• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III KEWENANGAN PEJABAT YANG MENERBITKAN SURAT

A. Wewenang dan Tanggung Jawab Notaris dalam Menerbitkan

A. Wewenang dan Tanggung Jawab Notaris dalam Menerbitkan Surat Keterangan Ahli Waris

Bentuk Surat Keterangan Waris dalam praktek tidak terdapat standarisasi bentuk, ada Notaris yang membuat dalam bentuk minuta (secara otentik) dan sebahagian besar menurut kebiasaan membuatnya dalam bentuk akta di bawah tangan. Oleh karena itu seorang Notaris harus mempunyai pengetahuan yang luas dalam membuat surat keterangan waris dan harus memperhatikan syarat-syarat yang diperlukan agar di kemudian hari tidak terjadi kesalahan yang dapat merugikan para ahli waris dan Notaris.85

Sebelum surat keterangan hak waris diterbitkan, Notaris wajib terlebih dahulu melakukan pengecekan ke Daftar Wasiat mengenai ada tidaknya wasiat yang ditinggalkan oleh pewaris semasa hidupnya. Hal ini sangat penting untuk menentukan siapa-siapa saja yang menjadi ahli waris dari sipewaris berdasarkan keinginan terakhirnya, dan hal ini sangat berpengaruh terhadap bahagian ataupun porsi dari masing-masing ahli waris. Adapun prosedur pembuatan surat keterangan waris yang dilakukan Notaris adalah sebagai berikut : 86

1. Notaris meminta surat permohonan dari pemohon/ahli waris atau kuasa di atas materai;


2. Meminta surat kematian dari pewaris; 


3. Melakukan pengecekan wasiat ke pusat daftar wasiat, apakah pewaris

85Wawancaradengan Novia K, NotarisKabupaten Deli Serdang, 30 November 2017

86Wawancaradengan Rosa, NotarisPengganti Kota Medan, 29 November 2017

pernah 
membuat wasiat atau tidak, hal ini erat kaitannya dengan pembagian warisan apakah dialakukan dengan cara ab-intestato atau testamentair agar terhindar dari konflik; 


4. Notaris membuat surat keterangan hak waris.



Surat keterangan waris yang selama ini yang dibuat oleh Notaris merupakan terjemahan dari Verklaring Van Erfrecht, bahwa Verklaring atau Verklarend mempunyai dua pengertian, yang pertama berarti menerangkan atau menjelaskan, keterangan, dan kedua berarti menyatakan, mendeklarasikan atau menegaskan. Verklaring dalam arti menerangkan, merupakan pemberian keterangan dan tidak mengikat secara hukum siapapun, baik yang memberikan keterangan maupun yang menerima keterangan. Sedangkan dalam arti sebagai menyatakan berarti penjelasan dalam arti khusus dan mengikat secara hukum bagi yang menerima pernyataan dan bagi mereka yang tidak menerima pernyataan tersebut wajib untuk membuktikan secara hukum. 87

Dapat diartikan jika ada pihak lain yang tidak setuju dengan pernyataan yang dibuat silakan mengajukan keberatan. Verklaring Van Erfrecht harus dibaca sebagai pernyataan atau keterangan dari para ahli waris sebagai ahli waris yang berupa pernyataan (pihak/para pihak) sebagai ahli waris. Sehingga jika ada yang tidak setuju dengan isi akta pernyataan atau keterangan sebagai ahli waris silahkan mengajukan keberatan kepada ahli waris yang bersangkutan, bukan kepada Notaris.

Dalam peraturan perundang-undangan Republik Indonesia tidak ada

87 R. Wirjono, Prodjodikoro, HukumWarisan Indonesia, (Bandung :Sumur, 1991), hal. 23

peraturan tegas secara khusus mengatur tentang keterangan hak waris, terutama keterangan hak waris yang dibuat oleh para Notaris di Indonesia.

Notaris membuat surat keterangan waris berdasarkan suatu kebiasaan dari notaris-notaris jaman kolonial Belanda terdahulu yang membuat surat keterangan waris atas dasar undang-undang terdahulu. Apabila dikronologikan peraturan-peraturan terkait wewenang notaris dalam membuat surat keterangan waris dari dahulu sampai saat ini, maka dapat didapati sebagai berikut88:

a. Wet Op Het Notarisambt

Adalah undang-undang jabatan notaris yang berlaku di Belanda yang diundangkan pada juli 1842, mengenai surat keterangan waris terdapat pada Pasal 38 ayat (2) yang diterjemahkan Tan Thong Kie secara bebas sebagai berikut:89

Menentukan bahwa seorang notaris yang biasanya diharuskan membuat akta-akta dengan minuta, dibebaskan dari kewajiban tersebut apabila membuat akta-akta tertentu. Termasuk dalam akta-akta yang disebut terakhir ini adalah Verklaring van erfreght.

Secara lebih detail, Djoko Soepadmo menerjemahkan sebagai berikut:90

“dari kewajiban ini dikecualikan akta pengumuman perkawinan (huwelijks aankondinging) persetujuan untuk kawin, kenal diri, dari volmacht of magtiging (kuasa atau ijin), keterangan tentang pemilikan atau keterangan

88Lop.cit, R.M. Henky Wibawa Pramana, hal. 8-14.

89Tan Thong Kie, Studi Notariat Serba-Serbi Praktek Notaris, Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, 2011, hlm. 565.

90Djoko Soepadmo, Seri A-I Bagian Kedua Ketentuan-Ketentuan dan Komentar

mengenai Hukum Waris Dalam Praktek Teknik Pembuatan Akta, Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1996, hlm 357-358.

tentang hidup seseorang, van erfect (keterangan hak mewarisi), penghapusan penawaran pembayaran hutang dari protes, persetujuan untuk penghapusan atau pengurangan ikatan-ikatan hipotik atau pemberatan mengenai dan mengenai balik nama, mengenai proses verbal tentang pembeslahan dari benda-benda tidak bergerak dan kapal-kapal dalam register-register umum tentang hak-hak mengenai eigendom (opebare eigendom register), perubahan tentang pemilikan domicile dari pendaftaran hipotek, mengenai pemilikan domicile dari pendaftaran hipotek, mengenai persewaan rumah dan tanah-tanah apabila harga sewanya tidak lebih dari 50 tahun dan akta-akta lainnya yang pengeluarannya diperbolehkan dalam originali yang ditetapkan oleh undang-undang khusus.”

b. Reglement Op Het Notarisambt

Dari wet op het notarisambt di negeri Belanda, diberlakukan konkordansi di Indonesia dalam reglement op het Notarisambt (Peraturan Jabatan Notaris) tanggal 11 Januari 1860 (stbl. 1860-3) atau disingkat menjadi PJN, yaitu dalam Pasal 35. Namun, dalam pasal tersebut tidak sama persis dengan wet op het Notarisambt, kata-kata verklaring van erfrecht tidak turut dicantumkan. G.H.S. Lumban Tobing menerjemahkan sebagai berikut:91

“dari kewajiban ini dikecualikan akta persetujuan kawin, kenal diri, kuasa, keterangan pemilikan atau keterangan hidup seseorang, kwitansi uang sewa dan uang upah, bunga atau pensiun, protes, penawaran pembayaran, izin mencoret atau pengurangan akta hipotek dan akta-akta sederhana lainnya,

91G.H.S. Lumban Tobing, Peraturan Jabatan Notaris-Notaris Reglement, Erlangga, Jakarta, 1999, hlm. 228.

darimana pengeluaran dalam originali diperkenankan menurut undang-undang.”

Dari terjemahan tersebut nampak jelas bahwa dalam Pasal 35 Peraturan Jabatan Notaris tidak mengatur tentang surat keterangan waris (verklaring van erfrecht).

c. Grootbroeken der Nationale Schuld

Pada tahun 1913 Negeri Belanda mengeluarkan undang-undang yang bernama de Wet op de Grootboeken der Nationale Schuld yang ada mengatur tentang bentuk dan isi dari verkraing van erfreecht, Pasal 14 dari de Wet op de Grootboeken der Nationale Schuld antara lain berbunyi : 92

1. Para ahli waris seseorang yang mempunyai suatu hak terdaftar dalam buku- buku besar hutang-hutang nasional harus membuktikan hak mereka dengan suatau keterangan hak waris setelah kematian pewaris dibuktikan;

2. Keterangan hak waris harus memuat data-data berikut :
 a. Nama, nama kecil serta tempat tinggal terakhir pewaris;

b. Nama, nama kecil, tempat tinggal dan jika masih di bawah umur, tanggal dan tahun kelahiran mereka yang mendapat hak dengan menyebutkan bagian mereka menurut undang-undang dan surat wasiat atau surat pemisahan dan pembagian (boedelscheiding); 


c. Sedapat mungkin nama, nama kecil dan tempat tinggal wakil anak-anak di bawah umur (yaitu wali, pemegang kekuasaan orang tua), termasuk para pengurus khusus (bewindvoerder); 


92Ibid, hal. 56

d. Suatu perincian tetap surat wasiat, atau dalam hal pewarisan menurut undang-undang, hubungan antara pewaris dan para ahli waris, yang menjadi dasar diperolehnya hak itu; 


e. Semua pembatasan yang ditentukan oleh pewaris terhadap hak untuk memindahtangankan apa yang diperoleh, dengan menyebut nama, nama kecil dan sedapat mungkin tempat tinggal mereka yang boleh menerimanya dan mereka yang harus membantunya apabila pemindahtangan harus dilakukan; 


f. Suatu pernyataan pejabat yang membuat keterangan hak waris bahwa dia telah meyakinkan diri atas kebenaran dari apa yang ditulisnya; 


3. Jika warisan itu terbuka dalam negeri ini (Negeri Belanda), keterangan hak waris dibuat oleh seorang Notaris. Akta yang dibuat dari keterangan itu harus dikeluarkan in originali;

4. Jika warisan itu terbuka di wilayah jajahan atau di luar negeri, keterangan hak waris harus dibuat oleh seseorang pejabat yang berwenang di wilayah atau negeri itu; 


5. Dokumen-dokumen untuk membuktikan fakta-fakta tertulis di dalam keterangan itu harus dilampirkan dengan keterangan hak waris; 


6. Para penerima hibah wasiat harus membuktikan hak mereka dengan cara yang sama seperti ahli waris. Disamping itu mereka harus pula membuktikan bahwa hibah wasiat itu telah diserahkan kepada mereka sesuai degan Pasal 1006 N.B.W (Pasal 959 ayat 1 BW) atau bahwa para ahli waris dan para legimaris mengakui hak mereka;

Singkatnya, keterangan hak waris harus memuat hal-hal sebagai berikut : 1. Nama lengkap dan alamat terakhir pewaris; 


2. Nama lengkap dan tempat tinggal para ahli waris, kalau ada ahli waris yang 
belum dewasa sedapat mungkin dicatat hari dan tahun kelahirannya; 


3. Ada tidaknya pewaris meninggalkan surat wasiat; 


4. Disebutkan hak bagian dari para ahli waris; 


5. Nama lengkap dan alamat lengkap para wakil; 


6. Penyebutan dasar hubungan pewaris dengan ahli waris; 


7. Semua pembatasan kewenangan yang diamatkan oleh pewaris dan mereka 
yang terkena pembatasan; 


8. Suatu pernyataan dari pejabat yang membuat akta bahwa ia yakin akan kebenaran semua yang termuat di dalamnya.

Dari ketentuan di atas dapat disimpulkan bahwa keterangan hak waris tidak perlu memuat keterangan lain dari pada yang disebutkan di atas. Keterangan hak waris menyebutkan peristiwa-peristiwa yang menyangkut diri pewaris yang tidak relevan untuk menentukan ahli waris, pewaris, dan pembagian warisan.

Adanya dasar hukum tersebut di atas, para Notaris di negeri Belanda membuat keterangan waris secara leluasa atas permintaan yang berkepentingan.

Masyarakat di negeri itu memberi penghargaan yang tinggi kepada keterangan hak waris tersebut, khususnya karena dibuat oleh seorang Notaris yang dianggap

ahli dalam hukum waris.93

Bahkan di Belanda para Notaris menjalankan fungsinya yang mirip dengan hakim. Telah menjadi suatu kenyataan bahwa Notaris yang baik sering berhasil mencegah dibawanya suatu sengketa ke pengadilan, khususnya dalam hal penyelesaian urusan warisan. Di Negeri Belanda sedikit sekali terjadi perkara dalam bidang warisan berkat pekerjaan yang efektif dan bersifat mendamaikan yang dilakukan oleh Notaris.94

Kebiasaan membuat keterangan hak waris serta kepercayaan masyarakat tersebut dibawa oleh penjajahan ke Indonesia. Keadaan di negeri jajahan memungkinkan diterimanya kebiasaan ini tanpa suatu peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan khusus untuk Indonesia.

Yang patut menjadi perhatian adalah wet op de Grootboeken der Nationale schuld adalah undang-undang yang berlaku di Belanda pada waktu itu, memang pengaturan mengenai keterangan waris yang jelas terdapat pada undang-undang ini, namun tidak pernah undang-undang ini diberlakukan pada Hindia Belanda / Indonesia pada masa lampu, tidak pernah undang-undang ini dibuat dalam bentuk reglement atau peraturan yang berlaku pada daerah jajahan.

d. Surat Edaran Departemen Dalam Negeri Direktorat Jenderal Agraria Tanggal 20 Desember 1969 Nomor Dpt/12/63/12/69 tentang Surat Keterangan Warisan dan Pembuktian Kewarganegaraan

93Oe Siang Djie, Tentang Surat Keterangan Waris,(Media Notariat, Nomor 18-19, Tahun VI, Edisi Januari-April 1991), hal 157.

94Ibid, hal. 159

Pada tanggal 20 Desember 1969 muncul Surat Edaran Departemen Dalam Negeri Direktorat Jenderal Agraria Tanggal 20 Desember 1969 Nomor Dpt/12/63/12/69, pokok suratnya mengenai surat keterangan warisan dan pembuktian kewarganegaraan. Dalam isi surat ini disebutkan bahwa untuk golongan keturunan Tionghoa, surat keterangan waris dibuat oleh notaris.

Disebutkan pula dalam isi surat tersebut bahwa penunjukkan pejabat yang berwenang untuk membuat surat keterangan waris bersumber pada golongan-golongan penduduk dan memang belum ada suatu peraturan tertentu yang mengatur siapa yang berwenang untuk membuat surat keterangan waris.

Ketentuan pembagian penggolongan penduduk memang masih berlaku pada saat diberlakukannya Surat Edaran Departemen Dalam Negeri Direktorat Jenderal Agraria Tanggal 20 Desember 1969 Nomor Dpt/12/63/12/69 tentang Surat Keterangan Warisan dan Pembuktian Kewarganegaraan, hal tersebut dikarenakan adanya Pasal II Undang-Undang Dasar 1945 bagian aturan peralihan, yaitu :

“Segala badan negara dan peraturan yang masih ada langsung berlaku, selama belum diadakan yang baru menurut Undang-Undang Dasar ini”

e. Pasal 42 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah jo. Pasal 111 ayat (1) huruf c angka 4 Peraturan Menteri Negara Agraris / Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah

PP Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah mengatur mengenai peralihan hak karena pewarisan dalam Pasal 42, dalam pasal 42 ayat (1) disebutkan juga dokumen-dokumen yang diperlukan untuk kepentingan pendaftaran peralihan hak karena pewarisan yang salah satunya adalah surat keterangan waris.

Peraturan Menteri Negara Agraria / Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah, pada Pasal 111 ayat (1) huruf c, mengatur lebih lanjut ketentuan penggunaan surat keterangan warsi sebagai salah satu dokumen yang digunakan dalam proses pendaftaran tanah yang terjadi karena pewarisan dalam Pasal 42 PP Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah:

a. Bagi warga negara Indonesia penduduk asli : surat keterangan ahli waris yang dibuat oleh para ahli waris dengan disaksikan oleh 2 (dua) orang saksi dan dikuatkan oleh Kepala Desa/Kelurahan dan Camat tempat tinggal pewaris pada waktu meninggal dunia.

b. Bagi warga negara Indonesia keturunan Tiongha : akta keterangan hak mewaris dari notaris.

c. Bagi warga negara Indonesia keturunan Timur Asing lainnya : surat keterangan waris dari Balai Harta Peninggalan.

Pengaturan prosedur pembuatan surat keterangan waris dalam Peraturan Menteri Agraria / Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah pada Pasal 111 ayat (1) huruf c, sekali lagi menggunakan

sistem pembagian warga negara Indonesia dalam golongan-golongan tertentu layaknya pembagian golongan pada masa kolonial Belanda yang diatur dalam Pasal 131 IS dan Pasal 163 IS.

f. Undang-undang Nomor 30 Tahun 2004 juncto Undang-undang Nomor 2 Tahun 2014

UU Nomor 30 Tahun 2004 juncto UU Nomor 2 Tahun 2014 tentang Jabatan Notaris adalah undang-undang yang mengatur tugas, fungsi, kewenangan maupun larangan yang dimiliki notaris.

Kewenangan notaris diatur dalam Pasal 15 UU Nomor 30 Tahun 2004 juncto UU Nomor 2 Tahun 2014 tentang Jabatan Notaris, namun dalam pasal tersebut tidak ditemui adanya ayat yang menyebutkan bahwa notaris memiliki wewenang untuk membuat surat keterangan waris. Memang di ayat ketiga (3) disebutkan bahwa notaris juga memiliki kewenangan lain yang diatur dalam peraturan perundang-undangan.

Pasal 1 angka 2 UU Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan menyebutkan bahwa peraturan perundang-undangan adalah :

“Peraturan tertulis yang memuat norma hukum yang mengikat secara umum dan dibentuk atau ditetapkan oleh lembaga negara atau pejabat yang berwenang melalui prosedur yang ditetapkan dalam Peraturan Perundang-Undangan.”

Adapun jenis peraturan perundang-undangan diatur dalam Pasal 7 ayat (1) UU Nomor 12 tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan

Perundang-Undangan dan dari enam macam jenis peraturan perundang-undangan dalam pasal tersebut tidak termasuk surat keputusan menteri di dalamnya maupun peraturan menteri, maka Surat Edaran Departemen Dalam negeri Direktorat Jenderal Agraria Tanggal 20 Desember 1969 Nomor Dpt/12/63/12/69 tentang Surat Keterangan Warisan dan Pembuktian Kewarganegaraan maupun Peraturan Menteri Negara Agraris / Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1977 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran tanah, bukanlah peraturan perundang-undangan yang dimaksud dalam Pasal 15 ayat (3) UU Nomor 3Tahun 2004 juncto UU Nomor 2 Tahun 2014 tentang Jabatan Notaris.

Suatu kewenangan haruslah bersumber dari suatu peraturan perundag-undangan baik diperoleh dengan cara atribusi, delegasi maupun mandat. Hal ini sesuai dengan pendapat dari R.J.H.M. Huisman, bahwa kewenangan hanya diberikan oleh undang-undang.

“Pembuat undang-undang dapat memberikan wewenang tidak hanya kepada organ pemerintahan, tetapi juga terhadap para pegawai atau terhadap badan khusus atau bahkan badan hukum privat.95 Setiap perbuatan pemerintahan diisyaratkan harus bertumpu atas kewenangan yang sah.

Kewenangan yang sah adalah kewenangan yang berdasarkan pada suatu undang-undang. Hal ini merupakan suatu asas legalitas. Asas legalitas merupakan dasar dalam setiap penyelenggaraan kenegaraan dan

95Ridwan HR, Hukum Administrasi Negara, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2006, hlm. 103.

pemerintahan. Setiap penyelenggaraan kenegaraan dan pemerintahan harus memiliki legitimasi, yaitu kewenangan yang diberikan oleh undang-undang.96

Dengan demikian, maka sampai saat ini kewenangan notaris dalam membuat surat keterangan waris tidaklah dilandasi oleh suatu peraturan undang-undang. Suatu tindakan pejabat umum untuk membuat alat bukti keperdataan seseorang yang di dalamnya menerangkan tentang siapa saja yang berhak atas suatu harta warisan yang terbuka, beserta berapa saja bagian-bagiannya. Namun merupakan tindakan yang tidak sesuai dengan asas legalitas.

Keterangan hak waris adalah salah satu dari alat bukti bagi pihak yang berkehendak membuktikan haknya atas harta peninggalan pewaris terhadap pihak ketiga, akan tetapi hanya sebagai alat bukti permulaan saja. Yang penting bagi pihak ketiga adalah bahwa ia dengan itikad baik sepatutnya dapat dipercaya, bahwa surat keterangan hak waris sebagai surat bukti yang dipergunakan tersebut membutikan kebenaran.

Perbuatan keterangan hak waris oleh seorang Notaris bagi orang-orang yang tunduk pada Kitab Undang-Undang Hukum Perdata tidak ada dasar hukumnya dalam hukum tertulis yang berlaku di Indonesia.97

Pembuatan surat keterangan hak waris di Indonesia tidak mempunyai dasar hukum positif, walaupun dibuat oleh seorang Notaris, surat keterangan hak waris di Indonesia tetap tidak mempunyai kekuatan sebagai alat pembuktian

96Ibid, hlm 100.

97Ting Swan Tiong, Pembuktian Hak Atas Harta Peninggalan, (Media Notariat Nomor 6-7, April 1988), hal. 115.

otentik.98

Selama ini surat keterangan waris untuk etnis/golongan penduduk Eropa, Cina/Tionghoa, Timur Asing (kecuali orang arab yang beragama Islam) tidak mempunyai landasan hukum (berdasarkan hukum positif) sama sekali, tetapi tindakan hukum tersebut hanya merupakan kebiasaan Notaris sebelumnya yang kemudian diikuti oleh Notaris berikutnya apa adanya, tanpa mengkaji lebih lebih jauh kewenangan Notaris untuk membuat SKW.

Menurut Rosa, wewenang notaris membuat Surat Keterangan Waris tidak disebutkan dalam Undang-undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Jabatan Notaris karena UUJN hanya mengatur tentang wewenang notaris membuat akta otentik, sedangkan Surat Keterangan Waris bukan akta otentik melainkan akta di bawah tangan sehingga wewenang notaris untuk membuatnya tidak perlu diatur dalam undang-undang. Wewenang notaries membuat Surat Keterangan Waris tidak disebutkan dengan jelas dan UUJN karena selain Surat Keterangan Waris bukan akta otentik, juga disebabkan sejak jaman dahulu Surat Keterangan Waris selalu dibuat oleh notaris dan bukan pejabat lain yang berwenang untuk membuatnya seperti hakim, sehingga dasar pembuatan Surat Keterangan Waris oleh notaris adalah hukum kebiasaan yang berlaku selama ini di bidang notariat. 99

Wewenang untuk membuat akta di bawah tangan tidak perlu diatur dalam UUJN karena setiap orang dapat membuatnya termasuk Notaris. Hal tersebut disebabkan kekuatan akta di bawah tangan tidak sama dengan akta otentik dalam hal pembuktian di pengadilan. Wenang notaris membuat Surat Keterangan Waris

98Oe Siang Djie, Op. Cit, hal 160.

99Wawancaradengan Rosa, NotarisPengganti Kota Medan, tanggal 29 November 2017

sudah termasuk dalam wewenang yang disebut dalam Pasal 15 ayat 1 UUJN dalam kategori “semua perbuatan dan ketetapan”. Hal tersebut disebabkan pembuatan Surat Keterangan Waris dibuat dalam rangka membuat akta otentik lainnya, jadi sebagai bagian tidak terpisahkan dari pembuatan akta otentik yang menjadi wewenang dan tugas utama seorang notaris. Tidak disebutkannya Surat keterangan Waris sebagai salah satu jenis akta yang dapat dibuat oleh notaris, tidak menggugurkan wewenang notaris untuk membuat Surat Keterangan Waris karena selama ini dalam praktik tidak ada pejabat umum lainnya yang diberi wewenang secara tegas oleh undang-undang untuk membuat Surat Keterangan Warisan.

Berdasarkan penjelasan sepuluh notaris responden yang diwawancarai, bahwa wewenang notaris untuk membuat Surat Keterangan Waris tidak termasuk wewenang notaris yang diatur dalam Undang-Undang Jabatan Notaris disebabkan Surat Keterangan Waris merupakan akta di bawah tangan sedangkan Undang-Undang Jabatan Notaris mengatur wewenang notaris dalam membuat akta otentik sehingga dasar wewenang notaris membuat akta otentik adalah hukum kebiasaan yang dianut sejak penjajahan Belanda.

B. Surat Keterangan Ahli Waris bagi Warga Negara Indonesia yang