• Tidak ada hasil yang ditemukan

Upaya SMI ‘Membersihkan’ Gresik

Dalam dokumen Majalah Sinergi | Semen Indonesia (Halaman 44-46)

perseroan adalah pengolahan sampah karena Semen Indonesia komitmen pada penerapan program Clean De- velopment Mechanism (CDM) secara konsisten. Apalagi saat ini sudah ber- operasi Instalasi Pengolahan Sampah Kota (Waste to Zero) di TPA Ngipik, Gresik, Jawa Timur. Bagi perseroan, proyek ini memang istimewa. Pasalnya, proyek ini semakin menegaskan tradisi Semen Indonesia sebagai pioneer di segala bidang, karena proyek Waste to Zero ini merupakan satu-satunya yang ada di Indonesia.

Yang menarik, proses pengerjaan hinggan pengoperasian instalasi Waste to Zero ini melibatkan dua Direktur Utama Semen Indonesia. Dwi Soetji- pto, Direktur Utama Semen Indonesia

kala itu –kini Dirut PT Pertamina- menandai dimulainya proyek lewat peletakan batu pertama pada 7 Agustus 2013, bertepatan dengan HUT Pabrik Gresik. Selanjutnya, butuh waktu hampir setahun, sebelum proyek ini benar-benar tuntas dan diresmi- kan pengoperasiannya oleh Direktur Utama Semen Indonesia Suparni pada 15 September 2014.

Proyek ini juga menjadi jawaban langsung keraguan pihak luar akan komitmen Semen Indonesia pada ling- kungan. Di saat sampah kota menjadi problem pelik yang dihadapi banyak pemerintah kota dan kabupaten di Indonesia, Semen Indonesia memberi solusi langsung di lapangan.

Pemerintah Kabupaten Gresik tentu menjadi pihak yang paling diuntung- kan dengan keberadaan instalasi pe- ngolahan sampah ini. Kendati belum sepenuhnya tuntas namun ada harapan besar, bahwa tumpukan sampah yang

terus menggunung di TPA Ngipik se- cara bertahap bisa berkurang. “Setiap hari, ada 225 ton sampah yang masuk ke sini. Jika hanya mengandalkan proses alami, saya kira cepat atau lambat lahan akan habis. Karena itu, keberadaan alat ini sangat membantu kami,” terang Sumarno, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Pemkab Gresik.

Instalasi Waste to Zero ini menem- pati area 20x80 meter dengan mesin pengolah sampah berkapasitas 6,6 ton per jam, siap melahap tumpukan sampah yang ada di TPA Ngipik. Meski demikian, selama masa uji-coba tiga bulan, mesin hanya di push selama delapan jam per hari dengan kapasitas 500 ton per jam. “Ini memang masih masa percobaan. Kita push pelan- pelan karena ini teknologi baru yang ada di Indonesia,” ujar Hari Sugian- tono, Kadiv Pengelolaan Lingkungan Semen Indonesia Foundation (SMIF) yang bertanggungjawab pengopera- sian alat ini.

Cara kerja alat ini cukup sederhana. Tumpukan sampah yang menggunung, dikeruk eskavator dan dimasukkan dalam hoper. Selanjutnya, diangkut menuju mesin pemusnah melalui belt conveyor. Mesin pun mulai bekerja. Tumpukan sampah tak beraturan ini

dipilah oleh balistic separator. Alat pemilah ini, membagi sampah dalam tiga kategori. Pertama, sampah solid yang terdiri dari material berat: batu, besi dan lainnya. Material ini dipilah tersendiri dan digunakan sebagai bahan reklamasi.

Kedua, sampah jenih tanah halus, kayu lapuk dan material lunak lainnya. Sampah jenis ini, bisa dimanfaatkan se- bagai bahan kompos. Ketiga, sampah plastik yang terdiri dari material berbahan baku plastik, kain, karet dan bahan sejenis. Inilah produk utama dari mesin ini. Material tersebut, diteruskan ke sheeder (mesin pencacah). Dari sini, material plastik ini dicacah dengan ukuran 3x3 dan 3x5 cm. “Material plastik yang sudah tercacah, langsung masuk ke bag yang masing-masing berkapasitas 40 ton,” ujar Hari yang sehari-hari dibantu dua tenaga staf dan empat orang tenaga outsourcing.

Nah, hasil olahan mesin ini nantinya akan dikirim ke Pabrik Tuban sebagai bahan bakar alternatif. Dari hasil uji laboratorium, kualitas bahan bakar alternatif dari material plastik ini bisa diandalkan. Panas kalori yang dihasil- kan sebesar 4.545 per KKal, lebih tinggi dari sekam padi yang miliki pa- nas kalori 3.500 per KKal. Selama ini, pabrik semen menggunakan batubara sebagai bahan bakar yang miliki panas kalori sebesar 5.600 per KKal.

Sejauh ini, kata Hari, perseroan masih belum mengirim ke Tuban. Produk di masa trial, masih ditumpuk di TPA Ngipik. Pasalnya, antara SMIF yang diwakili Koperasi EsGePride dan Pabrik Tuban masih merumuskan harga keekonomisan dari produk ini. “Tapi yang pasti, proyek ini sangat feasible. Ada income yang bisa didapatkan dari sampah yang hampir tak memiliki nilai tambah,” tandasnya.

Ke depan, prospek bisnis instalasi ini sangat menguntungkan. Apalagi, bahan baku sampah juga sangat me- limpah. Bayangan Hari, jika pengiri- man sudah bisa dimulai dan mesin sudah di push mendekati desain kapa- sitas, rasanya tinggal menunggu waktu saja untuk menutup biaya investasi sebesar Rp 13,5 miliar untuk proyek ini. (SG/ram-bwo)

B

icara soal eisiensi energi listrik di pabrik semen di Indonesia, PT Semen Padang adalah pion- irnya. Pasalnya, di pabrik semen pertama di Indonesia ini, sejak 2011 telah berdiri pembangkit listrik yang memanfaatkan gas panas buang dari sistem pembakaran di kiln pabrik. Inovasi ini dikenal dengan Waste Heat Recovery Power Generation (WHRPG).

Sebagaimana diketahui, proyek WHRPG merupakan hasil kerjasama pemerintah Indonesia (Kementerian Per- industrian) dengan pemerintah Jepang (New Energy Technology Development Organization- NEDO) yang diteken di Wisma Indarung Semen Padang pada 15 Januari 2009. Butuh waktu 32 bulan sebelum akhirnya proyek ini diresmikan pada 26 Oktober 2011.

WHRPG ini memang bertujuan untuk menghemat energi dan meminimalkan emisi gas CO2 melalui mekanisme pem-

bangunan bersih atau Clean Development Mechanism (CDM). Namun, hingga 2013, WHRPG ini belum mencapai kapasitas maksimal 8,5 MW. Penyebabnya adalah seringnya terjadi material blok di dust settling chamber (DSC) di AQC Boiler dan tidak tercapainya kapasitas produksi low steam yang dihasilkan dari AQC Boiler (21 ton per jam sekitar 70%). Hal ini berimbas pada kapasitas produksi energi listrik yang dihasilkan hanya 7,2 MW.

Perbaikan pun lantas dilakukan.Dengan fasilitator Edy Yazman dan di bawah koor- dinasi Budi Citra sebagai Kepala Urusan WHRPG, dibentuklah Tim Tenaga dengan personil Nadry Heroza (Sekretaris) dan anggota masing-masing Fathul Mausil, Vardimir, Hermanedi dan Rusman Hidayat.

Tim ini kemudian mengusung sebuah ide inovasi dengan biaya murah, namun menghasilkan beneit yang luar biasa. Inovasinya berupa pendulum value di Dust Settling Chamber. Inovasi ini dilakukan

sebagai line bypass pada saat terjadinya penumpukan material serta untuk mening- katkan kapasitas low steam dan power.

Pendulum valve menggunakan prinsip gaya momen dimana gaya berat yang dihasilkan material yang menumpuk di daun pendulum valve yang akan menekan daun pendulum valve sehingga mengaki- batkan material akan ikut turun dan daun pendulum valve akan kembali ke posisi semula dengan memakai counter weight (penyeimbang).

Sebelumnya untuk menjaga operasi dan produksi power berjalan lancar maka damper bypass dioperasikan di atas 50% akibatnya produksi steam hanya 21 ton per jam di AQC Boiler.

Dengan bukaan damper bypass yang kecil maka didapatkan low gas panas yang masuk AQC boiler lebih banyak dan menghasilkan produksi power yang lebih tinggi 1,1 MW setiap jamnya. Dengan adanya pendulum valve, maka damper

Dalam dokumen Majalah Sinergi | Semen Indonesia (Halaman 44-46)

Dokumen terkait