STRUKTUR FRASA NOMINA BAHASA KARO DALAM TEORI X

22  26 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

STRUKTUR FRASA NOMINA BAHASA KARO :

Dalam penulisan artikel ini penulis mencoba mendeskripsikan perilaku frasa nomina Bahasa Karo yang terbagi atas 2 jenis, dengan menggunakan teori X-bar. Dalam pengumpulan data digunakan studi pustaka yang dibantu dengan teknik catat. Pada pengkajian data digunakan metode padan refrensial dengan teknik dasar berupa teknik pilah unsur penentu dan teknik lanjutan berupa teknik hubung banding menyamakan hal pokok; dan metode agih dengan teknik dasar berupa teknik bagi unsur langsung dan teknik lanjutan berupa teknik lesap, teknik ganti, dan teknik balik. Disimpulkan bahwa struktur internal frasa nomina Bahasa Karo dibentuk oleh Komplemen, Keterangan dan Specifier. Kaidah struktur FN dalam Bahasa Karo berjumlah 10 kaidah, yaitu:

1. Berdasarkan bentuk : (a) N+N, (b) N+Spec, (c) N+Spec+N, (d) N+Spec+A, (e) Num+N.

2.Berdasarkan Arti :(a) FN→N’.N’→N.N, (b) FN→N’.N’→N.Spec,

(c) FN→N’.N’→N.Spec.N,(d) FN→N’.N’→N.Spec.A (e) FN→N’.N’→Num.N

Kata kunci: Frasa, Frasa Nomina, Struktur Frasa Nomina, Bahasa Karo, Teori X-bar.

Abstract

In writing this article, the writer tries to describe the structure of a noun phrase Karo Language divided into two types, using X-Bar theory. In collecting data used literature studies who assisted with technical notes. In the assessment data is used method refrensial match with basic techniques such as sorting techniques and advanced engineering decisive element in the form of circuit techniques appeal to equate the subject matter; and methods Shared with basic techniques such as a technique for the direct elements and advanced engineering techniques in the form disappeared, dressing techniques, and reverse engineering. It was concluded that the internal structure of a noun phrase formed by the Karo language Complement, description and Specifier. FN structure rules in Karo Bahasa total of 10 rules, they are:

1. Berdasarkan bentuk : (a) N+N, (b) N+Spec, (c) N+Spec+N, (d) N+Spec+A, (e) Num+N.

2.Berdasarkan Arti :(a) FN→N’.N’→N.N, (b) FN→N’.N’→N.Spec,

(c) FN→N’.N’→N.Spec.N,(d) FN→N’.N’→N.Spec.A (e) FN→N’.N’→Num.N

(2)

1. PENDAHULUAN

Unsur sintaksis yang terkecil adalah frasa. Salah satunya ialah frasa nomina yang berarti frasa yang bertugas menerangkan benda, biasanya menjadi subjek atau objek dalam sebuah kalimat.

Bahasa Karo merupakan bagian dari bahasa-bahasa daerah yang hidup di Indonesia. Bahasa Karo berfungsi sebagai alat komunikasi antar individu, antar masyarakat khususnya Karo. Bila dilihat dari segi kedudukannya bahasa Batak Karo merupakan bahasa daerah yang dipelihara dan dibina oleh para penuturnya serta dihormati oleh negara karena mrupakan bagian dari kebudayaan yang hidup.

Karya penulisan terhadap studi bahasa Karo akhir-akhir ini hampir semuanya dilahirkan lewat buah tangan Henry Guntur Tarigan, seorang keturunan asli Karo. Konsep tata bahasa baru (Yusmaniar dkk., 1987) hanya memberikan sedikit informasi saja diluar apa yang telah dituliskan oleh Tarigan (1979).

Tata bahasa generatif adalah cabang linguistik teoretis yang bekerja untuk menyediakan seperangkat aturan yang secara akurat dapat memprediksi kombinasi kata yang mampu membuat tata bahasa kalimat yang benar. Studi tentang tata bahasa generatif dimulai pada tahun 1950-an oleh seorang filsuf Amerika yang juga seorang penulis dan pengajar di bidang linguistik, Noam Chomsky. Sejarahnya, pada tahun 1931-1951, kajian linguistik pada saat itu diwarnai oleh aliran struktural, yang kita kenal dengan nama Tata Bahasa Deskriptif. Dalam Tata Bahasa Deskriptif, tokoh yang mempengaruhinya yaitu Bloomfield. Bloomfield adalah salah satu tokoh strukturalisme Amerika yang pemikirannya banyak dipengaruhi oleh Boaz.

(3)

itulah yang kemudian oleh para linguist disebut dengan Tata Bahasa Generatif Transformasi.

Teori X-bar adalah salah satu bidang kajian Tata Bahasa Generatif Transformasi. Teori ini pada awalnya diterapkan pada tataran frasa (dengan simbol X”) dan kategori antara (intermediate category), yakni kategori yang lebih besar dari kata, tetapi lebih kecil dari frasa (simbol X’). Dengan demikian, jelas bahwa teori Xbar adalah teori tentang struktur frasa.

Tulisan ini mencoba memaparkan struktur internal FN dalam bahasa Karo. Struktur tersebut dianalisis berdasarkan teori X-bar, yaitu sebuah teori yang khusus membicarakan masalah struktur frasa. Tujuan utama penelitian ini ialah untuk menemukan properti umum FN dalam bahasa Karo

2. Tinjauan Pustaka 2.1 Frasa Nomina

Dalam bidang sintaksis selalu membahas tentang kalimat, klausa, dan frasa. Kalimat merupakan satuan unit terbesar dalam struktur gramatikal dan harus terdiri dari subjek dan predikat dan ditandai dengan intonasi final. Klausa adalah satuan gramatikal, berupa kelompok kata yang sekurang-kurangnya terdiri dari subjek dan predikat, dan mempunyai potensi untuk menjadi sebuah kalimat. Sedangkan frasa adalah satu satuan gramatikal yang bisa terdiri atas satu kata atau lebih dan tidak berciri klausa, karena frasa itulah yang akan membentuk klausa.

Dalam bahasa Indonesia dikenal dua kategori berikut ini, yaitu Kategori kelas kata yang terdiri atas Nomina (N), Verba (V), Adjektiva (A), Preposisi (P), Adverb (ADV), Modal (M), Determinator (D), dll. Dan Kategori kelas frasa yang terdiri atas Frasa Nomina (FN), Frasa Verba (FV), Frasa Adjektival (AP), Frasa Preposisi (PP), Frasa Adverbial (ADVP), dll.

Menurut pandangan seorang penganut sintaksis generatif, Radford (1988:86), mengatakan bahwa dengan atau tanpa pendamping sebuah kata dapat menjadi sebuah frasa sebab frasa yang belum dimodifikasi memiliki distribusi dan status yang sama seperti frasa lengkap.

(4)

yang bertugas menerangkan benda, biasanya menjadi subjek atau objek dalam sebuah kalimat. Menurut Elson dan Picket (dalam Mulyadi, 1998:6), frasa adalah sebuah unit yang secara potensial terbentuk dari dua kata atau lebih, tetapi tidak memiliki ciri klausa dan kalimat.

Frasa nomina atau benda adalah frasa yang mempunyai fungsi sama dengan kata benda biasanya menjadi subjek atau objek dalam kalimat. Misalnya:

(1) Kami mendengar ceramah Kepala Sekolah. (2) Ceramah Kepala Sekolah kami dengarkan.

Dalam contoh (1) dan (2) di atas, Ceramah Kepala Sekolah sebagai frasa nomina (FN), dapat berfungsi sebagai subjek maupun objek.

2.2 Teori X-Bar

(5)

dalam Bahasa Karo dengan menggunakan pendekatan sintaksis generatif yaitu teori X-bar.

Teori X-bar pada mulanya digunakan untuk menjawab permasalahan yang dihadapi oleh kaidah struktur sintaksis (Phrase Structure Syntax, PSS) dan kaidah struktur frase (Phrase Structure Rule, PSR) dalam dua hal. Pertama, PSS dan PSR hanya dapat diterapkan pada jenis proyeksi tertentu. Kedua, PSS dan PSR terkesan terlalu luas sehingga perlu adanya pembatasan. Hanya dua proyeksi yang dikenal dalam PSS. Pertama, proyeksi leksikal yang terdiri atas N,V, P, A, Adv, Q, Aux, Det, S, dan sebagainya. Kedua, proyeksi frase yang terdiri atas FN, FV, FP, ADVP, QP, S dan sebagainya.

Pada proyeksi tersebut, tidak terdapat proyeksi antara (intermediate category) yang membahas proyeksi lebih besar dari kata tetapi lebih kecil dari frase. Dalam sistem itu setiap konsistituen nomina haruslah N atau FN. Padahal kenyataannya pada konstruksi sintaksis dan frase terdapat proyeksi antara (Radford, 1981:92--93; 1988:169—187 dan Haegeman 1992: 88--89). Kasus proyeksi antara dalam struktur frase dapat digambarkan sebagai berikut :

(1) this very tall girl (Radford, 1981:92)

Dalam sistem PSS (phrase structure syntax), frase tersebut belum digambarkan secara jelas seperti diagram berikut ini.

(2a) FN (2b) FN

Det ?? Det FN

FA N FA N

Det A Det A

(6)

Berdasarkan kenyatan tersebut akan memunculkan permasalahan dalam menentukan perbedaan FN yang mendominasi this very tall girl dan FN yang mendominasi very tall girl. Dalam teori X-bar FN yang mendominasi this very tall girl dianggap sebagai proyeksi maksimal, sedangkan FN yang mendominasi very tall girl merupakan proyeksi antara yakni proyeksi yang lebih besar dari N tetapi lebih kecil dari FN. Proyeksi antara tersebut tidak terdapat dalam sistem PSS. Proyeksi-proyeksi tersebut oleh beberapa ahli tata bahasa memberi simbol (X") untuk proyeksi maksimal dan (X') untuk proyeksi antara.

Noam Chomsky merupakan orang pertama yang mengemukakan bahwa frasa mempunyai struktur yang sama yang harus dikaji secara eksplisit. Chomsky belajar dari Zellig Harris yang merupakan penggagas dari teori X-bar. Teori ini menjelaskan struktur umum frasa yang direpresentasikan pada skema X-bar. Melalui skema ini, kaidah struktur frasa sebuah bahasa dapat dideskripsikan, atau dengan kata lain, kaidah struktur frasa sebuah bahasa dapat disederhanakan (Silitonga,199:30; Mulyadi, 1998:217). Dalam perkembangannya di dalam kategori frasa ternyata terdapat sebuah kategori yang lebih besar daripada kategori leksikal tetapi lebih kecil dari kategori frasa. Inilah yang disebut kategori antara (intermediate category) yang menjadi dasar munculnya teori X-bar. Kategori ini terdapat di antara kategori leksikal dan kategori frasanya. Misalnya di antara verba dengan frasa verba, di antara nomina dengan frasa nomina, di antara adjektiva dengan frasa adjektiva, dan di antara preposisi dengan frasa preposisi. Sebagai contoh, dapat digambarkan pada skema X-bar berikut :

(a) menulis surat (FV) (b) boneka cantik (FN)

(7)

(c) rajin belajar (FA) (d) di lapangan (FP)

FA  A+FV FP  P+FN

FA FP

A’ P’

A FV P FN

Rajin belajar di lapangan

Jelaslah dari contoh di atas, bahwa di antara verba (V) dengan frasa verba (FV) terdapat kategori antara (intermediate category) yaitu V’(V-bar), di antara nomina (N) dengan frasa nomina (FN) terdapat kategori antara yaitu N’(N-bar) begitu juga seterusnya.

Dalam teori X-bar semua frasa didominasi oleh sebuah inti leksikal. Inti adalah simpul akhir (terminal node) yang mendominasi kata (lihat Haegemen, 1992:95). Inti merupakan pemarkah bagi ciri kategorinya. Dengan kata lain kategori inti (kategori leksikal) selalu menentukan kategori frasanya. Frasa nomina, misalnya, didominasi oleh nomina sebagai inti. Inti dari frasa gadis cantik adalah nomina gadis. Pada tataran X-bar, inti terletak satu tingkat lebih rendah dari konstituen inti tersebut. Kategori ini merupakan kategori tanpa bar (X).

(8)

2.3 Peneliti Terdahulu

Penelitian mengenai frasa nomina dalam berbagai bahasa sudah banyak yang menelitinya, yaitu bahasa Indonesia Batak Toba, Jawa, Bali, Jepang, dan bahasa Inggris. Namun hanya bahasa Batak Toba, Jepang, dan Bali yang meneliti frasa nomina menggunakan analisis Teori X-bar.

NSM Situmorang (2011) dengan judul Frasa Nomina Bahasa Batak Toba: Analisis Teori X-Bar mengatakan dalam penelitiannya bahwa struktur Frasa Nomina Bahasa Batak Toba dibentuk oleh komplemen, keterangan,dan specifier. Dan memiliki 14 kaidah struktur FN dalam Bahasa Batak Toba, yaitu: FN → inti, FN → inti + Spec, FN → inti + Komp, FN → inti + Komp+ Spec, FN → inti + Ket + Komp, FN → inti + Ket + Spec, FN → inti + Komp + Ket, FN → inti + Ket + Komp, FN → inti + Komp + Ket + Spec, FN → Ket + inti, FN → Ket + inti + Spec, FN → Ket + inti + Ket, FN → Ket + inti + Komp + Spec, dan FN → Spec + inti + Komp.

M Pujiono (2015) dengan judul Analisi Frase Nominal Bahsa Jepang Berdasarkan Teori X-Bar (Suatu Kajian Sintaksis) mengatakan dalam penelitiannya bahwa struktur frase nominal Bahasa Jepang berdasarkan bentuk mempunyai enam struktur. Dan juga mempunyai enam kaidah struktur frasa nomina Bahasa Jepang.

Frasa Bahasa Bali Kuna dan Perkembangannya ke Bahasa Bali Modern oleh NLS Beratha (2012) menganalisa frasa Bali Kuna dan Modern dengan menerapkan teori tipologi struktural, namun secara struktur internal frasa nomina dianalisa menggunakan sub-teori Government and Binding (GB) atau sering disebut sebagai teori perbandingan, dimana dari salah satu subsistemnya adalah teori X-bar. Dikatakan dalam penelitiannya bahwa bahasa Bali Kuna dan frasa Bali modern endosentris, terdiri dari frasa nomina, frasa verba, frasa adjektiva, dan frasa preposisi. Dan dalam perkembangannya, adanya inovasi atau perubahan dari frasa Bahasa Bali Kuna ke frasa Bahasa Bali modern.

(9)

3. Metodologi 3.1 Sumber Data

Dalam penelitian ini digunakan data tulis yang bersumber dari buku berbahasa Karo oleh Geoff Woollams (2004) yaitu Tata Bahasa Karo dan buku Struktur Bahasa sKaro (Yusmaniar, dkk, 1987). Alasan penulis memilih kedua buku tersebut karena di sdalam buku tersebut banyak terdapat frasa nomina yang merupakan objek kajian penelitian.

3.1.1 Teknik Pengumpulan Data

Untuk mendapatkan data ini digunakan studi pustaka (Nazir, 1988:111) yaitu dengan mencari buku yang menjadi sumber data. Dalam mengumpulkan data, penulis menggunakan metode simak dengan teknik catat, yaitu mencatat data-data yang berupa FN dari buku Struktur Bahasa Karo. Dan data-data FN yang telah ditemukan, dikelompokkan menurut inti leksikalnya.

3.1.2 Metode dan Teknik Analisia Data

Data dianalisis dengan metode padan dan agih. Pertama, peneliti menggunakan metode padan referensial dengan teknik dasar berupa teknik pilah unsur penentu dan teknik lanjutan berupa teknik hubung banding menyamakan hal pokok (Sudaryanto,1993:21,27). Kedua, metode agih dengan teknik dasar berupa teknik bagi unsur langsung, dan teknik lanjutan berupa teknik lesap, teknik ganti, dan teknik balik (Sudaryanto,1993 :55).

Metode padan referensial digunakan peneliti untuk menggunakan referen sebuah kata. Dalam hal ini, peneliti membandingkan atau menyamakan referen sifat dengan hal pokok berdasarkan daya pilah yang dimiliki oleh peneliti dan daya pilah yang melekat pada referen tersebut.

Metode agih adalah metode yang digunakan untuk memilah-milah unsur inti (yang menjadi objek kajian) dengan unsur lainnya. Pada metode agih peneliti menggunakan intuisi untuk membagi satuan lingual.

(10)

Teknik ganti digunakan dengan mengganti satuan lingual yang menjadi pokok perhatian dengan satuan lingual pengganti, misalnya, numeralia telu ‘tiga’ pada frasa telu berngi ‘tiga malam’. Apabila numeralia telu ‘tiga’ diganti dengan pitu ‘tujuh’ menjadi pitu boerngi ‘tujuh malam’, maka bentuk yang dihasilkan masih berterima atau gramatikal.

Teknik balik dilakukan dengan membalik unsur satuan lingual data. Misalnya, pada frasa cakapna atena ‘maunya’. Frasa nomina tersebut bila salah satunya unsurnya dibalikkan, maka hasilnya tidak gramatikal, yaitu *atena cakapna. FN seperti ini tidak diterima secara sintaksis maupun semantik dalam Bahasa Karo.

4. Pembahasan

4.1 Fungsi Gramatikal Dalam Membentuk Struktur Frasa Nomina Bahasa Karo 4.1.1 Komplemen (Komp)

Komplemen (Komp) adalah pemerlengkap yang berfungsi untuk melengkapi sebuah kata dalam pembentukan frasa. Dalam Bahasa Karo, komplemen yang sering melengkapi frasa nomina adalah numeralia, nomina, dan verba. Misalnya, kerina jelma ‘semua orang’, adalah frasa nomina yang inti leksikalnya jelma ‘orang’ didampingi oleh komplemen (Komp) FNum kerina ‘semua’.

(11)

FN  FNum + N

FN

N’

Fnum N

Telu perik ‘Tiga’ ‘burung’

Dari contoh diatas dapat dilihat bahwa FN yang inti leksikalnya perik ‘burung’ berada disebelah kana Fnum telu “tiga” sebagai komplemen. Atau dengan kata lain komplemen berada disebelah kiri inti leksikal.

4.1.2 Keterangan (Ket)

(12)

FN  Ket + Inti

FN

N’

FN N’

N

Anak menci

Anak tikus

Frasa nomina Bahasa Karo dapat juga diikuti oleh elemen keterangan yang berkategorikan preposisi, adjektiva, verba maupun adverbia.

4.1.3 Specifier (Spec)

Specifier (Spec) adalah pemerkuat objek yang ditegaskan pada frasa nomina. Dalam FN . Pada struktur frasa, specifier merupakan argumen yang langsung dibawahi X-bar ganda atau frasa X dan mengakibatkan proyeksi maksimal. Berikut contoh menggunakan skema X-Bar :

FN  N + Spec

FN

N’

N’ Spec

(13)

Jika skema diatas diaplikasikan ke dalam bentuk yang informal, maka hasilnya adalah FN Dahin e ‘Kerjaan itu’ sebagai proyeksi tertingi menurunkan N’ (N-bar) yang memproyeksikan specifier e ‘itu’, kemudian pada tataran yang kedua hadir N’(N-bar) bersama dengan kategori leksikalnya yaitu Dahin e ‘kerjaan itu’.

4.2 Kaidah Struktur Frasa Nomina Bahasa Batak Toba 4.2.1 Berdasarkan bentuk

4.2.1.1 FN  N + N

(1) [Rimo] acem nini ‘Jeruk nipis nenek’

FN

N’

N

Rimo ‘Jeruk’

Frasa nomina di atas adalah frasa yang langsung membawahi inti leksikalnya atau dengan kata lain frasa tersebut mendominasi N’(N-bar) dan kategori leksikalnya tidak bercabang. Artinya, frasa nomina (FN) dapat langsung menurunkan N ganda tanpa mempunyai komplemen, keterangan, dan specifier.

(14)

rimo ‘jeruk’ pada kalimat tersebut juga merupakan sebuah frasa nomina (FN) meskipun tidak diikuti oleh atribut acem ‘asam’, karena kalimat yang dihasilkan tetap gramatikal yaitu rimo nini ‘jeruk nenek’.

3.2.1.2 FN  N + Spec

(2) [Sabah] ah ‘Sawah itu’

FN

N’

N’ Spec N

Sabah ah Sawah itu

(15)

3.2.1.3 FN  N + Spec + V

(3) [Rumah] si iban ‘rumah yang dibangun’

FN

N’ V

N Spec

Rumah si iban

Rumah yang dibangun

Dari contoh diatas yang menjadi inti leksikalnya ialah rumah, dan keterangannya ialah ibangun di dominasi oleh N-Bar.

3.2.1.4 FN  N + Spec + A

(4) [Amak] si mejile ‘Tikar yang cantik’

FN

N’ A

N Spec

Amak si mejile ‘Tikar yang cantik’

(16)

3.2.1.5 FN  Num + N

(5) [Sada] Mesjid ‘Sebuah Mesjid’

FN

Num N

Sada Mesjid

Dari contoh diatas dijelaskan bahwa terbentuknya FN karena penggabungan antara sada dan mesjid.

4.2.2 Berdasarkan Arti 4.2.2.1 FN  N + N

Frasa Nomina yang dibangun oleh N+N mengandung arti bahwa kata yang kedua menjelaskan kata yang pertama. Contoh:

a. Kotak isap ‘kotak rokok’ c. Tarum rumah ‘atap rumah’ b. Pintun rumah ‘pintu rumah’ d. Binangun rumah ‘tiang rumah’

a. Kotak isap b. Pintun rumah

FN FN

N N N N

Kotak Isap Pintun rumah

(17)

4.2.2.2 FN  N + Spec

Frasa Nomina yang dibangun oleh N+Spec berarti bahwa kata yang kedua sebagai pembatas atau penentu kata pertama. Contoh:

a. Bunga ah ‘bunga itu’ c. Perik ah ‘burung itu’ b. Motor enda ‘mobil ini’ d. Jering enda ‘jengkol ini’

a. Bunga ah b. Jering enda

FN FN

N’ N’

N Spec N Spec

Bunga ah Jering enda

Bunga itu jengkol ini

4.2.2.3 FN  N + Spec + V

Frasa Nomina yang dibangun oleh N + Spec + V berarti bahwa kata yang kedua menjelaskan dan sekaligus menyatakan perbuatan yang telah dikerjakan oleh kata yang pertama. Contoh:

(18)

a. Nande si mere minem

FN

N’ V N Spec

Nande si mere minem Ibu yang menyusukan

b. Rimo si iperani

FN

N’ V

N Spec

(19)

Frasa Nomina yang dibangun dengan N + Spec + A berarti bahwa kata yang kedua itu sebagai atribut pada kata yang pertama. Contoh:

a. Dalan si medalit ‘Jalan yang licin’ b. Kacamata si mejile ‘Kacamata yang bagus’ c. Barang si meherga ‘Barang yang mahal’ d. Duit si melala ‘Uang yang banyak’ a. Dalan si medalit

FN

N’ A

N Spec

Dalan si medalit

Jalan yang licin

b. Barang si meherga

FN

N’ A

N Spec

Barang si meherga

(20)

Frasa Nomina yang dibangun oleh N + Num itu berarti bahwa kata yang pertama menyatakan jumlah kata yang kedua. Contoh:

a. Sepuluh wari ‘Sepuluh hari’ b. Telu bulan ‘Tiga bulan’ c. Empat minggu ‘Empat minggu’ d. Waluh tahun ‘Delapan tahun’

a. Sepuluh wari b. Waluh tahun

FN FN

N Num N Num

Sepuluh wari Waluh tahun

Sepuluh hari Delapan tahun

3.2.2.6 FN  N + Spec

Frasa Nomina yang dibangun oleh N+Spec pada bagian ini berbeda dengan FN  N+Spec pada bagian yang sebelumnya yang telah di bahas. Pada bagian ini unsur FN yang dibangun oleh N+Spec menyatakan bahwa kata kedua itu sebagai penegas kata pertama. Contoh:

(21)

FN FN

N’ N’

N Spec N Spec

Kalak ah pe Kami pe

Mereka itu pun Kami pun

5. Simpulan

Struktur internal frasa nomina Bahasa Karo dibentuk oleh komplemen, keterangan, dan specifier. Struktur mendasar FN adalah inti leksikal yaitu nomina plus komplemen yang berkategori numeralia, nomina, verba, dan Adjektiva. Struktur FN dapat diperluas dengan keterangan yang berkategori komplemen. Komplemen dan keterangan dapat terletak di kiri atau kanan inti leksikal dalam skema X-bar. Dan komplemen bersifat iteratif karena dapat hadir lebih dari satu kali dalam skema X-bar.

Dari hasil analisis maka diperoleh kesimpulan, bahwa:

1. Berdasarkan bentuk : (a) N+N, (b) N+Spec, (c) N+Spec+N, (d) N+Spec+A, (e) Num+N.

2.Berdasarkan Arti : (a) FN→N’.N’→N.N, (b) FN→N’.N’→N.Spec, (c) FN→N’.N’→N.Spec.N, (d) FN→N’.N’→N.Spec.A (e) FN→N’.N’→Num.N

(22)

Haegemen, Liliane. 1992. Introduction to Government and Binding Theory. Oxford: Blackwell.

Mulyadi. 1998. Frase Nomina Bahasa Indonesia: Analisis X-bar. Komunikasi Penelitian, 10 : 216-231.

Noor, Yusmaniar, dkk. 1984/1985. Struktur Bahasa Karo. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Radford, A. 1981. Transformational Syntax. Cambridge: Cambridge University Press. Ramlan, M. 1987. Ilmu Bahasa Indonesia: Sintaksis. Yogyakarta : CV. Karyono.

Sudaryanto. 2016. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa. Yogyakarta: Sanata Dharma University Press.

Tarigan, HG. 1977. Sintaksis Bahasa Karo. Bandung: Bahasa dan Sastra Indonesia FKSS IKIP.

Woollans Geoff. 2004. Tata Bahasa Karo. Medan: Bina Media Perintis.

Skripsi

Beratha, NLS. 2012. “Frasa Bahasa Bali Kuna dan Perkembangannya ke Bahasa Bali modern”. Bali: Universitas Udayana.

Pujiono, Mhd. 2014. “Analisis Frase Nominal Bahasa Jepang Berdasarkan Teori X-Bar (Suatu Kajian Sintaksis)”. Medan: Departemen Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya USU.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...