• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Biblioterapi Terhadap Kecemasan Anak yang Dirawat Inap di Rumah Sakit Dr. Pirngadi Medan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Pengaruh Biblioterapi Terhadap Kecemasan Anak yang Dirawat Inap di Rumah Sakit Dr. Pirngadi Medan"

Copied!
117
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Oleh

Siti Aprahul Hanum 111101004

FAKULTAS KEPERAWATAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

SKRIPSI

Oleh

Siti Aprahul Hanum 111101004

FAKULTAS KEPERAWATAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)
(4)
(5)

melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelasaikan skripsi yang berjudul “Pengaruh Biblioterapi Terhadap Kecemasan Anak yang di Rawat Inap di Rumah Sakit Dr. Pirngadi Medan“.

Dalam penyusunan skripsi ini penulis banyak menghadapi berbagai hambatan dan kesulitan. Namun, berkat adanya bantuan, bimbingan, dan arahan dari berbagai pihak, sehingga skripsi ini dapat terselesaikan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih ynag sebesar- besarnya kepada yang terhormat :

1. dr. Dedi Ardinata, M.Kes selaku Dekan Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara.

2. Ibu Erniyati, S.Kp, MNS selaku Pembantu Dekan 1 Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara.

3. Ibu Nur Asnah Sitohang, S.Kep, Ns., M.Kep selaku pembimbing yang telah banyak memberikan arahan dan bimbingan dalam penyusunan skripsi ini.

4. Ibu Nur Asiah, S.Kep., Ns., M.Biomed selaku penguji 1 5. Ibu Reni Asmara Ariga, S.Kp., MARS selaku penguji 2

6. Para staf pengajar Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara 7. Teristimewa kepada kedua orang tuaku, Ayahanda Alm. Abdul Malik

(6)

2011.

Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih banyak kekurangan , oleh karena itu dengan kerendahan hati penulis sangat mengharapkan saran dan kritik demi kesempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi peningkatan dan pengembangan profesi keperawatan.

Akhirnya kepada Allah SWT penulis berserah diri semoga kita selalu dalam lindungan serta limpahan rahmat-Nya dengan kerendahan hati penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan penulis khususnya.

Medan , Juli 2015

(7)

Halaman persetujuan ... iii

2.3 Klasifikasi Tingkat Kecemasan ... 10

2.4 Faktor Predisposisi Kecemasan ... 11

2.5 Faktor Pencetus ... 12

2.6 Respon Terhadap Kecemasan ... 13

2.7 Kecemasan Anak Yang di Hospitalisasi ... 14

3. Anak usia sekolah ... 15

3.1 Defenisi anak usia sekolah ... 15

3.2 Tugas perkembangan anak usia sekolah ... 16

(8)

9. Analisis data ... 38

Bab V Hasil dan Pembahasan ... 40

1. Hasil Penelitian ... 40

1.1 Analisa Univariat ... 40

1.2 Analisa Bivariat ... 45

2. Pembahasan ... 46

2.1 Kecemasan responden sebelum diberikan terapi ... 46

2.2 Kecemasan responden setelah diberikan terapi ... 47

2.3 Perubahan kecemasan anak sebelum dan sesudah pemberian biblioterapi ... 47

3. Keterbatasan Penelitian ... 49

Bab VI Kesimpulan dan Saran ... 50

1. Kesimpulan ... 50

2. Saran ... 50

Daftar pustaka ... 52

Lampiran 1. Inform consent ... 54

Lampiran 2. Instrumen penelitian ... 56

Lampiran 3. Prosedur Penelitian ... 58

Lampiran 4. Surat Validitas ... 60

Lampiran 5. Surat Etik ... 61

Lampiran 6. Surat izin penelitian ... 62

Lampiran 7. Hasil Uji SPSS ... 69

Lampiran 8. Terjemahan Abstrak Asli ... 93

Lampiran 9. Lembar bukti bimbingan ... 94

Lampiran 10. Jadwal Penelitian ... 96

(9)

Tabel 5.1 Frekuensi dan persentase demografi responden ... 41 Tabel 5.2 Frekuensi dan persentase hasil kuesioner kecemasan anak

sebelum pemberian blibioterapi ... 42 Tabel 5.3 Frekuensi dan persentase hasil kuesioner kecemasan anak

sesudah pemberian blibioterapi ... 43 Tabel 5.4 Frekuensi dan persentase responden berdasarkan kecemasan

anak sebelum diberikan biblioterapi ... 44 Tabel 5.5 Frekuensi dan persentase responden berdasarkan kecemasan

(10)
(11)

Tahun : 2015

ABSTRAK

Rawat inap merupakan suatu proses yang karena suatu alasan yang berencana atau darurat, mengharuskan anak tinggal di rumah sakit, menjalani terapi dan perawatan sampai pemulangannya kembali. Perawatan anak selama di rumah sakit memaksa anak untuk berpisah dengan lingkungan yang dicintainya, yaitu keluarga dan terutama kelompok sosialnya serta menimbulkan kecemasan. Perasaan tersebut dapat timbul karena menghadapi sesuatu yang baru dan belum pernah dialami sebelumnya, rasa tidak aman dan nyaman, perasaan kehilangan sesuatu yang dirasakan menyakitkan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi pengaruh biblioterapi terhadap kecemasan anak usia sekolah yang di rawat inap di RSUD Dr. Pirngadi Medan. Desain penelitian ini adalah

quasi eksperimen dengan pendekatan pre-post test design terdiri dari satu kelompok intervensi. Tehnik pengambilan sampel adalah purposive sampling

dengan jumlah 32 anak. Analisis data menggunakan uji statistik wilcoxon. Hasil penelitian ini menunjukkan dari 32 anak terdapat 30 orang anak yang skor kecemasannya lebih kecil setelah intervensi dibandingkan sebelum intervensi dan terdapat 2 anak yang skor kecemasannya sama sebelum dan sesudah intervensi.

Hasil uji statistik diperoleh nilai p = 0,001. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biblioterapi berpengaruh terhadap kecemasan anak usia sekolah yang dirawat inap. Maka dapat disarankan kepada perawat untuk menerapkan biblioterapi sebagai salah satu intervensi asuhan keperawatan khususnya anak usia sekolah sehingga akan mempercepat proses penyembuhan anak.

(12)

Department : S1 (Undergraduate) Nursing (S.Kep) Academic Year : 2015

ABSTRACT

Inpatient is a process because of planning or emergency reason requires a child to be hospitalized, treating with therapy and treatment until coming out from the

hospital. A child’s treatment in the hospital has caused him to be separated from

his family he loves and from his social group which causes him to be apprehensive. He is now facing a new environtment which causes him to be uncomfortable and insecure, feeling depressed from losing something. The objective of the research was to identify the influence of bibliotherapy on

school-aged children’s apprehensiveness in the Inpatient Wards of RSUD dr. Pirngadi

Medan. The research was quasi experiment with pretest-posttest design, consisting of one intervention group. The samples were 32 children, taken by using purposive sampling technique. The data were analyzed by using Wilcoxon statistic test. The result of the research showed that 30 respondents had lower score in apprehensiveness after the intervention, and 2 respondents had the same score in apprehensiveness before and after the intervention. The result of the statistic test showed that p-value =0,001 which indicated that there was the influence of bibliotherapy on school-aged children’s apprehensiveness hospitalized in the bibliotherapy on school-aged children’s apprehensiveness hospitalized in the Inpatient Wards. It is recommended that nurses apply bibliotherapy as one of the interventions of health care, especially in school-aged children in order to expedite their recovery.

(13)

melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelasaikan skripsi yang berjudul “Pengaruh Biblioterapi Terhadap Kecemasan Anak yang di Rawat Inap di Rumah Sakit Dr. Pirngadi Medan“.

Dalam penyusunan skripsi ini penulis banyak menghadapi berbagai hambatan dan kesulitan. Namun, berkat adanya bantuan, bimbingan, dan arahan dari berbagai pihak, sehingga skripsi ini dapat terselesaikan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih ynag sebesar- besarnya kepada yang terhormat :

1. dr. Dedi Ardinata, M.Kes selaku Dekan Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara.

2. Ibu Erniyati, S.Kp, MNS selaku Pembantu Dekan 1 Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara.

3. Ibu Nur Asnah Sitohang, S.Kep, Ns., M.Kep selaku pembimbing yang telah banyak memberikan arahan dan bimbingan dalam penyusunan skripsi ini.

4. Ibu Nur Asiah, S.Kep., Ns., M.Biomed selaku penguji 1 5. Ibu Reni Asmara Ariga, S.Kp., MARS selaku penguji 2

6. Para staf pengajar Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara 7. Teristimewa kepada kedua orang tuaku, Ayahanda Alm. Abdul Malik

(14)

2011.

Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih banyak kekurangan , oleh karena itu dengan kerendahan hati penulis sangat mengharapkan saran dan kritik demi kesempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi peningkatan dan pengembangan profesi keperawatan.

Akhirnya kepada Allah SWT penulis berserah diri semoga kita selalu dalam lindungan serta limpahan rahmat-Nya dengan kerendahan hati penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan penulis khususnya.

Medan , Juli 2015

(15)

Halaman persetujuan ... iii

2.3 Klasifikasi Tingkat Kecemasan ... 10

2.4 Faktor Predisposisi Kecemasan ... 11

2.5 Faktor Pencetus ... 12

2.6 Respon Terhadap Kecemasan ... 13

2.7 Kecemasan Anak Yang di Hospitalisasi ... 14

3. Anak usia sekolah ... 15

3.1 Defenisi anak usia sekolah ... 15

3.2 Tugas perkembangan anak usia sekolah ... 16

(16)

9. Analisis data ... 38

Bab V Hasil dan Pembahasan ... 40

1. Hasil Penelitian ... 40

1.1 Analisa Univariat ... 40

1.2 Analisa Bivariat ... 45

2. Pembahasan ... 46

2.1 Kecemasan responden sebelum diberikan terapi ... 46

2.2 Kecemasan responden setelah diberikan terapi ... 47

2.3 Perubahan kecemasan anak sebelum dan sesudah pemberian biblioterapi ... 47

3. Keterbatasan Penelitian ... 49

Bab VI Kesimpulan dan Saran ... 50

1. Kesimpulan ... 50

2. Saran ... 50

Daftar pustaka ... 52

Lampiran 1. Inform consent ... 54

Lampiran 2. Instrumen penelitian ... 56

Lampiran 3. Prosedur Penelitian ... 58

Lampiran 4. Surat Validitas ... 60

Lampiran 5. Surat Etik ... 61

Lampiran 6. Surat izin penelitian ... 62

Lampiran 7. Hasil Uji SPSS ... 69

Lampiran 8. Terjemahan Abstrak Asli ... 93

Lampiran 9. Lembar bukti bimbingan ... 94

Lampiran 10. Jadwal Penelitian ... 96

(17)

Tabel 5.1 Frekuensi dan persentase demografi responden ... 41 Tabel 5.2 Frekuensi dan persentase hasil kuesioner kecemasan anak

sebelum pemberian blibioterapi ... 42 Tabel 5.3 Frekuensi dan persentase hasil kuesioner kecemasan anak

sesudah pemberian blibioterapi ... 43 Tabel 5.4 Frekuensi dan persentase responden berdasarkan kecemasan

anak sebelum diberikan biblioterapi ... 44 Tabel 5.5 Frekuensi dan persentase responden berdasarkan kecemasan

(18)
(19)

Tahun : 2015

ABSTRAK

Rawat inap merupakan suatu proses yang karena suatu alasan yang berencana atau darurat, mengharuskan anak tinggal di rumah sakit, menjalani terapi dan perawatan sampai pemulangannya kembali. Perawatan anak selama di rumah sakit memaksa anak untuk berpisah dengan lingkungan yang dicintainya, yaitu keluarga dan terutama kelompok sosialnya serta menimbulkan kecemasan. Perasaan tersebut dapat timbul karena menghadapi sesuatu yang baru dan belum pernah dialami sebelumnya, rasa tidak aman dan nyaman, perasaan kehilangan sesuatu yang dirasakan menyakitkan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi pengaruh biblioterapi terhadap kecemasan anak usia sekolah yang di rawat inap di RSUD Dr. Pirngadi Medan. Desain penelitian ini adalah

quasi eksperimen dengan pendekatan pre-post test design terdiri dari satu kelompok intervensi. Tehnik pengambilan sampel adalah purposive sampling

dengan jumlah 32 anak. Analisis data menggunakan uji statistik wilcoxon. Hasil penelitian ini menunjukkan dari 32 anak terdapat 30 orang anak yang skor kecemasannya lebih kecil setelah intervensi dibandingkan sebelum intervensi dan terdapat 2 anak yang skor kecemasannya sama sebelum dan sesudah intervensi.

Hasil uji statistik diperoleh nilai p = 0,001. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biblioterapi berpengaruh terhadap kecemasan anak usia sekolah yang dirawat inap. Maka dapat disarankan kepada perawat untuk menerapkan biblioterapi sebagai salah satu intervensi asuhan keperawatan khususnya anak usia sekolah sehingga akan mempercepat proses penyembuhan anak.

(20)

Department : S1 (Undergraduate) Nursing (S.Kep) Academic Year : 2015

ABSTRACT

Inpatient is a process because of planning or emergency reason requires a child to be hospitalized, treating with therapy and treatment until coming out from the

hospital. A child’s treatment in the hospital has caused him to be separated from

his family he loves and from his social group which causes him to be apprehensive. He is now facing a new environtment which causes him to be uncomfortable and insecure, feeling depressed from losing something. The objective of the research was to identify the influence of bibliotherapy on

school-aged children’s apprehensiveness in the Inpatient Wards of RSUD dr. Pirngadi

Medan. The research was quasi experiment with pretest-posttest design, consisting of one intervention group. The samples were 32 children, taken by using purposive sampling technique. The data were analyzed by using Wilcoxon statistic test. The result of the research showed that 30 respondents had lower score in apprehensiveness after the intervention, and 2 respondents had the same score in apprehensiveness before and after the intervention. The result of the statistic test showed that p-value =0,001 which indicated that there was the influence of bibliotherapy on school-aged children’s apprehensiveness hospitalized in the bibliotherapy on school-aged children’s apprehensiveness hospitalized in the Inpatient Wards. It is recommended that nurses apply bibliotherapy as one of the interventions of health care, especially in school-aged children in order to expedite their recovery.

(21)

Anak adalah tunas bangsa, potensi dan generasi muda penerus cita-cita perjuangan bangsa. Oleh karena itu anak perlu mendapat kesempatan yang seluas-luasnya untuk tumbuh dan berkembang secara optimal. Baik fisik, mental maupun sosial, dan berakhlak mulia, serta perlindungan untuk mewujudkan kesejahteraan anak (Undang-Undang Perlindungan Anak, 2002).

Anak usia sekolah yaitu anak yang berusia 6 sampai 11 tahun atau 12 tahun. Pada periode ini, anak mempunyai lingkungan lain selain keluarga. Anak banyak mengembangkan kemampuan interaksi sosial, belajar tentang nilai moral dan budaya dari lingkungan selain keluarganya (Wong, 2007). Pada masa pertengahan ini di letakkan landasan untuk peran individu dewasa dalam pekerjaan, rekreasi, dan interaksi sosial. Identitas dan konsep diri menjadi semakin kuat dan lebih terindividualisasi (Potter & Perrry, 2009).

(22)

untuk provinsi Sumatera Utara.Semua rentang usia dapat terkena penyakit dan di rawat di rumah sakit. Aidar (2011) mengatakan, rata-rata anak mendapat perawatan selama enam hari. Selain membutuhkan perawatan yang spesial dibandingkan pasien lain, anak sakit juga mempunyai keistimewaan dan karakteristik tersendiri karena anak-anak bukanlah miniatur dari orang dewasa atau dewasa kecil. Dan waktu yang dibutuhkan untuk merawat penderita anak-anak 20-45% lebih banyak daripada waktu untuk merawat orang dewasa.

Hospitalisasi merupakan suatu proses yang karena suatu alasan yang berencana atau darurat, mengharuskan anak untuk tinggal di rumah sakit, menjalani terapi dan perawatan sampai pemulangannya kembali ke rumah (Supartini, 2004). Hospitalisasi (rawat inap) pada pasien anak dapat menyebabkan kecemasan dan stres pada semua tingkatan usia. Penyebab dari kecemasan dipengaruhi oleh banyak faktor, baik faktor dari petugas (perawat, dokter, dan tenaga kesehatan lainnya), lingkungan baru, maupun keluarga yang mendampingi selama perawatan (Nursalam dkk, 2005).

(23)

Kecemasan merupakan istilah yang sangat akrab dengan kehidupan sehari-hari yang menggambarkan keadaan khawatir, gelisah, takut, tidak tentram disertai berbagai keluhan fisik. Keadaan tersebut dapat terjadi atau menyertai kondisi situasi kehidupan dan berbagai gangguan kesehatan (Dalami dkk, 2009). Reaksi tersebut dapat mengganggu kenyamanan anak selama di rawat di rumah sakit dan menimbulkan koping yang tidak efektif pada anak.

Aktivitas perawat anak untuk menurunkan kecemasan selama hospitalisasi pada anak usia sekolah di rumah sakit di Indonesia masih sangat terbatas. Hal ini terjadi karena adanya kendala pembiayaan sarana dan prasarana dan keterbatasan staf. Sementara fakta di lapangan menunjukkan anak mengalami kecemasan selama hospitalisasi. Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Aidar (2011) dengan tujuan untuk mengidentifikasi hubungan peran keluarga dengan tingkat kecemasan anak usia sekolah (6-12 tahun) yang mengalami hospitalisasi di Ruang III Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan, dengan desain deskriptif korelatif diperoleh hasil dari 36 anak yang di rawat inap sebanyak 61,6 % anak mengalami kecemasan sedang, 33,3 % anak mengalami kecemasan ringan dan 5,6 % anak mengalami kecemasan berat.

(24)

Menurut Wong (2007), biblioterapi adalah tehnik komunikasi yang kreatif dengan anak. Dimana buku digunakan dalam proses terapeutik dan supportif. Dengan biblioterapi pemberi layanan kesehatan memberikan kesempatan kepada anak untuk mengeksplorasi suatu kejadian yang hampir sama dengan kejadian yang mereka alami dengan versi berbeda agar anak tidak terlalu terfokus terhadap kejadian tersebut dan agar anak tetap berada dalam kontrol.

Anak usia sekolah sudah lebih mampu berkomunikasi dengan orang dewasa. Perbendaharaan kata sudah mulai banyak dikuasai dan anak sudah mampu berpikir secara konkret (Supartini, 2004). Apabila kecemasan anak selama hospitalisasi dapat teratasi diharapkan anak dapat kooperatif dalam setiap prosedur tindakan dan akan menunjang proses penyembuhan anak.

(25)

Berdasarakan latar belakang diatas, penelitian mengenai biblioterapi belum pernah dilakukan di Rumah Sakit di Sumatera Utara. Maka peneliti merasa perlu melakukan penelitian ini agar diperoleh hasil yang lebih akurat dan nyata tentang pengaruh biblioterapi dalam menurunkan kecemasan anak usia sekolah tersebut selama anak di rawat inap di rumah sakit.

2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat disimpulkan rumusan masalah pada penelitian ini adalah adakah pengaruh biblioterapi terhadap kecemasan anak usia sekolah yang di rawat inap di RSUD Pirngadi Medan. 3. Pertanyaan Penelitian

Bagaimana pengaruh biblioterapi terhadap kecemasan anak usia sekolah yang di rawat inap di RSUD DR. Pirngadi?

4. Tujuan Penelitian 4.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui pengaruh biblioterapi terhadap kecemasan anak usia sekolah yang di rawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah Pirngadi Medan. 4.2 Tujuan Khusus

4.2.1. Untuk mengetahui gambaran karakteristik anak usia sekolah yang dirawat inap (usia, jenis kelamin, lama di rawat dan pengalaman di rawat inap). 4.2.2. Untuk mengidentifikasi kecemasan pada anak usia sekolah yang dirawat

inap sebelum dilakukan biblioterapi.

(26)

4.2.4. Untuk membandingkan kecemasan pada anak sebelum dan sesudah diberikan terapi biblioterapi pada anak yang dirawat inap.

5. Manfaat penelitian

5.1 Pendidikan Keperawatan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk mensosialisasikan kepada mahasiswa mengenai pengaruh biblioterapi terhadap kecemasan anak usia sekolah yang dirawat inap. Karena secara teori sudah banyak dibuat dibeberapa literatur keperawatan anak.

5.2 Pelayanan Keperawatan

Hasil penelitian ini bermanfaat sebagai informasi dalam memberikan asuhan keperawatan pada anak bahwa pemberian biblioterapi dapat menurunkan kecemasan anak akibat rawat inap di rumah sakit dan memberikan pengetahuan bahwa biblioterapi perlu di laksanakan untuk mendukung proses penyembuhan. 5.3 Penelitian Keperawatan

(27)

1.1 Defenisi

Biblioterapi merupakan tehnik komunikasi yang kreatif dengan anak. Biblioterapi juga diartikan menggunakan buku dalam proses terapeutik dan suportif. Memberikan kesempatan pada anak untuk mengeksplorasi suatu kejadian yang hampir sama dengan kejadian yang mereka alami dengan versi berbeda agar anak tidak terlalu terfokus terhadap kejadian tersebut dan agar anak tetap berada dalam kontrol (Wong, 2008). Biblioterapi merupakan penggunaan buku atau literatur untuk meningkatkan ekspresi perasaan, koping, pemecahan masalah atau wawasan (Bulecheck et all, 2013).

1.2 Tahapan biblioterapi

(28)

menggunakan cara lain yaitu tulisan, mewarnai, menggambar, drama dengan menggunakan boneka atau bermain peran; (3) Wawasan mendalam (insight), anak menyadari bahwa masalah yang mereka hadapi bisa diselesaikan. Permasalahan anak mungkin saja ditemukan dalam karakter tokoh dalam buku sehingga dalam menyelesaikan masalah dengan mempertimbangkan langkah-langkah yang ada dalam cerita.

Menurut Wong (2008) petunjuk umum untuk menggunakan biblioterapi adalah : (1) Kaji perkembangan emosional dan kognitif perkembangan anak guna mengkaji kesiapan anak untuk memahami pesan dari buku tersebut, (2) Kenalilah isi buku (pesan atau tujuan yang terkandung) dan untuk usia berapa buku itu ditulis, (3) Bacakan buku tersebut pada anak jika anak tidak mampu membaca, (4) Eksplorasi makna buku itu bersama anak dengan cara meminta anak untuk: menceritakan kembali isi cerita, membaca bagian khusus dengan perawat atau orang tua, membuat gambar yang berhubungan dengan cerita dan mendiskusikan gambar tersebut, bicarakan karakter-karakternya, dan rangkum pesan moral atau makna dari cerita tersebut.

(29)

dengan aktivitas pengenalan seperti mengajukan pertanyaan-pertanyaan pokok dan mulai berdiskusi tentang bacaan. Secara berkala, simpulkan yang terjadi secara mendetail, (6) Memberi jeda waktu beberapa menit agar anak bisa merefleksikan bacaannya, (7) Mendampingi anak mengakhiri terapi melalui diskusi dan menyusun daftar jalan keluar yang mungkin atau aktivitas lainnya. 2. Kecemasan

2.1 Defenisi

Kecemasan adalah kekhawatiran yang tidak jelas dan menyebar, yang berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya. Keadaan emosi ini tidak memiliki objek yang spesifik (Stuart,2005). Kecemasan adalah perasaan takut yang tidak jelas dan tidak di dukung oleh situasi. Ketika merasa cemas, individu merasa tidak nyaman atau takut atau mungkin memiliki firasat akan di timpa malapetaka padahal ia tidak mengerti mengapa emosi yang mengancam tersebut terjadi. Ansietas merupakan alat peringatan internal yang memberikan tanda bahaya kepada individu (Videbeck,2008).

2.2 Tanda dan Gejala Kecemasan

(30)

berdenging (tinitus), berdebar-debar, sesak nafas, gangguan pencernaan, gangguan perkemihan, sakit kepala dan sebagainya (Hawari, 2001).

2.3 Klasifikasi Tingkat kecemasan

Menurut Videbeck (2008), ansietas memiliki dua aspek yakni aspek yang sehat dan aspek membahayakan, yang bergantung pada tingkat ansietas, lama ansietas yang dialami, dan seberapa baik individu melakukan koping terhadap ansietas. Ansietas dapat dilihat dalam rentang ringan, sedang, berat sampai panik. Setiap tingkat menyebabkan perubahan fisiologis dan emosional.

Menurut Stuart (2006), ada empat tingkat kecemasan yaitu ringan, sedang, berat dan panik.

1. Kecemasan ringan berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari hari, ansietas ini menyebabkan individu menjadi waspada dan meningkatkan lapang persepsinya. Kecemasan ini dapat memotivasi belajar dan menghasilkan pertumbuhan serta kreativitas.

2. Kecemasan sedang memungkinkan individu berfokus pada hal yang penting dan mengesampingkan yang lain. ansietas ini mempersempit lapang persepsi individu. Dengan demikian, individu mengalami tidak perhatian yang selektif namun dapat berfokus pada lebih banyak area jika diarahkan untuk melakukannya.

(31)

4. Tingkat panik dari kecemasan berhubungan dengan terperangah, ketakutan, dan teror. Hal yang rinci terpecah dari proporsinya. Karena mengalami kehilangan kendali, individu yang mengalami panik tidak mampu melakukan sesuatu walaupun dengan arahan. Panik mencakup disorganisasi kepribadian dan menimbulkan peningkatan aktivitas motorik, menurunnya kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain, persepsi yang menyimpang, dan kehilangan pemikiran yang rasional. Jika tingkat ansietas ini berlangsung terus dalam waktu yang lama, dapat terjadi kelelahan dan kematian.

2.4 Faktor predisposisi kecemasan

Berbagai teori telah dikembangkan untuk menjelaskan penyebab ansietas, yaitu: 1. Dalam pandangan psikoanalitis, ansietas adalah konflik emosional yang terjadi

antara dua elemen kepribadian: id dan superego. Id mewakili dorongan insting dan impuls primitif, sedangkan superego mencerminkan hati nurani dan dikendalikan oleh norma budaya. Ego berfungsi menengahi tuntutan dari dua elemen yang bertentangan tersebut, dan fungsi ansietas adalah mengingatkan ego bahwa ada bahaya.

2. Menurut pandangan interpersonal, ansietas timbul dari perasaan takut terhadap ketidaksetujuan dan penolakan interpersonal. Ansietas juga berhubungan dengan perkembangan trauma, seperti perpisahan dan kehilangan, yang menimbulkan kerentanan tertentu. Individu dengan harga diri rendah terutama rentan mengalami ansietas yang berat.

(32)

diinginkan. Ahli teori perilaku lain menganggap ansietas sebagai suatu dorongan yang dipelajari sebagai suatu keinginan dari dalam diri untuk menghindari kepedihan. Ahli teori pembelajaran meyakini bahwa individu yang terbiasa sejak kecil dihadapkan pada ketakutan yang berlebihan lebih sering menunjukkan ansietas pada kehidupan selanjutnya.

4. Kajian keluarga menunjukkan bahwa gangguan ansietas biasanya terjadi dalam keluarga.

5. Kajian biologis menunjukkan bahwa otak mengandung reseptor khusus untuk benzodiazepin, obat-obatan yang meningkatkan neurolegulator inhibisi asam gama-aminobutirat (GABA), yang berperan penting dalam mekanisme biologis yang berhubungan dengan ansietas. Kesehatan umum individu dan riwayat ansietas pada keluarga memiliki efek nyata sebagai predisposisi ansietas. Ansietas mungkin disertai dengan gangguan fisik dan selanjutnya menurunkan kemampuan individu untuk mengatasi stresor.

2.5 Faktor pencetus

(33)

2.6 Respon terhadap kecemasan

Menurut Stuart (2006), respon terhadap kecemasan meliputi :

1. Respon fisiologis, terlihat pada perubahan sistem tubuh, seperti pada kardiovaskuler terjadi palpitasi, jantung berdebar, tekanan darah meningkat atau menurun, rasa ingin pingsan, pingsan dan denyut nadi menurun. Pada pernafasan terjadi napas cepat, sesak napas, tekanan pada dada, napas dangkal, pembengkakan pada tenggorokan, sensasi tercekik dan terengah-engah. Pada neuromuskular terjadi refleks meningkat, reaksi terkejut, mata berkedip-kedip, insomnia, tremor, rigiditas, gelisah, mondar-mandir, wajah tegang, kelemahan umum, tungkai lemah dan gerakan yang janggal. Pada gastrointestinal terjadi kehilangan nafsu makan, menolak makan, rasa tidak nyaman pada abdomen, nyeri abdomen, mual, nyeri ulu hati, dan diare. Pada saluran perkemihan terjadi, tidak dapat menahan kencing atau sering berkemih. Pada kulit terjadi wajah tampak kemerahan, berkeringat setempat (telapak tangan), gatal, rasa panas dan dingin pada kulit, wajah pucat dan berkeringat seluruh tubuh.

2. Respon perilaku, meliputi gelisah, ketegangan fisik, tremor, reaksi terkejut, bicara cepat, kurang koordinasi, cenderung mengalami cedera, menarik diri dari hubungan interpersonal, inhibisi, melarikan diri dari masalah. Menghindar, hiperventilasi, sangat waspada.

(34)

kehilangan objektivitas, takut kehilangan kendali, takut pada gambaran visual, takut cedera atau kematian, kilas balik dan mimpi buruk.

4. Respon afektif, meliputi mudah terganggu, tidak sabar, gelisah, tegang, gugup, ketakutan, waspada, kengerian, kekhawatiran, kecemasan, mati rasa, rasa bersalah dan malu.

2.7 Kecemasan anak yang di hospitalisasi

(35)

keluarga, anak kehilangan kelompok sosialnya karena ia biasa melakukan kegiatan bermainatau pergaulan sosial, perasaan takut mati dan adanya kelemahan fisik. Reaksi terhadap perlukaan atau rasa nyeri akan ditunjukkan dengan ekspresi baik secara verbal maupun nonverbal karena anak sudah mampu mengkomunikasikannya. Anak usia sekolah sudah mampu mengontrol perilakuanya terhadap nyeri, yaitu dengan menggigit bibir atau menggigit dan memegang sesuatu dengan erat (Supartini, 2004).

3. Anak usia sekolah

3.1 Defenisi Anak Usia Sekolah

Anak usia sekolah adalah anak yang berumur 6 sampai 12 tahun yang masih duduk di sekolah dasar dari kelas 1 sampai kelas 6 dan perkembangan sesuai usainya (Wong, 2008).

(36)

perkembangan terjadi secara bertahap dengan peningkatan yang lebih besar pada aspek fisik dan emosional (Wong, 2008).

3.2 Tugas Perkembangan Anak Usia Sekolah 3.2.1 Perkembangan Biologis

Selama masa kanak-kanak pertengahan, pertumbuhan tinggi dan berat badan terjadi lebih lambat tetapi pasti jika dibandingkan dengan masa sebelumnya. Anak usia sekolah akan mengalami pertumbuhan sekitar 5 cm pertahun unutk mencapai tinggi badan 30-60 cm dan berat badannya akan bertambah hampir dua kali lipat, bertambah 2-3 kg pertahun. Tinggi rata-rata anak usia 6 tahun adalah sekitar 116 cm dan berat badanya sekitar 21 kg, tinggi rata-rata anak usia 12 tahun adalah sekitar 150 cm dan berat badannya mendekati 40 kg (Wong, 2008).

Perubahan dalam proporsi adalah salah satu diantara perubahan fisik yang paling dikemukakan dalam masa kanak-kanak tengah dan akhir (Santrock, 2007). Pertumbuhan lebih cepat di bandingkan dengan masa prasekolah, keterampilan dan intelektual makin berkembang, senang bermain berkelompok dengan jenis kelamin yang sama (Narendra dkk, 2008).

3.2.2. Perkembangan Psikoseksual

(37)

antara sekitar usia 6 tahun hingga masa puber. Selama periode ini anak menekan seluruh minat seksual dan mengembangkan keterampilan sosial dan intelektual. Aktivitas ini mengarahkan anak ke dalam bidang yang aman secara emosional dan membantu anak melupakan konflik tahap phallic yang sangat menekan (Santrock, 2007).

3.2.3. Perkembangan Kognitif

Tahap operasional konkret yang berlangsung mulai dari sekitar 7 hingga 11 tahun, merupakan tahap perkembangan kognitif menurut J.Piaget. Anak sekarang dapat menalar secara logis mengenai kejadian konkret dan menggolongkan benda ke dalam kelompok yang berbeda-beda (Santrock, 2007). Pada tahap operasional konkret anak mampu menggunakan proses berpikir untuk mengalami peristiwa dan tindakan. Selama tahap ini anak mengembangkan pemahaman mengenai hubungan antara sesuatu hal dengan ide. Anak mengalami kemajuan dari membuat penilaian berdasarkan apa yang mereka lihat (pemikiran perseptual) membuat penilaian berdasakan alasan mereka (pemikiran konseptual) (Wong, 2008).

3.2.4. Perkembangan Moral

(38)

kesalahan atau akibat tindakan buruk yang dilakukan anak. Anak usia sekolah yang lebih besar lebih mampu menilai suatu tindakan berdasarkan niat dibandingkan akibat yang dihasilkannya. Mereka mampu memahami dan menerima konsep memperlakukan orang lain seperti bagaimana mereka ingin diperlakukan (Wong, 2008).

3.2.5. Perkembangan Spiritual

Anak-anak pada usia ini berpikir dalam batasan yang sangat konkret tetapi merupakan pelajar yang sangat baik dan memiliki kemauan besar untuk mempelajari Tuhan. Mereka sangat tertarik dengan konsep neraka dan surga dan dengan perkembangan kesadaran diri dan perhatian terhadap peraturan, anak takut akan masuk neraka karena kesalahan dalam berperilaku. Mereka merasa nyaman dengan berdoa atau melakukan ritual agama lainnya, dan jika aktifitas ini merupakan bagian sehari-hari anak, hal ini dapat membantu anak melakukan koping dalam menghadapi situasi yang mengancam. Permohonan anak kepada Tuhannya dalam beribadah cenderung untuk mendapat balasan nyata (Wong, 2008).

3.2.6. Perkembangan Sosial

(39)

disediakan oleh orang dewasa yang telah matang, sebagai tempat anak dapat berpaling selama ada masalah dalam hubungan dengan teman sebaya (Wong, 2008).

Setiap kesuksesan kecil akan meningkatkan citra diri anak. Konsep diri yang positif membuat anak merasa senang, berharga dan mampu memberikan kontribusi dengan baik. Perasaan seperti itu menyebabkan penghargaan diri, kepercayaan diri dan perasaan bahagia secara umum. Anak usia sekolah memiliki persepsi yang cukup akurat dan positif tentang keadaan fisik diri mereka sendiri, tetapi umumnya mereka kurang menyukai keadaan fisiknya seiring dengan pertambahan usia. Citra tubuh dipengaruhi oleh orang lain yang penting bagi anak. Merupakan hal penting bahwa anak mengetahui fungsi tubuhnya dan orang dewasa mengoreksi pemahaman anak yang salah tentang tubuhnya (Wong, 2008). 3.2.7. Perkembangan Psikososial

(40)

dengan perkembangan rasa pencapaian, perasaan kurang berharga dapat timbul dari anak itu sendiri dan dari lingkungan sosialnya (Wong, 2008).

4. Hospitalisasi

4.1 Defenisi Hospitalisasi

Hospitalisasi adalah suatu proses karena suatu alasan yang terencana atau darurat, yang mengharuskan anak untuk tinggal di rumah sakit. Menjalani terapi dan perawatan sampai akhirnya akan dipulangkan kembali ke rumah (Wong, 2008).

4.2 Stressor hospitalisasi

Menurut Wong (2008), stressor anak usia sekolah terhadap hospitalisasi berupa cemas akibat perpisahan, kehilangan kendali, cedera tubuh dan nyeri. 4.2.1 Cemas akibat perpisahan

(41)

Karena tujuan memperoleh kemandirian merupakan hal yang sangat penting bagi mereka, maka mereka enggan untuk meminta bantuan langsung guna mengatasi rasa takut karena mereka akan tampak lemah. Anak laki-laki cenderung bereaksi terhadap stres dengan stiokisme, menarik diri, atau penerimaan pasif. Seringkali kebutuhan untuk mengekspresikan sikap bermusuhan, marah, atau perasaan negatif lainnya muncul dengan cara yang lain, seperti iritabilitas dan agresi terhadap orangtua, menarik diri dari petugas rumah sakit, tidak mampu berhubungan dengan teman sebaya, menolak sibling atau masalah perilaku disekolah.

4.2.2 Kehilangan kendali

Kurangnya kendali akan meningkatkan persepsi ancaman dan dapat mempengaruhi keterampilan koping anak-anak. karena mereka berusaha keras memperoleh kemandirian dan produktivitas, anak usia sekolah biasanya rentan terhadap kejadian-kejadian yang dapat mengurangi rasa kendali dan kekuatan mereka. Secara khusus, perubahan peran keluarga, ketidakmampua fisik, takut terhadap kematian, penelantaran atau cedera permanen, kehilangan penerimaan kelompok sebaya,kurangnya produktifitas, dan ketidakmampuan untuk menghadapi stres sesuai harapan budaya yang ada dapat menyebabkan kehilangan kendali.

(42)

lingkungan rumah sakit penyakit juga bisa menyebabkan kehilangan kendali. Salah satu masalah yang paling signifikan dari anak-anak dalam kelompok usia ini berpusat pada kebosanan. Jika keterbatasan fisik atau yang dipaksakan menghalangi kemampuan mereka untuk merawat diri sendiri atau untuk terlibat dalam aktivitas yang di sukainya, anak-anak usia sekolah biasanya berespon dengan depresi, bermusuhan, atau frustasi. Penekanan area kendali dan pemanfaatan aktivitas tenang, terutama hobi dapat meningkatkan penyesuaian mereka terhadap pembatasan fisik.

4.2.3 Cedera tubuh dan nyeri

Ketakutan mendasar terhadap sifat fisik dari penyakit muncul pada saat ini. Anak perempuan cenderung mengekspresikan ketakutan yang lebih banyak dan lebih kuat dibandingkan dengan anak laki-laki, dan hospitalisasi sebelumnya tidak berdampak pada frekuensi atau intensitas ketakutan tersebut. Anak usia sekolah waspada terhadap pentingnya berbagai penyakit yang berbeda, pentingnya anggota tubuh tertentu, kemungkinan bahaya pengobatan, konsekuensi seumur hidup akibat cedera permanen atau kehilangan fungsi tubuh, dan makna kematian. Anak biasanya sangat berminat secara aktif terhadap kesehatan atau penyakit mereka. Pencarian informasi cenderung menjadi salah satu cara koping atau mempertahankan rasa kendali walau stres dan kondisinya yang tidak pasti.

(43)

takut terhadap apa yang akan terjadi pada saat mereka tidur, apakah mereka akan bangun kembali, dan apakah mereka akan mati. Anak praremaja juga merasa khawatir tentang prosedur itu sendiri, terutama jika prosedur tersebut dapat menyebabkan perubahan tampilan tubuh yang dapat dilihat. Kekhawatiran terhadap privasi lebih nyata dan signifikan.

Anak usia 9 atau 10 tahun secara umum telah mempelajari metode koping untuk menghadapi rasa tidak nyaman, seperti berpegangan yang erat, mengepalkan tangan atau mengatupkan gigi, atau mencoba bertindak berani dengan meringis. Jika anak menunjukkan tanda-tanda resisrensi yang terbuka, seperti menggigit, menendang, menarik, mencoba melarikan diri, menagis atau tawar menawar, mereka akan menyangkal reaksi tersebut kemudian, terutama dihadapan teman-teman sebayanya karena takut malu.

Anak usia sekolah mengkomunikasikan nyeri yang mereka alami berkaitan dengan letak, intensitas, dan deskripsinya. Anak usia sekolah juga menggunakan kata-kata untuk mengendalikan reaksi mereka terhadap nyeri. Sebagian besar menghargai penjelasan mengenai prosedur yang akan diberikan dan tampak tidak begitu takut jika mereka mengetahui apa yang akan terjadi. Sebaliknya, anak yang lain berusaha untuk mendapatkan kendali dengan berupaya menunda kejadian tersebut.

(44)

4.3 Reaksi Anak Usia Sekolah

Wong (2008) mengatakan reaksi anak terhadap sakit dan rawat inap dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu : perkembangan anak terhadap sakit berbeda-beda sesuai tingkat perkembanagn anak. Berkaitan dengan umur anak, semakin muda anak maka akan semakin sukar baginya untuk menyesuaikan diri mereka tentang pengalaman dirumah sakit; pengalaman rawat inap dirumah sakit sebelumnya, apabila anak pernah mengalami yang tidak menyenangkan saat dirawat inap akan menyebabkan anak takut dan trauma, dan sebaliknya apabila saat dirawat inap anak mendapatkan perawatan yang baik dan menyenangkan maka anak akan lebih kooperatif pada perawat dan dokter, dukungan keluarga: anak akan mencari dukungan dari orangtua, saudara kandungnya untuk melepaskan tekanan akibat penyakit yang dideritanya; dan perkembangan koping dalam menangani stresor pada anak baik dalam menerima keadaan bahwa anak harus dirawat inap, maka akan lebih kooperatif anak tersebut dalam menjalani perawatan di rumah sakit.

Anak menunjukkan berbagai perilaku sebagai reaksi terhadap pengalaman hospitalisasi. Reaksi tersebut bersifat individual dan sangat bergantung pada tahapan usia perkembangan anak, pengalaman sebelumnya terhadap sakit, sistem pendukung yang tersedia, dan kemampuan koping yang dimilikinya. Pada umumnya, reaksi anak terhadap sakit adalah kecemasan karena perpisahan, kehilangan, perlukaan tubuh, dan rasa nyeri (Supartini, 2004).

(45)

yang dideritanya. Perilaku ini menjadi salah satu cara yang dikembangkan anak untuk beradaptasi terhadap penyakitnya. Menurut Aidar (2011), beberapa perilaku itu antara lain :

1. Penolakan (avoidance)

Perilaku dimana anak berusaha menghindar dari situasi yang membuatnya tertekan. Anak berusaha menolak treatment yang diberikan, seperti tidak mau disuntik, tidak mau dipasang infus, menolak minum obat, bersikap tidak kooperatif kepada petugas medis.

2. Mengalihkan perhatian

Anak berusaha mengalihkan perhatian dari pikiran atau sumber yang membuatnya tertekan. Perilaku yang dilakukan anak misalnya membaca buku cerita saat di rumah sakit, menonton televisi (TV) saat dipasang infus, atau bermain mainan yang disukai.

3. Berupaya aktif (active)

Anak berusaha mencari jalan keluar dengan melakukan sesuatu secara aktif. Perilaku yang sering dilakukan misalnya menanyakan tentang kondisi sakitnya kepada tenaga medis atau orang tuanya, bersikap kooperatif terhadap petugas medis, minum obat teratur, beristirahat sesuai dengan peraturan yang diberikan. 4. Mencari dukungan (support seeking)

(46)

selama dirawat di rumah sakit, didampingi saat dilakukan treatment padanya, dan minta dipeluk atau dielus saat merasa kesakitan.

4.4 Dampak Rawat Inap

Anak usia sekolah mendefenisikan penyakit sebagai serangkaian gejala nyata dan banyak. Pemahaman pada kelompok usia yang lebih muda, penyakit terjadi akibat kontak fisik atau karena anak tersebut terlibat dalam tindakan yang membahayakan dan menjadi terkontaminasi. Akibatnya perasaan menyalahkan diri sendiri dan rasa bersalah dapat berkaitan dengan alasan menjadi sakit (Wong, 2008).

Perawatan dirumah sakit merupakan masalah besar dan menimbulkan ketakutan, kecemasan, bagi anak. Dampak rawat inap yang dialami bagi anak dan orangtua akan menimbulkan stress dan tidak merasa aman. Efek dan jumlah stres tergantung pada persepsi anak dan orangtua terhadap diagnosa penyakit dan pengobatan (Wong, 2008).

Dampak negatif yang paling sering terjadi karena hospitalisasi adalah kecemasan. Pada anak usia 6 sampai 10 tahun, kecemasan akan lebih mudah terlihat. Kecemasan dapat membuat anak terganggu dan teralihkan tanpa adanya penyebab tertentu. Sampai beberapa tahun terakhir, para pakar psikologi biasanya menghubungkan reaksi negatif pada hospitalisasi sepenuhnya dengan kecemasan karena perpisahan (Taylor, 2009).

(47)
(48)

Kerangka konseptual penelitian adalah kerangka hubungan antara konsep-konsep yang diamati atau diukur melalui penelitian yang akan dilakukan (Notoadmodjo, 2010). Kerangka konseptual dalam penelitian ini menggambarkan bahwa variabel dependen yaitu kecemasan anak usia sekolah yang dirawat inap dipengaruhi oleh variabel independen yaitu biblioterapi.

Dari uraian tersebut, maka dapat digambarkan kerangka konsep penelitian sebagai berikut :

Variabel Dependen

Variabel Independen

Skema 1 : Kerangka konsep penelitian.

Keterangan : Variabel yang diteliti

Hubungan

Anak usia sekolah yang di rawat inap

Kecemasan anak :

- Tidak Cemas - Ringan - Sedang - Berat Tindakan

(49)

2. Defenisi Operasional

Tabel 3.2 Defenisi Operasional Variabel Penelitian Variabel

Penelitian

Defenisi Operasional Alat Ukur Cara Ukur Hasil Ukur Skala Biblioterapi Tehnik komunikasi

(50)

diberikan antara 35-49 maka cemas ringan

3. Bila skor jawaban responden terhadap kecemasan yang diberikan antara 50-65 maka cemas sedang 4. Bila skor jawaban responden terhadap kecemasan yang diberikan antara 66-80 maka cemas berat.

3. Hipotesis Penelitian

(51)

Penelitian ini menggunakan desain quasi eksperimen dengan pendekatan pre-post test design. Penelitian ini menggunakan satu kelompok subjek dimana kelompok tersebut diobservasi sebelum dilakukan intervensi kemudian diobservasi lagi sesudah intervensi.

Rancangan penelitian dapat digambarkan sebagai berikut Pre Test Perlakuan Post Test

01 x 02

Keterangan :

01 = Pengukuran kecemasan anak yang dirawat inap sebelum diberikan biblioterapi

02 = Pengukuran kecemasan anak yang dirawat inap setelah diberikan biblioterapi

(52)

2. Populasi dan Sampel 2.1 Populasi

Populasi penelitian ini adalah anak yang berusia 6 sampai 12 tahun yang di rawat inap di Ruang Melati RSUD Pirngadi Medan. Dari data bulan Januari-November 2014 terdapat 535 orang anak (diperoleh dari buku rawatan ruang rawat inap Melati Tahun 2014).

2.2 Sampel

Tehnik sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling. Rumus yang digunakan untuk menentukan jumlah sampel adalah 10% dari populasi. Jadi jumlah sampel untuk penelitian ini sebanyak 53 orang. Namun pada penelitian ini peneliti hanya mendapatkan sampel sebanyak 32 orang. Dikarenakan keterbatasan waktu penelitian dan sedikitnya sampel yang memenuhi kriteria penelitian.

Kriteria inklusi dari penelitian ini adalah pasien anak usia 6-12 tahun, anak bersedia menjadi responden, lama hari rawat minimal 2 hari, dapat berbahasa Indonesia dengan baik, dapat diajak berkomunikasi, tingkat kesadaran compos mentis dan orangtua setuju anaknya menjadi responden. Kriteria eksklusi dari penelitian ini meliputi anak tidak kooperatif, kondisi anak sangat lemah, kesadaran menurun, anak dengan kejang, mengantuk berat, anak mengalami luka bakar dan bedrest total dan yang dirawat di ruang isolasi.

3. Waktu dan Lokasi Penelitian

(53)

di rumah sakit ini karena merupakan rumah sakit tipe B rujukan wilayah Sumatera Utara merupakan rumah sakit umum daerah, rumah sakit pendidikan dan penelitian, lokasi rumah sakit yang strategis dan pengurusan surat izin penelitian yang mudah sehingga dapat memudahkan peneliti mengambil sampel sesuai dengan kriteria sampel yang sudah peneliti tentukan.

4. Pertimbangan Etik

Pertimbangan etik dalam penelitian ini bertujuan agar peneliti dapat menjaga dan menghargai hak asasi para respondennya. Penelitian ini dilakukan setelah mendapat surat rekomendasi dari bagian pendidikan yaitu dekan. Selanjutnya mengirimkan surat permohonan untuk mendapatkan izin penelitian ke Rumah Sakit Umum Daerah Pirngadi Medan melalui Badan Diklat dan Litbang lalu ke ruangan yang dituju. Setelah mendapat ijin dari kepala ruangan baru boleh langsung ke responden.

(54)

diberikan (right to full disclosure), peneliti menjelaskan secara rinci tentang prosedur biblioterapi dan bertanggung jawab terhadap apa yang terjadi pada anak.

informed concent, peneliti mendapatkan persetujuan dari anak atau orang tua setelah sebelumnya peneliti menjelaskan tujuan penelitian; (3) prinsip keadilan/justice, responden mempunyai hak untuk mendapatkan perlakuan yang adil dan hak untuk mendapatkan privacy. Peneliti menjaga kerahasiaan responden dengan tidak mencantumkan nama responden pada kuesioner (anonimity) dan semua informasi yang diperoleh dijaga kerahasiaannya serta informasi dan data yang di dapat hanya akan digunakan sebagai hasil penelitian (confidentiality). 5. Instrumen Penelitian

Instrumen merupakan bagian dari penelitian. Dalam penelitian ini instrumen berbentuk kuesioner. Kuesioner penelitian ini terdiri dari dua bagian yaitu berisi data demografi dan kuesioner untuk kecemasan anak yang di rawat inap. Kuesioner kecemasan disusun berdasarkan kuesioner Zung Self-Rating Anxiety Scale (SAS) yang dimodifikasi oleh peneliti sendiri. Kuesioner telah diterjemahkan di Pusat Bahasa Universitas Sumatera Utara.

5.1 Kuesioner Data Demografi

(55)

5.2 Kuesioner Kecemasan

Instrumen penelitian tentang tingkat kecemasan anak. Kuesioner kecemasan anak usia sekolah yang dirawat inap terdiri dari 20 pertanyaan. Skala pengukuran data yang digunakan adalah skala Likert. Dengan interpretasi penilaian untuk setiap pernyataan yaitu Selalu (SL), mendapat nilai 4, Sering (SR) mendapat nilai 3, Kadang-Kadang (KK) mendapat nilai 2 dan Tidak Pernah (TP) mendapat nilai 1. Maka nilai terendah yang mungkin dicapai adalah 20 dan nilai tertinggi adalah 80. Perhitungan data hasil pengukuran berdasarkan rumus statistika menurut Sudjana (2005).

Panjang kelas

=

=

= 15

Dengan demikian, maka kecemasan anak usia sekolah yang dirawat inap dikategorikan sebagai berikut : tidak ada cemas dengan skor 20-34 , cemas ringan dengan skor 35-49, cemas sedang dengan skor 50-65 dan cemas berat dengan skor 66-80.

6. Uji Validitas

Peneliti menggunakan tehnik content validity yang membuktikan instrumen lebih sahih yang telah dilakukan oleh orang yang ahli dalam keperawatan anak dari Fakultas Keperawatan USU yaitu ibu Farida Linda Sari Siregar, S.Kep., Ns., M.Kep dengan nilai CVI adalah 0,88 maka dikatakan kuesioner ini valid.

7. Uji Reliabilitas

(56)

digunakan untuk penelitian dalam lingkup yang sama. Uji reliabilitas untuk kuesioner dilakukan dengan program komputerisasi yaitu analisis cronbach alpha

dimana koefisien α harus > 0,7 agar reliabel, sehingga kuesioner ini layak

digunakan. Uji reliabilitas telah dilakukan pada 10 orang anak usia sekolah (6-12 tahun) di ruang rawat inap Rumah Sakit Islam Malahayati, dimana bukan sampel yang diteliti. Uji reliabilitas dilakukan pada tanggal 18 Maret sampai 9 April 2015. Hasil analisis dengan cronbach alpha diperoleh nilai yaitu 0,89.

8. Tehnik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan di ruang rawat inap Melati RSUD Dr. Pirngadi Medan selama bulan April sampai dengan Juni 2015. Tehnik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan langkah-langkah yaitu mengajukan permohonan izin kepada dekan Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara. Kemudian mengajukan permohonan izin kepada direktur RSUD Pirngadi Medan. Setelah mendapat izin dari direktur RSUD Pirngadi yang melalui Badan Diklat dan Litbang lalu ke ruangan. Setelah mendapat ijin dari kepala ruangan, peneliti mendata anak yang dirawat inap yang memenuhi kriteria inklusi untuk dijadikan responden. Kemudian peneliti menjelaskan kepada keluarga dan calon responden tentang tujuan, manfaat penelitian dan proses penelitian yang akan dilakukan serta dampak yang mungkin terjadi selama dan setelah proses pengumpulan data.

Setelah anak bersedia menjadi responden maka peneliti memberikan lembaran

(57)

Kemudian peneliti melakukan wawancara selama 20 menit untuk mendapatkan informasi tentang karakteristik responden dan kuesioner untuk mengetahui apakah anak mengalami kecemasan akibat rawat inap sebelum dilakukan biblioterapi (pre test pada hari pertama), kuesioner diisi langsung oleh peneliti. Setelah peneliti selesai mengisi lembar kuesioner maka selanjutnya peneliti memberikan biblioterapi yang pertama. Peneliti mempersiapkan beberapa buku cerita dengan judul Bahagianya Berbagi, Si Kancil dan Raja Hutan, Kisah Seekor Anak Kucing, Aku dan Pengasuhku, Manis atau Pahit, dan Aji Saka yang Suka Menolong serta Putri Tadampalik yang Tabah, kemudian meminta anak untuk memilih buku cerita yang ingin dibaca. Lalu peneliti memberikan waktu pada anak untuk membaca. Setelah anak selesai membaca , peneliti meminta kembali responden menyebutkan tokoh dalam buku cerita dan pesan-pesan yang terkandung dalam cerita. Selanjutnya peneliti meminta responden untuk menyampaikan perasaannya setelah mengikuti biblioterapi. Biblioterapi dilakukan secara perorangan selama 25 menit.

(58)

respon anak setelah diberikan biblioterapi. Kuesioner yang digunakan saat post test sama dengan kuesioner yang digunakan saat pre test.

Proses penelitian ini dilakukan selama 2 bulan dikarenakan sedikitnya sampel penelitian pada bulan pertama penelitian maka peneliti melanjutkan penelitian menjadi 2 bulan. Dan selama proses penelitian peneliti tidak menemukan adanya responden yang mengundurkan diri.

9. Analisis Data

Semua data yang telah terkumpul dilakukan pengolahan data dengan memeriksa semua kuesioner. Pengolahan data dilakukan dengan melewati beberapa tahapan, yaitu : (1) Editing, peneliti melakukan pengecekan isian kuesioner, apakah jawaban yang ada pada kuesioner sudah lengkap, jelas, relevan dan konsisten; (2) Coding, peneliti memberi kode pada isian keusioner secara manual sebelum diolah dengan menggunakan komputer; (3) Scoring dan Entry

data, memberikan penilaian terhadap item-item yang perlu diberi penilaian dan memasukkan data yang telah dikumpulkan. Dalam memasukkan data ketelitian perlu diperhatikan untuk mencegah kesalahan dalam memasukkan data dan memaknai data; (4) Tabulating, peneliti memasukkan data yang telah diberi kode ke dalam tabel dan selanjutnya dianalisis secara statistik sesuai dengan tujuan data yang akan dianalisis.

Analisis data dibedakan menjadi 2, yaitu : 9.1 Analisis univariat

(59)

diketahui distribusi frekuensi mengenai karakteristik umur responden, jenis kelamin, lama hari rawat, riwayat pernah di rawat di rumah sakit dan skor kecemasan sebelum dan sesudah dilakukan biblioterapi ditampilkan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan persentase.

9.2 Analisis bivariat

(60)

Pengumpulan data dilakukan dari tanggal 21 April sampai dengan 21 Juni 2015. Jumlah sampel yang didapat sebagai responden yang memenuhi kriteria penelitian ini adalah sebanyak 32 responden. Penyajian data meliputi deskriptif karakteristik responden, kuesioner kecemasan akibat rawat inap sebelum dan sesudah diberikan terapi biblioterapi.

Pada bab ini peneliti akan menguraikan hasil penelitian dan pembahasan mengenai perngaruh biblioterapi terhadap kecemasan anak usia sekolah yang di rawat inap di RSUD Dr. Pirngadi Medan.

1.1 Analisa Univariat

a. Karakeristik Responden

(61)

Tabel 5.1

Distribusi responden berdasarkan data demografi anak usia sekolah di RSUD Dr. Prngadi Medan 2015 ( n=32)

Karakteristik Responden Frekuensi Persentase (%)

1. Umur

(62)

b. Distribusi hasil kuesioner kecemasan saat pre test

Tabel 5.2

Distribusi hasil kuesioner kecemasan anak usia sekolah yang dirawat inap sebelum pemberian biblioterapi di RSUD Dr. Pirngadi Medan (n=32)

No Pernyataan Tidak

Merasa lebih gugup dari pada biasanya.

Merasa takut tanpa alasan sama sekali.

Mudah sekali merasa terganggu.

Merasa kurang fokus Merasa semua baik-baik saja dan tidak ada hal buruk yang terjadi.

Tangan dan kaki gemetar. Terganggu dengan sakit di bagian kepala, leher atau punggung

Merasa lemah dan mudah lelah

Merasa tenang dan bisa duduk dengan tenang

Jari kaki dan tangan kesemutan

Terganggu oleh rasa sakit di perut

Sering buang air kecil Tangan kering dan hangat Wajah terasa panas dan memerah

(63)

Hasil penelitian diperoleh data mayoritas responden yang menjawab tidak pernah pada item pertanyaan no. 12 sebanyak 26 orang (81,2 %), yang menjawab kadang-kadang pada pernyataan no. 6 sebanyak 21 orang (65,6 %), yang menjawab sering pada pernyataan no. 16 sebanyak 22 orang (68,8 %) dan yang menjawab selalu pada pertanyaan no. 5 dan 13 sebanyak 7 orang (21,9 %).

c. Distribusi hasil kuesioner kecemasan saat post test Tabel 5.3

Distribusi hasil kuesioner kecemasan anak usia sekolah yang dirawat inap setelah pemberian biblioterapi di RSUD Dr. Pirngadi Medan (n=32)

No Pernyataan Tidak

Merasa lebih gugup dari pada biasanya.

Merasa takut tanpa alasan sama sekali.

Mudah sekali merasa terganggu.

Merasa kurang fokus Merasa semua baik-baik saja dan tidak ada hal buruk yang terjadi.

Tangan dan kaki gemetar. Terganggu dengan sakit di bagian kepala, leher atau punggung

Merasa lemah dan mudah lelah

Merasa tenang dan bisa duduk dengan tenang

(64)

15.

Terganggu oleh rasa sakit di perut

Sering buang air kecil Tangan kering dan hangat Wajah terasa panas dan memerah

Mudah sekali tertidur dan tidur nyenyak di malam hari

Hasil penelitian diperoleh data mayoritas responden yang menjawab tidak pernah pada item pertanyaan no. 12 sebanyak 31 orang (96,9 %), yang menjawab kadang-kadang pada pernyataan no. 8 dan 16 masing-masing sebanyak 21 orang (65,6 %), yang menjawab sering pada pernyataan no. 9 sebanyak 18 orang (56,2 %) dan yang menjawab selalu pada pertanyaan no. 13 sebanyak 20 orang (62,5%).

d. Karakteristik kecemasan anak sebelum diberikan biblioterapi

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh anak mengalami cemas ringan sebanyak 27 orang (84,4 %) dan anak mengalami cemas sedang sebanyak 5 orang (5 %). Dapat dilihat pada tabel 5.4

Tabel 5.4

Distribusi frekuensi dan persentase responden berdasarkan kecemasan anak sebelum diberikan biblioterapi pada anak usia sekolah yang dirawat inap di

RSUD Dr. Pirngadi Medan 2015 (n=32)

(65)

e. Karakteristik kecemasan anak setelah diberikan biblioterapi

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh anak mengalami cemas ringan sebanyak 4 orang (12,5 %) dan yang tidak mengalami kecemasan sebanyak 28 orang (87,5 %). Dapat dilihat pada tabel 5.5

Tabel 5.5

Distribusi frekuensi dan persentase responden berdasarkan kecemasan anak sesudah diberikan biblioterapi pada anak usia sekolah yang dirawat inap di

RSUD Dr. Pirngadi Medan 2015 (n=32)

Kecemasan Anak f %

Cemas Ringan Tidak Cemas

4 28

12,5 87,5

1.2 Analisa Bivariat

Hasil penelitian menunjukkan dari 32 responden terdapat 30 responden skor kecemasannya lebih kecil setelah diberikan intervensi dibandingkan sebelum intervensi dan 2 responden skor kecemasan sebelum dan setelah intervensi sama. Hasil uji statistik diperoleh nilai p yaitu 0,001. Berdasarkan hasil tersebut terdapat pengaruh yang signifikan antara kecemasan anak usia sekolah akibat rawat inap sebelum dan setelah diberikan biblioterapi. Dapat dilihat pada tabel 5.6

Tabel 5.6

Pengaruh biblioterapi terhadap kecemasan anak usia sekolah yang dirawat inap di RSUD Dr. Pirngadi Medan bulan April sampai Juni 2015 (n=32)

Variabel Negatif Rank (a)

Positive Rank (b)

Ties (c) nilai Z nilai p

(66)

2. Pembahasan

2.1 Kecemasan Responden Sebelum Diberikan Biblioterapi

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa rata-rata anak usia sekolah mengalami kecemasan sebelum diberikan biblioterapi. Terdapat 27 anak (84,4%) mengalami cemas ringan, 5 anak (15,6%) mengalami cemas sedang, rata-rata responden memiliki skor kecemasan sebelum diberikan biblioterapi 2,16.

Penelitian ini menunjukkan anak usia sekolah yang menjalani rawat inap banyak mengalami kecemasan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Hart dan Bossert,1994 dalam Wong (2008), kecemasan anak selama hospitalisasi terjadi karena adanya stresor berupa perpisahan dengan keluarga, kehilangan kendali, dan ketakutan akan perlukaan terhadap anggota tubuh.

Anak akan menunjukkan berbagai perilaku sebagai reaksi terhadap pengalaman hospitalisasi. Reaksi tersebut sangat individual dan sangat bergantung pada tahapan usia perkembangan anak, pengalaman sebelumnya terhadap sakit, sistem pendukung yang tersedia dan kemampuan koping yang dimiliki (Supartini, 2004).

2.2 Kecemasan Responden Sesudah Diberikan Biblioterapi

(67)

Anak yang dirawat dirumah sakit memungkinkan juga mengalami kecemasan sosial akibat pikiran negatif tentang penyakit dan kondisi lingkungan rumah sakit. Biblioterapi dapat digunakan dalam terapi kelompok sosial semua usia sekolah yang dirawat dirumah sakit, yang menjalani rawat jalan ataupun saat berkunjung kedokter (Austin, 2010). Dengan membaca, anak dapat lebih mengeksplorasi, berimajinasi dan memperluas pengetahuan (Hockenberry & Wilson, 2009).

Hasil penelitian ini sesuai dengan teori Wong (2008), bahwa biblioterapi merupakan tehnik komunikasi pada anak yang juga diartikan menggunakan buku dalam proses terapeutik dan suportif. Memberikan kesempatan pada anak untuk mengeksplorasi suatu kejadian yang hampir sama dengan kejadian yang mereka alami dengan versi berbeda agar anak tidak terlalu terfokus terhadap kejadian tersebut dan agar anak tetap berada dalam kontrol.

2.3 Perubahan Kecemasan Anak Usia Sekolah yang Dirawat Inap Sebelum dan Sesudah Pemberian Biblioterapi

(68)

dikenal akan mengalami perasaan takut, cemas apalagi bila harus menjalani rawat inap. Selain itu menurut Supartini (2004), pengalaman anak sebelumnya terhadap proses sakit dan dirawat juga sangat berpengaruh. Menurut Elfira (2011), anak yang sakit dan harus dirawat dirumah sakit akan mengalami masa sulit karena tidak dapat melakukan kebiasaan seperti biasanya. Lingkungan dan orang-orang asing, perawatan dan berbagai prosedur yang dijalani oleh anak merupakan sumber stresor, kecewa dan cemas, terutama untuk anak yang pertama kali dirawat di rumah sakit.

Hasil uji statistik diperoleh nilai p = 0,001 (p < 0,05). Sehingga dapat dinyatakan bahwa terdapat pengaruh biblioterapi terhadap kecemasan anak yang dirawat inap. Perubahan respon kecemasan antara sebelum dan sesudah pemberian biblioterapi ditunjukkan dengan penurunan nilai tingkat kecemasan anak. Menurut Stuart (2006), dalam pandangan interpersonal, kecemasan berhubungan dengan perkembangan trauma seperti akibat perpisahan dan kehilangan. Apabila pemahaman anak tentang penyakit, perpisahan dan cidera tubuh selama dirawat meningkat, diharapkan akan menurunkan ancaman integritas fisik maka akan mengurangi stimulasi syaraf otonom mengeluarkan adrenalin sehingga respon fisik dan psikologis kecemasan akan menurun. Apabila tingkat kecemasan anak selama hospitalisasi menurun, maka anak akan menjadi lebih kooperatif dalam menjalani perawatan dan anak menjadi lebih nyaman sehingga akan mempercepat proses penyembuhan pasien anak.

(69)

menjalani hospitalisasi di Rumah Sakit Islam Jakarta, dengan jumlah responden 15 anak pada kelompok kontrol dan 15 anak pada kelompok intervensi. Didapatkan hasil yaitu terdapat pengaruh biblioterapi terhadap penurunan tingkat kecemasan anak usia sekolah yang menjalani hospitalisasi dimana setiap anak yang mendapatkan biblioterapi maka tingkat kecemasannya akan menurun 6,005 setelah dikontrol oleh variabel tingkat kecemasan sebelum intervensi, usia anak dan pengalaman dirawat sebelumnya. Perbedaan dengan penelitian ini yaitu pada desain penelitian yang hanya menggunakan satu kelompok intervensi.

Penelitian lainnya yang mendukung dilakukan oleh Schneider (2012) dengan tujuan mengidentifikasi pengaruh biblioterapi terhadap penurunan kecemasan anak penderita kanker sebelum dan sesudah intervensi, dengan jumlah responden 21 orang terdiri dari 12 laki-laki dan 9 perempuan dan didapatkan hasil yaitu terdapat penurunan kecemasan langsung segera setelah pemberian biblioterapi dan penurunan yang signifikan didapat setelah beberapa bulan intervensi dengan meninggalkan buku pada anak.

3. Keterbatasan Penelitian

(70)

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa responden yang diberikan biblioterapi mayoritas berusia 11 tahun (28,1 %), jenis kelamin laki-laki (56,2 %), belum pernah dirawat (56,2 %) dan lama rawat 3 hari (34,4 %). Berdasarkan hasil penelitian diketahui rata-rata responden mengalami penurunan kecemasan. Pada pre test responden yang mengaaslami cemas ringan 27 orang (84,4 %) dan saat post test reponden yang mengalami cemas ringan 4 orang (12,5 %).

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada uji wilcoxon diketahui dari 32 anak terdapat 30 orang anak yang skor kecemasannya lebih kecil setelah intervensi dibandingkan sebelum intervensi dan terdapat 2 anak yang skor kecemasannya sama sebelum dan sesudah intervensi. Nilai p value adalah 0,001. Maka dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh biblioterapi terhadap kecemasan anak usia sekolah yang dirawat inap di RSUD Dr. Pirngadi Medan.

2. Saran

Berdasarkan hasil penelitian maka disarankan kepada : 2.1. Pendidikan keperawatan

(71)

2.2 Praktek keperawatan

Hasil penelitian ini dapat digunakan perawat untuk melakukan biblioterapi pada pasien anak usia sekolah yang dirawat inap untuk menurunkan kecemasan anak.

2.3 Penelitian Selanjutnya

(72)

Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan. Skripsi FKep USU. http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/27095.

Apriliawati, A. (2011). Pengaruh Biblioterapi Terhadap Tingkat Kecemasan Anak Usia Sekolah Yang Menjalani Hospitalisasi di Rumah Sakit Islam Jakarta. Tesis FIK UI. www.digilib.ui.ac.id/file=digital/20280209.

Arikunto, S. (2006). Prosedur Penelitian:Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.

Austin, C. (2010). Bibliotherapy for children. Diakses tanggal 28 Juni 2015, dari www.clanet.org/included/docs/handout1.pdf

Bulecheck, G. M et all. (2013). Nursing Intervention Classification (NIC) 5th ed. USA: Elseviar Global Right.

Dalami et all. (2009). Asuhan Keperawatan Jiwa Dengan Masalah Psikososial. Jakarta: Trans Info Media.

Darmawan, W., Rohanda., dan Kusnandar. (2012). Penerapan Biblioterapi di Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo. eJournal Mahasiswa Universitas Padjadjaran volume 1 (No 1). Diakses tanggal 21 September 2014, dari http://jurnal.unpad.ac.id.

Elfira, E. (2011). Pengaruh Terapi Bermain dengan Tehnik Bercerita Terhadap Kecemasan Akibat Hospitalisasi pada Anak Pra Sekolah di Ruang Perawatan Anak di RSUP H. Adam Malik Medan. Skripsi, Universitas Sumatera Utara. http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/24484

Hawari, D. (2001). Manajemen Stres Cemas dan Depresi. Jakarta: FKUI

Hockenbery, M.J., Wilson D. (2009). Wong’s esensial pediatric nursing 8th ed.St. Louis: Mosby Elsevier

Judarwanto, W. (2005). Permasalahan Umum Kesehatan Anak Usia Sekolah. Disampaikan pada seminar ilmiah populer kesehatan anak usia sekolah. Diakses tanggal 19 oktober 2014, dari http://www.pdpersi.co.id.

Narendra, M B., Sularyo, T S. (2002). Tumbuh Kembang Anak dan Remaja. Buku Ajar I. Ed. 1. Jakarta:Ikatan Dokter Anak Indonesia.

Gambar

Tabel 3.2 Defenisi Operasional Variabel Penelitian
Tabel 5.1
Tabel 5.2 Distribusi hasil kuesioner kecemasan anak usia sekolah yang dirawat inap
Tabel 5.3 Distribusi hasil kuesioner kecemasan anak usia sekolah yang dirawat inap setelah
+3

Referensi

Dokumen terkait

Mengetahui perbedaan pengaruh terapi bermain terhadap kecemasan pada anak pre sekolah yang dirawat antara yang diberi terapi bermain dan yang tidak diberi terapi bermain di

Pengaruh Teknik Guided Imagery Pada Pemasangan Infus Terhadap Kecemasan Anak Usia Sekolah Di Rumah Sakit Umum..

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmad dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian ini ini dengan judul

[r]

Pirngadi Medan agar meningkatkan pelayanan dan pemberian informasi kepada penderita kanker prostat yang pulang berobat melakukan pemeriksaan untuk mengurangi kadar PSA

kecemasan (situasi mengancam), yang secara langsung atau tidak langsung hasil. pengamatan/pengalaman tersebut diolah melalui proses

DATA PASIEN ANAK RAWAT INAP RUMAH SAKIT PIRNGADI MEDAN TAHUN

Studi ini menggunakan beberapa metrik untuk mengevaluasi penggunaan antibiotik pada pasien anak yang dirawat inap di rumah sakit di