TINJAUAN PUSTAKA
2. Upah Menurut Pandangan Islam a. Mekanisme Pembayaran Upah
Sebelum ajir memulai pekerjaan diharuskan sudah terjadi kesepakatan tentang besar uapah, bentuk upah, besaran, waktu dan tempat penyerahannya. Upah boleh diberikan dalam bentuk apa saja yang bisa dinilai dalam bentuk harga, baik berupa materi maupun jasa yang disesuaikan dengan kesepakatan dengan syarat harus jelas dan apabila tidak terdapat kejelasan maka hukumnya adalah tidak sah.
Oleh karena itu bentuk upah adalah segala sesuatu yang bisa dinilai dengan harga, baik materi maupun jasa, sebab harta dalam Islam adalah segala sesuatu (yang berharga) yang telah menjadi hak milik seseorang, baik berupa tanah, barang-barang, perhiasan, uang dan segala sesuatu yang belum secara riil menjadi milik seseorang, tetapi ada kemungkinan dimiliki dan akan dapat diambil manfaatnya dengan jalan biasa (kerja), bukan karena darurat. Bahkan imbalan kerja (upah)
25 Putu Suprabe Sari, Dkk, Sistem Pengupahan Pekerja Harian Departemen Planiation Di Wilayah Divide II PT Pemuka Sakti Manis Indah, Jurnal Agribisnis, Agustus 2017, Hal. 48
xxxv
boleh diberikan dalam bentuk makanan dan pakaian selama terjadi berdasarkan kebiasaan yang berlaku. Selain menerima balasan di dunia berupa harta (materi atau jasa) dalam Islam para pekerja juga mendapatkan imbalan dalam bentuk suatu yang tidak bisa dilihat dalam kehidupan duniayaitu ambahan pahala dan akhirat.
Berdasarkan illah al-hadis tersebut para ulama berpendapat bahwa upah adalah hasil kerja badan pekerja dan mempercepat manfaatnya, sehingga hukumnya haram menunda-nunda pembayaran kerja sedangkan pengusaha sanggup melunasinyapada saat itu. Upah dalam Islam berdasarkan prinsip keadilan yang melarang keras unsur-unsur penindasan seperti memperlambat ataupun menunda pembayaran upah terutama sekali jika menjadikan beerkemampuan untuk meemeenuhinya karena perbuatan penundaan seperti itu merupakan kezaliman yang terlarang yang terlarang.26
Prosedur pembayaran upah boleh dibayar secara tunai atau tidak tunai (dalam bentuk cek dan sebagainya).apabila disepakati upah tersebut diberikan sesuai dengan tempo masa tertentu (hari/minggu/bulan) maka harus diberikan sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat oleh kedua belah pihak. Ketetapan tersebut diperkuat oleh An-Nabani bahwa upah kerja boleh dibayar tunai maupun tidak, juga boleh dalam bentuk harta maupun jasa, sebab apa saja yang bisa dinilai dengan harga maka boleh dijadikan upah, baik berupa materi
26 Armansyah Waliam , Upah Berkeadilan Ditinjau Dari Perspeektif Islam, Jurnal Bisnis, Vol.5, No.2, Desember 2017, Hal. 273
xxxvi
maupun jasa dengan syarat harus jelas dan apabila tidak jelas maka tidak sah.
Islam mengancam pengusaha yang menunda pembayaran dan apalagi menngurangi atau bahkan tidak memberikan upah pekerja dengan balasan yang sangat menyakitkan di akhirat, karena kelalaian tersebut adalah dosa jadi memenuhi hak dalam bekerja merupakan keadilan dalam Islam yang menghendaki tidak boleh seorang pekerjapun yang telah mencurahkan jerih payah dan keringatnya tidak mendapatkan upah, dikurangi ataupun ditunda-tunda pembayarannya.
27
b. Batasan Upah dalam Islam
Sistem upah Islam menghendaki agar pekerja mendapatkan upah yang layak tanda melanggar hak pengusaha yang sah, dan sebaliknya pengusaha tidak diperbolehkan berlaku sewenang-wenang menghilagkan bagian hak pekerja yang sah. Oleh karena itu upah yang diberikan adalah upah adil dan layak, upah yang berada pada batasan para bekerja mampu memenuhi kebutuhan hidupnya (baik kebutuhan sandang, pangan,dan papan yang baik), juga pekerja harus berada pada posisi yang bemungkinkan untuk memberikan pendidikan yang baik bagi anak-anaknya dan memperoleh fasilitas medisbagi keluarganya.
Dengan demikian upah yang diberikan kepada pekerja harus berada
27 Dewi Lestari, Sistem Pengupahan Pekerja Dalam Persfektif Ekonomi Islam, (Uin Walisongo, Semarang, 2015), Hal. 32.
xxxvii
ditingkat minimum dan maksimum yanng mengacu kepada taraf hidum yang lazim serta kontribusi yang telah diberikan para pekerja.
Niali-milai yang dibawa islam menghendaki majikan memeperlakukan pekerja seperti keluarganya sendiri, sehingga menuntut agar memperlakukan pekerja secara terhormat, manusiawi, kasih sayang, kesejahteraan serta keterjaminan pendidikan dan kesehatan bagi keluarga. Upah yang adil dan layak bukanlah suatu konsesi tetapi meruapkan hak asasi yang dapat dipaksakan oleh seluruh kekuasaan negara. Pada akhirnya harus disadari oleh masing—
masing manusia bahwa dalam mengarungi kehidupan didunia ini saling membutuhkan. Islam tidak memberikan batasan tertentu tentang upah kerja dan itu berarti bahwa masalah ini tidak menjadi fokus pembahasan, sebab keputusan tentang upah menjadi kesepakatan oleh setiap pihak yang terlibat (pengusaha dan pekerja) dan barangkali negara. Islam menekankan nilai-nilai etis berupa keadilan (adil), kebaikan (ihsan), kasih sayang (rahman) dalam semua hubungan kemanusiaan. Upah kerja bisa meningkat dengan bertambahnya umur, meningkatnya pengalaman kerja, ketika barang di pasaran melonjak, dan pada saat perusahan mendapatkan laba yang meningkat. Inilah prinsip keadilan upah dalam Islam yang mensyaratkan upah haruslah diberikan setimpal dengan pekerjaan yang dilakukan dan mampu memenuhi keperluan kehidupan.
xxxviii
Dalam memperincikan aspek kewajiban membayar upah pekerja, Al-Mawardi dalam kitabnya al-Ahkam as-Sultaniyah turut menjelaskan bahwa kadar upah yang diberikan harus mengikut kepada kecukupan dalam memenuhi keperluan asas rakyat. Tingkat upah relatif harus sepadan bagi penerimanya sesuai dengan kemampuan perusahaan. Tentu saja persyaratan ini bersifat relatif karena cukup atau layak akan artinya bagi tiap orang apabila status ekonomi atau sosial mereka berbeda. Oleh karena itu batasan upah yang sepadan adalah diberikan berada di atas tingkat upah minimum tersebut dan besarnya upah minimum antara satu daerah dengan daerah yang lain dimungkinkan berbeda karena beberapa faktor yang telah disebutkan sebelumnya.28
c. Hubungan Kerja dalam Islam
Dalam lingkungan pekerjaan hubungan kerja antara majaikan dan buruh harus dijaga dengan baik. Karena jika majikan dengan buruh tidak terjalin dengan baik maka terjadi konflik dalam sebuah hubungan pekerjaan. Islam menghubungkan keduanya dalam jalinan persahabatan dan persaudaraan, dengan cara tersebut maka tiidak akan terjadi pembenturan dalam kepentingan masing-masing. Di dalam lingkungaan perkerjaan maka dibutuhkan adanya rasa saling percaya,
28 Armansyah Waliam , Upah Berkeadilan Ditinjau Dari Perspeektif Islam, Jurnal Bisnis, Vol.5, No.2, Desember 2017, Hal. 288.
xxxix
niat yang bai dan menghormati hak-hak orang lain. Hak-hak pekerja yang wajib dipenuhi oleh pemberi pekerjaan sebagai berikut :29
1. Pekerja berhak menerima upah yang memugkinkan baginya menikmati kehidupan yang layak.
2. Pekerja tidak boleh diberikan pekerjaan yang melebihi kemampuan fisiknya.
3. Mereka harus diperlakukan dengan baik dan sopan dan dimaafkan jika merek melakukan kesalahan selama bekerja.
4. Pekerja harus diberi bantuan pengobatan yang tepat jika sakit dan membayar baiya pengobatan yang sesuai pada saat itu.
5. Mereka harus dibayar dengan ganti rugi yang sesuai atas kecelakaan yang terjadi dalam pekerjaan.
Kewajiban para pekerja harus jelas supaya mereka dapat bekerja dengan sebagaimna mestinya. Adapun yang menjadi kewajiban pekerja yaitu:
1. Mengerjakan sendiri pekerjaan yang ada dalam perjanjian kalau pekerjaan tersebut meruapakan pekerjaan yang khas.
2. Benar-benar bekerja sesuai dengan waktu perjanjian.
3. Mengerjakan pekerjaaan dengan tekun, cermat dan teliti.
4. Menjaga keselamatan barang yang dipercayakan kepadanya untuk dikerjakan sedangkan jika bentuk pekerjaan berupa urusan hendaklah mengurus urusan tersebut sebagaimna mestinya.
29 Dewi Lestari, Skripsi: Sistem Pengupahan Pekerja Dalam Perspektif Konomi Islam, (Uin Walisongo, Semarang). Hal. 45
xl 3. Pengalaman Kerja
a. Pengertian Pengalaman Kerja
Berdasarkan pengertian terdapat dalam kamus besar bahasa indonesia pengalaman berupa segala sesuatu yang telah dialami sedangkan kerja merupakan kegiatan melakukan sesuatu. Dari uraian tersebut dapat diketahui bahwa pengalaman kerja merupakan kegiatan melakukan segala sesuatu yang pernah dialami seseorang. Pengalaman kerja adalah proses pembentukan keterampilan tentang mode suatu pekerjaan karena keterlibatan suatu kryawan tersebut dalam pelaksanaan tugas pekerjaan.
Pengalaman kerja dapat memberikan keuntungan bagi seseorang dalam melaksanakan kerja selanjutnya karena setidakanya orang tersebut sudah pernah melakukan pekerjaan itu sehingga dia tahu tentang pekerjaan yang akan dihadapai. Seorang karyawan yang memiliki pengalaman kerja lebih mengerti apa yang harus dilakukan ketika menghadapi suatu masalah. Pengalaman kerja menjadi salah satu faktor terpenting untuk meningkatkan hasil kerja karyawan baik secara kuantitas maupaun kualitas. Pengalaman kerja adalah modal seseorang untuk terjun dalam bidang tertentu. Karyawan yg sudah
xli
berpengalaman dalam bekerja akan membentuk keahlian dibidangnya, sehingga dalam mengeejakan suatu produk akan cepat terselesaikan.30 b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengalaman Kerja
Ada beberapa hal yang untuk menentukan berpengalaman atau tidaknya seorang karyawan dalam suatu pekerjaan yaitu:
a) Lama waktu atau masa kerja
Ukuran seseorang tentang waktu atau masa kerja yang telah ditembuh seseorang dapat mememahami tugas-tugas suatu pekerjaan dan telah melaksanakan dengan baik.
b) Tingkat pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki
Pengetahuan merujuk pada konsep, prinsip prosedur kebijakan atau informasi lain yang dihana butuhkan oleh kariawan, pengetahuan juga mencakup kemampuan untuk memahami dan menerapkan informasi pada tanggung jawab pekerjaan, sedangkan keterampilan merujuk pada kemampuan fisik yang dibutuhkan untuk mencapai atau menjalankan suatu tuugas atau pekerjaan.
c) Penguasaan terhadap pekerjaan dan peralatan
Tingkat penguasaan seseorang dalam pelaksanaan aspek-aspek teknik peralatan dan pekerjaan. Dari uraian tersebut dapat diketahui bahwa seorang karyawan yang berpengalaman akan memiliki gerakan yang mantap dan lancar, gerakannya berirama, lebih cepat menanggapi tanda-tanda, dapat menduga timbulnya
30 Hana Maskhufatuz Zahro, Pengaruh Pengalaman Kerja Dan Curahan Jam Kerja Terhadap Kinerja Karyawan, Jurnal Pendidikan Ekonomi, Vol. 12, No. 1, 2018, Hal. 9
xlii
kesulitan sehingga lebih ssiap menghadapinya, dan bekerja dengan tenang.
Adapun beberapa faktor yang mempengaruhi pengalaman kerja karyawan yang berpengaruh dalam kondisi-kondisi tertentu adalah sebagao berikut:
a) Latar belakang pribadi, mencakup pendidikan, kursus, latihan, bekerja. Untuk menunjukkan apa yang telah dilakukan seseorang diwaktu yang lalu.
b) Bakat dan minat, untuk memperkirakan minat dan kapasitas atau kemampuan seseorang.
c) Sikap dan kebutuhan untuk meramalkan tanggung jawab dan wewenang seseorang.
d) Kemampuan-kemampuan analitis dan manipulative untuk mempelajari kemampuan penilaian dan penganalisaan.
e) Keterampilan dan kemampuan teknik, untuk menilai kemampuan dalam pelaksanaan aspek-aspek teknik pekerjaan. 31
4. Tingkat Pendidikan