• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Data

B. Pengujian Persyaratan Analisis

1. Uji Normalitas

Tujuan dari uji normalitas adalah untuk mengetahui sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal atau tidak. Jika didapatkan nilai Signifikansi < 0,05, maka H0 (data berdistribusi normal) ditolak. Nilai signifikansi yang

commit to user

digunakan mengacu pada rumus Kolmogorov-Smirnova. Berikut adalah rangkuman hasil uji normalitas yang ditunjukkan oleh Tabel 4.33.

Tabel 4.33. Hasil Pengujian Normalitas Data Nilai-Nilai Prestasi Kognitif

No Uji Normalitas Signifikansi terhadap Prestasi Kognitif Keputusan Ho Kesimpulan terhadap data 1 A 0,002 < 0,05 Ho ditolak Tidak Normal 2 B 0,000 < 0,05 Ho ditolak Tidak Normal 3 C 0,000 < 0,05 Ho ditolak Tidak Normal 4 D 0,005 < 0,05 Ho ditolak Tidak Normal 5 E 0,000 < 0,05 Ho ditolak Tidak Normal 6 F 0,000 < 0,05 Ho ditolak Tidak Normal

Hasil uji normalitas tiap kelompok untuk prestasi belajar ranah afektif dengan uji Komolgorov-Smirnov disajikan pada Tabel 4.34.

Tabel 4.34. Hasil Pengujian Normalitas Data Nilai-Nilai Prestasi Afektif

No Uji Normalitas Signifikansi terhadap Prestasi Afektif Keputusan Ho Kesimpulan terhadap data 1 A 0,200 > 0,05 Ho diterima Normal

2 B 0,002 < 0,05 Ho ditolak Tidak Normal 3 C 0,046 < 0,05 Ho ditolak Tidak Normal 4 D 0,075 > 0,05 Ho diterima Normal 5 E 0,002 < 0,05 Ho ditolak Tidak Normal 6 F 0,200 > 0,05 Ho diterima Normal

Keterangan:

A. : Siswa yang diberi media laboratorium real B. : Siswa yang diberi media laboratorium virtual C. : Siswa yang memiliki kemampuan matematik tinggi D. : Siswa yang memiliki kemampuan matematik rendah E. : Siswa yan g memiliki kemampuan berpikir abstrak tinggi F. : Sisa yang memiliki kemampuan berpikir abstrak rendah

Berdasarkan hasil uji normalitas untuk prestasi belajar ranah kognitif dan afektif menunjukan tidak semua data berdistribusi normal.

commit to user 2. Uji Homogenitas

Uji homogenitas digunakan untuk mengetahui variansi-variansi dari sejumlah populasi sama atau tidak. Jika diperoleh nilai signifikansi < 0,05, maka H0 (sampel dari populasi yang homogen) ditolak. Hasil analisis dapat dilihat pada tabel 4.35.

Tabel 4.35. Hasil Uji Homogenitas Prestasi Kognitif

No Variabel Terikat Signifikansi terhadap Prestasi Kognitif Keputusan Ho Kesimpulan

1 Media 0,063 > 0,05 Ho diterima Homogen

2 Kemampuan Matematik 0,625 > 0,05 Ho diterima Homogen

3 Kemampuan Berpikir

Abstrak 0,098 > 0,05 Ho diterima Homogen Hasil uji homogenitas tiap kelompok untuk prestasi belajar ranah afektif dengan uji Komolgorov-Smirnov disajikan pada Tabel 4.36.

Tabel 4.36. Hasil Uji Homogenitas Prestasi Afektif

No Variabel Terikat Signifikansi terhadap Prestasi Kognitif Keputusan Ho Kesimpulan

1 Media 0,111 > 0,05 Ho diterima Homogen

2 Kemampuan Matematik 0,621 > 0,05 Ho diterima Homogen

3 Kemampuan Berpikir

Abstrak 0,537 > 0,05 Ho diterima Homogen Dari Tabel 4.36 terlihat bahwa hasil uji homogenitas ditinjau dari media dan kemampuan berpikir kritis menunjukkan bahwa sampel berasal dari populasi yang memiliki variansi yang tidak homogen. Walaupun semua data diatas homogen, tetapi berdasarkan uji normalitas menunjukan tidak semua data berdistribusi normal, sehingga pengujian hipotesis menggunakan statistik non parametrik K- independent samples type Kruskall Wallis.

commit to user C. Pengujian Hipotesis

Dari uji prasyarat normalitas dan homogenitas menunjukkan bahwa sampel berasal dari populasi yang tidak berdistribusi normal walaupun memiliki variansi yang relatif homogen sehingga pada penelitian ini uji statistik yang digunakan adalah satistik uji non parametrik Kruskal Wallis. Hasil uji non parametrik Kruskal Wallis untuk prestasi belajar kognitif dan afektif disajikan dalam Tabel 4.37 dan Tabel 4.38.

Tabel 4.37. Rangkuman Hasil Uji Non Parametrik Prestasi Belajar Siswa Ranah Kognitif

Hipotesis Signifikansi Taraf

Signifikansi Keputusan Uji

1 0,014 0,05 H0 ditolak 2 0,032 0,05 H0 ditolak 3 0,566 0,05 H0 diterima 4 0,017 0,05 H0 ditolak 5 0,02 0,05 H0 ditolak 6 0,104 0,05 H0 diterima 7 0,048 0,05 H0 ditolak

Tabel 4.38. Ringkasan Hasil Uji Non Parametrik Prestasi Belajar Siswa Ranah Afektif

Hipotesis Signifikansi Taraf

Signifikansi Keputusan Uji

1 0,123 0,05 H0 diterima 2 0,576 0,05 H0 diterima 3 0,151 0,05 H0 diterima 4 0,494 0,05 H0 diterima 5 0,137 0,05 H0 diterima 6 0,493 0,05 H0 diterima 7 0,559 0,05 H0 diterima

Dari hasi analisis Uji Kruskall Wallis diatas jika signifikansi > Alpha = 0,05 maka Ho : diterima (tidak ada ada perbedaan), jika signifikansi < Alpha = 0,05 Ho ditolak (ada perbedaan), dan jika signifikansi > Alpha = 0,05 maka Ho :

commit to user

diterima (tidak ada interaksi), jika signifikansi < Alpha = 0,05 Ho : ditolak (ada interaksi).

Hasil tersebut digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan penolakan hipotesis penelitian sebagai berikut:

1. Hasil nilai signifikansi media = 0,014 < 0,05 terhadap nilai prestasi kognitif dan nilai signifikansi media = 0,123 > 0,05 terhadap nilai prestasi afektif. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan prestasi belajar kognitif siswa terhadap pembelajaran kimia metode PBL dengan menggunakan media laboratorium real dan virtual namun tidak terhadap prestasi afektif.

2. Hasil nilai signifikansi kemampuan matematik = 0,032 < 0,05 terhadap nilai prestasi kognitif dan nilai signifikansi kemampuan matematik = 0,576 > 0,05 terhadap nilai prestasi afektif. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan prestasi belajar kognitif terhadap siswa yang memiliki kemampuan matematik tinggi dan rendah namun tidak terhadap prestasi afektif.

3. Hasil nilai signifikansi kemampuan berpikir abstrak = 0,566 < 0,05 terhadap nilai prestasi kognitif dan nilai signifikansi kemampuan berpikir abstrak = 0,151 > 0,05 terhadap nilai prestasi afektif. Hal ini menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan prestasi belajar kognitif maupun afektif terhadap siswa yang memiliki kemampuan berpikir abstrak tinggi dan berpikir abstrak rendah.

4. Hasil nilai signifikansi media laboratorium real dan virtual – kemampuan matematik = 0,017 < 0,05 terhadap nilai prestasi kognitif dan nilai signifikansi media laboratorium real dan virtual – kemampuan matematik = 0,494 > 0,05 terhadap nilai prestasi afektif. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat interaksi

commit to user

antara media laboratorium real dan virtual dengan kemampuan matematik terhadap prestasi belajar kognitif namun tidak terhadap prestasi afektif siswa. 5. Hasil nilai signifikansi media laboratorium real dan virtual – kemampuan berpikir abstrak = 0,02 < 0,05 terhadap nilai prestasi kognitif dan nilai signifikansi media laboratorium real dan virtual – kemampuan berpikir abstrak = 0,137 > 0,05 terhadap nilai prestasi afektif. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara media laboratorium real dan virtual dengan kemampuan berpikir abstrak terhadap prestasi belajar kognitif namun tidak terhadap prestasi afektif siswa. 6. Hasil nilai signifikansi kemampuan matematik – berpikir abstrak = 0,104 > 0,05 terhadap nilai prestasi kognitif dan nilai signifikansi kemampuan matematik – berpikir abstrak = 0,493 > 0,05 terhadap nilai prestasi afektif. Hal ini menunjukkan bahwa tidak terdapat interaksi antara kemampuan matematik dan berpikir abstrak terhadap prestasi belajar kognitif maupun afektif siswa.

7. Hasil nilai signifikansi media – kemampuan matematik – berpikir abstrak = 0,048 > 0,05 terhadap nilai prestasi kognitif dan nilai signifikansi media – kemampuan matematik – berpikir abstrak = 0,559 > 0,05 terhadap nilai prestasi afektif. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara media, kemampuan memori dan analisis terhadap prestasi belajar kognitif namun tidak terhadap prestasi afektif siswa.

commit to user D. Pembahasan

Berikut ini merupakan pembahasan dari hasil penelitian yang telah dilakukan di lapangan dan uji statistik data dengan SPSS 18. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan pembelajaran menggunakan metode PBL dengan media laboratorium real dan virtual terhadap prestasi belajar, ada atau tidaknya perbedaan siswa yang memiliki kemampuan matematik tinggi dan rendah dan kemampuan berpikir abstrak tinggi dan rendah sebagai faktor internal siswa terhadap prestasi serta ada tidaknya interaksi diantara ketiga variabel tersebut terhadap prestasi belajar siswa. Pembahasan hasil penelitian adalah sebagai berikut:

1. Hipotesis Pertama

Hipotesis pertama mengenai perbedaaan prestasi belajar kognitif dan afektif terhadap pembelajaran Problem-based Learning yang menggunakan laboratorium real dan laboratorium virtual. Hasil uji statistik menunjukkan signifikansi bernilai 0,014 untuk prestasi kognitif dan prestasi belajar afektif menunjukkan signifikansi bernilai 0,123. Berdasarkan hasil keputusan uji maka Ho ditolak pada prestasi kognitif Ho diterima pada prestasi afektif. Hal ini berarti dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaaan prestasi belajar kognitif terhadap penggunaan laboratorium real dan laboratorium virtual namun untuk prestasi belajar afektif tidak memberikan perbedaaan.

Berdasarkan rata-rata prestasi kognitif siswa pada kelas yang menggunakan media laboratorium real adalah 70,8 dan kelas yang menggunakan laboratorium virtual adalah 73,9. Hal ini berarti bahwa rata-rata kelas dengan

commit to user

menggunakan media laboratorium virtual lebih baik dibandingkan rata-rata kelas yang menggunakan laboratorium real terhadap prestasi belajar kognitif. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Cengiz Tuysuz (2010) yang menyatakan bahwa pada saat pelaksanaan praktikum dengan menggunakan laboratorium

virtual yang berbasis laboratorium eksperimen dapat mendukung siswa dalam

melakukan eksperimen dengan mendapatkan hasil prestasi belajar yang lebih baik dibandingkan dengan metode pengajaran tradisional atau memberikan efek yang positif terhadap prestasi belajar serta secara efektif digunakan untuk mendukung proses pembelajaran.

Terdapatnya perbedaan yang signifikan hasil prestasi kognitif dari uji statistik hal ini dikarenakan ada beberapa faktor yang mempengaruhi hasil penelitian. Pembelajaran dengan menggunakan laboratorium virtual menggunakan media berbentuk simulasi praktikum dan animasi yang dijalankan sendiri oleh siswa sehingga siswa lebih aktif dan kreatif dalam memecahkan masalah yang dihadapi. Selain itu dengan media laboratorium virtual dapat dilakukan secara berulang-ulang tanpa menghabiskan waktu untuk mempersiapkan pengulangan sehingga siswa dapat mengulang praktikum hingga mereka merasa paham. Media yang efektif adalah media yang dapat mengakomodasi siswa mencapai tujuan pembelajaran, sesuai dengan materi, dan disukai oleh siswa. Pada saat proses pembelajaran siswa yang menggunakan media laboratorium virtual lebih antusias dan bersemangat dibandingkan siswa yang menggunakan laboratorium real, hal ini ditandai dengan lebih banyak pertanyaan yang muncul ketika diskusi setelah

commit to user

melakukan praktikum di laboratorium yang menandakan bahwa siswa berada dalam proses memahami materi yang disampaikan.

Media laboratorium virtual yang digunakan merupakan bentuk simulasi dari laboratorium real yang dapat menampilkan konsep secara visual dengan gerakan dan gambar, dan dapat menampilakan proses secara nyata sehingga siswa merasa melakukan praktikum yang sebenarnya. Media laboratorium virtual dapat menyesuaikan tingkat kecepatan belajar siswa sehingga dapat mengakomodasi siswa yang lamban belajar. Dengan laboratorium virtual dapat menghindarkan dari kegagalan percobaan dan kesalahan konsep.

Berbeda dengan siswa yang melakukan pembelajaran dengan menggunakan media laboratorium real rata-rata nilai prestasinya lebih rendah dibanding kelas dengan siswa yang menggunakan media laboratorium virtual dikarenakan siswa dalam melakukan praktikum masih banyak bermain-main sehingga ada bagian tahapan tetentu yang terlewatkan dan mereka tidak memahami materi pelajaran yang sedang dipelajari, dan pada saat pelaksanaan praktikum di laboratorium tidak semua siswa dapat berpartisipasi aktif untuk proses eksperimen di laboratorium nyata.

Pada prestasi afektif, siswa yang menggunakan media laboratorium real dan virtual tidak memberikan perbedaan terhadap prestasi belajar siswa. Kesimpulan ini diperkuat oleh data Tabel 4.20 yang menunjukkan bahwa rata-rata siswa yang menggunakan media laboratorium real relatif sama dengan siswa yang menggunakan media laboratorium virtual. Tidak terdapatnya perbedaan yang signifikan hasil prestasi afektif dari uji statistik hal ini dikarenakan pertama,

commit to user

hampir seluruh siswa menjalankan aturan kedisiplinan sekolah dan aturan-aturan mekanisme aturan-aturan belajar, yang pada dasarnya merupakan penilian afektif. Kedua, masih sulitnya menilai kejujuran dalam menjawab dari angket afektif yang diberikan kesiswa, sehingga penilaian afektif tidak memberikan perbedaaan prestasi belajar siswa.

2. Hipotesis Kedua

Pada hipotesis kedua mengenai perbedaan prestasi belajar kognitif dan afektif siswa yang memiliki kemampuan matematik tinggi dan rendah. Hasil statistik menunjukkan signifikansi bernilai 0,032 dan prestasi belajar afektif menunjukkan signifikansi bernilai 0,576. Berdasarkan hasil keputusan uji maka Ho ditolak pada prestasi kognitif dan Ho diterima afektif. Hal ini dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan prestasi belajar kognitif siswa yang memiliki kemampuan matematik tinggi dan rendah namun untuk prestasi belajar afektif tidak memberikan perbedaaan. Berdasarkan rata-rata prestasi kognitif siswa pada siswa yang memiliki kemampuan matematik tinggi adalah 73,7 dan siswa yang memiliki kemampuan matematik rendah adalah 71,2. Hal ini berarti kemampuan matematik tinggi mempunyai prestasi belajar kognitif yang lebih baik dibandingkan kemampuan matematik rendah. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Mawan Akhir Riwanto (2010) yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh kemampuan matematik tinggi dan kemampuan matematik rendah terhadap prestasi belajar siswa.

Kemampuan matematik merupakan kemampuan untuk menelaah pola, perubahan dan ruang secara aksioma dengan menggunakan logika simbolik dan

commit to user

notasi matematik. Kemampuan matematika meliputi kemampuan untuk mengoperasikan bilangan dan angka, memahami proses matematika yang bukan angka dan melakukan perhitungan menggunakan logika simbolik dan notasi matematik. Yulia Kovas (2007) menyatakan bahwa kemampuan matematik memainkan peran penting dalam proses pembelajaran, penelitian harus fokus pada penemuan metode pembelajaran yang paling efektif untuk pengembangannya. Kemampuan matematik merupakan salah satu faktor internal yang mendukung keberhasilan prestasi kognitif siswa dalam malakukan ketepatan penghitungan. Dalam penelitian ini, kemampuan matematik mampu memberikan perbedaaan prestasi belajar kognitif, hasil penelitian yang sama juga diperoleh John W Adam (2007) yang menyatakan bahwa kemampuan matematik merupakan salah satu faktor internal yang mendukung keberhasilan kognitif siswa dalam malakukan ketepatan penghitungan matematika dan salah satu faktor yang mempengaruhi kesuksesan belajar siswa. Dari penjelasan di atas dapat dikatakan bahwa kemampuan matematik bersifat individual, artinya tiap individu memiliki kemampuan matematik yang berbeda-beda.

Materi laju reaksi merupakan materi yang bersifat hitungan. Pada saat proses pembelajaran, siswa yang mempunyai kemampuan matematik tinggi melakukan perhitungan matematik dengan lebih cepat dan tepat, karena dengan kemampuan matematik yang tinggi memungkinkan dapat membantu siswa dalam menyelesaikan soal hitungan yang ada dalam materi laju reaksi, sehingga siswa mendapat prestasi kognitif yang lebih baik jika dibandingkan dengan prestasi siswa yang memiliki kemampuan matematik rendah.

commit to user

Pada prestasi afektif, kemampuan matematik siswa baik tinggi maupun rendah tidak memberikan perbedaaan terhadap prestasi belajar afektif. Siswa dengan kemampuan matematik tinggi menjadi senang saat mempelajari materi laju reaksi yang bersifat hitungan karena mereka merasa telah mempunyai kemampuan dasar yang cukup yaitu keterampilan dalam mengoperasikan angka-angka dan notasi matematik, sehingga akan lebih mudah membentuk pemahaman. Sementara itu pada siswa dengan kemampuan matematik rendah akan berusaha dengan keras dalam belajar untuk mengejar keterbatasan mereka dalam hal penguasaan materi laju reaksi. Semua siswa yang memiliki kemampuan matematik baik tinggi atau rendah sama-sama menjalankan kaidah aturan di sekolah dengan baik. Selain itu masih sulitnya menilai kejujuran dalam menjawab dari angket afektif yang diberikan kepada siswa sehingga tidak memberikan perbedaan prestasi belajar afektif siswa.

3. Hipotesis Ketiga

Pada hipotesis ketiga mengenai perbedaan prestasi belajar kognitif dan afektif siswa yang memiliki kemampuan berfikir abstrak tinggi dan rendah. Hasil uji statistik menunjukkan signifikansi bernilai 0,566 dan prestasi belajar afektif menunjukkan signifikansi bernilai 0,151. Berdasarkan hasil keputusan uji maka Ho diterima pada prestasi kognitif dan prestasi afektif. Hal ini dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan prestasi belajar kognitif dan afektif siswa yang memiliki kemampuan berpikir abstrak tinggi dan rendah. Berdasarkan deskripsi data pada Tabel 4.13, rata-rata prestasi kognitif siswa yang mempunyai

commit to user

kemampuan berpikir abstrak tinggi relatif sama dengan rata-rata prestasi kognitif siswa yang mempunyai kemampuan berpikir abstrak rendah. Hal tersebut berarti siswa yang mempunyai kemampuan berpikir abstrak tidak memberikan perbedaan yang signifikan terhadap prestasi kognitif. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Endang Sri Sudarwati (2010) yang menyatakan bahwa tidak terdapat pengaruh penalaran berpikir abstrak tinggi dan rendah terhadap prestasi belajar siswa. Hasil penelitian yang sama juga diperoleh Nicolaos Valanides (1997) yang menyatakan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kemampuan berpikir abstrak tinggi dan rendah dalam meningkatkan kemampuan penalaran siswa di sekolah.

Pembelajaran materi laju reaksi melibatkan proses, eksperimen, pengamatan, mengolah data berupa angka dan grafik, diskusi, dan menarik kesimpulan. Kemampuan berpikir abstrak tinggi maupun rendah yang dimiliki siswa sama-sama memberikan peran dalam proses pembelajarannya, misalnya melakukan proses dalam mengukur ketepatan waktu, ketepatan penggunaan termometer, ketepatan pengamatan hasil reaksi dan keterampilan menggunakan alat ukur dan lainnya, yang kemudian diproses untuk memperoleh pengetahuan baru. Karena dalama proses belajar tersebut, siswa akan dihadapkan pada pengamatan dan analisis hasil secara langsung maupun tidak langsung. Hal ini menunjukan bahwa kemampuan berpikir abstrak memiliki peran yang penting dalam menentukan dan mengelola hasil data-data yang bersifat abstrak berupa angka dan grafik, dalam melakukan proses diskusi, dan menarik kesimpulan. Jadi dalam pembelajaran materi laju reaksi peranan kemampuan berpikir abstrak tinggi

commit to user

maupun rendah siswa seimbang, sehingga kemampuan berpikir abstrak tidak memberikan perbedaaan terhadap prestasi belajar siswa.

Pada prestasi afektif, kemampuan berpikir abstrak siswa baik tinggi maupun rendah memberikan perbedaan terhadap hasil prestasi afektif. Siswa dengan kemampuan berpikir abstrak tinggi menjadi senang saat mempelajari materi laju reaksi yang bersifat abstrak karena merasa telah mempunyai keterampilan yang cukup dalam mengidentifikasi dan memecahkan konsep-konsep laju reaksi yang bersifat abstrak, sehingga akan lebih mudah membangun pengetahuan. Sedangkan siswa dengan kemampuan matematik rendah akan berusaha dengan keras dalam belajar untuk mengejar keterbatasan mereka dalam hal penguasaan materi laju reaksi. Semua siswa yang memiliki kemampuan berpikir abstrak baik tinggi atau rendah mereka sama-sama menjalankan kaidah aturan di sekolah dengan baik. Selain itu, pada penelitian ini kemampuan berpikir abstrak siswa hanya dikategorikan ke dalam dua kelompok saja, yaitu tinggi dan rendah, peneliti tidak melibatkan kategori sedang, sehingga akan berpengaruh terhadap hasil penelitian. Begitu juga masih sulitnya menilai kejujuran dalam menjawab dari angket afektif yang diberikan kepada siswa sehingga tidak memberikan perbedaan prestasi belajar afektif siswa.

4. Hipotesis Keempat

Pengujian hipotesis keempat mengenai interaksi metode Problem Based

Learning (PBL) dengan menggunakan laboratorium real, laboratorium virtual dan

commit to user

Kruskall Wallis menunjukkan signifikansi bernilai 0,017 (<0,05: Ho ditolak)

sedangkan afektif 0,494 (>0,05: Ho diterima). Berdasarkan uji Kruskall Wallis tersebut, sehingga dapat disimpulkan Ho ditolak yang artinya bahwa terdapat interaksi metode Problem-Based Learning (PBL) dengan menggunakan laboratorium real, laboratorium virtual dan kemampuan matematik terhadap prestasi belajar kognitif siswa dan tidak terdapat interaksi metode Problem-Based

Learning (PBL) dengan menggunakan laboratorium real, laboratorium virtual dan

kemampuan matematik terhadap prestasi belajar afektif.

Berdasarkan hasil nilai rata-rata untuk media laboratorium real yang mempunyai kemampuan matematik tinggi adalah 69,8 dan nilai rata-rata prestasi siswa yang mempunyai kemampuan matematik rendah adalah 71,2. Sedangkan untuk siswa yang menggunakan media laboratorium virtual, nilai rata-rata siswa yang mempunyai kemampuan matematik tinggi adalah 75,6 dan rata-rata prestasi kognitif siswa yang memiliki kemampuan matematik rendah adalah 71,1.

Hasil penelitian Tuysuz (2010) menunjukkan bahwa aplikasi laboratorium

virtual membuat efek positif pada prestasi siswa dan sikap bila dibandingkan

dengan metode pengajaran tradisional. Pembelajaran kimia dengan strategi

Problem-Based Learning melatih siswa untuk memecahkan masalah dengan

berdiskusi kelompok, berinteraksi dengan bahan ajar, dalam rangka menemukan konsep. Johnson cit. Erman Suherman (1993) menyatakan bahwa kemampuan matematika adalah kemampuan untuk menelaah dan memahami pola pikir, pola mengorganisasikan, membuktikan dan memecahkan masalah secara logis yang didefinisikan dengan cermat, jelas, dan akurat. Dalam pembelajaran

commit to user

kaitannya dengan kemampuan berpikir matematika siswa. Adanya interaksi yang signifikan antara penggunaan media pembelajaran dengan kemampuan matematik terhadap prestasi belajar aspek kognitif berarti ada cara belajar yang tepat dalam mempelajari materi laju reaksi antara siswa yang memiliki kemampuan matematik tinggi dan rendah.

Dari hasil pengamatan di lapangan siswa yang memiliki kemampuan matematik rendah selama proses pembelajaran lebih banyak memerlukan pengalaman yang secara nyata untuk dapat berpikir logis, menentukan tindakan dan menarik kesimpulan dalam proses pembelajaran. Sedangkan siswa yang memiliki kemampuan matematik tinggi cenderung dapat memperoleh pengetahuannya dengan menemukan konsep-konsep materi laju reaksi melalui pengamatan secara tidak langsung. Hal ini dikarenakan kemampuan matematik berkaitan dengan kemampuan untuk memahami struktur, pola dan perubahan yang menggunakan notasi matematik mengenai bilangan dan angka. Sehingga siswa yang memiliki kemampuan matematik rendah pada pembelajaran

Problem-based Learning dengan media laboratorium real memiliki prestasi belajar ranah

kognitif yang lebih tinggi dibandingkan siswa yang mendapatkan pembelajaran

Problem-Based Learning dengan media laboratorium virtual.

Pada penelitian ini, tidak terdapat interaksi antara pengunaan media dan kemampuan matematik terhadap prestasi belajar afektif. Berdasarkan kenyataan dilapangan diketahui bahwa siswa yang menggunakan laboratorium real dengan kemampuan matematik tinggi maupun rendah tetap dapat melakukan pengamatan dengan bantuan alat-alat yang ada pada laboratorium real. Demikian juga pada siswa yang menggunakan media laboratorium virtual, siswa yang memiliki

commit to user

kemampuan matematik tinggi maupun yang rendah tetap dapat mengoperasikan komputer untuk mendapatkan konsep laju reaksi.

Tidak adanya interaksi antara pengunaan media dan kemampuan matematik terhadap prestasi belajar afektif disebabkan karena ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi proses pencapaian prestasi belajar baik dari dalam maupun dari luar diri siswa. Misalnya faktor metode pembelajaran, media

Dokumen terkait