DALAM UPAYA PEMBENTUKAN AKHLAK
PESERTA DIDIK DI SEKOLAH
(Study Mata Pelajaran Akidah Akhlak di Mts Miftahul Amal )
Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Untuk Memenuhi Syarat Mencapai Gelar Sarjana
Pendidikan
Oleh :
MUHAMMAD NAZI
NIM 208011000020
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
ABSTRAK
Pentingnya Interaksi Edukatif Pendidik (Guru) Dalam Upaya Pembentukan Akhlak Peserta Didik di Sekolah (Study Mata Pelajaran Akidah Akhlak di MTs Miftahul Amal)
Kata Kunci : Interaksi Edukatif dalam proses pembelajaran, dalam upaya
pembentukan akhlak.
Permasalahan yang diangkat dalam penulisan skripsi ini adalah :(1) Bagaimana interaksi edukatif yang berlangsung di sekolah (2) Sejauh manakah pentingnya interaksi edukatif terhadap pembentukan akhlak peserta didik di sekolah. Adapun dari sekian
mata pelajaran yang diajarkan di sekolah, peneliti hanya membatasi pada mata
pelajaran akidah akhlak
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah : (1) untuk mengetahui bagaimana interaksi edukatif yang berlangsung di sekolah MTs Miftahul Amal, dan (2) untuk mengetahui sejauh manakah pentingnya interaksi edukatif terhadap pembentukan akhlak peserta didik di sekolah
MTs Miftahul Amal
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif analisis, yang dilakukan untuk mengetahui bagaimana interaksi edukatif yang berlangsung di sekolah MTa Miftahul Amal, dan untuk mengetahui sejauhmanakah pentingnya interaksi edukatif terhadap pembentukan akhlak pesertadidik di sekolah MTs Miftahul Amal
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa interaksi
edukatif di MTs Miftahul Amal berlangsung dengan sangat baik antara guru dengan
peserta didik maupun peserta didik dengan peserta didik yang lain. Karena guru
senantiasa menggunakan keterampilan dalam setiap proses belajar mengajarnya.
Sehingga interaksi edukatif dapat mempengaruhi akhlakul karimah peserta didik
The important of educator educative intruction (teacher) to effort establishment of students character or moral in school (Akidah Akhlak Subject in MTs Miftahul ‘Amal)
Key word: educative intruction on processing theory, to effort establishment of students
caracter or moral.
The problem that raised on this scrip are : (1) how to educative intruction that takes place in
school. (2) how far the important of educative intruction to establish students character or
moral in school. From of all the subjects that taught in school, researcher limites Akidah
Akhlak subject only.
Perpose of this research are: (1) to know how to educative intruction that took place in MTs
Mifthul ‘Amal school, (2) and to know how far the important of educative intruction to
ebstablish the character or moral in MTs Mifthul ‘Amal school the method that used on researching is analysis educative. It’s done to know how far the importance that took place in MTs Mifthul ‘Amal school, and to know how far importance of educative intruction to
establish character or moral students in Miftahul ‘Amal school.
Based on the result that have done shows that educate intruction in MTs Mifthul ‘Amal
school was running well between the teacher with the student and the other way. Because the
teacher always used the skills in every teaching-learning process. Therefor the educative
intruction was able to influence to students character or moral whether inside the class even
KATA PENGANTAR
ميحَّلا نٰمحَّلا هٰللا مسب
Puji syukur bagi Allah SWT. Yang telah memberikan pertolongannya dan
telah melimpahkan kekuatan lahir dan batin kepada diri penulis, sehingga setelah
melalui proses yang cukup panjang, pada akhirnya penulisan skripsi ini dapat
terselesaikan. Sholawat serta salam semoga tetap tercurah kepada Nabi Muhammad
SAW beserta keluarga dan para sahabatnya demikian pula para pengikutnya yang
setia mengikuti jejak Rosulullah SAW.
Selanjutnya penulis mengucapkan rasa terimakasih yang takterhingga kepada
pihak-pihak yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam terselesainya
skripsi ini, diantaranya adalah:
1. Ibu, bapak dan adikku tercinta yang selalu memberikan dukungan moril
maupun materil selama menuntut ilmu dari awal hingga akhir. Terima kasih
yang tak terhingga atas semua pengorbanan, cinta, kasih sayang dan do’anya.
2. Nurlena Rifai, Ph.D Selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
UIN Syarif Hidayatullah.
3. Dr. Abdul Majid Khon, MA.g Selaku ketua jurusan Pendidikan Agama Islam
Uin Syarif Hidayatullah.
4. Marhamah Saleh, Lc,. MA. Selaku wakil ketua Jurusan Pendidikan Agama
Islam Uin Syarif Hidayatullah
5. Drs. H.Masan Af, M.pd Selaku dosen pembimbing yang telah mencurahkan
pikiran, mengikhlaskan waktu dan tenaganya untuk memberikan motivasi
6. Bapak dan ibu dosen fakultas ilmu tarbiyah dan keguruan yang telah
memberikan ilmunya kepada penulis, semoga bapak dan ibu dosen selalu
dalam lindungan Allah Swt. Dan apa-apa yang diajarkan dapat bermanfaat
dikemudian hari.
7. Seluruh staf perpustakaan Uin Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah
mencurahkan tenaganya untuk memberikan pelayanan terbaik, sehingga
penulis dapat menjalankan studi dengan lancar.
8. Drs.Sarbinih Kepala Sekolah MTS Miftahul Amal beserta guru-guru yang
tidak bisa disebutkan satu persatu.
9. Teman-temanku mahasiswa UIN Khususnya jurusan Pendidikan Agama
Islam angkatan 2008, teman-teman dekatku Anisatul Hikmah, Muhamad
Fachrurozi S.Pd.I, Bangun parlindungan, Siti Masitoh, Jumarudin, yang
selalu memberikan support semangat, motivasi kepada penulis. Semoga Allah
Swt membalas dengan balasan yang lebih sempurna.
10.Segenap sahabat dan semua pihak yang telah banyak memberikan dukungan
yang tidak dapat disebutkan satu persatu, semoga Allah Swt membalaskan
kalian dengan sebaik-baikbalasan. Amin..
11.Guru Besar Yayasan perguruan al-Hikmah, Ustadz Syahrul Arif dan Guru
besar PPS lekap bang Budi Joesak Kurniawan yang telah memberikan
motivasi dan semangat kepada penulis.
Jakarta, 23 September 2013
Penulis
DAFTAR ISI
Abstrak ... i
Kata Pengantar ... ii
Daftar Isi ... iv
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Identifikasi Masalah ... 6
C. Pembatasan Masalah ... 6
D. Rumusan Masalah ... 7
E. Tujuan dan Keguanaan Penelitian ... 7
BAB II KAJIAN TEORI ... 9
A. Interaksi Pendidik (Guru) pada Peserta didik ... 9
1.Pengertian Interaksi Edukatif ... 10
2.Peran Guru Profesional dalam Proses Pembelajaran... 12
3.Interaksi Belajar Mengajar Sebagai Interaksi Edukatif ... 13
4.Konsep Keterampilan Mengajar Akidah Akhlak sebagai Wujud Interaksi Edukatif ... 20
5.Ciri-ciri Interaksi Edukatif ... 27
B. Pembentukan Akhlak Peserta didik ... 29
1. Pengertian Akhlak ... 29
2. Proses Pembentukan Peserta didik berakhlak mulia ... 38
3. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pembentukan Akhlak Pesertadidik ... 38
C. Hasil Penelitian Yang Relevan ... 39
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 42
B. Latar Penelitian ... 49
C. Metode Penelitian ... 49
D. Prosedur dan Pengolahan Data ... 50
E. Analis Data ... 57
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 58
A. Deskripsi Data ... 58
1. Sejarah Berdirinya MTs Miftahul Amal ... 58
2. Tujuan Pendidikan di MTs Miftahul Amal ... 63
3. Sarana dan Prasarana ... 63
4. Keadaan Peserta didik ... 65
B. Pembahasan ... 65
1. Tahap Penyusunan RPP Guru Mata Pelajaran Akidah Akhlak 67 2. Kegiatan Inti Pembelajaran ... 81
3. Kegiatan Akhir Pembelajaran ... 85
4. Keterampilan Dasar Mengajar Guru Akidah Akhlak ... 86
BAB V KESIMPULAN IMPLIKASI DAN SARAN.. ... 89
A. Kesimpulan ... 89
B. Implikasi ... 90
C. Saran ... 91
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Manusia adalah makhluk individu dan makhluk sosial. Dalam hubungannya
dengan manusia sebagai makhluk sosial, terkandung suatu maksud bahwa
manusia bagaimanapun juga tidak dapat terlepas dari individu yang lain. Secara
kodrati manusia akan selalu hidup bersama. Hidup bersama antara manusia akan
berlangsung dalam berbagai bentuk komunikasi dan situasi. Dalam hidup
semacam inilah terjadi interaksi. Dengan demikian kegiatan hidup manusia akan
selalu dibarengi dengan proses interaksi atau komunikasi , baik interaksi dengan
alam lingkungan, interaksi dengan sesamanya, maupun interaksi dengan
Tuhannya, baik itu disengaja maupun tidak disengaja.
Dari berbagai bentuk interaksi, khususnya mengenai interaksi yang disengaja,
ada istilah interaksi edukatif. Interaksi edukatif ini adalah interaksi yang
berlangsung dalam suatu ikatan untuk tujuan pendidikan dan pengajaran. Oleh
karena itu interaksi edukatif perlu dibedakan dari bentuk interaksi yang lain.
interaksi belajar-mengajar Dengan kata lain apa yang dinamakan interaksi
edukatif, secara khusus adalah sebagai interaksi belajar-mengajar”.1
Interaksi belajar-mengajar mengandung suatu arti adanya kegiatan interaksi
dari tenaga pengajar yang melaksanakan tugas mengajar di satu pihak, dengan
warga belajar (siswa/peserta didik/subjek belajar), yang sedang melaksanakan
kegiatan belajar di pihak lain.
Guru dan peserta didik memang dua figur manusia yang selalu hangat
dibicarakan dan tidak akan pernah absen dari agenda pembicaraan masyarakat.
Guru tidak hanya disanjung dengan keteladanannya, tetapi ia juga dicaci-maki
dengan sinis hanya karena kealpaanya berbuat kebaikan, meski kesalahan itu bak
setitik noda semata. Keburukan perilaku peserta didik cenderung diarahkan pada
kegagalan guru membimbing dan membina peserta didiknya. Padahal warna
perilaku peserta didik yang buruk, itu dapat terkonsumsi dari
multisumber/berbagai faktor.
Guru dan peserta didik adalah frase yang serasi, seimbang dan harmonis.
Hubungan keduanya berada dalam relasi kewajiban yang saling membutuhkan.
“Dalam perpisahan raga, jiwa mereka bersatu sebagai dwitunggal, guru mengajar dan peserta didik belajar dalam proses interaksi edukatif yang menyatukan
langkah mereka kesatu tujuan yaitu kebaikan”. Dengan demikian kemuliannya
guru dapat meluruskan pribadi peserta didik yang dinamis agar tidak membelok
dari kebaikan2
Guru sebagai pengajar memiliki tugas memberikan fasilitas atau kemudahan
bagi suatu kegiatan belajar siswa. Demi efektivitas dan efesiensi dari suatu proses
belajar-mengajar, untuk itu perlu dipahami secara benar mengenai pengertian
proses dan interaksi belajar-mengajar.
Belajar dan mengajar adalah dua kegiatan yang tunggal tetapi memang
memiliki makna yang berbeda. Belajar diartikan sebagi suatu perubahn tingkah
laku karena hasil dari pengalaman yang diperoleh. Sedangkan mengajar adalah
1
Sardirman, Interaksi dan Motivasi belajar mengajar, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2000), Cet. 7, h. 1
2
kegiatan penyediaan kondisi yang merangsang serta mengarahkan kegiatan belajar
siswa untuk memperoleh ilmu pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang
dapat membawa perubahan tingkah laku maupun perubahan serta kesadaran diri
sebagai pribadi.
Permasalahan yang sering nampak pada saat sekarang ini adalah masih
banyak terdapat bentuk interaksi belajar-mengajar yang berjalan secara searah
yang dilakukan oleh guru-guru di sekolah. Dalam hal ini fungsi dan peranan guru
menjadi amat dominan. Di lain pihak peserta didik hanya mendengarkan
informasi atau pengetahuan yang diberikan gurunya, tanpa diberikan kesempatan
untuk bertanya, atau mengemukakan pendapatnya di kelas, Ini menjadikan
kondisi yang tidak proporsional dan guru sangat aktif, tetapi sebaliknya peserta
didik menjadi pasif dan tidak kreatif. Bahkan kadang-kadang masih ada anggapan
yang keliru, bahwa peserta didik dipandangnya sebagai objek, sehingga peserta
didik kurang dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya.
Praktek- praktek pengajaran seperti itu, di mana guru lebih mendominasi
dalam kegiatan pembelajaran masih banyak terjadi, dan bahkan guru sepertinya
memiliki otoritas untuk memaksa peserta didiknya memenuhi semua yang
diinginkanya. “Dengan kurang bijak memperhatikan kebutuhan belajar peserta
didiknya. Pola dan model belajar seperti itu, akan menimbulkan perbedaan
kemampuan yang ekstrim antara satu kelompok dengan kelompok yang lainnya”.3
Tidak semua orang yang menjadi guru karena “panggilan jiwa”. Di antara
mereka ada yang menjadi guru karena “terpaksa “, misalnya karena keaadan
ekonomi, dorongan teman atau orang tua dan sebagainya. Hal ini akan
mempengaruhi sikapnya dalam mengajar dan menjalin hubungan dengan para
peserta didik.
Kenyataan lain yang juga banyak berkembang di sekolah-sekolah adalah
bentuk mengajar guru yang lebih menekankan transfer of knowledge. Kebanyakan
guru dan orang tua sudah merasa cukup puas dengan para peserta didiknya yang
mendapatkan skor baik pada hasil ulanganya di sekolah.
3
Jadi yang penting dalam hal ini peserta didik juga dituntut mengetahui
pengetahuan yang telah diajarkan oleh gurunya. Yang penting adalah kecerdasan
otaknya, bagaimana perilaku dan sikap mental peserta didik jarang mendapatkan
perhatian secara serius. Cara evaluasi yang dilakukan oleh gurupun juga hanya
melihat bagaimana hasil pekerjaan ujian, ulangan atau tugas-tugas yang
diberikanya. Ini semua mendukung suatu pengertian bahwa “mengajar” hanya
terbatas pada soal kognitif dan paling hanya ditambah keterampilan dan masih
jarang yang sampai pada unsur afeksi.
Pandangan dan kegiatan interaksi belajar-mengajar semacam ini tidak benar.
Sebab dalam konsep belajar mengajar, peserta adalah subjek belajar, bukan objek,
sebagai unsur manusia yang “pokok” dan “sentral”, bukan unsur pendukung atau
tambahan yang penting dalam interaksi belajar-mengajar, guru sebagai pengajar
tidak mendominasi kegiatan, tetapi membantu menciptakan kondisi yang
kondusif serta memberikan motivasi dan bimbingan agar siswa dapat
mengembangkan potensi dan kreativitasnya, melalui kegiatan belajar. Diharapkan
potensi siswa sedikit demi sedikit berkembang menjadi manusia-manusia yang
aktif, kreatif dan berakhlak mulia.
Dalam membina, membimbing dan memberikan motivasi kearah yang
dicita-citakan, maka hubungan guru dan peserta didik harus bersifat edukatif. Interaksi
edukatif ini adalah sebagai suatu proses hubungan timbal-balik anatara guru dan
peserta didik yang mempenyai tujuan tertentu, yakni untuk mendewsakan peserta
didik agar nantinya dapat berdiri sendiri, dapat menemukan jati dirinya secara
utuh.
Dalam hal ini, proses interaksi edukatif tersebut dilihat melalui bidang studi
akidah akhlak. Akhlak dapat diartikan sebagai sifat dan tingkah laku yang tumbuh
dan menyatu di dalam diri seseorang. Sifat yang tumbuh dari dalam jiwa itulah
yang memancarkan sikap dan tingkah laku pebuatan seseorang.
Sedangkan tujuan dari akhlak itu ialah mengetahui perbedaan-perbedaan
perangai manusia yang baik dan yang buruk, agar manusia dapat mengamalkan
sifat-sifat baik dan menjauhkan diri dari sifat-sifat yang jahat sehingga terciptalah
kejahatan. Oleh karena itu pelajaran akhlak bertujuan hendak mendudukan
manusia sebagai makhluk yang tinggi dan sempurna serta membedakanya dengan
makhluk-makhluk lainya. Akhlak bertujuan menjadiakan manusia sebagai orang
yang berkelakuan baik terhadap Tuhan, manusia dan lingkunganya.4
Oleh karena itu dengan adanya interaksi edukatif antara guru dan peserta
didik yang dilaksanakan melalui mata pelajaran akidah akhlak diharapkan dapat
terbentuk akhlak yang mulia dalam diri peserta didik dan senantiasa tercermin
dalam kehidupanya sehari-hari.
Dengan kata lain diharapkan ilmu yang telah mereka dapatkan melalui mata
pelajaran akidah akhlak itu dapat mereka terapkan dan amalkan/praktekan dalam
kehidupanya sehari-hari. Dengan demikian, melahirkan perbuatan yang seimbang
antara kata dan perbuatan, penghayatan dan pengalaman, antara teori dan praktek.
Hal ini memang bukan suatu pekerjaan yang mudah, tetapi memerlukan
usaha yang serius. Guru sebagai pembina dan pembimbing harus mau dan dapat
menempatkan siswa sebagai peserta didiknya di atas kepentingan yang lain.
Selain itu guru juga harus menjadi panutan yang dapat di dicontoh oleh peserta
didiknya baik dalam perkataan, perbuatan dan pergaulannya dalam kehidupan
sehari-hari baik di sekolah maupun di lingkungan sekitar. Seperti: membiasakan
diri dengan selalu mengucapkan salam, berjabat tangan, atau selalu berkata baik
dan sopan dengan sesama, dan lain-lain. Sehingga guru dapat menjadi teladan
yang baik oleh peserta didik, dengan begitu guru selain menjadi teladan juga
dapat menjadi inspirasi bagi peserta didiknya.
Berdasarkan latar belakang masalah di atas. Peneliti ingin mengadakan
penelitian yang membahas tentang “Pentingnya Interaksi Edukatif Pendidik (Guru) Dalam Upaya Pembentukan Akhlak Peserta Didik di Sekolah”(Study Mata Pelajaran Akidah Akhlak di MTs Miftahul Amal)
4
B.
Identifikasi Masalah
Dari uraian latar belakang masalah di atas, maka dapat diidentifikasikan
beberapa masalah sebagai berikut:
1. Interaksi edukatif antara guru dan peserta didik dalam pembelajaran, masih
belum diterapkan sehingga tidak sesuai dengan tujuan pembelajaran yang
ingin dicapai
2. Banyak terdapat interaksi belajar-mengajar yang berjalan searah yang
dilakukan oleh guru di Sekolah.
3. Banyak guru yang menjadikan peserta didik hanya sebagai objek pendidikan,
bukan sebagai subjek sehingga peserta didik menjadi pasif dan tidak kreatif.
4. Sebagian guru masih belum memahami makna dari kompetensi guru,
khususnya kompetensi sosial.
5. Banyak orang yang menjadi guru bukan karena “penggilan jiwa”, tapi karena
terpaksa sehingga mempengaruhi sikapnya dalam mengajar dan menjalin
hubungan dengan peserta didik.
6. Bentuk mengajar guru hanya menekankan pada transfer of knowledge.
7. Banyak orang tua maupun guru yang hanya puas dengan skor yang tinggi
yang tertera dalam rapor, sedangkan akhlak peserta didik kurang menjadi
perhatianyang serius.
C.
Pembatasan dan Rumusan Masalah
1.
Pembatasan Masalah
Dari identifikasi masalah di atas, maka penulis membatasi permasalahan
ruang lingkup penelitian ini pada:
a. Interaksi edukatif yang dilakukan oleh pendidik (guru) terhadap peserta
didik, atau peserta didik terhadap guru, atau peserta didik terhadap sesama
peserta didik yang lainnya. baik di dalam pembelajaran maupun di luar
pembelajaran sehingga berpengaruh terhadap perilaku/akhlak peserta didik
sehari-hari di sekolah. Adapun dari sekian mata pelajaran yang diajarkan di
b. Banyak orang yang menjadi guru bukan karena “penggilan jiwa”, tapi karena
terpaksa sehingga mempengaruhi sikapnya dalam mengajar dan menjalin
hubungan dengan peserta didik. Banyak orang tua maupun guru yang hanya
puas dengan skor yang tinggi yang tertera dalam rapor, sedangkan akhlak
peserta didik kurang menjadi perhatian yang serius, sehingga pembentukan
Akhlakul karimah sangat penting di sekolah .
2.
Rumusan Masalah
Dari pembatasan masalah tersebut di atas, maka yang menjadi fokus
permasalahan pada penelitian ini adalah:
a. Bagaimana interaksi edukatif yang berlangsung di sekolah MTs Miftahul
Amal?
b. Sejauh manakah pentingnya interaksi edukatif terhadap pembentukan akhlak
peserta didik di sekolah MTs Miftahul Amal?
D.
Tujuan dan Kegunaan penelitian
1.
Tujuan Penelitian
Berdasarkan pembatasan dan rumusan masalah tersebut di atas, maka tujuan
yang ingin dicapai melalui penelitian ini adalah:
a. Untuk mengetahui bentuk interaksi edukatif yang berlangsung di sekolah
MTs Miftahul Amal.
b. Untuk mengetahui sejauhmana pentingnya interaksi edukatif terhadap
pembentukan akhlak peserta didik di sekolah MTs Miftahul Amal.
2.
Kegunaan Penelitian
a. Dapat memberikan pengetahuan terutama bagi guru agar guru lebih
memperhatikan pentingnya penerapan interaksi edukatif di Sekolah MTs
Miftahul Amal
b. Kegunaan hasil penelitian sebagai follow up pengguna informasi atau
c. Dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi para guru untuk
meningkatkan proses belajar-mengajar di sekolah MTs Miftahul Amal, agar
dapat mencapai tujuan pembelajaran.
d. Dapat memberikan kesadaran bagi para pendidik (guru) agar tidak
mendominasi kegiatan, tetapi membantu menciptakan kondisi yang kondusif
serta memberikan motivasi dan bimbingan agar siswa/peserta didik dapat
mengembangkan potensi dan kreativitasnya.
e. Menjadikan potensi siswa sedikit demi sedikit berkembang tidak hanya
menjadi manusia-manusia yang aktif, kreatif, dan pintar saja melaikan juga
BAB II
KAJIAN TEORI
A.
Kajian Teori
Interaksi Edukatif Pendidik (Guru) Pada Peserta Didik
1.
Pengertian interaksi edukatif
Interaksi akan selalu berkaitan dengan istilah komunikasi atau hubungan,.
Dalam proses komunikasi dikenal adanya unsur komunikan dan komunikator.
Hubungan antara komunikator dengan komunikan biasanya karena
mengintegrasikan sesuatu, yang dikenal dengan istilah pesan (mesagge).
Kemudian unuk menyampaikan atau mengontakan pesan itu diperlukan adanya
media atau saluran (chanel). Jadi unsur-unsur yang terlibat dalam komunikasi itu
adalah: komunikator, komunikan, pesan dan saluran atau media. Begitu juga
hubungan antara manusia yang satu dengan manusia yang lainya, empat unsur
untuk terjadinya proses komunikasi itu akan slalu ada.1
Dilihat dari istilah, komunikasi yang berpangkal pada perkataan
communicare berarti “berpartisipasi”, “memberitahukan”, “menjadi milik bersama”. Dengan demikian secara konseptual arti komunikasi itu sendiri sudah mengandung pengertian-pengartian memberitahukan (menyebarkan) berita,
1
pengetahuan, pikiran-pikiran, nilai-nilai dengan maksud untuk mengunggah
partisipasi agar hal-hal yang diberitahukan itu menjadi milik bersama.
Kalau dihubungkan dengan istilah interaksi edukatif, sebenarnya
komunikasi timbal-balik antara pihak yang satu dengan pihak yang lain, sudah
mengandung maksud-maksud tertentu, yakni untuk mencapai pengertian bersama
yang kemudian untuk mencapai tujuan (dalam kegiatan belajar berarti untuk
mencapai tujuan belajar). Memang dalam berbagai bentuk komunikasi yang “sekedarnya”, mungkin tidak direncana, sehingga tidak satu arah atau satu tujuan. Hal inilah yang kadang-kadang sulit dikatakan sebagai interaksi edukatif, dan ini
banyak terjadi dalam kehidupan manusia.2
Dengan demikian interaksi yang dikatakan sebagai interaksi edukatif apabila
secara sadar meletakan tujuan untuk mengubah tingkah laku dan perbuatan
seorang. Interaksi yang bernilai pendidikan ini dalam dunia pendidikan disebut sebagai “interaksi edukatif”3
Dengan konsep di atas, memunculkan istilah guru di satu pihak dan peserta
didik di lain pihak. Keduanya berada dalam interaksi edukatif dengan posisi,
tugas, dan tanggung jawab yang berbeda, namun bersama-sama mencapai tujuan.
Guru bertanggung jawab untuk mengantarkan peserta didik kearah kedewasaan
susila yang cakap dengan memberikan sejumlah ilmu pengetahuan dan
membimbingnya. Sedangkan peserta didik berusaha untuk mencapai tujuan itu
dengan bantuan dan pembinaan dari guru.
Interaksi edukatif harus mengambarkan hubungan aktif dua arah dengan
sejumlah pengetahuan sebagai mediumnya, sehingga interaksi itu merupakan
hubungan yang bermakana dan kreatif. Semua unsur interaksi harus berproses
pada ikatan tujuan pendidikan. Karena itu, interaksi edukatif adalah suatu
gambaran hubungan aktif dua arah antara guru dan peserta didik yang
berlangsung dalam ikatan tujuan pendidikan.4
2
Ibid., h. 8.
3
Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2000), Cet. 1 h. 11
4
Proses interaksi edukatif adalah suatu proses yang mengandung sejumlah
norma dan semua norma itulah yang harus guru transfer kepada peserta didik.
Karena itu, wajarlah bila interaksi edukatif tidak berproses dalam kehampaan,
tetapi dalam penuh makna. Interaksi edukatif sebagai jembatan yang
menghidupkan persenyawaan antara pengetahuan dan perbuatan, yang
mengantarkan kepada tingkah laku sesuai dengan pengetahuan yang diterima oleh
peserta didik.
Interaksi edukatif adalah interaksi yang berlangsung dalam suatu ikatan
untuk tujuan pendidikan dan pengajaran.dalam artian yang lebih spesifik pada
bidang pengajaran dikenal dengan istilah interaksi belajar mengajar.interaksi
belajar mengajar mengandung suatu arti adanya kegiatan interaksi dari pengajar
yang melaksanakan tugas mengajar di suatu pihak dengan warga belajar ( siswa,
peserta didik, subjek belajar ) yang sedang melaksanakan kegiatan belajar dipihak
lain. Dengan demikian dapat dipahami bahwa interaksi edukatif adalah hubungan
dua arah antara guru dan peserta didik dengan sejumlah norma sebagai
mediumnya untuk mencapai tujuan pendidikan.5
Selain interaksi antara individu dengan individu yang lain, yang terjadi
dalam pembelajaran dan pengajaran juga adanya interaksi dengan hal-hal yang
bersifat benda, seperti media, alat dan lain-lain. Karena pengajaran merupakan
suatu system, artinya suatu keseluruhan yang terdiri dari komponen-komponen
yang berinterelasi dan berinteraksi antara yang satu dan yang lainnya dan dengan
keseluruhan itu sendiri untuk mencapai tujuan pengajaran yang telah ditetapkan
sebelumnya. Adapun komponen-komponen tersebut meliputi:
1. Tujuan pendidikan dan pengajaran
2. Peserta didik atau siswa
3. Tenaga kependidikan khususnya guru
4. Perencanaan pengajaran sebagai suatu segmen kurikulum
5. Strategi pembelajaran
6. Media pengajaran, dan
7. Evaluasi pengajaran.
5
Proses pengajaran ditandai oleh adanya interaksi antara komponen.
Misalnya, komponen peserta didik berinteraksi dengan komponen-komponen
guru, metode/ media, perlengkapan/peralatan, dan lingkungan kelas yang terarah
dan pencapaian tujuan pembelajaran dan pengajaran. Komponen guru berinteraksi
dengan komponen-komponen siswa, metode, media, peralatan, dan unsur tenaga
kependidikan lainnya yang terarah dan berupaya mencapai tujuan pengajaran.
Demikian seterusnya, semua komponen dalam system pengajaran saling
berhubungan dan saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan pengajaran.
Pada dasarnya proses pengajaran dan pembelajaran dapat terselenggara
secara lancar, efesien dan efektif berkat adanya interaksi yang positif, konstruktif,
dan produktif antara berbagai komponen yang terkandung dalam sistem
pengajaran tersebut.6
2.
Peran Guru Profesional Dalam Proses Pembelajaran
Dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab XI
Pasal 40 ayat 2, disebutkan bahwa pendidik dan tenaga kependidikan
berkewajiban:
1) Menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif
dinamis, dan dialogis.
2) Mempunyai komitmen secara profesional untuk meningkatkan mutu
pendidikan dan
3) Memberi teladan dan menjaga nama baik lembaga, profesi, dan kedudukan
sesuai dengan kepercayaan yang diberikan kepadanya.7
Berikutnya, dalam UU No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen Bab I,
pasal 1 ayat 1 menyebutkan “Guru adalah pendidik profesional dengan tugas
utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan
mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah.”
6
Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2012) cet. 14 h.77-78
7
Yudhi Munadi dan Farida Hamid, Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan
Dengan demikian guru sebagai pendidik memiliki tugas utama dalam
mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan
mengevaluasi peserta didik dalam jalur formal yang dilakukan secara
professional.8 Untuk itu guru harus menerapkan interaksi edukatif terutama dalam
proses belajar mengajar agar tercipta suasana belajar mengajar yang
menyenangkan bagi peserta didik sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.
Dalam pelaksanaanya, sesuai dengan UU di atas, guru juga hendaknya dapat
memiliki kemampuan untuk mewujudkan suasana pendidikan yang bermakna,
menyenangkan, kreatif, dialogis (penyampaian yang bagus) dan memberikan
motivasi kepada peserta didik dalam membangun gagasan, dan tanggung jawab
peserta didik untuk belajar.9
3.
Interaksi Belajar-Mengajar sebagai Interaksi Edukatif
Pendidikan dapat dirumuskan dari sudut normatif, karena merupakan
peristiwa yang memiliki norma-norma. Tetapi dalam kaitanya dengan interaksi
edukatif, pendidikan dapat dirumuskan dari sudut proses teknis. Sehubungan
dengan proses teknis inilah maka secara spesifik interaksi edukatif dapat
dikatakan sebagai interaksi belajar-mengajar.10
Belajar mengajar adalah sebuah interaksi yang bernilai normatif.
Belajar-mengajar adalah sebagai pedoman kearah mana akan dibawa proses
belajar-mengajar. Proses belajar- mengajar akan berhasil bila hasilnya mampu membawa
perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan, dan nilai-sikap dalam
diri peserta didik.11
Dalam interaksi edukatif unsur guru dan peserta didik harus aktif, tidak
mungkin terjadi proses interaksi edukatif bila hanya satu unsur yang aktif. Aktif
dalam arti sikap, mental, perbuatan. Antara guru dan peserta didik masing-masing
8
Ibid., 9
Ibid., 10
Muhammad Athiyah Al-Abrasyi, Beberapa Pemikiran Pendidikan Islam, (Jakarta: Titian ilahi Press, 1996), Cet. Ke-1, h.72
11
mempunyai kewajiban termasuk di dalamnya etika-etika yang harus menjadi
pedoman mereka dalam melaksanakan proses kegiatan belajar-mengajar.
Di antara kewajiban-kewajiban yang harus dilaksanakan setiap peserta didik,
senantiasa menjadikanya sebagai dasar pandanganya adalah sebagai berikut.
1) Sebelum belajar, seorang peserta didik hendaknya memulai dengan
mensucikan hatinya dari sifat-sifat kehinaan, sebab proses belajar-mengajar
termasuk ibadah, dan keabsahan ibadah harus disertai kesucian hati, di
samping berakhlak mulia seperti: jujur, ikhlas, takwa, rendah hati, zuhud,
ridha, serta menjauhi sifat-sifat yang tercela seperti: dengki, hasad, penipu
dan sombong.12
Menerima ilmu dari orang-orang yang ahli, kapabel, yang kokoh ilmunya,
teguh pendiriannya, yang bertakwa dan yang shaleh serta mengambil setiap
disiplin ilmu dari orang-orang yang mempunyai spesialisasi dan ahli
dibidangnya.13
Dalam memilih guru, hendaklah mengambil yang alim, waro’ dan juga lebih
tua uasianya.14
2) Seorang murid harus menghormati guru, termasuk arti menghormati guru,
yaitu jangan berjalan di depanya, duduk di tempatnya, memulai mengajak
bicara kecuali atas perkenan darinya, berbicara macam-macam di depanya,
dan menanyakan hal-hal yang membosankanya. Tetapi hendaklah
menghemat waktu, jangan sampai mengetuk pintunya, cukuplah dengan
sabar menanti di luar hingga ia sendiri yang keluar dari rumah. Pada intinya
adalah melakukan hal-hal yang membuatnya rela, menjauhkan amarahnya
dan menjunjung tinggi perintahnya yang tidak bertentangan dengan Agama.15
3) Seorang pelajar agar betul-betul menahan diri dari membantah gurunya
secara tidak pada tempatnya. Seorang pelajar harus mensyukuri keutamaan
maupun kekurangan gurunya, menganggap hal-hal yang kurang dalam diri
12
Ibid., h. 73 13
Muhammad Khair Fatimah, Etika Muslim Sehari-hari, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar,
2002), cet. Ke-1, h. 4 14
Aliy As’ad, Terjemah Ta’limul Muta’allim Bimbingan bagi Penuntut Ilmu Pengetahuan, (Kudus: Menara Kudus,t.t), h. 16
15
gurunya sebenarnya mengandung hikmah dari Allah yang diberikan. Sebab
barang kali lebih sesuai untuk kebaikan sang guru.16
4) Seorang pelajar agar betul-betul menahan diri dari membantah gurunyasecara
tidak pada tempatnya. Seorang pelajar harus mensyukuri keutamaan maupun
kekurangan gurunya, menganggap hal-hal yang kurang dalam diri gurunya
sebenarnya mengandung hikmah dari Allah yang diberikan. Sebab barangkali
lebih sesuai untuk kebaikan sang guru.17
Selain peserta didik, guru pun mempunyai kewajiban-kewajiban yang harus
dilaksanakanya dalam kegiatan belajar-mengajar, diantaranya sebagai berikut :
1) Seorang guru hendaknya memiliki rasa kasih sayang, mau memberi nasehat
serta jangan berbuat dengki. Karena dengki itu tidak akan bermanfaat, justru
membahayakan diri sendiri.18
2) Guru jangan melarang muridnya yang berperilaku tidak baik dengan cara
kasar, sebisa mungkin diusahakan dengan cara yuang halus, dan bahkan
dengan cara kasih sayang dan bukan dengan cara mencelanya.
3) Guru hendaknya memperhatikan tingkat kemampuan murid, dan
mengajarkan sesuai dengan kemampuan mereka, jangan mengajarkan materi
pelajaran di luar kemampuan mereka, yang bisa menjadikan mereka lari dari
belajar dan kesulitan dalam memahaminya.
4) Guru hendaknya mengamalkan ilmunya dan jangan membohongi perkataan
dan perbuatanya, sesuai dengan firman Allah:
“Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”. (QS. 61: 3)19
16Abi Abdullah Muhammad Sa’id bin silan,
Etika belajar, (Solo: CV. Pustaka Mantiq, 1997), Cet. Ke-1, h. 125
17
Aliy As’ad, Op.,Cit, h. 38
18
Ibid., h . 66
19
5) Hendaknya seorang guru berpenampilan tenang, penyabar, dan pemaaf, serta
memiliki wibawa.20
Kesesuaian antara guru dan peserta didik, kenyataanya memang sangat
mempengaruhi seorang murid dalam menyenangi suatu pelajaran. Hal ini tentu
saja akan mempengaruhi motivasi murid dalam belajar. Karena itu, guru yang
baik tentunya akan selalu berusaha untuk menerapkan metode pengajaran yang
benar-benar sesuai dengan kemampuan murid-muridnya. Sebaliknya, seorang
murid yang baik pun akan selalu berusaha untuk menyesuaikan diri dengan
gurunya, yang tentu saja sebagai manusia juga memiliki kekurangan dalam
banyak hal, termasuk dalam kemampuan mengajar.21
Dalam sistem pengajaran dengan pendekatan keterampilan proses, peserta
didik harus lebih aktif dari pada guru. Guru hanya bertindak sebagai pembimbing
dan fasilitator.
Selain itu, adapula bentuk-bentuk interaksi belajar mengajar yang
dikemukakan oleh Roestiyah N.K, sebgai berikut
1. Pengajaran adalah transfer pengetahuan kepada siswa. Dalam bentuk ini guru mengajar di sekolah hanya menyuapi makanankepada anak. Hubungan guru dan siswa di sini hanya berlangsung sepihak, ialah dari pihak guru.
2. Pengajaran ialah mengajar siswa bagaimana caranya belajar. Dalam bentuk ini guru hanya merupakan salah satu sumber belajar. Ada hubungan timbal-balik antara guru dan murid.
3. Pengajaran adalah hubungan interaktif antara guru dan siswa. Dalam hal ini guru hanya menciptakan situasi dan kondisi, agar tiap individu dapat aktif belajar.
4. Mengajar adalah proses proses interaksi siswa dengan siswa dan konsultasi guru. Dalam proses ini siswa memperoleh pengalaman dari teman-temanya sendiri, kemudian pengalaman tersebut dikonsultasikan kepada guru.22
Pola hubungan- murid menurut al-Ghazali adalah pola hubungan yang
bersifat kemitraan yang didasarkan pada nilai-nilai demokratis, keterbukaan,
kemanusiaan dan saling pengertian. Dalam pola hubungan tersebut eksistensi
20
Mahdy saeed Reziq Krezem, Adab Islam dalam Kehidupan Sehari-hari, (Jakarta: Media
Da’wah, 2001), cet. Ke-1, h. 77
21
Thursan Hakim, Belajar Efektif, (Jakarta: Puspaswara Anggota IKAPI, 2001), cet. Ke-2, h.8
22
guru-murid sama-sama diakui dan dihargai. Dalam proses belajar mengajar, murid
diperlakukan secara manusiawi, diberikan hak untuk mengemukakan pendapat,
bertanya, mengkritik, dan diperlakukan sesuai dengan bakat, potensi dan
kecendrunganya. 23
Situasi pembelajaran atau proses interaksi belajar-mengajar yang baik dapat
dilakukan dengan menjalin hubungan dengan orang lain. Karena interaksi
membutuhkan orang lain dan belajar yang sukses jika ada hubungan/kerjasama
dengan orang lain, perasaan saling memiliki ini memungkinkan pesrta didik untuk
menghadapi tantangan, ketika mereka belajar bersama teman, bukannya sendirian,
mereka mendapatkan dukungan emosional dan intelektual yang memungkinkan
mereka melampaui ambang pengetahuan dan keterampilan mereka sekarang.24
Cara menjadikan peserta didik aktif sejak awal ini menjadi sangat penting
untuk diperhatikan oleh pendidik (guru) agar terjadi interaksi edukatif dalam
proses belajar-mengajar di Kelas.
Bagian ini berisi pembuka percakapan dan aktivitas pembuka lain untuk
segala bentuk pembelajaran. Tehnik-tehniknya dirancang untuk mengerjakan
salah satu atau beberapa dari yang berikut ini:
1. Pembentukan tim: membantu siswa menjadi lebih mengenal satu sama lain
atau menciptakan semangat kerjasama dan kesalingtergantungan.
2. Penilaian serentak: mempelajari tentang sikap, pengetahuan, dan pengalaman
peserta didik.
3. Pelibatan belajar peserta didik secara langsung: menciptakan minat awal
terhadap pelajaran.25
Selain peserta didik yang aktif, hal yang paling mendukung tercapainya tujuan
pembelajaran dan untuk membangun kepribadian siswa secara mendalam adalah
motivasi yang diberikan oleh guru, di mana guru sebagai motivator adalah hal
yang harus dilakukan oleh guru. Woodwort (1955) mengatakan: “A motive is a set
23
Abuddin Nata, Perspektif Islam Tentang Pola Hubungan Guru-Murid, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2001), Cet.1, h. 113.
24
Melvin L. Silberman, Active Learning 101 Cara Belajar Siswa Aktif, (Allyn and Bacon, Boston, 1996) h.30
25
predisposes the invividual of certain activities and for seeking certain goals”.
Suatu motif adalah suatu set yang dapat membuat individu melakukan
kegiatan-kegiatan tertentu untuk mencapai tujuan.
Dengan demikian, perilaku atas tindakan yang ditunjukkan seseorang dalam
upaya mencapai tujuan tertentu sangat tergantung dari motive yang dimilikinya.
Motif dan motifasi merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Motivasi
merupakan penjelmaan dari motif yang dapat dilihat dari perilaku yang
ditunjukkan seseorang. Hilgard mengatakan bahwa motivasi adalah suatu keadaan
yang terdapat dalam diri seseorang yang menyebabkan seseorang melakukan
kegiatan tertentu untuk mencapai tujuan tertentu. Jadi dengan demikian, motivasi
muncul dari dalam diri seseorang.26
Untuk memperoleh hasil yang belajar yang optimal pendidik/guru dituntut
kreatif membangkitkan motivasi belajar pesrta didiknya. Di bawah ini
dikemukakan beberapa petunjuk.
a. Memperjelas Tujuan yang Ingin Dicapai
Tujuan yang jelas dapat membuat peserta didik paham ke arah mana ia akan di
bawa. Pemahaman peserta didik tentang tujuan pembelajaran dapat
menumbuhkan minat peserta didik untuk belajar, yang pada gilirannya dapat
meningkatkan motivasi belajar mereka.
b. Membangkitkan Minat Siswa
Peserta didik akan terdorong untuk belajar, manakala mereka memiliki minat
untuk belajar. Oleh sebab itu mengembangkan minat belajar peserta didik
merupakan salah satu tehnik dalam mengembangkan motivasi belajar.
Beberapa cara dapat dilakukan untuk membangkitkan minat peserta didik di
antaranya adalah:
1) Hubungkan bahan pelajaran yang akan diajarkan dengan kebutuhan peserta
didik.
2) Sesuaikan materi pelajaran dengan pengalaman dan kemampuan peserta
didik.
26
3) Gunakan berbagai model dan strategi pembelajaran secara variatif.27
c. Ciptakan Suasana yang Menyenangkan dalam Belajar
Peserta didik hanya mungkin belajar dengan baik, manakala ada dalam
suasana yang menyenangkan, merasa aman bebas dari rasa takut. Usahakan
agar kelas selamanya dalam suasana hidup dan segar terbebas dari rasa tegang.
Untuk itu guru sekali-kali dapat melakukan hal-hal yang lucu.
d. Berilah Pujian yang Wajar Terhadap Keberhasilan Siswa
Motivasi akan tumbuh manakala peserta didik merasa dihargai, memberikan
pujian yang wajar merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk
memberikan penghargaan.
e. Berikan Penilaian
Banyak peserta didik yang belajar karena ingin memperoleh nilai yang bagus
untuk itu mereka belajar dengan giat. Bagi sebagian peserta didik nilai dapat
menjadi motivasi yang kuat untuk belajar. Oleh karena itu penilaian harus
segera dilakukan dengan segera, agar peserta didik secepat mungkin
mengetahui hasil kerjanya.
f. Berilah Komentar terhadap Hasil Pekerjaan Siswa
Peserta didik juga butuh penghargaan berupa komentar yang positif,
sebaiknya guru memberikan komentar secepatnya misalnya dengan memberikan tulisan “bagus”, atau “teruskan pekerjaanmu” dan lain sebagainya.
g. Ciptakan Persaingan dan Kerjasama
Persaingan yang sehat dapat memberikan pengaruh yang baik untuk
keberhasilan dan proses pembelajaran peserta didik. Melalui persaingan
peserta didik dimungkinkan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk
memperoleh hasil yang terbaik.
27
4.
Konsep Keterampilan Mengajar Akidah Akhlak sebagai
wujud Interaksi Edukatif
Sistem pengajaran di kelas telah mendudukkan guru pada suatu tempat yang
sangat penting, karena guru yang memulai mengakhiri setiap interaksi belajar
mengajar yang telah diciptakannya. Berbagai peranan guru, dibutuhkan
keterampilan dalam pelaksanaannya. Mengajar merupkan usaha yang sangat
kompleks, sehingga sulit menentukan tentang bagaimanakah mengajar yang baik
itu. Pelaksanaan interaksi belajar mengajar yang baik dapat menjadi petunjuk
tentang pengetahuan seorang guru dalam mengakumulasi dan mengaplikasikan
segala pengetahuan dan keguruannya. Itulah sebabnya maka dalam melaksanakan
interaksi belajar mengajar perlu adanya beberapa keterampilan mengajar.28
Beberapa keterampilan mengajar yang harus dikuasai dan dilaksanakan oleh
guru antara lain adalah:
1. Keterampilan Membuka Pembelajaran
Yang dimaksud denan membuka pembelajaran adalah seberapa jauh
kemampuan guru dalam memulai interaksi belajar mengajar untuk suatu jam
pembelajaran tertentu. Adapun keterampilan dalam membuka pembelajaran
antara lain adalah sebagai berikut:
a. Mengkondisikan Peserta didik
Tujuan kegiatan ini untuk mengarahkan guru pada pokok permasalahan
agar peserta didik siap baik secara mental, emosional, maupun fisik. Keiatan
ini antara lain berupa:
1) Pengulasan langsung pengalaman yang pernah dialami oleh peserta didik
taupun guru
2) Pengulasan bahan pengajaran yang pernah dipelajari pada waktu
sebelumnya.
28
3) Kegiatan-kegiatan yang menggugah dan mengarahkan perhatian peserta
[image:31.595.107.527.197.549.2]didik antara lain meminta pendapat/saran peserta didik, menunjukkan
gambar, slide power point, film atau benda lain.29
b. Menarik Minat dan Perhatian Peserta Didik
Perhatian lebih bersifat sementara dan ada hubungannya dengan minat.
Perbedaanya adalah minat sifatnya menetap sedan kan perhatian sifatnya
sementara, adakalanya menghilang. Jadi perhatian itu sebentar hilang,
sebentar timbul kembali, sedangkan minat selalu tetap ada.30
Anak-anak yang selesai bermain, pada waktu masuk kembali ke dalam
kelas untuk menerima pembelajaran sering kita dengar masih membicarakan
permainanya. Oleh sebab itu pada waktu guru hendak menyampaikan
pelajaran baru, sebaiknya diusahakan untuk menyatukan alam pikiran peserta
didik dengan jalan menghilangkan kenangan atas peristiwa yang baru saja
mereka alami.
Jenis usaha lain adalah memberikan pertanyaan bahasan sebelumnya
yang berhubungan dengan topic baru, atau sering pula dengan memberikan
pre test untuk mengetahui seberapa jauh peserta didik sudah memiliki
pengetahuan tentang bahasan yang akan mereka pelajari.
c. Membangkitkan Motivasi Peserta Didik
Tugas guru adalah membangkitkan motivasi peserta didik sehingga ia
mau melakukan belajar. Ada dua macam motivasi: pertama, motivasi
intrinsik adalah motivasi yang timbul dari dalam diri individu sendiri, tanpa
ada paksaan atau dorongan dari orang lain, tetapi atas kemauan sendiri.
Kedua, motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang timbul akibat pengaruh dari
luar individu, apakah karena ajakan, suruhan, paksaan orang lain sehingga ia
melakukan belajar.
29
B. Suryosubroto, Tata laksana kurikulum, (Jakarta: Rineka Cipta, 1990), Cet. Ke 1, h.81
30
Motivasi intrinsik dapat menguat jika anak menganggap tugas sebagai
sesuatu yang menarik, relevan secara personal, bermakna dan pada level yang
sesuai dengan kemampuan anak, sehingga mereka beranggapan dapat
berhasil dalam menyelesaikan tugas itu.31
Berikut ini ada beberapa hal yang dapat dilakukan guru untuk
membangkitkan motivasi peserta didik:
1) Kompetisi (persaingan): guru berusaha menciptakan persaingan diantara
peserta didiknya untuk meningkatkan prestasi belajar.
2) Pace making (membuat tujuan sementara atau dekat): pada awal
pembelajaran, hendaknya guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang
akan dicapainya.
3) Tujuan yang jelas: semakin jelas tujuan, semakin jelas pula motivasi
dalam melakukan sesuatu.
4) Kesempurnaan untuk sukses: guru hendaknya banyak memberikan
kesempatan kepada peserta didik untuk meraih sukses dengan usaha
sendiri, tentu saja dengan bimbingan guru.
5) Mengadakan penilaian atau tes: pada umumnya semua peserta didik mau
belajar dengan tujuan memperoleh nilaiyang baik jadi, angka menjadi
motivasi yang kuat bagi peserta didik.32
Apabila guru berhasil menumbuhkan menumbuhkan kebutuhan belajar
peserta didik, maka peserta didik akan aktif mengalami, mencari, dan
menemukan berbagai pengetahuan yang dibutuhkannya dengan bimbingan
guru. Usaha-usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi sehingga anak mau
atau ingin melakukan sesuatu atau disebut motivasi.
31
John W. Santrock, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Kencana, 2007), Cet ke-1, h.486
32
d. Mengadakan Test Pendahuluan (Pre-test)
Fungsi dari pretest ini adalah untuk menilai sampai dimana peserta didik
telah menguasai kemampuan atau keterampilan yang tercantum dalam
indikator hasil belajar, sebelum mereka mengikuti program pengajaran yang
telah disampaikan.
2. Keterampilan dalam Memproses Kegiatan Inti Pembelajaran
Kegiatan inti pembelajaran merupakan proses pembentukan kompetensi pada
peserta didik, dan merealisasikan tujuan-tujuan pembelajaran. Proses
pembentukan kompetensi dikatakan efektif apabilaseluruh peserta didik terlibat
aktif baik mental, fisikmaupun sosialnya.33
a. Penguasaan materi pembelajaran
Penguasaan materi bagi guru merupakan hal yang sangat menentukan,
khususnya dalam proses belajar mengajar yang melibatkan guru mata
pelajaran. Ada beberapa hal dalam upaya meningkatkan penguasaan materi
bagi guru, antara lain: melalui musyawarah guru, atau kelompok kerja guru,
melalui buku sumber yang tersedia atagu kegiatan mandiri, malalui
pendalaman materi dengan mengikuti seminar/pelatihan.
b. Keterampilan menggunakan metode
Penggunaan metode mengajar dipengaruhi oleh beberapa factor seperti:
metode mengajar harus sesuai dengan tujuan, metode mengajar harus sesuai
dengan peserta didik, harus serasi dengan lingkungan dan pelajaran
terkoordinasi dengan baik. Selain beberapa factor tersebut, dipersyaratkan
pula kepada setiap guru untuk mengetahui dan menguasai metode yang akan
digunakannya.34
33
E. Mulyasa, Kurikulum Tingkat satuan pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya,
2008), cet. 5 h. 256 34
c. Keterampilan Memberi Penguatan
Penguatan merupakan respon terhadap suatu perilaku yang dapat meningkatkan kemungkinan terulangnya kembali perilaku tersebut.
Keterampilan memberikan penguatan merupakan keterampilan yang arahnya
untuk memberikan dorongan, tanggapan atau hadiah bagi peserta didik agar
dalam mengikuti pembelajaran merasa dihormati dan diperhatikan.35
d. Menggunakan waktu
Yang dimaksud dengan menggunakan waktu dalam hal ini adalah
ketepatan guru dalam mengalokasikan (mengatur) waktu yang tersedia
dalam suatu interaksi belajar mengajar, kesulitan yang dialami guru dalam
kegiatan interaksi adalah: dalam hal penggunaan waktu yang tersedia dari
membuka pelajaran sampai menutup pelajaran.
e. Keterampilan Bertanya
Bertanya merupakan stimulus yang efektif yang mendorong kemampuan
berfikir.36 Keterampilan bertanya sangat perlu untuk dikuasai oleh seorang
guru untukmenciptakan pembelajaran yang efektif dan menyenangkan,
karena hampir dalam setiap tahap pembelajaran guru dituntut untuk
mengajukan pertanyaan, dan kualitas pertanyaan yang diajukan guru akan
menentukan kualitas jawaban peserta didik.37
f. Keterampilan Mengadakan Variasi
Mengadakan variasi merupakan keterampilan yang harus dikuasai guru
yang bertujuan untuk meningkatkan perhatian peserta didik terhadap materi
standar yang relevan, memberikan kesempatan bagi perkembangan bakat
peserta didik terhadap berbagai hal baru dalam pembelajaran, memupuk
35
Hamzah B. Uno, Orientasi Baru Dalam Psikologi Pembelajaran, (Jakarta: PT Bumi
Aksara, 2006), cet ke 1, h.168 36
Hamzah B. Uno, Orientasi Baru Dalam Psikologi Pembelajaran, …, cet ke 1, h.170
37
Whandi, Bagaimana Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan, (PT.
perilaku positif peserta didik dalam pembelajaran, serta member kesempatan
kepada peserta didik untuk belajar sesuai dengan tingkat perkembangan dan
kemampuannya.
Komponen keterampilan mengadakan variasi dibagi menjadi 3
kelompok sebagai berikut:
1. Variasi dalam gaya mengajar yang meliputi variasi suara, pemusatan
perhatian, kesenyapan, perantian posisi guru, kontak pandang serta
gerakan badan dan mimik.
2. Variasi pola interaksi dan kegiatan
3. Variasi penggunaan alat bantu pengajaran yang meliputi alat/bahan yang
dapat didengar, dilihat dan dimanipulasi.
Dalam mengadakan variasi guru perlu mengingat-ingat prinsip-prinsip penggunaanya yang meliputi kesesuaian, kewajaran, kelancaran, dan
kesinambungan serta perencanaan bagi alat/bahan yang memerlukan
penataan khusus.
g. Keterampilan Menjelaskan
Menjelaskan adalah mendeskripsikan secara lisan tentang sesuatu benda,
keadaan, fakta dan data sesuai dengan waktu dan hukum-hukum
keterampilan menjelaskan sangat penting bagi guru karena sebagian besar
percakapan guru yang mempunyai pengaruh terhadap pemahaman peserta
didik adalah berupa penjelasan.
Komponen keterampilan menjelaskan dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu:
1. Merencanakan materi penjelasan
2. Menyajikan penjelasan
Penjelasan dapat diberikan pada awal, tengah dan akhir pelajaran, dengan
selalu memperhatikan karakteristik peserta didik yan diberi penjelasan serta
3. Keterampilan Menutup Pembelajaran
Untuk memeperoleh gambaran secara utuh pada waktu akhir kegiatan ada
beberapa cara yang dapat dilakukan guru dalam menutup pembelajaran yakni:
1. Meninjau kembali dengan cara merangkum inti pelajaran dan membuat
ringkasan
2. Mengevaluasi dengan berbagai bentuk evaluasi, misalnya
mendemonstasikan keterampilan, meminta peserta didik
mengaplikasikan ide baru, dalam situasi yang lain, mengekspresikan
pendapat peserta didik dan memberikan soal tertulis.
Dari apa yang telah diuraikan di atas terbukti bahwa membuka dan
menutup pembelajaran bukanlah urutan yang bersifat rutin (dari itu ke itu saja),
melainkan merupakan suatu perbuatan guru yang perlu direncanakan secara
sistematis dan rasional.
Penutup dalam hal ini yang dimaksudkan sebagai cara guru dalam
mengakhiri penjelasan atau pembahasan suatu pokok bahasan. Penutup yang
lengkap berupa ringkasan, kesimpulan dan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat
menguji tentang pencapaian tujuan intruksional. Apabila dalam pengujian tersebut
ternyata beberapa tujuan belum tercapai maka guru wajib menjelaskan kembali
secara singkat sehingga tugas-tugasnya benar-benar dirasa tuntas.
Belajar dapat dikatakan suatu proes yang tidak pernah berhenti karena
merupakan suatu proses yang berkelanjutan menuju kea rah kesempunaan. Setiap
kali berakhir dari suatu interaksi edukatif antara guru dengan peserta didik, itu
adalah merupakan suatu terminal saja untuk kemudian beranjak ke interaksi
selanjutnya pada hari atau pertemuan yang berikutnya.
Jadi akhir pelajaran bukan berarti seluruh proses belajar mengajar atau
interaksi edukatif selesai sama sekali. Oleh karena itu kesan perpisahan yang baik
dapat diterima dan interaksi edukatif antara guru dan peserta didik dapat
berlangsung dengan baik.
5.
Ciri-ciri interaksi edukatif
Sebagai interaksi yang bernilai normatif, maka interaksi edukatif mempunyai
ciri-ciri sebagai berikut:
a. Interaksi edukatif mempunyai tujuan.
Tujuan dalam interaksi edukatif adalah untuk membantu anak didik dalam
suatu perkembangan tertentu. Inilah yang dimaksud intraksi edukatif saddar akan
tujuan, dengan menempatkan anak didik sebagai pusat perhatian, sedangkan unsur
lainya sebagai pengantar dan pendukung.
b. Interaksi edukatif ditandai dengan penggarapan materi khusus.
Dalam hal ini materi harus didesain sedemikian rupan dan disiapkan sebelum
berlangsungnya interaksi edukatifsehingga cocok untuk mencapaitujuan. Dalam
hal ini perlu memperhatikan komponen-komponen pengajaran yang lain.
c. Ditandai dengan aktivitas anak didik
Sebagai konsekuensi, bahwa peserta didik merupakan sentral, maka aktivitas
peserta didik merupakan syarat mutlak bagi berlangsungnya interaksi edukatif.
Aktivitas peserta didik dalam hal ini baik secara fisik maupun mental aktif. Inilah
yang sesuai dengan konsep CBSA.38 dan sekarang dikenal dengan istilah Activ
learning, dimana seorang pendidik menggunakan strategi pembelajaran untuk
mengkondisikan peserta didik agar dapat aktif di kelas.
d. Guru berperan sebagai pembimbing.
Guru berperan sebagai pembimbing dalam belajar, guru diharapkan mampu
untuk mengenal dan memahami setiap peserta didik baik secara individu maupun
kelompok, memberikan penerangan kepada peserta didik mengenai hal-hal yang
diperlukan dalam proses belajar, memberikan kesempatan yang memadai agar
setiap peserta didik dapat belajar sesuai dengan kemampuan pribadinya,
membantu peserta didik dalam mengatasi masalah-masalah pribadi yang
38
dihadapinya, menilai keberhasilan setiap langkah kegiatan yang telah
dilakukanya.39
Dalam penerapanya sebagai pembimbing, guru harus berusaha
menghidupkan dan memberikan motivasi agar terjadi proses interaksi edukatif
yang kondusif. Guru harus siap sebagai mediator dalam sebagai situasi proses
interaksi edukatif, sehingga guru merupakan tokoh yang akan dilihat dan ditiru
tingkah lakunya oleh pendidik.
e. Mempunyai batas waktu
Untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu dalam sistem berkelas
(kelompok peserta didik), batas waktu menjadi salah satu ciri yang tidak bisa
ditinggalkan. Setiap tujuan akan diberikan waktu tertentu, kapan tujuan harus
sudah tercapai.
f. Menggunakan metode.
Metode mengajar adalah sistem penggunaan teknik-teknik di dalam interaksi
antara guru dan peserta didik dalam program belajar-mengajar sebagai proses
pendidikan. Teknik yang dapat digunakan dalam interaksi dan komunikasi itu
antara lain: bermain, tanya jawab, ceramah, diskusi, peragaan eksperimen, kerja
kelompok, sosio drama, karya wisata, dan modul.
Seyogyanya guru dapat mengenal berbagai teknik, agar dapat menerapkanya
secara tepat, sesuai keadaan.40
g. Diakhiri dengan evaluasi.
Sebagai alat penilaian hasil pencapaaian tujuan dalam pengajaran, evaluasi
harus dilakukan secara terus menerus. Evaluasi tidak hanya sekedar menentukan
angka keberhasilan belajar, tetapi yang lebih penting adalahsebagai dasar untuk
umpan balik (feed back) dari proses interaksi edukatif yang dilaksanakan.41
39
Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi, (Jakarta: PT. Rineka Cipta,
19950, Cet Ke-3, h. 100
40
Zakiyah Darajat, pendidkian Islam dalam Keluarga dan Sekolah, (Jakarta: CV. Ruhama, 1995), Cet. Ke-2, h. 97
41
Muhammad Ali, Guru dalam Prosews Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru, 1992),
B.
Pembentukan Akhlak Peserta Didik
1.
Pengertian Akhlak
Dilihat dari sudut bahasa (etimologi), perkataan akhlak adalah bentuk jamak
dari khulk. Kata khulk di dalam kamus Al-munjid berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku, atau tabi’at.42
Menurut Khalil al-Musawi “bahwa kata akhlak berasal dari akar khalaqa
yang berarti lembut, halus, dan lurus, dari kata khalaqa yang berarti bergaul dengan akhlak yang baik juga dari kata takhallaqa yang berarti berwatak”.43
Di dalam Dairatul Ma’arif dikutip oleh Asmaran AS, kata akhlak diartikan sebagai berikut:
اْخاْلا
َّبداْلا ناسْناْلا ا ص يه
“ Akhlak ialah sifat-sifat manusia yang terdidik”.44
Dari pengertian di atas dapat diketahui bahwa akhlak ialah sifat-sifat yang
dibawa manusia sejak lahir yang tertanam dalam jiwanya dan selalu ada padanya.
Sifat itu dapat lahir berupa perbuatan baik yang disebut dengan akhlak mulia, atau
perbuatan buruk yang disebut akhlak tercela sesuai dengan pembinaanya.
Adapun pengertian akhlak secara terminologi adalah sebagai berikut:
Di dalam Ensiklopedi Pendidikan dikatakan bahwa akhlak ialah budi pekerti,
watak, kesusilaan (kesadaran etik dan moral) yaitu kelakuan baik yang merupakan
akibat dari sikap jiwa yang benar terhadap khaliknya dan terhadap sesama
manusia.45
Defenisi lain mengatakan bahwa akhlak adalah suatu daya yang telah bersemi
dalam jiwa seseorang sehingga dapat menimbulkan perbuatan-perbuatan dengan
mudah tanpa dipikir dan direnungkan lagi.46
Menurut para ahli, akhlak dapat diartikan sebagai berikut:
42
Luis Ma’luf, Kamus Al-munjid, (Beirut: Al-Maktabah Al-katulikiyah t.t), h. 194
43
Khalil Al-Musawi, Bagaimana Menjadi Orang Bijaksana, Terjemah Ahmad Subandi,
(Jakarta: Lentara, 1994), Cet. Ke-9, h. 1
44
Asnaran AS, Pengantar Studi Akhlak, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1994), Cet. Ke-2, h. 1
45
Soegarda Poerbakawatja, Ensiklopedi Pendidikan, (Jakarta: Gunung Agung, 1976), h. 9
46
a. Ahmad amin mengemukakan bahwa akh;lak ialah “ilmu untuk menetapkan
segala perbuatan manusia, yang baik atau yang buruk, yang benar atau yang salah, yang hak atau yang batil”.47
b. Imam Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumudin berpendapat bahwa akhlak
adalah: “ Khuluq (jamaknya akhlak) ialah ibarat (keterangan) tentang
keadaan dalam jiwa yang menetap di dalamnya dari padanyalah terbit
perbuatan-perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pada
pemikiran dan penelitian. kalau keadaan itu, di mana terbit padanya
perbuatan-perbuatan yang baik dan terpuji menurut akal dan syara’, keadaan
itu dinamai akhlak yang baik. Dan kalau yang terbit itu perbutan-perbuatan yang jelek, keadaan yang menerbitkanya dinamai akhlak yang buruk”.48
c. Ibn Miskawaih secara singkat mengatakan, bahwa akhlak adalah: “Khuluq
ialah keadaan jiwa yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa memerlukan pemikran dan pertimbangan”.49
d. Dalam Mu’jam al-Wasith, Ibrahim Anis mengatakan bahwa akhlak adalah: “sifat yang tertanam dalam jiwa, yang denganya lahirlah macam-macam perbuatan, baik atau buruk, tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan”.50
e. Menurut Abdullah Darraz “ akhlak adalah suatu keinginan (iraddah) yang
kuat yang telah meresap dalam jiwa dan menimbulkan suatu perbuatan bebas
kearah yang baik dan benar (bila akhlak itu terpuji), atau kearah yang buruk
dan jahat (bila akhlak itu tercela)
f. Menurut Moh. Ardani Akhlak adalah: suatu keadan yang tertanam dalam
jiwa berupa keinginan kuat yang melahirkan perbuatan secara langsung dan
berturut-turut tanpa memerlukan pemikiran-pemikiran.51
47
Ahmad Amin, Ilmu Akhlak Terjemahan, (Jakarta:Bulan Bintang, 1991), Cet. Ke-6, h. 1
48
Imam al-Ghazali, Ihya Ulumudin, (Beirut: Dar al-fikri, 1996), Jilid III, h. 56
49
Ibn Miskawaih, Tahzib al-Akhlak wa Tathhir al-A,raqi, (mesir: al-Mathba’ah al-Mishiriyah,
1934), Cet. Ke-1, h. 40
50
Ibrahim Anis, Al-Mu’jam al-wasith, (Mesir Dar al-Ma’arif, 1972), h. 88
51
Moh. Ardani, Alqur’an dan Sufisme Mangkunegara IV, Studi Serat-Serat Piwulang,
Pada hakikatnya akhlak ialah suatu kondisi atau sifat yang telah meresap
dalam jiwa dan menjadi kepribadian sehingga dari situ timbulah berbagai macam
perbuatan dengan cara spontan dan mudah tanpa dibuat-buat dan tanpa
memerlukan pemikiran. Apabila dari kondisi tersebut timbul kelakuan yang baik dan terpuji menurut pandangan syari’at dan akal pikiran, maka ia dinamakan akhlak terpuji dan sebaliknya apabila yang lahir kelakuan buruk, maka disebutlah
akhlak yang tercela.
Tentang akhlak terpuji ada empat sendi yang cukup mendasar dan menjadi
induk seluruh akhlak. Induk-induk akhlak yang baik itu seperti disebut al-Ghazali,
adalah sebagai berikut:
a. Kekuatan ilmu wujudnya adalah hikmah (kebijaksanaan), yaitu keadaan jiwa
yang bisa menemukan hal-hal yang benar diantara yang salah dalam urusan
ikhtiariah (perbuatan yang dilaksanakan dengan pilihan dan kemauan
sendiri).
b. Kekuatan marah wujudnya adalah Syaja’ah (berani), yaitu keadaan marah
yang tunduk kepada akal pada waktu dilahirkan atau dikekang.
c. Kekuatan nafsu syahwat wujudnya adalah „iffah (perwira), yaitu keadaan syahwat yang terdidik oleh akal dan syari’at agama.
d. Kekuatan keseimbangan diantara kekuatan yang tiga di atas wujudnya adalah
adil, yaitu kekuatan jiwa yang dapat menuntun amarah dan syahwat sesuai
dengan apa yang dikehendaki oleh hikmah.
Dari empat sandi akhlak yang terpuji itu, akan lahirlah perbuatan-perbuatan
baik seperti: jujur, suka memberi pada sesama, tawadhu, tabah, tinggi cita-cita,
pemaaf, kasih sayang terhadap sesama, berani dalam kebenaran, menghormati
orang lain, sabar, malu, pemurah, memelihara rahasia, qonaah, dan sebagainya.
Berakhlak baik pada diri sendiri dapat diartikan menghargai diri sendiri,
menghormati, menyayangi, dan menjaga diri sendiri dengan sebaik-baiknya,
karena sadar bahwa dirinya itu sebagai ciptaan dan amanah Allah yang harus
dijaga dan dipertanggung jawabkan sebaik-baiknya.52
52
Moh Ardani, Nilai-Nilai Akhlak dan Budi Pekerti dalam Ibadah, (Jakarta: CV. Karya
Sedangkan akhlak kepada sesama manusia adalah sebagaimana antara
manusia yang satu memperlakukan manusia yang lainnya dengan baik.
Berkenaan dengan akhlak sesama manusia, al-Qur’an banyak memberikan
rincian mengenai hal itu. Petunjuk mengenai hal itu tidak hanya dalam bentuk
larangan melakukan hal negatif seperti membunuh, mencuri dan lain sebagainya
tetapi juga sampai kepada penyakit hati dengan cara menceritakan aib seseorang
di belakangnya. dan juga terkait dengan memaafkan kesalahan orang lain.
Q.S Al-Baqarah: 263.