• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rational Emotive Behvioural Therapy (REBT) untuk Meningkatkan Kemampuan Regulasi Emosi Remaja Korban Kekerasan Seksual.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Rational Emotive Behvioural Therapy (REBT) untuk Meningkatkan Kemampuan Regulasi Emosi Remaja Korban Kekerasan Seksual."

Copied!
88
0
0

Teks penuh

(1)

TESIS

Diajukan untuk memenuhi persyaratan

Ujian Magister Psikologi Profesi

Oleh

NILA ANGGREINY

117029017

MAGISTER PSIKOLOGI PROFESI

KEKHUSUSAN KLINIS ANAK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

Halaman

HALAMAN JUDUL ... ... i

HALAMAN PENGESAHAN ... ... ii

HALAMAN PERNYATAAN ... ... iii

KATA PENGANTAR ... ... iv

DAFTAR ISI ... ... viii

DAFTAR TABEL ... ... xi

DAFTAR GAMBAR ... ... xii

ABSTRAK ... ... xiii

BAB I PENDAHULUAN

A...Latar belakang ...

... 1 B...Perum

usan masalah... ... 8 C...Tujuan

penelitian ... ... 8 D...Manfaa

(3)

E...Sistem atika penelitian...

... 9

BAB II LANDASAN TEORI

A...Regula si Emosi ...

... 11 A.1. Defenisi Regulasi Emosi...

... 11 A.2. Ciri-ciri Regulasi Emosi ...

... 13 A.3. Faktor-faktor yang mempengaruhi regulasi emosi ....

... 14 A.4. Aspek-aspek regulasi emosi...

... 17 A.5. Strategi regulasi emosi ...

... 18 B...Ration

al Emotive Behaviour Therapy(REBT)... ... 19 B.1. Pengertian...

... 19 B.2. Konsep dasar REBT ...

... 19 B.3. Keyakinan Irasional dalam REBT...

... 21 B.4. Tahap pelaksanaan REBT...

... 22 B.5. Teknik dalam REBT...

... 23 C...Kekera

san Seksual pada Remaja ... ... 26 C.1. Defenisi ...

... 26 C.2. Klasifikasi kekerasan sesksual ...

... 27 C.3. Dampak Kekerasan Seksual...

(4)

D...T erapi REBT dalam meningkatkan regulasi emosi pada

remaja korban kekerasan seksual... ... 29 E...Hipote

sa ... ... 33

BAB III METODE PENELITIAN

A...Desain penelitian ...

... 34 B...Variab

el penelitian ... ... 34 C...Defeni

si operasional ... ... 35 D...Subjek

penelitian ... ... 35 E...Alat

ukur penelitian ... ... 36 F...Validit

as dan Reliabilitas alat ukur... ... 37 G...Tahapa

n penelitian ... ... 37 H...Rancan

gan intervensi program intervensi... ... 41 I...Kriteri

a keberhasilan ... ... 42 J...Analisa

(5)

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A...Deskri psi subjek penelitian...

... 43 B...Hasil

analisis data ... ... 45 1...Hasil

analisis data secara umum ... ... 46 2...Hasil

analisis data individual ... ... 48 a...Subjek

A ... ... 49 b...Subjek

B ... ... 58 C...Pemba

hasan ... ... 66 1...Pemba

hasan data ... ... 66 2...Kelem

ahan penelitian ... ... 68

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A...Kesim pulan ...

(6)

B... Saran-saran ...

... 70

DAFTAR PUSTAKA... ... 71

LAMPIRAN-LAMPIRAN

(7)

Tabel 3.1 Blue print DERS...

36

Tabel 3.2 Jadwal pelaksanaan intervensi subjek A...

39

Tabel 3.3 Jadwal pelaksanaan intervensi subjek B ...

40

Tabel 3.4 Rancangan intervensi ...

41

Tabel 4.1 Deskripsi subjek ...

43

Tabel 4.2 Perbandingan skor aspek DERS subjek...

47

Tabel 4.3 Perbandingan skor aspek DERS subjek A ...

54

Tabel 4.4 Perbandingan skor aspek DERS subjek B ...

(8)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Paradigma penelitian...

32

Gambar 4.1 Perbandingan skor subjek ...

46

Gambar 4.2 Perbandingan skor aspek DERS subjek...

47

Gambar 4.3 perbandingan skor subjek A...

49

Gambar 4.4 Perbandingan skor aspek DERS subjek A ...

54

Gambar 4.5 Dinamika Subjek A...

57

Gambar 4.6 Perbandingan skor subjek B...

58

Gambar 4.7 Perbandingan skor aspek DERS subjek B ...

(9)

ABSTRAK

Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara

Februari 2014

Nila Anggreiny : 117029017

Rational Emotive Behvioural Therapy (REBT)untuk Meningkatkan Kemampuan Regulasi Emosi Remaja Korban Kekerasan Seksual.

X + 73 halaman; 2014, 8 tabel

Bibliografi : 35 (1990-2013)

(10)

Partisipan dalam penelitian adalah dua orang remaja korban kekerasan seksual yang mengalami kesulitan dalam regulasi emosi. Pengukuran regulasi emosi dilakukan sebelum dan sesudah perlakuan. Analisa data yang digunakan adalah dekriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh

REBT untuk meningkatkan kemampuan regulasi emosi. Pada kedua subjek, aspek

strategy mengalami peningkatan yang menunjukkan subjek mulai mampu menemukan cara dalam meregulasi emosi. Pada subjek A kelima aspek yang lain juga mengalami perubahan namun tidak terlalu banyak. Subjek B mengalami perubahan lebih baik untuk semua aspek. Perbedaan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti pola asuh, pengaruh teman sebaya.

Kata kunci : regulasi emosi, rational emotive behavioural therapy, kekerasan seksual.

ABSTRACT

Faculty of Psychology, University of Sumatera Utara February 2014

Nila Anggreiny : 117029017

Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) to Improve the Regulation Emotion in Adolescent Victim of Sexual Abuse

X + 73 pages; 2014, 8 tables

Bibliography: 35 (1990-2013)

(11)

Participants in the study were two young victims of sexual violence who have difficulties in emotion regulation. Measurement of emotion regulation performed before and after treatment. Analysis of the data used is descriptive qualitative. The results of this study indicate that there is the effect of REBT to improve emotion regulation. On both subjects, aspects of the strategy to increase the subject shows begin to find ways to regulate emotions. On the subject of A, another fifth aspect is also changing, but not too much. Subject B experienced a change for the better all aspects. This difference is influenced by several factors such as parenting, peer influence.

(12)

ABSTRAK

Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara

Februari 2014

Nila Anggreiny : 117029017

Rational Emotive Behvioural Therapy (REBT)untuk Meningkatkan Kemampuan Regulasi Emosi Remaja Korban Kekerasan Seksual.

X + 73 halaman; 2014, 8 tabel

Bibliografi : 35 (1990-2013)

(13)

Partisipan dalam penelitian adalah dua orang remaja korban kekerasan seksual yang mengalami kesulitan dalam regulasi emosi. Pengukuran regulasi emosi dilakukan sebelum dan sesudah perlakuan. Analisa data yang digunakan adalah dekriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh

REBT untuk meningkatkan kemampuan regulasi emosi. Pada kedua subjek, aspek

strategy mengalami peningkatan yang menunjukkan subjek mulai mampu menemukan cara dalam meregulasi emosi. Pada subjek A kelima aspek yang lain juga mengalami perubahan namun tidak terlalu banyak. Subjek B mengalami perubahan lebih baik untuk semua aspek. Perbedaan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti pola asuh, pengaruh teman sebaya.

Kata kunci : regulasi emosi, rational emotive behavioural therapy, kekerasan seksual.

ABSTRACT

Faculty of Psychology, University of Sumatera Utara February 2014

Nila Anggreiny : 117029017

Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) to Improve the Regulation Emotion in Adolescent Victim of Sexual Abuse

X + 73 pages; 2014, 8 tables

Bibliography: 35 (1990-2013)

(14)

Participants in the study were two young victims of sexual violence who have difficulties in emotion regulation. Measurement of emotion regulation performed before and after treatment. Analysis of the data used is descriptive qualitative. The results of this study indicate that there is the effect of REBT to improve emotion regulation. On both subjects, aspects of the strategy to increase the subject shows begin to find ways to regulate emotions. On the subject of A, another fifth aspect is also changing, but not too much. Subject B experienced a change for the better all aspects. This difference is influenced by several factors such as parenting, peer influence.

(15)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Regulasi Emosi merupakan sebuah proses secara sadar ataupun tidak sadar

untuk mempertahankan, memperkuat atau mengurangi satu atau lebih aspek dari

respon emosi yaitu pengalaman emosi dan perilaku. Seseorang yang memiliki

regulasi emosi dapat mempertahankan atau meningkatkan emosi yang

dirasakannya baik positif maupun negatif. Selain itu, seseorang juga dapat

mengurangi emosinya baik positif maupun negatif. Seseorang yang mampu

meregulasi emosinya dengan baik akan mendapatkan dampak positif bagi

kesehatan fisik, tingkah laku dan hubungan sosial ( Gross, 2007).

Menurut Thomson (dalam Siener & Kerns, 2012) regulasi emosi

melibatkan proses intrinksik dan eksktrinsik dimana di dalamnya ada proses

evaluasi, memonitoring dan merubah respon emosi terhadap suatu kejadian.

Individu yang dikatakan memiliki regulasi emosi yang baik adalah jika bisa

memiliki kendali diri, hubungan interpersonal yang baik, bersikap hati-hati,

mudah menyesuaikan diri, toleransi yang tinggi terhadap frustasi, dan memiliki

pandangan positif terhadap dirinya dan lingkungan (Golman, 2004).

Kemampuan regulasi emosi seseorang juga bisa dilihat dari beberapa

aspek seperti kemampuan individu menemukan cara yang dapat mengurangi

(16)

serta kemampuan individu untuk menerima peritistiwa yang menimbulkan emosi

negative (acceptance).

Beberapa penelitian menunjukkan kejadian traumatis bisa menyebabkan

seseorang menunjukkan regulasi emosi yang tidak efektif seperti dalam

mengeskpresikan emosi yang tidak tepat (Boden, 2013). Kesulitan dalam regulasi

emosi bisa meningkatkan simtom-simtom PTSD (Post Traumatic Stress

Disorder). Munculnya perilaku internalizingdan externalizing juga berhubungan dengan kemapuan seseorang dalam meregulasi emosinya (Bowie, 2010). Korban

kekerasan seksual serta korban maltreatmen yang lain menunjukkan perubahan

regulasi emosi yang sangat hebat.

Kekerasan seksual merupakan salah satu bentuk peristiwa traumatis. Saat ini

penelitian menunjukkan kekerasan seksual pada anak dan remaja menjadi

masalah yang sangat mengkhawatirkan. Kasus kekerasan anak yang terus

meningkat salah satunya adalah kekerasan seksual. Di Indonesia menurut Sirait

dari Komisi Nasional Perlindungan Anak sebanyak 2.637 kasus kekerasan yang

menimpa anak di bawah terjadi di sepanjang tahun 2012. Di mana 48 persen atau

1.075 merupakan korban kekerasan seksual. Kemudian 82 persen korban berasal

dari keluarga ekonomi menengah ke bawah. Di Sumatera Utara berdasarkan data

yang dihimpun oleh yayasan Pusaka Indonesia Medan yang merupakan sebuah

Lembaga Swadaya Masyarakat yang fokus terhadap perlindungan anak dan

wanita melaporkan terdapat 131 kasus kekerasan seksual terhadap anak yang

(17)

Menutut Hopper (2005) data statistik hanya menunjukkan “tip of iceberg” ujung dari batu es karena dalam kenyataannya banyak korban kekerasan seksual

yang belum terdata dengan baik . Sulitnya memperoleh data yang akurat karena:

(a) batasan pengertian seksual pada anak cukup beragam dan dipengaruhi oleh

sudut pandang, (b) data yang diperoleh juga mencakup data pengalaman orang

dewasa di masa kecil mereka, sementara kemampuan mengingat relatif terbatas,

dan (c) data yang diperoleh hanya berdasarkan laporan kasus, padahal masih

banyak yang tidak dilaporkan.

Kekerasan seksual adalah setiap bentuk perilaku yang memiliki muatan

seksual yang dilakukan seseorang atau sejumlah orang namun tidak disukai dan

tidak diharapkan oleh orang yang menjadi sasaran sehingga menimbulkan akibat

negatif, seperti: rasa malu, tersinggung, terhina, marah, kehilangan harga diri,

kehilangan kesucian, dan sebagainya, pada diri orang yang menjadi korban.

Menurut Wahid dan Irfan (dalam Abu Hurairah, 2007) kekerasan seksual

merupakan istilah yang menunjuk pada perilaku seksual deviatif atau hubungan

seksual yang menyimpang, merugikan pihak korban dan merusak kedamaian di

tengah masyarakat. Menurut Disney (dalam Ellsworth, 2007) kekerasan seksual

adalah menggunakan anak sebagai alat seksual oleh seseorang yang mempunyai

kekuatan lebih besar dari pada anak. Kekuatan ini bisa berupa usia, status mental

secara verbal, fisik dan emosi.

Semua pihak berkeyakinan bahwa semua anak kelahirannya diinginkan,

direncanakan dan, oleh karena itu, masa depannya akan sangat diperdulikan.

(18)

mengalami berbagai bentuk kekerasan, diskriminasi, eksploitasi, dan

penelantaran. Pada tahun 2003 sekretaris Jendral PBB menugaskan perwakilannya

di seluruh dunia untuk melakukan kajian mengenai kekerasan terhadap anak.

Hasil yang dilaporkan pada tahun 2006 menunjukkan bahwa kekerasan terhadap

anak adalah masalah global, di semua negara yang terlibat, anak-anak mengalami

berbagai bentuk kekerasan seperti hukuman fisik, pemaksaan kerja atau

eksploitasi dalam berbagai pekerjaan yang berbahaya (pertambangan, sampah,

seks komersial, perdagangan narkoba, dan lain- lain), diskriminasi, perkawinan

dini, dan pornografi.

Kekerasan terhadap anak dan remaja yang terjadi di sekitar kita tidak saja

dilakukan oleh pihak luar tetapi juga dilakukan oleh keluarga sendiri yakni orang

tua. Kasus-kasus kekerasan yang menimpa anak dan remaja, tidak saja terjadi di

perkotaan tetapi juga di pedesaan. Sementara itu, para pelaku kekerasan, 68 %

dilakukan oleh orang yang dikenal anak, termasuk 34 % dilakukan oleh orangtua

kandung sendiri (Hakim, L, 2008). Studi yang dilakukan Lembaga Perlindungan

Anak (LPA) Jawa Timur bekerja sama dengan UNICEF ( dalam Hurairah, 2007)

mengungkapkan pelaku biasanya adalah orang yang sudah dikenal korban, baik

tetangga, saudar, kerabat atau bahkan kakek atau ayah kandung. Ini juga didukung

oleh data yang dikumpulkan oleh Yayasan Pusaka Indonesia menunjukkan bahwa

pelaku diantaranya teman, pacar, tetangga, orang tua tiri/kandung, kakek, sepupu,

abang ipar dan guru, namun ada juga yang dilakukan oleh orang yang tidak

(19)

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Wordes & Nunner (2002)

rentang usia remaja awal hingga dewasa pada tingkatan usia remaja lebih sering

menjadi korban kekerasan seksual. Kekerasan seksual pada remaja bisa terjadi di

rumahdan, di sekolah dan di lokasi lainnya. Berdasarkan jenis kelamin remaja

putri lebih rentan tujuh kali dibandingkan remaja laki-laki menjadi korban

kekerasan seksual. Remaja yang hidup dijalan lebih rentan dari pada remaja yang

memiliki keluarga.

Kekerasan seksual cenderung menimbulkan dampak traumatis baik pada

anak maupun pada orang dewasa yang menjadi korban (Ellsworth, 2007). Secara

umum peristiwa tersebut bisa menimbulkan dampak jangka pendek maupun

jangka panjang. Keduanya merupakan suatu proses adaptasi setelah seseorang

yang mengalami peristiwa traumatis (Hayati, 2000, Wirawan dalam Ayuningrum,

2008 ). Dampak fisik dari kekerasan seksual biasanya terjadi dalam jangka pendek

seperti luka fisik, pusing, letih, gangguan tidur, akit pencernaan, kehilangan nafsu

makan atau keluhan vagina. Dampak psikis dari kekerasan seksual terjadi dalam

jangka pendek maupun jangka panjang. Korban kekerasan seksual dapat

menunjukkan respon tertunda yang belum muncul memasuki tahap perkembangan

berikutnya. Keluhan yang biasanya muncul: mimpi buruk, kecemasan berpisah

yang tidak sesuai dengan usianya, depresi, keluhan psikosomatis, malu untuk

kesekolah atau mengalami kesulitan untuk belajar. Mereka juga mengalami

gangguan sosial dan emosional seperti rendah diri, menarik diri, merasa tidak

mempunyai harapan, tidak berdaya, keinginan bunuh diri, tidak dapat mencintai,

(20)

Putnam (2003) memaparkan anak dan remaja yang mengalami kekerasan

seksual ada yang menunjukkan karakteristik: a). Memiliki masalah dalam regulasi

perasaan dan emosinya seperti pikiran bunuh diri, mengontrol marah, b) Dalam

hal hal kesadaran, c) Bermasalah dalam persepsi diri seperti merasa malu,

bersalah dan tidak berdaya, d) Masalah hubungan dengan orang lain seperti

menarik diri, tidak percaya, e) Gangguan somatis.

Dari pemaparan diatas dapat disimpulkan permasalahan yang dialami oleh

anak dan remaja korban kekerasan seksual dapat berupa perilaku maupun emosi.

Menurut Taylor & Chemtob ( dalam Normala, 2012) dampak psikologis akibat

kekerasan seksual tidak hanya dirasakan sesaat setelah kekerasan terjadi , namun

hingga berbulan-bulan bahkan hingga bertahun-tahun kemudian. Perlu dilakukan

tritmen yang jelas untuk bisa meningkatkan kondisi psikologisnya menjadi lebih

baik. Menurut Gill (1996) tretmen ada remaja yang mengalami kekerasan seksual

juga harus memperhatikan beberapa dimensi perkembangan mereka seperti emosi,

perilaku dan proses berpikir.

Salah satu teknik terapi yang melihat hubungan antara emosi, pikiran dan

perilaku adalah REBT (Rational Emotif Behaviour Therapy). Konsep dasar dari REBT adalah emosi dan perilaku merupakan hasil dari proses kognitif. Gangguan

emosi berasal dari adanya kesalahan dalam berfikir terhadap suatu kejadian.

Kesalahan dalam proses berfikir menyebabkan timbulnya pikiran-pikiran yang

irasional yang tidak masuk akal, menyalahkan diri sendiri serta menimbulkan

(21)

adanya timbul pikiran ada yang mengancam diri atau karena tingkat toleransi

terhadap frustasi yang rendah (Ress, 2006). Selanjutnya, Ellis (dalam Corey,

2006) juga mengatakan bahwa peristiwa yang terjadi pada individu akan direaksi

sesuai dengan cara berpikir atau sistem keperecayaannya. Jadi konsekuensi reaksi

yang dimunculkan seperti sedih, senang, marah, frustasi bukanlah akibat peristiwa

yang dialami individu melainkan dari cara berpikirnya.

Menurut Ellis (dalam Corey, 1996), REBT dapat digunakan dalam

mengatasi berbagai masalah seperti Conduct Disorder, agresi, kecemasan, perilaku distruktif, ADHD, self-esteem yang rendah, pikiran-pikiran yang irasional, general anxietydan prestasi akademik yang rendah.

Formulasi yang dipakai dalam terapi REBT adalah A-B-C-D-E, yaitu

antecedent, belief, emotional consequence, desputing dan effect. Efek adalah keadaan psiklogis yang diharapkan terjadi pada klien setelah menjalani terapi.

Melalui terapi klien diarahkan dapat memiliki dimensi psikologis yang utuh dan

sehat, dapat mengarahkan dirinya ke arah yang lebih positif, berpikir flesibel serta

dapat menerima keadaan dirinya secara keseluruhan.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas, maka permasalahan yang dapat dirumuskan

dalam penelitian ini adalah apakah terapi Rational Emotive Behaviour Therapy

(REBT) efektif dalam meningkatkan regulasi emosi pada remaja korban

(22)

C. Tujuan Penelitian

C.1 Tujuan Umum

Penelitian ini bertujuan menguji pengaruh terapi Rational Emotive Behaviour Therapy (REBT) untuk meningkatkan regulasi emosi pada remaja korban kekerasan seksual.

C.2. Tujuan Khusus

Menguji pengaruh terapi Rational Emotive Behaviour Therapy(REBT) untuk

meningkatkan regulasi emosi pada aspek Acceptance, Goal, Strategydan Impulse

pada remaja korban kekerasan seksual.

D. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari penelitian ini adalah :

D. 1. Manfaat teoritis penelitian

a. Penelitian ini diharapkan menjadi masukkan dan sumber informasi bagi

disiplin ilmu psikologi terutama di bidang psikologi anak, khususnya

mengenai gambaran efektivitas terapi REBT pada remaja korban

kekerasan seksual

D. 2. Manfaat praktis penelitian

a. Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan dasar pengetahuan

dan masukan bagi peneliti-peneliti lain yang ingin melakukan penelitian

(23)

b. Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi bahan referensi atau

bahan pertimbangan bagi berbagai pihak yang ingin menerapkan terapi

REBT pada remaja korban kekerasan seksual.

E. Sistematika Penulisan

Adapun sistematika penulisan dari penelitian ini adalah:

Bab I Pendahuluan : dalam bab ini berisikan uraian mengenai latar

belakang permasalahan, perumusan masalah, tujuan penelitian,

manfaat penelitian dan sistematika penulisan.

Bab II Tinjauan pustaka : dalam bab ini diuraikan beberapa teori yang

digunakan dalam penelitian yaitu regulasi emosi, terapi REBT dan

kekerasan seksual.

Bab III Metode penelitian : dalam bab ini diuraikan tentang pendekatan

yang digunakan dalam penelitian, metode pengumpulan data,

subjek dan lokasi penelitian, prosedur penelitian, tahap

pelaksanaan penelitian dan metode analisis data.

Bab IV Pelaksanaan dan Hasil Penelitian

Berisikan pelaksanaan intervensi, hasil penelitian serta pembahasan

hasil penelitian efektivitas penerapan terapi REBT terhadap remaja

(24)

Bab V Kesimpulan dan Saran

Pada bab ini akan diuraikan tentang kesimpulan dan akan dibahas

pula tentang bagaimana implikasi hasil penelitian terhadap

(25)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Regulasi Emosi

A.1 Definisi Regulasi emosi

Regulasi emosi ialah kapasitas untuk mengontrol dan menyesuaikan emosi

yang timbul pada tingkat intensitas yang tepat untuk mencapai suatu tujuan.

Regulasi emosi yang tepat meliputi kemampuan untuk mengatur perasaan, reaksi

fisiologis, kognisi yang berhubungan dengan emosi, dan reaksi yang berhubungan

dengan emosi (Shaffer, 2005).

Sementara itu, Gross (2007) menyatakan bahwa regulasi emosi ialah strategi

yang dilakukan secara sadar ataupun tidak sadar untuk mempertahankan,

memperkuat atau mengurangi satu atau lebih aspek dari respon emosi yaitu

pengalaman emosi dan perilaku. Seseorang yang memiliki regulasi emosi dapat

mempertahankan atau meningkatkan emosi yang dirasakannya baik positif

maupun negatif. Selain itu, seseorang juga dapat mengurangi emosinya baik

positif maupun negatif.

Sedangkan menurut Gottman dan Katz (dalam Wilson, 1999) regulasi emosi

merujuk pada kemampuan untuk menghalangi perilaku tidak tepat akibat kuatnya

intensitas emosi positif atau negatif yang dirasakan, dapat menenangkan diri dari

pengaruh psikologis yang timbul akibat intensitas yang kuat dari emosi, dapat

memusatkan perhatian kembali dan mengorganisir diri sendiri untuk mengatur

(26)

Eisenberg, Fabes, Reiser & Guthrie 2000) menjelaskan bahwa regulasi emosi

merupakan proses menerima, mempertahankan dan mengendalikan suatu

kejadian, intensitas dan lamanya emosi dirasakan, proses fisiologis yang

berhubungan dengan emosi, ekspresi wajah serta perilaku yang dapat diobservasi.

Thompson (dalam Eisenberg, Fabes, Reiser & Guthrie 2000) mengatakan

bahwa regulasi emosi terdiri dari proses intrinsik dan ekstrinsik yang bertanggung

jawab untuk mengenal, memonitor, mengevaluasi dan membatasi respon emosi

khususnya intensitas dan bentuk reaksinya untuk mencapai suatu tujuan. Regulasi

emosi yang efektif meliputi kemampuan secara fleksibel mengelola emosi sesuai

dengan tuntutan lingkungan.

Aspek penting dalam regulasi emosi ialah kapasitas untuk memulihkan

kembali keseimbangan emosi meskipun pada awalnya seseorang kehilangan

kontrol atas emosi yang dirasakannya. Selain itu, seseorang hanya dalam waktu

singkat merasakan emosi yang berlebihan dan dengan cepat menetralkan kembali

pikiran, tingkah laku, respon fisiologis dan dapat menghindari efek negatif akibat

emosi yang berlebihan (Sukhodolsky, Golub & Cromwell dalam Gratz & Roemer,

2004).

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa regulasi emosi ialah

suatu proses intrinsik dan ekstrinsik yang dapat mengontrol serta menyesuaikan

emosi yang muncul pada tingkat intensitas yang tepat untuk mencapai suatu

tujuan yang meliputi kemampuan mengatur perasaan, reaksi fisiologis, cara

(27)

suara) serta dapat dengan cepat menenangkan diri setelah kehilangan kontrol atas

emosi yang dirasakan.

A.2. Ciri-ciri regulasi emosi

Individu dikatakan mampu melakukan regulasi emosi jika memiliki kendali

yang cukup baik terhadap emosi yang muncul. Kemampuan regulasi emosi dapat

dilihat dalam lima kecakapan yang dikemukakan oleh Goleman (2004), yaitu :

a. Kendali diri, dalam arti mampu mengelola emosi dan impuls yang merusak

dengan efektif.

b. Memiliki hubungan interpersonal yang baik dengan orang lain.

c. Memiliki sikap hati-hati.

d. Memiliki adaptibilitas, yang artinya luwes dalam menangani perubahan dan

tantangan.

e. Toleransi yang lebih tinggi terhadap frustasi.

f. Memiliki pandangan yang positif terhadap diri dan lingkungannya.

Menurut Martin (2003) ciri-ciri individu yang memiliki regulasi emosi

ialah :

a. Bertanggung jawab secara pribadi atas perasaan dan kebahagiaannya.

b. Mampu mengubah emosi negatif menjadi proses belajar dan kesempatan

untuk berkembang.

c. Lebih peka terhadap perasaan orang lain.

d. Melakukan introspeksi dan relaksasi.

(28)

f. Tidak mudah putus asa dalam menghadapi masalah.

Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri individu yang

dapat melakukan regulasi emosi ialah memiliki kendali diri, hubungan

interpersonal yang baik, sikap hati-hati, adaptibilitas, toleransi terhadap frustasi,

pandangan yang positif, peka terhadap perasaan orang lain, melakukan introspeksi

dan relaksasi, lebih sering merasakan emosi positif daripada emosi negatif serta

tidak mudah putus asa.

A.3. Faktor-faktor yang mempengaruhi regulasi emosi

Bbeberapa faktor yang mempengaruhi kemampuan regulasi emosi seseorang,

yaitu :

a. Usia.

Penelitian menunjukkan bahwa bertambahnya usia seseorang dihubungkan

dengan adanya peningkatan kemampuan regulasi emosi, dimana semakin

tinggi usia seseorang semakin baik kemampuan regulasi emosinya. Sehingga

dengan bertambahnya usia seseorang menyebabkan ekspresi emosi semakin

terkontrol (Maider dalam Coon, 2005). Dari penjelasan di atas dapat diambil

kesimpulan bahwasanya lansia memiliki kemampuan regulasi emosi yang

semakin baik.

b. Jenis Kelamin.

Beberapa penelitian menemukan bahwa laki-laki dan perempuan berbeda

(29)

mengekspresikan emosi sedih, takut, cemas dan menghindari

mengekspresikan emosi marah dan bangga yang menunjukkan sifat

maskulin. Perbedaan gender dalam pengekspresian emosi dihubungkan

dengan perbedaan dalam tujuan laki-laki dan perempuan mengontrol

emosinya. Perempuan lebih mengekspresikan emosi untuk menjaga

hubungan interpersonal serta membuat mereka tampak lemah dan tidak

berdaya. Sedangkan laki-laki lebih mengekspresikan marah dan bangga

untuk mempertahankan dan menunjukkan dominasi. Sehingga, dapat

disimpulkan bahwa wanita lebih dapat melakukan regulasi terhadap emosi

marah dan bangga, sedangkan laki-laki pada emosi takut, sedih dan cemas

(Fischer dalam Coon, 2005).

c. Religiusitas.

Setiap agama mengajarkan seseorang diajarkan untuk dapat mengontrol

emosinya. Seseorang yang tinggi tingkat religiusitasnya akan berusaha untuk

menampilkan emosi yang tidak berlebihan bila dibandingkan dengan orang

yang tingkat religiusitasnya rendah (Krause dalam Coon, 2005).

d. Kepribadian.

Orang yang memiliki kepribadian ‘neuroticism’ dengan ciri-ciri sensitif,

moody, suka gelisah, sering merasa cemas, panik, harga diri rendah, kurang dapat mengontrol diri dan tidak memiliki kemampuan coping yang efektif terhadap stres akan menunjukkan tingkat regulasi emosi yang rendah (Cohen

(30)

e.Pola Asuh.

Beberapa cara yang dilakukan orang tua dalam mengasuh anak dapat

membentuk kemampuan anak untuk meregulasi emosinya. Parke (dalam

Brenner & Salovey, 1997) mengemukakan beberapa cara orang tua

mensosialisasikan emosi kepada anaknya diantaranya melalui: pendekatan

tidak langsung dalam interaksi keluarga (antara anak dengan orang tua);

teknik teaching dan coaching; dan mencocokkan kesempatan dalam

lingkungan.

f. Budaya.

Norma atau beliefyang terdapat dalam kelompok masyarakat tertentu dapat mempengaruhi cara individu menerima, menerima, menilai suatu

pengalaman emosi, dan menampilkan suatu respon emosi. Dalam hal

regulasi emosi apa yang dianggap sesuai atau culturally permissible dapat mempengaruhi cara seseorang berespon dalam berinteraksi dengan orang

lain dan dalam cara ia meregulasi emosi.

g.Tujuan dilakukannya regulasi emosi (Goals).

Merupakan apa yang individu yakini dapat mempengaruhi pengalaman,

ekspresi emosi dan respon fisiologis yang sesuai dengan situasi yang dialami

(Gross, 1999).

h.Frekuensi individu melakukan regulasi emosi (Strategies).

Merupakan seberapa sering individu melakukan regulasi emosi dengan

(31)

Jikatraitkepribadian yang dimiliki seseorang mengacu pada apa yang dapat individu lakukan dalam meregulasi emosinya (Gross, 1999).

A.4. Aspek-aspek regulasi emosi

Menurut Gross (2007) ada empat aspek yang digunakan untuk menentukan

kemampuan regulasi emosi seseorang yaitu :

a. Strategies to emotion regulation (strategies) ialah keyakinan individu untuk dapat mengatasi suatu masalah, memiliki kemampuan untuk

menemukan suatu cara yang dapat mengurangi emosi negatif dan dapat

dengan cepat menenangkan diri kembali setelah merasakan emosi yang

berlebihan.

b. Engaging in goal directed behavior (goals) ialah kemampuan individu untuk tidak terpengaruh oleh emosi negatif yang dirasakannya sehingga

dapat tetap berpikir dan melakukan sesuatu dengan baik.

c. Control emotional responses (impulse) ialah kemampuan individu untuk dapat mengontrol emosi yang dirasakannya dan respon emosi yang

ditampilkan (respon fisiologis, tingkah laku dan nada suara), sehingga

individu tidak akan merasakan emosi yang berlebihan dan menunjukkan

respon emosi yang tepat.

d. Acceptance of emotional response (acceptance)ialah kemampuan individu untuk menerima suatu peristiwa yang menimbulkan emosi negatif dan

(32)

A.5. Strategi regulasi emosi

Setiap individu memiliki cara yang berbeda dalam melakukan regulasi emosi.

Menurut Gross (2007) regulasi emosi dapat dilakukan individu dengan banyak

cara, yaitu:

a. Situation selection

Suatu cara dimana individu mendekati/menghindari orang atau situasi yang

dapat menimbulkan emosi yang berlebihan. Contohnya, seseorang yang lebih

memilih nonton dengan temannya daripada belajar pada malam sebelum ujian

untuk menghindari rasa cemas yang berlebihan.

b. Situation modification

Suatu cara dimana seseorang mengubah lingkungan sehingga akan ikut

mengurangi pengaruh kuat dari emosi yang timbul. Contohnya, seseorang

yang mengatakan kepada temannya bahwa ia tidak mau membicarakan

kegagalan yang dialaminya agar tidak bertambah sedih.

c. Attention deployment

Suatu cara dimana seseorang mengalihkan perhatian mereka dari situasi yang

tidak menyenangkan untuk menghindari timbulnya emosi yang berlebihan.

Contohnya, seseorang yang menonton film lucu, mendengar musik atau

berolahraga untuk mengurangi kemarahan atau kesedihannya.

d. Cognitive change

Suatu strategi dimana individu mengevaluasi kembali situasi dengan

(33)

pengaruh kuat dari emosi. Contohnya, seseorang yang berpikir bahwa

kegagalan yang dihadapi sebagai suatu tantangan daripada suatu ancaman.

B. Terapi Rational Emotive Behaviour Therapy(REBT)

B 1. Pengertian

Rational Behaviour Emotive Therapy (REBT) merupakan suatu pendekatan yang mempunyai asumsi bahwa kognisi, emosi dan perilaku

mempunyai interaksi satu sama lain dan mempunyai hubungan sebab akibat.

Asumsi dasar dari REBT adalah setiap orang mempunyai kontribusi terhadap

masalah psikologis mereka sendiri yang merupakan hasil dari intepretasi mereka

terhadap situasi dan kejadian. Menurut Gonzalez & Nelson (2004) REBT

merupakan suatu pendekatan kognitif dan perilaku yang dihasilkan bukan berasal

dari kejadian yang dialami namun dari keyakinan – keyakinan yang tidak rasional.

Keyakinan yang tidak rasional akan membawa individu pada emosi dan perilaku

negatif yang tidak sehat.

Berdasarkan uraian diatas dapat diambil kesimpulan REBT merupakan suatu

metode yang menggunakan pendekatan kognitif dalam mengatasi masalah emosi

dan perilaku yang berasal dari keyakinan yang irrasional.

B. 2 Konsep Dasar Terapi Rational Emotive Behaviour Therapy(REBT)

Terapi REBT menggunakan konsep ABC yaitu Activiting event(A), Belief

(34)

a. Activating event (A) adalah peristiwa, fakta, perilaku atau sikap orang lain yang terjadi di dalam maupun di luar diri individu.

b. Belief (B) adalah keyakinan dan nilai individu terhadap suatu peristiwa. Keyakinan terdiri atas dua bagian yaitu: pertama,

keyakinan rasional (rB) yang merupakan keyakinan yang tepat,

masuk akal dan produktif. Kedua, keyakinan irasional (iB) yang

merupakan yang salah, tidak masuk akal, emosional dan tidak

produktif.

c. Emotional consequence (C) adalah konsekuensi emosional baik berupa senang atau hambatan emosi yang diterima individu sebagai

akibat reaksi dalam hubungannya dengan antecedent event (A).

konsekuensi emosional ini bukanlah akibat langsung dari A, tetapi

juga B baik dipengaruhi oleh iB maupun rB individu.

Ellis (dalam Corey, 2006) juga menambahkan bahwa setelah konsep

A-B-C maka menyusul desputing(D) yang merupakan penerapan metode ilmiah untuk

menantang keyakinan irasional. Desputing(D) merupakan dari proses terapi yang dijalankan m1oleh konselor dan klien melalui proses edukatif, dimana konselor

menunjukkan berbagai prinsip logika dan dapat diuji kebenarannya untuk

menyanggah keyakinan irasional klien. Setelah melakukan disputing diharapkan

akan muncul filisofi rasional yang baru dan efektif (E). bila berhasil melakukan

(35)

B.3. Keyakinan Irasional dalam REBT

Munculnya berbagai masalah dalam REBT disebabkan karena adanya

pikiran yang irasioanal. Ada beberapa bentuk pikiran yang irasioanl dalam REBT

diantaranya:

1. Demands

Pada tipe ini orang sering mengekspresikan keyakinannya yang rigid

dalam bentuk harus, mutlak harus.

2. Awfulizing/catastrophizing

Keyakinan ini timbul bila seseorang tidak mendapatkan apa yang ia

inginkan maka ia akan menyimpulkan kejadian tersebut sangat

menyakitkan, sangat buruk.

3. Low frustration tolerance

Keyakinan ini timbul bila seseorang tidak mendapatkan apa yang ia

inginkan maka ia akan menyimpulkan kejadian tersebut sangat berat, ia

sudah tidak tahan lagi.

4. Self, other and life-depreciation beliefs

Bila seseorang tidak mendapatkan apa yang ingin didapatnya dan ia

membuat atribut terhadap dirinya bahwa ia telah gagal, ia tidak menyukai

(36)

B.4. Tahapan Pelaksanaan Rational Emotive Behaviour Therapy(REBT)

Menurut Dryden & Branch (2008) ada tiga tahapan yang harus

dilaksanakan terapis dalam pelaksanaan terapi, antara lain:

a. Fase awal

Tugas dasar terapis dalam fase ini adalah menajalin hubungan yang

terapetik dengan klien. Konsep dasar yang harus dikembangkan adalah;

1. Mendorong klien untuk menceritakan masalahnya

2. Memberikan gambaran tentang REBT kepada klien

3. Mulai menetapkan masalah klien.

4. Menerangkan tentang konsep ‘ABCs daam REBT

5. Mengatasi keraguan klien

b. Tahap pertengahan

Pada tahapan ini proses disputting dimulai dan pada tahapan ini terapis bisa memberikan tugas kepada klien untuk membantu mereka

mengembangkan kemampuan disputing dan menemukan cara agar

berfikir lebih rasional.

Kosep dasar yang harus dikembangkan dalam tahap ini adalahl

1. Menindak lanjuti target dari masalah.

2. Mendorong klien untuk mengerjakan tugas-tugas yang mendukung.

3. Mengidentifias dan merubah keyakinan irasional klien.

4. Mengatasi hambatan untuk berubah dari klien

(37)

c. Tahap penutup

Tugas utama terapis ketika kan mengakhiri terapi adalah meminta

persetujuan dengan klien untuk mengakhiri terapi dengan cara yang

terbaik. Beberapa ha yang perlu diperhatikan diantaranya;

1. Memutuskan kapan dan bagaimana mengakhiri terapi.

2. Mendorong klien untuk menyimpulkan apa yang telah dipelajari.

3. Memberikan penghargaan terhadap peningkatan yang dicapai klien.

4. Mengatasi hambatan dalam mengakhiri terapi.

5. Klien setuju untuk melakukan follow up dan menyimpulkan hasil

terapi.

B.5. Teknik-teknik yang digunakan dalam REBT

Rational Emotive Behavior Therapy dalam proses terapinya menggunakan

beberapa teknik yang bervariasi baik dengan teknik kognitif, behavioral, maupun

afektif. Berikut beberapa teknik yang bisa dipakai di dalam pelaksanaan REBT

(Corey, 2006):

a. Teknik kognitif

Beberapa teknik kognitif yang biasa digunakan antara lain;

1. Disputting irasional belief

Metode kognitif yang palin umum adalah disputing iraional belief dari

klien dan mengajarkan mereka bagaimana menantang pikiran mereka

sendiri. Terapis menantang irasional belief mereka dengan

(38)

anda tersebut?, dimana buktinya anda tidak bias menghadapi situasi

terebut?, akankah menjadi malapetaka besar apa yang anda bayangkan

terjadi?

2. Tugas Rumah

Klien diharapkan membuat daftar masalahnya, mencari keyakinannya

yang absolute dan dispute belief. Tugas rumah yang diberikan

berisikan penerapan dari teori A – B – C untuk berbagai masalah yang

dihadapinya shari-hari. Klien didorong untuk mengambil resiko dari

sebuah situasi yang akan menantang batas bawah dari beliefnya.

3. Mengubah bahasa yang digunakan

REBT berpendapat bahwa bahasa yang tidak tepat merupakan salah

satu yang merusak proses berpikir. Klien belajar bahwa “ harus,”

seharusnya” bias diganti dengan “lebih disuka”. Bukan mengatakan “

itu akan benar-benar mengerikan jika……”, mereka bisa belajar

dengan mengatakan “itu akan menjadi tidak menyenangkan jika….”

4. Menggunakan humor.

Ellis menggunakan humor sebagai salah satu cara dalam menyerang

pikiran yang terlalu berlebihan yang akan menimbukan masalah

(39)

b. Teknik emotif

Praktisi REBT menggunakan prosedur yang bervariasi diantaranya:

1. Rational-emotive imagery

Teknik ini merupakan suatu bentuk latihan mental untuk membentuk

pola emosi yang baru. Klien membayangkan dirinya sedang berpikir,

merasakan dan berperilaku persis seperti pikiran, perasaan dan perilaku

mereka dalam kehidupan nyata.

2. Role Playing

Di dalam bermain peran terdapat dua komponen yaitu komponen

perilaku dan emosi. Terapis sering melakukan interupsi untuk

menunjukkan kepada klien apa yang mereka ceritakan tentang dirinya

yang akan menimbulkan masalah terhadap dirinya dan apa yang bisa

mereka kerjakan untuk mengubah perasaan mereka yang tidak sesuai.

3. Shame-attacking exercise

Latihan ini dikembangkan untuk membantu mengurangi rasa malu

yang irasional. Kita bisa menolak rasa malu dengan kuat dengan cara

mengatakan pada diri kita sendiri Poin utama dari latihan ini adalah

klien berlatih untuk tidak mau ketika yang lain tidak menyetujui

mereka

4. Use of force and vigor

Klien mengarahkan dirinya dengan untuk mengekspresikan keyakinan

(40)

c. Teknik Behavioristik

REBT juga menggunakan banyak teknik behavioritik dalam proses terapi.

Teknik yang digunakan contohnya operant conditioning,

self-management, systematic densitilization, relakasasi dan modeling, melakukan hal yang menyenangkan.

C. Kekerasan Seksual Pada Remaja

C. 1. Definisi kekerasan Seksual

Sexual abuse adalah setiap bentuk perilaku yang memiliki muatan seksual yang dilakukan seseorang atau sejumlah orang namun tidak disukai dan tidak

diharapkan oleh orang yang menjadi sasaran sehingga menimbulkan akibat

negatif, seperti rasa malu, tersinggung, terhina, marah, kehilangan harga diri,

kehilangan kesucian, dan sebagainya pada diri orang yang menjadi korban

(Tricket, Noll & Putnam, 2011). Sedangkan menurut Wahid da Irfan (dalam Abu

Huraiah, 2007) istilah ini menunjuk pada perilaku seksual deviatif atau hubungan seksual yang menyimpang, merugikan pihak korban dan merusak kedamaian di

tengah masyarakat. Briere (dalam Bautista, 2001) menambahkan semua kontak

seksual dengan anak meskipun anak tidak mengerti.

Kilgore (dalam Murphy, 2001) mengatakan sexual abuse pada anak adalah kekerasan seksual yang dapat mencakup kontinum perilaku seksual dari paparan

alat kelamin melalui kontak fisik invasif seperti penetrasi pada anus atau vagina.

(41)

dengan otoritasnya dapat melakukan pemaksaan kepada si anak untuk melakukan

aktivitas seksual. Selanjutnya perilaku memberikan berbagai ancaman ataupun

bujukan kepada korbannya agar tidak buka mulut kepada siapapun (Malchiodi,

dalam Murphy, 2001).

Berdasarkan pemaran diatas dapat disimpulkan kekerasan seksual adalah

segala bentuk aktivitas aktivitas seksual yang dilakukan oleh lain dimana perilaku

tersebut tidak diharapkan oleh korban.

C.2. Klasifikasi Kekerasan Seksual

Menurut Resna dan Darmawan (dalam Hurairah, 2007), kekerasan seksual

dapat dibagi atas tiga kategori yaitu perkosaan, incestdan eksploitasi. Untuk lebih jelasnya dapat diuraikan sebagai berikut:

a. Perkosaan

Pelaku tindakan perkosaan biasanya pria. Perkosaan seringkali terjadi dengan

diawali terlebih dahulu dengan ancaman. Jika korban diperiksa dengan segera

setelah pemerkosaan, maka akan ditemukan bukti fisik seperti air mani, darah dan

luka memar. Apabila kasus perkosaan dengan kekerasan terjadi kepada anak, akan

menimbulkan resiko besar karena perkosaan sering berdampak pada tidak

stabilnya emosi anak.

b. Inces

Inces didefinisikan sebagai hubungan seksual atau aktivitas seksual antara

(42)

dilarang oleh hukum maupun kultur. Inces biasanya terjadi dalam kurun waktu

yang lama dan sering menyangkut suatu proses terkondisi.

c. Eksploitasi

Eksploitasi seksual meliputi prostitusi dan pornografi. Pada beberapa kasus

khususnya prostitusi ikut terlibat di dalamnya seluruh anggota keluarga seperti

ibu, ayah dan anak-anaknya. Hal inimerupakan situasi patologi dimana kedua

orangtua sering terlibat kegiatan seksual bersama dengan anak-anaknya dan

mempergunakan anak-anak untuk prostitusi dan pornografi. Eksploitasi anak-anak

membutuhkan intervensi dan penanganan yang banyak secara psikiatri.

C.3. Dampak Kekerasan Seksual

Faulkerner (dalam Zahra, R,P, 2007) memaparkan kekerasan seksual

cenderung menimbulkan dampak traumatis baik pada anak maupun dewasa.

Dampak lain yang biasa muncul pada anak yang mengalami kekerasan seksual

dapat menimbulkan kecemasan, depresi, citra diri yang buruk, isolasi, ledakan

kemarahan dan permusuhan kepada orang lain. Rini ( dalam Zahra, 2007)

mengatakan secara spesifik dampak kekerasan seksual pada anak dapat

digolongkan dalam masalah relasional, emosional, kognisi dan perilaku.

Kekerasan seksual juga akan mengakibatkan gejala khas dari PTSD (Finkelhor et al., Murphy, 2001).

Bagley dan Ramsay (dalam Christopher & Kathleen, 2004) menambahkan

(43)

diri sendiri. Selain itu, anak-anak yang mengalami kekerasan seksual juga

berdampak pada perasaan marah. Ekspresi kemarahan dilakukan dalam berbagai

bentuk variasi. Mereka menginternalisasi kemarahan tersebut pada diri sendiri

yang berakibat depresi dan menyakiti diri sendiri atau mengeksternalisasi

kemarahan dengan perilaku agresif terhadap orang lain. Beberapa penelitian

menunjukkan kejadian traumatis bisa menyebabkan seseorang menunjukkan

regulasi emosi yang tidak efektif seperti dalam mengeskpresikan emosi yang tidak

tepat (Boden, 2013).

Putnam (2003) memaparkan anak dan remaja yang mengalami kekerasan

seksual ada yang menunjukkan karakteristik: a). Memiliki masalah dalam regulasi

perasaan dan emosinya seperti pikiran bunuh diri, mengontrol marah, b) Dalam

hal hal kesadaran, c) Bermasalah dalam persepsi diri seperti merasa malu,

bersalah dan tidak berdaya, d) Masalah hubungan dengan orang lain seperti

menarik diri, tidak percaya, e) Gangguan somatic.

Dari pemaparan diatas dapat disimpulkan dampak kekerasan seksual

diantaranya berupa emosi, prilaku dan kognitif. Gangguan emosi seperti pada

regulasi emosi, kecemasan. Malu, marah. Gangguan perilaku seperti menarik diri

dari lingkungan, agresi sedangkan gangguan kognitif seperti merasa rendah diri,

(44)

D. Terapi REBT dalam Meningkatkan Regulasi Emosi pada Remaja yang

Mengalami Kekerasan Seksual

Masa remaja merupakan masa transisi yang ditandainya dengan

banyaknya perubahan yang terjadi baik dari dalam maupun luar individu itu

sendiri. Banyak peristiwa yang nantinya akan berpengaruh secara signifikan

terhadap keberfungisan remaja itu sendiri seperti perubahan fisik, kognitif,

emosional, perilaku dan sosial. Sangat disayangkan ada remaja yang menjadi

korban kekerasna seksual. Kekerasan seksual merupakan peristiwa traumatik

yang dialami remaja dan akan memberikan dampak yang serius bagi remaja.

Remaja bisa mengalami masalah dalam perkembangan seperti masalah relasional,

masalah emosi, kecemasan, masalah kognisi, masalah perilaku. Beberapa

penelitian menunjukkan kejadian traumatis bisa menyebabkan seseorang

menunjukkan regulasi emosi yang tidak efektif seperti dalam mengeskpresikan

emosi yang tidak tepat (Boden, 2013). Kesulitan dalam regulasi emosi bisa

meningkatkan simtom-simtom PTSD (Post Traumatic Stress Disorder).

Munculnya perilaku internalizing dan externalizing juga berhubungan dengan kemapuan seseorang dalam meregulasi emosinya (Bowie, 2010). Korban

kekerasan seksual serta korban maltreatmen yang lain menunjukkan perubahan

regulasi emosi yang sangat hebat.

Regulasi emosi dapat dilakukan dengan beberapa cara diantaranya adalah

memilih situasi, memodifikasi situasi, mengalihkan perhatian dan mengubah

(45)

kesalahan dalam menilai situasi. Berdasarkan konsep dasar dari REBT emosi dan

perilaku merupakan hasil dari proses kognitif. Gangguan emosi berasal dari

adanya kesalahan dalam berfikir terhadap suatau kejadian. Kesalahan dalam

proses berfikir menyebabkan timbulnya pikiran-pikiran yang irasional yang tidak

(46)
[image:46.612.122.565.124.561.2]

Paradigma Penelitian

Gambar 1.1. Paradigma Penelitian

Keterangan:

: menyebabkan

: diberikan perlakuan REBT Kekerasan seksual terhadap

remaja

Gangguan kognitif, fisik, emosi, sosial dan seksual

Kesulitan dalam Regulasi Emosi

Pemberian terapi REBT

Kemampuan regulasi emosi meningkat

Irational Belief: - Awfulizing

- Low frustration tolerance

- Demands

- Self, other and life-depreciation beliefs

-Rational Belief Kognitif:

- Disputing irrational belief

- Tugas rumah

Behavioristik:

- Self

management

- reward

Emotif:

- Rational emotive

(47)

F. Hipotesa Penelitian

Hipotesa dalam penelitian ini adalah ada pengaruh terapi REBT untuk

(48)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian pra eksperimen menggunakan desain penelitian desain pre-test/post-test (A-B-A design). Desain ini dapat mengukur suatu perubahan pada suatu situasi, fenomena, isu, masalah, atau sikap dan

merupakan desain yang sesuai untuk menelaah efektivitas dari suatu program.

Kedua pengukuran tersebut (pre-test dan post-test) akan dibandingkan untuk melihat adanya pengaruh dari intervensi yang dilakukan terhadap regulasi emosi

pada remaja korban kekerasan seksual.

B. Identifikasi Variabel Penelitian

Penelitian ini meliputi dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel

terikat. Variabel bebas adalah variabel yang menjadi sebab timbul dan berubahnya

variabel terikat, sedangkan variabel terikat adalah variabel yang mengalami

perubahan akibat adanya variabel bebas. Adapun yang menjadi variabel dalam

penelitian ini adalah:

a. Variabel terikat : Regulasi Emosi

b. Variabel bebas : Terapi Rational Emotive Behaviour Therapy

(49)

C. Definisi Operasional Penelitian

a. Regulasi Emosi adalah kemampuan seseorang dalam mengelola emosinya baik positif dan negative dimana di dalamnya terdapat proses monitoring,

evaluasi dan mengubah respon emosi terhada suatu kejadian yang akan

diukur dengan menggunakan skala evaluasi diri yaitu Difficulties in Emotion Regulation Scale (DERS). Skala ini terdiri dari aitem yang berkaitan dengan ketidak mampuan seseorang memahami respon dari

emosi, kesulitan dalam menentukan tujuan, kesulitan dalam mengontrol

impuls, kurangnya kesadaran terhadap emosi, keterbatasan dalam strategi

regulasi emosi dan kurang dalam memahami emosi.

b. Terapi REBT adalah suatu terapi kognitif yang bertujuan untuk mengatasi

masalah emosi dan perilaku karena adanya keyakinan yang tidak rasional.

REBT dilakukan dalam tiga fase yaitu fase awal, fase pertengahan dan

fase akhir dengan kegiatan disputing irrational belief, tugas rumah, pemberian reward, rational emotive imagery dimana keseluruhan terapi terdiri dari 16 sesi (Dyren, 2008).

D. Subjek penelitian

D.1. Teknik pemilihan subjek penelitian

Subjek penelitian adalah remaja korban kekerasan seksual. Anak tidak sedang

(50)

- Anak berusia 11- 18 tahun

- Korban kekerasan seksual

- Memiliki kesulitan dalam regulasi emosi ( skor DERS > 132)

E. Alat Ukur Penelitian

E.1. Difficulties in Emotion Regulation Scale (DERS)

Difficulties in Emotion Regulation Scale (DERS); Gratz, K.L. & Roemer, L, 2004) merupakan skala untuk mengukur kesulitan dalam regulasi emosi pada

anak, remaja dan orang dewasa. Skala ini terdiri dari 36 aitem; 5 aitem berkaitan

dengan tidak mampu memahami respon dari emosi, 5 aitem yang berhubungan

dengan kesulitan dalam menentukan tujuan, 6 aitem berkaitan dengan kesulitan

dalam mengontrol impuls, 6 aitem berkaitan dengan kurangnya kesadaran

terhadap emosi, 8 aitem berkaitan dengan keterbatasan dalam strategi regulasi

emosi dan 5 aitem berkaitan dengan kurang dalam memahami emosi. DERS

berbentuk skala Likert dengan mulai dari 1 (0-10%)= tidak pernah, 2 ( 11-35% ) = kadang-kadang, 3 (36-65%) = hampir setengah waktu, 4 (66-90%) = sering dan

5 (91-100%) = selalu. Kategori skala terdiri dari : Tinggi ≥ 132, sedang: 88≤. X <

[image:50.612.130.509.595.708.2]

132, Tinggi ≥ 132.

Table 3.1 Blue print DERS

Kategori Nomor aitem

Tidak mampu memahami respon dari emosi

11, 12, 21, 23, 25, 29

Kesulitan dalam menentukan tujuan 13, 18, 20, 26, 33

Kesulitan dalam mengontrol impuls 3, 14, 19, 24, 27, 32

(51)

F. Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur

F.1. Difficulties in Emotion Regulation Scale (DERS)

DERS memiliki konsistensi internal reliabilitas alpha sebesar 0.84-0.93 serta test-retest reliabilitas sebesar 0.57-0.93. Pada penelitian ini DERS yang digunakan diadaptasi dalam Bahasa Indonesia oleh peneliti. Peneliti melakukan

expert judgement pada alat ukur dengan meminta pendapat yang pertama dari bidang sastra inggris kemudian dari bidang psikologi. Kemudian peneliti juga

melakukan uji coba skala dengan subjek yang mempunyai kriteria sama dengan

sampel penelitian.

G. Tahapan Penelitian

Penelitian ini dilakukan dalam beberapa tahap yaitu:

a. Tahap persiapan penelitian

Peneliti melakukan sejumlah persiapan untuk melangsungkan penelitian

mengenai program intervensi pada remaja korban kekerasan seksual yang

mengalami hambatan dalam regulasi emosi . Pertama, peneliti melakukan studi literatur dengan mencari, mengumpulkan, membaca teori dan hasil penelitian

tentang regulasi emosi. Berdasarkan teori, hasil penelitian dan informasi yang

didapat maka peneliti memutuskan untuk melakukan intervensi dengan program

Rational Emotive Behaviour Therapi . Selanjutnya peneliti mencari alat ukur yang dapat digunakan dan mencari subjek penelitian. Seleksi subjek dilakukan peneliti

(52)

meminta persetujuan dari subyek dan orang tua subyek untuk melakukan

observasi dan meminta kesediaan subjek untuk menjadi klien dalam penelitian ini.

Pada saat prapenelitian juga dilakukan penyusunan modul REBT yang

mengacu kepada tahapan-tahapan pelaksanaan REBT oleh Dryden dan Branch

(2008). Modul dirancang dengan menggunakan tiga teknik yang digunakan dalam

REBT yaitu kognitif, behavioristik. Teknik kognitif yang digunakan adalah

konsep A-B-C serta pemberian tugas rumah. teknik behavioristik yang digunakan

dictraction techniques seperti membaynagkan hal yang menyenangkan, relax

dengan mendengarkan music, visualisai “STOP”.

Setelah penyusunan modul dilakukan uji coba untuk mendapatkan

gambaran mengenai waktu yang akan dibutuhkan untuk setiap sesinya serta

mengetahui apakah subjek penelitian memahami materi dan instruksi yang

disampaikan. Uji coba hanya bersifat kualitatif artinya tidak dengan kondisi

sebenarnya. Berdasarkan evaluasi ada beberapa hal yang diperbaiki untuk

menyempurnakan modul, yaitu:

1. Penambahan waktu di semua sesi.

2. Penambahan sesi membedakan pikiran irasional dan rasional. Subjek

belum bisa memahami dengan tepat apa yang dimaksud dengan pikiran

irasional/negatif sehingga peneliti menambahkan sesi membedakan

(53)

b. Tahap pelaksanaan penelitian

Program ini direncanakan akan dilakukan dalam 16 sesi selama 8 hari.

Berikut adalah jadwal pelaksanaan intervensi pada masing-masing subjek

[image:53.612.142.505.233.691.2]

penelitian.

Table 3.2 Jadwal pelaksanaan intervensi pada subjek A

Perte muan

Hari/ tanggal

Sesi Kegiatan Waktu

I 2 januari

2014

1 Perkenalan dan memunculkan

keinginan klien untuk berubah

60menit

II 3 januari

2014

2 Penjelasan meode ABCs dalam REBT 70 menit

3 Membedakan pikiran, perasaan dan

perilaku

40 menit

III 4 januari

2014

4 Identifikasi A-B-C 90 menit

IV 6 januari

2014

5 Hubungan A-B-C 60 menit

6 Membedakan keyakinan irasional dan

tidak irasional

50 menit

V 7 januari

2014

7 Menghilangkan keyakinan irasional (D) 60 menit

8 Menjelaskan metode dalam mengelola

emosi dan perilaku pada REBT

60 menit

8-9 januari

2014

9 Tugas Rumah penerapan metode

mengelola emosi dan perilaku

2 hari

VI 10

januari 2014

10 Pembahasan tugas rumah 30 menit

11 Mengenal emosi sehat dan tidak sehat 40 menit

12 Psikoedukasi regulasi emosi dan

strategi regulasi emosi

60 menit

11-12 januari

13 Tugas rumah penerapan REBT dalam

berbagai masalah

2 hari

VII 13

januari 2014

14 Mendiskusikan tugas rumah, filosofi

serta emosi dan perilaku baru yang muncul

90 menit

15 Membuat persetujuan untuk

mengakhiri terapi serta peserta menyimpulkan apa yang telah dipelajari selama terapi

50 menit

VIII 14

januari 2014

(54)

Table 3.3 Jadwal pelaksanaan intervensi pada subjek B

Perte muan

Hari/ tanggal

Sesi Kegiatan Waktu

I 2 januari

2014

1 Perkenalan dan memunculkan

keinginan klien untuk berubah

60menit

II 3 januari

2014

2 Penjelasan meode ABCs dalam REBT 70 menit

3 Membedakan pikiran, perasaan dan

perilaku

40 menit

III 4 januari

2014

4 Identifikasi A-B-C 100

menit

IV 6 januari

2014

5 Hubungan A-B-C 60 menit

6 Membedakan keyakinan irasional dan

tidak irasional

50 menit

V 7 januari

2014

7 Menghilangkan keyakinan irasional (D) 60 menit

8 Menjelaskan metode dalam mengelola

emosi dan perilaku pada REBT

60 menit

8-9 januari

2014

9 Tugas Rumah penerapan metode

mengelola emosi dan perilaku

2 hari

VI 10

januari 2014

10 Pembahasan tugas rumah 30 menit

11 Mengenal emosi sehat dan tidak sehat 40 menit

12 Psikoedukasi regulasi emosi dan

startegi regulasi emosi

60 menit

11-12 januari

13 Tugas rumah penerapan REBT dalam

berbagai masalah

2 hari

VII 13

januari 2014

14 Mendiskusikan tugas rumah, filosofi

serta emosi dan perilaku baru yang muncul

90 menit

15 Membuat persetujuan untuk

mengakhiri terapi serta peserta menyimpulkan apa yang telah dipelajari selama terapi

60 menit

VIII 14

januari 2014

16 Post test 30 menit

c. Tahap Evaluasi

Evaluasi yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan melihat ada

(55)

dan evaluasi kualitatif. Evaluasi kuantitatif dilihat dari perbedaan nilai subjek

penelitian pada Difficulties in Emotion Regulation Scale(DERS) saat pre-testdan

post-test. Selain itu dilakukan juga evaluasi hasil wawancara kepada subjek dan orang tua untuk memperoleh gambaran mengenai karakteristik dan perilaku

subjek antara sebelum dan setelah intervensi dilakukan.

H. Rancangan intervensi

Pada bagian ini, peneliti menguraikan gambaran kegiatan yang

[image:55.612.132.515.350.713.2]

dilaksanakan pada seluruh sesi intervensi.

Table 3.4 Rancangan Intervensi

Pertemuan Sesi Kegiatan Tujuan

terapeutik Waktu

I 1 Perkenalan dan memunculkan

keinginan klien untuk berubah

Perubahan filosofi

60 menit

II

2 Penjelasan meode ABCs dalam

REBT

Perubahan filosofi

60 menit

3 Membedakan pikiran, perasaan dan

perilaku

Perubahan filosofi

50 menit

III 4 Identifikasi A-B-C Perubahan

filosofi

90 menit

IV

5 Hubungan A-B-C Perubahan

filosofi

50 menit

6 Membedakan keyakinan irasional

dan tidak irasional

Perubahan filosofi

50 menit

V

7 Menghilangkan keyakinan irasional

(D) Perubahan filosofi 60 menit 8

Menjelaskan metode dalam

mengelola emosi dan perilaku pada REBT

Perubahan perilaku

60 menit

9 Tugas Rumah penerapan metode

mengelola emosi dan perilaku

Perubahan perilaku 2 hari (120 menit) VI

10 Pembahasan tugas rumah Perubahan

perilaku

30 menit

11 Mengenal emosi sehat dan tidak

sehat

Perubahan filosofi

(56)

12 Psikoedukasi regulasi emosi dan strategi regulasi emosi

Perubahan filosofi

60 menit

13 Tugas rumah penerapan REBT

dalam berbagai masalah

Perubahan filosofi dan perilaku 2 hari (120 menit) VII 14

Mendiskusikan tugas rumah,

filosofi serta emosi dan perilaku baru yang muncul

Perubahan filosofi dan perilaku 90 menit 15

Membuat persetujuan untuk

mengakhiri terapi serta peserta menyimpulkan apa yang telah dipelajari selama terapi

Perubahan perilaku

50 menit

VIII 16 Post test 30

menit

Total waktu terapi

16 jam 20 menit

I. Kriteria Keberhasilan Program Intervensi

kriteria keberhasilan dari program intrvensi ini adalah terjadinya

peningkatan regulasi emosi yang dapat terlihat dari:

1. Terjadinya penurunan skor subjek yang teerlihat dari penurunan skor

DERS.

2. Terjadi perubahan kemampuan dalam meregulasi emosi yang dapat

dilihat dari perubahan perilaku yang didapat dari hasil wawancara.

J. Analisa Data

Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif

(57)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi subjek penelitian

Subjek penelitian ini berjumlah dua orang. Adapun gambaran umum

[image:57.612.162.511.271.455.2]

subyek penelitian dapat dilihat pada tabel-tabel di bawah ini.

Tabel 4.1. Deskripsi subjek

Deskripsi Subjek A Subjek B

Usia 15 tahun 15 tahun

Anak ke 1 / 4 2 / 3

Pendidikan Kelas 1 SMA Kelas 1 SMA

Pelaku kekerasan

seksual

Orang yang tidak

dikenal Pacar

Sosial ekonomi Atas Menengah

Kemampuan regulasi

emosi Rendah Rendah

1. Subjek A

Subjek A merupakan anak pertama dari empat bersaudara dengan

kapasitas IQ berada ada taraf rata-rata. Ayah dan ibunya bekerja

sebagai wiraswasta. Ayahnya berjualan diluar kota. Setiap kamis

malam berangkat dan baru pulang hari minggu. Sedangkan ibunya

membuka toko di dekat rumahnya. Ayah dan ibu menerapkan pola

asuh yang berbeda. Ayah dengan sistem otoriter dan ibu permisif.

(58)

A mengalami kekerasan seksual ketika sedang di rumah temannya.

A diberi minuman dan kemudian tidak sadarkan diri. Pelaku

kekerasan seksual adalah seorang bapak atau dikenal dengan sebutan

tubang. A dijual oleh temannya kepada pelaku. Dua bulan pertama setelah terjadi kekerasan seksual A cenderung mengurung diri

dikamar, tidak mandi dan melakukan kegiatan apapun. Orang tua juga

melarang A untuk bergaul dengan teman-temannya. Namun empat

bulan setelah kejadian A perilaku A mulai tidak terkendali. A mulai

bergaul dengan teman-teman yang kurang baik. Anak-anak yang

putus sekolah, suka kekaroke hingga malam dan ada juga yang

memakai sabu. Emosi A semakin tidak terkendali juga. Bila marah

dengan nada tinggi, membentak, membanting dan bahkan memukul

meja. Terkadang A juga tidak pulang ke rumah. A lebih senang

bergaul dengan teman seperti itu dari pada dengan teman-teman

sekolahnya karena ia merasa berbeda dengan teman-teman

sekolahnya yang dianggapnya anak baik.

2. Subjek B

B merupakan remaja berusia 15 tahun anak kedua dari tiga

bersaudara dengan IQ berada pada taraf rata-rata. Ayah B bekerja

sebagai guru dan ibunya adalah ibu rumah tangga.B lebih dekat dengan

ayahnya. Dalam berkomunikasi ayah sering mengajak diskusi. Sedang

(59)

B merupakan korban kekerasan seksual yang dilakukan oleh

pacarnnya sendiri. Sebagaiman kebanyakan remaja B juga ingin punya

pacar. Menurut pandangan B punya pacar bisa senang-senang seperti

jalan-jalan, bercerita. B tidak pernah membayangkan pacarnya akan

melakukan hal tersebut. Kekerasan sekssual yang dialami B terjadi

tidak hanya sekali. Pertama dalam keadaan tidak sadar setelah B diberi

minum. Setelah kejadian B diancam oleh pacarnya untuk tidak

bercerita kepada orang lain. Kalau B bercerita ia bisa nekat

mengancam keluarga B. setelah kejadian tersebut B mulai menjaga

jarak, namun pelaku mulai memndekati B lagi dan berjanji akan

berubah. Kejadian berikut terjadi ketika pelaku memaksa B, ketika B

menolak B ditampar dan dipukul.

Setelah kejadian B mengalami perubahan sikap di rumah. B mulai

suka melamun, marah dengan tidak terkontrol dan bahkan sampai sakit

bila ada berita yang berhubungan dengan kekerasan jantung B berdetak

kencang, tanganya mulai berkeringat sehingga orang seksual tuanya

curiga. B berterus terang dengan kedua orang tua tentang apa yang

terjadi. Kejadian tersebut membuat orang tua B juga merasa kecewa.

Ayah dan ibu juga sering sakit.

B. Hasil analisis data

Perbedaan hasil pretest dan posttes dilihat dengan menggunakan analisa deskriptip kualitatif dengan membandingkan skor skala hasil analisis data

Gambar

Tabel 3.1Blue print DERS.................................................................
Gambar 2.1Paradigma penelitian...........................................................
Gambar 1.1. Paradigma Penelitian
Table 3.1 Blue print DERS
+7

Referensi

Dokumen terkait

Mahasiswa Jawa memiliki tingkat rerata regulasi emosi pada model mengubah kognitif yang tinggi karena orang Jawa diajarkan untuk berpikir positif terhadap perilaku orang

Multimodal Therapy terhadap peningkatan ke- mampuan kognitif, afektif dan perilaku REBT pada klien skizofrenia dengan masalah kepe- rawatan perilaku kekerasan dan

Pendapat serupa diungkapkan Kusumawati (2013) bahwa, semakin rendah regulasi emosi.. remaja maka kecenderungan untuk melakukan perilaku seks pranikah semakin

Perbedaan Selisih Perubahan Respon-Respon Perilaku Kekerasan Sebelum dan Setelah Terapi pada Kelompok Intervensi dan Kontrol Hasil analisis perbedaan selisih perubahan

Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah terdapat perbedaan yang signifikan pada penyesuaian sosial anak asuh sebelum dan setelah mengikuti kegiatan pendekatan REBT Setting

Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan penelitian, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1) Pemberian REBT terbukti efektif untuk meningkatkan self esteem siswa

Multimodal Therapy terhadap peningkatan ke- mampuan kognitif, afektif dan perilaku REBT pada klien skizofrenia dengan masalah kepe- rawatan perilaku kekerasan dan

Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan penelitian, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1) Pemberian REBT terbukti efektif untuk meningkatkan self esteem siswa