INDUKSI TUNAS MIKRO TANAMAN KARET (Hevea brasiliensis Muell. Arg) DARI EKSPLAN
NODUS PADA MEDIA WPM DENGAN PEMBERIAN BENZIL AMINO PURIN (BAP) DAN NAFTALEN ASAM ASETAT (NAA)
SKRIPSI
OLEH :
LIDYA SUNDARI / 100301041 AGROTEKNOLOGI
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN
INDUKSI TUNAS MIKROTANAMAN KARET (Hevea brasiliensis Muell. Arg) DARI EKSPLAN
NODUS PADA MEDIA WPM DENGAN PEMBERIAN BENZIL AMINO PURIN (BAP) DAN NAFTALEN ASAM ASETAT (NAA)
SKRIPSI
OLEH :
LIDYA SUNDARI / 100301041 AGROTEKNOLOGI
Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mendapatkan Gelar Sarjana di Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian
Universitas Sumatera Utara, Medan
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN
Judul Penelitian :Induksi Tunas Mikro TanamanKaret (Hevea Brasiliensis Muell. Arg.)
dari Eksplan Nodus pada Medium WPM dengan Pemberian Benzil Amino Purin (BAP) dan Naftalen Asam Asetat (NAA)
Nama : Lidya Sundari NIM : 100301041 Program Studi : Agroteknologi Minat Studi : Pemuliaan Tanaman
Disetujui oleh : Komisi Pembimbing
(Luthfi A. M Siregar, SP. MSc. Ph.D) (Dr. Diana Sofia Hanafiah, SP. MP.
Ketua Anggota
)
Mengetahui :
(
ABTRACT
LIDYA SUNDARI, 2014 : Induction of Rubber Microshoot from Node Explant in
WPM Medium with Benzyl Amino Purine (BAP) and Naphthalene Acetic Acid (NAA), supervised by Luthfi A. M Siregar andDiana
Sofia Hanafiah.
The aimed of the research to determine the best medium for shoot induction of rubber tree(Hevea brasiliensis Muell. Arg.) from node explantin WPM Medium withcombination of Benzyl Amino Purine (BAP) and Naphthalene Acetic Acid (NAA). The research was carried out in the Microccuting Laboratory, PT. Perkebunan Nusantara III Kebun Gunung Pamela Tebing Tinggi, Sumatera Utara, Indonesia, from April to June 2014. The research used complete random design with sixteen treathments and five replications
The results showed that combination of BAP and NAA gave significantly different on total shoot, and percent of shoot induction. At the same time for parameter shoots length, leaves number and percent of leaf induction combination
concentrated BAP and NAA showed no significantly different. The medium WPM + BAP 0.5 mg/l dan NAA 0 mg/l was the the best combination concentrated to
produce leaf of microshoot rubber.
Keywords: rubber, multiplication, BAP, NAA
LIDYA SUNDARI, 2014 : Induksi Tunas Mikro Tanaman Karet (Hevea Brasiliensis Muell. Arg.) dari Eksplan Nodus pada Medium WPM dengan
PemberianBenzil Amino Purin (BAP) dan Naftalen Asetat Acid (NAA),dibimbing oleh Luthfi A. M Siregar dan Diana Sofia Hanafiah.
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan medium yang tepat pada induksi tunas mikro tanaman karet (Hevea brasiliensis Muell. Arg.) dari eksplan nodus pada medium WPM dengan pemberian Benzil Amino Purin (BAP) dan Naftalen Asam Asetat (NAA). Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Microcutting Tanaman Karet PT. Perkebunan Nusantara III Kebun Gunung Pamela Tebing Tinggi, Sumatera Utara, Indonesia, dimulai pada bulan April 2014 sampai dengan Juni 2014. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap non faktorial dengan 16 perlakuan dan 5 ulangan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi zat pengatur tumbuh BAP dan NAA berpengaruh nyata terhadap jumlah tunas dan persentase munculnya tunas. Sedangkan untuk parameter panjang tunas, jumlah daun, dan persentase munculnya daun tidak memberikan pengaruh nyata. Media WPM + perlakuan zat pengatur tumbuh 0.5 mg/l BAP dan0 mg/l NAA merupakan konsentrasi terbaik dalam menghasilkan pertumbuhan daun pada tunas mikro tanaman karet.
RIWAYAT HIDUP
Lidya Sundari, dilahirkan di Medan pada tanggal 7 Juli 1992 dari ayahandaAli Sugito dan ibundaSumi Raya Ginting. Penulis merupakan putri pertama dari dua bersaudara.
Pendidikan formal yang pernah ditempuh adalah SD Swasta Melati lulus pada tahun 2004, SMP N 20 Medan lulus tahun 2007 dan tahun 2010 penulis lulus dari SMA N 16 Medan dan pada tahun yang sama lulus seleksi penerimaan mahasiswa baru melalui jalur UMB (Ujian Masuk Bersama)pada program studi Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.
Selama mengikuti perkuliahan, penulis berkesempatan membantu dosen sebagai asisten dalam menjalankan praktikum di Laboratorium Teknologi Benih, Bioteknologi Pertanian dan Kultur Jaringan.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT karena atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul“Induksi Tunas Mikro Tanaman Karet (Hevea brasiliensisMuell.Arg.) Dari Eksplan Nodus Pada Media WPM Dengan PemberianBenzil Amino Purin (BAP) dan Naftalen Asam Asetat (NAA)”yang merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan gelar sarjana di Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Luthfi A. M. Siregar, SP. MSc. Ph.D selaku ketua komisi pembimbing dan Ibu Dr. Diana Sofia Hanafiah, SP. MP. selaku anggota komisi pembimbingyang
telah banyak memberikan bimbingan dalam menyelesaikan skripsi ini. Ucapan
terima kasih juga disampaikan kepada kedua orang tua tercinta, Ayahanda Ali Sugito dan Ibunda Sumi Raya Ginting atas kasih sayang, semua dukungan dan
doanya kepada penulis. Kepada adik saya tercinta Muhammad Rifki atas segala doa dan dukungannya. Disamping itu ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Bapak Irvin Fauzan Lubis, SP. MM selaku Staf urusan Inkubasi Bisnis Karet PTPN III Kebun Gunung Pamela, staff PT. Perkebunan Nusntara III Kebun Gunung Pamela, Laboran Asni, SP dan Rudi yang telah banyak memberikan dukungan dan bantuan selama penulis melaksanakan penelitian dan juga kepada seluruh teman-teman mahasiswa Agroteknologi 2010 yang telah banyak membantu penulis dalam melaksanakan penelitian.
membangun demi kesempurnaan skripsi ini. Akhir kata semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi seluruh pihak yang memerlukan.
Medan, Maret 2014
DAFTAR ISI
Media Kultur Jaringan ... 11
Lingkungan In Vitro ... 12
Zat Pengatur Tumbuh ... 15
BAHAN DAN METODE ... 20
Tempat dan Waktu Penelitian ... 20
Bahan dan Alat Penelitian ... 20
Metode Penelitian ... 20
PELAKSANAAN PENELITIAN ... 23
Sterilisasi Alat-Alat ... 23
Pembuatan Media ... 23
Sterilisasi Bahan Tanaman di Lapangan ... 24
Pengambilan Bahan Tanaman ... 25
Sterilisasi Bahan Tanaman di Laboratorium ... 25
Persiapan Ruang Tanam ... 26
Pemeliharaan Eksplan ... 27
Peubah Amatan ... 27
Persentase Munculnya Tunas (%) ... 27
Jumlah Tunas (tunas) ... 27
Panjang Tunas (cm)... 27
Persentase Terbentuknya Daun (%) ... 28
Jumlah Daun (helai) ... 28
Umur Munculnya Tunas (hari) ... 28
HASIL DAN PEMBAHASAN ... 29
Hasil ... 29
Persentase Munculnya Tunas (%) ... 29
Jumlah Tunas (tunas) ... 30
Panjang Tunas (cm)... 31
Persentase Terbentuknya Daun (%) ... 32
Jumlah Daun (helai) ... 33
Umur Munculnya Tunas (hari) ... 34
Pembahasan ... 36
Pengaruh pemberian BAP dan NAA terhadap induksi tunas tanaman karet ... 36
KESIMPULAN DAN SARAN ... 43
Kesimpulan ... 43
Saran ... 43 DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR TABEL
No. Hal.
1. Persentase munculnya tunas (%) dalam media WPM + konsentrasi BAP dan NAA dari eksplan nodus 6 minggu setelah pengkulturan ... 29 2. Jumlah tunas (tunas) dalam media WPM + konsentrasi BAP dan NAA
dari eksplan nodus 6 minggu setelah pengkulturan ... 31 3. Panjang tunas (cm) dalam media WPM + konsentrasi BAP dan NAA
dari eksplan nodus 6 minggu setelah pengkulturan ... 31 4. Persentase terbentuknya daun (%) dalam media WPM + konsentrasi
BAP dan NAA dari eksplan nodus 6 minggu setelah pengkulturan ... 32 5. Jumlah daun (helai) dalam media WPM + konsentrasi BAP dan NAA
dari eksplan nodus 6 minggu setelah pengkulturan Pengaruh kombinasi konsentrasi BAP dan NAA terhadap jumlah daun (helai) ... 33 6. Umur munculnya tunas (hari) dalam media WPM + konsentrasi BAP dan
DAFTAR GAMBAR
No. Hal.
DAFTAR LAMPIRAN
No. Hal.
1. Data Pengamatan Persentase Munculnya Tunas (%) ... 48
2. Data Transformasi Persentase Munculnya Tunas Arcsin √P ... 48
3. Daftar Sidik Ragam Persentase Munculnya Tunas ... 49
4. Data Pengamatan Jumlah Tunas (Tunas) ... 49
5. Data Transformasi Jumlah Tunas (tunas) √X+0.5 ... 50
6. Daftar Sidik Ragam Jumlah Tunas ... 50
7. Data Pengamatan Panjang Tunas (cm)... 51
8. Data Transformasi Panjang Tunas √X+0.5 ... 51
9. Daftar Sidik Ragam Panjang Tunas (cm) ... 52
10.Data Pengamatan Persentase Terbentuknya Daun (%) ... 52
11.Data Pengamatan Jumlah Daun (Helai) ... 53
12.Data Transformasi Jumlah Daun √X+0.5... 53
13.Daftar Sidik Ragam Jumlah Daun ... 54
14.Data Pengamatan Umur Munculnya Tunas (Hari) ... 54
15.Lampiran Foto Penelitian ... 55
16.Komposisi Medium Woody Plant Medium (WPM) ... 56
17.Bagan Penelitian ... 57
ABTRACT
LIDYA SUNDARI, 2014 : Induction of Rubber Microshoot from Node Explant in
WPM Medium with Benzyl Amino Purine (BAP) and Naphthalene Acetic Acid (NAA), supervised by Luthfi A. M Siregar andDiana
Sofia Hanafiah.
The aimed of the research to determine the best medium for shoot induction of rubber tree(Hevea brasiliensis Muell. Arg.) from node explantin WPM Medium withcombination of Benzyl Amino Purine (BAP) and Naphthalene Acetic Acid (NAA). The research was carried out in the Microccuting Laboratory, PT. Perkebunan Nusantara III Kebun Gunung Pamela Tebing Tinggi, Sumatera Utara, Indonesia, from April to June 2014. The research used complete random design with sixteen treathments and five replications
The results showed that combination of BAP and NAA gave significantly different on total shoot, and percent of shoot induction. At the same time for parameter shoots length, leaves number and percent of leaf induction combination
concentrated BAP and NAA showed no significantly different. The medium WPM + BAP 0.5 mg/l dan NAA 0 mg/l was the the best combination concentrated to
produce leaf of microshoot rubber.
Keywords: rubber, multiplication, BAP, NAA
LIDYA SUNDARI, 2014 : Induksi Tunas Mikro Tanaman Karet (Hevea Brasiliensis Muell. Arg.) dari Eksplan Nodus pada Medium WPM dengan
PemberianBenzil Amino Purin (BAP) dan Naftalen Asetat Acid (NAA),dibimbing oleh Luthfi A. M Siregar dan Diana Sofia Hanafiah.
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan medium yang tepat pada induksi tunas mikro tanaman karet (Hevea brasiliensis Muell. Arg.) dari eksplan nodus pada medium WPM dengan pemberian Benzil Amino Purin (BAP) dan Naftalen Asam Asetat (NAA). Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Microcutting Tanaman Karet PT. Perkebunan Nusantara III Kebun Gunung Pamela Tebing Tinggi, Sumatera Utara, Indonesia, dimulai pada bulan April 2014 sampai dengan Juni 2014. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap non faktorial dengan 16 perlakuan dan 5 ulangan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi zat pengatur tumbuh BAP dan NAA berpengaruh nyata terhadap jumlah tunas dan persentase munculnya tunas. Sedangkan untuk parameter panjang tunas, jumlah daun, dan persentase munculnya daun tidak memberikan pengaruh nyata. Media WPM + perlakuan zat pengatur tumbuh 0.5 mg/l BAP dan0 mg/l NAA merupakan konsentrasi terbaik dalam menghasilkan pertumbuhan daun pada tunas mikro tanaman karet.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tanaman karet (Hevea brasiliensis Muell. Arg.) berasal dari Brazilia, Amerika Selatan tepatnya di wilayah Amazon Brazilia. Tanaman karet mulai dibudidayakan di Indonesia pada tahun 1864 di Jawa Barat. Sedangkan
perkebunan karet dimulai di Sumatera Utara tahun 1903, dan di Jawa tahun 1906 (Semangun, 2000). Diperkirakan ada lebih dari 3,4 juta hektar perkebunan karet di
Indonesia, 85% di antaranya (2,9 juta hektar) merupakan perkebunan karet yang dikelola oleh rakyat atau petani skala kecil, dan sisanya dikelola oleh perkebunan besar milik negara atau swasta (Janudianto, dkk, 2013).
Luas areal perkebunan karet yang dikelola oleh PT. Perkebunan Nusantara III (PTPN III) saat ini terdiri atas 45.327 ha kebun eksisting dan 9.150 ha kebun plasma. Dengan asumsi setiap tahun dilakukan peremajaan sebesar 5 % dari luas areal tersebut maka diperlukan bahan tanaman karet sebanyak 1,5 juta bibit per tahun. Kebutuhan tersebut diperoleh secara konvensional yaitu menggunakan batang bawah dari biji dan batang atas dari klon-klon yang direkomendasikan (Muluk, 2009).
batang bawah secara klonal seharusnya juga merupakan tanaman hasil seleksi. Namun ternyata hal tersebut tidak mudah karena sebagian besar klon-klon karet yang direkomendasikan untuk ditanam dalam skala luas kurang responsif terhadap lingkungan kultur in vitro (Haris, 2013).
Digunakannyabiji sebagai batang bawah memiliki beberapa dampak negatif, seperti perbedaan karakter awal dari genotipe (Pratama, 2008). Menurut Haris (2013) karakter genetik tanaman asal biji tidak sama antara satu individu dengan individu lainnya, meskipun masing-masing individu tanaman tersebut berasal dari spesies yang sama. Artinya batang bawah turut berperan dalam penampilan dan karakter tanaman karet secara keseluruhan sehingga meskipun batang atas merupakan tanaman klonal, namun karena didukung oleh batang bawah asal biji dari individu tanaman yang berbeda maka penampilan tanaman secara keseluruhan sebenarnya tidak persis sama. Hal ini dapat dilihat dari suatu luasan areal karet yang sama dan terdiri atas klon yang sama menampilkan karakter yang berbeda antar individu tanaman yaitu yang berhubungan dengan produksi lateks, tinggi pohon, diameter batang, ketahanan terhadap penyakit terutama penyakit akar, atau dalam karakter agronomi lainnya.
Perbanyakan batang bawah tanaman karet secara klonal melalui teknologiin vitro microcutting telah berhasil dilakukan. Pengamatan di lapangan pada pertanaman muda menunjukkan pertumbuhan yang seragam dan memiliki bentuk konikal pada batang bagian bawah (Carron et al., 2000; Carron et al., 2003). Kemudian percobaan yang dilakukan Gunatilleke dan Chandra (1998) menunjukkan adanya multiplikasi pertumbuhan eksplan karet yang dikulturkan di medium setengah MS, medium MS dengan dan tanpa penambahan BAP 0.5 mg/l dan IAA 0.5 mg/l.
Teknologi microcutting telah dikembangkan oleh tim CIRAD-Perancis sepanjang tahun 1980-1990-an dan telah melakukan kerjasama dengan Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia (BPBPI) dan Balai Penelitian Karet Sungei Putih. Namun hingga saat ini belum ada publikasi resmi yang menjelaskan secara rinci media apa yang cocok untuk kultur in vitro tanaman karet.
Media WPM (Woody Plant Medium) merupakan media dengan konsentrasi ion yang rendah pada jaman sesudah penemuan media MS. Media ini konsisten sebagai media untuk tanaman berkayu yang dikembangkan oleh ahli lain, tetapi sulfat yang digunakan lebih tinggi dari sulfat pada media tanaman berkayu lain (Gunawan, 1992).
Zat pengatur tumbuh BAP merupakan sitokinin yang berfungsi mempengaruhi pertumbuhan dan diferensiasi akar, mendorong pembelahan sel dan pertumbuhan (Dewi, 2008). Menurut Wattimena (1992) salah satu faktor yang
menentukan keberhasilan kultur jaringan adalah zat pengatur tumbuh. Benzil Amino Purin (BAP) adalah zat pengatur tumbuh golongan sitokinin yang
jika dikombinasikan dengan Naphtalane Asetic Acid (NAA) dari golongan auksin akan mendorong pembelahan sel dan pembentukan morfogenesis tanaman. Media kultur jaringan yang dirancang untuk tanaman berkayu sepeti buah-buahan adalah woody plant Medium / WPM hasil komposisi dari Llyoyd dan McCown, 1981. NAA adalah zat pengatur tumbuh sintetik yang mampu mengatur berbagai proses pertumbuhan dan pemanjangan sel.
Untuk memenuhi kebutuhan batang bawah klonal karet dan untuk menemukan media yang cocok untuk pertumbuhan karet secara in vitro, maka peneliti tertarik untuk melakukan perbanyakan tanaman karetsecara in vitro pada
Tujuan Penelitian
Untuk mendapatkan medium yang tepat pada induksi tunas mikro tanaman karet (Hevea brasiliensis Muell.Arg.) dari eksplan nodus pada medium WPM dengan pemberianBenzil Amino Purin (BAP) dan Naftalen Asam Astet (NAA). Hipotesa Penelitian
Ada pengaruh kombinasi BAP dan NAA dalam medium WPM terhadap
induksi tunas mikro dari eksplan nodus pada tanaman karet(Hevea brasiliensis Muell.Arg.).
Kegunaan Penelitian
TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman
Sistematika tanaman karet adalah sebagai berikut:Kingdom: Plantae, Divisio: Spermatophyta, Subdivisio: Angiospermae , Kelas: Dicotyledonae, Ordo
:Euphorbiales, Famili: Euphorbiaceae, Genus: Hevea, Spesies: Hevea brasiliensisMuell Arg.(Setiawan dan Andoko, 2005).
Akar tanaman karet merupakan akar tunggang. Akar tanaman karet merupakan akar batang bawah yang berfungsi menyerap air dan garam-garam mineral. Akar tumbuh pada stadia kaki burung (Syamsulbahri, 1996).
Tanaman karet adalah anggota famili Euphorbiaceae. Berbentuk pohon, tinggi 10-20 m, bercabang dan mengandung banyak getah susu. Daun berselang-seling, tangkai daun panjang, 3 anak daun yang licin bertangkai, petiola pendek, hijau dan memiliki panjang 3,5-30,0 cm. Helaian anak daun bertangkai pendek dan berbentuk elips atau bulat telur, pangkal sempit dan tegang, ujung runcing, sisi atas daun hijau tua dan sisi bawah agak cerah, panjangnya 5-35 cm dan lebar 2,5-12,5 cm (Sianturi, 2001).
Daun tanaman karet adalah trifoliata. Tangkai daun panjang, serat daun tampak jelas, kasar. Daunnya tersusun melingkar batang (spiral), berambut. Bunganya bergerombol muncul dari ketiak daun (axilary), individu bunga bertangkai pendek, bunga betina terletak diujung (Syamsulbahri, 1996).
Buah beruang tiga, jarang yang beruang empat hingga enam, diameter buah 3-5 cm dan terpisah 3,4 atau 6 cocci berkatup dua, perikarp berbatok, endokarp berkayu (Sianturi, 2001).
Biji karet terdapat dalam setiap ruang buah. Jadi, jumlah biji biasanya tiga, kadang enam, sesuai dengan jumlah ruang. Ukuran biji besar dengan kulit keras.
Warnanya cokelat kehitaman dengan bercak-bercak berpola yang khas (Tim Penulis PS, 2008).
Kultur Jaringan
Kultur jaringan merupakan teknik menumbuhkembangkan bagian tanaman, baik berupa sel, jaringan atau organ dalam kondisi aseptik secara in vitro. Teknik ini dicirikan oleh kondisi kultur yang aseptik, penggunaan media kultur buatan dengan kandungan nutrisi lengkap dan ZPT (zat pengatur tumbuh), serta kondisi ruang kultur yang suhu dan pencahayaannya terkontrol (Yusnita, 2003).
Teknik kultur jaringan dimulai ketika Schwan dan Schleiden mengemukakan teori totipotensi yang menyatakan bahwa sel-sel bersifat otonom dan pada prinsinya mampu beregenerasi menjadi tanaman lengkap. Jaringan tanaman dapat diisolasi dan di kultur hingga berkembang menjadi tanaman normal dengan melakukan manipulasi terhadap kondisi lingkungan dan nutrisinya (Zulkarnain, 2009).
eksplan langsung menumbuhkan sel meristematik yang kemudian berdiferensiasi menjadi organ (tunas, daun atau akar), sedangkan organogenesis tidak langsung terjadi pembentukan kalus terlebih dahulu. Embriogenesis merupakan proses perkembangan sel vegetatif atau sel-sel somatik yang diperoleh dari berbagai sumber eksplan (Zulkarnain 2009).
Kultur in vitro tanaman karet (Hevea brasiliensis Muell. Arg.) dapat
dilakukan dengan microcutting dan embriogenesis somatik (Nayanakantha dan Seneviratne, 2007; Montoro et al., 2010). Teknologi in vitro
microcutting karet dikembangkan untuk menghasilkan batang bawah klonal (Carron dan Enjalric, 1983) guna memenuhi kebutuhan dan meningkatkan kualitas batang bawah yang selama ini dihasilkan dari biji. Meningkatnya kebutuhan batang bawah menyebabkan ketersediaan biji tidak mencukupi lagi karena tergantung pada beberapa klon karet penghasil biji batang bawah dan pada musim biji yang hanya berlangsung satu kali dalam setahun. Di samping itu, kelemahan lain dari penggunaan bibit asal biji sebagai batang bawah adalah adanya keragaman batang bawah dan kekurang-mampuan kombinasi batang atas dan batang bawah menampilkan potensi produksi dan karakter unggul lain secara maksimal karena perbedaan tingkat juvenilitas (Abbas dan Ginting, 1981).
Microcutting merupakan salah satu teknik mikropropagasi tanaman berbasis kultur in vitro dan telah berhasil diaplikasikan untuk perbanyakan tanaman karet asal biji (seedling) dengan menggunakan tunas aksilar sebagai eksplan (Carron dan Enjarlic, 1983). Proses perbanyakan tanaman karet melalui
teknologi microcutting terdiri atas beberapa tahap, yaitu kultur primer (primary culture), multiplikasi, conditioning (hardening), induksi dan inisiasi
penanaman eksplan pada medium pertumbuhan steril untuk menginisiasi kultur
aseptik, yang merupakan tahap awal dalam teknologi kultur jaringan (Ahloowalia et al., 2002). Eksplan pada tahapan kultur primer merupakan
potongan batang tanaman karet muda yang dipelihara dalam polibeg di rumah
kaca dan eksplan tersebut memiliki minimal satu mata tunas aksilar (auxiliary bud). Dalam kondisi in vitro, eksplan yang bebas dari kontaminan dan
tumbuh baik dapat diperbanyak melalui subkultur berulang-ulang sehingga kultur primer merupakan tahap yang menentukan untuk keberhasilan dan keberlanjutan perbanyakan tanaman menggunakan teknologi tersebut (Haris et al., 2009).
Teknik kultur jaringan akan berhasil dengan baik apabila syarat-syarat yang diperlukan terpenuhi. Syarat-syarat tersebut meliputi pemilihan eksplan, penggunaan medium yang cocok, keadaan yang aseptik dan pengaturan udara yang baik. Meskipun pada prinsipnya semua jenis sel dapat ditumbuhkan, tetapi sebaiknya dipilih bagian tanaman yang masih muda dan mudah tumbuh yaitu bagian meristemnya misalnya daun muda, ujung akar, ujung batang, keping biji dan sebagainya. Apabila menggunakan embrio atau bagian-bagian biji yang lain sebagai eksplan, yang perlu diperhatikan adalah kemasakan embrio, waktu imbibisi, temperatur dan dormansi (Hendaryono dan Wijayani, 1994).
Eksplan
mempunyai daya regenerasi lebih tinggi, sel-sel masih aktif membelah diri, dan relatif lebih bersih (mengandung lebih sedikit kontaminan) (Yusnita, 2003).
Menurut Gunawan (1995), ukuran eksplan yang dikulturkan turut menentukan keberhasilan dari suatu teknik kultur jaringan. Ukuran eksplan yang terlalu kecil akan kurang daya tahannya bila dikulturkan. Sedangkan bila ukurannya terlalu besar akan sulit didapatkan eksplan yang steril.
Kondisi fisiologi eksplan memiliki peranan penting bagi keberhasilan teknik kultur jaringan. Pada umumnya bagian-bagian vegetatif lebih siap beregenerasi daripada bagian generatif. Eksplan mata tunas yang diperoleh dari tanaman yang sedang istirahat, lebih sulit berproliferasi daripada mata tunas yang diperoleh dari tanaman yang sedang aktif tumbuh. Sama halnya dengan kasus dormansi pada eksplan biji (Zulkarnain, 2009).
Kajian kultur in vitro pada Hevea telah dilakukan melalui pendekatan kultur tunas pucuk, kultur tunas, somatik embriogenesis, dan transformasi genetik. Sebuah studidilakukandiLembaga PenelitianKaret Indiadenganklon unggul
karetmenggunakaneksplan pucukyang berasal daripohon dewasa Menurut Sinhaetal. (1985), awalnyatunasyangberegenerasidari
beberapaklonkaretmengalami kegagalan dalam hal pembentukan akar. Asokaetal.(1988) mengkulturkan tunas ujung pucuk yangberasal daripohonklonaldan melaporkan bahwa terjadi perkembangan pada tunas dan akar.Planlet yang telah berakardariempatklon karetberhasil dipindahkanke lapangandanprogramevaluasi lapangandapat dilaksanakan(Thulaseedharan, 2002). Terdapat beberapa informasi tentang mikropropagasiHevea yang
untuk perbanyakan skala besar klon Hevea masih belum berkembang. Paranjothy dan Glandimethi (1976) mencoba mengkulturkan tunas ujung pucuk (panjang 2-3 cm), yang berasal dari perbanyakan pertama dengan biji. Walaupun tunas ini mengalami perakaran di medium cair MS, namun tunas tersebut mengalami kegagalan pertumbuhan pada medium MS padat. Kemudian Enjarlic dan Carron (1982), menggunakan tunas yang berasal dari tanaman asal
biji yang berumur 1-3 tahun di rumah kaca sebagai eksplan untuk dikembangkan menjadi tanaman berakar.
Media Kultur Jaringan
Media kultur merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan perbanyakan tanaman secara kultur jaringan. Media kultur tersebut, fisiknya dapat berbentuk cair atau padat. Kebutuhan nutrisi mineral untuk tanaman yang dikulturkan secara invitro pada dasarnya sama dengan kebutuhan hara tanaman yang ditumbuhkan di tanah, meliputi hara-hara makro dan mikro Komponen media kultur yang lengkap sebagai berikut.
1. Air distilasi (akuades) atauair bebas ion sebagai pelarut atau solven. 2. Hara makro dan mikro
3. Gula (umumnya sukrosa) sebagai sumber energi 4. Vitamin, asam amino dan bahan organik lain 5. Zat Pengatur Tumbuh
6. Suplemen berupa bahan-bahan alami, jika diperlukan 7. Agar-agar atau gelrite sebagai pemadat media
(Yusnita, 2003).
bila media yang dipilih mempertimbangkan apa saja yang diperlukan oleh tanaman. Secara umumkebutuhan nutrisi kebanyakan tanaman sama, tetapi secara khusus hal tersebut berbeda. Kesamaannya adalah tanaman memerlukan hara makro dan mikro, vitamin–vitamin, karbohidrat (gula), asam amino dan N-organik, zat pengatur tumbuh, zat pemadat dan kadang ada penambahan bahan– bahan seperti air kelapa, ekstrak ragi, jus tomat, ekstrak kentang, buffer organik, ataupun arang aktif. Kebutuhan setiap tanaman berdeda pada hal komposisi dan jumlah yang diperlukan (Santoso dan Nursandi, 2001).
Medium yang digunakan untuk kultur in vitro tanaman dapat berupa medium padat atau cair. Medium padat digunakan untuk menghasilkan kalus yang selanjutnya diinduksi membentuk tanaman yang lengkap (disebut sebagai planlet), sedangkan medium cair biasanya digunakan untuk kultur sel. Medium yang digunakan mengandung lima komponen utama yaitu senyawa anorganik, sumber karbon, vitamin, zat pengatur tumbuh dan suplemen organik (Yuwono, 2008). Lingkungan In Vitro
inisiasi dan multiplikasi tunas digunakan pencahayaan dengan lampu fluorescent (TL). Secara umum, intensitas cahaya yang optimal untuk tanaman pada kultur tahap inisiasi kultur adalah 0–1.000 lux, tahap multiplikasi sebesar 1.000–10.000 lux, tahap pengakaran sebesar 10.000–30.000 lux, dan tahap aklimatisasi sebesar 30.000 lux (Yusnita, 2003).
Kultur jaringan tumbuh pada umumnya tumbuh di bawah tabung fluorscens pada intensitas 1000-5000 lux selama 26 jam (Yeoman, 1986). Dimana menurut Gunawan (1995), cahaya berperan didalam perkembangan dan pertumbuhan tanaman yang disebut fotomorfogenesis yang artinya cahaya dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan bagian-bagian tanaman, misalnya tunas, pucuk dan lain-lain. Cahaya meliputi kualitas, intensitas cahaya dan lama penyinaran.
menyarankan agar dilakukan pemanasan untuk melarutkan agar-agar dan memanaskan beberapa menit media dalam autoklaf, baru diadakan penetapan pH. Cara lain yang dilakukan adalah penetapan pH setelah media disterilkan dalam autoclave. Dalam wadah yang besar media disterilkan dan kemudian dititrasi dengan NaOH/HCl steril sampai pH yang diinginkan. Selanjutnya media dituang ke dalam wadah kultur steril yang telah dipersiapkan di dalam air flow cabinet. Cara ini juga digunakan pada penelitian yang menggunakan media dengan pH rendah untuk tujuan seleksi (Gunawan, 1988).
Suhu yang umum digunakan untuk pengkulturan berbagai jenis tanaman adalah ± 26°C. Untuk kebanyakan tanaman, suhu yang terlalu rendah (kurang dari 20°C) dapat menghambat pertumbuhan dan suhu yang terlalu tinggi (lebih dari 32°C) menyebabkan tanaman merana (Yusnita, 2003).
Zat Pengatur Tumbuh
Keberadaan hormon dan zat pengatur tumbuh dalam kegiatan kultur jaringan adalah mutlak. Karena kegiatan kultur jaringan umumnya menggunakan bahan tanam yang tidak lazim (sel, jaringan atau organ) dan budidayanya adalah budidaya yang terkendali. Pengaturan proses tumbuh dan berkembangnya eksplan dapat dilakukan dengan mengatur macam dan konsentrasi hormon atau zpt tertentu sehingga menghasilkan kombinasi yang tepat sesuai dengan harapan (Santoso dan Nursandi, 2001).
sebagai sumber tenaga dalam pertumbuhan. Adapun kinetin (6-furfury amino purine) tergolong zat pengatur tumbuh dalam kelompok sitokinin. Kinetin adalah kelompok sitokinin yang berfungsi untuk pengaturan pembelahan sel dan morfogenesis. Dalam pertumbuhan jaringan, sitokinin bersama-sama dengan auksin memberikan pengaruh interaksi terhadap deferensiasi jaringan (Hendaryono dan Wijayani, 1994).
Auksin adalah sekelompok senyawa yang fungsinya merangsang pemanjangan sel-sel pucuk yang spektrum aktivitasnya menyerupai IAA (indole-3-acetid acid). Pierik (1997) menyatakan bahwa pada umumnya auksin meningkatkan pemanjangan sel, pembelahan sel, dan pembentukan akar adventif. Auksin berpengaruh pula untuk menghambat pembentukan tunas adventif dan tunas aksilar, namun kehadiranya dalam medium kultur dibutuhkan untuk meningkatkan embriogenesis somatik pada kultur suspensi sel. Konsentrasi auksin yang rendah akan meningkatkan pembentukan akar adventif, sedangkan konsentrasi tinggi merangsang pembentukan kalus dan menekan morfogenesis (Zulkarnain, 2009).
mudah mengalami degradasi akibat pengaruh cahaya dan oksidasi enzimatik. Oleh karena itu, IAA biasanya diberikan pada konsentrasi yang relatif tinggi (1-30 mg L-1). Sementara itu α-NAA yang merupakan auksin sintetik tidak mengalami oksidasi enzimatik seperti halnya IAA. Senyawa tersebut dapat diberikan pada medium kultur pada konsentrasi yang lebih rendah, berkisar antara 0,1-2,0 mg L-1 (Zulkarnain, 2009).
Sitokinin merupakan nama kelompok hormon tumbuh yang sangat penting sebagai pemacu pertumbuhan dan morfogenesis dalam kultur jaringan. Seperti halnya pada auksin, selain sitokinin alami juga terdapat sintesisnya yang tergolong dalam zat pengatur tumbuh. Kinetin adalah merupakan sitokinin yang pertama kali ditemukan oleh mahasiswa profesor Skoog’s bernama Carlos Miller (1954) pada laboratorium di Universitas Wisconsin, yaitu senyawa yang sangat aktif yang terbentuk dari hasil penguraian sebagian DNA tua sperma ikan hering atau DNA yang diautoklaf yang menyebabkan terus tumbuhnya kalus tembakau (Santoso dan Nursandi, 2001).
Sitokinin yang paling banyak digunakan pada kultur in vitro adalah kinetin, benziladenin (BA atau BAP), dan zeatin. Zeatin adalah sitokinin yang disintesis secara alamiah, sedangkan kinetin dan BA adalah sitokinin sintetik (Zulkarnain, 2009).
yang lain adalah: mendorong proses morfogenesis, pertunasan, pembentukan kloroplas, pembentukan umbi pada kentang, pemecahan dormansi, pembukaan stomata, pembungaan dan pembentukan buah partenokarpi. 5. dalam kultur jaringan sitokinin telah terbukti dapat menstimulir terjadinya pembelahan sel, proliferasi kalus, pembentukan tunas, mendorong proliferasi meristem ujung,
menghambat pembentukan akar, mendorong pembentukan klorofil pada kalus (Santoso dan Nursandi, 2001).
Terdapat kisaran interaksi yang luas antara kelompok auksin dengan kelompok sitokinin. Kedua kelompok zat pengatur tumbuh tersebut berinteraksi pula dengan senyawa senyawa kimia lainya dan dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan, seperti cahaya dan suhu. Pada kondisi tertentu auksin dapat bereaksi dengan menyerupai sitokinin, atau sebaliknya (Kyte, 1983). Meskipun demikian, baik auksin maupun sitokinin, keduanya sering kali diberikan secara bersamaan pada medium kultur untuk menginduksi pola morfogenesis tertentu, walaupun ratio yang dibutuhkan untuk induksi perakaran maupun pucuk tidak selalu sama, terdapat keragaman yang tinggi antargenus, antarspesies, bahkan antar kultivar dalam hal jenis takaran auksin dan sitokinin untuk menginduksi terjadinya morfogenesis (Zulkarnain, 2009).
BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Microcutting Tanaman Karet PT. Perkebunan Nusantara III Kebun Gunung Pamela Tebing Tinggi, Sumatera
Utara, Indonesia. Penelitian ini dimulai pada bulan April 2014 sampai dengan Juni 2014.
Bahan dan Alat Penelitian
Bahan eksplan yang digunakan dalam penelitian ini adalah nodus dari tanaman karetyang diambil dari koleksi tanaman karet di rumah kaca PT. Perkebunan Nusantara III Kebun Gunung Pamela Tebing Tinggi, Sumatera Utara, Indonesia, eksplan yang digunakan dengan panjang 1,5-2 cm. Bahan penyusun media WPM, BAP, NAA, agar biotek, akuades steril, dan bahan lainnya yang mendukung penelitian ini.
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah Laminar Air Flow Cabinet (LAFC), autoklaf, steri box, tabung uji, timbangan analitik, rak kultur, hot plate dengan magnetik stirer, erlenmeyer, gelas ukur, kaca tebal, pipet ukur, gunting, scalpel, pinset, kertas plano, aluminium foil, lampu bunsen, pH meter, oven, kompor gas, minisar, mikropipet, tip, pipet tetes, dan alat-alat lainnya yang mendukung penelitian ini.
Metode Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) non-faktorial dengan penambahan zat pengatur tumbuh sebagai berikut: A1 : 0,5 mg/l BAP + 0 mg/lNAA
A4 : 0,5 mg/l BAP + 0,5 mg/lNAA A5 : 1 mg/l BAP + 0 mg/l NAA A6 : 1 mg/l BAP + 0,1 mg/l NAA A7 : 1 mg/l BAP + 0,25 mg/l NAA A8 : 1 mg/l BAP + 0,5 mg/l NAA A9 : 1,5 mg/l BAP + 0 mg/l NAA A10 : 1,5 mg/l BAP + 0,1 mg/l NAA A11 : 1,5 mg/l BAP + 0,25 mg/l NAA A12 : 1,5 mg/l BAP + 0,5 mg/l NAA A13 : 2 mg/l BAP + 0 mg/l NAA A14 : 2 mg/l BAP + 0,1 mg/l NAA A15 : 2 mg/l BAP + 0,25 mg/l NAA A16 : 2 mg/l BAP + 0,5 mg/l NAA
Jumlah perlakuan : 16
Jumlah ulangan : 5
Model statistika yang digunakan sebagai berikut: Yijk = µ + αi + ε ijk i = 1,2,3,4 j = 1,2,3, 4 k = 1,2,3,4,5
Yijk = Nilai pengamatan unit percobaan pada taraf perlakuan BAP ke-i, NAA ke-j, dan ulangan ke-k
µ = Nilai tengah umum
αi = Pengaruh BAP ke-i
εijk = Galat percobaan
PELAKSANAAN PENELITIAN
Sterilisasi Alat-Alat
Sebelum semua alat-alat disterilisasi dan alat-alat kaca digunakan untuk kulturin vitromaka terlebih dahulu dicuci dan dikeringkan. Selanjutya tabung dibungkus dengan plastik tahan panas atau diletakkan pada rak tabung sedangkan untuk botol dapat langsung diletakkan pada autoklaf.Setelah itu, semua botol dan tabung uji dan alat lainnya disterilkan dalam autoklaf pada suhu 121°C dengan tekanan 17,5 psi selama 60 menit. Kemudian tabung uji dan botol disterilisasi kering di dalam oven pada temperature 1500 selama 1-2 jam.
Pembuatan Media
Media yang digunakan dalam penelitian ini adalah media Woody Plant Medium (WPM). Sebelum dilakukan pembuatan media WPM, dilakukan pembuatan larutan stok hormon BAP dan NAA. Larutan stok hormon masing-masing dibuat 100mg/100ml. Kemudian larutan stok BAP dan NAA disaring menggunakan minisar guna meningkatkan sterilitas dari hormon tersebut dan dilakukan di Laminar Air Flow Cabinet (LAFC).
dengan pH meter. pH yang dikehendaki adalah 5,8, untuk mengatur pH yaitu menaikkan atau menurunkan pH dapat digunakan larutan KOH dan HCl 0,1 N. Ditambahkan agar biotek dan dimasak di atas kompor gas sampai larutan mendidih dan bening (semua agar telah larut). Larutan dipindahkan ke erlenmeyer berukuran 5000ml dan ditutup dengan aluminium foil dan diikat dengan tali plastik. Kemudian media WPM di sterilisasi dengan tekanan 17,5 psi pada suhu 121°C selama 1 jam 30 menit di autoklaf. Setelah proses sterilisasi selesai, media dimasukkan ke ruang kultur dan dimasukkan ke Laminar Air Flow Cabinet (LAFC) untuk dibagikan ke 16 tabung erlenmeyer berukuran 500ml dengan masing-masing tabung berisi 250ml. Teteskan BAP dan NAA ke masing-masing tabung uji sesuai perlakuan. Lalu setiap perlakuan ditepatkan hingga masing-masing perlakuan menjadi 300ml. Dituangkan media ke dalam tabung uji berisikan 13ml/tabung dan ditutup kain kasa steril yang dibalut dan diikat benang. Sehingga diperoleh ± 23 tabung uji dari setiap perlakuannya. Tabung uji diberi label sesuai dengan perlakuan. Selanjutnya disimpan dalam ruang kultur sebelum digunakan.
Sterilisasi Bahan Tanaman di Lapangan
Pengambilan Bahan Tanaman
Bahan tanaman yang digunakan ialah yang telah di dithane. Bahan tanaman yang digunakan ialah bibit karet yang telah latern (daun terbuka sempurna) dan berwarna hijau terang, batang tanaman kokoh dan berwarna hijau, serta berpayung dua. Batang bawah dari tanaman karet itu sendiri berasal dari seedling karet pendukung klon tertentu yang selanjutnya diokulasi menghasilkan genotipe 25 (kodefikasi genotipe dari Balai Penelitian Karet Sungei Putih). Bagian yang diambil ialah nodus yang terdapat dari setiap batang tersebut. Pengambilan dilakukan pada pagi hari dengan menggunakan gunting. Kemudian setiap bahan tanaman dikelompokkan dan dicatat berdasarkan genotipenya masing-masing, selanjutnya bahan tanaman dibawa ke laboratorium untuk disterilisasi kembali.
Sterilisasi Bahan Tanaman di Laboratorium
Eksplan yang telah diambil dari rumah kaca kemudian dicuci di bawah air bersih yang mengalir dengan menggunakan kuas untuk menghilangkan olesan dithane. Eksplan dimasukkan ke dalam toples kemudian dimasukkan alkohol 70 % dan diguncang selama 1 menit, setelah itu alkohol dibuang dan toples diisi kembali dengan H2O2 17 % dan didiamkan selama 20 menit, setelah itu H2O2 dibuang lalu diisi kembali dengan aquades selama 1 menit dan diguncang kemudian dibuang. Eksplan direndam di dalam toples dengan aquades selama 2 x 15 menit, dan kemudian air tersebut dibuang. Dan eksplan sudah siap ditanam. Persiapan Ruang Tanam
dan bahan yang akan digunakan harus disemprot dengan alkohol 96% dan beberapa alat seperti pinset, gunting, scalpel setelah disemprot lalu dibakar di dalam laminar air flow cabinet selama 1 menit. Hal ini dilakukan untuk menghindari resiko bahan penelitian terkontaminasi. Steri box dihidupkan dan disediakan alkohol 70% untuk membersihkan alat yang telah digunakan.
Penanaman
Eksplan yang digunakan adalah nodus dari tanaman karet yang telah di sterilisasi sebelumnya sesuai dengan standar yang dimiliki Laboratorium Microcutting Karet Kebun Gunung Pamela, lalu eksplan ditanam pada tabung uji yang sudah berisikan media sebanyak 13ml/tabung uji. Eksplan yang telah disterilisasi dikeluarkan dengan menggunakan pinset. Ukuran eksplan yang digunakan adalah 1,5-2 cm.Apabila ukuran eksplan belum sesuai maka dapat dipotong dengan menggunakan gunting steril dan tajam atau scalpel. Eksplan yang akan dikulturkan ke dalam media tanam diletakkan di atas piringan kaca tebal yang sudah disemprot dengan alkohol 70 % dan telah dilapisi dengan kertas plano. Kemudian eksplan ditanamkan ke dalam tabung uji sesuai dengan perlakuan, setiap tabung uji terdiri dari 1 eksplan. Kemudian ujung tabung uji ditutup dengan kain kasa steril yang dibalut dan diikat benang. Kegiatan penanaman dilakukan di dalam Laminar Air Flow Cabinet (LAFC) dan di bawah api bunsen. Kemudian tabung uji diletakkan di rak kultur di bawah cahaya dan suhu yang telah telah ditetapkan.
Pemeliharaan Eksplan
organisme yang menyebabkan terjadi kontaminasi. Dalam penelitian ini suhu ruangan kultur yang digunakan +20-25°C dengan suhu optimum 180C dan intensitas cahaya 2000 lux.serta dengan kondisi ruangan memiliki air conditioner dengan hefa yang dibersihkan selama 6 bulan sekali. Apabila mengalami kontaminasi, segera diambil dari rak kultur agar mencegah kontaminasi ke tabung lainnya.
Peubah Amatan
Persentase Terbentuknya Tunas (%)
Persentase terbentuknya daun dihitung pada akhir penelitian (6 MST) dengan rumus:
Persentase terbentuknya tunas = Jumlah tunas yang terbentuk
5 x 100 %
Jumlah Tunas (tunas)
Dihitung pada akhir penelitian (6 MST) dengan menghitung banyaknya tunas baru yang terbentuk dari setiap eksplan.
Panjang Tunas (cm)
Panjang tunas diukur pada tunas tertinggi dengan menggunakan kertas milimeter yang diukur dari tempat munculnya tunas (pangkal) sampai ujung tunas tertinggi. Pengukuran dilakukan pada akhir penelitian.
Persentase Terbentuknya Daun (%)
Jumlah daun dihitung dari daun yang terbentuk yang telah terbuka sempurna pada eksplan. Pengamatan dilakukan pada akhir penelitian. Persentase terbentuknya daun dihitung pada akhir penelitian dengan rumus:
Persentase terbentuknya daun = Jumlah daun yang terbentuk
5 x 100 %
Jumlah daun dihitung dari daun yang terbentuk yang telah terbuka pada eksplan. Pengamatan dilakukan pada akhir penelitian.
Umur Muculnya Tunas (hari)
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Dari hasil analisis data yang dilakukan, diperoleh bahwa pemberian
kombinasi konsentrasi BAP dan NAA berpengaruh nyata terhadap persentase munculnya tunas dan jumlah tunas. Pada panjang tunas, persentase terbentuknya daun, jumlah daun, umur munculnya tunas, kombinasi
konsentrasi antara BAP dan NAA tidak berpengaruh nyata. Persentase Munculnya Tunas (%)
Data pengamatan dan hasil analisis sidik ragam persentase munculnya
tunas terhadap pemberian kombinasi konsentrasi BAP dan NAA (Lampiran 1-3), menunjukkan bahwa kombinasi konsentrasi antara BAP dan
NAA memberikan pengaruh nyata terhadap persentase munculnya tunas pada 6 MST. Rataan persentase munculnya tunas disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Persentase munculnya tunas (%) dalam media WPM + konsentrasi BAP dan NAA dari eksplan nodus 6 minggu setelah pengkulturan
Perlakuan Ulangan Rataan
(%) Keterangan: Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada baris yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada
Tabel 1. memperlihatkan bahwa persentase munculnya tunas pada pemberian kombinasi BAP dan NAA, pada perlakuan A1, A2, A3, A4, A6, A7, A8, A9, A11, A13, A14, A15, A16 berbeda nyata dengan perlakuan A5 dan A12, dan tidak berbeda nyata dengan perlakuan A10.
Gambar eksplan membentuk tunas pada salah satu perlakuan dapat dilihat pada gambar 1.
Gambar 1. Eksplan membentuk tunas Jumlah Tunas (Tunas)
Data pengamatan dan hasil analisis sidik ragam antara konsentrasi BAP dan NAA (Lampiran 4-6), menunjukkan bahwa kombinasi konsentrasi antara BAP dan NAA memberikan pengaruh nyata terhadap jumlah tunas pada 6 MST. Rataan jumlah tunas disajikan pada Tabel 2.
(a) (b)
Gambar 2. Induksi tunas dari eksplan buku (a) pada media WPM dengan
Tabel 2. Jumlah tunas (tunas) dalam media WPM + konsentrasi BAP dan NAA dari eksplan nodus 6 minggu setelah pengkulturan
Perlakuan Ulangan Rataan
(tunas) Keterangan: Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada baris yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada
Uji Jarak Duncan pada taraf 5 %.
Tabel 2 memperlihatkan bahwa jumlah tunas pada pemberian kombinasi BAP dan NAA jumlah tunas tertinggi terdapat pada perlakuan A1, A2, A3, A4, A6, A7, A8, A9, A11, A13, A14, A15, A16 yaitu masing-masing memiliki rataan sebesar 1.00 yang berbeda nyata dengan perlakuan A5 dan A12 dengan rataan jumlah tunas sebesar 0.40 tetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan A10 yaitu dengan rataan sebesar 0.60.
Panjang Tunas (cm)
Tabel 3. Panjang tunas (cm) dalam media WPM + konsentrasi BAP dan NAA dari eksplan nodus 6 minggu setelah pengkulturan
Perlakuan Ulangan Rataan
(cm)
Tabel 4. Persentase terbentuknya daun (%) dalam media WPM + konsentrasi BAP dan NAA dari eksplan nodus 6 minggu setelah pengkulturan
Perlakuan Ulangan Rataan
(%)
Tabel 5. Jumlah daun (helai) dalam media WPM + konsentrasi BAP dan NAA dari eksplan nodus 6 minggu setelah pengkulturan
Perlakuan Ulangan Rataan
(helai)
Gambar eksplan yang membentuk daun yang sempurna dapat dilihat pada gambar 3.
Gambar 3. Eksplan membentuk daun Umur Munculnya Tunas (Hari)
Tabel 6. Umur munculnya tunas (hari) dalam media WPM + konsentrasi BAP dan NAA dari eksplan nodus 6 minggu setelah pengkulturan
Perlakuan Ulangan Rataan
(hari) Tabel 6. memperlihatkan bahwa umur munculnya tunas pada pemberian kombinasi BAP dan NAA, pada perlakuan A1, A2, A3, A4, A6, A7, A8, A9, A11, A13, A14, A15, A16 berbeda nyata dengan perlakuan A5 dan A12.
Pembahasan
Pengaruh pemberian BAP dan NAA terhadap induksi tunas tanaman karet Dari hasil analisis data secara statistik diperoleh bahwa pemberian kombinasi konsentrasi BAP dan NAA berpengaruh nyata terhadap persentase munculnya tunas dan jumlah tunas pada 6 minggu setelah pengkulturan, tetapi belum berpengaruh nyata pada panjang tunas, persentase terbentuknya daun, jumlah daun serta umur munculnya tunas.
level zat pengatur tumbuh endogen sel. Level zat pengatur tumbuh endogen ini kemudian merupakan trigerring factor untuk proses-proses yang tumbuh dan morfogenesis.
Jumlah tunas tertinggi diperoleh pada perlakuan A1 (0.5 mg/l BAP + 0 mg/l NAA), A3 (0.5 mg/l BAP + 0.25 mg/l NAA), A6 (1 mg/l BAP + 0.1 mg/l NAA), A7 (1 mg/l BAP + 0.25 mg/l NAA), A9 (1.5 mg/l BAP + 0 mg/l NAA), A11 (1.5 mg/l BAP + 0.25 mg/l NAA), A13 (2 mg/l BAP + 0 mg/l NAA), A14 (2 mg/l BAP + 0.1 mg/l NAA), dan A16 (2 mg/l BAP + 0.5 mg/l NAA) yaitu masing-masing dengan rataan sebesar 1.00, sedangkan jumlah tunas terendah adalah pada perlakuan A5 (1 mg/l BAP + 0 mg/l NAA) dan A12 (1.5 mg/l BAP + 0.5 mg/l NAA) yaitu masing-masing sebesar 0.40. Sitokinin adalah zat pengatur tumbuh yang berperan dalam proses pembelahan sel. Konsentrasi BAP yang diberikan pada media kultur mempengaruhi jumlah tunas yang terbentuk. Pemberian sitokinin yang lebih besar dari auksin dapat mendorong terbentuknya pertumbuhan tunas dan daun. Santosa (2007) perbandingan sitokinin lebih besar dari auksin, maka hal ini akan memperlihatkan stimulasi pertumbuhan tunas dan daun. Sebaliknya apabila sitokinin lebih rendah dari auksin, maka ini akan mengakibatkan stimulasi pada pertumbuhan akar. Sedangkan apabila perbandingan sitokinin dan auksin berimbang, maka pertumbuhan tunas, daun dan akar akan berimbang pula. BAP mempunyai pengaruh terhadap tumbuhan adalah memacu pembentukan tunas aksilar dan tunas adventif, kombinasi antara auksin dan sitokinin akan memacu pertumbuhan kalus, serta memacu pembelahan sel Suryowinoto (1996).
terendah adalah pada perlakuan A15 (BAP 2 mg/l + NAA 0.25 mg/l) yaitu 0.22 cm. Dapat dikatakan bahwa konsentrasi BAP yang tinggi dan NAA yang
rendah dapat menghasilkan tunas yang tidak terlalu panjang. Makin tinggi konsentrasi BAP dan NAA yang diberikan pada media, maka panjang tunas yang dihasilkan semakin pendek. Sebaliknya pemberian konsentrasi BAP dan NAA yang rendah menyebabkan panjang tunas yang tinggi. Keadaan ini diduga akibat periode inkubasi eksplan yang terlalu lama pada media yang mengandung sitokinin sehingga perpanjangan batang terhambat. Hal ini didukung oleh penelitian Seneviratne et al (1996) bahwa pada perlakuan S2 ( 7.5 ppm Kinetin + 3.75 BAP + 0.2 ppm NAA), pemberian BAP yang lebih tinggi dari NAA menghasilkan panjang tunas yang tertinggi sebesar 17 mm. Azwin (2007) bahwa konsentrasi BAP yang tinggi dapat menyebabkan tinggi tanaman terhambat. Herawan (2004) menyatakan bahwa BAP merupakan sitokinin yang keberadaannya dalam medium tumbuh memacu pembelahan sel-sel di bagian apikal bakal tunas, sehingga mempengaruhi perkembangan tunas. Sitokinin disintesis di dalam akar dan didistribusi ke tunas untuk pertumbuhan tunas. Penambahan sitokinin dari luar sangat diperlukan karena akar yang mensintesis sitokinin belum terbentuk dalam tahap induksi kultur jaringan.
Dari hasil analisis data diketahui bahwa pemberian kombinasi ZPT BAP dan NAA belum menunjukkan pengaruh nyata
terhadap
persentasemenyatakan konsentrasi yang diperlukan dari masing-masing ZPT auksin dan sitokinin tergantung dari jenis eksplan, genotipe, kondisi kultur serta jenis auksin dan sitokinin yang dipergunakan.
Dalam penelitian ini jumlah daun tertinggi adalah pada perlakuan A1 (BAP 0,5 mg/l + NAA 0 mg/l) yaitu dengan rataan tertinggi sebesar 0.80,
sedangkan perlakuan lain daun terbentuk belum secara sempurna. Rasio hormon yang diberikan diduga berpengaruh terhadap terbentuknya daun secara normal. Zulkarnain (2009) menyatakan bahwa baik auksin maupun sitokinin, keduanya sering kali diberikan secara bersamaan pada medium kultur untuk menginduksi pola morfogenesis tertentu, walaupun ratio yang dibutuhkan untuk induksi perakaran maupun pucuk tidak terlalu sama, terdapat keragaman yang tinggi antargenus, antarspesies, bahkan antarkultivar dalam hal jenis takaran auksin dan sitokinin untuk menginduksi terjadinya morfogenesis. Jumlah daun yang dihasilkan berhubungan dengan fungsi BAP dalam mendorong pembelahan sel dan proses organogenesis dalam proses mikropopagasi karena BAP dapat menginduksi pembentukan daun dan penggandaan tunas. Oleh karena itu, untuk menghasilkan jumlah tunas maksimum, penentuan jenis zat pengatur tumbuh dengan kombinasi metode pengkulturan merupakan salah satu kunci penting dalam kultur jaringan.
penelitian yang dilakukan Azwin (2007) pada tanaman Aquilaria malaccencis, semakin tinggi konsentrasi ZPT yang diberikan maka jumlah daun A. malaccencis yang dihasilkan semakin rendah. Penambahan ZPT yang lebih tinggi tidak mampu meningkatkan jumlah daun. Hal ini menunjukkan bahwa penambahan ZPT pada media mampu merangsang pembelahan sel di meristem apikal tunas dibanding pada konsentrasi yang lebih tinggi. Abidin (1994) menambahkan bahwa aplikasi dari auksin dan sitokinin dalam berbagai perbandingan akan menghasilkan pertumbuhan yang berbeda. Apabila dalam perbandingan konsentrasi sitokinin lebih besar dari auksin, maka hal ini akan mendorong pertumbuhan tunas dan daun. Sebaliknya jika sitokinin lebih rendah dari auksin, maka hal ini akan mendorong pertumbuhan akar, sedangkan apabila perbandingan sitokinin dan auksin berimbang, maka pertumbuhan dari tunas, akar dan daun akan berimbang pula.
diinduksi tunasnya adalah eksplan yang memiliki jaringan meristem atau bakal tunas seperti tunas terminal dan bakal tunas pada buku. Pemberian BAP 0.5 mg/l merupakan konsentrasi yang tepat untuk menginduksi tunas. Gunawan (1996) menyatakan pada konsentrasi BAP yang tinggi dan masa induksi yang lebih lama menyebabkan penampakan tunas abnormal dan menyebabkan penurunan jumlah tunas yang diperoleh.
Dari hasil penelitian diketahui bahwa pemberian berbagai konsentrasi BAP (0.5 mg/l, 1 mg/l, 1.5 mg/l dan 2 mg/l) pada media WPM hampir semuanya
berpengaruh untuk menginduks i tunas tanaman karet. Dan konsentrasi BAP 0.5 mg/l merupakan konsentrasi yang memberikan respon paling optimal
untuk panjang tunas tanaman karet. Hal ini juga didukung oleh Gunatilleke dan Chandra (1998) yang menyatakan bahwa hanya dengan 0.5 mg/l dan 4.0 mg/l BAP dan 0.5 mg/l BAP yang dikombinasi dengan 0.1 mg/l IBA maka terjadi pemanjangan tunas aksilar dan pada beberapa pengkulturan, masing-masing tunas tanaman karet menghasilkan dua tunas aksilar dibawah tunas terminal dengan panjang 0.5 – 0.7 cm. BAP yang dikombinasikan dengan IBA merupakan kombinasi yang paling efektif untuk pertumbuhan dan perkembangan tunas aksilar dibandingkan dengan 2ip, Kinetin, BAP dan IBA lebih efektif daripada sitokinin dan auksin lainnya pada tanaman lainnya.
penghambat akar.Maka konsentrasi auksin yang rendah lebih memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan tunas tanaman karet.
Media tanam dan komposisi juga mempengaruhi pertumbuhan tunas tanaman karet. Gustian (2009) menyatakan bahwa jenis dan komposisi media sangat mempengaruhi besarnya daya tahan eksplan untuk hidup pada media tersebut, sedangkan zat pengatur tumbuh endogen dan eksogen berpengaruh terhadap besarnya penyerapan zat makanan yang tersedia dalam media kultur. Media WPM (Woody Plant Medium) merupakan media dengan konsentrasi ion yang lebih rendah dari media MS. Media WPM lebih diperuntukkan khusus tanaman berkayu. Seneviratne et al (1996) dalam penelitiannya tentang efek penggunaan medium dasar dan kandungan karbohidrat pada induksi tunas tanaman karet, menghasilkan bahwa Woody Plant Medium lebih baik daripada media MS terhadap pertumbuhan tunas aksilar tanaman karet baik menggunakan eksplan karet muda maupun dewasa. Pengkulturan dengan media MS tidak bertahan lebih dari 24-28 minggu, tetapi dengan menggunakan media WPM pengkulturan dapat bertahan lebih dari satu setengah tahun, sampai penelitian dihentikan.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Kombinasi konsentrasi sitokinin (BAP) yang lebih tinggi dari auksin (NAA) akan mendorong eksplan membentuk tunas.
Kombinasi konsentrasi 0.5 mg/l BAP + 0 mg/l NAA, 0.5 mg/l BAP + 0.25 mg/l NAA, dan 0.5 mg/l BAP + 0.5 mg/l NAA pada media
WPM berpengaruh nyata terhadap persentase munculnya tunas dan jumlah tunas, dengan hasil terbaik pada perlakuan A1 (0.5 mg/l BAP + 0 mg/l NAA).
Kombinasi 0.5 mg/l BAP + 0.25 mg/l NAA memberikan respon panjang tunas yang terbaik dan pada kombinasi 0.5 mg/l BAP + 0 mg/l NAA memberikan respon terhadap terbentuknya daun.
Saran
DAFTAR PUSTAKA
Abidin, Z. 1994. Dasar-dasar Pengetahuan Tentang Zat Pengatur Tumbuh. Angkasa. Bandung.
Abbas, B.S.dan S. Ginting. 1981. Influence of Rootstock and Scion on Girth Increment in Rubber Trees. Buletin Balai Penelitian Perkebunan Medan12, 145-152.
Ahloowalia, B. S., J. Prakash, V. A. Savangikar & C. Savangikar. 2002. Plant Tissue Culture. In : Low Coast Options for Tissue Culture Technology in Developing Countries. Proceedings of a Technical Meeting Organized by The Joint FAO / IAEA Division of Nuclear Techniques in Food and Agriculture. Vienna, 26-30 August 2002.
Asokan, M. P., Sobhana, P., Sushamakumari, S. and Sethuraj, M. R. 1988. Tissue culture propagation of rubber (Hevea brasiliensis Willd ex Adrg. De Juss. Muell. Arg) Clone GT1. Indian Journal of Natural Rubber Research1: 10-12.
Azwin. 2007. Evaluasi Stabilitas Genetik Tanaman Gaharu (Aquilaria malaccensis Lamr) Hasil Kultur In Vitro. Diakses
dari pada tanggal 18 Agustus 2014.
Carron, M.P.dan F. Enjalric. 1983. Perspectives du micro bouturage de l’Hevea brasiliensis. Caoutchoucs et Plastiques 627-628, 65-68.
Carron, M. P., L. Lardet & P. Montoro. 2005. Hevea Microcutting. Technical Notes on The Process. CIRAD.
Carron, M.P., Y. Le Roux, J. Tison, B.G. Dea, V. Caussanel, J. Clair, J. Keli. 2000. Compares Root System Architextures in Seedlings and In Vitro Planlets of Hevea brasiliensis, in the Initial Years of Growth in the Field. Plant & Soil, 223 (1/2) :73-85.
Dewi, I. R. 2008. Peranan dan Fungsi Fitohormon bagi Pertumbuhan Tanaman. Makalah Universitas Padjadjaran. Bandung.
Enjalric, F. and Carron, M. P. 1982. Microbouturagew in vitro de jeunes plants d’ Hevea brasiliensis. CR Academic Science Paris 295: 259-264.
George, E. F., dan P. D. Sherrington. 1984. Plant Propagation by Tissue Culture.
Exegetics Limited. England.
, L, W., 1995. Teknik Kultur In Vitro Dalam Hortikultura. Penebar Swadaya: Jakarta.
, L. W. , 1988. Teknik Kultur Jaringan. Institut Pertanian Bogor.
Gunnatilleke, I.D. dan Chandra, S. 1988. Shoot Tip Culture as a Method of Micropropagation of Hevea. Rubber Research Institute Agalawatta. Journal of the Rubber Research Institute of Sri Lanka. 68pp. 33-34.
Gustian. 2009. Upaya Perbanyakan Tanaman Penghasil Gaharu (Aquilaria malaccensis Lamk) Secara In Vitro. Universitas
Andalas, Padang.
Hanani, N. Dan Fahriyah, 2012. Daya Saing Karet Indonesia Di Pasar
Internasional. Diakses dari
pada tanggal 3 Februari 2014.
Haris, N., Sumaryono, dan M.P. Carron., 2009. Pengaruh Bahan pra-sterilan, Tutup Tabung Kultur, dan Terhadap Tingkat Kontaminasi Eksplan pada Kultur Microcutting Karet. Menara Perkebunan, 2009 77(2), Hal 89-99. Haris, N., Sumaryono, Siswanto, Sumarmadji, M. P. Carron. 2010. Microcutting
of Hevea Rubber Genotype 78 and 91. Indonesian Biothecnology Research Institute for Estate Crops (IBRIEC).
Haris, N. 2013. Batang Bawah Klonal : Apakah Mungkin pada Tanaman Karet?.
Hendaryono, D. P. S., dan A. Wijayani. 1994. Teknik Kultur Jaringan, Pengenalan dan Petunjuk Perbanyakan Secara Vegetatip. Yogyakarta. Kanisius. Herawan, T. 2004. Kultur Jaringan. Protokol Kultur Jaringan Tanaman Hutan.
Biotiforda. Or. Id.
Janudianto, Prahmono A, Napitupulu H, Rahayu S. 2013. Panduan Budidaya Karet Untuk Petani Skala Kecil.Rubber cultivation guide for small-scale farmers. Lembar Informasi AgFor 5. Bogor, Indonesia: World Agroforestry Centre (ICRAF) Southeast Asia Regional Program.
Kosmiatin, M., Husni, A., dan Mariska, I. 2005. Perkecambahan dan Perbanyakan
Gaharu secara In Vitro. Diakses dari
http”//www.indobiogen.or.id/terbitan/pdf/agrobiogen_1_2_2005_62-67.pdf dalam jurnal AgroBiogen 1(2):62-67 pada tanggal 18 Agustus 2014.
Montoro P, MP Carron, L Lardet, A Clement-Demange & J Leclercq (2010). Biotechnologies of rubber tree (Hevea brasiliensis). Aus Pac J Mol Biol Biotechnol 18(1), 81-83.
Muluk, C., 2009. Pengembangan Teknologi Microcutting Untuk Perbanyakan Bahan Tanam Karet di PT Perkebunan Nusantara III. Prosiding Lokakarya Nasional Pemuliaan Tanaman Karet 2009, PT Perkebunan Nusantara III. Gunung Pamela.
Nayanakantha NMC & P Seneviratne (2007). Tissue culture of rubber: past, present and future prospects. Ceylon J Sci 36(2), 116-125.
Paranjothy, K. and Gandimathi, H. (1976). Tissue and Organ Culture of Hevea. Proceedings of International. Rubber Conference, Kuala Lumpur, Malaysia. Pp 59-84.
Pierik, R.I.M., 1997. In Vitro Culture of Higer Plants. Martinus Nijhoff Publishers Dordrecht, The Netherlands.
Pratama, A., 2008. Behavior of Sevral Genotypes During Microcutting Process in Rubber Plant (Hevea brasiliensis). IPB Journal. Bogor.
Salisbury, F. B. Dan C. W. Ross. 1992. Plant Physiology. 4th edition. Belmont, California : Wadsworth Publishing Company.
Santoso, U. dan F. Nursandi, 2001. Kultur Jaringan Tanaman. Penerbit UMM, Malang.
Semangun, H., 2000. Penyakit – Penyakit Tanaman Perkebunan di Indonesia. Gadjah Mada University -Press, Yogyakarta, hal 11-30.
Seneviratne, P., A. W. Flegmann and G. A. S. Wijsekera. 1996. The Positional Effect of The Explant on In Vitro Growth of Axillary Buds of Hevea brasiliensis. Journal of The Rubber Research Institute of Sri Lanka. 78: 60-68 .
1996. The Effect of The Basic Medium and The Carbohydrate Content on Shoot Cultures of Hevea brasiliensis. Journal of The Rubber Research Institute of Sri Lanka. 78: 69-70 .
Setiawan, D. H., dan Andoko, A. 2005. Petunjuk Lengkap Budidaya Karet. Agromedia Pustaka, Jakarta.
Setyamidjaja, D., 1993. Karet Budidaya dan Pengelolaan. Kanisius. Yogyakarta. Sianturi, H. S. D. 2001. Budidaya Tanaman Karet. Universitas Sumaera Utara
Sinha, R. R., Sobhana, P. and Sethuraj, M. R. 1985. Axillary buds of some high yielding clones of Hevea in culture. First IRRDB Hevea tissue culture workshop. Kuala Lumpur, Malaysia. Pp. 16.
Sobhana, P., Sinha, R. R. and Sethuraj, M. R. 1986. Micropropagation of Hevea brasiliensis: retrospect and prospects. In: International Congress of Plant Tissue and Cell Culture, Minnesota, U.S.A.
Steel, R.G dan J.H. Torrie, 1993. Prinsip Dan Prosedur Statiska (Pendekatan Biometric) Penerjemah B. Sumantri. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Suryowinoto, M. 1996. Pemuliaan Tanaman secara In Vitro. Kanisius,
Yogyakarta.
Syamsulbahri., 1996. Bercocok Tanam Tanaman Perkebunan. Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya. Malang.
Tim Penulis PS. 2008. Panduan Lengkap Karet. Penebar Swadaya. Jakarta.
Thulaseedharan, A. 2002. Biotechnological Approaches For Crop Improvement In Natural Rubber at RRII- Present Status. In: Proceedings of the rubber Planter’s Conference, India. 2002. Pp. 135-140.
Thulaseedharan, A., Kumari Jayasree, P. And Venkatachalam, P.2000. Biotechnological approaches for crop improvement in rubber. In; Biotechnology in Horticultural and plantation Crops. Chadha K.L. Ravindran, P. N. And Sahijram L. (Eds.) Malhotra Publishing House (Calcutta) Pp: 323-351.
Torres, K. C. 1989. Tissue Culture Techniques for Horticuktural Crops. New York : Van Nostrand Reinhold.
Wattimena, G.A; L. W. Gunawan; N. A. Mattjik; Endang. S; N. M. A. Wiendi dan Andri. E. 1992. Bioteknologi Tanaman. Penerjemah Ahmad Sukarti Abidin. Pusat Antar Universitas Bioteknologi IPB: Bogor.
Widyastuti, N. 2002. Inovasi Memperbanyak Bibit Tanaman. Diakses dari
Wilkins, M.B., 1992. Fisiologi Tanaman. Penerjemah Sutedjo M.M dan Kartasapoetra A.G. penerbit Bumi Aksara: Jakarta.
Yoeman, M,M ,1986. Plant cell culture technologi. Black well Scientific publication.
Yuwono, T. 2008. Bioteknologi Pertanian. Gadjah mada University Press: Yogyakarta.
Lampiran 1. Data Pengamatan Persentase Munculnya Tunas (%)
Perlakuan Ulangan Total Rataan
(%)
Lampiran 2. Data Transformasi Persentase Munculnya Tunas Arcsin √P
Perlakuan Ulangan Total Rataan
Lampiran 3. Daftar Sidik Ragam Persentase Munculnya Tunas
Lampiran 4. Data Pengamatan Jumlah Tunas (Tunas)
Perlakuan Ulangan Total Rataan
Lampiran 5. Data Transformasi Jumlah Tunas (tunas) √X+0.5
Perlakuan Ulangan Total Rataan
1 2 3 4 5
Lampiran 6. Daftar Sidik Ragam Jumlah Tunas
Lampiran 7. Data Pengamatan Panjang Tunas (cm)
Perlakuan Ulangan Total Rataan
(cm)
Lampiran 8. Data Transformasi Panjang Tunas √X+0.5
Perlakuan Ulangan Total Rataan
Lampiran 9. Daftar Sidik Ragam Panjang Tunas (cm)
Lampiran 10. Data Pengamatan Persentase Terbentuknya Daun (%)
Perlakuan Ulangan Total Rataan
(%)
Lampiran 11. Daftar Sidik Ragam Persentase Terbentuknya Daun (%)
Lampiran 12. Data Pengamatan Jumlah Daun (Helai)
Perlakuan Ulangan Total Rataan
(Helai)
Lampiran 13. Data Transformasi Jumlah Daun √X+0.5
Perlakuan Ulangan Total Rataan
Lampiran 14. Daftar Sidik Ragam Jumlah Daun
Lampiran 15. Data Pengamatan Umur Munculnya Tunas (Hari)
Perlakuan Ulangan Total Rataan
Lampiran 16. Komposisi Medium Woody Plant Medium (WPM)
Sumber : Zulkarnain (2009)
Bahan Kimia Jumlah mg/liter
Lampiran 17. Bagan Penelitian
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16
1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1
2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2
3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3
4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4
5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5
Lampiran 18. Kegiatan Penelitian
Jenis Kegiatan Minggu Ke-
1 2 3 4 5 6 7 8
Sterilisasi Alat-Alat X
Pembuatan Media X
Sterilisasi Bahan Tanaman di
Lapangan X
Pengambilan Bahan Tanaman X Sterilisasi Bahan Tanaman di
Laboratorium X
Persiapan Ruang Tanam X
Penanaman X
Pemeliharaan Eksplan X X X X X X
Peubah amatan
Persentase Munculnya
Tunas (%) X
Jumlah Tunas (tunas) X
Panjang Tunas (cm) X
Persentase Terbentuknya
Daun (%) X
Jumlah Daun (helai) X
Umur Munculnya Tunas
Lampiran Foto Penelitian