STRATEGI PENGELOLAAN KONFLIK INTERNAL PARTAI POLITIK (Studi terhadap Pembekuan Dewan Pimpinan Cabang Partai Persatuan Pembangunan di Kabupaten Bangkalan)

Teks penuh

(1)

STRATEGI PENGELOLAAN KONFLIK INTERNAL

PARTAI POLITIK

(Studi terhadap Pembekuan Dewan Pimpinan Cabang Partai Persatuan Pembangunan di Kabupaten Bangkalan)

SKRIPSI

Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang Sebagai Persyaratan untuk

Mendapatkan Gelar Sarjana (S-1)

Oleh: Alfian Maulana

06230032

JURUSAN ILMU PEMERINTAHAN

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

(2)

LEMBAR PERSETUJUAN UJIAN SKRIPSI

Nama : Alfian Maulana NIM : 06230032

Jurusan : Ilmu Pemerintahan

Fakultas : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (ISIP)

Judul Skripsi : Strategi Pengelolaan Konflik Internal Partai Politik. (Studi terhadap Pembekuan Dewan Pimpinan Cabang Partai Persatuan Pembangunan di Kabupaten Bangkalan)

Disetujui,

Pembimbing I Pembimbing II

(Dr. Tri Sulistyaningsih, M.Si) (Drs. Jainuri. M.Si)

Dekan Fakultas

Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Ketua Jurusan Ilmu Pemerintahan

(3)

LEMBAR PENGESAHAN UJIAN

Nama : Alfian Maulana NIM : 06230032

Jurusan : Ilmu Pemerintahan

Fakultas : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (ISIP)

Judul Skripsi : Strategi Pengelolaan Konflik Internal Partai Politik. (Studi terhadap Pembekuan Dewan Pimpinan Cabang Partai Persatuan Pembangunan di Kabupaten Bangkalan)

Telah dipertahankan di depan dewan penguji dan dinyatakan diterima sebagai salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar Sarjana Ilmu Pemerintahan (S.IP)

Pada tanggal: 03-Agustus- 2012 Dihadapan Dewan Penguji

1. Drs. Krishno Hadi, MA (...)

2. Hevi Kurnia hardini, S.IP., M.Gov. (...)

3. Dr. Tri Sulistyaningsih. M.Si. (...)

4. Drs. Jainuri. M.Si (...)

Mengetahui, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

(4)

PERNYATAAN ORISINALITAS

Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Alfian Maulana NIM : 06230032

Jurusan : Ilmu Pemerintahan

Fakultas : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (ISIP)

Menyatakan bahwa karya ilmiah (Skripsi) dengan Judul: “Strategi Pengelolaan Konflik Internal Partai Politik. (Studi terhadap Pembekuan Dewan Pimpinan Cabang Partai Persatuan Pembangunan di Kabupaten Bangkalan)” adalah bukan karya tulis ilmiah (Skripsi) orang lain, baik sebagian ataupun seluruhnya, kecuali dalam bentuk kutipan yang telah saya sebutkan sumbernya dengan benar.

Demikian Surat pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya dan apabila pernyataan ini tidak benar, saya bersedia mendapat sanksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Malang, 03-Agustus- 2012

Yang menyatakan

(5)

BERITA ACARA BIMBINGAN SKRIPSI

Nama : Alfian Maulana NIM : 06230032

Jurusan : Ilmu Pemerintahan

Fakultas : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (ISIP)

Judul Skripsi : Strategi Pengelolaan Konflik Internal Partai Politik. (Studi terhadap Pembekuan Dewan Pimpinan Cabang Partai Persatuan Pembangunan di Kabupaten Bangkalan)

Pembimbing : 1. Dr. Tri Sulistyaningsih. M.Si. 2. Drs. Jainuri. M.Si

Tanggal Bimbingan Paraf Pembimbing Keterangan

I II

Tanggal 07-07-2011 Revisi Bab I /Proposal

Tanggal 13-18-2011 ACC Bab I

Tanggal 16-08-2011 Seminar

Tanggal 04-12-2011 Revisi Bab II/III

Tanggal 11-02-2012 ACC Bab II/III

Tanggal 13-05-2012 Bimbingan Bab IV/V

Tanggal 18-06-2012 Revisi Bab IV/V

Tanggal 06-07-2012 ACC Bab IV dan V

Malang, 03-Agustus- 2012 Mengetahui,

Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II

(Dr. Tri Sulistyaningsih. M.Si) (Drs. Jainuri. M.Si)

Dekan

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

(6)

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang hanya dengan ridho dan rahmat-Nyalah peneliti dapat menyelesaikan penelitian dengan judul Strategi Pengelolaan Konflik Internal Partai Politik. (Studi terhadap Pembekuan Dewan Pimpinan Cabang Partai Persatuan Pembangunan di

Kabupaten Bangkalan) dengan lancar. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat

menjadi masukan bagi Mahasiswa-Mahasiswi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik berikutnya dalam meneliti fenomena-fenomena terkini, yang tentunya peneliti harapkan harus lebih baik dari penelitian ini. Dalam Penyusunan Penelitian ini tentunya tidak akan lepas dari segala kekurangan dan kelemahan yang tidak dengan sengaja atau kesadaran. Oleh karenanya dalam perbaikan dan penyempurnaan kedepan, alangkah baiknya saran dan kritik yang membangun dari pihak-pihak yang tertarik terhadap hal ini sangat berarti bagi peneliti.

Dalam kesempatan ini peneliti ingin mengucapkan terima kasih kepada para pihak yang telah memberikan bantuan dan dorongan kepada peneliti, sehingga penelitian ini bisa peneliti selesaikan tepat pada waktunya.

1. Kedua orang tuaku, karena pengorbanan dan motivasinya, sehingga kami dapat menyelesaikan perkuliahan sekaligus penulisan skripsi ini.

(7)

3. Bapak Drs. Jainuri, M.Si, kepada beliau juga kami sampaikan banyak terimakasi atas pengorbanan dan waktu yang diberikan dalam proses bimbingan skripsi

4. Bapak Drs. Krishno Hadi, MA, selaku penguji terimakasi atas masukan yang diberikan dalam perbaikan skripsi ini

5. Ibu Hevi Kurnia hardini, S.IP., M.Gov, selaku penguji terimakasi atas masukan dan kritikan dalam perbaikan skripsi ini

6. Teman-teman seperjuangan di jurusan Ilmu Pemerintahan, thanks friends for all.

Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan seluruh pihak-pihak yang telah memberikan bantuan dan dorongan kepada peneliti, sehingga penelitian ini dapat terselesaikan dengan baik, Amin...

Akhirnya peneliti berharap penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi siapapun yang membacanya khususnya bagi mahasiswa Ilmu Pemerintahan dan kalangan yang tertarik dengan kajian konflik politik.

Wassalamu’alaikum, Wr. Wb

Malang, 03-Agustus- 2012

(8)

ABSTRAK

Alfian Maulana, 06230032. Strategi Pengelolaan Konflik Internal Partai Politik. (Studi terhadap Pembekuan Dewan Pimpinan Cabang Partai Persatuan Pembangunan di Kabupaten Bangkalan) Pembimbing I: Dr. Tri Sulistyaningsih. M.Si. Pembimbing II: Drs. Jainuri. M.Si

Kata kunci : Strategi Pengelolaan Konflik Internal, Partai Politik

Konflik dalam tubuh partai politik menjadi fenomena unik di era reformasi ini. Umumnya, partai gagal melakukan konsensus untuk menyelesaikan konflik. Akibatnya interaksi dalam kepentingan politik kerap menggunakan metode konflik. Konflik elite partai ini menjadi bukti tidak adanya konsesnsus bersama para elite partai. Salah satu konflik yang terjadi dalam internal partai politik adalah konflik yang terjadi pada Partai Persatuan Pembangunan di Jawa Timur. Dimana Dewan Perwakilan Wilayah Partai Persatuan Pembangunan Jawa Timur mengeluarkan surat keputusan untuk membekukan kepengurusan partai di Kabupaten Bangkalan yang dianggap tidak berfungsi dengan maksimal dalam pemilu tahun 2009. Bahkan ada indikasi adanya “perlawanan” dari pengurus DPD Kabupaten Bangkalan dalam pemenangan pemilu tahun 2009, sehingga Dewan Perwakilan Wilayah memutuskan untuk membekukan kepengurusannya. Disisi lain, unjuk rasa ratusan kader Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang memprotes pembekuan Dewan Pimpinan Daerah PPP Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, berakhir ricuh. Massa saling dorong dan baku pukul dengan petugas keamanan. Aksi saling dorong dan saling pukul antara demonstran dan aparat keamanan tidak terhindarkan ketika massa memaksa masuk ke Kantor DPW PPP Jatim. Petugas menghalangi demonstran karena khawatir mereka akan bertindak anarkisme.

Pendekatan teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori konflik oleh Dahrendorf, yang menyatakan bahwa kebanyakan konflik yang melibatkan massa tidak terlepas dari salah satu faktor kebijakan yang dianggap diskriminasi dan menjadi motivator untuk melakukan konflik, baik itu secara langsung ataupun sebaliknya. Hal ini telah dijelaskan oleh Dahrendorf yang telah menjelaskan tentang kondisi-kondisi dimana kepentingan laten itu menjadi manifest dan kelompok semu dapat diubah menjadi kelompok-kelompok kepentingan yang bersifat konflik. Kondisi-kondisi ini diklasifikasikan sebagai, kondisi teknis, politik, dan sosial.

(9)

Hasil penelitian menunjukan bahwa proses terjadinya konflik internal bermula dari pengajuan calon untuk maju pada pemilihan ketua PPP yang menjadi asal muasal PPP Jatim membekukan sehingga menjalar ke cabang-cabang yang tidak memilih I.r Farid Al Fauzi. Akhirnya I.r Farid Al Fauzi selaku ketua terpilih melakukan atau memutuskan pembelaan PDC PPP secara merata yang tidak memilih I.r Farid Al Fauzi pada proses pemilihan PPP Jatim 2006-2012. DPC PPP Bangkalan yang tidak sepakat dengan pembekuan tersebut akhirnya melakukan gerakan penolakan terhadap keputusan tersebut didukung 39 cabang yang akan dibekukan oleh ketua terpilih. Sedangkan factor-faktor yang memicu konflik internal PPP Bangkalan adalah (1) Perbedaan kepentingan pengurus partai, (2) Pembekuan secara merata yang melibatkan DPC PPP Bangkalan, (3) Kebijakan pemilihan pimpinan wilayah tidak memakai ADRT partai, (4) Konflik internal parpol selain dari dukungan terhadap calon DPC atau DPW.

Strategi yang digunakan DPC PPP dalam pengelolaan konflik internal Partai Persatuan Pembangunan Kabupaten Bangkalan adalah dengan mengadakan pertemuan dari kedua belah pihak untuk mengantisipasi terhadap konflik internal PPP dengan mematuhi asas kebersamaan dan menjalankan persepsi yang berakhlakul karimah. Selain itu juga diperlukan penataan ulang dari tingkat kepengurusan dewan pimpinan cabang sampai ketingkat ranting untuk tetap konsisten atau istiqomah melalui sosialisasi dan koordinasi agar tidak terjadi kesenjangan dalam menjalankan roda partai politik. Selain itu, dengan memaksimalkan konsolidasi, penerapan program partai sesuai dengan AD/ART, penerapan open manajemen melaporkan yang akuntabel mempertajam loby personal, semua itu akan maksimal jika pimpinan partai memiliki dasar leadership yang matang dalam menjalankan visi dan misi partai. Dengan demikian digelarlah forum tabayyun (klarifikasi) oleh pimpinan pusat antara DPC PPP Bangkalan selaku yang dibekukan dan PDW PPP Jatim selaku pihak yang membekukan..

Penulis

(Alfian Maulana)

Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II

(10)

ABSTRACT

Alfian Maulana, 06230032. Internal Conflict Management Strategies of Political Parties. (Studies on Freezing Branch Board of the PPP in Bangkalan). Adviser I: Dr. Tri Sulistyaningsih. M.Si. Adviser II: Drs. Jainuri. M.Si.

Keywords: Strategic Management of Internal Conflict, Political Parties

Conflict within the opposition parties were a unique phenomenon in the era of reform. Generally, the party failed to make a consensus to resolve the conflict. As a result of interaction in the political interests often conflict methods. Party elite conflict is evidence of lack of consensus with the party elite. One of internal conflicts within the political party is a conflict that occurred in the United Development Party in East Java. Where the Regional Representatives Council of the United Development Party of East Java issued a decree to freeze the stewardship of the party in Bangkalan deemed not function with a maximum in the 2009 elections. There are even indications of a "resistance" of the board DPD Bangkalan on the award of the 2009 elections, so that the Regional Representatives Council decided to freeze arrangement. On the other hand, a rally of hundreds of cadres of the United Development Party (PPP) to protest the freezing of the Regional Leadership Council PPP Bangkalan, East Java, ending chaos. Mass pushing and raw at the security guard. Action and shoving at each other between demonstrators and security forces is unavoidable when the mob broke into the Office of East Java PPP DPW. Officers blocking protesters for fear that they will act anarchism.

Theoretical approach used in this study is the theory of conflict by Dahrendorf, who claimed that most conflicts involving mass can not be separated from one of the factors that are considered discriminatory policies and a motivator to do the conflict, either directly or otherwise. This has been described by Dahrendorf has explained about the conditions under which the latent interests become manifest and pseudo groups can be converted into interest groups that are conflicts. These conditions are classified as, technical conditions, political, and social.

Researchers using this type of research deskripstif through a qualitative approach, in the presence of such research can provide insight and understanding in depth of the research object, the implementation of the researchers managed to collect accurate data and information from informants, while the perspective used is that the data collected in the strive for in described by the expression, language, ways of thinking and view of the subject the author.

(11)

resistance movement against the ruling which supported 39 branches will be frozen by the elected chairman. While the factors that trigger internal conflict Bangkalan PPP are (1) Differences interests of party leaders, (2) Freezing evenly Bangkalan PPP involving DPC, (3) the selection of policy areas do not wear ADRT leadership of the party, (4) The internal conflict in addition to political parties of support for the candidate DPC or DPW.

(12)

DAFTAR ISI

Lembar Persetujuan ... i

Lembar Pengesahan ... ii

Lembar Pernyataan ... iii

Lembar Persembahan ... iv

Kata pengantar ... v

Abstraksi ... vi

Daftar Isi ... vii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 5

C. Tujuan Penelitian ... 5

D. Manfaat Penelitian ... 5

E. Definisi Konsep ... 6

F. Definisi Operasional ... 7

G. Metode Penelitian ... 8

1. Jenis Penelitian ... 8

2. Subjek Penelitian ... 8

3. Teknik Pengumpulan Data ... 9

4. Lokasi Penelitian ... 11

5. Teknik Analisa Data. ... 12

BAB II KAJIAN TEORI A. Konflik Politik.. ... 15

1. Pengertian Konflik Politik ... 15

2. Konflik sebagai Proses Politik ... 18

3. Konflik Sosial ... 22

4. Konflik inetrnal Partai Politik ... 26

B. Potensi Konflik ... 27

C. Partai Politik ... 34

(13)

BAB III. DESKRIPSI WILAYAH

A. Gambaran Kabupaten Bangkalan ... 44

1. Kondisi Geografis ... 44

2. Demografi ... 45

3. Perekonomian Kabupaten Bangkalan ... 48

4. Visi Pembangunan Daerah Kabupaten Bangkalan 2008–2013 ... 50

5. Pariwisata ... 51

B. Gambaran Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Kabupaten Bangkalan ... 52

1. Dinamika Internal ... 52

2. Dinamika Eksternal ... 56

BAB IV. PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA A. Identifikasi Penyebab Munculnya Konflik Partai Politik ... 58

1. Faktor-Faktor Penyebab Munculnya Konflik Partai ... 58

2. Upaya Identifikasi Awal Sumber Konflik dalam Tubuh Partai ... 63

3. Antisipasi terhadap Hadirnya Konflik dalam Internal Partai ... 67

B. Strategi penyelesaian konflik partai politik ... 70

1. Langkah-langkah yang diambil dalam menyelesaikan konflik ... 70

2. Pendekatan yang dilakukan dalam menyelesaikan konflik ... 73

3. Aktor-Aktor yang Menjadi Mediator dalam Penyelesaian Konflik ... 78

C. Dampak yang dihasilkan dari hadirnya konflik dalam tubuh partai politik ... 82

1. Efek konflik terhadap solidaritas partai ... 82

2. Dampak Konflik terhadap Perolehan Suara PPP dalam Pemilu ... 85

3. Persepsi masyarakat terhadap politik setelah hadirnya konflik ... 89

BAB V. PENUTUP A. Kesimpulan ... 93

(14)

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Munir Mulkan dkk. 2002.Membongkar Praktek Kekerasan. PSIF UMM&Sinergi Press

Anton Tabah, 1991, Menatap dengan mata hati polisi Indonesia. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Dan Nimmo, 2001. Komunikasi Politik Khalayak dan Efek. Bandung: PT Remaja Rosda Karya

Dedi Irawan, “Dampak Gerakan Reformasi Terhadap Konflik Politik Internal Golongan Karya (Periode 21 Mei 1998-20 Oktober 1999)” dalam Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik No.6/tahun III, April 2002, Faturrohman, Deden dan Wawan Sobari. 2002. Pengantar Ilmu Politik. Malang:

UMM Press

Fasial Sanapiah, 1990, Penelitian Kualitatif, Dasar – Dasar dan Aplikasinya, Yayasan Asah Asih Asuh , Malang

Ignes Kleden, “Indonesia Setelah Lima Tahun Reformasi (Mei 1998-Mei 2003)” dalam Analisis CSIS, tahun XXXII/2003

Johnson Doyle Paul, 1990, Teori sosiologi 2 : Klasik dan Modern, Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

George Ritzer. 2004. Teori sosiologi modern. Edisi keenam.Diterjemahkan oleh Alimandan. Kencana Jakarta

Gulo, W. 2002. Metode Penelitian, Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia H. Anto Djawamaku; “Percehan Partai Politik, Pemberantasan Korupsi dan

Berbagai Masalah Politik Lainnya”; dalam Jurnal Analisis CSIS : Peran Masyarakat dan Demokrasi Lokal, Jakarta, Vol. 34, No.2, 2005

Lexey, Moleong. 2001 Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung.: Remaja Rosdakaria

Maran Raga Refael. 2001. Pengantar Sosiologi Politik. Penerbit Rineka Cipta Jakarta

(15)

Salladien, 2002, Beberapa Teori Perkuliahan Sosiologi Kriminalitas, disampaikan dalam worksop pengembangan kurikulum program studi Magister Sosiologi Pedesaan, UMM, Malang

Soehartono, Irawan. 2002. Metode Penelitian Sosial. Bandung

Soekarto, Soerjono. 1990. Sosiologi Ruang Lingkup dan Aplikasinya. Bandung : Remaja Rosdakarya

Sonhadji, Ahmad, 1994. Teknik Pengumpulan dan Analisa Data Dalam Peneltian Kualitatif (Dalam buku Penelitian Kualitatif dalam Bidang Ilmu-Ilmu Sosial Keagamaan). Penerbit Kalimasahada Press Malang

Tim Dosen Bahasa Indonesia UMM, 2003, Bahasa Indonesia untuk Karangan Ilmiah, UMM Press, Malang

Varma S.P. 2001. Modern Political Theory. Jakarta : PT. Raja Grafindo http://grms.multiply.com/journal/item/28

http://www.bandiklatjatim.go.id/index.php/Strategi-dan-Program.html

http://www.metrotvnews.com/read/newsvideo/2007/05/14/38708/-DPW-PPP-Jatim-Tetap-Membekukan-DPC-Bangkalan-/82

http://matarakyat.wordpress.com/tag/ppp/ Profil Kabupaten Bangkalan 2010

BPS Kabupaten Bangkalan 2009

(16)

BAHAN PENELITIAN

Nama :

Jabatan/Pekerjaan : Tgl Wawancara :

1. Bagaimana proses terjadinya konflik internal Partai Persatuan Pembangunan di Kabupaten Bangkalan?

2. Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan munculnya konflik partai Persatuan Pembangunan?

3. Bagaimana upaya identifikasi awal sumber konflik dalam tubuh Partai Persatuan Pembangunan?

4. Apa saja yang dilakukan untuk mengantisipasi tertadap hadirnya konflik dalam internal partai Persatuan Pembangunan?

5. Selama ini langkah-langkah apa saja yang diambil dalam menyelesaikan konflik internal partai Persatuan Pembangunan?

6. Pendekatan apa saja yang dilakukan dalam menyelesaikan konflik internal partai Persatuan Pembangunan?

7. Siapa saja aktor-aktor yang menjadi mediator dalam penyelesaian konflik internal partai Persatuan Pembangunan?

8. Bagaimana dampak yang dihasilkan dari hadirnya konflik dalam tubuh partai politik, khususnya masalah solidaritas partai?

9. Bagaimana pengaruhnya dengan perolehan suara partai politik dalam pemilu?

10.Bagaimana selama ini persepsi Masyarakat terhadap politik setelah hadirnya konflik internal partai Persatuan Pembangunan?

Informan:

(1) Ketua DPD PPP Kabupaten Bangkalan (2) Ketua DPC PPP Kabupaten Bangkalan

(3) Tokoh masyarakat yang memahami permasalahan konflik internal Partai Persatuan Pembangunan di Kabupaten Bangkalan.

(17)

1

BAB I PENDAHULUAN

A.Latar Belakang Masalah

Dunia politik di Indonesia telah mengalami perubahan yang signifikan setelah era reformasi. Semangat untuk menenggelamkan praktik-praktik berpolitik yang dianggap penuh dengan rekayasa, manipulatif, tidak adil dan represif memberikan energi besar kepada semua komponen bangsa untuk menciptakan suasana politik yang lebih terbuka, transaparan, jujur dan adil. Persaingan politik baik horizontal maupun vertikal kini telah terbuka lebar, sehingga akses politik untuk memasuki ranah kekuasaan baik dalam tingkatan legislatif maupun eksekutif relatif lebih mudah apabila dibandingkan dengan masa Orde Baru yang hanya melahirkan Demokrasi prosedural dan tidak pernah menyentuh sistem demokrasi yang bercorak subtantif.

(18)

2

Bersamaan dengan semakin berperannya parpol dalam kehidupan negara yang demokratis, timbul konflik-konflik di dalam tubuh parpol. Kecenderungan konflik internal hingga dualisme kepemimpinan partai politik pascakongres atau muktamar sering terjadi. Kongres PDIP di Bali membelah kepemimpinan PDIP menjadi dua poros kekuatan, antara DPP PDIP Megawati di satu sisi dengan GP PDIP-nya Roy BB Janis di sisi lain. Muktamar PKB di Semarang membuat dualisme kepemimpinan: Gus Dur-Muhaimin Iskandar berhadapan dengan DPP PKB versi Alwi Sihab dan Syaifullah Yusuf yang didukung oleh poros Kiai Langitan-Lirboyo. Sebelumnya soliditas kepemimpinan DPP PPP juga retak oleh konflik internal antara kaukus elite DPP pro-Silatnas (Silaturahmi Nasional) yang anti Hamzah Haz dengan yang anti Silatnas yang pro Hamzah Haz. Fenomena kepengurusan kembar partai politik di Indonesia sebagai imbas konflik internal partai sebenarnya merupakan fenomena klasik dalam politik kepartaian.1

Konflik dalam tubuh partai politik menjadi fenomena unik di era reformasi ini. Umumnya, partai gagal melakukan konsensus untuk menyelesaikan konflik. Akibatnya interaksi dalam kepentingan politik kerap menggunakan metode konflik. Konflik elite partai ini menjadi bukti tidak adanya konsesnsus bersama para elite partai. Salah satu konflik yang terjadi dalam internal partai politik adalah konflik yang terjadi pada Partai Persatuan Pembangunan di Jawa Timur. Dimana Dewan Perwakilan Wilayah Partai Persatuan Pembangunan Jawa Timur mengeluarkan surat keputusan untuk membekukan kepengurusan partai di Kabupaten Bangkalan yang dianggap tidak berfungsi dengan maksimal dalam

1

(19)

3

pemilu tahun 2009. Bahkan ada indikasi adanya “perlawanan” dari pengurus DPD Kabupaten Bangkalan dalam pemenangan pemilu tahun 2009, sehingga Dewan Perwakilan Wilayah memutuskan untuk membekukan kepengurusannya.

Pada akhirnya Dewam Pimpinan Wilayah Partai Persatuan Pembangunan Jawa Timur tetap membekukan Dewan Pimpinan Cabang Kabupaten Bangkalan Madura, Jatim. Keputusan ini diambil dalam pertemuan antara perwakilan ratusan peserta aksi yang menolak pembekuan DPC PPP Bangkalan serta sejumlah pengurus anak cabang (PAC) PPP Kabupaten Bangkalan dan DPW PPP Jatim di Bangkalan.2 Dari tujuh anggota PPP yang duduk di DPRD Bangkalan, enam orang di antaranya juga mengajukan tuntutan pembekuan Kantor DPC PPP Bangkalan. Menanggapi keputusan DPW tersebut, sejumlah DPC mengancam akan tetap melakukan aksi dengan membawa massa yang lebih besar. Sebelumnya, aksi menolak pembekuan DPC PPP Bangkalan sempat diwarnai kericuhan antara ratusan kader PPP dan polisi.

Disisi lain, unjuk rasa ratusan kader Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang memprotes pembekuan Dewan Pimpinan Daerah PPP Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, berakhir ricuh. Massa saling dorong dan baku pukul dengan petugas keamanan. Aksi saling dorong dan saling pukul antara demonstran dan aparat keamanan tidak terhindarkan ketika massa memaksa masuk ke Kantor DPW PPP Jatim. Petugas menghalangi demonstran karena khawatir mereka akan bertindak anarkisme. Sejumlah perwakilan demonstran akhirnya diterima pihak DPW PPP.

2

(20)

4

Massa menuntut pembekuan ini dicabut karena dinilai tidak memiliki dasar yang jelas. Sementara alasan DPW PPP Jatim membekukan DPD Bangkalan karena DPD tersebut tidak berfungsi maksimal menghadapi Pemilu 20093. Jadi konflik politik bukanlah konflik individu karena isu yang dipertentangkan dalam konflik politik adalah isu publik yang menyangkut kepentingan banyak orang, bukan kepentingan satu orang tertentu.4 Selama ini strategi penanganan konflik yang digunakan adalah dengan melakukan program dan kegiatan yang dilakukan, seperti penataan dan pembenahan partai hingga tingkat ranting, konsolidasi pengurus dan kader partai terus dilakukan oleh DPC. PPP Kabupaten Bangkalan, akan tetapi upaya dan jerih payah tersebut masih dipandang sebelah mata oleh sebagian kalangan khususnya oleh Dewan Pimpinan Wilayah PPP Jawa Timur yang pada saat itu dipimpin oleh lr. H.M. Farid al-Fauzi, MM. bahkan DPC. PPP Kabupaten Bangkalan dianggap tidak memiliki kemampuan memimpin partai.

Dari uraian latar belakang di atas, maka peneliti tertarik untuk mengkaji dan meneliti lebih dalam tentang bagaimana kemudian strategi yang di lakukan oleh Partai Persatuan Pembangunan dalam mengatasi konflik tersebut. Sebab apabila hal tersebut dibiarkan berlarut-larut maka akan semakin merugikan institusi partai, sehingga sangat penting dan perlu untuk segera diselesaikan konflik yang terjadi demi keberlangsungan Partai Persatuan Pembangunan di Kabupaten Bangkalan.

3

http://matarakyat.wordpress.com/tag/ppp/

4

(21)

5

B.Rumusan Masalah

1. Bagaimana proses terjadinya konflik internal Partai Persatuan Pembangunan di Kabupaten Bangkalan?

2. Faktor apa saja yang menyebabkan konflik internal Partai Persatuan Pembangunan di Kabupaten Bangkalan?

3. Bagaimana strategi yang digunakan DPC PPP dalam pengelolaan konflik internal Partai Persatuan Pembangunan Kabupaten Bangkalan?

C.Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui proses terjadinya konflik internal Partai Persatuan Pembangunan di Kabupaten Bangkalan.

2. Untuk mengetahui faktor yang menyebabkan konflik internal Partai Persatuan Pembangunan di Kabupaten Bangkalan.

3. Untuk mengetahui strategi yang digunakan DPC PPP dalam pengelolaan konflik internal Partai Persatuan Pembangunan di Kabupaten Bangkalan. D.Manfaat penelitian

1. Secara Akademis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat menambah referensi dalam bentuk informasi tentang konflik internal PPP di Bangkalan sebagai upaya peningkatan dibidang pengetahuan politik dan pemerintahan.

2. Secara Praktis

(22)

6

E.Definisi Konseptual

1. Strategi adalah cara untuk mencapai tujuan den sasaran organisasi yang dijabarkan ke dalam kebijakan-kebijakan dan program-program. Strategi adalah merupakan faktor terpenting dalam proses perencanaan stratejik, sebab strategi merupakan suatu rencana yang menyeluruh den terpadu mengenai upaya mewujudkan tujuan dan sasaran yang diinginkan.5

2. Konflik merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan bermasyarakat karena konflik merupakan salah satu produk dari hubungan sosial. Karena masyarakat terdiri dari sejumlah besar hubungan sosial, selalu saja terjadi konflik dalam hubungan sosial. Konflik tertentu sebagian besar tidak berkembang luas di dalam masyarakat karena berhasil diselesaikan oleh pihak-pihak yang terlibat dalam konflik.6

3. Konflik politik adalah bagian dari konflik sosial, konflik politik mempunyai, ciri-ciri yang mirip dengan konflik sosial. Harnpir semua ciri konflik sosial yang telah dibahas di atas juga dapat ditemukan dalam konflik politik, yang membuat konflik sosial berbeda dari konflik politik adalah, kata “politik” yang membawa konotasi tertentu bagi istilah 'konflik politik'. Tidak seperti konflik sosial, konflik politik mempunyai konotasi politik yakni, mempunyai keterkaitan dengan negara/pemerintah, para pejabat politik/pemerintahan dan kebijakan.

4. Partai politik adalah setiap kelompok-kelompok, meskipun terorganisasi secara sederhana, yang bertujuan untuk mendapatkan jabatan di

5

http://www.bandiklatjatim.go.id/index.php/Strategi-dan-Program.html

6

(23)

7

pemerintahan, dengan identitas tertentu. Sedangkan menurut sarjana politik lainnya, Jean Blondel mendefenisikan bahwa partai politik adalah sebagai kelompok-kelompok dengan sistem keanggotaan yang terbuka dan memfokuskan kegiatannya pada seluruh spektrum dari sisi-sisi negara.7 F. Definisi Operasional

Defenisi Operasional adalah defenisi yang didasarkan atas sifat-sifat hal yang didefinisikan yang dapat diamati.8 Dalam penelitian ini, variabel operasional yang berkaitan dengan strategi dalam penanganan konflik internal Partai Persatuan Pembangunan di Kabupaten Bangkalan adalah sebagai berikut:

1. Identifikasi penyebab munculnya konflik partai politik a. Faktor-faktor penyebab munculnya konflik partai.

b. Upaya identifikasi awal sumber konflik dalam tubuh Partai.

c. Antisipasi tertadap hadimya konflik dalam internal partai 2. Strategi penyelesaian konflik partai politik

a. Langkah-langkah yang diambil dalam menyelesaikan konflik b. Pendekatan yang dilakukan dalam menyelesaikan konflik.

c. Aktor-aktor yang menjadi mediator dalam penyelesaian konflik 3. Dampak yang dihasilkan dari hadirnya konflik dalam tubuh partai politik

a. Efek konflik terhadap solidaritas partai

b. Dampak konflik terhadap perolehan suara partai politik dalam pemilu.

c. Persepsi rnasyarakat terhadap politik setelah hadirnya konflik

7

Ibid. Hlm: 271

8

(24)

8

G.Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, dengan alasan agar dapat menggali informasi yang mendalam mengenai objek yang diteliti. Metode deskriptif sebagai prosedur pemecahan masalah yang diteliti berdasarkan fakta-fakta yang ada, sehingga tujuan dari metode deskripstif adalah untuk menggambarkan suatu masyarakat tertentu atau gambaran tentang gejala sosial. 9

Dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian diskriptif kualitatif dengan alasan bahwa dalam penelitian ini berupaya menggali data, yaitu data berupa pandangan responden dalam bentuk cerita rinci atau asli. Kemudian peneliti memberikan penafsiran, sehingga dapat memunculkan temuan dan memberikan informasi tentang strategi dalam penanganan konflik internal Partai Persatuan Pembangunan di Kabupaten Bangkalan.

2. Subyek Penelitian

Subyek penelitian adalah orang yang dimanfaatkan untuk memberikan informasi tentang situasi dan kondisi latar penelitian.10 Adapun proses penetapan subyek penelitian menggunakan metode purposive sampling untuk memperoleh informan yang punya pengalaman atau pengetahuan dalam hal konflik internal Partai Persatuan Pembangunan di Kabupaten Bangkalan. Oleh karena itu, untuk mendukung informasi ditetapkan narasumber:

9

Soehartono, Irawan. 2002. Metode Penelitian Sosial. Bandung: hlm:35

10

(25)

9

(1) Ketua DPD PPP Kabupaten Bangkalan (2) Ketua DPC PPP Kabupaten Bangkalan

(3) Tokoh masyarakat yang memahami permasalahan konflik internal Partai Persatuan Pembangunan di Kabupaten Bangkalan.

(4) Masyarakat yang memahami konflik internal PPP. 3. Teknik Pengumpulan Data

Pada prinsipnya pengumpulan data empirik diawali dengan memahami setting untuk memahami tentang permasalahan yang akan diteliti. Dalam hal ini

peneliti masuk sebagai bagian dari subyek penelitian. Sehubungan dengan ini, maka digunakan teknik pengumpulan data berupa pengamatan, wawancara, dan dokumentasi dengan alasan agar memperoleh data secara rinci dan mendalam mengenai permasalahan yang diteliti. Menurut Gulo, (2002) Pengumpulan data dilakukan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan dalam rangka mencapai tujuan penelitian11. Teknik pengumpulan data yang dipilih tergantung pada faktor utama dan jenis data. Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah:

a. Observasi

Guba dan Lincoln (1981) dalam Moleong mengemukakan beberapa alasan penggunaan teknik observasi: Pertama, teknik ini didasarkan atas pengalaman secara langsung, kedua, teknik pengamatan juga memungkinkan melihat dan mengamati sendiri, mencatat perilaku dan kejadian sebagaimana terjadi, ketiga, pengamatan memungkinkan mencatat peristiwa dalam situasi berkaitan dengan pengetahuan

11

(26)

10

proporsional maupun pengetahuan yang langsung diperoleh dari data, keempat, pengamatan merupakan alternatif menghindari bias data, kelima,

memungkinkan memahami situasi-situasi yang rumit.12

Dalam penelitian ini proses obervasi adalah mengamati tentang segala sesuatu yang dapat mendukung permasalahan penelitian tentang konflik internal Partai Persatuan Pembangunan di Kabupaten Bangkalan.

b. Wawancara

Teknik pengumpulan data berikutnya yang digunakan adalah teknik wawancara. Dalam penelitian ini sengaja menggunakan teknik wawancara mendalam dan terstruktur dengan menggunakan pedoman wawancara yang merupakan suatu cara pengumpulan data secara langsung dengan informan, untuk mendapatkan gambaran tentang masalah yang diteliti. Menurut Moloeng (2002) taknik wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu yang dilakukan oleh dua pihak yaitu pewawancara yang mengajukan pertanyaan kepada informan. Pencatatan data wawancara merupakan suatu aspek utama yang amat penting dalam wawancara, karena jika tidak dilakukan dengan semestinya, maka sebagian dari data akan hilang, dan usaha wawancara akan sia-sia.13

12

Lexey, Moleong. 2001 Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung.: Remaja Rosdakaria. Hlm: 126

13

(27)

11

c. Dokumentasi

Teknik dokumentasi merupakan penelusuran dokumen resmi dalam menjajaki sumber tertulis. Sehingga memperkaya data disamping itu metode dokumentasi akan membantu dalam penganalisaan.

Peneliti mencari data sekunder dengan jalan mengadakan studi kepustakaan dan rekaman. Lincoln dan Guba (dalam Sonhaji, 1994) mengartikan rekaman sebagai setiap tulisan atau pernyataan yang dipersiapkan dengan tujuan membuktikan adanya suatu peristiwa atau memenuhi accountin. Sedangkan dokumen digunakan untuk mengacu setiap tulisan atau rekaman, yaitu dipersiapkan secara khusus untuk tujuan tertentu.14 Dokumen yang berhasil dikumpulkan adalah pemberitaan mengenai permasalahan konflik internal Partai Persatuan Pembangunan di Kabupaten Bangkalan, baik dari artikel, internet serta foto-foto.

4. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian adalah di Kabupaten Bangkalan dengan alasan bahwa disamping konflik politik yang berlarut-larut juga mengenai pemahaman tentang tata cara pembekuan kepengurusan partai politik serta pemahaman demokrasi yang masih dianggap rendah. Dalam penelitian ini dilakukan serangkaian kegiatan lapangan mulai dari penjajakan lokasi penelitian, studi orientasi dan studi terfokus.

14

(28)

12

5. Teknik Analisa Data

Dalam rangka mencapai hasil penelitian, data yang akan dikumpulkan perlu dianalisis. Analisis data merupakan tahap yang sangat menentukan dalam keseluruhan proses penelitian. Analisis data menyangkut kekuatan analisis dan kemampuan mendeskripsikan situasi dan konsepsi yang merupakan bagian dari penelitian. Dengan melakukan analisa data dapat memberikan arti dari makna yang berguna dalam memecahkan permasalahan.15

Teknik analisis data adalah proses mengatur urutan data, pengorganisasian ke dalam suatu pola, kategori dan satuan uraian dasar, sehingga dapat ditemukan tema yang dirumuskan. Data yang terkumpul terdiri dari catatan lapangan, interview, gambar, foto dan dokumen berupa laporan, biografi, artikel, kemudian direduksi dan diolah untuk memperoleh kesimpulan informasi tersebut. Proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber yang kemudian dilakukan reduksi data (menformulasikan teori ke dalam seperangkat konsep) yang dilakukan dengan membuat rangkuman inti dalam penelitian tersebut. Dalam penelitian ini data dianalisis secara normatif melalui studi literatur dan hasil analisis bersifat kualitatif dalam bentuk deskripsi atau uraian. 16

Oleh karenanya dengan menerapkan metode analisa yang lazim digunakan dalam penelitian lapangan (field research). Peneliti berpedoman pada tahapan penelitian, bahwa:

15

Lexey, Moleong. 2002 Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung.: Remaja Rosdakaria. Hlm: 15

16

(29)

13

1. Analisa data dalam penelitian lapangan dilakukan secara jalin-menjalin dengan proses pengamatan.

2. Berusaha menemukan kesamaan dan perbedaan berkenaan dengan gejala sosial yang diamati, dan menemukan penyimpangan-penyimpangan pola-pola tindakan atau norma sosial tersebut.

3. Membentuk taksonomi tindakan berkenaan dengan gejala sosial yang diamati.

4. Menyusun secara tentatif proposisi-proposisi teoritis, berkenaan dengan hubungan antar kategori yang dikembangkan atau dihasilkan dari penyusunan taksonomi tersebut diatas.

5. Melakukan pengamatan lebih lanjut terhadap tindakan sosial yang berkaitan dengan proposisi-proposisi sementara.

6. Mengevaluasi proposisi teoritis sementara untuk menghasilkan kesimpulan.

7. Untuk mencegah penarikan kesimpulan secara subyektif, dilakukan upaya: (a) mengembangkan intersubyektif melalui diskusi dengan orang lain, (b) menjaga kepekaan sosial dan kesadaran sebagai peneliti.17 Di samping itu, untuk menambah bobot validitas dan otentisitas sumber data, peneliti akan menggunakan strategi internal, yakni; (a) melakukan kritik ekstern untuk menentukan otentisitas sumber data, (2) melakukan kritik intern

untuk menentukan kredibilitas informasi yang dikemukakan oleh sumber tersebut.

17

(30)

14

Selanjutnya, analisis data baik ketika mengumpulkan data maupun setelah selesai pengumpulan dimulai dengan:

1. Data yang telah terkumpul dari berbagai sumber melalui observasi, wawancara, dokumen, dibaca dan ditelaah dengan seksama untuk dijadikan acuhan berfikir serta mencari solusi yang tepat, dan pada penelitian lebih lanjut diharapkan menghasilkan hasil data yang valid. 2. Data yang telah terkumpul, direduksi sehingga tersusun secara

sistematis, akan lebih nampak pokok terpenting penelitian, guna memberikan gambaran yang tajam terhadap fenomena yang diteliti. 3. Data yang direduksi, yang berfungsi untuk menentukan atau

mendefinisikan kategori dari satuan yang telah dikategorikan akan diberikan kode-kode tertentu untuk memudahkan pengendalian data, sehingga dapat dijadikan pijakan untuk mempermuda penelitian.18

18

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...