BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Metode Penentuan Daerah Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Kota Medan. Daerah penelitian ditentukan secara purposive (sengaja) yaitu berdasarkan kriteria atau tujuan tertentu dengan mempertimbangkan bahwa usaha olahan jamur tiram tersebut dapat memberikan informasi yang dibutuhkan dalam penelitian.
3.2 Metode Penentuan Sampel
Responden penelitian ini terdiri dari 5 komponen yaitu: Pengusaha produk olahan jamur tiram putih, petani budidaya jamur tiram putih, asosiasi pengusaha produk olahan jamur tiram putih, konsumen produk olahan jamur tiram putih, dan pejabat Dinas Koperasi dan UMKM Kota Medan. Prosedur yang digunakan dalam penentuan sampel adalah prosedur Nonprobability Sampling.
Pengambilan sampel untuk pengusaha produk olahan jamur tiram putih menggunakan metode sensus, yaitu semua populasi dijadikan sampel. Adapun besar sampel adalah sebanyak 21 pengusaha produk olahan jamur tiram putih.
Tabel 3.1 Jumlah Sampel Pengusaha Olahan Jamur Tiram Putih di Kota Medan
No Kecamatan Jumlah (Unit)
1. Medan Sunggal 5
2. Medan Johor 3
3. Medan Selayang 5
4. Medan Kota 1
5. Medan Amplas 1
6. Medan Baru 1
7. Medan Marelan 3
8. Medan Helvetia 1
Total 21
Sumber : Analisis Data Primer
Sedangkan untuk pengambilan sampel pada petani budidaya jamur tiram putih, asosiasi pengusaha produk olahan jamur tiram putih, konsumen produk olahan jamur tiram putih, dan pejabat Dinas Koperasi dan UMKM Kota Medan menggunakan teknik purposive sampling yaitu dengan pertimbangan bahwa petani budidaya jamur tiram putih, asosiasi pengusaha produk olahan jamur tiram putih, konsumen produk olahan jamur tiram putih, dan pejabat Dinas Koperasi dan UMKM Kota Medan yang mengetahui tentang pemasaran produk olahan jamur tiram putih. Responden petani budidaya jamur tiram putih sebanyak 1 orang, asosiasi pengusaha produk olahan jamur tiram putih sebanyak 1 orang, konsumen produk olahan jamur tiram putih sebanyak 1 orang, pejabat Dinas Koperasi dan UMKM Kota Medan sebanyak 1 orang, 1 orang pejabat Dinas Pertanian, dan 1 orang pejabat Badan Pusat Penelitian dan Pengembangan.
3.3 Metode Pengumpulan Data
Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari pengusaha produk olahan jamur tiram putih melalui wawancara dengan berpedoman pada kuesioner, dimana sampel memberikan jawaban berdasarkan pertanyaan yang tersedia pada kuesioner. Selain itu, peneliti juga melakukan pengamatan langsung terhadap objek studi.
3.4 Metode Analisis Data
Metode analisis data yang digunakan dalam menjelaskan identifikasi masalah adalah analisis deskriptif, yaitu dengan metode SWOT yang merupakan metode penyusunan strategi dengan mengevaluasi kekuatan (strenghs), kelemahan (weakness), peluang (opportunities), dan ancaman (threats) dalam suatu proyek atau suatu spekulasi bisnis. Analisis SWOT menyediakan pemahaman realistis tentang hubungan suatu organisasi dengan lingkungannya untuk mendapatkan terciptanya strategi yang dapat memaksimumkan kekuatan dan peluang serta meminimumkan kelemahan dan ancaman yang ada. Selanjutnya untuk mengetahui hasil analisis berada diposisi mana, dapat dilihat pada gambar berikut ini :
Kuadran 1 : Ini merupakan situasi yang sangat menguntungkan. Usaha tersebut memiliki peluang dan kekuatan sehingga dapat memanfaatkan peluang yang ada. Strategi yang harus diterapkan dalam kondisi ini adalah mendukung kebijakan pertumbuhan yang agresif (Growth Oriented Srategy).
1. Mendukung Strategi Growth
2. Mendukung Strategi Growth
3. Mendukung Strategi Growth
4. Mendukung Strategi Growth
KEKUATAN
ANCAMAN KELEMAHAN
PELUANG
Sumber: Fredy Rangkuty (2009)
Kuadran 2 : Meskipun menghadapi berbagai ancaman, usaha ini masih memiliki kekuatan dari segi internal. Strategi yang harus diterapkan adalah menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang jangka panjang dengan cara strategi diversifikasi (produk/jasa).
Kuadran 3 : Usaha menghadapi peluang pasar yang sangat besar, tetapi di lain pihak, ia menghadapi beberapa kendala/kelemahan internal. Kondisi bisnis pada kuadran 3 ini mirip dengan Question Mark pada BCG matrik. Fokus strategi perusahaan ini adalah meminimalkan masalah-masalah internal usaha sehingga dapat merebut peluang pasar yang lebih.
Kuadran 4 : Ini merupakan situasi yang sangat tidak menguntungkan, usaha tersebut menghadapi berbagai ancaman dan kelemahan internal.
Langkah-langkah pembuatan SWOT, sebagai berikut: 1. Menentukan tujuan penelitian / objek penelitian.
Langkah yang paling awal dalam membuat SWOT adalah dengan menentukan tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui faktor-faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi peran Dinas Koperasi dan UMKM Kota Medan dalam pemasaran produk olahan jamur tiram putih.
2. Menentukan faktor-faktor lingkungan / pengaruh.
Adapun faktor-faktor internal yang berpengaruh yaitu: 1. Dukungan Pemerintah
2. Promosi
3. Adanya pelatihan
Adapun faktor-faktor eksternal yang berpengaruh yaitu: 1. Modal usaha
2. Harga jual
3. Ketersediaan bahan baku 4. Jejaring (Networking) 5. Pangsa pasar
6. Selera masyarakat
7. Pengaruh pergantian musim (cuaca) 8. Lokasi
9. Kualitas bahan baku 10.Pengalaman produsen
3. Menentukan faktor strategis.
pejabat Dinas Koperasi dan UMKM Kota Medan, 1 orang pejabat Dinas Pertanian, dan 1 orang pejabat Badan Pusat Penelitian dan Pengembangan.
4. Klasifikasi faktor strategis menjadi faktor internal dan faktor eksternal.
Setelah diketahui faktor-faktor strategis, selanjutnya diklasifikasikan menjadi 2 bagian, yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal adalah faktor yang tidak dapat dikendalikan oleh Dinas Koperasi dan UMKM Kota Medan atau faktor yang dimiliki oleh pengusaha, konsumen, dan pihak-pihak lain yang terkait dalam pemasaran dan produksi olahan jamur tiram, sedangkan faktor internal adalah faktor yang dapat dikendalikan oleh Dinas Koperasi dan UMKM Kota Medan.
5. Penentuan faktor S,W,O dan T berdasarkan skor.
Setelah diklasifikasikan faktor-faktor internal dan eksternal, kemudian disusun kuisioner yang akan ditanyakan kepada responden untuk memperoleh penilaian setiap faktor. Skor masing-masing faktor dengan skala mulai dari 4 sampai dengan 1. Setelah diperoleh skor setiap faktor dari setiap responden, kemudian dicari nilai rata-rata aritmatika dari seluruh responden sehingga dapat ditentukan apakah faktor tersebut termasuk kedalam faktor eksternal (peluang dan ancaman) atau faktor internal (kekuatan dan kelemahan). Pada internal 1 dan 2 termasuk kelemahan, 3 dan 4 adalah kekuatan. Pada eksternal 1 dan 2 termasuk ancaman, 3 dan 4 termasuk peluang.
6. Penentuan bobot.
G = n√X1.X2.X3. … Xn
dengan memakai pembobotan yang dilakukan oleh Saaty (1998). Metode ini menggunakan model Pairwise Comparision Scale yaitu dengan membandingkan faktor yang satu dengan faktor lainnya dalam satu hirarki berpasangan, sehingga diperoleh nilai kepentingan dari masing-masing faktor. Rincian nilai kepentingan tersebut ditentukan berdasarkan kemampuan responden untuk membedakan nilai antar faktor yang dipasangkan. Semakin besar kemampuan responden untuk membedakan, maka akan semakin rinci juga pembagian nilanya. Nilai dari masing-masing faktor tidak lepas dari skala banding berpasangan yang ditemukan oleh Saaty (1998) dengan skala nilai yang dimodifikasi hanya menggunakan skala nilai 1 sampai 3 sebagai berikut:
1 = kedua faktor sama pentingnya
2 = satu faktor lebih penting dari pada faktor lainnya
3 = satu faktor mutlak lebih penting dari pada faktor lainnya
7. Matriks perbandingan seluruh faktor untuk tiap responden.
Setelah diperoleh nilai kepentingan masing-masing faktor dari tiap responden selanjutnya dibuat matriks penilaian tiap responden yang akan menjadi bobot dari tiap faktor.
8. Matriks perbandingan seluruh faktor untuk seluruh responden.
Setelah diperoleh matriks perbandingan penilaian tiap faktor dari setiap responden, kemudian dicari nilai rata-rata geometris perbandingan dari seluruh responden dengan rumus:
Dimana : n = Jumlah responden X
1 = Nilai faktor ke-i untuk responden 1
X
2 = Nilai faktor ke-i untuk responden 2
X
3 = Nilai faktor ke-i untuk responden 3
X
n = Nilai faktor ke-i untuk responden n
9. Normalisasi dan rata-rata bobot.
Setelah diketahui nilai rata-rata geometris, kemudian nilai rata-rata tersebut dinormalisasikan untuk mendapatkan nilai dari masing-masing faktor strategis. Nilai inilah yang akan menjadi bobot faktor-faktor strategis Dinas Koperasi dan UMKM Kota Medan.
10. Menentukan skor terbobot dan prioritas.
Setelah diperoleh bobot tiap faktor strategis, dicari skor terbobot dengan cara mengalikan skor dari tiap faktor dengan bobot yang akan diperoleh dalam tiap faktor. Nilai dari skor terbobot ini digunakan untuk mengetahui bagaimana reaksi Dinas Koperasi dan UMKM Kota Medan terhadap faktor strategis eksternal dan faktor strategis internalnya.
11. Formulasi strategi dengan menggunakan matriks SWOT.
Gambar 3.2 Matriks SWOT
Keterangan : Kuadran I :
Ini merupakan situasi yang menguntungkan. Perusahaan tersebut memiliki peluang dan kekuatan sehingga dapat memanfaatkan peluang yang ada. Strategi yang diterapkan dalam kondisi ini adalah mendukung kebijakan pertumbuhan yang agresif.
Kuadran II :
Meskipun menghadapi berbagai ancaman, perusahaan ini masih memiliki kekuatan dari segi internal. Strategi yang harus diterapkan adalah menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang jangka panjang dengan cara strategi diversifikasi (produk/pasar).
Kuadran III :
meminimalkan masalah internal perusahaan sehingga dapat merebut pasar yang lebih baik (turn around).
Kuadran IV :
Ini merupakan situasi yang sangat tidak menguntungkan, perusahaan tersebut menghadapi berbagai ancaman dan kelemahan internal. Fokus strategi yaitu melakukan tindakan penyelamatan agar terlepas dari kerugian yang lebih besar (defensive).
3.5. Definisi dan Batasan Operasional
Untuk memperjelas dan menghindari kesalahpahaman dalam penelitian ini, maka dibuat definisi dan batasan operasional sebagai berikut :
3.5.1 Definisi :
1. Produk adalah segala sesuatu yang ditawarkan kepasar untuk mendapatkan perhatian, dibeli, dipergunakan dan yang dapat memuaskan keinginan konsumen.
2. Olahan jamur tiram adalah makanan yang diolah dari bahan dasar jamur tiram.
3. Strategi pemasaran adalah rencana tindakan yang hendak diikuti oleh manajer pemasaran yang berdasarkan atas analisa situasi dan tujuan perusahaan. 4. Lingkungan internal adalah lingkungan organisasi yang berada didalam
5. Lingkungan eksternal adalah suatu proses yang dilakukan oleh perencana strategi untuk memantau sektor lingkungan dalam menentukan peluang dan ancaman.
6. SWOT adalah singkatan dari lingkungan internal, lingkungan eksternal, peluang dan ancaman yang dihadapi di dunia bisnis.
7. Strengths (kekuatan) adalah kekuatan-kekuatan yang dimiliki pengusaha produk olahan jamur tiram putih.
8. Weaknesses (kelemahan) adalah kelemahan-kelemahan yang dimiliki oleh pengusaha produk olahan jamur tiram putih.
9. Opportunities (peluang) adalah berbagai peluang yang muncul terhadap pengusaha produk olahan jamur tiram putih.
10. Threats (ancaman) adalah berbagai ancaman yang muncul terhadap
pengusaha produk olahan jamur tiram putih.
3.5.2 Batasan Operasional :
Adapun batasan operasional dalam penelitian ini adalah:
1. Tempat penelitian adalah usaha kecil menengah jamur tiram di Kota Medan. 2. Sampel penelitian adalah pengusaha produk olahan jamur tiram putih, petani
budidaya jamur tiram putih, asosiasi pengusaha produk olahan jamur tiram putih, konsumen produk olahan jamur tiram putih, pejabat Dinas Koperasi dan UMKM Kota Medan, pejabat Dinas Pertanian, dan pejabat Badan Pusat Penelitian dan Pengembangan.
BAB IV
DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN
4.1 Deskripsi Daerah Penelitian
4.1.1. Letak Geografis, Batas, dan Luas Wilayah
Penelitian dilakukan di Kota Medan yang merupakan ibukota dari provinsi Sumatera Utara. Sebagai salah satu daerah otonom dengan status kota, maka kedudukan, fungsi dan peranan Kota Medan cukup penting dan strategis baik secara regional maupun nasional. Kota Medan sebagai Ibu Kota Provinsi Sumatera Utara, sering dipakai sebagai tolak ukur dalam pembangunan dan penyelenggaraan pemerintahan daerah di Provinsi Sumatera Utara. Secara geografis Kota Medan terletak antara 3º.27 - 3º.47 Lintang Utara dan 98º.35 - 98º.44 Bujur Timur, dengan ketinggian 2,5 – 37,5 meter di atas permukaan laut dengan batas:
1. Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang 2. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang 3. Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang
4. Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang dan Selat Malaka Kota Medan memiliki kedudukan strategis sebab berbatasan langsung dengan Selat Malaka dibagian utara sehingga relatif dekat dengan kota-kota lain yang berada di jalur perdagangan di kawasan Asia Tenggara. Medan dimekarkan menjadi 21 kecamatan dengan 151 kelurahan dan 2001 lingkungan. Kota Medan mempunyai iklim tropis dengan suhu minimum berkisar antara 22,49º C – 23,97º C dan suhu maksimum berkisar antara 32, 15º C – 34,21º C.
Kelembapan udara di wilayah Medan rata-rata 76 – 81 %.Kota Medan berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang pada sebelah utara, selatan, barat dan timur. Kota Medan merupakan salah satu dari 30 Daerah Tingkat I di Sumatera Utara dengan luas daerah sekitar 265,10 km². Kota ini merupakan pusat pemerintahan Daerah Tingkat I Sumatera Utara (BPS, 2016).
Tabel 4.1. Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin di Kota Medan
Golongan Laki-laki Perempuan
Jumlah
Total 1.047.875 1.047.929 2.122.804
Sumber: BPS, Medan Dalam Angka 2016
manula > 55 adalah 199.311 orang (9,26%). Usia produktif adalah usia dimana orang memiliki nilai ekonomi yang tinggi sehingga dapat menghasilkan barang dan jasa dengan efektif.
4.1.2 Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan
Penduduk Kota Medan menurut tingkat pendidikan terdiri dari tamat SD, SLTP, SLTA, dan Perguruan Tinggi. Untuk melihat lebih jelas mengenai tingkat pendidikan Kota Medan dapat dilihat pada Tabel 4.2.
Tabel 4.2. Distribusi Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Tingkat Pendidikan Jumlah Presentase (%)
SD 266.756 31,7
SLTP 116.076 13,8
SLTA 125.639 15,0
Perguruan Tinggi 331.567 39,5
Jumlah 840.038 100
Sumber: BPS, Medan Dalam Angka 2016
Tabel 4.2 menunjukkan tingkat pendidikan paling besar jumlahnya adalah pada Perguruan Tinggi yaitu sebanyak 331.567 orang (39,5%). Kemudian diikuti oleh SD sebanyak 266.756 orang (31,7%), SLTA sebanyak 125.639 orang (15,0%).Sedangkan tingkat pendidikan yang paling sedikit jumlahnya adalah SLTP yaitu sebanyak 116.076 orang (13,8%).
4.1.3 Sarana dan Prasarana
Tabel 4.3. Sarana dan Prasarana
Sarana dan Prasarana Jumlah (Unit) 1. Sekolah
a. SD 816
b. SMP 348
c. SMA 200
d. SMK 144
e. Perguruan Tinggi 33
2. Kesehatan
a. Mesjid/ Musholla 1.740
b. Gereja 751
a. Pasar Tradisional 56
b. Pasar Modern 239
Sumber: BPS, Medan Dalam Angka 2016
Tabel 4.3 menunjukkan sarana dan prasarana di Kota Medan, dimana untuk sarana dan prasarana untuk sekolah terdiri dari SD sebanyak 816 unit, SMP sebanyak 348 unit, SMA 200 unit, SMK 144 unit, dan Perguruan Tinggi berjumlah 33 unit dengan berbagai strata. Status sekolah pun beragam mulai dari negeri, swasta, maupun sekolah luar negeri yang tersebar di setiap sudut dan pelosok Kota Medan dengan kualitas yang beragam.
sarana peribadatan sangat diperlukan oleh penduduk kota besar seperti Kota Medan. Sarana peribadatan yang ada adalah mesjid/musholla berjumlah 1.740 unit, gereja sebanyak 751 unit, kuil 34 unit, wihara 22 unit dan klenteng 33 unit. Pasar tradisional maupun pasar modern banyak sekali terdapat di Kota Medan. Masyarakat dapat dengan mudah memilih untuk berbelanja di pasar tradisional maupun pasar modern. Pasar tradisional identik dengan bangunan-bangunan yang biasa saja sedangkan pasar swalayan identik dengan bangunan-bangunan yang besar dan megah.Pasar tradisional ada 56 unit dan pasar modern ada 239 unit yang tersebar di seluruh Kecamatan di Kota Medan.
4.1.4 Lokasi Sampel Penelitian yang tersebar di Wilayah Kota Medan
Berdasarkan hasil penelitian, lokasi sampel penelitian tersebar di berbagai wilayah di Kota Medan. Berikut daftar-daftar outlet produk olahan jamur tiram putih yang tersebar di Kota Medan yang disajikan pada tabel 4.4.
Tabel 4.4. Daftar Outlet Produk Olahan Jamur Tiram Putih di Kota Medan
No. Kecamatan Alamat Jumlah Outlet
1. Kecamatan Medan
- Setia Budi Tanjung Sari
8. Kecamatan Medan Helvetia
- Jalan gaperta ujung 1
4.2. Karakteristik Responden
Responden dalam penelitian ini adalah pengusaha jamur tiram putih di Kota Medan. Jumlah responden yang diambil adalah sebanyak 21 pengusaha produk olahan jamur tiram putih, petani budidaya jamur tiram putih sebanyak 1 orang, asosiasi pengusaha produk olahan jamur tiram putih sebanyak 1 orang, konsumen produk olahan jamur tiram putih sebanyak 1 orang, pejabat Dinas Koperasi dan UMKM Kota Medan sebanyak 1 orang, 1 orang pejabat Dinas Pertanian, dan 1 orang pejabat Badan Pusat Penelitian dan Pengembangan. Karakteristik responden yang diperlukan dalam penelitian ini meliputi umur, tingkat pendidikan, jumlah tanggungan keluarga, dan pengalaman berusaha.
4.2.1. Umur
Tabel 4.5. Umur Responden
No. Kelompok Umur (Tahun) Jumah (Jiwa) Presentase (%)
1 0-20 0 0
2 21-30 10 37
3 31-40 10 37
4 41-50 5 18
5 51-60 2 8
6 >60 0 0
Jumlah 27 100
Sumber : Analisis Data Primer Jamur Tiram, Lampiran 1 (2017)
4.2.2. Tingkat Pendidikan
Tabel 4.6. Tingkat Pendidikan Responden
No. Kelompok Umur (Tahun) Jumah (Jiwa) Presentase (%)
Sumber : Analisis Data Primer Jamur Tiram, Lampiran 1 (2017)
Dapat dijelaskan, dari ke-27 responden di Kota Medan tingkat pendidikan terbesar adalah tamatan SMA yaitu 20 jiwa atau 74%.
4.2.3. Jumlah Tanggungan
Tabel 4.7. Jumlah Tanggungan Responden
No. Jumlah Tanggungan Keluarga Jumah (Jiwa) Presentase (%)
1 0 4 15
Sumber : Analisis Data Primer Jamur Tiram, Lampiran 1 (2017)
Dari tabel di atas, dapat dijelaskan bahwa jumlah tanggungan keluarga terbanyak adalah berjumlah 2 jiwa tanggungan yaitu sebanyak 9 responden atau 33%.
4.2.4. Pengalaman Berusaha
Tabel 4.8. Pengalaman Berusaha Responden
No. Pengalaman Berusaha (Tahun) Jumah (Jiwa) Presentase (%)
1 ≤ 1 3 11
2 1-1.5 3 11
3 1.5-2 5 18
4 ≥2 16 60
Jumlah 27 100
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelitian dilaksanakan di Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara, mengenai strategi pemasaran produk olahan jamur tiram putih. Adapun yang dianalisis adalah faktor-faktor internal yaitu kekuatan dan kelemahan serta faktor-faktor eksternal yaitu peluang dan ancaman yang mempengaruhi pemasaran produk olahan jamur tiram putih di Kota Medan. Strategi pemasaran itu dapat dirumuskan dengan Analisis SWOT. Analisis SWOT (Strenght, Weaknesses, Opportunities and Threats) mengidentifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk
merumuskan strategi suatu usaha. Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (strenght) dan peluang (opportunities), namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weaknesses) dan ancaman (threats).
5.1. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemasaran Produk Olahan Jamur Tiram Putih di Kota Medan
5.1.1. Faktor Internal yang Mempengaruhi Pemasaran Produk Olahan Jamur Tiram Putih di Kota Medan
Adapun faktor-faktor internal pemasaran produk olahan jamur tiram putih yang dapat dikendalikan oleh Dinas Koperasi dan UMKM Kota Medan adalah sebagai berikut:
a. Dukungan Pemerintah
Dukungan Pemerintah yang diberikan kepada pengusaha-pengusaha produk olahan jamur tiram putih di Kota Medan berupa penyediaan sarana dan prasarana, bantuan permodalan, bantuan peralatan, bantuan pemasaran, dan sosialisasi produk olahan jamur tiram putih. Hal itu dilakukan guna untuk membantu permasalahan yang dihadapi oleh pengusaha tersebut agar mendapatkan
keuntungan yang maksimal. Adapun dukungan Pemerintah tersebut diberikan melalui Dinas Koperasi dan UMKM Kota Medan.
b. Promosi
Promosi yang diberikan oleh pihak yang terkait yaitu Dinas Koperasi dan UMKM Kota Medan yaitu dalam bentuk pameran-pameran yang diadakan di Kota Medan, guna untuk memperkenalkan produk olahan jamur tiram di semua kalangan masyarakat. Contoh pameran yang diberikan oleh Dinas Koperasi dan UMKM Kota Medan yaitu pada saat adanya Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU).
c. Adanya Pelatihan
Pelatihan dilakukan untuk pengusaha produk olahan jamur tiram putih dan petani budidaya jamur tiram putih dengan harapan dapat membantu masalah-masalah yang dihadapinya pada saat ini. Pelatihan-pelatihan yang diberikan berupa pelatihan kewirausahaan, pelatihan akutansi/ pembukuan, pelatihan teknologi, dan pelatihan manajemen.
Tabel 5.1. Penentuan Skor Internal
No Uraian
Rata-1. Dukungan Pemerintah 2,33 Kelemahan Pengusaha Produk Olahan Jamur (21), Pusat Penelitian dan Pengembangan (1) 2. Promosi 2,55 Kelemahan Pengusaha Produk
(1), Dinas Koperasi dan UMKM (1) Dinas Pertanian (1), Badan Pusat Penelitian dan Pengembangan (1) 3. Adanya Pelatihan 3,22 Kekuatan Pengusaha Produk
Olahan Jamur (21), Petani Budidaya (1), Konsumen (1), Asosiasi (1), Dinas Koperasi dan UMKM (1) Dinas Pertanian (1), Badan Pusat Penelitian dan Pengembangan (1) Sumber: Lampiran 3 (2017)
Tabel 5.1 menunjukkan bahwa hasil penilaian faktor internal yang mempengaruhi pemasaran produk olahan jamur tiram putih terdapat 1 kekuatan dan 2 kelemahan.
5.1.2. Faktor Eksternal yang Mempengaruhi Pemasaran Produk Olahan Jamur Tiram Putih di Kota Medan
Adapun faktor-faktor eksternal pemasaran produk olahan jamur tiram putih yang tidak dapat dikendalikan oleh Dinas Koperasi dan UMKM Kota Medan adalah sebagai berikut:
a. Lokasi
b. Harga Jual
Dalam menetapkan harga produk, pengusaha produk olahan jamur tiram putih tidak hanya menetapkan harga berdasarkan kehendaknya. Penetapan harga harus melihat penetapan harga pesaing, sehingga usahanya dapat mempertahankan pelanggan dan memperoleh keuntungan yang memuaskan. Penetapan harga yang terlalu tinggi menyebabkan kehilangan pelanggan karena berpindah menjadi pelanggan usaha pesaing. Penetapan harga yang terlalu rendah juga menyebabkan berkurangnya keuntungan (profit) yang diperoleh usaha, dan akan berpengaruh pada kelangsungan usaha.
c. Modal Usaha
Modal usaha bagi pengusaha produk olahan jamur tiram putih merupakan unsur yang utama dalam mendirikan suatu usaha yang bertujuan untuk mendukung peningkatan pendapatan (profit) yang pada akhirnya meningkatkan taraf hidup pengusaha itu sendiri.
d. Ketersediaan Bahan Baku
Bahan baku sangat penting bagi pengusaha produk olahan jamur tiram putih yang mengolah suatu produk, karena bahan baku merupakan salah satu faktor penentu kualitas dari produk yang dihasilkannya.
e. Pangsa Pasar
f. Selera Masyarakat
Produk olahan jamur tiram putih mulai banyak dikenal oleh masyarakat Kota Medan. Dari kalangan anak-anak hingga dewasa mulai gemar mengkonsumsi produk olahan jamur tiram putih.
g. Jaringan (Networking)
Memiliki jaringan yang luas merupakan salah satu faktor penentu dalam keberhasilan suatu usaha. Berdasarkan hasil penelitian jaringan yang terjalin antar pelaku usaha produk olahan jamur tiram putih tergolong baik. Hal ini dikarenakan pelaku usaha produk olahan jamur tiram putih, tergabung pada asosiasi produk olahan jamur tiram putih di Kota Medan.
h. Pengalaman Produsen
Faktor yang berpengaruh terhadap kemampuan usaha produk olahan jamur tiram putih adalah pengalaman produsen. Semakin tinggi tingkat pengalaman produsen maka akan semakin baik pula usaha produk olahan jamur tiram putih. Pengalaman usaha produk olahan jamur tiram putih membantu pengusaha dalam aktivitasnya sebagai pengusaha.
i. Pengaruh Pergantian Musim
j. Kualitas Bahan Baku
Kualitas bahan baku merupakan hal yang harus diperhatikan oleh pengusaha produk olahan jamur tiram putih dalam kegiatan usahanya. Karena kualitas bahan baku sangat berpengaruh terhadap kerenyahan dari hasil olahan jamur tiram putih.
Tabel 5.2. Penentuan Skor Eksternal
No Uraian Rata-Pusat Penelitian dan Pengembangan (1) Pusat Penelitian dan Pengembangan (1) Pusat Penelitian dan Pengembangan (1) 4. Ketersediaan Bahan
Pengembangan (1) Pusat Penelitian dan Pengembangan (1) 6. Selera Masyarakat 3,77 Peluang Pengusaha Produk
Olahan Jamur (21), Pusat Penelitian dan Pengembangan (1) 7. Jejaring (Networking) 3,48 Peluang Pengusaha Produk
Olahan Jamur (21), Pusat Penelitian dan Pengembangan (1) 8. Pengalaman Prodsen 3,25 Peluang Pengusaha Produk
Olahan Jamur (21), Pusat Penelitian dan Pengembangan (1) 9. Pengaruh Pergantian
Musim Pusat Penelitian dan Pengembangan (1) 10. Kualitas Bahan Baku 2,85 Ancaman Pengusaha Produk
Petani Budidaya (1), Konsumen (1), Asosiasi (1), Dinas Koperasi dan UMKM (1) Dinas Pertanian (1), Badan Pusat Penelitian dan Pengembangan (1) Sumber: Lampiran 4 (2017)
Tabel 5.2 menunjukkan bahwa hasil penilaian faktor eksternal yang mempengaruhi pemasaran produk olahan jamur tiram putih terdapat 8 peluang dan 2 ancaman.
5.2. Pembobotan Faktor-Faktor Strategis
Nilai penting dari faktor-faktor strategis adalah dengan menggunakan pembobotan. Pembobotan dilakukan dengan teknik komparasi berpasangan, berikut hasil pembobotan faktor-faktor internal disajikan dalam tabel 5.3.
Tabel 5.3. Tabel IFAS
No. Faktor-Faktor Internal Bobot
1. Dukungan Pemerintah 0,46
2. Promosi 0,38
3. Adanya Pelatihan 0,44
Total 1,08
Sumber: Lampiran 11 (2017)
bagi pengusaha produk olahan jamur tiram putih, karena dengan adanya promosi dari pihak Dinas Koperasi dan UMKM Kota Medan, diharapkan perkembangan produk olahan jamur tiram putih semakin pesat dan semakin dikenal oleh masyarakat luas. Untuk faktor adanya pelatihan untuk pengusaha produk olahan jamur tiram putih yang memiliki nilai bobot sebesar 0,44. Faktor ini juga tidak kalah pentingnya, karena faktor ini juga dapat membantu pengusaha produk olahan jamur tiram putih di lapangan dalam mengelola usahanya untuk mendapatkan keuntungan yang maksimal.
Tabel 5.4. Tabel EFAS
No. Faktor-Faktor Eksternal Bobot
1. Lokasi 0,30
2. Harga Jual 0,26
3. Modal Usaha 0,28
4. Ketersediaan Bahan Baku 0,25
5. Pangsa Pasar 0,28
6. Selera Masyarakat 0,33
7. Jejaring (Networking) 0,17
8. Pengalaman Produsen 0,35
9. Pengaruh Pergantian Musim (cuaca) 0,31
10 Kualitas Bahan Baku 0,41
Total 2,79
Sumber: Lampiran 12 (2017)
merupakan faktor yang penting, karena kualitas bahan baku berpengaru terhadap kerenyahan jamur itu sendiri.
5.3. Penentuan Strategi Pemasaran Produk Olahan Jamur Tiram Putih Selanjutnya dilakukan matriks evaluasi pemasaran produk olahan jamur tiram putih dengan menghitung perkalian antara skor dan bobot pada faktor internal yang bertujuan untuk memperoleh skor terbobot. Perkalian antara skor dan bobot pada faktor internal dalam pemasaran produk olahan jamur tiram putih disajikan pada tabel 5.5.
Tabel 5.5. Matriks Evaluasi Faktor Strategis Internal
No Faktor Internal Bobot Skor Skor Terbobot
1. Kekuatan
a. Adanya Pelatihan 0,44 3,22 1,41
Jumlah 0,44 1,41
2. Kelemahan
a. Dukungan Pemerintah 0,46 2,33 1,07
b. Promosi 0,38 2,55 0,96
Jumlah 0,84 2,03
Selisih Skor Kekuatan dan Kelemahan -0,62 Sumber: Lampiran 3-11 (2017)
serta sosialisasi dalam hal pemasaran produk olahan jamur tiram putih. Kurangnya promosi (kelemahan) yang memiliki bobot sebesar 0,38 yang bertujuan untuk memperkenalkan produk olahan jamur tiram kepada masyarakat luas.
Selanjutnya dilakukan perkalian antara skor dan bobot pada faktor eksternal yang bertujuan untuk memperoleh skor terbobot. Perkalian antara skor dan bobot pada faktor esternal dalam pemasaran produk olahan jamur tiram putih disajikan pada tabel 5.6.
Tabel 5.6. Matriks Evaluasi Faktor Strategis Eksternal
No Faktor Internal Bobot Skor Skor Terbobot 1. Peluang
Selisih Skor Peluang dan Ancaman 6,46 Sumber: Lampiran 4-12 (2017)
memiliki skor terbobot terendah sebesar 0,59 adalah jejaring (networking). Dimana berdasarkan hasil dari penelitian jejaring (networking) ini merupakan peluang.
5.4. Penentuan Alternatif Strategi Pemasaran Produk Olahan Jamur Tiram Putih
Strategi pemasaran produk olahan jamur tiram putih dilakukan dengan membuat matriks SWOT. Matriks SWOT dibangun berdasarkan faktor-faktor internal (kekuatan dan kelemahan) dan faktor eksternal (peluang dan ancaman). Berdasarkan hasil analisis matriks SWOT pemasaran produk olahan jamur tiram putih diperoleh 4 alternatif strategi, yaitu: strategi S-O, strategi S-T, strategi W-O, dan strategi W-T, seperti disajikan pada tabel 5.7 berikut ini:
Tabel 5.7. Penentuan Alternatif Strategi Pemasaran Produk Olahan Jamur Tiram Putih
IFAS
EFAS
Kekuatan (Strengths) Kelemahan (Weakness) 1.Adanya pelatihan 1.Dukungan Pemerintah
(S1, O2, O1, O8). dukungan Pemerintah bahan baku jamur (S1, T1, T2).
Tabel 5.7 menggambarkan strategi pemasaran produk olahan jamur tiram putih yang dapat dijelaskan sebagai berikut:
Strategi S-O
1. Mengadakan pelatihan mengenai pemasaran dan sosialisasi untuk meningkatkan pengalaman produsen serta memperluas pangsa pasar (S1, O4, O7, O6).
2. Manfaatkan pelatihan yang ada untuk menambah pengetahuan pengusaha jamur dalam menentukan harga jual, lokasi, dan strategi untuk menghadapi pengaruh pergantian musim (S1, O2, O1, O8).
Strategi S-T
Adapun strategi yang dapat dijelaskan untuk pemasaran produk olahan jamur tiram putih dengan memanfaatkan kekuatan dan ancaman yang ada adalah sebagai berikut:
1. Memanfaatkan adanya pelatihan untuk mengatasi kualitas dan kuatitas bahan baku jamur (S1, T1, T2).
Strategi W-O
Dalam lebih meminimalkan kelemahan untuk memanfaatkan peluang yang ada, maka strategi yang dapat dilaksanakan oleh Dinas Koperasi dan UMKM Kota Medan dalam meningkatkan pemasaran produk olahan jamur tiram putih adalah sebagai berikut:
1. Memanfaatkan modal sendiri untuk mengatasi kelemahan dukungan Pemerintah (W1, O3).
2. Memanfaatkan jejaring (networking) untuk mengatasi kurangnya dukungan Pemerintah (W1, O6).
4. Memanfaatkan peluang stabilnya harga jual dengan meningkatkan promosi (W2, O2).
5. Memanfaatkan besarnya potensi pangsa pasar dengan meningkatkan promosi (W2, O4).
6. Memanfaatkan nilai strategis lokasi dengan mengatasi kelemahan promosi (W2, O1).
7. Memanfaatkan permintaan selera masyarakat yang tinggi dengan mengatasi kelemahan promosi (W2, O5).
Strategi W-T
Dalam lebih mengatasi ancaman dengan meminimalkan kelemahan yang ada, maka strategi yang dapat dilaksanakan oleh Dinas Koperasi dan UMKM Kota Medan dalam meningkatkan pemasaran produk olahan jamur tiram putih adalah sebagai berikut:
1. Meningkatkan dukungan pemerintah untuk menyediakan bantuan bahan baku yang berkualitas sehingga menghasilkan produk olahan yang berkualitas. (W1, T1, T2).
5.5. Penentuan Matriks Posisi Kuadran SWOT Pemasaran Produk Olahan Jamur Tiram Putih
posisi strategis pemasaran produk olahan jamur tiram putih berada di kuadran III dengan strategi Turn Arround. Posisi titik koordinat cartesius pada gambar 5.1.
Y ( + ) (-0,62, 6,46)
6,46
Kuadran III Kuadran I
Strategi Turn Arround Strategi Agresif
X ( - ) X ( + )
-0,62
Kuadran IV Kuadran II
Strategi Defensif Strategi Diversifikasi
Y ( - )
Gambar 5.1. Kuadran SWOT Pemasaran Produk Olahan Jamur Tiram Putih
Gambar 5.1 menunjukkan nilai x < 0 yaitu -0,62 dan y < 0 yaitu 6,46. Hal ini berarti posisi strategi pemasaran produk olahan jamur tiram putih berada pada kuadran III dengan rekomendasi yang diberikan adalah strategi Turn Arround, artinya Dinas Koperasi dan UMKM Kota Medan memiliki peluang yang besar dalam menghadapi beberapa kelemahan internal. Peluang yang dimanfaatkan Dinas Koperasi dan UMKM Kota Medan yang terdapat pada strategi pemasaran produk olahan jamur tiram putih yaitu, lokasi, harga jual, modal usaha, pangsa
Faktor Eksternal
pasar, selera masyarakat, jejaring (Networking), pengalaman produsen, dan pengaruh pergantian musim (cuaca) dan kelemahan yang dihadapi yaitu, dukungan Pemerintah dan promosi.
Berdasarkan dari hasil penelitian, strategi yang dapat diterapkan adalah strategi Turn Arround yang berada pada kuadran III, dimana strategi ini berada pada titik
Berdasarkan dari hasil starategi yang telah dikemukakan, maka kaitan antara strategi peneliti dengan strategi Dinas Koperasi dan UMKM Kota Medan disajikan dalam tabel 5.8 sebagai berikut:
Tabel 5.8 Keterkaitan antara Strategi dan Program Peneliti dengan Strategi dan Program Dinas Koperasi dan UMKM Kota Medan
No. Peneliti Dinas Koperasi dan UMKM Kota
Medan
A. Strategi Strategi
1. Memanfaatkan modal sendiri untuk mengatasi kelemahan dukungan Pemerintah.
Melakukan program pelatihan kepada pengusaha produk olahan jamur tiram putih.
2. Memanfaatkan jejaring (networking) untuk mengatasi kurangnya dukungan Pemerintah.
Melakukan bimbingan teknis kepada wirausahaan produk olahan jamur tiram putih.
3. Memanfaatkan pengalaman produsen dalam berusaha untuk mengatasi lemahnya dukungan Pemerintah.
Memfasilitasi peningkatan kemitraan kepada usaha produk olahan jamur tiram putih
4. Memanfaatkan peluang stabilnya harga jual dengan meningkatkan promosi.
Memberikan bantuan berupa sarana dan prasana untuk membantu produsen produk olahan jamur tiram putih dalam melakukan kegiatan usahanya.
5. Memanfaatkan besarnya potensi pangsa pasar dengan meningkatkan promosi.
Memberikan sosialisasi kepada pengusaha produk olahan jamur tiram putih.
6. Memanfaatkan nilai strategis lokasi dengan mengatasi kelemahan promosi.
Memberikan bantuan peralatan kepada pengusaha produk olahan jamur tiram putih.
7. Memanfaatkan permintaan selera masyarakat yang tinggi dengan mengatasi kelemahan promosi.
Memberikan bantuan pemasaran kepada pengusaha produk olahan jamur tiram putih.
B. Program Program
1. Memberikan pelatihan kepada produsen produk olahan jamur tiram putih untuk meningkatkan kualitas produksinya
Memberikan program pelatihan kepada wirausahaan produk olahan jamur tiram putih.
2. Mendukung adanya promosi dalam bentuk pameran-pameran.
Memfasilitasi peningkatan kemitraan usaha untuk mendukung promosi produk olahan jamur tiram putih. 3. Meningkatkan dukungan
Pemerintah dalam memberikan bantuan peralatan
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1. Kesimpulan
Berdasarkan pada hasil analisis dan pembahasan yang dilakukan serta dengan memperhatikan kaitannya dengan tujuan penelitian maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Faktor internal yang mempengaruhi pemasaran produk olahan jamur tiram putih, yaitu: dukungan Pemerintah, promosi dan adanya pelatihan.Faktor eksternal yang mempengaruhi pemasaran produk olahan jamur tiram putih, yaitu: lokasi, harga jual, modal usaha, ketersediaan bahan baku, pangsa pasar, selera masyarakat, jejaring (networking), pengalaman produsen, pengaruh pergantian musim (cuaca), dan kualitas bahan baku.
2. Berdasarkan analisis Strenghts Weaknesses Opportunities Threats (SWOT) dalam pemasaran produk olahan jamur tiram putih, strategi berada di kuadran III yaitu Turn Arround: Memanfaatkan modal sendiri untuk mengatasi kelemahan dukungan Pemerintah, memanfaatkan jejaring (networking) untuk mengatasi kurangnya dukungan Pemerintah, memanfaatkan pengalaman produsen dalam berusaha untuk mengatasi lemahnya dukungan Pemerintah, memanfaatkan peluang stabilnya harga jual dengan meningkatkan promosi, memanfaatkan besarnya potensi pangsa pasar dengan meningkatkan promosi, memanfaatkan nilai strategis lokasi dengan mengatasi kelemahan promosi, memanfaatkan permintaan selera masyarakat yang tinggi dengan mengatasi kelemahan promosi.
6.2. Saran
Berdasarkan dari hasil penelitian, saran yang diberikan adalah sebagai berikut:
1. Kepada Dinas Koperasi dan UMKM Kota Medan
Diharapkan kepada Pemerintah Daerah khususnya Dinas Koperasi dan UMKM Kota Medan agar dapat mewujudkan dukungan yang ada untuk meningkatkan pemasaran produk olahan jamur tiram putih.
2. Kepada Pengusaha
Diharapkan kepada pengusaha produk olahan jamur tiram putih di Kota Medan untuk membentuk asosiasi pengusaha produk olahan jamur tiram putih untuk mencapai semua peluang yang ada.
3. Kepada Peneliti Selanjutnya