Uji validitas (uji kesahihan) adalah suatu alat yang digunakan untuk mengukur sah/valid tidaknya suatu kuesioner. Uji validitas menunjukan suatu ukuran atau ketepatan suatu instrumen atau indikator yang valid mempunyai validitas yang tinggi atau mengalami kondisi VALID (sah, syah, absah, sahih) diukur berdasarkan nilai Faktor Koreksi (FK) dari indikator mupun dimensi dari variabel penelitian > 0.6 (Valid). Sebaliknya, instrumen yang kurang valid berarti memiliki validitas rendah atau mengalami DROP (penurunan, keadaan menurun, atau kemerosotan) diukur berdasarkan nilai Faktor Koreksi (FK) dari indikator mupun dimensi dari variabel penelitian < 0.6 (Drop). Penggujian validitas tiap butir sampai sekarang merupakan teknik yang paling banyak digunakan.
Hasil Perhitungan: Data Dengan Kategori (Jumlah ke I) yang dimuat dalam (lampiran 13 s/d 20) terdapat sebanyak 40 Indikator dan Dimensi dari semua variabel penelitian. Sebanyak 29/40 = 72.5 % indikator maupun Dimensi mengalami DROP (penurunan, keadaan menurun, atau kemerosotan) dan hanya sebanyak 11/40 = 27.5 % mengalami kondisi VALID (sah, syah, absah, sahih).
Hasil Perhitungan: Data Dengan Kategori (Jumlah ke II) yang dimuat dalam (Lampiran 13 s/d 20) yang terdiri sebanyak 40 Indikator dan Dimensi dari semua variabel
penelitian atau sebanyak 100 % mengalami kondisi VALID (sah, syah, absah, sahih).
Empat tabel pertama merupakan Metode Path Analysis Model Fungsional Loyalitas Konsumen (…..fungsi Semula) terdiri sebanyak 25 indikator, menyatakan sebanyak 18/25
= 72.0 % mengalami DROP, Sedangkan Empat tabel terakhir Metode Path Analysis (Model Fungsional Keunggulan Bersaing (….fungsi estapet) menyatakan sebanyak 10/15 = 66.67 % mengalami DROP dan hanya sebanyak 5/15 = 33.33 % mengalami kondisi VALID (sah, syah, absah, sahih).
Pada Lampiran 13 terdapat sebanyak 6 indikator dari 13 indikator kualitas pelayanan atau sebesar 46.15 % mengalami DROP (penurunan, keadaan menurun, atau kemerosotan), dengan ”jumlah Drop” dan ”Nilai Drop”sebesar (dapat diukur dalam %) masing-masing sebagai berikut:
X1.2. Perlengkapan Armada Bus TransJakarta X1 = 193.338 + 10.607 X1.2 .2FK X1.2 = 0.585 Drop X1.4. Penampilan Petugas X1 = 241.326 + 10.287 X1.4 ; FK X1.4 = 0.404 Drop X1.6. Keramahan X1 = 178.310 + 10.7654 X1.6 ; FK X1.6 = 0.573 Drop X1.10. Mampu Berkomunikasi X1 = 201.466 + 11.119 X1.11 ; FK X1.10 = 0.435 Drop X1.11. Informasi Yang Akurat X1 = 201.466 + 11.119 X1.11 ; FK X1.11 = 0.546 Drop X1.13. Perhatian Kepada Konsumen X1 = 189.092 + 10.983 X1.13 ; FK X1.13 = 0.589 Drop
Nilai koefisien ALPHA CRONBACH Kualitas Pelayanan (X1) sebesar 0.973 menjadi 0.986 dengan Laju Kenaikan sebesar 1.36 % dan Nilai Butiran INDIKATOR rata-rata Kualitas Pelayanan (X1) meningkat sebesar 2.41 Kali lipat.
Pada umumnya bahwa indikator kualitas pelayanan yang mengalami DROP tersebut, dapat dilihat dari hasil perhitungan estimasi menggunakan program SPSS IBM Statistik Versi 21 for Windows adalah karena terjadinya Excluded Variable per butir indikator hasil estimasi (multiple regression) Model Regresi II yang memiliki ”Zero-order Partial Correlation” dan yang mengalami ”Zero-order (Tolerance, VIF and Minimum Tolerance) Collinearity Statistics”.
Secara umum ke 6 butir indikator kualitas pelayanan (X1) yang mengalami DROP dengan ”tingkat Drop” sebagai berikut: (1) X1.2. Perlengkapan Armada Bus TRANSJAKARTA =. FK X1.2 = 0.585, (2) X1.4. Penampilan Petugas = FK X1.4 = 0.404, (3) X1.6. Keramahan = FK X1.6 = 0.573, (4) X1.10 (Kemampuan Berkomunikasi), nilai FK X1.10 = 0.435 Drop, (5) X1.11. Informasi Yang Akurat = FK X1.11 = 0.546 dan (6) X1.13. Perhatian Kepada Konsumen = FK X1.13 = 0.589.
Ke 6 butir indikator kualitas pelayanan (X1) yang mengalami DROP dengan
”tingkat Drop” tersebut dapat pula diartikan sebagai atau oleh karena: (1) Kurangnya perhatian perusahaan sebagai penyedia jasa angkutan memperbaharui, memperbaiki bahkan meningkatkan fasilitas berupa (X1.2) Perlengkapan Armada Bus TRANSJAKARTA, (2) Kurang menarik atau kurang rapinya (X1.4) Penampilan Petugas, (3) Rendahnya kemampuan karyawan memenuhi kebutuhan pelanggan (konsumen) dan Melayani penumpang dengan baik dengan penuh (X1.6) Keramahan, (4) Kekurangmampuan pelayanan yang harus diberkan karyawan memberikan (X1.11) Informasi Yang Akurat, (5) Karyawan selalu saja kurang mampu memberikan X1.11 (Informasi Yang Akurat), dan (6) Masih rendahnya Pemahaman karyawan yang bersifat personal secara tulus berupa (X1.13) Perhatian Kepada Konsumen.
Nilai koefisien ALPHA CRONBACH sebesar 0.973 merupakan kemungkinan (probability) akan dapat/bisa diterapkan berbagai KEBIJAKAN PERBAIKAN terhadap semua indikator (khususnya) yang mengalami kondisi DROP, akan dapat dirubah menjadi kondisi VALID, apabila terpenuhi syarat nilai koefisien Alpha Cronbach > 0.6 (artinya:
bahwa variabel Kualitas pelayanan (X1) adalah Reliable atau dapat dipercaya/diandalkan) dengan laju kenaikan rata-rata sebesar 1.36 % yang berubah hingga mencapai nilai sebesar 0.986. Artinya adalah sebesar 98.6 % kemungkinan (probability) dicapai keberhasilan penerapan KEBIJAKAN PERBAIKAN terhadap semua indikator kualitas pelayanan yang mengalami DROP tersebut mampu dirubah menjadi VALID yang didukung oleh kenaikan berdasarkan ”penyesuaian faktor penentu per butir indikator kualitas pelayanan” atau Nilai Butiran INDIKATOR rata-rata Kualitas Pelayanan (X1) bisa meningkat sebesar 2.41 Kali lipat.
Penggujian validitas tiap butir digunakan adalah analisis item, yaitu mengkorelasikan skor setiap butir dengan skor total, yang merupakan jumlah tiap skor butir yang berpengaruh (Ida Manulang, 2008: 43). Dalam hal ini teknik korelasi untuk menentukan item ini juga sampai sekarang merupakan teknik yang paling banyak digunakan. Kriteria pengambilan keputusan dikatakan valid adalah ditentukan dengan nilai r hitung > nilai r tabel, dimana untuk menentukan r hitung dapat dilihat dari nilai Corected Item Total Correlation, dengan hasil pengujian berdasarkan kriteria statistiknya.
Sebanyak 40 Indikator dan Dimensi dari semua variabel penelitian pada 3 (lampiran 20 s/d 22) terdapat sebanyak 100 % mengalami kondisi VALID (sah, syah, absah, sahih).
Terbukti dengan semua nilai hasil r hitung pada indikator variabel yang ditunjukkan dengan nilai Corrected Item Total Correlation tersebut diperoleh melebihi nilai r tabel yang diperoleh dari nilai analisis item, yaitu mengkorelasikan skor setiap butir dengan skor total, yang merupakan jumlah tiap skor butir yang berpengaruh dengan ketentuan df = n – k,
sehingga dengan demikian masing-masing indikator pada masing-masing variabel tersebut dapat dilakukan kepada langkah penghitungan selanjutnya.
4.3.2 Uji Reliabilitas
Uji realiabilitas adalah menguji apakah hasil kuisioner dapat dipercaya atau tidak.
Pengujian realiabilitas instrumen dapat dilakukan secara eksternal maupun internal. Secara eksternal dapat dilakukan dengan test retest (stability), equivalent, dan gabungan keduanya. Secara internal realiabilitas instrumen dapat diuji dengan menganalisis konsistensi butir-butir yang ada pada instrumen dengan teknik tertentu.
Menurut Sugiyono (2005: 153) dalam Ida Manulang (2008: 44), “pengujian realiabilitas dengan internal consistency dengan teknik belah dua (split half) yang dianalisis dengan rumus Spearmen Brown. Untuk keperluan itu, maka butir-butir dibelah menjadi dua kelompok ganjil dan kelompok genap. Selanjutnya skor data tiap kelompok disusun sendiri. Pengujian instrumen dapat dilakukan dengan teknik belah dua Spearmen Brown. Perhitungan realiabilitas pada penelitian ini menggunakan analisis yang
dikembangkan oleh Alpha Cronbach. Pada uji ini, realibel jika alpha hitung lebih besar atau sama dari 0.60, sedangkan untuk < 0.60 dinyatakan instrumen tidak realibel.
Uji reliabilitas dilakukan untuk mengetahui kehandalan dari suatu alat ukur (kuesioner) dalam mengukur suatu variabel. Pengujian reliabilitas akan dilakukan dengan menggunakan Cronbach Alpha. Ringkasan hasil pengujian reliabilitas selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 4.1. Pengujian reliabilitas untuk menguji keandalan dari suatu alat ukur untuk masing-masing variabel. menunjukkan bahwa semua variabel memiliki hasil
koefisien Cronbach’s Alpha yang lebih besar dari 0.60. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa semua konsep pengukur masing-masing variabel adalah reliabel.
Tabel 4.1
Sumber: Hasil Perhitungan menggunakan program Lotus 1-2-3 (Transition) dari Program Microsoft Office Excel 2003 (dari data Lampiran 13 s/d 20).
ALPHA CRONBACH = [Jml Indikator/(Jml Indikator-1)]*[(VAR TOTAL - SIGMA VAR BUTIR)/VAR TOTAL]
Nilai Butiran INDIKATOR rata-rata = [Sigma LajuR2]/[Sigma Laju FAKTOR KOREKSI]
Apabila ALPHA CRONBACH > 0.6 (Reliabel), ALPHA CRONBACH < 0.6 (Tidak Reliabel).
4.4 Uji Asumsi Klasik