I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Hortikultura merupakan salah satu sub sektor dalam sektor pertanian yang berpotensi untuk dikembangkan karena memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi. Indonesia memiliki aneka produk hortikultura, dengan ragam plasma nutfah dan varietas yang memungkinkan bagi upaya pengembangan buah, sayuran dan bunga. Namun hasil tanaman hortikultura mempunyai sifat khusus antara lain : 1
1) Mudah atau cepat busuk (perishable), tetapi selalu dibutuhkan setiap hari dalam keadaan segar. Sejak panen sampai pasar memerlukan penanganan secara cermat dan efisien karena akan mempengaruhi kualitas dan harga pasar.
2) Memiliki nilai estetika, jadi harus memenuhi keinginan masyarakat umum. Keadaan ini sangat sulit karena tergantung pada cuaca, serangan hama dan penyakit, namun dengan biaya tambahan kesulitan itu dapat diatasi.
3) Produksi umumnya musiman, beberapa diantaranya tidak tersedia sepanjang tahun. 4) Memerlukan volume ( ruangan volumenes) yang besar, menyebabkan ongkos
angkut menjadi besar pula dan harga pasar menjadi tinggi.
5) Memiliki daerah penanaman (geografi) yang sangat spesifik atau menuntut agroklimat tertentu.
Beberapa komoditi yang termasuk dalam produk hortikultura adalah tanaman hias, buah-buahan, sayur-sayuran, dan tanaman obat. Tanaman hias dikelompokkan ke dalam empat kelompok yakni; 1) bunga potong, 2) daun potong, 3) tanaman hias pot dan 4) tanaman hias untuk pertamanan lansekap2. Kelompok tanaman hias bunga potong umumnya lebih banyak diminati karena bernilai ekonomis tinggi dengan warna bunga yang menarik dan volume bunga yang dapat mencapai jumlah yang besar. Tanaman hias yang bernilai ekonomis sebagai bunga potong harus memenuhi persyaratan yakni: 1) Berwarna indah, mulus, bersih, tidak bernoda dan baunya wangi tidak menyengat, 2) Bunga dapat bertahan lama setelah dipotong, 3) Tangkai bunga cukup panjang dan kuat, 4) Bunga tidak mudah rusak dalam pengepakan dan 5) Bunga
1
Departemen Pertanian. Direktorat Jendral Penanganan Pasca Panen.2010. Jakarta 2
dihasilkan oleh tanaman yang subur dan mudah berbunga tanpa mengenal musim. Beberapa jenis bunga potong yang terkenal di Indonesia adalah Anggrek, Krisan, Mawar, Anyelir, Gladiol, Gerbera dan lain lain3.
Hasil eksplorasi yang dilakukan berbagai pihak memberikan informasi bahwa
beberapa jenis plasma nutfah yang dikoleksi mempunyai potensi untuk dijadikan
tanaman hias. Beberapa suku dan marga tumbuhan asal hutan belantara Indonesia juga
cukup indah sebagai tanaman hias pot dan sebagian telah dibudidayakan, namun belum
dikembangkan lebih lanjut. Balai Penelitian Tanaman Hias telah mengoleksi berbagai
jenis tanaman hias yang dari tahun ke tahun terus bertambah, baik jenis maupun
jumlahnya. Tanaman hias dan bunga pun selain dikonsumsi sebagai tanaman hias
dalam pot juga di perjual belikan sebagai bunga potong, dan daun potong yang
berfungsi mememiliki nilai tambah estetika.
Florikultura merupakan salah satu bagian dari produk hortikultura yang juga memiliki potensi yang baik untuk dikembangkan. Negara Indonesia terkenal memiliki kekayaan flora yang melimpah dan berpotensi sebagai tanaman hias. Dengan berbagai ragam keindahan dan keunikan, flora Indonesia mempunyai peluang untuk
diberdayakan sebagai komoditas komersial yang penting dan dapat memberikan
kontribusi dalam peningkatan pendapatan petani tanaman hias dan devisa negara. Sektor
florikultura pun memberikan pendapatan bagi negara, hal tersebut ditunjukkan bahwa
Indonesia sudah mengekspor tanaman hias dan bunga potongnya ke mancanegara. Saat
ini Indonesia mengekspor bunga potong kurang lebih sekitar lima juta US dollar per tahunnya yang menempatkan Indonesia pada posisi ke 33 di dunia sebagai negara
pengekspor bunga potong4.
Produktivitas tanaman bunga berfluktuasi tergantung dengan trend bunga yang ada pada tahun tersebut, para petani dan distributor sangat memperhatikan trend bunga yang sedang berlaku, karena kebutuhan masyarakat akan bunga tergantung pada gaya
hidup mereka, dan jenis bunga yang dibeli pun tergantung pada pola dan gaya hidup
yang sedang berjalan pada tahun tersebut5. Seperti contohnya Anthurium yang mulai
terkenal pada beberapa tahun belakangan ini, hal tersebut merupakan contoh bahwa
3
Ibid, hlm 3 4
[USAID] United State Agency International Development.2010.Penilaian Rantai nilai sektor Florikultur Tropis di Indonesia. www.florably.multiply.com . [02 Mei 2011]
5
perkembangan tanaman hias khususnya bunga tergantung dari trend dan gaya hidup masyarakat.
Budidaya bunga potong dan tanaman hias sudah banyak dilakukan di Indonesia
hal tersebut ditunjukan dengan keanekaragaman sumberdaya florikultura yang cukup besar, baik jenis florikultura dataran rendah maupun dataran tinggi. Keragaman tersebut memungkinkan untuk memenuhi hampir semua segmen pasar florikultura internasional. Indonesia masih memiliki lahan yang relatif luas sehingga ruang gerak pengembangan agribisnis yang relatif bersifat land based seperti umumnya florikultura masih cukup besar. Prospek agribisnis florikultura masih cukup cerah baik di pasar domestik maupun pasar mancanegara. Dengan jumlah penduduk Indonesia yang cukup besar dan cenderung pendapatannya meningkat merupakan pasar yang besar. Apalagi saat ini Indonesia masih tergolong negara dengan konsumsi per kapita florikultura terendah di dunia 6.
Tanaman florikultura, khususnya bunga potong (cut flower) merupakan komoditi yang sangat khas, di mana para pengusaha dituntut untuk lebih memberikan perhatian khusus dalam pengusahaannya yang didasarkan atas ketrampilan seni, ketrampilan dalam hal penguasaan teknologi budidaya dan kemampuan dalam memperdagangkan hasil produksi. Pengusaha bunga potong juga dituntut dapat untuk memperdagangkan produksinya dalam keadaan segar dan menampilkan bentuk dan warna produksinya yang secara artistik mampu menarik calon konsumen.
Sejalan dengan peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat, maka konsumsi bunga potong akan cenderung meningkat. Persepsi masyarakat terhadap bunga potong semakin positif sehingga penggunaan bunga potong tidak hanya terbatas untuk sekedar hiasan belaka, tetapi juga dapat diberikan untuk ucapan selamat, ucapan simpati, kegiatan keagamaan, upacara perkawinan, dan sebagainya. Dengan makin luasnya penggunaan bunga potong, maka persaingan dalam pengembangan komoditi ini juga semakin meningkat.
Pengembangan teknologi yang memungkinkan untuk menghasilkan bunga potong berwarna-warni, bentuk yang menarik, tahan lama dan harganya relatif terjangkau. Adanya segmen pasar untuk masyarakat golongan tertentu yang mempunyai selera eksklusif dan fanatik terhadap jenis bunga tertentu yang belum dapat dihasilkan
6
di dalam negeri menyebabkan semakin meningkatnya impor bunga potong. Di lain pihak, lembaga-lembaga penelitian dan para nursery di dalam negeri telah mengembangkan varietas-varietas baru yang mempunyai daya saing yang kuat dengan produk impor, juga dengan adanya teknologi budidaya yang semakin dikuasai dan efisien menyebabkan harga jual bunga potong mampu bersaing dengan produk impor.
Usaha dalam bidang florikultura khususnya bunga potong dapat dilakukan dalam dua jenis yang pertama sebagai produsen atau usaha budidaya bunga potong dan yang kedua adalah distributor atau dalam bentuk florist. Florist menjadi distributor dari petani budidaya bunga potong dengan memberikan nilai tambah bunga potong kepada konsumen berupa bentuk rangkaian ataupun tambahan hiasan lain. Selain itu usaha florist tidak membutuhkan modal yang terlalu besar bila dibandingkan dengan budidaya, akan tetapi dibutuhkan pengetahuan mengenai minat konsumen dan trend bunga potong yang sedang banyak disukai.
Bunga potong banyak digunakan untuk hiasan dan dekorasi, fungsinya secara
umum sama yaitu memberikan keindahan dan nilai tambah estetika, akan tetapi bunga potong biasanya tidak bertahan lama dan hanya dapat digunakan untuk satu kali
pemakaian. Walaupun demikian bunga potong merupakan bisnis yang sangat
menguntungkan karena dengan berkembangnya zaman dan pola pikir, keindahan
menjadi suatu hal yang sangat diperhitungkan. Perubahan pola pikir ini yang
menjadikan bunga sebagai salah satu tanda ungkapan, misalnya pada beberapa moment
seperti karangan bunga untuk ucapan selamat, tanda kasih sayang, bahkan untuk belasungkawa orang-orang mengungkapkannya dengan menggunakan bunga. Berikut
ini adalah potensi pembelian bunga potong masyarakat Indonesia dari tahun 2006 –
tahun 2009.
Tabel 1. Pembelian Beberapa Jenis Bunga Potong oleh Masyarakat Indonesia pada Tahun 2006 – 2009.
No
Jenis Tanaman (dalam bentuk batang/tangkai)
Tahun
2006 2007 2008 2009
1 Anggrek 3.260.858 4.450.787 4.995.735 6.904.109
2 Tulip 583.728 773.299 1.006.075 1.263.770
4 Gerbera 384.464 448.338 797.139 681.920
5 Krisan 2.281.125 7.387.737 25.804.630 27.406.464
6 Mawar 78.147.515 84.951.741 86.708.137 95.766.656
7 Sedap Malam 13.273.441 11.482.190 19.666.425 16.139.563
8 Melati 15.134.842 19.524.815 18.233.644 15.740.955
Sumber : Badan Pusat Statistik, 2010.
Berdasarkan Tabel 1 dapat terlihat bahawa seiring dengan perkembangan gaya
hidup masyarakat maka kebutuhan akan estetika semakin tinggi pula. Pembelian
masyarakat yang semakin meningkat tiap tahunnya dapat dijadikan penyebab
banyaknya bisnis Florist yang berkembang saat ini.
Salah satu florist yang ada di Kota Bogor adalah Wid Florist yang terletak di Jalan Salak, Wid Florist merupakan florist yang meyediakan bunga potong dan pemesanan rangkaian bunga, kios tempat Wid Florist menjual produknya memiliki konsep yang mewah dan elegan. Wid Florist adalah satu-satunya florist di Kota Bogor yang menawarkan konsep kios yang berbeda dengan florist-florist lainnya yang ada di Kota Bogor. Produk bunga potong yang dijual di Wid Florist tidak hanya bunga lokal, akan tetapi juga menjual bunga impor dan bunga potong musiman. Selain menjual
bunga potong juga menawarkan jasa berupa merangkai bunga dan menjual peralatan
hiasan tambahan untuk bunga potong, seperti vas bunga, hiasan daun, dan berbagai
hiasan lain yang dapat mempercantik rangkaian bunga potong.
Hal menarik dari Wid Florist ini adalah Wid Florist memiliki kegiatan yang bernama “create your own flowers” yaitu konsumen dapat merangkai bunga yang telah dipilihnya sendiri menurut kreatifitas masing konsumen sehingga rangkaian bunga yang
dihasilkan adalah kreasi konsumen itu sendiri, tentu saja dengan sarana yang telah
disediakan di Wid Florist. Sarana-sarana yang disediakan yaitu berupa peralatan hias dan tempat duduk yang nyaman untuk konsumen. Sehingga selain membeli bunga
potong para konsumen pun dapat menata sendiri bunga potong yang mereka inginkan.
1.2 Perumusan Masalah
Wid Florist adalah salah satu florist yang ada di Kota Bogor yang sudah sangat terkenal dan memiliki pelanggan. Konsep penjualan bunga yang ditawarkan oleh Wid
Florist berbeda dengan konsep yang ditawarkan oleh florist lainnya. Wid Florist
memiliki outlet yang dirancang khusus secara modern, sehingga pelanggan atau
konsumen yang hendak membeli produk yang ada di Wid Florist merasakan nuansa elegan dan berkelas. Konsep modern dan berkelas tersebut yang dipertahankan oleh
Wid Florist untuk menarik perhatian pelanggannya, dan hal tersebut juga yang membuat Wid Florist berbeda dengan florist lainnya.
Konsep “create your own flowers” yang ditawarkan oleh Wid Florist pun merupakan salah satu nilai tambah yang dimiliki oleh florist ini dibandingkan engan
florist-florist lain yang ada di Kota Bogor. Selain itu Wid Florist mempunyai produk bunga potong yang sangat beragam dan memiliki standar kualitas yang sangat tinggi
untuk produk yang dijualnya.
Konsumen yang biasa mengkonsumsi bunga potong sangat memperhatikan kesegaran bunga yang dibelinya, karena keindahan dari bunga potong terlihat dari
kesegaran dan penatannya. Wid Florist merupakan usaha yang bergerak dalam bidang penjualan bunga potong dan dekorasi tentu saja memiliki permasalahan dalam
menyikapi hal tersebut, karena di Kota Bogor ini perusahaan sejenis sudah banyak
berkembang, maka persaingan merupakan masalah yang sangat diperhatikan oleh Wid
Florist. Jenis usaha sejenis dan yang merupakan pesaing bagi Wid Florist di Kota Bogor dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Perusahaan Bunga Potong, Tanaman hias dan Dekorasi yang ada di Kota Bogor
No Nama Perusahan Jenis usaha
Bunga Potong Tanaman hias Dekorasi
1 Fajar Florist √ √
2 Susie Flower √ √
3 Dandy Decoration √ √
4 Kumpulan Pedagang Pasar
Kembang (Pasar Anyar) √ √ √
5 Nina Flower √
6 Berseri Florist √
7 Kumpulan pedagang bunga
pasar Bogor √ √ √
8 Cantik decoration √ √
10 Kembang Sari kedung Badak √
11 Murti decoration √
12 Kuntum Nursery √ √ √
Sumber : Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bogor , 2010
Berdasarkan Tabel 2 terlihat bahwa usaha bunga potong, tanaman hias dan
dekorasi merupakan usaha yang banyak diminati karena perubahan gaya hidup
masyarakat itu sendiri. Tingginya persaingan usaha dapat mempengaruhi pendapatan
perusahaan, dengan adanya persaingan maka konsumen memiliki pilihan untuk
membeli produk bunga potong maupun tanaman hias.
Permasalahan lain yang dihadapi oleh Wid Florist adalah belum terpenuhinya target penjualan yang sudah direncanakan sebelumnya, seperti telah dijelaskan
sebelumnya bunga potong yang termasuk dalam produk agribisnis memiliki kelemahan
dalam hal penyimpanan, maka Wid Florist tidak dapat melakukan penyimpanan bunga potong dalam jangka waktu yang lama, sementara target penjualannya belum terpenuhi.
Berdasarkan hasil wawancara dengan pemilik perusahaan, saat ini target penjualan yang
terpenuhi hanya 60 – 70 persen dari target penjualan yang telah ditetapkan sebelumnya.
Target penjualan dan realisasi penjualan pada Wid Florist selama empat bulan terakhir dapat dilihat pada Gambar 1 berikut ini.
Gambar 1. Target Penjualan dan Realisasi Penjualan Bunga Potong* bulan Januari – April 2011
Berdasarkan Gambar 1 tersebut dapat dilihat bahwa selama ini target penjualan
yang ada belum mampu terpenuhi. Penjualan bunga potong tertinggi terlihat pada bulan
Februari, karena pada bulan tersebut terdapat moment hari kasih sayang yang biasanya
banyak orang yang mengungkapkannya dengan menggunakan bunga.
Pembelian konsumen terhadap bunga potong dan tanaman hias bukan
merupakan pembelian yang dilakukan setiap hari, oleh karena itu biasanya terdapat
waktu-waktu tertentu dimana bunga potong dan tanaman hias dikonsumsi dalam jumlah
yang banyak. Selama ini target penjualan yang ditetapkan oleh Wid Florist tiap bulannya pun berbeda-beda tergantung dengan kondisi pasar pada saat itu, baik kondisi
pemasok maupun konsumen.
Pada awal berdirinya yaitu tahun 2005 Wid Florist selalu dapat memenuhi target penjualannya bahkan terdapat permintaan yang masih belum bisa dipenuhi oleh wid
Florist. Penjualan tiga tahun terakhir yaitu pada awal tahun 2009 mengalami penurunan hal tersebut dikarenakan banyaknya pesaing di usaha sejenis yang menawarkan produk
yang lebih inovatif dengan strategi pemasaran yang baik. Berikut ini adalah grafik
perbandingan penjualan Wid Florist dari tahun 2006 – 2010
Gam
bar 2. Grafik Perbandingan Penjualan Wid Florist dari tahun 2006 – 2010
Berdasarkan Gambar 2 semenjak tahun 2008 permintaan konsumen Wid Florist
mulai menurun hal tersebut dikarenakan banyaknya pesaing yang bermunculan
sementara target penjualan yang ditetapkan semenjak tahun 2008 hingga 2011 tetap hal
tersebut mengakibatkan penurunan keuntungan untuk Wid Florist. Oleh karena itu Wid
memeperoleh strategi pemasaran yang tepat bagi Wid Florist maka diperlukan untuk mengetahui lingkungan internal dan eksternal yang ada dan mempengaruhi usaha Wid
Florist. Wid Florist perlu untuk meminimalkan berbagai kelemahan dan memanfaatkan kekuatan yang dimiliki, selain itu Wid Florist juga perlu untuk menghindari ancaman yang ada dan memanfaatkan peluang yang tersedia. Berdasarkan uraian di atas maka
perumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut
1. Bagaimana kondisi Lingkungan Internal dan Eksternal yang dimiliki oleh Wid
Florist ?
2. Bagaimana strategi pemasaran yang telah dilakukan oleh Wid Florist dan strategi pemasaran baru yang tepat untuk diterapkan oleh Wid Florist berdasarkan kondisi lingkungan internal dan eksternal ?
3. Strategi apa yang menjadi prioritas dalam pemasaran di Wid Florist sesuai dengan faktor internal dan eksternal yang dimiliki ?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk :
1. Menganalisis kondisi lingkungan dan lingkungan eksternal yang dimiliki oleh Wid
Florist dengan mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman yang ada
2. Merumuskan alternatif startegi pemasaran untuk diterapkan di Wid Florist
3. Menyusun prioritas strategi yang dapat diterapkan oleh Wid Florist untuk memasarkan produknya dan memenuhi target penjualannya.
1.4 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan berguna untuk
1) Bagi pemilik usaha Wid Florist, penelitian ini diharapkan dapat membantu untuk menjadi rujukan atau tambahan informasi untuk melakukan strategi pemasaran
2) Bagi pembaca diharapkan dapat menjadi sumber literature dan perbandingan dalam penelitian yang akan dilakukan selanjutnya.
3) Bagi penulis untuk pengalaman, penambahan wawasan dan sebagai sarana untuk
mengaplikasikan materi-materi perkuliahan yang telah dipelajari, juga sebagai salah
II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Florist
Florist adalah istilah umum yang digunakan untuk menggambarkan perdagangan bunga profesional. Meliputi perawatan bunga dan penanganan, desain bunga atau merangkai bunga, merchandising dan menampilkan serta pengiriman bunga. Saat ini banyak jenis bunga hiasan yang bisa kita dapatkan di florist. Florist adalah suatu usaha yang juga selain menjual produk juga menjual jasa yang berupa pelayanan. Pelayanan yang dilakukan oleh usaha florist biasanya usaha purna jual. Jenis pelayanan yang biasa dilakukan oleh para pengusaha florist adalah sebagai berikut :
1) Pelayanan Jasa Merangkai Bunga
Jasa merangkai bunga biasanya untuk konsumen yang hendak membeli bunga potong tidak dalam bentuk satuan akan tetapi dalam jumlah yang agak banyak dan jenisnya berbeda-beda. Biasanya florist menyediakan peralatan pelengkap untuk merangkai bunga seperti vas, pita dan ornament kecil lainnya. Bunga yang telah dirangkai ini memiliki nilai jual yang lebih tinggi dari pada bunga potong yang dijual eceran, hal tersebut dikarenakan rangkaian bunga memiliki nilai estetika yang lebih tinggi dan juga membutuhkan keterampilan dalam membuatnya, sehingga melakukan penjualan jasa.
2) Pelayanan Jasa Karangan Bunga
3) Pelayanan Jasa Pesan Antar
Pelayanan delivery merupakan jasa pelayanan purna jual, jasa ini biasanya ditawarkan oleh para pengusaha florist. Hal ini untuk mendukung berjalannya kelangsungan usaha. Dengan adanya jasa delivery maka konsumen tidak perlu repot untuk membawa karangan bunga atau bunga rangkai yang dipesannya. Selain untuk mempermudah konsumen, layanan ini pun dilakukan untuk menjaga keindahan bunga yang telah dirangkai atau dalam bentuk karangan bunga agar terjaga keindahannya.
2.2 Tanaman Hias dan Bunga Potong
Bunga potong adalah salah satu produk agribisnis yang sangat rentan, dilihat dari bentuk fisiknya cenderung rapuh dan membutuhkan perlakuan khusus. Bunga potong adalah produk florikultur yang dijual langsung kepada konsumen akhir dan tidak tahan lama, tidak ada produk olahan dari bunga potong sehingga dikatakan dikonsumsi langsung oleh konsumen. Bunga potong berbeda dengan tanaman hias yang dijual dalam pot, tanaman hias yang dijual dalam pot dipelihara dalam jangka waktu yang lama dan konsumen pun dapat lebih lama menikmati keindahannya, akan tetapi bunga potong tidak tahan lama dan akan dibuang oleh konsumen apabila dalam kondisi tidak segar.
Tanaman hias dapat didefinisikan sebagai jenis tanaman tertentu baik yang berasal dari tanaman daun atau tanaman bunga yang dapat ditata untuk memperindah lingkunagn. Tanamn hias dan bunga potong sangat identik dengan nilai estetika. Baik tanaman hias maupun bunga potong merupakan produk dari florist yang digunakan untuk disalurkan kepada konsumen untuk memenuhi kebutuhan konsumen akan nilai keindahan atau estetika. Penelitian terdahulu mengenai florist, tanaman hias dan bunga potong sudah banyak dilakukan. Bisnis ini berkembang dilihat dari banyaknya perusahaan yang bergerak dalam bidang tanaman hias. Adapula perusahaan yang menggunakan tanaman hias sebagai bahan baku seperti florist dan dekorasi. Beberapa penelitian yang telah dilakukan sebelumnya dapat dilihat pada Tabel 3 berikut ini
Tabel 3. Penelitian yang Berhubungan dengan Tanaman Hias dan Bunga Potong.
No. Nama Penulis dan
Judul Penelitian
Judul Penelitian Metode Analisis dan Hasil
1 Eli Parluhutan (2006) Formulasi Strategi maintain dengan strategi yang sesuai adalah penetrasi dan pengembangan pasar. alternatif dan empat strategi utama yang dapat disarankan untuk perusahaan. strategi yang dihasilkan oleh matriks SWOT yang adalah analisis resiko dengan menggunakan Variance, yang dihasilkan maka risiko yang dihadapi akan sebesar rata-rata tiap green house
sebesar 2,75 yang berarti bahwa setiap pengeluaran 1 rupiah maka perusahaan akan mendapatkan 2,75 rupiah.
internal dan eksternalnya. Alat analisis yang digunakan yaitu Matriks IFE, Matriks EFE dan analisis SWOT. Berdasarkan hasil analisis lingkungan eksternalnya yang mempengaruhi kegiatan usaha anggrek maka diperoleh faktor – faktor peluang yang dimiliki KRB yaitu pertumbuhan ekonomi Indonesia semakin membaik, pertumbuhan penduduk yang meningkat, budaya memelihara anggrek dan meningkatkan pengetahuan masyarakat akan keindahan, permintaan skala besar, kebijakan pemerintah yang menunjang agribisnis.
Sedangkan ancamannya adalah sulitnya ijin ekspor, perdagangan bebas, biaya karantina meningkat, kondisi alam yang tidak bisa dikontrol, adanya produk pengganti, tingkat harga tanaman anggrek yang tinggi. Hasil evaluasi faktor eksternal dengan matriks EFE memiliki skor sebesar 2,42 yang berarti perusahaan berada dalam keadaan rata-rata dalam memanfaatkan peluang yang ada dan menghadapi ancaman yang mungkin timbul. Berdasarkan hasil analisis lingkungan internalnya diperoleh kekuatan yaitu teknologi budidaya yang handal, lokasi yang strategis, tenaga kerja lokal, memperhatikan kesejahteraan karyawan, mempunyai banyak koleksi spesies, pelayanan yang baik kepada konsumen, dan produk yang berkualitas.
Hasil analisis matriks IFE memiliki skor 2,56 yang berarti unit KRB memiliki cukup kekuatan untuk mengatasi kelemahan yang dimiliki. Pendekatan IE pada sel V dengan koordinata (2,56 ; 2,42) posisi hold and maintain. Strategi yang cocok yaitu penetrasi pasar dan pengembangan produk. Dengan nilai matriks Eksternal 2, 56 maka KRB memiliki faktor internal yang rata – rata dalam melakukan produksi anggrek. Nilai Matriks ekstrenal 2,42 memperlihatkan respon yang diberikan KRB terhadap lingkungan eksternal tergolong sedang.
Hasil analisis SWOT pada penelitian tersebut menghasilkan empat belas strategi. Berdasarkan analisis matriks IE dan SWOT diputuskan empat alternatif strategi utama yang relevan untuk dilaksanakan perusahaan tersebut.
Darmawati (2009), meneliti tentang “Formulasi Strategi Usaha Florist dan Dekorasi Pada Susie Flower di Bogor”. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah Matriks IFE, Matriks EFE, Matriks IE, Analisis Swot dan QSPM. Faktor eksternal perusahaan memiliki enam faktor kunci strategis sedangkan faktor internal memiliki tiga belas faktor kunci strategis. Analisis matriks IFE menunjukkan skor nilai sebesar 3.17 artinya bahwa perusahaan mempunyai kekuatan yang kuat, dan hasil analisis matriks EFE memiliki nilai skor 2,67 artinya perusahaan dapat memanfaatkan peluang sedang atau rata-rata. Berdasarkan analisis Matriks IE perusahaan berada pada sel IV yaitu tumbuh dan bina dan strategi yang dikembangkan adalah strategi pengembangan pasar dan produk.
Berdasarkan hasil analisis SWOT menghasilkan lima alternatif strategi yang dapat dijalankan oleh perusahaan. Kelima analisis tersebut dikembangakan dalam QSPM .
Lily Riana Sabar meneliti “Analisis Usaha Tani dan Strategi Bisnis Bunga Krisan” Dari hasil penelitian diperoleh data deskriptif untuk evaluasi strategi yang telah dijalankan perusahaan yakni pola tanam tanaman secara periodik dikarenakan perusahaan berusaha untuk memenuhi kebutuhan pasar yang terus-menerus secara kontinu, kemudian strategi lainnya adalah penggunaan bibit impor yang hasilnya lebih sesuai dengan keinginan konsumen dan strategi yang terakhir adalah kontrak kerja perusahaan yaitu mengadakan kerjasama dengan perusahaan maupun florist dengan mengadakan kontrak kerja sebagai pensuplay tetap bunga secara kontinu dalam jangka panjang.
Dari analisis usahatani diperoleh total biaya produksi sebesar Rp 11.001.900 dan total penerimaan per satu kali tanam adalah sebesar Rp 30.000.000 sehingga pendapatan perusahaan per satu kali tanam sebesar Rp 18.998.100 untuk luas lahan 0,08ha, dengan R/C ratio sebesar 2,73, sedangkan dari keseluruhan green house yang dimiliki perusahaan seluas 2 ha mengeluarkan biaya produksi rata-rata tiap green house sebesar Rp 22.691.654,17. Kemudian penerimaan rata-rata tiap green house sebesar Rp 62.500.000 sehingga pendapatan perusahaan tiap satu kali tanam adalah sebesar Rp 39.808.345,83 dengan R/C ratio rata-rata tiap green house sebesar 2,75 yang berarti bahwa setiap pengeluaran 1 rupiah maka perusahaan akan mendapatkan 2,75 rupiah.
Beberapa penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya dapat dijadikan sebagai acuan dalam pembuatan penelitian ini, analisis lingkungan eksternal seperti yang telah dilakukan oleh Asril Tinambunan (2005) dan Darmawati (2009) mengenai bunga potong dapat dijadikan gambaran lingkungan eksternal yang digunakan pada penelitian ini. Selain itu proses produksi serta resikonya dapat menjadi perbandingan dalam menganalisis lingkungan internal, serta penelitian mengenai florist dapat dijadikan perbandingan dalam pembuatan makalah penelitian ini.
pesaing usaha dari Wid Florist. Oleh karena itu dalam merumuskan kekuatan dan kelemahan maka faktor internalnya dapat dijadikan perbandingan.
Analisis QSPM digunakan untuk mencari alternatif strategi yang terbaik dari beberapa alternatif strategi yang telah dirumuskan dalam analisis SWOT. Hasil dari penelitian yang berupa alternatif strategi ini diharapkan mampu memberikan masukan positif bagi Wid Florist.
Perbedaan penelitian mengenai analisis strategi pemasaran pada Wid Florist yang akan dilakukan ini dengan penelitian-penelitian sebelumnya adalah lokasi penelitian yang berbeda dengan lingkungan internal yang juga berbeda.
III KERANGKA PEMIKIRAN
3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis
3.1.1 Konsep dan Definisi Strategi
Definisi strategi menurut Pearce dan Robinson (1997) adalah sebagai sekumpulan keputusan dan tindakan yang menghasilkan perumusan (formulasi) dan pelaksanaan (implementasi) rencana-rencana yang dirancang untuk mencapai sasaran perusahaan. Konsep strategi menurut Argyris, Steiner dan miner tahun 2000, dalam Rangkuti (2000), merupakan respon secara terus menerus maupun adaptif terhadap peluang dan ancaman eksternal serta kekuatan dan kelemahan yang dapat mempengaruhi organisasi. Menurut David (2006), strategi merupakan cara untuk mencapai sasaran jangka panjang dan dapat juga dikatakan sebagai sarana yang digunakan untuk mencapai tujuan akhir.
Strategi merupakan tindakan yang bersifat incremental (senantiasa meningkat) dan terus menerus, serta dilakukan berdasarkan sudut pandang tentang apa yang diharapkan oleh para pelanggan di masa depan (Rangkuti,2000). Strategi juga merupakan alat untuk mencapai tujuan perusahaan dalam kaitannya dengan tujuan jangka panjang, program tindak lanjut serta prioritas alokasi sumberdaya (Tinambunan,2005).
Menurut David (2006) strategi adalah sarana bersama dengan tujuan jangka panjang hendak dicapai. Strategi bisnis mencakup ekspansi geografis, diversifikasi, akuisisi, pengembangan produk, penetrasi pasar, pengetatan, divestasi, likuidasi dan usaha patungan.
3.1.2 Konsep Manajemen Strategis
Menurut David (2006), proses manajemen strategi yang paling baik dipelajari dan diterapkan adalah dengan menggunakan suatu model yang menggambarkan suatu proses. Dalam hal ini memformulasikan suatu strategi usaha harus menentukan visi dan misi perusahaan, dimana dengan menentukan visi dan misi tersebut perusahaan akan mencapai sasaran yang diharapkan. Menurut David (2006) proses manajemen strategi terbagi atas tiga tahap yaitu :
1) Tahap Perumusan Strategi
Perumusan strategi mencakup pengembangan visi dan misi, indentifikasi peluang dan ancaman eksternal suatu organisasi, kesadaran akan kekuatan dan kelemahan internal, penetapan tujuan jangka panjang, pencarian strategi-strategi alternatif, dan pemilihan strategi tertentu untuk mencapai tujuan. Tahap perumusan strategi merupakan proses untuk merancang, menyeleksi, dan memilih strategi yang lebih tepat untuk diterapkan dari serangkaian strategi yang disusun untuk mencapai tujuan organisasi.
2) Tahap Penerapan Strategi
Penerapan strategi mengharuskan perusahaan untuk menetapkan tujuan tahunan, membuat kebijakan, memotivasi karyawan, dan mengalokasikan sumber daya, sehingga strategi-strategi yang telah dirumuskan dapat dijalankan. Penerapan strategi mencakup pengembangan budya yang sportif, penciptaan struktur organisasional yang efektif, pengerahan ulang upaya-upaya pemasaran, penyiapan anggaran, pengembangan serta pemanfaatan sistem informasi, dan pengaitan kompensasi karyawan dengan kinerja organisasi.
3) Tahap penilaian strategi atau evaluasi strategi
Penilaian strategi adalah tahap terakhir dalam manajemen strategis. Semua strategi terbuka untuk dimodifikasi di masa yang akan datang karena berbagai faktor eksternal dan internal terus berubah. Tiga aktivitas penilaian strategi yang mendasar adalah : (1) Peninjauan ulang faktor-faktor eksternal dan internal yang menjadi landasan bagi strategi saat ini, (2) Pengukuran kinerja dan (3) Pengambilan langkah korektif. Penilaian atau evaluasi strategi diperlukan karena apa yang berhasil saat ini tidak selalu berhasil untuk nanti.
jelas dan prkatis untuk memformulasikan, mengimplementasikan,dan mengevaluasi strategi karena menunjukkan hubungan antara komponen utama dari proses manajemen strategis. Berikut ini adalah model komperehensif manajemen strategis yang dapat dilihat pada Gambar 3.
e
Gambar 3. Model proses manajemen strategis yang komperehensif (David, 2006)
Secara historis manfaat utama dari manajemen strategis untuk membantu organisasi merumuskan strategi-strategi lebih baik melalui penggunaan pendekatan terhadap pilihan strategi yang lebih sistematis, logis, dan rasional. Ini tentunya akan menjadi manfaat terbesar dari manajemen strategis, namun berbagai kajian riset kini menunjukkan proses, alih keputusan atau dokumen merupakan kontribusi yang lebih penting dari manajemen strategis.
3.1.3 Konsep Pemasaran
dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan secara bebas menukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain.
Berdasarkan definisi tersebut dapat diketahui sebenarnya proses pemasarn itu dimulai jauh sebelum barang-barng diproduksi. Menurut Rangkuti (2005), pemasaran adalah suatu proses kegiatan yang dipengaruhi berbagai faktor sosial, politik, ekonomi, dan manajerial.
Menurut Kotler (2005), Manajemen pemasaran adalah proses perencanaan dan pelaksanaan pemikiran, penetapan harga, promosi, serta penyaluran gagasan, barang dan jasa untuk menciptakan pertukaran yang memenuhi sasaran individu dan organisasi. Tujuan pemasaran yang lebih penting yaitu mengetahui dan memahami pelanggan dengan baik sehingga produk dan jasa tersebut cocok dan dapat terjual. Pemasaran harus menghasilkan pelanggan yang siap membeli dan dapat memuaskan kebutuhan pelanggan.
3.1.4 Strategi Pemasaran
Strategi pemasaran merupakan pernyataan (baik secara implisit maupun eksplisit) mengenai bagaimana suatu merk atau lini produk mencapai tujuannya (Tjiptono,1997). Menurut Tull dan Kahle (2004) strategi pemasaran sebagai alat fundamental yang direncanakan untuk mencapai tujuan perusahaan dengan mengembangkan keunggulan bersaing yang berkesinambungan melalui pasar yang dimasuki dan program pemasaran yang digunakan untuk melayani pasar sasaran tersebut.
Menurut David (2006), perumusan strategi pemasaran adalah pengembangan rencana jangka panjang untuk manajemen efektif dari peluang dan ancaman lingkungan, dilihat dari kekuatan dan kelemahan peusahaan. Sedangkan menurut Kotler (2005), strategi pemasaran terdiri dari prinsip-prinsip dasar yang mendasari manajemen pemasaran untuk mencapai tujuan bisnis dan pemasarannya dalam sebuah pasar sasaran.
3.1.5 Analisis Lingkungan Internal Pemasaran
perusahaan. Selain itu sangat mempengaruhi arah dan kinerja perusahaan dalam pencapaian tujuan perusahaan. Menurut David (2006) lingkungan internal perusahaan adalah lingkungan yang terjadi dalam aktifitas perusahaan yang berkaitan dengan kekuatan dan kelemahan. Analisis ini dimaksudkan untuk mengembangkan daftar kekuatan yang dimiliki oleh perusahaan dan daftar kelemahan yang harus diatasi oleh perusahaan tersebut.
Faktor lingkungan internal yaitu segala faktor yang terkait dengan fungsi perusahaan tersebut yang dapat menunjukkan adanya kekuatan atau kelemahan perusahaan yang dapat dikendalikan oleh pemimpin perusahaan. Menurut David (2006), kekuatan dan kelemahan internal merupakan aktivitas organisasi yang dapat dikontrol yang dijalankan dengan sangat baik atau sangat buruk. Faktor-faktor internal ini muncul dalam aktivitas manajemen, pemasaran, keuangan atau akuntansi, produksi atau operasi, penelitian dan pengembangan dan sistem informasi manajemen.
Dalam merumuskan analisis strategi pemasaran, hal paling penting yang harus diperhatikan yaitu aspek pemasaran. Faktor-faktor yang diperhatikan dalam aspek pemasaran adalah unsur pemasaran STP (Segmentation, Targeting dan Positioning) dan Bauran Pemasaran 7P (product, price, place, promotion, people, process dan physic )
3.1.5.1 Unsur Pemasaran STP (Segmentation, Targeting dan Positioning)
Di dalam pemasaran, penentuan pasar dalam rangka penawaran produk adalah sesuatu yang penting, karena untuk sukses dipasar yang penuh dengan persaingan, perusahaan harus menempatkan konsumen ditengah. Akan tetapi sebelum memuaskan konsumen, sebuah perusahaan harus memahami dengan jelas apa yang menjadi kebutuhan dan keinginan konsumen. Terdapat banyak macam konsumen dengan kebutuhan dan keinginan yang berbeda-beda. Oleh karena itu, perusahan harus menyesuaikan produk dan program pemasaran pada kebutuhan pelanggan yang spesifik. Dalam pemasaran terarah, ada tiga langkah yang harus diketahui perusahaan sebelum memasuki pasar diantaranya adalah segmentasi pasar, mentarggetkan pasar dan memposisikan pasar. Langkah-langkah dalam pemasaran terarah dapat dilihat pada Gambar 4.
Segmentasi Pasar Penargetan Pasar Menentukan Posisi Pasar
Gambar 4. Langkah-Langkah dalam Pemasaran Terarah Sumber : Kotler dan Armstrong (2005)
Gambar 4 menunjukkan tiga langkah besar dalam pemasaran terarah. Pertama segmentasi pasar (segmentation) adalah membagi pasar menjadi kelompok pembeli yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan, karakteristik, ataupun tingkah laku yang mungkin membutuhkan produk atau bauran pemasaran terpisah. Perusahaan melakukan berbagai cara berbeda untuk membagi-bagi pasar dan mengembangkan profil dari segmen yang dihasilkan. Langkah kedua adalah memilih satu atau beberapa segmen sebagai calon target dengan potensi yang paling besar untuk dimasuki. Langkah ketiga adalah memposisikan pasar (positioning) yaitu menetapkan posisi bersaing untuk produk dan menciptakan bauran pemasaran yang terinci.
1) Segmentasi Pasar (Segmentation)
Pasar terdiri dari pembeli dan pembeli pembeda dalam satu atau lain cara. Pemebeli dapat berbeda dalam hal keinginan, sumberdaya, lokasi, sikap pembelian dan praktik pembelian. Pembeli mempunyai kebutuhan dan keinginan yang unik, maka setiap pembeli secara potensial merupakan pasar terpisah. Oleh karena itu, manajer harus menentukan segmen mana yang menawarkan produk atau jasa yang terbaik dari perusahaan.
mensegmentasikan pasar adalah variable geografis (wilayah), demografis (usia, jenis kelamin, dll), psikografis (gaya hidup, kelas sosial) dan tingkah laku tertentu.
Menurut Fandy Tjiptono (1997), ada banyak cara untuk melakukan segmentasi pasar. Namun, tidak semua segmentasi bisa efektif. agar segmentasi dapat bermanfaat secara maksimal, maka segmen-segmen pasar harus memenuhi lima karakteristik berikut :
a) Dapat diukur (measurable)
Ukuran, daya beli dan profil segmen harus dapat diukur. Walaupun ada beberapa komponen variabel yang sulit diukur.
b) Besar (substansial)
Segmen harus cukup besar dan mengguntungkan untuk dilayani. c) Dapat dijangkau (accessible)
Segmen harus dapat terjangkau oleh perusahaan, agar dapat dilayani dengan efektif
d) Dapat Dibedakan (differentiable)
Segmen-segmen dapat dipisah-pisahkan secara konseptual dan memberikan tanggapan yang berbeda terhadap unsur-unsur dan program-program bauran pemasaran yang berlainan.
e) Dapat Diambil Tindakan (actionable)
Program-program yang efektif dapat dirumuskan untuk menarik dan melayani segmen-segmen yang bersangkutan.
2) Menetapkan Target Pasar (Targetting)
Menetapkan target pasar (market targetting) melibatkan evaluasi setiap daya tarik segmen pasar dan memilih satu atau lebih segmen yang akan dimasuki. Perusahaan harus mentargetkan daya tarik segmen dimana perusahaan dapat menghasilkan nilai pelanggan terbesar dan mempertahankannya sepanjang waktu. menurut Umar (2000), dalam mengevaluasi segmen pasar yang berbeda, sebuah perusahaan harus memperhatikan tiga faktor, diantaranya adalah ukuran dan pertumbuhan segmen, daya tarik struktural segmen, sasaran dan sumber daya perusahaan.
dan maegin laba yang diharapkan untuk berbagai segmen, lalu pilih segmen yang diharapkan paling sesuai.
b)Daya tarik struktural segmen, suatu segmen mungkin mempunyai ukuran dan pertumbuhan yang sesuai dengan yang diharapkan, akan tetapi belum tentu menarik dari sisi profitabilitasnya, jadi perusahaan tetap harus mempelajari faktor-faktor struktural yang utama yang mempengaruhi daya tarik segmen dalam jangka panjang.
c) Sasaran dan sumber daya perusahaan, perusahaan harus mempertimbangkan sasaran dan sumber dayanya dalam kaitan dengan segmen pasar. Walaupun ada segmen yang bagus, akan tetapi dapat ditolak jika terjadi prospektif dalam jangka panjang. Selanjutnya, walau segmen itu bagus dan prospektif dalam jangka panjang, tetap harus dipertimbangkan kemampuan perusahaan dalam menyediakan sumber dayanya, misalnya keterampilan tenaga pelaksananya untuk masuk ke pasar itu bahkan keterampilan yang lebih baik dari pesaingnya. 3) Menentukan Posisi Pasar (Positioning)
Setelah perusahaan memutuskan segmen pasar mana yang dimasuki, langkah selanjutnya adalah perusahaan harus menentukan posisi yang ingin ditempati oleh segmen tersebut. Positioning berkenaan dengan upaya identifikasi, pengembangan, dan komunikasi keunggulan yang bersifat khas dan unik sedemikian rupa sehingga produk dan jasa perusahaan dipersepsikan lebih superior dan khusus (distinctive) dibandingkan produk dan jasa para pesaing dalam benak pasar sasaran. Jadi fokus utama positioning adalah para persepsi pelanggan dan bukan sekedar produk fisik yang dihasilkan. Jika sebuah produk dianggap sama persis dengan produk lainnya di pasar, maka konsumen tidak mempunyai alasan untuk membelinya.
Adapun tujuan pokok strategi positioning adalah :
a) Untuk menempatkan atau memposisikan produk dipasar sehingga produk tersebut terpisah atau berbeda dengan merek-merek yang bersain
b) Untuk memposisikan produk sehingga dapat menyampaikan beberapa hal pokok kepada pelanggan.
Para pemasar menggunakan sejumlah alat untuk mendapatkan tanggapan yang diinginkan dari pasar sasaran mereka. Alat-alat itu membentuk suatu bauran pemasaran (marketing mix). Bauran pemasaran (marketing mix) adalah seperangkat alat pemasaran yang digunakan perusahaan untuk terus menerus mencapai tujuan pemasarannya di pasar sasaran. Perusahaan mampu memutuskan pelanggan mana yang akan dilayaninya (segmentasi dan penetapan target) dan bagaimana cara perusahaan melayaninya (positioning). Kemudian, perusahaan merancang bauran pemasaran yang terdiri dari 7P yaitu Product, Price, Place, Promotion, People, Process, dan Phisic. Perumusan strategi pemasaran didasarkan pada analisis yang menyeluruh terhadap faktor-faktor lingkungan eksternal dan lingkungan internal perusahaan.
Kotler (2000) mengemukakan bahwa alat-alat pemasaran yang dapat digunakan untuk mempengaruhi pembeli adalah bauran pemasaran. Bauran pemasaran adalah seperangkat alat pemasaran yang digunakan perusahaan untuk mencapai tujuan pemasarannya dalam pasar sasaran. Bauran pemasaran menekankan pada pengertian suatu strategi yang mengintegrasikan produk, harga promosi, dan distribusi, dimana kegiatan tersebut diarahkan untuk dapat menghasilkan omset penjualan yang maksimal atas produk yang dipasarkan dengan memberikan kepuasan kepada konsumen. Sejalan dengan semakin kompetitifnya dunia bisnis, 4P tersebut kini berkembang menjadi 7P diantarnya adalah product, price, place, promotion, people, process, physical evidence.
1) Product
Kotler dan Amstrong (1997) mendefinisikan produk sebagai segala sesuatu yang dapat ditawarkan ke pasar untuk mendapat perhatian, dibeli, dipergunakan atau dikonsumsi dan yang dapat memuaskan keinginan atau kebutuhan.
2) Price
kelompok pelanggan. Harga menggambarkan besarnya rupiah yang harus dikeluarkan seorang konsumen untuk memperoleh satu buah produk dan hendaknya harga akan dapat terjangkau oleh konsumen.
Penentuan harga dapat dilakukan dengan melihat daya beli konsumen dan jumlah yang cukup dalam menutupi ongkos produksi. Selain itu, produsen juga harus memperhatikan harga yang ditawarkan pesaing. Strategi harga seperti diskon, rabat, sistem kredit dan sebagainya merupakan promosi dalam bentuk harga. Strategi promosi harga tersebut bisa memperbesar volume penjualan, walaupun tingkat keuntungan jangka panjang akan berkurang.
Ada beberapa metode penetapan harga (Swastha dan Irawan, 1990), yaitu : a) Penetapan harga Mark-Up (Mark-Up Pricing), yaitu jumlah rupiah yang
ditambahkan pada biaya dari suatu produk untuk menghasilkan harga jual. b)Penetapan harga Break-Even (Break-Even Pricing), yaitu bagaimana satu-satuan
produk dijual pada harga tertentu untuk mengembalikan dana yang tertanam dalam produk tersebut.
c) Penetapan harga Biaya Variabel (Variabel Cost Pricing), yaitu penetapan harga yang didasarkan pada suatu ide bahwa biaya total tidak selalu harus ditutup untuk menjalankan kegiatan bisnis yang menguntungkan. Sistem penetapan harga biaya variabel ini dapat dipakai untuk menentukan harga minimum yang dapat dikuasai.
d)Penetapan harga Beban Puncak (Peak-Load Pricing), yaitu menaikkan harga di atas biaya rata-rata pada saat permintaan tinggi dan mengurangkan pada biaya variabelnya diluar periode ramai.
3) Place
jumlah tingkatan saluran. Saluran distribusi untuk barang konsumsi terdapat empat tingkatan, yaitu :saluran tingkat nol, saluran tingkat satu, saluran tingkat dua dan saluran tingkat tiga (Kotler, 2005).
a) Saluran distribusi tingkat nol adalah hubungan langsung antara produsen ke konsumen.
b)Saluran distribusi tingkat satu adalah hubungan antara produsen dan konsumen melalui pengecer.
c) Saluran distribusi tingkat dua terdiri dari produsen, pedagang besar, pengecer dan konsumen.
d) Sedangkan distribusi tingkat tiga terdapat empat pelaku yaitu produsen, pedagang besar, agen, pengecer dan konsumen.
4) Promotion
Promosi merupakan salah satu variabel bauran pemasaran yang digunakan oleh perusahaan untuk mengadakan komunikasi dengan pasarnya, karena dengan adanya promosi konsumen akan mengetahui keberadaan produk. Promosi dapat juga dikatakan sebagai suatu alat komunikasi untuk menyampaikan sesuatu baik barang atau jasa. Kotler (2005) mendefinisikan promosi sebagai unsur dalam pemasaran yang didayagunakan untuk memberitahukan, membujuk, dan mengingatkan tentang produk perusahaan. Beberapa faktor yang menyebabkan perlunya pelaksanaan promosi menurut Kotler (2005) adalah :
a) Jumlah konsumen pontensial yang semakin meningkat. b) Persaingan antar perusahaan meningkat
c) Adanya kelesuan-kelesuan ekonomi
a) Periklanan adalah segala bentuk penyajian non-personal dan promosi ide, barang, atau jasa suatu sponsor tertentu yang memerlukan pembayaran.
b)Promosi penjualan adalah kumpulan insentif yang beragam, kebanyakan berjangka pendek, dirancang untuk mendorong pembelian suatu produk atau jasa tertentu secara lebih cepat dan lebih besar oleh konsumen atau pedagang.
c) Pemasaran langsung melalui penggunaan surat, telepon dan alat penghubung non personal lainnya untuk berkomunikasi dengan atau mendapatkan respon dari pelanggan dan calon pelanggan tertentu.
d)Penjualan personal, yaitu interaksi langsung antar satu atau lebih calon pembeli dengan tujuan melakukan pembelian.
e) Hubungan masyarakat melibatkan berbagai program yang dirancang untuk mempromosikan atau menjaga citra perusahaan atau tiap produknya.
Perusahaan dalam menetapkan strategi promosinya harus lebih dahulu mengenal secara lebih mendalam tentang produk yang akan dipasarkannya agar media yang dipilih sebagai media promosi akan tepat.
5) People
Orang diartikan sebagai karyawan dan kadang-kadang pelanggan lain yang terlibat dalam proses produksi. Banyak produk atau jasa yang dihasilkan bergantung pada interaksi langsung dan pribadi antara pelanggan dan karyawan perusahaan. Konsumen sering menilai kualitas produk atau jasa yang konsumen terima berdasarkan penilaian tehadap orang-orang yang menyediakan produk atau jasa tersebut.
6) Process
Proses merupakan keseluruhan kegiatan yang berhubungan dengan pelayanan yang akan diberikan kepada konsumen. Metode pengoperasian atau serangkaian tindakan tertentu yang umumnya berupa langkah-langkah yang diperlukan dalm suatu urutan yang telah ditetapkan. Proses yang desainnya baru akan menggangu konsumen karena keterlambatanm birokrasi, dan penyampaian jasa yang tidak efektif.
Bukti fisik adalah petunjuk visual atau berwujud lainnya yang memberikan bukti atas kualitas dari produk atau jasa. Beberapa contoh dari bukti fisik antara lain gedung, tanah, kendaraan dan petunjuk yang terlihat lainnya.
Program pemasaran yang efektif mencampurkan semua elemen bauran pemasaran ke dalam program terkoordinasi yang dirancang untuk mencapai sasaran pemasaran perusahaan dengan menyerahkan nilai kepada konsumen. Jadi perusahaan yang sukses adalah perusahaanyang dapat memenuhi kebutuhan pelanggan secara ekonomis dan mudah serta dengan komunikasi yang efektif.
3.1.6 Analisis Lingkungan Eksternal
Faktor lingkungan eksternal merupakan faktor – faktor yang pada dasarnya terletak diluar dan terlepas dari perusahaan (Umar,2008). Faktor faktor lingkungan eksternal meliputi peluang dan ancaman yang berada diluar kendali perusahaan. Menurut David (2006), lingkungan eksternal dibagi menjadi lima kategori besar yaitu (1) aspek Politik dan hukum (2) Aspek ekonomi (3) Aspek sosial, budaya demografi dan lingkungan, (4) aspek teknologi (5) aspek kompetitif atau persaingan.
3.1.6.1Aspek Politik dan Hukum
Aspek politik, pemerintah dan hukum dapat mempengaruhi kegiatan operasi suatu perusahaan. Adanya perubahan dan transisi politik maupun hukum dapat membawa idealism baru dan mungkin membuat agenda baru yang akan mengesampingkan agenda lama. Menurut Umar (2008), faktor politik terkait dengan arah, kebijakan dan stabilitas pemerintah. Stabilitas politim yang baik akan sangat mempengaruhi keadaan dunia usaha. Beberapa hal terkait dengan faktor politik yang perlu diperhatikan yaitu undang-undang tentang lingkungan dan perburuhan, peraturan tentang perdagangan luar negeri, stabilitas pemerintahan, peraturan tentang keamanan dan kesehatan kerja, dan sistem perpajakan.
3.1.6.2Aspek Ekonomi
diperhatikan antara lain siklus bisnis, ketersediaan energy, inflasi, suku bunga, investasi, harga-harga produk dan jasa, produktivitas dan tenaga kerja. Lingkungan ekonomi merupakan sesuatu yang mempengaruhi daya beli dan pola konsumsi konsumen. Adanya perubahan pendapatan dan pola konsumsi masyarakat akan berpengaruh terhadap penerimaan masyarakat atas produk yang dijual perusahaan.
3.1.6.3Aspek Sosial, Budaya, Demografi dan Lingkungan
Menurut David (2006), perubahan sosial, budaya, demografi dan lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap hampir semua produk, jasa dan pelanggan. Adanya kondisi yang selalu beribah-ubah tersebut sebaiknya diantisipasi oleh perusahaan, misalnya perubahan sikap, gaya hidup, adat istiadat, dan kebiasaan dari orang orang di lingkungan eksternal perusahaan. Ketika perubahan preferensi, persepsi dana perilaku masyarakat terjadi, adanya perubahan gaya hidup dan juga perubahan pola konsumsi mereka, maka perusahaan harus mampu mengantisipasi agar perubahan sosial dan budaya tersebut tidak menjadi ancaman tetapi justru dapat menjadi peluang yang dapat dimanfaatkan.
3.1.6.4Aspek Teknologi
Menurut Kotler (1997), kemajuan perkembangan teknologi yang begitu pesat baik di bidang bisnis maupun di bidang yang mendukung kegiatan bisnis sangat mempengaruhi keadaan usaha suatu perusahaan. Agar setiap kegiatan usaha dapat terus berjalan terus menerus, maka perusahaan harus selalu mengikuti perkembangan-perkembangan teknologi yang dapat diterapkan pada produk dan jasa yang dihasilkan atau pada cara operasinya. Adaptasi perkembangan teknologi yang kreatif dapat memiliki dampak terhadap perencanaan perusahaan melalui pengembangan proses produksi dan pemasaran produk suatu perusahaan.
3.1.6.5Aspek Persaingan atau kompetitif.
mengumpulkan dan mengevaluasi informasi tentang pesaing merupakan hal yang penting untuk keberhasilan formulasi strategi.
Menurut Porter (1991) hakikat persaingan suatu industri dapat dilihat sebagai kombinasi lima kekuatan yaitu persaingan anatar perusahaan sejenis, kemungkinan masuknya pesaing baru, potensi pengembangan produk substitusi, kekuatan tawar menawar penjual atau pemasok, dan kekuatan tawar menawar konsumen.
3.1.7 Formulasi Strategi
Tahap awal dalam formulasi strategi yaitu mengidentifikasi visi, misi, tujuan dan strategi perusahaan yang digunakan saat ini. Menurut Kotler (1997), visi merupakan suatu cita-cita tentang keadaan di masa akan datang yang diinginkan untuk terwujud oleh seluruh personel perusahaan, mulai dari jenjang yang paling atas sampai yang paling bawah.
Sedangkan misi merupakan penjabaran tertulis mengenai visi agar menjadi mudah dimengerti, atau jelas bagi seluruh staf perusahaan (Kotler, 2005). Sedangkan menurut Kotler (1997), misi merupakan sebuah pernyataan tujuan jangka panjang yang membedakan suatu perusahaan dengan perusahaan sejenisnya. Misi merupakan pondasi untuk prioritas, strategi, rencana, dan penugasan yang menjadi titik awal untuk mendesain pekerjaan manajerial dan mendesain struktur manajerial. Pernyataan misi mengidentifikasi cakupan operasi perusahaan dalam defines produk dan pasar. Pernyataan misi yang jelas menggambarkan nilai dan prioritas dari suatu organisasi dan mengahruskan penyusun dtrategi untuk berfikir tentang sifat dan cakupan operasi saat ini dan mengevaluasi potensi ketertarikan atas pasar dan aktivitas di masa depan.
3.2Kerangka Pemikiran Operasional
bauran pemasaran (7P). Sedangkan faktor eksternal terdiri dari lingkungan makro (politik, ekonomi, sosial dan budaya serta teknologi) dan lingkungan mikro (persaingan industri sejenis, ancaman pendatang baru, kekuatan tawar pemasok dan kekuatan tawar konsumen serta ancaman produk pengganti).
Setelah diperoleh kekuatan dan kelemahan serta peluang dan ancaman maka dirumuskan alternatif strategi dalam matriks SWOT yang terdiri dari perumusan akternatif strategi yang sudah dilakukan oleh Wid Florist dan alternatif startegi baru yang dirumuskan. Dalam analisis SWOT terdapat kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman perusahaan, setelah itu dikumpulkan beberapa alternatif strategi dengan mencocokan kekuatan, kelemahan peluang dan ancaman yang ada di Wid Florist kemudian disusun dalam suatu rumusan strategi tahap mengambil keputusan oleh perusahaan dengan menggunakan matriks QSPM. Tujuan utama dari penelitian ini adalah menentukan prioritas alternatif strategi yang paling tepat dan bisa digunakan oleh Wid Florist dalam memasarkan usahanya dengan mempertimbangkan faktor-faktor yang ada di dalam usaha tersebut.
Analisis QSPM
Prioritas Strategi Pemasaran untuk Wid Florist Analisis SWOT
Wid Florist
Permasalahan yang dihadapi :
1. Target penjualan yang belum tercapai dan tidak stabilnya penjualan produk
2. Banyaknya pesaing usaha sejenis di kota Bogor
Analisis Strategi Pemasaran
Analisis Lingkungan Perusahaan (Wid Florist )
1.Unsur Pemasaran (STP)
2.Bauran Pemasaran (7P)
Lingkungan makro
Lingkungan internal Pemasaran Wid Faktor Eksternal Wid Florist
Lingkungan mikro :
Keterangan :
= dalam ruang lingkup penelitian = di luar ruang lingkup penelitian
IV METODE PENELITIAN
4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan pada usaha yang bergerak dalam bidang agribisnis yaitu Wid Florist yang terletak di Jalan Salak Bogor. Pemilihan lokasi penelitian ini dilakukan secara purposive (sengaja) berdasarkan pertimbangan bahwa Wid Florist adalah salah satu usaha florist di kota Bogor dan menjual produk-produk florikultura yang berkualitas. Pertimbangan lainnya dalam memilih lokasi penelitian ini adalah karena seiring dengan berkembangnya zaman dan gaya hidup masyarakat, maka keindahan memiliki peranan penting dalam kehidupan, oleh karena itu usaha ini memiliki persaingan yang ketat dengan usaha sejenisnya, yaitu dalam bidang florist dan dekorasi. Waktu penelitian dimulai dari Juni 2011 hingga September 2011.
4.2 Jenis dan Sumber Data
Data yang digunakan dalam menyusun penelitian ini yaitu data primer dan data sekunder. Data primer dilakukan dari wawancara serta observasi langsung pada Wid Florist. Informasi yang didapatkan antara lain jumlah penjualan, maupun strategi penjualan yang telah digunakan selama ini di Wid Florist. Data primer diperoleh dengan wawancara kepada pemilik dan karyawan di Wid Florist. Responden yang ditunjuk dalam pengisian kuisioner terdiri dari tiga orang yatiu ketiga pemilik Wid Florist. Wawancara dengan pihak eksternal yaitu dengan pesaing yaitu Susie Flower dan Nina Flower yang bertujun untuk membandingkan variabel internal yang ada di Wid Florist. Wawancara dengan pemasok lokal yaitu perusahaan bunga lima benua dengan tujuan untuk mengetahui aspek eksternal yang ada dalam bisnis bunga potong dan menghubungkannya dengan kondisi Wid Florist.
4.3 Teknik Pengumpulan Data
Dalam pelaksanaan penelitian ini, teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah :
1) Teknik Observasi : melakukan pengamatan langsung terhadap kegiatan yang dilakukan perusahaan.
2) Teknik Wawancara : melakukan wawancara dengan pemilik perusahaan serta pegawai untuk mendapatkan informasi yang lengkap.
3) Teknik Kepustakaan : membaca buku-buku yang terkait dengan judul penelitian dan literatur-literatur lainnya yang menunjang pelaksanaan penelitian.
4) Studi Pendahuluan : mendatangi perusahaan, melakukan pengamatan dan wawancara langsung dengan pihak perusahaan sebelum memulai penyusunan skripsi.
5) Teknik Pengisian Kuesioner : pengisian kuesioner dilakukan oleh tiga orang responden, yaitu Pemilik Wid Florist.
Pemilihan responden berdasarkan pihak yang memiliki pengetahuan, pengalaman, dan keahlian dalam permasalahan yang berhubungan dengan strategi pada Wid Florist.
4.4 Metode Analisis dan Pengolahan Data.
Data dan informasi yang diperoleh diolah dengan metode pengolahan data secara kuantitatif dan kualitatif dan selanjutnya disajikan dalam bentuk tabel, bagan, dan uraian. Kemudian dianalisis lebih lanjut untuk menyusun sasaran yang merupakan prioritas bagi perusahaan dengan menggunakan beberapa pendekatan untuk memperoleh alternatif strategi yang tepat bagi perusahaan.
4.5 Matrik SWOT (Strengths, Weakness, Opportunities, Threats)
(Kekuatan-Ancaman) dan Strategi WT (Kelemahan-(Kekuatan-Ancaman)7. Identifikasi faktor-faktor eksternal dan internal dilakukan secara iteratif antara responden dan peneliti. Sehingga faktor-faktor internal dan eksternal yang terdapat dalam matriks SWOT berdasarkan hasil kajian dari peneliti yang sudah didiskusikan dengan responden yang dalam hal ini adalah ketiga pemilik Wid Florist.
Matrik SWOT digunakan untuk menyusun strategi perusahaan. Matrik ini dapat menggambarkan secara jelas bagaimana peluang dan ancaman yang dihadapi perusahaan disesuaikan dengan kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya. Matrik ini dapat menghasilkan empat sel kemungkinan alternatif strategi SO, strategi WO, strategi WT, dan strategi ST (Tabel 4). Langkah-langkah menyusun matrik SWOT adalah sebagai berikut :
1) Tuliskan peluang eksternal perusahaan yang menentukan 2) Tuliskan ancaman eksternal perusahaan yang menentukan 3) Tuliskan kekuatan internal perusahaan yang menentukan 4) Tuliskan kelemahan internal perusahaan yang menentukan
5) Mencocokkan kekuatan internal dengan peluang eksternal dan mencatat resultan strategi SO dalam sel yang tepat.
6) Mencocokan kelemahan internal dengan peluang eksternal dan mencatat resultan strategi WO dalam sel yang tepat.
7) Mencocokan kekuatan internal dengan ancaman eksternal dan mencatat resultan strategi ST dalam sel yang tepat.
8) Mencocokan kelemahan internal dengan ancaman eksternal dan mencatat resultan strategi WT dalam sel yang tepat.
Tabel 4. Matrik SWOT Internal
Eksternal
STRENGTH-S Kekuatan
Internal Perusahaan
WEAKNESS-W Kelemahan
Internal perusahaan
7
OPPORTUNITIES-O
Hasil dari matrik SWOT ini sendiri diharapkan dapat memberikan beberapa alternatif strategi pemasaran yang dapat dipilih oleh pihak manajemen perusahaan agar tujuan awal dari organisasi tercapai dan kegiatan perusahaan dapat memberikan hasil yang maksimal.
Dalam perumusan kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman perusahaan diperlukan diskusi lebih mendalam dengan pihak perusahaan sehingga dilakukan tanya jawab secara iterative. Diskusi yang dilakukan dengan perusahaan bertujuan agar dalam penelitian ini dapat merumuskan strategi yang sesuai dengan kondisi perusahaan. Pertimbangan perusahaan dan hasil analisis penelitian akan menjadi acuan utama dalam pembuatan matriks SWOT ini.
4.6 Metode Perbandingan Berpasangan
Metode ini digunakan untuk memberikan penilaian terhadap bobot setiap faktor penentu internal dan eksternal dengan membandingkan setiap variabel pada baris (horizontal) dengan variabel pada kolom (vertikal). Untuk menentukan bobot setiap faktor penentu internal dan eksternal. Tujuan utama dari metode perbandingan berpasangan ini adalah memberikan bobot untuk setiap faktor penentu yang akan digunakan dalam perhitungan Matriks QSPM.
Tahap-tahap untuk melakuaan metode perbandingan berpasangan untuk melakukan pembobotan adalah sebagai berikut :
Daftar harus spesifik menggunakan persentase, rasio atau angka perbandingan. Data bersifat eksternal berasal dari wawancara atau kuesioner dengan pihak yang mengetahui keadaan perusahaan. Identifikasi faktor eksternal organisasi dilakukan dengan mendaftarkan peluang dan ancaman yang dimiliki organisasi. Hasil kedua identifikasi faktor-faktor tersebut sebagai faktor penentu eksternal dan internal yang akan diberikan bobot
2) Penentuan bobot dilakukan dengan jalan mengajukan identifikasi faktor strategis internal dan eksternal kepada pihak manajemen perusahaan dengan menggunakan metode paired comparison atau metode perbandingan berpasangan (David, 2006).
Untuk menentukan bobot setiap variabel digunakan skala 1, 2 dan 3. Skala yang digunakan untuk pengisian kolom adalah :
1 : jika indikator horisontal kurang penting daripada indikator vertikal 2 : jika indikator horisontal sama penting dibandingkan indikator vertikal 3 : jika indikator horisontal lebih penting dibanding indikator vertikal
Tabel 5. Penilaian Bobot Faktor Strategi Eksternal dan Internal
Faktor Penentu A B C D … Total Bobot
A
B
C
D
…
Total
Sumber : David, 2006
Bobot setiap faktor diperoleh dengan menentukan nilai setiap faktor terhadap jumlah nilai keseluruhan faktor. Bobot yang diberikan pada setiap faktor berada pada kisaran 0,0 (tidak penting) hingga 1,0 (paling penting). Faktor-faktor yang dianggap mempunyai pengaruh terbesar pada prestasi perusahaan diberi bobot tertinggi, tanpa mempedulikan apakah faktor tersebut kunci kekuatan dan kelemahan serta peluang dan ancaman. Bobot setiap variabel diperoleh dengan menentukan nilai setiap variabel
terhadap jumlah nilai keseluruhan variabel dengan menggunakan rumus :
n
i
Xi Xi Ai
dimana : Ai = bobot variabel ke-i n = jumlah variabel i = 1,2,3,...,n
Xi nilai variabel ke-i Total bobot yang diberikan sama dengan 1,0.
4.7 Analisis Matrik QSPM (Quantitative Strategic Planning Matrix)
Setelah mengembangkan sejumlah alternatif strategi, perusahaan harus mampu mengevaluasi dan kemudian memilih strategi yang terbaik dan paling cocok dengan kondisi internal perusahaan serta lingkungan eksternal. Penggunaan QSPM dapat dilihat pada Tabel 6. Ada enam langkah yang harus diikuti untuk membuat matrik QSPM yaitu :
1) Menyusun daftar kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman yang sama dengan matrik SWOT.
2) Memberikan bobot untuk masing-masing kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman yang dilakukan pada metode perbandingan berpasangan
3) Menyusun alternatif strategi yang akan dievaluasi.
4) Menetapkan nilai daya tarik (Attractiveness Scores - AS) yang berkisar antara 1 sampai 4. Nilai 1 = tidak menarik, 2 = agak menarik, 3 = cukup menarik, 4 = sangat menarik. Bila tidak ada pengaruhnya terhadap alternatif strategi yang sedang dipertimbangkan tidak diberikan nilai (AS).
5) Menghitung total nilai daya tarik (Total Attractiveness Scores – TAS), kemudian mengalikan bobot dengan nilai daya tarik (AS).
6) Menghitung jumlah total nilai daya tarik (TAS). Alternatif strategi yang memiliki nilai total terbesar merupakan strategi yang paling baik.
Tabel 6. Matrik QSPM (Quantitative Strategic Planning Matrix) Faktor-Faktor
Strategi I Strategi II Strategi III
Ancaman
Total
Sumber : David, 2006 Keterangan :
AS = Attractiveness Scores (Nilai Daya Tarik)
TAS = Total Attractiveness Scores (Total Nilai Daya Tarik)