Rancang Bangun Inkubator Dengan Menggunakan Lampu Bohlam pada Bagian Atas dan Bawah

65 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

RANCANG BANGUN INKUBATOR DENGAN

MENGGUNAKAN LAMPU BOHLAM PADA BAGIAN ATAS

DAN BAWAH

NIKEN TRI HANDOYO

DEPARTEMEN FISIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

(2)
(3)

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Rancang Bangun Inkubator Dengan Menggunakan Lampu Bohlam pada Bagian Atas dan Bawah adalah benar karya saya di bawah bimbingan dari Drs. M. N. Indro, M.Sc dan Ardian Arief, S.Si, M.Si dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

Bogor, Februari 2014

(4)

ABSTRAK

NIKEN TRI HANDOYO. Rancang Bangun Inkubator Dengan Menggunakan Lampu Bohlam pada Bagian Atas dan Bawah. Dibimbing oleh Drs. M. N. Indro, M.Sc dan Ardian Arief, S.Si, M.Si.

Pada penelitian ini telah dilakukan pembuatan inkubator ayam dengan menggunakan 15 buah lampu, 9 lampu diletakkan pada bagian atas rak telur dan 6 lampu diletakkan dibawah lampu. Termostat yang digunakan untuk mempertahankan temperatur menggunakan sensor LM35 dengan rentang temperatur 1 ˚C-100 ˚C. Pengujian jarak lampu terhadap telur untuk melihat sebaran temperatur pada permukaan rak telur dengan mengunakan beberapa termometer yang diletakkan pada permukaan rak telur dan diolah menggunakan software Surfer 11. Kelembaban dengan diberikan wadah penampungan air lebih besar dibandingkan dengan tidak diberikan wadah penampungan air karena adanya proses penguapan air. Pada masa inkubasi dilakukan pengukuran temperatur dan kelembaban yang dilakukan selama 23 hari dan pengambilan data dilakukan sebanyak 4 kali dalam sehari. Daya tetas inkubator ini mencapai 90%.

Kata kunci: daya tetas, kelembaban, temperatur

ABSTRACT

NIKEN TRI HANDOYO. Design of Incubator by Using light bulb on the Upper and Lower. Supervised by Drs. M. N. Indro, M.Sc and Ardian Arief, S.Si, M.Si.

(5)

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sains

pada

Departemen Fisika

RANCANG BANGUN INKUBATOR DENGAN

MENGGUNAKAN LAMPU BOHLAM PADA BAGIAN ATAS

DAN BAWAH

NIKEN TRI HANDOYO

DEPARTEMEN FISIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

(6)
(7)

Judul Skripsi : Rancang Bangun Inkubator Dengan Menggunakan Lampu Bohlam pada Bagian Atas dan Bawah

Nama : Niken Tri Handoyo NIM : G74090025

Disetujui oleh

Drs. M. N. Indro, M.Sc Pembimbing I

Ardian Arief, S.Si, M.Si Pembimbing II

Diketahui oleh

Dr. Akhiruddin Maddu Kepala Departemen Fisika

(8)
(9)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan pada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan penelitian dengan judul “Rancang Bangun Inkubator Dengan Menggunakan Lampu Bohlam pada Bagian Atas dan Bawah” sebagai salah satu syarat kelulusan program sarjana di Departemen Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Pertanian Bogor.

Dalam penelitian ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak, oleh karena itu penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :

1. Bapak Drs. M.N. Indro, M.Sc dan bapak Ardian Arief, S.Si, M.Si, selaku pembimbing skripsi serta semua dosen dan staff Departemen Fisika IPB.

2. Kedua orang tua, kakak dan adik semua keluarga besar yang selalu memberikan doa, nasehat, semangat dan motivasi kepada penulis. 3. Lutfianur Caniago yang selalu memberikan dukungan dan motivasi

kepada penulis.

4. Teman-teman seperjuangan di fisika instrument Esha A, Chriss Leowardy S, Anugrah Permana Putra S, Rady P, yang telah banyak membantu dalam proses penelitian.

5. Teman-teman satu angkatan Helen, Vina, Agie, Alpi, Upri, Indri, Miko, Mamet, Arlin, Feby, Robi, Khusnul, Mita, Bayu, Zashli, Firda, dan juga teman-teman angkatan 46 lainya yang telah banyak memberi motivasi bagi penulis.

6. Adik-adik dan kakak-kakak tingkat di departemen fisika angkatan 48, 47, dan 45 yang selalu memberikan semangat dan motivasi kepada penulis.

Selanjutnya, penulis menyadari bahwa penelitian ini masih jauh dari sem-purna, sehingga kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan demi kemajuan penelitian ini.

(10)

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL ix

DAFTAR GAMBAR ix

DAFTAR LAMPIRAN x

PENDAHULUAN 1

Latar Belakang 1

Perumusan Masalah 1

Tujuan Penelitian 1

Hipotesa 2

TINJAUAN PUSTAKA 2

Telur Tetas 2

Daya Tetas 2

Temperatur 2

Kelembaban 3

Termometer 3

Higrometer 4

METODE 4

Waktu dan Tempat Penelitian 4

Alat dan Bahan 4

Tahapan Penelitian 5

Pembuatan Rancang Bangun Inkubator 5

Pembuatan Inkubator 5

Pengujian Jarak Lampu Terhadap Telur 6

Pengujian Kelembaban Awal 7

Pemetaan Temperatur Menggunakan Software Surfer 11 7 Pengukuran Temperatur dan Kelembaban Selama Masa Inkubasi 8

Persentase Daya Tetas 8

HASIL DAN PEMBAHASAN 9

Hasil Pembuatan Inkubator 9

Hasil Pengujian Jarak Lampu Terhadap Telur 9

Hasil Pengujian Kelembaban Awal 18

(11)

Hasil Persentase Daya Tetas 31

SIMPULAN DAN SARAN 32

Simpulan 32

Saran 32

DAFTAR PUSTAKA 33

LAMPIRAN 34

(12)

DAFTAR TABEL

1. Temperatur yang diperlukan selama proses penetasan telur ayam 3

2. Perlakuan jarak lampu terhadap telur 7

3. Pengujian jarak terhadap telur untuk persiapan masa inkubasi 16

DAFTAR GAMBAR

1. Box inkubator, letak lampu, dan rak telur 5

2. Jarak lampu terhadap telur 6

3. Letak termometer pada permukaan bagian atas (kiri) dan permukaan bagian

bawah (kanan) 6

4. Inkubator 9

5. Hasil pengukuran temperatur P1 10

6. Hasil pengukuran temperatur P2 10

7. Hasil pengukuran temperatur P3 11

8. Hasil pengukuran temperatur P4 11

9. Hasil pengukuran temperatur Q1 12

10.Hasil pengukuran temperatur Q2 12

11.Hasil pengukuran temperatur Q3 13

12.Hasil pengukuran temperatur Q4 13

13.Konfigurasi jarak lampu untuk persiapan masa inkubasi 16

14.Hasil pengukuran temperatur M1 17

15.Hasil pengukuran temperatur M2 17

16.Hasil pengujian kelembaban jarak lampu 5 cm terhadap rak telur 18 17.Hasil pengujian kelembaban jarak lampu 10 cm terhadap rak telur 19 18.Hasil pengujian kelembaban jarak campuran terhadap rak telur 19

19.Sebaran temperatur P1 21

29.Posisi telur pada inkubator 26

30.Temperatur selama masa inkubasi 27

31.Hari ke-1 masa inkubasi 27

32.Hari ke-5 masa inkubasi 28

33.Hari ke-13 masa inkubasi 28

34.Hari ke-20 masa inkubasi 29

35.Hari ke-21 masa inkubasi 29

(13)

DAFTAR LAMPIRAN

1. Diagram Alir Penelitian 34

2. Jadwal Kegiatan Penelitian 35

3. Data Sheet Thermostats E103 35

4. Data Sheet Termometer (kiri) dan Hyrometer (kanan) 36

5. Data temperatur P1 36

6. Data temperatur P2 37

7. Data temperatur P3 38

8. Data temperatur P4 39

9. Data temperatur Q1 40

10.Data temperatur Q2 41

11.Data temperatur Q3 42

12.Data temperatur Q4 43

13.Data temperatur M1 44

14.Data temperatur M2 45

15.Data temperatur selama masa inkubasi 46

16.Hasil pengujian kelembaban jarak lampu 5 cm terhadap rak telur 47 17.Hasil pengujian kelembaban jarak lampu 10 cm terhadap rak telur 48 18.Hasil pengujian kelembaban jarak campuran terhadap rak telur 49 19.Data kelembaban rata-rata per hari selama masa inkubasi 50

(14)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Asal mula beternak ayam adalah berasal dari ayam hutan liar yang ditangkap dan dipelihara serta dapat bertelur cukup banyak. Tahun demi tahun ayam hutan dari wilayah dunia diseleksi secara ketat oleh para pakar yang ditujukan untuk pemanfaatan telur dan dagingnya.¹

Seiring dengan perkembangan zaman, beternak ayam mengalami perkembangan pesat. Kebutuhan akan telur dan daging ayam membuat para perternak berusaha meningkatkan produksi telur dan daging ayam, baik secara tradisional maupun secara modern. Peternak biasanya menggunakan alat bantu penetasan telur untuk meninggkatkan produksinya (telur maupun daging) yang disebut inkubator. Inkubator berfungsi untuk menggantikan proses pengeraman yang dilakukan oleh indukan. Dengan menggunakan inkubator kapasitas penetasan dapat dilakukan dengan jumlah yang banyak. Tingkat daya tetas menggunakan inkubator memang lebih rendah jika dibandingkan dengan cara alami. Pengeraman dengan ayam memiliki daya tetas 90% sampai dengan 100%, sedangkan dengan inkubator daya tetasnya berkisar 75% sampai dengan 90% tergantung berbagai faktor.²

Aspek penting untuk keberhasilan dalam penetasan telur dengan menggunakan inkubator adalah pengaturan temperatur pada inkubator harus konstan. Kebanyakan spesies unggas memiliki temperatur inkubasi optimum sebesar 37 ̊ C sampai 38 ̊ C dan penyimpangan kecil dari temperatur tersebut dapat memiliki dampak besar pada keberhasilan penetasan dan perkembangan embrio.³ Kelembaban relatif pada penetasan telur ayam sebesar 55% sampai 60% pada 1 sampai 18 hari penetasan telur dan 65% sampai 70% pada 3 hari terakhir.² Ventilasi yang baik merupakan aspek penting yang sebagai pengaruh keberhasilan dalam penetasan telur, ventilasi digunakan untuk sirkulasi udara dan pertukaran gas sehingga tidak terjadi penumpukan gas CO dalam inkubator.

Perumusan Masalah

1. Bagaimana mempertahankan agar rentang temperatur dalam inkubator pada kisaran 37 ˚C sampai 38 ˚C?

2. Bagaimana membuat kelembaban dalam inkubator sebesar 55% sampi 70%?

3. Berapakah jarak yang tepat antara lampu pemanas dengan telur agar mendapatkan sebaran temperatur yang merata?

Tujuan Penelitian

(15)

2

2. Membuat rancang bangun inkubator dengan temperatur dalam mesin 37 ˚C sampai 38 ˚C.

3. Mengukur temperatur dan kelembaban pada inkubator dengan rancang bangun inkubator menggunakan sistem pemanas lampu bohlam pada bagian atas dan bawah telur yang ditetaskan.

4. Mengetahui jarak yang tepat antara lampu dengan telur agar mendapatkan sebaran temperatur yang merata.

Hipotesa

Pengaturan posisi dan jarak lampu dapat mempengaruhi sebaran temperatur dan kelembaban pada inkubator.

TINJAUAN PUSTAKA

Telur Tetas

Telus tetas adalah telur yang berasal dari betina yang dibuahi oleh ayam jantan. Pada pemeliharaan ayam petelur dilakukan untuk menghasilkan telur konsumsi. Telur konsumsi dihasilkan dari indukan betina yang tidak dibuahi oleh pejantan. Telur konsumsi tidak dapat ditetaskan dan tidak dapat menghasilkan anakan, sebaliknya yang dapat ditetaskan dan menghasilkan anakan adalah telur yang telah dibuahi.

Daya Tetas

Daya tetas atau hatchabilitas, yaitu angka yang menunjukkan persentase (%) telur tetas itu berhasil menetas dari jumlah telur yang tertunas. Daya tetas dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut.

� = ℎ � � � � × %

Telur yang tertunas sebanding dengan telur yang dimasukkan kedalam inkubator. Jumlah telur yang tertunas merupakan banyaknya telur yang fertile atau dibuahi oleh pejantan. Daya tetas yang rendah dapat disebabkan umur telur yang digunakan terlalu lama (telah disimpan lebih dari satu minggu), temperature selama penetasan tidak stabil atau fruktuasi, dan kelembaban pada inkubator tidak sesuai.

Temperatur

(16)

3 dalam suatu besaran temperatur atau temperatur. Temperatur merupakan salah satu jenis besaran pokok yang dalam Satuan Internasional (SI) di nyatakan dengan satuan K (Kelvin). Satuan temperatur yang umum dikenal ada empat macam yaitu Celcius, Fahrenheit, Reamur, dan Kelvin. Perbandingan skala antara keempat satuan tersebut masing-masing adalah 5 (Celcius) : 9 (Fahrenheit) : 4 (Reamur) : 5 (Kelvin). Sedangkan titik awal (titik nol) termometer dari keempat system tersebut berbeda antara yang satu dengan yang lain, kecuali antara Celcius dengan Reamur. Dari pengamatan berkali-kali pada induk ayam yang sedang mengeram ditemukan bahwa temperatur yang diperlukan dalam penetasan selalu meningkat. Peningkatan itu seiring dengan semakin tingginya metabolisme yang terjadi di dalam tubuh embrio. Temperatur yang dibutuhkanselama proses penetasan telur seperti pada Tabel 1.

Kelembaban

Kelembaban udara menggambarkan kandungan uap air di udara yang dapat dinyatakan sebagai kelembaban mutlak, kelembaban nisbi (relatif) maupun defisit tekanan uap air. Kelembaban mutlak adalah kandungan uap air (dapat dinyatakan dengan massa uap air atau tekanannya) per satuan volume. Kelembaban nisbi (relative humidity, RH) membandingkan antara kandungan/tekanan uap air actual dengan keadaan jenuhnya atau pada kapasitas udara untuk menampung uap air. Bila kelembaban actual dinyatakan dengan tekanan uap aktual, maka kepasitas udara untuk menempung uap air tersebut merupakan tekanan uap jenuh. Sehingga kelembaban nisbi (RH) ditulis dalam persen (%) sebagai berikut.

�� = � ℎ × %

Kelembaban relatif pada penetasan telur ayam sebesar 55% sampai 60% pada 1 sampai 18 hari penetasan dan 65% sampai 70% untuk 3 hari terakhir.²

Termometer

Alat-alat yang dirancang untuk mengukur temperatur disebut termometer. Ada banyak jenis termometer, tetapi cara kerjanya selalu bergantung pada beberapa sifat materi yang berubah terhadap temperatur. Sebagian besar termometer umum bergantung pada pemuaian materi terhadap naiknya temperatur. Gagasan pertama untuk termometer oleh Galileo, menggunakan pemuaian gas.

Tabel 1. Temperatur yang diperlukan selama proses penetasan telur ayam.⁸

(17)

4

Higrometer

Higrometer, biasanya digunakan untuk mengukur kelembaban, secara umum dapat dibagi menjadi dua kategori RH higrometer dan higrometer titik embun.¹⁰ RH Higrometer menggunakan persamaan¹⁰

�� = � ℎ × %

sedangkan higrometer titik embun menggunakan persamaan¹⁰

�� = � ℎ �ℎ � � °� × %

untuk menentukan RH.¹⁰ RH biasanya diinformasikan dalam bentuk persentase. Higrometer secara umum mempunyai prinsip kerja yaitu dengan menggunakan dua termometer.¹⁰ Termometer pertama dipergunakan untuk mengukur temperatur udara biasa dan yang kedua untuk mengukur temperatur udara jenuh/lembab (bagian bawah termometer diliputi kain/kapas yang basah).¹⁰ Termometer bola kering adalah tabung air raksa yang dibiarkan kering sehingga akan mengukur temperatur udara sebenarnya, sedangkan termometer bola basah membuat tabung air raksa dibasahi agar temperatur yang terukur adalah temperatur saturasi/titik jenuh, yaitu temperatur yang diperlukan agar uap air dapat berkondensasi.¹⁰

METODE

Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan januari 2013 sampai dengan bulan Juni 2013. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Fisika Terapan, Departemen Fisika, Institut Pertanian Bogor.

Alat dan Bahan

(18)

5

Tahapan Penelitian

Pembuatan Rancang Bangun Inkubator

Sketsa rancang bangun inkubator menggunakan program Google SketchUp 8. Program tersebut dapat membantu pembuatan design inkubator dalam bentuk 3D.

Pembuatan Inkubator

Pembuatan inkubator mengikuti design yang telah dibuat pada program Google SketchUp 8. Pembuatan inkubator dimulai dengan pembuatan box inkubator (Gambar 1).

Kayu-kayu yang telah dipersiapkan dipotong sesuai dengan ukuran pada gambar kerangka yang telah dibuat. Pada pembuatan rak telur dilakukan secara terpisah dengan kotak inkubator. Pada bagian samping rak telur diberikan roda agar mudah memasukkan dan mengeluarkan telur saat pemutaran telur.

Pemasangan sumber pemanas (lampu), dan komponen-komponen pengukuran sepeti termometer digital, higrometer, termostat, bak penampungan air dilakukan setelah kerangka inkubator telah terbentuk.

Ventilasi Udara pada inkubator dibuat dengan membuat lubang pada bagian dinding inkubator dan diberikan penutup agar besar kecilnya lubang dapat diatur. Ventilasi udara berfungsi sebagai pertukaran udara didalam mesin dengan lingkungan luar mesin. Setelah embrio telur berkembang, telur akan mengeluarkan gas CO . Gas tersebut akan dibuang keluar mesin melalui ventilasi udara.

(19)

6

Pengujian Jarak Lampu Terhadap Telur

Pengujian jarak lampu menggunakan 15 lampu 5 Watt, dengan lampu pada bagian atas sebanyak 9 buah dan lampu bagian bawah sebanyak 6 buah. Pengujian jarak lampu terhadap telur asumsi tinggi rak telur sama dengan tinggi telur. Pengujian dilakukan pada jarak 5 cm dan 10 cm seperti pada Gambar 2.

Jarak antara lampu bagian atas dan lampu bagian bawah dibuat sama. Pengukuran temperatur dilakukan pada bagian atas rak telur dan bagian bawah rak telur untuk setiap jarak 5 cm dan 10 cm. Pengukuran temperatur bagian bawah rak telur bertujuan untuk mengetahui pengaruh lampu bagian bawah terhadap temperatur pada rak telur. Ventilasi pada inkubator ditutup pada saat pengujian dengan tujuan agar meminimalkan pengaruh dari lingkungan. Pengambilan data dilakukan setiap 1 jam sekali selama 24 jam untuk setiap jarak. Letak termometer pada bagian atas dan pada bagian bawah seperti Gambar 3. Pengujian jarak lampu terhadap telur seperti Tabel 2.

Gambar 2 Jarak lampu terhadap telur

(20)

7

Pengujian Kelembaban Awal

Pengujian yang dimaksudkan adalah pengujian kelembaban dalam ruang inkubator tanpa diberikan bak air di dalam inkubator dan pengujian kelembaban dalam ruang inkubator yang diberikan bak air di dalam inkubator dengan menggunakan higrometer. Ventilasi pada inkubator ditutup pada saat pengujian dengan tujuan agar meminimalkan pengaruh dari lingkungan. Perlakuan pengujian tersebut dimaksudkan untuk memberikan informasi nilai kelembaban sebelum diberikan bak air dan sesudah diberikan bak air. Pengujian dilakukan selama 24 jam dengan posisi jarak lampu sesuai dengan pengujian jarak lampu untuk pengujian kelembaban tanpa bak air dan dengan menggunakan bak air. Pengambilan data dimulai saat lampu dinyalakan, dilakukan selama 24 jam dan data diambil setiap 1 jam sekali.

Pemetaan Temperatur Menggunakan Software Surfer 11

Data yang didapat dari masing-masing pengukuran, diolah dengan menggunakan software surfer 11 agar dapat dilihat sebaran temperatur dari inkubator. Dibutuhkan koordinat letak teremometer dan nilai dari temperatur agar temperatur inkubator dapat dipetakan. Hasil dari software surfer 11 berupa kontur temperatur dengan tingkatan warna tertentu.

(21)

8

Pengukuran Temperatur dan Kelembaban Selama Masa Inkubasi

Pengukuran temperatur dan kelembaban merupakan proses akhir dimana telur telah diletakkan di dalam inkubator sampai telur tersebut menetas. Pengukuran temperatur dilakukan empat kali dalam sehari, yaitu pada pagi hari, siang, sore, dan malam hari karena pada saat saat itu mulai terjadi perubahan temperatur pada lingkungan yang dapat menyebabkan terjadinya perubahan temperatur pada inkubator. Pengukuran kelembaban dilakukan secara bersamaan saat pengukuran temperatur. Pengukuran temperatur dan kelembaban berlangsung sampai telur menetas.

Persentase Daya Tetas

Persentase keberhasilan dalam penetasan telur ditentukan oleh nilai daya tetas inkubator tersebut.

(22)

9

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Pembuatan Inkubator

Kotak inkubator terbuat dari kayu lapis atau plywood yang terdiri dari kotak inkubator dan rak telur. Kotak inkubator berukuran 60 cm x 60 cm x 60 cm sedangkan rak telur berukuran 51 cm x 54 cm x 5 cm. Rak telur dapat menampung telur sebanyak 100 butir telur. Rak telur berada ditengah inkubator dengan jarak 20 cm dari alas inkubator. Lampu diletakan sebanyak 9 buah pada bagian atas dan 6 buah pada bagian bawah. Wadah penampung air terbuat dari bahan stainless steel berukuran 40 cm x 30 cm x 5 cm yang diletakan di bagian bawah rak telur. Foto hasil pembuatan inkubator seperti pada Gambar 4.

Termostat yang digunakan merupakan buatan industri rumahan dengan tipe Termostat E103. Termostat diatur agar dapat menyala saat temperatur inkubator dibawah 37 ˚C dan padam saat temperatur inkubator berada diatas 38 ˚C. Termostat E103 menggunakan sensor temperatur LM35 dengan rentang temperatur 1 ˚C samapai100 ˚C. Kalibrasi Termostat E103 dengan menyesuaikan temperatur pada termometer yang menjadi acuan.

Hasil Pengujian Jarak Lampu Terhadap Telur

Hasil pengujian jarak lampu terhadap telur diperoleh data yang menunjukkan hubungan antara waktu saat dinyalakannya lampu dengan temperatur ruang inkubator. Letak termometer pada bagian atas permukaan rak telur dan permukaan bagian bawah rak telur seperti pada Gambar 3. Pengujian jarak 5 cm dilakukan sebanyak empat perlakuan ( Tabel 2 ) yaitu P1, P2, P3, dan P4, pengujian tersebut masing-masing dilakukan selama 24 jam. Hasil pengujian jarak 5 cm (data pada Lampiran 5, 6, 7, dan 8) ditunjukkan oleh Gambar 5 sampai Gambar 8. Pengujian jarak 10 cm dilakukan sebanyak empat perlakuan ( Tabel 2 ) yaitu Q1, Q2, Q3, dan Q4, pengujian tersebut masing-masing dilakukan selama 24 jam. Hasil pengujian jarak 10 cm (data pada Lampiran 9, 10, 11, dan 12) ditunjukkan oleh Gambar 9 sampai Gambar 12.

(23)

10

Gambar 5 Hasil pengukuran temperatur P1

27

Gambar 6 Hasil pengukuran temperatur P2

(24)

11

Gambar 8 Hasil pengukuran temperatur P4

27,5

Gambar 7 Hasil pengukuran temperatur P3

(25)

12

Gambar 9 Hasil pengukuran temperatur Q1

28

Gambar 10 Hasil pengukuran temperatur Q2

(26)

13

Gambar 12 Hasil pengukuran temperatur Q4

28,5

Gambar 11 Hasil pengukuran temperatur Q3

(27)

14

Dari 8 grafik tersebut dapat di lihat terjadi perbedaan termperatur antara yang diberikan air dan yang tidak diberikan air. Pada pengujian jarak 5 cm, perlakuan P1 (data Lampiran 5) memiliki temperatur tertinggi sebesar 38.8 °C dan temperatur terendah sebesar 36.1 °C . Temperatur rata-rata tertinggi berada pada daerah sekitar T sebesar 38.5 °C dan temperatur rata-rata terendah pada daerah sekitar T sebesar 36.3 °C. Perlakuan P1 secara keseluruhan memiliki temperatur rata-rata sebesar 37.5 °C. Perlakuan P2 (data Lampiran 6) memiliki temperatur tertinggi sebesar 38.9 °C dan temperatur terendah sebesar 35.8 °C. Temperatur rata-rata tertinggi berada pada daerah sekitar T sebesar 37.9 °C dan temperatur rata-rata terendah pada daerah sekitar T sebesar 35.9 °C. Perlakuan P2 secara keseluruhan memiliki temperatur rata-rata sebesar 36.7 °C. Perlakuan P3 (data Lampiran 7) memiliki temperatur tertinggi sebesar 38.0 °C dan temperatur terendah sebesar 34.4 °C. Temperatur rata-rata tertinggi berada pada daerah sekitar T sebesar 37.4 °C dan temperatur rata-rata terendah pada daerah sekitar T sebesar 36.0 °C. Perlakuan P3 secara keseluruhan memiliki temperatur rata-rata sebesar 36.6 °C. Perlakuan P4 (data Lampiran 8) memiliki temperatur tertinggi sebesar 38.1 °C dan temperatur terendah sebesar 35.8 °C. Temperatur rata-rata tertinggi berada pada daerah sekitar T sebesar 38.0 °C dan temperatur rata-rata terendah pada daerah sekitar T sebesar 36.1 °C. Perlakuan P4 secara keseluruhan memiliki temperatur rata-rata sebesar 36.7 °C. Data yang digunakan pada perlakuan P1, P2, P3, dan P4 untuk nilai tertinggi, terendah, rata-rata tertinggi, rata-rata terendah, dan rata-rata secara keseluruhan adalah data dari waktu satu jam pertama sampai 24 jam tanpa menggunakan data waktu awal (detik ke-0). Perbandingan perlakuan P1 dan P3 terlihat pada nilai rata-rata keseluruhan, rata- rata keseluruhan P1 lebih besar dibandingkan P3. Adanya penguapan air dari wadah penampungan air pada inkubator menaikan temperatur rata-rata keseluruhan pada perlakuan P1. Perbandingan perlakuan P2 dan P4 pada nilai rata-rata keseluruhan menunjukkan nilai yang sama. Penguapan air dari wadah penampung air pada inkubator tidak memberikan pengaruh pada nilai rata-rata keseluruhan P2. Hasil dari pengujian pada jarak 5 cm masih terdapat temperatur yang berada di bawah 37.0 °C dan terdapat temperatur yang berada di atas 38.0 °C pada permukaan bagian atas rak telur.

(28)

15 temperatur rata-rata terendah pada daerah sekitar T sebesar 36.2 °C. Perlakuan Q4 secara keseluruhan memiliki temperatur rata-rata sebesar 36.6 °C. Data yang digunakan pada perlakuan Q1, Q2, Q3, dan Q4 untuk nilai tertinggi, terendah, rata-rata tertinggi, rata-rata-rata-rata terendah, dan rata-rata-rata-rata secara keseluruhan adalah data dari waktu satu jam pertama sampai 24 jam tanpa menggunakan data waktu awal (detik ke-0). Perbandingan perlakuan Q1 dan Q3 terlihat pada nilai rata-rata keseluruhan, rata- rata keseluruhan Q1 lebih besar dibandingkan Q3. Perbandingan perlakuan Q2 dan Q4 pada nilai rata-rata keseluruhan menunjukkan perlakuan Q2 memiliki nilai temperatur rata-rata keseluruhan lebih besar dari pada nilai temperatur rata-rata pada Q4. Penguapan air pada wadah penampungan air memberikan penambahan uap air pada ruang inkubator yang menyebabkan terjadinya kenaikan temperatur rata-rata keseluruhan pada Q1 dan Q2. Hasil dari pengujian pada jarak 10 cm masih terdapat temperatur yang berada di bawah 37.0 °C dan terdapat temperatur yang berada di atas 38.0 °C pada permukaan bagian atas rak telur.

Perbandingan antara perlakuan P1 dengan Q1, perlakuan P1 dan Q1 memiliki nilai rata-rata keseluruhan yang sama sebesar 37.5 °C. Perlakuan P1 memiliki selang antara 36.1 °C - 38.8 °C sedangkan Q1 memiliki selang antara 36.5 °C - 38.6 °C. Perlakuan P1 memiliki selang lebih lebar dibandingkan selang perlakuan Q1. Perbandingan antara perlakuan P2 dengan Q2, perlakuan Q2 memiliki nilai rata-rata keseluruhan lebih tinggi dibandingkan perlakuan P2. Perlakuan P2 memiliki selang antara 35.8 °C - 38.9 °C, sedangkan pelakuan Q2 memiliki selang antara 36.2 °C - 38.1 °C. Perlakuan P2 memiliki selang lebih lebar dibandingkan selang perlakuan Q2. Perbandingan antara perlakuan P3 dengan Q3, perlakuan Q3 memiliki nilai temperatur rata-rata keseluruhan lebih besar dibandingkan P3. Perlakuan P3 memiliki selang antara 34.4 °C – 38.0 °C, sedangkan pelakuan Q3 memiliki selang antara 36.2 °C - 38.4 °C. Perlakuan P3 memiliki selang lebih lebar dibandingkan selang perlakuan Q3. Perbandingan antara perlakuan P4 dengan Q4, perlakuan P4 memiliki nilai temperatur rata-rata keseluruhan lebih besar dibandingkan Q4. Perlakuan P4 memiliki selang antara 35.8 °C - 38.1 °C, sedangkan pelakuan Q4 memiliki selang antara 36.0 °C - 37.4 °C. Perlakuan P4 memiliki selang lebih lebar dibandingkan selang perlakuan Q4. Pengujian jarak 10 cm memiliki selang temperatur lebih kecil dibandingkan pengujian jarak 5 cm.

(29)

16

temperatur lebih dari 38 °C . Pada perlakuan Q4, daerah sekitar T memiliki temperatur yang lebih tinggi dibandingkan daerah lainnya.

Hasil pengujian jarak 5 cm dan 10 cm cm masih terdapat temperatur yang berada di bawah 37.0 °C dan terdapat temperatur yang berada di atas 38.0 °C pada permukaan bagian atas rak telur. Perlakuan tambahan mengikuti konfigurasi jarak lampu untuk persiapan masa inkubasi dapat dilihat pada Gambar 16. Konfigurasi jarak lampu tersebut diambil berdasarkan dasarnya data dari pengujian jarak 5 cm dan 10 cm. Jarak lampu bagian bawah 5 cm dari permukaan rak bagian bawah bertujuan untuk meningkatkan penguapan air karena berada sejajar dengan wadah penampung air sehingga dapat meningkatkan kelembaban. Letak termometer pada bagian atas permukaan rak telur dan permukaan bagian bawah rak telur seperti pada Gambar 3. Perlakuan tambahan untuk persiapan masa inkubasi seperti Tabel 3, masing-masing perlakuan dilakukan selama 24 jam pengambilan data dilakukan setiap satu jam sekali. Hasil pengujian tersebut ditunjukkan pada Gambar 14 dan Gambar 15.

Tabel 3 Pengujian jarak terhadap telur untuk persiapan masa inkubasi

Perlakuan Jarak

(30)

17

Gambar 14 Hasil pengukuran temperatur M1

27

Gambar 15 Hasil pengukuran temperatur M2

(31)

18

Pengujian jarak terhadap telur untuk persiapan masa inkubasi, Perlakuan M1 (data Lampiran 13) memiliki temperatur tertinggi sebesar 38.2 °C dan temperatur terendah sebesar 36.9 °C . Temperatur rata-rata tertinggi berada pada daerah sekitar T sebesar 37.9 °C dan temperatur rata-rata terendah pada daerah sekitar T sebesar 37.1 °C. Perlakuan M1 secara keseluruhan memiliki temperatur rata-rata sebesar 37.5 °C. Perlakuan M1 memiliki selang antara 36.9 °C - 38.2 °C mendekati selang temperatur optimum untuk penetasan telur yaitu 37.0 °C – 38.0 °C. Perlakuan M2 (data Lampiran 14) memiliki temperatur tertinggi sebesar 38.7 °C dan temperatur terendah sebesar 35.9 °C . Temperatur rata-rata tertinggi berada pada daerah sekitar T sebesar 38.2 °C dan temperatur rata-rata terendah pada daerah sekitar T sebesar 36.1 °C. Perlakuan M1 secara keseluruhan memiliki temperatur rata-rata sebesar 36.8 °C. Perlakuan M1 memiliki selang antara 35.9 °C - 38.7 °C. Data yang digunakan pada perlakuan M1 dan M2 untuk nilai tertinggi, terendah, rata-rata tertinggi, rata-rata terendah, dan rata-rata secara keseluruhan adalah data dari waktu satu jam pertama sampai 24 jam tanpa menggunakan data waktu awal (detik ke-0).

Hasil Pengujian Kelembaban Awal

Kelembaban relatif pada penetasan telur ayam sebesar 55% sampai 60% pada 1 sampai 18 hari penetasan dan 65% sampai 70% untuk 3 hari terakhir.² Pada pengujian kelembaban, alat yang digunakan untuk mengukur kelembaban adalah higrometer. Higrometer diletakkan tepat di tengah permukaan atas rak telur agar dapat mengetahui kelembaban di sekitar telur saat masa inkubasi, dengan asumsi bahwa kelembabannya merata ke seluruh ruang inkubator. Pengujian kelembaban dilakukan selama 24 jam dan data diambil pada setiap 1 jam sebanyak dua perlakuan untuk setiap jarak, yaitu diberikan air dan tanpa diberikan air. Hasil dari pengujian kelembaban pada jarak 5 cm, 10 cm, dan jarak lampu campuran untuk persiapan masa inkubasi, kelembaban ruang inkubator sudah memenuhi persyaratan yang diperlukan dalam penetasan telur. Kelembaban dengan diberikan wadah penampungan air lebih besar dibandingkan dengan tidak diberikan wadah penampungan air karena adanya proses penguapan air. Hasil pengujian jarak 5 cm, 10 cm, dan jarak lampu campuran ditunjukkan pada Gambar 16 sampai Gambar 18.

Gambar 16 Hasil pengujian kelembaban jarak lampu 5 cm terhadap rak telur

(32)

19

Hasil pengujian kelembaban jarak lampu 5 cm terhadap rak telur (data Lampiran 14), kelembaban terendah pada perlakuan dengan diberikan air sebesar 60%, sedangkan tanpa diberikan air sebesar 51%. Hasil pengujian kelembaban jarak lampu 10 cm terhadap rak telur (data Lampiran 15), kelembaban terendah pada perlakuan dengan diberikan air sebesar 60%, sedangkan tanpa diberikan air sebesar 52%. Hasil pengujian kelembaban jarak campuran terhadap rak telur (data Lampiran 16), kelembaban terendah pada perlakuan dengan diberikan air sebesar 62%, sedangkan tanpa diberikan air sebesar 46%. Kelembaban nisbi di daerah Bogor cukup tinggi kurang lebih 70%,¹¹ mempengaruhi kelembaban nisbi dalam ruang inkubator. Kelembaban jenuh selama 24 jam saat lampu dinyalakan pada ruang inkubator cukup tinggi karena adanya pengaruh dari lingkungan.

Gambar 17 Hasil pengujian kelembaban jarak lampu 10 cm terhadap rak telur

45

Gambar 18 Hasil pengujian kelembaban jarak campuran terhadap rak telur

(33)

20

Hasil Pemetaan Temperatur Menggunakan Software Surfer 11

Data hasil pengujian jarak terhadap telur, kemudian diolah menggunakan software surfer 11 untuk melihat sebaran temperatur disetiap wilayah permukaan rak telur. Surfer 11 membutuhkan nilai koordinat dari setiap termometer dan besarnya nilai temperatur yang diukur. Hasil pengujian jarak 5 cm, 10 cm, dan jarak campuran ditunjukkan oleh Gambar 19 sampai Gambar 28 . Hasil dari pengujian jarak 5 cm dan 10 cm terhadap lampu pada permukaan rak telur bagian atas menunjukkan sebaran temperatur yang kurang merata pada setiap daerah permukaan rak telur, masih terdapat daerah yang temperaturnya kurang dari rentang 37 ˚C sampai 38 ˚C. Pada pengujian jarak campuran sudah memenuhi persyaratan untuk penetasan telur ayam. Pada setiap daerah permukaan rak telur bagian atas temperaturnya antara 37 ˚C dan 38 ˚C.

Hasil pemetaan temperatur menggunakan software surfer 11, pada perlakuan P1 temperatur terendah terletak pada koordinat (44.9 , 4.1) sebesar 36.3˚C

dan temperatur tertinggi terletak pada koordinat (26.9 , 40.2) sebesar 38.5 ˚C. Perlakuan P2 temperatur terendah terletak pada koordinat (24.5 , 51) sebesar 35.9˚C

dan temperatur tertinggi terletak pada koordinat (3.4 , 27.5) sebesar 37.9 ˚C. Perlakuan P3 temperatur terendah terletak pada koordinat (5.5 , 47.6) sebesar

35.9˚C dan temperatur tertinggi terletak pada koordinat (26.4 , 13) sebesar 37.4 ˚C.

Perlakuan P4 temperatur terendah terletak pada koordinat (24.5 , 51) sebesar 36.0˚C

dan temperatur tertinggi terletak pada koordinat (3.4 , 27.5) sebesar 38.0 ˚C. Perlakuan Q1 temperatur terendah terletak pada koordinat (8.1 , 6.1) sebesar 36.8˚C

dan temperatur tertinggi terletak pada koordinat (26.9 , 40.2) sebesar 38.1 ˚C. Perlakuan Q2 temperatur terendah terletak pada koordinat (26.4 , 13) sebesar 36.3˚C

dan temperatur tertinggi terletak pada koordinat (48 , 27.2) sebesar 37.8 ˚C. Perlakuan Q3 temperatur terendah terletak pada koordinat (5.5,4.1) sebesar 36.2 ˚C

dan temperatur tertinggi terletak pada koordinat (26.9 , 40.2) sebesar 38.1 ˚C. Perlakuan Q4 temperatur terendah terletak pada koordinat (8.1 , 6.1) sebesar 36.1˚C

dan temperatur tertinggi terletak pada koordinat (17.2 , 28) sebesar 38.1 ˚C. Perlakuan M1 temperatur terendah terletak pada koordinat (8.1 , 6.1) sebesar 37.1˚C

dan temperatur tertinggi terletak pada koordinat (17.2 , 28) sebesar 37.9˚C.Perlakuan Q4 temperatur terendah terletak pada koordinat (24.5 , 51) sebesar 36.0˚C dan temperatur tertinggi terletak pada koordinat (3.4 , 27.5) sebesar

(34)

21

Gambar 19 Sebaran temperatur P1

(35)

22

Gambar 21 Sebaran temperatur P3

(36)

23

Gambar 23 Sebaran temperatur Q1

(37)

24

Gambar 25 Sebaran temperatur Q3

(38)

25

Gambar 27 Sebaran temperatur M1

(39)

26

Hasil Pengukuran Temperatur dan Kelembaban Selama Masa Inkubasi

Inkubator diletakkan di sebuah ruangan agar terhindar dari perubahan temperatur dan kelembaban secara drastis.Jarak lampu yang dipakai oleh inkubator adalah jarak lampu campuran yaitu jarak lampu 5 cm dan jarak lampu 10 seperti pada Gambar 16. Sebelum telur dimasukkan ke dalam inkubator, temperatur inkubator dijaga agar konstan dengan rentang 37 ˚C sampai 38 ˚C selama kurang lebih 2 jam sebelum telur dimasukkan. Telur yang telah disediakan sebanyak 50 butir telur ayam arab. Sebelum telur dimasukkan, telur disimpan dengan temperatur yang rendah dan kelembaban yang tinggi kerena temperatur yang rendah dapat memperlambat perkembangan embrio sampai telur siap untuk dimasukkan kedalam inkubator, sedangkan kelembaban yang tinggi akan mengurangi proses penguapan pada telur.² Telur diberikan tanda “X” pada satu sisi dan tanda “O” pada sisi belakang atau berlawanan, tanda tersebut berguna untuk memudahkan dalam mengetahui posisi akhir pada saat proses pemutaran telur selama masa inkubasi. Posisi telur pada inkubator seperti pada Gambar 29 dan letak termometer seperti Gambar 3 (kiri).

Hasil pengukuran temperatur selama masa inkubasi ditunjukkan oleh Gambar 30. Termometer 2 (T ), Termometer 7 (T ),dan Termometer 8 (T ) adalah termometer yang berada dekat telur di dalam ruang inkubator, sedangkan Termometer 1 atau termostat (T ), Termometer 3 (T ), Termometer 4 (T ), Termometer 5 (T ), dan Termometer 6 (T ) termometer sebagai kontrol temperatur dalam ruang inkubator. Pada awal masa inkubasi temperatur yang berada didekat telur mejadi rendah sedangkan temperatur yang berada ruang inkubator umumnya meningkat. Pada hari ke-12 terjadi perkembangan embrio dari telur yang ditandai dengan naiknya temperatur pada T , T , dan T . Embrio pada telur berkembang terus sampai pada hari ke-20 ditandai dengan meningkatnya temperatur pada T , T , dan T . Pada hari ke-20 telur mulai menetas, temperatur pada T , T , dan T mulai mengalami penurunan. Sebaran temperatur pada masa inkubasi ditunjukkan oleh Gambar 31 sampai Gambar 35.

(40)

27

Gambar 30 Temperatur selama masa inkubasi

36 36,5 37 37,5 38 38,5 39 39,5

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 0 1 1 1 2 1 3 1 4 1 5 1 6 1 7 1 8 1 9 2 0 2 1 2 2 2 3 2 4 2 5

TE

MPE

RA

TUR

˚C

WAKTU (HARI)

T E M P E R AT U R R ATA - R ATA P E R H A R I

S E L A M A M A S A I N K U B A S I

T T T T T T T T

(41)

28

Gambar 32 Hari ke-5 masa inkubasi

(42)

29

Gambar 34 Hari ke-20 masa inkubasi

(43)

30

Pengamatan perkembangan embrio terlihat dari kenaikan temperatur pada T , T , dan T . Hari ke-1 masa inkubasi, pada koordinat (17.2 , 28), (36.7 , 24.6), dan (26.9 , 40.2) masing-masing memiliki temperatur 37.2 ˚C, 37.1 ˚C, dan 37.4 ˚C. Temperatur pada daerah sekitar koordinat tersebut lebih rendah dibandingkan yang lain. Hari ke-5 masa inkubasi, pada koordinat (17.2 , 28), (36.7 , 24.6), dan (26.9 , 40.2) masing-masing memiliki temperatur 37.6 ˚C, 37.6 ˚C, dan 37.5 ˚C.Temperatur pada koordinat tersebut mengalami kenaikan disebabkan adanya perkembangan embrio. Pada hari ke-5 masa penetasan mulai terbentuk jaringan reproduksi.¹² Hari ke-13 masa inkubasi, pada koordinat (17.2 , 28), (36.7 , 24.6), dan (26.9 , 40.2) masing-masing memiliki temperatur 38.5 ˚C, 38.0 ˚C, dan 37.8 ˚C. Temperatur pada daerah sekitar koordinat tersebut lebih tinggi dibandingkan temperatur yang lain. Pada hari ke-13 masa penetasan ayam, mulai terbentuk tubuh bagian bawah mulai terbentuk, mata, dan sisik pada kaki. ¹² Hari ke-20 masa inkubasi, pada koordinat (17.2 , 28), (36.7 , 24.6), dan (26.9 , 40.2) masing-masing memiliki temperatur 39.5 ˚C, 39.1 ˚C, dan 39.0 ˚C. Temperatur pada hari ke-20 merupakan temperatur tertinggi dari masa inkubasi, karena sudah terdapat ayam yang menetas pada hari tersebut. Hari ke-21 masa inkubasi, pada koordinat (17.2 , 28), (36.7 , 24.6), dan (26.9 , 40.2) masing-masing memiliki temperatur 37.6 ˚C, 37.4 ˚C, dan 37.2 ˚C. Temperatur mulai menurun kembali, karena hanya sedikit telur yang masih tersisa.

Kelembaban pada masa inkubasi dijaga agar tetap konstan. Pemanasan lampu dalam inkubator, temperatur dan kelembaban linkungan, dan juga volume air pada wadah penampung air dalam inkubator merupakan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya fluktuasi kelembaban dalam inkubator.

(44)

31

Hasil Persentase Daya Tetas

Persentase keberhasilan dalam penetasan telur ditentukan oleh nilai daya tetas inkubator tersebut.

� = � � � � × %

(45)

32

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Letak posisi dan jarak lampu sebagai sumber pemanas pada rancangan inkubator mempengaruhi pemerataan temperatur pada inkubator. Termostat membantu mempertahankan temperatur dengan rentang 37 °C sampai 38 °C, jika temperatur inkubator kurang dari 37°C maka lampu akan menyala dan jika temperatur lebih dari 38°C maka lampu akan mati. Pada pengujian jarak 5 cm, perlakuan P1 memiliki temperatur rata-rata secara menyeluruh lebih tinggi dibandingkan dengan P3. Pada P1 dan P3 masih terdapat daerah yang temperaturnya dibawah 37 °C dan diatas 38 °C. Perbandingan temperatur rata-rata pada perlakuan P2 dan P4 memiliki nilai perbandingan yang sama. P2 memiliki nilai temperatur rata-rata sebesar 36.7 °C, sedangkan P4 memiliki nilai temperatur rata-rata sebesar 36.7 °C. Lampu bagian bawah memiliki pengaruh untuk menaikan temperatur pada permukaan bagian bawah.

Pada pengujian jarak 10 cm, perlakuan Q1 memiliki temperatur rata-rata secara menyeluruh lebih tinggi dibandingkan dengan Q3. Pada Q1 dan Q3 masih terdapat daerah yang temperaturnya dibawah 37 °C dan diatas 38 °C. Perbandingan temperatur rata pada perlakuan Q2 dengan Q4, Q2 memiliki temperatur rata-rata yang lebih tinggi dibandingkan Q4. Q2 memiliki nilai temperatur rata-rata-rata-rata sebesar 36,8 °C, sedangkan Q4 memiliki nilai temperatur rata-rata sebesar 36,6°C. Perbandingan tersebut menunjukkan adanya pengaruh pemberian air pada inkubator dengan perubahan temperatur pada inkubator.

Kelembaban dengan rentang antara 55% sampai 70 % didapatkan dengan cara memberikan wadah penampung air. Kelembaban pada pengujian jarak 5cm dan pada jarak 10 cm dengan diberikan air memiliki nilai kelembaban konstan yang sama yaitu pada 60%. Pada pengujian jarak campuran untuk persiapan masa inkubasi kelembaban konstan pada nilai 62%. Kelembaban tanpa diberikan air unuk jarak 5 cm, jarak 10 cm, dan jarak campuran masing-masing memiliki nilai kelembaban konstan sebesar 51%, 52%, dan 46%.

Pada masa inkubasi embrio telur mengalami perkembangan pada hari ke-12 ditandai dengan naiknya temperatur pada termometer yang berada di dekat telur. Pada hari ke-20 telur mulai menetas, temperatur tertinggi pada masa inkubasi.

Saran

(46)

33

DAFTAR PUSTAKA

1. S Alex. Pedoman Sukses Budidaya Ayam Petelur. Yogyakarta: Pustaka Baru Press.

2. Hermawan, Rudi. Rahasia Membuat Inkubator Berkualitas Kiat Menetaskan Unggas & Membuat Inkubator Sendiri. Yogyakarta: Pustaka Baru Press

3. Wilson, H. R. Physiological requirements of the developing embryo: Temperature and turning. Chapter 9. Pages 145–156 in: Avian Incubation. S. G. Tullett, ed. Butterworth-Heinemann, London, UK. 1991

4. Suharno, Bambang. Beternak Itik secara Intensif. Jakarta: Penebar Swadaya. 2002.

5. Sugiharto, Eddy. Meningkatkan Keuntungan Berternak puyuh. Jakarta: AgroMedia Pustaka. 2005.

6. Wakhid, Abdul. Buku Pintar dan Bisnis Itik. Jakarta: AgroMedia Pustaka. 2010.

7. Handoko. Klimatologi Dasar. Jakarta: PT Dunia Pusaka Jaya. 1995. 8. Tirto H, Isman. Kiat Sukses Menetaskan Telur Ayam. Jakarta: AgroMedia

Pustaka. 2010.

9. Giancoli, Douglas C. Fisika Edisi Kelima Jilid 1. Jakarta: Erlangga. 2001. 10.Ghosh, Arun K. Introduction to Measurement and Instrumentation, 3rd

ed. New Delhi: PHI Learning Private Limited. 2009.

(47)

34

LAMPIRAN

Lampiran 1 Diagram Alir Penelitian

mulai

Studi Pustaka dan Perumusan

Pembuatan design inkubator

Penyediaan bahan

Pembuatan inkubator

Pengujian jarak lampu terhadap telur

Pengujian kelembaban

Pemetaan temperatur ruang

Persiapan masa inkubasi

Pengukuran temperatur dan kelembaban selama masa inkubasi

Pengolahan data

Analisis data

(48)

35

Lampiran 3 Data Sheet Thermostats E103 Lampiran 2 Jadwal Kegiatan Penelitian

Kegiatan Penelitian Bulan I Bulan II Bulan III Bulan VI Bulan V Telaah Pustaka

Pembuatan

Proposal

Design inkubator Pembuatan kotak inkubator

Pengukuran jarak

lampu

Pengukuran

kelembaban awal

Pengujian

kelembaban awal Pengujian

kestabilan suhu dan kelembaban

Pengukuran suhu

dan kelembaban

(49)

36

Lampiran 4 Data Sheet Termometer (kiri) dan Hyrometer (kanan)

Lampiran 5 Data temperatur P1

t (detik)

T

(˚C) T (˚C) T (˚C) T (˚C) T (˚C) T (˚C) T (˚C) T (˚C)

0 28.9 29.1 29.3 29.1 28.2 29.3 29.1 28.5

3600 37.2 37.4 37.9 37.5 36.8 37.9 37.9 38.3

7200 37.7 37.4 37.8 37.3 36.8 37.9 38.2 38.8

10800 36.9 37.2 37.2 36.8 36.3 37.9 38.0 38.9

14400 37.6 37.6 37.5 37.1 36.3 37.5 38.1 38.5

18000 37.0 37.2 37.1 36.8 36.2 37.3 37.9 38.9

21600 37.9 37.5 37.6 37.2 36.5 37.6 38.1 38.8

25200 37.2 37.3 37.5 36.9 36.2 37.5 37.9 38.1

28800 37.1 37.2 37.1 36.8 36.1 37.2 37.8 38.1

32400 37.9 37.5 37.6 37.2 36.5 37.6 38.2 38.8

36000 37.8 37.4 37.5 37.1 36.4 37.6 38.1 38.9

39600 37.9 37.5 37.6 37.2 36.5 37.6 38.2 38.4

43200 37.5 37.5 37.5 37.2 36.4 37.5 38.1 38.6

46800 37.5 37.3 37.3 37.0 36.3 37.5 38.0 38.5

50400 37.0 37.2 37.1 36.8 36.1 37.3 37.9 38.4

54000 38.1 37.5 37.5 37.1 36.4 37.6 38.1 38.9

57600 37.7 37.5 37.5 37.1 36.3 37.5 38.1 38.7

61200 37.3 37.4 37.3 36.9 36.2 37.3 37.9 38.2

64800 37.8 37.3 37.4 37.1 36.3 37.6 38.1 38.9

68400 37.8 37.5 37.6 37.2 36.4 37.6 38.1 38.8

72000 37.5 37.5 37.4 37.1 36.3 37.5 38.1 38.5

75600 37.6 37.5 37.5 37.2 36.3 37.6 38.1 38.5

79200 37.3 37.3 37.3 37.0 36.2 37.4 37.9 38.2

82800 37.4 37.4 37.3 37.1 36.2 37.5 38.0 38.3

(50)

37

Lampiran 6 Data temperatur P2

t (detik)

termostat

(˚C) T (˚C) T (˚C) T (˚C) T (˚C) T (˚C) (˚C)T T (˚C) T (˚C) T (˚C) T (˚C) T (˚C) T (˚C)

(51)

38

Lampiran 7 Data temperatur P3

t (detik)

T

(˚C) T (˚C) T (˚C) T (˚C) T (˚C) T (˚C) T (˚C) T (˚C)

0 28.8 28.8 28.9 28.8 28.8 28.9 28.7 27.8

3600 37.3 36.1 35.4 35.9 35.7 37.3 36.8 34.4

7200 37.5 37.3 36.1 35.9 35.9 35.8 37.2 36.7

10800 37.7 37.3 36.2 36.1 36.1 35.9 37.5 37.1

14400 37.5 37.3 36.2 35.9 36.1 35.8 37.3 36.5

18000 38.0 37.5 36.5 36.2 36.2 36.2 37.7 37.1

21600 37.8 37.2 36.5 36.2 36.2 36.1 37.6 37.1

25200 37.1 37.1 36.1 35.9 36.2 36.1 37.6 37.0

28800 37.2 37.2 36.2 35.9 36.1 35.9 37.4 37.4

32400 37.2 37.2 36.2 36.0 36.1 35.9 37.3 37.1

36000 38.0 37.5 36.3 36.2 36.2 36.5 37.6 36.7

39600 37.6 37.3 36.2 36.2 36.2 35.9 37.5 36.4

43200 37.3 37.2 36.2 36.0 36.1 35.8 37.3 36.3

46800 37.1 37.1 36.1 35.9 36.1 35.8 37.3 36.8

50400 38.0 37.3 36.3 36.2 36.3 36.1 37.6 36.9

54000 37.3 37.2 36.2 36.0 36.0 35.8 37.3 36.2

57600 37.2 37.2 36.1 36.0 36.1 35.8 37.1 36.1

61200 38.0 37.4 36.3 36.2 36.3 35.8 37.5 36.4

64800 37.0 37.0 36.0 35.9 36.1 35.8 37.4 37.1

68400 37.4 37.3 36.2 36.0 36.1 35.9 37.3 36.1

72000 37.6 37.3 36.2 36.1 36.2 35.9 37.3 36.1

75600 37.7 37.3 36.3 36.1 36.2 36.0 37.5 36.2

79200 37.0 37.0 36.1 35.9 36.1 35.9 37.3 36.7

82800 37.0 37.1 36.1 35.9 36.0 35.8 37.3 36.8

(52)

39

Lampiran 8 Data temperatur P4

t (detik)

termostat

(˚C) T (˚C) T (˚C) T (˚C) T (˚C) T (˚C) (˚C)T T (˚C) T (˚C) T (˚C) T (˚C) T (˚C) T (˚C)

(53)

40

Lampiran 9 Data temperatur Q1

t (detik)

T

(˚C) T (˚C) T (˚C) T (˚C) T (˚C) T (˚C) T (˚C) T (˚C)

0 29.0 28.9 29.2 29.1 29.3 29.3 28.8 28.3

3600 37.5 37.9 37.9 37.5 37.8 38.1 38.0 38.6

7200 37.7 37.9 37.6 37.2 37.4 37.8 37.9 38.4

10800 37.9 37.7 37.2 36.8 36.9 37.3 37.7 38.0

14400 36.9 37.4 37.0 36.5 36.8 37.2 37.5 37.8

18000 38.1 37.7 37.3 36.8 37.1 37.4 37.8 38.3

21600 37.3 37.6 37.2 36.8 36.9 37.2 37.6 37.8

25200 37.8 37.6 37.2 36.8 37.1 37.3 37.8 38.2

28800 37.8 37.8 37.3 36.9 37.1 37.3 37.8 38.2

32400 37.6 37.7 37.3 36.9 37.0 37.3 37.7 38.1

36000 37.1 37.5 37.1 36.6 36.8 37.1 37.4 37.6

39600 37.9 37.8 37.3 36.9 37.1 37.3 37.8 38.2

43200 38.1 37.8 37.3 36.9 37.1 37.3 37.8 38.3

46800 37.7 37.8 37.3 36.9 37.0 37.3 37.8 38.1

50400 37.2 37.5 37.1 36.7 36.9 37.2 37.5 37.8

54000 37.9 37.7 37.3 36.9 37.1 37.3 37.8 38.2

57600 37.4 37.6 37.2 37.8 36.9 37.2 37.6 37.8

61200 38.0 37.8 37.3 36.9 37.1 37.3 37.8 38.1

64800 37.2 37.5 37.1 36.7 36.8 37.1 37.5 37.7

68400 37.8 37.8 37.3 36.9 37.1 37.3 37.8 38.2

72000 37.5 37.5 37.2 36.8 37.1 37.3 37.8 38.4

75600 37.1 37.5 37.1 36.5 36.8 37.1 37.5 37.7

79200 37.9 37.8 37.4 36.9 37.1 37.4 37.8 38.2

82800 38.1 37.7 37.3 36.9 37.0 37.3 37.8 38.2

(54)

41

Lampiran 10 Data temperatur Q2

t (detik)

termostat

(˚C) T (˚C) T (˚C) T (˚C) T (˚C) T (˚C) (˚C)T T (˚C) T (˚C) T (˚C) T (˚C) T (˚C) T (˚C)

(55)

42

Lampiran 11 Data temperatur Q3

t (detik)

T

(˚C) T (˚C) T (˚C) T (˚C) T (˚C) T (˚C) T (˚C) T (˚C)

0 28.9 29.0 29.2 29.1 29.3 29.3 29.1 28.4

3600 38.0 37.7 36.8 36.3 36.5 36.8 37.7 38.4

7200 37.0 37.4 36.8 36.2 36.5 36.8 37.5 38.2

10800 37.9 37.7 36.9 36.4 36.6 36.9 37.7 38.2

14400 38.1 37.8 37.0 36.4 36.5 36.9 37.7 38.3

18000 37.3 37.5 36.8 36.2 36.3 36.7 37.4 37.8

21600 37.4 37.5 36.8 36.3 36.5 36.9 37.6 38.2

25200 37.5 37.7 36.9 36.3 36.6 36.9 37.5 38.1

28800 37.5 37.7 36.9 36.3 36.5 36.9 37.5 38.1

32400 37.2 37.5 36.8 36.2 36.4 36.7 37.3 37.8

36000 38.0 37.3 36.8 36.2 36.4 36.7 37.3 38.1

39600 37.1 37.3 36.7 36.2 36.3 36.6 37.9 38.1

43200 38.1 37.7 37.0 36.3 36.7 36.9 37.7 38.3

46800 37.1 37.3 36.8 36.2 36.5 36.8 37.5 37.8

50400 37.6 37.5 36.9 36.3 36.7 36.9 37.6 38.3

54000 37.8 37.7 37.0 36.7 36.6 37.0 37.7 38.4

57600 37.4 37.5 36.9 36.3 36.4 37.0 37.4 37.8

61200 38.1 37.7 37.0 36.4 36.6 36.9 37.8 38.3

64800 38.1 37.7 37.0 36.3 36.6 36.9 37.7 38.3

68400 37.3 37.5 36.9 36.3 36.5 36.8 37.5 37.9

72000 37.8 37.6 36.9 36.3 36.5 36.8 37.6 38.1

75600 37.7 37.5 36.8 36.3 36.5 36.8 37.6 38.3

79200 37.5 37.5 36.9 36.3 36.4 36.8 37.5 38.1

82800 37.2 37.4 36.8 36.2 36.4 36.8 37.5 37.9

(56)

43

Lampiran 12 Data temperatur Q4

t (detik)

termostat

(˚C) T (˚C) T (˚C) T (˚C) T (˚C) T (˚C) (˚C)T T (˚C) T (˚C) T (˚C) T (˚C) T (˚C) T (˚C)

(57)

44

Lampiran 13 Data temperatur M1

t (detik)

T

(˚C) T (˚C) T (˚C) T (˚C) T (˚C) T (˚C) T (˚C) T (˚C)

0 27.8 27.6 28.7 27.5 28.2 28.5 27.9 28.4

3600 37.5 37.6 37.5 37.3 37.5 37.3 37.0 37.5

7200 37.7 37.8 37.4 37.3 37.3 37.4 37.3 37.9

10800 37.2 37.8 37.2 37.1 37.1 37.2 37.8 37.5

14400 37.8 38.0 37.4 37.3 37.4 37.3 38.1 37.4

18000 37.7 37.8 37.4 37.2 37.2 37.3 38.0 37.8

21600 37.1 37.8 37.1 36.9 37.0 37.0 37.6 38.0

25200 37.1 37.8 37.0 37.0 37.1 37.0 37.6 37.8

28800 37.3 37.9 37.3 37.2 37.3 37.2 37.9 38.0

32400 37.5 38.0 37.3 37.2 37.3 37.2 37.8 37.8

36000 37.4 37.9 37.2 37.2 37.3 37.2 37.8 37.9

39600 37.8 38.1 37.3 37.3 37.4 37.3 37.9 37.9

43200 37.2 37.8 37.1 37.1 37.2 37.1 37.8 38.0

46800 37.5 38.0 37.3 37.1 37.3 37.2 37.8 37.8

50400 37.2 37.9 37.2 37.1 37.2 37.1 37.7 37.7

54000 37.0 37.8 37.1 36.9 37.1 37.1 37.8 38.0

57600 37.2 37.9 37.1 37.1 37.2 37.1 37.7 37.6

61200 37.7 38.1 37.4 37.3 37.3 37.3 37.9 37.9

64800 37.3 37.9 37.2 37.2 37.2 37.2 37.8 37.8

68400 37.6 38.1 37.4 37.0 37.3 37.3 37.8 37.8

72000 37.2 37.9 37.2 37.1 37.2 37.1 37.7 37.7

75600 37.6 37.9 37.3 37.2 37.4 37.3 37.9 38.2

79200 37.5 38.0 37.3 37.2 37.3 37.3 37.8 37.8

82800 37.4 38.1 37.3 37.2 37.3 37.3 37.8 37.8

(58)

45

Lampiran 14 Data temperatur M2

t (detik)

termostat

(˚C) T (˚C) T (˚C) T (˚C) T (˚C) T (˚C) (˚C)T T (˚C) T (˚C) T (˚C) T (˚C) T (˚C) T (˚C)

(59)

46

Lampiran 15 Data temperatur selama masa inkubasi

t (hari)

T

(˚C) T (˚C) T (˚C) T (˚C) T (˚C) T (˚C) T (˚C) T (˚C)

1 37.4 37.2 38.4 38.1 38.2 38.1 37.1 37.4

2 37.3 38.0 37.6 37.3 37.6 37.6 37.6 37.8

3 37.4 38.0 37.6 37.0 37.5 37.7 37.6 38.0

4 37.3 37.9 37.6 37.1 37.6 37.7 37.6 38.3

5 37.8 37.6 37.5 37.1 37.3 37.5 37.6 37.5

6 38.0 37.5 37.4 36.9 37.4 37.6 37.8 37.4

7 37.9 37.5 37.3 37.2 37.2 37.4 37.8 37.7

8 37.8 37.7 37.4 37.1 37.2 37.5 37.7 37.5

9 37.7 37.5 37.3 37.1 37.2 37.3 37.7 37.3

10 37.3 37.4 37.3 37.1 37.2 37.4 37.7 37.5

11 37.6 37.6 37.2 37.0 37.1 37.4 37.6 36.9

12 37.5 38.0 37.2 37.0 37.0 37.2 37.8 37.2

13 37.3 38.5 37.3 36.8 37.0 37.3 38.0 37.8

14 37.5 38.2 37.0 36.5 37.0 37.1 38.0 37.9

15 37.6 38.6 37.0 36.9 37.0 37.3 38.2 37.9

16 38.0 38.4 37.2 37.2 37.2 37.5 38.3 37.8

17 37.9 38.5 37.2 37.2 37.2 37.4 38.3 38.0

18 37.8 39.1 37.3 37.1 37.2 37.6 38.9 38.4

19 37.5 39.1 37.1 37.1 37.2 37.4 39.1 38.4

20 37.5 39.3 38.1 38.1 38.2 38.3 39.1 39.0

21 38.0 37.6 37.1 37.0 36.9 37.3 37.4 37.2

22 37.6 38.2 37.2 37.2 37.3 37.2 37.7 38.0

(60)
(61)

48

(62)

49 Lampiran 18 Hasil pengujian kelembaban jarak campuran terhadap

(63)

50

Lampiran 19 Data kelembaban rata-rata per hari selama masa inkubasi

waktu (hari)

Kelembaban rata-rata per hari inkubator (%)

Kelembaban rata-rata per hari ruang (%)

1 55 57

2 65 58

3 67 59

4 68 66

5 71 66

6 70 65

7 66 65

8 66 64

9 65 64

10 77 66

11 73 66

12 71 67

13 68 65

14 65 63

15 65 61

16 58 61

17 54 60

18 63 62

19 67 62

20 60 66

21 69 66

22 62 69

(64)

51 Lampiran 20 Dokumentasi

(65)

52

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Jakarta pada tanggal 2 Juli 1991 dari Ayah Djumingin dan Ibu Mistriyati. Penulis adalah putra ketiga dari empat bersaudara. Tahun 2009 penulis lulus dari SMA Negeri 1 Cikampek dan pada tahun yang sama penulis lulus seleksi masuk Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) dan diterima di Departemen Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan alam.

Figur

Gambar 2 Jarak lampu terhadap telur
Gambar 2 Jarak lampu terhadap telur . View in document p.19
Tabel 2 Perlakuan jarak lampu terhadap telur
Tabel 2 Perlakuan jarak lampu terhadap telur . View in document p.20
Gambar 4 Inkubator
Gambar 4 Inkubator . View in document p.22
Gambar 5 Hasil pengukuran temperatur P1
Gambar 5 Hasil pengukuran temperatur P1 . View in document p.23
Gambar 7 Hasil pengukuran temperatur P3
Gambar 7 Hasil pengukuran temperatur P3 . View in document p.24
Gambar 9 Hasil pengukuran temperatur Q1
Gambar 9 Hasil pengukuran temperatur Q1 . View in document p.25
Gambar 12 Hasil pengukuran temperatur Q4
Gambar 12 Hasil pengukuran temperatur Q4 . View in document p.26
Gambar 11 Hasil pengukuran temperatur Q3
Gambar 11 Hasil pengukuran temperatur Q3 . View in document p.26
Gambar 15 Hasil pengukuran temperatur M2
Gambar 15 Hasil pengukuran temperatur M2 . View in document p.30
Gambar 14 Hasil pengukuran temperatur M1
Gambar 14 Hasil pengukuran temperatur M1 . View in document p.30
Gambar 16 Hasil pengujian kelembaban jarak lampu 5 cm terhadap rak telur
Gambar 16 Hasil pengujian kelembaban jarak lampu 5 cm terhadap rak telur . View in document p.31
Gambar 18 Hasil pengujian  kelembaban jarak campuran terhadap rak telur
Gambar 18 Hasil pengujian kelembaban jarak campuran terhadap rak telur . View in document p.32
Gambar 19 Sebaran temperatur P1
Gambar 19 Sebaran temperatur P1 . View in document p.34
Gambar 21 Sebaran temperatur P3
Gambar 21 Sebaran temperatur P3 . View in document p.35
Gambar 23 Sebaran temperatur Q1
Gambar 23 Sebaran temperatur Q1 . View in document p.36
Gambar 25 Sebaran temperatur Q3
Gambar 25 Sebaran temperatur Q3 . View in document p.37
Gambar  27 Sebaran temperatur M1
Gambar 27 Sebaran temperatur M1 . View in document p.38
Gambar 30 Temperatur selama masa inkubasi
Gambar 30 Temperatur selama masa inkubasi . View in document p.40
Gambar 31 Hari ke-1 masa inkubasi
Gambar 31 Hari ke 1 masa inkubasi . View in document p.40
Gambar 32 Hari ke-5 masa inkubasi
Gambar 32 Hari ke 5 masa inkubasi . View in document p.41
Gambar 34 Hari ke-20 masa inkubasi
Gambar 34 Hari ke 20 masa inkubasi . View in document p.42
Gambar 35 Hari ke-21 masa inkubasi
Gambar 35 Hari ke 21 masa inkubasi . View in document p.42

Referensi

Memperbarui...