Perilaku Perkembangbiakan Burung Jalak Bali (Leucopsar Rotschildi Stresemann 1912) Dalam Penangkaran Di Safari Bird Farm Nganjuk Jawa Timur.

40  11 

Teks penuh

(1)

PERILAKU PERKEMBANGBIAKAN BURUNG JALAK BALI (

Leucopsar

rotschildi

Stresemann 1912

)

DALAM PENANGKARAN

DI SAFARI

BIRD FARM

NGANJUK JAWA TIMUR

SETA ASRI AMELIAH

DEPARTEMEN KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN EKOWISATA FAKULTAS KEHUTANAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN

SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Perilaku Perkembangbiakan Burung Jalak Bali (Leucopsar rotschildi Stresemann 1912) dalam Penangkaran di Safari Bird Farm Nganjuk Jawa Timur adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

Bogor, Februari 2015

Seta Asri Ameliah

(4)

ABSTRAK

SETA ASRI AMELIAH. Perilaku Perkembangbiakan Burung Jalak Bali (Leucopsar rotschildi Stresemann 1912) dalam Penangkaran di Safari Bird Farm Nganjuk Jawa Timur. Dibimbing oleh BURHANUDDIN MASYUD dan JARWADI BUDI HERNOWO.

Safari Bird Farm (SBF) merupakan perusahaan yang berhasil menangkarkan jalak bali. Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi teknik perkembangbiakan, faktor yang mempengaruhi perkembangbiakan dan tingkat keberhasian reproduksi serta perilaku perkembangbiakan burung jalak bali di penangkaran SBF, Nganjuk Jawa Timur. Penelitian dilaksanakan di penangkaran SBF, Jawa Timur pada Agustus 2014 terhadap sepasang jalak bali. Pengamatan perilaku jalak bali menggunakan metode focal animal sampling dengan pencatatan one zero sampling, sedangkan pengumpulan data mengenai teknik perkembangbiakan dilakukan dengan wawancara dan pengukuran langsung. Teknik perkembangbiakan burung jalak bali meliputi pemilihan bibit, penentuan jenis kelamin, jodoh dan mengawinkan jalak bali. Tingkat keberhasilan reproduksi di SBF masuk dalam kategori sedang untuk perkembangbiakan induk dan daya tetas telur, kategori rendah untuk angka kematian anakan, dan hand rearing untuk pembesaran anakan. Perilaku perkembangbiakan jalak bali di penangkaran SBF meliputi perilaku berpasangan, kawin dan reproduksi.

Kata Kunci : jalak bali, perilaku perkembangbiakan, teknik perkembangbiakan.

ABSTRACT

SETA ASRI AMELIAH. Breeding Behaviour of Bali Myna (Leucopsar rotschildi Stresemann 1912) in Safari Bird Farm Nganjuk East Java. Supervised by BURHANUDDIN MASYUD dan JARWADI BUDI HERNOWO.

Safari Bird Farm (SBF) is a company that successfully captivating bali myna. This research purpose is to identify the reproduction method, affecting factors, success rate, and the reproduction behavior in the SBF (Nganjuk, East Java). The research conducted in SBF during Agustus 2014 towards a couple of bali myna. Bali myna observation was done using focal animal sampling method with an one zero sampling recording, while the reproduction technic data collected using interview and direct measurement. Bali myna reproduction technic consists of choosing the baby, gender, and couple. Reproduction success rate in SBF categorized into medium for the egg hatch rate and parental reproduction, while for baby mortality and hand rearing were categorized into low. Bali myna reproduction behavior in SBF captivity consist of pairing, mating, and reproducting.

(5)

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan

pada

Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata

SETA ASRI AMELIAH

DEPARTEMEN KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN EKOWISATA FAKULTAS KEHUTANAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

2015

PERILAKU PERKEMBANGBIAKAN BURUNG JALAK BALI (

Leucopsar

rotschildi

Stresemann 1912

)

DALAM PENANGKARAN

(6)
(7)
(8)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wata’ala atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian yang akan dilaksanakan pada bulan Agustus 2014 ini ialah manajemen penangkaran satwa, dengan judul Perilaku Perkembangbiakan Burung Jalak Bali (Leucopsar rotschildi Stresemann 1912) dalam Penangkaran di Safari Bird Farm Nganjuk Jawa Timur.

Terima kasih penulis ucapkan kepada Dr Ir Burhanuddin Masyud, MS selaku pembimbing I dan Dr Ir Jarwadi Budi Hernowo, MScF selaku pembimbing II . Di samping itu, penghargaan penulis sampaikan kepada Ibu Susilowati beserta staff Penangkaran Safari Bird Farm yang telah memberikan izin untuk kegiatan penelitian yang akan dilaksanakan. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada ayah, ibu, serta seluruh keluarga, atas segala doa dan kasih sayangnya.

Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

(9)

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL vii

DAFTAR GAMBAR vii

DAFTAR LAMPIRAN vii

PENDAHULUAN 1

Latar Belakang 1

Tujuan Penelitian 1

Manfaat Penelitian 2

METODE 2

Waktu dan Tempat 2

Alat dan Bahan 2

Metode Pengumpulan Data 2

Analisis Data 3

HASIL DAN PEMBAHASAN 4

Teknik Pengembangbiakan dan Tingkat Keberhasilan Reproduksi Burung

Jalak Bali di Penangkaran 4

Perilaku Perkembangbiakan Burung Jalak Bali (Leucopsar rotschildi) 12

SIMPULAN DAN SARAN 25

Simpulan 25

Saran 25

DAFTAR PUSTAKA 26

(10)

DAFTAR TABEL

1 Kriteria dan ciri penentuan jenis kelamin jalak bali jantan dan

jalak bali betina di SBF 5

2 Persentase dan kriteria tingkat perkembangbiakan induk, daya

tetas telur dan angka kematian jalak bali di SBF 10 3 Frekuensi dan durasi perilaku kopulasi burung jalak bali jantan

dan betina di penangkaran SBF 18

DAFTAR GAMBAR

1 Burung jalak bali jantan (a) dan betina (b) di penangkaran SBF 6

2 Sangkar penjodohan 7

3 Kandang penjodohan 8

4 Inkubator di SBF 11

5 Piyik yang sedang membuka paruh saat menerima makanan 12 6 Frekuensi (a) dan (b) durasi perilaku bersuara burung jalak bali

pra kopulasi 14

7 Frekuensi (a) dan (b) durasi perilaku saling dekat burung jalak

bali pra kopulasi 16

8 Frekuensi (a) dan (b) durasi perilaku saling menelisik bulu antara

jantan dan betina pra kopulasi 17

9 Perilaku bersuara (a) saling dekat (b) dan saling menelisik tubuh

(c) 17

10 Sketsa perilaku kopulasi jalak bali 19

11 Sketsa perilaku mandi burung jalak bali pada fase pasca kopulasi 19 12 Frekuensi (a) dan 12 (b) durasi perilaku mandi burung jalak bali

pasca kopulasi 20

13 Sketsa perilaku membawa bahan sarang 21

14 Frekuensi (a) dan (b) durasi perilaku membawa bahan sarang

burung jalak bali pasca kopulasi 22

15 Frekuensi (a) dan durasi (b) membangun sarang bururng jalak

bali pasca kopulasi 23

DAFTAR LAMPIRAN

1 Hasil perhitungan persentase jumlah induk yang berkembangbiak, daya tetas telur dan kematian anakan jalak bali

(11)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Jalak bali (Leucopsar rotschildi) memiliki tampilan yang indah dan elok sehingga banyak diminati oleh para kolektor dan pemelihara burung, akibatnya banyak yang melakukan penangkapan liar yang berpengaruh pada terganggunya habitat dan populasi burung di alam (Alikodra 1987). Untuk mendukung upaya pelestarian burung jalak bali, maka dilakukan perlindungan terhadap habitat aslinya (in situ) dan perlindungan di luar habitat (ex situ) yakni dalam bentuk penangkaran.

Penangkaran terhadap burung jalak bali merupakan salah satu bentuk pengelolaan populasi di luar habitat, dan diharapkan pemanfaatannya tidak lagi tergantung pada sumberdaya di alam yang jumlahnya sangat terbatas. Tingkat keberhasilan penangkaran dinilai dari tingkat keberhasilan breeding yang telah dilakukan. Menurut Helvoort (1988) diacu dalam Yunanti (2012), penangkaran satwaliar dapat dinilai berhasil apabila teknologi reproduksi jenis satwa tersebut telah dikuasai, artinya usaha penangkaran tersebut telah berhasil mengembangbiakan jenis satwa yang ditangkarkan dan satwa hasil penangkaran tersebut berhasil bereproduksi di alam bebas. Minimnya penelitian tentang perkembangbiakan burung jalak bali untuk keberhasilan penangkaran menyebabkan pengetahuan dalam melakukan kegiatan penangkaran menjadi sedikit. Dalam rangka menunjang kegiatan penangkaran burung jalak bali, diperlukan pemahaman dan pengetahuan tentang perilaku. Pengetahuan tentang perilaku penting diketahui sebagai salah satu dasar utama dalam manajemen pengelolaan.

Prijono dan Handini (1996) mengatakan, perilaku dapat diartikan sebagai ekspresi satwa dalam bentuk gerakan-gerakan. Menurut Tanudimadja 1978 perilaku timbul karena adanya rangsangan yang berasal dari dalam tubuh individu atau dari lingkungannya dan perilaku satwa ini berfungsi untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan, baik dari luar maupun dari dalam. Pengenalan perilaku perlu diketahui untuk mendapatkan metode pemeliharaan yang tepat. Berdasarkan hal itu, penelitian ini penting dilakukan terutama yang terkait dengan perilaku perkembangbiakan. Sukses perkembangbiakan di penangkaran sangat terkait dengan prektek teknik perkembangbiakan yang dilakukan, sehingga hal ini juga penting untuk dikaji.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk :

1. Mengidentifikasi teknik pengembangbiakan dan tingkat keberhasian reproduksi burung jalak bali (Leucopsar rotschildi) di penangkaran Safari Bird Farm. 2. Mengidentifikasi dan mendeskripsikan perilaku perkembangbiakan burung

(12)

2

Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini adalah sebagai informasi dan rekomendasi pengembangan penangkaran burung jalak bali (Leucopsar rotschildi).

METODE

Waktu dan Tempat

Penelitian ini dilaksanakan di penangkaran Safari Bird Farm (SBF), Jawa Timur pada bulan Agustus 2014 selama 15 hari. Waktu pengamatan dimulai dari pukul 06.00-18.00 WIB. Lokasi penangkaran SBF terletak di Jalan Supriyadi Perum Kudu Permai Kecamatan Kertosono Kabupaten Nganjuk Provinsi Jawa Timur dengan luas areal ± 800 m2 dan memiliki luas bangunan ± 450 m2. Penangkaran Safari Bird Farm (SBF) merupakan penangkaran yang bergerak dibidang penangkaran burung berkicau, berdiri pada tahun 2003. Penangkaran SBF secara keseluruhan dipimpin oleh seorang pemilik sekaligus penanggung jawab yang bernama Susilawati dan memiliki satu orang petugas kandang yang bernama Warsono. Selain menangkarkan jalak bali penangkaran SBF juga menangkarkan beberapa jenis burung lain seperti Jalak suren (Racupica contra), Kacer (Copsychus saularis), Cucak rawa (Pycnonotus zeylanicus), Cucak jenggot (Alophoxius bres), Cucak ijo (Chloropsis sonnerati), Nuri kepala hitam (Lorius lory) dan Murai batu (Copsychus malabaricus).

Alat dan Bahan

Alat yang digunakan pada pengambilan data penelitian ini meliputi timbangan, meteran, stopwatch, kamera digital, Closed Circuit Television (cctv), laptop, panduan wawancara, dan alat tulis, sedangkan objek yang digunakan dalam penelitian ini adalah sepasang jalak bali (Leucopsar rotschildi) yang dipelihara dalam kandang reproduksi dengan ukuran 3 m x 1.5 m x 2.5 m, fasilitas dalam kandang meliputi wadah pakan, tempat mandi, kayu tenggeran, kotak sarang dan tanaman.

Metode Pengumpulan Data

1.Teknik perkembangbiakan

Data yang diambil meliputi aspek perkembangbiakan yakni penentuan jenis kelamin, pemilihan induk, penjodohan jalak bali dan mengawinkan jalak bali. 2. Tingkat keberhasilan reproduksi

Data yang diambil meliputi tingkat daya tetas telur, perkembangbiakan induk, angka kematian anakan burung jalak bali (piyik) dan pembesaran anakan burung jalak bali (piyik). Tingkat keberhasilan reproduksi dikumpulkan melalui wawancara dan penelusuran catatan dokumen yang dimiliki pengelola.

3. Perilaku perkembangbiakan

(13)

alat bantu Closed Circuit Television (cctv) sebanyak dua buah yang diletakan di sudut atas kandang dan dihubungkan dengan satu buah laptop dengan Software Sentra Vision Securitiy sehingga tampilan dalam kandang dapat diamati pada layar laptop. Pengamat dapat mengamati perilaku perkembangbiakan jalak bali secara langsung pada hasil yang tampil pada layar laptop mau pun dengan cara pengulangan yaitu menyimpan semua kejadian yang terekam dengan cctv. Setiap perilaku dicatat frekuensi dan durasinya. Pengamatan perilaku dilakukan dengan merekam perilaku jalak bali di kandang mulai pukul 06.00-18.00 WIB setiap hari selama 15 hari. Pencatatan frekuensi dan durasi perilaku dilakukan dengan memutar kembali hasil rekaman video. Pengamatan ini dilakukan menggunakan metode focal animal sampling, yakni dengan mengamati satu individu yang menjadi fokus pengamatan dan mencatat secara rinci semua perilaku yang terjadi pada periode waktu yang ditentukan (Martin dan Bateson 1993). Pencatatan perilaku dilakukan dengan one zero sampling (Lehner 1979), yakni pemberian nilai satu jika ada perilaku yang dilakukan dan pemberian nilai nol jika tidak ada perilaku.

Analisis Data

1. Data tentang teknik perkembangbiakan yang terkumpul dianalisis secara deskriptif yang dilengkapi dengan tabel dan gambar.

2. Data mengenai keberhasilan perkembangbiakan yang dianalisis mencakup jumlah induk yang bertelur, jumlah telur yang menetas dan jumlah kematian anak, dihitung dengan rumus (North dan Bell 1990) sebagai berikut :

Persentase jumlah induk bertelur (%) = �

��� %

Keterangan :

T : Induk betina yang bertelur Tt : Induk betina seluruhnya

Persentase daya tetas telur(%) = � % Keterangan :

α : Jumlah telur yang menetas

β : Jumlah telur yang ada

Persentase kematian anak (%) = �

��� %

Keterangan :

M : Jumlah anak yang mati

Mt : Jumlah anak yang menetas (hidup)

(14)

4

3. Data perilaku perkembangbiakan burung jalak bali meliputi perilaku berpasangan (jodoh), kawin dan bertelur dihitung nilai frekuensi dan durasinya serta disaji secara deskriptif dengan tabel dan gambar. Gambaran umum perilaku perkembangbiakan diperoleh dengan penghitungan persentase setiap perilaku. Persentase frekuensi dan durasi setiap perilaku dihitung dengan mengacu Martin dan Bateson (1993), yakni :

Persentase frekuensi perilaku (%) = AB x 100 % Keterangan :

A : Jumlah frekuensi suatu perilaku B : Jumlah seluruh frekuensi perilaku

Persentase durasi perilaku (%) = A

B x 100 %

Keterangan :

A : Jumlah durasi suatu perilaku B : Jumlah seluruh durasi perilaku

HASIL DAN PEMBAHASAN

Teknik Pengembangbiakan dan Tingkat Keberhasilan Reproduksi Burung Jalak Bali di Penangkaran

Teknik pengembangbiakan burung jalak bali

Faktor yang sangat diperhatikan pada proses pengembangbiakan dalam penangkaran burung jalak bali di SBF adalah pemilihan bibit indukan jalak bali, penentuan jenis kelamin, dan menjodohkan jalak bali.

a. Pemilihan bibit

Penangkaran SBF memilih bibit jalak bali untuk dijadikan indukan didasarkan pada kriteria burung yang sehat dengan postur tubuh tanpa cacat yakni kondisi bulu dan tubuh burung memiliki warna putih bersih dan cemerlang dengan warna biru segar pada bagian muka, memiliki paruh kokoh dan tebal. Ciri-ciri tersebut hampir sama dengan Ciri-ciri-Ciri-ciri induk jalak bali yang diungkapkan

Masy’ud (2010) yaitu sehat, aktif, nafsu makannya baik, mata jernih dan bulu

halus, dengan usia minimal 2 tahun karena seekor jalak bali produktif biasanya memiliki umur di atas 2 tahun. Kriteria ini mengindikasikan bahwa jenis burung tersebut sehat. Sebelum dimasukkan ke dalam kandang penjodohan, induk jantan dan betina ditempatkan pada kandang yang terpisah, untuk adaptasi dan masa pengenalan terlebih dahulu.

(15)

terihat berwarna putih bersih dengan warna biru terang serta memiliki paruh yang kokoh.

Keberhasilan penangkaran jalak bali sangat ditentukan oleh pasangan baru yang akan di tangkarkan sebagai calon indukan dan kualitas indukan jalak bali sangat berpengaruh terhadap kualitas keturunan yang dihasilkan. Salah satu langkah pertama dalam memulai penangkaran jalak bali adalah menyeleksi atau memilih bibit unggulan yang nantinya akan dipelihara atau dikembangbiakan. Tujuan dari seleksi bibit ini adalah untuk mendapatkan bakalan jalak bali yang benar-benar bagus dan sehat sehingga nantinya dapat menghasilkan jalak bali yang berkualitas baik. Apabila bibit jalak bali yang digunakan kualitasnya buruk, seberapa pun bagusnya kualitas pemeliharaan yang telah diberikan tidak akan memperoleh hasil yang maksimal. Menurut Panuju dan Sri (2006) memilih calon indukan yang unggul baik betina maupun jantan harus mempertimbangkan tujuh kriteria yakni (1) sehat, (2) tidak cacat, (3) tidak mudah stress, (4) jika bisa burung calon indukan hasil penangkaran, (5) tidak buas, (6) mutu suara bagus dan (7) bentuk fisik besar dan lincah. Gondo dan Sugiarto (2008) menyatakan bahwa ciri-ciri calon indukan jalak bali yang baik adalah (a) tidak cacat secara fisik (kaki tidak pincang, mata tidak buta, sayapnya tidak patah, secara keseluruhan badannya sehat), (2) memiliki bentuk tubuh yang besar, tegap, tubuh panjang, dada kokoh, dan tegap, (3) memiliki gerak yang gesit, energik, lincah, dan sorot matanya tajam, (4) telah memasuki masa birahi (sekitar umur 10 bulan hingga 1 tahun), (5) memiliki bulu badan, sayap, dan ekor yang bagus, mengkilap, dan utuh dan (6) memiliki suara yang nyaring, lantang dan sering berbunyi.

b. Penentuan jenis kelamin

Sexing merupakan suatu pekerjaan yang tidak mudah dilakukan, karena tampilan luar antara jalak bali jantan dan jalak bali betina memang nyaris tidak jauh berbeda. Penangkaran di SBF mempunyai cara sendiri dalam menentukan jenis kelamin jantan dan jenis kelamin betina pada jalak bali yang dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1 Kriteria dan ciri penentuan jenis kelamin jalak bali jantan dan jalak bali betina di SBF

No Kriteria Ciri Jantan Betina

1 Morfologi Postur tubuh Lebih besar Lebih kecil (ramping)

Kepala Lebih besar Lebih kecil

Jambul Menjurai di atas kepala lebih panjang

Menjurai di atas kepala lebih pendek 2 Aktivitas Suara Volume suara besar

dengan kicauan bervariasi

Volume suara kecil dan kicauan kurang bervariasi

Gerakan Lebih aktif dan agresif Kurang aktif

(16)

6

Berdasarkan tabel penentuan jenis kelamin di penangkaran SBF maka dapat dilihat perbedaan morfologi burung jalak bali jantan dan betina pada Gambar 1.

Gambar 1 Burung jalak bali jantan (a) dan betina (b) di penangkaran SBF

Aktivitas jantan lebih sering terbang dan bersuara dibandingkan betina, sesuai dengan penyataan Masy’ud (2010) bahwa perbedaan antara jalak bali jantan dan jalak bali betina adalah jalak bali betina kicauannya kurang rajin dan kurang bervariasi serta volume suaranya lebih kecil dibandingkan dengan jalak bali jantan yang memiliki volume suara yang lebih besar dan bervariasi. Menurut Kurniasih (1997) pada musim kawin jalak bali jantan lebih agresif dari pada jalak bali betina.

c. Menjodohkan jalak bali

Jalak bali yang akan dijadikan induk, sebelumnya dilakukan tahap penjodohan. Tujuan penjodohan adalah untuk membentuk pasangan agar dapat terjadi perkawinan dan perkembangbiakan. Penangkaran SBF memiliki cara tersendiri dalam menjodohkan jalak bali yaitu seminggu sebelum burung jalak bali dimasukkan ke dalam kandang penjodohan maka kedua induk diberi extra fooding (EF) dengan porsi lebih banyak daripada porsi sebelumnya, yakni dengan pakan berupa jangkrik, ulat kandang dan kroto. Pakan yang diberikan ditingkatkan menjadi 2 kali lipat pemberian pakan biasanya karena makanan hewani yang mengandung protein tinggi dapat memacu birahi jalak bali. Penjodohan jalak bali di penangkaran SBF dilakukan dengan dua cara, yakni: (1) penjodohan di dalam sangkar gantung dan (2) penjodohan di dalam kandang permanen.

1. Penjodohan dalam sangkar gantung

Hasil wawancara dengan pengelola penangkaran SBF menunjukkan bahwa penjodohan ini menggunakan sangkar gantung yakni dengan memasukkan sepasang jalak bali (satu jantan dan satu betina) yang sudah dipilih pada saat pemilihan bibit. Pasangan jalak bali yang sudah dimasukkan ke dalam kandang akan oleh pengelola akan selalu dicek kondisinya apakah sudah menunjukkan ciri-ciri burung berjodoh yaitu jantan dan betina terlihat saling mendekat dan kicaunya saling bersahutan. Ketika salah satu jalak bali terlihat menyerang maka pasangan jalak bali akan digantikan dengan indukan lainnya. Fasilitas pada sangkar gantung yaitu tempat makan, minum dan tenggeran. Penjodohan yang dilakukan dengan sangkar gantung terhitung lama karena memerlukan waktu sekitar 3-4 minggu. Hal ini diduga karena ukuran sangkar yang relatif kecil 70 cm x 40 cm x 40 cm dan terbuat dari bahan utama yaitu bambu (Gambar 2). Selain itu, sangkar yang hanya digantungkan dengan ketinggian sekitar 70 cm pada sudut ruangan yang masih sering terlewati ataupun terlihat oleh manusia. Hal ini memungkinkan

(17)

tingkat konsentrasi sepasang jalak bali dalam proses penjodohan terganggu yang mengakibatkan memerlukan waktu yang cukup lama. Sangkar gantung untuk penjodohan yang terdapat di penangkaran SBF sangkar penjodohan dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2 Sangkar penjodohan

Proses penjodohan di dalam sangkar gantung di penangkaran SBF menerapkan penjodohan dengan 3 cara yakni : (a) sepasang (satu jantan satu betina), (b) dua betina satu jantan dan (c) dua pasang. Kandang penangkaran dibedakan atas beberapa jenis dengan ukuran yang berbeda-beda (Masy’ud 2010).

2. Penjodohan dalam kandang permanen

(18)

8

bersarang. Kandang permanen untuk penjodohan yang terdapat di penangkaran SBF Kandang penjodohan dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3 Kandang penjodohan

d. Mengawinkan jalak bali

Jalak bali yang sudah berhasil dijodohkan akan dipindahkan ke kandang reproduksi. Kandang reproduksi memiliki luas 3 m x 1.5 m x 2.5 m dengan kontruksi dinding terbuat dari batako, atap terbuat dari asbes dan diberi sela ditengah yang ditutupi dengan jaring besi, sedangkan pintu utama terbuat dari besi tralis dengan ukuran 50 cm x 40 cm. Selain itu untuk memudahkan pengontrolan terhadap telur jalak bali maka pada kotak sarang dibuat pintu dari luar yang berukuran 15 cm x 15 cm yang terbuat dari besi tralis dan dilapisi dengan poly. Jalak bali yang sudah berjodoh ditandai selalu berdua dengan pasangannya dan berkicau sahut menyahut. Menurut Tomaszewska et al. (1991) proses prakawin merupakan hubungan tingkah laku sosial berdasarkan jenis kelamin antara dua individu. Suatu proses reproduksi pada burung terjadi melalui beberapa tahap yaitu: (1) tahap fisiologi dimana seekor betina dalam keadaan siap kawin, (2) tahap rangsangan seksual, jantan akan mendekati betina dengan cara yang agresif dengan tujuan mencumbui betina dan (3) tahap kopulasi, terjadi pelepasan sel telur. Proses perkawinan jalak bali menurut pengelola penangkaran SBF biasanya terjadi pada siang dan sore hari namun bisa juga terjadi pada pagi hari dengan kisaran 1-3 kali dalam sehari atau sekitar 2.0% dari 1 kali periode reproduksi selama 50 hari yang dilakukan jalak bali di penangkaran SBF. Sekitar 1 minggu setelah kawin, kedua induk mengangkut bahan sarang di lantai kandang dan membawanya ke kotak sarang, proses mengangkut dan membawa bahan sarang di penangkaran SBF berlangsung selama 7 hari atau sekitar 13.7% dari 1 kali periode reproduksi selama 50 hari yang dilakukan jalak bali di penangkaran SBF. Induk betina akan bertelur 2-4 butir, dengan masa bertelur selama 2 hari atau sekitar 4.0% dari 1 kali periode reproduksi selama 50 hari yang dilakukan jalak bali di penangkaran SBF.

(19)

SBF. Pengeraman telur dilakukan pada waktu hari pertama mengeluarkan telur dengan frekuensi pengeraman paling banyak dilakukan oleh jalak bali betina.

Menurut Masy’ud (2010) dalam proses perkawinan intensitas perawatan kandang harus dikurangi dan faktor-faktor gangguan sedapat mungkin harus dihindari karena jika terdapat gangguan, pasangan jalak bali seringkali memperlihatkan sifat tidak mau bertelur, enggan mengerami telur atau bahkan kanibalisme. Penetasan telur terjadi selama 2 hari atau sekitar 2.0% dari 1 kali periode reproduksi selama 50 hari yang dilakukan jalak bali di penangkaran SBF. Proses pembesaran piyik di Penangkaran SBF dilakukan dengan cara pengelola mengambil piyik yang telah berumur 6–7 hari setelah menetas atau sekitar 11.8% dari 1 kali periode reproduksi selama 50 hari yang dilakukan jalak bali di penangkaran SBF, kemudian dipindahkan ke inkubator. Masa sapih merupakan usaha pemisahan anakan burung dari induknya guna dirawat secara intensif oleh peternak.

Tujuan penyapihan memberikan kesempatan kepada indukan untuk bertelur lagi, supaya lebih produktif. Masa sapih jalak bali di penangkaran SBF biasanya selama 15 hari atau sekitar 29.5% dari 1 kali periode reproduksi selama 50 hari yang dilakukan jalak bali di penangkaran SBF. Menurut Masy’ud (2010) dengan mempercepat usia sapih anak, pada dasarnya dapat mempercepat induk untuk bertelur kembali, namun cara ini perlu dilakukan dengan hati-hati, agar tidak menimbulkan resiko stres baik kepada induk maupun anaknya. Penangkaran SBF menerapkan pemberian pakan telur matang (sudah direbus) yang bergizi dan seimbang pada sepasang jalak bali yang telah melakukan penetasan untuk merangsang agar indukan bertelur lagi.

Selain itu sepasang jalak bali juga diberikan pakan hewani berupa ulat kandang, jangkrik dan kroto. Porsi jangkrik untuk setiap induk 15 ekor sehari, diberikan pagi dan sore hari, ulat kandang sebanyak 15 gr dan kroto sebanyak 10 gr untuk sepasang jalak bali. Berdasarkan hasil wawancara dengan pengelola di penangkaran SBF, dalam satu tahun burung jalak bali dapat bertelur sampai 8 kali dalam setahun, dengan 2-4 butir setiap kali bertelur, lama pengeraman telur 14-16 hari, dan anak yang dapat hidup sampai dewasa 1-2 ekor. Artinya dalam satu tahun setiap induk betina dapat menghasilkan anakan sedikitnya 8 ekor.

Tingkat keberhasilan reproduksi burung jalak bali

Reproduksi merupakan kunci keberhasilan dalam penangkaran untuk meningkatkan populasi dan produktivitas. Pengetahuan tentang biologi dan perilaku reproduksi jenis satwa yang ditangkarkan sangat penting karena dapat memberikan arah pada tindakan manajemen yang diperlukan guna menghasilkan produksi satwa yang ditangkarkan sesuai harapan. Beberapa aspek terkait keberhasilan reproduksi yang penting untuk diperhatikan dalam penangkaran antara lain tingkat daya tetas telur, perkembangbiakan induk, angka kematian piyik dan pembesaran piyik.

1. Tingkat perkembangbiakan induk, daya tetas telur dan angka kematian piyik jalak bali.

(20)

10

dan tidak cacat, karena akan berakibat pada kualitas jalak bali dan bibit jalak bali yang dihasilkannya.Tingkat keberhasilan perkembangbiakan jalak bali di SBF dilihat dari tingkat daya tetas telur, perkembangbiakan induk jalak bali dan angka kematian piyik dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2 Persentase dan kriteria tingkat perkembangbiakan induk, daya tetas telur dan angka kematian jalak bali di SBF

No Tahun Perkembangbiakan

Kriteria Sedang Sedang Rendah

Berdasarkan hasil perhitungan persentase tingkat keberhasilan penangkaran jalak bali selama lima tahun terakhir diketahui bahwa rata-rata persentase daya tetas telur tergolong dalam kriteria sedang sebanyak 50.00% yaitu jumlah total telur yang mampu dihasilkan oleh satu induk jalak bali setiap satu kali reproduksi sebanyak 2–4 butir telur dan yang berhasil ditetaskan sebanyak 1–2 butir telur. Rata-rata persentase tingkat perkembangbiakan induk sebesar 54.68% tergolong dalam kriteria sedang. Penambahan indukan jalak bali yang mampu berkembangbiak diharapkan dapat menaikkan nilai dari tingkat perkembangbiakan menjadi tinggi. Aspek teknis yang terkait dengan faktor penentu keberhasilan jalak bali di penangkaran juga harus diperhatikan, yakni kandang. Kandang yang sesuai dengan fungsi dan kegunaannya sebaiknya disesuaikan dengan habitat alaminya. Selain kandang, juga perlu diperhatikan adalah pakan. Pakan yang diberikan harus sesuai dan memiliki kandungan gizi yang dibutuhkan oleh burung. Angka kematian anak (piyik) sebesar 21.85% yaitu total anak yang mati tiap kelas umur dibagi dengan total anak keseluruhan tiap kelas umur. Angka kematian piyik di SBF ini tergolong rendah karena pada saat umur piyik sekitar 6–7 hari telah dipisahkan agar mencegah kematian piyik akibat dipatuk oleh induknya.

(21)

tersebut selain untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok secara optimal juga dapat digunakan untuk menunjang proses reproduksi.

Perawatan kesehatan dan pengobatan penyakit juga berpengaruh terhadap tingkat keberhasilan reproduksi jalak bali. Kondisi kesehatan dipantau secara baik dan lebih dini sehingga ketika terlihat ada gejala penyakit maka selalu dan segera diambil tindakan untuk menghindari kematian dan meluasnya penyakit. Kesehatan jalak bali di penangkaran dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain kondisi lingkungan pemeliharaan, makanan, pola manajemen, bibit penyakit dan kelainan-kelainan metabolisme.

1. Pembesaran anak burung jalak bali (piyik)

Hasil pengamatan di penangkaran SBF diketahui bahwa, pemeliharaan piyik dilakukan dengan metode hand rearing karena memberi keuntungan ditinjau dari aspek reproduksi. Hand rearing adalah proses penanganan piyik dengan cara memisahkan atau mengambil piyik dari induknya untuk kemudian dipelihara dan dibesarkan oleh penangkar secara lebih intensif sampai burung bisa dianggap mandiri. Pemisahan piyik dari induknya dilakukan pada saat mata piyik belum terbuka, selanjutnya piyik dimasukkan ke dalam box inkubator. Inkubator yang terdapat di SBF berjumlah tiga unit dengan bahan konstruksi terbuat dari seng dan papan, berukuran panjang 100 cm, lebar 50 cm dan tinggi 45 cm. Inkubator tersebut berfungsi untuk membesarkan anakan jalak bali. Inkubator yang berada di SBF dapat dilihat pada Gambar 4.

Gambar 4 Inkubator di SBF

(22)

12

dan pertumbuhannya cepat. Anakan umur 25–30 hari sudah mampu mengambil pakan sendiri. Pakan kering berupa voer disediakan di dalam inkubator namun pemberian pakan dengan cara diloloh masih dilakukan. Pemberian pakan pada usia 15-30 hari dilakukan selang 2 jam dari pemberian pakan sebelumnya. Saat anakan memasuki usia > 30 hari dipindahkan ke sangkar harian dan tidak perlu lagi menggunakan inkubator, di dalam kandang ini disiapkan pakan voer agar burung mengambil pakan sendiri.

Pemberian pakan pada anakan jalak bali di penangkaran SBF tidak memiliki takaran yang tepat karena pengelola mengasumsikan jika pada saat pemberian pakan (diloloh) mulut anakan jalak bali tidak terbuka lagi maka menandakan anakan sudah kenyang. Pemberian pakan dengan cara diloloh menggunakan sumpit bikinan sendiri yang terbuat dari bambu. Kondisi piyik yang sedang diberi pakan menggunakan sumpit dapat dilihat pada Gambar 5.

Gambar 5 Piyik yang sedang membuka paruh saat menerima makanan

Perilaku Perkembangbiakan Burung Jalak Bali (Leucopsar rotschildi)

Perilaku satwa merupakan ekspresi satwa terhadap faktor internal dan eksternal yang dilakukan sebagai suatu respon dari tubuh terhadap rangsangan dari lingkungannya (Suratmo 1979). Fungsi dari perilaku adalah untuk menyesuaikan diri terhadap beberapa perubahan yang dipengaruhi oleh faktor luar dan faktor dalam (Alikodra 2002). Tahapan perilaku yang dialami dalam perkembangbiakan burung jalak bali meliputi perilaku berpasangan (jodoh), perilaku kawin dan perilaku bertelur yang dijelaskan sebagai berikut :

1. Perilaku berpasangan (jodoh)

(23)

biasanya akan dipungut indukan dan dibawa ke sarangnya saat memasuki masa reproduksinya.

Hasil pengamatan, menunjukkan perilaku jalak bali yang jodoh ditandai dengan adanya perilaku bersuara sepanjang hari dan perilaku saling dekat, juga menunjukkan perilaku tidur berdekatan. Lamanya proses penjodohan ini dilakukan selama 5 hari dengan tanda-tanda bersuara pada jantan dan betina sudah terlihat serta diikuti dengan perilaku saling dekat. Menurut Masy’ud (2010) calon indukan yang sudah berjodoh dan memasuki masa birahi akan ditandai dengan perilaku :

a. Bersuara/berkicau sepanjang hari

Bersuara/berkicau dilakukan dengan menegakan kepala diikuti dengan membuka paruh dan mengeluarkan suara. Menurut Rianti (2012) bersuara/berkicau dilakukan untuk mempertahankan diri serta memikat betina dalam proses prakawin.

b. Saling dekat

Perilaku bersuara/berkicau sepanjang hari yang diikuti dengan aktivitas saling dekat yang dilakukan oleh jalak bali jantan dan jalak bali betina menandakan jalak bali tersebut sudah terbentuk pasangan atau sudah berjodoh (Masy’ud 2010). Aktivitas saling dekat yang dilakukan oleh jalak bali biasanya diakhiri dengan kegiatan menelisik tubuh pasangannya. Selain itu, menurut Dimitra (2011) aktivitas saling dekat dilakukan untuk menjaga salah satu pasangannya dari pengganggu, membersihkan tubuh pasangannya, melakukan aktivitas istirahat maupun berjemur bersama.

2. Perilaku kawin

Hasil pengamatan terhadap perilaku kawin pada burung jalak bali, dari keseluruhan rangkaian perilaku (Alcock 1989) dapat dibedakan ke dalam tiga tahap (fase) yakni pra kopulasi, kopulasi dan pasca kopulasi.

a. Perilaku pra kopulasi

Perilaku pra kopulasi adalah perilaku yang dilakukan sebelum kopulasi. Tujuan perilaku ini adalah untuk menarik pasangannya agar siap/mau melakukan kopulasi. Menurut Fraser (1980) dalam melakukan proses prakawin burung jantan akan memberikan isyarat melalui stimulus auditori yaitu jantan akan menggunakan kicauan suara yang indah dan berikutnya yaitu stimulus fisual yaitu burung mrenunjukkan tarian dan menampilkan keindahan bulunya. Perilaku menarik pasangan yang merupakan perilaku pra kopulasi ini biasanya dilakukan dengan cara :

1. Perilaku bersuara secara berulang

Perilaku bersuara secara berulang merupakan perilaku yang juga dilakukan pada proses penjodohan. Pada perilaku pra kopulasi ini burung jantan maupun betina juga mengeluarkan suara yang bersifat khas dan lazim dikenal sebagai suara seksual (sexual calling–sexual vocal). Betina yang sudah siap juga tampak intensif keluar masuk sarang atau belajar diam sesaat di dalam sarang untuk mengenal sarangnya sambil mengeluarkan suara khas “wuudtuk” secara berulang.

(24)

14

lebih agresif dan bila berdekatan, seolah-olah ingin menyerang. Bila berkicau bersama, bulu kepala atau jambul mengembang lebih besar dan tinggi.

Saat jalak bali jantan menegakkan kepala dan membusungkan dadanya seakan-akan menantang dan kelihatan pemberani. Pada jalak bali betina gerakan dan tingkah laku lebih lembut, bulu kepalanya bila mengembang lebih pendek dan kelihatan agak ramping, gerakan ketika berkicau bersama sambil menari lebih halus. Suara kicuan juga dapat membedakan antara jalak bali jantan dan betina. Suara kicauan pada jalak bali jantan lebih keras dan lebih banyak variasi, bila berkicau biasanya memulai lebih dulu dan ketika bersama-sama berkicau seakan burung jantan memimpin kicauan, sedangkan pada jalak bali betina suara kicauan lebih lembut, variasi kicauannya terbatas, bila berkicau bersama (kreasi) jalak bali betina selalu mengikuti irama kicauan jalak bali jantan.

Jalak bali jantan melakukan perilaku bersuara/berkicau sebanyak 18.83 menit atau sekitar 2.62% dari waktu pengamatan, sedangkan jalak bali betina melakukan perilaku bersuara/berkicau sebanyak 8.22 menit atau sekitar 1.14% dari waktu pengamatan. Frekuensi dan durasi perilaku bersuara pra kopulasi pada burung jalak bali selama pengamatan dapat dilihat pada Gambar 6.

Gambar 6 Frekuensi (a) dan durasi (b) perilaku bersuara burung jalak bali pra kopulasi

Masy’ud (2010) menyatakan bahwa jalak bali betina kicauannya kurang

(25)

lebih besar dan bervariasi. Perilaku bersuara/berkicau sepanjang hari yang dilakukan oleh burung jantan maupun burung betina yang diikuti dengan perilaku saling mendekat merupakan perilaku yang menandakan bahwa indukan sudah berjodoh dan memasuki masa birahi.

Perilaku bersuara yang dilakukan oleh burung jalak bali jantan pada pagi hari dilakukan dengan frekuensi yang sering (18-24 kali) dan durasi yang lebih panjang (6-9 detik), sedangkan pada burung jalak bali betina frekuensinya lebih sedikit (12-14 kali) dan durasi yang agak pendek (6-8 detik). Perilaku ini mulai berkurang pada saat hari beranjak siang baik pada burung jalak bali jantan dengan frekuensi 8-17 kali dan durasi 3-8 detik maupun pada burung betina frekuensinya 3-8 kali dan durasi 4-8 detik. Saat menjelang sore hari perilaku bersuara/berkicau ini dengan frekuensi yang sering kembali dilakukan yakni 12-19 kali pada burung jantan dan durasi yang panjang 2-8 detik, sedangkan pada burung betina frekuensinya lebih sedikit dibanding dengan jantan yakni hanya 3-7 kali dengan durasi 3-6 detik.

b. Perilaku saling dekat

Seperti halnya pada proses penjodohan burung yang sejodoh dapat dilihat dari perilaku saling mendekati, perilaku mendekati betina juga merupakan bagian dari perilaku kawin karena sebelum melakukan perkawinan terlebih dahulu burung jantan melakukan pendekatan dengan betina sambil mengangguk anggukkan kepala dan mengeluarkan suara. Proses ini terjadi berulang sampai jalak bali betina memperlihatkan gejala birahi. Burung betina yang terlihat mulai cocok dan siap kawin, tampak diam jika pejantan mulai mendekati, mencumbui dan belajar menungganginya, serta memberikan respons siap dikawini. Burung betina yang belum siap secara fisiologis biasanya selalu terbang menghindar/menjauh jika didekati atau dicumbu oleh pejantan. Perilaku saling dekat yang dilakukan oleh jalak bali pra kopulasi ini biasanya diakhiri dengan kegiatan menelisik tubuh pasangannya. Berdasarkan hasil pengamatan aktivitas saling dekat dilakukan jalak bali di kayu tenggeran.

(26)

16

pendek (14-25 detik). Frekuensi dan durasi perilaku saling dekat burung jalak bali selama pengamatan dapat dilihat pada Gambar 7.

Gambar 7 Frekuensi (a) dan durasi (b) perilaku saling dekat antara jantan dan betina jalak bali pra kopulasi

c. Perilaku jantan menelisik bulu atau mematuk-matuk betina

Prilaku kopulasi lain yang ditunjukan adalah aktivitas saling menelisik tubuh, yakni aktivitas yang dilakukan oleh burung jantan setelah terjadi pendekatan terhadap burung betina. Aktivitas ini dilakukan dengan cara saling membersihkan bulu-bulu kepala dan leher menggunakan paruh. Menelisik membantu burung untuk mengeluarkan benda-benda asing yang menempel di antara bulu-bulunya serta merapikan kembali yang kusut (Rekapermana et al. 2006). Aktivitas saling menelisik tubuh dilakukan oleh jalak bali yang telah masuk ke dalam musim kawin.

Gejala birahi yang ditunjukkan dari perilaku pasangan jalak bali jantan dan betina akan dimulai dengan mencumbu betina dengan cara mematuk-matuk pelan kepala betina, menisik-nisik (membelai) bulu-bulu bagian belakang dengan menggunakan paruh dan kadang-kadang mematuk-matuk kaki betina dengan hati-hati, seakan-akan mengatur posisi/kedudukan betina.

(27)

dan durasi perilaku saling menelisik bulu burung jalak bali selama pengamatan dapat dilihat pada Gambar 8.

Gambar 8 Frekuensi (a) dan durasi (b) perilaku saling menelisik bulu antara jantan dam betina pra kopulasi

Pada Gambar 8 menunjukkan bahwa perilaku saling menelisik bulu yang dilakukan oleh burung jalak bali jantan pada pagi hari dilakukan dengan frekuensi yang sedikit (8-16 kali) dan durasi 5-7 detik dan pada burung jalak bali betina frekuensinya 5-7 kali dengan durasi 5-6 detik. Bila dibandingkan dengan perilaku menjelang siang hari frekuensinya lebih sering dilakukan dengan durasi yang juga agak lama yakni pada burung jantan 18-26 kali dengan durasi 6-10 detik dan pada burung jalak bali betina frekuensi sebanyak 6-10 kali dengan durasi 5-8 detik. Saat menjelang sore hari perilaku saling menelisik bulu ini tetap dilakukan dengan frekuensi 17-21 kali dan durasi 6-12 detik pada burung jantan, sedangkan pada burung betina frekuensinya lebih sedikit dibanding dengan jantan yakni hanya 6-12 kali dengan durasi 3-10 detik. Berikut perilaku pada saat fase pra kopulasi jalak bali di penangkaran SBF dapat dilihat pada Gambar 9.

(a) (b) (c)

Gambar 9 Perilaku bersuara (a) saling dekat (b) dan saling menelisik tubuh (c)

(28)

18

Perilaku pra kopulasi ini dapat berlangsung singkat (beberapa jam) sampai beberapa hari (2–3 hari) bahkan kadang-kadang mencapai satu minggu atau lebih, tergantung tingkat kematangan dan kesiapan fisiologis dari burung betina. Frekuensi penunggangan bisa terjadi beberapa kali (3–4 kali bahkan lebih). Keseluruhan rangkaian perilaku pra kopulasi tersebut pada dasarnya bertujuan untuk mempertinggi efektivitas pertemuan sperma dan sel telur atau memungkinkan agar perkawinan yang terjadi dapat berhasil dan efektif menghasilkan keturunan. Perilaku pra kopulasi pada dasarnya berfungsi sebagai proses sinkronisasi kondisi fisiologis diantara pejantan dan betina agar proses kopulasi dapat berlangsung optimal dan efektif, dalam hal ini faktor penting adalah kondisi hormonal seks di dalam tubuh satwa jantan dan betina. Menurut Tomaszewska et al. (1991) dalam proses prakawin tingkah laku merendahkan posisi tubuh yang dilakukan burung betina merupakan suatu dorongan bagi burung jantan untuk dapat melangsungkan proses kopulasi. Jika suatu kopulasi sudah terjadi, biasanya terlilhat dengan adanya tanda yang ditunjukkan pada kedua pasang burung yaitu tidak adanya ketertarikan kepada lawan jenisnya serta ditandai dengan burung betina akan terbang meninggalkan burung jantan. Gairah seks pada burung jantan diatur oleh adanya libido yang dihasilkan oleh kelenjar testoteron dalam tes tis (Fraser 1980).

b. Perilaku kopulasi

Aktivitas kawin ditandai dengan terjadinya kopulasi, yaitu dengan naiknya jantan ke atas punggung betina lalu memasukkan semen/spermatozoa ke dalam saluran reproduksi betina, ditandai oleh terangkatnya bulu ekor burung betina.. Sebelum melakukan proses kopulasi, jalak bali jantan melakukan suara panggilan yang disebut dengan suara seksual (sexual calling) (Masy’ud 2010). Jalak bali jantan kemudian bersuara lalu menggerakkan kepala kemudian mematuk dan menyelisik bulu. Setelah melakukan kopulasi, jalak bali jantan turun dari punggung jalak bali betina, diam sesaat kemudian terbang ke tenggeran.

Perilaku kopulasi ditunjukkan oleh naiknya burung jantan ke atas punggung burung betina. Hasil pengamatan di pengkaran SBF menunjukan bahwa kopulasi pada sepasang burung jalak bali berlangsung sangat singkat yakni 2-4 detik. Frekuensi dan durasi perilaku kawin burung jalak bali di penangkaran SBF dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3 Frekuensi dan durasi perilaku kopulasi burung jalak bali jantan dan betina di penangkaran SBF

No Waktu Perilaku kopulasi

Frekuensi Durasi (detik)

(29)

satu hari sepasang burung jalak bali dapat melakukan kopulasi 1-3 kali, dengan jarak waktu antar dua kopulasi secara berurutan dalam satu waktu sekitar satu sampai dua jam. Jalak bali melakukan aktivitas kopulasi selama 0.37 menit atau sekitar 0.05% dari waktu pengamatan.

Frekuensi kopulasi terbanyak berlangsung pada sore hari, diduga terkait dengan faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal yakni suhu dan kelembaban dimana suhu pada sore hari sangat mendukung terjadinya kopulasi. Sedangkan faktor internal yang mendukung adalah siklus hormonal dalam tubuh jalak bali. Menurut Ayat (2002) perilaku kopulasi dipengaruhi oleh faktor eksternal antara lain suhu, cahaya, kelembaban dimana ritme harian sangat menentukan kapan saat yang tepat untuk melangsungkan aktivitas kawin tersebut, dan faktor asupan pakan dengan kualitas dan keseimbangan gizi yang cukup. Selain itu aktivitas kopulasi juga dipengaruhi oleh faktor internal yaitu siklus hormonal tubuhnya. Faktor internal yang penting adalah rangsangan hormon Follicle Stimulating Hormone (FSH) dan Luteinizing Hormone (LH) disamping kesiapan organ reproduksi betina yang secara tidak langsung memberikan andil dalam kerja hormon FSH dalam proses pematangan folikel ataupun hormon LH dalam proses spermatogenesis (Parker 1969; Toelihere 1985; Grimes 1994; Etches 1996). Sketsa perilaku kopulasi dapat dilihat pada Gambar 10.

Gambar 10 Sketsa perilaku kopulasi jalak bali c. Perilaku pasca kopulasi

Setelah kopulasi burung jantan turun dari punggung betina sambil mengepakkan sayap dan diam sesaat, kemudian terbang ke sarang atau tenggeran, dilanjutkan dengan kegiatan mandi baik pada burung jantan maupun burung betina. Sketsa perilaku mandi jalak bali dapat dilihat pada Gambar 11.

Gambar 11 Sketsa perilaku mandi burung jalak bali pada fase pasca kopulasi

(30)

20

membersihkan badannya. Menurut Takandjandji dan Mite (2008) aktivitas mandi dilakukan satwa sebagai bagian dari perawatan bulu agar tetap mengkilap dan tidak kusut. Perilaku mandi jalak bali dilakukan dengan cara jalak bali mendatangi tempat mandi kemudian seluruh badan dicelupkan ke air, mengepakkan sayap dan memasukkan kepala ke dalam air.

Jalak bali jantan melakukan aktivitas mandi selama 8.30 menit atau sekitar 1.15% dari waktu pengamatan sedangkan jalak bali betina melakukan aktivitas mandi selama 5.67 menit atau sekitar 0.79% dari waktu pengamatan. Aktivitas mandi juga dilakukan oleh jalak bali jantan dan jalak bali betina di SBF pada siang hari. Menurut Hermawan (2012), pada siang hari saat cuaca cukup panas aktivitas mandi dilakukan jalak bali agar suhu normal jalak bali tetap dapat dijaga. Perilaku mandi yang dilakukan oleh burung jalak bali jantan dan betina hanya dilakukan pada pagi hari dengan frekuensi 1-2 kali dan durasi 92-120 detik dan pada burung jalak bali betina juga dengan frekuensi yang sama yakni 1-2 kali dengan durasi 80-120 detik, namun pada saat siang dan sore hari, kegiatan ini sudah tidak dilakukan lagi. Frekuensi dan durasi perilaku mandi burung jalak bali selama pengamatan dapat dilihat pada Gambar 12.

Gambar 12 Frekuensi (a) dan durasi (b) perilaku mandi burung jalak bali pasca kopulasi

Setelah mandi burung jantan kembali melakukan perilaku bersuara, terbang keluar masuk sarang dan mencoba kembali mendekati betina. Jika kopulasi yang terjadi itu efektif, biasanya diikuti dengan aktivitas bersama antara jantan dan betina dalam mempersiapkan sarang bagi betina untuk meletakkan telurnya. Perilaku mempersiapkan sarang dilakukan dengan membawa bahan sarang dan

(31)

membangun sarang. Perilaku ini dilakukan burung jalak bali jantan dan betina sebagai bagian dari rangkaian perilaku reproduksi.

3. Perilaku bertelur

Perilaku bertelur merupakan tahapan perilaku yang dilakukan oleh burung jalak bali setelah melalui perilaku berpasangan (jodoh) dan perilaku kawin. Tahapan-tahapan pada perilaku bertelur yang dilakukan oleh burung jalak bali, yaitu (a) perilaku mengangkut bahan sarang, (b) perilaku membangun sarang, (c) perilaku bertelur (d) perilaku mengerami telur, dan (e) penetasan telur.

a. Perilaku membawa bahan sarang

Sekitar 1-2 minggu setelah kawin, kedua induk akan membawa bahan sarang di lantai kandang dan menempatkannya di kotak sarang. Jalak bali yang berada di SBF mempunyai musim kawin setiap satu bulan. Saat musim kawin kedua pasangan jalak bali membuat sarang untuk tempat bertelur. Jalak bali dalam membuat sarang menggunakan cara mencari dan membawa bahan sarang berupa rumput-rumput atau ranting kecil ke dalam sarang, namun adapula bahan sarang yang disiapkan oleh pengelola SBF yaitu bahan yang terbuat dari daun pinus yang sudah mengering. Bahan tersebut sebagian dimasukkan ke kotak sarang untuk merangsang jalak bali membuat sarang dan sebagian lagi diletakkan di lantai kandang. Bahan sarang yang digunakan jalak bali untuk membuat sarang juga diperoleh dari bulu jalak bali yang jatuh di lantai kandang. Aktivitas membawa bahan sarang dilakukan oleh jalak bali dengan paruhnya lalu ditaruh di kotak sarang. Sketsa perilaku membawa bahan sarang dapat dilihat pada Gambar 13.

Gambar 13 Sketsa perilaku membawa bahan sarang

(32)

22

Aktivitas membangun sarang dilakukan oleh jalak bali ketika telah membawa bahan sarang ke dalam kotak sarang. Bahan tersebut ditata oleh jalak bali di kotak sarang sampai merasa aman dan cukup nyaman untuk bertelur dan mengerami terlurnya. Aktivitas membangun sarang tidak dapat terlihat dengan kasat mata karena jalak bali membangun sarang di dalam kotak sarang, maka dari itu ciri dalam menandakan aktivitas ini yaitu jalak bali jantan ataupun betina

menghasilkan suara “tok tok tok’ dengan cara menghentakkan paruhnya pada

kotak sarang dengan tujuan untuk menata bahan yang dibawanya. Selama pengamatan, jalak bali betina lebih banyak melakukan aktivitas membangun sarang daripada jalak bali jantan. Jalak bali jantan melakukan aktivitas membangun sarang selama 102.52 menit atau sekitar 14.24% dari waktu pengamatan sedangkan jalak bali betina melakukan aktivitas membangun sarang 179.12 menit atau sekitar 24.88%.

Aktivitas membangun sarang banyak dilakukan oleh jalak bali karena diduga bahan sarang yang dimasukkan pengelola di kotak sarang belum dianggap aman dan nyaman oleh jalak bali perilaku membangun sarang yang dilakukan oleh burung jalak bali jantan di penangkaran SBF selama pengamatan dilakukan dengan frekuensi yang sering yakni 3-35 kali dan durasi 15-90 detik dan pada burung jalak bali betina frekuensinya lebih sering dibanding jantan yakni 7-42 kali

(33)

dengan durasi 23-70 detik. Artinya tugas utama membangun sarang dilakukan oleh burung betina. Frekuensi dan durasi perilaku membangun sarang burung jalak bali selama pengamatan dapat dilihat pada Gambar 15.

Gambar 15 Frekuensi (a) dan durasi (b) perilaku membangun sarang burung jalak bali pasca kopulasi

c. Perilaku bertelur

(34)

24

Ada beberapa faktor yang diduga berpengaruh terhadap jumlah telur dalam satu irama bertelur (clutch size), diantaranya umur burung, berat badan, makanan, kondisi kesehatan dan lingkungan kandang (luas, suhu dan kelembaban serta ada tidaknya gangguan) (Parker 1969; Etches 1996). Nalbandov (1990) mengemukakan bahwa variasi jumlah telur yang dihasilkan burung dalam satu masa irama bertelur juga dipengaruhi oleh susunan genetik kelenjar pituitari, terutama pada jumlah gonadotropin yang dihasilkannya.

d. Perilaku mengerami telur

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan pengelola penangkaran SBF diketahui bahwa secara umum telur diletakkan secara berurutan dengan jarak waktu mencapai 23-24 jam, namun dari beberapa kasus juga diketahui bahwa telur kedua diletakkan sekitar 40-48 jam kemudian, pada pagi maupun sore hari. Pengeraman telur dilakukan segera setelah telur kedua diletakkan. Tugas utama pengeraman telur dilakukan oleh induk betina, sedangkan induk jantan hanya membantu terutama dalam mengamankan dan menjaga kestabilan kondisi sarang pada saat induk betina keluar sarang untuk makan dan minum serta menggerakkan otot tubuh dengan cara mengepakkan sayapnya. Frekuensi penggantian peran pengeraman telur ini sekitar dua sampai tiga kali per hari, yakni pada pagi hari (08.00–10.00 WIB), siang hari (12.00– 14.00 WIB) dan sore hari (16.00–18.00 WIB), antara lain sangat ditentukan oleh kondisi suhu lingkungan. Jika suhu lingkungan rendah, maka frekuensi penggantian lebih sedikit, sebaliknya jika suhu lingkungan tinggi maka frekuensinya lebih sering mencapai 2-3 kali per hari. Lama penggantian tugas pengeraman telur tersebut hanya berlangsung sekitar 5-10 menit, yakni waktu yang diperlukan oleh induk betina untuk makan dan minum serta mengepakkan sayap untuk pergerakan tubuh (exersice). Menurut Short (1993), biasanya induk betina yang bertanggungjawab dalam proses pengeraman telur. Meskipun demikian, pada beberapa jenis burung, induk jantan juga ikut mengerami telur. Pada jenis-jenis passerina atau burung-burung bertengger, induk jantan hanya berfungsi dalam melindungi telur tetapi tidak memiliki kemampuan untuk mengerami telur.

Aktivitas mengerami telur oleh jalak bali dilakukan setelah proses bertelur dilakukan. Aktivitas mengerami telur dilakukan agar telur tersebut dapat menetas dan menjadi seekor anakan jalak bali. Tujuan mengerami telur adalah agar telur selalu dalam keadaan hangat. Suhu yang terlalu dingin akan mengganggu perkembangan embrio. Gangguan ini dapat menyebabkan kematian embrio sehingga telur tidak dapat menetas.

(35)

e. Penetasan telur

Penetasan telur di penangkaran SBF terjadi setelah dierami selama 14-16 hari Terjadinya penetasan telur burung jalak bali ditandai dengan terdapatnya cangkang telur yang bercerai berai pada lantai kandang. Diantara faktor yang diduga berpengaruh terhadap daya tetas telur adalah umur induk, suhu dan kelembaban kandang dan kualitas pakan (Etches 1996). Selain itu tingkat gangguan lingkungan kandang juga sangat berpengaruh terhadap daya tetas telur, terutama untuk pasangan burung jalak bali. Burung jalak bali sifat liarnya masih relatif tinggi sehingga kepekaannya terhadap gangguan faktor lingkungan masih sangat tinggi. Dalam pengamatan diketahui bahwa jika ada gangguan maka cenderung induk betina jalak bali yang sedang mengerami telur akan meninggalkan telurnya bahkan seringkali telurnya dimakan atau dipecahkan.

Penangkaran SBF memiliki cara tersendiri pada indukan yang berkarakter tidak bisa bawa anak atau suka membuang anaknya, yakni dilakukan penyapihan anakan pada umur 4 hari, meskipun idealnya anakan disapih setelah memasuki umur 6-7 hari. Anakan yang baru disapih terutama pada 4 hari segera dimasukkan ke inkubator. Sementara selama dua minggu kemudian setelah anakan disapih, sepasang indukan sudah dapat kembali bereproduksi.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

1. Teknik perkembangbiakan jalak bali di penangkaran SBF meliputi pemilihan induk jalak bali, penentuan jenis kelamin, menjodohkan jalak bali dan mengawinkan jalak bali. Tingkat keberhasilan penangkaran SBF dilihat dari perkembangbiakan induk jalak bali daya tetas telur dengan persentase 54.68 dengan kriteria sedang, daya tetas telur dengan persentase 50 dengan kriteria sedang dan angka kematian dengan persentase 21.85 dengan kriteria rendah. 2. Perilaku perkembangbiakan burung jalak bali di SBF meliputi perilaku

berpasangan (jodoh), perilaku kawin dan perilaku reroduksi. Perilaku kopulasi berlangsung sangat singkat yakni 2-4 detik. Frekuensi kopulasi terbanyak berlangsung pada sore hari, dalam satu hari sepasang burung jalak bali dapat melakukan kopulasi 1-3 kali.

Saran

Pemberian pakan pemicu perkembangbiakan dan pemeliharaan kesehatan perlu dilakukan untuk menaikan nilai setiap faktor keberhasilan perkembangbiakan jalak bali di penangkaran.

(36)

26

DAFTAR PUSTAKA

Alcock J. 1989. Animal Behavioran Evolutionary Approach. Massachusetts (US): Sunderland AinauerAssociates Inc.

Alikodra HS. 1987. Pola dan pengembangan suaka margasatwa bali barat [Tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. Tidak diterbitkan.

Alikodra HS. 2002. Pengelolaan Satwaliar. Bogor (ID): Yayasan Penerbit Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.

Ayat A. 2002. Perilaku berbiak burung bluwok (Mycteria cinerea Raffles) di Suaka Margasatwa Pulau Rambut [Skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.

Dimitra A. 2011. Studi perilaku pasangan jalak bali (Leucopsar rothschildi) pada kandang breeding di Kebun Binatang Surabaya [artikel ilmiah]. Surabaya (ID): Universitas Airlangga.

Etches RJ. 1996. Reproduction in Poultry. Canada: Cab International.

Fraser AF. 1980. Farm Animal Behaviour. Bailliere tindal a dission of cassel Ltd. Gondo, Sugiarto. 2008. Laporan Inventarisasi Jalak Bali (Leucopsar rothschildi)

di Taman Nasional Bali Barat.

Grimes JL. 1994. The effect of protein level fed during the prebreeder period on performance of large white tukey breeder hens after an induced molt. J Poultry Sci. 73:37-44.

Helvoort BE. 1988. An Attem To a Population Genetik Analisis of The American Captive Bali Starling Population. Bali Starling Project III. Gilimanuk. Bali (ID): International Council for Bird Preservation.

Hermawan R. 2012. Rahasia Sukses Mencetak Juara 50 Jenis Burung Kicau. Yogyakarta (ID): Pustaka Baru Press

.

Jaya BA. 2006. Studi manajemen restocking jalak bali (Leucopsar rothschildii) di Pusat Penangkaran Jalak Bali Tegal Bunder Taman Nasional Bali Barat [tugas akhir]. Program Diploma III Konservasi Sumberdaya Hutan. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.

Kurniasih L. 1997. Jalak bali (Leucopsar rotschildi Stresmann) spesies yang makin langka di habitat aslinya. Makalah Ilmiah Biosfer No. 9: 3-7.

Lehner PN. 1979. Handbook of Ethological Methods. New York (US): Garland STPM Pr.

Martin P, Bateson P. 1993. Measouring Behaviour An Introduction Guide 2nd Edition. Cambridge (UK): Cambridge University Press.

Masyud B. 1992. Penampilan reproduksi dan karakteristik genetik jalak bali [Tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.

Masyud B. 2010. Teknik Menangkarkan Burung Jalak di Rumah. Bogor (ID): IPB Press.

Nalbandov AV. 1990. Fisiologi Reproduksi pada Mamalia dan Unggas Edisi Ketiga. Jakarta (ID): UI Press.

North MO, Bell DD. 1990. Commercial Chicken Production Manual 4th Edition. Avi Book. New York (US): Nostrand Reinhold.

Nurana K. 1989. Studi teknik penangkaran jalak bali (Leocopsar rothschildi

(37)

Panuju K, Sri. 2006. Cucakrowo, Pelestarian Fauna Indonesia. Yogyakarta (ID): Kanisius.

Parker JE. 1969. Reproduction Physiology in Poultry. Reproduction in Farm Animals. Second Edition. Editor ESE. Hafez. Lea & Febiger, Philadelphia. Pp235-254.

Prijono NS, S Handini. 1996. Memelihara, Menangkar, dan Melatih Nuri. Jakarta (ID): Penebar Swadaya.

Rekapermana M, Thohari M, Masy’ud B. 2006. Pendugaan jenis kelamin menggunakan ciri-ciri morfologi dan perilaku harian pada gelatik jawa (Padda oryzivora Linn, 1758) di penangkaran. Media Konservasi 9(3): 89-97.

Rianti D. 2010. Perilaku Prakawin Burung Cendrawasih Belah Rotan (Cicinnurus magnificus) di Syourobi Kawasan Penyangga Cagar Alam Pegunungan Arfak Manokwari [skripsi]. Papua (ID): Universitas Negeri Papua.

Setio P, Takandjandji M. 2007. Konservasi ek-situ burung endemik langka melalui penangkaran. Prosiding ekspose hasil-hasil penelitian; Padang, 20 September 2006. Bogor (ID): Pusat Penelitian dan Pengembangan Kehutanan dan Konservasi Alam.

Short LL. 1993. The Lives of Bird. Birds of The World and Their Behavior. New York (US): Henry Honlt and Company.

Suratmo FG. 1979. Prinsip Dasar Tingkah Laku Satwaliar. Bogor (ID): Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.

Takandjandji M, Mite M. 2008. Perilaku burung beo alor di penangkaran Oilsonbai, Nusa Tenggara Timur. Buletin Plasma Nutfah.14(1):43-48. Takandjandji M, Kayat, Njurumana GND. 2010. Perilaku burung bayan sumba

(Eclectus roratus cornelia Bonaparte) di Penangkaran Hambala, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam. 3(4): 357-369.

Tanudimadja. 1978. School of Environmental Conservation Management. Ciawi (ID): Bogor.

Toelihere MR. 1985. Inseminasi Buatan Pada Ternak. Bandung (ID): Penerbit Angkasa.

Tomaszewska MW, Sutama IK, Putu IG, Chaniago TD. 1991. Reproduksi, Tingkah Laku, dan Produksi Ternak di Indonesia. Kerjasama Dirjen Pendidikan Tinggi dan Internasional Development Program Of Australia Universitas And Collegens. Jakarta (ID): PT. Gramedia pustaka Utama. Tribisono H. 2002. Tingkah laku makan burung dara mahkota cristata (Goura

cristata) pada lingkungan penangkaran di Taman Burung dan Taman Anggrek Kabupaten Biak Numfor [Skripsi]. Papua (ID): Universitas Negeri Papua

.

(38)

28

Lampiran 1 Hasil perhitungan persentase jumlah induk yang berkembangbiak, daya tetas telur dan kematian anakan jalak bali di SBF

Rumus jumlah induk bertelur, daya tetas telur dan kematian anakan jalak bali : a. Persentase jumlah induk bertelur (%) = �

��� %

Keterangan :

T : Induk betina yang bertelur Tt : Induk betina seluruhnya b. Persentase daya tetas telur(%) = � %

(39)

Lampiran 1 Hasil perhitungan persentase jumlah induk yang berkembangbiak, daya tetas telur dan kematian anakan jalak bali di SBF (lanjutan)  Persentase daya tetas telur (%) tahun 2010 =

%

= 50%

 Persentase kematian anak (%) tahun 2010 =

%

= 23.52% Tahun 2011

 Persentase jumlah induk bertelur (%) tahun 2011 =

%

= 52%

 Persentase daya tetas telur (%) tahun 2011 =

%

= 50%

 Persentase kematian anak (%) tahun 2011 =

%

= 21.05% Tahun 2012

 Persentase jumlah induk bertelur (%) tahun 2012 =

%

= 57.14%  Persentase daya tetas telur (%) tahun 2012 =

%

= 50%

 Persentase kematian anak (%) tahun 2012 =

%

= 19.23% Tahun 2013

 Persentase jumlah induk bertelur (%) tahun 2013 =

%

= 68.75%  Persentase daya tetas telur (%) tahun 2013 =

%

= 50%

(40)

30

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Banjarbaru, pada tanggal 30 November 1991 dari pasangan Hasbi M Tawab dan Suryani Madjid. Penulis adalah putri kedua dari dua bersaudara. Tahun 2010 penulis lulus dari SMA Islam Athirah Makassar dan lulus seleksi masuk IPB melalui jalur Ujian Talenta Masuk IPB. Penulis diterima di Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan.

Selama menuntut ilmu di IPB, penulis mengikuti praktek lapang diantaranya Praktek Pengenalan Ekosistem Hutan Baturraden-Cilacap tahun 2012, Praktek Pengelolaan Hutan di Hutan pendidikan Gunung Walat tahun 2013 dan Praktek Kerja Lapang Profesi di Taman Nasional Gunung Merbabu tahun 2014. Penulis mengikuti organisasi kemahasiswaan, yaitu sebagai anggota Kelompok Pemerhati Kupu-kupu (KPK) dalam Himpunan Mahasiswa Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (HIMAKOVA)

Figur

Gambar 3  Kandang penjodohan
Gambar 3 Kandang penjodohan . View in document p.18
Tabel 2  Persentase dan  kriteria tingkat perkembangbiakan induk, daya tetas telur  dan angka kematian  jalak bali di SBF
Tabel 2 Persentase dan kriteria tingkat perkembangbiakan induk daya tetas telur dan angka kematian jalak bali di SBF . View in document p.20
Gambar 6  Frekuensi (a) dan durasi (b) perilaku bersuara burung jalak bali pra
Gambar 6 Frekuensi a dan durasi b perilaku bersuara burung jalak bali pra . View in document p.24
Gambar 7   Frekuensi (a) dan durasi (b) perilaku saling dekat antara jantan dan
Gambar 7 Frekuensi a dan durasi b perilaku saling dekat antara jantan dan . View in document p.26
Gambar 8  Frekuensi (a) dan durasi (b) perilaku saling menelisik bulu antara
Gambar 8 Frekuensi a dan durasi b perilaku saling menelisik bulu antara . View in document p.27
Gambar 9  Perilaku bersuara (a) saling dekat (b) dan saling menelisik tubuh (c)
Gambar 9 Perilaku bersuara a saling dekat b dan saling menelisik tubuh c . View in document p.27
Gambar 12  Frekuensi (a) dan durasi (b) perilaku mandi burung jalak bali pasca
Gambar 12 Frekuensi a dan durasi b perilaku mandi burung jalak bali pasca . View in document p.30
Gambar 14 Durasi perilaku membawa bahan sarang burung jalak bali pasca
Gambar 14 Durasi perilaku membawa bahan sarang burung jalak bali pasca . View in document p.32
Gambar 15  Frekuensi (a) dan durasi (b) perilaku membangun sarang burung jalak
Gambar 15 Frekuensi a dan durasi b perilaku membangun sarang burung jalak . View in document p.33

Referensi

Memperbarui...