KARYA AKHIR
RANCANG BANGUN KONSTRUKSI ALAT PENGERING
VAKUM
OLEH :
HENDRIK DONAL PARAPAT
045202034
KARYA AKHIR YANG DIAJUKAN UNTUK MEMENUHI SYARAT
MEMPEROLEH GELAR SARJANA SAINS TERAPAN
PROGRAM STUDI TEKNOLOGI MEKANIK INDUSTRI
PROGRAM DIPLOMA-IV FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya
Akhir dengan judul “Rancang Bangun Konstruksi Alat Pengering Vakum”.
Karya Akhir ini merupakan syarat yang harus dipenuhi untuk menyelesaikan
program studi Teknologi Mekanik Industri (D-IV) di Departemen Teknik Mesin
Universitas Sumatera Utara.
Dalam kegiatan penulisan untuk menyelesaikan Karya Akhir ini, saya sebagai
penulis telah banyak mendapat bantuan berupa bimbingan, arahan dan saran dari
berbagai pihak. Untuk itu maka dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan
terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Bapak Ir. Mulfi Hazwi Msc, sebagai Dosen Pembimbing penulis sekaligus -
Koordinator Program Studi Teknologi Mekanik Industri Program
Diploma-IV, FT-USU.
2. Bapak Dr.Ing.Ikhwansyah Isranuri, selaku ketua program studi Teknologi-
Mekanik Industri Program Diploma-IV FT-USU
3. Bapak Tulus Burhanuddin ST.MT,selaku sekretaris program studi Teknologi-
Mekanik Industri
4. Seluruh staf pengajar Departemen Teknik Mesin Universitas Sumatera Utara.
5. Pegawai Departemen Teknik Mesin kak Is, bang Syawal dan bang Izhar
Fauzi.
6. Orang tua saya Bapak Guramin Parapat dan ibu Rosmeri Sitompul serta
Keluarga yang sangat saya cintai yang telah banyak memberikan perhatian,
nasihat, doa, dan dukungan baik moril maupun materil.
7. Bapak Dr.Ir Ilmi Abdulla Msc, bang Bambang Sulistyo Handoko ST,
Muhammad Yusuf ST dan Danar Hadi yang telah banyak memberikan waktu,
saran dan dukungan dalam penyelesaian alat pengering vakum ini.
9. Teman-teman stambuk ’04 Julfan, Fiqri, Samsul, Nofan, Arsyi, Inal, Wahyu ,
Jefri, Iqbal, Franklin, Tulus, Rohancen, Arwindren, serta semua pihak dan
teman-teman lain yang tidak bisa namanya disebutkan satu persatu.
Penulis menyadari bahwa laporan ini masih belum sempurna adanya, karena
masih banyak kekurangan baik dari segi ilmu maupun susunan bahasanya. Oleh
karena itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran demi menyempurnakan
laporan ini.
Akhir kata bantuan dan budi baik yang telah penulis dapatkan, menghaturkan
terima kasih dan hanya Tuhan Yang Maha Esa yang dapat memberikan limpahan
berkat yang setimpal. Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan bagi
penulis sendiri tentunya.
Medan, 2009
Penulis
Hendrik Donal Parapat
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ...iv
DAFTAR GAMBAR ... DAFTAR TABEL ... DAFTAR NOTASI ... BAB I PENDAHULUAH ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Tujuan Penulisan ... 2
1.3. Manfaat Penelitian ... 2
1.3.1 Bagi Mahasiswa ... 2
1.3.2 bagi program Studi ... 3
1.4. Batasan Masalah ... 3
1.5. Metode Pengumpulan Data ... 3
1.6. Sistematika Penulisan ... 5
BAB II LANDASAN TEORI ... 8
2.1. Gambaran Umum ... 8
2.2. Prinsip Dasar Pengeringan ... 8
2.3 Jenis-jenis Mesin Pengering ... 9
2.3.1. Pengering Nampan ... 9
2.3.2. Pengering Rotari ... 11
2.3.3. Pengering Beku ... 13
2.3.4. Pengering Vakum ... 13
2.4. Klasifikasi Pengerigan ... 15
2.4.1 Pengering Adiabatik ... 16
2.4.2 Pengering Noadiabatik ... 18
2.5. Sambungan Las ... 19
2.5.1 Macam-macam Sambungan Las ... 19
2.5.2 Sambungan T (tee joint) ... 21
2.6. Pompa Vakum ... 22
2.6.1 Perhitungan Pompa ... 23
2.6.2 Kecepatan Alir Pipa Hisap... 24
2.7. Perpindahan Kalor ... 24
BAB III PENETAPAN SPESIFIKASI ... 29
3.1. Bahan yang Dikeringkan ... 29
3.2. Perencanaan Sistem Pemanas dan Pemvakuman ... 29
3.3. Spesifikasi Perencanaan ... 29
3.4 Cara Kerja Pengering Vakum. ... 30
3.5. Konstruksi Pengering Vakum ... 32
3.6. Spesifikasi Bagian-bagian Utama Pengering Vakum ... 34
3.6.1 Ruang Vakum ... 34
3.6.2 Rak ... 34
3.6.3 Dudukan Ruang Vakum ... 35
3.6.4 Pompa Vakum ... 36
3.6.5 Katup ... 38
3.6.6 Termometer ... 38
3.6.7 Barometer ... 39
3.6.8 Filterisasi ... 40
3.6.9 Kompor ... 40
BAB IV ANALISA PERANCANGAN DAN KEKUATAN BAHAN BAGIAN-BAGIAN UTAMA 4.1. Analisa Perhitungan Kekuatan Sambungan Las ... 42
4.2. Perhitungan Kekuatan Bahan Plat Dinding Ruang Vakum ... 43
4.4. Kecepatan Alir Pipa Hisap ... 45
4.5. Temperatur Pada Masing-Masing Rak ... 46
4.6.. Perhitungan Dari Data Hasil Pengujian Pada Proses
Pengeringan Pisang ... 53
4.7. Perhitungan Hasil Rata-rata Pada Percobaan ... 60
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan ... 64
5.2. Saran ... 66
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR GAMBAR
Gambar :
Gambar 1.1. Diagram Alir Pengerjaan Laporan Karia Akhir ... 7
Gambar 2.1. Pengering Nampan ... 10
Gambar 2.2. Pengering Turbo ... 12
Gambar 2.3. Pengring Rotary ... 13
Gambar 2.4. Pengering Beku Terowongan... 11
Gambar 2.5. Hubungan Antara Tekanan Mutlak, Atmosfir, Ukur Dan Vakum ... 12
Gambar 2.6. Pengering Vakum Jenis Pedal ... 15
Gambar 2.7. Pengering Vakum Jenis Sabuk... 15
Gambar 2.8. Cross-Circulation Drying ... 17
Gambar 2.9. Cross-Circulation Drying Entraiment ... 17
Gambar 2.10. Penyiraman Didalam Pengering Putar ... 17
Gambar 2.11. Fluidisasi Hamparan Zat Padat ... 18
Gambar 2.12. Gas-zat Padat Diangkut Secara Penumatik ... 18
Gambar 2.13. Macam-macam Sambungan Las ... 20
Gambar 2.14. Sambungan las Tee dengan beban ... 21
Gambar 2.15. Pompa Putar Minyak ... 23
Gambar 2.16. Hantaran Melalui Sebuah Mistar yang Luasnya Ber- ubah-ubah ... 25
Gambar 2.17. Konduksi Melalui Sebuah Lempeng ... 26
Gambar 2.18. rangkaian termal yang bersangkutan dari gambar 2.17 ... 26
Gambar 3.1. Konstruksi Pengering Vakum ... 32
Gambar 3.2. Skema Pengering Vakum ... 32
Gambar 3.3. Ruang Vakum ... 34
Gambar 3.4. Rak ... 35
Gambar 3.6. Pompa vakum ... 36
Gambar 3.7. Katup ... 38
Gambar 3.8. Termometer ... 39
Gambar 3.9. Barometer ... 39
Gambar 3.10. Skema Filterisasi ... 40
Gambar 3.11. Filterisasi ... 41
Gambar 3.12. Kompor Minyak Tanah ... 41
Gambar 4.1. Skema Perpindahan Panas ... 46
Gambar 4.2. Grafik massa-waktu... 62
DAFTAR TABEL
Tabel :
Tabel 3.1. Spesifikasi Ruang Vakum ... 34
Tabel 3.2. Spesifikasi Rak ... 35
Tabel 3.3. Spesifikasi Dudukan Ruang Vakum ... 36
Tabel 3.4. Spesifikasi Pompa Vakum ... 37
Tabel 3.5. Spesifikasi Katup ... 38
Tabel 3.6. Spesifikasi Termometer ... 39
Tabel 3.7. Spesifikasi Barometer ... 40
Tabel 3.8. Spesifikasi Filterisasi ... 41
Tabel 4.1. Percobaan 1 (T = 45 0C, t1 = 15 mnt) Pada Proses Pengeringan Awal ... 53
Tabel 4.2. Percobaan 1 (T = 45 0C, t1 = 15 mnt)Pada Proses Setelah Rak dipindahkan ... 54
Tabel 4.3. Percobaan 2 (T = 50 0C, t1 = 15 mnt) Pada Proses Pengeringan Awal ... 54
Tabel 4.4. Percobaan 2 (T = 50 0C, t1 = 15 mnt) Pada Proses Setelah Rak dipindahkan ... 55
Tabel 4.5. Percobaan 3 (T = 55 0C, t1 = 15 mnt) Pada Proses Pengeringan Awal ... 55
Tabel 4.6. Percobaan 3 (T = 55 0C, t1 = 15 mnt) Pada Proses Setelah Rak dipindahkan ... 55
Tabel 4.7. Percobaan 1 (T = 45 0C, t1 = 20 mnt) Pada Proses Pengeringan Awal ... 56
Tabel 4.8. Percobaan 1 (T = 45 0C, t1 = 20 mnt) Pada Proses Setelah Rak dipindahkan ... 56
Pengeringan Awal ... 56
Tabel 4.10. Percobaan 2 (T = 50 0C, t1 = 20 mnt) Pada Proses Setelah Rak dipindahkan ... 57
Tabel 4.11. Percobaan 3 (T = 55 0C, t1 = 20 mnt) Pada Proses
Pengeringan Awal ... 57
Tabel 4.12. Percobaan 3 (T = 55 0C, t1 = 20 mnt) Pada Proses Setelah Rak dipindahkan ... 57
Tabel 4.13. Percobaan 1 (T = 45 0C, t1 = 25 mnt) Pada Proses
Pengeringan Awal ... 58
Tabel 4.14. Percobaan 1 (T = 45 0C, t1 = 25 mnt) Pada Proses Setelah
Rak dipindahkan ... 58
Tabel 4.15. Percobaan 2 (T = 50 0C, t1 = 25 mnt) Pada Proses
Pengeringan Awal ... 58
Tabel 4.16. Percobaan 2 (T = 50 0C, t1 = 25 mnt) Pada Proses Setelah Rak dipindahkan ... 59
Tabel 4.17. Percobaan 3 (T = 55 0C, t1 = 25 mnt) Pada Proses
Pengeringan Awal ... 59
DAFTAR NOTASI
Simbol Keterangan Satuan
b
l
h
p
m
m1
m2
T
t
A
Q
V
1
τ
Diameter pipa
Lebar
Panjang
Tinggi
Tekanan
Massa pisang
Massa Bahan Awal
Massa Bahan Akhir
Temperature
Waktu
Luas Penampang
kapasitas aliran volumetrik
laju aliran
Tegangan geser
inch
cm
cm
cm
cmHg
gram
gram
gram 0
C
menit
m²
s m /3
m /s
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam menyelesaikan suatu pekerjaan semua orang selalu menginginkan
kemudahan-kemudahan dalam menyelesaikannya, baik itu pekerjaan yang ringan,
sedang maupun pekerjaan yang berat dan beresiko tinggi. Seperti diketahui bersama,
dewasa ini perkembangan teknologi begitu cepat dan telah dapat menggantikan
pekerjaan-pekerjaan manusia dimana segala pekerjaan manusia tersebut ingin
diselesaikan dengan hasil yang sesuai diinginkan.
Melihat begitu banyaknya produksi pertanian dan perkebunan yang perlu
dikeringkan, maka untuk mengeringkan dari hasil pertanian dan perkebunan tersebut
dibutuhkan suatu alat pengering (vacuum dryer). Didalam dunia industri juga
diperlukan proses pengeringan contohnya seperti industri keramik, industri kertas
walaupun proses dan prinsip kerja pengeringannya berbeda. Proses pengeringan
secara tradisional masih banyak digunakan orang yaitu dengan menggunakan sinar
matahari. Walaupun hal ini sangat bergantung dari cuaca (sinar matahari), kondisi
dan lingkungan damana pengeringan itu berlangsung.
Pada umumnya, pengeringan (draining) zat padat berarti pemisahan sejumlah
kecil air atua zat cair lain dari bahan padat, sehingga mengurangi kandungan sisa zat
cair di dalam zat padat itu sampai suatu nilai rendah yang dapat diterima.
Pengeringan biasanya merupakan langkah terakhir dari sederetan operasi, dan hasil
Pengeringan juga bertujuan meningkatkan mutu hasil dari
pertanian/pekebunan dan industri.. Salah satu sebab terjadinya kerusakan ialah
adanya akumulasi air didalam atau disekitar hasil pertanian/perkebunan tersebut dan
hal ini dapat dicegah dengan jalan mengeluarkan kandungan air pada sekeliling hasil
pertanian/perkebunan untuk menjaga suhu yang seragam dan proses teradinya
pembusukan. (Lit. 6, hal 1)
1.2 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan karya akhir ini adalah:
1. Merancang dan membangun suatu alat pengering vakum (vacuum dryer).
2. Mengetahui cara kerja atau prinsip kerja pengering vakum (vacuum dryer).
3. Menambah dan mendalami ilmu tentang sistem pemakuman.
4. Mengaplikasikan ilmu yang didapat selama perkuliahan untuk digunakan
dalam proses perancangan pengering vakum (vacuum dryer) sebagai prototipe
karya akhir.
1.3 Manfaat
1.3.1 Bagi mahasiswa/i
1. Sebagai media untuk mengenal atau memperoleh kesempatan untuk melatih
diri dalam melaksanakan berbagai jenis perkerjaan yang ada dilapangan.
2. Sebagai bahan untuk mengenal berbagai aspek ilmu perusahaan baik
3. Memperoleh kesempatan untuk melatih keterampilan dalam melakukan
perkerjaan atau kegiatan lapangan.
1.3.2 Bagi Program Studi
1. Sebagai sarana untuk memperkenalkan Program Studi Diploma-IV Jurusan
Teknologi Mekanik Industri Fakultas Teknik Universitas Sumatra Utara, pada
lingkungan masyarakat dan perusahaan.
2. Sebagai sarana untuk memperoleh kerja sama antara pihak fakultas dengan
perusahaan.
3. Sebagai masukan dari penerapan disiplin ilmu dari kurikulum tersebut, apakah
masih ada relevansinya dengan keadaan dilapangan.
1.4 Batasan Masalah
Begitu luas permasalahan yang terdapat pada perancangan pengering vakum
ini, maka penulis member batasan masalah yang akan dibahas. Masalah yang akan
dibahas pada karya akhir ini yaitu
1. Menghitung kekuatan bahan pada bagian-bagian pengering vakum
2. Menghitung kekuatan sambungan las pada dinding bagian dalam ruang
vakum.
1.5 Metodelogi Pengumpulan Data
1. Persiapan Orientasi
Mempersiapkan hal-hal yang perlu untuk kegiatan penelitian, membuat
permohonan karya akhir dan konsultasi pada dosen pembimbing.
2. Studi Kepustakaan
Studi literatur yaitu mempelajari buku-buku karangan ilmiah yang
berhubungan dengan masalah yang dihadapi.
3. Survei Lapangan
Penulis melakukan survei pada laboratorium Teknik Industri (FT USU) untuk
melihat bentuk dari ruang vukum
4. Pengumpulan Data
Pengumpulan data yang dilakukan dalam penyusunan karya akhir ini yaitu
dengan cara:
a. Pengamatan langsung terhadap objek.
b. Mencari buku-buku tentang alat pengering.
c. Mencari data-data tentang alat pengering melalui internet.
5. Analisa dan Evaluasi Data
Data yang telah diperoleh dianalisa dan dievaluasi bersama dengan dosen
pembimbing.
6 Membuat Draft Laporan
Yaitu membuat laporan Karya Akhir sehubungan dengan data –data yang
7. Asistensi
Melaporkan hasil Karya Akhir yang telah ketik kepada dosen pembimbing.
1.6. Sistematika Penulisan
Adapun sistematis penulisan karya akhir ini adalah sebagai berikut:
1. Pendahuluan.
Bab I dibahas mengenai Latar belakang, Tujuan dan Manfaat Perancangan,
Sistematika Penulisan, Batasan Masalah dan Metode Pengujian.
II. Tinjauan Pustaka.
Bab II menjelaskan tentang teori pengeringan, macam-macam pengeringan
dan rumus-rumus dasar konstruksi pengering vakum.
III. Prosedur Pengujian.
Bab III menjelaskan bahan yang dikeringkan, prinsip kerja vakum dan fungsi
bagian-bagian pengering vakum.
IV. Hasil dan Pembahasan.
Bab IV membahas tentang perhitungan analisa perancangan dan kekuatan
bahan bagian-bagian utama.
V. Kesimpulan.
Bab V akan memaparkan kesimpulan dari analisa hasil perhitungan bahan
bagian-bagian utama.
Daftar pustaka
Referensi yang mendukung karya akhir ini akan secara lengkap disajikan
Lampiran.
Segala data hasil survey, data pendukung rancangan serta beberapa lampiran
yang digunakan dalam penulisan Karya Akhir ini dilampirkan guna memudahkan
Bagan aliran penulisan Karya Akhir
mulai
Gambar 1.1 Diagram aliran Pengerjaan Laporan Karya Akhir
2. Dimensi ruang vakum
3. Jumlah kalor yang diperlukan
4. Daya pada pompa
5.Perencanaan bahan rancangan
Kekuatan tarik b
(kg/mm2).
6. tegangan geser yang di izinkan ( a ) (kg/mm
2
)
7. perbandingan
perencanaan dengan harga perancangan
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Gambaran Umum
Pemisahan air atau zat cair lain dari zat padat dapat dilakukan dengan
memeras zat cair itu secara mekanik hingga keluar, atau dengan pemisah sentrifugal,
atau dengan penguapan secara termal. Kandungan zat cair didalam bahan yang
dikeringkan berbeda dari satu bahan kebahan lain.zat. Terkadang zat padat yang
disebut kering tulang (bone dry) masih mengandung sedikit zat cair.
Zat padat yang akan dikeringkan biasanya terdapat dalam berbagai bentuk
serpih (flake), bijian (granule), kristal (crystal), serbuk (powder), lempeng (slab),
atau lembaran senambung (continuous sheet) dengan sifat-sifat yang mungkin sangat
berbeda. Zat cair yang akan diuapkan itu mungkin terdapat pada permukaan zat padat
atau diseluruhnya bagain dalam.
2.2 Prinsip Dasar Pengeringan
Hal yang diinginkan dalam proses pengeringan adalah keluarnya air dari
dalam bahan yang dikeringkan ke lingkungannya, sedangkan cara yang ditempuh
untuk mencapai hal ini amatlah bervariasi, disesuaikan dengan kebutuhan dan
kemampuan. Ada yang menggunakan panas matahari, panas buatan oleh heater,
sistem vakum, atau kombinasi dari cara-cara tersebut.
Kadar air adalah banyaknya air per satuan berat bahan biasanya dalam %
% 100 ) (
(%) x
wd wm
wm air
kadar
+
Dimana :
Wm = massa air (kg)
Wd = massa bahan kering (kg)
2.3. Jenis-jenis Mesin Pengering
1. Pengeringan Nampan
Pengering yang paling umum digunakan untuk produk dengan jumlah yang
tidak terlalu besar adalah pengering napan secara curah, pada gambar 2.1. yang terdiri
dari satu atau beberapa kumpulan napan yang ditempatkan pada ruang terisulasi
dimana udara panas dialiri oleh kipas dan kisi-kisi pemandu yang dirancang sesuai
keperluan. Seringkali, sebagian dari udara buang diedarkan kembali oleh sebuah
kipas yang ditempatkan didalam atau diluar ruang pengering. Pengering ini umumnya
membutuhkan sejumlah pekerja untuk membongkar-muat produk. Waktu
pengeringan umumnya cukup panjang (10-60 jam). Kunci keberhasilan operasi
pengeringan ini adalah keseragaman aliran udara pengeringan terlama merupakan
penentu lama pengeringan keseluruhan yang di butuhkan, yang selanjutnya
menentukan kapasitas pengering. Napan-napan tersebut juga dapat menyebabkan
Gambar 2.1. Pengering Nampan
Pengeringan jenis curah dapat diubah menjadi jenis kontiniu. Gambar 2.2.
menunjukkan pengering turbo, yang terdiri atas susunan napan membujur yang
diletakkan pada suatu batang vertical. Produk yang dimasukkan pada tingkat pertama
di atur tinggi tumpukannya oleh sekumpulan pisau tak bergerak yang membentuk
sederetan parit pada permukaan lapisan. Pisau-pisau ini dibuat bergerigi untuk
memastikan terjadinya pencampuran bahan. Setelah satu putaran, bahan akan tersapu
habis jatuh ke tingkat dibawahnya oleh pisau terakhir. Biasanya pengering ini dapat
memuat sampai dengan 30 buah napan.
Udara panas di alirkan ke ruang pengering dengan kipas turbin. Udara di
panaskan secara tak langsung dengan melewatkannya ke elemen pemanas internal.
Bahan butiran basah di umpankan dari atas dan jatuh akibat gravitasi ke napan
berikutnya melewati selot radial pada tiap rak sikular. Garu berputar mencampur
padatan sehingga memperbaiki kinerja pengeringan. Pengering tersebut dapat
beroperasi pada kondisi vakum, terutama untuk bahan yang sensitif terhadap panas
Gambar 2.2. Pengering Turbo
Pengeringan talam sangat bermanfaat bila laju produksi kecil. Alat ini dapat
digunakan untuk segala macam bahan. Alat ini biasanya digunakan untuk
pengeringan bahan-bahan bernilai tinggi seperti zat warna dan bahan-bahan farmasi.
Pengering talam dapat beroperasi dalam pakum, kadang-kadang dengan pemanasan
tak langsung. Uap dari zat padat dikeluarkan dengan ejector atau pompa vakum.
2. Pengering Rotari
Pengering rotary bercascade adalah pengering kontak langsung yang
beroperasi secara kontiniu dan terdiri atas cangkang silinder yang berputar perlahan
serta biasanya dimiringkan beberapa drajat dari bidang horizontal untuk membantu
perpindahan umpan basah yang dimasukkan pada ujung atas drum. Bahan kering
dikeluarkan dari ujung bawah, pada Gambar 2.3. untuk menambah waktu tinggal
terjadi, silinder lebih baik dimiringkan dengan ujung pengeluaran prosuk pada elevasi
yang lebih tinggi.
Media pengering (udara panas, gas-gas hasil pembakaran, fleugas, dll)
mengalir secara aksial melewati drum searah patau berlawanan arah dengan aliran
prosuk. Aliran berlawanan lebih disukai bila bahan yang dikeringkan tidak sensitif
terhadap panas dan harus dikeringkan sampai tingkat kadar air yang sangat rendah.
Sedangkan metode aliran searah umumnya lebih disukai untuk bahan yang sensitif
terhadap panas untuk laju pengeringan tinggi. (Lit. 2, hal 44)
Keuntungan dari pengering rotary adalah :
a. Sangat fleksibel
b. Berkemampuan tinggi
c. Sesuai untuk kebutuhan laju produksi yang tinggi
Kekurangan dari alat rotary drayer adalah:
a. Memerlukan biaya modal yang cukup besar
b. Biaya pemeliharaan alat cukup besar
3. Pengering Beku
Padatan yang sangat sensitif panas, biasanya bahan bioteknologis tertentu,
bahan farmasi atau pangan dengan kandungan flavor tinggi. Pengeringan terjadi
dibawah titik tripel cairan dengan menyublimkan air beku menjadi uap, yang
kemudian dikeluarkan dari ruang pengering dengan pompa vakum secara mekanis
atau ejector jet uap panas. Umumnya pengeringan beku menghasilkan produk
bermutu paling tinggi dibanding dengan teknik dehidrasi lain. Seperti pada gambar
2.4. (Lit. 2, hal 46)
Gambar 2.4. Pengering Beku Terowongan
4. Pengering Vakum
Vakum berasal dari bahasa latin, vacuus, artinya kosong. Jadi vakum artinya
menghampakan suatu ruangan atau suatu kemutlakan dibawah nol tekanan. Sitem
ruang hampa dikepung oleh atmospir bumi. Untuk meciptakan ruang hampa
diperlukan pompa untuk mengeluarkan udara keluar dari system. Kebutuhan ini
Analisa termodinamika hanya memperhatikan nilai tekan mutlak. Akan tetapi,
kebanyakan piranti pengukuran tekanan hanya menunjukkan tekanan ukur (gauge)
yakni perbedaan tekanan mutlak suatu sistem dan tekanan mutlak atmosfer.
Pengukuran bumbung-bourdon, misalnya, mengukur tekanan relatif terhadap
atmosfer sekeliling. Konversi dari tekanan ukur ketekanan mutlak didapatkan dengan
hubungan berikut. (Lit. 1, hal 10)
atm ukur
mutlak P P
P( ) = ( ) + (2.1)
(Lit. 1, hal 10)
Gambar 2.5. Hubungan Antara Tekanan Mutlak, Atmosfir, Ukur Dan Vakum
Untuk pengeringan padatan berbentuk butiran atau sluri, pengering vakum
dengan berbagai rancangan mekanis telah tersedia secara komersial. Pengeringan
jenis ini lebih mahal dari pada pengering bertekanan atmosfir tetapi sesuai untuk
bahan yang sensitif panas dan memerlukan pemulihan pelarut atau jika ada rasio
diterapkan untuk pengeringan denagn pemanasan selimut bejana dan pemakuman
untuk mengeluarkan uap air. Pada gambar 2.7. dan 2.8. menunjukkan dua pengering
vakum yang tersedia dipasar. Pengering vakum jenis pedal cocok untuk bahan seperti
lumpur sedangkan pengering vakum jenis sabuk cocok untuk bahan berbentuk pasta.
(Lit. 2, hal 47)
2.6. Pengering Vakum Jenis Pedal
(Lit. 2, hal 48)
Gambar 2.7. Pengering Vakum Jenis Sabuk
2.4 Klasifikasi Pengerigan
Kuantitas panas yang diperlukan untuk pengeringan terutama terdiri atas:
1. Panas untuk memanaskan bahan yang dikeringkan hingga mencapai suhu
2. Panas penguapan untuk mengubah cairan ke fasa uap
3. Panas yang hilang ke sekeliling.
Pengeringan dimana zat padat itu bersentuhan langsung dengan gas panas
(biasanya udara) disebut pengeringan adiabatik (adiabatic dryer) atau pengeringan
langsung (direct dryer). Bila perpindahan kalor berlangsung dari suatu medium luar
dinamakan pengering nonadiabatik (nonadiabatic dryer) atau pengering tak-langsung
(indirect dryer). Pada beberap unit terdapat gabungan pengeringan adiabatic dan
nonadiabatik; pengering ini biasa disebut pengering langsung-tak-langsung
(direct-indirect dryer).
Panas yang diberikan pada bahan yang akan dikeringkan dengan konduksi,
konveksi atau radiasi. Hal ini tergantung pada tahap proses pengeringan, apakah pada
permukaan atau pada bagian dalam bahan dengan melewati lapisan-lapisan yang telah
dikeringkan. (Lit. 3, hal 251)
2.4.1 Pengering Adiabatik
Dalam pengeringan adiabatic, zat padat itu bersentuhan dengan gas panas
menurut dari salah satu cara berikut:
1. Gas ditiup melintas permukaan hamparan atau lembaran zat padat, atau malintas
satu atau kedua sisi lembaran. Proses ini disebut pengeringan dengan sirkulasi
silang (cross-circulation drying) seperti pada gambar 2.8. (Lit. 3, hal 250)
Gas ditiupkan melalui hamparan zat padat butiran kasar yang ditempatkan diatas
ayak pendukung. Cara ini disebut pengeringan sirkulasi tembus
(through_circulation drying). Sebagaiamana juga dalam hal pengeringan
sirkulasi-silang, disini pun kecepatan gas harus rendah untuk mencegah terjadinya
pembawaikutan (entraiment) terhadap partikel zat padat seperti pada gambar 2.9.
(Lit. 3, hal 250)
Gambar. 2.9. cross-circulation drying entraiment
2. Zat padat disiramkan kebawah melalui suatu arus gas yang bergerak
perlahan-lahan ke atas; kadang_kadang dalam hal ini terdapat pembawaikutan yang tidak
dikehendaki dari pada partikel halus oleh gas seperti pada gambar 2.10. (Lit. 3,
hal 250)
Gambar 2.10. penyiraman didalam pengering putar
3. Gas dialirkan melalui zat padat dengan kecepatan yang cukup untuk
Gambar 2.11. fluidisasi hamparan zat padat
4. Zat padat seluruhnya dibawa ikut dengan arus gas kecepatan tinggi dan diangkut
secara pneumatic dari peranti pencampuran kepemisah mekanik sperti pada
gambar 2.12. (Lit. 3, hal 250)
Gambar 2.12. gas-zat padat diangkut secara penumatik
2.4.2 Pengering Nonadiabatik
Dalam pengeringan nonadiabatik, satu-satunya gas yang harus dikeluarkan
ialah uap air atau uap jenuh pelarut, walaupun kadang_kadang sejumlah kecil ‘’gas
menyapu’’ (sweep gas) (biasnya udara atau niytrogen) dilewatkan juga melalui unit
itu. Pengering-pengering nonadiasbatik dibedakan menurut caranya zat padat itu
berkontak dengan permukaan panas atau sumber kalor lainnya.
1. Zat padat dihamparkan di atas suatu permukaan horizontal yang stasioner atau
dilakukan dengan listrik atau fluida perpindahan kalor seperti uap atau air panas.
Atau pemberian kalor ini dapat pula dilakukan dengan pemanas radiasi yang
ditempatkan di atas zat padat itu.
2. Zat padat itu bergerak diatas permukaan panas, yang biasanya berbentuk silinder,
dengan bantuan pengaduk atau konveyor sekrup (screw conveyor) atau konveyor
dayung (paddle conveyor).
3. Zat padat penggelincir dengan gaya gravitasi di atas permukaan panas yang
miring atau dibawa naik bersama permukaan itu selama suatu waktu tertentu dan
kemudian diluncurkan lagi kesuatu lokasi baru. (Lit. 3, hal 251)
2.5 Sambungan Las
Pengelasan adalah suatu proses penyambungan logam dimana logam menjadi
suatu akibat panas dengan atau tanpa pengaruh tekanan, atau dapat juga didefenisikan
sebagai ikatan metalurgi yang ditimbulkan oleh gaya tarik menarik antar atom. (Lit.
8, hal 54)
2.5.1 Macam-macam Sambungan Las
Agar sambungan las cukup kuat sambungan tersebut harus dirancang sesuai dengan
cara penggunaannya nanti. Beberapa macam sambungan las dilihat pada gambar 2.13.
G
am
bar
2.
13.
m
aca
m
-m
aca
m
sa
m
bungan l
2.5.2 Sambungan T (tee joint)
Bila gaya F bekerja sepanjang panjang logam dan eksentris seperti pada
gambar 2.14. maka pada sambungan logam akan terjadi momen bending dan gaya
geser, sehingga rumus tegangan total sebagai berikut:
Tegangan geser 1 =
Tegangan bending akibat momen bending
2 =
sehingga tegangan total
τ
Dimana
1
τ = Tegangan geser (psi)
F = Gaya normal (lb)
A = luas penampang gesr (in)
A = 2tw1=2.0,707a.1
2 = Tegangan bending (psi)
L = panjang lasan (in)
2.6 Pompa Vakum
Pompa vakum adalah suatu alat/mesin yang berfungsi sebagai memindahkan
fluida dari suatu ruang/tempat yang terisolasi dari udara bebas ke tempat yang lain.
Tujuannya adalah intuk mendapatkan tekanan udara yang lebih rendah.
Dalam laboratorium fisika pompa yang sering diguanakan adalah jenis
pompa minyak putar yang dapat menimbulakan tekanan serendah 4
10− mm raksa
dan pompa difusi raksa atau minyak untuk tekanan sampai serendah 8
10− mm Hg.
Gambar 2.15 melukiskan secara skematik (bagan) jenis pompa minyak putar
yang umum dipakai di Amerika Serikat. Bejana yang akan dihampakan
disambungkan pada pipa A, yang menghubungkan langsung dengan ruang B. Bila
silinder eksetrik C berputar menurut arah yang ditunjukkan, titik kontak antara
silinder ini dengan dinding silinder sebelah dalam stasioner, bergerak keliling
menurut arahputaran jarum jam, seraya mejebak sejumlah udara di dalam ruang E.
F. Bila udara di dalam E sudah demikian cukup mampat sehingga memperbesar
tekanan sedikit diatas tekanan udara luar, katup G akan membuka dan udara udara
akan menggelembung malalui minyak lalu keluar melalui lubang H. Silinder itu
digerakakn oleh sebuah motor listrik kecil. (Lit. 11, hal 300)
Gambar 2.15. pompa putar minyak
2.6.1 Perhitungan Pompa
Untuk menghitung daya pompa dapat menggunakan rumus berikut
V H g
P=γ. . . (Lit. 12, hal 242) (2.5)
Dimana:
P = daya pompa (kW)
γ = kerapatan fluida (kg/m3)
V = laju aliran (m /s)
g = percepatan gravitasi (9,8 m/s2)
2.6.2 Kecepatan Alir Pipa Hisap
Dengan menggunakan persamaan kountinitas dapat ditentukan kecepatan
aliran pada pipa hisap. Kecepatan aliran pada pipa hisap adalah:
Q = V x A (Lit. 4, hal 94) (2.6)
A Q
V=
V =
2
4d Q π
Berdasarkan perhitungan rumus diatas maka didapat kecepatan aliran:
Vs = m/s
Dimana : Q = kapasitas aliran volumetrik (m /3 s)
V = kecepatan aliran (m /s)
A = luas penampang aliran (m ) 2
2.7 Perpindahan Kalor
Kalor diberikan kepada pengering degan tujuan:
1. Memanaskan umpan (zat padat dan zat cair)
2. Menguapkan zat cair
3. Memanaskan zat padat sampai suhu akhirnya
x
Q
•
Q
x+dx•
dx
Hal tersebut 1,3, dan 4 biasanya dapat diabaikan terhadap 2. (Lit. 3, hal 253)
Kalor merupakan bagian terpenting dari proses pengeringan, maka untuk
menghitung laju kalor dapat menggunakan persamaan laju Fourier untuk
menghubungkan laju perpindahan kalor keadaan dari volume medan temperatur. (Lit.
9, hal 488)
Gambar 2.16. Hantaran melalui sebuah mistar yang luasnya berubah-ubah
dx
Q + = laju keluaran energi/perpindahan panas per waktu satuan (J/s)
Dari persamaan laju fourier,
1
T T2
kA L R=
Q
∗ dT = perubahan temperatur (K)dx = jarak (m)
A = luas permukaan perpindahan kalor ( 2
m )
K = konstanta
Persamaan energi mengatakan kepada kita bahwa fluks kalor adalah konstan,
dan bahwa
0
2 2
= dx
T d
(Lit. 9, hal 489) (2.9)
Gambar 2.17. konduksi melalui sebuah lempeng
(Lit. 9, hal 489) (2.10)
Gambar 2.18. rangkaian termal yang bersangkutan dari gambar 2.17
Dimana:
1
R = ketahanan termal (m².0C /W)
L = panjang ketahanan termal (m)
Q = Jumlah perpindahan energi sebagai kalor (J/s)
Jika menentukan temperature T dan 1 T pada kedua permukaan lempeng, 2
maka kondisi batas pada T (x) adalah
T (0) = T 1 T (L) = T (Lit. 9, hal 490) 2 (2.11)
Pemecahan pers. adalah
T = C1x+C2
Dimana C dan 1 C adalah konstanta- konstanta integrasi yang ditetapkan oleh 2
kondisi- kondisi batas. Dengan menerapakan persamaan 3.1, kita mendapatkan
sehingga
T = T + 1
L T T2− 1
x (Lit. 9, hal 490) (2.12)
Maka distribusi temperature adalah linier melalui lempeng tersebut. Maka
fluks kalor (q’’) adalah
"
q =
−
L T T
k 1 2 (Lit. 9, hal 490) (2.13)
maka
(
1 2)
" T T L
kA Aq
Q −
=
= (Lit. 9, hal 490) (2.14)
R =
kA L
(Lit. 9, hal 490) (2.15)
Dimana kA merupakan konduktivitas termal per luas penampang (lampiran 1 dan 2)
Maka dapat dituliskan sebagai
Q =
R T T1− 2
BAB III
PENETAPAN SPESIFIKASI
3.1 Bahan Yang Dikeringkan
Bahan yang dikeringkan pada perancanganan alat pengering vakum ini adalah
irisan buah pisang dengan ketebalan ± 2 mm.
3.2 Perencanaan Sistem Pemanas dan Pemvakuman
Untuk memanaskan ruang vakum direncanakan sistim pemanas (heater)
menggunakan panas dari api kompor minyak tanah dan besar nyala api dapat
disesuaikan dengan yang diinginkan. Dalam perencanaan pengering vakum ini
temperatur ruang vakum saat proses pengeringan berlangsung direncanaka 45 C0 , 55
C
0
dan 55 C0 .
Untuk memvakumkan ruang vakum digunakan sebuah pompa vakum yang
digerakkan oleh motor listrik. Tekanan ruang vakum yang direncanakan adalah -76
cmHg.
3.3 Spesifikasi Perencanaan
Bahan yang dikeringkan : Irisan buah pisang
Dimensi ruang pengering : P = 40 cm, L = 40 cm, T = 40 cm.
Sumber kalor : Kompor minyak tanah.
3.4 Cara Kerja Pengering Vakum:
1. Irisan-irisan pisang yang diletakkan kedalam rak1, 2 dan 3. masing-masing
rak terisi 1 ons irisan buah pisang. Rak tersebut dimasukkan kedalam ruang
pengering dan ditutup rapat.
2. Nyalakan pompa vakum pastikan katup no. 9 terbuka dan katup 2, 15, 17
tertutp. Pada saat pompa vakum bekerja udara diruang pengering terhisap
keluar dan tekanan diruang pengering menurun hal ini dapat ditandai dengan
bergeraknya jarum barometer menuju -76cmHg. Matikan pompa dan tutup
katup 9. Ketika jarum barometer telah menunjukkan angka -76 cmHg.
3. lakukan proses pemanasan dengan menyalakan api kompor dan
meletakkannya kedalam dudukan ruang vakum. (nyala api jangan terlalu besar
dan jangan terlalu kecil). Saat proses pemanasan berlangsung jarum
termometer bergerak searah jarum jam. Bila. Jarum termometer telah
menunujukan temperatur yang diinginkan (sesuai dengan percobaan I, II, dan
III) kecilkan api kompor. Hal ini bertujuan untuk menjaga temperatur agar
tetap pada posisi yang diinginkan.
4. Saat proses pemanasan berlangsung tekanan di ruang vakum naik, hal ini
dapat dilihat pada jarum barometer yang bergerak searah jarum jam. Untuk
menjaga agar tekanan diruang pengering tetap pada tekanan -76 cmHg maka
mesin pompa sesekali dinyalakan untuk menghisap udara/uap didalamnya.
5. Bila termometer talah menunjukkan temperatur yang diinginkan (sesuai
dengan percobaan I, II, III.temperatur tersebut dipertahankan 15, 20 menit dan
6. Pada saat proses pengeringan berlangsung air yang tekandung pada irisan
pisang akan menguap (menghasilkan uap basa), tekanan diruang pengering
naik hal ini dapat dibuktikan dengan bergeraknya jarum barometer searah
jarum jam Untuk menjaga agar tekanan tetap pada posisi -76 cmHg, maka uap
basa harus dipompa keluar. Pada prosese pemompaan ini katup 2 dan 17
dibuka sedangkan katup 9 dan 15 tertutup.
7. Agar pompa terhindar dari kerusakan-kerusakan pompa, sebelum uap basah
terhisap keluar melalui pompa vakum, maka uap ini harus diubah menjadi uap
kering. Proses pengubahan uap basah menjadi uap kering berlangsung pada
filterisasi.
8. Bila lama proses pengeringan telah mencapai waktu yang diinginkan matikan
api kompor, buka tutup ruang pengering dan keluarkan rak dari ruang
pengering. Menimbang dan mencatat hasil pengeringan awal. Pindahkan rak 1
keposisi rak 3, dan rak 3 pindah keposisi rak 1. hal ini dilakukan kerena
temperatur rak 3 lebih tinggi dari rak 1. beda temperatur ini mengakibatkan
rak 3 lebih cepat kering dari pada rak 1.
9. Masukkan kembali rak kedalam ruang pengering, ulangi percobaan dengan
melakukan langkah-langkah seperti yang telah dijelaskan diatas. Bila semua
langkah telah selesai maka proses pengeringan berakhir . Hasil pengeringan
1 2 3
4
11
5 6
7
8
9 10
12
16 13
17 18
19
15 14
3.5 Konstruksi Pengering Vakum
Gambar 3.1 Konstruksi Pengering Vakum
Keterangan :
1. Termometer
2. Katup Masuk/Katup Isap Uap
3. Pressure Gauge
4. Buah
5. Rak
6. Dinding Dalam
7. Dinding Luar
8. Busa Penahan Panas
9. Katup Hisap
10.Pipa Hisap
11.Kompor (sumber kalor)
12.Dudukan Ruang Vakum
13.Filterisasi
14.Air
15.Katup Buang
16.Pompa Vakum
17.Katup Isap Uap
18.Slang Isap Uap
3.6 Spesifikasi Bagian-bagian Utama Pengering Vakum
3.6.1 Ruang Vakum
Ruang vakum merupakan ruang tempat proses pengeringan. Ruangan ini
terisolasi dari udara bebas. Didalam ruangan ini akan diletakkan rak tempat
meletakkan bahan yang dikeringkan.seperti pada gambar 3.3.
Gambar 3.3. Ruang vakum
Tabel 3.1 Spesifikasi ruang vakum
Jenis Boks
Bahan stainless steel 2 mm
dimensi P = 40 cm, L = 40 cm, dan T = 40 cm
3.6.2 Rak
Rak berfungsi untuk tempat meletakkan irisan buah yang akan dikeringkan.
Setelah irisan buah berada didalam rak, rak dimasukkan kedalam ruang vakum untuk
Gambar 3.4 Rak
Tabel 3.2 Spesifikasi rak.
Jenis Rak
bahan galfinis 0.520. mm
dimensi P = 37 cm, L = 37 cm, dan T = 10 cm
3.6.3 Dudukan Ruang Vakum
Alat ini berfungsi sebagai tempat dudukan/meletakkan ruang vakum, selain
itu alat ini juga berfungsi sebagai pelindung api kompor dari tiupan angin agar api
tetap stabil pada saat pemanasan seperti terlihat pada gambar 3.5.
Table 3.3 Spesifikasi dudukan ruang vakum
Rangka dudukan plat profil L 25
Dinding Plat 1,2 mm
dimensi P = 45 cm x L = 27 cm
3.6.4 Pompa Vakum
Pompa vakum berfungsi untuk menghisap udara dan uap dari ruang vakum.
Pompa ini digerakkan oleh motot listrik seperti terlihat pada gambar 3.6.
Gambar 3.6 pompa vakum
Bagian-bagian pompa vakum
1. Saluran Masuk (intake fitting)
2. Katup Balas Gas (gas ballast valve)
3. Saluran Pengisi Minyak (oil fill port)
4. Sight Glass
5. Penampung Minyak
7. Landasan Pompa
8. Katup Isolasi dari system (Iso-Valve)
9. Motor Penggerak
10.Tombol Penggerak (power switch)
11.Saluran Keluar
12.Tangkai
Tabel 3.4 Spesifikasi pompa vakum
model 15607
Voltage range 220 V
Frequency range 50 Hz
Free Air Replacement 142 l/m
Stages 2
Motor Speed 1425 rpm
Factory Micron Rating 20 microns
Approximate Oil Capacity 400 ml
Weight 15 kg
Width 14.29 cm
Height 24,6 cm
Length 42 cm
Intake ½” and ¼”
SAE MFL
MIN Starting Temp. at 90% voltage 0 0C
Motor Size 37 kw (1/2 hp)
Capacitor start
3.6.5 Katup
Jenis katup yang digunakan untuk perancangan alat ini adalah katup Ball
(globe). Untuk katup isap uap yang digunakan berukuran ¾’’, dan untuk katup udara
isap berukuran ½’’ inch. Bahan kutup terbuat dari kuningan seperti pada gambar 3.7.
Gambar 3.7 katup
Table 3.5. Spesifikasi Katup
Jenis katup Ball (globe)
Bahan kuningan
Ukuran ½ inch dan ¾ inch
3.6.6 Termometer
Termometer berfungsi untuk mengukur temperatur ruang vakum terutama
pada saat proses pengeringan. Termometer yang digunakan adalah termometer jenis
Gambar 3.8 Termometer
Table 3.6. Spesifikasi termometer
Jenis Analog
Ukuran 2 ½ inch
3.6.7 Barometer
Barometer berfungsi untuk mengukur tekanan udura. Jenis alat ukur tekanan
yang digunakan alat ukur bourdon seperti pada gambar 3.9.
Uap kering Uap basa
Air
uap menempel pada pipa
genangan air dari uap keterangan :
Table 3.7 Spesifikasi Barometer
Jenis Analog
Ukuran 2 ½ inch
3.6.8 Filterisasi
Filterisasi berfungsi untuk memisahkan uap basa dengan uap kering sehingga
uap basa tidak terisap oleh pompa vakum. Proses pemisahannya yaitu ketika pompa
bekerja uap basa akan terisap melalui gulungan pipa. Akibat
gulungan-gulungan pipa ini maka uap basa yang terisap akan manabrak dinding pipa. Uap yang
menempel pada dinding pipa akan menjadi kumpulan-kumpulan air yang akhirnya
ikut terhisap oleh pompa. Namun karena ada perbedaan berat jenis antara air dan uap
kering maka air akan jatuh pada ujung pipa dan uap kering berlanjut ke pompa vakum
sepeti terlihat pada gambar 3.10.
.
Gambar 3.11. filterisasi
Table 3.8 Spesifikasi filterisasi
Jenis Tabung
Ukuran =12 inch, l = 30 cm
3.6.9 Kompor Minyak Tanah
Kompor berfungsi sebagai sumber kalor. Kompor yang digunakan adalah
kompor minyak tanah. Besar nyala api kompor dapat disesuaikan dengan kebutuhan
seperti terlihat pada gambar 3.12.
BAB IV
ANALISA PERANCANGAN DAN KEKUATAN BAHAN
BAGIAN-BAGIAN UTAMA
4.1. Analisa Perhitungan Kekuatan Sambungan Las
Mengingat pada rancangan pengering vakum ini sambungan yang digunakan
adalah sambungan las, maka sangat perlu diperhitungkan kekuatan dari sambungan
las itu sendiri. Las yang digunakan adalah las busur listrik Ø 2,6 mm, maka kekuatan
sambungan las pada plat dinding ruang vakum dapat dihitung sebagai berikut :
τ =
A F
F = P . A
F = ( 76 cmHg) . (0,2 cm x 40 cm)
= (0,1 N/ m²) . (8 cm²)
= 0,80 Newton
2
8 8 , 0
cm N =
τ
= 0,1 kg/cm²
τ b = 0,5 . ( )
=
0,5 b
τ
=
0,5 kg/cm² 0,1
= 0,02 kg/mm 2
kekuatan tarik baja ( ) 90 kg/mm² (dari lampiran 1)
a
τ = (0,5) . (90 kg/mm²)
= 45 kg/mm²
Kerena tekanan kerja dipertahankan maka gaya yang terjadi sangat kecil jadi
dapat dikatakan bahwa konstruksi sambungan las amankarena τ
≥
τa.4.2 Perhitungan Kekuatan Bahan Plat Dinding Ruang Vakum
Tekanan yang terdapat pada ruang vakum sebesar 76 cmHg, maka gaya yang
bekerja dapat dihitung dengan :
P =
A F
P = 76 cmHg = 0,01 kg/m²
A = l . b (meter)
0,01 kg/m² =
) 2 ).( 400
( mm mm F
F = (0,01 kgf/m²).(800 mm²)
= 8 kg
Momen bending yang terjadi pada plat :
Mb = F.l
= (8 kg) . (0,4 m)
Tegangan bending yang terjadi :
Maka kekuatan yang tarik terjadi adalah 4 kgmm².
Sedangakan kekuatan tarik bahan stainless (302) adalah 90 kgmm². (lampiran 7)
Karena σ
≥
σb maka konstruksi aman.4.3 Daya Pompa
Untuk mencari Daya pompa dapat dihitung dengan rumus:
P = .Q.H
Dimana :
P = daya pompa (Watt)
= berat jenis uap air (N/cm3)
= rapat massa ( ) x percepatan gravitasi (g) lampiran 3
Q = kapasitas pompa (l/menit)
= 40 + 0,86 + 0,000072
= 40,86 cm
Maka daya pompa
P = .Q.H
= (88,2) . (0,142) . (40,86)
= 511,7 W
= 0,5 kW
4.4 Kecepatan Alir Pipa Hisap
Untuk menghitung kecepatan alir pipa hisap dapat dihitung:
Q = V.A
stainless plat
atas Permukaan T2=
3 3 Rak
T =
2 4 Rak
T =
1 5 Rak
T =
C ess
platstainl bawah
Permukaan
T1= =200 0
L1 =
0,
2 cm
L2 =
4 cm
L3 =
12 cm
L4 =
12 cm
L5 =
11 cm
C C C
T6=450 ,500 ,550
4.5 Temperatur Pada Masing-masing Rak
Besarnya temperatur pada masing-masing rak berbeda, hal ini dipengaruhi
oleh jarak dari sumber kalor. Adapun besar kalor pada masing-masing rak dapat
diketahui dengan menghitung besar hambatan (R) dan besar fluks kalor(q ) : ''
Ruang pengering
Percobaan I temperatur T1danT6 adalah 200 C
k = konduktivitas termal udara (lampiran 2)
7 5 3,k ,k
k = konduktivitas termal rak (bahan besi) (lampiran 1)
RA = 26,334 m².0C /W
Karena fluks kalor ( "q ) yang sama lewat melalui setiap tahanan (R), maka temperatur
pada setiap titik dapat dihitung dengan :
=
Maka temperatur pada masing-masing titik :
Jadi temperatur pada masing-masing rak adalah :
Untuk harga k sama dengan percobaan I
Maka fluks kalor ( "q ) pada temperatur 50 C0
Karena fluks kalor ( "q ) yang sama lewat melalui setiap tahanan (R), maka temperatur
pada setiap titik dapat dihitung dengan :
=
Maka temperatur pada masing-masing titik :
Jadi temperatur pada masing-masing rak adalah :
Untuk harga k sama dengan percobaan I
Maka fluks kalor ( "q ) pada temperatur 55 C0
Karena fluks kalor ( "q ) yang sama lewat melalui setiap tahanan (R), maka temperatur
pada setiap titik dapat dihitung dengan :
=
Maka temperatur pada masing-masing titik :
Jadi temperatur pada masing-masing rak adalah :
Rak 1(T5) = 197,16 C0
Rak 2 (T4)= 197,41 C
0
Rak 3 (T3)= 197,65 C0
4.6. Data Hasil Pengujian Pada Proses Pengeringan Pisang.
Adapun data pengeringan pada proses pengeringan keripik pisang sebagai
berikut :
Percobaan 1 (T = 45 0C, t2 = 15 mnt)
Tabel 4.1 Percobaan 1 (T = 45 0C, t2 = 15 mnt) pada proses pengeringan awal
Rak P
(cmHg)
T
(0C)
t1
(menit) t2
(menit)
m1
(gram)
m2
(gram)
1
k
(%)
2
k
(%)
1 -76 197,23 15 15 100 95 75 71,25
2 -76 197,23 15 15 100 80 75 60
3 -76 197,49 15 15 100 75 75 56,25
Dimana :
P = tekanan kerja (cmHg)
T = temperatur pengering (0C)
1
t = waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan temperature pengering (menit)
2
t = lama proses pengeringan (menit)
m1 = massa bahan awal (gram)
1
k = kadar air bahan sebelum pengeringan (%)
2
k = kadar air bahan sesudah pengeringan (%)
Proses pengeringan setelah rak 1 dipindahkan keposisi rak 3 dan rak 3 dipindahkan
keposisi rak 1.
Proses pengeringan setelah rak 1 dipindahkan keposisi rak 3 dan rak 3 dipindahkan
keposisi rak 1
Tabel 4.4. Percobaan 2 (T = 50 0C, t2 = 15 mnt) pada proses setelah rak dipindahkan
Proses pengeringan setelah rak 1 dipindahkan keposisi rak 3 dan rak 3 dipindahkan
keposisi rak 1
Percobaan 1 (T = 45 0C, t2 = 20 mnt)
Proses pengeringan setelah rak 1 dipindahkan keposisi rak 3 dan rak 3 dipindahkan
keposisi rak 1
Proses pengeringan setelah rak 1 dipindahkan keposisi rak 3 dan rak 3 dipindahkan
keposisi rak 1
Tabel 4.10. Percobaan 2 (T = 50 0C, t2 = 20 mnt) pada proses setelah rak dipindahkan
Proses pengeringan setelah rak 1 dipindahkan keposisi rak 3 dan rak 3 dipindahkan
keposisi rak 1
Percobaan 1 (T = 45 0C, t2 = 25 mnt)
Proses pengeringan setelah rak 1 dipindahkan keposisi rak 3 dan rak 3 dipindahkan
keposisi rak 1
Proses pengeringan setelah rak 1 dipindahkan keposisi rak 3 dan rak 3 dipindahkan
keposisi rak 1
Tabel 4.16. Percobaan 2 (T = 50 0C, t2 = 25 mnt) pada proses setelah rak di pindahkan
Proses pengeringan setelah rak 1 dipindahkan keposisi rak 3 dan rak 3 dipindahkan
keposisi rak 1
%
= kadarairawal m
m
4.7. Perhitungan Hasil Rata-rata Pada Percobaan
Dari table hasil percobaan di atas hasil pengeringan terbaik terdapat pada
percobaan 3 (T = 55 0C, t2 = 25 mnt) pada proses setelah rak dipindahkan :
maka massa rata-rata pada pengeringan awal yaitu:
3
3 2
1 massarak massarak
rak massa mrata rata
+
sedangkan massa rata-rata pada pengeringan akhir :
3
3 2
1 massarak massarak
rak
Untuk kadar air pada hasil pengeringan awal dapat dihitung :
bahan
%
= kadarairawal
m m
Kadar air akhir pada rak 2
Kadar air akhir pada rak 3
Sedangkan kadar air akhir dari hasil pengeringan setelah rak 1 dipindahkan
keposisi rak 3 dan rak 3 dipindahkan keposisi rak 1 dapat dihitung :
bahan
= kadarairawal
m
= kadarairawal
m
= kadarairawal m
10 20
= kadarairawal
m
Kadar air rata-rata pada akhir pengeringan:
3
3 2
1 kadarairrak kadarairrak
rak
3.7. Grafik Hasil Pengujian
10 20 30
60 50
40 70
80
10 20
30 40
50 60 70
80
Kadar air (%)
Wakt
u (
m
eni
t)
(41,25) (37) (22,5) (74)
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Bedasarkan perhitungan dan perencanaan yang dilakukan maka hasil
kesimpulanya sebagai berikut :
1. Spesifikasi Perencanaan
a. Bahan yang dikeringkan : irisan pisang ketebalan ± 2 mm
b. Dimensi ruang vakum dan rak : 40 cm x 40 cm x 40 cm dan
36 cm x 36 cm x 10 cm
c. Sumber kalor : kompor minyak tanah
d. Tekanan : -76 cmHg
2. Konstruksi alat
a. Ruang vakum
1. tegangan geser yang terjadi (τ) : 0,1 kg/cm²
2. tegangan geser (τa) : 45 kg/mm²
3. kekuatan tarik yang terjadi ( ) : 0,02 kg/ 2
cm
4. kekuatan tarik izin ( a) : 90 kg/mm²
b. Pompa
1. Daya pompa : 0,5 kW
2. Kapasitas pompa : 142 ltr/menit
3. Panas pada tiap rak
a. Percobaan I
Rak 1(T5) = 197,23 C
0
Rak 2 (T4)= 197,23 C0
Rak 3 (T3)= 197,49 C
0
b. Percobaan II
Rak 1(T5) = 177,73 C0
Rak 2 (T4)= 183,382 C0
Rak 3 (T3)= 189,034 C0
c. Percobaan III
Rak 1(T5) = 197,16 C
0
Rak 2 (T4)= 197,41 C0
Rak 3 (T3)= 197,65 C
0
4. Dari hasil percobaan, hasil pengeringan yang baik terdapat pada temperatur 55 C0
dan waktu 25 menit setelah rak 1 dipindahkan keposisi rak 3 dan rak 3
dipindahkan keposisi rak 1.
5. Massa pengeringan rata-rata :
a. Pada pengeringan awal 55 gram
6. Kadar air rata-rata pengeringan
a. Pengerigan awal 41,25 %
b. Pengeringan akhir 22,5 %
5.2 SARAN
1. Pengering vakum ini masih sederhana sehingga perlu ada penyambungan dan
pengembangan yang lebih baik untuk meningkatkan kinerja alat.
2. Perancangan pengering vakum hendaklah dibuat sesuai dengan bahan yang
dibutuhkan serta kemampuan yang telah di perhitungkan mengingat harga
perancangan sebuah alat pengering vakum cukup mahal.
3. Perumusan syarat-syarat harus ditentukan berdasarkan fungsinya, agar konstruksi
dan seluruh elemen dari alat pengering vakum tersebut dapat bertahan lama (life
DAFTAR PUSTAKA
1. Saad. M. A, “Termodinamika, Prinsip Dan Aplikasi”, Edisi Bahasa Indonesia
Jilid 1.
2. Devahastin. S, “Pengeringan industrial”, 2001, IPB.
3. Mc Cabe. W.L, “Operasi Teknik Kimia”. Jilid 2. 1993.
4. Streeter. V.L, dan wylie, E.B, “Mekanika Fluida”, Edisi Delapan Jilid I dan II.
5. Koestoro. R.A, “Perpindahan Kalor”, Salemba Teknik: Jakarta, 2002.
6.
7. Sularso dan Kiyokatsu Suga, “Dasar Perencanaan dan Pemilihan Elemen
Mesin”. Pradnya Paramita: Jakarta, 1994.
http:// “Pengeringan” @ Mohammadsholeh.htm
8. Achmad. Z, “Elemen Mesin I, Rafika Aditama”: Bandung 1999.
9. Reynold, C. William dan Perkins, H.C. “Termodinamika Teknik”, Erlangga:
Jakarta 1994.
10.Ryans, J. L. dan Roper, D. L, “Process Vacuum System Design & Operation”,
McGraw-Hill, 1986.
11.Zemansky, S. “Fisika Untuk Universitas 1”, Binacipta: Bandung 1982.
12.Fritz, F. “Turbin, Pompa dan Kompresor”, Erlangga: Jakarta 1988.
13. Rohanah. A, “Teknik Pengeringan (tep421)”, Departemen Teknologi Pertanian