Awalan dan Kata Depan

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kita umunya menganggap bahwa bahasa Indonesia itu mudah, karena setiap hari kita mendengar banyak orang yang menggunakannya. Padahal sebenarnya bahasa Indonesia ragam resmi tidak mudah. Contohnya saja masih banyak yang melakukan kesalahan dalam pemakaian bahasa Indonesia, khususnya dalam pemakaian kata depan dan awalan. Banyak orang yang tidak tahu mana sebagai kata depan dan mana sebagai awalan.

Supaya kita dapat menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, kita harus memerdalam pengetahuan tentang bahasa itu. Kita tidak boleh

meremehkan pemakaian bahasa yang baik dan benar.

B. Tujuan

(2)

BAB II

PREPOSISI (KATA DEPAN)

A. Pengertian

Preposisi adalah kategori yang terletak di depan kategori lain (terutama nomina) sehingga terbentuk frase eksosentris direktif, (Kridalaksana, 2005: 95).

Kata depan menurut definisi tradisional adalah kata yang merangkaikan kata-kata atau bagian-bagian kalimat, (Keraf, 1984: 80).

Kata depan adalah kata yang menerangkan kata-kata atau bagian-bagian kalimat. Kata depan dapat diikuti kata benda atau nomina, (Rusmaji, 1993: 26).

B. Fungsi dan Jenis Kata Depan

Jika ditinjau dari perilaku sintaksisnya, preposisi berada di depan nomina, ajektiva, atau adverbia, sehingga terbentuk frase yang dinamakan frase

preposisional.

Jika ditinjau dari segi bentuknya, preposisi ada dua macam, yaitu: (1) preposisi tunggal, seperti di, ke, dari, pada, selama, mengenai, dan sepanjang; serta (2) preposisi majemuk, seperti daripada, kepada, oleh karena, sampai ke, sampai dengan, selain dari, dan sebagainya, (Alwi dalam Bagus, 2007).

1. Kata depan di, ke, dari

Dalam bahasa Indonesia, ada tiga buah kata depan utama, yaitu di, ke,

dan dari. Kata depan tersebut selalu berada di depan kata benda, dan menurut ketentuan dalam buku pedoman ejaan baru, kata-kata itu dituliskan terpisah dari kata yang dibelakangnya.

Kata depan di, ke, dari disebut juga kata depan asli (sejati), yaitu kata yang semata-mata hanya sebagai kata depan. Kata depan ini disebut juga sebagai kata depan pengantar tempat.

(3)

Contoh:

di dalam di jalan raya ke pasar ke toko buku dari sana dari salon

Dalam pemakaian di, ke, dari, kita tidak boleh menghubungkannya dengan akhiran kata ganti -ku, -mu, -nya, kecuali dalam bentuk puisi. Karena biasanya penyair diberikan semacam kebebasan dalam menggubah puisi yaitu kebebasan yang disebut licencia poetica.

Preposisi ke umumnya digunakan dengan empat ketentuan berdasarkan makna yang diembannya, yaitu:

a. Menyatakan “tempat tujuan”, digunakan di depan kata benda yang menjadikan benda itu sebagai keterangan tempat.

Contoh: TKI illegal itu dideportasi ke Australia

b. Menyatakan “tempat tujuan”, dengan lebih tepat, preposisi ke dapat diikuti dengan kata yang menunjukkan bagian dari tempat yang dimaksud.

Contoh: Klose menggiring bola ke daerah gawang

c. Menyatakan keadaan “gerak” atau “bergerak”, dipakai di depan kata benda tempat.

Contoh: Banyak wisatawan yang datang ke pulau Komodo

d. Preposisi ke tidak boleh digunakan di depan kata benda yang mengacu kepada orang termasuk kata ganti orang.

Contoh: Gadis itu dikembalikan ke orangtuanya setelah diperisa polisi Terkadang, kita salah menuliskan partikel di dan ke, mana yang sebagai kata depan dan mana sebagai awalan. Kekeliruan penggunaan unsur tersebut dapat disebabkan oleh kekurangtahuan fungsi masing-masing unsur, atau dapat juga disebabkan karena pengaruh kebiasaan berbahasa daerah, sehingga tanpa disadari pengaruh itu terbawa ke dalam penggunaan berbahasa Indonesia.

Contoh: di pasar di dalam ke Surabaya ke sekolah.

(4)

kata depan selalu diikuti oleh kata benda. Jika kata di dan ke diikuti oleh kata kerja, maka bukan lagi disebut sebagai kata depan, tetapi sebagai awalan. Contoh: dipukul ditendang

keahlian keputusan

Dengan demikian, kita dapat membedakan, mana kata depan dan mana yang awalan. Kecuali pada kata kepada, kata depan ke dirangkaikan dengan kata yang diikutinya, karena dianggap sudah senyawa.

Kata depan dari, selain berfungsi sebagai penunjuk tempat, juga berfungsi:

 Menyatakan asal atau bahan

Contoh: Cincin itu terbuat dari emas. Baju yang dipakainya dari katun.  Menyatakan sebab

Contoh: Dari itulah, maka saya menolak permintaannya.  Menyatakan pengertian sejak

Contoh: Dari pagi Pedrosa belum istirahat. Ia terlihat sibuk dari kemarin.  Menyatakan arti di antara

Contoh: Dua orang dari empat pemain itu lolos ke babak final.

Seorang dari beberapa pengunjuk rasa telah tertangkap polisi.  Menyatakan arti mewatasi (= tentang)

Contoh: Rindra menulis karangan dari hal bercocok tanam. Dari hal itu, ia memperoleh banyak pengetahuan.  Menyatakan perbandingan (+ pada)

Contoh: Ia lebih baik mati daripada terus menderita.

Daripada kelaparan, lebih baik kita makan seadanya.

2. Kata depan lain (pada, oleh, dengan) a) Pada

(5)

Misalnya: pada pendapat saya, pada pengertianku, dan lain-lain Di sini, pada dapat diganti dengan menurut, sehingga menurut pendapat saya, menurut pengertianku, dan lain-lain.

2) Kata ganti orang

Contoh: Anaknya dititipkan pada kami ketika dia bekerja. 3) Kata bilangan

Misalnya: pada seorang murid, pada suatu tempat, pada sebuah rumah, dan lain-lain.

4) Kata keterangan yang menyatakan waktu

Misalnya: pada bulan puasa, pada hari itu, pada malam ini, dan lain-lain.

Dalam bahasa Indonesia kini, aturan-aturan tersebut sering diabaikan. Penggunaan kata depan pada diganti dengan di, terutama di daerah Jawa Barat.

Kata depan pada digunakan dengan empat aturan berdasarkan makna preposisi itu:

1) Menyatakan “tempat berada”, digunakan di depan kata benda yang menyatakan orang

Contoh: Bukunya dititipkan teman pada sekelasnya

2) Menyatakan “tempat”, digunakan di depan kata benda atau frase benda, sekaligus sebagai varian dari kata depan di

Contoh: Pedrosa bekerja pada Repsol Honda

3) Menyatakan “waktu tertentu” atau “saat”, dipai di depan kata benda waktu yang menyatakan saat atau masanya sangat terbatas

Contoh: Jembatan itu boleh digunakan pada bulan Maret

4) Preposisi pada tidak digunakan di depan obyek untuk kalimat yang predikatnya mengandung pengertian “tertuju terhadap sesuatu yang bercorak human (manusia), pada harus diganti dengan kepada

Contoh: Ia mengembalikan barang pinjaman itu pada pemiliknya b) Oleh

(6)

merupakan suatu keharusan bersifat fakultatif. Kata oleh yang terletak sesudah kata kerja berawalan di- dalam kalimat dan langsung diikuti gatra yang berperan sebagai pelaku (agentif), boleh dipakai, boleh tidak.

Contoh: Buku itu dibeli (oleh) Amir

Pakaian itu dimasukkan (oleh) Yusro ke dalam lemari

Namun, ada juga kata oleh yang tidak boleh dihilangkan. Harus ada dalam kalimat. Karena apabila dihilangkan, maksudnya akan berbeda dengan maksud yang sebenarnya. Kata depan oleh yang tidak dapat dihilangkan, yaitu:

1) Sebagai penunjuk pelaku

Contoh: Ikan yang di situ telah dimasak oleh ibu 2) Sama artinya dengan sebab atau karena

Contoh: Oleh gemasnya, dicubitlah anak itu 3) Menyatakan hubungan kekerabatan

Contoh: Apakah olehmu anak itu?

Pemakaian dengan bentuk seperti ini sudah jarang kita jumpai dalam bahasa Indonesia dewasa ini.

4) Bersinonim dengan pada, kepada

Contoh: Tak tampak oleh dia burung Kutilang itu 5) Bersinonim dengan kata dengan

Contoh: Pohon itu sarat oleh buah

Selain itu, ada beberaopa bentuk kalimat tertentu yang mengharuskan hadirnya kata oleh, yakni:

1) Apabila kata kerja dan obyek pelaku diantarai oleh kata lain Contoh: Surat itu telah dikirimkan dengan pos oleh adik 2) Apabila kata oleh dipakai memulai kalimat

Contoh: Oleh adik dikirimkannya surat itu dengan pos

3) Apabila kata oleh menghubungkan kata kerja berawalan ter- dengan pelengkap pelaku

Contoh: Bukunya terbawa oleh saya 4) Apabila kata oleh mengikuti kata kerja aus

(7)

5) Apabila kata oleh mengikuti kata kerja bersimulfiks ke-an Contoh: Dustanya ketahuan oleh guru

c) Dengan

Kata dengan dipakai dalam kalimat:

1) Dengan arti beserta, bersama-sama

Contoh: Dia pergi dengan ayahnya

2) Sama artinya dengan dan

Contoh: Dani dengan Pedrosa tidak pernah berpisah

3) Menyatakan alat

Contoh: Adik sudah dapat menulis dengan pena

4) Untuk mengeksplisitkan hubungan kata Contoh: Di rumah saya bertemu dengan dia

5) Kira-kira sama artinya dengan sambil

Contoh: Dia berkata dengan tersenyum

Dalam bahasa Indonesia, kecuali pada beberapa ungkapan tertentu kedudukan kata depan tidak merupakan pasangan tetap dengan kata yang diikutinya. Orang boleh memilih dan varian pemakaian kata depan itu tidak menimbulkan arti yang lain, misalnya: hormat kepada, hormat terhadap, hormat

akan, hormat dengan, dan lain-lain. Ataupun yang bertukar pasangan, contohnya: terdiri atas dan terdiri dari, bergantung kepada dan bergantung pada, dan lain-lain.

(8)

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

(9)

DAFTAR RUJUKAN

Badudu, JS. 1985. Pelik-pelik Bahasa Indonesia. Bandung: CV Pustaka Prima __________ 1985. Membina Bahasa Indonesia Baku. Bandung: Pustaka Prima Bagus Putrayasa, Ida. 2007. Analisis Kalimat. Bandung: Refika Aditama

Kridalaksana, Harimurti. 2005. Kelas Kata dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia

Rampung, Bone. 2005. Fatamorgana Bahasa Indonesia. Yogyakarta: Yayasan Pustaka Nusantara

Rusmaji, Oscar. 1993. Aspek-aspek Sintaksis Bahasa Indonesia. Malang: IKIP Malang

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects : Awalan dalam bahasa Indonesia