• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemanfaatan Dregs Sebagai Bahan Baku Pembuatan Keramik Dengan Variasi Kaolin Dan Abu Sekam Padi.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Pemanfaatan Dregs Sebagai Bahan Baku Pembuatan Keramik Dengan Variasi Kaolin Dan Abu Sekam Padi."

Copied!
61
0
0

Teks penuh

(1)

PEMANFAATAN DREGS SEBAGAI BAHAN BAKU PEMBUATAN KERAMIK DENGAN VARIASI KAOLIN DAN ABU SEKAM PADI

SKRIPSI

Diajukan untuk melengkapi tugas dan memenuhi syarat mencapai gelar Sarjana Sains

oleh

EKA MINDA LESTARI

040801015

(2)

PERSETUJUAN

Judul : PEMANFAATAN DREGS SEBAGAI BAHAN

BAKU PEMBUATAN KERAMIK DENGAN

VARIASI KAOLIN DAN ABU SEKAM PADI

Kategori : SKRIPSI

Nama : EKA MINDA LESTARI

Nomor Induk Mahasiswa : 040801015

Program Studi : SARJANA (S1) FISIKA

Departemen : FISIKA

Fakultas : MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN

ALAM (FMIPA) UNIVERSITAS SUMATERA

UTARA

Diluluskan di

Medan, Juni 2009

Diketahui/Disetujui oleh Pembimbing

Departemen Fisika FMIPA USU

Ketua

DR. Marhaposan Situmorang Dra. Zuriah Sitorus, MS

(3)

PERNYATAAN

PEMANFAATAN DREGS SEBAGAI BAHAN BAKU PEMBUATAN KERAMIK DENGAN VARIASI KAOLIN DAN ABU SEKAM PADI

SKRIPSI

Saya mengakui bahwa skripsi ini adalah hasil kerja saya sendiri, kecuali beberapa

kutipan dan ringkasan yang masing-masing disebutkan sumbernya

Medan, Juni 2009

(4)

PENGHARGAAN

Bismillahirrahmanirrahim,

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat dan karuniaNya penulis

dapat menyelesaikan penelitian dan penulisan skripsi ini dalam waktu yang telah

ditetapkan.

Ucapan terima kasih saya sampaikan kepada Ibu Dra. Zuriah Sitorus, MS

selaku pembimbing Akademik, Bapak Pander dan Bapak Saragih selaku pembimbing

di Balai Riset dan Standardisasi Industri dan Perdagangan (BARISTANDINDAG)

yang telah memberikan panduan dan arahan kepada saya dalam penyelesaian skripsi

ini. Ucapan terima kasih juga ditujukan kepada Ketua dan Sekretaris Departemen Dr.

Marhaposan Situmorang dan Dra. Justinon, M.Si., Dekan dan Pembantu Dekan

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara, dan

semua Dosen pada Departemen Fisika FMIPA USU khususnya kepada Bapak Drs.

Bisman P, MEng,Sc selaku penasehat akademik saya , Pegawai di FMIPA USU,

rekan-rekan fisika semuanya khususnya angkatan 2004, Kak Pepi serta adik-adik

sejurusan fisika yang telah mendukung dan membantu saya dalam penyelesaian

skripsi ini.

Akhirnya, ucapan terima kasih yang teristimewa saya tujukan kepada orang

tua saya tersayang Bapak Minarto, SP dan Ibu Siti Nuramah, adik-adik saya Dwi

Rahmanarsih, Tri Zulfi Winanda, Catur Hidayatullah dan Panca Taufiqurrahman,

Nenek Leginem dan Almarhum Kakek Sagimin serta Abang tercinta Harzian

Chaniago yang selalu memberikan dukungan, semangat dan doa kepada saya dalam

penyelesaian skripsi ini.

(5)

Penulis menyadari bahwa tulisan ini masih jauh dari sempurna, disebabkan

keterbatasan ilmu dan pengetahuan yang penulis miliki. Dengan segala kerendahan

hati, penulis menerima kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan tulisan

(6)

ABSTRAK

Telah dilakukan penelitian dengan tujuan pemanfaatan salah satu limbah padat pulp

yaitu ampas (dregs) dalam pembuatan keramik dengan variasi penambahan kaolin 60

%, 45%, 30%, 15%, 0 %, (berat) dan abu sekam padi sebesar 10% pada temperatur

600°C. Sampel keramik dibentuk dengan cara dry pressing pada tekanan 5000kgf.

Dari hasil pengujian diperoleh porositas 33,94%-41,6%, densitas 1,20g/cm3 –

1,31g/cm3, kuat tekan 2,28MPa-22,94MPa dan susut bakar sebesar 1,05%-1,66%.

Dari hasil penelitian ini terlihat bahwa keramik dapat dibuat dengan memanfaatkan

salah satu limbah padat pulp berupa ampas (dregs) dengan penambahan kaolin

(7)

ABSTRACT

The research about ceramics from solid waste result from factory of pulp as raw

material has been made by addition 60 %, 45%, 30%, 15%, 0 % (weight) of kaolin

and 10 % of Rice’s ash at temperature 6000C. The sample of ceramics has been made

by dry pressing method and giving pressure up to 5000kgf. The result of analysis

obtained that value of porosity 33,94% - 41,6%, density 1,20g/cm3 – 1,31g/cm3,

compressive strength 2,28MPa – 22,94MPa and fired shrinkage 1,05% - 1,66%. This

result show that ceramics can be made from solid waste result factory of pulp by

(8)

DAFTAR ISI

Halaman

Persetujuan i

Pernyataan ii

Penghargaan iii

Abstrak v

Abstract vi

Daftar Isi vii

Daftar Tabel xi

Daftar Gambar xii

Bab 1 Pendahuluan

1.1 Latar Belakang 1

1.2 Batasan Masalah 3

1.3 Tujuan Penelitian 3

1.4 Manfaat Penelitian 3

1.5 Tempat Penelitian 4

(9)

Bab 2 Tinjauan Pustaka

2.1 Keramik 5

2.1.1 Pengertian Keramik 5

2.1.2 Bahan Dasar Keramk 6

2.1.3 Jenis-Jenis Keramik 8

2.1.4 Sifat-Sifat Keramik 9

2.1.5 Kegunaan Keramik 10

2.2 Bahan Baku 10 2.2.1 Limbah Padat Pulp 10 2.2.2 Kaolin (Al2O3 2SiO2 2H2O) 13

2.2.3 Sekam Padi 15 2.3 Proses Pembentukan Keramik 16 2.3.1 Preparasi Serbuk 17 2.3.2 Pembentukan 17 2.3.3 Pengeringan 18 2.3.4 Pembakaran (Sintering) 19 2.4 Pengujian Sampel 21 2.4.1 Porositas 21

2.4.2 Densitas 21

(10)

Bab 3 Metodologi Penelitian

3.1 Alat dan Bahan 24

3.1.1 Peralatan 24

3.1.2 Bahan 24

3.2 Diagram Alir Penelitian 25

3.2.1 Diagram Alir Pembuatan Sampel Uji 25

3.3 Prosedur Pembuatan Sampel Uji 26

3.3.1 Persiapan Bahan 26

3.3.2 Pencampuran Bahan 26

3.3.3 Pencetakan/Pembentukan Sampel 27

3.3.4 Pengeringan 28

3.3.5 Pembakaran (Sintering) 28

3.4 Prosedur Pengujian Sampel 28

3.4.1 Pengujian Porositas 29

3.4.2 Pengujian Densitas 29

3.4.3 Pengujian Kuat Tekan 29

3.4.4 Pengujian Susut Bakar 29

Bab 4 Hasil dan Pembahasan

4.1 Hasil Penelitian 30

4.1.1 Hasil Pengujian Porositas 30

4.1.2 Hasil Pengujian Densitas 31

4.1.3 Hasil Pengujian Kuat Tekan 32

(11)

4.2 Pembahasan 35

4.2.1 Pengujian Porositas 35

4.2.2 Pengujian Densitas 36

4.2.3 Pengujian Kuat Tekan 37

4.2.4 Pengujian Susut Bakar 38

Bab 5 Kesimpulan dan Saran

5.1 Kesimpulan 40

5.2 Saran 41

Daftar Pustaka 42

(12)

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 2.1 Komposisi Kimia Limbah Padat Pulp 12

Tabel 2.2 Komposisi Kimia Kaolin 13

Tabel 2.3 Komposisi Komposisi Kimia Abu Sekam Padi 15

Tabel 3.1 Komposisi Campuran Limbah Padat Pulp Dregs, Kaolin

dan Abu Sekam Padi 27

Tabel 4.1 Data Hasil Pengujian Porositas 30

Tabel 4.2 Data Hasil Pengujian Densitas 31

Tabel 4.3 Data Hasil Pengujian Kuat Tekan 32

(13)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 2.1 Perubahan struktur pada saat proses pembuatan keramik 16

Gambar 3.1 Cetakan Sampel Uji Berbentuk Silinder 28

Gambar 4.1 Grafik Porositas terhadap Persentase Komposisi Kaolin 35

Gambar 4.2 Grafik Densitas terhadap Persentase Komposisi Kaolin 36

Gambar 4.3 Grafik Kuat tekan terhadap Persentase Komposisi Kaolin 37

(14)

ABSTRAK

Telah dilakukan penelitian dengan tujuan pemanfaatan salah satu limbah padat pulp

yaitu ampas (dregs) dalam pembuatan keramik dengan variasi penambahan kaolin 60

%, 45%, 30%, 15%, 0 %, (berat) dan abu sekam padi sebesar 10% pada temperatur

600°C. Sampel keramik dibentuk dengan cara dry pressing pada tekanan 5000kgf.

Dari hasil pengujian diperoleh porositas 33,94%-41,6%, densitas 1,20g/cm3 –

1,31g/cm3, kuat tekan 2,28MPa-22,94MPa dan susut bakar sebesar 1,05%-1,66%.

Dari hasil penelitian ini terlihat bahwa keramik dapat dibuat dengan memanfaatkan

salah satu limbah padat pulp berupa ampas (dregs) dengan penambahan kaolin

(15)

ABSTRACT

The research about ceramics from solid waste result from factory of pulp as raw

material has been made by addition 60 %, 45%, 30%, 15%, 0 % (weight) of kaolin

and 10 % of Rice’s ash at temperature 6000C. The sample of ceramics has been made

by dry pressing method and giving pressure up to 5000kgf. The result of analysis

obtained that value of porosity 33,94% - 41,6%, density 1,20g/cm3 – 1,31g/cm3,

compressive strength 2,28MPa – 22,94MPa and fired shrinkage 1,05% - 1,66%. This

result show that ceramics can be made from solid waste result factory of pulp by

(16)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Dewasa ini perkembangan pengetahuan dan teknologi begitu pesatnya,

demikian juga halnya dengan perkembangan teknologi keramik. Di masa lampau,

bahkan sebelum Masehi, keramik sudah dikenal dan sampai saat ini keadaannya masih

utuh dan sepertinya tidak termakan usia atau pelapukan. Pada masa itu keramik masih

dibuat dari bahan baku alam, yaitu tanah liat atau lempung yang dibakar secara

tradisional dalam bentuk kendi, piring, mangkok, periuk, dan lain sebagainya.

Akhir-akhir ini, keramik telah dapat dibuat dan dibentuk dengan

bermacam-macam cara yang disesuaikan dengan tujuan dalam penggunaannya. Hal ini

mendorong para peneliti yang khusus membidangi keramik melakukan penelitian

dalam pembuatan keramik dengan bahan baku yang beraneka ragam sesuai dengan

potensi sumber daya alam yang ada, salah satunya dengan memanfaatkan limbah

industri pulp.

Limbah pulp diperoleh dari sisa pengolahan industri pulp. Limbah ini terdiri

atas dua bentuk yaitu padat dan cair. Limbah-limbah tersebut pastinya harus dibuang,

tetapi dalam proses pembuangannya tentu saja tidak boleh sembarangan karena

limbah-limbah ini dapat mencemari lingkungan, apalagi jika tidak diolah sesuai

dengan ketentuan dan syarat pembuangan limbah. Saat ini, limbah pulp yang

berbentuk padat mulai diselidiki potensinya untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku

material, antara lain material keramik.

(17)

Hal ini tentu saja dapat mengurangi resiko pembuangan limbah tersebut terhadap

lingkungan dan dapat meningkatkan perekonomian.

Limbah padat pulp terdiri atas tiga jenis, yaitu:

1. Pasir (Grits)

2. Ampas (Dregs)

3. Lumpur Hidup (Bio Sludge)

Pasir (grits) adalah bahan yang mengandung bata dan pasir yang

kandungannya berupa hidroksida tetapi bahan ini tidak bereaksi antara cairan hijau

(green liquor) dan kapur tohor. Ampas (dregs) adalah bahan yang merupakan endapan

dari cairan hijau (green liquor) yaitu bubur (smelt) yang dilarutkan dengan natrium

hidroksida (NaOH) dimana bahan ini mengandung silika dan karbon residu organik

yang tidak terbakar dalam ketel (boiler). Bahan ini juga kaya akan karbon. Sedangkan

lumpur hidup (bio sludge) adalah campuran dari endapan cair yang kandungan

utamanya adalah selulosa dan bakteri yang mati.

Sesuai dengan kandungan masing-masing bahan tersebut di atas, maka

penelitian ini hanya memanfaatkan limbah padat pulp dregs saja karena mengandung

silika yang cocok digunakan sebagai bahan baku pembuatan keramik. Limbah ini

diperoleh dari PT. Toba Pulp Lestari (TPL) Porsea. Selain limbah padat pulp dregs

tersebut, penelitian ini juga menggunakan kaolin dan abu sekam padi sebagai

(18)

1.2. Batasan Masalah

Untuk membatasi masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini, maka

diberikan beberapa batasan sebagai berikut :

1. Komposisi bahan baku dengan perbandingan antara limbah padat pulp dregs,

kaolin dan abu sekam padi dalam satuan persen berat yaitu : (60 : 30 : 10), (45

: 45 :10), (30 : 60 : 10), (15 : 75 : 10) dan (0 : 90 : 10) pada suhu 600 °C

dengan penahanan selama satu jam.

2. Karakterisasi produk meliputi : pengujian porositas, densitas, kuat tekan dan

susut bakar.

1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk memanfaatkan limbah padat pulp dregs sebagai bahan baku pada

pembuatan keramik.

2. Untuk mengetahui pengaruh komposisi antara limbah padat pulp dregs dan

kaolin terhadap keramik yang dihasilkan.

3. Untuk mengetahui kualitas keramik yang dihasilkan dengan suhu yang rendah.

1.4. Manfaat Penelitian

Diharapkan dari hasil penelitian ini dapat menambah pengetahuan tentang

(19)

1.5. Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan di BARISTANDINDAG (Balai Riset dan

Standardisasi Industri dan Perdagangan) Medan, yaitu di Laboratorium Pasir Cetak

dan Laboratorium Uji Mekanik yang terletak di kawasan industri Tanjung Morawa,

Sumatera Utara.

1.6. Sistematika Penulisan

Penulisan laporan tugas akhir ini terdiri dari lima bab dengan sistematika

sebagai berikut :

BAB I merupakan pendahuluan yang menjelaskan latar belakang masalah, batasan

masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, tempat penelitian dan

sistematika penulisan.

BAB II merupakan pemaparan dari tinjauan pustaka mengenai keramik, jenis-jenis

keramik, sifat-sifat keramik, bahan baku yang dipakai, proses

pembentukan keramik serta pengujian yang dilakukan.

BAB III merupakan metodologi penelitian yang mencakup alat dan bahan yang

digunakan dan prosedur penelitian dan pengujian sampel.

BAB IV merupakan hasil penelitian dan pembahasannya.

BAB V merupakan kesimpulan dari penelitian dan saran dari penulis untuk peneliti

(20)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Keramik

2.1.1. Pengertian Keramik

Kalau kita berbicara tentang keramik, maka yang terbayang adalah alat-alat

rumah tangga, bahan bangunan, atau guci keramik Cina, padahal perkembangan

keramik sudah lebih maju. Asal kata keramik berasal dari bahasa Yunani “keramos”

yang berarti periuk atau belanga yang terbuat dari tanah liat yang dibakar. Secara

sederhana keramik adalah suatu benda atau barang yang terbuat dari tanah liat atau

lempung yang diproses sedemikian rupa kemudian dibakar. Hal ini menunjukkan

bahwa keramik itu hanya dapat dibuat dari tanah liat atau lempung, padahal saat ini

telah dilakukan penelitian untuk membuat keramik dari bahan baku lainnya dengan

teknik pembuatan yang sesuai dengan perkembangan teknologi. Maka dibuatlah

pengertian dari keramik yang terbaru yaitu bahan padat nonorganik yang merupakan

campuran metal dan non metal yang terikat secara ionik dan kovalen.

Keramik memiliki struktur organik dan non organik seperti gelas tetapi

kebanyakan memiliki struktur kristal. Struktur mikro keramik selalu kompleks dan

dibedakan oleh adanya batas butir (grain boundaries), renik (pores), ketidakmurnian

dan kondisi multifasa yang membuatnya lebih bervariasi. Pada daerah batas butir

energi bertambah sehingga ketidakmurnian cenderung berkumpul di sana.

Ketidakmurnian merupakan fasa kedua dan ketiga, antara partikel penyusun

(konstituen) ke dalam batas butir. Dengan adanya penambahan ketidakmurnian dan

zat aditif lainnya, mikrostruktur dapat berubah, jika diamati pada batas butirnya

maupun porositasnya. Kondisi mikrostruktur ini menggambarkan keadaan terhadap

(21)

2.1.2. Bahan Dasar Keramik

Pada dasarnya bahan dasar keramik antara lain :

1. Tanah Liat (lempung)

Tanah liat (lempung) sebagai bahan pokok untuk pembuatan keramik,

merupakan salah satu bahan yang kegunaannya sangat menguntungkan bagi manusia

karena bahannya yang mudah didapat dan pemakaian hasilnya yang sangat luas.

Kira-kira 70% atau 80% dari kulit bumi terdiri dari batuan merupakan sumber tanah liat.

Tanah liat banyak ditemukan di areal pertanian terutama persawahan. Dilihat dari

sudut ilmu kimia, tanah liat termasuk hidrosilikat alumina dan dalam keadaan murni

mempunyai rumus: Al2O3 2SiO2 2H2O dengan perbandingan berat dari

unsur-unsurnya: Oksida Silinium (SiO2) 47%, Oksida Aluminium (Al2O3) 39%, dan Air

(H2O) 14%.

Tanah liat memiliki sifat-sifat yang khas yaitu bila dalam keadaan basah

mempunyai sifat plastis tetapi bila dalam keadaan kering akan menjadi keras,

sedangkan bila dibakar akan menjadi padat dan kuat. Pada umumnya, masyarakat

memanfaatkan tanah liat (lempung) sebagai bahan baku pembuatan bata dan gerabah.

2. Kaolin (Al2O3 2SiO2 2H2O)

` Kaolin adalah jenis lempung yang mengandung mineral kaolinit dan terbentuk

(22)

Kaolin adalah bahan keramik yang harus dicampur dengan bahan lainnya,

misalnya ball clay. Hal ini dilakukan untuk menambah keplastisan dan mengurangi

ketahanan api karena bahan ini bersifat kurang plastis dan sangat tahan api. Titik

lelehnya lebih kurang 1800°C. Kaolin digunakan untuk membuat gerabah, porselin

dan tegel.

3. Kuarsa (SiO2 )

Kuarsa (mineral silica) adalah salah satu komponen utama dalam pembentukan

keramik dan banyak terdapat di permukaan bumi (sekitar 60%). Bentuk umum fasa

kristal kuarsa adalah tridimit, quartz dan kristobalit, tergantung pada temperaturnya.

Jenis kristal silica yang ada di alam adalah kuarsa, sedangkan tridimit dan kristobalit

jarang dijumpai. Kuarsa memiliki keplastisan rendah dan titik lebur tinggi sekitar

1728°C, tetapi hasil pembakarannya kuat dan keras. Bahan baku kuarsa dapat

diperoleh dari batuan atau pasir kuarsa dengan kandungan silica tinggi.

4. Feldspat

Feldspat adalah suatu kelompok mineral yang berasal dari batu karang yang

ditumbuk dan dapat memberikan sampai 25 % flux (pelebur) pada badan keramik.

Bila keramik dibakar, feldspat akan meleleh (melebur) dan membentuk leburan gelas

yang menyebabkan partikel tanah dan bahan lainnya melekat satu sama lain. Pada saat

membeku, bahan ini memberikan kekuatan pada badan keramik. Feldspat tidak larut

dalam air, mengandung alumina, silica dan flux yang digunakan untuk membuat

gelasir suhu tinggi, tetapi agar lebih memuaskan harus dicampur dengan kaolin.

(23)

2.1.3. Jenis- Jenis Keramik

Sampai saat ini, telah bermacam-macam keramik yang dihasilkan sesuai

dengan perkembangan teknologi yang ada. Pengelompokannya didasari atas beberapa

kriteria, antara lain :

1. Berdasarkan teknik pembuatannya, keramik dibedakan atas dua jenis, yaitu :

a. Keramik kuno

Keramik kuno adalah keramik yang terbuat dari tanah liat (lempung) yang

dibakar dengan teknik pembuatan sangat sederhana dan peralatan yang dipakai sangat

tradisional. Keramik jenis ini biasanya berupa alat-alat rumah tangga seperti guci,

gerabah , kendi, belanga, dan lain-lain.

b. Keramik Modern (Fine Ceramics)

Keramik modern adalah keramik yang terbuat dari bahan tertentu selain tanah

liat atau lempung yang teknik pengerjaannya sesuai kemajuan teknologi dan peralatan

yang dipakai juga lebih modern (canggih). Penggunaannya tidak terbatas hanya

peralatan rumah tangga tetapi telah meluas ke berbagai bidang, misalnya konstruksi,

elektronika dan sebagainya.

2. Berdasarkan sifat dan kegunaannya, keramik terbagi atas enam jenis yaitu :

a. Keramik konstruksi

Keramik konstruksi adalah keramik yang digunakan untuk bahan konstruksi

(24)

c. Keramik Elektronik

Keramik elektronik adalah keramik yang digunakan sebagai bahan komponen

elektronika karena sifat listriknya dapat menjadi isolator, semikonduktor,

konduktor bahkan superkonduktor. Contohnya, resistor, kapasitor dan dioda.

d. Keramik Optik

Keramik optik adalah keramik yang terbuat dari bahan gelas dan dapat tembus

cahaya. Contohnya, kaca jendela, peralatan gelas, gelas optik dan serat optik.

e. Keramik Refraktori

Keramik refraktori adalah keramik yang tahan api atau tahan terhadap suhu

yang tinggi dan banyak mengandung silika. Biasanya keramik jenis ini banyak

digunakan sebagai bahan tungku pada industri dengan temperatur tinggi, misalnya

industri peleburan besi dan baja.

f. Komposit Keramik

Komposit keramik adalah keramik yang diperkuat dengan matriks yang

diproses pada suhu bakar rendah dan biasanya digunakan sebagai bahan bangunan

konstruksi ringan.

2.1.4. Sifat-Sifat Keramik

Sifat-sifat dari keramik dipengaruhi oleh perubahan mikrostruktur pada batas

butiran maupun pada porositasnya. Sifat-sifat keramik antara lain :

a. Keras, kuat, tetapi bersifat getas atau mudah pecah.

b. Tahan terhadap korosi.

c. Kapasitas panas yang baik dan konduktivitas panas yang rendah.

d. Sifat listriknya dapat menjadi isolator, semikonduktor, konduktor bahkan

superkonduktor.

(25)

2.1.5. Kegunaan Keramik

Keramik banyak digunakan dalam berbagai bidang terutama dalam bidang

konstruksi dan rumah tangga. Pada umumnya keramik banyak dipakai sebagai

peralatan rumah tangga seperti periuk, belanga, kendi dan berbagai jenis gerabah

lainnya. Selain itu banyak pula yang menggunaannya sebagai barang-barang seni dan

dekorasi, misalnya guci, vas bunga, piring dan gelas hias. Bahan-bahan bangunan juga

banyak yang terbuat dari keramik seperti batu bata, tegel, ubin dan sebagainya.

Karena sifatnya yang tahan panas, tidak korosi dan bersifat isolator, keramik

digunakan sebagai bahan pembuatan komponen elektronika misalnya untuk resistor,

kondensator dan dioda.

2.2. Bahan Baku

2.2.1. Limbah Padat Pulp

Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik

industri maupun domestik (rumah tangga), yang kehadirannya pada suatu saat dan

tempat tertentu tidak dikehendaki lingkungan karena tidak memiliki nilai ekonomis.

Seiring dengan peningkatan industri, juga akan terjadi peningkatan jumlah

limbah. Bermacam limbah industri yang dapat mencemari lingkungan antara lain:

limbah industri tekstil, limbah agroindustri (limbah kelapa sawit, limbah industri karet

(26)

Dampak dari kegiatan industri yang berpengaruh buruk tersebut terutama

disebabkan oleh bahan-bahan pencemar yang dihasilkan oleh pabrik-pabrik industri.

Bahan-bahan buangan tersebut dapat mencemari udara, perairan, dan tanah terutama

disekitar kawasan industri tersebut.

Pulp (bubur kertas) merupakan susunan yang terdiri dari komponen-komponen

senyawa organik, antara lain : selulosa, hemiselulosa, zat ekstraktif dan lignin dalam

jumlah kecil. Sumber utama serat selulosa sebagai bahan baku pembuatan pulp (bubur

kertas) diperoleh dari biomassa seperti kayu, jerami, batang tebu, bambu, dan

lain-lain. Secara kimia, kandungan tiap zat berbeda-beda. Unsur-unsur kimia yang terdapat

di dalamnya terdiri dari karbon, oksigen, hidrogen dan sejumlah kecil nitrogen.

Kayu merupakan komponen utama untuk pembuatan pulp. Jenis kayu yang

digunakan dalam industri kertas ada 2 jenis yaitu:

1. Hardwood (serat pendek), contoh: meranti

2. Softwood (serat panjang), contoh: pinus, akasia, eukaliptus.

Proses pembuatan pulp (bubur) bertujuan untuk memisahkan serat-serat

selulosa dari komponen lain yang tidak diinginkan yang terdapat dalam bahan berserat

selulosa menjadi individu-individu serat.

Limbah padat pulp adalah limbah yang diperoleh dari sisa-sisa pengolahan

industri pulp. Limbah ini berupa pasir (grits), ampas (dregs), dan lumpur hidup (bio

sludge).Grits berasal dari proses pemisahan antara selulosa dan zat kapur sebelum

kayu dimasak dan tidak bereaksi antara cairan hijau (green liquor) dan kapur tohor,

berwarna coklat muda, kandungan utamanya pasir yang mengandung hidroksida. Grits

mempunyai densitas 1,88 g/cm3. Komposisi kimia dari grits ditunjukkan pada tabel

(27)

Ampas (dregs) adalah material padat yang berwarna abu-abu kecoklatan yang

merupakan bahan endapan dari cairan hijau (green liquor) yaitu bubur (smelt) yang

dilarutkan dengan natrium hidroksida (NaOH). Kandungannya silika dan karbon

residu organik yang tidak sempat terbakar dalam boiler, bahan ini kaya akan karbon

karena tidak bereaksi. Dregs mempunyai densitas 1,92 g/cm3. Komposisi kimia dari

dregs ditunjukkan pada tabel 2.1.

Lumpur hidup (bio sludge) merupakan limbah dari proses pembuatan pulp

dan industri kertas yang berupa campuran dari endapan limbah cair, berwarna cokelat

kehitaman, kandungan utamanya adalah selulosa dan bakteri yang mati. Biosludge

mempunyai densitas 1,65 g/cm2

No

.

Komposisi kimia limbah padat pulp yaitu grits dan dregs PT. TPL Porsea

dapat dilihat pada tabel (2.1) berikut ini:

Tabel 2.1. Komposisi Kimia Limbah Padat Pulp

Parameter

Komposisi

(% berat)

Grit Dreg

1 Al2O3 24,74 26,35

(28)

6 CaO 2,12 2,30

7 Fe2O3 2,62 2,34

8 TiO2 3,38 3,31

(Sumber :Fani Besprina)

2.2.2. Kaolin (Al2O3 2SiO2 2H2O)

Kaolin adalah salah satu jenis lempung yang mengandung mineral kaolinit

yang terbentuk melalui proses pelapukan. Kaolin merupakan jenis tanah liat primer

yang digunakan sebagai bahan utama dalam pembuatan keramik putih, dan

mengandung mineral kaolinit Al2Si2O5(OH)4 sebagai bagian yang terbesar, sehingga

kaolin biasanya disebut sebagai lempung putih.

Dilihat dari sifat dan keadaan bahan, kaolin berwarna putih karena kandungan

besinya sangat rendah, plastis, berbutir kasar, massa jenis 2,60-2,63 g/cm3

0

, titik lebur

1850 C, daya hantar panas dan listrik yang rendah. Kaolin juga mempunyai tingkat

keplastisan yang rendah sehingga taraf penyusutan dan kekuatan keringnya pun lebih

rendah dan sangat tahan api. Oleh karena itu kaolin tidak dapat dipakai begitu saja

untuk membuat barang-barang keramik, melainkan harus dicampur dahulu dengan

bahan lain. Komposisi kimia dari kaolin dapat dilihat pada tabel 2.2 berikut :

Tabel 2.2 Komposisi Kimia Kaolin

No Komponen % berat

1 SiO2 71,20

(29)

3 Fe2O3 2,00

4 TiO2 0,26

5 CaO 0,15

6 MgO 3,55

7 K2O 0,27

8 Na2O 0,51

9 LOI 8,70

Sumber: Fani Besprina

Kaolin banyak dipakai dalam berbagai industri, baik sebagai bahan baku

utama maupun sebagai bahan pembantu. Hal ini karena adanya sifat-sifat kaolin

seperti kehalusan, kekuatan, warna, daya hantar listrik dan panas yang rendah, dan

lain-lain. Dalam industri, kaolin dapat berfungsi sebagai pelapis (coater), pengisi

(filler), barang-barang tahan api dan isolator. Penggunaan kaolin yang utama adalah

dalam industri-industri kertas, keramik, cat, karet/ban, plastik, semen, pestisida,

pupuk, absorbent, kosmetik, pasta gigi, detergent, tekstil, dan lain-lain.

Kaolin ini juga dapat dipakai sebagai bahan konstruksi, seperti:

a. Keramik halus (gerabah putih atau white-earthenware) dan porselen, baik

sebagai salah satu komponen dalam badan maupun gelasir

(30)

2.2.3. Sekam Padi

Sekam padi merupakan salah satu limbah dari produk pertanian. Sekam padi

atau kulit padi adalah bagian terluar dari butir padi yang menjadi hasil sampingan

saaat proses penggilingan padi dilakukan sekitar 20 % dari bobot padi adalah sekam

padi dan kurang lebih 15 % dari komposisi sekam adalah abu sekam padi yang

dihasilkan saat sekam tersebut dibakar.

Sekam padi mengandung abu yang mempunyai kandungan silica yang tinggi

dan selulosa yang menghasilkan karbon ketika terdekomposisi secara termal. Namun

bila pembakaran dilakukan secara terus menerus pada suhu di atas 650°C akan

menaikkan kristalinitasnya dan akhirnya fasa kristobalit dan tridimit dari silica sekam

akan terbentuk. Komposisi kimia adari abu sekam padi dapat dilihat pada table

berikut.

Tabel 2.3 Komposisi kimia abu sekam padi

No Komponen

Jumlah

{dalam % berat

kering)

1 SiO2 86,90 – 97,30

2 K2O 0,58 – 2,50

3 Na2O 0,01 – 1,75

4 CaO 0,20 – 1,50

5 MgO 0,12 – 1,96

6 Fe2O3 0,01 – 0,54

(31)

7 P2O5 0,20 – 2,85

8 SO3 0,10 – 1,13

9 Cl 0,01 – 0,42

(Sumber: Rina Wardany)

2.3. Proses Pembentukan Keramik

Material keramik umumnya berupa senyawa polikristal yang proses

pembuatannya dapat dikelompokkan menjadi beberapa tahap yaitu: Preparasi serbuk,

pembentukan, pengeringan dan pembakaran (sintering). Pada proses pembentukan

keramik terjadi perubahan structural dari butiran-butirannya yang semula renggang

menjadi padat dan memiliki batas butiran (saat terjadi sintering), seperti yang

ditunjukkan pada gambar 2.1 berikut :

Pembentukan Sintering

Serbuk Bahan Baku Produk yang dibentuk Produk yang telah disinter

Gambar 2.1. Perubahan struktur pada proses pembuatan keramik

(32)

Karena pada keramik tradisional hanya memerlukan bahan baku alam dengan

kemurnian yang tidak perlu tinggi, sedangkan untuk pembuatan keramik teknik

diperlukan bahan baku dengan kemurnian tinggi serta terkontrol agar diperoleh sifat

bahan yang diinginkan sesuai dengan aplikasinya.

2.3.1. Preparasi Serbuk

Pada proses preparasi serbuk, beberapa factor yang menentukan sifat produk

keramik adalah : kemurnian bahan, homogenitas dan kehalusan serbuk. Teknik

preparasi serbuk keramik dapat dikelompokkan 3 macam yaitu : konvensional, kimia

basah/larutan dan preparasi dalam fasa gas.

Salah satu diantaranya yang diterapkan adalah teknik konvensional. Teknik ini

berupa pencampuran padat-padatan (solid-solid mixing) yang umumnya digunakan

pada industri keramik. Proses penghalusan dan homogenisasi dilakukan dengan alat

penggiling yaitu ball mill.

2.3.2. Proses Pembentukan

Sebelum pembentukan, terlebih dahulu dilakukan pencampuran (mixing)

untuk mendapatkan campuran material bahan baku keramik dengan pengaturan

komposisi dan ukuran butir hingga homogen. Proses pencampuran ini dapat

meningkatkan densitas dan mengurangi porositas yang terdapat dalam keramik

tersebut.

Pada umumnya pembentukan keramik dilakukan dengan pengadukan serbuk

(33)

Ada beberapa proses atau cara pembentukan keramik, diantaranya:

a. Cetak Tekan Kering (Dry Pressing)

Metode ini merupakan pembentukan terhadap serbuk halus yang mengandung

sedikit air atau penambahan bahan organik dengan pemberian tekanan yang

dibatasi oleh cetakan menjadi produk padat yang kuat. Pada metode ini bahan

(serbuk) dicampur dengan air (7-10 %) agar tetap lembab sehingga menambah

sifat plastis bahan. Proses pembentukan ini cocok digunakan untuk membuat

bentuk yang sederhana dan tebal sehingga banyak digunakan oleh pabrik

refraktori untuk menghaslkan produk-produk seperti ubin lantai dan dinding.

b. Cetak Dorong (Extrussion Molding)

Pembentukan keramik dengan metode ini dilakukan untuk bahan yang

memiliki plastisitas yang tinggi, dengan cara mendorong bahan plastis (kadar

air antara 12-20%) melalui ruang kosong sehingga diperoleh bentuk dengan

penampang melintang yang tetap. Metode ini digunakan pada pembentukan

batu bata, pipa, dan tegel berlubang.

c. Cetak Tekan dengan Karet (Rubber Mold Pressing)

Pembentukan terhadap serbuk halus dengan menggunakan pembungkus yang

terbuat dari karet serta diberi tekanan ke keseluruh permukaan karet, dan

menghasilkan bahan yang padat.

(34)

Pada penelitian ini diterapkan proses pembentukan dengan cara cetak tekan

kering (dry pressing).

2.3.3. Pengeringan

Pada umumnya, pengeringan zat padat berarti pemisahan sejumlah kecil air

atau zat cair lainnya dari bahan padat, sehinnggga mengurangi kandungan sisa zat cair

di dalam zat padat tersebut. Proses ini harus dikontrol, karena melibatkan penekanan

yang diakibatkan oleh perbedaan shrinkage atau tekanan gas dapat menyebabkan cacat

pada produk yang dihasilkan. Pada sistem pengeringan, energi panas harus melewati

permukaan produk, yang selanjutnya akan menghasilkan uap air. Selama pengeringan,

pemanasan akan meningkatkan tekanan uap air dari cairan dan kapasitas penyerapan

dari udara kering.

Benda-benda yang akan dibakar harus dikeringkan terlebih dahulu, karena jika

masih basah, kemungkinan akan terjadi ledakan uap air sewaktu dibakar, sehngga

dapat terjadi keretakan. Mengeringkan benda keramik berarti menghilangkan apa yang

disebut air plastisnya saja, sedangkan air yang terikat dalam molekul bahan keramik

(air kimia) hanya dapat dihilangkan melalui pembakaran. Proses pengeringan dapat

juga diikuti dengan proses penyusutan.

Kerusakan seperti cacat/retak dapat terjadi pada saat pengeringan karena

pencampuran bahannya yang tidak homogen dan pengeringan yang tidak sama pada

bagian-bagiannya. sehingga terjadi tegangan-tegangan antara bagian-bagian tersebut.

Permukaaan yang retak tersebut menunjukkan permukaaan bahan yang rapuh.

Kelebihan kadar air dapat juga membuat permukaan produk menjadi lengkung, retak

dan keporiannya meningkat.

(35)

Lengkungan dihasilkan oleh pengeringan yang tidak merata dan terjadi

penyusutan sehingga bentuknya berubah.

2.3.4. Pembakaran dan Sintering

Pembakaran adalah suatu perlakuan yang utama dalam pembuatan bahan

keramik. Tujuan dari pembakaran ini adalah untuk mengaglomerasi partikel kedalam

bentuk massa koheren melalui proses sintering. Sintering adalah pengikatan massa

partikel pada serbuk oleh atraksi molekul dalam bentuk padat dengan perlakuan panas

dan menyebabkan kekuatan pada massa serbuk. Faktor-faktor yang menentukan

proses dan mekanisme sintering antara lain jenis bahan, komposisi, bahan

pengotornya dan ukuran partikel. Proses sintering dapat berlangsung apabila :

1. Adanya transfer materi diantara butiran yang disebut proses difusi.

2. Adanya sumber energi yang dapat mengaktifkan transfer materi, energi

tersebut digunakan untuk menggerakkan butiran hingga terjadi kontak dan

ikatan yang sempurna.

Difusi adalah aktivitas termal yang berarti bahwa terdapat energi minimum yang

dibutuhkan untuk pergerakan atom atau ion dalam mencapai energi yang sama atau di

atas energi aktivasi untuk membebaskan dari letaknya semula dan bergerak ke tempat

yang lain yang memungkinkannya.

(36)

3. Tahapan pertengahan sintering : pori-pori dan ukuran butiran mulai membesar.

4. Tahapan akhir sintering : pada tahapan ini batas butir bergerak dan terjadi

pembesaran ukuran butiran dan sekaligus terjadi penyusutan.

2.4 Pengujian Sampel 2.4.1 Porositas

Porositas dinyatakan dalam % yang menghubungkan antar volume pori

terbuka terhadap volume benda keseluruhan. Pengujian porositas dilakukan dengan

cara: sampel yang telah dibakar, ditimbang massanya (m ) kemudian direndam k

dalam air selama 2 hari dan ditimbang massa basahnya (m ). Untuk menentukan b

porositas dapat dihitung menggunakan rumus :

Porositas (%) = x 1 x100%

Tujuan pengujian densitas pada penelitian ini adalah untuk mengetahui

kerapatan atau kepadatan dari suatu bahan. Densitas didefenisikan sebagai

(37)

Pengujian densitas dilakukan dengan cara menimbang massa dan volume

sampel yang telah dibakar. Densitas sampel dapat dihitung menggunakan persamaan

berikut:

Pengujian kuat tekan dilakukan dengan cara menyalakan alat UTM (Universal

Testing Machine), kemudian memposisikan jarum skala gaya pada skala 0. Sampel

keramik diletakkan pada dasar alat UTM. Setelah itu dinyalakan tombol penekan.

Ketika sampel sudah menunjukkan keadaan retak (tampak pada penglihatan mata)

maka tombol penekan UTM dimatikan.

Persamaan kuat tekan :

...(2.3)

(38)

2.4.4 Susut Bakar

Susut Bakar adalah perubahan dimensi atau volume bahan yang telah dibakar.

Salah satu parameter yang menunjukkan terjadinya proses sintering adalah penyusutan

akibat adanya perubahan mikrostruktur (butir atau batas butir). Sebelum dan sesudah

dibakar, diameter sampel diukur dengan jangka sorong. Persamaan yang dipakai untuk

menentukan besarnya susut bakar adalah:

Susut Bakar (%) =

0 1 0

d d

d

x 100 % ...(2.4)

dengan:

d0 = Diameter sampel uji sebelum dibakar (mm)

(39)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Alat dan Bahan 3.1.1 Peralatan

Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini, adalah:

1. Ball Mill berfungsi untuk menghancurkan atau menggiling bahan yang masih

kasar agar halus dan mudah diayak

2. Neraca Analitik berfungsi untuk mengukur berat bahan dan sampel

3. Jangka sorong berfungsi untuk mengukur diameter dan tinggi sampel

4. Ayakan 200 mesh berfungsi untuk mengayak/menyaring butiran bahan

5. Mixer berfungsi untuk mencampur bahan-bahan agar merata (homogen)

6. Cetakan berbentuk silinder dengan ukuran diameter 5 cm dan tinggi 2,5 cm

7. Tungku berfungsi untuk membakar sampel

8. Alat penekan cetakan (press hydrolic) berfungsi untuk mencetak sampel

9. UTM (Universal Tensile Machine) berfungsi untuk pengujian kuat tekan

sampel

3.1.2 Bahan-bahan

(40)

3.2. Diagram Alir Penelitian

3.2.1 Diagram Alir Pembuatan Sampel Uji

- Porositas (Cetak Tekan 5000 kgf)

PENGUJIAN SAMPEL UJI

ANALISA DATA PEMBAKARAN (600°C, penahanan 1 jam)

HASIL PENGERINGAN

(41)

3.3 Prosedur Pembuatan Sampel Uji 3.3.1 Persiapan Bahan

Langkah pertama yang dilakukan sebelum membuat sampel adalah

mempersiapkan bahan-bahan yang akan dijadikan sampel uji, antara lain :

a. Limbah padat pulp dregs yang masih kasar terlebih dahulu dihancurkan

dengan ball mill supaya halus kemudian diayak/disaring menggunakan

ayakan 200 mesh sampai terbentuk serbuk halus (powder).

b. Kaolin dihancurkan dengan ball mill dan dihaluskan kemudian diayak

menggunakan ayakan 200 mesh sampai terbentuk serbuk halus (powder).

c. Sekam padi dibakar sampai menjadi abu kemudian diayak dengan ayakan

200 mesh sampai terbentuk serbuk halus (powder).

3.3.2 Pencampuran Bahan

a. Setelah bahan-bahan dipersiapkan, kemudian masing-masing ditimbang

sesuai dengan komposisi yang telah ditentukan. (seperti pada tabel Tabel

3.1)

b. Selanjutnya, masing-masing komposisi bahan dicampur menggunakan

mixer agar merata (homogen) kemudian dicampur dengan air secukupnya

(42)

Tabel 3.1 Komposisi Campuran Limbah Padat Pulp Dregs, Kaolin dan Abu sekam padi

Kode Sampel

Uji

Komposisi Campuran Sampel Uji

Dregs

Keterangan Kode Sampel Uji :

A. Dregs 30%, Kaolin 60%,Abu sekam padi 10%

B. Dregs 45%, Kaolin 45%, Abu sekam padi 10%

C. Dregs 60%, Kaolin 30%, Abu sekam padi 10%

D. Dregs 75%, Kaolin 15%, Abu sekam padi 10%

E. Dregs 90%, Kaolin 0 %, Abu sekam padi 10%

3.3.3 Pencetakan / Pembentukan Sampel

Pencetakan sampel uji dilakukan dengan alat cetak tekan (press hydrolic) dan

menggunakan metode dry pressing. Serbuk yang telah dicampur merata dituang ke

dalam cetakan berbentuk silider dengan ukuran diameter = 5 cm dan tinggi 2,5 cm

(43)

d = 5 cm

t = 2,5 cm

Gambar 3.1 Cetakan sampel uji berbentuk silinder

3.3.4 Pengeringan

Proses pengeringan dilakukan dengan cara didiamkan di suhu ruangan selama

1 hari dan tidak sampai terkena sinar matahari langsung.

3.3.5 Pembakaran dan Sintering

Proses sintering merupakan tahapan yang sangat penting dalam menentukan

sifat-sifat produk keramik. Faktor-faktor yang menentukan proses dan mekanisme

sintering adalah jenis bahan, komposisi bahan, dan ukuran partikel.

Sebelum melakukan proses ini, terlebih dahulu diukur diameter sampel dengan

jangka sorong, sebagai data untuk uji susut bakar. Kemudian dimasukkan ke tungku

pembakaran dengan suhu 600 0C dan waktu penahanan 1 jam. Hal ini ditujukan agar

keramik yang dihasilkan tidak hancur.

(44)

3.4.2 Pengujian Densitas

Pengujian densitas dilakukan dengan cara terlebih dahulu menimbang massa

dan volume sampel setelah dibakar, kemudian dihitung menggunakan persamaan 2.2.

3.4.3 Pengujian Kuat Tekan

Pengujian kuat tekan dilakukan menggunakan UTM (Universal Tensile

Machine) untuk mengukur batas kekuatan sampel saat ditekan dengan beban (beban

maksimum) sampai sampel tersebut retak. Kemudian dilakukan perhitungan dengan

persamaan 2.3 setelah dicari tekanan dan luas bidang permukaan sampel.

3.4.4 Pengujian Susut Bakar

Pengujian susut bakar dilakukan menggunakan persamaan 2.4, terlebih dahulu

diukur diameter sampel sebelum dibakar dan setelah dibakar dengan memakai jangka

(45)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1Hasil Penelitian

4.1.1 Hasil Pengujian Porositas

Hasil pengujian porositas yang diperoleh dari persamaan 2.1 dapat dilihat pada

฀able berikut :

Tabel 4.1 Data hasil pengujian porositas

(46)

E

4.1.2 Hasil Pengujian Densitas

Hasil pengujian densitas yang diperoleh dari persamaan 2.2 dapat dilihat pada

฀ampl berikut :

Tabel 4.2 Data hasil pengujian densitas

(47)

D

4.1.3 Hasil Pengujian Kuat Tekan

Hasil pengujian kuat tekan yang diukur dengan alat Universal Testing Machine

(UTM) dan dihitung menggunakan persamaan 2.3 dapat dilihat pada ฀able berikut :

Tabel 4.3 Data hasil pengujian kuat tekan

(48)

C

4.1.4 Hasil Pengujian Susut Bakar

Hasil pengujian susut bakar yang diperoleh dengan persamaan 2.4 dapat dilihat

pada tabel berikut :

Tabel 4.4 Data hasil pengujian susut bakar

(49)
(50)

4.2 Pembahasan

4.2.1 Pengujian Porositas

Gambar 4.1 Grafik Porositas Terhadap Persentase Komposisi Kaolin

Dari tabel hasil pengujian porositas diperoleh bahwa pada sample uji A, B, C,

D dan E dengan persentase kaolin 60%, 45%, 30%, 15% dan 0 % berturut-turut adalah

41,6%, 40,74%, 33,93%, 38,08% dan 39,70%.

Dari grafik terlihat bahwa pada sampel uji E, D dan C porositasnya semakin

menurun, tetapi pada sample A dan B porositasnya naik. Hal ini terjadi karena adanya

ikatan yang kurang kuat saat pencampuran bahan antara kaolin dan dregs sehingga

pada saat terjadi pembakaran, pori-pori membesar dan merenggang.

(51)

4.2.2 Pengujian Densitas

Gambar 4.2 Grafik Densitas Terhadap Persentase Komposisi Kaolin

Dari tabel hasil pengujian densitas diperoleh densitas pada persentase kaolin

60%, 45%, 30%, 15% dan 0 % berturut-turut adalah 1,31 g/cm3 , 1,30 g/cm3 , 1,28

g/cm3 , 1,30 g/cm3 dan 1,73 g/cm3. Densitas terbesar diperoleh pada sampel A dengan

komposisi kaolin 60%,dregs 30% dan abu sekam padi 10% yaitu 1,31 g/cm3.

Semakin kecil persentase kaolin maka densitasnya semakin besar, tetapi pada

grafik terlihat bahwa pada sampel D terjadi kenaikan. Hal ini disebabkan karena saat

pembakaran butiran-butiran dalam bahan tersebut merenggang sehingga terjadi

(52)

4.2.3 Pengujian Kuat Tekan

Gambar 4.3 Grafik Kuat Tekan Terhadap Persentase Komposisi Kaolin

Dari tabel hasil pengujian kuat tekan diperoleh kuat tekan pada persentase

kaolin 60%, 45%, 30%, 15%, dan 0 % berturut-turut adalah 6,53MPa, 8,67MPa,

20,94MPa,18,61 MPa dan 2,28MPa. Kuat tekan tertinggi yaitu 20,94MPa dengan

komposisi kaolin 30 % dan dregs 60%. Sedangkan kuat tekan terendah yaitu 2,28

MPa dengan komposisi kaolin 0 % dan dregs 90 %.

Dari grafik terlihat bahwa pada sampel E, D dan C kuat tekannya semakin

besar tetapi pada sampel A dan B terjadi penurunan yang sangat drastis. Hal ini terjadi

karena komposisi bahan antara kaolin dan dregs kurang sesuai. Terlalu banyak kaolin

dan terlalu banyak dregs mengakibatkan ikatan antar butirannya tidak kuat sehingga

(53)

4.2.4 Pengujian Susut Bakar

Gambar 4.4 Grafik Susut Bakar Terhadap Persentase Kaolin

Dari grafik terlihat bahwa pada sampel A dengan persentase kaolin 60% ,

dregs 30% dan abu sekam padi 10% susut bakarnya 1,66%. Pada sampel B dengan

persentase kaolin 45%, dregs 45% dan abu sekam padi 10 %, susut bakarnya 1,52 %.

Pada sampel C dengan persentase kaolin 30%, dregs 60% dan abu sekam padi 10 %,

susut bakarnya 1,35 %. Pada sampel D dengan persentase kaolin 15%, dregs 75% dan

abu sekam padi 10 %, susut bakarnya 1,20 %. Pada sampel E dengan persentase 0 %

(54)

Dilihat dari komposisinya, limbah padat dregs adalah bahan yang kaya akan

karbon karena tidak bereaksi, sehingga pada saat pembakaran, sampel dengan

komposisi limbahnya cukup besar, akan cepat terbakar atau menguap. Persentase

kaolin yang kecil dapat mengakibatkan kaolin tidak mampu berperan sebagai

pengikat. Selain komposisi, suhu pembakaran juga mempengaruhi terbentuknya

keramik. Tidak tercapainya suhu sinter dan waktu pembakaran yang terlalu singkat

membuat proses sintering tidak terjadi secara maksimal.

Salah satu parameter yang menunjukkan terjadinya proses sintering adalah

penyusutan, yang dapat dilihat dari berkurangnya ukuran volume atau diameter

sampel setelah dibakar. Penyusutan terjadi akibat proses pemadatan dan pengurangan

pori setelah sintering. Pada sampel keramik terjadi perubahan mikrostruktur (butir

(55)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil pembahasan diatas, maka penulis dapat menarik kesimpulan

sebagai berikut:

1. Variasi komposisi antara limbah padat pulp dregs yang diberi penambahan

kaolin dan abu sekam padi sangat berpengaruh terhadap karakteristik keramik

Hasil pengujian kuat tekan menunjukkan bahwa pada persentase 60% limbah

padat pulp dregs yang dicampurkan dengan kaolin 30% menghasilkan kuat

tekan yang cukup besar yaitu sebesar 22,94 MPa. Sedangkan pada persentase

campuran yang tidak menggunakan kaolin atau kaolinnya 0 %, kuat tekan

yang dihasilkan sangat kecil yaitu 2,28 MPa. Hal ini menunjukkan bahwa

penambahan kaolin sangat berpengaruh terhadap kekuatan keramik.

2. Penggunaan suhu pembakaran 600°C mengakibatkan keramik yang dihasilkan

kurang sintering atau pengikatan massa partikel saat terjadinya sintering agar

massa tersebut kuat satu sama lain tidak terjadi (karena sintering terjadi pada

suhu 900°C) sehingga keramik yang dihasilkan kualitasnya kurang baik untuk

bahan konstruksi seperti ubin dan tegel tetapi dapat digunakan sebagai batu

(56)

4. Penambahan abu sekam padi mengakibatkan kandungan silika pada keramik

menjadi bertambah besar sehingga keramik yang dihasilkan memiliki pori-pori

yang cukup banyak (dilihat dari nilai porositas yang dihasilkan).

5.2 Saran

1. Perlu kiranya dilakukan penelitian lebih lanjut tentang pemanfaatan limbah

padat pulp dengan penambahan kaolin sebagai bahan pembuatan keramik

dengan persentase yang berbeda untuk mendapatkan keramik dengan sifat

fisis dan mekanis yang lebih baik sehingga lebih bernilai ekonomis dan

menguntungkan.

2. Sebaiknya suhu pembakaran diatas 6000C (sekitar 1000°C keatas)

3. Diharapkan pada penelitian selanjutnya dilakukan pengujian lainnya seperti

uji kekerasan, koefisien ekspansi termal dan SEM (Scanning Electron

Microscope).

dan waktu

penahanannya divariasikan supaya keramik dapat mengalami proses sintering

yang sempurna serta bahan yang digunakan dan komposisi bahan yang sesuai

untuk suhu yang tinggi tersebut perlu diperhatikan sebab jika tidak sesuai

(57)

DAFTAR PUSTAKA

Astuti, Ambar, 1997, Pengetahuan Keramik, Gajah Mada University Press, Yogyakarta

Daryanto, 1994, Pengetahuan Teknik bangunan, Rineka Cipta, Jakarta

David K, Feldbeck, 1984, Strength and Fracture of Engineering Solids, Prentice-Hall, New Jersey

Harefa, Fani Besprina, 2009, Pemanfaatan Limbah Padat Pulp Grits dan Dregs dengan Penambahan Kaolin Sebagai Bahan Pembuatan Keramik Konstruksi, Skripsi, Medan

Sembiring, Anwar Dharma, 2007, Teori Pengantar Keramik, Medan

Shackelford, James F, 1996, Introduction to Materials For Engineers, Fourth Edition, Prentice-Hall, New Jersey

Surdia T dan Saito S, 1995, Pengetahuan Bahan Teknik, Pradnya Paramita, Jakarta

S Timoshenko, 1999, Dasar-Dasar Perhitungan Kekuatan Bahan, Restu Agung, Jakarta

Van Vlack, Lawrence H, 1982, Materials For Engineering: Concept and Application, Addison Wesley Publishing Company, Massachusets

Van Vlack, Lawrence H, 2004, Elemen-Elemen Ilmu dan Rekayasa Material, Edisi Keenam, Terjemahan Sriati Djaprie, Erlangga, Jakarta

Vernon, Jhon, 1992, Introduction to Engineering Materials, Third Edition, MacMillan Education, London

(58)

LAMPIRAN 1

3. Neraca Analitik dan Jangka Sorong

(59)

4. Press Hydrolic 5 Ton

(60)

LAMPIRAN 2

GAMBAR BAHAN-BAHAN PERCOBAAN

1. Kaolin

(61)

3. Abu Sekam Padi

Gambar

Tabel 2.1.  Komposisi Kimia Limbah Padat Pulp
Tabel 2.2  Komposisi Kimia  Kaolin
Tabel 2.3  Komposisi kimia abu sekam padi
Gambar 2.1. Perubahan struktur pada proses pembuatan keramik
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pembuatan dan Karakterisasi Keramik konstruksi dengan variasi bahan pengisi limbah padat pulp berupa dreg, grit, biosludge dan penambahan bahan baku Bentonit 50 gram, 60 gram,

Salah satu upaya untuk mengatasi urungan dari limbah padat pulp berserat ini adalah memanfaatkannya menjadi produk yang bernilai tambah, diantaranya sebagai bahan baku untuk

Dari hasil pengukuran yang telah dilakukan terhadap sampel keramik berpori berbahan baku kaolin, alumina, debu vulkanik gunung Sinabung dengan penambahan aditif

Kualitas bahan baku terutama kaolin umumnya sangat bervariasi dan sebagai bahan keramik porselen umumnya bahan kaolin tidak bisa langsung digunakan sehingga perlu

Hasil penelitian menunjukkan bahwa campuran yang bagus sesuai dengan percobaan adalah berupa campuran pasir dan limbah padat pulp dregs dengan perbandingan (90:10) gr

Dari penguraian di atas maka akan dilakukan penelitian mengenai pembuatan genteng polimer dengan pemanfaatkan limbah padat pulp dregs dengan perekat resin poliester2. Oleh

Keramik dibuat dengan bahan dasar kaolin, alumina, debu vulkanik gunung Sinabung dan karbon aktif.. Metode yang digunakan adalah dye pressing, perbandingan kaolin

Mengolah limbah padat oil s ludge dengan menstabilkan kandungan logam berat yang terkandung dalam oil sludge menjadi material pencampur keramik sehingga dapat