BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Jalak bali (Leucopsar rotschildii) atau juga dikenal oleh masyarakat lokal dengan nama curik bali merupakan burung yang berasal dari suku sturnidae. Jalak bali merupakan burung yang sangat populer di kalangan masyarakat karena keindahan bentuk fisik yang dimilikinya, seperti memiliki tubuh putih, bingkai mata berwarna biru cemerlang, dan sentuhan hitam di ujung sayap dan bulu ekor. Peningkatan jumlah penduduk yang semakin pesat mengakibatkan berkurangnya populasi jalak bali di habitat alaminya. Menurut Kurniasih (1997), penyebab utama menurunnya populasi jalak bali adalah terganggu keseimbangan lingkungan yang disebabkan antara lain oleh perburuan liar, penurunan kualitas lingkungan hidup dan kebakaran hutan. Berdasarkan data yang didapatkan oleh Gunawan (2010), tahun 1910 diperkirakan populasi jalak bali sekitar 300-900 ekor hidup di alam liar tetapi pada tahun 1990 akibat penangkapan secara liar, jumlahnya berkurang hingga tersisa 15 ekor. Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Bali Barat menambahkan, data terakhir populasi jalak bali pada tahun 2006 hanya ditemukan enam ekor (Taman Nasional Bali Barat 2009).
Dalam menjaga kelestarian sekaligus memulihkan populasi jalak bali, perlu dilakukan upaya pelestarian. Salah satu bentuk upaya pelestarian jalak bali adalah dengan kegiatan penangkaran. Menurut Alikodra (2010), prinsip penangkaran adalah pemeliharaan dan perkembangbiakan sejumlah satwaliar yang sampai pada batas-batas tertentu dapat diambil dari alam, tetapi untuk selanjutnya, pengembangannya hanya diperkenankan diambil dari keturunan-keturunan yang berhasil dari penangkaran.
mengatur pakan, kesehatan, lingkungan, serta kebutuhan lain dari satwa yang ditangkarkan agar satwa tersebut dapat berkembangbiak dengan baik. Keberhasilan dalam meningkatkan populasi jalak bali di UD Anugrah dipengaruhi oleh teknik-teknik penangkaran yang dimilikinya. Oleh sebab itu, dibutuhkan pengetahuan mengenai teknik penangkaran yang merupakan salah satu kunci yang memegang peranan penting dalam usaha pelestarian populasi jalak bali.
Salah satu aspek penting dalam menangkarkan jalak bali adalah mengetahui perilakunya. Menurut Pandanwati (2009), fungsi tingkah laku dalam hewan adalah bentuk penyesuaian diri terhadap beberapa perubahan keadaan yang ditimbulkan dari luar maupun dari dalam. Dengan mengetahui dan memahami perilaku jalak bali di penangkaran, maka kesehatan, pola makan, kebersihan serta perkembangbiakan jalak bali dapat dipantau.
Berdasarkan informasi yang ada, peneliti yang telah mendokumentasikan penelitian mengenai jalak bali yang berada di penangkaran diantaranya adalah Thompson dan Brown (2001), Dimitra (2011), dan Yunanti (2012). Oleh karena itu, dari penelitian ini diharapkan selain dapat memperkaya informasi mengenai pelestarian populasi jalak bali di penangkaran, juga menghasilkan informasi mengenai aktivitas harian jalak bali sehingga dapat membantu upaya konservasi
ex situ dalam melestarikan jalak bali.
1.2 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk:
1. Mempelajari teknik penangkaran jalak bali (Leucopsar rotschildii) di Penangkaran UD Anugrah.
2. Mengidentifikasi ukuran keberhasilan dalam kegiatan penangkaran jalak bali (Leucopsar rotschildii) di Penangkaran UD Anugrah.
1.3 Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini adalah:
1. Sebagai tambahan informasi bagi pengelola penangkaran UD Anugrah dalam menangkarkan jalak bali.
2.1 Taksonomi
Burung jalak bali oleh masyarakat Bali disebut dinamakan dengan curik putih atau curik bali, sedangkan dalam istilah asing disebut dengan white starling, white mynah, Bali mynah, Bali starling, dan Rotschild’s mynah (Mas’ud 2010). Menurut Stresemann (1912) diacu dalam Kurniasih (1997) klasifikasi jalak bali adalah sebagai berikut:
Kerajaan : Animalia Filum : Chordata Kelas : Aves
Bangsa : Passeriformes Famili : Sturnidae Genus : Leucopsar
Jenis : Leucopsar rotschildi Steresemann, 1912.
2.2 Morfologi
Menurut Gepak (1986) diacu dalam Thohari et al. (1991) dan Mas’ud (2010), ciri-ciri morfologis jalak bali adalah sebagai berikut:
1. Bulunya 90% berwarna putih bersih, pada ujung bulu sayap dan bulu ekornya ditemukan warna hitam lebarnya 25 mm.
2. Pelupuk matanya berwarna biru tua mengelilingi bola mata, paruh runcing dengan panjang 2–3 cm, di bagian ujungnya berwarna kuning kecoklatan, rahangnya berwarna abu-abu kehitaman.
3. Burung jantan bentuknya lebih indah, mempunyai jambul di kepalanya dengan beberapa helai bulu berwarna putih bersih.
5. Berat badan 107,75 gram, jumlah bulu sayap 11-12 helai dan jumlah bulu ekor 17-18 helai.
Menurut Mas’ud (2010), jalak bali termasuk jenis burung monomorfik, artinya secara morfologis (bentuk luar tubuh) antara jantan dan betina relatif sulit dibedakan, karena keduanya memiliki pola warna bulu, bentuk dan ukuran tubuh yang relatif sama meskipun ukuran tubuh jantan relatif lebih besar daripada betina. Selain itu, menurut Kuroda (1933) dalam Kurniasih (1997), tubuh jantan lebih besar dan memiliki bulu-bulu jambul yang panjang dan rahang sebelah atasnya lebih tebal dari yang betina. Jalak bali memiliki telur yang berukuran kecil seperti telur burung puyuh dan berbentuk bulat panjang serta berwarna biru kehijauan. Keterangan singkat yang menerangkan perbedaan ciri morfologi jalak bali jantan dan jalak bali betina dapat dilihat pada Tabel 1 dan Gambar 1.
Tabel 1 Ciri-ciri morfologi yang membedakan jalak bali jantan dan betina
No. Ciri morfologi Jantan Betina
1 Kepala Lebih besar,
Sumber : Mas’ud (2010)
2.3 Reproduksi
Menurut Alikodra (1987) dan Mas’ud (2010), jalak bali merupakan satwa monogamus, yaitu hanya memiliki satu pasangan dalam satu musim kawin, sehingga sex rasionya adalah 1:1 dan umur mulai proses perkawinan 7-9 bulan dengan jumlah telur maksimum sebanyak 3 butir. Menurut Thompson dan Brown (2001), jalak bali melakukan proses perkawinan di alam pada umur dua tahun serta masa produktif jalak bali dalam menghasilkan keturunan untuk jantan sampai umur 17 tahun dan untuk betina sampai umur 12 tahun.
Menurut Alikodra (1987), perkawinan jalak bali di alam terjadi pada bulan September-Desember, sedangkan menurut Kurniasih (1997) perkawinan jalak bali terjadi pada bulan Januari-Maret. Hal ini berdasarkan ditemukannya jalak bali dengan sayap dan ekor yang belum sempurna pada bulan Juni. Perkawinan jalak bali di dalam penangkaran terjadi sepanjang tahun. Biasanya jalak bali yang telah bertelur dan menetaskan anaknya selama 14 hari akan bertelur kembali setelah anaknya berusia sekitar 4-5 minggu atau jarak waktu bertelur sekitar dua bulan (Mas’ud 2010).
2.4 Habitat dan Penyebaran
Habitat satwaliar dapat dikatakan sebagai tempat hidup satwaliar. Pada prinsipnya, satwaliar memerlukan tempat-tempat yang digunakan untuk mencari makan, berlindung, beristirahat dan berkembangbiak (Hernowo et al. 1991). Habitat yang mempunyai kualitas yang tinggi nilainya diharapkan akan menghasilkan kehidupan satwaliar yang berkualitas tinggi (Alikodra 2010).
2.5 Populasi
Populasi jalak bali di habitat alaminya yaitu di Taman Nasional Bali Barat mengalami penurunan. Menurut Thompson dan Brown (2001), diketahui pada tahun 1984 jumlah jalak bali diperkirakan 125-180 ekor. Pada tahun 1988 jumlah jalak bali sekitar 37 ekor dan 12-18 ekor pada tahun 1990. Pada tahun 1998 didapatkan 10-14 ekor serta diperkirakan semuanya adalah jantan. Data terakhir yang dikumpulkan oleh PEH Bali Barat pada tahun 2006 hanya ditemukan 6 ekor (Taman Nasional Bali Barat 2009).
2.6 Teknik Penangkaran
Menurut Thohari et al. (2011) dan Garsetiasih dan Takandjandji (2007), penangkaran adalah suatu kegiatan untuk mengembangbiakan satwaliar yang bertujuan untuk memperbanyak populasi agar menghindari kepunahan dengan tetap mempertahankan kemurnian genetik sehingga kelestarian dan keberadaan jenis satwa dapat dipertahankan di habitat alaminya serta dalam rangka memanfaatkan satwaliar secara optimal. Hal ini diperkuat oleh pendapat Alikodra (2010), prinsip penangkaran adalah pemeliharaan dan perkembangbiakan sejumlah satwaliar yang sampai pada batas-batas tertentu dapat diambil dari alam, tetapi untuk selanjutnya, pengembangannya hanya diperkenankan diambil dari keturunan-keturunan yang berhasil dari penangkaran.
Menurut Thohari et al. (2011), sistem penangkaran mengacu pada prinsip pengelolaan habitat, yaitu secara intensif dan ekstensif. Pada pengelolaan intensif, campur tangan manusia sangat tinggi dan biaya yang dikeluarkan untuk tenaga dan pengelolaan umumnya relatif tinggi. Sebaliknya pada pengelolaan ekstensif, manusia hanya mengatur beberapa aspek habitat dan kebutuhan hidup satwa dan biaya yang dikeluarkan untuk tenaga dan pengelolaan umumnya relatif rendah.
Berdasarkan tujuannya, Helvort (1986) diacu dalam Alikodra (2010) membagi penangkaran menjadi penangkaran untuk budidaya dan penangkaran untuk konservasi. Perbedaan antara penangkaran budidaya dengan penangkaran konservasi dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2 Perbedaan antara penangkaran dalam rangka budidaya dan konservasi
Aspek Penangkaran Budidaya Penangkaran konservasi Objek 1. Beberapa individu dan ciri-cirinya
2. Ras
3. Jumlah populasi total terbatas dan sangat kecil
1. Sesuatu populasi dan ciri-cirinya 2. Jenis dan/ atau anak jenis
3. Jumlah individu total sangat besar Sasaran 1. Domestikasi
2. Perubahan dalam arti menciptakan ras
3. Komersial
4. Terkurung untuk selama-lamanya
1. Release (pelepasliaran) 2. Tidak merubah jenis 3. Non-komersial
4. Pengembalian kepada alam aslinya Manfaat 1. Memenuhi kebutuhan material
2. Memenuhi kebutuhan batin dan sosial
1. Mempertahankan stabilitas ekosistem
2. Mempertahankan atau
meningktakan lagi nilai-nilai alam Jangka waktu 1. Pendek (1-250 tahun) 1. Panjang sampai selama-lamanya
(500 tahun ke atas) Metode 1. Perkembangan dalam arti tingkat
produksi
2. Menerapkan teknik canggih (inseminasi, transplantasi embrio, artisial, dan pembelahan embrio) 3. Meningkatkan jumlah pasangan
yang mau kawin
4. Penentuan pasangan ditentukan oleh ciri-ciri betina dan jantan
1. Perkembangan populasi ditentukan oleh hukum-hukum
genetika dan keadaan alam 2. Mempertahankan sex ratio
3. Jaga keturunan tidak didominasi 4. Penentuan pasangan secara acak
Sumber : Alikodra (2010)
di pasar. Faktor kesehatan juga merupakan salah satu penentu keberhasilan penangkaran jalak bali. Oleh karena itu, perawatan kesehatan dan pemantauan penyakit harus dilakukan secara baik dan teratur. Menurut Yunanti (2012), jenis penyakit yang sering diderita oleh jalak bali di penangkaran adalah katarak, flu, sakit mata dan cacar pada kaki.
Dalam usaha penangkaran, pengembangbiakan jalak bali harus diawali dengan ketepatan dalam memilih bibit. Bibit yang dipilih harus sehat, tidak cacat, bersuara lantang dan bagus serta jelas asal-usulnya. Keberhasilan suatu penangkaran mengembangbiakan pasangan jalak yang ditangkarkan harus diikuti dengan keberhasilan merawat dan membesarkan anak. Masa perawatan anak oleh induk paling cepat berkisar antara 12-16 hari dan pemisahan anak lebih baik dilakukan lebih awal agar mencegah kematian anak akibat dipatuk oleh induknya (Mas’ud 2010).
2.7 Aktivitas Harian
Perilaku satwa adalah respon atau ekspresi satwa karena adanya rangsangan yang mempengaruhinya (Pandanwati 2009). Menurut Alikodra (1990) diacu dalam Pandanwati (2009), fungsi utama tingkah laku adalah untuk memungkinkan satwa menyesuaikan diri terhadap beberapa perubahan keadaan, baik dari luar maupun dari dalam.
3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Penangkaran UD Anugrah Kediri, Jawa
Timur. Penelitian dilaksanakan selama 2 bulan yaitu pada bulan Juni-Juli 2012.
3.2 Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini diantaranya, kamera
digital, alat tulis, tallysheet, panduan wawancara, meteran, stopwatch, termometer suhu, termometer dry and wet dan timbangan serta jalak bali dan pengelola Penangkaran UD Anugrah sebagai objek penelitian.
3.3 Jenis dan Metode Pengumpulan Data 3.3.1 Jenis data
Data yang diambil meliputi data primer dan data sekunder yang mencakup
tiga data utama yaitu teknik penangkaran, aktivitas harian serta ukuran
keberhasilan dalam kegiatan penangkaran.
3.3.1.1 Data primer
Data primer menurut Hendri (2009) adalah informasi yang dikumpulkan
terutama untuk tujuan penelitian yang sedang dilakukan. Data primer yang
dikumpulkan terdiri dari:
a. Teknik penangkaran
Data teknik penangkaran yang dibutuhkan antara lain:
1. Aspek perkandangan meliputi: jenis kandang, jumlah kandang, fungsi
kandang, bahan bangunan kandang, ukuran kandang, suhu dan
kelembaban kandang, sarana kandang serta perawatan kandang.
2. Aspek pakan meliputi: jenis, sumber, jumlah pakan, cara pemberian
pakan, waktu pemberian pakan dan tempat penyimpanan pakan.
3. Pemeliharaan kesehatan meliputi: jenis penyakit yang sering dialami
4. Teknik pengembangbiakan meliputi: pemilihan bibit, penentuan jenis
kelamin, pengaturan kawin (nisbah kelamin, jumlah telur per musim,
dan tahapan penetasan telur) dan pembesaran piyik.
5. Teknik adaptasi meliputi: lamanya proses adaptasi dan perlakuan
dalam proses adaptasi.
6. Manajemen pemanfaatan hasil meliputi: cara mempersiapkan jalak bali
untuk dijual dan proses penjualannya.
b. Ukuran keberhasilan dalam kegiatan penangkaran jalak bali di Penangkaran UD. Anugrah
Data yang dibutuhkan dalam menentukan ukuran keberhasilan dalam
kegiatan penangkaran jalak bali di Penangkaran UD Anugrah diantaranya adalah
faktor biologis satwa dan faktor sosial
1. Menurut Yunanti (2012), faktor biologis satwa merupakan hal-hal
yang berkaitan dengan keadaan reproduksi satwa, meliputi:
a) Tingkat perkembangbiakan induk betina
b) Tingkat daya tetas telur
c) Tingkat angka kematian
2. Faktor sosial merupakan manfaat yang didapatkan masyarakat sekitar
penangkaran dari Penangkaran UD Anugrah.
c. Aktivitas harian
Data yang dibutuhkan dalam aktivitas harian diantaranya adalah aktivitas
event, aktivitas state dan aktivitas sosial (Martin dan Bateson 1993; Prayana 2012; Sawitri dan Takandjandji 2010; Takandjandji dan Mite 2008; Takandjandji et al.2010).
1. Aktivitas event merupakan aktivitas yang dilakukan dalam waktu yang singkat dengan batasan waktu kurang dari satu menit, meliputi:
a) Melompat adalah aktivitas yang dilakukan dengan berpindah
tempat dengan cara melompat.
b) Bersuara adalah aktivitas mengeluarkan suara.
c) Membuang kotoran adalah aktivitas membuang hasil metabolism
d) Berjalan adalah aktivitas yang dilakukan dengan berpindah tempat
pada bagian bawah kandang menggunakan kaki.
e) Bergeser adalah aktivitas yang dilakukan dengan berpindah tempat
pada tempat bertengger dengan cara bergeser.
f) Menelisik bulu adalah aktivitas membersihkan tubuh menggunakan
kaki atau paruh.
g) Membersihkan paruh adalah aktivitas yang dilakukan dengan
menggesek-gesekkan paruh di tempat bertengger.
h) Terbang adalah aktivitas yang dilakukan dengan berpindah tempat
dengan cara terbang.
i) Membangun sarang adalah aktivitas yang dilakukan dengan
menata sarang di dalam kotak sarang dengan menggunakan paruh.
2. Aktivitas state merupakan aktivitas yang dilakukan dalam waktu yang lama dengan batasan waktu lebih dari satu menit, meliputi:
a) Diam adalah aktivitas yang dilakukan dengan posisi diam
sedangkan kedua mata memperhatikan setiap gerakan benda di luar
kandang.
b) Makan adalah aktivitas yang dilakukan dengan cara mengambil
dan menghancurkan makanan menggunakan paruh atau lidah.
c) Minum adalah aktivitas yang dilakukan dengan cara mencelupkan
paruh ke dalam air lalu menengadahkan paruh.
d) Mandi adalah aktivitas yang dilakukan dengan cara mencelupkan
diri ke dalam air.
e) Membawa bahan sarang adalah aktivitas yang dilakukan dengan
membawa bahan sarang dengan paruh.
f) Mengerami telur adalah aktivitas yang dilakukan dengan cara
mengeram telur yang dikeluarkan induk jalak bali betina yang
terdapat di kotak sarang.
g) Bertelur adalah aktivitas yang hanya dilakukan betina dengan cara
mengeluarkan telur dari kloaka.
3. Aktivitas sosial merupakan aktivitas diantara individu jalak bali, yang
a) Saling menelisik tubuh adalah aktivitas yang dilakukan terhadap
individu lain menggunakan paruh dengan cara mengelus, pura-pura
mengigit dan mengendus.
b) Saling mendekati adalah aktivitas yang dilakukan terhadap
individu lain dengan cara berdekatan pada saat bertengger.
c) Kawin adalah aktivitas yang dilakukan ketika jantan menaiki tubuh
betina.
3.3.1.2 Data sekunder
Data sekunder merupakan data penunjang bagi data primer. Data yang
dikumpulkan dalam data sekunder adalah kondisi umum Penangkaran UD
Anugrah.
3.3.2 Metode pengumpulan data 3.3.2.1 Studi pustaka
Studi pustaka merupakan suatu metode pengumpulan data berupa
laporan-laporan studi terdahulu, paper atau makalah, serta data sekunder yang dibutuhkan
dalam mendisain riset, serta menganalisis hasil studi (Sinaga 2008). Studi pustaka
yang diperlukan mengenai teknik pemeliharaan jalak bali dan aktivitas jalak bali.
3.3.2.2 Observasi lapang
Observasi lapang adalah pengamatan yang langsung dilakukan di lapangan
untuk memperoleh hasil yang sebenarnya (Hendri 2009). Observasi lapang yang
dilakukan adalah dengan pengamatan dan pengukuran langsung di lapangan. Hal
ini dilakukan untuk memperoleh gambaran nyata di lapangan mengenai teknik
penangkaran jalak bali, ukuran bentuk, suhu dan kelembaban kandang, aktivitas
harian jalak bali serta ukuran keberhasilan dalam kegiatan penangkaran jalak bali
di Penangkaran UD Anugrah.
a. Teknik penangkaran
Teknik penangkaran meliputi pengamatan langsung terhadap teknik yang
terdapat di Penangkaran UD Anugrah serta pengukuran terhadap ukuran, suhu dan
kelembaban kandang.
1. Pengamatan langsung meliputi:
a. Aspek perkandangan meliputi: jenis kandang, jumlah kandang,
fungsi kandang, bahan bangunan kandang, peralatan dan
b. Aspek pakan meliputi: jenis, sumber, jumlah pakan, cara
pemberian pakan, waktu pemberian pakan, frekuensi pemberian
pakan dan tempat penyimpanan.
c. Aspek kesehatan meliputi: jenis penyakit yang sering dialami oleh
jalak bali, cara pencegahan dan pengobatan.
d. Aspek pengembangbiakan meliputi: pemilihan bibit, penentuan
jenis kelamin, pengaturan kawin (nisbah kelamin, jumlah telur per
musim, dan tahapan penetasan telur) dam pembesaran piyik.
e. Aspek adaptasi meliputi: lamanya proses adaptasi dan perlakuan
dalam proses adaptasi.
f. Aspek manajemen pemanfaatan hasil meliputi: cara
mempersiapkan jalak bali untuk dijual dan proses penjualannya.
2. Pengukuran langsung yang dilakukan antara lain:
a. Pengukuran terhadap setiap jenis kandang dilakukan dengan
pengukuran terhadap tinggi (m), panjang (m), dan lebar (m)
dengan menggunakan meteran.
b. Pengukuran suhu dilakukan dengan menggunakan termometer
suhu dan pengukuran terhadap kelembaban dilakukan dengan
menggunakan termometer dry-wet.
3. Mengikuti kegiatan pengelolaan yang terdapat di penangkaran UD
Anugrah yang meliputi perawatan kandang, waktu pemberian pakan,
cara pemberian pakan dan mengamati kegiatan pengelola terhadap
pengelolaan penangkaran.
b. Ukuran keberhasilan dalam kegiatan penangkaran jalak bali di Penangkaran UD. Anugrah
Pengamatan mengenai ukuran keberhasilan dalam kegiatan penangkaran
jalak bali di Penangkaran UD Anugrah dilakukan dengan cara wawancara kepada
pengelola dan wawancara kepada masyarakat sekitar Penangkaran UD Anugrah
serta menelaah dokumen-dokumen yang terdapat di Penangkaran UD Anugrah.
Pada faktor biologis satwa dilakukan pengamatan terhadap data-data mengenai
dokumen yang berhubungan dengan faktor biologis tersebut. Pada faktor sosial
masyarakat sekitar penangkaran. Selain mendapatkan informasi mengenai ukuran
keberhasilan dalam kegiatan penangkaran jalak bali di Penangkaran UD Anugrah,
wawancara yang dilakukan kepada pengelola Penangkaran UD Anugrah juga
mendapatkan informasi mengenai kondisi umum Penangkaran UD Anugrah,
teknik pemeliharaan jalak bali di Penangkaran UD Anugrah dan aktivitas harian
jalak bali yang terdapat di Penangkaran UD Anugrah. Aspek yang diwawancarai
dapat dilihat pada Lampiran 1 dan Lampiran 2. Wawancara dilaksanakan secara
mendalam, langsung dan terbuka. Wawancara kepada masyarakat sekitar
mengambil enam responden yang mempunyai batasan sebagai berikut:
a) Empat kepala keluarga yang berada di depan, belakang, kiri dan kanan
yang bersebelahan langsung dengan Penangkaran UD Anugrah.
b) Tokoh masyarakat yang berada di sekitar Penangkaran UD Anugrah
yaitu ketua RT 2 dan ketua RW 1.
c. Aktivitas harian
Pengamatan mengenai aktivitas harian jalak bali dilakukan dengan
menggunakan metode focal animal sampling, yaitu metode pengamatan dilakukan dengan mengamati satwa tertentu yang menjadi fokus pengamatan sehingga
pengambilan data terfokus pada satu individu yang diamati dengan waktu yang
sudah ditentukan dan mencatat secara rinci semua gerakan yang terjadi (Martin
dan Bateson 1993). Pengamatan dilakukan terhadap dua individu yang mewakili
jenis kelamin jantan dan jenis kelamin betina. Pengamatan setiap dua individu
dilakukan selama 12 jam mulai dari pukul 06.00 – 18.00 WIB atau sama dengan
720 menit. Pengamatan dilakukan selama 10 hari dengan masing-masing jenis
kelamin dilakukan pengulangan sebanyak lima kali.
Untuk lebih mempermudah dalam memahami jenis data dan metode
Tabel 3 Jenis data dan metode pengambilan data
Data yang diambil
Jenis data Metode pengumpulan data Primer Sekunder Studi
pustaka
Analisis data mengenai penelitian ini dilakukan secara deskriptif dan
kuantitatif.
3.4.1 Teknik penangkaran
Data yang terkumpul dari aspek teknik penangkaran yang terdapat di
Penangkaran UD Anugrah dianalisis secara deskriptif, kemudian disajikan dalam
bentuk tabel, grafik dan gambar. Hasil tersebut kemudian diuraikan ke dalam
kalimat yang akan menjelaskan dan menyimpulkan hasil yang diperoleh dari
penelitian.
3.4.2 Ukuran keberhasilan dalam kegiatan penangkaran jalak bali di Penangkaran UD Anugrah
Data tentang faktor-faktor keberhasilan usaha penangkaran dianalisis
dengan cara deskriptif, namun data mengenai faktor biologis satwa dianalisis
secara kuantitatif. Faktor biologis satwa dapat dihitung dengan menggunakan
rumus:
a) Persentase perkembangbiakan induk betina dapat menggunakan
rumus:
Keterangan:
t : ∑ induk betina yang berkembangbiak Tt : ∑ induk betina seluruhnya
b) Persentase daya tetas telur dapat dicari menggunakan rumus:
%
Keterangan:
α : ∑ telur yang ditetaskan β : ∑ total telur yang ada
c) Persentase angka kematian piyik digunakan rumus:
%
Keterangan:
M : ∑ piyik yang mati pada kelas umur 1 Mt : ∑ total piyik seluruhnya
Ketiga data tersebut menggunakan kriteria nilai sebagai berikut:
0% - 30% : Rendah
31% - 60% : Sedang
61% - 100% : Tinggi
3.4.3 Aktivitas harian
Data yang sudah terkumpul dari aspek aktivitas harian jalak bali di
Penangkaran UD Anugrah dianalisis secara kuantitatif kemudian dianalisis secara
deskriptif dengan cara dibuat dalam bentuk gambar, tabel dan grafik. Hasil
tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam suatu kalimat yang dapat menjelaskan
dan menyimpulkan hasil penelitian. Untuk mengetahui waktu yang digunakan dari
suatu tingkah laku jalak bali dalam satu hari digunakan rumus.
Presentase waktu seluruh tingkah laku (%) = %
Keterangan:
A = waktu yang digunakan untuk suatu tingkah laku dalam satu hari pengamatan
Pengujian terhadap hubungan antara parameter yang diukur dan diamati
menggunakan hipotesis sebagai berikut:
H0 = tidak ada hubungan antara jenis kelamin dengan aktivitas harian
jalak bali
H1 = ada hubungan antara jenis kelamin dengan aktivitas harian jalak
bali
Hipotesis tersebut kemudian diuji menggunakan uji X2 atau chi-kuadrat
(Walpole 1992), melalui rumus:
Keterangan:
Oi = nilai pengamatan aktivitas harian jalak bali
Ei = nilai harapan aktivitas harian jalak bali
Untuk mengetahui nilai harapan jalak bali, dapat dicari dengan
menggunakan rumus:
Pengambilan keputusan atau hipotesis yang diuji dengan uji chi-kuadrat
dilakukan dengan menggunakan kriteria sebagai berikut:
Jika X2hitung > dari X2tabel, maka tolak H0
Jika X2hitung ≤ dari X2tabel, maka terima H0
Untuk mengetahui nilai pada X2 tabel, maka digunakan rumus:
Keterangan:
p = banyaknya ulangan
Selain itu, selang kepercayaan yang dipakai adalah 99% dengan X2 tabel
4.1 Sejarah dan Tujuan 4.1.1 Sejarah
Penangkaran UD Anugrah merupakan penangkaran yang bergerak dibidang penangkaran burung berkicau. Didirikan pada tahun 2008 oleh Suhono Nyoto Sardjono. Perusahaan ini menangkarkan berbagai jenis burung baik burung yang dilindungi ataupun tidak, diantaranya adalah jalak bali (Leucopsar rothschildi), jalak putih (Sturnus melanoptera), cucak rowo (Pyconotus zeylanicus), murai batu (Copsychus malabaricus) dan kepodang (Oriolus chinensis). Perusahaan ini berdiri berdasarkan hobi pengelola dalam memelihara burung, khususnya burung-burung berkicau dan burung jalak bali (Leucopsar rothschildi). Pada tanggal 27 Juni 2008, penangkaran UD Anugrah mendapatkan izin penangkaran berdasarkan Surat Keputusan Direktorat Jenderal PHKA No. 75/IV/Set-3/2008 dan pada tanggal 20 Agustus 2009 mendapatkan Surat Keputusan Perlindungan dan Pengawetan Alam dengan surat izin SK 99/IV-8/PPA.0.0/09 sebagai pengedar.
4.1.2 Tujuan
Tujuan didirikannya penangkaran UD Anugrah adalah:
a) Untuk konservasi burung, baik yang dilindungi maupun yang tidak dilindungi
b) Untuk ekonomi (komersial).
4.2 Letak Penangkaran
Penangkaran UD Anugrah terletak di Jl. Puncak Dsn. Purworejo RT 002 RW 001 Desa Kepung Kecamatan Kepung Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur.
4.3 Kondisi Biologi
Tabel 4 Beberapa jenis burung yang ditangkarkan di Penangkaran UD Anugrah
No Nama Lokal Nama Ilmiah
1 Cucak rawa Pyconotus zeylanicus
2 Beo nias Gracula religiosa
3 Kakatua raja Probosciger atterimus
4 Merak hijau Pavo muticus
5 Murai batu Copsychus malabaricus
6 Kepodang Oriolus chinensis
7 Jalak suren Sturnus contra
8 Bayan sumba Eclectus roratus eornelia
9 Nuri kepala hitam Lorius lory
10 Anis merah Turdus citrinus
11 Kacer Copsychus saularis
4.4 Struktur Organisasi
Penangkaran UD Anugrah secara keseluruhan dipimpin oleh seorang pemilik sekaligus penanggung jawab yang bernama Suhono Nyoto Sardjono. Petugas kandang dan satwa yang dimiliki oleh Penangkaran UD Anugrah berjumlah dua orang, yaitu Yanto dan Yoga.
4.5 Aksesibilitas
5.1 Teknik Penangkaran
Secara umum terdapat beberapa aspek teknik manajemen penangkaran satwa yang diketahui dapat menentukan keberhasilan penangkaran suatu jenis satwa. Aspek teknis penangkaran tersebut adalah sejarah penangkaran jalak bali, jumlah populasi jalak bali di penangkaran, aspek perkandangan, aspek pakan, pemeliharaan kesehatan, teknik pengembangbiakan, teknik adaptasi dan manajemen pemanfaatan hasil. Adapun penjelasan secara lengkap tentang praktek pengelolaan setiap aspek teknis penangkaran jalak bali (Leucopsar rothschildii) yang dilakukan oleh UD Anugrah berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara dengan pihak pengelola disajikan berikut ini.
5.1.1 Sejarah Penangkaran UD Anugrah
Penangkaran jalak bali yang berada di penangkaran UD Anugrah dimulai pada tahun 2007. Pemilik penangkaran membuat penangkaran burung awalnya hanya untuk dijadikan hiburan dan hobi. Pada awalnya jalak bali yang berada di penangkaran UD Anugrah berjumlah dua pasang yaitu berasal dari UD Star Jaya yang berasal dari Solo, Jawa Tengah dan UD Suara Abadi yang berasal dari Nganjuk, Jawa Timur. Pengangkutan dari Solo dan Nganjuk menggunakan Surat Angkut Tumbuhan Satwa Liar Dalam Negeri (SATS – DN) yang dikeluarkan oleh Kementrian Kehutanan Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (Dirjen PHKA).
anggota keluarga dekat yang sebenarnya dapat membawa pengaruh jelek dalam kualitas keturunannya.
Gambar 2 Pihak TNBB menukarkan jalak bali di Penangkaran UD. Anugrah.
5.1.2 Populasi jalak bali di penangkaran
Populasi jalak bali yang berada di Penangkaran UD Anugrah sampai pada bulan April tahun 2012 berjumlah 39 ekor yang meliputi kelas umur sebagai berikut (Tabel 5).
Tabel 5 Populasi jalak bali tahun 2012 berdasarkan kelas umur
Kelas umur Jumlah (ekor) Keterangan
0 – 1 tahun 15 Anakan
1 – 2 tahun 4 -
2 – 7 tahun 20 Indukan
sedikit, yaitu hanya empat ekor, hal ini dikarenakan jalak bali yang berada di Penangkaran UD Anugrah pada umur tiga bulan sudah mulai dijual oleh pengelola penangkaran kepada konsumen. Penjualan jalak bali yang berumur tiga bulan dilakukan karena menurut pengelola Penangkaran UD Anugrah, pada umur tiga bulan jalak bali tersebut sudah bisa makan dengan sendiri.
5.1.3 Perkandangan
Di habitat aslinya, jalak bali sanggup mempertahankan hidupnya karena ada empat faktor penunjang, yakni ketersediaan pakan, ketersediaan air, dapat menghindarkan diri dari serangan musuh, dan tersedia sarang untuk membesarkan anak burung. Keempat faktor tersebut sudah tercakup pada jalak bali yang ditangkarkan di Penangkaran UD Anugrah. Jika di alam keempat faktor itu berada di tempat terpisah, maka jalak bali yang ditangkarkan menemukan seluruhnya di satu tempat. Penangkaran jalak bali sebagai upaya pengembangbiakan jenis di luar habitat alaminya, membutuhkan suasana habitat buatan yang mirip dengan habitat alaminya. Menurut Setio dan Takandjandji (2007), untuk mendapatkan kondisi habitat seperti yang alami, terdapat beberapa persyaratan yang harus diperhatikan dalam memilih lokasi penangkaran burung, diantaranya:
a. Berada pada tempat yang bebas banjir pada musim hujan. b. Jauh dari keramaian dan kebisingan.
c. Berada pada tempat yang mudah diawasi dan mudah dicapai. d. Tidak terganggu oleh berbagai polusi (debu, asap, dan bau gas).
e. Tidak berada pada tempat yang lembab, becek atau tergenang air karena akan menyebabkan timbulnya berbagai penyakit.
f. Di dalam kandang hendaknya ditanami pohon-pohon pelindung agar terasa sejuk dan burung merasa seperti di habitat alaminya.
g. Terisolasi dari pengaruh binatang atau ternak lain.
h. Tersedianya sumber air yang cukup untuk minum dan mandi burung serta untuk pembersihan kandang.
kandang, sarana kandang, perawatan kandang serta suhu dan kelembaban kandang.
5.1.3.1 Jenis kandang, ukuran kandang, konstruksi kandang dan fungsi kandang
Penangkaran jalak bali di Penangkaran UD Anugrah termasuk ke dalam jenis penangkaran intensif. Jenis kandang jalak bali yang terdapat di UD Anugrah terdapat 4 jenis kandang, yaitu kandang pembesaran, kandang kawin, kandang soliter dan inkubator, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6 Jenis, ukuran, konstruksi dan unit kandang jalak bali di penangkaran UD Anugrah
dewasa. Berikut gambar kandang pembesaran yang terdapat di Penangkaran UD Anugrah dapat dilihat pada Gambar 3.
Gambar 3 Kandang pembesaran di Penangkaran UD Anugrah.
Selain itu, fungsi kandang pembesaran yang terdapat di Penangkaran UD Anugrah adalah untuk menampilkan jalak bali yang akan dijual kepada konsumen serta untuk mendapatkan jalak bali yang mencari jodohnya secara alami yang kemudian dipindahkan ke kandang kawin.
Kandang kawin yang terdapat di Penangkaran UD Anugrah termasuk kandang permanen yang berjumlah delapan unit. Kandang tersebut terbuat dari kawat, kayu, batako dan besi dengan ukuran untuk panjang 1,5 m, lebar 2 m dan tinggi 3 m. Kandang kawin yang terdapat di Penangkaran UD Anugrah berfungsi untuk menjodohkan indukan jantan dan indukan betina yang siap kawin. Berikut gambar mengenai kandang kawin dapat dilihat pada Gambar 4.
Kandang soliter yang terdapat di Penangkaran UD Anugrah berjumlah lima unit, kandang tersebut terbuat dari rangka utama yaitu kayu dan besi hanya sebagai gantungan. Kandang tersebut mempunyai ukuran panjang 50 cm, lebar 40 cm dan tinggi 35 cm. Menurut Forum Agri (2012), bentuk sangkar soliter yang terdapat di Penangkaran UD Anugrah telah sesuai dengan yang disarankan, berbentuk persegi empat, karena akan memberikan ruang gerak yang maksimal bagi burung yang ada di dalamnya. Kandang soliter yang terdapat di Penangkaran UD Anugrah berfungsi untuk membesarkan anakan jalak bali yang berumur satu bulan hingga berumur tiga bulan serta kandang tersebut berfungsi untuk proses adaptasi dari jalak bali yang baru didatangkan dari luar dan untuk proses penghilangan dari stress dan penyakit. Berikut gambar kandang soliter yang dapat dilihat pada Gambar 5.
Gambar 5 Kandang soliter di Penangkaran UD Anugrah.
Gambar 6 Inkubator di Penangkaran UD Anugrah.
5.1.3.2 Sarana kandang
Di dalam kandang harus dilengkapi dengan sarana seperti kayu untuk tempat bertengger, tempat mandi, tempat makan serta tempat minum dan tempat untuk bersarang. Berikut sarana kandang yang terdapat di penangkaran UD Anugrah dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7 Sarana kandang jalak bali di Penangkaran UD Anugrah
No Jenis kandang Sarana
1 Kandang pembesaran Kayu untuk tempat bertengger, tempat makan, tempat minum, dan tempat mandi
2 Kandang kawin Kayu untuk tempat bertengger, tempat makan, tempat minum, tempat mandi, tempat sarang, dan kamera Closed Circuit Television (CCTV) serta daun pinus
3 Kandang soliter Tempat makan, tempat minum, lampu penerangan dan kayu untuk tempat bertengger
4 Inkubator Sarang
gambar tempat pakan, tempat minum serta tempat mandi yang berada di Penangkaran UD Anugrah yang disajikan pada Gambar 7 (a) dan (b).
Gambar 7 (a) Tempat pakan dan tempat minum; (b) Tempat mandi.
Penggunaan kamera CCTV pada kandang kawin digunakan untuk memantau indukan jalak bali, memantau telur jalak bali dan untuk membantu dalam pengamanan. Selain itu, pada kandang kawin juga terdapat daun pinus yang digunakan sebagai bahan penyusun sarang. Bahan tersebut dimasukkan ke kotak sarang yang berada 2 meter dari lantai kadang dan sebagian lagi diletakkan di lantai kandang di tempat yang kering. Berikut gambar kotak sarang yang terdapat di Penangkaran UD Anugrah yang disajikan pada Gambar 8.
Gambar 8 Kotak sarang di Penangkaran UD Anugrah.
membuat jalak bali tidak dapat berproduksi dengan baik. Di kandang soliter juga terdapat lampu penerangan yang berfungsi untuk menghangatkan burung serta untuk meminimalisir kehadiran hewan pemangsa seperti tikus yang biasanya sering menyerang pada malam hari pada ruangan yang gelap (Forum Agri 2012). Pada inkubator yang terdapat di Penangkaran UD Anugrah menggunakan inkubator yang otomatis dalam mengatur suhu yang terdapat di dalam inkubator tersebut, sehingga tidak perlu menggunakan lampu penerangan yang digunakan untuk menghangatkan anakan jalak bali yang baru dipindahkan dari induknya. Sarang yang terbuat dari tumpukan daun pinus digunakan untuk menaruh piyik jalak bali agar piyik tersebut menjadi nyaman.
5.1.3.2 Perawatan kandang
Kebersihan dalam kandang dan sekitarnya sangat membantu dalam produktivitas jalak bali yang ditangkarkan oleh Penangkaran UD Anugrah. Kandang yang tidak bersih akan menyebabkan timbulnya berbagai penyakit. Kegiatan perawatan pada kandang dilakukan pada pagi hari dengan cara:
1. Mengganti air yang digunakan untuk mandi dan untuk minum. 2. Mengganti pakan yang tersisa dengan pakan yang baru.
3. Menyapu, menyikat dan menyemprot pada bagian kandang yang terdapat kotoran yang melekat.
Selain perawatan harian, Penangkaran UD Anugrah juga melakukan perawatan bulanan yaitu dengan cara menyemprot desinfektan pada kandang dengan campuran obat kutu dan cairan antiseptik. Kegiatan perawatan kandang di Penangkaran UD Anugrah dapat dilihat pada Gambar 9.
5.1.3.3 Suhu dan kelembaban udara kandang
Berdasarkan hasil pengamatan, pengukuran suhu udara di kandang penangkaran UD Anugrah berkisar antara 24°C – 29°C. Kondisi suhu udara di kandang Penangkaran UD Anugrah dapat dilihat pada Gambar 10.
Gambar 10 Suhu udara kandang di Penangkaran UD Anugrah.
Selain itu, kelembaban udara di kandang Penangkaran UD Anugrah berkisar antara 85% - 92% yang dapat dilihat pada Gambar 11.
Gambar 11 Kelembaban udara kandang di Penangkaran UD Anugrah.
Berdasarkan hasil pengamatan di Penangkaran UD Anugrah, suhu dan kelembaban kandang jalak bali hampir sama dengan keadaan jalak bali di habitat alaminya, yaitu di TNBB dengan suhu yang berkisar antara 28°C – 33°C dengan
kelembaban udara 86% (Novianti 2011). Dengan demikian, kondisi iklim mikro di Penangkaran UD Anugrah sangat mendukung untuk perkembangbiakan jalak bali, sehingga sangat cocok sebagai lokasi untuk menangkarkan jalak bali. Selain itu, ketika cuaca sangat panas pengelola Penangkaran UD Anugrah mengalirkan air yang digunakan untuk menyiram lantai kandang sehingga membuat keadaan di dalam kandang lebih sejuk dan air yang tergenang karena penyiraman tersebut digunakan jalak bali untuk mandi.
5.1.4 Pakan
Pakan merupakan hal yang sangat vital untuk jalak bali. Hal yang perlu diperhatikan adalah kecocokan antara pakan dengan jalak bali yang ditangkarkan. Untuk itu, pemberian pakan pada jalak bali tidak boleh dilakukan sembarangan karena berkaitan dengan keseimbangan unsur gizi yang dibutuhkan oleh tubuh jalak bali untuk berproduksi secara optimal. Menurut Mas’ud (2010), didalam pemilihan pakan untuk jalak yang dipelihara di penangkaran harus memperhatikan faktor kebiasaan makan (food habit) setiap jenis jalak, yakni sebagai pemakan buah, faktor penampakan bahan pakan, dan individu burung itu sendiri.
Selain itu, dalam penyediaan pakan harus cukup untuk kebutuhan jalak bali sehingga makanan yang diberikan berfungsi secara efektif dan efisien. Kriteria pakan yang berkualitas diantaranya adalah mempunyai kandungan gizi yang dibutuhkan oleh burung, makanan harus segar, tidak berjamur dan tidak tengik, makanan mudah dikonsumsi dan mudah dicerna oleh burung serta kandungan serat kasarnya tidak tinggi (Forum Agri 2012). Agar lebih jelas, dibawah ini akan diterangkan mengenai jenis pakan, sumber pakan, jumlah pakan, cara pemberian pakan, waktu pemberian pakan dan tempat penyimpanan pakan serta kandungan gizi pakan.
5.1.4.1 Jenis pakan, sumber pakan dan tempat penyimpanan pakan
pakan tambahan alami yang berasal dari buah yang diberikan oleh Penangkaran UD Anugrah kepada jalak bali diantaranya adalah pepaya dan pisang. Pemberian air minum dilakukan di dua tempat yaitu di tempat besar yang digunakan jalak bali untuk mandi dan minum serta di tempat plastik yang ditaruh dekat tempat makanan yang digunakan khusus untuk minum.
Pakan yang terdapat di Penangkaran UD Anugrah dinilai cukup bervariasi dibandingkan dengan pakan yang diberikan di Penangkaran MBOF yaitu hanya pisang, jangkrik, pur dan kroto (Yunanti 2012). Pakan yang bervariasi membuat jalak bali di Penangkaran UD Anugrah tidak pernah bosan untuk memakan pakan yang diberikan oleh pengelola. Untuk lebih mengetahui pakan yang diberikan Penangkaran UD Anugrah pada jalak bali dapat dilihat pada Gambar 12 (a) dan (b).
Gambar 12 (a) Pakan utama (voer dan jangkrik); (b) Pakan tambahan jalak bali (pisang, pepaya, cacing, ulat hongkong dan kroto) di Penangkaran UD Anugrah.
Pakan yang diberikan kepada jalak bali di Penangkaran UD Anugrah didapatkan melalui informasi yang terdapat dalam buku panduan penangkaran burung dan didapatkan melalui pengalaman menangkarkan burung. Di alam, jalak bali dapat memperoleh pakan dari habitat hutan savana, hutan musim, maupun hutan mangrove. Pakan yang diperoleh di habitat tersebut berupa pakan buah dan pakan hewani, diantara pakan hewani tersebut adalah ulat, belalang, capung, rayap, dan semut (Mas’ud 2010).
diantaranya adalah kroto dan jangkrik. Tempat penyimpanan pakan pada umumnya menyatu dengan dapur atau ruang gudang di rumah tinggal pengelola.
Perhatian pengelola Penangkaran UD Anugrah dikhususkan kepada penyimpanan kroto. Kroto yang baru didatangkan di Penangkaran UD Anugrah langsung dipisahkan antara telur dan larva dengan semut-semut pekerja yang kecil. Menurut Hermawan (2012), pemisahan antara telur dan larva dengan semut-semut pekerja yang kecil dilakukan karena jika tercampur menjadi satu maka burung tersebut tidak menyukai kroto yang diberikan. Selain itu, pemisahan antara telur dan larva dengan semut-semut pekerja bertujuan untuk mendapatkan kroto yang berkualitas dengan kriteria tidak berbau, tidak terlalu lengket dan berwarna cerah (Forum Agri 2012). Kroto yang diberikan kepada jalak bali tersebut termasuk kedalam jenis kroto basah yang mempunyai kandungan air (78,72%), jika tidak cepat disimpan maka akan terjadi pembusukan (Hermawan 2012). Penyimpanan kroto tersebut dilakukan di dalam kulkas yang sebelumnya ditutup rapat dengan tempat makanan.
5.1.4.2 Jumlah pakan, cara pemberian pakan dan waktu pemberian pakan
Jumlah pakan yang diberikan oleh Penangkaran UD Anugrah kepada jalak bali yang berada di penangkaran tidak diukur secara pasti. Pengelola memberikan pakan yang dilakukan sebanyak 1 kali, yaitu pada pagi hari sekitar pukul 06:00 – 07:30 WIB. Untuk lebih jelasnya dalam mengetahui persentase jumlah pakan yang diberikan kepada jalak bali, dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8 Persentase jumlah pakan jalak bali di Penangkaran UD Anugrah No Bahan Pakan Jumlah (gr) Persentase (%)
yang berbeda dalam memberikan jumlah pakan kepada satwa yang ditangkarkan. Masy’ud (2010) juga memberikan jenis dan jumlah pakan yang diberikan kepada jalak bali yang dapat dilihat pada Tabel 9.
Tabel 9 Jenis dan jumlah pakan yang diberikan per pasang jalak bali di penangkaran
No Jenis pakan Jumlah pemberian
1 Pakan nabati 3 Pakan konsentrat
¾ Fancy gold food
Pemberian pakan cacing, ulat hongkong hanya diberikan kepada jalak bali yang berada di kandang reproduksi. Pemberian pakan cacing, kroto, ulat hongkong dan jangkrik dilakukan dengan cara ditaruh di wadah yang telah tersedia di dalam kandang. Selain ditaruh di wadah yang tersedia di dalam kandang, pemberian pakan kroto juga dilakukan dengan cara menebar kroto di lantai kandang. Pemberian pakan cacing dan ulat hongkong dapat meningkatkan birahi, tetapi jika terlalu biasa diberikan cacing oleh pengelola maka efeknya tidak secepat yang diharapkan. Pemberian kroto di kandang reproduksi dicampur dengan probiotik breeding agar jalak bali yang berada di kandang reproduksi dapat mencapai birahi. Pemberian jangkrik pada kandang reproduksi lebih banyak jumlahnya dibandingkan dengan kandang yang lain. Menurut Yunanti (2012), pemberian jangkrik pada kandang reproduksi dapat membantu proses birahi agar indukan segera bertelur.
batasan lolohan 4 kali. Hal ini dilakukan karena pencernaan piyik masih belum stabil dan jika piyik terlalu kenyang maka piyik tersebut akan mati kekenyangan.
Pemberian pakan pisang dan pepaya dilakukan dengan cara mengupas kulitnya. Pisang dan pepaya yang telah dikupas kulitnya tersebut kemudian ditaruh di wadah yang telah disediakan. Dalam satu minggu pemberian pisang dan pepaya dilakukan secara bergantian dengan komposisi 5 hari pisang dan 2 hari pepaya.
5.1.4.3 Kandungan gizi pakan
Jalak bali sama dengan satwa yang ada di dunia, yaitu membutuhkan kandungan gizi yang cukup untuk hidupnya. Kandungan gizi pakan merupakan salah satu penentu dalam keberhasilan beternak jalak bali. Jika pakan diberikan sembarangan, maka keseimbangan unsur gizi yang dibutuhkan oleh jalak bali tidak berproduksi secara optimal. Kandungan gizi pakan jalak bali yang berada di Penangkaran UD Anugrah yang pernah dilaporkan Novianti (2011), dapat dilihat pada tabel 10.
Tabel 10 Kandungan gizi pakan jalak bali yang berada di Penangkaran UD Anugrah
total kadar lemak dalam kandungan gizi pakan jalak bali sebesar 43,62% dengan total kadar lemak dalam pakan utama sebesar 12,59% dan jumlah total serat kasar dalam kandungan gizi pakan jalak bali di Penangkaran UD Anugrah sebesar 24,8825% dengan total serat kasar dalam pakan utama sebesar 14,76% serta jumlah total energi yang terdapat pada pakan jalak bali di Penangkaran UD Anugrah sebesar 9163,53 kkal/kg dengan total energi dalam pakan utama sebesar 3694,22 kkal/kg. Ditinjau dari Sudarwo dan Siriwa (1999), menyebutkan bahwa jumlah kebutuhan energi pada unggas sebesar 2900 – 3200 kkal/kg dan jumlah protein sebesar 10–30%. Kebutuhan energi dan protein tersebut tidak jauh berbeda bila dibandingkan dengan jumlah kebutuhan energi di Penangkaran UD Anugrah sebesar 3694,22 kkal/kg dan kebutuhan protein sebesar 29,4% dalam pakan utama jalak bali, sehingga dapat dikatakan kandungan gizi pakan jalak bali di Penangkaran UD Anugrah sudah cukup baik.
Kandungan protein diperlukan bagi burung sebagai zat pembangun tubuh, dapat menggantikan jaringan tubuh yang rusak, sebagai bahan baku pembentukan enzim, hormon, dan zat-zat antibodi serta mengatur peredaran cairan tubuh dan zat yang larut di dalamnya ke dalam dan ke luar sel (Hermawan 2012). Protein terbentuk dari 20 asam amino (Turut 2011). Menurut Hermawan (2012), kekurangan protein menyebabkan burung menjadi kurus, bulu rusak, kerdil, kanibalisme, murung, enggan berkicau, serta sering berprilaku mencabuti bulunya sendiri.
5.1.5 Pemeliharaan kesehatan
Salah satu kendala terbesar dalam penangkaran jalak bali adalah munculnya serangan penyakit yang bisa datang kapan saja, dan apabila tidak segera ditangani dapat menyebabkan jalak bali menjadi cacat atau bahkan mati. Penyakit yang ditemukan sering menyerang jalak bali di Penangkaran UD Anugrah adalah diare. Menurut Suzanna dan Wresdiyati (1991), penyebab penyakit diare pada satwa yang ditangkarkan disebabkan oleh bakteri Coliform diarrhea. Diare ditandai dengan kotoran burung yang encer. Pengobatan yang dilakukan oleh Penangkaran UD Anugrah adalah dengan cara mencampurkan
Revell Global sebanyak 1 tetes kepada minuman jalak bali. Penggunaan Revell Global pada umumnya merupakan suplemen yang digunakan oleh manusia, tetapi di Penangkaran UD Anugrah menggunakan obat tersebut untuk mengobati jalak bali yang sedang mengalami diare. Perbandingan dosis yang dilakukan oleh Penangkaran UD Anugrah dalam memakai Revell Global adalah 1:20, dengan artian 20 tetes kepada manusia setara dengan satu tetes kepada jalak bali.
Menurut hasil penelitianYunanti (2012), penyakit yang pernah dialami oleh jalak bali di Penangkaran Mega Bird and Orchid Farm (MBOF) dapat dilihat pada Tabel 11.
Tabel 11 Riwayat penyakit yang pernah diderita jalak bali di Penangkaran MBOF No Jenis penyakit Obat Keterangan
1 Katarak Tidak dapat diobati -
2 Flu Tetra-chrol dan mitrafox-12 Dicampurkan pada minuman 3 Sakit mata Obat tetes mata (polidex) Diteteskan pada mata burung 4 Cacar pada kaki Antiseptic dan Salep 88 atau
cabe
Disemprotkan pada kandang atau dioleskan pada kaki
Penangkaran UD Anugrah selain memberikan penanganan secara cepat terhadap penyakit yang diderita oleh jalak bali juga memberikan suplemen tambahan berupa vitamin yang dapat menjaga kondisi tubuh serta memberikan
Gambar 13 Obat-obatan dan multivitamin jalak bali di Penangkaran UD Anugrah.
5.1.6 Teknik reproduksi
Reproduksi jenis-jenis satwa liar yang dilakukan secara intensif dalam penangkaran, memiliki proses pemeliharaan yang pada dasarnya sama dengan pengembangbiakan pada hewan ternak (Thohari 1987). Menurut Setio dan Takandjandji (2007), reproduksi merupakan kunci keberhasilan dalam penangkaran untuk meningkatkan populasi dan produktivitas. Pengetahuan tentang biologi dan perilaku reproduksi jenis satwa yang ditangkarkan sangat penting karena dapat memberikan arah pada tindakan manajemen yang diperlukan guna menghasilkan produksi satwa yang ditangkarkan sesuai harapan. Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara dengan pihak pengelola, aspek reproduksi yang terdapat di Penangkaran UD Anugrah meliputi pemilihan bibit, penentuan jenis kelamin, pengaturan kawin dan pembesaran piyik.
5.1.6.1 Pemilihan bibit
Menurut Mas’ud (2010), pemilihan bibit jalak bali yang dijadikan sebagai indukan harus sehat, energik (aktif), nafsu makannya baik, kotorannya tidak keras atau tidak encer, mata jernih, bulu halus, bulu bersih putih mengkilat, dan gerakannya lincah. Selain itu, pemilihan bibit di Penangkaran UD Anugrah untuk jantan usia minimal berumur satu tahun dan untuk betina usia minimal delapan bulan.
5.1.6.2 Penentuan jenis kelamin
Salah satu bentuk aktivitas yang sangat penting dan harus dilakukan dalam beternak jalak bali adalah melakukan identifikasi jenis kelamin jalak bali yang dikenal dengan istilah sexing. Identifikasi jenis kelamin ini sangat penting untuk dilakukan karena berkaitan dengan perbedaan perlakuan yang harus diberikan pada jalak bali jantan dengan jalak bali betina setelah memasuki masa birahi. Selain itu, identifikasi jenis kelamin ini sangat berguna sewaktu akan dilakukan proses perkawinan sehingga tidak terjadi kesalahan dalam pemilihan indukan, baik pada jantan maupun pada betina yang dijodohkan.
Bagi sebagian orang, sexing ini merupakan suatu pekerjaan yang tidak mudah dilakukan. Sebab, tampilan luar antara jalak bali jantan dan jalak bali betina memang nyaris tidak jauh berbeda. Mas’ud (2010) juga menyebutkan jalak bali termasuk burung monomorfik yang memiliki tampilan luar relatif sama, maka membedakan jenis kelamin antara burung jantan dan betina relatif sulit. Penangkaran UD Anugrah mempunyai cara sendiri dalam menentukan jenis kelamin jantan dan jenis kelamin betina pada jalak bali yang dapat dilihat pada Tabel 12.
Tabel 12 Ciri-ciri morfologi jalak bali jantan dan jalak bali betina di Penangkaran UD Anugrah
No Ciri morfologi Jantan Betina
1 Postur tubuh Tampak lebih besar Tampak lebih ramping 2 Bulu di paruh Lebih panjang dan tegak ke atas Pendek dan datar
3 Kuncir Lebih panjang Pendek
Gambar 14 Jalak bali jantan (kanan) dan jalak bali betina (kiri).
Selain ciri-ciri morfologi yang dapat membedakan antara jalak bali jantan dengan jalak bali betina, Penangkaran UD Anugrah juga melihat dari aktivitasnya. Aktivitas jalak bali jantan lebih aktif daripada aktivitas jalak bali betina. Mas’ud (2010) menambahkan, perbedaan antara jalak bali jantan dan jalak bali betina adalah jalak bali betina kicauannya kurang rajin dan kurang bervariasi serta volume suaranya lebih kecil dibandingkan dengan jalak bali jantan yang memiliki volume suara yang lebih besar dan bervariasi. Pada musim kawin juga terlihat perbedaan antara jalak bali jantan dengan jalak bali betina. Menurut Kurniasih (1997), pada musim kawin jalak bali jantan lebih agresif dari pada jalak bali betina.
5.1.6.3 Pengaturan kawin
Pengaturan kawin terhadap jalak bali yang berada di Penangkaran UD Anugrah adalah dengan mengawinkan satu jantan dengan satu betina dalam satu kandang reproduksi. Jalak tergolong hewan monogamus yang hanya memiliki satu pasangan dalam satu musim kawin sehingga sex rasionya adalah 1:1 (Mas’ud 2010). Proses perkawinan jalak bali menurut pengelola Penangkaran UD. Anugrah terjadi setiap bulan dengan frekuensi telur yang dihasilkan antara 2 – 4 telur.
sahut menyahut. Setelah itu, jalak bali yang sudah memilih jodoh dipindahkan ke kandang kawin kemudian jika tidak memperlihatkan tanda-tanda kawin maka salah satu induk diambil dan diganti dengan pasangan yang lain. Menurut Mas’ud (2010), dalam proses perkawinan intensitas perawatan kandang harus dikurangi dan faktor-faktor gangguan sedapat mungkin harus dihindari karena jika terdapat gangguan, pasangan jalak bali seringkali memperlihatkan sifat tidak mau bertelur, enggan mengerami telur atau bahkan kanibalisme.
Setelah melakukan perkawinan dan mengeluarkan telur, jalak bali jantan dan jalak bali betina akan mengerami telur dengan masa pengeraman 14 – 18 hari. Jalak bali betina mengeluarkan satu telur per hari dan terus berlanjut hingga jumlah telur di tubuhnya habis. Berdasarkan hasil pengamatan, proses mengeluarkan telur terjadi pada pukul 08.00 WIB – 09.00 WIB. Pengeraman telur dilakukan pada waktu hari pertama mengeluarkan telur dengan frekuensi pengeraman paling banyak pengeraman dilakukan oleh jalak bali betina.
Berdasarkan hasil wawancara dengan pengelola Penangkaran UD Anugrah, terdapat kasus dimana telur berhasil menetas, tetapi anaknya mati setelah menetas. Menurut Forum Agri (2012), terdapat binatang pengganggu yang masuk ke dalam sarang. Solusi untuk hal ini, begitu telur-telur sudah menetas, peternak harus rajin memperhatikan atau mengawasi keadaan sarang (dalam jarak yang tidak terlalu dekat), sehingga apabila terjadi hal-hal yang mencurigakan bisa langsung ditangani.
5.1.6.4 Pembesaran piyik
Proses pembesaran piyik di Penangkaran UD Anugrah dilakukan dengan cara pengelola mengambil piyik yang telah berumur 3 – 7 hari kemudian dipindahkan ke inkubator. Menurut hasil wawancara dengan pengelola, proses pemindahan piyik ke inkubator disebabkan oleh indukan jalak bali tidak mau meloloh anaknya dan anaknya dibuang dari sangkar. Menurut Mas’ud (2010), dengan mempercepat usia sapih anak, pada dasarnya dapat mempercepat induk untuk bertelur kembali, namun cara ini perlu dilakukan dengan hati-hati, agar tidak menimbulkan resiko stres baik kepada induk maupun anaknya.
Pemberian pakan kroto basah tersebut juga untuk memberikan gizi yang terbaik, terutama protein, yaitu 47,80% (Hermawan 2012). Piyik jalak bali sangat memerlukan protein karena fungsi protein sebagai perkembangan setiap sel dalam tubuh dan juga untuk menjaga kekebalan tubuh dari penyakit. Piyik jalak bali berada di inkubator selama 1 bulan yang kemudian dipindahkan ke kandang soliter. Berdasarkan hasil pengamatan, di dalam inkubator, suhu di dalamnya disesuaikan dengan suhu nyaman jalak bali yaitu sekitar 29°C supaya piyik tersebut tetap hangat dan nyaman, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 15.
Gambar 15 Piyik jalak bali di inkubator Penangkaran UD Anugrah.
Menurut Setio dan Takandjandji (2007), pembesaran piyik yang dilakukan di Penangkaran UD Anugrah dilakukan dengan cara hand rearing. Hand rearing
adalah proses penanganan piyik dengan cara memisahkan atau mengambil burung dari induknya untuk kemudian dipelihara dan dibesarkan oleh penangkar secara lebih intensif sampai burung bisa dianggap mandiri. Walaupun memberikan kemungkinan keberhasilan hidup anak piyik yang lebih tinggi, hand rearing
Pemasangan cincin dilakukan terhadap piyik yang berumur tujuh hari pada kaki kiri. Menurut Setio dan Takandjandji (2007), pemasangan cincin kepada piyik yang masih berumur muda dilakukan agar tidak merusak kakinya serta pemasangan cincin di sebelah kiri karena kaki kiri sering dipakai untuk bertumpu sedangkan kaki kanan dipakai untuk mengambil, memegang atau menjepit makanan.
5.1.7 Teknik adaptasi
Teknik adaptasi dilakukan oleh Penangkaran UD Anugrah kepada jalak bali yang baru didatangkan ke dalam lingkungan penangkaran yang baru. Proses adaptasi satwa bagi jalak bali diletakkan di dalam kandang karantina yang bertujuan untuk mengurangi rasa stres pada burung. Kandang karantina yang terdapat di Penangkaran UD Anugrah sama dengan kandang soliter. Menurut Mas’ud (2010), adaptasi di kandang karantina hal ini dimaksudkan untuk melihat kemungkinan adanya penyakit atau gangguan lain. Lama proses adaptasi jalak bali di kandang soliter yang pernah dilakukan oleh Penangkaran UD Anugrah selama 2 – 7 hari. Menurut Turut (2011), dalam menjinakkan burung yang didatangkan dari luar terdapat beberapa cara, diantaranya:
a. Harus diupayakan mandi di tempat mandi khusus burung. b. Jangan terlalu sering membuatnya terkejut.
c. Harus dijauhkan dari gangguan lingkungan, baik pada siang dan malam hari.
Selain itu, penggunaan kandang karantina juga digunakan bagi jalak bali yang menderita penyakit. Pemisahan ini dilakukan agar penyakit yang diderita tidak menular ke jalak bali yang lain dan agar bisa segera mendapatkan perawatan yang semestinya. Perlakuan yang diberikan oleh pengelola Penangkaran UD Anugrah terhadap jalak bali yang berada di kandang karantina adalah sama seperti perlakuan pada burung lainnya yaitu memberi makan, minum dan pemberian obat-obatan serta vitamin.
5.2.8 Manajemen pemanfaatan hasil
konsumen karena penampilannya yang indah dan elok. Syarat jalak bali yang diperdagangkan adalah sehat dan tidak ada cacat.
Jalak bali yang berumur tiga bulan dijual dengan harga Rp. 5.000.000,- per ekor lengkap dengan cincin, sertifikat dan SATS-DN. Jalak bali yang telah berpasangan dijual oleh Penangkaran UD Anugrah dengan harga 9 – 20 juta per pasang. Pemakaian cincin dilakukan pengelola kepada jalak bali yang berumur tujuh hari. Jalak bali yang sudah dibeli, dibawa oleh konsumen dengan kandang soliter yang dipakaikan dengan kerodong. Kerodong adalah kain yang digunakan menutup kandang soliter agar burung yang dibawa tidak stres. Perbedaan harga yang dijual selain syarat utama yaitu sehat dan tidak ada cacat serta syarat yang lain yaitu dari perbedaan umur jalak bali yang ditangkarkan. Untuk mengetahui bentuk cincin dan sertifikat yang terdapat di Penangkaran UD Anugrah dapat dilihat pada Gambar 16 (a) dan (b).
Gambar 16 (a) Cincin jalak bali; (b) Sertifikat penjualan jalak bali di Penangkaran UD. Anugrah.
5.2 Ukuran keberhasilan dalam kegiatan penangkaran jalak bali di Penangkaran UD Anugrah
Dalam suatu usaha penangkaran, khususnya penangkaran jalak bali keberhasilan dalam mengembangbiakkan jalak bali hingga memperoleh bibit yang baru adalah hal yang mutlak untuk diperoleh apabila penangkaran tersebut ingin terus berjalan. Jalak bali yang ditangkarkan oleh suatu penangkaran harus sehat dan tidak cacat, hal ini akan berakibat dengan kualitas jalak bali dan bibit jalak bali yang dihasilkan. Berikut persentase dan kriteria tingkat daya tetas telur, perkembangbiakan induk jalak bali dan angka kematian piyik dapat dilihat pada Tabel 13.
Tabel 13 Persentase dan kriteria tingkat daya tetas telur, perkembangbiakan dan angka kematian jalak bali di Penangkaran UD Anugrah
No Tahun
Persentase (%)
Daya tetas telur Perkembangbiakan induk jalak bali
Kriteria Sedang Tinggi Rendah
didapatkan dari total anak yang mati tiap kelas umur dibagi dengan total anak keseluruhan tiap kelas umur. Menurut Permenhut Nomor P.19/Menhut-II/2005 tentang Penangkaran Tumbuhan dan Satwa Liar menyebutkan bahwa tingkat daya tetas telur, tingkat perkembangbiakan induk jalak bali serta tingkat angka kematian piyik yang berada di Penangkaran UD Anugrah telah memenuhi syarat untuk keberhasilan penangkaran dalam segi standar kualifikasi penangkaran yang telah ditetapkan oleh Permenhut tersebut. Hal ini dapat dilihat dari hasil penangkaran yang dinyatakan telah layak untuk dijual kepada peminat jalak bali. Standar kualifikasi penangkaran tersebut dapat dilihat pada lampiran 8 mengenai keputusan dari Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur yang member izin kepada Penangkaran UD Anugrah sebagai pengumpul/pengedar jalak bali.
Peran serta masyarakat sekitar penangkaran sangat diperlukan dalam suatu usaha penangkaran, apabila tidak diperhatikan faktor tersebut maka besar kemungkinan akan terjadi kecemburuan sosial yang akan merugikan kegiatan pengelolaan suatu penangkaran. Berdasarkan hasil wawancara, Penangkaran UD Anugrah telah memperhatikan faktor tersebut dengan cara memperkerjakan masyarakat sekitar sebagai keeper serta sebagai penyedia pakan bagi jalak bali. Penangkaran UD Anugrah juga tidak melakukan perbuatan yang merugikan masyarakat, seperti membuang limbah sembarangan. Hal ini dikarenakan limbah yang berasal dari hasil pembuangan Penangkaran UD Anugrah dikumpulkan dan dibuang ke tempat sampah serta membuat Penangkaran UD Anugrah dinilai berhasil dalam memperhatikan faktor sosial yang berada di sekitar penangkaran tersebut. Prayana (2012) menambahkan, beberapa hal yang menjadi faktor penentu keberhasilan dalam kegiatan penangkaran antara lain:
a. Letak kandang yang jauh dari kebisingan dan gangguan manusia. b. Kebersihan, keamanan, dan perawatan kandang yang selalu terjaga.
c. Pemberian pakan, baik pakan utama maupun pakan tambahan yang rutin diberikan setiap hari.
d. Pemberian obat dan vitamin secara rutin untuk menjaga kesehatan dan mencegah terserangnya penyakit pada burung yang ditangkarkan.
5.3 Aktivitas Harian
Tempat penangkaran tidak dapat dikondisikan serupa dengan habitat asli jalak bali di alam. Akibat keterbatasan inilah yang menyebabkan perubahan pada perilaku jalak bali. Hasil penelitian mengenai persentase aktivitas harian jalak bali di Penangkaran UD Anugrah dapat dilihat pada Gambar 17. Berdasarkan gambar 20, aktivitas jalak bali jantan banyak melakukan aktivitas diam, yaitu selama 147,13 menit atau sekitar 20,43% dari waktu pengamatan disusul dengan aktivitas mengerami telur yaitu selama 125,92 menit atau sekitar 17,49% dari waktu pengamatan, aktivitas yang sedikit dilakukan oleh jalak bali jantan aktivitas kawin yang dilakukan selama 0,2 menit atau sekitar 0,03% dari waktu pengamatan, sedangkan untuk aktivitas jalak bali betina aktivitas yang paling banyak dilakukan adalah aktivitas mengerami telur, yaitu selama 366,76 menit atau sekitar 50,94% dari waktu pengamatan disusul dengan aktivitas makan selama 94,45 menit atau sekitar 13,12% dari waktu pengamatan serta untuk aktivitas yang sedikit dilakukan yaitu aktivitas membangun sarang, yaitu selama 0,55 menit atau sekitar 0,08% dari waktu pengamatan. Aktivitas harian jalak bali yang ditunjukkan di Penangkaran UD Anugrah, jalak bali jantan cenderung lebih aktif dan dominan daripada jalak bali betina. Hal ini sesuai dengan pendapat Houpt dan Thomas (1982) dalam Rekapermana et. Al (2006), yang menyatakan bahwa pada umumnya satwa jantan lebih agresif dibandingkan satwa betina, baik dalam hubungan interspecies maupun intraspecies.
Gambar 17 Persentase aktivitas harian jalak bali di Penangkaran UD Anugrah.
Selain itu, untuk mengetahui hubungan perbedaan antara jenis kelamin dengan aktivitas harian jalak bali, maka diuji dengan menggunakan uji khi-kuadrat (X2) yang dapat dilihat pada tabel 14.
Tabel 14 Perbedaan karakteristik aktivitas harian antara jalak bali jantan dan jalak bali betina berdasarkan hasil uji X2
No Jenis aktivitas X2 hitung Perbedaan antara jalak bali jantan dan jalak bali betina
1 Melompat 0,22 Tidak nyata
7 Membersihkan paruh 0,08 Tidak nyata
8 Terbang 0,1 Tidak nyata
15 Mengerami telur 117,74 Sangat nyata
16 Saling dekat 10,78 Sangat nyata
17 Saling menelisik tubuh 16,15 Sangat nyata
18 Kawin 0,2 Tidak nyata
19 Bertelur 1,08 Nyata
Keterangan X2 tabel (0.99;4) = 0.297
Berdasarkan tabel 14, diketahui bahwa sebagian besar aktivitas jalak bali terdapat perbedaan yang nyata. Perbedaan nyata antara jalak bali jantan dan jalak bali betina terdapat 14 aktivitas, diantaranya adalah bersuara, berjalan, bergeser, menelisik bulu, diam, makan, minum, mandi, membawa bahan sarang, mengerami telur, bertelur, saling dekat dan saling menelisik tubuh. Perbedaan nyata didapatkan ketika nilai X2 hitung lebih besar dari pada nilai X2 tabel maka tolak H0. Selain itu, terdapat aktivitas yang tidak menunjukkan perbedaan nyata antara
5.3.1 Aktivitas melompat
Jalak bali yang terdapat di Penangkaran UD Anugrah melakukan aktivitas melompat ketika jalak bali tersebut menghampiri pakan yang diberikan pengelola dan ketika jalak bali tersebut turun ke lantai kandang serta menghampiri tempat mandi. Ketika melompat, jalak bali menyentakkan kaki belakang dan kaki depan lurus ke depan sampai ke tempat yang dituju. Jalak bali jantan melakukan aktivitas melompat selama 15,93 menit atau 2,21% dari waktu pengamatan, sedangkan jalak bali betina melakukan aktivitas melompat selama 13,65 menit atau 1,9% dari waktu pengamatan. Aktivitas melompat lebih sering dilakukan oleh jalak bali betina di pagi hari ketika pengelola memberikan pakan ke kandang serta aktivitas melompat lebih sering dilakukan jalak bali jantan di siang hari menuju tempat mandi ketika suhu di penangkaran menjadi tinggi.
5.3.2 Aktivitas bersuara
Menurut Fitri (2012) dan Fraser (1980) diacu dalam Rianti (2010), suara yang dikeluarkan oleh burung pada dasarnya untuk mempertahankan diri dari predator serta untuk memikat betina dalam proses pra kawin. Berdasarkan hasil pengamatan, aktivitas bersuara yang dilakukan jalak bali jantan dalam memikat jalak bali betina, ditandai dengan suara “wuudtuk” secara berulang. Ketika mengeluarkan suara, kepala diarahkan ke atas, jambul ditegakkan, perut menjadi besar dan badan digerakkan naik dan turun (Gambar 18).
Gambar 18 Aktivitas bersuara jalak bali di Penangkaran UD Anugrah.
aktivitas bersuara sebanyak 23,25 menit atau sekitar 3,23% dari waktu pengamatan. Hal ini sesuai dengan pendapat Mas’ud (2010), yang menyatakan bahwa jalak bali betina kicauannya kurang rajin dan kurang bervariasi serta volume suaranya lebih kecil dibandingkan dengan jalak bali jantan yang memiliki kicauan yang rajin, volume suara yang lebih besar dan bervariasi.
5.3.3 Aktivitas berjalan
Jalak bali yang berada di Penangkaran UD Anugrah melakukan aktivitas berjalan di lantai kandang, biasanya aktivitas ini bertujuan untuk memperoleh pakan dan air. Menurut Dimitra (2011), berjalan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu pertama berjalan biasa menggunakan kaki kiri lalu disusul dengan kaki kanan. Kedua berjalan cepat, yaitu seperti halnya dengan jalan biasa hanya lebih cepat. Jalak bali jantan melakukan aktivitas berjalan sebanyak 41,26 menit atau sekitar 5,73% dari waktu pengamatan, sedangkan jalak bali betina melakukan aktivitas berjalan sebanyak 26,09 menit atau sekitar 3,62% dari waktu pengamatan. Jalak bali jantan banyak melakukan aktivitas berjalan dibandingkan dengan jalak bali betina karena jalak bali betina selama pengamatan banyak menghabiskan waktu di dalam sarang untuk mengerami telur.
Menurut Takandjandji dan Mite (2008), aktivitas berjalan disebabkan oleh adanya rangsangan eksternal dan internal dari dalam tubuh. Ransangan internal berasal dari dalam tubuh, dimana burung merasa lapar, haus, dan ingin kawin, sehingga melakukan aktivitas berjalan yang diinginkan. Ransangan eksternal merupakan rangsangan dari luar, misalnya adanya gangguan yang menyebabkan jalak bali melakukan aktivitas.
5.3.4 Aktivitas membuang kotoran
Pada aktivitas membuang kotoran, tidak terdapat perbedaan yang besar antara jalak bali jantan dengan jalak bali betina. Menurut Bagus (2011), tingginya aktivitas membuang kotoran yang dilakukan oleh satwa disebabkan oleh hasil metabolisme konsumsi pakan pada waktu sebelumnya yang tidak dicerna dan tidak digunakan lagi oleh tubuh, sehingga harus dikeluarkan.
5.3.5 Aktivitas bergeser
Aktivitas bergeser merupakan aktivitas yang dilakukan jalak bali ketika berpindah tempat pada tempat bertengger dengan cara bergeser. Ketika melakukan aktivitas bergeser, jalak bali bergeser dengan posisi kepala menghadap arah yang dituju (Gambar 19).
Gambar 19 Aktivitas bergeser jalak bali di Penangkaran UD Anugrah.
Jalak bali jantan melakukan aktivitas bergeser selama 26,62 menit atau sekitar 3,7% dari waktu pengamatan, sedangkan jalak bali betina melakukan aktivitas bergeser selama 9,2 menit atau sekitar 1,28% dari waktu pengamatan. Menurut hasil penelitian di lapangan, jalak bali jantan banyak melakukan aktivitas bergeser karena aktivitas tersebut digunakan untuk menghampiri jalak bali betina yang ketika itu berada di tempat bertengger.
5.3.6 Aktivitas menelisik bulu
digigit-gigit hingga keujung. Kaki burung dapat menggaruk bagian kepala, biasanya untuk membersihkan bagian kepala yang tidak dapat tersentuh oleh paruh. Aktivitas menelisik bulu dilakukan di atas tempat bertengger. Untuk mengetahui aktivitas menelisik bulu jalak bali yang berada di Penangkaran UD Anugrah dapat dilihat pada Gambar 20.
Gambar 20 Aktivitas menelisik bulu jalak bali di Penangkaran UD Anugrah.