Pengetahuan, Sikap, Dan Tindakan Dokter Gigi Terhadap Pencegahan Penyakit Menular Di Praktek Dokter Gigi Di Kota Medan

Teks penuh

(1)

iv

PENGETAHUAN, SIKAP, DAN TINDAKAN

DOKTER GIGI TERHADAP PENCEGAHAN

PENYAKIT MENULAR DI PRAKTEK

DOKTER GIGI DI KOTA MEDAN

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi tugas dan melengkapi

syarat guna memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Gigi

Oleh :

VISKA YOLANDA PUTRI NIM : 080600121

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

v

Fakultas Kedokteran Gigi Bagian Ilmu Kedokteran Gigi Pencegahan/ Kesehatan Gigi Masyarakat Tahun 2012

Viska Yolanda Putri

Pengetahuan, sikap, dan tindakan dokter gigi terhadap pencegahan penyakit menular di praktek dokter gigi di kota medan

xi + 78 halaman

Setiap tindakan dokter gigi di praktek menyebabkan dokter gigi berisiko tinggi tertular penyakit menular. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur kategori pengetahuan, sikap, dan tindakan dokter gigi terhadap pencegahan penyakit menular.

Jenis penelitian adalah penelitian deskriptif dengan populasi penelitian adalah semua dokter gigi praktek di kota Medan, diperoleh sampel 150 responden dan dengan cara purposive sampling didapat 92 sampel untuk lingkar dalam dan 58 sampel untuk lingkar luar. Pengumpulan data dilakukan dengan cara memberikan kuesioner secara langsung kepada responden dan mengobservasi tindakan responden di lapangan.

(3)

vi

dalam kategori pengetahuan, sikap, dan tindakan yang cukup maupun kurang. Hal ini terlihat dari segi pengetahuan sebanyak 46% dokter gigi tidak mengetahui tentang langkah pemrosesan instrumen, dari segi sikap sebanyak 15,33% tidak setuju mengganti jas praktek yang terkontaminasi ketika praktek, serta dari segi tindakan hanya 21,3% yang menggunakan kacamata pelindung dan 8% yang menggunakan

rubber dam ketika merawat pasien. Pada umumnya, dokter gigi muda dan baru beberapa tahun praktek memiliki pengetahuan, sikap, dan tindakan yang lebih baik dibandingkan dengan yang tua dan telah lama praktek. Berdasarkan hasil observasi, hampir semua dokter gigi menggunakan masker dan sarung tangan ketika memberi perawatan (94,67% dan 92%), tetapi hanya 20% yang menggunakan kacamata pelindung terutama dokter gigi yang berusia muda.

(4)

vii

PERNYATAAN PERSETUJUAN

Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan di hadapan tim penguji skripsi

Medan, 4 Mei 2012

Pembimbing : Tanda tangan

(5)

viii

TIM PENGUJI SKRIPSI

Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan tim penguji pada tanggal 4 Mei 2012

TIM PENGUJI

KETUA : Prof. Lina Natamiharja, drg., SKM ANGGOTA : 1. Gema Nazri Yanti, drg

(6)

ix

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT karena berkat rahmat dan karunia-Nya, skripsi ini dapat diselesaikan sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Kedokteran Gigi pada Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara. Dalam penelitian ini penulis ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada orang tua tercinta, Ayahanda Nurdin Kamal dan Ibunda Elfa Yani yang telah begitu banyak memberikan pengorbanan untuk membesarkan, mendidik, memberikan kasih sayang, cinta, bimbingan dan semangat kepada penulis. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada adik-adik tercinta Riyandhika Putra. N dan Luthfi Aulia. N yang selalu memberikan dorongan dan semangat pada penulis.

Dalam penulisan skripsi ini, penulis banyak mendapatkan bimbingan dan pengarahan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini penulis ingin mengucapakan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Prof. Nazruddin, drg., C.Ort., Ph.D., Sp.Ort selaku Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.

(7)

x

3. Simson Damanik, drg., M.Kes selaku dosen pembimbing yang telah meluangkan waktu dan memberikan bimbingan, petunjuk, pengarahan serta saran kepada penulis dalam penulisan skripsi ini.

4. Gema Nazri Yanti, drg selaku penasehat akademik yang telah membimbing dan mengarahkan penulis selama menjalani pendidikan di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.

5. Seluruh staf pengajar dan pegawai Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara terutama di Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Pencegahan/Kesehatan Gigi Masyarakat.

6. Sahabat-sahabat terbaik penulis, Rio, Alifina, Aqwam, Imel, Namira, Rissa, Rizka, Rora, Hilman, dan seluruh teman-teman angkatan 2008 yang telah banyak membantu penulis dalam penyelesaian skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan di dalam penulisan skripsi ini dan penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun untuk menghasilkan karya yang lebih baik lagi di kemudian hari.

Akhir kata penulis mengharapkan semoga hasil karya atau skripsi ini dapat memberikan sumbangan pikiran yang berguna bagi fakultas, pengembangan ilmu dan masyarakat.

Medan, 4 Mei 2012 Penulis,

(8)

xi

DAFTAR ISI

Halaman HALAMAN JUDUL...

HALAMAN PERSETUJUAN... HALAMAN TIM PENGUJI...

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI... vi

DAFTAR TABEL... viii

DAFTAR LAMPIRAN... x

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 5

1.3 Tujuan Penelitian... 5

1.4 Manfaat Penelitian... 6

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengetahuan ... 7

2.2 Sikap... 9

2.3 Tindakan... 10

2.4 Prosedur Pencegahan Penyakit Menular ... 11

2.4.1 Evaluasi Pasien... 11

2.4.2 Perlindungan Diri ... 11

2.4.3 Sterilisasi Instrumen ... 14

2.4.4 Disinfeksi Permukaan ... 17

2.4.5 Penggunaan Alat Sekali Pakai/Disposable... 19

2.4.6 Penanganan Sampah Medis... 20

2.5 Penyakit Menular ... 20

2.5.1 Hepatitis ... 21

2.3.2 Herpes Simpleks... 22

2.5.3 HIV/AIDS ... 22

(9)

xii

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian ... 25

3.2 Populasi Penelitian ... 25

3.3 Besar Sampel... 25

3.4 Cara Sampling ... 26

3.5 Variabel Penelitian ... 26

3.6 Definisi Operasional... 27

3.7 Cara Pengumpulan Data... 29

3.8 Pengolahan dan Analisis Data... 31

BAB 4 HASIL PENELITIAN 4.1 Pengetahuan Dokter Gigi Terhadap Pencegahan Penyakit Menular Di Praktek Dokter Gigi ... 32

4.2 Pengetahuan Dokter Gigi Terhadap Pencegahan Penyakit Menular Di Praktek Dokter Gigi Berdasarkan Usia dan Lama Praktek... 34

4.3 Sikap Dokter Gigi Terhadap Pencegahan Penyakit Menular Di Praktek Dokter Gigi ... 41

4.4 Sikap Dokter Gigi Terhadap Pencegahan Penyakit Menular Di Praktek Dokter Gigi Berdasarkan Usia dan Lama Praktek... 42

4.5 Tindakan Dokter Gigi Terhadap Pencegahan Penyakit Menular Di Praktek Dokter Gigi ... 48

4.6 Tindakan Dokter Gigi Terhadap Pencegahan Penyakit Menular Di Praktek Dokter Gigi Berdasarkan Usia dan Lama Praktek... 50

4.7 Observasi Tindakan Dokter Gigi Terhadap Pencegahan Penyakit Menular Di Praktek Dokter Gigi ... 59

BAB 5 PEMBAHASAN 5.1 Pengetahuan Dokter Gigi Terhadap Pencegahan Penyakit Menular Di Praktek Dokter Gigi ... 61

5.2 Pengetahuan Dokter Gigi Terhadap Pencegahan Penyakit Menular Di Praktek Dokter Gigi Berdasarkan Usia dan Lama Praktek... 62

5.3 Sikap Dokter Gigi Terhadap Pencegahan Penyakit Menular Di Praktek Dokter Gigi ... 64

5.4 Sikap Dokter Gigi Terhadap Pencegahan Penyakit Menular Di Praktek Dokter Gigi Berdasarkan Usia dan Lama Praktek... 65

5.5 Tindakan Dokter Gigi Terhadap Pencegahan Penyakit Menular Di Praktek Dokter Gigi ... 67

(10)

xiii

5.7 Observasi Tindakan Dokter Gigi Terhadap Pencegahan Penyakit

Menular Di Praktek Dokter Gigi ... 72 BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan... 73 6.2 Saran... 74

(11)

xiv

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1 Komposisi jumlah ukuran sampel penelitian ... 26

2 Kategori pengetahuan ... 30

3 Kategori sikap ... 30

4 Kategori tindakan ... 31

5 Distribusi frekuensi pengetahuan dokter gigi tentang pencegahan penyakit menular di praktek dokter gigi (n=150) ... 33

6 Kategori pengetahuan dokter gigi tentang pencegahan penyakit menular di praktek dokter gigi (n=150) ... 33

7 Distribusi frekuensi pengetahuan dokter gigi tentang pencegahan penyakit menular di praktek dokter gigi berdasarkan usia (n=150) ... 35

8 Distribusi frekuensi pengetahuan dokter gigi tentang pencegahan penyakit menular di praktek dokter gigi berdasarkan lama praktek (n=150)... 38

9 Kategori pengetahuan dokter gigi tentang pencegahan penyakit menular di praktek dokter gigi berdasarkan usia dan lama praktek (n=150)... 41

10 Distribusi frekuensi sikap dokter gigi terhadap pencegahan penyakit menular di praktek dokter gigi (n=150) ... 42

11 Kategori sikap dokter gigi terhadap pencegahan penyakit menular di praktek dokter gigi (n=150) ... 42

12 Distribusi frekuensi sikap dokter gigi terhadap pencegahan penyakit menular di praktek dokter gigi berdasarkan usia (n=150) ... 44

13 Distribusi frekuensi sikap dokter gigi terhadap pencegahan penyakit menular di praktek dokter gigi berdasarkan lama praktek (n=150) ... 46

(12)

xv

15 Distribusi frekuensi tindakan dokter gigi terhadap pencegahan

penyakit menular di praktek dokter gigi (n= 150) ... 49 16 Kategori tindakan dokter gigi terhadap pencegahan penyakit

menular di praktek dokter gigi (n=150) ... 50 17 Distribusi frekuensi tindakan dokter gigi terhadap pencegahan

penyakit menular di praktek dokter gigi berdasarkan usia (n= 150) ... 51 18 Distribusi frekuensi tindakan dokter gigi terhadap pencegahan

penyakit menular di praktek dokter gigi berdasarkan lama praktek

(n= 150)... 55 19 Kategori tindakan dokter gigi terhadap pencegahan penyakit

menular di praktek dokter gigi berdasarkan usia dan lama praktek

(n=150)... 59 20 Observasi tindakan dokter gigi terhadap pencegah penyakit menular di

(13)

xvi

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran

1. Kerangka konsep

2. Surat keterangan izin penelitian di praktek dokter gigi di kota Medan.

3. Kuesioner pengetahuan, sikap, dan tindakan dokter gigi terhadap pencegahan penyakit menular di praktek dokter gigi.

4. Lembaran observasi terhadap kenyataan tindakan pencegahan yang dilakukan dokter gigi di praktek.

(14)

xvii

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Petugas di bidang pelayanan kesehatan umum maupun gigi, baik dokter gigi, perawat gigi maupun pembantu rawat gigi, telah lama disadari merupakan kelompok yang berisiko tinggi terhadap penularan penyakit, mengingat ruang lingkup kerjanya yang setiap kali berhubungan bahkan berkontak langsung dengan lesi penderita. Penularan yang mungkin terjadi di ruang praktek dokter gigi tidak hanya antar sesama penderita, dokter gigi mungkin tanpa disadarinya suatu saat mendapatkan penularan dari penderita pembawa penyakit menular dan tanpa mengindahkan prinsip-prinsip dasar antisepsis akan menularkannya kepada penderita yang lain di ruang praktek.1

(15)

xviii

Peningkatan insiden infeksi human immunodeficiency virus (HIV) dan virus hepatitis B (HBV) menyebabkan peningkatan kewaspadaan terhadap penyebaran penyakit semakin meningkat selama 10 tahun terakhir. Banyak pasien dan tenaga medis di kedokteran gigi yang beresiko untuk tertular mikroorganisme patogen termasukcytomegalovirus(CMV), hepatitis B virus (HBV),hepatitis C virus(HCV),

herpes simplex virus tipe 1 dan 2, human immunodeficiency virus (HIV),

Mycobacterium tuberculosis, staphylococci, streptococci, serta berbagai macam virus, bakteri yang berkolonisasi serta menginfeksi rongga mulut dan saluran pernafasan.1,4,6

Di Amerika dilaporkan terjadinya penularan HIV dari seorang dokter gigi kepada lima pasiennya. Apabila di negara maju masih terdapat hal semacam itu, maka dapat diasumsikan bahwa di negara berkembang seperti Indonesia tindakan pencegahan masih belum memadai. Dalam penelitian lain disebutkan seorangdental hygienis yang tidak memakai sarung tangan terbukti telah menyebarkan 20 kasus herpes simplek pada pasien, yang berasal dari lesi herpetik pada jarinya.5,7,8

Penelitian lain menyebutkan bahwa sampai saat ini sudah ada 8 dokter gigi yang tertular penyakit hepatitis B. Risiko penularan dari pasien ke pekerja kesehatan gigi jauh lebih besar dibandingkan risiko penyebaran dari dokter gigi ke pasien. Berbagai survei dan penelitian menunjukkan bahwa 20% kejadian hepatitis B berkembang setelah terjadinya luka akibat tusukan jarum dari pasien hepatitis B, dibandingkan dengan perkiraan 0,4% paparan terhadap HIV.5,8

(16)

xix

terutama di negara berkembang yang disebabkan oleh luka tusukan jarum yang terkontaminasi. Center for Disease Control and Prevention (CDC) melaporkan hasil penelitian dari 360 orang petugas kesehatan yang terluka di praktek yaitu 36% dokter gigi, 34% ahli bedah mulut, 22% perawat gigi, dan 4% mahasiswa kedokteran gigi.9,10

Tindakan asepsis dan langkah-langkah pencegahan di lingkungan kerja dapat membatasi penyebaran mikroorganisme patogen penyebab penyakit. Tujuannya adalah untuk melindungi pasien dan petugas kesehatan gigi dari berbagai penyakit menular yang mungkin ditemukan di praktek. Dokter gigi biasanya tidak dapat mengetahui status kesehatan umum pasiennya secara pasti, sehingga setiap pasien harus selalu dianggap sebagai pembawa penyakit. Hal tersebut bertujuan agar dokter gigi selalu waspada untuk melindungi diri sendiri dan pasien dari infeksi penyakit.3

(17)

xx

menunjukkan bahwa pengetahuan dokter gigi di Turki relatif lemah tentang prosedur pencegahan penyakit menular.5

Dengan melakukan prosedur kontrol infeksi dapat dicegah terjadinya penularan penyakit yang berbahaya, bahkan dapat mencegah terjadinya kematian. Prosedur pencegahan antara lain adalah evaluasi pasien, perlindungan diri, sterilisasi, disinfeksi, pembuangan sampah medis secara aman, dan tindakan asepsis. Di laboratorium tekniker gigi juga harus diterapkan prosedur-prosedur tersebut. Dengan berkembangnya metode sterilisasi dan asepsis pada praktek dokter gigi dan laboratorium gigi, secara nyata telah menurunkan risiko terjadinya penularan penyakit pada pasien, dokter gigi, dan stafnya.3

(18)

xxi

Berdasarkan kenyataan tersebut, peneliti merasa tertarik untuk melakukan penelitian tentang tingkat pengetahuan, sikap, dan tindakan dokter gigi terhadap pencegahan penyakit menular di praktek dokter gigi di kota Medan.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, penulis dapat merumuskan permasalahan penelitian ini, yaitu bagaimana tingkat pengetahuan, sikap, dan tindakan dokter gigi terhadap pencegahan penyakit menular di praktek dokter gigi di kota Medan?.

1.3 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Untuk mengukur kategori pengetahuan dokter gigi tentang pencegahan penyakit menular di praktek dokter gigi.

2. Untuk mengukur kategori pengetahuan dokter gigi tentang pencegahan penyakit menular di praktek dokter gigi berdasarkan usia.

3. Untuk mengukur kategori pengetahuan dokter gigi tentang pencegahan penyakit menular di praktek dokter gigi berdasarkan lama praktek.

4. Untuk mengukur kategori sikap dokter gigi terhadap pencegahan penyakit menular di praktek dokter gigi.

5. Untuk mengukur kategori sikap dokter gigi terhadap pencegahan penyakit menular di praktek dokter gigi berdasarkan usia.

(19)

xxii

7. Untuk mengukur kategori tindakan dokter gigi terhadap pencegahan penyakit menular di praktek dokter gigi.

8. Untuk mengukur kategori tindakan dokter gigi terhadap pencegahan penyakit menular di praktek dokter gigi berdasarkan usia.

9. Untuk mengukur kategori tindakan dokter gigi terhadap pencegahan penyakit menular di praktek dokter gigi berdasarkan lama praktek.

10. Untuk melihat sejauh mana tindakan dokter gigi terhadap pencegahan penyakit menular di praktek dokter gigi.

1.4 Manfaat Penelitian

1. Dapat menjadi masukan bagi dokter gigi dalam rangka menurunkan angka penularan penyakit di praktek dokter gigi.

2. Dapat menjadi masukan bagi dokter gigi agar dapat mengambil langkah-langkah dan kebijaksanaan dalam meningkatkan tindakan pencegahan penyakit menular di praktek dokter gigi.

(20)

xxiii

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

Perilaku manusia sangat kompleks dan mempunyai ruang lingkup yang sangat luas. Benyamin Bloom, seorang ahli psikologi pendidikan membagi perilaku kedalam tiga ranah/kawasan yaitu ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotor. Dalam perkembangan selanjutnya, untuk kepentingan pengukuran hasil pendidikan, ketiga ranah tersebut diukur dari pengetahuan (knowledge), sikap (attitude), dan tindakan (practice).

2.1 Pengetahuan

Pengetahuan adalah hasil ‘tahu’ dan ini terjadi setelah orang melakukan

pengindaraan terhadap suatu objek tertentu. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui indra mata dan telinga. Ada enam tingkatan pengetahuan, yaitu:13

a. Tahu (know)

Tahu merupakan tingkat pengetahuan paling rendah. Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya, termasuk mengingat kembali sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima.

b. Memahami(comprehension)

(21)

xxiv

kemampuan menguraikan ini pokok dari suatu bacaan misalnya menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari.

c. Aplikasi (application)

Aplikasi adalah kemampuan menggunakan materi yang dipelajari berupa hukum-hukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya pada kondisi nyata. Mencakup kemampuan untuk menerapkan suatu kaidah metode bekerja pada suatu kasus dan masalah yang nyata misalnya mengerjakan, memanfaatkan, menggunakan, dan mendemonstrasikan.

d. Analisis (analysis)

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam suatu struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain.

e. Sintesis (synthesis)

Sintesis adalah kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain, sintesis merupakan suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada.

f. Evaluasi (evaluation)

(22)

xxv

Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden.13

2.2 Sikap

Sikap merupakan suatu respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. Manifestasi sikap tidak langsung dilihat akan tetapi harus ditafsirkan terlebih dahulu sebagai tingkah laku yang tertutup. Sikap terdiri atas berbagai tingkatan, antara lain:13

a. Menerima (receiving)

Menerima diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan (objek).

b. Merespon (responding)

Merespon adalah memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan, dan menyelesaikan tugas.

c. Menghargai (valuating)

Menghargai adalah mengajak orang lain mengerjakan atau mendiskusikan masalah.

d. Bertanggung jawab (responsible)

Bertanggung jawab adalah mempunyai tanggung jawab terhadap segala sesuatu yang dipilihnya dengan segala risiko.

(23)

xxvi

suatu objek. Secara tidak langsung dapat dilakukan dengan pernyataan hipotesis, kemudian ditanyakan pendapat responden.13

2.3 Tindakan

Tindakan merupakan suatu sikap yang diwujudkan menjadi suatu perbuatan nyata yang didukung oleh suatu kondisi yang memungkinkan. Tindakan dibedakan atas beberapa tingkatan, yaitu:13

a. Persepsi (perception)

Persepsi adalah suatu proses mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang akan diambil. Persepsi merupakan praktek tingkat pertama.

b. Respons terpimpin (guide responce)

Respon terpimpin adalah suatu kebolehan dalam melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar dan sesuai dengan contoh. Respon terpimpin merupakan indikator praktek tingkat kedua.

c. Mekanisme (mechanism)

Apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis atau sesuatu sudah merupakan kebiasaan maka ia telah mencapai praktek tingkat ketiga.

d. Adopsi (adoption)

(24)

xxvii

2.4 Prosedur Pencegahan Penyakit Menular

Pencegahan penyakit menular di praktek dokter gigi pada umumnya mengikuti standard precautions yang dikeluarkan oleh Center of Disease Control and Prevention (CDC) yaitu prosedur yang harus diikuti ketika melakukan tindakan yang melibatkan kontak dengan darah, semua cairan tubuh, sekresi, ekskresi (kecuali keringat), kulit dengan luka terbuka dan mukosa. Pencegahan bertujuan untuk melindungi dokter gigi, pasien, dan staf dari paparan objek yang infeksius selama prosedur perawatan berlangsung.14 Pencegahan-pencegahan yang dilakukan adalah sebagai berikut:

2.4.1 Evaluasi Pasien

Harus diketahui riwayat kesehatan yang lengkap dari setiap pasien dan diperbaharui pada setiap kunjungan. Hal ini dimaksudkan agar dapat diketahui adanya infeksi silang yang kemungkinan terjadi pada praktek dokter gigi. Harus diperhatikan mengenai adanya penyakit infeksi yang berbahaya.3

2.4.2 Perlindungan Diri

Dalam hal ini termasuk cuci tangan, pemakaian baju praktek, penggunaan sarung tangan, penggunaan kacamata pelindung, penggunaan masker, penggunaan rubber dam, dan imunisasi.

(25)

xxviii

Mencuci tangan dengan sabun perlu dilakukan setiap sebelum dan sesudah merawat pasien. Setiap kali selesai perawatan, sarung tangan harus dibuang dan tangan harus dicuci lagi sebelum mengenakan sarung tangan yang baru.3,12

Prosedur mencuci tangan yang benar adalah seperti berikut:15 a. Tangan dibasahkan dengan air di bawah kran atau air mengalir.

b. Sabun cair yang mengandung zat antiseptik dituang ke tangan dan digosok sampai berbusa.

c. Kedua telapak tangan digosok sampai ke ujung jari. Selanjutnya, kedua bagian punggung tangan digosok. Jari dan kuku serta pergelangan tangan juga dibersihkan. Semua ini dilakukan selama sekitar 10-15 detik.

d. Tangan dibilas bersih dengan air mengalir. e. Tangan dikeringkan dengan menggunakan tisu.

Mengeringkan tangan dengan kertas tisu adalah lebih baik dibandingkan mengeringkan tangan menggunakan mesin pengering tangan, karena mesin pengering tangan umumnya menampung banyak bakteri.15

2. Pemakaian jas praktek

Dokter gigi dan stafnya harus memakai jas praktek yang bersih dan sudah dicuci. Jas tersebut harus diganti setiap hari dan harus diganti saat terjadi kontaminasi. Jas praktek harus dicuci dengan air panas dan deterjen serta pemutih klorin, bahkan jas yang terkontaminasi perlu penanganan tersendiri. Bakteri patogen dan beberapa virus, terutama virus hepatitis B dapat hidup pada pakaian selama beberapa hari hingga beberapa minggu.3,14

(26)

xxix

Semua dokter gigi dan stafnya harus memakai sarung tangan lateks atau vinil sekali pakai. Hal ini untuk melindungi dokter gigi, staf, dan pasien. Tujuan penggunaan sarung tangan adalah untuk mencegah bersentuhan langsung dengan darah, saliva, mukosa, cairan tubuh, atau sekresi tubuh lainnya dari penderita. Sarung tangan vinil dapat dipakai untuk mereka yang alergi terhadap lateks. Sarung tangan harus diganti setiap selesai perawat pada setiap pasien.3,14,16

Ada tiga macam sarung tangan yang dipakai dalam kedokteran gigi, diantaranya:8

a. Sarung tangan lateks yang bersih harus digunakan pada saat dokter gigi memeriksa mulut pasien atau merawat pasien tanpa kemungkinan terjadinya perdarahan.

b. Sarung tangan steril harus digunakan saat melakukan tindakan bedah atau mengantisipasi kemungkinan terjadinya perdarahan pada perawatan.

c. Sarung tangan heavy duty harus dipakai saat membersihkan alat, permukaan kerja, atau saat menggunakan bahan kimia.

4. Penggunaan masker

Pemakaian masker seperti masker khusus untuk bedah sebaiknya digunakan pada saat menggunakan instrumen berkecepatan tinggi untuk mencegah terhirupnya aerosol yang dapat menginfeksi saluran pernafasan atas dan bawah. Efektifitas penyaringan dari masker tergantung dari bahan yang dipakai (masker polipropilen lebih baik daripada masker kertas) dan lama pemakaian (efektif 30-60 menit). Sebaiknya menggunakan satu masker untuk satu pasien.3,14,16

(27)

xxx

Kacamata pelindung harus dipakai dokter gigi dan stafnya untuk melindungi mata dari debris yang diakibatkan oleh high speed handpiece, pembersihan karang gigi baik secara manual maupun ultrasonik. Perlindungan mata dari saliva, mikroorganisme, aerosol, dan debris sangat diperlukan untuk dokter gigi maupun staf.3,8,14

6. Penggunaanrubber dam

Rubber dam harus digunakan pada operasi untuk menghindari terjadinya aerosol karena tidak terjadi pengumpulan saliva diatas rubber dam. Selain untuk mengurangi kontak instrumen dengan mukosa, rubber dam juga berguna untuk mengurangi terjadinya luka dan pendarahan.3

7. Imunisasi

Pelindung yang paling mudah digunakan dan yang paling jarang digunakan sebagai sumber perlindungan untuk dokter gigi dan staf adalah imunisasi, misalnya

(28)

xxxi

2.4.3 Sterilisasi Instrumen

Sterilisasi adalah setiap proses (kimia atau fisik) yang membunuh semua bentuk hidup terutama mikroorganisme termasuk virus dan spora bakteri. Sterilisasi dilakukan dalam 4 tahap, yaitu:3,6,8

1. Pembersihan sebelum sterilisasi

Sebelum disterilkan, alat-alat harus dibersihkan terlebih dahulu dari debris organik, darah, saliva. Dalam kedokteran gigi, pembersihan dapat dilakukan dengan cara pembersihan manual atau pembersihan dengan ultrasonik. Pembersihan dengan memakai alat ultrasonik dengan larutan deterjen lebih aman, efisien, dan efektif dibandingkan dengan penyikatan. Gunakan alat ultrasonik yang ditutup selama 10 menit. Setelah dibersihkan, instrumen tersebut dicuci dibawah aliran air dan dikeringkan dengan baik sebelum disterilkan. Hal ini penting untuk mendapatkan hasil sterilisasi yang sempurna dan untuk mencegah terjadinya karat.3,6

2. Pembungkusan

Setelah dibersihkan, instrumen harus dibungkus untuk memenuhi prosedur klinik yang baik. Instrumen yang digunakan dalam kedokteran gigi harus dibungkus untuk sterilisasi dengan menggunakan nampan terbuka yang ditutup dengan kantung sterilisasi yang tembus pandang, nampan yang berlubang dengan penutup yang dibungkus dengan kertas sterilisasi, atau dibungkus secara individu dengan bungkus untuk sterilisasi yang dapat dibeli.3,6

3. Proses sterilisasi

(29)

xxxii

Siklus sterilisasi dari 134oC selama 3 menit pada 207 kPa untuk instrumen yang dibungkus maupun yang tidak dibungkus. Cara kerja dari autoclave sama dengan pressure cooker. Uap jenuh lebih efisien membunuh mikroorganisme dibandingkan dengan perebusan maupun pemanasan kering. Instrumen tersebut dapat dibungkus dengan kain muslin, kertas, nilon, aluminium foil, atau plastik yang dapat menyalurkan uap.3

b. Pemanasan kering (oven)

Penetrasi pada pemanasan kering kurang baik dan kurang efektif dibandingkan dengan pemanasan basah dengan tekanan tinggi. Akibatnya, dibutuhkan temperatur yang lebih tinggi 160oC atau 170oC dan waktu yang lebih lama (2 jam atau 1 jam) untuk proses sterilisasi. Menurut Nisengard dan Newman suhu yang dipakai adalah 170oC selama 60 menit, untuk alat yang dapat menyalurkan panas adalah 190oC, sedang untuk instrumen yang tidak dibungkus 6 menit.3

c. Uap bahan kimia (chemiclave)

(30)

xxxiii

menyebabkan karat pada instrumen atau bur dan setelah sterilisasi diperoleh instrumen yang kering. Namun instrumen harus diangin-anginkan untuk mengeluarkan uap sisa bahan kimia.3

4. Penyimpanan yang aseptik

Setelah sterilisasi, instrumen harus tetap steril hingga saat dipakai. Penyimpanan yang baik sama penting dengan proses sterilisasi itu sendiri, karena penyimpanan yang kurang baik akan menyebabkan instrumen tersebut tidak steril lagi. Lamanya sterilitas tergantung dari tempat dimana instrumen itu disimpan dan bahan yang dipakai untuk membungkus. Daerah yang tertutup dan terlindung dengan aliran udara yang minimal seperti lemari atau laci merupakan tempat penyimpanan yang baik. Pembungkus instrumen hanya boleh dibuka segera sebelum digunakan, apabila dalam waktu satu bulan tidak digunakan harus disterilkan ulang.3

2.4.4 Disinfeksi Permukaan

Disinfeksi adalah membunuh organisme-organisme patogen (kecuali spora kuman) dengan cara fisik atau kimia yang dilakukan terhadap benda mati. Disinfeksi dapat mengurangi kemungkinan terjadi infeksi. Disinfeksi permukaan dilakukan pada

dental unit, kabinet, tuba dan pipa, sertahandpiecedan instrumen tangan.14,17

(31)

xxxiv

membersihkan alat-alat tersebut dari debris organik dan bahan-bahan berminyak karena dapat menghambat proses disinfeksi. Macam-macam disinfektan yang digunakan di kedokteran gigi, antara lain adalah:3

1. Alkohol

Larutan etil alkohol atau propil alkohol digunakan untuk mendisinfeksi kulit. Alkohol yang dicampur dengan aldehid digunakan dalam bidang kedokteran gigi untuk mendisinfeksi permukaan, tetapi ADA tidak menganjurkan pemakaian alkohol untuk mendisinfeksi permukaan oleh karena cepat menguap tanpa meninggalkan efek sisa.

2. Aldehid

Aldehid merupakan salah satu disinfektan yang populer dan kuat, baik dalam bentuk tunggal maupun kombinasi. Glutaraldehid 2% dapat dipakai untuk mendisinfeksi alat-alat yang tidak dapat disterilkan. Alat yang selesai didisinfeksi, diulas dengan kasa steril kemudian diulas kembali dengan kasa steril yang dibasahi dengan akuades karena glutaraldehid yang tersisa pada instrumen dapat mengiritasi kulit atau mukosa. Operator harus memakai masker, kacamata pelindung dan sarung tanganheavy duty.

3. Biguanid

(32)

xxxv

lebih tinggi yaitu 2% digunakan sebagai disinfeksi gigi tiruan. Zat ini sangat aktif terhadap bakteri gram (+) maupun gram (-).

4. Senyawa halogen

Hipoklorit dan povidon-iodin adalah zat oksidasi dan melepaskan ion halida seperti chloros, domestos, dan betadine. Walaupun murah dan efektif, zat ini dapat menyebabkan karat pada logam dan cepat diinaktifkan oleh bahan organik.

5. Fenol

Fenol merupakan larutan jernih, tidak mengiritasi kulit, dan dapat digunakan untuk membersihkan alat yang terkontaminasi karena tidak dapat dirusak oleh zat organik. Zat ini bersifat virusidal dan sporosidal yang lemah. Namun, karena sebagian besar bakteri dapat dibunuh oleh zat ini, banyak digunakan di rumah sakit dan laboratorium.

6. Klorsilenol

Klorsilenol merupakan larutan yang tidak mengiritasi dan banyak digunakan sebagai antiseptik, seperti dettol. Aktifitasnya rendah terhadap banyak bakteri dan penggunaannya terbatas sebagai disinfektan.

2.4.5 Penggunaan Alat Sekali Pakai/Disposable

(33)

xxxvi

digunakan untuk anastesi lokal atau bahan lain. Jarum tersebut terbungkus sendiri-sendiri dan disterilkan, sehingga dijamin ketajaman dan sterilitasnya.8

Selain jarum suntik, benang dan jarum jahit juga tersedia dalam bentuk sekali pakai. Bilah skalpel dan kombinasi bilah-tangkai juga tersedia dalam bentuk steril untuk sekali pemakaian. Disamping itu, cara terbaik untuk mencegah terjadinya penularan penyakit antar pasien adalah menggunakan alat sekali pakai/disposable

seperti sarung tangan, masker, kain alas dada, ujung saliva ejektor, dan lain-lain.8,17

2.4.6 Penanganan Sampah Medis

Pembuangan barang-barang bekas pakai seperti sarung tangan, masker, tisu bekas, dan penutup permukaan yang terkontaminasi darah dan cairan tubuh harus ditangani secara hati-hati dan dimasukkan ke dalam kantung plastik yang kuat dan tertutup rapat untuk mengurangi kemungkinan orang kontak dengan benda-benda tersebut. Benda-benda tajam seperti jarum atau pisau skalpel harus dimasukkan dalam tempat yang tahan terhadap tusukan sebelum dimasukkan dalam kantung plastik. Jaringan tubuh juga harus mendapat perlakuan yang sama dengan benda tajam.3

2.5 Penyakit Menular

(34)

xxxvii

lingkungan. Mikroorganisme (agen) penyebab penyakit diantaranya adalah virus, bakteri, jamur, dan parasit. Penularan penyakit infeksi dari seseorang kepada orang lain umumnya melalui suatu alat atau media perantara yang terkontaminasi mikroorganisme.18,19

Insidens terjadinya penularan penyakit infeksi lebih tinggi ditemukan pada dokter gigi karena seringnya berkontak dengan mikroorganisme yang terdapat di dalam cairan mulut dan darah. Di klinik gigi ataupun di tempat praktek dokter gigi, rute penularan infeksi dapat terjadi melalui:3,6,19

a. Kontak langsung dengan darah, cairan mulut (termasuk saliva), dan cairan tubuh lainnya.

b. Kontak tidak langsung dengan objek yang terkontaminasi.

c. Kontak mata, hidung, mulut atau membran mukosa dengan droplet yang mengandung mikroorganisme patogen dari pasien yang terinfeksi.

d. Terhirup mikroorganisme yang mengendap di udara dalam waktu yang lama.

Beberapa penyakit yang dapat ditularkan selama perawatan gigi antara lain hepatitis, herpes simpleks, HIV/AIDS, tuberkulosis, dan sebagainya.

2.5.1 Hepatitis

(35)

xxxviii

apabila dibandingkan risiko penularan dari pasien ke pekerja kesehatan gigi yang jauh lebih besar.8,20

Hepatitis B disebabkan oleh Hepatitis B Virus (HBV). Terdapat dua macam pola penularan hepatitis B yaitu pola penularan horizontal (penularan melalui kulit, penularan melalui mukosa seperti mulut, mata, hidung, saluran makan bagian bawah dan alat kelamin) dan pola penularan vertikal (dari ibu hamil yang mengidap hepatitis B kepada bayi yang dilahirkan). Dalam bidang kedokteran gigi, penyakit hepatitis B dapat ditularkam melalui darah, saliva, dan sekret nasofaringeal. Di dalam mulut konsentrasi HBV tertinggi terdapat di sulkus gingiva. Penyakit hepatitis B dapat di cegah dengan imunisasi.21

Hepatitis C disebabkan oleh Hepatitis C Virus (HCV). Penularan penyakit hepatitis C ini sama seperti hepatitis B. Akan tetapi, belum ada imunisasi yang dapat mencegah terjadinya penyakit ini.21

2.5.2 Herpes simpleks

Virus penyebab herpes simpleks dapat diklasifikasikan menjadi virus herpes simpleks tipe-1 (HSV-1) dan virus herpes simpleks tipe-2 (HSV-2). Antibodi untuk

(36)

xxxix

hampir semua pasien dewasa secara potensial dapat menularkan virus melalui saliva, semua lesi di dalam mulut harus dirawat dengan hati-hati.8

2.5.3 HIV/AIDS

AIDS merupakan singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome, yang artinya menurunkan system kekebalan tubuh. Penyebab penyakit ini adalah virus HIV (Human Immuno Deviciency Virus) yaitu sejenis virus yang melemahkan sistem kekebalan tubuh. Cara penularan HIV sampai saat ini diketahui adalah melalui hubungan seksual (homoseksual maupun heteroseksual) dan secara non seksual (darah atau produk darah dan transplasental/perinatal). Yang perlu di perhatikan bahwa seorang pengidap HIV dapat tampak sehat tetapi potensial sebagai sumber penularan seumur hidup.22

Ketakutan terkena infeksi HIV/AIDS melanda semua orang termasuk dokter gigi sebagai seorang tenaga kesehatan yang selalu berkontak dengan saliva dan darah. Cara penularan dapat berupa infeksi silang dari pasien ke pasien melalui alat-alat tercemar. Di bidang kedokteran gigi, tindakan perawatan yang berisiko penularan antara lain berupa pencabutan gigi, pembersihan karang gigi, pengasahan gigi terutama di daerah servikal, insisi, serta tindakan lain yang dapat menimbulkan luka.7

(37)

xl

bahwa selain terdapat pada darah, virus HIV yang menjadi penyebab AIDS juga ditemukan dalam saliva meskipun dalam kadar kecil.8,23

2.5.4 Tuberkulosis

Tuberkulosis adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri berbentuk batang (basil) yang dikenal dengan nama Mycobacterium tuberculosis.

Penularan penyakit ini melalui perantara ludah atau dahak penderita yang mengandung basil tuberkulosis paru. Pada waktu penderita batuk, butir-butir air ludah berterbangan di udara dan terhisap oleh orang yang sehat dan masuk ke dalam paru-parunya kemudian menyebabkan penyakit tuberkulosis paru.24

Penyakit tuberkulosis dapat diklasifikasikan menjadi tuberkulosis paru dan tuberkulosis ekstra paru. Tuberkulosis paru paling sering dijumpai yaitu sekitar 80% dari semua penderita. Tuberkulosis yang menyerang jaringan paru-paru ini merupakan satu-satunya bentuk dari TB yang menular. Tuberkulosis ekstra paru merupakan bentuk penyakit TB yang menyerang organ tubuh lain selain paru-paru, seperti pleura, kelenjar limfa, persendian tulang belakang, saluran kencing, susunan saraf pusat dan perut.24

(38)

xli

BAB 3

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian adalah penelitian deskriptif yaitu suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran atau mendeskripsikan tentang suatu keadaan secara objektif.

3.2 Populasi Penelitian

Populasi penelitian adalah dokter gigi praktek di kota Medan yaitu sebanyak 530 orang.

3.3 Besar Sampel

Penentuan besar sampel berdasarkan estimasi proporsi dengan presisi mutlak. Prakiraan proporsi berdasarkan hasil penelitian Terence Wibowo menunjukkan proporsi dokter gigi yang melakukan upaya pencegahan penyakit menular sebesar 87%. Besar sampel dihitung menggunakan rumus sebagai berikut:

N Z21-α/2P (1-P)

n =

(N-1) d2+ Z21-α/2P (1-P)

(39)

xlii

3.4 Cara Sampling

Cara sampling yang digunakan adalah purposive sampling yaitu suatu metode pemilihan sampel berdasarkan ciri dan tujuan tertentu. Karena keterbatasan waktu dan biaya, pengambilan sampel dilakukan berdasarkan penggolongan kecamatan di kota Medan yaitu lingkar dalam dan lingkar luar. Di Lingkar dalam terdapat sebanyak 326 praktek dokter gigi dan di lingkar luar sebanyak 204 praktek dokter gigi. Berdasarkan jumlah tersebut, didapatlah jumlah sampel penelitian di lingkar dalam sebanyak 92 responden dan di lingkar luar sebanyak 58 responden (Tabel 1).

Tabel 1. KOMPOSISI JUMLAH UKURAN SAMPEL PENELITIAN

PEMBAGIAN

DOKTER GIGI JUMLAH UKURAN SAMPEL

(a) (b) = (a) / 530 x 150

LINGKAR DALAM 326 92

LINGKAR LUAR 204 58

TOTAL 530 150

3.5 Variabel Penelitian

a. Usia responden, terdiri atas < 30 tahun, 31 40 tahun, 41 50 tahun, 51 -60 tahun, dan > -60 tahun.

b. Lama praktek responden, terdiri atas < 10 tahun, 11 - 20 tahun, 21 - 30 tahun, dan > 30 tahun

(40)

xliii

HIV/AIDS, cara penularan penyakit tuberkulosis, pengertian standard precautions, teknik mencuci tangan yang benar, langkah perlindungan diri, penggunaan masker yang memenuhi syarat, penggunaan sarung tangan, langkah meminimalkan risiko percikan, imunisasi yang penting bagi dokter gigi, langkah pemrosesan instrumen, peralatan yang perlu diberi disinfektan, bahan disinfektan yang digunakan sebagai antiseptik dan antiplak, serta jenis sampah medis yang ditempatkan dalam wadah khusus sebelum dibuang.

d. Sikap responden terhadap pencegahan penyakit menular di praktek dokter gigi yang meliputi sikap responden terhadap pasien yang menderita penyakit menular yang datang ke praktek, sikap responden jika jas praktek terkontaminasi ketika memberi perawatan, sikap responden jika sarung tangan robek ketika memberi perawatan, sikap responden jika masker terkontaminasi, sikap responden terhadap penggunaan instrumen, sikap responden terhadap penggunaa spuit dan jarum suntik, dan sikap responden terhadap sampah medis di praktek.

e. Tindakan responden terhadap pencegahan penyakit menular di praktek dokter gigi yang meliputi penggunaan jas praktek, sarung tangan, masker, kaca mata pelindung, rubber dam, imunisasi hepatitis B, pensterilan instrumen pemeriksaan, instrumen pencabutan, instrumen penambalan,dan alat skeler, disinfeksi dental unit

danhandpiece, penggunaan jarum suntik, penanganan sampah medis.

3.6 Definisi Operasional

(41)

xliv

b. Lama praktek responden yaitu sudah berapa tahun responden praktek sejak menjadi dokter gigi.

e. Pengetahuan responden tentang pencegahan penyakit menular di praktek dokter gigi yang ditanyakan dalam bentuk pertanyaan yang telah dipersiapkan dengan jawaban benar dan salah. Pertanyaan yang diajukan meliputi pengetahuan tentang penyakit yang berisiko tinggi menular di praktek, cara penularan penyakit hepatitis B dan C, cara penularan penyakit HIV/AIDS, cara penularan penyakit tuberkulosis, pengertian standard precautions, teknik mencuci tangan yang benar, langkah perlindungan diri, penggunaan masker yang memenuhi syarat, penggunaan sarung tangan, langkah meminimalkan risiko percikan, imunisasi yang penting bagi dokter gigi, langkah pemrosesan instrumen, peralatan yang perlu diberi disinfektan, bahan disinfektan yang digunakan sebagai antiseptik dan antiplak, serta jenis sampah medis yang ditempatkan dalam wadah khusus sebelum dibuang.

(42)

xlv

f. Tindakan dokter gigi terhadap pencegahan penyakit menular di praktek yang ditanyakan dalam bentuk pertanyaan yang telah dipersiapkan dengan jawaban selalu, kadang-kadang, dan tidak pernah. Pertanyaan yang diajukan meliputi penggunaan jas praktek, sarung tangan, masker, kaca mata pelindung, rubber dam, imunisasi hepatitis B, pensterilan instrumen pemeriksaan, instrumen pencabutan, instrumen penambalan, dan alat skeler, disinfeksi dental unit dan handpiece, penggunaan jarum suntik, penanganan sampah medis.

Selain itu, dilakukan observasi terhadap tindakan dokter gigi di praktek, yang meliputi penggunaan jas praktek, sarung tangan, masker, kacamata pelindung, alat sterilisasi, dan tempat sampah medis.

3.7 Cara Pengumpulan Data

Peneliti memperoleh data dari Sekretariat PDGI Medan berupa daftar identitas dokter gigi praktek di kota Medan. Penyebaran kuesioner dengan cara memberikan kuesioner secara langsung kepada responden dan diisi langsung oleh responden, dengan ketentuan untuk setiap praktek, baik praktek pribadi maupun praktek bersama, hanya satu orang dokter gigi saja yang mengisi kuesioner.

Kuesioner yang diajukan terdiri atas tiga bagian pertanyaan, yaitu pertanyaan mengenai pengetahuan dokter gigi terhadap pencegahan penyakit menular di praktek, sikap dokter gigi terhadap pencegahan penyakit menular di praktek, dan tindakan dokter gigi terhadap pencegahan penyakit menular di praktek.

(43)

xlvi

dan yang menjawab salah diberi skor 0, sehingga skor tertinggi yang dapat dicapai responden adalah 15. Selanjutnya dikategorikan atas pengetahuan baik, cukup, dan kurang. Kategori baik apabila skor jawaban responden > 80% dari nilai tertinggi, kategori cukup apabila skor jawaban responden 79% - 60% dari nilai tertinggi, dan kategori kurang jika skor jawaban responden < 60% dari nilai tertinggi (Tabel 2).

Tabel 2. KATEGORI PENGETAHUAN

Alat ukur Hasil ukur Kategori penilaian Skor

Kuesioner

(15 pertanyaan)

Jawaban salah = 0

Jawaban benar = 1

Baik: > 80% dari nilai tertinggi 12 - 15

Cukup: 60% < skor < 79% dari nilai

tertinggi

10 - 11

Kurang : < 60% dari nilai tertinggi < 10

(44)

xlvii

Tabel 3. KATEGORI SIKAP

Alat ukur Hasil ukur Kategori penilaian Skor

Kuesioner

(7 pertanyaan)

Jawaban salah = 0

Jawaban benar = 1

Baik: > 80% dari nilai tertinggi 6 - 7

Cukup: 60% < skor < 79% dari nilai

tertinggi

4 - 5

Kurang : < 60% dari nilai tertinggi < 4

Tindakan dokter gigi terhadap pencegahan penyakit menular di praktek diukur melalui tujuh belas pertanyaan. Responden yang mejawab selalu diberi skor 2, kadang-kadang diberi skor 1, dan tidak pernah diberi skor 0, sehingga skor tertinggi yang dapat dicapai responden adalah 34. Selanjutnya dikategorikan atas baik, cukup, dan kurang. Kategori baik apabila skor jawaban responden > 80% dari nilai tertinggi, kategori cukup apabila skor jawaban responden 79% - 60% dari nilai tertinggi, dan kategori kurang jika skor jawaban responden < 60% dari nilai tertinggi (Tabel 4).

Tabel 4. KATEGORI TINDAKAN

Alat ukur Hasil ukur Kategori penilaian Skor

Kuesioner

(17 pertanyaan)

Tidak dilakukan = 0

Kadang-kadang = 1

Selalu = 2

Baik: > 80% dari nilai tertinggi 27 - 34

Cukup: 60% < skor < 79% dari nilai

tertinggi

20 - 26

(45)

xlviii

3.8 Pengolahan dan Analisis Data

(46)

xlix

BAB 4

HASIL PENELITIAN

4.1 Pengetahuan Dokter Gigi Terhadap Pencegahan Penyakit Menular

Di Praktek Dokter Gigi

(47)

l

Tabel 5. DISTRIBUSI FREKUENSI PENGETAHUAN DOKTER GIGI TENTANG PENCEGAHAN PENYAKIT MENULAR DI PRAKTEK DOKTER GIGI (n=150)

No

Pengetahuan Dokter Gigi Tentang Pencegahan

Penyakit Menular di Praktek

Benar Salah

Jumlah % Jumlah %

1 Penyakit yang berisiko tinggi di praktek 73 48,67 77 51,33

2 Cara penularan hepatitis B dan C 123 82,00 27 18,0

3 Cara penularan HIV/AIDS 144 96,00 6 4,0

4 Cara penularan Tuberkulosis 142 94,67 8 5,33

5 Definisistandard precautions 123 82,00 27 18,0

6 Teknik cuci tangan yang benar 122 81,33 28 18,67

7 Langkah perlindungan diri 149 99,33 1 0,67

8 Penggunaan masker yang baik 134 89,33 16 10,67

9 Syarat sarung tangan yang baik 139 92,67 11 7,33

10 Langkah meminimalkan risiko percikan 139 92,67 11 7,33

11 Imunisasi penting bagi dokter gigi 148 98,67 2 1,33

12 Langkah pemrosesan instrumen 69 46,00 81 54,00

13 Alat/peralatan yang dilakukan disinfeksi permukaan 119 79,33 31 20,67

14

Bahan disinfektan yang digunakan sebagai

antiseptik dan kontrol plak 105 70,00 45 30,00

15

Sampah medis yang harus dimasukkan ke dalam

(48)

li

Dari lima belas pertanyaan yang diajukan, diketahui bahwa dari segi pengetahuan sebanyak 95,34% dokter gigi tergolong dalam kategori baik dan cukup, dan hanya 4,67% tergolong dalam kategori kurang (Tabel 6).

Tabel 6. KATEGORI PENGETAHUAN DOKTER GIGI TENTANG

PENCEGAHAN PENYAKIT MENULAR DI PRAKTEK DOKTER GIGI (n=150)

Kategori Pengetahuan Jumlah Persentase

Baik 85 56,67

Cukup 58 38,67

Kurang 7 4,67

Jumlah 150 100

4.2 Pengetahuan Dokter Gigi Tentang Pencegahan Penyakit Menular Di

Praktek Dokter Gigi Berdasarkan Usia dan Lama Praktek

Berdasarkan usia, hasil penelitian menunjukkan dokter gigi yang berusia muda lebih mengetahui tentang pencegahan penyakit menular di praktek dibandingkan dengan yang lebih tua. Hal ini dapat dilihat dari 46,30% dokter gigi yang mengetahui penggunaan sarung tangan, masker, dan kacamata pelindung sebagai langkah perlindungan diri dan 47,20% yang mengetahui cara penularan penyakit HIV/AIDS melalui darah dan hubungan kelamin adalah yang berusia < 30 tahun. Sebanyak 33,33% yang menjawab salah tentang definisi standard precautions

(49)

lii

pennggunaan masker yang memenuhi syarat adalah yang berusia 31 - 40 tahun (Tabel 7).

Tabel 7. DISTRIBUSI FREKUENSI PENGETAHUAN DOKTER GIGI TENTANG PENCEGAHAN PENYAKIT MENULAR DI PRAKTEK DOKTER GIGI BERDASARKAN USIA (n=150)

Benar 68 47,22 32 22,22 24 16,67 14 9,722 6 4,17 144 Salah 2 33,33 2 33,33 1 16,67 1 16,67 0 0 6

Benar 64 52,03 29 23,58 16 13,01 12 9,756 2 1,63 123 Salah 6 22,22 5 18,52 9 33,33 3 11,11 4 14,8 27 Total 70 46,67 34 22,67 25 16,67 15 10 6 4 150

6

Teknik cuci tangan yang benar

Benar 58 47,54 30 24,59 20 16,39 10 8,197 4 3,28 122 Salah 12 42,86 4 14,29 5 17,86 5 17,86 2 7,14 28 Total 70 46,67 34 22,67 25 16,67 15 10 6 4 150

7

Langkah perlindungan diri

Benar 69 46,31 34 22,82 25 16,78 15 10,07 6 4,03 149

Salah 1 100 0 0 0 0 0 0 0 0 1

(50)

liii

Benar 69 49,64 32 23,02 21 15,11 11 7,914 6 4,32 139 Salah 1 9,091 2 18,18 4 36,36 4 36,36 0 0 11

Benar 69 49,64 33 23,74 22 15,83 12 8,633 3 2,16 139 Salah 1 9,091 1 9,091 3 27,27 3 27,27 3 27,3 11

Benar 60 50,42 25 21,01 18 15,13 10 8,403 6 5,04 119 Salah 10 32,26 9 29,03 7 22,58 5 16,13 0 0 31

(51)

liv

(52)

lv

Tabel 8. DISTRIBUSI FREKUENSI PENGETAHUAN DOKTER GIGI TENTANG PENCEGAHAN PENYAKIT MENULAR DI PRAKTEK DOKTER GIGI BERDASARKAN LAMA PRAKTEK (n=150) 2 Cara penularan hepatitis B

dan C 6 Teknik cuci tangan yang

benar 9 Syarat sarung tangan yang

baik

Benar 95 68,35 31 22,3 10 7,20 3 2,16 139 Salah 2 18,18 6 54,55 3 27,27 0 0 11 Total 97 64,67 37 24,67 13 8,67 3 2,00 150 10 Langkah meminimalkanrisiko percikan

(53)

lvi

Dari lima belas pertanyaan yang diajukan, hasil penelitian menunjukkan semakin muda usia dokter gigi, semakin baik pengetahuannya tentang pencegahan penyakit menular di praktek, dan sebaliknya semakin tua usia dokter gigi semakin kurang pengetahuannya tentang pencegahan penyakit menular di praktek. Hal ini terlihat dari 50,59% dokter gigi yang tergolong dalam kategori pengetahuan baik dan 43,10% yang tergolong dalam kategori pengetahuan cukup adalah yang berusia < 30 tahun, sedangkan 71,43% yang tergolong dalam kategori pengetahuan kurang adalah yang berusia 41 - 50 tahun (Tabel 9).

(54)

lvii

Tabel 9. KATEGORI PENGETAHUAN DOKTER GIGI TENTANG PENCEGAHAN PENYAKIT MENULAR DI PRAKTEK BERDASARKAN USIA DAN LAMA PRAKTEK (n=150)

Karakteristik Dokter Gigi

Kategori Pengetahuan

Total Baik Cukup Kurang

Jumlah % Jumlah % Jumlah %

Usia

< 30 tahun 43 50,59 25 43,10 0 0 68 31 - 40 tahun 25 29,41 9 15,52 0 0 34 41 - 50 tahun 12 14,12 10 17,24 5 71,43 27 51 - 60 tahun 4 4,706 9 15,52 2 28,57 15 > 60 tahun 1 1,176 5 8,621 0 0 6 Jumlah 85 100 58 100 7 100 150

Lama Parktek

< 10 tahun 11 - 20 tahun

63 74,12 32 55,17 1 14,29 96 18 21,18 16 27,59 4 57,14 38 21 - 30 tahun 3 3,529 8 13,79 2 28,57 13 > 30 tahun 1 1,176 2 3,448 0 0 3 Jumlah 85 100 58 100 7 100 150

4.3 Sikap Dokter Gigi Terhadap Pencegahan Penyakit Menular Di

Praktek Dokter Gigi

Hasil penelitian mengenai sikap dokter gigi terhadap pencegahan penyakit menular di praktek dokter gigi menunjukkan semua dokter gigi (100%) tetap memberi perawatan meskipun diketahui pasien menderita penyakit menular. Sebanyak 95,33% setuju untuk mengganti sarung tangan yang robek saat menangani pasien, sedangkan 84,67% memilih mengganti jas praktek yang telah terkontaminasi darah, saliva, dan debris setelah selesai menangani pasien (Tabel 10).

(55)

lviii

PENCEGAHAN PENYAKIT MENULAR DI PRAKTEK DOKTER GIGI (n=150)

No Sikap Dokter Gigi Terhadap Pencegahan Penyakit Menular di Praktek

Benar Salah Jumlah % Jumlah % 1 Terhadap pasien pembawa penyakit menular 150 100 0 0

2

Jika jas praktek yang terkontaminasi darah, saliva,

atau debris ketika merawat pasien 127 84,67 23 15,33

3

Jika sarung tangan yang robek ketika merawat

pasien 143 95,33 7 4,67 4 Jika masker terkontaminasi 145 96,67 5 3,33 5 Terhadap instrumen yang digunakan 147 98,0 3 2,00 6 Terhadap penggunaan jarum suntik 137 91,33 13 8,67 7 Terhadap penanganan sampah medis 143 95,33 7 4,67

Dari tujuh pertanyaan yang diajukan, dapat diketahui bahwa dari segi sikap sebanyak 92% dokter gigi tergolong dalam kategori baik, 6,67% tergolong dalam kategori cukup dan hanya 1,33% tergolong dalam kategori kurang (Tabel 11).

Tabel 11. KATEGORI SIKAP DOKTER GIGI TERHADAP PENCEGAHAN PENYAKIT MENULAR DI PRAKTEK DOKTER GIGI (n=150)

Kategori Sikap Jumlah Persentase

Baik 138 92

Cukup 10 6,67

Kurang 2 1,33

Jumlah 150 100

4.4 Sikap Dokter Gigi Terhadap Pencegahan Penyakit Menular Di

Praktek Dokter Gigi Berdasarkan Usia dan Lama Praktek

(56)

lix

adalah yang berusia < 30 tahun. Akan tetapi, 40% yang tidak setuju untuk mengganti mengganti masker yang terkontaminasi adalah yang berusia 31 - 40 tahun (Tabel 12).

Tabel 12. DISTRIBUSI FREKUENSI SIKAP DOKTER GIGI TERHADAP

PENCEGAHAN PENYAKIT MENULAR DI PRAKTEK DOKTER GIGI BERDASARKAN USIA (n=150)

Benar 70 46.67 34 22.67 25 16.67 15 10.00 6 4.00 150

Salah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

Total 70 46.67 34 22.67 25 16.67 15 10.00 6 4.00 150 2 Total 70 46.67 34 22.67 25 16.67 15 10.00 6 4.00 150 3 Total 71 47.33 34 22.67 25 16.67 15 10.00 6 4.00 150 4 Jika masker

terkontaminasi

Benar 68 46.90 32 22.07 25 17.24 14 9.66 6 4.14 145 Salah 2 40.00 2 40.00 0 0.00 1 20.00 0 0.00 5 Total 70 46.67 34 22.67 25 16.67 15 10.00 6 4.00 150 5

Terhadap instrumen yang

digunakan

Benar 68 46.26 34 23.13 25 17.01 15 10.20 5 3.40 147

Salah 2 66.67 0 0 0 0 0 0 1 33.33 3

(57)

lx

(58)

lxi

Tabel 13. DISTRIBUSI FREKUENSI SIKAP DOKTER GIGI TERHADAP

PENCEGAHAN PENYAKIT MENULAR DI PRAKTEK DOKTER GIGI BERDASARKAN LAMA PRAKTEK (n=150)

Benar 84 66,14 30 23,62 11 8,661 2 1,575 127 Salah 13 56,52 7 30,43 2 8,696 1 4,348 23

Benar 92 64,34 37 25,87 11 7,692 3 2,098 143

Salah 5 71,43 0 0 2 28,57 0 0 7

Total 97 64,67 37 24,67 13 8,667 3 2 150 4 Sikap dokter jika

masker terkontaminasi

Benar 93 64,14 37 25,52 12 8,276 3 2,069 145

Salah 4 80 0 0 1 20 0 0 5

Benar 95 64,63 37 25,17 13 8,844 2 1,361 147

Salah 2 66,67 0 0 0 0 1 33,33 3

Benar 89 64,96 33 24,09 12 8,759 3 2,19 137 Salah 8 61,54 4 30,77 1 7,692 0 0 13

Benar 94 65,73 35 24,48 12 8,392 2 1,399 143 Salah 3 42,86 2 28,57 1 14,29 1 14,29 7 Total 97 64,67 37 24,67 13 8,667 3 2 150

(59)

lxii

Selain itu, semakin lama dokter gigi praktek maka semakin kurang sikapnya tethadap pencegahan penyakit menular di praktek. Hal ini terlihat dari 65,95% dokter gigi yang tergolong dalam kategori sikap baik dan 40% yang tergolong dalam kategori cukup adalah yang telah praktek selama < 10 tahun, sedangkan 50% yang tergolong dalam kategori cukup adalah yang telah praktek selama 11 - 20 tahun (Tabel 14).

Tabel 14. KATEGORI SIKAP DOKTER GIGI TERHADAP PENCEGAHAN PENYAKIT MENULAR DI PRAKTEK DOKTER GIGI

BERDASARKAN USIA DAN LAMA PRAKTEK (n=150)

Karakteristik Dokter Gigi

Kategori Sikap

Total Baik Cukup Kurang

Jumlah % Jumlah % Jumlah %

Usia

<30 64 46,38 4 40,00 0 0 68

31-40 34 24,64 0 0 0 0 34

41-50 22 15,94 3 30,00 2 100 27 51-60 13 9,42 2 20,00 0 0 15 >60 5 3,623 1 10,00 0 0 6 Jumlah 138 100 10 100 2 100 150

Lama Parktek

< 10 tahun 91 65,94 4 40,00 1 50 96 11 - 20 tahun 34 24,64 3 30,00 1 50 38 21 - 30 tahun 11 7,971 2 20,00 0 0 13 > 30 tahun 2 1,449 1 10,00 0 0 3

Jumlah 138 100 10 100 2 100 150

4.5 Tindakan Dokter Gigi Terhadap Pencegahan Penyakit Menular Di

Praktek Dokter Gigi

(60)

lxiii

(61)

lxiv

Tabel 15. DISTRIBUSI FREKUENSI TINDAKAN DOKTER GIGI TERHADAP PENCEGAHAN PENYAKIT MENULAR DI PRAKTEK DOKTER GIGI (n=150)

Jumlah % Jumlah % Jumlah %

1

Menggunakan jas praktek yang

bersih dan sudah dicuci 134 89,33 14 9,33 2 1,33

2

Mencuci tangan sebelun dan

sesudah perawatan 142 94,67 5 3,33 3 2,00

3

Menggunakan sarung tangan ketika

merawat pasien 138 92,00 11 7,33 1 0,67

4

Mengganti sarung tangan setelah

merawat pasien 142 94,67 7 4,67 1 1,67

5

Menggunakan masker ketika

merawat pasien 142 94,67 8 5,33 0 0

6

Mengganti masker setelah merawat

pasien 65 43,33 80 53,33 5 3,33

7

Menggunakan kacamata pelindung

ketika merawat pasien 32 21,33 82 54,67 36 24,00

8

Menggunakanrubber damketika

merawat pasien 12 8,00 61 40,67 77 51,33 9 Mendapatkan imunisasi hepatitis B 105 70,00 0 0 45 30,00

10

Mensterilkan instrumen

pemeriksaan sebelum digunakan 142 94,67 8 5,33 0 0

11

Mensterilkan instrumen

pencabutan sebelum digunakan 146 97,33 4 2,67 0 0

12

Mensterilkn instrumen penambalan

sebelum digunakan 131 87,33 17 11,33 2 1,33

13

Mensterilkan alat skeler sebelum

digunakan 136 90,67 14 9,33 0 0

14

Mendisinfeksidental unitsecara

teratur 98 65,33 42 28,00 10 6,67

15

Mendisinfeksihandpiecesecara

teratur 117 78,00 32 21,33 1 0,67

16

Menggunakan jarum suntik sekali

pakai untuk anastesi 150 100 0 0 0 0

17

Membedakan tempat sampah

medis dan non medis 115 76,67 24 16,00 11 7,33

(62)

lxv

Tabel 16. KATEGORI TINDAKAN DOKTER GIGI TERHADAP PENCEGAHAN PENYAKIT MENULAR DI PRAKTEK DOKTER GIGI (n=150)

Kategori Tindakan Jumlah Persentase

Baik 118 78,67

Cukup 27 18,00

Kurang 5 3,33

Jumlah 150 100

4.6 Tindakan Dokter Gigi Terhadap Pencegahan Penyakit Menular Di

Praktek Dokter Gigi Berdasarkan Usia dan Lama Praktek

(63)

lxvi

Tabel 17. DISTRIBUSI FREKUENSI TINDAKAN DOKTER GIGI TERHADAP PENCEGAHAN PENYAKIT MENULAR DI PRAKTEK DOKTER GIGI BERDASARKAN USIA (n=150)

(64)

lxvii

(65)

lxviii

(66)

lxix

(67)

lxx

Tabel 18. DISTRIBUSI FREKUENSI TINDAKAN DOKTER GIGI TERHADAP PENCEGAHAN PENYAKIT MENULAR DI PRAKTEK DOKTER GIGI

BERDASARKAN LAMA PRAKTEK (n=150)

Selalu 87 64,93 34 25,37 10 7,46 3 2,24 134

Kadang-Selalu 92 64,79 34 23,94 13 9,15 3 2,11 142

Kadang-Selalu 94 66,20 35 24,65 11 7,75 2 1,41 142

(68)

lxxi

Tidak Pernah 25 55,56 14 31,11 4 8,89 2 4,44 45 Total 97 64,67 37 24,67 13 8,67 3 2,00 150

Selalu 93 65,49 34 23,94 13 9,15 2 1,41 142

Kadang-Selalu 95 65,07 36 24,66 13 8,90 2 1,37 146

Kadang-Selalu 88 67,18 32 24,43 10 7,63 1 0,76 131

Kadang-Selalu 91 66,91 31 22,79 12 8,82 2 1,47 136 Kadang-Tidak Pernah 3 30,00 4 40,00 1 10,00 2 20,00 10 Total 97 64,67 37 24,67 13 8,67 3 2,00 150

15

Mendisinfeksi

handpiecesecara teratur

Selalu 81 69,23 25 21,37 10 8,55 1 0,85 117

Kadang-Selalu 97 64,67 37 24,67 13 8,67 3 2,00 150

Kadang-Selalu 78 67,83 26 22,61 10 8,70 1 0,87 115

Kadang-kadang 14 58,33 8 33,33 2 8,33 0 0 24 Tidak Pernah 5 45,45 3 27,27 1 9,09 2 18,18 11 Total 97 64,67 37 24,67 13 8,67 3 2,00 150

(69)

lxxii

yang tergolong dalam kategori tindakan baik adalah yang berusia < 30 tahun, sedangkan 29,63% yang tergolong dalam kategori cukup berusia 31 - 40 tahun, dan 60% yang tergolong dalam kategori kurang berusia 41 - 50 tahun (Tabel 19).

(70)

lxxiii

Tabel 19. KATEGORI TINDAKAN DOKTER GIGI TERHADAP PENCEGAHAN PENYAKIT MENULAR DI PRAKTEK DOKTER GIGI

BERDASARKAN USIA DAN LAMA PRAKTEK (n=150)

Karakteristik Dokter Gigi

Kategori Tindakan

Total Baik Cukup Kurang

Jumlah % Jumlah % Jumlah %

Umur

<30 60 50,85 8 29,63 0 0 68 31-40 26 22,03 8 29,63 0 0 34 41-50 18 15,25 6 22,22 3 60,00 27 51-60 12 10,17 2 7,407 1 20,00 15 >60 2 1,695 3 11,11 1 20,00 6 Jumlah 118 100 27 100 5 100 150

Lama Parktek

< 10 tahun 82 69,49 13 48,15 1 20,00 96 11 - 20 tahun 25 21,19 11 40,74 2 40,00 38 21 - 30 tahun 10 8,475 2 7,407 1 20,00 13 > 30 tahun 1 0,847 1 3,704 1 20,00 3

Jumlah 118 100 27 100 5 100 150

4.7 Observasi Tindakan Dokter Gigi Terhadap Pencegahan Penyakit

Menular Di Praktek Dokter Gigi

(71)

lxxiv

Tabel 20. OBSERVASI TINDAKAN DOKTER GIGI TERHADAP PENCEGAHAN PENYAKIT MENULAR DI PRAKTEK DOKTER GIGI (n=150)

Observasi Tindakan Dokter Gigi Terhadap Pencegahan Penyakit Menular di Praktek

(72)

lxxv

BAB 5

PEMBAHASAN

5.1 Pengetahuan Dokter Gigi Terhadap Pencegahan Penyakit Menular

Di Praktek Dokter Gigi

Hasil penelitian mengenai pengetahuan dokter gigi terhadap pencegahan penyakit menular di praktek menunjukkan hampir semua dokter gigi mengetahui cara penularan penyakit HIV/AIDS melalui darah dan hubungan kelamin serta penyakit tuberkulosis melalui sputum (96% dan 94,67%). Selain itu, lebih dari separuh menjawab benar untuk definisi standard precautions (82%) serta mengetahui penggunaan sarung tangan, masker, dan kacamata pelindung sebagai langkah perlindungan diri (99,33%). Hasil ini sedikit berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Yuzbasioglu, Sarac, Canbaz, Sarac, dan Cengiz pada 135 orang dokter gigi di Turki pada tahun 2005 yang menyatakan 91,9% dokter gigi memilih HIV sebagai agen infeksius yang perlu diwaspadai, 61,5% mengetahui bahwa

(73)

lxxvi

Hasil penelitian juga menunjukkan 89,33% dokter gigi memiliki pengetahuan yang baik mengenai penggunaan masker yang memenuhi syarat dan 81,33% mengetahui teknik mencuci tangan yang benar. Akan tetapi, pengetahuan dokter gigi mengenai langkah pemrosesan instrumen yang mencakup pembersihan, pembungkusan, pensterilan, dan penyimpanan yang aseptik masih kurang (46%). Hasil ini sedikit berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Al-Rabeah dan Mohamed pada 206 dokter gigi di Riyadh pada tahun 1999 yang melaporkan 62% dokter gigi mengetahui langkah tepat dalam pemrosesan instrumen.26 Masih banyak dokter gigi praktek di kota Medan yang tidak mengetahui tentang langkah pemrosesan instrumen, kemungkinan disebabkan karena tidak pernah diajarkan secara mendetail tentang hal tersebut sewaktu di universitas.

Dari lima belas pertanyaan diajukan, diketahui bahwa sebanyak 95,34% dokter gigi memiliki pengetahuan yang baik dan cukup tentang pencegahan penyakit menular di praktek dan hanya 4,67% memiliki pengetahuan yang kurang. Hasil ini hampir sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Puttaih, Shetty, Bedi, dan Verma pada 500 orang dokter gigi di India melaporkan hasil yang memuaskan bagi pengetahuan dokter gigi terhadap pencegahan penyakit menular di kedokteran gigi.27

5.2 Pengetahuan Dokter Gigi Terhadap Pencegahan Penyakit Menular

Di Praktek Dokter Gigi Berdasarkan Usia dan Lama Praktek

(74)

lxxvii

penggunaan sarung tangan, masker, dan kacamata pelindung sebagai langkah perlindungan diri dan 47,20% yang mengetahui cara penularan penyakit HIV/AIDS melalui darah dan hubungan kelamin adalah yang berusia < 30 tahun. Sebanyak 33,33% yang menjawab salah tentang definisi standard precautions adalah yang berusia 41 - 50 tahun, sedangkan 37,5% yang tidak mengetahui tentang penggunaan masker yang memenuhi syarat adalah yang berusia 31 - 40 tahun. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh ilmu pengetahuan yang didapat oleh dokter gigi dahulu berbeda dengan ilmu pengetahuan yang didapat oleh dokter gigi sekarang, sehingga dokter gigi muda lebih banyak mengetahui tentang perkembangan ilmu pengetahuan kedokteran gigi yang terbaru.

Berdasarkan lama praktek, hasil penelitian menunjukkan dokter gigi yang baru beberapa tahun praktek lebih mengetahui tentang pencegahan penyakit menular di praktek dibandingkan dengan yang telah lama praktek. Hal ini terlihat dari 64,43% dokter gigi yang mengetahui bahwa penggunaan sarung tangan, masker, dan kacamata pelindung sebagai langkah perlindungan diri dan 66,39% yang mengetahui tentang teknik mencuci tangan yang benar adalah yang telah praktek selama < 10 tahun. Akan tetapi, 44,44% yang menjawab salah tentang definisi standard precautions adalah yang telah praktek selama 11 - 20 tahun. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh dokter gigi yang telah lama praktek kurang mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan kedokteran gigi yang terbaru.

(75)

lxxviii

kurang pengetahuannya tentang pencegahan penyakit menular di praktek. Hal ini terlihat dari 50,59% dokter gigi yang tergolong dalam kategori pengetahuan baik dan 43,10% yang tergolong dalam kategori pengetahuan cukup adalah yang berusia < 30 tahun, sedangkan 71,43% yang tergolong dalam kategori pengetahuan kurang berusia 41 - 50 tahun.

Selain itu, semakin lama dokter gigi praktek maka semakin kurang pengetahuannya tentang pencegahan penyakit menular di praktek dan sebaliknya. Hal ini terlihat dari 74,12% dokter gigi yang tergolong dalam kategori pengetahuan baik dan 55,17% yang tergolong dalam kategori pengetahuan cukup adalah yang telah praktek selama < 10 tahun, sedangkan 57,14% yang tergolong dalam kategori pengetahuan kurang adalah yang telah praktek selama 11 – 20 tahun. Hal tersebut kemungkinan dikarenakan dokter gigi yang berusia lebih muda dan baru beberapa tahun praktek mendapatkan ilmu pengetahuan yang lebih baru dibandingkan dokter gigi yang berusia lebih tua.

5.3 Sikap Dokter Gigi Terhadap Pencegahan Penyakit Menular Di

Praktek Dokter Gigi

(76)

lxxix

ini kemungkinan dikarenakan dokter gigi praktek di kota Medan telah menyadari bahwa penyakit tidak akan menular selama penerapan prosedurstandard precautions

dilakukan dengan baik.

Walaupun demikian, masih ada dokter gigi yang menunjukkan sikap negatif tentang penggunaan jas praktek yang telah terkontaminasi darah, saliva atau debris ketika merawat pasien, sebanyak 15,33% dokter gigi memilih untuk tidak mengganti jas tersebut. Selain itu, masih ada 4,67% menolak mengganti sarung tangan yang robek ketika merawat pasien. Hal ini kemungkinan dikarenakan dokter gigi kurang menyadari bahwa penyakit dapat menular dari jas praktek yang terkontaminasi dan sarung tangan yang robek tersebut.

Dari tujuh pertanyaan yang diajukan, diketahui bahwa dari segi sikap hampir semua dokter gigi (92%) tergolong dalam kategori baik, diikuti 6,67% tergolong dalam kategori cukup, dan hanya 1,33% tergolong dalam kategori kurang. Hasil ini hampir sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Shetty, Verma, Shetty, dkk pada 500 orang dokter gigi di India mengenai sikap dokter gigi terhadap pencegahan penyakit menular di kedokteran gigi pada tahun 2010 yang melaporkan hasil yang cukup memuaskan.28

5.4 Sikap Dokter Gigi Terhadap Pencegahan Penyakit Menular Di

Praktek Dokter Gigi Berdasarkan Usia dan Lama Praktek

Figur

Tabel 1. KOMPOSISI JUMLAH UKURAN SAMPEL PENELITIAN

Tabel 1.

KOMPOSISI JUMLAH UKURAN SAMPEL PENELITIAN p.39
Tabel 2. KATEGORI PENGETAHUAN

Tabel 2.

KATEGORI PENGETAHUAN p.43
Tabel 3. KATEGORI SIKAP

Tabel 3.

KATEGORI SIKAP p.44
Tabel 4. KATEGORI TINDAKAN

Tabel 4.

KATEGORI TINDAKAN p.44
Tabel 5.  DISTRIBUSI FREKUENSI PENGETAHUAN DOKTER GIGITENTANG PENCEGAHAN PENYAKIT MENULAR DI PRAKTEKDOKTER GIGI (n=150)

Tabel 5.

DISTRIBUSI FREKUENSI PENGETAHUAN DOKTER GIGITENTANG PENCEGAHAN PENYAKIT MENULAR DI PRAKTEKDOKTER GIGI (n=150) p.47
Tabel 6.  KATEGORI PENGETAHUAN DOKTER GIGI TENTANGPENCEGAHAN PENYAKIT MENULAR DI PRAKTEK DOKTER GIGI(n=150)

Tabel 6.

KATEGORI PENGETAHUAN DOKTER GIGI TENTANGPENCEGAHAN PENYAKIT MENULAR DI PRAKTEK DOKTER GIGI(n=150) p.48
Tabel 7. DISTRIBUSI FREKUENSI PENGETAHUAN DOKTER GIGI TENTANGPENCEGAHAN PENYAKIT MENULAR DI PRAKTEK DOKTER GIGIBERDASARKAN USIA (n=150)

Tabel 7.

DISTRIBUSI FREKUENSI PENGETAHUAN DOKTER GIGI TENTANGPENCEGAHAN PENYAKIT MENULAR DI PRAKTEK DOKTER GIGIBERDASARKAN USIA (n=150) p.49
Tabel 9. KATEGORI PENGETAHUAN DOKTER GIGI TENTANGPENCEGAHAN PENYAKIT MENULAR DI PRAKTEKBERDASARKAN USIA DAN LAMA PRAKTEK (n=150)

Tabel 9.

KATEGORI PENGETAHUAN DOKTER GIGI TENTANGPENCEGAHAN PENYAKIT MENULAR DI PRAKTEKBERDASARKAN USIA DAN LAMA PRAKTEK (n=150) p.54
Tabel 11. KATEGORI SIKAP DOKTER GIGI TERHADAP PENCEGAHAN

Tabel 11.

KATEGORI SIKAP DOKTER GIGI TERHADAP PENCEGAHAN p.55
Tabel 12. DISTRIBUSI FREKUENSI SIKAP DOKTER GIGI TERHADAPPENCEGAHAN PENYAKIT MENULAR DI PRAKTEK DOKTER GIGIBERDASARKAN USIA (n=150)

Tabel 12.

DISTRIBUSI FREKUENSI SIKAP DOKTER GIGI TERHADAPPENCEGAHAN PENYAKIT MENULAR DI PRAKTEK DOKTER GIGIBERDASARKAN USIA (n=150) p.56
Tabel 13. DISTRIBUSI FREKUENSI SIKAP DOKTER GIGI TERHADAPPENCEGAHAN PENYAKIT MENULAR DI PRAKTEK DOKTER GIGIBERDASARKAN LAMA PRAKTEK (n=150)

Tabel 13.

DISTRIBUSI FREKUENSI SIKAP DOKTER GIGI TERHADAPPENCEGAHAN PENYAKIT MENULAR DI PRAKTEK DOKTER GIGIBERDASARKAN LAMA PRAKTEK (n=150) p.58
Tabel 14. KATEGORI SIKAP DOKTER GIGI TERHADAP PENCEGAHANPENYAKIT MENULAR DI PRAKTEK DOKTER GIGIBERDASARKAN USIA DAN LAMA PRAKTEK (n=150)

Tabel 14.

KATEGORI SIKAP DOKTER GIGI TERHADAP PENCEGAHANPENYAKIT MENULAR DI PRAKTEK DOKTER GIGIBERDASARKAN USIA DAN LAMA PRAKTEK (n=150) p.59
Tabel 16.  KATEGORI TINDAKAN DOKTER GIGI TERHADAP PENCEGAHANPENYAKIT MENULAR DI PRAKTEK DOKTER GIGI (n=150)

Tabel 16.

KATEGORI TINDAKAN DOKTER GIGI TERHADAP PENCEGAHANPENYAKIT MENULAR DI PRAKTEK DOKTER GIGI (n=150) p.62
Tabel 17.  DISTRIBUSI FREKUENSI TINDAKAN DOKTER GIGI TERHADAPPENCEGAHAN PENYAKIT MENULAR DI PRAKTEK DOKTER GIGIBERDASARKAN USIA (n=150)

Tabel 17.

DISTRIBUSI FREKUENSI TINDAKAN DOKTER GIGI TERHADAPPENCEGAHAN PENYAKIT MENULAR DI PRAKTEK DOKTER GIGIBERDASARKAN USIA (n=150) p.63
Tabel 19. KATEGORI TINDAKAN DOKTER GIGI TERHADAP PENCEGAHANPENYAKIT MENULAR DI PRAKTEK DOKTER GIGIBERDASARKAN USIA DAN LAMA PRAKTEK (n=150)

Tabel 19.

KATEGORI TINDAKAN DOKTER GIGI TERHADAP PENCEGAHANPENYAKIT MENULAR DI PRAKTEK DOKTER GIGIBERDASARKAN USIA DAN LAMA PRAKTEK (n=150) p.70
Tabel 20. OBSERVASI TINDAKAN DOKTER GIGI TERHADAP PENCEGAHANPENYAKIT MENULAR DI PRAKTEK DOKTER GIGI (n=150)

Tabel 20.

OBSERVASI TINDAKAN DOKTER GIGI TERHADAP PENCEGAHANPENYAKIT MENULAR DI PRAKTEK DOKTER GIGI (n=150) p.71

Referensi

Memperbarui...

Outline : PEMBAHASAN