• Tidak ada hasil yang ditemukan

ASPEK PEMBUKTIAN TINDAK PIDANA KORUPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "ASPEK PEMBUKTIAN TINDAK PIDANA KORUPSI"

Copied!
1
0
0

Teks penuh

(1)

1 ASPEK PEMBUKTIAN TINDAK PIDANA KORUPSI

Oleh : Echwan Iriyanto, S.H., M.H. Dosen Fakultas Hukum Universitas Jember

Abstraksi

Sebagai negara hukum dan telah merasakan dampak dari korupsi, Indonesia terus berupaya secara konkrit untuk melakukan pencegahan dan pemberantasan tindak pidana korupsi. Penerapan prinsip pembuktian terbalik merupakan salah satu upaya yang perlu mendapat perhatian baik dari aspek teoritik dan praktik , yaitu dengan mengedepankan keseimbangan yang proporsional antara perlindungan kemerdekaan individu di satu sisi, dan perampasan hak individu yang bersangkutan atas harta kekayaannya yang diduga kuat berasal dari korupsi disisi lainnya.

Kata kunci : Korupsi, pembuktian terbalik seimbang

1. Pendahuluan

Istilah korupsi berasal dari bahasa latin Corrumpere, Corruptio, atau

Corruptus. Arti harfiah dari istilah tersebut adalah penyimpangan dari

kesucian (Profanity), tindakan tak bermoral, kebejatan, kebusukan,

kerusakan, ketidakjujuran atau kecurangan. Dengan demikian korupsi

memiliki konotasi adanya tindakan-tindakan hina, fitnah atau hal-hal buruk

lainnya. Jika membicarakan tentang korupsi memang akan menemukan

kenyataan semacam itu karena korupsi menyangkut segi-segi moral, sifat

keadaan yang busuk, jabatan karena pemberian, faktor ekonomi dan politik,

serta penempatan keluarga atau golongan kedalam kedinasan di bawah

kekuasaan jabatannya.

Selain pengertian di atas, terdapat pula istilah-istilah yang lebih

merujuk kepada modus operandi tindakan korupsi. Istilah penyogokan

(graft), merujuk kepada pemberian hadiah atau upeti untuk maksud

mempengaruhi keputusan orang lain. Pemerasan (extortion), yang diartikan

sebagai permintaan setengah memaksa atas hadiah-hadiah tersebut dalam

Referensi

Dokumen terkait

Pembuktian terbalik dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Juncto Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana korupsi berbeda

Disertasi yang berjudul : Penguatan Sistem Pembuktian Terbalik Tindak Pidana Pencucian Uang Dengan Perkara Pokok Tindak Pidana Korupsi Dalam Upaya Pengembalian

Kendala dari sistem pembuktian terbalik terbatas tersebut bisa menjadi bumerang untuk para Jaksa Penuntut Umum jika tidak hati-hati karena secara tidak langsung

Hasil penelitian yang telah dilakukan yaitu pembuktian terbalik pada kasus korupsi diterapkan terhadap suap menerima gratifikasi yang nilainya 10 juta ke atas dan terhadap

Sementara itu hubungannya dengan Pasal 37A khususnya ayat (3), bahwa sistem terbalik menurut Pasal 37 berlaku dalam hal pembuktian tentang sumber (asal) harta benda terdakwa

Berlainan dengan model Hongkong (dalam pembuktian terbalik) yang dapat digunakan dalam kasus korupsi melalui prosedur hukum acara pidana, maka model pembuktian terbalik

Hubungannya sementara itu dalam Pasal 37A khususnya ayat (3), menjelaskan bahwa sistem terbalik menurut Pasal 37 berlaku dalam hal pembuktian tentang sumber

Berlainan dengan model Hongkong (dalam pembuktian terbalik) yang dapat digunakan dalam kasus korupsi melalui prosedur hukum acara pidana, maka model pembuktian terbalik