression

Specification Error Test = RESET) (Widarjono, 2009:170). Dalam pengujian

Ramsey (RESET) ini, yang perlu diperhatikan adalah nilai F hitung, dengan

hipotesis :

H0 = Model tidak linier

Ha = Model linier

Apabila nilai F hitung lebih besar dari nilai F kritisnya pada α tertentu

berarti signifikan, maka hipotesis H0 diterima, artinya model kurang tepat atau

tidak linier. Sebaliknya, apabila nilai F hitung lebih kecil dari nilai F kritisnya

pada α tertentu, berarti tidak signifikan dan menolak hipotesis H0 yang

menyatakan bahwa model tidak linier.

Selain itu, Pengambilan keputusan juga dapat dilakukan dengan melihat

nilai probabilitas Obs* R2, yaitu sebagai berikut :

1. Bila probabilitas Obs* R2 > 0,05 maka signifikan, dan menolak H0 dengan

demikian model dikatakan linier.

2. Bila probabilitas Obs* R2 < 0,05 maka tidak signifikan dan menerima H0,

maka model tidak linier.

2. Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi

variable pengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Seperti diketahui

62 normal, jika asumsi ini dilanggar maka uji statistis menjadi tidak valid

(Ghozali, 2009).

Uji normalitas adalah untuk melihat apakah nilai residual terdistribusi

normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah memiliki nilai residual yang

terdistribusi normal. Jadi uji normalitas bukan dilakukan pada masing-masing

variabel tetapi pada nilai residualnya. Sering terjadi kesalahan yang jamak yaitu

bahwa uji normalitas dilakukan pada masing-masing variabel. Hal ini tidak

dilarang tetapi model regresi memerlukan normalitas pada nilai residualnya

bukan pada masing-masing variabel penelitian.

Langkah pengujian sebagai berikut:

Hipotesis

H0 : model terdistribusi normal

Ha : model tidak terdistribusi normal

Pengambilan keputusan dilakukan dengan kriteria :

- jika probabilitas OBS*R2 >0,05 siginifikan H0 diterima

- jika probabilitas OBS*R2 <0,05 tidak signifikan H0 ditolak

Artinya adalah apabila probabilitas OBS*R2 lebih besar dari 0,05 maka

model tersebut dikatakan normal. Apabila OBS*R2 lebih kecil dari 0,05 maka

3. Uji Multikolinearitas

Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi

ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas. Model regresi yang baik

seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel independen. Jika variabel

independen saling berkolerasi maka variable-variabel ini tidak orthogonal atau

nilai korelasi antar sesama variable independen sama dengan nol (Ghozali,

2009).

Uji multikolinearitas bermaksud untuk membuktikan atau menguji ada

tidaknya hubungan linear antara variabel bebas (independent) satu dengan

variabel lainnya (Gujarati, 2006:67).

Uji miltikolinearitas dilakukan untuk melihat apakah ada korelasi antara

variabel independen pada model regresi. Korelasi antara variabel independen

sebaiknya kecil ( Nisfiannoor, 2009:91). Deteksi adanya multikolinearitas:

1. Nilai R2 sangat tinggi, tetapi secara sendiri-sendiri regresi antara

variabel-variabel independen tidat signifikan

2. Korelasi antar variabel-variabel independen sangat tinggi.

Pengujian multikolinearitas dilakukan dengan menggunakan matriks

64 Hipotesis

H0 : model bersifat multikonearitas

Ha : model tidak bersifat multikonearitas

Pengambilan keputusan dilakukan dengan kriteria :

 apabila hubungan x1 dan x2 > 0.85 H0 diterima

 apabila hubungan x1 dan x2 < 0.85 H0 ditolak

Artinya adalah apabila hubungan antara variabel x1 dan x2 lebih dari 0, 85

maka model yang tersebut memiliki sifat multikolinearitas. Apabila hubungan

antara variabel x1 dan x2 kurang dari 0,85 maka model yang tersebut tidak

memilki sifat multikolinearitas (Widarjono, 2009:106).

4. Uji Heteroskedastisitas

Uji heterokdastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi

ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain

(Ghozali, 2009).

Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam sebuah

regresi terjadi ketidaksamaan varian dari residual dari suatu pengamatan ke

pengamatan lain (Gujarati, 2006:82).

Data yang diharapkan adalah memiliki varians yang sama, dan disebut

homoskedastisitas. Sedangkan jika data tersebut memiliki varians yang berbeda

Pendeteksian heteroskedastisitas dapat dilakukan melalui uji white karena

uji tersebut mudah untuk diterapkan (Gujarati, 2006:94).

Langkah pengujian sebagai berikut:

Hipotesis

H0 : model terdapat heterokesdastisitas

Ha : model tidak terdapat heterokesdastisitas

Pengambilan keputusan dilakukan dengan kriteria :

- jika probabilitas OBS*R2 >0,05 siginifikan H0 ditolak

- jika probabilitas OBS*R2 <0,05 tidak signifikan H0 diterima

Artinya adalah apabila probabilitas OBS*R2 lebih besar dari 0,05 maka

model tersebut tidak terdapat heteroskedastisitas. Apabila OBS*R2 lebih kecil

dari 0,05 maka model tersebut terdapat heteroskedastisitas (Winarmo,

2009:5.15).

5. Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi

linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan

kesalahan pengganggu pada periode t-1(sebelumnya) jika terjadi korelasi maka

dinamakan ada problem autokorelasi (Ghozali, 2009).

Autokorelasi bertujuan untuk mengetahui apakah dalan sebuah model

regresi linear ada korelasi antara kesalahan penggangu pada periode t dengan

66 Sejalan dengan keterangan lainnya yang mengatakan bahwa uji

autokorelasi dilakukan untuk mengetahui apakah ada korelasi antara kesalahan

pengganggu pada periode t dengan kesalahan periode t sebelumnya pada model

regresi linear yang dipergunakan. Jika terjadi korelasi, maka dinamakan ada

problem autokorelasi. Dalam model regresi yang baik adalah tidak terjadi

korelasi (Nisfiannor, 2009:92).

Apabila data yang kita analisis mengandung autokorelasi, maka estimator

yang kita dapatkan memiliki karakteristik berikut ini: (i) Estimator metode

kuadrat terkecil masih linear, (ii) Estimator metode kuadrat terkecil masih tidak

bias, (iii) Estimator metode kuadrat terkecil tidak mempunyai varian yang

minimum. Dengan demikian autokorelasi akan menyebabkan estimator hanya

bersifat LUE, tidak lagi BLUE (Best Linear Unbias Estimate) (Winarmo,

2009:5.27).

Dalam mendeteksi permasalahan autokorelasi bisa menggunakan Uji

Breusch-Godfrey (BG). Nama lain uji ini adalah Uji lagrange-Multiplier

(Pengganda Lagrange). (Winarmo, 2007:5.29)

Langkah-langkah pengujian.

Hipotesis

H0 : model terdapat autokorelasi

Ha : model tidak terdapat autokorelasi

-. Bila prob X2 > 0.05 H0 ditolak

Artinya adalah nilai prob X2 (2) lebih besar dari 0.05 maka model dalam

penelitian terbebas masalah autokorelasi. Sebaliknya, jika nilai prob. X2 lebih

kecil dari 0.05 maka model dalam penelitian terbebas masalah autokorelasi

(Winarmo, 2009:5.30).

Dokumen terkait