• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hubungan Paritas dengan Kejadian Perdarahan Pasca Salin Primer di RSU. Haji Medan Periode Tahun 2011-2013

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Hubungan Paritas dengan Kejadian Perdarahan Pasca Salin Primer di RSU. Haji Medan Periode Tahun 2011-2013"

Copied!
62
0
0

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN PARITAS DENGAN KEJADIAN PERDARAHAN PASCA SALIN PRIMER DI RSU. HAJI MEDAN

PERIODE TAHUN 2011-2013

NURUL AINI SIAGIAN 135102009

KARYA TULIS ILMIAH

PROGRAM D-IV BIDAN PENDIDIK FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)
(3)

HUBUNGAN PARITAS DENGAN KEJADIAN PERDARAHAN PASCA SALIN PRIMER DI RSU. HAJI MEDAN

PERIODE TAHUN 2011-2013 ABSTRAK

Nurul Aini Siagian

Latar Belakang : Perdarahan pasca salin adalah salah satu penyebab langsung kematian ibu, hampir seperempat dari semua kematian ibu di seluruh dunia. Perdarahan pasca salin primer ialah perdarahan > 500 cc pada 24 jam pertama setelah persalinan. Salah satu faktor predisposisi yang mempengaruhi perdarahan pasca salin primer adalah paritas tinggi.

Tujuan Penelitian : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan paritas dengan kejadian perdarahan pasca salin primer.

Metode Penelitian : Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan total sampling. Jumlah sampel 298 orang. Analisis data dilakukan dengan continuity correction.

Hasil Penelitian : Hasil penelitian berdasarkan paritas dari 130 responden primipara yang mengalami perdarahan pasca salin primer yaitu 12 orang (4,02%), dan dari 168 responden multipara sebanyak 18 orang (6,04%). Hasil uji statistik diperoleh nilai p 0,820, maka dapat disimpulkan tidak ada hubungan yang signifikan antara paritas dengan kejadian perdarahan pasca salin primer. Diketahui nilai OR=0,84, artinya paritas multipara 0,84 kali lebih beresiko dibandingkan paritas primipara

Kesimpulan : Dari hasil yang diperoleh dapat disimpulkan tidak ada hubungan antara paritas dengan kejadian perdarahan pasca salin primer. Namun paritas multipara bisa menjadi faktor resiko terjadinya perdarahan pasca salin primer. Jadi, diharapkan bagi tenaga medis perlu meningkatkan upaya keterampilan dalam mendeteksi dini kasus perdarahan pasca salin primer.

(4)

KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur peneliti mengucapkan Kehadirat Allah SWT yang telah

melimpahkan rahmat dan hidayat serta karunia-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah yang berjudul “Hubungan Paritas dengan Kejadian Perdarahan Pasca Salin Primer di RSU. Haji Medan Periode Tahun 2011-2013”.

Penulis karya tulis ilmiah ini merupakan salah satu persyaratan yang harus dipenuhi dalam menyelesaikan Program Studi D-IV Bidan Pendidik USU, peneliti

menyadari sepenuhnya bahwa karya tulis ilmiah ini masih jauh dari kesempurnaan penulisan di masa yang akan datang.

Pada kesempatan ini pula peneliti mengucapkan terima kasih yang terhormat :

1. Dr. Dedi Ardinata, M. Kes, selaku Dekan Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara.

2. Nur Asnah Sitohang, S. Kep, Ns, M. Kep. Selaku ketua pelaksana program

studi D-IV Bidan Pendidik.

3. Farida Linda Sari, S. Kep, Ns, M. Kep. Selaku koordinator D-IV Bidan

Pendidik USU.

4. Dr. dr. Sarma N Lumban Raja SpOG(K), selaku dosen pembimbing dalam penelitian.

5. Diah Lestari Nasution, S. ST, M. Keb. Selaku Penguji I 6. Hj. Idau Ginting, S. ST, M. Kes. Selaku Penguji II

7. Seluruh Dosen dan Staff Pegawai Program Studi D-IV Bidan Pendidik USU. 8. Dr. Yulinda Elvi Nasution, selaku Kepala Bidang Pendidikan & Penelitian

(5)

9. Sembah sujud Ananda Kepada Ayahanda H. Nurlen Siagian dan Ibunda Hj. Dahniar Margolang, yang telah memberikan dukungan baik moril maupun material kepada peneliti yang tiada henti hingga peneliti dapat menyelesaikan

karya tulis ilmiah ini.

10.Buat keluarga cendana yang selalu memberikan motivasi serta dukungan kepada saya.

11.Teman-teman seperjuangan yang telah memberikan dukungan dan motivasi sehingga peneliti dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah ini.

12.Kepada seluruh rekan-rekan mahasiswi DIV Bidan Pendidik USU angkatan 2013, yang telah banyak membantu peneliti dalam menyelesaikan karya tulis ilmiah ini.

13.Serta semua pihak yang tidak dapat peneliti sebutkan satu persatu yang telah membantu dalam penyelesaian karya tulis ilmiah ini.

Akhirnya peneliti ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu peneliti dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini. Semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu memberikan berkat dan rahmat-Nya kepada kita semua. Peneliti

berharap semoga karya tulis ilmiah ini bermanfaat bagi semua pembaca. Akhir kata penulis mengucapkan banyak terima kasih

Medan, Januari 2014 Peneliti

(6)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... iv

DAFTAR TABEL ... iiiv

DAFTAR SKEMA ... ix

DAFTAR LAMPIRAN ... x

BAB I : LATAR BELAKANG A. Latar Belakang ... 1

B. Perumusan Masalah ... 4

C. Tujuan Penelitian ... 5

1. Tujuan Umum .... ... 5

2. Tujuan Khusus ... 5

D. Manfaat Penelitian ... 6

1. Bagi Institusi Pendidikan ... 6

2. Bagi Tenaga Medis ... 6

3. Bagi Peneliti ... 6

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA A. Perdarahan Pasca Salin ... 7

1. Pengertian Perdarahan Pasca salin ... 7

2. Klasifikasi Perdarahan Pasca Salin ... 7

(7)

C. Epidemiologi ... 9

1. Insiden ... 9

D. Perdarahan Pasca Salin Primer ... 10

1. Pengertian Perdarahan Pasca Salin Primer ... 10

E. Gambaran Klinis Perdarahan Pasca Salin Primer ... 10

F. Diagnosis Perdarahan Pasca Salin Primer ... 10

G. Etiologi ... 11

1. Tone Dimished : Atonia Uteri ... 12

2. Tissue ... 13

a. Retensio Plasenta ... 13

b. Sisa Plasenta ... 14

c. Plasenta Akreta dan Variasinya... 15

3. Trauma ... 15

a. Robekan Jalan Lahir ... 15

b. Inversio Uteri ... 16

4. Trombin ... 18

a. Kelainan Perdarahan ... 18

H. Faktor resiko ... 19

I. Penanganan Perdarahan Pasca Salin Primer ... 20

J. Manajemen Aktif Kala III ... 22

1. Pemberian Suntikan Oksitosin ... 22

2. Penegangan Tali Pusat Terkendali ... 22

3. Rangsangan Taktil (Masase) Fundus Uteri ... 24

K. Paritas ... 25

(8)

L. Mekanisme Terjadinya Perdarahan Postpartum

Primer Yang Berhubungan Dengan Paritas ... 26

BAB III : KERANGKA KONSEP A. Kerangka Konsep ... 28

B. Hipotesa ... 28

C. Defenisi Operasional ... 29

BAB IV : METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian ... 30

B. Populasi dan Sampel ... 31

1. Populasi Penelitian ... 31

2. Sampel Penelitian ... 31

C. Lokasi Penelitian ... 32

D. Waktu Penelitian ... 32

E. Etika Penelitian ... 32

1. Anominity (tanpa nama) ... 32

2. Confidentiality (kerahasiaan) ... 33

F. Prosedur Pengumpulan Data ... 33

G. Analisa Data ... 33

1. Analisa Univariate ... 34

2. Analisa Bivariate ... 34

BAB V : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Hasil Penelitian ... 35

1. Analisa Univariat ... 35

(9)

B. Pembahasan ... 38

1. Interpretasi dan diskusi hasil ... 38

2. Keterbatasan penelitian ... 41

3. Implikasi untuk asuhan kebidanan ... 42

BAB VI : KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 43

B. Saran ... 44

(10)

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan

Paritas Di RSU. Haji MedanPriode Tahun 2011-2013 ... 36

Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Responden Yang Mengalami

Perdarahan Di RSU.Haji Medan periode Thaun 2011-2013 ... 37

Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Paritas Responden Yang Mengalami

Perdarahan Di RSU.Haji Medan periode Tahun 2011-2013 ... 37

Tabel 5.4 Hubungan Paritas Dengan Kejadian Perdarahan Pasca

(11)

DAFTAR SKEMA

Halaman Skema 3.1 : Kerangka Konsep Penelitian Hubungan Paritas

(12)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Lembar Pengumpulan Data

Lampiran 2 : Lembar Persetujuan Sidang Hasil Lampiran 3 : Lembar konsultasi

Lampiran 4 : Master Tabel

Lampiran 5 : Hasil Output Data

Lampiran 6 : Lembar Surat Izin Penelitian

(13)

HUBUNGAN PARITAS DENGAN KEJADIAN PERDARAHAN PASCA SALIN PRIMER DI RSU. HAJI MEDAN

PERIODE TAHUN 2011-2013 ABSTRAK

Nurul Aini Siagian

Latar Belakang : Perdarahan pasca salin adalah salah satu penyebab langsung kematian ibu, hampir seperempat dari semua kematian ibu di seluruh dunia. Perdarahan pasca salin primer ialah perdarahan > 500 cc pada 24 jam pertama setelah persalinan. Salah satu faktor predisposisi yang mempengaruhi perdarahan pasca salin primer adalah paritas tinggi.

Tujuan Penelitian : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan paritas dengan kejadian perdarahan pasca salin primer.

Metode Penelitian : Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan total sampling. Jumlah sampel 298 orang. Analisis data dilakukan dengan continuity correction.

Hasil Penelitian : Hasil penelitian berdasarkan paritas dari 130 responden primipara yang mengalami perdarahan pasca salin primer yaitu 12 orang (4,02%), dan dari 168 responden multipara sebanyak 18 orang (6,04%). Hasil uji statistik diperoleh nilai p 0,820, maka dapat disimpulkan tidak ada hubungan yang signifikan antara paritas dengan kejadian perdarahan pasca salin primer. Diketahui nilai OR=0,84, artinya paritas multipara 0,84 kali lebih beresiko dibandingkan paritas primipara

Kesimpulan : Dari hasil yang diperoleh dapat disimpulkan tidak ada hubungan antara paritas dengan kejadian perdarahan pasca salin primer. Namun paritas multipara bisa menjadi faktor resiko terjadinya perdarahan pasca salin primer. Jadi, diharapkan bagi tenaga medis perlu meningkatkan upaya keterampilan dalam mendeteksi dini kasus perdarahan pasca salin primer.

(14)

BAB I

PENDAHULUAN

E. Latar Belakang

Perdarahan pasca salin primer dapat terjadi sampai 24 jam setelah kelahiran dan biasanya melibatkan kehilangan banyak darah setelah kelahiran dan melibatkan kehilangan banyak darah melalui saluran genital. Ini memiliki 3

penyebab, 4T; tonus, tissue, trauma jaringan, dan yang jarang adalah trombin (masalah pembekuan darah). Ibu yang menderita perdarahan pasca salin

biasanya merasakan pengalamannya menakutkan dan traumatik. Ketakutan, nyeri, dan ketidaknyamanan dirasakan karena kejadian itu sendiri memang menakutkan yang menimbulkan kecemasan di masa datang tentang

kemungkinan besar bisa terjadi lagi pada kelahiran berikutnya (Chapman, 2006 hal. 263).

Perdarahan pasca salin adalah salah satu penyebab langsung kematian ibu, hampir seperempat dari semua kematian ibu di seluruh dunia (Mousa dan Walkinshaw 2001). Khan dan teman-temannya dalam Ganeva (2010)

mengemukakan bahwa perdarahan pasca salin adalah penyebab utama kematian ibu di Afrika dan Asia mencapai 30% kematian.

Di Indonesia penyebab langsung kematian ibu, 80 % karena komplikasi obstetri dan 20 % oleh sebab lainnya. Sedangkan penyebab tidak langsung adalah 3 Terlambat dan 4 Terlalu. Tiga faktor terlambat yang dimaksud adalah

terlambat dalam mengambil keputusan, terlambat sampai ke tempat rujukan, dan terlambat dalam mendapat pelayanan di fasilitas kesehatan. Adapun 4

(15)

banyak anak, dan terlalu dekat jarak melahirkan.Untuk mengatasi hal itu diperlukan upaya pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan dan keterlibatan masyarakat madani termasuk organisasi profesi dalam

menurunkan AKI (Angka Kematian Ibu) di Indonesia (Depkes, 2010)

Berdasarkan penelitian yang dilakukan shane di RSUD Dr.Pirngadi medan tahun 2007-2009 dapat diketahui bahwa penyebab utama perdarahan

post partum adalah retensio placenta yaitu sebesar 53,7% diikuti laserasi jalan lahir sebesar 29,3%, atonía uteri 14,6 % dan inversio uteri sebesar 2,4%.Begitu

pula penelitian yang dilakukan ajenifuji (2010) di Obufeni Awolowo University teaching hospital nigeria, yang menemukan bahwa penyabab utama perdarahan post partum primer adalah retensio placenta (71,05%).

Hasil Survey Dasar Kesehatan Indonesia (SDKI) 2007 menunjukkan AKI di Indonesia 228 per 100.000 kelahiran hidup. Berdasarkan analisis regresi

linier data SDKI tahun 1994-2007, proyeksi AKI tahun 2015 adalah 161 per 100.000 kelahiran hidup. Diperlukan berbagai terobosan dan dukungan semua pihak (Kemenkes RI).

Dari data survey awal yang telah dilakukan oleh peneliti didapat jumlah seluruh persalinan di RSU. Haji Medan pada periode tahun 2011-2013

sebanyak 298 dan didapatkan kejadian perdarahan pasca salin primer sebanyak 30 kasus sehingga perbandingan nya sebesar 10,0 %.

Penelitian terhadap kematian ibu memperlihatkan bahwa penderita

perdarahan pasca salin meninggal dunia akibat terus-menerus terjadi perdarahan yang jumlahnya kadang-kadang tidak menimbulkan kecurigaan

(16)

perdarahan terus-menerus yang terjadi sedikit demi sedikit. Pada suatu seri kasus yang besar, Beacham mendapatkan bahwa interval rata-rata antara kelahiran dan kematian adalah 5 jam 20 menit. Tidak seorang pun ibu yang

meninggal dalam waktu 1 jam 30 menit setelah melahirkan. Kenyataan ini menunjukkan adanya cukup waktu untuk melangsungkan terapi yang efektif jika pasiennya selalu diamati dengan seksama, diagnosis dibuat secara dini, dan

tindakan tepat segera dikrjakan (Oxorn, 2010 hal. 413).

Menurut Cunningham dalam penelitian Ying (2011), penyebab

perdarahan pasca salin bisa disebabkan banyak faktor seperti atonia uteri, trauma uteri, tonus uteri, kondisi uteri itu sendiri, dan lain-lain. Faktor yang paling sering adalah disebabkan atonia uteri. Namun, ada pula faktor

predisposisi yang bisa memicu kepada terjadinya perdarahan pasca salin, seperti laserasi jalan lahir, riwayat persalinan sebelumnya, faktor usia, kadar

haemoglobin pada ibu, multiparitas dan sebagainya.

Beberapa penelitian mengatakan bahwa paritas tidak berpengaruh terhadap terjadinya perdarahan pasca salin primer salah satu nya penelitian

Badriyah dan kawan-kawan (2011), berdasarkan pengolahan data menurut paritas di RSUD Syarifah Ambarni Rato Ebu Bangkalan pada tahun 2009

didapatkan ibu nifas dengan paritas primipara yaitu sebanyak 103 ibu nifas primipara (48,6%). Dari 103 ibu nifas primipara, yang mengalami perdarahan pasca salin sebesar 12,6%, dan 87 ibu nifas multipara, yang mengalami

perdarahan psca salin sebesar 16,1%, dan dari 22 ibu nifas grande multipara, yang mengalami perdarahan pasca salin sebesar 9,1 %. Hasil uji statistik

(17)

perdarahan pasca salin. Keadaan ini diperkuat dengan nilai p menunjukkan nilai yang lebih besar dari α (0,981 > 0,05) yang berarti H0 diterima atau tidak

ada pengaruh terhadap terjadinya perdarahan pasca salin.

Sedangkan penelitian yang mengatakan bahwa paritas berpengaruh terhadap perdarahan pasca salin yaitu penelitian Roslyana (2010), dari asil uji regresi multivariat faktor risiko yang bermakna adalah paritas≥3 dengan OR:

3,32 (CI 95% 1,15- 9,61: p:0,03), dapat disimpulkan bahwa paritas≥3, merupakan faktor risiko paling dominan berkontribusi terhadap kejadian

perdarahan pasca salin primer.

Salah satu faktor predisposisi dan etiologi perdarahan pasca salin adalah paritas tinggi (Sastrawinata,2005 hal 172). Adanya fakta menarik perhatian

penulis tentang faktor predisposisi ini, dalam penelitian sebelum-sebelumnya bahwa semakin tinggi paritas maka semakin besar kemungkinan terjadi

perdarahan pasca salin.

Berdasarkan dari uraian diatas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang Hubungan Paritas Dengan Kejadian Perdarahan Pasca Salin

Primer di RSU. Haji Medan Periode Tahun 2011-2013.

F. Perumusan Masalah

Jumlah kasus perdarahan pasca salin primer merupakan penyumbang terbesar penyebab kematian ibu yang harus dicegah, yaitu dengan mengetahui faktor predisposisinya salah satunya adalah paritas. Tetapi masih ada

perbedaan dari beberapa penelitian, ada yang menyatakan tidak ada nya hubungan antara paritas dengan kejadian perdarahan pasca salin primer dan ada

(18)

perdarahan pasca salin primer, sehingga belum diketahunya hubungan paritas dengan kejadian perdarahan pasca salin primer di RSU. Haji Medan Periode Tahun 20011-2013.

Berdasarkan uraian diatas maka pertanyaan dalam penelitian ini adalah apakah paritas berpengaruh terhadap kejadian perdarahan pasca salin primer.

C. Tujuan Penelitian

1.Tujuan Umum

Untuk mengetahui hubungan paritas dengan kejadian perdarahan

pasca salin primer

2. Tujuan Khusus

a. Mengetahui distribusi paritas ibu yang melahirkan normal di RSU.

Haji Medan periode tahun 2011-2013

b. Mengetahui distribusi paritas ibu yang melahirkan normal dengan

perdarahan pasca salin di RSU. Haji Medan periode tahun 2011-2013

(19)

D. Manfaat Penelitian

Hasil Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat untuk kasus perdarahan pascasalin primer yang berhubungan dengan paritas:

1. Bagi Institusi Pendidikan

Merupakan bahan bacaan dan masukan bagi institusi pendidikan dalam kegiatan proses belajar mengajar.

2. Bagi Tenaga Rekam Medis

Diharapkan dapat meningkatkan upaya kelengkapan data sesuai dengan

diagnosa dokter.

3. Bagi Peneliti Selanjutnya

Untuk menambah pengetahuan dan wawasan dalam melaksanakan

(20)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

M. Perdarahan Pasca Salin

3. Pengertian Perdarahan Pasca salin

Secara tradisional, perdarahan pasca salin didefenisikan sebagai

kehilangan 500 mL atau lebih setelah selesainya kala 3 persalinan (Cunningham, 2013 hal. 704).

Perdarahan adalah kehilangan darah secara abnormal. Rata-rata kehilangan darah selama pelahiran pervaginam yang ditolong dokter obstetrik tanpa komplikasi lebih dari 500 ml; kehilangan darah rata-rata

selama seksio sesaria sekitar 500 ml. Kehilangan darah rata-rata pelahiran pervaginam yang ditolong bidan diobservasi kurang dari 500 ml, tapi belum

dipelajari dan diuji. Alasan yang mungkin untuk perbedaan ini adalah kenyataan bahwa bidan tidak secara rutin melakukan episiotomi dan telah menguasai seni pelahiran per vaginam yang ditolong dokter obstetrik tanpa

komplikasi merefleksikan kehilangan darah akibat insiden episiotomi dan laserasi yang lebih tinggi (Varney, 2008 hal. 841).

4. Klasifikasi Perdarahan Pasca Salin

Perdarahan pasca salin sekarang dapat dibagi menjadi:

(21)

b. Perdarahan pasca salin sekunder ialah perdarahan ≥ 500 cc setelah 24 jam persalinan (Sastrawinata, 2005 hal. 171).

Hal-hal yang menyebabkan perdarahan pasca salin ialah 1) atonia

uteri: 2) Perlukaan jalan lahir: 3) terlepasnya bagian plasenta dari uterus: 4) tertinggalnya sebagian dari plasenta umpamanya kotiledon atau plasenta suksenturiata. Kadang-kadang perdarahan disebabkan kelainan proses

pembekuan darah akibat dari hipofibrinogene (Prawirohardjo, 2005 hal. 653)

N. Anatomi dan Fisiologis Uterus

Uterus berbentuk seperti buah advokat atau buah peer yang sedikit

gepeng ke arah muka belakang: ukurannya sebesar telur ayam dan mempunyai rongga. Dindingnya terdiri atas otot-otot polos. Ukuran panjang

uterus adalah 7-7,5 cm, lebar di atas 5,25 cm, tebal 2,5 cm, dan tebal dinding 1,25 cm. Letak uterus dalam keadaan fisiologis adalah anteversiofleksio (serviks ke depan dan membentuk sudut dengan vagina,

demikian pula korpus uteri ke depan dan membentuk sudut dengan serviks uteri) (Prawirohardjo, 2005 hal. 36).

Uterus terdiri atas fundus uteri, korpus uteri, serviks uteri. Fundus uteri adalah bagian uterus proximal, disitu kedua tuba fallopii masuk ke uterus. Di dalam klinik perlu diketahui sampai di mana fundus uteri berada,

oleh karena tuanya kehamilan dapat diperkirakan dengan perabaan pada fundus uteri. Korpus uteri adalah bagian uterus yang terbesar. Pada

(22)

(rongga rahim). Serviks uteri atas: 1) pars vaginalis servisis uteri yang dinamakan porsio, 2) pars supravaginalis servisis uteri yaitu bagian serviks yang berada diatas vagina (Prawirohardjo, 2009)

Uterus selama kehamilan mengalami pertumbuhan yang luar biasa akibat hipertrofi serabut otot. Beratnya bertambah mulai dari 70 g saat tidak hamil menjadi sekitar 1100 g saat hamil aterm. Rata-rata volume totalnya

adalah 5 L. Seiring dengan berlangsungnya perkembangan, fundus uteri yang sebelumnya berbentuk cembung memipih diantara kedua insersi tuba,

kini berbentuk kubah. Ligamentum rotundum tampaknya sekarang melekat pada pertautan sepertiga tengah dan sepertiga atas uterus. Tuba fallopi memanjang, tapi ovarium tidak banyak berubah (Cunningham, 2013 hal.

42).

O. Epidemiologi 2. Insiden

Penyebab langsung kematian ibu di Indonesia, 80 % karena komplikasi obstetri dan 20 % oleh sebab lainnya (Depkes, 2010). Pola

penyebab kematian maternal yang menunjukkan adanya peningkatan dari Studi Mortalitas dan Riskerdas 2007 adalah perdarahan post

(23)

P. Perdarahan Pasca Salin Primer

1. Pengertian Perdarahan Pasca Salin Primer

Perdarahan pasca salin primer ialah perdarahan ≥ 500 cc pada 24 jam

pertama setelah persalinan (Sastrawinata,2005 hal.171).

Q. Gambaran Klinis Perdarahan Pasca Salin Primer

Gambaran klinisnya berupa perdarahan terus-menerus dan keadaan pasien secara berangsur-angsur menjadi semakin jelek. Denyut nadi menjadi

cepat dan lemah; tekanan darah menurun; pasien berubah pucat dan dingin; dan nafasnya menjadi sesak, terengah-engah, berkeringat dan akhirnya coma serta meninngal dunia. Situasi yang berbahaya adalah kalau denyut nadi dan

tekanan darah hanya memperlihatkan sedikit perubahan untuk beberapa saat karena adanya mekanisme kompensasi vaskuler. Kemudian fungsi

kompensasi ini tidak bisa dipertahankan lagi, denyut nadi meningkat dengan cepat, tekanan darah tiba-tiba turun, dan pasien dalam keadaan shoek. Uterus dapat terisi darah dalam jumlah yang cukup banyak sekalipun dari

luar hanya terlihat sedikit (Oxorn, 2010 hal. 412).

R. Diagnosis Perdarahan Pasca Salin Primer

Menurut Prawirohardjo (2005 hal 654), diagnosis biasanya tidak sulit, terutama apabila timbul perdarahan banyak dalam waktu pendek. Tetapi

bila perdarahan sedikit dalam waktu lama, tanpa disadari penderita telah kehilangan banyak darah sebelum ia tampak pucat. Nadi serta pernapasan

(24)

mengalami gejala-gejala klinik, gejala-gejala baru tampak pada kehilangan darah 20%. Jika perdarahan berlangsung terus, dapat timbul syok. Diagnosis perdarahan pasca persalinan dipermudah apabila pada tiap-tiap persalinan –

setelah anak lahir – secara rutin diukur pengeluaran darah dalam kala III dan satu jam sesudahnya.

Apabila terjadi perdarahan pasca salin dan plasenta belum lahir, perlu

diusahakan untuk melahirkan plasenta dengan segera. Jikalau plasenta sudah lahir, perlu dibedakan antara perdarahan akibat atonia uteri atau perdarahan

akibat perlukaan jalan lahir. Pada perdarahan akibat atonia, uterus membesar dan lembek pada palpasi, sedang pada perdarahan karena perlukaan, uterus berkontraksi dengan baik. Dalam hal uterus berkontraksi

dengan baik perlu diperiksa lebih lanjut tentang adanya dan dimana letaknya perlukaan dalam jalan lahir. Pada persalinan di rumah sakit, dengan fasilitas

yang baik untuk melakukan transfusi darah, seharusnya kematian karena perdarahan pasca persalinan dapat dicegah. Tetapi kematian tidak selalu dapat dihindarkan, terutama apabila penderita masuk rumah sakit dalam

keadaan syok karena sudah kehilangan darah banyak. Karena persalinan di Indonesia sebagian terjadi diluar rumah sakit, perdarahan pasca salin

merupakan sebab utama (terpenting) kematian dalam persalinan. S. Etiologi

Banyak faktor potensial yang mnyebabkan perdarahan pasca

(25)

1. Tone Dimished : Atonia Uteri

Perdarahan pasca salin bisa dikendalikan melalui kontraksi dan retraksi serat-serat myometrium. Kontraksi dan retraksi ini menyebabkan

terlipatnya pembuluh-pembuluh darah sehingga aliran darah ketempat placenta menjadi terhenti. Kegagalan mekanisme akibat gangguan fungsi myometrium dinamakan atonia uteri dan keadaan ini menjadi penyebab

utama perdarahan pasca salin. Sekalipun pada kasus perdarahan pasca salin kadang-kadang sama sekali tidak disangka atonia uteri sebagai penyebabnya,

namun adanya faktor predisposisi dalam banyak hal harus menimbulkan kewaspadaan dokter terhadap kemungkinan gangguan tersebut (Oxorn, 2010 hal 413).

Menurut (Varney, 2008 hal. 842), atonia uteri dan kemungkinan perdarahan pasca salin primer pada wanita normal sebenarnya dapat di

antisipasi segera sebelum pelahiran terjadi. Kondisi ini harus diwaspadai bidan mengingat potensi perdarahan pasca salin primer berhubungan dengan atonia uteri:

a. Distensi berlebihan pada uterus (kehamilan kembar, polihidramnion, atau bayi kembar)

b. Induksi oksitosin atau augmentasi

c. Persalinan dan pelahiran cepat atau presipitatus d. Kala satu dan dua persalinan yang memanjang

e. Grand multiparitas

f. Riwayat atonia uteri/perdarahan pasca salin pada saat melahirkan anak

(26)

g. Penggunaan agens relaksan uterus, seperti magnesium sulfat dan terbutalin.

2. Tissue

d. Retensio Plasenta

Apabila plasenta belum lahir setengah jam setelah janin lahir, hal itu dinamakan retensio plasenta. Sebab-sebabnya ialah: a) plasenta belum lepas

dari dinding uterus, atau b) plasenta sudah lepas tapi belum dilahirkan (Prawirohardjo,2005 hal 656).

Retensio plasenta atau seluruh plasenta dalam rahim akan mengganggu kontraksi dan retraksi, menyebabkan sinus-sinus darah tetap terbuka, dan menimbulkan perdarahan pasca salin. Begitu bagian plasenta

terlepas dari dinding uterus, perdarahan terjadi didaerah itu. Bagian plasenta yang masih melekat merintangi retraksi myometrium dan perdarahan

berlangsung terus sampai sisa organ tersebut terlepas serta dikeluarkan (Oxorn, 2010 hal 415).

Retensio plasenta, seluruh atau sebagian, lobus succenturiata, sebuah

kotiledon, atau suatu fragmen plasenta dapat menyebabkan perdarahan pasca salin. Tidak ada korelasi antara banyaknya plasenta yang masih

melekat dan banyaknya perdarahan. Hal yang perlu dipertimbangkan adalah derajat perlekatannya (Oxorn, 2010 hal 415).

Plasenta yang sukar lepas karena his kurang kuat, tempatnya (insersi di

sudut tuba), bentuknya (plasenta membranesa, plaenta anularis), dan ukurannya (plasenta sangat kecil) disebut plasenta adhesiva. Pada plasenta

(27)

inkreta, sedangkan vili korialis yang menembus lapisan otot dan mencapai serosa atau menembusnya plasenta tersebut dinamakan plasenta perkreta ( Sastrawinata, 2005 hal 176).

Menurut Prawirohardjo (2005 hal. 657) penanganan retensio plasenta yaitu apabila plasenta belum lahir ½ jam setelah anak lahir, harus diusahakan untuk mengeluarkannya. Dapat dicoba dahulu perasat menurut

Crade. Tindakan ini sekarang tidak banyak dianjurkan karena memungkinkan terjadinya inversio uteri, tekanan yang keras pada uterus

dapat pula menyebabkan perlukaan pada otot uterus dan rasa nyeri keras dengan kemungkinan syok. Akan tetapi dengan teknik yang sempurna hal-hal yang dapat dihindarkan. Salah satu cara lain untuk membantu

pengeluaran plasenta adalah cara Brandt. Dengan salah satu tangan, penolong memegang tali pusat dekat vulva.

e. Sisa Plasenta

Menurut Faisal (2008) Sewaktu suatu bagian dari sisa plasenta tertinggal maka uterus tidak bisa berkontraksi secara efektif dan ini dapat

menimbulkan perdarahan. Perdarahan pasca salin yang terjadi segera jarang disebabkan oleh retensi potongan-potongan kecil plasenta. Inspeksi segera

plasenta setelah persalinan bayi harus menjadi tindakan rutin. Jika ada bagian plasenta yang hilang, uterus harus dieksplorasi dan harus dikeluarkan.

f. Plasenta Akreta dan Variasinya

Pada plasenta akreta vili korialis menanamkan diri lebih dalam ke

(28)

dan mencapai serosa atau menembusnya plasenta tersebut dinamakan plasenta perkreta. Plasenta akreta da yang kompleta, yaitu jika seluruh permukaannya melekat dengan erat di dinding rahim. Plasenta akreta

persialis, yaitu jika hanya beberapa bagian dari permukaannya lebih erat berhubungan dengan dinding rahim dari biasa. Plasenta akreta yang kompleta, inkreta, dan perkreta jarang terjadi. Penyebab plasenta akreta

adalah kelainan desidua yang menyebabkan retensio plasenta ( Sastrawinata, 2005 hal. 176).

3. Trauma

c. Robekan Jalan Lahir

Menurut (Oxorn, 2010 hal. 414) Perdarahan yang cukup banyak dapat

terjadi dari robekan yang dialami selam proses melahirkan baik yang normal maupun dengan tindakan. Jalan lahir harus diinspeksi sesudah tiap kelahiran

selesai sehingga sumber perdarahan dapat dikendalikan. Tempat-tempat perdarahan yang mencakup:

1) Episiotomi, kehilangan darah dapat mencapai 200 ml. Kalau arteriole

atau vena verikosa yang besar turut terpotong atau robek, darah yang keluar darah dapat berjumlah lebih banyak lagi. Karena itu pembuluh

darah yang putus harus segera dijepit dengan klem untuk mencegah keholangan darah.

2) Vulva, vagina, dan servikx.

3) Uterus yang ruptur. 4) Inversio Uteri

(29)

Disamping itu, ada faktor-faktor lain yang turut menyebabkan kehilangan darah secara berlebihan kalau terdapat trauma pada jalan lahir.

Faktor-faktor ini mencakup:

1) Interval yang lama antara dilakukannya episiotomi dan kelahiran anak. 2) Perbaikan episiotomi setelah bayi dilahirkan tanpa semestinya ditunggu

terlampau lama.

3) Pembuluh darah yang putus pada puncak episiotomi tidak berhasil dijahit.

4) Pemeriksaan inspeksi lupa dikerjakan pada cervix dan vagina bagian atas

5) Kemungkinan terdapatnya beberapa tempat cedera tidak terpikirkan.

6) Ketergantungan pada obat-obat oxytocic yang disertai penundaan terlampau lama dalam mengeksplorasi uterus.

d. Inversio Uteri

Menurut (Sastrawinata, 2005 hal. 176) Pada inversio uteri, uterus berputar balik sehingga fundus uteri terdapat dalam vagina dengan selaput

lendirnya sebelah luar. Keadaan ini disebut inversio uteri komplet. Jika hanya fundus menekuk ke dalam dan tidak keluar ostium uteri, disebut

inversio uteri inkomplet. Jika uterus yang berputar balik itu keluar dari vulva, disebut inversio prolaps. Inversio jarang terjadi, tetapi jika terjadi dapat menimbulkan syok yang berat.

Tiga faktor diperlukan untuk terjadinya inversio uteri: 1) Tonus otot rahim yang lemah.

(30)

3) Kanalis servikalis yang longgar.

Menurut Cunningham (2013 hal. 712) tertundanya penanganan akan sangat meningkatkan angka kematian . Sejumlah langkah perlu dilakukan

segera dan secara simultan:

1) Asisten, termasuk ahli anestesiologi, segera dipanggil

2) Uterus yang baru mengalami inversi dengan plasenta yang sudah terlepas

mungkin dengan mudah dapat dikembalikan dengan cara mendorong fundus dengan telapak tangan dan jari tangan mengarah ke sumbu

panjang vagina.

3) Sebaiknya di pasang dua sistem infus intravena, dan pasien diberi larutan ringer laktat serta darah untuk mengatasi hipovelemia.

4) Apabila masih melekat, plasenta jangan dilepas sampai sistem infus terpasang, cairan dialirkan, dan anestesia, sebaiknya halotan atau

enfluran telah dibeikan. Obat tokolitik, misalnya berbutalin, ritodrin, atau magnesium sulfat, dilaporkan berhasil digunakan untuk relaksasi uterus dan reposisi (Catanzarite dkk.,1986). Sementara itu, uterus megalami

inversio, apabila prolapsnya melebihi vagina, dimasukkandalam vagina. 5) Setelah plasenta dikeluarkan, telapak tangan diletakkan di bagian tengah

fundus dengan jari terekstensi untuk mengidentifikasi tepi-tepi serviks. Kemudian dilakukan tekanan dengan tangan sehingga fundus terdorong ke atas melalui serviks.

6) Segera setelah uterus dikembalikan ke posisi normalnya, obat yang digunakan untuk relaksasi dihentikan dan secara bersamaan pasien diberi

(31)

4. Trombin

b. Kelainan Perdarahan

Setiap penyakit hemorrhagik (blood dyscrasias) dapat diderita oleh

wanita hamil dan kadang-kadang menyebabkan perdarahan pasca salin. Afibrinogenemia atau hipofibrinogemia dapat terjadi setelah abruptio plasenta, retensio janin-mati yang lama di dalam rahim, dan pada emboli

cairan air ketuban. Salah satu teori etiologik mempostulasikan bahwa bahan thrompoblastik yang timbul dari degenerasi dan autologis decidua serta

plasenta dapat memasuki sirkulasi maternal dan dapat menimbulkan koagulasi intravaskuler serta penurunan fibrinogen yang beredar. Keadaan tersebut, yaitu suatu kegagalan pada mekanisme pembekuan, menyebabkan

perdarahan yang tidak dapat dihentikan dengan tindakan yang biasanya dipakai untuk mengendalikan perdarahan (Oxorn, 2010 hal. 415).

T. Faktor resiko

Menurut Cunningham dalam penelitian Ismail (2011), Riwayat perdarahan pasca

salin pada persalinan sebelumnya mempunyai faktor resiko yang paling besar sehingga segala upaya harus dilakukan untuk menentukan tingkat keparahan

dan penyebabnya. Beberapa faktor lain yang dapat menyebabkan terjadinya perdarahan pasca salin meliputi penggunaan anestesi umum, rahim yang distensi berlebihan terutama dari kehamilan multipel, janin besar, atau

polihidramnion, persalinan lama, persalinan yang terlalu cepat, penggunaan oksitosin untuk induksi persalinan, paritas tinggi terutamanya grande

(32)

Menurut Winkjosastro dalam penelitian Ismail (2011), Dalam kurun reproduksi sehat dikenal bahwa usia aman untuk kehamilan dan persalinan adalah 20-30 tahun. Kematian maternal pada wanita hamil dan melahirkan

2-5 kali lebih tinggi dari pada kematian maternal yang terjadi pada kematian maternal yang terjadi pada usia 20-29 tahun. Kematian maternal meningkat kembali setelah usia 30-35 tahun.

Menurut penelitian Siswanto (2011), Jarak persalinan yang kurang dari 2 tahun mengakibatkan kelemahan dan kelelahan otot rahim, sehingga

cenderung akan terjadi perdarahan postpartum. Bila jarak kelahiran dengan anak sebelumya kurang dari 2 tahun, kondisi rahim dan kesehatan ibu belum pulih dengan baik, sehingga cenderung mengalami partus lama, atau

perdarahan pasca salin. Disamping itu persalinan yang berturut-turut dalam jarak waktu singkat mengakibatkan uterus menjadi fibrotik, sehingga

mengurangi daya kontraksi dan retraksi uterus. Kondisi seperti ini berakibat terjadinya perdarahan pasca salin.

Menurut Wiknjosastro didalam penelitian Sunarto (2010),

Kekurangan kadar haemoglobin dalam darah mengakibatkan kurangnya oksigen yang di bawa / ditransfer ke sel tubuh maupun sel otak dan uterus.

Jumlah oksigen dalam darah yang kurang menyebabkan otot-otot uterus tidak dapat berkontraksi dengan adekuat sehingga timbul atonia uteri yang mengakibatkan perdarahan banyak. Pada wanita hamil, anemia meningkatkan

frekuensi komplikasi pada kehamilan persalinan dan nifas. Pengaruh anemia saat kehamilan dapat berupa abortus, persalinan prematur, perdarahan

(33)

Pengaruh anemia saat masa nifas adalah subinvolusi uterus, infeksi puerpureal, air susu ibu (ASI) berkurang, dan decompensasi cordis. Disamping menyebabkan kematian, perdarahan post partum memperbesar

kemungkinan infeksi puerpureal dan anemia yang berkelanjutan.

U. Penanganan Perdarahan Pasca Salin Primer

Menurut Prawirohardjo (2005 hal 654-655), terapi terbaik ialah pencegahan. Anaemia dalam kehamilan harus diobati karena perdarahan

dalam batas-batas normal dapat membahayakan penderita yang sudah menderita anemia. Apabila sebelumnya penderita sudah pernah mengalami perdarahan pascasalin, persalinan harus berlangsung di rumah sakit. Kadar

fibrinogen perlu diperiksa pada perdarahan banyak, kematian janin dalam uterus dan solusio plasenta.

Dalam kala III uterus jangan dipijat dan didorong ke bawah sebelum plasenta lepas dari dindingnya. Penggunaan oksitosin sangat penting untuk mencegah perdarahan pasca salin. 10 IU oksitosin diberikan intramuskulus

segera setelah anak lahir untuk mempercepat pelepasan plasenta. Sesudah plasenta lahir hendaknya diberikan 0,2 mg ergometrin, intramuskulus.

Kadang-kadang pemberian ergometrin, setelah bahu depan bayi lahir pada persentasi kepala, menyebabkan plasenta terlepas segera setelah bayi seluruhnya lahir, dengan tekanan pada fundus uteri plasenta dapat

dikeluarkan dengan segera tanpa banyak perdarahan. Namun salah satu kerugian dari pemberian ergometrin (trepping) terhadap bayi kedua pada

(34)

perdarahan secepat mungkin dan mengatasi akibat perdarahan. Jika plasenta belum lahir, segera lakukan tindakan untuk mngeluarkannya.

Bahaya perdarahan pasca salin ada dua. Pertama, anemia yang

diakibatkan perdarahan tersebut memperlemah keadaan pasien, menurunkan daya tahannya dan menjadi faktor predisposisi terjadinya infeksi nifas. Kedua, jika kehilangan darah ini tidak dihentikan, akibat akhir tentu saja

kematian (Oxorn, 2010 hal. 413).

V. Manajemen Aktif Kala III

Manajemen aktif kala tiga terdiri dari tiga langkah utama di dalam APN (2008 hal 101-106):

1. Pemberian Suntikan Oksitosin

a. Letakkan bayi baru lahir diatas kain yang telah disiapkan di perut

bawah ibu dan minta ibu atau pendampingnya untuk membantu memegang bayi tersebut

b. Pastikan tidak ada bayi lain di dalam uterus

c. Beritahu ibu bahwa ia akan disuntik

d. Segera (dalam 1 menit pertama setelah bayi lahir) suntikkan oksitosin

10 unit IM pada 1/3 bagian atas paha bagian luar

e. Dengan mengerjakan semua prosedur tersebut terlebih dahulu maka akan memeberi cukup waktu pada bayi untuk memperoleh sejumlah

darah kaya zat besi dan setelah itu (setelah 2 menit) baru dilakukan tindakan penjepitan dan pemotongan tali pusat

(35)

g. Tutup kembali perut bawah ibu dengan kain bersih 2. Penegangan Tali Pusat Terkendali

a. Berdiri di samping ibu

b. Pindahkan klem (penjepit untuk memotong tali pusat saat kala dua) pada tali pusat sekitar 5-10 cm dari vulva

c. Letakkan tangan yang lain pada abdomen ibu (beralaskan kain) tepat

diatas simfisis pubis. Gunakan tangan ini untuk meraba kontraksi uterus dan menahan uterus pada saat melakukan penegangan pada tali

pusat. Setelah terjadi kontraksi yang kuat, tegangkan tali pusat dengan satu tangan dan tangan yang lain (pada dinding abdomen) menekan uterus ke arah lumbal dan kepala ibu (dorso kranial). Lakukan secara

hati-hati untuk mencegah terjadinya inversio uteri

d. Bila plasenta belum lepas, tunngu hingga uterus berkontarksi kembali

(sekitar 2-3 menit berselang) untuk mengulangi kembali penanganan tali pusat terkendali

e. Saat mulai kontraksi (uterus menjadi bulat dan tali pusat menjulur)

tegangkan tali pusat ke arah bawah, lakukan tekanan dorso-kranial hingga tali pusat makn menjulur dan korpus uteri bergerak keatas

yang menandakan plasenta telah lepas dan dapat dilahirkan.

f. Tetapi jika langkah (e) diatas tidak berjaln sebagaimana mestinya dan plasenta tidak turun setelah 30-40 detik dimulainya penegangan tali

pusat dan tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan lepasnya plasenta, jangan teruskan penegangan tali pusat.

(36)

perineum pada saat tali pusat memanjang. Pertahankan kesabaran pada saat melahirkan plasenta.

2) Pada saat kontraksi berikutnya terjadi, ulangi penegangan tali

pusat terkendali dan tekanan dorso-kranial pada korpus uteri secara serentak. Ikuti langkah-langkah tersbut pada setiap kontraksi hingga terasa plasenta terlepas dari dinding uterus.

g. Setelah plasenta terlepas, anjurkan ibu untuk meneran agar plasenta terdorong keluar melalui introitus vagina. Tetap tegangkan tali pusat

dengan arah sejajar lantai (mengikuti poros jalan lahir).

h. Pada saat plasenta terihat pada introitus vagina, lahirkan plasenta dengan mengangkat tali pusat ke atas dan menopang plasenta dengan

tangan lainnya untuk meletakkan dalam wadah penampung. Karena selaput ketuban mudah robek; pegang plasenta degan kedua tangan

dan secara lembut putar plasenta hingga selaput ketuban terpilin menjadi satu.

i. Lakukan penarikan secara lembut dan perlahan-lahan untuk

melahirkan selaput ketuban.

j. Jika selaput ketuban robek dan tertinggal di jalan lahir saat melahirkan

plasenta, dengan hati-hati periksa vagina dan serviks dengan seksama. Gunakan jari-jari tangan anda atau klem DTT atau steril atau forsep untuk keluarkan selaput ketuban yang teraba.

(37)

b. Jelaskan tindakan kepada ibu, katakan bahwa ibu mungkin merasa agak tidak nyaman karena tindakan yang di berikan. Anjurkan ibu untuk menarik napas dan perlahan serta rileks.

c. Dengan lembut tapi mantap gerakkan tangan dengan arah memutar pada fundus uteri supaya uterus berkontraksi. Jika uterus tidak berkontraksi dalam waktu 15 detik, lakukan penatalaksanaan atonia

ueteri.

d. Periksa plasenta dan selaputmya untuk memastikan keduanya lengkap

dan utuh

e. Periksa uterus setelah satu hingga dua menit untuk memastikan uterus berkontraksi, jika uterus masih tidak belum berkontraksi baik, ulangi

masase fundus teri. Ajarkan ibu dan keluarganya cara melakukan masase uterus sehingga mampu untuk segera mengetahui jika uterus

tidak berkontraksi dengan baik.

f. Periksa kontraksi uterus setiap 15 menit salama satu jam pertama pasca persalinan dan setiap 30 menit salama satu jam kedua pasca

persalinan. W. Paritas

1. Pengertian Paritas

Para atau paritas adalah seorang wanita yang pernah melahirkan bayi yang dapat hidup (Prawirohardjo, 2006 hal 180).

Menurut Prawirohardjo (2005) paritas dapat dibagi menjadi: a. Primipara

(38)

b. Nullipara

Nullipara adalah seseorang yang belum pernah melahirkan bayi yang viable (dapat hidup) untuk pertama sekali.

c. Multipara atau pleuripara

Multipara atau pleuripara adalah seorang wanita yang pernah melahirkan bayi yang viable untuk beberapa kali.

d. Grandemultipara

Grandemultipara adalah seorang wanita yang telah melahirkan 5 orang anak tau lebih.

X. Mekanisme Terjadinya Perdarahan Postpartum Primer Yang Berhubungan Dengan Paritas

Perdarahan pasca salin sering disebabkan oleh kegagalan uterus untuk berkontaraksi secara memadai setelah pelahiran. Pada banyak kasus, perdarahan pasca salin dapat diperkirakan sebelum pelahiran (Cunningham,

2006).

Menurut Winkjosastro (2005), Paritas 2-3 merupakan paritas paling

aman ditinjau dari sudut perdarahan pasca persalinan yang dapat mengakibatkan kematian maternal. Paritas satu dan paritas tinggi (lebih dari 3) mempunyai angka kejadian tinggi. Lebih tinggi paritas, maka lebih tinggi

kematian maternal. Risiko pada paritas satu dapat dilayani dengan asuhan obstetrik yang lebih baik, sedangkan risiko pada paritas tinggi dapat

(39)

Paritas tinggi merupakan faktor risiko atonia uteri. Fuchs dkk. (1985) menguraikan keluaran pada hampir 5800 wanita para 7 atau lebih. Mereka melaporkan bahwa insiden perdarahan pasca salin 2,7 persen adalah

meningkat empat kali lipat dibandingkan dengan populasi obstetri umum. Babinszki dkk. (1999) melaporkan insiden perdarahan pasca salin sebesar 0,3 persen pada wanita dengan paritas rendah , tetapi 1,9 persen pada

mereka dengan para 4 atau lebih (Cunningham, 2013 hal. 814).

Pada multiparitas, uterus yang telah melahirkan banyak anak

(40)

BAB III

KERANGKA KONSEP

D. Ker angka Konsep

Kerangka kosep adalah suatu hubungan atau kaitan antara konsep satu terhadap konsep yang lainnya dari masalah yang ingin diteliti (Setiadi, 2007 hal

117).

Skema 3.1 : Kerangka Konsep Penelitian Hubungan Paritas Terhadap Perdarahan Pasca Salin Primer

E. Hipotesa

Tidak ada hubungan antara paritas dengan kejadian perdarahan pasca salin primer.

Paritas Terjadinya

Perdarahan Pasca salin Primer

(41)

F. Defenisi Operasional

(42)

BAB IV

METODE PENELITIAN

G. Desain Penelitian

Jenis penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriftif analitik dengan pendekatan cros sectional dimana variabel bebas dan variabel terikat

diobservasi hanya sekali pada saat yang sama. Berikut skema rancangan penelitian cross sectional untuk hubungan paritas dengan kejadian perdarahan pasca salin primer.

(43)

H. Populasi dan Sampel

1. Populasi Penelitian

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau

subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari kemudian ditarik kesimpulan (Hidayat, 2011

hal. 68). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang bersalin normal di RSU. Haji Medan terhitung mulai Tahun 2011 sampai Tahun 2013 yang tercatat di rekam medis (data sekunder) yang memiliki

kriteria inklusi yang berjumlah 298 orang.

2. Sampel Penelitian

Sampel adalah sebagian dari keseluruhan obyek yang diteliti dan

dianggap mewakili seluruh populasi (Notoatmodjo, 2011, hal. 177).

Sampel dalam penelitian ini adalah menggunakan total populasi yaitu

seluruh populasi dijadikan sampel. Besar sampel yaitu 298 orang, yang memiliki kriteria sebagai berikut:

a. Kriteria inklusi

1. Ibu primipara atau multipara

2. Ibu yang melahirkan spontan atau pervaginam

3. Tercatat di rekam medis RSU. Haji Medan

b. Kriteria Eksklusi

(44)

I. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di RSU. Haji Medan dikarenakan RSU. Haji Medan adalah salah satu rumah sakit rujukan ibu bersalin di kota Medan.

J. Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari-April 2014 dengan pengambilan data sekunder dari rekam medis di RS. Haji Medan. Data

sekunder tersebut merupakan data dari tahun 2011 sampai tahun 2013.

K.Etika Penelitian

Penelitian ini dilakukan setelah penelitian mendapat persetujuan dari Direktur RS. Haji Medan. Dalam penelitian ini terdapat beberapa hal yang

berkaitan dengan permasalahan etika yaitu :

1. Anominity (tanpa nama)

Masalah etika kebidanan merupakan masalah yang membeikan jaminan

dalam penggunaan subjek penelitian dengan cara tidak memberikan atau mencantumkan nama responden pada lembar alat ukur dan hanya menuliskan kode pada lembar pengumpulan data atau hasil penelitian yang

akan disajikan.

2. Confidentiality (kerahasiaan)

(45)

oleh peneliti, hanya kelompok data tertentu yang akan dilaporkan pada hasil riset.

L. Prosedur Pengumpulan Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan data sekunder terhitung mulai tahun 2011 sampai tahun 2013 yang tercatat di rekam medik.

Adapun cara pengambilan data yaitu :

1. Peneliti mengajukan ijin penelitian pada Kepala Program Studi DIV Bidan Pendidik USU ibu Nurasnah Sihotang, S. Kep, M. Kep

2. Setelah itu mengajukan ijin penelitian pada Direktur RSU. Haji Medan. 3. Setelah mendapat ijin, peneliti mengamati catatan rekam medik pasien untuk

mendapatkan data yang dapat diperlukan.

4. Diambil jumlah sampel yang diperlukan.

5. Sampel yang memenuhi kriteria retriksi dipilih dan dilakukan

pencatatan data dengan mengisi lembar pengumpulan data sesuai data yang dibutuhkan berdasarkan data rekam medik.

M. Analisis Data

Analisis data dilakukan dengan bertahap, yaitu dengan analisa univariate, dan analisa bivariate.

1. Analisa Univariate

Analisa univariate yaitu menganalisa tiap-tiap variabel penelitian yang ada secara deskriftif dengan menghitung distribusi frekuensi.

(46)

karakteristik responden, variabel paritas untuk mengetahui kejadian perdarahan pasca salin primer di RSU. Haji Medan.

2. Analisa Bivariate

Analisa Bivariate yaitu analisa yang dilakukan untuk melihat hubungan kedua variabel antara variabel independen dengan variabel

(47)

BAB V

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Hasil Penelitian

Dalam penelitian ini, peneliti melakukan penelitian di RSU. Haji Medan mulai dari bulan Februari sampai dengan bulan April 2014. Penelitian

ini menggunakan total sampling dan didapatkan responden sebanyak 298 ibu bersalin di RSU. Haji Medan pada tahun 2011 sampai dengan tahun 2013.

Adapun hasil penelitian selengkapnya sebagai berikut : 1. Analisa Univariate

Analisa univariate ini bertujuan untuk mendeskripsikan masing=masing

hubungan antar variabel yang diteliti. Yakni melihat hubungan paritas terhadap kejadian perdarahan pasca salin primer dalam persalinan normal.

Data bersifat kategorik yaitu paritas dan perdarahan. Tabel 5.1

Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Paritas Di RSU. Haji Medan Periode Tahun 2011-2013

Paritas F Persentase

Primipara 130 43,6

Multipara 168 56,4

Total 298 100

Berdasarkan tabel 5.1, sampel untuk ibu pasca salin primer dengan

(48)

Tabel 5.2

Distribusi Frekuensi Responden Yang Mengalami Perdarahan Di RSU.Haji Medan Periode Tahun 2011-2013

F Persentase

Perdarahan 30 10,1

dak Perdarahan 268 89,9

Total 298 100

Berdasarkan tabel 5.2, dikategorikan perdarahan pasca salin primer ialah jumlah perdarahan >500 ml. Dari 298 responden, terdapat 30 responden (10,1%) mengalami perdarahan pasca salin primer, 268 responden (89,8%)

tidak mengalami perdarahan pasca salin primer.

Tabel 5.3

Distribusi Frekuensi Paritas Responden Yang Mengalami Perdarahan Di RSU.Haji Medan Periode Tahun 2011-2013

Paritas Responden

Perdarahan Responden Jumlah

Perdarahan Tidak

Berdasarkan tabel 5.3, dapat kita lihat bahwa deri 298 responden paritas primipara yang mengalami perdarahan pasca salin primer sebanyak 12

responden (4,02%), sedangkan paritas multipara yang mengalami perdarahan pasca salin primer sebanyak 18 responden (6,04%). Paritas primipara yang tidak mengalami perdarahan pasca salin primer sebanyak 118 responden

(49)

2. Analisa Bivariate

Analisa ini digunakan untuk menguji apakah ada hubungan paritas terhadap kejadian perdarahan pasca salin primer.

Tabel 5.5

Hubungan Paritas Dengan Kejadian Perdarahan Pasca Salin Primer Di RSU. Haji Medan Periode Tahun 2011-2013

Paritas

Dapat kita lihat pada tabel 5.4, dari 298 ibu pasca salin primer di RSU. Haji Medan di dapatkan 12 responden (9,2%) dengan paritas primipara,

mengalami perdarahan pasca salin primer dan 118 responden (90,8%) tidak mengalami perdarahan pasca salin primer. Sedangkan ibu pasca salin primer

dengan paritas multipara 18 responden (10,7%) mengalami perdarahan pasca salin primer dan 150 responden (89,3%) tidak mengalami perdarahan pasca salin primer.

Hasil analisa Chi-Square pada tabel kontingensi dengan derajat (df) = 1 dan tingkat signifikansi (α) sebesar 0,05, didapatkan hasil bahwa nilai

Chi-Square hitung 0,052 Sedangkan nilai Chi- Squere tabel adalah 3,841.

Pada analisa Chi-Square Ho ditolak jika Chi-square hitung > Chi-square tabel, p=value (signifikansi) < α. Berdasarkan hasil perhitungan

diperoleh Chi Square hitung (0,052) < Chi-Square tabel (3,841) dan p-value (0,820) > α (0,052). Dari kedua pernyataan diatas bisa diambil kesimpulan

(50)

tingkat kepercayaan 95% dan α = 0,05 tidak terdapat hubungan antar paritas

dengan kejadian perdarahan pasca salin primer.

Dalam penelitian ini juga dihitung odds rasio (OR) untuk mengetahui

besar peluang terjadinya perdarahan pasca salin primer dibandingkan dengan peluang tidak terjadinya perdarahan pasca salin primer pada variabel yang diteliti. Jika OR = 1 menunjukkan bahwa faktor paritas bukan merupakan

resiko terjadinya perdarahan. Bila OR > 1 menunjukkan bahwa paritas merupakan penyebab dari perdarahan, bila OR < 1 menunjukkan bahwa

paritas bukan merupakan risiko ,melainkan sifat protektif terhadap perdarahan. Setelah dihitung didapatkan OR senilai 0,84. Besar nilai OR < 1 maka paritas bukan merupakan faktor resiko yang menyebabkan terjadinya

perdarahan pasca salin primer. Peluang terjadinya perdarahan pada multipara 0,84 kali dibandingkan primipara.

B. Pembahasan

1. Interpretasi dan diskusi hasil

Jumlah persalinan di RSU. Haji Medan periode tahun 2011-2013 sebanyak 298 kasus. Di RSU. Haji Medan selama periode tahun 2011-2013

terdapat 30 kasus perdarahan pasca salin primer. Dengan menggunakan total populasi di dapatkan sampel sejumlah 298 kasus dengan mempertimbangkan kriteria inklusi dan eklusi.

Dikategorikan perdarahan pasca salin primer ialah jumlah perdarahan >500 ml. Dari 298 responden paritas primipara yang mengalami perdarahan

(51)

multipara yang mengalami perdarahan pasca salin primer sebanyak 18 responden (6,04%).

Dalam penelitian ini dapat kita lihat bahwa mayoritas paritas ibu

yang mengalami perdarahan pasca salin primer di RSU. Haji Medan periode 2011-2013 adalah multipara.

Menurut Lestrina dan Eny, resiko perdarahan pasca salin primer

meningkat pada wanita yang melahirkan anak ke tiga atau lebih, dimana uterus yang telah melahirkan banyak anak cenderung bekerja tidak efesien

pada setiap persalinan, sehingga mengakibatkan resiko tinggi terjadi nya perdarahan pasca salin primer. Semakin tinggi jumlah paritas ibu maka semakin tinggi resiko ibu mengalami perdarahan pasca salin primer. Hal ini

sesuai dengan penelitian Ismail yang menyatakan bahwa multipara 2 kali lebih beresiko dibandingkan primipara.

Paritas ibu pada multipara akan terjadi kemunduran dan cacat pada endometrium yang mengakibatkan terjadinya fibrosis pada bekas implantasi plasenta pada persalinan sebelumnya, sehingga vaskularisasi menjadi

berkurang. Untuk memenuhi kebutuhan nutrisi pada janin, plasenta akan mengadakan perluasan implantasi dan vili kholiaris akan menembus dinding

uterus lebih dalam lagi sehingga akan terjadi plasenta adhesive sampai perkreta (Magdalena, 2012).

Berdasarkan tabel kontingensi paritas dengan perdarahan pasca salin

primer didapatkan paritas multipara lebih banyak dibandingkan dengan paritas primipara. Dari hasil perhitungan diperoleh Chi Square hitung (0,052)

(52)

paritas dengan kejadian perdarahan pasca salin primer menerima Ho dan menolak Ha. Jadi kesimpulannya adalah pada tingkat kepercayaan 95% dan α = 0,05 tidak terdapat hubungan antara paritas dengan kejadian perdarahan

pasca salin primer.

Penelitian ini sejalan dengan penelitian Badriyah,Sulastri, dan Sutio Rahardjo (2011), berdasarkan pengolahan data menurut paritas di RSUD

Syarifah Ambarni Rato Ebu Bangkalan pada tahun 2009 didapatkan ibu nifas dengan paritas primipara yaitu sebanyak 103 ibu nifas primipara (48,6%).

Dari 103 ibu nifas primipara, yang mengalami perdarahan pasca salin sebesar 12,6%, dan 87 ibu nifas multipara, yang mengalami perdarahan psca salin sebesar 16,1%, dan dari 22 ibu nifas grande multipara, yang mengalami

perdarahan pasca salin sebesar 9,1 %. Hasil uji statistik regresi logistik, menunjukkan nilai R Square 0,000 (0%), berarti persentase variabel paritas

tidak dapat memperjelas sebagai prediktor terhadap variabel perdarahan pasca salin. Keadaan ini diperkuat dengan nilai p menunjukkan nilai yang lebih besar dari α (0,981 > 0,05) yang berarti H0 diterima atau tidak ada pengaruh

terhadap terjadinya perdarahan pasca salin.

Berdasarkan penelitian ini dapat kita lihat diperoleh hasil bahwa

hubungan paritas terhadap kejadian perdarahan pasca salin primer tidak signifikan. Hal ini karena terbatasnya besar sampel yang diambil dalam penelitian ini. Sehingga mempengaruhi hubungan antara paritas terhadap

kejadian perdarahan pasca salin primer.

Meskipun dalam penelitian ini diperoleh hasil bahwa hubungan paritas

(53)

kejadian perdarahan pasca salin primer masih terjadi walaupun kasusnya sangat jarang. Di RSU Haji Medan angka kejadian perdrahan pasca salin primer sebanyak 10,0%, akan tetapi kasus kejadian perdarahan pasca salin

primer ini masih harus diwaspadai dan dicegah sedini mungkin, karena perdarahan pasca salin primer ini merupakan salah satu penyumbang angka kematian ibu. Hal ini sesuai dengan penelitian Mousa dan walkinshaw (2011)

yang menyatakan bahwa perdarahan pasca salin adalah salah satu penyebab langsung kematian ibu, hampir seperempat dari semua kematian ibu di

seluruh dunia.

2. Keterbatasan penelitian

Pada penelitian ini, peneliti merasa masih banyak keterbatasan yang

dialami peneliti selama melakukan penelitian di RSU Haji Medan adalah cara pengambilan data tidak dengan data primer, sehingga data yang diperoleh

hanya berdasarkan data yang tertulis di rekam medik, diharapkan untuk penelitian selanjutnya bisa menngumpulkan data langsung dari pasiennya agar jhasil yang diperoleh lebih baik dan lebih akurat.

3. Implikasi untuk asuhan kebidanan

Implikasi sehubungan dengan hasil penelitian yang telah dibahas yakni untuk mengetahui bahwa dalam menurunkan angka kematian ibu akibat

perdarahan pasca salin primer dengan mendeteksi dini faktor apa saja yang dapat menyebabkan resiko terjadinya perdarahan pasca salin primer salah

satunya yaitu paritas ibu. Dalam penelitian masih banyak yang perlu diketahui dan harus ditingkatkan dalam pencegahan dan penanganan kasus perdarahan pasca salin primer guna untuk meningkatkan kualitas pelayanan

(54)

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

`

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang berjudul hubungan paritas terhadap kejadian perdarahan pasca salin primer di RSU.Haji Medan periode tahun

2011-2013 dengan jumlah sampel sebanyak 298 responden dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Jumlah responden yang memiliki paritas primipara sebanyak 130 orang (43,8%) paritas multipara sebanyak 168 orang (56,4%).

2. Jumlah responden yang mengalami kasus perdarahan pasca salin primer

adalah sebanyak 30 orang (10,06%)

3. Jumlah responden yang mengalami perdarahan pasca salin primer dengan

paritas primipara sebanyak 12 orang (4,02%)

4. Jumlah responden yang mengalami perdarahan pasca salin primer dengan paritas primipara sebanyak 18 orang (6,04).

5. Hasil uji chi-square diketahui chi-square hitung 0,052 < chi-square tabel 3,841 dan p-value 0,820 > α (0,05). Dari kedua pernyataan tersebut bisa

diambil kesimpulan bahwa pada penelitian hubungan paritas dengan kejadian perdarahan pasca salin primer menerima Ho dan menolak Ha. Jadi kesimpulannya adalah pada tingkat kepercayaan 95% dan α = 0,05 tidak

(55)

B. Saran

1. Bagi Institusi pendidikan

Diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan pemahaman mengenai

faktor resiko penyebab terjadinya perdarahan pasca salin primer dalam proses belajar mengajar.

2. Bagi Tenaga Rekam Medis

Diharapkan dapat meningkatkan upaya kelengkapan data sesuai dengan diagnosa dokter.

3. Bagi Peneliti Selanjutnya

(56)

DAFTAR PUSTAKA

Boyle, Maureen. (2008). Kedaruratan dalam Persalinan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Badriyah, Sulastri, Sutio Raharjo. (2011). Pengaruh Faktor Resiko Terhadap Perdarahan Ibu Post Partum Di RS. Syarifah Ambami Rato Ebu Bangkalan. (Diakses pada tanggal 28 November 2013).

Cunningham. Leveno. Bloom. Hauth. Rouse. Spong. (2013). Obstetri Williams. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Chapman, Vicky. (2006). Asuhan Kebidanan Persalinan & Kelahiran. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Ganeva. (2010). Proposal Foer The Inclusion of Misoprostol In The Who Model List of Essensial Medicines. USA. (Diakses pada tanggal 10 November 2013)

Khairi, Ismail Lubis. (2011). Pengaruh Paritas Terhadap Perdarahan Postpartum Primer Di RSUD. Dr. Pirngadi Medan 2007-2010. (Diakses pada tanggal 9 November 2013).

Lestrina, Eny. (2012). Hubungan Paritas Dan Anemia Dengan Kejadian Perdarahan Postpartum Di Rumah Sakit William Booth Surabaya Periode 2007-2012. (Diakses pada tanggal 5 juni 2013).

Leveno, K.J., Cunningham, F.G., Gant, N.F., Alexander, J.M., Bloom, S.L., Cassey, B.M., et al. (2009). Obstetri Williams. Edisi 21. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Oxorn, H., & Forte, W.R. (2010). Ilmu Kebidanan Patologi & Fisiologi Persalinan. Yogyakarta: Yayasan Essentia Medika.

Prawirohardjo, Sarwono. (2005). ILMU KEBIDANAN. Edisi 3. Jakarta : yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Roslyana, Sri, and Shofwal Widad. (2012) Faktor Risiko Perdarahan Postpartum Dini Di Rsud Sukadana, Kabupaten Lampung Timur. Diss. Universitas Gadjah Mada. (Diakses pada tanggal 27 November 2013).

Siswanto, Edy, and Henry Setyawan. Faktor-Faktor Penolong Persalinan (Bidan) Dengan Kejadian Perdarahan Paska Persalinan (Studi Kasus Di Rumah Sakit Kabupaten Boyolali). Diss. Pascasarjana, 2011. (Diakses pada tanggal 27 November 2013).

Sastrawinata, S., Martaadisoebrata, D., Wirakusumah, F.F. (2005). Obstetri Patologi Ilmu Kesehatan Reproduksi. Edisi 2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

(57)

Ummiati, Hasifah, and Magdalena. (2013). Karakteristik Terjadinya Retensio Plasenta Pada Ibu Bersalin Di Rumah Sakit Umum Daerah Syeikh Yusuf Kab. Goa. (Diakses pada tanggal 29 Mei 2014).

Varney, H., Kriebs, J.M., Gegor, C.L. (2008). Buku Ajar Asuhan Kebidanan. Edisi 4. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Winkjosastro, G.H., Madjid, O.A., Hadijono, R.S., Adjie, J.S., Primadi, A.,Fadiyana, E,. et al. (2008). Asuhan Persalinan Normal.

(58)

LEMBAR PENGUMPULAN DATA HUBUNGAN PARITAS DENGAN KEJADIAN PERDARAHAN PASCA SALIN PRIMER DI RSU. HAJI

MEDAN PERIODE TAHUN 2011-2013

NAMA

USIA

ALAMAT

PARITAS

(59)
(60)
(61)
(62)

Gambar

Tabel 5.1
Tabel 5.2

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian intensitas nyeri luka Sectio Caesarea dan kualitas tidur pasien pasca salin hari ke-2 di RSUP H Adam Malik Medan dengan 10 responden,.

Dari hasil penelitian didapatkan proporsi terbesar penderita kanker serviks adalah wanita yang memiliki paritas ≥3 kali sebanyak 44 orang (77,2 %), khususnya pada wanita

Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara hubungan jumlah paritas dengan perdarahan postpartum di RSUP H.. Ini mungkin karena terdapat

Hasil Penelitian : Hasil penelitian berdasarkan ibu dengan riwayat anemia dalam kehamilan dari 85 responden terdapat 20 orang (23,5 %) yang mengalami kejadian perdarahan post

Hubungan Anemia Dalam Kehamilan dengan Perdarahan Post Partum Karena Atonia Uteri Di RSUD Wonogiri. Diakses dari http://

Kesimpulan : Dari hasil yang diperoleh dapat disimpulkan ada pengaruh antara anemia dalam kehamilan terhadap kejadian perdarahan post partum persalinan normal.. Jadi diharapkan bagi

Kesimpulan : Dari hasil yang diperoleh dapat disimpulkan ada pengaruh antara anemia dalam kehamilan terhadap kejadian perdarahan post partum persalinan normal. Jadi diharapkan bagi

Khususnya perdarahan postpartum masih merupakan penyebab utama kematian ibu dinegara berkembang (Sumantri,2004).Angka kematian ibu di Indonesia masih tinggi.Sebenarnya