KAJIAN ATAS NALAR HUKUM PENUNTUT UMUM SEBAGAI DASAR PENGAJUAN KASASI TERHADAP PUTUSAN BEBAS YANG DIJATUHKAN OLEH PENGADILAN NEGERI SANGGAU DALAM PERKARA PERDAGANGAN ORANG

103 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

commit to user

i

KAJIAN ATAS NALAR HUKUM PENUNTUT UMUM SEBAGAI DASAR PENGAJUAN KASASI TERHADAP PUTUSAN BEBAS YANG

DIJATUHKAN OLEH PENGADILAN NEGERI SANGGAU DALAM PERKARA PERDAGANGAN ORANG (STUDI KASUS DALAM MA NO. 795 K/PID.SUS/2008,

TANGGAL 7 JANUARI 2009)

Penulisan Hukum (Skripsi)

Disusun dan Diajukan untuk

Melengkapi Sebagai Persyaratan Guna Memperoleh Derajat Sarjana S1 dalam Ilmu Hukum Pada Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret

Surakarta

Oleh

DIAH TRIANI ANDARI NIM E1107140

FAKULTAS HUKUM

(2)

commit to user

ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Penulisan Hukum (Skripsi)

KAJIAN ATAS NALAR HUKUM PENUNTUT UMUM SEBAGAI DASAR PENGAJUAN KASASI TERHADAP PUTUSAN BEBAS YANG

DIJATUHKAN OLEH PENGADILAN NEGERI SANGGAU DALAM PERKARA PERDAGANGAN ORANG (STUDI KASUS DALAM MA NO. 795 K/PID.SUS/2008,

TANGGAL 7 JANUARI 2009)

Oleh

DIAH TRIANI ANDARI NIM E1107140

Disetujui untuk dipertahankan dihadapan Dewan Penguji Penulisan Hukum (Skripsi) Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta

Surakarta, 22 Maret 2011

Dosen Pembimbing,

Pembimbing I

Bambang Santoso, S.H., M.Hum

NIP. 1962 0209 198903 1 001

Pembimbing II

Muhammad Rustamaji, S.H., M.H.

(3)

commit to user

iii

PENGESAHAN Penulisan Hukum (Skripsi)

KAJIAN ATAS NALAR HUKUM PENUNTUT UMUM SEBAGAI DASAR PENGAJUAN KASASI TERHADAP PUTUSAN BEBAS YANG

DIJATUHKAN OLEH PENGADILAN NEGERI SANGGAU DALAM PERKARA PERDAGANGAN ORANG (STUDI KASUS DALAM MA NO. 795 K/PID.SUS/2008,

TANGGAL 7 JANUARI 2009)

Oleh

DIAH TRIANI ANDARI NIM E1107140

Telah diterima dan dipertahankan di hadapan Dewan Penguji Penulisan Hukum (Skripsi) Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta

Pada :

Hari : Selasa

Tanggal : 12 April 2011

DEWAN PENGUJI

(1) Kristiyadi, S.H., M.Hum : ………

Ketua

(2) Muhammad Rustamaji, S.H., M.H. : ……….

Sekretaris

(3) Bambang Santoso, S.H., M.Hum : ………..

Anggota

Mengetahui

Dekan

Mohammad Jamin, S.H.,M.Hum

(4)

commit to user

iv

PERNYATAAN

Nama : Diah Triani Andari

NIM : E1107140

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa penulisan hukum (skripsi) berjudul :

KAJIAN ATAS NALAR HUKUM PENUNTUT UMUM SEBAGAI DASAR PENGAJUAN KASASI TERHADAP PUTUSAN BEBAS YANG DIJATUHKAN OLEH PENGADILAN NEGERI SANGGAU DALAM PERKARA PERDAGANGAN ORANG (STUDI KASUS DALAM MA NO. 795 K/PID.SUS/2008, TANGGAL 7 JANUARI 2009) adalah betul-betul karya sendiri. Hal-hal yang bukan karya saya dalam penulisan hukum (skripsi) ini diberi

tanda citasi dan ditunjukkan dalam daftar pustaka. Apabila dikemudian hari

terbukti pernyataan saya tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi

akademik berupa pencabutan penulisan hukum (skripsi) dan gelar yang saya

peroleh dari penulisan hukum (skripsi) ini.

Surakarta, 22 Maret 2011

Yang membuat pernyataan

Diah Triani Andari

(5)

commit to user

v MOTTO

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu kaum kecuali mereka

mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”

~Q.S. Ar-Ra’d: 11~

“The road to success is not to be run upon by seven-leagued boots…

Step by step, little by little, bit by bit

that is the way to wealth, that is the way to wisdom, that is the way to glory.”

~Sir Thomas Fowell Buxton~

“Orang yang berhasil akan mengambil manfaat dari kesalahan-kesalahan

yang ia lakukan, dan akan mencoba kembali untuk melakukan dalam suatu

cara yang berbeda”

~Dale Carnegie~

“Waktu terbaik untuk berbahagia adalah sekarang…

Tempat terbaik untuk berbahagia adalah di sini….

Dan cara terbaik untuk berbahagia adalah membahagiakan orang lain”

~Mario teguh~

“When life give you a hundred reasons to cry,

show that life that you have a thousand reasons to smile J

(6)

commit to user

vi

PERSEMBAHAN

Sebuah karya yang sederhana ini penulis persembahkan kepada:

Dzat yang Maha Agung,

SWT, penguasa alam semesta &

pemilik hidupku

Ayahku Slamet Sugiarto & Ibuku Healty Andari S.Pd

atas cinta yang tak pernah padam, atas kepercayaan & harapan yang kalian

ciptakan untuk ku… kasih sayang dan juga pengorbanan yang telah diberikan

sampai saat ini…

Kakak-kakak dan Keponakan-keponakanku tercinta yang telah meramaikan

hariku dan menyayangi dengan segenap hati:

Mas As’Nain Ika Hadmawan, S.E & Mbak Rulyanthi Diah Krisanti, S.S

serta Dik Khansa Anindya Runansya

Mas Son Rokhaniawan Perdata, S.T & Mbak Diah Dwi Andari, S.Pd

serta Dik Kaylynn Syafrina Putri Sondi

My soulmate someday, someone, somewhere, somehow…

J

♥ Untuk Keluarga Besar Soerjadi…

Nenek ku tercinta, Om-om dan Tante-tante, serta Sepupu-sepupu tersayang…

Dik Wulan, Dik Riris, Dik Henny, Dik Lia,

(7)

commit to user

vii

Sahabat-sahabatku, seberapa lamapun aku hidup takkan pernah ada masa

yang membosankan bersama kalian,

kenangan-kenangan bersama yang tak mungkin terlupakan

Rosy, Neri, Bellinda, & Kiki

Semoga kita dapat menjadi saudara selamanya

"Persahabatan bagaikan music,

Alunan nadanya bisa berhenti sekarang dan kemudian,

akan tetapi rangkaian nada yang telah tercipta tetap teruntai selamanya"

♥Keluarga Besar “Griya Dicma” disinilah k

ita bersama menjadi suatu

keluarga,,,

Mbak Jojo, Mbak Uwie, Mbak Yola, Mbak Ida, Nindy, Hima, Mbak Lirih,

Mbak Fafa, Mbak Rani, Mbak Fetri, Mbak Dian, Uci, Nina, Ester, Wilis,

Mbak Nita, Mbak Dewi, Mbak Maya…

serta Mas Kris dan Mbak Kris

Semoga kita dapat menjadi saudara selamanya… begitu menyenangkan bisa

mengenal kalian kakak-kakak dan adik-adik ku.

♥ Te

man-teman ku seperjuangan angkatan 2007 Fakultas Hukum UNS yang

tak bisa aku sebutkan satu persatu, semoga kita semua menjadi orang yang

sukses dan selalu menjaga tali persaudaraan kita..

Buktikan kepada dunia kita mampu menjadi orang yang sukses dan berguna

bagi nusa dan bangsa.

(8)

commit to user

viii ABSTRAK

DIAH TRIANI ANDARI, E1107140. 2011. KAJIAN ATAS NALAR HUKUM PENUNTUT UMUM SEBAGAI DASAR PENGAJUAN KASASI TERHADAP PUTUSAN BEBAS YANG DIJATUHKAN OLEH

PENGADILAN NEGERI SANGGAU DALAM PERKARA

PERDAGANGAN ORANG (STUDI KASUS DALAM MA NO. 795 K/PID.SUS/2008, TANGGAL 7 JANUARI 2009). Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret .

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara jelas mengenai pengajuan Kasasi oleh Penuntut Umum terhadap putusan bebas yang dijatuhkan oleh Pengadilan Negeri Sanggau dalam perkara perdagangan orang jika dianalisis berdasarkan ketetuan Pasal 244 KUHAP dan untuk mengetahui nalar hukum Penuntut Umum Sebagai dasar pengajuan kasasi terhadap putusan bebas oleh Pengadilan Negeri Sanggau dalam perkara perdagangan orang.

Jenis penelitian yang digunakan dalam penulisan ini adalah penelitian hukum normatif. Ditinjau dari sifatnya maka penelitian ini bersifat penelitian preskriptif. Dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kasus (case approach). Jenis bahan hukum yang digunakan dalam penelitian ini adalah bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, dan bahan hukum tersier. Teknik pengumpulan bahan hukum yang digunakan adalah dengan studi kepustakaan atau teknik dokumentasi, dengan menggunakan buku-buku, peraturan perundang-undangan, dokumen-dokumen seperti berkas perkara, dan sebagainya. Teknik analisis bahan hukum dengan logika deduktif.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, diperoleh hasil bahwa kasasi terhadap putusan bebas yang diajukan oleh Penuntut Umum terhadap putusan Pengadilan Negeri Sanggau dalam perkara perdagangan orang dengan Terdakwa TJHANG SE NGO alias ANGO memang tidak sesuai dengan ketentuan Pasal 244 KUHAP. Akan tetapi demi terwujudnya kepastian dan keadilan hukum kasasi atas putusan bebas dapat diajukan oleh penuntut umum dengan pertimbangan bahwa putusan tersebut merupakan putusan bebas tidak murni dan terdapat kesalahan/kekeliruan pengadilan dalam menerapkan hukum, terdapat kekeliruan/kesalahan atau kelalaian pengadilan dalam cara mengadili dan/atau adanya tindakan pengadilan yang telah melampaui batas wewenangnya tersebut. Dalam memori kasasi harus diuraikan dimana terdapat/terletak kesalahan/kekeliruan pengadilan dalam menerapkan hukum, bagaimana bentuk kekeliruan/kesalahan atau kelalaian pengadilan dalam cara mengadili dan bagaimana bentuk tindakan pengadilan yang telah melampaui batas wewenangnya tersebut. Sehingga dalam memori kasasi Jaksa Penuntut Umum harus membuktikan ketiga hal tersebut yaitu, a) apakah benar suatu peraturan hukum tidak diterapkan atau diterapkan tidak sebagaimana mestinya; b) apakah benar cara mengadili tidak dilaksanakan menurut ketentuan undang-undang; c) apakah benar pengadilan telah melampaui batas wewenangnya.

(9)

commit to user

ix ABSTRACT

DIAH TRIANI ANDARI, E1107140. 2011. KAJIAN ATAS NALAR HUKUM PENUNTUT UMUM SEBAGAI DASAR PENGAJUAN KASASI TERHADAP PUTUSAN BEBAS YANG DIJATUHKAN OLEH

PENGADILAN NEGERI SANGGAU DALAM PERKARA

PERDAGANGAN ORANG (STUDI KASUS DALAM MA NO. 795 K/PID.SUS/2008, TANGGAL 7 JANUARI 2009). Faculty of Law Sebelas Maret University.

This research was aimed to know clearly about filing cassation by Public Prosecutors toward acquittals that was fell down by Sanggau District Court in human trafficking case when it was analyzed based on the provision of Article 244 Criminal Procedure Code, and to know legal reasoning the Public Prosecutors as the basic of filing cassation toward acquittals that was fell down by Sanggau District Court in human trafficking case.

This research used normative legal research. Based on the characteristic, this research was categorized as prescriptive research. This research also used case approach. A legal material that is used is primary legal materials, secondary legal materials, and tertiary legal materials. To collect the data, this research used literature study or documentation technique by using books, legislation, documentation, such as file cases, and others. Whereas to analyzed the legal materials used deductive logic.

The research finding got that the filing cassation by Public Prosecutors toward acquittals that was fell down by Sanggau district court in human trafficking case that was faced TJHANG SE NGO or ANGO as defendant was not suitable with the provision of Article 244 Criminal Procedure Code. However, in order to realize certainty and justice cassation of acquittals could be proposed by public prosecutors using consideration that the decision was an acquittals which are not pure and there is mistake/ error in applying the law court, there are mistakes/ errors or omissions court in how to adjudicate and/ or any court action that have exceeded the authority. In cassation have to be described where the location of mistakes/ errors court was in applying the law, and how the form of action court that have exceeded the limit its authority. So, in cassation, Prosecutors had to prove three things, such as, a) whether a legal rule is applied or not applied properly, b) whether it is correct that the way to adjudicate is not implemented suitable with the law, c) whether it is correct that the court have exceeded the limit of the authority.

(10)

commit to user

x

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut Asma Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

serta diiringi rasa syukur Alhamdullilah penulis panjatkan, penulisan hukum

(Skripsi) yang berjudul ” KAJIAN ATAS NALAR HUKUM PENUNTUT

UMUM SEBAGAI DASAR PENGAJUAN KASASI TERHADAP PUTUSAN

BEBAS YANG DIJATUHKAN OLEH PENGADILAN NEGERI SANGGAU

DALAM PERKARA PERDAGANGAN ORANG (STUDI KASUS DALAM

MA NO. 795 K/PID.SUS/2008, TANGGAL 7 JANUARI 2009)” dapat penulis

selesaikan.

Penulisan hukum ini membahas mengenai mengenai pengajuan Kasasi

oleh Penuntut Umum terhadap putusan bebas yang dijatuhkan oleh Pengadilan

Negeri Sanggau dalam perkara perdaganagn orang jika dianalisis berdasarkan

ketetuan Pasal 244 KUHAP serta nalar hukum Penuntut Umum Sebagai dasar

pengajuan kasasi terhadap putusan bebas oleh Pengadilan Negari Sanggau dalam

perkara perdagangan orang.

Pada saat ini belum banyak penelitian yang mengangkat mengenai kasasi

terhadap putusan bebas. Dalam pelaksanaanya banyak terjadi pro dan kontra atas

kasasi atas putusan bebas yang diajukan oleh Penuntut Umum yang dianggap

menerobos ketentuan Pasal 244 KUHAP. Penulis menyadari masih banyak

kekurangan dalam penulisan hukum ini, maka saran serta kritik dari semua pihak

sangat penulis harapkan untuk memperkaya karya tulis ini.

Pada kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada

semua pihak yang telah memberikan bantuan, saran, dan dorongan bagi penulis

dalam menyelesaikan penulisan hukum ini. Ucapan terima kasih ini penulis

sampaikan terutama kepada :

1. Bapak Mohammad Jamin, S.H, M.Hum, selaku Dekan Fakultas Hukum

UNS yang telah memberi izin dan kesempatan kepada penulis untuk

(11)

commit to user

xi

2. Bapak Pembantu Dekan I Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret

Surakarta yang telah memberikan ijin dalam penyusunan penulisan

hukum ini.

3. Bapak Edy Herdyanto, S.H.,M.H, selaku Ketua Bagian Hukum Acara

Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah

memberikan ijin dalam penyusunan penulisan hukum ini.

4. Bapak Bambang Santoso, S.H., M.Hum, selaku pembimbing I penulisan

skripsi yang telah menyediakan waktu dan pikirannya untuk memberikan

bimbingan dan arahan atas tersusunnya skripsi ini.

5. Bapak Muhammad Rustamaji, S.H., M.H. selaku pembimbing II

penulisan skripsi yang telah menyediakan waktu dan pikirannya untuk

memberikan bimbingan dan arahan atas tersusunnya skripsi ini.

6. Alm. Bapak Gusdan Hanung, S.E., S.H., M.Hum, selaku Pembimbing

Akademik penulis selama menempuh pendidikan di Fakultas Hukum

Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah memberikan nasehat

kepada penulis.

7. Bapak Harjono, S.H, M.H selaku Ketua Program Non Reguler yang

banyak mengarahkan dan memberi nasehat selama masa perkuliah.

8. Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Hukum UNS yang telah memberikan ilmu

pengetahuan umumnya dan ilmu hukum khususnya kepada penulis

sehingga dapat dijadikan dasar dalam penulisan skripsi ini dan semoga

dapat penulis amalkan.

9. PPH Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta, yang

berkenan memberikan kesempatan bagi penulis untuk melakukan

penelitian serta menyelesaikan penulisan hukum ini.

10. Seluruh staff tata usaha dan karyawan di Fakultas Hukum Universitas

Sebelas Maret Surakarta yang ada di bagian transit, perpustakaan,

pendidikan, pengajaran dan bagian-bagian yang lain, terima kasih atas

bantuannya.

11. Ayahku Slamet Sugiarto & Ibuku Healty Andari, S.Pd terimakasih atas

(12)

commit to user

xii

kepercayaan atas segala jalan yang saya pilih dan keputusan yang saya

buat, hanya dengan Ridho kalian saya dapat berada di sini hingga saat ini,

harapan yang kalian ciptakan untukku. Kasih sayang dan juga

pengorbanan yang telah diberikan sampai saat ini.

12. Kakak-kakak dan Keponakan-keponakanku tercinta yang telah

meramaikan hari-hariku, Mas As’Nain Ika Hadmawan, S.E & Mbak

Rulyanthi Diah Krisanti, S.S, serta Khansa Anindya Runansya. Mas Son

Rokhaniawan Perdata, S.T. & Mbak Diah Dwi Andari, S.Pd, serta

Kaylynn Syafrina Putri Sondi. My soulmate someday, someone,

somewhere, somehow.

13. Untuk Keluarga Besar Soerjadi. Nenek ku tercinta, Om-om dan

Tante-tante, serta Sepupu-sepupu tersayang. Dik Wulan, Dik Riris, Dik Heny.

14. Sahabat-sahabatku, seberapa lamapun aku hidup takkan pernah ada masa

yang membosankan bersama kalian, kenangan-kenangan bersama yang

tak mungkin terlupakan. Rosy, Neri, Bellinda, & Kiki. Semoga kita dapat

menjadi saudara selamanya. “Persahabatan bagaikan musik, Alunan

nadanya bisa berhenti sekarang dan kemudian, akan tetapi rangkaian

nada yang telah tercipta tetap teruntai selamanya.”

15. Keluarga Besar “Griya Dicma” disinilah kita bersama menjadi suatu

keluarga, Mbak Jojo, Mbak Uwie, Mbak Yola, Mbak Ida, Nindy, Hima,

Mbak Lirih, Mbak Fafa, Mbak Rani, Mbak Fetri, Mbak Dian, Uci, Nina,

Ester, Wilis, Mbak Nita, Mbak Dewi, Mbak Maya serta Mas Kris dan

Mbak Kris. Semoga kita dapat menjadi saudara selamanya. Begitu

menyenangkan bisa mengenal kalian kakak-kakak dan adik-adikSku.

16. Teman-temanku seperjuangan di Fakultas Hukum UNS angkatan 2007

dan yang tak bisa aku sebutkan satu persatu, semoga kita semua menjadi

orang yang sukses. Teman-teman magang di BPN Karanganyar, Arina,

Tika, dan Windha. Serta teman-teman team Mootcourt Pidana, Mootcourt

Perdata, dan Mootcourt TUN.

17. Teman-teman dan sahabat-sahabatku. Teman semasa SMA yang sampai

(13)

commit to user

xiii

Bunder, Mely, Rian, Niar, Nina, Angga, Imam, Ayub, Dinnul, dan

teman-teman yang lain yang tak bisa ku sebutkan satu persatu.

18. Sahabat-sahabatku semasa SMA sampai sekarang Ningsih, Dita, Otong.

Kawan-kawanku Andhis, Rico, Cendy terimakasih untuk semua, Ofan,

Angga, Hutma makasih udah antar jemput aku berangkat dan kembali dari

Magetan ke Solo, Eka, dan Radit. Kalian yang telah memberikan warna

dalam hidupku dan menjadi kisah dalam hidupku. Mengajarkan ku

banyak hal, membuatku mengerti banyak hal bersama kalian saudara ku.

19. Almamaterku, seluruh para penghuni Fakultas Hukum UNS yang

beragam, yang telah memberi bekal ilmu pengetahuan dan pengalaman

yang indah dan membuatku sangat bersyukur bisa mengenal kalian

semua.

20. Semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu yang telah

membantu tersusunnya skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa penulisan hukum ini terdapat banyak

kekurangan, untuk itu Penulis dengan besar hati menerima kritik dan saran yang

membangun, sehingga dapat memperkaya penulisan hukum ini. Semoga karya

tulis ini mampu memberikan manfaat bagi Penulis maupun para pembaca.

Surakarta, 22 Maret 2011

(14)

commit to user

F. Sistimatika Skripsi... 16

BAB II TINJAUAN PUSTAKA... 18 2. Tinjauan Tentang Upaya Hukum Kasasi... 26

a. Pengertian Upaya Hukum... 26

b. Upaya Hukum Kasasi... 26

3. Tinjauan Tentang Tindak Pidana Perdagangan Orang... 36

(15)

commit to user

xv

b. Pengertian Perdagangan... 38

c. Pengertian Tindak Pidana Perdagangan Orang... 39

4. Tinjauan Tentang Penuntut Umum... 46

a. Pengertian Penuntut Umum... 46

b. Wewenang Penuntut Umum... 47

B. Kerangka Pemikiran... 35

BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN... 50

A. Hasil Penelitian... 50

B. Pembahasan... 1. Kesesuaian Pengajuan Kasasi oleh Penuntut Umum terhadap Putusan Bebas yang Dijatuhkan oleh Pengadilan Negeri Sanggau dalam Perkara Perdagangan Orang dengan Ketetuan Pasal 244 KUHAP... 2. Nalar Hukum Penuntut Umum sebagai Dasar Pengajuan Kasasi terhadap Putusan Bebas yang Diajukan oleh Pengadilan Sanggau dalam Perkara Perdagangan Orang... 59 59 72 BAB IV PENUTUP... 79

A. Simpulan... 79

B. Saran... 80

DAFTAR PUSTAKA... 82

(16)

commit to user

xvi

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Kerangka Pemikiran

(17)

commit to user

xvii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran I Fotocopy Putusan Mahkamah Agung mengenai perkara

Tindak Pidana Perdagangan Orang dengan Terdakwa

TJHANG SE NGO alias ANGO Nomor 795

(18)

commit to user

xviii BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perdagangan manusia atau yang dikenal dengan istilah human trafficking

merupakan sebuah kejahatan yang sangat sulit diberantas dan disebut-sebut oleh

masyarakat internasional sebagai bentuk perbudakan masa kini dan pelanggaran

terhadap hak asasi manusia. Kejahatan ini terus menerus berkembang secara

nasional maupun internasional. Dengan perkembangan dan kemajuan teknologi,

informasi, komunikasi dan transportasi maka semakin berkembang pula modus

kejahatannya yang dalam beroperasinya sering dilakukan secara tertutup dan

bergerak di luar hukum. Pelaku perdagangan orang (trafficker) pun dengan cepat

berkembang menjadi sindikasi lintas batas negara dengan cara kerja yang

mematikan.

Masalah perdagangan perempuan dan anak, akhir-akhir ini muncul

menjadi suatu masalah yang banyak diperdebatkan baik ditingkat regional

maupun internasional. Sebenarnya perdagangan manusia bukanlah hal baru,

namun isu demikian beberapa tahun belakangan kembali muncul ke permukaan

dan menjadi perhatian tidak saja pemerintah Indonesia, namun juga menjadi

masalah transnasional. Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan

Perlindungan Anak, Linda Gumelar prihatin, karena kasus perdagangan manusia

di Indonesia setiap tahun grafiknya semakin menanjak.

Salah satu modus yang dilakukan pelaku, dengan cara pengiriman tenaga

kerja ke luar negeri. Apalagi jumlah yang paling besar hampir 70% korbannya

adalah perempuan. Berdasarkan data Badan Reserse Kriminal Polri, jumlah

perdagangan manusia di Indonesia mencapai 607 kasus, pada tahun 2010, yang

melibatkan sebanyak 857 orang pelakunya. Dan para korbannya orang dewasa

1.570 orang (76,4%) dan 485 anak-anak (23,6%). Korban yang diperdagangkan,

dieksploitasi secara seksual maupun kerja paksa. Setiap tahunnya, ada kenaikan

450.000 orang Indonesia yang diperdagangkan dengan modus sebagai tenaga

(19)

commit to user

xix

(http://www.kabarbisnis.com/ kasusperdaganganmanusia/ diakses pada tanggal 14

Februari 2011 pukul 19.00 WIB).

Perdagangan orang melibatkan laki-laki, perempuan dan anak-anak

bahkan bayi sebagai “korban”, sementara agen, calo, atau sindikat bertindak

sebagai yang “memperdagangkan (trafficker)”. Para germo, majikan atau

pengelola tempat hiburan adalah “pengguna” yang mengeksploitasi korban untuk

keuntungan mereka yang seringkali dilakukan dengan sangat halus sehingga

korban tidak menyadarinya. Termasuk dalam kategori pengguna adalah lelaki

hidung belang atau pedofil yang mengencani perempuan dan anak yang dipaksa

menjadi pelacur, atau penerima donor organ yang berasal dari korban

perdagangan orang. Pelaku perdagangan orang (trafficker) tidak saja melibatkan

organisasi kejahatan lintas batas tetapi juga melibatkan lembaga, perseorangan

dan bahkan tokoh masyarakat yang seringkali tidak menyadari keterlibatannya

dalam kegiatan perdagangan orang. Perusahaan perekrut tenaga kerja dengan

jaringan agen/calo-calonya di daerah adalah trafficker manakala mereka

memfasilitasi pemalsuan KTP dan paspor serta secara ilegal menyekap calon

pekerja migran di penampungan, dan menempatkan mereka dalam pekerjaan yang

berbeda atau secara paksa memasukkannya ke industri seks. Agen atau calo-calo

bisa orang luar tetapi bisa juga seorang tetangga, teman, atau bahkan kepala desa,

yang dianggap trafficker manakala dalam perekrutan mereka menggunakan

kebohongan, penipuan, atau pemalsuan dokumen (Kementerian Koordinator

Bidang Kesejahteraan Rakyat, 2005: 8)

Masalah perdagangan orang ini dapat dikatakan seperti fenomena gunung

es, mengingat data yang sebenarnya jauh lebih besar dari yang dilaporkan.

Memang banyak yang tidak melapor dikarena malu, dianggap aib dan tidak ingin

memperpanjang kasusnya. Memerangi perdagangan orang tidaklah semudah

membalik telapak tangan, mengingat perdagangan orang memiliki sindikat,

jaringan dan sumber daya yang besar. Selain itu, para pelakunya pun seringkali

memindahkan jalur transportasi yang kurang mendapat pengawasan dan tidak ada

(20)

commit to user

xx

Salah satu hal yang menyebabkan tindak pidana perdagangan orang terus

mengalami peningkatan setiap tahunnya adalah perdagangan orang, terutama

wanita dan anak-anak, adalah salah satu ladang bisnis yang menggiurkan. Uang

yang berputar dalam kegiatan ini mencapai miliaran dolar per tahun. Amerika

Serikat adalah primadona bagi aktivitas perdagangan orang. Setiap tahun ada

sekitar 50 ribu orang yang melintas-batas untuk masuk ke AS. Korban terbesar

perdagangan orang berasal dari Asia, yakni 225 ribu orang dari Asia Tenggara,

115 ribu dari Asia Selatan. Dalam Laporan tentang Perdagangan Manusia (TIP)

2009, Departemen Luar Negeri AS memasukkan setiap negara ke dalam salah

satu tingkat (tier) seperti yang diamanatkan dalam Undang-Undang Perlindungan

Korban Perdagangan Manusia (TVPA) tahun 2000. TVPA memberikan panduan

upaya-upaya untuk memerangi tindak perdagangan manusia.

Negara yang sepenuhnya memenuhi standar minimum TVPA masuk

kategori Tier 1. Negara yang menunjukkan upaya signifikan untuk memenuhi

standar minimum masuk kategori Tier 2. Adapun negara yang sama sekali tidak

memenuhi standar minimum dan tidak menunjukkan upaya yang signifikan

masuk kategori Tier 3. Menurut Laporan tentang Perdagangan Manusia pada

2009, pemerintah Indonesia tidak sepenuhnya memenuhi standar minimum

pembasmian perdagangan manusia. Meskipun begitu, berbagai upaya yang

signifikan telah dilakukan. Pemerintah memperbaiki tindakan penegakan hukum

atas kejahatan perdagangan manusia. Namun pemerintah tidak menunjukkan

kemajuan yang signifikan dalam upaya mengatasi perdagangan buruh yang

dilakukan melalui praktek-praktek rekrutmen eksploitatif oleh PJTKI yang kuat

secara politik. Selain itu, hanya ada sedikit laporan tentang upaya mengadili,

memvonis, dan menghukum para pejabat penegak hukum serta militer Indonesia

yang terlibat dalam perdagangan manusia, meskipun ada laporan tentang korupsi

yang melibatkan perdagangan manusia (http://www.

google.com/Kegentingan-Masalah-Perdagangan-Orang/ diakses tanggal 12 Februari 2011 pukul 22.00

WIB).

Pemerintah terus melanjutkan kerja sama dengan berbagai lembaga

(21)

commit to user

xxi

kesadaran akan praktek perdagangan manusia. Kementerian Pemberdayaan

Perempuan, yang bertindak sebagai unsur utama pemerintah dan koordinator

untuk Gugus Tugas Anti Perdagangan Manusia Nasional, menyiapkan konsep

rencana tindakan nasional 2009-2013 mengenai perdagangan manusia.

Beberapa provinsi dan kabupaten membentuk rencana tindakan lokal dan

komite anti-perdagangan manusia. Indonesia, menurut laporan itu, masuk kategori

Tier 2. Menurut data dari IOM, ancaman perdagangan manusia terbesar yang

dihadapi para pria dan wanita Indonesia adalah yang disebabkan oleh kondisi

kerja paksa dan sistem kerja ijon di banyak negara Asia terutama Malaysia,

Singapura, Jepang, dan Timur Tengah, terutama Arab Saudi. Para wanita dan anak

perempuan Indonesia diperdagangkan ke Malaysia dan Singapura untuk dipaksa

menjadi pelacur, serta ke berbagai pelosok daerah di Indonesia untuk dipaksa

menjadi pelacur dan pekerja paksa.

Kasus trafficking atau perdagangan orang yang banyak terjadi di Indonesia

salah satunya adalah melalui pos lintas batas Entikong Indonesia-Serawak

Malaysia. Menurut Kepala Kejaksaan Negeri Cabang Entikong Anton,

berdasarkan data tindak pidana perdagangan manusia yang berhasil diungkap di

perbatasan entikong Indonesia-Sarawak Malaysia mengalami kecenderungan

menurun bila tahun 2007 sebanyak 35 kasus, maka tahun 2009 menjadi 30 kasus.

Sementara, untuk tahun 2010 delapan kasus tiga diantaranya sudah putus

sedangkan sisanya masih dalam proses. Sedangkan Perkara tindak pidana umum

yang telah ditangani kejaksaan Entikong tahun 2010 sebanyak 30 kasus.

Untuk kasus perdagangan orang atau traffiking seluruhnya telah

diputuskan di Pengadilan Negeri Sanggau dengan hukuman rata-rata tiga tahun

penjara. Namun demikian, secara umum tindak pelanggaran hukum di wilayah

perbatasan terus meningkat. Tahun 2008, sebanyak 60 kasus pidana umum dan

tahun 2009 meningkat menjadi 75 kasus. Terhadap kasus trafficking atau

perdagangan manusia ini, terdapat salah satu kasus yang diputus bebas oleh

Pengadilan Negeri Sanggau. Kasus tersebut kemudian diajukan kasasi oleh

Penuntut Umum. Kasus tersebut adalah yang melibatkan Tjhang Se Ngo alias

(22)

commit to user

xxii

pribadi bukan atas nama PJTKI mendatangi rumah saksi korban Djap Bui Cu alias

Bui Cu, saksi korban Li San ku, saksi korban Ernawati Liu alias Erna, saksi

korban Lui Mui Fung alias Mui Fung, saksi korban Cin Chu Tjung, saksi korban

Ku Mi Lie alias Mili, saksi korban Elsa Tjia untuk menawarkan pekerjaan kepada

masing-masing saksi korban sebagai pelayan restoran di Negara Malaysia dengan

gaji RM 300 sampai dengan RM 700 per bulan, kemudian Terdakwa meminta

kepada masing-masing saksi korban untuk biaya penginapan serta biaya makan

sebesar Rp 5.000.000,- (lima juta rupiah) dan untuk pembuatan passport dibuat

oleh masing-masing saksi korban, Akta Kelahiran, KTP, Surat Ijin Orang Tua.

Setelah passport tersebut jadi yaitu passport 48 (passport kunjungan) tidak dapat

digunakan untuk bekerja ke luar negeri, kemudian Terdakwa tanpa melalui PJTKI

bersama dengan para saksi korban berangkat dari Singkawang menuju Entikong

dengan menggunakan kendaraan mini bus.

Terdakwa dalam memberangkatkan para saksi korban tidak mendapatkan

pelatihan, memiliki surat izin lulus kompetensi, surat kesehatan atau psikologi,

asuransi, surat perjanjian persetujuan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang

Nomor 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan TKI di Luar Negeri.

Secara nyata jelas sekali perbuatan yang dilakukan oleh Tjhang Se Ngo alias

Ango melanggar kentuan pidana, yaitu Pasal 4 Undang-Undang Republik

Indonesia Nomor 21 Tahun 2007 tentang Tindak Pidana Perdagangan Orang,

Pasal 10 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2007 tentang

Tindak Pidana Perdagangan Orang, Pasal 102 ayat (1) huruf a Undang-Undang

Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 2004, tentang Penempatan dan Perlindungan

Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri, akan tetapi putusan Pengadilan Negeri

Sanggau beramar “tidak terbukti secara sah dan meyakinkan (vrijspraak)”.

Sebagai reaksi atas putusan yang dijatuhkan oleh Pengadilan Negeri Sanggau

tersebut, maka pada tanggal 6 Maret 2008 Penuntut Umum mengajukan kasasi

kepada Mahkamah Agung Republik Indonesia.

Terhadap putusan Pengadilan, pihak-pihak yang tidak puas dapat

melakukan upaya hukum, baik itu upaya hukum biasa berupa perlawanan,

(23)

commit to user

xxiii

kepentingan hukum dan peninjauan kembali (Herziening) sebagaimana diatur di

dalam Bab XVII dan Bab XVIII Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang

KUHAP. Namun khusus untuk putusan bebas dalam pengertian “Bebas Murni”

yang telah diputuskan oleh judex factie sesungguhnya tidak dapat dilakukan upaya

hukum, baik upaya hukum biasa maupun upaya hukum luar biasa. Haruslah

dipahami bahwa SK Menteri dan Yurisprudensi, sebagaimana Tap MPR Nomor

III Tahun 2000 bukan termasuk dalam Sumber Hukum dan Tata Urutan Peraturan

Perundang-undangan sebagai Sumber Tertib Hukum adalah merupakan suatu

bentuk sikap yang wajar apabila ada pihak-pihak yang membantah dan

menyatakan tidak puas dengan adanya suatu putusan pidana yang dianggapnya

merugikan. Untuk menyikapi hak hukum bagi pihak-pihak tersebut, peradilan

pidana telah memberikan ruang guna melakukan upaya hukum sebagaimana yang

diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana, khususnya pada Bab

XVII dan Bab XVIII, yakni berupa upaya hukum banding dan kasasi.

Hal itu berbeda apabila Pengadilan Negeri ataupun Pengadilan Tinggi

menjatuhkan putusan bebas terhadap terdakwa, dengan amar putusan yang

menyebutkan, ”Menyatakan terdakwa tidak terbukti secara sah dan meyakinkan

melakukan tindak pidana dan membebaskan terdakwa dari segala dakwaan”.

Bahwa terhadap putusan bebas itu, secara tegas Kitab Undang-Undang Hukum

Acara Pidana (KUHAP) telah menutup upaya hukum kasasi sebagaimana yang

dimaksud dalam Pasal 244 (KUHAP). Dalam pasal itu disebutkan, “Terhadap

putusan perkara pidana yang diberikan pada tingkat terakhir oleh Pengadilan lain,

selain daripada Mahkamah Agung, terdakwa atau penuntut umum dapat

mengajukan permintaan pemeriksaan kasasi kepada Mahkamh Agung, kecuali

terhadap putusan bebas”.

Larangan untuk melakukan upaya hukum kasasi terhadap putusan bebas

tersebut juga diperjelas lagi dalam Pedoman Pelaksanaan Kitab Undang-Undang

Hukum Acara Pidana, Bab VI tentang Upaya Hukum Biasa, yang menyatakan,

”Jika Pasal 244 dihubungkan dengan Pasal 67 maka jelaslah bahwa terhadap

putusan bebas, tanpa melihat apakah putusan bebas itu murni atau tidak murni,

(24)

commit to user

xxiv

Meskipun demikian, dalam praktiknya dengan tanpa mengindahkan Pasal

244 KUHAP, pihak jaksa penuntut umum (JPU) selalu saja memaksakan

kehendak menggunakan upaya hukum kasasi terhadap putusan bebas dengan dalih

bahwa telah ada yurisprudensi Mahkamah Agung yang menerima permohonan

kasasi jaksa penuntut umum terhadap putusan bebas tersebut. Yurisprudensi

sebagaimana yang dimaksud oleh jaksa penuntut umum adalah merupakan

putusan Mahkamah Agung yang pada saat itu mengacu pada produk eksekutif

yakni berupa Keputusan Menteri Kehakiman Nomor M.14-PW.07.03 Tahun 1983

tentang Tambahan Pedoman Pelaksanaan Kitab Undang-Undang Hukum Acara

Pidana, yang di dalamnya menyebutkan, ”Terhadap putusan bebas tidak dapat

dimintakan banding, tetapi berdasarkan situasi dan kondisi, demi hukum,

keadilan, dan kebenaran, terhadap putusan bebas dapat dimintakan kasasi. Hal ini

akan didasarkan pada yurisprudensi”

(http://www.infohukum.com/Kasasi-Terhadap-Putusan-Bebas-Murni/ diakses tanggal 12 Oktober 2010 pukul 14.00

WIB).

Bahwa terhadap keputusan Menkeh tersebut, kemudian Mahkamah Agung

dalam Pedoman Pelaksanaan Tugas dan Administrasi Pengadilan juga

menjelaskan yang pada intinya, dengan mempertimbangkan hak asasi serta

perlindungan terhadap harkat dan martabat manusia, sehingga putusan bebas

murni merupakan vekregen recht, oleh karena itu Mahkamah Agung berpendapat

Pasal 244 KUHAP hanya berlaku bagi putusan yang bersifat murni dan bukan

bagi yang bersifat putusan lepas dari segala tuntutan (onslag van alle

rechtsvervolging). Terlepas dari itu semua, haruslah dipahami bahwa Surat

Keputusan Menteri dan Yurisprudensi, sebagaimana Tap MPR RI Nomor III

Tahun 2000 bukan termasuk dalam Sumber Hukum dan Tata Urutan Peraturan

Perundang-undangan sebagai Sumber Tertib Hukum, dan dapat dilihat pula pada

Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan

Perundang-undangan, oleh karenanya menurut asas lex superior derogat legi

inferiori, sangatlah tidak patut apabila jaksa penuntut umum melanggar Pasal 244

(25)

commit to user

xxv

Guna diperolehnya kepastian hukum bagi semua pihak serta agar tidak

terjadi contra legem (yakni praktek dan penerapan hukum yang secara

terang-terangan “bertentangan” dengan undang-undang) dalam penegakan hukum,

semestinya Mahkamah Agung bersikap tegas untuk kembali berpegang pada

undang-undang yang dalam hal ini KUHAP dalam menjalankan fungsi Pasal 244

KUHAP. Mahkamah Agung semestinya menerbitkan sebuah peraturan atau

setidak-tidaknya memberikan petunjuk kepada Pengadilan Tinggi selaku voorpost

di wilayah hukumnya, agar tidak memproses upaya hukum “luar biasa” JPU, yaitu

permohonan kasasi atas putusan bebas sebagaimana dimaksud dengan Pasal 191

Ayat (1) KUHAP.

Menurut Pengamat hukum acara pidana, T. Nasrullah, juga memastikan

istilah bebas murni dan bebas tidak murni tidak dikenal dalam KUHAP. Pasal 244

KUHAP pun hanya menggunakan kata “bebas”. KUHAP tidak mengenal putusan

bebas murni atau tidak murni. Rezim bebas murni dan tidak bebas murni itu

berasal dari yurisprudensi dan doktrin. Pada 15 Desember 1983, Mahkamah

Agung mengeluarkan putusan Nomor 275 K/Pid/1983 (dikenal sebagai kasus

Natalegawa). Inilah yurisprudensi pertama yang menerobos larangan kasasi atas

vonis bebas. Dalam putusan perkara ini, Mahkamah Agung menerima

permohonan kasasi jaksa atas vonis bebas terdakwa Natalegawa yang dijatuhkan

Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Pertimbangan Mahkamah Agung: “Demi

hukum, keadilan dan kebenaran maka terhadap putusan bebas dapat dimintakan

pemeriksaan pada tingkat kasasi”. Nanti, Mahkamah Agunglah yang memutuskan

apakah suatu putusan bebas murni atau bebas tidak murni.

(http://www.hukumonline.com/kasasiatasvonisbebasyangmenerobosKUHAP/

diakses tanggal 12 Oktober 2010 pukul 14.00 WIB).

Namun, menurut mantan hakim agung M. Yahya Harahap, penerobosan

Pasal 244 KUHAP pertama kali datang bukan dari Mahkamah Agung, melainkan

dari Pemerintah (eksekutif). Mahkamah Agung justru menyambut positif

kebijakan yang dikeluarkan Pemerintah kala itu. Dalam bukunya Pembahasan,

Permasalahan dan Penerapan KUHAP (edisi kedua), Yahya Harahap menunjuk

(26)

commit to user

xxvi

Tambahan Pedoman Pelaksanaan KUHAP. Keputusan ini dibarengi dengan

lampiran. Pada angka 19 Lampiran tersebut terdapat penegasan berikut: “1.

terhadap putusan bebas tidak dapat dimintakan banding; 2. tetapi berdasarkan

situasi dan kondisi, maka demi hukum, kebenaran dan keadilan, terhadap putusan

bebas dapat dimintakan kasasi. Hal ini akan didasarkan pada yurisprudensi”. (M.

Yahya Harahap, 2000: 523)

Sebagaimana diketahui, lima hari setelah SK Menteri Kehakiman itu

keluar, Mahkamah Agung menyambutnya dengan menerima permohonan kasasi

Jaksa Penuntut Umum dalam perkara Natalegawa. Berdasarkan yurisprudensi

itulah muncul istilah bebas murni dan bebas tidak murni. Suatu putusan

ditafsirkan bebas murni jika kesalahan yang didakwakan kepada terdakwa sama

sekali tidak didukung alat bukti yang sah. Sebaliknya, dijelaskan Yahya Harahap,

suatu putusan dikatakan bebas tidak murni lazim juga disebut pembebasan

terselubung (verkapte vrispraak) apabila suatu putusan bebas didasarkan pada

penafsiran yang keliru terhadap sebutan tindak pidana dalam dakwaan. Bisa juga

kalau dalam menjatuhkan putusan pengadilan terbukti melampui wewenangnya.

Satu hal yang jelas, penuntut umum sudah mengajukan kasasi. Kini, semua pihak

menunggu Mahkamah Agung bekerja sesuai dengan wewenangnya. Apakah

argumentasi Jaksa Penuntut Umum cukup kuat, tentu saja Mahkamah Agung yang

akan menilai.

Dengan berdasarkan uraian di atas penulis berpendapat bahwa hal-hal

tersebut merupakan latar belakang permasalahan yang penulis akan kemukakan.

Oleh karena itu penulis menuangkan sebuah penulisan yang berbentuk penulisan

hukum dengan judul : KAJIAN ATAS NALAR HUKUM PENUNTUT

(27)

commit to user

xxvii

B. Perumusan Masalah

Setiap penulisan ilmiah yang akan dilakukan selalu berangkat dari

masalah. Rumusan masalah dimaksudkan untuk penegasan masalah-masalah yang

akan diteliti sehingga memudahkan dalam pekerjaan serta pencapaian sarana.

Perumusan masalah adalah segala sesuatu yang akan dijadikan sasaran

atau mengenai hal apa yang sebenarnya akan diteliti dalam suatu penelitian.

Perumusan masalah akan memudahkan bagi penulis untuk mengerjakan dan dapat

mencapai tujuan penelitian yang telah ditetapkan. Perumusan masalah dapat juga

dikatakan sebagai inti dari suatu penelitian karena akan dibahas lebih lanjut dalam

pembahasan.

Untuk mempermudah pemahaman terhadap permasalahan yang akan

dibahas serta untuk lebih mengarahkan pembahasan, maka perumusan masalah

yang diangkat adalah sebagai berikut:

1. Apakah pengajuan kasasi oleh Penuntut Umum terhadap putusan bebas yang

dijatuhkan oleh Pengadilan Negeri Sanggau dalam perkara perdagangan orang

sesuai dengan ketetuan Pasal 244 KUHAP?

2. Bagaimanakah nalar hukum Penuntut Umum sebagai dasar pengajuan kasasi

terhadap putusan bebas yang dijatuhkan oleh Pengadilan Sanggau dalam

perkara perdagangan orang?

C. Tujuan Penelitian

Dalam suatu penelitian ada tujuan-tujuan yang ingin dicapai oleh peneliti.

Tujuan ini tidak dilepas dari permasalahan yang telah dirumuskan sebelumnya.

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Tujuan objektif

a. Untuk mengetahui secara jelas mengenai kesesuian pengajuan Kasasi oleh

Penuntut Umum terhadap putusan bebas yang dijatuhkan oleh Pengadilan

Negeri Sanggau dalam perkara perdagangan orang dengan ketetuan Pasal

(28)

commit to user

xxviii

b. Untuk mengetahui nalar hukum Penuntut Umum sebagai dasar pengajuan

kasasi terhadap putusan bebas oleh Pengadilan Negari Sanggau dalam

perkara perdagangan orang.

2. Tujuan subjektif

a. Untuk menambah pengetahuan dan pemahaman penulis terutama

mengenai teori-teori yang telah diperoleh oleh penulis selama mengikuti

perkuliahan di Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret.

b. Untuk memperoleh bahan hukum sebagai bahan utama penyusunan

penulisan hukum (skripsi) agar dapat memenuhi persyaratan akademis

guna memperoleh gelar sarjana hukum pada Fakultas Hukum Universitas

Sebelas Maret.

c. Menerapkan ilmu dan teori-teori hukum yang telah penulis peroleh agar

dapat memberi manfaat bagi penulis sendiri khususnya dan masyarakat

pada umumnya.

D. Manfaat Penelitian

Adanya suatu penelitian diharapkan memberikan manfaat yang diperoleh

terutama bagi bidang ilmu yang diteliti. Manfaat yang diperoleh dari penelitian ini

adalah sebagai berikut :

1. Manfaat teoritis

a. Mengetahui deskripsi secara jelas pengajuan kasasi oleh penuntut umum

terhadap putusan bebas yang dihadapkan dengan Pasal 244 KUHAP.

b. Hasil penelitian dapat digunakan sebagai bahan acuan sebagai bahan

referensi di bidang karya ilmiah yang dapat mengembangkan ilmu

pengatahuan.

2. Manfaat praktis

a. Mengembangkan penalaran, membentuk pola pikir yang dinamis

sekaligus untuk mengetahui kemampuan penulis dalam

mengimplementasikan ilmu yang diperoleh.

b. Memberikan manfaat dalam pengembangan ilmu hukum pada umumnya

(29)

commit to user

xxix

pengajuan kasasi oleh penuntut umum terhadap putusan bebas yang

dijatuhkan oleh Pengadilan Negeri.

E. Metode Penelitian

Suatu penelitian haruslah menggunakan metode yang tepat dan sesuai

dengan tujuan yang hendak dicapai oleh penulis. Sedang dalam penentuan metode

mana yang akan digunakan, penulis harus cermat agar metode yang dipilih

nantinya tepat dan jelas sehingga untuk mendapatkan hasil dengan kebenaran

yang dapat dipertanggungjawabkan dapat tercapai.

Sebelum menguraikan mengenai metode penelitian, maka terlebih dahulu

akan dikemukakan tentang pengertian metode itu. Kata “metode” berasal dari

bahasa Yunani yaitu “methodos”, yang berarti cara kerja, upaya, tahu jalan suatu

kegiatan pada dasarnya adalah salah satu upaya, dan upaya tersebut bersifat

alamiah dalam mencari kebenaran yang dilakukan dengan mengumpulkan data

sebagai dasar penentuan kebenaran yang dimaksud (Koentjaraningrat, 1993: 22).

Metode adalah suatu cara atau jalan yang harus dilakukan untuk mencapai

tujuan dengan menggunakan alat-alat tertentu. Sedangkan penelitian adalah suatu

usaha untuk menemukan, mengembangkan dan menguji kebenaran suatu

pengetahuan, gejala atau hipotesa, usaha mana dilakukan dengan menggunakan

metode ilmiah (Sutrisno Hadi, 1989 : 4). Metodologi penelitian dan penelitian ini

meliputi:

1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penulisan ini adalah penelitian

hukum normatif. Penelitian hukum normatif adalah penelitian hukum yang

mengkaji hukum tertulis dari berbagai aspek yaitu aspek teori, sejarah,

filosofi, perbandingan struktur, dan komposisi, lingkup dan materi,

konsistensi, penjelasan umum dan pasal demi pasal formalitas dan kekuatan

mengikat suatu undang-undang, serta bahasa hukum yang digunakan, tetapi

tidak mengkaji aspek terapan atau implementasi. Dalam hal ini yang dilakukan

adalah meneliti bahan pustaka atau data sekunder yang terdiri dari bahan

(30)

Bahan-commit to user

xxx

bahan tersebut disusun secara sistematis, dikaji, kemudian ditarik suatu

kesimpulan dalam hubungannya dengan masalah yang diteliti (Peter Mahmud

Marzuki, 2010: 32).

2. Sifat Penelitian

Ditinjau dari sifatnya maka penelitian ini bersifat penelitian preskriptif.

“Sebagai ilmu yang bersifat preskriptif, ilmu hukum mempelajari tujuan

hukum, nilai-nilai keadilan, validitas aturan hukum, konsep-konsep hukum

dan norma hukum” (Peter Mahmud Marzuki, 2010: 22).

3. Pendekatan Penelitian

Di dalam penelitian hukum terdapat beberapa pendekatan. Dengan

pendekatan tersebut peneliti mendapatkan informasi dari berbagai aspek

mengenai isu yang sedang dicoba untuk dicari jawabannya.

“Pendakatan-pendekatan yang digunakan dalam penelitian hukum adalah “Pendakatan-pendekatan

undang-undang (statute approach), pendekatan kasus (case approach),

pendekatan historis (historical approach), pendekatan komparatif

(comparative approach), dan pendekatan konseptual (conceptual approach)”

(Peter Mahmud Marzuki, 2010: 93). Dalam penelitian ini menggunakan

pendekatan kasus (case approach).

4. Jenis Bahan Hukum

Jenis bahan hukum yang digunakan dalam penelitian ini adalah bahan

hukum sekunder yaitu data dari bahan pustaka yang antara lain meliputi:

buku-buku, literatur, peraturan perundang-undangan, dokumen resmi, hasil

penelitian yang berwujud laporan dan sumber lainnya yang berkaitan dengan

penelitian ini. Karena penelitian ini lebih bersifat penelitian hukum normatif,

maka lebih menitikberatkan penelitian pada data sekunder sedangkan data

(31)

commit to user

xxxi 5. Sumber Bahan Hukum

Yang dimaksud dengan sumber bahan hukum dalam penelitian adalah

subyek dimana data diperoleh. Dalam penelitian ini sumber bahan hukum

yang akan digunakan dalam penelitian normatif adalah sumber bahan hukum

sekunder yang meliputi bahan-bahan kepustakaan yang dapat berupa

dokumen, buku-buku laporan, arsip dan literatur yang berkaitan dengan

masalah yang diteliti.

Sumber bahan hukum sekunder yang digunakan dalam penelitian ini

meliputi:

a. Bahan hukum primer

Bahan hukum yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1) Undang-Undang Dasar 1945 Amandemen ke IV.

2) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 2004, tentang

Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar

Negeri.

3) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2007 tentang

Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang.

4) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana.

5) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

6) Keputusan Presiden Nomor 88 Tahun 2002 tentang Rencana Aksi

Nasional Penghapusan Perdagangan (Trafficking) Perempuan dan

Anak.

7) Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia Nomor

M.14-PW.07.03 Tahun 1983 tanggal 10 Desember 1983 tentang Tambahan

Pedoman Pelaksanaan KUHAP (TPP KUHAP).

8) Peraturan Perundang-undangan lainnya yang berkaitan.

9) Putusan Mahkamah Agung Nomor 795 K/PID.SUS/2008, Tanggal 7

(32)

commit to user

xxxii b. Bahan hukum sekunder

Bahan hukum yang memberikan penjelasan mengenai bahan

hukum primer, seperti buku-buku, karya ilmiah para sarjana dan hasil-hasil

penelitian yang terkait dengan topik penelitian.

c. Bahan hukum tersier

Bahan hukum tersier yang merupakan penunjang yaitu bahan yang

memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer

dan bahan hukum sekunder, meliputi : bahan dari internet yang relevan

dengan penelitian ini dan Kamus Besar Bahasa Indonesia, serta Kamus

Hukum.

6. Teknik Pengumpulan Bahan Hukum

Teknik pengumpulan bahan hukum dapat dibagi menjadi dua, yaitu

teknik interaktif yang meliputi interview dan observasi berperan serta dan

teknik non interaktif yang meliputi observasi tak berperan serta dan content

analisis dokumen. Untuk memperoleh bahan hukum yang diperlukan dalam

penelitian ini, yang disesuaikan dengan pendekatan normatif dan jenis bahan

hukum yang digunakan dalam penelitian ini, maka teknik pengumpulan bahan

hukum yang digunakan penulis adalah dengan studi kepustakaan atau teknik

dokumentasi, yaitu menelaah bahan-bahan hukum primer, bahan hukum

sekunder, dan bahan hukum tersier. Teknik pengumpulan bahan hukum

dengan studi pustaka ini menggunakan penelusuran terhadap katalog. Yang

dimaksud dengan katalog yaitu merupakan suatu daftar yang memberikan

informasi mengenai koleksi yang dimiliki dalam suatu perpustakaan.

7. Teknik Analisis Bahan Hukum

Penelitian ini menggunakan teknik analisis bahan hukum dengan

logika deduktif. Menurut Peter Mahmud Marzuki yang mengutip penjelasan

Philiphus M. Hadjon, menjelaskan bahwa metode deduksi sebagaimana

silogisme yang diajarkan oleh Aristoteles. Penggunaan metode deduksi

(33)

commit to user

xxxiii

Kemudian diajukan premis minor (penyataan bersifat khusus), dari kedua

premis itu kemudian ditarik suatu kesimpulan atau conclusion (Peter Mahmud

Marzuki, 2010 : 47). Jadi pengelolaan bahan hukum dengan cara deduktif

adalah menjelaskan sesuatu dari hal-hal yang sifatnya umum, selanjutnya

menarik kesimpulan dari hal yang sifatnya khusus.

Dalam penelitian ini bahan hukum yang diperoleh dengan melakukan

inventarisasi sekaligus mengkaji dari penelitian kepustakaan, peraturan

perundang-undangan beserta dokumen-dokumen yang dapat membantu

menafsirkan norma tersebut dalam mengumpulkan data, kemudian data diolah

dan dianalisis untuk menjawab permasalahan yang diteliti. Kemudian tahap

yang terakhir menarik kesimpulan yang telah diolah.

F. Sistematika Penulisan

Untuk memberikan gambaran secara menyeluruh tentang sistematika

penulisan hukum yang sesuai dengan aturan baru dalam penulisan hukum maka

penulis menggunakan sistematika penulisan hukum. Adapun sistematika

penulisan hukum ini terdiri dari 4 (empat) bab yang tiap bab terbagi dalam

sub-sub bagian yang dimaksudkan untuk memudahkan pemahaman terhadap

keseluruhan hasil penelitian ini. Sistematika keseluruhan penulisan hukum ini

adalah sebagai berikut:

BAB I : PENDAHULUAN

Dalam bab ini penulis mengemukakan tentang latar belakang

masalah, perumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat

penelitian, metode penelitian, dan sistematika penulisan hukum.

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA

Dalam bab kedua ini memuat dua sub bab, yaitu kerangka teori

dan kerangka pemikiran. Dalam kerangka teori penulis akan

menguraikan tinjauan tentang putusan, tinjauan tentang upaya

hukum kasasi, tinjauan tentang Tindak Pidana Perdagangan

(34)

commit to user

xxxiv

kerangka pemikiran penulis akan menampilkan bagan kerangka

pemikiran.

BAB III : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Dalam hal ini penulis membahasa dan menjawab permasalahan

yang telah ditentukan sebelumnya:

1. Untuk mengetahui secara jelas mengenai kesesuian

pengajuan Kasasi oleh Penuntut Umum terhadap putusan

bebas yang dijatuhkan oleh Pengadilan Negeri Sanggau

dalam perkara perdagangan orang dengan ketetuan Pasal 244

KUHAP.

2. Untuk mengetahui nalar hukum Penuntut Umum Sebagai

dasar pengajuan kasasi terhadap putusan bebas oleh

Pengadilan Negari Sanggau dalam perkara perdagangan

orang.

BAB IV : PENUTUP

Merupakan penutup yang menguraikan secara singkat tentang

kesimpulan akhir dari pembahasan dan jawaban atas rumusan

permasalahan, dan diakhiri dengan saran-saran yang didasarkan

atas permasalahan yang diteliti.

(35)

commit to user

xxxv BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kerangka Teori a. Tinjauan Tentang Putusan

a. Pengertian Putusan

Menurut ketentuan Pasal 1 butir ke-11 KUHAP, “Putusan

pengadilan adalah pernyataan hakim yang diucapkan dalam sidang

pengadilan terbuka, yang dapat berupa pemidanaan atau bebas atau lepas

dari segala tuntutan hukum dalam hal serta menurut cara yang diatur

dalam undang-undang”.

Sedangkan menurut buku Peristilahan Hukum dan Praktik yang

dikerluarkan oleh Kejaksaan agung RI tahun 1985 adalah hasil kesimpulan

dari sesuatu yang dipertimbangkan dan dinilai dengan semasak-masaknya

yang dapat berbentuk tulisan ataupun lisan. Ada juga yang mengartikan

putusan merupakan terjemahan dari kata “vonis”, yaitu hasil akhir dari

pemeriksaan perkara di sidang pengadilan (Lilik Mulyadi, 2006 : 52).

Dalam ketentuan Pasal 182 ayat 6 KUHAP bahwa putusan sedapat

mungkin merupakan hasil musyawarah majelis dengan permufakatan yang

bulat, kecuali hal ini telah diusahakan sungguh-sungguh tidak tercapai,

maka ditempuh dengan dua cara yaitu:

1) Putusan diambil dengan suara terbanyak

2) Jika dengan cara ini tidak juga dapat diperoleh putusan, yang dipilih

adalah pendapat hakim yang paling menguntungkan bagi terdakwa.

b. Jenis-jenis Putusan

Bentuk putusan yang akan dijatuhkan pengadilan tergantung hasil

musyawarah yang bertitik tolak pada surat dakwaan dengan segala sesuatu

yang terbukti dalam pemeriksaan di sidang pengadilan meliputi apa yang

didakwakan dalam surat terdakwa terbukti, atau tindak pidana yang

(36)

kemungkinan-commit to user

xxxvi

kemungkinan di atas, putusan yang dijatuhkan pengadilan mengenai suatu

perkara bisa berbentuk sebagai berikut :

1) Putusan Bebas

Putusan bebas, berarti terdakwa dijatuhi putusan bebas atau

dinyatakan bebas dari tuntutan hukum (vrijspaark) atau acquittal.

Inilah pengertian terdakwa diputus bebas, terdakwa dibebaskan dari

tuntutan hukum, dalam arti dibebaskan dari pemidanaan. Tegasnya

terdakwa ”tidak dipidana”.

Berikut beberapa pengertian putusan bebas (vrijspraak) yang

dikemukakan oleh kalangan doktrina, diantaranya:

Djoko Prakoso mengemukakan, Vrijspraak adalah putusan

hakim yang mengandung pembebasan terdakwa, karena

peristiwa-peristiwa yang disebutkan dalam surat dakwaan setelah diadakan

perubahan atau penambahan selama persidangan, bila ada sebagian

atau seluruh dinyatakan oleh hakim yang memeriksa dan mengadili

perkara yang bersangkutan dianggap tidak terbukti (Djoko Prakoso,

1985: 270).

Menurut Soekarno, bahwa Vrijspraak adalah, Salah satu dari

beberapa macam putusan hakim yang berisi pembebasan terdakwa dari

segala tuduhan, manakala perbuatan terdakwa dianggap tidak terbukti

secara sah dan meyakinkan (Soekarno, 1978: 15).

Harun M. Husein berpendapat sesuai dengan rumusan

pengertian bebas dalam Pasal 191 ayat 1 KUHAP, maka dapat kita

definisikan bahwa yang dimaksud dengan putusan bebas, ialah putusan

pengadilan yang membebaskan terdakwa dari dakwaan, karena

menurut pendapat pengadilan terdakwa tidak terbukti dengan sah dan

meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana yang didakwakan

kepadanya (Harun M. Husein, 1992: 108).

Sehubungan dengan putusan bebas ini, sebagaimana yang

dikemukakan oleh Wirjono Projodikoro yang dikutip oleh Harun M.

(37)

commit to user

xxxvii

(dakwaan) seluruhnya atau sebagian, oleh hakim dianggap tidak

terbukti, maka terdakwa harus dibebaskan dari tuduhan

(vrijgesproken)” (Harun M. Husein, 1992: 108).

Dalam praktek peradilan, putusan bebas dibagi menjadi :

a) Putusan bebas Murni (de “ zuivere vrijspraak”)

Putusan bebas murni adalah putusan akhir dimana hakim

mempunyai keyakinan mengenai tindak pidana yang didakwakan

kepada terdakwa adalah tidak terbukti (Rd. Achmad S.

Soemadipradja. 1981:89 ).

Pandangan Mahkamah Agung, bahwa hanya pembebasan

murnilah yang tidak dapat diajukan dalam pemeriksaan kasasi

(Oemar Seno Adjie, 1985:163).

b) Putusan Bebas Tidak Murni (niet zuivere vrijspraak)

Oleh Prof. Van Bemellen pernah diajukan beberapa putusan

bebas tidak murni, yang mestinya bersifat lepas dari segala

tuntutan hukum. Pembebasan tidak murni pada hakikatnya

merupakan putusan lepas dari segala tuntutan hukum yang

terselubung, dapat dikatakan apabila dalam suatu dakwaan unsur

delik dirumuskan dengan istilah yang sama dalam

perundang-undangan, sedangkan hakim memandang dakwaan tersebut tidak

terbukti (Oemar Seno Adjie, 1985:167).

Yurisprudensi konstan dari Mahkamah Agung menyatakan

bahwa tidak bisa diajukan upaya hukum terhadap putusan bebas,

dan masih membuka untuk pemeriksaan dalam tingkat kasasi

terhadap putusan bebas tidak murni. Maka yurisprudensi ini

dijadikan dasar bagi Mahkamah Agung untuk mengadakan

pemeriksaan terhadap putusan bebas tidak murni.

Menurut Oemar Seno Adjie (Oemar Seno Adjie, 1985:164),

putusan bebas tidak murni mempunyai kualifikasi, sebagai berikut

(38)

commit to user

xxxviii

a) Pembebasan didasarkan atas suatu penafsiran yang keliru

terhadap sebutan tindak pidana yang disebut dalam surat

dakwaan.

b) Dalam menjatuhkan putusan pengadilan telah melampaui batas

kewenangannya, baik absolut maupun relatif dan sebagainya.

Untuk mengetahui dasar putusan yang berbentuk

putusan bebas dapat dilihat dari ketentuan Pasal 191 ayat (1)

yang menjelaskan, apabila pengadilan berpendapat:

(1) Dari hasil pemeriksaan ”di sidang” pengadilan

(2) Kesalahan terdakwa atas perbuatan yang didakwakan

kepadanya ”tidak terbukti” secara sah dan meyakinkan

Berarti putusan bebas ditinjau dari segi yuridis ialah

putusan yang dinilai oleh majelis hakim yang bersangkutan:

a) Tidak memenuhi asas pembuktian menurut undang-undang

secara negatif

Pembuktian yang diperoleh di persidangan tidak cukup

membuktikan kesalahan terdakwa dan sekaligus kesalahan

terdakwa yang tidak cukup terbukti itu tidak diyakini oleh

hakim.

b) Tidak memenuhi asas batas minimun pembuktian

Kesalahan yang didakwakan kepada terdakwa hanya

didukung oleh salah satu alat bukti saja, sedang menurut

ketentuan Pasal 183, agar cukup membuktikan kesalahan

seorang terdakwa harus dibuktikan dengan sekurang-kurangnya

dua alat bukti yang sah. Dalam ketentuan Pasal 183 sekaligus

terkandung dua asas. Pertama, asas pembuktian menurut

undang-undang secara negatif yang mengajarkan prinsip hukum

pembuktian, di samping kesalahan terdakwa cukup terbukti

(39)

commit to user

xxxix

kesalahan terdakwa. Kedua, Pasal 183 juga mengandung asas

batas minimun pembuktian, yang dianggap cukup untuk

membuktikan kesalahan terdakwa harus dengan

sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah.

Sedangkan di dalam KUHP, Buku Kesatu Bab III terdapat

beberapa pasal yang mengatur tentang hal-hal yang

mengahapuskan pemidanaan terhadap seorang terdakwa.

a) Pasal 44, apabila perbuatan tindak pidana yang dilakukan

terdakwa ”tidak dapat dipertanggung- jawabkan” kepadanya,

disebabkan karena jiwanya cacat dalam pertumbuhannya, gila,

epilepsi, melankolik, dsb.

b) Pasal 45, perbuatan tindak pidana yang dilakukan oleh orang

yang belum cukup umurnya 16 tahun.

c) Pasal 48, orang yang melakukan tindak pidana atau melakukan

perbuatan dalam keadaan ”pengaruh daya paksa” (overmacth)

baik yang bersifat daya paksa batin atau fisik.

d) Pasal 49, orang yang terpaksa melakukan perbuatan pembelaan

karena ada serangan ancaman seketika itu juga baik terhadap

diri sendiri maupun terhadap orang lain atau terhadap

kehormatan kesusilaan.

e) Pasal 50, orang yang melakukan perbuatan untuk melaksanakan

ketentuan undang-undang, tidak dapat dipidana, terdakwa harus

diputus dengan putusan bebas.

Berdasarkan pendapat dari beberapa sarjana dan

yurisprudensi, akhirnya didapat suatu kesimpulan terkait dengan

pengertian dari putusan bebas murni (zuivere vrijspraak) dan

putusan bebas tidak murni (onzuivere vrijspraak), sebagai berikut,

(40)

commit to user

xl

bebas itu mengandung pembebasan yang murni atau tidak murni.

Kriteria dimaksud, adalah:

a) Suatu putusan bebas mengandung pembebasan yang tidak

murni apabila: Pembebasan itu didasarkan pada kekeliruan

penafsiran atas suatu istilah dalam surat dakwaan, atau apabila

dalam putusan bebas itu pengadilan telah bertindak melampaui

batas wewenangnya.

b) Suatu putusan bebas mengandung pembebasan yang murni,

apabila pembebasan itu didasarkan pada tidak terbuktinya suatu

unsur tindak pidana yang didakwakan.

2) Putusan Pelepasan dari Segala Tuntutan Hakim

Pada masa yang lalu putusan pelepasan dari segala tuntutan

hukum disebut onslag van recht vervolging, yang sama maksudnya

dengan Pasal 191 ayat (2), yakni putusan pelepasan dari segala

tuntutan hukum, berdasarkan kriteria:

a) Apa yang didakwakan kepada terdakwa memang terbukti secara

sah dan meyakinkan;

b) Tetapi sekalipun terbukti, hakim berpendapat bahwa perbuatan

yang didakwakan tidak merupakan tindak pidana.

Terdakwa lepas dari segala tuntutan hukum dapat disebabkan

karena:

a) Tidak mampu bertanggung jawab (Pasal 44 KUHP);

b) Melakukan di bawah pengaruh daya paksa atau overmacht (Pasal

48 KUHP);

c) Adanya pembelaan terdakwa (Pasal 49 KUHP);

d) Adanya ketentuan Undang-undang (Pasal 50 KUHP); dan

(41)

commit to user

xli

Dan dapat dilihat juga hal yang melandasi putusan pelepasan,

terletak pada kenyataan apa yang didakwakan dan yang telah terbukti

tersebut ”tidak merupakan tindak pidana” tetapi termasuk ruang

lingkup hukum perdata atau hukum adat.

3) Putusan Pemidanaan

Bentuk putusan pemidanaan diatur dalam Pasal 193.

Pemidanaan berarti terdakwa dijatuhi hukuman pidana sesuai dengan

ancaman yang ditentukan dalam pasal tindak pidana yang didakwakan

terhadap terdakwa. Sesuai dengan Pasal 193 ayat (1) penjatuhan

putusan pemidanaan terhadap terdakwa didasarkan pada penilaian

pengadilan. Jika pengadilan berpendapat dan menilai terdakwa terbukti

bersalah melakukan perbuatan yang didakwakan kepadanya,

pengadilan menjatuhkan hukuman pidana terdakwa, atau dengan

penjelasan lain apabila menurut pendapat dan penilaian pengadilan

terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan

kesalahan tindak pidana yang didakwakan terhadapnya sesuai dengan

sistem pembuktian dan asas batas minimun pembuktian yang

ditentukan dalam Psasal 183, kesalahan terdakwa telah cukup terbukti

dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah yang memberi

keyakinan kepada hakim, terdakwalah pelaku tindak pidanya.

4) Penetapan Tidak Berwenang Mengadili

Berdasarkan ketentuan Pasal 147 KUHAP, yang berbunyi:

“Setelah pengadilan negeri menerima surat pelimpahan perkara dari

penuntut umum, ketua mempelajari apakah perkara itu termasuk

wewenang pengadilan yang dipimpinnya.”

Menurut M. Yahya Harahap (M. Yahya Harahap, 2000: 336) :

Yang pertama dan utama diperiksa adalah apakah perkara yang

dilimpahkan penutut umum tersebut termasuk wewenang Pengadilan

Figur

Gambar 1 Kerangka Pemikiran
Gambar 1 Kerangka Pemikiran . View in document p.16
Gambar 1. Kerangka Pemikiran commit to user
Gambar 1 Kerangka Pemikiran commit to user . View in document p.65

Referensi

Memperbarui...