BAB III: METODE PENELITIAN
3.6 Instrumen Penelitian
3.6.4 Validitas dan Reliabilitas
Pada pembahasan subbab ini peneliti membahas mengenai pengertian, cara penggunaan dari validitas dan reliabilitas.
3.6.4.1 Validitas
Validitas digunakan untuk mengukur derajat validitas yang disesuaikan berdasarkan kriteria tertentu dengan kata lain untuk melihat valid atau tidaknya hal tersebut terlebih dahulu harus melalui tahap validitas (Arifin, 2009: 247).
Instrumen yang valid berarti alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan data itu dinyatakan valid dalam kata lain valid berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur (Sugiyono, 2014: 203).
Sementara pendapat lain mengatakan bahwa dalam Arifin (Gronlund, 1985) mengemukakan bahwa terdapat tiga faktor yang mempengaruhi hasil validitas, yaitu faktor instrumen evaluasi, faktor administrasi dan penskoran, dan faktor jawaban dari peserta didik. Beberapa faktor tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Faktor Instrumen Evaluasi
Pada faktor ini hasil dipengaruhi oleh pemahaman terhadap prosedur dan teknik evaluasi itu sendiri, apabila instrumen kurang baik maka dapat berdampak pada hasil evaluasi menjadi kurang baik. Dalam mengembangkan instrumen evaluasi tersebut evaluator harus memperhatikan hal-hal yang mempengaruhi
54
validitas instrumen seperti beberapa contohnya: silabus, kisi-kisi soal, petunjuk mengerjakan soal dan pengisian lembar jawaban dan lain-lainnya.
2. Faktor Administrasi dan Penskoran
Pada faktor ini banyak sekali terjadi penyimpangan atau kekeliruan seperti alokasi waktu yang tidak proporsional, memberikan bantuan dengan berbagai cara, peserta didik saling mencontek, kesalahan penskoran, dan kondisi fisik dan psikis peserta didik yang kurang menguntungkan.
3. Faktor Jawaban dari Peserta Didik
Faktor ini ketika dalam praktiknya jawaban peserta didik justru lebih berpengaruh terhadap dua faktor sebelumnya yang di mana faktor ini memiliki kecenderungan peserta didik untuk menjawab secara cepat, namun tidak tepat dan adanya keinginan melakukan coba-coba pada saat menjawab. Melengkapi pendapat diatas menurut (Widoyoko, 2015: 141-146) mengatakan bahwa validitas terbagi kembali menjadi dua yaitu validitas isi dan validitas konstruk yang dijelaskan sebagai berikut:
a. Validitas Isi
Dalam validitas isi instrumen harus berbentuk tes dan memiliki validitas isi.
Sebuah tes dapat dikatakan memiliki validitas isi apabila dapat mengukur kompetensi yang dikembangkan beserta indikator dan materi pembelajarannya, dan dapat membandingkan antara indikator dengan instrumen yang akan dikembangkan. Instrumen dikatakan valid apabila pertanyaan yang tertulis dalam instrumen tersebut sesuai dengan indikator (Widoyoko, 2015: 142-143). Beberapa komponen dalam instrumen dapat dilihat pada tabel 3.5.
55
Tabel 3.5 Komponen Validasi Produk
No Komponen Penilaian Skor Catatan
1 Tampilan sampul terlihat
menarik 1 2 3 4
4 Pernyataan dapat menggali
keadaan siswa 1 2 3 4
5
Ukuran dan jenis huruf pada skala mudah dibaca oleh
8 Penggunaan bahasa yang
mudah dipahami oleh siswa 1 2 3 4
9 Ketepatan pemilihan kata 1 2 4 4
10 Penggunaan kalimat efektif 1 2 3 4
56 11 Ketepatan penggunaan bahasa
berdasarkan EYD 1 2 3 4
Instrumen di atas diisi oleh beberapa ahli dengan cara melingkari pada bagian penskoran 1, 2, 3, 4. Hasil yang telah didapatkan oleh peneliti kemudian dihitung dan dianalisis, dan hasil analisis tersebut menjadikan pedoman penelitian pada saat melakukan revisi. Langkah selanjutnya yaitu peneliti memberikan lembar tanggapan produk kepada siswa dan dapat dilihat pada tabel 3.6
Tabel 3.6 Komponen Lembar Tanggapan Siswa
No Komponen Skor Catatan
1 Tampilan sampul terlihat menarik
Saya dapat menjawab setiap pernyataan sesuai dengan keadaan yang saya alami
1 2 3 4
4 Saya dapat memahami arti dari setiap pernyataan
57 b. Validitas Konstruk
Pada validitas konstruk terfokus pada sejauh mana suatu instrumen dapat mengukur konsep yang berasal dari sebuah teori. Maka dari itu dalam validitas ini harus adanya pembahasan mengenai teori mengenai variabel yang akan diukur menjadi dasar penentu konstruk suatu instrumen (Widoyoko, 2015: 145-146).
Melengkapi pendapat di atas menurut (Arifin, 2009: 257) mengatakan bahwa validitas konstruk sering disebut dengan validitas logis, validitas konstruk ini berhubungan dengan pertanyaan di mana suatu tes dapat mengobservasi dan mengukur fungsi psikologis yang merupakan deskripsi perilaku peserta didik yang akan diukur oleh tes tersebut.
3.6.4.2 Reliabilitas
Reliabilitas merupakan ukuran untuk menyatakan tingkat konsistensi suatu soal tes (Jihad dan Haris, 2012: 180). Reliabilitas adalah suatu alat ukur yang dapat dipercaya (reliabel), hasil yang akan didapatkan akan memberikan hasil yang tetap dan konsisten meskipun dilakukan tes berkali-kali (Widoyoko, 2015:
157). Reliabilitas dibagi menjadi dua bagian yaitu reliabilitas eksternal dan reliabilitas internal, reliabilitas eksternal merupakan instrumen yang digunakan secara berulang-ulang (dalam waktu berbeda-beda) untuk mengukur objek yang sama dan hasil yang didapatkan dianalisis bila hasilnya sama maka instrumen tersebut dinyatakan valid. Sedangkan reliabilitas internal merupakan instrumen yang dapat dikaji dari internal consistency, dalam hal ini konsistensi internal instrumen merupakan butir instrumen dan dapat dihitung berdasarkan uji coba satu kali saja (Sugiyono, 2015: 182). Oleh karena itu pengujian reliabilitas
58
instrumen dengan internal consistency akan lebih efisien, karena dengan satu instrumen akan tetap dapat dihitung reliabilitas suatu instrumen.
3.7 Teknik Analisis Data
Teknik analisis data merupakan kegiatan untuk mengelompokkan data berdasarkan variabel dan jenis responden, menabulasi data berdasarkan variabel dari seluruh responden, menyajikan data tiap variabel yang diteliti, melakukan perhitungan untuk menjawab rumusan masalah, dan melakukan perhitungan untuk menguji hipotesis yang telah diajukan, tetapi untuk penelitian yang tidak memerlukan rumusan hipotesis, maka langkah terakhir tidak perlu dilakukan (Sugiyono, 2015: 207). Analisis data merupakan proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data kuantitatif didapatkan dari skor penilaian yang diberikan oleh para ahli pada saat melakukan validasi dan data kualitatif didapatkan dari komentar, kritik, dan saran yang diberikan para ahli. Data yang didapat kemudian dianalisis untuk mengetahui kelayakan produk yang telah disusun oleh peneliti dan data-data tersebut itu juga dapat dimanfaatkan oleh peneliti sebagai acuan atau pedoman untuk memperbaiki produk tersebut. Data kuantitatif didapatkan dari instrumen penelitian yang menggunakan skala Likert, dan pedoman penskoran yang digunakan oleh peneliti adalah dengan skala 1- 4.
Penggunaan pilihan 1 - 4 ditujukan agar menjauhkan peluang jawaban alternatif.
Skala penilaian terhadap produk yang dikembangkan yaitu SS (Sangat Setuju), S (Setuju), TS (Tidak Setuju), dan STS (Sangat Tidak Setuju).
59 3.7.1 Data Kuantitatif
Peneliti menganalisis hasil data kuantitatif yang berasal dari hasil validasi produk oleh beberapa ahli dan kuesioner produk tanggapan oleh siswa, analisis data yang digunakan peneliti menggunakan skala Likert dengan menggunakan model empat pilihan. Pada setiap skala yang memiliki kriteria masing-masing yang disesuaikan dengan instrumen yang akan dinilai, skala dan kriteria untuk pedoman penilaian instrumen validasi produk dapat dilihat pada tabel 3.7
Tabel 3.7 Skala dan Kriteria Pedoman Penilaian Instrumen Validasi Produk
Skala Kriteria
4 Skala kecemasan layak digunakan tanpa perbaikan
3 Skala kecemasan layak digunakan namun dengan perbaikan 2 Skala kecemasan tidak layak digunakan dan perlu ada perbaikan 1 Skala kecemasan tidak layak digunakan
Dalam mengategorikan kriteria untuk pedoman penilaian pada instrumen tanggapan produk yang dilakukan oleh siswa apakah produk sudah layak digunakan atau masih memerlukan perbaikan, kriteria tersebut dapat dilihat pada tabel 3.8.
Tabel 3.8 Skala dan Kriteria Pedoman Penilaian pada Instrumen Tanggapan Produk Oleh Siswa
Skala Kriteria
4 Sangat baik (Instrumen sudah baik tanpa perbaikan )
60
3 Baik (Instrumen sudah baik namun perlu perbaikan ) 2 Cukup (Instrumen kurang baik dan perlu perbaikan ) 1 Kurang (Instrumen tidak layak )
Hasil yang didapatkan dari penilaian skala Likert model empat pilihan jawaban yang selanjutnya dilakukan perhitungan agar didapatkan rerata penilaian, Rerata penilaian ini dihitung oleh peneliti dengan menggunakan rumus 3.1.
Gambar 3.1 Rumus perhitungan rerata dengan menggunakan Skala Likert
Rerata hasil dari penilaian yang selanjutnya dikonversikan menjadi data kualitatif menurut (Widoyoko, 2015: 110). Peneliti memodifikasi pada interval disetiap kriteria penskoran dengan menyesuaikan skor maksimal, skor minimal, jumlah pernyataan, dan jumlah responden. Rumus perhitungan jarak interval dapat dilihat pada gambar 3.2.
Gambar 3.2 Rumus Perhitungan Jarak Interval
Dengan menggunakan rumus pada gambar 3.2 maka dapat dilakukan perhitungan selanjutnya yaitu perhitungan kuantitatif, dilakukannya perhitungan
𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑖𝑛𝑡𝑒𝑟𝑣𝑎𝑙 =𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑚𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑎𝑙 − 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑚𝑖𝑛𝑖𝑚𝑎𝑙 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑖𝑛𝑡𝑒𝑟𝑣𝑎𝑙
61
kuantitatif bertujuan untuk memperoleh data kualitatif yang berupa beberapa kriteria kelayakan pada instrumen. Pada gambar 3.3 dibawah akan diberikan contoh menetapkan interval skor.
Gambar 3.3 Contoh Perhitungan Interval
Hasil perhitungan pada gambar 3.3 akan menjadi dasar dalam penyusunan kriteria kelayakan instrumen penilaian ideal yang akan dapat dilihat pada tabel 3.9.
Tabel 3.9 Kriteria Kelayakan Instrumen
Interval Kategori Bobot
>3.25 s/d 4.0 Sangat Baik
Keseluruhan instrumen sudah layak digunakan
>2.5 s/d 3,25 Baik
Keseluruhan instrumen sudah layak digunakan namun perlu perbaikan Diketahui:
Skor tertinggi = 4 Skor terendah = 1 Jumlah kelas = 4 Ditanyakan:
Jarak interval dan rentang skor (sangat baik, baik, cukup, dan kurang )
𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑖𝑛𝑡𝑒𝑟𝑣𝑎𝑙 =4−1
4 𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑖𝑛𝑡𝑒𝑟𝑣𝑎𝑙 = 3
4 𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑖𝑛𝑡𝑒𝑟𝑣𝑎𝑙 = 0,75
62
>1,75 s/d 2,5 Kurang
Keseluruhan instrumen kurang layak digunakan
1,0 s/d 1,75 Sangat Kurang
Keseluruhan instrumen kurang layak digunakan
Tingkat kecemasan yang dialami oleh siswa dapat dilihat dari hasil perhitungan jawaban yang diberikan oleh siswa pada skala kecemasan. Jumlah keseluruhan skor dapat diperoleh dengan cara menjumlahkan setiap skor jawaban pada setiap pertanyaan. Tingkat kecemasan menurut (Suprapto, 2013: 104) dapat dilihat pada tabel 3.10.
Tabel 3.10 Tingkat Kecemasan
Interval Skor Tingkatan
45-71 Tidak Cemas
72-98 Kecemasan Ringan
99-125 Kecemasan Sedang
126-152 Kecemasan Berat
153-180 Kecemasan Sangat Berat
3.7.2 Analisis data Kualitatif
Data kualitatif merupakan penunjuk kualitas atau mutu sesuatu yang telah ada, baik keadaan, proses, peristiwa/kejadian dan dinyatakan dalam bentuk pernyataan atau bahkan berupa kata-kata (Widoyoko, 2015: 18). Analisis data kualitatif merupakan sebuah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data dalam pola, kategori dan suatu uraian sehingga menghasilkan sebuah jawaban atas
63
pertanyaan penelitian (Mulyatiningsih, 2014: 44). Data kualitatif merupakan sekumpulan hasil wawancara, pengamatan, catatan lapangan, dokumen pribadi, dokumen resmi, gambar foto,
64 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Bab IV berikut ini berisikan uraian mengenai penjelasan dari bab yang sebelumnya. Uraian tersebut terdiri dari hasil penelitian dan pembahasan.
4.1 Hasil Penelitian
Subbab ini menguraikan proses penelitian dan persiapan sampai dengan pelaksanaan yang meliputi penelitian dari pengumpulan informasi, perencanaan, pengembangan bentuk awal produk, uji coba lapangan, persiapan, dan revisi pelaporan hasil pengembangan.
4.1.1 Penelitian dan pengumpulan informasi
Pada tahap penelitian dan pengembangan, penelitian melakukan identifikasi masalah melalui observasi dan wawancara serta menganalisis kebutuhan guru dan siswa. Analisis kebutuhan merupakan kegiatan awal yang dilakukan oleh peneliti untuk mengetahui sejauh mana kebutuhan guru dan kesulitan siswa dalam proses belajar dan mengajar di kelas. Selain itu juga tujuan utama dilakukanya analisis kebutuhan ialah untuk membantu guru dalam mempermudah proses belajar mengajar dapat teratasi dengan baik.
Pengumpulan informasi diawali dengan melakukan observasi di kelas IV pada saat pembelajaran matematika yang sedang dilakukan di kelas. Selain itu peneliti juga melakukan wawancara kepada guru kelas. Pengumpulan informasi tersebut digunakan untuk bahan pertimbangan bagi peneliti dalam pembuatan desain produk skala kecemasan aspek kognitif agar dapat membantu mengatasi permasalahan yang ada. Berikut ini adalah penjelasan mengenai identifikasi masalah dan analisis kebutuhan.
65 4.1.1.1 Identifikasi Masalah
Pada tahap ini peneliti mengidentifikasi masalah terkait dengan kesulitan belajar yang dialami oleh siswa dengan menggunakan teknik observasi dan wawancara. Hasil wawancara kemudian dianalisis sesuai dengan kebutuhan siswa dan guru.
1. Observasi
Peneliti melakukan observasi pada pembelajaran matematika pada kelas IV.
Observasi dilakukan untuk mengetahui keaktifan siswa saat mengikuti pembelajaran matematika, cara mengajar guru, reaksi yang ditunjukkan oleh siswa. Observasi dilakukan oleh peneliti pada tanggal 27 Februari 2019 Pedoman observasi digunakan oleh peneliti dapat dilihat pada tabel 4.1.
Tabel 4.1 Hasil Observasi Pembelajaran Matematika
Objek yang diamati Jawaban Catatan
Siswa mengikuti namun ada beberapa siswa yang kurang aktif dalam mengikuti
Terlihat ada beberapa siswa yang masih mengalami kesulitan, terlihat ketika diberikan pertanyaan dari guru, siswa hanya diam dan menundukkan kepala
Beberapa siswa yang ditunjuk oleh guru untuk menjawab pertanyaan terlihat bersemangat, namun ada juga siswa yang menolak pertanyaan dan melemparkan kepada temanya Guru memberikan instruksi
dengan jelas Ya Guru memberikan instruksi yang
mudah dipahami oleh siswa instruksi yang diberikan oleh guru, sehingga guru harus menjelaskan secara berulang-ulang
66
Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran di kelas, siswa kurang aktif dalam mengikuti pembelajaran di kelas.
Kebanyakan dari mereka diam ketika guru menanyakan kesulitan yang dialami oleh siswa saat mengikuti pembelajaran. Ketika guru menyampaikan materi pembelajaran, guru juga sudah menggunakan bahasa dan kalimat yang mudah dipahami oleh siswa. Selain itu siswa yang tidak aktif dapat dilihat ketika guru memberikan pertanyaan dan siswa yang hanya diam serta siswa yang menundukkan kepala dan melemparkan pertanyaan tersebut kepada temanya.
yang lain untuk menjawab pertanyaan dari guru tersebut. Ada pula siswa yang menjawab pertanyaan dari guru dengan rasa yang tidak percaya diri serta keragu-raguan dalam menjawab pertanyaan. Siswa tersebut menjawab pertanyaan dari guru dengan suara lirih agar tidak terdengar oleh teman satu kelasnya. Hasil observasi menunjukkan bahwa guru sudah baik dalam penyampaian materi, tetapi masih ada beberapa siswa yang mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal yang diberikan oleh guru. Ketika guru menanyakan mengenai ketidakpahaman materi yang disampaikan kepada siswa, siswa hanya diam serta menundukkan kepala. Ada beberapa siswa juga yang merasa takut serta ragu-ragu dalam menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru serta tidak percaya diri dalam bertanya mengenai materi yang telah disampaikan oleh guru. Maka dapat disimpulkan bahwa siswa mengalami kecemasan dalam mengikuti pembelajaran matematika di kelas.
2. Wawancara
Pada penelitian ini peneliti melakukan wawancara dengan guru wali kelas IV. Wawancara dilakukan pada tanggal 26 Maret 2019, dan wawancara dilakukan
67
telah sesuai dengan pedoman wawancara pada tabel 3.2. Hasil wawancara dengan guru kelas IV dapat dilihat melalui tabel 4.2.
Tabel 4.2 Hasil Wawancara dengan Guru Kelas IV Topik belum pernah mengirimkan anak untuk mengikuti lomba khususnya mata pelajaran matematika
Informasi
Selama proses pembelajaran siswa kurang antusias, khususnya pada materi yang dianggap sulit oleh siswa, sebaliknya jika materi tersebut mudah maka ada beberapa siswa yang antusias dalam mengikutinya. Ketika guru memberikan pertanyaan kepada siswa, beberapa siswa hanya diam dan menundukkan kepala serta melemparkan pertanyaan yang sulit kepada temanya pelajaran matematika yaitu materi pengukuran (sudut, waktu, panjang, kuantitas). Guru mengajarkan materi pengukuran kepada anak, dengan menggunakan media pembelajaran sebagai contoh penggaris, timbangan, jam dinding, saya juga menerangkan kembali kepada anak yang masih merasa kesulitan ketika mengerjakan
Ada beberapa siswa yang bingung dan menundukkan kepala karena tidak bisa menjawab pertanyaan, ada juga siswa yang melemparkan pertanyaan tersebut kepada temanya, kemudian ada juga siswa yang hanya diam saja serta beberapa siswa yang menunjukan sikap gugup karena tidak bisa mengerjakan soal di papan tulis, kemudian siswa tersebut akan melemparkan pertanyaan kepada temanya
Guru mengakui bahwa hasil belajar siswa beberapa bulan terakhir ini tidak memuaskan. Siswa dapat menangkap materi pembelajaran. Namun ketika ujian berlangsung, ketelitian siswa dalam mengerjakan soal sangat kurang. Siswa sangat tahu cara atau langkah-langkah pengerjaan, namun karena kurangnya ketelitian siswa sehingga membuat jawaban siswa menjadi salah. Rata-rata hasil belajar siswa dalam bidang matematika juga sangat rendah
68
apabila dibandingkan dengan mata pelajaran yang lain.
Pemahaman tentang kecemasan
10 dan 11
Guru memang sering mendengar kata kecemasan, namun tidak mengerti secara mendalam arti kecemasan itu sendiri. Menurut guru kecemasan sendiri menggambarkan rasa takut, sebagai contoh siswa menundukkan kepala ketika guru memberikan pertanyaan, kemudian siswa gelisah ketika disuruh maju ke depan kelas untuk mengerjakan soal.
Bagaimana
Usaha yang telah guru dalam menghadapi kesulitan yang ada adalah guru tersebut akan menelusuri terlebih dahulu penyebab terjadinya .kecemasan pada siswa, ataupun kesulitan yang dihadapi siswa ketika mengikuti pembelajaran khususnya matematika, kemudian guru akan membuat inovasi pembelajaran yang baru untuk pembelajaran matematika seperti membuat permainan agar siswa juga tidak merasa bosan dalam mengikuti pembelajaran matematika.
Berdasarkan hasil wawancara dengan narasumber tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa pembelajaran matematika merupakan pembelajaran yang masih dianggap sulit serta menakutkan bagi siswa. Peneliti mengetahui guru sudah memahami pengertian dari kecemasan walaupun tidak mendalam. Guru juga mengungkapkan terdapat 10 siswa yang mengalami kesulitan dalam pembelajaran matematika, mereka kebanyakan hanya diam dalam mengikuti pembelajaran matematika serta menundukkan kepala ketika diberi pertanyaan oleh guru. Selain itu juga, kesepuluh siswa tersebut mendapatkan nilai dibawah rata-rata teman-temanya yang lain. Selain itu juga ketika peneliti melakukan wawancara kepada siswa, terkadang siswa merasa kebingungan dengan materi yang disampaikan oleh guru. Tetapi ketika siswa mau bertanya kepada guru mengenai materi tersebut, siswa merasa takut dan bingung cara menyampaikan pertanyaan tersebut dan siswa memilih untuk diam serta memilih untuk tidak
69
bertanya. Hal ini yang membuat guru sangat membutuhkan skala kecemasan aspek kognitif untuk mengetahui tingkat kecemasan dari siswa.
4.1.1.2 Analisis Kebutuhan
Berdasarkan data yang didapatkan peneliti dari guru kelas IV, tahap selanjutnya yaitu mengumpulkan informasi mengenai 10 siswa yang memiliki kecemasan tersebut. Data atau informasi yang didapatkan oleh peneliti berupa nama siswa, jenis kelamin, daftar nilai matematika hasil ulangan tengah semester yang kemudian hasil informasi yang didapatkan akan dianalisis oleh peneliti.
Hasil dari observasi yang telah dilakukan peneliti yaitu siswa masih merasa kesulitan dalam memahami materi yang disampaikan selain itu ketika materi yang disampaikan sulit dipahami siswa maka siswa kebanyakan diam dan tidak mau bertanya kepada guru. Sehingga membuat guru bingung apakah siswa sudah paham atau belum mengenai materi yang sudah disampaikan oleh guru. Ketika guru memberikan contoh soal kepada siswa, siswa mengerjakan dengan sungguh-sungguh, akan tetapi ketika diperiksa secara bersama-sama, banyak siswa yang masih salah dalam menjawab soal. Hal ini dikarenakan siswa mengerti langkah-langkah pengerjaan soal namun siswa masih kurang teliti dalam menghitung maka dari itu masih ada beberapa siswa yang masih salah dalam menjawab soal yang telah diberikan oleh guru. Untuk melihat daftar nilai matematika pada ujian tengah semester dapat dilihat pada tabel 4.3 dibawah ini.
Tabel 4.3 Nilai Ulangan Tengah Semester
No Nama Matematika
KKM 70
1. FRC 65
2. ALV 60
3. MRT 50
4. MRI 45
70 4.1.2 Perencanaan
Tahap yang kedua dalam penelitian ini adalah tahap perencanaan. Pada tahap ini peneliti merancang sebuah desain produk skala kecemasan aspek kognitif untuk siswa kelas IV SD Kanisius Kalasan. Perencanaan ini berdasarkan hasil identifikasi masalah dan analisis kebutuhan pada subbab sebelumnya. Pada subbab sebelumnya guru mengungkapkan bahwa membutuhkan skala kecemasan aspek kognitif untuk siswa kelas IV sekolah dasar. Maka dari itu peneliti merancang skala yang dilandasi dengan kajian teori yang diuraikan pada bab II dan juga peneliti membuat blue-print skala kecemasan dan instrumen validasi produk
4.1.2.1 Penyusunan Blue-print Skala Kecemasan Aspek Kognitif
Dalam penyusunan blue-print, penyusunan indikator kecemasan yang operasional dan jelas sangatlah penting sebagai acuan utama bagi penulis item dalam pernyataan dalam skala kecemasan. Item yang ditulis berdasarkan indikator yang jelas akan menjadi item yang selaras dengan fungsinya dengan tujuan pengukuran yang dikehendaki dan akan memiliki daya pembeda yang tinggi.
Dimensi atau aspek kecemasan harus menggambarkan atribut yang diukur sebagaimana dikehendaki oleh teori yang mendasarinya. Rumusan dimensi tidak boleh keluar dari lingkup teorinya, dan setiap aspek harus terwakili oleh item-item
5. JSH 65
6. GLB 45
7. VIN 50
8. ELS 40
9. DPN 65
10. WLY 45
71
dalam skala agar objek ukur tersebut tetap utuh. Dengan demikian, item-item dalam skala yang bersangkutan. Menurut (Nevid, 2003: 164) kecemasan dapat dilihat dari tiga aspek yaitu aspek fisik, aspek behavioral dan aspek kognitif, Setiap aspek memiliki indikator kecemasan masing-masing. Indikator-indikator kecemasan dalam setiap aspek dapat dilihat pada tabel 4.4.
Tabel 4.4 Indikator-indikator Kecemasan menurut Nevid
Aspek Indikator
Kognitif
Khawatir tentang sesuatu dimasa yang akan datang Terpaku pada sensasi kebutuhan
Khawatir akan ditinggal sendirian
Berpikir tentang hal-hal yang sama secara berulang-ulang Pikiran terasa bercampur aduk atau kebingungan
Merasa terancam terhadap orang atau peristiwa yang normalnya sedikit atau tidak terdapat perhatian
Ketakutan atau ketidakmampuan menghadapi masalah
Berpikir semuanya sangat membingungkan tanpa bisa dibatasi Tidak bisa menghilangkan pikiran – pikiran terganggu
Khawatir akan ditinggal sendirian Perasaan ketakutan dan terganggu Ketakutan akan kehilangan Sulit berkonsentrasi
Berpikir harus pergi dari keramaian
Keyakinan bahwa sesuatu yang mengerikan akan terjadi tanpa
72 ada penjelasan yang jelas
Terpaku pada sensasi kebutuhan
Berpikir bahwa dunia akan mengalami keruntuhan Berpikir bahwa harus kabur dari keramaian
Berpikir akan segera mati
Sulit berkonsentrasi dan memfokuskan pikiran
Dari tabel di atas dimaksudkan untuk menjelaskan hubungan antara aspek dan indikator yang mengacu kepada atribut yang akan diuji dalam perancangan skala. Peneliti tidak menggunakan tujuh indikator yang ada dalam penyusunan produk skala kecemasan aspek kognitif. Peneliti memilih indikator yang sesuai dengan karakteristik siswa yang yang sesuai dengan karakteristik siswa yang akan diukur dan mendukung aspek kognitif siswa. Setelah peneliti menentukan indikator kecemasan selanjutnya akan diukur menggunakan blue print.
Penyusunan skala kecemasan aspek kognitif kelas IV sekolah dasar. Blue-print penyusunan skala kecemasan untuk siswa kelas IV sekolah dasar dapat dilihat
Penyusunan skala kecemasan aspek kognitif kelas IV sekolah dasar. Blue-print penyusunan skala kecemasan untuk siswa kelas IV sekolah dasar dapat dilihat