• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis biaya pengolahan crude palm oil (CPO) dan evaluasi kinerja kemitraan pasca konversi kasus PT. Perkebunan Nusantara V Pabrik Kelapa Sawit Sei. Pagar, Kabupaten Kampar, Riau

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Analisis biaya pengolahan crude palm oil (CPO) dan evaluasi kinerja kemitraan pasca konversi kasus PT. Perkebunan Nusantara V Pabrik Kelapa Sawit Sei. Pagar, Kabupaten Kampar, Riau"

Copied!
149
0
0

Teks penuh

(1)

# *+

,-./-/01

2

(2)

Analisis Biaya Pengolahan Crude Palm Oil (CPO) dan Evaluasi Kinerja Kemitraan Pasca Konversi (Kasus PT. Perkebunan Nusantara V Pabrik Kelapa Sawit Sei. Pagar, Kabupaten Kampar, Riau). Di bawah Bimbingan

Sektor pertanian memiliki beberapa subsektor, salah satunya adalah subsektor perkebunan yang memegang peranan strategis dalam perekonomian Indonesia. Kelapa sawit merupakan salah satu tanaman perkebunan yang memiliki arti penting bagi perkembangan pembangunan nasional. Areal kelapa sawit di Propinsi Riau sebagian besar adalah milik PT. Perkebunan Nusantara V (PTPN V) dibawah naungan BUMN, salah satunya yaitu Sei Pagar (SPA). PTPN V Pabrik Kelapa Sawit (PKS) SPA sebagai penanggung jawab terlaksananya pembangunan proyek perkebunan inti rakyat (PIR)/Trans. PTPN V PKS SPA mengembangkan kemitraan dengan petani plasma. Kemitraan PIR/Trans dilihat sebagai suatu sistem pengadaan bahan baku agroindustri, maka posisi petani plasma sebagai pemasok bahan baku tandan buah segar (TBS) ke perusahaan inti menjadi salah satu faktor yang menentukan keunggulan bersaing perusahaan dalam industri. Namun pada kenyataannya, kemitraan yang dilaksanakan tidak selalu berjalan sesuai harapan. Adanya penurunan volume pasokan bahan baku (TBS) dari petani plasma ke PKS SPA menunjukkan kemitraan pemasok sebagai sistem pengadaan bahan baku belum mencapai manfaat yang optimal. Tidak tercapainya jumlah pasokan TBS yang masuk ke PKS SPA juga berpengaruh kepada jumlah biaya pengolahan PKS SPA yang dikeluarkan.

Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) Mendeskripsikan perkembangan biaya pengolahan PKS SPA. (2) Menganalisis faktor–faktor yang mempengaruhi biaya pengolahan CPO PKS SPA. (3) Mengkaji kemitraan yang terjadi antara petani plasma dan PTPN V Sei. Pagar pada tahap pasca konversi.

Penelitian dilaksanakan di PTPN V PKS SPA dan petani plasma di tingkat kebun. Perusahaan ini dipilih dengan sengaja (purposive) berdasarkan pertimbangan bahwa perusahaan ini merupakan salah satu perusahaan yang bergerak dibidang perkebunan dan pengolahan kelapa sawit. Pengumpulan data dilaksanakan pada bulan Desember 2007 sampai dengan Februari 2008.

Data penelitian yang dikumpulkan menggunakan data primer dan data sekunder. Pengambilan data untuk evaluasi kemitraan yang terjadi antara petani plasma dan PTPN V SPA dilakukan dengan wawancara kepada pihak karyawan inti sebanyak 10 orang dan kepada petani plasma sebanyak 30 orang. Pengambilan sampel dilakukan secara accidental sampling karena keterbatasan waktu dan kesulitan menyeleksi observasi. Analisis yang digunakan adalah analisis kuantitatif dan kualitatif. Analisis kuantitaf digunakan untuk mendeskripsikan perkembangan biaya pengolahan dan menganalisis faktor/faktor yang mempengaruhi biaya pengolahan CPO, sedangkan analisis kualitatif digunakan untuk mengkaji evaluasi kemitraan PTPN V SPA.

(3)

dibanding tahun 2006. Secara ekonomis belum efisien, sedangkan dari segi efisiensi teknis PTPN V SPA dapat disimpulkan sudah cukup baik. Tapi perlu dilakukan peningkatan jumlah produksi TBS agar sesuai dengan kapasitas terpasang pabrik yaitu 30 ton TBS/jam.

Dari hasil analisis regresi diperoleh faktor biaya yang mempengaruhi biaya pengolahan CPO secara nyata yaitu gaji karyawan, biaya pemeliharaan bangunan pabrik, biaya pemeliharan mesin dan instalasi pabrik, premi asuransi pabrik, pembelian TBS, biaya listrik, biaya air, dan biaya angkut. Nilai elastisitas sebagian besar masing/masing variabel independen adalah positif menunjukkan bahwa kenaikan penggunaan faktor biaya memberikan pengaruh positif terhadap kenaikan jumlah biaya pengolahan CPO PTPN V PKS SPA.

Saat ini kemitraan PIR–Trans antara PTPN V SPA dan petani plasma telah memasuki tahap pasca konversi. Sepuluh indikator evaluasi kinerja kemitraan diperoleh kesimpulan bahwa kemitraan PTPN V SPA dan petani plasma masih dikategorikan pada tingkat sedang. Hal ini ditunjukkan oleh enam indikator dari sepuluh indikator menyatakan kinerja kemitraan PTPN V SPA tergolong sedang yaitu pengetahuan mengenai penyetoran TBS ke inti (80 persen), komunikasi yang dibangun pihak inti dan plasma (73,33 persen), harga beli TBS (70 persen), waktu pembayaran TBS (74,44 persen), ketanggapan inti dalam menyelesaikan keluhan petani (67,78 persen), dan sikap inti terhadap kesejahteraan petani (71,11).

(4)

! " # $ %"! " & ' $ ! ($ ' " )

"$ "

& " # * ! 4 ! ! ($ 5# * # 6 ! " 7

2 #! ! " !"! ! ! " 5&5

# *+

,-./-/01

2

(5)

Judul : ANALISIS BIAYA PENGOLAHAN CRUDE PALM OIL (CPO) DAN EVALUASI KINERJA KEMITRAAN PASCA KONVERSI

(Kasus PT. Perkebunan Nusantara V Pabrik Kelapa Sawit Sei. Pagar, Kabupaten Kampar, Riau)

Nama : MORINTARA PUTRI SURBAKTI NRP : A14304072

Menyetujui, Dosen Pembimbing

Dr. Ir. Eka Intan Kumala Putri, MS NIP: 131 918 659

Mengetahui, Dekan Fakultas Pertanian

Prof. Dr. Ir. Didy Sopandie, M. Agr NIP. 131 124 019

(6)

DENGAN INI, SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANG BERJUDUL 8

! " # $ %"! " & ' $ ! ($ ' " )8 BENAR/BENAR HASIL KARYA SENDIRI YANG BELUM PERNAH DIAJUKAN PADA PERGURUAN TINGGI LAIN ATAU LEMBAGA LAIN MANAPUN UNTUK TUJUAN MEMPEROLEH GELAR AKADEMIK TERTENTU. SAYA JUGA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI BENAR/BENAR HASIL KARYA SAYA SENDIRI DAN TIDAK MENGANDUNG BAHAN/BAHAN YANG PERNAH DITULIS ATAU DITERBITKAN OLEH PIHAK LAIN KECUALI SEBAGAI BAHAN RUJUKAN YANG DINYATAKAN DALAM NASKAH.

5&5 ' " 1//3

(7)

9

Penulis bernama lengkap Morintara Putri Surbakti, dilahirkan pada tanggal 22 Februari 1986 di Jakarta dari pasangan Bapak M. K Surbakti dan Ibu Rosmariany Ginting. Penulis merupakan anak keempat dari empat bersaudara.

Pada tahun 1998 penulis menyelesaikan pendidikan dasar di SD. YKPP I, Sungai Pakning, Riau. Penulis menyelesaikan pendidikan menengah pertama di SLTP STRADA FX/1 Jakarta pada tahun 2001 dan menyelesaikan pendidikan menengah atas di SMAN 80 Jakarta pada tahun 2004. Penulis aktif di beberapa organisasi seperti OSIS serta kegiatan ekstrakurikuler.

Penulis diterima di Institut Pertanian Bogor melalui Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) tahun 2004. Penulis diterima sebagai mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) pada program studi Ekonomi Pertanian Sumberdaya (EPS), jurusan Ilmu/ilmu Sosial Ekonomi Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Selama menempuh pendidikan di IPB, penulis aktif diberbagai organisasi kemahasiswaan seperti Himpunan Mahasiswa Peminat Ilmu/ilmu Sosial Ekonomi Pertanian (MISETA) periode 2004/2005 departemen Pengembangan Ilmu Sosial dan Ekonomi, Asisten Dosen Mata Kuliah Agama Protestan pada tahun 2005/2006 sampai 2006/2007, Koordinator Asisten Dosen Mata Kuliah Agama Protestan pada tahun 2007/2008, serta aktif dalam beberapa kegiatan kepanitian

(8)

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena rahmat dan karunia/Nya penulis diberikan kekuatan, hikmat dan pengetahuan untuk menyelesaikan skripsi ini.

Sebuah kebanggaan bagi penulis ketika membuat skripsi yang berjudul “ #" " " 4 &5# * ) 7 : # " " 6

("! ; 5 : " ! "

# $ %"! " & ' $ ! ($ ' " ) 8Skripsi ini ditulis untuk memenuhi persyaratan penyelesaian Program Sarjana pada Fakultas Pertanian, Departemen Ilmu/ilmu Sosial Ekonomi Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan dari berbagai pihak, skripsi ini tidak akan terselesaikan. Untuk itu dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak atas bantuan secara moril maupun material selama proses penyusunan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini memiliki banyak kekurangan dan kelemahan, oleh karena itu penulis senantiasa menerima setiap saran dan kritik yang membangun guna menyempurnakan skripsi ini. Akhir kata, semoga skripsi ini berguna dan bermanfaat bagi penulis dan semua pihak yang membutuhkan.

Bogor, Mei 2008

(9)

Puji dan syukur atas segala berkat Tuhan yang senatiasa menyertai dan memberkati proses penulisan tugas akhir ini sehingga penulis dapat menyelesaikanya dengan baik. Terselesainya tugas akhir ini tidak terlepas dari bantuan dan dukungan dari pihak–pihak yang telah membantu. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Keluarga tercinta: Papa, Mama yang penulis sayangi semua yang terbaik kupersembahkan untuk kedua orangtuaku, Bang ala dan keluarga, Bang Ijos dan keluarga, dan Bang Iman yang selalu mendoakan dan memberi dorongan setiap hari.

2. Ibu Dr. Ir. Eka Intan Kumala Putri, MS selaku dosen pembimbing skripsi yang telah sabar membantu, meluangkan waktu dan mengarahkan penulis sampai selesainya penulisan skripsi ini.

3. Bapak A. Faroby Falatehan, SP,ME selaku dosen penguji utama dan Ibu Ir. Meti Ekayani, M.Sc selaku dosen penguji wakil departemen yang telah bersedia untuk menguji penulis, serta atas saran, masukan dan perbaikannya dalam penyusunan skripsi ini.

4. Bapak Ir. Arifin Saragih, selaku Manajer yang sudah memberikan izin untuk dapat melakukan penelitian di PTPN V Sei. Pagar.

5. Bapak H. Khairulrizal, ST, selaku Masinis Kepala di PT. Perkebunan Nusantara PKS V Sei. Pagar.

6. Bapak Indranof Tarigan, selaku KTU di PT. Perkebunan Nusantara V PKS Sei. Pagar. Terima kasih atas motivasi dan dukungan yang telah diberikan kepada penulis.

7. Bapak Bantu Sembiring dan Bapak Fransisco Karo/Karo terima kasih atas motivasi dan dukungan yang telah diberikan kepada penulis.

(10)

9. Natalia sebagai sahabat yang selalu memberi dukungan ketika penulis mulai lelah dan jatuh. Terima kasih untuk persahabatan kita selama ini. Teman/Teman EPS 41 yang banyak mendukung dan peduli: Owien, Tita, Deli, Nana, Yudie, Kevin, Bjay, Pipih, Rolas, Lenny, Yanthi, Mery, Lina, Rocky, Jimmy, Risti, Mayang, Ade, Maya, Aghiez, Mba sari, dan rekan/ rekan EPS 41 seluruhnya serta teman/teman sepembimbingan penulis: Evie, Cecep, Gufron, Erfan kalian harus semangat ya teman.

10. Keluarga kelompok kecilku, Kak Tience, Yenny, Rini, Dek Ade, Dek Conny, dan Dek Emta, kalian adalah salah satu sumber kekuatanku. Penulis mengasihi kalian semua.

11. Bernardo Nababan terima kasih buat semuanya. Teman/teman Pondok Dame: Bang Supardi, Bang Landes, Bang Debi, Bang Mario, Bang Richard, serta partnerku yang lagi di Kalimantan Agus Manalu. Terima kasih untuk dukungan kalian.

12. Adik/adikku PMK IPB yang kukasihi: Kade Putri, Yesika, Adit, Ati, Jenita, Ninis, Rico, Leonard, Wesly, Ferryaman, Okto, Jesika, Nico, Anta, Jhon, Cipta, Edwin, Nehemia, Desra, Hartip, Andi, buyung, Elsye, Nuah, Icha, Demak, Corry dan Anak/anak Kost Perwira 52: Lenny, Nina, Kezhia, Putri, Riska, dan semuanya yang tidak bisa satu per satu disebutkan. Terima kasih buat dukungan kalian.

13. Guru KAKR GBKP Bogor: Kak Ana, Kak Yanti, Kak Ira, Kak Ika, Kak Leli, Kak Mila, Kak Ina, Kak Chicha, Bang Ago, Bang itor, Bang Yosi, Abed, Gandhi, Devi, Anita, Eva, Damenta, Cynthia, dan Permata GBKP Bogor: Indri, Bang Bremin, Kak Nia, Bang Budi, Bang Joy, Kak Elpita. Terima kasih untuk kebersamaan dan dukungan kalian semua, baik dalam pelayanan maupun dukungan doa dalam setiap pergumulan yang penulis alami.

(11)

# *+

,-./-/01

2

(12)

Analisis Biaya Pengolahan Crude Palm Oil (CPO) dan Evaluasi Kinerja Kemitraan Pasca Konversi (Kasus PT. Perkebunan Nusantara V Pabrik Kelapa Sawit Sei. Pagar, Kabupaten Kampar, Riau). Di bawah Bimbingan

Sektor pertanian memiliki beberapa subsektor, salah satunya adalah subsektor perkebunan yang memegang peranan strategis dalam perekonomian Indonesia. Kelapa sawit merupakan salah satu tanaman perkebunan yang memiliki arti penting bagi perkembangan pembangunan nasional. Areal kelapa sawit di Propinsi Riau sebagian besar adalah milik PT. Perkebunan Nusantara V (PTPN V) dibawah naungan BUMN, salah satunya yaitu Sei Pagar (SPA). PTPN V Pabrik Kelapa Sawit (PKS) SPA sebagai penanggung jawab terlaksananya pembangunan proyek perkebunan inti rakyat (PIR)/Trans. PTPN V PKS SPA mengembangkan kemitraan dengan petani plasma. Kemitraan PIR/Trans dilihat sebagai suatu sistem pengadaan bahan baku agroindustri, maka posisi petani plasma sebagai pemasok bahan baku tandan buah segar (TBS) ke perusahaan inti menjadi salah satu faktor yang menentukan keunggulan bersaing perusahaan dalam industri. Namun pada kenyataannya, kemitraan yang dilaksanakan tidak selalu berjalan sesuai harapan. Adanya penurunan volume pasokan bahan baku (TBS) dari petani plasma ke PKS SPA menunjukkan kemitraan pemasok sebagai sistem pengadaan bahan baku belum mencapai manfaat yang optimal. Tidak tercapainya jumlah pasokan TBS yang masuk ke PKS SPA juga berpengaruh kepada jumlah biaya pengolahan PKS SPA yang dikeluarkan.

Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) Mendeskripsikan perkembangan biaya pengolahan PKS SPA. (2) Menganalisis faktor–faktor yang mempengaruhi biaya pengolahan CPO PKS SPA. (3) Mengkaji kemitraan yang terjadi antara petani plasma dan PTPN V Sei. Pagar pada tahap pasca konversi.

Penelitian dilaksanakan di PTPN V PKS SPA dan petani plasma di tingkat kebun. Perusahaan ini dipilih dengan sengaja (purposive) berdasarkan pertimbangan bahwa perusahaan ini merupakan salah satu perusahaan yang bergerak dibidang perkebunan dan pengolahan kelapa sawit. Pengumpulan data dilaksanakan pada bulan Desember 2007 sampai dengan Februari 2008.

Data penelitian yang dikumpulkan menggunakan data primer dan data sekunder. Pengambilan data untuk evaluasi kemitraan yang terjadi antara petani plasma dan PTPN V SPA dilakukan dengan wawancara kepada pihak karyawan inti sebanyak 10 orang dan kepada petani plasma sebanyak 30 orang. Pengambilan sampel dilakukan secara accidental sampling karena keterbatasan waktu dan kesulitan menyeleksi observasi. Analisis yang digunakan adalah analisis kuantitatif dan kualitatif. Analisis kuantitaf digunakan untuk mendeskripsikan perkembangan biaya pengolahan dan menganalisis faktor/faktor yang mempengaruhi biaya pengolahan CPO, sedangkan analisis kualitatif digunakan untuk mengkaji evaluasi kemitraan PTPN V SPA.

(13)

dibanding tahun 2006. Secara ekonomis belum efisien, sedangkan dari segi efisiensi teknis PTPN V SPA dapat disimpulkan sudah cukup baik. Tapi perlu dilakukan peningkatan jumlah produksi TBS agar sesuai dengan kapasitas terpasang pabrik yaitu 30 ton TBS/jam.

Dari hasil analisis regresi diperoleh faktor biaya yang mempengaruhi biaya pengolahan CPO secara nyata yaitu gaji karyawan, biaya pemeliharaan bangunan pabrik, biaya pemeliharan mesin dan instalasi pabrik, premi asuransi pabrik, pembelian TBS, biaya listrik, biaya air, dan biaya angkut. Nilai elastisitas sebagian besar masing/masing variabel independen adalah positif menunjukkan bahwa kenaikan penggunaan faktor biaya memberikan pengaruh positif terhadap kenaikan jumlah biaya pengolahan CPO PTPN V PKS SPA.

Saat ini kemitraan PIR–Trans antara PTPN V SPA dan petani plasma telah memasuki tahap pasca konversi. Sepuluh indikator evaluasi kinerja kemitraan diperoleh kesimpulan bahwa kemitraan PTPN V SPA dan petani plasma masih dikategorikan pada tingkat sedang. Hal ini ditunjukkan oleh enam indikator dari sepuluh indikator menyatakan kinerja kemitraan PTPN V SPA tergolong sedang yaitu pengetahuan mengenai penyetoran TBS ke inti (80 persen), komunikasi yang dibangun pihak inti dan plasma (73,33 persen), harga beli TBS (70 persen), waktu pembayaran TBS (74,44 persen), ketanggapan inti dalam menyelesaikan keluhan petani (67,78 persen), dan sikap inti terhadap kesejahteraan petani (71,11).

(14)

! " # $ %"! " & ' $ ! ($ ' " )

"$ "

& " # * ! 4 ! ! ($ 5# * # 6 ! " 7

2 #! ! " !"! ! ! " 5&5

# *+

,-./-/01

2

(15)

Judul : ANALISIS BIAYA PENGOLAHAN CRUDE PALM OIL (CPO) DAN EVALUASI KINERJA KEMITRAAN PASCA KONVERSI

(Kasus PT. Perkebunan Nusantara V Pabrik Kelapa Sawit Sei. Pagar, Kabupaten Kampar, Riau)

Nama : MORINTARA PUTRI SURBAKTI NRP : A14304072

Menyetujui, Dosen Pembimbing

Dr. Ir. Eka Intan Kumala Putri, MS NIP: 131 918 659

Mengetahui, Dekan Fakultas Pertanian

Prof. Dr. Ir. Didy Sopandie, M. Agr NIP. 131 124 019

(16)

DENGAN INI, SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANG BERJUDUL 8

! " # $ %"! " & ' $ ! ($ ' " )8 BENAR/BENAR HASIL KARYA SENDIRI YANG BELUM PERNAH DIAJUKAN PADA PERGURUAN TINGGI LAIN ATAU LEMBAGA LAIN MANAPUN UNTUK TUJUAN MEMPEROLEH GELAR AKADEMIK TERTENTU. SAYA JUGA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI BENAR/BENAR HASIL KARYA SAYA SENDIRI DAN TIDAK MENGANDUNG BAHAN/BAHAN YANG PERNAH DITULIS ATAU DITERBITKAN OLEH PIHAK LAIN KECUALI SEBAGAI BAHAN RUJUKAN YANG DINYATAKAN DALAM NASKAH.

5&5 ' " 1//3

(17)

9

Penulis bernama lengkap Morintara Putri Surbakti, dilahirkan pada tanggal 22 Februari 1986 di Jakarta dari pasangan Bapak M. K Surbakti dan Ibu Rosmariany Ginting. Penulis merupakan anak keempat dari empat bersaudara.

Pada tahun 1998 penulis menyelesaikan pendidikan dasar di SD. YKPP I, Sungai Pakning, Riau. Penulis menyelesaikan pendidikan menengah pertama di SLTP STRADA FX/1 Jakarta pada tahun 2001 dan menyelesaikan pendidikan menengah atas di SMAN 80 Jakarta pada tahun 2004. Penulis aktif di beberapa organisasi seperti OSIS serta kegiatan ekstrakurikuler.

Penulis diterima di Institut Pertanian Bogor melalui Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) tahun 2004. Penulis diterima sebagai mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) pada program studi Ekonomi Pertanian Sumberdaya (EPS), jurusan Ilmu/ilmu Sosial Ekonomi Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Selama menempuh pendidikan di IPB, penulis aktif diberbagai organisasi kemahasiswaan seperti Himpunan Mahasiswa Peminat Ilmu/ilmu Sosial Ekonomi Pertanian (MISETA) periode 2004/2005 departemen Pengembangan Ilmu Sosial dan Ekonomi, Asisten Dosen Mata Kuliah Agama Protestan pada tahun 2005/2006 sampai 2006/2007, Koordinator Asisten Dosen Mata Kuliah Agama Protestan pada tahun 2007/2008, serta aktif dalam beberapa kegiatan kepanitian

(18)

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena rahmat dan karunia/Nya penulis diberikan kekuatan, hikmat dan pengetahuan untuk menyelesaikan skripsi ini.

Sebuah kebanggaan bagi penulis ketika membuat skripsi yang berjudul “ #" " " 4 &5# * ) 7 : # " " 6

("! ; 5 : " ! "

# $ %"! " & ' $ ! ($ ' " ) 8Skripsi ini ditulis untuk memenuhi persyaratan penyelesaian Program Sarjana pada Fakultas Pertanian, Departemen Ilmu/ilmu Sosial Ekonomi Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan dari berbagai pihak, skripsi ini tidak akan terselesaikan. Untuk itu dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak atas bantuan secara moril maupun material selama proses penyusunan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini memiliki banyak kekurangan dan kelemahan, oleh karena itu penulis senantiasa menerima setiap saran dan kritik yang membangun guna menyempurnakan skripsi ini. Akhir kata, semoga skripsi ini berguna dan bermanfaat bagi penulis dan semua pihak yang membutuhkan.

Bogor, Mei 2008

(19)

Puji dan syukur atas segala berkat Tuhan yang senatiasa menyertai dan memberkati proses penulisan tugas akhir ini sehingga penulis dapat menyelesaikanya dengan baik. Terselesainya tugas akhir ini tidak terlepas dari bantuan dan dukungan dari pihak–pihak yang telah membantu. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Keluarga tercinta: Papa, Mama yang penulis sayangi semua yang terbaik kupersembahkan untuk kedua orangtuaku, Bang ala dan keluarga, Bang Ijos dan keluarga, dan Bang Iman yang selalu mendoakan dan memberi dorongan setiap hari.

2. Ibu Dr. Ir. Eka Intan Kumala Putri, MS selaku dosen pembimbing skripsi yang telah sabar membantu, meluangkan waktu dan mengarahkan penulis sampai selesainya penulisan skripsi ini.

3. Bapak A. Faroby Falatehan, SP,ME selaku dosen penguji utama dan Ibu Ir. Meti Ekayani, M.Sc selaku dosen penguji wakil departemen yang telah bersedia untuk menguji penulis, serta atas saran, masukan dan perbaikannya dalam penyusunan skripsi ini.

4. Bapak Ir. Arifin Saragih, selaku Manajer yang sudah memberikan izin untuk dapat melakukan penelitian di PTPN V Sei. Pagar.

5. Bapak H. Khairulrizal, ST, selaku Masinis Kepala di PT. Perkebunan Nusantara PKS V Sei. Pagar.

6. Bapak Indranof Tarigan, selaku KTU di PT. Perkebunan Nusantara V PKS Sei. Pagar. Terima kasih atas motivasi dan dukungan yang telah diberikan kepada penulis.

7. Bapak Bantu Sembiring dan Bapak Fransisco Karo/Karo terima kasih atas motivasi dan dukungan yang telah diberikan kepada penulis.

(20)

9. Natalia sebagai sahabat yang selalu memberi dukungan ketika penulis mulai lelah dan jatuh. Terima kasih untuk persahabatan kita selama ini. Teman/Teman EPS 41 yang banyak mendukung dan peduli: Owien, Tita, Deli, Nana, Yudie, Kevin, Bjay, Pipih, Rolas, Lenny, Yanthi, Mery, Lina, Rocky, Jimmy, Risti, Mayang, Ade, Maya, Aghiez, Mba sari, dan rekan/ rekan EPS 41 seluruhnya serta teman/teman sepembimbingan penulis: Evie, Cecep, Gufron, Erfan kalian harus semangat ya teman.

10. Keluarga kelompok kecilku, Kak Tience, Yenny, Rini, Dek Ade, Dek Conny, dan Dek Emta, kalian adalah salah satu sumber kekuatanku. Penulis mengasihi kalian semua.

11. Bernardo Nababan terima kasih buat semuanya. Teman/teman Pondok Dame: Bang Supardi, Bang Landes, Bang Debi, Bang Mario, Bang Richard, serta partnerku yang lagi di Kalimantan Agus Manalu. Terima kasih untuk dukungan kalian.

12. Adik/adikku PMK IPB yang kukasihi: Kade Putri, Yesika, Adit, Ati, Jenita, Ninis, Rico, Leonard, Wesly, Ferryaman, Okto, Jesika, Nico, Anta, Jhon, Cipta, Edwin, Nehemia, Desra, Hartip, Andi, buyung, Elsye, Nuah, Icha, Demak, Corry dan Anak/anak Kost Perwira 52: Lenny, Nina, Kezhia, Putri, Riska, dan semuanya yang tidak bisa satu per satu disebutkan. Terima kasih buat dukungan kalian.

13. Guru KAKR GBKP Bogor: Kak Ana, Kak Yanti, Kak Ira, Kak Ika, Kak Leli, Kak Mila, Kak Ina, Kak Chicha, Bang Ago, Bang itor, Bang Yosi, Abed, Gandhi, Devi, Anita, Eva, Damenta, Cynthia, dan Permata GBKP Bogor: Indri, Bang Bremin, Kak Nia, Bang Budi, Bang Joy, Kak Elpita. Terima kasih untuk kebersamaan dan dukungan kalian semua, baik dalam pelayanan maupun dukungan doa dalam setiap pergumulan yang penulis alami.

(21)

2

# (

2 ... i

2 ... iii

2 ... iv

2 ... v

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 8

1.3 Tujuan Penelitian ... 11

1.4 Kegunaan Penelitian ... 11

1.5 Ruang Lingkup dan Keterbatasan Penelitian ... 12

2.1 Sejarah Kelapa Sawit ... 13

2.2 Varietas Kelapa Sawit... 15

2.3 Keunggulan Minyak Sawit... 15

2.4 Hasil–Hasil Olahan Minyak Kelapa Sawit... 16

2.5 Konsep Kemitraan ... 17

2.6 Penelitian Terdahulu ... 22

2.6.1 Studi Terdahulu Mengenai Biaya Pengolahan... 22

2.6.2 Studi Terdahulu Mengenai Pabrik Kelapa Sawit dan Perkebunan Inti Rakyat ... 23

2.6.3 Studi Terdahulu Mengenai Crude Palm Oil (CPO)... 25

3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis... 28

3.1.1 Produksi dan Fungsi Produksi ... 28

3.1.2 Biaya Produksi ... 29

3.1.3 Klasifikasi Biaya Produksi ... 31

3.1.4 Indikator Evaluasi Kinerja Kemitraan... 31

3.2 Kerangka Pemikiran Konseptual ... 33

3.3 Hipotesis Penelitian ... 36

4.1 Penentuan Lokasi dan Waktu Penelitian... 37

4.2 Jenis dan Metode Pengumpulan Data... 37

4.3 Metode Analisis Data... 38

4.3.1 Analisis Biaya Pengolahan dan Efisiensi Teknis... 38

4.3.2 Analisis Faktor/Faktor yang Mempengaruhi Biaya Pengolahan CPO ... 40

4.3.3 Analisis Kinerja Kemitraan ... 49

(22)

# ( 5.1 Gambaran Umum Perusahaan

5.1.1 Sejarah PTPN V PKS SPA ... 51 5.1.2 Keadaan Kebun di PTPN V SPA... 53 5.1.3 Pengolahan dan Penanganan Limbah... 56 5.1.4 Proses Pengolahan TBS Menjadi CPO... 58 5.2 Karakteristik Responden ... 61 5.2.1 Karakteristik Umum Petani Plasma ... 61 5.2.2 Karakteristik Usaha Petani Plasma ... 64

6.1 Komponen–Komponen Biaya Pengolahan ... 67 6.2 Analisis Efisiensi Teknis... 72

2 <2

7.1 Model Fungsi Linear Berganda ... 76 7.2 Analisis Elastisitas Faktor/Faktor yang Mempengaruhi Biaya

Pengolahan CPO... 80

8.1 Perkembangan PIR–Trans PT.Perkebunan Nusantara V SPA 84 8.2 Evaluasi Kemitraan Pihak Inti dan Petani Plasma... .. 88

=

7.1 Kesimpulan... 102 7.2 Saran ... 103

(23)

2

# (

1. Perkembangan Luas Areal Perkebunan Kelapa Sawit Indonesia

Tahun 1999 – 2005 ... 2 2. Perkembangan Produksi Kelapa Sawit Indonesia Tahun

1999 – 2005 ... 3 3. Perkembangan Ekspor CPO dan Minyak Sawit lainnya di Indonesia Tahun 1999 – 2005 ... 4 4. Perbandingan Produktivitas Komoditas Perkebunan Tahun

1990 / 2000... 5 5. Luas Areal dan Produksi Perkebunan Kelapa Sawit Seluruh

Indonesia, Tahun 2000 ... 6 6. Produksi Enam Varietas Unggul Kelapa Sawit... 15 7. Daftar Indikator Kinerja Kemitraan... 38 8. Komponen Biaya Tetap PTPN V PKS SPA Tahun 2005 – 2007... 68 9. Komponen Biaya Variabel PTPN V PKS SPA Tahun 2005 – 2007.. 69 10. Perkembangan Harga TBS PTPN V PKS SPA Tahun 2005 – 2007 . 70 11. Komponen Biaya Pengolahan Tanpa Pembelian TBS PTPN V PKS SPA Tahun 2005 – 2007 ... 71 12. Biaya Rata/Rata Tingkat Pabrik PTPN V SPA Tahun 2005 – 2007 . 72 13. Perbandingan Jumlah TBS dan CPO Diolah PTPN V PKS SPA

(24)

2

(25)

2

# ( 1. Struktur Organisasi PTPN V PKS SPA ... 109 2. Data Jumlah TBS dan Produksi CPO PTPN V PKS SPA ... 110 3. Perkembangan Harga TBS PTPN V PKS SPA 2005 – 2007... 111 4. Perhitungan Rentang Skala... 112 5. Perbandingan Antara Realisasi dan Anggaran Biaya Pengolahan

PTPN V PKS SPA Tahun 2005... 113 6. Perbandingan Antara Realisasi dan Anggaran Biaya Pengolahan

PTPN V PKS SPA Tahun 2006... 115 7. Perbandingan Antara Realisasi dan Anggaran Biaya Pengolahan

PTPN V PKS SPA Tahun 2007... 117 8. Faktor/faktor yang Mempengaruhi Biaya Pengolahan CPO

(26)

, , ! # &

Sektor pertanian memiliki beberapa subsektor, salah satunya adalah subsektor perkebunan. Perkebunan memegang peranan strategis dalam penyediaan pangan, seperti minyak goreng sawit dan gula yang merupakan salah satu pilar stabilitas ekonomi dan politik di Indonesia. Selain itu perkebunan juga berperan dalam penyerapan tenaga kerja. Hal ini dapat dilihat dari besar penyerapan tenaga kerja pada tahun 2003 yaitu sebesar 17 juta jiwa. Peran ini relatif konsisten, baik ketika Indonesia mengalami masa kritis maupun masa jaya. Kontribusi subsektor perkebunan terhadap pendapatan domestik bruto (PDB) secara nasional tanpa migas adalah sekitar 2,9 persen atau sekitar 2,6 persen dari PDB total. Jika menggunakan PDB dengan harga konstan tahun 1993, pangsa subsektor perkebunan terhadap PDB sektor pertanian adalah 17,6 persen, sedangkan terhadap PDB tanpa migas dan PDB nasional masing/masing adalah 3,0 persen dan 2,8 persen (Badan Pusat Statistik, 2004).

Kelapa sawit merupakan salah satu tanaman perkebunan yang memiliki arti penting bagi perkembangan pembangunan nasional. Selain mampu menciptakan kesempatan kerja, kontribusi lainnya adalah sebagai sumber devisa negara. Indonesia merupakan salah satu produsen utama minyak sawit (Crude Palm Oil).

(27)

Perkembangan luas areal perkebunan kelapa sawit di Indonesia selama tahun 1999 – 2005 cenderung meningkat yakni sekitar 1,97 – 13,36 persen (Tabel 1). Pada tahun 2001 pertumbuhan luas areal perkebunan kelapa sawit paling besar yaitu sebesar 13,36 persen dikarenakan permintaan ekspor CPO Indonesia meningkat. Sementara pada tahun 2005 luas areal juga mengalami peningkatan sekitar 1,97 persen atau menjadi 5,51 juta hektar walaupun paling kecil dibandingkan peningkatan tahun sebelumnya, kelapa sawit merupakan komoditas andalan pertanian dalam negeri.

# , ( & # # $ %"! 75 "

* ,>>> < 1//?

Tahun PR

(ha) PBN (ha) PBS (ha) Jumlah (ha) Pertumbuhan (%) 1999 1041046 576999 2283757 3901802 9,60 2000 1166758 588125 2403194 4158077 6,57 2001 1561031 609943 2542457 4713431 13,36 2002 1808424 631566 2627068 5067058 7,50 2003 1854394 662803 2766360 5283557 4,27 2004 1904943 674983 2821705 5401631 2,23 2005 1917038 676408 2914773 5508219 1,97

Sumber : BPS, 2005.

Keterangan : PR : Perkebunan Rakyat PBN : Perkebunan Besar Negara

PBS : Perkebunan Besar Swasta

(28)

# 1 ( & 57 " # $ %"! 75 " * ,>>> @ 1//?

Tahun PR

(ton) PBN (ton) PBS (ton) Jumlah (ton) Pertumbuhan (%) 1999 1527811 1468949 3438830 6435590 8,86 2000 1905653 1460954 3633901 7000508 8,44 2001 2798032 1519289 4079151 8396472 19,94 2002 3426739 1607734 4587871 9622344 14,60 2003 3517324 1750651 5172859 10440834 8,51 2004 3745264 2013130 6466132 12224526 17,08 2005 3873677 2158684 7079579 13111940 7,26

Sumber : BPS, 2005.

Keterangan : PR : Perkebunan Rakyat PBN : Perkebunan Besar Negara PBS : Perkebunan Besar Swasta

Indonesia adalah negara net exporter minyak sawit. Produksinya sebagian besar di ekspor dan sisanya dipasarkan di dalam negeri. Pangsa pasar untuk produk minyak sawit telah menjangkau kelima benua yakni Asia, Afrika, Australia, Amerika dan Eropa. Namun demikian Asia masih merupakan pangsa pasar yang paling utama.

(29)

dapat terus dikembangkan, sangat berbeda dengan minyak bumi yang jika cadangannya sudah habis tidak dapat dikembangkan kembali.

# . ( & $5 7 " 4 %"! " 4 7" 75 " ,>>> < 1//?

CPO (Crude Palm

Oil) Minyak Sawit lainnya Jumlah Total Tahun Volume

(000 ton) Nilai (000 ton) Volume (000 ton) Nilai (000 ton) Volume (000 ton) Nilai (000 ton) Pertum/ buhan (%)

1999 865 270 2434 844 3299 1114 123,01

2000 1818 476 2292 611 4110 1087 24,58

2001 1849 406 3054 674 4903 1081 19,30

2002 2805 892 3529 1200 6334 2092 29,17

2003 2892 1062 3494 1392 6386 2455 0,83

2004 3820 1444 4842 1997 8662 3442 35,63

2005 4566 1593 5810 2163 10376 3756 19,49

Sumber: BPS, 2005.

(30)

tiga kelompok besar yaitu (a) Industri ekstraksi minyak sawit dari buah sawit (Pabrik Pengolahan Kelapa Sawit / PKS), (b) Industri pengolahan minyak sawit, dan (c) Industri pemanfaatan limbah kelapa sawit.

# - 7" & 57 !":"! 5(57"! * ,>>/ < 1///

Produktivitas (kg/ha) Komoditas

PR PBN PBS

Karet 659 1.071 1.31

Kelapa Sawit 2.173 4.929 2.693

Kelapa Dalam 1.037 1.141 934

Kelapa Hibrida 997 1.031 920

Kopi Robusta 583 633 604

Kopi Arabika 830 830 581

Cokelat 1.313 812 856

Sumber : Statistik Perkebunan dalam Fauzi,dkk, 2002. Keterangan : PR : Perkebunan Rakyat

PBN : Perkebunan Besar Negara PBS : Perkebunan Besar Swasta

(31)

# ? # 7 57 " # $ %"! # * 75 " ' * 1///

PR PBN PBS

Propinsi Luas (ha) Produksi (ton) Luas (ha) Produksi (ton) Luas (ha) Produksi (ton) DI Aceh 60.188 48.759 41.645 83.541 117.549 263.203 Sumatra

Utara 105.330 256.986 257.434 1.259.615 264.218 918.372 Sumatra

Barat 51.599 116.201 3.256 18.579 92.331 252.694 Riau 205.361 361.962 63.088 303.307 389.690 642.017 Jambi 159.947 185.367 8.326 37.105 90.842 104.188 Sumatra

Selatan 154.012 154.501 27.209 108.021 157.541 170.206 Bengkulu 24.529 37.693 4.345 1.754 35.739 58.335 Lampung 31.537 11.141 12.996 57.209 37.626 18.377 Jawa Barat 6.296 12.587 11.071 6.068 4.135 7.914 Kalimantan

Barat 143.695 202.083 42.960 113.923 105.697 93.053 Kalimantan

Tengah 22.642 4.210 0 0 97.771 25.997

Kalimantan

Selatan 0 0 0 0 103.557 45.052

Kalimantan

Timur 32.816 40.848 9.360 19.736 43.653 15.910 Sulawesi

Tengah 10.638 13.643 4.349 0 23.440 13.258 Sulawesi

Selatan 27.206 30.476 9.887 21.846 47.360 28.935 Irian Jaya

(Papua) 17.000 26.956 5.217 25.815 9.638 0

(32)

Areal kelapa sawit di Propinsi Riau sebagian besar merupakan milik PT.Perkebunan Nusantara V (PTPN V) yang berada dibawah naungan BUMN. Salah satu PTPN yang ada di Propinsi Riau adalah PTPN V Sei Pagar. PTPN V Pabrik Kelapa Sawit Sei Pagar (PKS SPA) merupakan salah satu dari 12 pabrik yang dimiliki oleh PTPN V yang bergerak dibidang perkebunan dan pengolahan kelapa sawit. PTPN V PKS SPA melakukan proyek perkebunan inti rakyat atau proyek PIR/Trans. PKS SPA mengolah Tandan Buah Segar (TBS) menjadi dua macam produk akhir yaitu Crude Palm Oil (CPO) dan Palm Kernel (PK). Prosesnya dimulai dari pasokan tandan buah segar (TBS) yang berasal dari perkebunan inti dan perkebunan plasma kemudian diolah menjadi CPO dan

kernel.

PT. Perkebunan Nusantara V PKS SPA sebagai penanggung jawab terlaksananya pembangunan proyek PIR/Trans. Pelaksanaan program PIR/Trans dilaksanakan berdasarkan Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1986 tentang pengembangan perkebunan dengan pola PIR yang dikaitkan dengan program transmigrasi dan disusun jelas dalam Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 333/Kpts/KB.50/6/1986.

(33)

dengan pabrik pengolahannya sebagai pihak yang membutuhkan bahan baku menjadi salah suatu hal yang penting untuk dikaji.

, 1 ( # *

Pembangunan PKS SPA merupakan langkah strategis dalam pengembangan industri kelapa sawit. Sifat alami buah sawit yang tidak dapat disimpan lama mengharuskan adanya pembangunan PKS. Tanpa PKS buah kelapa sawit tidak dapat dimanfaatkan.

Menurut SK Menteri Pertanian No 357/Kpts/HK.350/5/2002, pembangunan pabrik pengolahan hasil perkebunan wajib secara terpadu dengan jaminan pasokan bahan baku dari kebun sendiri. Apabila pasokan bahan baku dari kebun sendiri tidak mencukupi dapat dipenuhi dari sumber lain melalui perusahaan patungan dengan menempuh salah satu pola pengembangan dari pihak luar. Oleh karena itu, kebun–kebun yang luas akan lebih aman apabila memiliki PKS sendiri.

(34)

PT. Perkebunan Nusantara V sebagai penanggung jawab pelaksanaan proyek kemitraan PIR/Trans dengan memberikan areal seluas 6000 ha kebun plasma kepada 3000 KK petani, sedangkan luas areal kebun inti seluas 2.752,68 ha. PTPN V SPA memiliki empat pasokan TBS yaitu kebun inti, kebun plasma, titip olah, dan pembelian tandan buah segar (TBS). Kapasitas PKS adalah 30 ton TBS/jam, maka kapasitas olah ideal yang dicapai perbulan adalah 10.000 ton TBS dengan masa operasi 20 jam. Apabila dipaksa untuk beroperasi 22 jam/hari, maka kapasitas olah bulanan adalah 11.000 ton TBS. Dalam keadaan terpaksa, PKS dapat dioperasikan selama 24 jam/hari untuk beberapa hari saja.

Pada tahun 2006 PKS Sei. Pagar membuat anggaran TBS yang diolah 169.200.000 kg, sedangkan yang terealisasi jumlah TBS sampai dengan bulan Desember 2006 adalah 107.175.110 kg TBS. Berarti tidak tercapainya TBS yang akan diolah sebesar 62.024.890 kg dibandingkan dengan anggaran. Tidak tercapainya TBS yang masuk ke PKS Sei. Pagar akan berpengaruh kepada jumlah biaya pengolahan yang dikeluarkan. Walaupun jumlah TBS yang dipasok tidak memenuhi target sehingga pabrik sering tidak mengolah atau dalam keadaan idle capacity tapi biaya tetap pengolahan seperti gaji karyawan pimpinan, gaji karyawan pelaksana, biaya listrik, biaya pemeliharaan bangunan pabrik, dan, biaya pemeliharaan mesin dan instalasi pabrik tetap saja dikeluarkan. Semakin tinggi biaya pengolahan akan berakibat semakin tinggi harga pokok pengolahan yang terjadi sehingga pabrik tidak efisien. Pengoperasian pabrik dikatakan efisien apabila biaya untuk menghasilkan keluaran lebih kecil dari nilai keluarannya.

(35)

Biaya pengolahan digunakan untuk melihat perkembangan total biaya pengolahan selama ini terutama tiga tahun terakhir, komponen–komponen apa saja yang memiliki pengaruh terhadap biaya pengolahan, serta mengetahui komponen yang memiliki biaya terbesar dan terkecil. Biaya pengolahan yang dikeluarkan terdiri dari beberapa komponen seperti pembelian bahan baku, gaji karyawan, biaya pemeliharaan bangunan pabrik, biaya listrik, biaya air, dan lain/lain.

Salah satu penyebab pabrik tidak efisien adalah pasokan TBS yang tidak masuk ke PTPN V PKS SPA. Kontinuitas pasokan hasil produksi petani plasma ke inti merupakan kunci kelanggengan kemitraan dimana terdapat manfaat yang dapat dirasakan oleh kedua belah pihak. Manfaat tersebut adalah terpenuhinya pasokan bahan baku bagi inti dan adanya jaminan pemasaran hasil produksi bagi petani plasma. Namun pada kenyataannya, kemitraan yang dilaksanakan tidak selalu berjalan sesuai harapan. Adanya penurunan volume pasokan bahan baku (TBS) dari petani plasma ke PKS SPA menunjukkan kemitraan pemasok sebagai sistem pengadaan bahan baku belum mencapai manfaat yang optimal.

(36)

Berdasarkan uraian tersebut, permasalahan yang akan diteliti dapat dirumuskan sebagai berikut :

1. Bagaimana perkembangan biaya pengolahan CPO PKS Sei. Pagar?

2. Faktor–faktor apa saja yang berpengaruh terhadap biaya pengolahan CPO PKS Sei. Pagar?

3. Bagaimana kinerja kemitraan yang terjadi antara petani plasma dan PTPN V Sei. Pagar?

, . 6 #"!"

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :

1. Mendeskripsikan perkembangan biaya pengolahan CPO PKS Sei. Pagar. 2. Menganalisis faktor–faktor yang mempengaruhi biaya pengolahan CPO

PKS Sei. Pagar.

3. Mengkaji kemitraan yang terjadi antara petani plasma dan PTPN V Sei. Pagar.

, - & #"!"

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat berguna untuk:

1. Bagi peneliti, dapat menambah wawasan, pengetahuan dan pengalaman tentang analisis biaya pengolahan dan pengkajian mengenai evaluasi kemitraan.

(37)

3. Bagi pemerintah, dapat mempertimbangkan masukan dalam menetapkan kebijakan mengenai pembangunan pabrik kelapa sawit, terutama yang ada di Kabupaten Kampar, Riau.

, ? & " & $ 7 ! ! #"!"

(38)

1 , 6 * # $ %"!

Tanaman kelapa sawit (Elaeis guinensis Jack) berasal dari Nigeria, Afrika Barat. Kelapa sawit (Palm oil) termasuk dalam ordo: Palmales, famili:

Palmaceae, sub/famili: Palminae, genus: Elaeia. Walaupun demikian, ada yang menyatakan bahwa kelapa sawit berasal dari Amerika Selatan yaitu Brazil karena lebih banyak ditemukan spesies kelapa sawit di hutan Brazil dibandingkan dengan Afrika. Pada kenyataannya tanaman kelapa sawit dapat hidup subur di luar daerah asalnya, seperti Malaysia, Indonesia, Thailand, dan Papua Nugini. Bahkan mampu memberikan hasil produksi yang lebih tinggi.

Di Indonesia, kelapa sawit pertama kali diusahakan dan dibudidayakan secara komersial pada tahun 1911 oleh Adrien Hallet, seorang Belgia yang banyak belajar tentang kelapa sawit di Afrika. Perkebunan kelapa sawit pertama kali di Indonesia berlokasi di Pantai Timur Sumatera (Deli) dan Aceh. Luas areal perkebunannya mencapai 5.123 ha. Indonesia mulai mengekspor minyak sawit (CPO) pada tahun 1919 sebesar 576 ton ke negara/negara Eropa, kemudian tahun 1923 mulai mengekspor minyak inti sawit (kernel) sebesar 850 ton (Setyamidjaja, 1991).

(39)

Indonesia mengekspor 250.000 ton minyak sawit. Setelah Belanda dan Jepang meninggalkan Indonesia, pada tahun 1957, pemerintah mengambil alih perkebunan dengan alasan politik dan keamanan. Perubahan manajemen dalam perkebunan dan kondisi sosial politik serta keamanan dalam negeri yang tidak kondusif, menyebabkan produksi kelapa sawit mengalami penurunan. Pada periode tersebut posisi Indonesia sebagai pemasok minyak dunia tergeser oleh Malaysia. Memasuki pemerintahan orde baru, pembangunan perkebunan diarahkan dalam rangka menciptakan kesempatan kerja, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan sektor penghasil devisa negara. Pemerintah terus mendorong pembukaan lahan baru untuk perkebunan. Sampai dengan tahun 1980 luas lahan mencapai 294.560 ha dengan produksi CPO sebesar 721.172 ton. Sejak saat itu lahan perkebunan kelapa sawit Indonesia berkembang pesat terutama perkebunan rakyat dan juga didukung oleh kebijakan pemerintah yang melaksanakan program PIR. Pada tahun 1990/an, luas perkebunan kelapa sawit mencapai lebih dari 1,6 juta hektar yang tersebar diberbagai sentra produksi seperti Sumatra dan Kalimantan (Setyamidjaja, 1991).

(40)

1 1 " ! # $ %"!

Dewasa ini dikenal beberapa varietas unggul yang telah ditanam diperkebunan kelapa sawit. Varietas unggul ini merupakan hasil persilangan buatan atau hibridisasi antara tipe Delidura dengan tipe Pisifera. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian RI No.312, 313, 314, 315, 316 dan 317/Kpts/TP.240/4/1985 telah dilepas enam varietas unggul kelapa sawit baru. Adapun nama dan daya produksinya terdapat pada Tabel 6. Varietas kelapa sawit unggul ini dianjurkan untuk ditanam dengan kerapatan tanaman 130 pohon per hektar, kecuali DP Marihat dan DP Lame sebaiknya 143 pohon per hektar (Setyamidjaja,1991).

# A 57 " ( " ! && # # $ %"!

No Induk Asal Nama Varietas (*) Produksi Minyak Kelapa Sawit (ton/ha/tahun)

1 Delidura X Pisifera DP Dolok Sinumbah 7,1

2 Delidura X Pisifera DP Lame 7,0

3 Delidura X Pisifera DP Yangambi 7,0

4 Delidura X Pisifera DP Bah Jambi 6,9

5 Delidura X Pisifera DP Marihat 6,7

6 Delidura X Pisifera DP Avros 6,4

Sumber: Setyamidjaja, 1991.

(*) DP berarti hasil silang antara Delidura dengan Pisifera; nama dibelakang huruf DP diambil dari nama tempat asal kelapa sawit Pisifera (sumber tepung sari) tersebut

1 . && # " 4 %"!

(41)

pangan seperti kosmetik dan farmasi. Bahkan minyak sawit telah dikembangkan sebagai salah satu bahan bakar. Berbagai hasil penelitian mengungkapkan bahwa minyak sawit memiliki keunggulan dibandingkan dengan minyak nabati lainnya. Beberapa keunggulan minyak sawit antara lain sebagai berikut (Fauzi, dkk, 2004): a. Tingkat efisiensi minyak sawit tinggi sehingga mampu menempatkan CPO

menjadi sumber minyak nabati termurah.

b. Produktivitas minyak sawit tinggi yaitu 3,2 ton/ha, sedangkan minyak kedelai, lobak, kopra, dan minyak bunga matahari masing–masing 0.34, 0.51, 0.57, dan 0.53 ton/ha.

c. Sifat intercgeable/nya cukup menonjol dibanding dengan minyak nabati lainnya, karena memiliki keluwesan dan keluasan dalam ragam kegunaan baik di bidang pangan maupun non pangan.

d. Sekitar 80 persen dari penduduk dunia, khususnya di negara berkembang masih berpeluang meningkatkan konsumsi per kapita untuk minyak dan lemak terutama minyak yang harganya murah (minyak sawit).

e. Terjadinya pergeseran dalam industri yang menggunakan bahan baku minyak bumi ke bahan yang lebih bersahabat dengan lingkungan yaitu oleokimia yang berbahan baku CPO, terutama di beberapa negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Eropa Barat.

1 - "# < "# # * " 4 # $ %"!

(42)

1. Produk turunan CPO selain minyak goreng dapat dihasilkan margarin,

vanaspati, es krim, shortening, dan lainnya seperti instant noodle, sabun dan

detergent, chocolate dan coatings, specialty fats, dry soap mixes, textiles oils dan biodiesel (Dirjen Bina Produksi, 2004).

2. Produk turunan PKO yaitu margarin, confectionary, krim biskuit, es krim, susu isian, dan lainnya seperti cocoa butter substitute, fikked mild, imiation cream, shampo dan kosmetik (Dirjen Bina Produksi, 2004).

3. Limbah cair bisa digunakan sebagai pupuk, dan limbah padat dapat digunakan sebagai kompos, serat dan rayon.

( , 5*5 7 ! " # $ %"!

Sumber : Kurniawan, dkk, 2004.

1 ? 5 $ ("!

(43)

dipasarkan. Agribisnis besar umumnya bergerak pada sektor pengembangan bidang pengolahan dan pemasaran hasil pertanian. Kedua pelaku usaha ini bergerak pada sektor yang berbeda, namun masih dalam cakupan suatu sistem agribisnis. Kondisi yang berbeda tersebut dapat dimanfaatkan dalam rangka mencapai efisiensi yang lebih besar, yaitu dengan mengadakan kerjasama.

Sesuai dengan Undang/Undang Nomor 9 Tahun 1995 tentang usaha kecil bahwa kemitraan adalah kerjasama antara usaha kecil dengan usaha menengah atau dengan usaha besar disertai dengan pembinaan dan pengembangan oleh usaha menengah atau usaha besar yang berkelanjutan dengan memperhatikan prinsip saling memperkuat, dan saling menguntungkan. Hal ini berarti bahwa dalam kemitraan tidak ada pihak yang merasa lebih besar atau lebih kuat daripada yang lain, namun saling bergantung antara satu dengan yang lain untuk mencapai tujuan bersama.

Dalam kondisi yang ideal, tujuan yang ingin dicapai dalam pelaksanaan kemitraan secara lebih konkret, antara lain (Hafsah, 2000):

1. Meningkatkan pendapatan usaha kecil dan masyarakat. 2. Meningkatkan perolehan nilai tambah bagi pelaku kemitraan.

3. Meningkatkan pemerataan, pemberdayaan masyarakat, dan usaha kecil. 4. Meningkatkan pertumbuhan ekonomi pedesaan, wilayah, dan nasional. 5. Memperluas kesempatan kerja.

(44)

Dalam melaksanakan kemitraan, semua pihak yang terlibat harus merasakan keuntungan dan manfaat yang diperoleh dari kemitraan. Secara garis besar manfaat dilaksanakannya kemitraan yang dapat diperoleh petani, yaitu (Nurdiniayati,1996) :

1. Merangsang petani untuk lebih bergairah dalam kegiatan produksi karena adanya jaminan pemasaran, yang meliputi jaminan pasar pembelian, pasar penjualan, harga pasar, dan harga pembelian.

2. Tersedianya modal dan sarana produksi.

3. Terjadi transfer teknologi tepat guna sehingga dapat meningkatkan produktivitas.

4. Memungkinkan petani untuk memperluas usaha.

Manfaat dilaksanakannya kemitraan bagi perusahaan diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Mendapat jaminan pasokan bahan baku.

2. Resiko kerugian jauh lebih kecil dibandingkan jika usaha tersebut dilakukan sendiri.

3. Investasi yang dikeluarkan jauh lebih kecil dibandingkan jika usaha tersebut dilakukan sendiri.

(45)

Menurut Hafsah (2000), pola kemitraan yang dapat dikembangkan di Indonesia adalah sebagai berikut :

a. Pola kemitraan sederhana

Pada pola kemitraan ini, menempatkan pengusaha besar pada peranan dalam (a) memberikan bantuan atau kemudahan perolehan modal untuk mengembangkan usaha, (b) penyediaan sarana produksi yang dibutuhkan, (c) bantuan teknologi. Pengusaha kecil mempunyai kewajiban memasokkan hasil produksinya kepada pengusaha besar (mitranya) sesuai jumlah dan standar mutu yang telah disepakati bersama. Pembina (pemerintah) berperan dalam pemberian fasilitas dan kemudahan dalam berinvestasi, penyediaan sarana transportasi, telekomunikasi, listrik, serta perangkat perundang – undangan yang mendukung kemitraan usaha.

b. Pola Kemitraan Tahap Madya

Pada pola kemitraan ini, peran usaha besar terhadap usaha kecil mitranya semakin berkurang. Dalam tahapan ini, usaha kecil telah mampu mengembangkan usaha, terutama dalam pengadaan sarana produksi, permodalan, dan manajemen. Usaha besar lebih terfokus pada aspek pengolahan dan pemasaran hasil.

c. Pola Kemitraan Tahap Utama

(46)

(pemerintah) tetap dibutuhkan peranannya agar dapat terwujud kemitraan yang diharapkan.

Berdasarkan sifat / kondisi dan tujuan usaha yang dimitrakan, terdapat beberapa pola kemitraan yang saat ini telah banyak dilaksanakan, yaitu (Hafsah, 2000):

1. Pola Inti Plasma, merupakan pola hubungan kemitraan antara kelompok mitra usaha sebagai plasma dengan perusahaan inti yang bermitra. Perusahaan inti menyediakan lahan, sarana produksi, bimbingan teknis, manajemen, menampung, mengolah, dan memasarkan hasil produksi, selain tetap memproduksi kebutuhan perusahaan. Pihak plasma (petani) harus dapat memenuhi kebutuhan perusahaan sesuai dengan persyaratan yang telah disepakati.

2. Pola Subkontrak, merupakan pola hubungan kemitraan antara perusahaan mitra dengan kelompok mitra usaha yang memproduksi kebutuhan yang diperlukan perusahaan sebagai bagian dari komponen produksinya. Ciri khas dari bentuk kemitraan ini adalah adanya kontrak bersama yang mencantumkan volume, harga, dan waktu.

3. Pola Dagang Umum, merupakan pola hubungan kemitraan antara mitra usaha yang memasarkan hasil dengan kelompok usaha yang mensuplai kebutuhan yang diperlukan oleh perusahaan.

(47)

5. Waralaba, merupakan pola hubungan kemitraan antara kelompok mitra usaha dengan perusahaan mitra usaha yang memberikan hak lisensi dan merek dagang saluran distribusi perusahaannya kepada kelompok mitra usaha sebagai penerima waralaba yang disertai dengan bantuan bimbingan manajemen.

1 A #"!" 7 * #

1 A , ! 7" 7 * # & " " 4 &5# *

Kamilla (2004) melakukan penelitian “Analisis Biaya Produksi Pengolahan Getah Pinus di Pabrik Gondorukem dan Terpetin Cimanggu, KPH Banyumas Barat” menggunakan metode perhitungan biaya dan analisis break even point. Menyimpulkan secara garis besar biaya produksi total gondorukem dan terpentin pada bulan November 2003 mencapai Rp.2.122.403.993,10. Break even point

Pabrik Gondoruken dan Terpetin Cimanggu atas dasar unit barang yang digunakan dalam proses, atau jumlah getah minimal yang harus dimasak adalah Rp.790.682 kg per bulan agar KPH Banyumas tidak rugi.

(48)

1 A 1 ! 7" 7 * # & " " # $ %"! 7 !" 4 !

Ekaprasetya (2006) melakukan penelitian mengenai “Faktor–Faktor yang Berhubungan dengan Motivasi Kerja Karyawan Pabrik Kelapa Sawit (studi kasus: PKS PT. Milano Aek Batu Kabupaten Labuhan Batu, Sumatera Utara).” Analisis statistik yang digunakan adalah koefisien korelasi Rank Sperman untuk mengetahui hubungan faktor internal dan faktor eksternal terhadap motivasi kerja karyawan bagian proses dan karyawan bagian non proses serta seluruh karyawan dalam faktor eksternal.

Sedangkan untuk mengidentifikasi lingkungan kerja perusahaan menurut karakteristik responden dan tingkat motivasi kerja karyawan dianalisis secara deskriptif dan diberi skor. Berdasarkan hasil uji korelasi, upaya peningkatan motivasi kerja karyawan hendaknya perusahaan memperhatikan faktor internal terutama usia, masa kerja, dan jumlah tanggungan keluarga untuk karyawan bagian non proses. Pada karyawan bagian non proses, urutan variabel yang paling berhubungan dengan tingkat motivasi kerja karyawan adalah variabel kompensasi, variabel peraturan dan kebijakan perusahaan, variabel kondisi kerja, dan variabel hubungan sesama rekan kerja.

(49)

Kemitraan yang dilaksanakan berpola inti plasma, dimana PT.Sinar Inesco berperan sebagai inti dan petani teh berperan sebagai plasma. Untuk mengetahui manfaat kemitraan terhadap perusahaan inti dapat dilihat dari tingkat kemampuan memasok kebutuhan bahan baku bagi pabrik pengolahan yang ada. Manfaat kemitraan terhadap petani plasma dapat dilihat dengan cara membandingkan pendapatan usahatani peserta PIR teh dengan petani yang bukan peserta PIR teh.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa PT. Sinar Inesco dapat memperoleh pucuk teh untuk memenuhi kebutuhan pabrik pengolahan secara kontinu. Bagi petani plasma, dengan mengikuti kemitraan terjadi peningkatan produksi dan pendapatan usahatani. Hal ini terlihat dari adanya perbedaan produksi dan pendapatan yang signifikan antara petani peserta PIR dan petani bukan peserta PIR. Namun, tujuan kemitraan ini belum sepenuhnya dicapai karena tingkat produktivitas kebun petani plasma yang relatif rendah dibandingkan kebun inti. Oleh karena itu, perlu diadakan pembinaan terhadap kelompok tani dan penerapan teknologi untuk meningkatkan produktivitas kebun petani plasma.

(50)

Hasil penelitian menunjukkan kemitraan yang dikembangkan oleh PT.IIS adalah pola PIR/Trans yang telah memasuki tahap pasca konversi. Kemitraan mencakup kegiatan pembinaan, pemeliharaan tanaman, dan pengolahan kebun petani plasma. Berdasarkan matriks pelaksanaan hak dan kewajiban kemitraan belum sepenuhnya sesuai dengan petunjuk inti, kurang perhatian petani plasma terhadap pemeliharaan jalan, dan keterlambatan pembayaran hasil produksi kepada petani. Berdasarkan tingkat kepuasan maka atribut penetapan denda sortasi merupakan atribut terpenting dan memiliki nilai kepuasan terendah.

Berdasarkan hasil uji statistik dengan metode uji/T terlihat pendapatan usahatani petani plasma dan non plasma berbeda nyata. Analisis pendapatan usahatani petani plasma dan non plasma menunjukkan bahwa petani plasma memperoleh pendapatan yang lebih tinggi dibandingkan petani non plasma.

1 A . ! 7" 7 * # & " )

Esron (2005) meneliti mengenai peramalan produksi CPO dan Palm Kernel Oil PT. Panamtama Kebun Dalam, Asahan, Sumut dengan metode kausal yaitu regresi berganda model linier dan regresi berganda model non linier dengan variabel independen produksi TBS dan faktor musiman.

(51)

harga pokok terutama biaya pemeliharaan tanaman menghasilkan (TM) dan biaya bahan baku TBS sehingga Margin of Safety (MOS) dan Marginal Income Ratio

(MIR) yang didapat juga tinggi.

Sari (2004) dalam penelitiannya yang berjudul ”Analisis Efisiensi Faktor/ Faktor Produksi CPO” dianalisis dengan menggunakan model fungsi produksi Cobb/Douglas yang diolah dengan metode Ordinary Least Square (OLS). Menyimpulkan dari analisis efisiensi produksi bahwa kenaikan penggunaan faktor produksi memberikan pengaruh positif terhadap jumlah produksi CPO PKS SPA. Di lain sisi ternyata kenaikan pada harga jual tidak berpengaruh besar terhadap tingkat keuntungan, karena tidak dapat mengimbangi kenaikan biaya produksi berupa pembelian bahan baku dan kompensasi untuk karyawan (biaya gaji dan upah).

(52)
(53)

. , & (" " 5 "!" . , , 57 " 7 2 & " 57 "

Pada umumnya suatu sistem produksi adalah proses pengubahan masukan– masukan menjadi barang atau jasa yang lebih berguna atau mempunyai nilai yang lebih tinggi. Masukan–masukan kedalam sistem ini adalah bahan mentah, tenaga kerja, modal, energi, dan informasi. Masukan ini diubah menjadi barang–barang dan jasa–jasa oleh teknologi proses yang merupakan metode atau cara tertentu yang digunakan untuk transformasi. Perubahan teknologi akan merubah cara satu masukkan yang digunakan dalam hubungannya dengan masukan yang lain, dan mungkin juga merubah keluaran–keluaran yang diproduksi (Rony, 1990).

Dalam rangka kegiatan produksi, perusahaan memerlukan modal investasi dari modal kerja meliputi antara lain (Rony, 1990):

1. Sarana produksi seperti tanah untuk gudang penyimpanan bahan baku dan produksi akhir, pabrik, mesin–mesin serta peralatannya, penerang listrik, alat transportasi, air dan lainnya yang berkaitan dengan berbagai sarana penunjang untuk kelancaran aktifitas produksi.

2. Tenaga kerja yang berkaitan langsung maupun tidak langsung dengan kegiatan produksi seperti buruh pabrik, mandor, tenaga operator, penjaga, tenaga pembersih gedung, dan peralatan pabrik lainnya.

(54)

Hubungan antara input dan output disusun dalam fungsi produksi (production function) yang berbentuk

Q = f (K,L,M,...)

Dimana Q mewakili output barang tertentu selama satu periode, K mewakili mesin (yaitu, modal) yang digunakan selama periode tersebut, L mewakili input jam tenaga kerja, dan M mewakili bahan mentah yang digunakan. Bentuk dari notasi ini menunjukkan adanya kemungkinan variabel/variabel lain yang mempengaruhi proses produksi. Fungsi produksi dengan demikian, menghasilkan kesimpulan tentang apa yang diketahui perusahaan mengenai bauran berbagai input untuk menghasilkan output.

. , 1 " 4 57 "

(55)

Berdasarkan pengertian–pengertian mengenai biaya dan produksi, Somarso (1996) dalam Kamilla mendefinisikan biaya produksi adalah biaya yang dibebankan dalam proses produksi selama suatu periode. Biaya ini terdiri dari persediaan dalam proses awal ditambah biaya pabrik (manufacturing cost). Yang dimaksud biaya pabrik adalah biaya–biaya yang terjadi dalam pabrik selama suatu periode. Pada dasarnya biaya pabrik dapat dikelompokkan menjadi biaya bahan baku (raw material), biaya buruh langsung (dirrect labor), dan biaya pabrikase (overhead) termasuk dalam biaya produksi adalah biaya–biaya yang dibebankan pada persediaan dalam proses pada akhir periode.

Biaya produksi didefinisikan sebagai semua pengeluaran yang dilakukan oleh perusahaan untuk memperoleh faktor–faktor produksi dan bahan/bahan mentah yang akan digunakan untuk menciptakan barang/barang yang diproduksikan perusahaan tersebut. Biaya produksi meliputi biaya tanaman dan biaya pengolahan. Biaya pengolahan meliputi gaji dan biaya sosial karyawan pimpinan, gaji dan biaya sosial karyawan pelaksana, alat dan inventaris kecil, bahan kimia dan bahan pelengkap, biaya analisis, bahan bakar dan pelumnas, biaya penerangan listrik, biaya air, biaya langsir, biaya angkat sampah, biaya pemeliharaan bangunan pabrik, biaya pemeliharaan mesin dan instalasi pabrik, premi asuransi pabrik, dan penyusutan.

(56)

faktor–faktor produksi yang dimiliki oleh perusahaan itu sendiri (Somarso, 1996 dalam Kamilla).

. , . # "B" " " 4 57 "

Biaya produksi merupakan salah satu unsur biaya dalam menentukan besarnya harga jual suatu produk, sehingga pada akhirnya keuntungan perusahaan dapat diketahui. Untuk kebanyakan produksi, ada dua macam biaya yang dapat dibedakan yaitu biaya tetap dan biaya variabel.

(57)

. , - 7" !5 : # " " 6 ("!

Evaluasi pelaksanaan kemitraan perlu dilakukan dengan tujuan untuk (1) meningkatkan tingkat pelaksanaan hak dan kewajiban antara kedua pihak yang bermitra, (2) menilai besarnya manfaat yang diperoleh masing/masing pihak, (3) mengidentifikasi faktor/faktor yang menunjang dan menghambat pelaksanaan kemitraan, (4) mencari alternatif pemecahan masalah yang dihadapi.

Kualitas pelayanan dapat dinilai dengan menggunakan konsep Servqual. Berdasarkan konsep ini, kualitas pelayanan yang mempengaruhi kepuasan pelanggan diyakini mempunyai lima dimensi, yaitu (Rangkuti, 2003):

1. Tangible (bukti langsung), pelayanan merupakan sesuatu yang tidak bisa dilihat, tidak bisa dicium, dan tidak bisa diraba, maka pelanggan akan menggunakan bukti langsung untuk menilai kualitas pelayanan. Dimensi tangible meliputi fasilitas fisik, perlengkapan, dan sarana komunikasi.

2. Reliability (keandalan), merupakan dimensi yang mengukur kemampuan perusahaan dalam memberikan pelayanan sesuai dengan yang dijanjikan. 3. Responsiveness (ketanggapan), merupakan dimensi yang mengukur

kemampuan untuk menolong pelanggan dan ketersediaan untuk melayani dengan baik

4. Assurance (jaminan), merupakan dimensi kualitas yang berhubungan dengan kemampuan dalam menanamkan rasa percaya dan keyakinan kepada para pelanggannya.

(58)

. 1 & (" " 5 $! #

Pengembangan industri kelapa sawit saat ini memiliki peluang yang baik. Produksi adalah suatu kegiatan ekonomi suatu perusahaan untuk memproses dan merubah bahan baku (raw material) menjadi barang setengah jadi atau barang jadi melalui penggunaan tenaga kerja dan fasilitas produksi lainnya (Rony, 1990).

Tandan Buah Segar (TBS) merupakan produk awal yang merupakan input bagi PTPN V PKS SPA. PTPN V PKS SPA hanya menghasilkan produk setengah jadi yaitu CPO dan PK. Untuk menghasilkan produk, perusahaan memerlukan biaya–biaya dalam mengalokasikan sumberdaya yang ada. Biaya yang dikeluarkan untuk proses produksi disebut biaya produksi. Biaya produksi pada pengolahan kelapa sawit terdiri dari biaya tanaman menghasilkan dan biaya pengolahan.

(59)

pengolahan lebih efisien dan diharapkan mampu untuk memperbaiki struktur biaya pengolahan di PTPN V PKS SPA.

(60)

( 1 & (" " 5 $! # Biaya pengolahan

PTPN V tidak efisien

Perkembangan biaya pengolahan

Kinerja kemitraan PTPN V Sei. Pagar dan petani plasma

Ada Perbedaan antara anggaran dan realisasi

Memberi rekomendasi kepada PTPN V Sei. Pagar Faktor/faktor biaya yang

mempengaruhi biaya pengolahan

Biaya rata–rata

pabrik Regresi OLS

Evaluasi kinerja kemitraan Penggunaan

kapasitas terpasang pabrik

(61)

. . "$5! " #"!"

1. Biaya pengolahan PTPN V PKS Sei. Pagar pada tahun 2005 – 2007 mengalami peningkatan setiap tahunnya.

2. Komponen faktor/faktor biaya tetap dan biaya variabel mempengaruhi biaya pengolahan PTPN V PKS SPA.

3. Elastisitas antara faktor/faktor yang mempengaruhi biaya pengolahan PTPN V PKS SPA adalah positif.

(62)

- , ! 5 " 7 9 ! #"!"

Penelitian dilaksanakan di PT. Perkebunan Nusantara V Pabrik Kelapa Sawit Sei. Pagar (PTPN V PKS SPA) dan petani plasma di tingkat kebun. Perusahaan ini dipilih dengan sengaja (purposive) berdasarkan pertimbangan bahwa perusahaan ini merupakan salah satu perusahaan yang bergerak dibidang perkebunan dan pengolahan kelapa sawit. Pengumpulan data dilaksanakan pada bulan Desember 2007 sampai dengan Februari 2008.

- 1 " 7 !57 & ($ # !

Data penelitian yang dikumpulkan menggunakan data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui metode wawancara langsung kepada Masinis Kepala, Kepala Tata Usaha, karyawan PTPN V PKS SPA, dan petani plasma. Selain itu juga dilakukan pengamatan langsung di lapangan untuk memperoleh informasi proses pengolahan TBS dan informasi tambahan yang lain untuk mendukung data yang diperoleh. Data sekunder diperoleh dari bagian keuangan dan administrasi produksi. Data yang dikumpulkan meliputi laporan manajemen, neraca percobaan, data produksi, capaian produksi, harga TBS dan biaya pengolahan tahun 2005 sampai 2007 serta informasi dari bahan/bahan pustaka yang mendukung penelitian.

(63)

inti sebanyak 10 orang dan kepada petani plasma sebanyak 30 orang. Pengambilan sampel dilakukan secara accidental sampling karena keterbatasan waktu dan kesulitan menyeleksi observasi.

Data kinerja kemitraan PTPN V SPA diperoleh dengan melakukan wawancara terhadap 30 responden petani plasma. Kinerja kemitraan ditentukan dengan memberikan beberapa indikator seperti pada Tabel 7.

# 0 B! 7" !5 " 6 ("!

No Indikator Buruk Baik Sedang

Dimensi Tangible

1 Daya tampung inti

Dimensi Reliability

2 Komunikasi yang dibangun pihak inti dan plasma

3 Harga Beli TBS

4 Waktu pembayaran TBS

Dimensi Responsiveness

5 Ketanggapan inti dalam menyelesaikan keluhan petani

6 Layanan pinjaman dana

Dimensi Assurance

7 Disiplin inti dalam menaati perjanjian

8 Pengetahuan proyek PIR/Trans

9 Pengetahuan mengenai penyetoran TBS ke inti

Dimensi Empathy

10 Sikap inti terhadap kesejahteraan petani plasma

- . !57 #" " !

- . , #" " " 4 &5# * 7 B" " " "

(64)

produk massa dan proses produksinya dilakukan secara kontinyu. Dengan demikian harga pokok yang digunakan adalah metode harga pokok proses, yaitu cara penentuan harga pokok produk yang membebankan biaya produksi selama periode tertentu kepada proses atau kegiatan produksi dan membaginya sama rata kepada produk yang dihasilkan dalam periode tertentu. Pembebanan biaya kepada produk yang dilakukan adalah berdasarkan full costing method, karena biaya yang digunakan dalam penelitian ini adalah total biaya (biaya penuh) yang dikeluarkan perusahaan untuk menghasilkan CPO baik biaya tetap maupun biaya variabel. Menurut Mulyadi (1993), full costing method adalah metode penentuan harga pokok yang memasukkan semua komponen biaya produksi (biaya tetap maupun variabel) sebagai komponen harga pokok produksi. Rumus yang digunakan adalah (Mulyadi, 1993): tertentu periode pada produksi Jumlah tertentu periode pada biaya Total Pokok a Harg

Dalam penelitian ini perhitungan harga pokok yang dilakukan adalah harga pokok pengolahan tingkat pabrik, yaitu komponen biaya yang dikeluarkan di tingkat pabrik dan membagi dengan rata produksi yang dihasilkan.

(65)

jenis Tenera adalah 22–24 persen. Rumus untuk mencari kapasitas pabrik ideal adalah sebagai berikut:

- . 1 #" " 2 !5 @2 !5 4 & ($ & *" " 4 &5# * , 2 & " 5 @ 5 &#

Dalam menduga parameter/parameter yang mempengaruhi produksi ada beberapa macam bentuk fungsi produksi yang digunakan, seperti fungsi linear biasa, fungsi transendental dan fungsi Cobb/Douglas (Beattie dan Taylor, 1994). Dari semua bentuk fungsi produksi tersebut fungsi Cobb/Douglas merupakan salah satu bentuk yang paling banyak digunakan karena memiliki beberapa kelebihan (Doll dan Orazem, 1984), yaitu:

1. Mengurangi heteroskedastisitas, karena bentuk linear fungsi produksi ditransformasikan ke dalam bentuk logaritma sehingga varians data menjadi lebih kecil.

2. Koefisien pangkat dari masing/masing faktor produksi yang digunakan dalam fungsi produksi Cobb/Douglas sekaligus menyatakan besarnya elastisitas produksi dari masing/masing faktor produksi yang digunakan terhadap output. 3. Jumlah elastisitas produksi masing/masing faktor produksi merupakan

pendugaan terhadap skala usaha dari proses produksi.

(66)

Namun fungsi produksi Cobb/Douglas juga memiliki beberapa kelemahan, yaitu:

1. Model menganggap elastisitas produksi tetap sehingga tidak mencakup tiga tahap yang biasa dikenal dalam proses produksi, yaitu tahap kenaikan hasil bertambah, tahap kenaikan hasil tetap, dan tahap kenaikan hasil berkurang. 2. Nilai duga elastisitas produksi yang dihasilkan akan berbias bila faktor–faktor

produksi yang digunakan tidak lengkap.

3. Model tidak dapat digunakan untuk menduga tingkat produksi pada taraf penggunaan faktor sama dengan nol.

4. Bila digunakan untuk menduga tingkat produksi pada taraf faktor produksi yang jauh di atas rata/rata akan menghasilkan nilai duga yang berbias ke atas.

Fungsi produksi Cobb/Douglas menggunakan cara regresi berganda atau regresi sederhana. Fungsi produksi Cobb/Douglas, dapat ditransfomasikan menjadi fungsi biaya (Rahim dan Hastuti, 2007). Produksi hasil komoditas pertanian (on–farm) sering disebut korbanan produksi karena faktor produksi tersebut dikorbankan untuk menghasilkan komoditas pertanian. Oleh karena itu, untuk menghasilkan suatu produk diperlukan hubungan antara faktor produksi (input) dan komoditas (output). Menurut Soekartawi (1994:3), hubungan antara input dan output disebut factor relationship (FR). Fungsi produksi Cobb–Douglas adalah suatu fungsi persamaan yang melibatkan dua atau lebih variabel (variabel bebas/independent variable dan variabel tidak bebas/dependent variable).

(67)

Keterangan:

Y = Biaya Pengolahan (Rp) a,b = besaran yang diduga X1 = Gaji karyawan (Rp)

X2 = Alat dan inventaris (Rp)

X3 = Biaya pemeliharaan bangunan pabrik (Rp)

X4 = Biaya pemeliharaan mesin dan instalasi pabrik (Rp)

X5 = Premi asuransi pabrik (Rp)

X6 = Pembelian TBS (Rp)

X7 = Bahan kimia dan pelengkap (Rp)

X8 = Bahan bakar dan pelumnas (Rp)

X9 = Biaya listrik (Rp)

X10 = Biaya air (Rp)

X11 = Biaya angkut (Rp)

X12 = Biaya pengepakan (Rp)

u = kesalahan (disturbance term) e = logaritma natural, e =2,718

Untuk

Gambar

Gambar 5. Kualitas pendidikan memberi refleksi akan pola dan aktivitas
Gambar 7 menunjukkan bahwa distribusi pendapatan petani plasma yang

Referensi

Dokumen terkait