BAB II LANDASAN TEORI
2.8 Teori Tentang Bukti Fisik Jasa Pendidikan
2.8.2 Unsur-Unsur Bukti Fisik Jasa Pendidikan
Jasa pendidikan bersifat tidak berwujud (intangible). Akan tetapi, jasa pendidikan memberikan sesuatu yang berwujud sehingga memungkinkan warga perguruan tinggi untuk merasakan kualitas jasa pendidikan. Wijaya (2012) mengemukakan struktur bukti fisik jasa yang juga dapat diterapkan ke dalam dunia pendidikan. Pada struktur tersebut, ada tiga unsur yang mendasari bukti fisik jasa pendidikan, yaitu lingkungan, petunjuk fisik, dan barang fisik pendidikan. Setelah mengetahui ketiga unsur bukti fisik jasa pendidikan, pemasar jasa pendidikan perlu mengetahui umpan balik dan pengendalian bukti fisik jasa pendidikan agar perguruan tinggi dapat memiliki bukti fisik sesuai dengan yang diharapkan.
Menurut Wijaya (2012), ada empat unsur penting dari bukti fisik jasa (termasuk jasa pendidikan), yaitu sebagai berikut.
1. Lingkungan (environment). Pemasar jasa pendidikan dapat mengamati jumlah siswa yang datang ke perguruan tinggi setiap harinya, seberapa lama mengikuti pendidikan, dan apakah jasa pendidikan yang dibeli dipengaruhi oleh suasana dan tata letak fisik perguruan tinggi.
pencahayaan, pemanasan, suara, warna, dan bau berkontribusi terhadap lingkungan perguruan tinggi. Lingkungan perguruan tinggi tersebut dapat berbentuk bangunan perguruan tinggi skala besar
27
sampai dengan tampilan fisik peralatan dan perlengkapan yang ada di perguruan tinggi.
2. Petunjuk Fisik (tangible clues). Jasa pendidikan biasanya memiliki produk jasa pendidikan kecilterkait dengan perguruan tinggi, misalnya kartu perpustakaan. Oleh karena itu, perancangan dan kualitas dari seluruh produk jasa pendidikan akan membuat pernyataan komunikasi pemasaran jasa pendidikan menjadi efektif.
3. Barang-barang fisik. Barang fisik terkait dengan proses perubahan
“jasa” ke bentuk “produk”. Petunjuk fisik adalah bagian penting dari jasa pendidikan. Akan tetapi, barang fisik merupakan produk jasa pendidikan terkait dengan jasa pendidikan, yang dapat atau tidak dapat disediakan penyedia jasa pendidikan (perguruan tinggi).
4. Umpan balik dan pengendalian (feedback and control). Pemeriksaan bukti fisik jasa pendidikan dapat dilakukan mengacu pada standar-standar fasilitas jasa pendidikan. Rencana pemeriksaan dapat dibuat untuk memperbaiki bukti fisik jasa pendidikan sesuai jadwal yang telah disepakati.
Karena jasa pendidikan bersifat tidak berwujud, pelanggan jasa pendidikan sering kali mengandalkan isyarat nyata atau bukti fisik jasa pendidikan untuk mengevaluasijasa pendidikan sebelum membeli jasa pendidikan dan menilai kepuasan pelanggan jasa pendidikan dalam proses jasa pendidikan serta setelah jasa pendidikan dikonsumsi. Unsur-unsur bukti fisik (bukti fisik jasa pendidikan), menurut Wijaya (2012), meliputi unsur-unsur berikut ini.
28
1. Bukti fisik (physical evidence). Unsur-unsur bukti fisik jasa pendidikan mengomunikasikan jasa pendidikan kepada pelanggan jasa pendidikan dan/atau mempermudah proses penilaian kinerja jasa pendidikan. Desain bukti fisik jasa pendidikan dapat mempengaruhi pilihan, harapan, dan perilaku lain dari pelanggan jasa pendidikan.
Unsur-unsur bukti fisik jasa pendidikan yang mempengaruhi para pelanggan jasa pendidikan meliputi.
a. Fasllitas bagian Iuar (facility exterior), mencakup desain bagian luar, papan nama perguruan tinggi, tempat parkir, lanskap perguruan tinggi, dan lingkungan sekitar gedung perkuliahan.
b. Fasilitas bagian dalam (facility interior), mencakup desain bagian dalam gedung, peralatan untuk belajar mengajar, tata letak gedung, kualitas udara ruang perkuliahan, dan suhu udara gedung.
2. Bentuk berwujud lainnya (othertangibles). Bentuk berwujud lainnya darijasa pendidikan merupakan bentuk komunikasi berwujud lainnya darijasa pendidikan kepada pelanggan jasa pendidikan. Bentuk berwujud lainnya dari jasa pendidikan mencakup kartu nama perguruan tinggi, alat tulis, laporan pembayaran, laporan perguruan tinggi, pakaian karyawan, seragam kampus, brosur, dan situs web perguruan tinggi.
Lovelock (2012) mengemukakan bahwa bukti fisik merupakan salah satu unsur manajemen jasa terpadu yang mengacu pada unsur-unsur berwujud yang dihadapi pelanggan dalam lingkungan penyampaianjasa dan kiasan berwujud yang digunakan dalam bentuk simbol, slogan, atau pesan iklan.
29 2.9 Teori Tentang Proses Jasa Pendidikan 2.9.1 Definisi Proses Jasa Pendidikan
Dimensi terakhir bauran pemasaran jasa pendidikan adalah proses yang menunjukkan di mana jasa pendidikan diperoleh dan cara mengelola proses jasa pendidikan. Manajemen proses jasa pendidikan yang efektif terbukti menjadi faktor pembeda perguruan tinggi yang kuat karena proses jasa pendidikan terkait dengan cara pelanggan jasa pendidikan diperlakukan perguruan tinggi. Proses jasa pendidikan itu penting karena persediaan jasa pendidikan tidak dapat disimpan.
Menurut Wijaya (2012), proses merupakan “seluruh prosedur nyata, mekanisme, dan aliran aktivitas yang digunakan untuk menyampaikan jasa dari produsen kepada konsumen”. Atau, proses adalah upaya organisasi untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumennya.
Proses merupakan “prosedur, mekanisme, dan rangkaian aktivitas untuk menyampaikan jasa dari produsen kepada konsumen, di mana proses terkait dengan sumber daya manusia yang akan menyampaikan jasa kepada konsumen”.
Jika diterapkan ke dunia pendidikan, proses atau manajemen jasa pendidikan merupakan “serangkaian aktivitas yang dialami mahasiswa selama proses pendidikan, seperti proses belajar-mengajar, bimbingan dan penyuluhan, ujian, keluiusan, dan sebagainya” (Alma, 2007).
Proses jasa pendidikan sangat penting untuk menunjang keberhasilan pemasaran jasa pendidikan dan memberikan kepuasan pelanggan jasa pendidikan.
Jadi, kita harus memperhatikan mekanisme proses penyaluran jasa pendidikan dari produsen kepada konsumen. Menurut Alma (2007), proses penyampaian jasa pendidikan dapat dilihat dari dua aspek utama berikut ini.
30
1. Dimensi kualitas jasa administrasi, yaitu reliabilitas, ketanggapan, jaminan, dan empati.
2. Dimensi kualitas jasa pembelajaran, yaitu mekanisme dan kualitas pembelajaran.
Dengan demikian, proses jasa pendidikan merupakan inti dari dunia pendidikan karena kualitas pada seluruh unsur yang menunjang proses jasa pendidikan menjadi hal terpenting untuk menentukan keberhasilan proses pembelajaran, sekaligus sebagai bahan evaluasi terhadap pengelolaan perguruan tinggi, citra perguruan tinggi yang akan terbentuk, serta kepuasan pelanggan jasa pendidikan.
2.9.2 Unsur-unsur Proses Jasa Pendidikan
Proses jasa pendidikan merupakan serangkaian tindakan yang diambil perguruan tinggi untuk mengubah jasa pendidikan menjadi jasa pendidikan dengan nilai lebih besar. Apabila proses jasa pendidikan tidak menciptakan nilai jasa pendidikan yang lebih besar, perguruan tinggi menjadi tidak efisien atau efektif.
Wijaya (2012) mengemukakan lima unsur proses jasa, antara lain :
1. Sifat (nature). Sifat proses jasa pendidikan bergantung pada dua hal penting, yaitu sebagai berikut.
a. Fleksibilitas (flexibility). Fleksibilitas adalah kekuatan dan kelemahan SDM jasa pendidikan dalam proses penyampaian jasa pendidikan. Tujuan pemasar jasa pendidikan adalah menghasilkan jasa pendidikan secara massal (terus menurunkan biaya transaksi jasa pendidikan) dari penawaran
31
jasa pendidikan yang disesuaikan dengan setiap pelanggan jasa pendidikan.
b. Hubungan pribadi (personal contact). Terkadang, pelanggan jasa pendidikan tidak peduli dengan hubungan pribadi sedangkan di lain waktu, hubungan pribadi sangat penting.
Oleh karena itu, pemasar jasa pendidikan harus peka terhadap taraf hubungan pribadi yang dibutuhkan pelanggan jasa pendidikan.
2. Prosedur dan kebijakan (procedure and policy). Aspek prosedur dan kebijakan perguruan tinggi tidak boleh dilihat secara terpisah dengan unsur-unsur SDM jasa pendidikan.
3. Hukum (law). Keputusan utama perguruan tinggi tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan terhadap fleksibilitas proses jasa pendidikan serta prosedur dan kebilakan perguruan tinggi, tetapi juga berkaitan dengan dampak hukum pada cara jasa pendidikan disampaikan.
4. Keterlibatan (involvement). Dalam proses jasa pendidikan, ada tiga pihak yang terlibat, yaitu sebagai berikut:
a. Pelanggan (customer). Pelanggan jasa pendidikan adalah aspek penting dari unsur-unsur SDM jasa pendidikan.
b. Saluran distribusi jasa (service channel distribution).
Perguruan tinggi yang tidak menyampaikan jasa pendidikan secara langsung bergantung pada perantara pemasaran jasa pendidikan dalam prosesjasa pendidikan.
32
c. Pemangku kepentingan (stakeholder). Peran pemangku kepentingan di perguruan tinggi penting untuk menetapkan kualitas jasa pendidikan.
5. Umpan balik dan pengendalian (feedback and control). Hukum dapat mengatur aspek-aspek penting proses jasa pendidikan. Akan tetapi, banyak aspek dari proses jasa pendidikan membutuhkan kerja sama dan koordinasi antara pelangganjasa pendidikan, anggota saluran distribusi jasa pendidikan, dan pemangku kepentingan di perguruan tinggi.
2.10 Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu digunakan sebagai acuan peneliti untuk menentukan beberapa hal yang berhubungan dengan teori dan sistematika penelitian ini.
Simanullang (2008) melakukan penelitian dengan judul “Analisis Pengaruh Strategi Bauran Pemasaran Terhadap Keputusan Mahasiswa Memilih Kuliah di Program D-III Keperawatan Universitas Darma Agung Medan”.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi bauran pemasaran secara serempak dan parsial berpengaruh terhadap keputusan mahasiswa memilih kuliah di Program D-III Keperawatan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Darma Agung Medan. Harga merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap keputusan mahasiswa memilih kuliah.
Susanto (2012) melakukan penelitian dengan judul “Analisis Pengaruh Citra Merek dan Bauran Promosi Terhadap Keputusan Konsumen Menggunakan Jasa Lembaga Pendidikan Bahasa Inggris”. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh semakin banyaknya bisnis jasa lembaga pendidikan bahasa inggris di
kota-33
kota besar yang ada di Indonesia. Salah satunya adalah ILP Semarang. Oleh karena itu penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana pengaruh variabel citra merek yang meliputi citra perusahaan, citra konsumen, dan citra produk serta variabel lainnya yaitu bauran promosi terhadap keputusan pembelian. Data dikumpulkan melalui metode kuesioner terhadap 100 responden peserta didik ILP di Semarang yang diperoleh dengan menggunakan teknik non probability sampling.
Pengujian hipotesis menggunakan uji t menunjukkan bahwa keempat variabel independen yang diteliti yaitu variabel citra perusahaan, citra konsumen, citra produk dan bauran promosi terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap variabel dependen keputusan pembelian.
Santoso dan Kusnilawati (2011), melakukan penelitian dengan judul
“Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keputusan Mahasiswa Dalam Memilih Pendidikan Diploma III (Studi Kasus Mahasiswa Regular Pagi Progdi D3 Manajemen Perusahaan FE USM) ”. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah variabel persepsi fasilitas, kualitas pelayanan, promosi, keputusan mahasiswa. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi linier berganda. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah fasilitas mempunyai pengaruh terhadap keputusan mahasiswa, kualitas pelayanan mempunyai pengaruh terhadap keputusan mahasiswa, promosi mempunyai pengaruh terhadap keputusan mahasiswa.
Penelitian terdahulu diatas diringkas dalam suatu tabel agar mudah dilihat dan diobservasi.
34
Tabel 1.2. Penelitian Terdahulu No Judul Diteliti Oleh Variabel
Penelitian
BAB III
KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS
3.1 Kerangka Konseptual
Kerangka konseptual merupakan kerangka berpikir secara sistematik.
Kerangka berpikir ini akan sangat membantu dalam menyusun alur pikir yang mengarah kepada penarikan kesimpulan. Berdasarkan penjelasan yang telah dipaparkan pada latar belakang dan rumusan masalah pada bab sebelumnya.
Strategi pemasaran berperan penting dalam meningkatkan jumlah mahasiswa si Politeknik Unggul LP3M. Strategi pemasaran merupakan bentuk aplikasi dari bauran pemasaran, dalam hal ini bauran pemasaran jasa, yang digambarkan dengan 7 (tuluh) elemen pada Gambar 3.1.
Gambar 3.1. Kerangka Konseptual
Pada penelitian ini kerangka konseptual dibuat berdasarkan pola hubungan ganda Keputusan Memilih Politeknik Unggul LP3M
Medan(Y) Produk (X1)
Harga (X2) Distribusi (X3)
Promosi (X4) Partisipan (X5) Bukti Fisik (X6)
Proses (X7)
penelitian ini terdiri dari 7 (tujuh) variabel independen yakni Produk (X1), Harga (X2), Distribusi (X3), Promosi (X4), Partisipan (X5), Bukti Fisik (X6), Proses (X7) serta variabel dependen pada penelitian ini adalah Keputusan Memilih (Y).
Masing-masing variabel independen pada penelitian ini akan diketahui seberapa besar pengaruhnya terhadap keputusan memilih Politeknik Unggul LP3M Medan melalui analisis regresi linier berganda. Melalui penelitian ini akan diketahui pengaruh dari tiap variabel independen terhadap variabel dependen.
3.2 Hipotesis
Hipotesis dapat didefinisikan sebagai suatu pernyataan tentang hubungan logis antara dua variabel atau lebih yang dinyatakan dalam bentuk kuantitatif sehingga dapat diuji kebenarannya (Sekaran, 2010). Pada penelitian ini hipotesis yang akan diuji terdiri dari hipotesis simultan dan hipotesis parsial. Hipotesis simultan pada penelitian ini adalah:
Ho : Bauran pemasaran jasa secara simultan tidak berpengaruh signifikan terhadap keputusan memilih Politeknik Unggul LP3M Medan.
Ha : Bauran pemasaran jasa secara simultan berpengaruh signifikan terhadap keputusan memilih Politeknik Unggul LP3M Medan.
Hipotesis parsial terdiri dari 7 (tujuh) hipotesis yakni : 1. Produk
Ho : Produk secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap keputusan memilih Politeknik Unggul LP3M Medan.
Ha : Produk secara parsial berpengaruh signifikan terhadap keputusan memilih Politeknik Unggul LP3M Medan.
2. Harga
Ho : Harga secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap keputusan memilih Politeknik Unggul LP3M Medan.
Ha : Harga secara parsial berpengaruh signifikan terhadap keputusan memilih Politeknik Unggul LP3M Medan.
3. Tempat
Ho : Tempat secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap keputusan memilih Politeknik Unggul LP3M Medan.
Ha : Tempat secara parsial berpengaruh signifikan terhadap keputusan memilih Politeknik Unggul LP3M Medan.
4. Promosi
Ho : Promosi secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap keputusan memilih Politeknik Unggul LP3M Medan.
Ha : Promosi secara parsial berpengaruh signifikan terhadap keputusan memilih Politeknik Unggul LP3M Medan.
5. Partisipan
Ho : Partisipan secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap keputusan memilih Politeknik Unggul LP3M Medan.
Ha : Partisipan secara parsial berpengaruh signifikan terhadap Keputusan memilih Politeknik Unggul LP3M Medan.
6. Bukti Fisik
Ho : Bukti Fisik secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap keputusan memilih Politeknik Unggul LP3M Medan.
Ha : Bukti Fisik secara parsial berpengaruh signifikan terhadap keputusan memilih Politeknik Unggul LP3M Medan.
7. Proses
Ho : Proses secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap keputusan memilih Politeknik Unggul LP3M Medan.
Ha : Proses secara parsial berpengaruh signifikan terhadap keputusan memilih Politeknik Unggul LP3M Medan.
BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian korelasional. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan mendeteksi sejauh mana variasi-variasi pada suatu faktor berkaitan atau berkorelasi dengan satu atau lebih faktor lain berdasarkan koefisien korelasi (Sinulingga, 2011).
4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Politeknik Unggul LP3M Medan Jl. Iskandar Muda No. 3 CDEF Medan. Waktu penelitian selama 4 (empat) bulan, dimulai dari bulan Mei 2014 hingga Agustus 2015.
4.3 Definisi Operasional Variabel
Operasionalisasi variabel merupakan suatu tindakan dalam membuat batasan-batasan yang akan digunakan dalam analisis. Pada Tabel 4.2 diuraikan definisi dan indikator dari kedua variabel tersebut.
Tabel 4.2 Definisi Operasional Variabel
Variabel Definisi Operasional Indikator Skala
Pengukuran Produk
(X1)
Jasa atau atribut perguruan tinggi apa pun yang menyediakan manfaat bagi pelanggan jasa pendidikan, baik sumberdaya dalam bentuk barang, pengorbanan, dan uang, yang dikeluarkan untuk seluruh
1) Biaya kuliah lebih murah 2) Sistem pembayaran kredit
Tabel 4.2 Definisi Operasional Variabel (lanjutan)
Variabel Definisi Operasional Indikator Skala
Pengukuran sehingga dapat memengaruhi aksesibilitas dan ketersediaan jasa pendidikan
1) Dilalui angkutan umum 2) Dekat restoran atau warung
makan
3) Dekat dengan tempat kos 4) Lokasi kampus mudah digunakan perguruan tinggi untuk menjangkau khalayak perguruan tinggi, membangun lingkungan internal perguruan tinggi yang peduli, serta menciptakan kesadaran dari upaya perguruan tinggi untuk memenuhi keinginan dan harapan masyarakat
1) Informasi lengkap melalui Website
2) Brosur informasi yang selalu tersedia
3) Promosi melalui koran 4) Promosi melalui media sosial
Skala penyampaian jasa sehingga memengaruhi persepsi pengguna jasa pendidikan
1) Dosen minimal S-2
2) Dosen mengajar berdasarkan SAP
3) Pegawai administrasi yang cekatan berinteraksi, meliputi unsur berwujud yang mendukung kinerja atau komunikasi jasa pendidikan
1) Ruang kelas memiliki AC 2) Wi-Fi selalu aktif
3) Parkir yang luas
4) LCD Proyektor selalu tersedia 5) Spidol dan penghapus selalu
Seluruh prosedur nyata, mekanisme, dan aliran aktivitas yang digunakan untuk menyampaikan jasa dari produsen kepada mahasiswa
4) Rencana kuliah tepat waktu
Skala Likert
Keputusan Memilih
(Y)
Suatu kegiatan calon mahasiswa yang secara langsung terlibat dalam menentukan perguruan tinggi yang akan dipilih
1) Memilih karena Akreditasi 2) Memilih karena waktu kuliah
singkat
3) Memilih karena uang kuliah 4) Memilih karena lokasi
5) Memilih karena promosi yang menarik
6) Memilih karena kualitas dosen yang bagus
7) Memilih karena fasilitas lengkap
Skala Likert
4.4 Populasi dan Sampel
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari obyek atau subyek yang menjadi kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti.
(Sugiyono, 2012). Populasi pada penelitian ini adalah mahasiswa yang terdaftar aktif pada Tahun Akademik 2014/2015 di Politeknik Unggul LP3M.
Pada penelitian ini besar sampel didasarkan pendapat Roscoe, jika penelitian terkait dengan analisis multivariate (analisis korelasi atau regresi berganda) maka ukuran sampel sebaiknya beberapa kali, biasanya minimal 10 kali dari jumlah variabel yang diteliti (Sinulingga, 2011). Berdasarkan kerangka konseptual pada Gambar 3.1 ada sebanyak delapan variabel, sehingga jumlah subjek penelitian minimal 80 responden.
Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah simple random sampling yang merupakan bagian dari tipe sampling probabilitas, di mana
peneliti dalam memilih sampel memberikan kesempatan yang sama kepada semua anggota mahasiswa secara acak untuk ditetapkan sebagai anggota sampel.
4.5 Teknik Pengumpulan Data
a. Wawancara (Interview), kepada pihak yang berhak dan berwenang memberi data dan informasi tentang pelaksanaan bauran pemasaran jasa di Politeknik Unggul LP3M Medan.
b. Kuesioner dalam bentuk skala Likert yang diberikan kepada mahasiswa Politeknik Unggul LP3M Medan.
c. Studi Dokumentasi, dengan mengumpulkan dan mempelajari data serta informasi dari Politeknik Unggul LP3M.
4.6 Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner yang merupakan sekumpulan item yang digunakan untuk menanyakan hal yang ingin diukur atau diketahui.
1. Penyusunan Instrumen
Didalam mengembangkan dan menyusun kembali pertanyaan diperhatikan teknik pembuatan kuesioner sebagai berikut (Ghozali, 2011) :
a. Memenuhi tujuan kuesioner yaitu memperoleh informasi persepsi pelanggan yang relevan dengan tujuan survey dengan tingkat kesahihan dan kehandalan yang tinggi.
b. Menggunakan jenis pertanyaan tertentu dan dipilih jenis pertanyaan kombinasi dengan skala Likert 1 sampai 5.
c. Memenuhi kriteria kesederhanaan kata-kata, jelas, berlaku bagi semua responden, berkaitan dengan masalah penelitian, tidak ambigu, tidak menggiring, tidak memuat informasi yang tidak dimiliki responden, tidak memuat hal-hal yang bersifat pribadi dan peka serta tidak bersifat klise.
2. Pengujian Instrumen
Keberhasilan alat ukur menjalankan fungsinya sebagai alat ukur apabila alat ukur tersebut dapat menunjukkan hasil ukur dengan cermat dan akurat.
a. Uji Validitas
Uji ini ditujukan sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurannya. Suatu tes dapat dikatakan
mempunyai validitas yang tinggi bila alat tersebut memberikan hasil ukur yang sesuai dengan pengukuran. Dengan jumlah sampel sebanyak 30 responden yang tidak termasuk responden yang menjadi bagian dari responden analisis data. Apabila nilai r hitung lebih besar atau sama dengan r tabel maka dapat dinyatakan item tersebut valid, sehingga seluruh pertanyaan dalam kuesioner dinyatakan valid.
Selanjutnya kuesioner tersebut akan digunakan dalam penelitian.
b. Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas adalah indeks yang menunjukan tingkat kekuatan suatu alat pengukur dapat dipercaya dan diandalkan. Reliabilitas sering diartikan juga sebagai keajegan atau konsisten (Sugiyono, 2012). Hal ini berarti bahwa suatu alat ukur memiliki reliabilitas sempurna apabila hasil pengukuran diujikan berkali – kali terhadap subyek yang sama selalu menunjukan hasil atau skor yang sama. Kriteria suatu instrumen penelitian dikatakan reliabel dengan menggunakan teknik ini, bila koefisien reliabilitas (r11) > 0,60 (Ghozali, 2011). Untuk pengujian reliabilitas dilakukan dengan teknik cronbach alpha, dengan jumlah sampel 30 responden. Perhitungan reliabilitas penelitian dilakukan dengan bantuan program program SPSS versi 20.
4.7 Uji Penyimpangan Asumsi Klasik
Metode yang digunakan untuk menganalisis data penelitian ini adalah metode regresi, dan untuk menjamin bahwa metode regresi dipilih telah sesuai
dan memenuhi asumsi-asumsi yang dipersyaratkan dalam penggunaannya maka dilakukan uji asumsi klasik (Ghozali, 2011)
a. Uji Normalitas
Untuk mencek apakah hasil pengamatan data menyebar normal atau tidak, dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti dengan uji histogram, uji normal P Plot, uji Chi Square, Skewness dan Kurtosis atau uji Kolmogorov Smirnov (Situmorang dan Luthfi, 2011). Pada penelitian ini normalitas data dilakukan dengan uji histogram dan uji normal P Plot. Pada uji hisogram, grafik histogram menunjukkan pola distribusi normal jika memperlihatkan grafik mengikuti sebaran kurva normal (ditunjukkan dengan kurva berbentuk lonceng). Pada uji normal P Plot, pola distribusi normal jika data menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal.
b. Uji Autokorelasi
Uji Autokorelasi bertujuan menguji apakah dalam model regresi linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1 (sebelumnya). Cara yang digunakan untuk menguji autokorelasi dalam penelitian menggunakan uji Durbin-Watson (DW Test). Uji Autokorelasi hanya dilakukan pada data time series bukan pada data cross section.
c. Uji Multikolinearitas
Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel independen. Uji Multikolinearitas juga digunakan untuk mengetahui ada tidaknya penyimpangan asumsi klasik multikolinearitas, yaitu adanya hubungan linear antar variabel independent dalam model regresi. Prasyarat yang harus terpenuhi dalam model regresi adalah tidak adanya Multikolinearitas. Pada riset ini akan dilakukan uji Multikolinearitas dengan melihat Variance Inflation Factor (VIF)
pada model regresi. Jika VIF lebih besar dari 10 dan nilai tolerance lebih kecil dari 0,1 , maka variabel tersebut mempunyai persoalan Multikolinearitas dengan variabel bebas lainnya (Ghozali, 2011).
4.8 Analisis Data
Analisis data yang digunakan meliputi analisis deskriptif dan analisis regresi berganda, analisis secara serentak (Uji F) dan analisis secara parsial (Uji t) dengan bantuan software SPSS versi 20.
4.8.1 Analisis Deskriptif
Hasil rekapitulasi kuesioner diuraikan secara deskriptif kemudian diukur dengan menggunakan rentang skala. Rentang skala digunakan untuk mengukur tingkat sikap dan pandangan responden secara individual maupun secara menyeluruh. Total skor jawaban responden dimasukkan ke dalam rentang skala yang diperoleh dengan rumus Cronin dan Taylor dalam Bawono dkk (2009) dengan langkah-langkah sebagai berikut :
Interval Skala = Nilai Maksimal – Nilai Minimal Jumlah Kriteria
Kriteria penilaian :
Sangat Tidak Setuju = 1
Tidak Setuju = 2
Biasa Saja = 3
Setuju = 4
Sangat Setuju = 5
Dengan demikian dapat diperoleh interval skala untuk setiap jawaban responden adalah :
Nilai Minimal = Nilai Kriteria Terendah yakni 1 (satu) Nilai Maksimal = Nilai Kriteria Tertinggi yakni 5 (lima) Interval Skala = 5 – 1 = 0,80
5
Setelah nilai interval diketahui, kemudian dibuat rentang skala sehingga dapat diketahui letak penilaian setiap responden. Adapun rentang skala tersebut adalah :
Setelah nilai interval diketahui, kemudian dibuat rentang skala sehingga dapat diketahui letak penilaian setiap responden. Adapun rentang skala tersebut adalah :