• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pola Ekspresi HER 2 Dan Grading Histopatologi Pada Penderita Kanker Payudara Di RSUP H.Adam Malik Medan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Pola Ekspresi HER 2 Dan Grading Histopatologi Pada Penderita Kanker Payudara Di RSUP H.Adam Malik Medan"

Copied!
55
0
0

Teks penuh

(1)

POLA EKSPRESI HER 2 DAN GRADING HISTOPATOLOGI

PADA PENDERITA KANKER PAYUDARA

DI RSUP H.ADAM MALIK MEDAN

PENELITI

JOSUA PARTOGI SAING

DIVISI BEDAH ONKOLOGI

DEPARTEMEN ILMU BEDAH FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

KARYA TULIS TUGAS AKHIR

PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS BEDAH

DEPARTEMEN ILMU BEDAH FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat dan

anugerah Nya saya berkesempatan mengikuti Program Pendidikan Dokter Spesialis Bedah di

Departemen Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara dan RSUP H.Adam

Malik Medan sebagai tempat pendidikan, serta kesempatan yang diberikan Nya dalam menyusun

dan menyelesaikan penelitian ini sebagai salah satu syarat akhir pendidikan.

Rasa hormat dan ucapan terima kasih, saya sampaikan kepada Dr. Kamal Basri Siregar

SpB(K)Onk, Dr. Emir Taris Pasaribu SpB(K)Onk dan seluruh staf di Divisi Bedah Onkologi

RSUP H.Adam Malik Medan, yang senantiasa memberi bimbingan dalam penulisan penelitian

tugas akhir sehingga penelitian ini dapat diselesaikan.

Ucapan terima kasih dan penghargaan saya sampaikan kepada Prof. DR.Dr.Aznan Lelo

PhD,SpFK sebagai konsultan Metodologi Penelitian yang telah meluangkan waktu dalam

membantu menyelesaikan penelitian ini.

Ucapan terima kasih dan penghargaan saya sampaikan kepada Dr. Jamaluddin SpPA,

Dr.Sumondang Pardede SpPA, Junaidi serta pegawai Laboratorium Patologi Anatomi yang telah

meluangkan waktu, tenaga dan pikirannya dalam membantu menyelesaikan penelitian ini.

Rasa hormat dan ucapan terima kasih saya sampaikan kepada Prof.Dr.Bachtiar Surya

SpB-KBD sebagai Ketua Departemen Ilmu Bedah FK USU/RSUP H.Adam Malik Medan dan

(4)

Rasa hormat dan ucapan terima kasih saya sampaikan kepada Dr.Emir Taris Pasaribu

SpB(K)Onk, sebagai Ketua Program Studi Ilmu Bedah dan Ketua Divisi Bedah Onkologi FK

USU/RSUP H.Adam Malik Medan , Dr.Asrul Simangunsong SpB-KBD, sebagai Sekretaris

Program Studi Ilmu Bedah dan Dr.Erjan Fikri SpB,SpBA sebagai Sekretaris Departemen Ilmu

Bedah, yang telah memberi kesempatan kepada penulis dalam mengikuti program pendidikan

ini.

Rasa hormat dan ucapan terima kasih saya sampaikan kepada guru-guru saya

DR.Dr.Humala Hutagalung SpB(K)Onk, Dr.Gerhard Panjaitan SpB(K)Onk, Dr.Riahsyah

Damanik SpB(K)Onk, Dr.Albiner Simarmata SpB(K)Onk, Dr.Suyatno SpB(K)Onk, Dr. Tiur

Purba SpB serta pegawai di Divisi Bedah Onkologi yang telah membimbing dan membantu saya

dalam menyelesaikan penelitian ini.

Ucapan terima kasih dan penghargaan saya sebesar-besarnya kepada guru-guru saya

Prof.dr.Hafas Hanafiah SpB,SpOT(K)FICS, Prof.dr.Nazar Moesbar SpB,SpOT(K), Prof.dr.Adril

A.Hakim SpS,SpBS(K), Prof.dr.Gofar Sastrodiningrat SpBS(K), Prof.dr.Iskandar Djapardi

SpBS(K), dr.Ismet SpB, dr.Asmui Yosodiharjo SpB,SpBA, dr.Mahyono SpB,SpBA, dr.M.Iqbal

Pahlevi Nst SpBA, dr.Syahbuddin Harahap SpB, dr.Harry Soedjatmiko SpBTKV, dr.Marshal

SpBTKV, dr.Doddy Prabisma Pohan SpBTKV, dr.Ronald Sitohang SpB, dr.Bungaran

Sihombing SpU, dr.Syah Mirsya Warli SpU, dr.Chairiandi Siregar SpOT, dr.Nino Nst SpOT,

dr.Edy Sutrisno SpBP, dr.Frank B.Buchari SpBP, dr.Jaelani SpBP, dr.Liberti Sirait SpB-KBD,

dr.Budi Irwan SpB-KBD, dr.Adi Muradi Muhar SpB-KBD, dr.Ridha Darmajaya SpBS,

dr.Mahyudanil SpBS dan yang lain yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang tanpa

pamrih telah memberikan bimbingan, koreksi dan saran-saran kepada saya selama menngikuti

(5)

Ucapan terima kasih dan penghargaan kepada senior-senior yang lebih dahulu

menyelesaikan program pendidikan dan teman-teman peserta program pendidikan yang

bersama-sama menjalani suka duka selama pendidikan.

Rasa syukur dan terima kasih sebesar-besarnya saya persembahkan untuk kedua orang

tua saya tercinta,Ayahanda Prof.Dr.Bistok Saing SpA(K) dan Ibunda Elisabeth Panggabean atas

segala jerih payah, pengorbanan, pengertian, nasehat serta semangat beliau berdua dalam

mengasuh, membimbing dan mendidik saya. Demikian juga kepada abang, kakak dan kakak ipar

saya yang telah memberi bantuan moral maupun materil selama saya mengikuti program

pendidikan ini.

Semoga ilmu dan keterampilan yang telah saya dapatkan, bantuan dan kemurahan hati

yang telah diberikan kepada saya selama mengikuti Program Pendidikan Dokter Spesialis Bedah,

dapat menjadi bekal untuk melayani masyarakat.

Akhirnya hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa jualah kita kembali, semoga kita semua

senantiasa diberkati dan diberi perlindungan.

Penulis

(6)

DAFTAR ISI

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

3.3 Objek Penelitian

3.3.1 Sampel

3.3.2 Kriteria inklusi

(7)

3.4 Pelaksanaan Penelitian

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

4.2 Pembahasan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

5.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN I Daftar isian penelitian

(8)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Kanker payudara salah satu kanker yang sering di alami wanita di seluruh negara,terutama

negara berkembang dan masih berperan sebagai penyebab kematian pada wanita masa

pertengahan.

Di Amerika serikat tahun 2005, ditemukan kasus baru berkisar 212.390 kasus dan sekitar

40.870 meninggal (Zager SJ et al,2006). Di Eropa tahun 2006 ditemukan 429.900 kasus baru

dengan proporsi sekitar 13,5% dari keseluruhan penderita kanker yang baru Sedangkan di

Indonesia kanker payudara merupakan kedua tertinggi setelah kanker leher rahim dengan insiden

relatif sebesar 12,6% menurut data dari Pathology Based Cancer Registries dengan ASCAR

(Age Standarize Cancer Ratio) sebesar 17,46% dan diperkirakan di Indonesia akan dijumpai

minimal 20 ribu kasus baru tiap tahunnya.

Kanker payudara masih merupakan masalah kesehatan karena etiologi yang belum jelas dan

banyaknya faktor pendukung dan terutama minimnya pengetahuan masyarakat sendiri mengenai

penyakit ini, mengakibatkan penderita datang dalam keadaan stadium lanjut, hal ini juga

mungkin disebabkan karena kurangnya informasi, letak geografis, pendidikan, banyaknya iklan

yang menerangkan pengobatan alternatif serta kurangnya alat diagnosis seperti mammografi,

USG maupun dari segi keterampilan tenaga medis dalam mendiagnosis keganasan payudara.

(9)

(200 juta populasi). Pada penelitian Muchlis Ramli dkk di RSCM, per tahun mendapatkan

stadium IIIA & IIIB sebanyak 43,4% dan stadium IV sebanyak 14,3% yang merupakan stadium

lanjut, berbeda dengan negara maju dimana kanker payudara ditemukan lebih banyak pada

stadium dini.

Oleh karena penderita kanker payudara datang dalam keadaan stadium lanjut maka periode

bebas penyakit dan peningkatan harapan hidup semakin rendah serta kepatuhan pengobatan dari

penderita sendiri yang kurang, menyebabkan ketidakberhasilan pengobatan. Namun dengan

berkembangnya pengetahuan dan penanganan kanker payudara serta pemeriksaan faktor

prognostik seperti tumor marker dan status hormonal reseptor sehingga modalitas terapi kanker

payudara semakin baik yang secara umum meliputi operasi, kemoterapi, radioterapi, terapi

hormonal, maupun terapi target yang akhir ini semakin banyak penelitian yang bertujuan

menghambat proses pertumbuhan sel-sel kanker.

Akhir-akhir ini telah banyak penelitian mengenai faktor pertumbuhan tumor, seperti telah

teridentifikasinya overekspresi HER 2 pada kanker payudara yang berperan sebagai faktor

pertumbuhan sel tumor dan sering dikaitkan dengan akselerasi sel maupun proliferasi sel,

sehingga meningkatkan rekurensi dan menurunkan overall survival. Dengan ditemukannya

faktor pertumbuhan tumor dan jalurnya sehingga terapinya menjadi spesifik yang dikenal dengan

target terapi. (DeVita Jr.VT,2008)

Terapi target ini bekerja langsung di reseptor HER 2 dan terbukti memiliki aktivitas anti

tumor pada kanker payudara dengan overekspresi HER 2 yang positif walaupun overekspresi

(10)

Diharapkan dengan penanganan kanker payudara secara rasional akan meningkatkan dan

memperbaiki angka morbiditas dan mortalitas.

1.2 IDENTIFIKASI MASALAH

Saat ini pemeriksaan HER 2 telah dilakukan secara rutin sebagai faktor prediktif dan

prognostik pada penderita kanker payudara di Amerika Serikat (Symmans WF & Bernstam

FM,2008). Namun di Rumah Sakit Haji Adam Malik Medan belum dilakukan pemeriksaan

HER 2 secara rutin untuk mendukung faktor prognosis dan prediktif dengan harapan dapat

dilakukan penanganan multimodal serta individual.

1.3 PERUMUSAN MASALAH

Masih belum ada data pemeriksaan HER 2 pada kanker payudara di RS H.Adam Malik Medan

dalam rangka mendukung prognosis dan prediktif faktor maupun strategi pengobatan

selanjutnya pada penderita kanker payudara.

1.4 TUJUAN PENELITIAN

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola ekspresi HER2 dan grading histopatologi pada

penderita kanker payudara.

1.5 KONTRIBUSI PENELITIAN

Diharapkan penelitian ini dapat menambah wawasan bagi penulis , sejawat calon ahli bedah dan

ahli bedah tentang pola ekspresi HER 2, grading histopatologi serta sifat-sifat biologi molekuler

pada kanker payudara stadium III untuk kepentingan ilmiah dan pelayanan kesehatan bedah

(11)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Kanker payudara bukan merupakan penyakit yang homogen, namun sangat heterogen

yang dapat berasal dari beberapa subtipe tumor dengan sifat-sifat natural yang berbeda sehingga

dapat mempengaruhi penanganan.

HER 2 (Human Epidermal Growth Factor Receptor 2) merupakan suatu protooncogene

golongan Erb B dari transmembrane tyrosin kinase yaitu suatu reseptor yang berperan dalam

faktor pertumbuhan dan bekerja pada intrasel ataupun ekstrasel. Pada intrasel HER 2 aktif

melalui tyrosin kinase pathway yang dapat meregulasi aspek-aspek penting dari fisiologi,

proliferasi dan diferensiasi sel. Sedangkan pada ekstrasel HER 2 sebagai koreseptor dan

memfasilitasi signal transduksi sebagai bagian dari heterodimer complex yang terbentuk setelah

pengikatan ligand.(Harold JB,2005)

Amplifikasi HER 2 berhubungan dengan elemen genetik pada kromosom 17 yang

menyebabkan peningkatan pada ekspresi HER 2 di permukaan sel tumor payudara. Overekspresi

HER 2 menyebabkan transformasi pertumbuhan sel dan mengakselerasi proliferasi

DNA.(Harold JB,2005;Mukohara T & Jannet AP,2007)

Overekspresi HER 2 mendukung pembentukan reseptor homodimer dan heterodimer

termasuk HER2 itu sendiri dengan perbedaan signal dari normal. Overekspresi dan amplifikasi

terjadi selama pertumbuhan tumor dan setelah itu HER 2 phenotype menetap sepanjang invasi

(12)

HER 2 menjadi indikasi klinis yang relevan oleh karena HER 2 positif pada kanker

payudara memiliki prognosis yang jelek dibandingkan HER 2 negatif,dan diperkirakan

20%-30% HER 2 positif pada kanker payudara. (Deena MA & Vahdat TL 2008)

HER 2 positif pada kanker payudara memiliki tanda molekular yang jelas

berbeda,termasuk perubahan yang besar pada pola ekspresi dari jenis kanker lainnya. Dari studi

populasi dan analisa retrospektif menunjukkan bahwa overekspresi HER 2 dapat menjadi

prognostik faktor yang dihubungkan dengan grading histologi yang tinggi, proliferasi sel,

keterlibatan kelenjar getah bening maupun resistensi kemoterapi.

Amplifikasi ataupun overekspresi HER 2 dapat dievaluasi dengan dua cara, yaitu dengan

pemeriksaan FISH dan pemeriksaan Immunohistochemical analysis (IHC). Pemeriksaan FISH

dilakukan dengan menggunakan fluoresence labelled DNA probe untuk HER 2 pada kromosom

17 dan chromosom enumeration probe pada kromosom 17. Sehingga akan dievaluasi rasio

antara sinyal orange (gen HER 2) dan sinyal hijau (centromer 17).

Sedangkan pemeriksaan IHC menggunakan monoklonal antibodi komersil anti HER 2/neu

dengan prinsip ikatan antibodi yang diberi warna. Pemeriksaan IHC lebih mudah dan lebih

murah daripada pemeriksaan FISH dan telah menjadi standar untuk HER 2. (Deena MA &

Vahdat TL 2008)

Grading histopatologi kanker payudara yang invasif ditemukan kira-kira 70 tahun yang

lalu oleh Greenhough, dimana ditemukan delapan bagian penting morfologi dari sel kanker

payudara. Kemudian penemuan ini dinilai ulang oleh Scarff dan melaporkan hanya tiga saja

yang penting yaitu tubule formation, nuclear pleomorphism dan hyperchromatism. Grading

(13)

protokol yang disetujui. Bloom dan Richardson melakukan modifikasi ulang dengan melakukan

pemeriksaan rutin yaitu tubule formation, nuclear pleomorphism dan mitotic count, sehingga

perubahan ini bersifat kualitatif dan kuantitatif.

Grading histopatologi menurut Bloom Richardson dibagi atas tiga bagian berdasarkan

penilaian yaitu grade I (skor 3-5), grade II (skor 6-7) dan grade III (skor 8-9).

(14)

Dari pemeriksaan dan penilaian ini dapat dikatakan istilah low differentiated tumor (grade I)

dengan prognosis yang lebih baik, moderately differentiated tumor (grade II) dan poorly

(15)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 RANCANGAN PENELITIAN

Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan studi cross sectional

3.2 LOKASI DAN WAKTU PENELITIAN

Penelitian dilakukan di Divisi Bedah Onkologi dan Laboratorium Patologi Anatomi

FK USU/RSUP H.Adam Malik Medan dari bulan April-Juni 2010.

3.3 OBJEK PENELITIAN

3.3.1 Sampel

Penderita yang telah di diagnosis kanker payudara stadium III

3.3.2 Kriteria inklusi

Penderita kanker payudara dengan histopatologi infiltrating duct carcinoma

(16)

3.3.3 Kriteria eksklusi

Penderita kanker payudara dengan blok parafin yang tidak adekuat

Penderita kanker payudara dengan data tidak lengkap

3.4 PELAKSANAAN PENELITIAN

3.4.1 Cara Pengumpulan data

Data primer dikumpulkan setelah penderita ditegakkan diagnosis kanker payudara

stadium III dengan hasil histopatologi infiltrating duct carcinoma dan grading

histopatologi, kemudian dari blok parafin tersebut dilakukan pemeriksaan

immunohistokimia HER 2 di Laboratorium Patologi Anatomi RSUP H.Adam

Malik Medan.

3.4.2 Parameter yang dinilai

Ekspresi HER 2 dari jaringan kanker payudara

Grading histopatologi jaringan kanker payudara

3.4.3 Cara kerja

Dari block parafin dilakukan pemotongan yang diinginkan yang ideal 3 micron

(17)

Blok parafin Slide yang akan diproses

diletakkan di hotplate sekitar 30-60 menit dan ditetesi xylol I,II,III (2-5 menit),

bilas dengan alkohol 100% selama 2 menit, alkohol 96 selama 2 menit dan alkohol

70% selama 2 menit, dibilas dengan aquadest mengalir, dimasukkan ke staining

berisi reagen TRS sampai tenggelam, kemudian dimasukkan ke microwave dengan

power level tinggi selama 5 menit sampai mendidih, set power level rendah 5 menit

dan keluarkan dari microwave dibiarkan sampai dingin.

Slide di dalam staining berisi reagen TRS Dimasukkan dalam microwave

Kemudian direndam ke larutan PBS (Phosfat Buffer saline) selama 1-2 menit

dibersihkan pakai kertas tissue. Lalu diletakkan di moist chamber satu persatu dan

dilingkari dengan DAKO pen, kemudian ditetesi dengan blocking endogen selama 5

menit, dibuang cairannya dan direndam kembali dalam PBS dan dibersihkan

dengan tissue.Kemudian ditetesi dengan Normal rabbit serum polyclonal 3%

(18)

dibuang dengan PBS langsung ditetesi dengan antibodi primer (30-60 menit) dan

dibiarkan 1 malam.

Slide dilingkari dengan DAKO pen Normal rabbit serum polyclonal antibodi

(DAKO,Glostrup,Denmark AO485)

Slide ditetesi dengan larutan DAKO Slide dibiarkan dalam 1 malam

Setelah itu dicuci dengan larutan PBS dengan pipet mengalir, dan ditetesi

dengan inversion sampai menutup jaringan selam 30 menit. Dipersiapkan DAB dan

ditetesi selama 2-5 menit kemudian dibersihkan dengan PBS, setelah itu tetesi

dengan HE dan ditutup dengan entelan dan slide siap untuk dibaca.

(19)

Slide dibaca dengan mikroskop dan dilakukan penilaian dari pengikatan

antibodi dengan menilai sel neoplasma dimana HER 2 (-) bila pewarnaan membran

lemah atau kurang dari 10% dari sel neoplasma, HER 2 (+1) bila pewarnaan tidak

komplit namun lebih dari 10%, HER 2 (+2) bila pewarnaan moderate dan komplit

lebih dari 10% sedangkan HER 2 (+3) bila pewarnaan kuat dan komplit lebih dari

10% dari sel neoplasma.

HER 2 (-) HER 2 (+1)

(20)

3.5 PENGOLAHAN DATA

3.5.1 Besar sampel

Menurut penelitian observasional pada populasi kanker payudara stadium III dengan

menetapkan persentase estimasi proporsi yang dipastikan dengan HER 2 (+) adalah

20% dan jumlah populasi penderita kanker payudara stadium III yang berobat ke

Klinik perbulannya sekitar 50 orang dengan program komputer sum size modifikasi

Prof.dr.Iskandar Z.Lubis SpA(K), maka besar sampel adalah 40 orang.

(21)

3.6 ALUR PENELITIAN DAN KERANGKA KONSEP

3.6.1 Alur Penelitian

Blok parafin kanker payudara stadium III

HER 2 Grading Histopatogi

(+)/(++)/(+++) (-) (I) (II) (III)

3.6.2 Kerangka Konsep

(22)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil penelitian

Berdasar hasil penelitian yang dilakukan pada penderita kanker payudara stadium III dengan

besar sampel sebanyak 40 penderita dengan histopatologi infiltrating duct carcinoma dan grading

histopatologi yang diambil dari divisi bedah onkologi RSUP H.Adam Malik Medan dan

dilakukan pemeriksaan HER 2 di laboratorium patologi anatomi. Dilakukan analisa data dan

(23)

Dari diagram 4.1.1 didapatkan stadium III A sebanyak 9 orang (22,5%), stadium III B sebanyak

30 orang (75%) dan stadium III C sebanyak 1 orang (2,5%). Jumlah penderita terbanyak pada

stadium III B, sedangkan terendah pada stadium III C.

4.1.2 Diagram berdasarkan grade histopatologi

Dari diagram 4.1.2 didapatkan grade I sebanyak 6 orang (15%), grade II sebanyak 23 orang

(57,5%) dan grade III sebanyak 11 orang (27,5%). Jumlah grade terbanyak adalah grade II,

(24)

4.1.3 Diagram berdasarkan pemeriksaan HER 2

Dari diagram 4.1.3 didapatkan hasil pemeriksaan HER 2 (-) sebanyak 8 orang (20%), HER 2

(+1) sebanyak 15 orang (37,5%), HER 2 (+2) sebanyak 9 orang (22,5%) dan HER 2 (+3)

sebanyak 8 orang (20%).Jumlah terbanyak adalah HER 2 (+1) dan terendah pada HER 2 (-&+3).

4.1.4 Diagram berdasarkan pemeriksaan grading dan HER 2

(25)

Dari diagram 4.1.4 didapatkan jumlah HER 2 (-) grade I sebanyak 3 orang (7,5%), HER 2 (-)

grade II sebanyak 4 orang (10%) dan grade III sebanyak 1 orang (2,5%). Pada HER 2 (+1) grade

I sebanyak 2 orang (5%), grade II sebanyak 9 orang (22,5%) dan grade III sebanyak 4 orang

(10%). Pada HER 2 (+2) grade I sebanyak 1 orang (2,5%), grade II sebanyak 4 orang (10%),

grade III sebanyak 4 orang (10%) sedangkan pada HER 2 (+3) tidak dijumpai pada grade I,

grade II sebanyak 6 orang (15%) dan grade III sebanyak 2 orang (5%). Dapat dilihat dari tabel:

Tabel 4.1.4 Jumlah pemeriksaan grading dan HER 2

Grade I Grade II Grade III

Dari data hasil pemeriksaan grading histopatologi dan overekspresi HER 2 dilakukan analisis

statistik dengan uji korelasi nonparametrik Kendall’s tau test dengan perhitungan SPSS, didapati

nilai koefisien korelasi adalah 0.229 , dengan nilai probabilitas p > 0,05, maka dari uji korelasi

nonparametrik Kendall’ tau test dapat disimpulkan bahwa hubungan bermakna antara grading

(26)

4.2 Pembahasan

Dari hasil penelitian yang dilakukan sebanyak 40 sampel dengan parameter pemeriksaan

berupa HER 2 dan grading histopatologis pada penderita kanker payudara stadium III yang

dilakukan di RSUP H.Adam Malik Medan, pada diagram 4.1.1 dilakukan analisa dari stadium

penderita kanker payudara didapati stadium III A sebanyak 9 orang (22,5%), stadium III B

sebanyak 30 orang (75%) dan stadium III C sebanyak 1 orang (2,5%), jumlah paling banyak

dijumpai pada stadium III B. Adapun pengambilan sampel ini dibatasi pada stadium III karena

kasus yang paling sering datang ke RSUP H.Adam Malik pada stadium III dan didapati jumlah

terbanyak pada stadium IIIB, dan dengan pola sekitar 60-70% penderita kanker payudara datang

dalam keadaan stadium III-IV.

Pada diagram 4.1.2 berdasarkan grade histopatologi, pada grade I didapati sebanyak 6

orang (15%), pada grade II didapati sebanyak 23 orang (57,5%) sedangkan pada grade III

sebanyak 11 orang (27,5%), berdasarkan grade histopatologi didapati grade II yang terbanyak.

Pada diagram 4.1.3 berdasarkan pemeriksaan HER 2 yang dilakukan, didapati HER 2 (-)

sebanyak 8 orang (20%), HER 2 (+1) sebanyak 15 orang (37,5%), HER 2 (+2) sebanyak 9 orang

(22,5%) sedangkan HER 2 (+3) sebanyak 8 orang (20%). Dari hasil ini ditemukan HER 2 (+1)

terbanyak, sedangkan HER 2 (+3) yang merupakan hasil yang overekspresi untuk dilakukan

pemberian anti HER 2 dijumpai sebesar 20% dari keseluruhan sampel yang diperiksa. Dari hasil

penelitian ini didapatkan HER 2 (+) secara keseluruhan sebanyak 32 orang (80%), dimana

berdasarkan literatur bahwa overekspresi HER 2 positif berkisar 20%-30% dari keseluruhan

stadium kanker payudara. Sedangkan pada penelitian ini didapati sebanyak 42,5%, dimana

(27)

serta masih diperlukan pemeriksaan lebih lanjut pada HER 2 (+2) untuk lebih memastikan

apakah hasilnya lebih overekspresif untuk dapat dilakukan pemberian anti HER 2. Umumnya

pada penelitian yang dilakukan, HER 2 yang dikatakan positif adalah HER 2 (+2) dan HER 2

(+3) sedangkan HER 2 (-) dan HER 2 (+1) merupakan hasil yang negatif atau dengan kata lain

skor 0 dan +1 adalah non overekspresi HER 2, skor +2 merupakan overekspresi HER 2 yang

lemah, sedangkan skor +3 merupakan overekspresi HER 2 yang kuat. Oleh karena itu masih

diperlukan pemeriksaan lanjutan seperti FISH pada overekspresi HER 2 (+2).

Pada penelitian yang dilakukan oleh Hyoungsuk Ko dkk. di Korea, didapati hasil sebesar

25 % dimana HER 2 (+2) sebesar 20% dan HER 2 (+3) sebesar 5% dan pada penelitian ini,

mereka melakukan pemeriksaan HER 2 dengan FISH untuk lebih memastikan penilaian dari

imunohistokimia, namun kedua pemeriksaan ini pada diskusi panel ahli di ASCO/CAP

menunjukkan bahwa hasil pemeriksaan sekitar 20 % belum cukup akurat dan masih akan

dilakukan perbaikan guideline pada pemeriksaan HER 2 dan modifikasi interpretasi kriteria dari

pemeriksaan IHC dan FISH. Ada yang menduga bahwa pemeriksaan FISH lebih akurat

dibandingkan pemeriksaan IHC, dan beberapa laboratorium melakukan pemeriksaan FISH

sebagai metode pertama karena dianggap lebih efektif dan lebih murah dibandingkan dengan

pemeriksaan IHC terlebih dahulu kemudian diikuti dengan pemeriksaan FISH, terutama pada

hasil pemeriksaan HER 2 (+2) yang kemudian dilakukan pemeriksaan FISH sebagai

konfirmasinya.

Pada penelitian yang dilakukan Magali Lacroix-Triki dkk di Perancis, di dapati hasil

pemeriksaan imunohistokimia pada 75 kasus dimana HER 2 (-) 33 kasus (44%), HER 2 (+1) 10

kasus (13%), HER 2 (+2) 9 kasus (12%), HER 2 (+3) 23 kasus (31%). Walaupun pemeriksaan

(28)

masih diperdebatkan dengan alasan, pertama tanpa pemeriksaan ulang di laboratorium dalam hal

fiksasi yang bervariasi, proses jaringan, protokol pemeriksaan imunohistokimia, antibodi anti

HER 2 dan skoring yang digunakan berbeda-beda pada setiap laboratorium. Kedua pemeriksaan

imunohistokimia HER 2 bisa merupakan suatu penilaian yang subjektif oleh karena penilaian

derajat staining maupun persentase sel-sel tumor yang dinilai menyebabkan banyaknya variasi

yang terjadi. Pada penelitian yang dilakukan Mehdi Farzadnia dkk di Iran mendapatkan hasil

pemeriksaan HER 2 positif (+2 dan +3) sebanyak 32 kasus (43%) dan HER 2 negatif sebanyak

42 kasus (57%).

Dari hasil laporan pemeriksaan HER 2 pada kanker payudara oleh Elena Provenzano

dan Nicola Johnson keakuratan pemeriksaan HER 2 dimulai dari fiksasi sampel jaringan yang

optimal dan preanalitik spesimen yang baik. Dimana jaringan dimasukkan ke dalam cairan

fiksasi dengan volume yang cukup dan jenis fiksasi buffer formalin dengan lama fiksasi 6-48

jam, karena bila difiksasi dengan bahan lain menghilangkan ekspresi protein. Ketebalan

pemotongan jaringan dapat mempengaruhi interpretasi berupa intensitas pengecatan yang

meningkat dengan latar belakang yang berlebihan. Ketebalan yang direkomendasikan 3-5

mikrometer, dan slide harus di staining dalam 4-6 minggu setelah pemotongan jaringan karena

mengakibatkan hilangnya antigenisitas bila disimpan dalam waktu yang lama serta pemanasan

slide dalam waktu yang lama dan suhu yang tinggi menghasilkan hilangnya intensitas staining

dari HER 2. Bahkan skor imunohistokimia HER 2 memiliki subjektifitas yang tinggi pada setiap

penilaian terutama pada HER 2 (+2).

Pada tabel 4.1.4 berdasarkan pemeriksaan HER 2 dan grade histopatologi, pada HER 2 (-)

dengan grade I sebanyak 3 orang, dengan grade II sebanyak 4 orang dan grade III sebanyak 1

(29)

orang, dengan grade II sebanyak 9 orang dan grade III sebanyak 4 orang, paling banyak

ditemukan pada grade II. Pada HER 2 (+2) dengan grade I sebanyak 1 orang, dengan grade II

sebanyak 4 orang, dengan grade III sebanyak 4 orang, dimana pada grade II dan III mendapat

jumlah yang sama. Pada HER 2 (+3) dengan grade I tidak dijumpai, dengan grade II sebanyak 6

orang dan dengan grade III sebanyak 2 orang, paling banyak ditemukan pada grade II.

Pada penelitian Farzadnia M dkk, tidak dijumpai adanya korelasi antara grade tumor dengan

(30)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 KESIMPULAN

1. Pada penelitian ini dijumpai penderita stadium III B yang lebih banyak (75%) dan grade

histopatologi yang terbanyak pada grade II (57,5%).

2. Pada pemeriksaan imunohistokimia overekspresi HER 2 dikatakan positif bila HER 2

(+2 dan +3) sedangkan negatif bila HER 2 (0 dan +1), dan pada penelitian ini dijumpai

HER 2 positif sebanyak 17 kasus (44,5%) dan HER 2 negatif sebanyak 23 kasus (57,5%).

3. Sedangkan hasil pemeriksaan HER 2 yang dilihat dengan grade histopatologi hanya di

jumpai 4 kasus pada HER 2 (+2) dan 2 kasus pada HER 2 (+3).

4. Dari hasil analisa statistik hubungan bermakna antara HER 2 dan grading histopatologi di

dapat nilai p > 0,05 dengan kesimpulan tidak dijumpai hubungan yang signifikan.

5. Besarnya jumlah pemeriksaan overekspresi HER 2 pada penelitian ini ataupun keakuratan

pemeriksaan ditentukan sejak dari fiksasi jaringan setelah operasi, lamanya pengolahan

jaringan, ketebalan jaringan yang diambil, staining jaringan bahkan pembacaan dengan

kriteria skor yang sangat subjektif, maupun standar setiap laboratorium yang berbeda

(31)

5.2 SARAN

1. Perlunya cairan fiksasi jaringan yang tepat yaitu formalin buffer yang sebaiknya

disediakan oleh rumah sakit, waktu pemrosesan jaringan maupun validasi metode

pemeriksaan imunohistokimia untuk dapat menghasilkan sampel yang baik, serta pembacaan

oleh lebih dari satu patolog oleh karena penilaian yang sangat subjektif.

2. Karena pemeriksaan imunohistokimia HER 2 masih baru dilakukan di RS H.Adam Malik

Medan, dan ahli patologi anatomi yang mendalami imunohistokimia hanya seorang,

tentunya masih banyak dijumpai kesulitan maupun kekurangan dalam pemeriksaan HER 2,

oleh karena itu sebaiknya hasil pemeriksaan ini dapat dikonfirmasi ke laboratorium patologi

anatomi lain.

3. Kemungkinan untuk dilakukan pemeriksaan lainnya seperti Fluorescence In Situ

Hybridization (FISH) untuk lebih memastikan hasil pemeriksaan terutama HER 2 (+2)

dalam rangka pemberian anti HER 2 terhadap penderita.

(32)

DAFTAR PUSTAKA

1. Atieh MD, Vahdat TL. Targeted therapy for Breast Cancer. In: Kaufman LH, Wadler S, Antman K, editor. Molecular Targeting in Oncology. USA:Humara Press,2008.p.309-342.

2. Baum M, Schipper H. Fast facts – Breast Cancer 3rd ed. Oxford: Health Pub Limited, 2005.p:36-45.

3. Bramwell VH et al; HER2 and Responsiveness of Breast Cancer to Adjuvant Chemotherapy. A randomized controlled trial. N ENGL J MED 2006; 2103-2111.

4. Burstein HJ. The Distinctive Nature of HER2-Positive Breast Cancers. N ENGL J MED 2005; 1652-1654.

5. Conzen SD, Grushko AT.Section 1.The Molecular Biology of Breast Cancer. Burstein JH, Harris JR, Morrow M. Section 2. Malignant Tumor of The Breast. In: DeVita Jr VT, Lawrence ST, Rosenberg AS, editor. Cancer Principles & Practices of Oncology.Lippincot William Wilkin,2008.p.1602-1603: 1632-1639.

6. Craft SB,, Moulder S. Targeted Therapy in Breast Cancer . In: Kurzrock R, Markman M,editor. Targeted Cancer Therapy. USA:Humara Press.2008.p.43-60.

(33)

8. Mukohara T, Janne AP. Her 2 Inhibition and Clinical Achievements. In: Giaccone G, Soria JC, editor. Targeted Therapies in Oncology, Informa Healthcare Inc.USA,2007. p:45-54.

9. Pinder SE, Ellis IO, Lee AHS, Elston CW. Prognostic Factors in Invasive Breast Cancer Using Histology. In: Morrow, Jordan ,editor. Managing Breast Cancer Risk.London: Decker BC Inc. Hamilton , 2003 . p.168-169.

10. Rayson D, Richel D, Chia S, Jackisch C, Van der Vegt S, Suter T. Anthracycline-trastuzumab regimens for HER2/neu overexpressing breast cancer: current experience and future strategies: a review. Annals of Oncology Advance Access. 2008.p.1-10.

11. Suyatno, Pasaribu ET. Bedah Onkologi Diagnostik Dan Terapi.Jakarta: Sagung Seto.2010.p.35-81.

12. Symmans WF, Inghirami G. Molecular Pathology Assay for Breast Cancer. In: Roses FD, editor. Breast Cancer.2nd edition. Philadelphia: Elsevier Churcill Livingstone.2005.p.145-168.

13. Tonkin K, Reese MD, Aapo SM, Budzer AU. Breast Cancer Management 2nd ed.Lippincott William Wilkin 2003; 393-398 :411-418.

14. Zager SJ, Solorzano CC, Thomas E, Feig BW, Babiera GV. Invasive Breast Cancer. In: Feig WB, Berger DH, Fuhrman GM,editor.The MD Anderson Surgical Oncology Handbook .4th edition. Houston: Lippincot William Wilkin, 2006. p.24-59.

(34)
(35)
(36)
(37)

1. Halimatusakdiah , 42 tahun  

HER 2 (-)

Grade III

2. Raminah , 62 tahun

HER 2 (+3)

(38)

3. Asnah Sirait , 64 tahun

HER 2 (+2)

Grade II

4. Nelva Hutabarat , 52 tahun

HER 2 (+1)

(39)

5. Sulastri , 53 tahun

HER 2 (+3)

Grade II

6. Sukinem , 78 tahun

HER 2 (+2)

Grade II

7. Sarifan , 39 tahun

HER 2 (+2)

(40)

8. Rasmini , 46 tahun

HER 2 (+2)

Grade II

9. Darni , 50 tahun

HER 2 (-)

(41)

10.Rahmina , 62 tahun

HER 2 (+3)

Grade I

11.Milarna Barus , 54 tahun

HER 2 (+3)

Grade II

12.Nur Betty Sinaga , 63 tahun

HER 2 (+3)

(42)

13.Juni Darsyah , 40 tahun

HER 2 (+2)

Grade II

14.Nursiah , 52 tahun

HER 2 (+3)

(43)

15.Sarifan , 39 tahun

HER 2 (+3)

Grade III

16.Khanijah Trg , 46 tahun

HER 2 (+1)

Grade I

17.Arma , 50 tahun

HER 2 (+2)

(44)

18.Marsinta Parapat, 43 tahun

HER 2 (+2)

Grade II

19.Dahniar Hsb, 36 tahun

HER 2 (+1)

(45)

20.Beryana, 55 tahun

HER 2 (+2)

Grade II

21.Watinem, 27 tahun

HER 2 (+2)

(46)

22.Siti Jaleha, 51 tahun

HER 2 (+3)

Grade III

23.Annisah, 45 tahun

HER 2 (+3)

Grade I

24.Sarjuniani, 50 tahun

HER 2 (+2)

(47)

25.Suriati, 47 tahun

HER 2 (+3)

Grade II

26.Nino Ismail, 29 tahun

HER 2 (+2)

(48)

27.Rotua Simamora, 36 tahun

HER 2 (+3)

Grade II

28.Budina, 37 tahun

HER 2 (+3)

(49)

29.Nilawati, 45 tahun

HER 2 (+1)

Grade II

30.Azimah, 41 tahun

HER 2 (+3)

Grade II

(50)

31.Lesmen Manik, 48 tahun

HER 2 (+2)

Grade III

32.Telah Br Ginting, 51 tahun

HER 2 (+2)

(51)

33.Hapsah, 44 tahun

HER 2 (+3)

Grade II

34.Sri Karwati, 44 tahun

HER 2 (+2)

(52)

35.Sukirah, 50 tahun

HER 2 (+3)

Grade II

36.Nasliah, 54 tahun

HER 2 (+3)

(53)

37.Ponimun, 77 tahun

HER 2 (+2)

Grade II

38.Megawati, 46 tahun

HER 2 (+3)

(54)

39.Basar, 51 tahun

HER 2 (+2)

Grade II

40.Juliana Zebua, 51 tahun

HER 2 (+3)

(55)

Gambar

Tabel 4.1.4 Jumlah pemeriksaan grading dan HER 2

Referensi

Dokumen terkait

Metode penelitian adalah penelitian deskriptif, setiap pasien yang didiagnosis kanker payudara pada tahun 2009 di analisa data sekunder berupa umur, tipe histopatologi, lokasi

dapat dilihat bahwa distribusi frekuensi penderita kanker payudara rawat inap di RSUP Haji Adam Malik Medan tahun 2013 berdasarkan lokasi kanker yang tertinggi adalah pada

Analisa distribusi kanker payudara berdasarkan stadium TNM Berdasarkan hasil penelitian, dari 212 orang penderita kanker payudara di tahun 2012-2013, stadium sistem TNM yang

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Gambaran Histopatologi Kanker Payudara Duktal Invasif pada perempuan usia 40 tahun kebawah di RSUP Haji Adam Malik Medan periode

Profil penderita kanker payudara yang rawat inap di RSUP Haji Adam Malik Medan tahun 2015 berdasarkan riwayat tumor payudara sebelumnya adalah tidak ada tumor sebanyak

MANAJEMEN STRES WANITA PENDERITA KANKER PAYUDARA YANG MENJALANI KEMOTERAPIi. di RSUP H ADAM

manajemen stress penderita kanker payudara yang menjalani kemoterapi.

5.4 Distribusi Frekuensi Pasien Kanker Payudara Duktal Invasif pada Perempuan Usia 40 tahun kebawah menurut Tingkat Grading Histopatologi di RSUP Haji Adam Malik Medan