SEJARAH PERKEMBANGAN
ONAN
NAINGGOLAN
(1965 – 1998) DI SAMOSIR
SKRIPSI SARJANA
Dikerjakan
O
L
E
H
NAMA : SHOJI. L. NAHOR
NIM
: 070706019
DEPARTEMEN SEJARAH
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
Lembar Persetujuan Ujian Skripsi
SEJARAH PERKEMBANGAN ONAN NAINGGOLAN (1965 – 1998) DI SAMOSIR
Yang diajukan oleh : Nama : Shoji. L. Nahor NIM : 070706019
Telah disetujui untuk diujikan dalam ujian skripsi oleh : Pembimbing
Drs. Edi Sumarno, M.Hum Tanggal : NIP. 196409221989031001
Ketua Departemen Sejarah
Drs. Edi Sumarno, M. Hum Tanggal: NIP. 196409221989031001
DEPARTEMEN SEJARAH FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
Lembar Pengesahan Pembimbing Skripsi
SEJARAH PERKEMBANGAN ONAN NAINGGOLAN (1965 – 1998) DI SAMOSIR
Skripsi Sarjana Yang diajukan oleh:
NAMA : Shoji. L. Nahor NIM : 070706019
Telah disetujui untuk diujikan dalam ujian skripsi oleh: Pembimbing
Drs. Edi Sumarno, M.Hum NIP. 196409221989031001
Skripsi ini diajukan kepada panitia ujian Fakultas Ilmu Budaya USU Medan, untuk melengkapi salah satu syarat ujian Sarjana Sastra dalam Bidang Ilmu Sejarah
DEPARTEMEN SEJARAH FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
Lembar Persetujuan Ketua Departemen
Disetujui oleh:
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
DEPARTEMEN ILMU BUDAYA
Ketua Departemen
Drs. Edi Sumarno, M.Hum NIP. 196409221989031001
Lembar Pengesahan Skripsi Oleh Dekan dan Panitia UJian Di terima oleh
Panitia ujian Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara Untuk melengkapi salah satu syarat ujian Sarjana
Dalam Ilmu Sejarah pada Fakultas Ilmu Budaya USU Medan.
Pada :
Hari :
Tanggal :
Fakultas Ilmu Budaya USU Dekan
Dr. Syahron Lubis, M.A. NIP. 19511013197603100
Panitia Ujian
No Nama Tanda tangan
Ucapan Terima Kasih
Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yesus Kristus yang telah member
Ikan karunia kesehatan, kesempatan, kekuatan dan kasih sayang sehingga penulis
dapat menyelesaikan skripsi ini.
Dalam kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih atas bantuan
tenaga, pikiran, serta bimbingan yang telah diberikan dalam menyelesaikan skripsi
ini, kepada yang terhormat:
1. Amang (M. L.Nahor ) dan inang (N. Br.Parhusip) tersayang, yang telah
merawat,membesarkan, mendidik, dan selalu menyayangi dan mendoakan
penulis senantiasa dengan penuh cinta. Adik tercinta (Sarifa dan Tika)
selalulah hormat pada orang tua, serta seluruh keluarga besar yang selalu
memberikan motivasi dan semangat.
2. Bapak Dr. Syahron Lubis, M.A. selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Sumatera Utara Medan, beserta Pembantu Dekan I Dr. M.
Husnan Lubis, M.A, Pembantu Dekan II Drs. Samsul Tarigan, dan
Pembantu Dekan III Drs. Yuddi Adrian Muliadi, M.A, berkat bantuan dan
fasilitas yang penulis peroleh di Fakultas Ilmu Budaya Universitas
Sumatera Utara.
3. Bapak Drs. Edi Sumarno, M. Hum sebagai Ketua Departemen Sejarah
Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara Medan yang juga
henti-hentinya memberikan wejangan dan nasehat bagi penulis walaupun
penulis belum bisa menjadi anak didik yang baik.
4. Ibu Dra. Nurhabsyah selaku Sekretaris Departemen Sejarah Fakultas Ilmu
Budaya Universitas Sumatera Utara Medan juga selaku dosen.
5. Ibu Dra. Junita Setiana Ginting M,Si sebagai Dosen Penasehat Akademik
penulis yang telah sabar memperhatikan bahkan membantu penulis semasa
perkuliahan.
6. Seluruh Bapak/Ibu Dosen penulis khususnya di Departemen Sejarah.
Semoga ilmu yang diberikan dapat penulis amalkan, juga kepada Bang
Ampera selaku Tata Usaha Departemen Sejarah(terimakasih atas
arahannya )
7. Kepada Tulang dan Nantulang (Urat,Tangerang, Sibolga, Sunggal,
Menteng dan Marindal) yang senantiasa memberikan dukungan spiritual
kepada penulis yang senantiasa mendoakan penulis dalam setiap hal
penulis jalani
8. Kepada lae Janu, Bang Poltak, Bang Dedi, Bang Tua, Bang Frans, Gonlis,
Kakak Pelita, Kakak Romasi, Kakak Noren dan Appara Dody yang selalu
menghibur penulis dan mengingatkan penulis supaya mengerjakan
skripsinya.
9. Seluruh kawan-kawan Mahasiswa Departemen Sejarah Fakultas Ilmu
Budaya Universitas Sumatera Utara Medan serta abang-abang senior yang
menjadi penasehat penulis yang senantiasa memberikan masukan positif
penulis”kuatkan dulu internal stambuk setelah itu kemudian eksternal
stambuk”.
10.Kepada semua pihak yang ikut serta membantu penulis dalam pengerjaan
skripsiyang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu, yang telah bersedia
memberikan dukungan kepada penulis baik dukungan moral maupun
dukungan spiritual yang sangat berguna bagi penulis
Dengan rasa suka cita penulis mohon doa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar
selalu diberkati dalam melakukan pekerjaan maupun aktivitas sehari-hari.
Sekali lagi penulis ucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang
telah membantu menyelesaikan skripsi ini
Medan, Oktober 2013
Penulis
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kita ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kita. Hingga saat ini penulis masih
diberikan rejeki yang berlimpah ruah, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi
ini. Adapun skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan dan meraih
gelar program sarjana pada Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas
Sumatera Utara.
Skripsi ini berjudul, SEJARAH PERKEMBANGAN ONAN NAINGGOLAN ( 1965 – 1998 ) DI SAMOSIR.
Penulis menyadari skripsi ini belum sempurna, oleh karena itu dengan
kerendahan hati penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca untuk
penyempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi para pembaca,
khususnya bagi penulis sendiri
Medan, Oktober 2013
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman Judul
Lembar Pengesahan ………. i
Ucapan Terimakasih ………. v
Kata Pengantar ……… vii
Daftar Isi ………... viii
Abstrak ……… x
BAB I Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Masalah ………. 1
1.2 Rumusan Masalah ………. 5
1.3 Tujuan Dan Manfaat ………. 6
1.4 Tinjauan Pustaka ………... 7
1.5 Metode Penulisan ……….. 8
BAB II Onan Nainggolan Sebelum Tahun 1965 2.1 Wilayah Dan Geografis ………. 9
2.2 Kondisi Masyarakat ……… 12
2.3 Keadaan Onan Nainggolan Sebelum Tahun 1965...………. 17
BAB III Perkembangan Onan Nainggolan ( 1965 – 1998 ) 3.1 Kondisi Fisik ……… 24
3.2 Pengelolaan Onan Nainggolan ……… 29
3.3 Aktifitas Onan Nainggolan ……….. 30
3.4 Permasalahan Yang Dihadapi Di Onan Nainggolan ………... 32
BAB IV Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Onan Nainggolan 4.1 Transportasi ……… 36
4.1.1 Transportasi Darat ……… 36
4.1.2 Transportasi Air ……… 40
4.2 Infrastruktur ……… 46
4.2.1 Pelabuhan ……… 47
4.2.2 Jalan Raya ……… 49
4.2.4 Bangunan Pendukung ……… 54
BAB V Peranan Onan Nainggolan Terhadap Masyarakat Sekitar
5.1 Pemenuhan Kebutuhan Hidup ……… 56
5.2 Pusat Interaksi ……… 62
5.3 Pusat Informasi ……… 67
BAB VI Kesimpulan Dan Saran
6.1 Kesimpulan ……… 71
6.2 Saran ……… 75
Daftar Pustaka Daftar Informan Daftar Lampiran
Abstrak
Pasar tradisional merupakan sarana pertemuan masyarakat dalam melakukan aktifitas dagang dalam upaya pemenuhan kebutuhan hidup mereka. Dengan adanya pasar tradisional, keberadaan masyarakat desa sangat terbantu bukan hanya dalam hal pemenuhan kebutuhan hidup saja., melainkan dalam hal peningkatan kesejahteraan masyarakat. Keberadaan pasar tradisional tidak berdiri begitu saja, akan tetapi atas keinginan masyarakat yang bekerjasama dengan pemerintah dalam hal pembangunannya.
Onan Nainggolan adalah salah satu pasar tradisional yang keberadaannya masih bertahan hingga sekarang. Onan Nainggolan awalnya hanya sebuah lahan kosong yang selanjutnya dalam perkembangannya mengalami kemajuan baik dari perkembangan kondisi fisik pasar dan perkembangan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Perkembangan Onan Nainggolan telah ikut serta mendorong pembangunan sarana dan prasarana pendukung seperti adanya perbaikan jalan dan pembangunan pelabuhan. Dapat dikatakan bahwa pesatnya perkembanganm Onan Nainggolan telah memberikan dampak yang begitu besar terhadap pembangunan dan peningkatan ekonomi masyarakat.
Dalam hal penulisan skripsi, penulis menggunakan metode penelitian yaitu, heuristik (tahap pengumpulan data/sumber), kritik sumber ( tahap penyeleksian sumber-sumber yang diperoleh), interpretasi (tahap penafsiran dan analisis sumber), dan historiografi (tahap penulisan)
4.2.4 Bangunan Pendukung ……… 54
BAB V Peranan Onan Nainggolan Terhadap Masyarakat Sekitar
5.1 Pemenuhan Kebutuhan Hidup ……… 56
5.2 Pusat Interaksi ……… 62
5.3 Pusat Informasi ……… 67
BAB VI Kesimpulan Dan Saran
6.1 Kesimpulan ……… 71
6.2 Saran ……… 75
Daftar Pustaka Daftar Informan Daftar Lampiran
Abstrak
Pasar tradisional merupakan sarana pertemuan masyarakat dalam melakukan aktifitas dagang dalam upaya pemenuhan kebutuhan hidup mereka. Dengan adanya pasar tradisional, keberadaan masyarakat desa sangat terbantu bukan hanya dalam hal pemenuhan kebutuhan hidup saja., melainkan dalam hal peningkatan kesejahteraan masyarakat. Keberadaan pasar tradisional tidak berdiri begitu saja, akan tetapi atas keinginan masyarakat yang bekerjasama dengan pemerintah dalam hal pembangunannya.
Onan Nainggolan adalah salah satu pasar tradisional yang keberadaannya masih bertahan hingga sekarang. Onan Nainggolan awalnya hanya sebuah lahan kosong yang selanjutnya dalam perkembangannya mengalami kemajuan baik dari perkembangan kondisi fisik pasar dan perkembangan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Perkembangan Onan Nainggolan telah ikut serta mendorong pembangunan sarana dan prasarana pendukung seperti adanya perbaikan jalan dan pembangunan pelabuhan. Dapat dikatakan bahwa pesatnya perkembanganm Onan Nainggolan telah memberikan dampak yang begitu besar terhadap pembangunan dan peningkatan ekonomi masyarakat.
Dalam hal penulisan skripsi, penulis menggunakan metode penelitian yaitu, heuristik (tahap pengumpulan data/sumber), kritik sumber ( tahap penyeleksian sumber-sumber yang diperoleh), interpretasi (tahap penafsiran dan analisis sumber), dan historiografi (tahap penulisan)
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kemajuan suatu wilayah tidak dapat dilepaskan dari peranan pasar karena
tempat ini merupakan salah satu pusat konsentrasi yang turut memberikan sumbangan
pembangunan suatu wilayah. Adanya pasar akan menguntungkan kehidupan
masyarakat dalam segala sektor. Di samping itu, pasar juga memberikan kemudahan
dan keperluan penduduk dalam memperoleh kebutuhannya.
Kabupaten Samosir terdiri dari 9 kecamatan, 6 kecamatan berada di Pulau
Samosir di tengah Danau Toba dan 3 kecamatan berada di lingkar luar Danau Toba
tepat pada punggung pegunungan Bukit Barisan, yakni Kecamatan Harian,
Kecamatan Sianjur Mula-Mula, Kecamatan Nainggolan, Kecamatan Onan Runggu,
Kecamatan Palipi, Kecamatan Pangururan, Kecamatan Ronggur Ni Huta, Kecamatan
Simanindo, dan Kecamatan Sitiotio.
Kecamatan Nainggolan merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten
Samosir di sebelah barat berbatasan dengan kecamatan Palipi, dan sebelah Timur
berbatasan dengan Kecamatan Onan Runggu kemudian sebelah selatan berbatasan
dengan pantai dan sebelah utara dengan desa Sirumahombar. Nainggolan terletak di
daerah pinggiran pantai Danau Toba. Di sekitar daerah pantai, tepatnya di daerah
pelabuhan akan ditemui pasar (onan) Nainggolan yang juga merupakan daerah pusat
Kata Onan berasal dari bahasa Batak Toba yang terdiri dari dua suku kata
yaitu “on” dan “an” yang artinya ini dan itu. Secara umum dapat diartikan bahwa
Onan berarti proses memilih barang yang akan dibeli di pasar atau yang sering
disebut masyarakat Batak Toba dengan sebutan Onan. Kata ini telah sejak lama
dipergunakan oleh masyarakat Batak Toba jika mereka hendak membeli
barang-barang keperluan mereka ke pasar (onan).
Pasar sebagai tempat pertemuan transaksi antara pedagang dan pembeli
dalam satu produk mempunyai arti penting bagi pertumbuhan perekonomian
penduduk lokal daerah, baik secara langsung maupun tidak.1
Kegiatan berdagang merupakan salah satu bentuk yang dilakukan manusia
dalam pemenuhan kebutuhan hidup. Kegiatan ini dilakukan di mana saja dan salah
satunya dilakukan di pasar. Berbicara mengenai kegiatan ekonomi tidak terlepas dari
faktor yang mendukung adanya kegiatan perdagangan. Kegiatan ini dapat berjalan
dengan lancar karena didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai, misalnya:
transportasi, produk yang diperdagangkan, dan terutama tempat berlangsungnya
kegiatan, yaitu pasar. Bagi pedagang, pasar merupakan tempat bekerja untuk
memperoleh penghasilan guna memenuhi kebutuhan hidupnya.
Pasar akan
memungkinkan berkembangnya tingkat dan taraf ekonomi masyarakat karena
mampu memberikan lowongan pekerjaan dalam upaya peningkatan taraf hidup. Pasar
adalah salah satu tempat yang paling ramai, bahkan disebut sebagai pusat kota.
Dalam hal ini pasar menjadi kebutuhan akan pertukaran perekonomian masyarakat.
1 Muhajir Utomo
Kegiatan perdagangan awalnya dilakukan dengan sistem barter pada daerah
yang terbuka (barang ditukar dengan barang). Pasar yang merupakan kegiatan jual
beli itu biasanya :(1) terletak di tempat yang mudah didatangi dari berbagai arah;(2)
berlangsung pada waktu tentu;(3) mengutamakan benda- benda keperluan untuk
rumah tangga.
Keberadaan pasar ada pada masyarakat di mana saja, termasuk pada
masyarakat Batak Toba. Biasanya masyarakat Batak Toba menyebut pasar dengan
istilah Onan. Sebagai pusat aktivitas ekonomi di daerah-daerah, Onan terdapat di
hampir setiap wilayah yang didiami sub etnik Batak Toba di Tapanuli. Salah satu
Onan tersebut adalah Onan Nainggolan yang terletak di Pulau Samosir. Onan ini
terletak di Kecamatan Nainggolan yang merupakan salah satu kecamatan dari
sembilan kecamatan yang ada di Kabupaten Samosir2
Onan Nainggolan, dari informasi sementara yang didapat, diperkirakan telah
ada sejak tahun 1936. Sebelum Onan Nainggolan ini ada, sarana pertemuan untuk
masyarakat Nainggolan untuk melakukan pertukaran barang harus ke Desa Silaban
Kecamatan Palipi dengan kuda beban dan berjalan kaki. Hal ini bisa dilihat dari
kenyataan bahwa kapal mesin masuk ke daerah Samosir pada tahun 1933 oleh
Pastoran pada masa zending Katolik di Desa Silaban Kecamatan Palipi. .
3
2
http://www.iannnews.com/ensiklopedia.php?prov=4&kota=42
Kapal inilah
yang digunakan juga oleh Pastoran membantu masyarakat untuk digunakan sebagai
pengangkutan manusia dan barang-barang hasil bumi.
3 Johannes Adrianto Pakpahan
Sebelum adanya Onan Nainggolan, pertukaran barang dilakukan masyarakat
yang tinggal di sekitarnya saja. Pemikiran masyarakat sekitar mengalami perubahan
di tahun 1965 seiring munculnya pelabuhan di Onan Runggu. Menyusul dibangunnya
pelabuhan kapal motor di Nainggolan. Kemajuan pesat terjadi atas pasar tersebut, di
mana pelaku pertukaran barang antara penjual dan pembeli tidak hanya masyarakat
sekitar Nainggolan itu saja tetapi sudah ada dari Balige, Parapat, Muara, Pangururan,
dan Tigaraja .
Komoditas yang dipertukarkan di Onan Nainggolan adalah hasil bumi, berupa
bawang, cabe, beras, jagung, barang-barang kerajinan, alat dapur, pakaian, dan lain
sebagainya. Onan Nainggolan melakukan aktifitas pada setiap hari Senin dari pagi
sampai dengan sore (saat ini berbeda pada tahun di bawah 1965 hanya dari pagi
sampai dengan siang saja). Dari uraian di atas dapat dikatakan transportasi
mempengaruhi perkembangan pasar (onan) Nainggolan.
Uraian tersebut di atas membuat penulis tertarik untuk mendalami kehidupan
masyarakat Nainggolan. Karena salah satu pendorong utama perkembangan ekonomi
dan aspek lainnya adalah pasar. Ruang lingkup temporal yang diambil adalah
1965-1998. Tahun 1965 adalah awal perkembangan pasar dengan sentuhan pelabuhan
kapal motor pertama yang turut mendobrak perputaran ekonomi dengan masuknya
orang-orang dari Balige, Parapat, Muara, Pangururan dan Tigaraja untuk berdagang.
Penelitian ini diakhiri hingga tahun 1998,karena saat itu terjadi perubahan struktur
bangunan Onan Nainggolan, Di mana pasar lama mengalami kebakaran dan
dilakukan pembangunan kembali.
Dalam melakukan sebuah penelitian, yang menjadi landasan dari penelitian
adalah akar masalah yang ada dalam topik yang dibahas.Adapun permasalahan yang
dikaji dalam penelitian ini tertuang dalam beberapa pertanyaan sebagai beriku:
1. Bagaimana kondisi Onan Nainggolan sebelum tahun 1965?
2. Bagaimana perkembangan Onan Nainggolan pada tahun 1965-1998?
3. Apakah yang menjadi faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan Onan
Nainggolan pada tahun 1965-1998?
4. Bagaimana peranan Onan Nainggolan terhadap masyarakat sepanjang tahun
1965-1998.?
1.3 Tujuan dan Manfaat Adapun tujuan penelitian ini adalah:
1. Mengetahui kondisi Onan Nainggolan sebelum tahun 1965
2. Menguraikan sejarah perkembangan Onan Nainggolan dari tahun 1965-1998
3. Menganalisis faktot-faktor yang mempengaruhi perkembangan Onan
Nainggolan dari tahun 1965-1998
4. Menjelaskan peranan Onan Nainggolan terhadap masyarakat sekitarnya
periode 1965-1998
Di samping tujuan di atas, penelitian ini diharapkan akan menghasilkan
manfaat sebagai berikut :
1. Menambah pengetahuan sekaligus memotifasi peneliti dalam
yang berguna terhadap dunia akademi, terutama dalam sosial Ilmu
Sejarah guna membuka ruang penulisan sejarah yang berikutnya.
2. Menjadi suatu diskusi yang berguna bagi pemerintah dan masyarakat
dalam menyelenggarakan proses pembangunan di bidang sosial
ekonomi
3. Bagi masyarakat Samosir, khususnya masyarakat Nainggolan, semoga
dapat meningkatkan pengetahuan sejarah tentang Onan pertama yang
ada di daerah tersebut.
1.4 TINJAUAN PUSTAKA
Tinjauan pustaka sangatlah diperlukan dalam suatu penelitian, karena
berfungsi sebagai sumber pendukung penelitian sehingga hasil penelitian tersebut
sesuai dengan yang diharapkan dan tidak keluar dari rumusan masalah yang telah
dibuat. Oleh sebab itulah, relevansi literatur yang digunakan menjadi sebuah tuntutan
dalam sebuah penelitian.
Muhajir Utomo dalam bukunya “Dampak Pengembangan Ekonomi (Pasar)
Terhadap Kehidupan Sosial Budaya Masyarakat”, membahas tentang pengertian
pasar beserta dampaknya terhadap kehidupan masyarakat. Ia berasumsi bahwa pasar
merupakan pusat perekonomian suatu daerah. Pertumbuhan perekonomian dapat
dilihat dari aktifitas penduduk dalam membudidayakan lingkungan yang ada untuk
Selain itu beliau juga berasumsi bahwa dengan berkembangnya transportasi telah
membawa dampak yang sangat besar terhadap perkembangan pasar di suatu daerah.
T. Dibyo Harsono dalam bukunya yang berjudul Dampak Pembangunan
Ekonomi (Pasar) Terhadap Kehidupan Sosial Budaya Masyarakat Daerah Sumatera
Utara, membahas tentang bagaimana peranan pasar tradisional terhadap
perkembangan taraf prekonomian masyarakat di daerah. Beliau juga menyatakan
bahwa pasar tradisional ikut serta dalam pembangunan perekonomian di daerah, serta
membuka lowongan pekerjaan baru yang berdampak pada peningkatan taraf hidup
sosial ekonomi masyarakat.
Johannes Adrianto Pakpahan dalam skripsinya yang berjudul “Sejarah dan
Peranan Kapal Motor Pribumi Bagi Perekonomian Masyarakat di Onan Runggu
(1942-1965)”, membahas tentang bagaimana pengaruh kapal motor terhadap
perkembangan suatu wilayah, masuk dalam perkembangan Onan Nainggolan. Beliau
juga menyebutkan kapal motor turut mengambil peran dalam proses jual-beli di Onan
Nainggolan. Dengan kata lain kapal motor sebagai sarana transportasi masyarakat
berpengaruh terhadap kemajuan dan perkembangan Onan Nainggolan.
1.5 METODE PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah yang
terdiri dari beberapa tahapan. Tahapan-tahapan itu menurut Kuntowijoyo ada empat,
sebagai berikut:4
4
1. Heuristik, yaitu pengumpulan data atau sumber melalui studi kepustakaan
(library research), yaitu mengumpulkan sumber-sumber tertulis yang
berkaitan dengan penelitian (pengumpulan buku, majalah, maupun dari surat
kabar), pengamatan (observasi) lapangan, ataupun studi wawancara yang
ditujukan kepada orang atau oknum yang berkaitan dan ada hubungannya
dengan kajian masalah yang kita tuliskan yang mana bertujuan untuk
menemukan sumber-sumber yang diperlukan baik sumber primer maupun
sekunder. Heuristic juga merupakan suatu keterampilan dalam merawat
catatan-catatan. Dalam hal ini, tidak ada batasan terhadap pengumpulan
sumber selama sumber tersebut masih berkaitan dengan masalah yang kita
teliti.
2. Kritik sumber, yaitu usaha yang dilakukan peneliti untuk menyeleksi sumber
atau bahan yang dikumpulkan, sehingga akan dihasilkan suatu nilai kebenaran
dan keaslian sumber. Dengan kata lain, sumber atau data-data akan objektif.
Kritik sumber ini dibedakan menjadi 2, yaitu kritik internal, yang menelaah
dan menyeleksi kebenaran isi atau fakta baik yang bersifat tulisan (buku,
artikel, dan arsip) maupun lisan (wawancara). Kritik sumber yang kedua
adalah kritik eksternal, yang dilakukan dengan pengujian untuk menentukan
keaslian sumber baik dari buku, maupun hasil wawancara. Hal ini dilakukan
demi menjaga keobjektifan sebuah data.
3. Interpretasi, yaitu suatu tahap peneliti dalam hal menafsirkan atau
menganalisis suatu sumber yang ditemukan. Hal ini dilakukan untuk berupaya
dapat dihilangkan secara total. Interpretasi ini diharapkan dapat menjadi data
sementara sebelum peneliti menuangkannya dalam bentuk tulisan.
4. Historiografi, yaitu tahapan akhir dari sebuah penelitian, dimana dalam hal ini
dilakukan suatu penulisan akhir dari fakta-fakta yang dilakukan secara
sistematis dan kronologis untuk menghasilkan suatu tulisan sejarah yang
ilmiah dan objektif. Historiografi ini merupakan hasil dari pengumpulan
BAB II
ONAN
NAINGGOLAN SEBELUM TAHUN 1965
2.1 Wilayah dan Geografis
Nainggolan adalah sebuah wilayah di Samosir yang mayoritas penghuninya
juga bermarga Nainggolan. Wilayah ini termasuk kedalam daerah adminitistratif
Kabupaten Samosir pada tahun 2004, dimana sebelum terjadi pemekaran wilayah,
Nainggolan masih tergabung kedalam Kecamatan Onan Runggu5
Sebelah Utara : Kecamatan Simanindo
. Adapun yang
menjadi batas – batas wilayah dari daerah ini adalah:
Sebelah Selatan : Danau Toba
Sebelah Barat : Desa Urat, Kecamatan Palipi
Sebelah Timur : Danau Toba
Secara keseluruhan daerah ini termasuk dalam kawasan Pulau Samosir yang
secara geografis terletak pada 20.24 LU - 20.25 LU dan 98 21’BT - 99 55’ BT. Batas
administratif dari wilayah Kabupaten Samosir dikelilingi oleh tujuh kabupaten,
dengan batas – batasnya yaitu:
Sebelah Utara : berbatasan dengan Kabupaten Karo dan Kabupaten
Simalungun
Sebelah Timur : berbatasan dengan Kabupaten Toba Samosir
Sebelah Selatan : berbatasan dengan Kabupaten Tapanuli Utara dan
Kabupaten Humbang Hasundutan
5
Sebelah Barat : berbatasan dengan Kabupaten Dairi dan Kabupaten
Pakpak Barat
Sejarah Kabupaten Samosir, diawali dari sejarah terbentuknya Kabupaten
Tapanuli Utara selaku induk dari beberapa Kabupaten pemekaran di wilayah
Tapanuli Utara.
Kabupaten Samosir adalah hasil pemekaran dari induknya Kabupaten Toba
Samosir yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang No .36 Thn 2003 tentang
pembentukan kabupaten. Dengan waktu yang bersamaan Kabupaten Samosir dan
Kabupaten Serdang Bedagai di Provinsi Sumatera Utara, yang diresmikan pada
tanggal 7 Januari 2004 oleh Menteri Dalam Negeri atas nama Presiden Republik
Indonesia dengan sembilan kecamatan, seratus sebelas desa serta enam kelurahan.
Dengan lahirnya Undang-Undang No.12 Tahun 1998 tentang pembentukan
daerah tingkat II Toba Samosir , akhirnya Kabupaten daerah tingkat II Toba Samosir
di resmikan oleh Menteri Dalam Negeri atas nama Presiden Republik Indonesia pada
tanggal 9 Maret 1999 di Medan. Setelah selama 5 tahun masuk ke dalam wilayah
Kabupaten Toba Samosir maka untuk mengembangkan wilayah Samosir menjadi
lebih baik maka pada tahun 2004 untuk seluruh Pulau Samosir dan wilayah di
sekitarnya dilakukan pemekaran wilayah menjadi Kabupaten Samosir.
Nainggolan awalnya adalah sebuah desa yang sebelum Samosir di pisahkan
dari Kabupaten Toba samosir merupakan satu kecamatan dengan Onan Runggu.
Seiring dengan pemekaran otonomi maka daerah Nainggolan menjadi satu kecamatan
yang utuh yang terpisah dari kecamatan Onan Runggu setelah pembentukan
kecamatan diantara sembilan kecamatan yang berada di Kabupaten Samosir sekarang
ini berbatasan wilayah :
Sebelah Barat berbatasan dengan kecamatan Palipi,
Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Onan Runggu
Sebelah Selatan berbatasan dengan pantai Danau Toba serta
Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Rumah Hombar
Keberadaan Onan Nainggolan terletak di daerah pinggiran pantai Danau Toba yang
dapat ditempuh melalui transportasi air yang menjadi salah satu pintu masuk jalur
danau menuju Samosir keseluruhan serta melalui transportasi darat juga. Hal ini dapat
dilihat dengan keberadaan pelabuhan kapal motor yang selalu dipadati oleh
kedatangan para pelaku ekonomi dari luar Samosir setiap hari pekan di Onan
Nainggolan.
2.2 Kondisi Masyarakat
Berbicara mengenai kondisi masyarakat maka disini penulis akan
menguraikan keadaan masyarakat nainggolan dengan :
a. Mata Pencaharian
Masyarakat Nainggolan pada dasarnya memiliki sumber mata pencaharian
dari bertani, beternak, dan mengambil ikan dari danau Toba ( martoba ). Mereka
bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari. Memenuhi kebutuhan hidup
keluarga sudah menjadi tujuan paling utama dari setiap kepala keluarga, namun untuk
keperluan barang mewah mereka tidak terlalu antusias memikirkannya. Seiring
munculnya beragam kebutuhan hidup yang akan dipenuhi dan lebih berbeda dari
barang ataupun benda yang mereka inginkan dengan barang yang mereka punya
untuk saling melengkapi dan memenuhi barang kebutuhan tadi. Misalkan saja pisang
dari petani di tukar dengan ikan hasil tangkapan orang pinggiran danau, jagung
ditukar dengan beras ikan di tukar dengan beras dan lain lain. Kampung Nainggolan
sangat luas cakupannya karena selain masyarakat yang tinggal di pinggiran Danau
Toba masih ada juga penduduknya yang tersebar ke daerah pegunungan hingga
akibatnya muncul stigma yang menyatakan orang yang tinggal di pinggiran Danau
Toba akan lebih menyatakan dirinya orang pasar dan yang di bagian pegunungan
menyatakan dirinya pardolok (orang yang tempat tinggal rumahnya jauh dari
pinggiran Danau Toba), mereka ini hidup dari bertani tidak jarang anak sekolahan
dari gunung akan tinggal di pinggiran Danau Toba dengan menyewa rumah orang
lain. Pada masa itu yang menjadi bayaran sewa masih memakai beras. Mereka
menyewa tempat karena jarak tempuh dari rumah ke sekolah sangat jauh dimana
sekolah pada masa itu berada di pinggiran Danau Toba. Anak sekolah akan pulang ke
gunung di saat liburan pada hari sabtu sore dan akan tiba di gunung malam hari. Hal
ini membuat mereka tidak sempat membantu orang tua mereka padahal hari minggu
besoknya mereka sudah harus kembali lagi ke penyewaan mereka di Pinggiran
Danau Toba untuk melanjutkan pendidikan mereka di pagi hari. Masyarakat di
Kampung Nainggolan beraktivitas selain petani nelayan dan beternak banyak juga
menjadi pekerja harian mengerjakan ladang atau sawah orang. Tidak jarang juga di
temui penggarap tanah orang dengan hasil di bagi tiga misalkan saja si penggarap
mendapat hasil 90 kaleng padi dari tanah yang di garapnya ,maka untuk pemilik tanah
b. Kebudayaan Masyarakat Nainggolan
Masyarakat Nainggolan sangat berbudaya. Bagi mereka adat adalah nomor
satu sehingga mereka ini sangat rajin menghadiri upacara yang berkaitan dengan adat.
Diantaranya pesta adat dalam pernikahan suku Batak, Upacara adat bagi keluarga
yang meninggal dunia dan lain lain. Di Masyarakat Nainggolan masih terkenal
apabila seseorang keturunan dari Keluarga Raja Adat karena Raja Adat ini penting
dalam pengambilan keputusan musyawarah yang berhubungan dengan adat yang
akan menjadi tanggungjawabnya, adalagi sebutan lain Raja Bius, adalagi sebutan
Raja Hampung ini akan menjadi sangat di hargai masyarakat karena mereka ini
adalah tokoh yang dianggap penting dalam setiap upacara adat6
Banyaknya hal yang tidak memungkinkan di tengah masyarakat membuat
mereka berpikir untuk mengubah beberapa pekerjaan ke pekerjaan lain bahkan
melakukan kegiatan dagang yang pada dasarnya mereka mungkin belum menyadari
bahwa yang mereka lakukan adalah aktivitas perdagangan walaupun dengan sistem
barter di tempat terbuka. Sebelum berdirinya Onan Naninggolan masyarakat
melakukan aktifitas perdagangan ke desa Silaban. Barulah sesudah berdirinya Onan
Nainggolan itu mereka berdagang di lingkungannya sendiri walaupun dengan
kondisi yang masih belum layak dikatakan sebuah Onan. .
Masyarakat Nainggolan tidak jarang menikah dengan sesama satu marga yang
tidak jauh. Pernikahan banyak yang terjadi antara perempuan kampung yang tidak
6
jauh jaraknya dengan kampung laki-laki, seiring munculnya Onan Nainggolan dan itu
semua membawa dampak yang besar terhadap mata pencaharian, pernikahan dan
antusias akan barang-barang mewah.
c. Agama
Masyarakat Nainggolan adalah masyarakat dengan mayoritas penduduknya
beragama Kristen, namun itu tidaklah dengan mudah membuat mereka menjadi lebih
bertahan dan taat pada agama yang mereka anut. Hal ini bisa dibuktikan dengan
adanya sekitar dua puluh persen masyarakat Nainggolan pada masa ini masih percaya
akan mitos, masih seringnya terlihat upacara mamele, yaitu menganggap sebuah
tempat yang dihuni oleh nenek moyang mereka sebagai tempat yang sakral dan
keramat, bahkan mereka sering menyebutkan kata-kata Mulajadi Nabolon dalam
upacara – upacara adat mereka.
Melakukan Upacara mangongkal holi (mengambil dan mengumpulkan
tulang-tulang nenek moyang hingga membuat tulang tersebut ke satu peti) dan di
semen dalam batu kubur yang cantik sudah menjadi tradisi dan untuk melakukan ini
dan menghabiskan biaya besar, bagian masyarakat yang sudah melakukan ini akan
dianggap masyur, kaya, dan terhormat.
d. Pendidikan
Masyarakat Nainggolan sebelum tahun 1965 kurang antusias akan dunia
pendidikan. Hal ini bisa dipahami sebagai akibat dari persoalan pelik letak Pulau
Samosir yang berada di tengah Danau Toba. Dimana posisi geografis daerah ini
membuat masyarakatnya sulit untuk berkembang karena jalur ke dalam dan ke luar
menimbulkan pemikiran bahwa setiap orang yang tinggal di daerah tersebut menjadi
kurang berkembang sehingga dengan munculnya Onan di Desa Nainggolan ini
membawa perubahan dalam kehidupan masyarakat sehingga menjadi lebih baik dan
secara tidak langsung membawa pengembangan terhadap wilayah yang mereka
tempati. Pengaruh yang dibawa oleh para pedagang dari luar Pulau Samosir yang
datang ke kampung Nainggolan tersebut diyakini membawa perubahan terhadap pola
hidup, dan pergeseran mata pencaharian yang sebelumnya di dominasi oleh pertanian
kini banyak juga yang berprofesi sebagai pedagang. Masyarakat Nainggolan ada juga
yang berprofesi sebagai Pegawai Negeri Sipil. Hal ini bisa dilihat dari jenjang
pendidikan masyarakat yang rata – rata sudah menamatkan pendidikannya dari
Sekolah lanjutan Atas bahkan ada juga yang mampu menembus bangku perkuliahan
[image:28.612.97.526.500.708.2]hingga tingkat sarjana.
Tabel 1. Mata Pencaharian Penduduk Kecamatan Onan Runggu Tahun 1961
NO
Mata
Pencaharian
Tahun
1961 1971 1991
1. Petani 5.664 Jiwa 8.725 Jiwa 9.387 Jiwa
2. Pedagang 4.774 Jiwa 7.658 Jiwa 17. 986 Jiwa
3. PNS/TNI 368 Jiwa 1.036 Jiwa 8.743 Jiwa
4. Buruh Tani 4.121 Jiwa 4.992 Jiwa 1.257 Jiwa
6. Total 21. 284 Jiwa 28. 367 Jiwa 39. 052 Jiwa
Sumber: Kantor Statistik Kab. Tapanuli Utara
2.3 Keadaan Onan Nainggolan Sebelum Tahun 1965
Secara historis Pasar Onan Nainggolan dulunya disebut Onan Pesanggrahan.
Onan Pesanggrahan ini dulunya hanya merupakan tanah kosong yang digunakan
masyarakat sebagai tempat pesanggrahan atau tempat pertemuan raja-raja Batak (Raja
Bius) dalam melakukan pertemuan penting, kecuali hari Senin karena difungsikan
sebagai pasar (onan)7
Onan Pesanggrahan telah ada sejak tahun 1936 dan merupakan tanah milik
marga Nainggolan Parhusip. Hal ini dibuktikan dengan adanya Tugu Nainggolan
Parhusip di dekat lokasi pasar untuk menunjukkan kepada masyarakat banyak bahwa
Onan tersebut dibangun di atas tanah marga Nainggolan Parhusip.
. Onan Pesanggrahan terletak di dekat pelabuhan Nainggolan.
Tanahnya tidak begitu luas jika dibandingkan dengan lahan kosong di sekitarnya. Hal
ini dikarenakan masyarakat sekitar masih percaya bahwa tanah yang dijadikan
sebagai Onan Pesanggrahan tersebut tidak angker jika dibandingkan dengan tanah
kosong lain di sekitarnya.
Sebelum Onan Nainggolan berdiri tahun 1936 penduduk Nainggolan untuk
melakukan pertukaran barang harus ke Desa Silaban Kecamatan Palipi dengan
menggunakan transportasi kuda beban atau berjalan kaki. Hal ini bisa dilihat dari
kenyataan bahwa kapal mesin masuk ke daerah Samosir pada tahun 1933 oleh
7 A. Deddy Lumban Siantar, Wawancara, di Kampung Nainggolan, Kecamatan Nainggolan, Kabupaten
Pastoran pada masa zending Katolik di Desa Silaban Kecamatan Palipi. Kapal inilah
yang digunakan juga oleh Pastoran membantu masyarakat untuk digunakan sebagai
pengangkutan manusia dan barang-barang hasil bumi dengan rute penyeberangan
sekali atau dua kali seminggu terjadi penyeberangan
Kondisi ini menimbulkan kegelisahan dari beberapa mayarakat sampai
mereka menyampaikan aspirasi terhadap Tuan Nagari dan Raja Bius serta Raja Adat
supaya satu hati satu pemikiran melihat dan menyetujui sebuah lahan yang dianggap
strategis sebagai tempat perkumpulan melakukan barter dan sebagai sarana
pengumuman atau undangan dan fasilitas pertemuan8
Asal usul nama Onan Nainggolan yang disebut sampai sekarang ini,
mempunyai latar belakang tersendiri. Menurut hasil wawancara dengan Deddy
Lumban Siantar bahwa nama Onan Nainggolan ini diambil karena tanah yang
dijadikan sebagai lahan perdagangan sekarang ini adalah tanah milik Marga
Nainggolan Parhusip. Di samping itu, di daerah yang dijadikan areal dagang
kebanyakan bermarga Nainggolan.
.
Dahulu areal ini merupakan tanah kosong yang biasanya digunakan oleh
Raja-Raja Adat dalam melakukan pertemuan. Lama kelamaan daerah ini menjadi Onan
Nainggolan yang dijadikan sebagi tempat melakukan aktifitas dagang (masih bersifat
barter) masyarakat. Hal ini terjadi atas permintaan masyarakat Nainggolan kepada
Raja Adat yang didasari atas kegundahan masyarakat akan jauhnya jarak yang harus
ditempuh masyarakat dalam melakukan aktifitas dagang pada masa itu.
8 Wawancara dengan Ajumarar Parhusip di Kampung Sitonggor, Kecamatan Nainggolan,
Pada tahun 1936 pedagang masih menjajakan barang dagangannya dalam
jumlah yang masih relatif sedikit. Jumlah pedagangnya pun masih sedikit, serta jarak
berjualannya juga masih berjauhan antara pedagang yang satu dengan pedagang
lainnya. Para pedagang pada masa itu belum ditentukan tempat berjualannya karena
belum memiliki aturan yang benar-benar mengikat di antara para pedagang tersebut.
Aturan yang berlaku hanya peraturan yang bersifat lisan saja, yang tidak saling
merugikan di antara para pedagang9
Para pedagang biasanya menggunakan lahan yang kosong di sekitar Onan
Pesanggrahan sebagai tempat menjajakan barang dagangannya. Dengan kata lain,
lapak/lahan mereka tidak menetap. Siapa cepat dia dapat, istilah tersebut
menggambarkan pola hidup pedagang pada masa itu. Siapa yang pertama tiba di areal
dagang dialah yang akan menempati areal tersebut hanya untuk hari itu saja. Pada
hari selanjutnya, areal dagangnya bisa saja berganti ke tempat lain hanya karena
terlambat atau telah ditempati oleh pedagang lain. Atau dengan kata lain, tidak ada
peraturan sewa lahan untuk berdagang pada masa itu. .
Jenis barang dagangan yang diperdagangkan berupa kebutuhan hidup
sehari-hari, seperti sayur-mayur, padi, ubi, ikan, pakaian, attirha (ubi yang direbus dengan
daun) dan kebutuhan hidup lainnya. Pada saat itu para pedagang di pasar belum
mengenal adanya uang, sehingga proses jual beli dengan uang belum ada pada masa
itu. Sistem yang dikenal pada masa itu adalah sistem barter, di mana barang ditukar
dengan barang. Cara menghitung sistem barter pada masa itu tidak didasarkan pada
9 Wawancara dengan Op. Dorlan Nainggolan, Kecamatan Nainggolan, Kabupaten Samosir,
nilai kegunaan dan manfaat barang melainkan berdasarkan kebutuhan masyarakat
pada masa itu10
Sebagai contoh si A memiliki 5 tumba beras. Beliau membutuhkan 2 ekor
ikan mas sebagai lauk di rumah. Kemudian beliau akan mencari orang yang
membutuhkan beras di Onan yang kebetulan membawa ikan mas dan bersedia
menukarkannya dengan beras yang dimilikinya. Kebetulan si B memiliki 2 ekor ikan
mas yang ingin menukarkan ikan dengan beras. Mereka akan membawa barang
dagangannya ke Onan Pesanggrahan. Ketika si A dan si B bertemu maka akan terjadi
barter (pertukaran) barang dagangan yang didasarkan atas kebutuhan masing-masing. .
Pengunjung Onan Pesanggrahan tahun 1936 hanyalah warga dari sekitar
daerah Nainggolan. Hal ini disebabkan karena pada masa itu hanya ada satu di daerah
Nainggolan. Di sisi lain belum ada angkutan yang memadai untuk masyarakat
melakukan aktifitas dagang ke daerah lain. Hal inilah yang menyebabkan pengunjung
dan pedagang masih relatif sedikit jumlahnya.
Sekitar tahun 1945 Onan Pesanggrahan tidak lagi digunakan oleh raja-raja
Bius dalam melakukan aktivitas rapat atau pertemuan lagi melainkan telah
sepenuhnya menjadi pasar. Kemudian satu tahun setelahnya yakni tahun 1946 Onan
Pesanggrahan diganti namaya dengan Onan Nainggolan dan pada tahun itu juga
disahkanlah Onan Nainggolan. Dalam upacara pengesahannya dilakukan ritual adat
Batak dengan melakukan upacara selama 3 hari 3 malam dengan tujuan agar Onan
10 Wawancara dengan Op. Dorlan Nainggolan, Kecamatan Nainggolan, Kabupaten Samosir,
Nainggolan tersebut terhindar dari hal-hal mistik dan dapat digunakan semaksimal
mungkin oleh masyarakat sekitar sebagai tempat mencari nafkah11
Mengingat kecenderungan jumlah penduduk yang semakin bertambah, karena
manusia selalu berusaha merubah lingkungannya untuk memperoleh kebutuhan
hidupnya, sehingga tidak jarang mereka selalu merusak lingkungan alam sebagai
tempat tinggalnya.
.
12
Seiring dengan kemajuan pada waktu itu, tanah kosong berubah secara
perlahan. Sebagian pedagang mulai membuat undung-undung yaitu tenda yang
dibangun dengan empat buah bambu sebagai tiang penyangga. Kondisi pedagang
masa itu sangat memprihatinkan. Pada saat hujan turun misalnya, pedagang yang
menjajakan barang dagangannya langsung di atas tanah yang beralaskan tikar akan
sangat merugi dikarenakan kondisi Onan akan menjadi sangat becek. Oleh karena itu
pada tahun 1962 petugas pasar membangun undung-undung kepada para pedagang Dengan demikian, dulunya jumlah penduduk yang berada di
sekitar pasar masih sangat jarang telah berubah menjadi daerah yang cukup padat.
Hal ini disebabkan karena pada umumnya mereka yang datang banyak yang
menggantungkan mata pencahariannya di pasar tersebut. Hal ini terbukti dengan
adanya bangunan rumah di dekat pasar yang memanfaatkan badan pasar sehingga
menyebabkan luas pasar semakin menyempit. Untuk menghindari penyempitan
tersebut, masyarakat membuat kawat duri di pinggiran pasar yang berguna untuk
membuat batasan antara rumah warga dengan pasar.
11
Wawancara dengan A. Deddy Lumban Siantar di Kecamatan Nainggolan, Kabupaten Samosir, Tanggal 1 Agustus 2013.
12 Zoer, aini, Djamuel Irwin, Ekosistem Komunitas dan Lingkungan, Jakarta, Bumi Aksara,
dengan catatan pedagang memberikan uang iuran kepada petugas pasar sebagai sewa
lahan dan undung-undung. Selain undung-undung ada pula sebagian bangunan yang
dibuat dari papan yang telah dibuat atapnya akan tetapi masih sebagian kecil. Uang
iuran yang diberikan pada masa itu tidak dipatok jumlahnya, tergantung kerelaan
pedagang untuk memberikan iuran mereka. Jika hasil dagangan berlebih, tidak jarang
para pedagang memberikan iuran berlebih. Sebaliknya jika pedagang tidak
mendapatka penghasilan yang cukup, mereka tidak memberikan iuran kepada petugas
pasar. Uang hasil iuran tersebut selanjutnya akan diberikan sebahagian kepada
punguan Marga Parhusip sebagai sewa lahannya dan sebagian lagi akan diserahkan
kepada pemerintah dinas pasar setempat13
Pada tahun 1948 masyarakat telah mulai meninggalkan sistem barter dan
mulai menggunakan uang sebagai alat pembayaran yang sah. Setiap barang telah
ditentukan dengan harga yang diatur oleh pihak pedagang sehingga di pasar terjadi
persaingan dalam menentukan harga barang. Istilah yang digunakan pada masa itu
adalah sasukku (sasukku = 50sen).
.
14
Pedagang biasanya menentukan harga barang
dengan kebutuhan mereka untuk membeli barang lain yang mereka butuhkan dalam
tingkat kewajaran harga yang berlaku di pasar. Dalam hal ini pemerintah tidak ikut
ambil bagian dalam menentukan harga barang di pasar.
13
Wawancara dengan A. Deddy Lumban Siantar di Kecamatan Nainggolan, Kabupaten Samosir, Tanggal 1 Agustus 2013.
14 Wawancara dengan Op.Dorlan Nainggolan (71 tahun) tanggal 1 Agustus 2013 di desa
BAB III
PERKEMBANGAN
ONAN
NAINGGOLAN (1965-1998)
3.1
Kondisi Fisik
Pada tahun 1965, di Samosir, terlebih di Onan Nainggolan terjadi perombakan
secara besar-besaran. Onan Nainggolan yang dulunya hanya berupa undung-undung
telah dirombak dan secara keseluruhan menjadi bangunan papan yang atapnya telah
dibuat dengan menggunakan ijuk sebagai pelindung dari hujan dan terik matahari
sebagai tempat berjualan para pedagang. Akan tetapi bentuk fisik bangunannya masih
tergolong sederhana, luas lapak masing-masing tidak merata. Ada beberapa yang
luasnya 4x6 meter, dan ada pula yang luasnya hanya 2x3 meter. Pada tahun itu hanya
ada 57 bangunan sebagai tempat berjualan para pedagang. Selanjutnya setelah semua
pembangunan selesai diadakan lagi upacara adat untuk meresmikan pasar tradisional
tersebut karena sudah menjadi adat dan kebiasaan masyarakat sekitar15
Walaupun telah dibangun lebih baik, ternyata jumlah pedagang setiap
tahunnya terus bertambah. Hal ini menyebabkan Onan Nainggolan tidak dapat lagi
menampung banyaknya para pedagang, sehingga banyak di antaranya yang berjualan
di luar pasar dengan memanfaatkan badan jalan sebagai tempat berjualannya.
Kebanyakan dari mereka berasal dari wilayah Nainggolan itu sendiri, dan hanya
sebagian saja yang berasal dari luar Nainggolan.
.
15 Wawancara dengan A. Deddy lumban Siantar di Kecamatan Nainggolan, Kabupaten
Para pedagang yang berasal dari luar Nainggolan biasanya menggunakan kuda
beban sebagai alat transportasi mereka untuk mengangkut barang dagangannya, saat
itu belum ada angkutan kendaraan bermotor. Mereka yang datang berasal dari Onan
Runggu, Dolok, Palipi, Mogang dan Sitinjak.
Barang dagangan yang diperjual belikan pada masa itu tidak jauh berbeda
dengan tahun 1946, akan tetapi berubah secara kuantitas. Barang dagangan yang
sebelumnya dijual hanya untuk pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari saja telah
berubah menjadi motif untuk mencari keuntungan lebih yang mampu digunakan
untuk hari berikutnya. Harga barang dagangan yang dijual pada masa itu pun
bervariasi tergantung kepada harga di pasaran. Setelah itu akan terjadi tawar menawar
antara pedagang dan pembeli untuk mencapai kesepakatan harga16
Kondisi seperti ini berlangsung cukup lama, hingga dimulainya kedatangan
pedagang dari luar Pulau Samosir (Muara, Balige, Sibandang, Parapat, dll) pada
tahun 1985. Pada tahun 1994 dibangunlah bangunan baru yang lebih mewah. Pasar
yang dulunya hanya terbuat dari papan dirubah menjadi pasar dengan bangunan yang
lebih bagus. Bangunannya berubah menjadi bangunan beton dengan ukuran merata
yaitu 4x5m keseluruhannya. Sementara itu, menunggu pembangunannya selesai,
lokasi Onan Nainggolan untuk sementara waktu dipindahkan ke tanah lapang yang
masih berada di sekitar wilayah Nainggolan itu juga
.
17
16
Wawancara dengan Op. Parpandua di Kampung Nainggolan, Kecamatan Nainggolan, Kabupaten Samosir, Tanggal 2 Agustus 2013.
.
17 Wawancara dengan A. Deddy Lumban Siantar di Kecamatan Nainggolan, Kabupaten
Awalnya pemindahan tersebut mendapatkan perlawanan dari masyarakat
setempat. Bentuk perlawanan mereka ditunjukkan dengan cara berjualan bukan di
Onan Nainggolan melainkan di sepanjang jalan dari Pelabuhan Nainggolan hingga ke
jalan besar Nainggolan (berjarak sekitar 500M dari Pelabuhan ke jalan besar
Nainggolan menuju simpang tiga dan simpang empat juga tanah lapang). Hal ini
sangat mengganggu aktifitas lalu lintas., atas himbauan pemerintah setempat, yang
juga masih merupakan Raja Bius, maka warga setempat mau pindah ke tanah lapang
sebagai tempat berjualan untuk sementara waktu18
Pada tahun 1995 pembangunan Onan Nainggolan yang baru dengan bangunan
beton telah rampung. Pedagang pun dipindahkan kembali dari tanah lapang ke Onan
Nainggolan yang baru. Masyarakat pun menerima dengan bangga hasil pembangunan
pasar yang baru. Akan tetapi pada tahun 1995 terjadi perubahan yang sangat jauh
berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Pasar dibagi atas beberapa kelas
yaitu:
.
1. Kelas I
Pada lokasi ini dikhususkan kepada para pedagang yang menjual pakaian,
barang pecah belah dan alat dapur seperti keramik, piring, gelas, kaca,
ember, dan lain-lain, jenis ikan dan daging serta aksesoris. Dalam hal ini
pada kelas pertama ini mereka dikenakan biaya retribusi yang lebih besar
18 Wawancara dengan A. Karmila Parhusip di Kecamatan Nainggolan, Kabupaten Samosir,
yakni 3000 rupiah per hari sebagai sewa lahan. Dengan kata lain mereka
harus membayar sewa lahan sesuai dengan tarif yang sudah ditetapkan oleh
pemerintah setempat. Letaknya berada langsung di depan pintu masuk ke
Onan Nainggolan dari pelabuhan.
2. Kelas II
Pada lokasi ini dikhususkan kepada para pedagang yang menjual
sayur-sayuran, buah-buahan, dan bahan pangan seperti beras, gula, minyak, dan
lain-lain. Dalam hal ini, pada kelas kedua para pedagang dikenakan biaya
retribusi sebesar 2000 rupiah per harinya sebagai sewa lahan. Letaknya
berada tepat di belakang kelas pertama.
3. Kelas III
Pada lokasi ini dikhususkan kepada para pedagang yang menjual makanan
tradisional seperti pecal, mie sop, the manis, attirha dan lain sebaginya.
Dalam hal ini, pada kelas ketiga para pedagang dikenakan biaya 1000 rupiah
per harinya sebagai sewa lahan. Letaknya lebih ke belakang pasar, tepatnya
di belakang kelas kedua19.
Sebenarnya, hal ini bertujuan agar tidak terjadi tumpang tindih, di mana pada
satu lokasi terdapat berbagai jenis barang dagangan dan juga menjaga kenyamanan
bagi setiap pembeli yang berbelanja di pasar tersebut. Retribusi yang dikenakan per
19 Wawancara dengan A. Deddy Lumban Siantar di Kecamatan Nainggolan, Kabupaten
orang dan per hari pekan pun tidak lagi diberikan kepada Marga Parhusip, melainkan
sepenuhnya diserahkan kepada Dinas Pasar Kecamatan Onan Runggu. Dalam hal
pengutipan retribusi pun tidak ada lagi pengecualian kepada Marga Parhusip. Dengan
kata lain, semua pedagang memiliki kewajiban yang sama dalam hal membayar
retribusi termasuk dari keluarga Parhusip sekali pun20
Permasalahan baru muncul pada tahun 1998, di mana Onan Nainggolan yang
telah dirancang dan dibangun sedemikian rupa demi kesejahteraan masyarakat
mengalami kebakaran. Kebakaran terjadi pada malam hari sehingga tidak ada dari
kalangan pedagang yang mengalami kerugian. Kerugian dari kebakaran pasar hanya
pada bangunan dan tidak ada korban jiwa sama sekali. Dampak dari kebakaran Onan
Nainggolan terhadap para pedagang adalah dengan dipindahkan lagi areal
perdagangan ke tanah lapang menunggu pembangunan Onan Nainggolan yang baru. .
3.2 Pengelolaan Onan Nainggolan
Pasar tradisional merupakan pusat aktifitas sebagian besar masyarakat dalam
memenuhi kebutuhan hidupnya mulai dari kebutuhan sandang, pangan, papan,
maupun kebutuhan sosial lainnya. Keberadaan pasar tradisional terus mengalami
perkembangan dan semakin banyak pula masyarakat yang menggantungkan hidupnya
dari keberadaan pasar tradisional tersebut.
. Dalam hal pengelolaan, Onan Nainggolan lebih bersifat pelayanan kepada
masyarakat yang dikelola oleh pemerintah daerah setempat. Onan Nainggolan
20 Wawancara dengan A. Jumses, di Kecamatan Nainggolan, Kabupaten Samosir, Tanggal 1
dipegang oleh Petugas Peraturan Pasar (PERPAS). Tugas pokok dari PERPAS adalah
menyiapkan bahan perencanaan dan program kerja, pelayanan administrasi dan teknis
pembinaan dan bimbingan, evaluasi dan pelaporan bidang pengelolaan pasar yang
meliputi pendapatan serta sarana kebersihan, keamanan, dan ketertiban.
Petugas PERPAS Onan Nainggolan mengelola segala kegiatan yang
berhubungan dengan aktifitas di pasar. Pengelolaannya meliputi pembangunan
bangunan fisik pasar, pelayanan kebersihan dengan menyediakan tong sampah yang
bekerjasama dengan dinas kebersihan, pemungutan pajak sewa bangunan, dan
pelaksana keamanan dan ketertiban di area pasar. Pajak atau sewa bangunan
selanjutnya akan dilaporkan kepada pihak Kecamatan yang mengurusi masalah
keuangan dan pendapatan kecamatan.
Pada dasarnya sistem pengelolaan Onan Nainggolan bukan hanya
dikendalikan oleh petugas pasar (PERPAS) melainkan adanya peran serta masyarakat
pedagang yang banyak menggantungkan hidupnya di Onan Nainggolan. Para
pedagang yang mengelola Onan Nainggolan adalah para pedagang yang berjualan
menetap di mana telah memiliki lapak/tempat berjualan yang tidak berpindah dan
telah menandatangani kontrak atas sewa areal dagang. Para pedagang yang menyewa
dengan sistem kontrak mulai ada sejak tahun 1997 dimana setiap tempat berdagang
yang mereka sewa dikenakan biaya pajak yang berbeda tergantung kepada kelasnya
masing-masing.
Sistem pengelolaan Onan Nainggolan adalah sistem yang bersifat
kekeluargaan, di mana pemerintah menetapkan harga sewa di samping berdasarkan
menetapkan harga sewa biasanya pihak pemerintah akan melakukan musyawarah
terlebih dahulu dengan masyarakat setempat sehingga pajak sewa yang dikenakan
kepada masyarakat tidak terlalu besar dan masyarakat pun akan tepat waktu dalam
pembayaran karena semua aturan yang menyangkut sewa didasarkan pada
kesepakatan antara pemerintah setempat dengan masyarakat sekitar.
3.3
Aktifitas
Onan
Nainggolan
Barang-barang dagangan yang diperjual belikan pada masa itu tidak jauh
berbeda dengan tahun 1946, akan tetapi berubah secara kuantitas. Barang dagangan
yang sebelumnya dijual hanya untuk pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari
selanjutnya berubah menjadi motif untuk mencari keuntungan lebih yang mampu
digunakan untuk hari berikutnya. Harga barang dagangan yang dijual pada masa itu
pun bervariasi tergantung pada jenis barang dan harga di pasaran. Setelah itu akan
terjadi tawar menawar antara pedagang dan pembeli untuk mencapai kesepakatan
harga.
Dalam hal retribusi, para pedagang dikenakan biaya retribusi dua sukku (1
rupiah) atas sewa lahan mereka. Uang retribusi tersebut diserahkan sepenuhnya
kepada Dinas Pasar Kabupaten Tapanuli Utara dan tidak ada lagi pemberian kepada
Marga Parhusip karena pada tahun 1965 tanah tersebut telah resmi dihibahkan oleh
Raja Parhusip kepada pemerintah setempat untuk renovasi pasar dengan catatan
setiap Marga Parhusip yang berjualan di Onan Nainggolan tidak dikenakan pungutan
menghargai adat dan selalu peduli terhadap keturunannya walaupun moyang mereka
telah meninggal21
Pungutan/retribusi yang dikutip dari para pedagang digunakan untuk penataan
kota supaya tercipta daerah yang indah, tertib, dan bersih. Masalah sampah yang
dimunculkan para pedagang merupakan suatu kendala bagi pemerintah daerah
Kabupaten Tapanuli Utara dalam mewujudkan daerah yang bersih dan indah. Maka
untuk itu, diperlukan penanganan yang lebih serius dari seluruh pihak yang
berkompeten karena apabila tidak ditangani secara serius maka akan menjadi
permasalahan yang lebih kompleks. Melihat kenyataan yang berkembang, maka
pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara telah menyediakan gerobak-gerobak dan
tong-tong sampah.Di samping itu juga telah menyiapkan tenaga-tenaga kerja kebersihan
yang bertugas memelihara kebersihan kota, menyapu jalan/pasar, dan petugas
pengangkutan gerobak sampah. Jumlah dari petugas kebersihan dapat ditingkatkan
sesuai dengan kebutuhannya. Hal ini merupakan bukti nyata dari upaya pemerintah
dalam penanggulangan sampah dan juga demi kesejahteraan para pedagang dan
kenyamanan para pembeli .
22
3.4 Permasalahan yang Dihadapi di Onan Nainggolan .
Para pedagang tersebut apabila sudah selesai berjualan akan meninggalkan
sampah yang berserakan sehingga dapat menimbulkan situasi yang tidak nyaman di
sekitar pasar dan selokan/parit. Keadaan ini berlangsung setiap hari sehingga sampah
21
Wawancara dengan A. Deddy Lumban Siantar di Kecamatan Nainggolan, Kabupaten Samosir, Tanggal 1 Agustus 2013.
22 Wawancara dengan A. Karmila Parhusip di Kecamatan Nainggolan, Kabupaten Samosir,
ataupun kotoran tersebut jadi menumpuk di areal pasar tersebut. Apabila keadaan ini
dibiarkan berlarut-larut maka dapat mengakibatkan aroma yang tidak sedap dan
berbau busuk serta dapat menimbulkan sumber penyakit. Keadaan ini dapat
menimbulkan dampak negatif bagi kebersihan dan keindahan pasar yang disebabkan
oleh sampah-sampah yang berserakan dan tata ruang semakin semrawut serta sering
kali dapat menimbulkan kemacetan lalu lintas.
Keadaan payung-payung yang dipasang oleh para pedagang dari luar Pulau
Samosir pada saat berjualan juga dapat menimbulkan pemandangan yang kurang
sedap dipandang oleh mata. Parit-parit yang tersumbat oleh karena sampah-sampah
pedagang kaki lima akan menggenang di sepanjang jalan terutama saat hujan turun.
Keadaan ini lambat laun akan mempercepat kerusakan pada badan jalan sementara itu
pasar menjadi becek dan berlumpur23
Dampak lainnya yang disebabkan oleh para pedagang kaki lima adalah
kemacetan lalu lintas. Hal ini terjadi karena pedagang kaki lima tidak menghiraukan
tempat-tempat yang dilarang untuk berjualan. Sering kali para pedagang membuat
lokasi berdagang di sepanjang jalan, bahkan terkadang sampai menempati setengah
badan jalan. Hal ini juga dapat menggangu kelancaran lalu lintas meskipun petugas
sering melakukan penertiban dan penggusuran terhadap para pedagang kaki lima,
akan tetapi hasilnya tidak pernah mengalami perubahan24
23
Wawancara dengan Op. Dorlan di Kecamatan Nainggolan, Kabupaten Samosir, Tanggal 2 Agustus 2013.
.
24 Wawancara dengan A. Deddy Lumban Siantar di Kecamatan Nainggolan, Kabupaten
Keadaan pedagang di Onan Nainggolan menjadi suatu dilema bagi
pemerintah dalam mewujudkan Samosir yang bersih, tertib, dan aman. Pada tahun
1990 Jumlah pedagang terus bertambah karena tempat penampungan untuk berjualan
belum memadai. Inilah hal utama yang masih menjadi kendala bagi pemerintah
dalam mengatur tata kota administratifnya, khususnya di daerah Kecamatan Onan
Runggu25
Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara telah berusaha menjadikan Samosir
menjadi kota yang indah, tertib, dan bersih. Hal ini sangat berpengaruh dengan Onan
Nainggolan, karena pasar ini sangat strategis dilalui oleh masyarakat dari berbagai
arah atau tempat. Hal ini didukung juga oleh dekatnya lokasi pasar dengan Pelabuhan
Nainggolan. Pemerintah berusaha dalam mengatasi masalah yang muncul di
tengah-tengah masyarakat dalam era keterbukaan dimana memerlukan penanggulangan yang
terpadu, yaitu menciptakan kerjasama yang baik dari berbagai pihak dengan
memperhatikan aspek dan kepentingan dari berbagai pihak serta tidak mengindahkan
nilai kebenaran dan kemanusiaan. .
Kehadiran pedagang di Onan Nainggolan dari segala bentuk dan kegiatannya
tidak pernah luput dari permasalahannya. Pedagang di Onan memberikan masalah
yang kompleks terutama masalah sampah, lingkungan kumuh, kemacetan, dan
ketertiban lalu lintas yang merupakan ulah dari pedagang tersebut. Untuk mengatasi
hal ini, pemerintah mengadakan operasi pasar untuk menertibkan para pedagang
dengan mengadakan razia atau penggusuran yang bertujuan untuk menertibkan dan
25 Wawancara dengan A. Deddy Lumban Siantar di Kecamatan Nainggolan, Kabupaten
menata pedagang agar berjualan di tempat yang telah ditentukan, kemudian
menyediakan tempat penampungan bagi para pedagang dengan cara menambah
bangunan pasar dan membuka kawat duri pembatas dan dibangun dengan bangunan
pasar baru sebagai tambahan bangunan berdagang bagi pedagang dalam menjalankan
aktifitasnya. Melalui pasar yang baru ini juga, diharapkan agar para pedagang tidak
BAB III
PERKEMBANGAN
ONAN
NAINGGOLAN (1965-1998)
3.1
Kondisi Fisik
Pada tahun 1965, di Samosir, terlebih di Onan Nainggolan terjadi perombakan
secara besar-besaran. Onan Nainggolan yang dulunya hanya berupa undung-undung
telah dirombak dan secara keseluruhan menjadi bangunan papan yang atapnya telah
dibuat dengan menggunakan ijuk sebagai pelindung dari hujan dan terik matahari
sebagai tempat berjualan para pedagang. Akan tetapi bentuk fisik bangunannya masih
tergolong sederhana, luas lapak masing-masing tidak merata. Ada beberapa yang
luasnya 4x6 meter, dan ada pula yang luasnya hanya 2x3 meter. Pada tahun itu hanya
ada 57 bangunan sebagai tempat berjualan para pedagang. Selanjutnya setelah semua
pembangunan selesai diadakan lagi upacara adat untuk meresmikan pasar tradisional
tersebut karena sudah menjadi adat dan kebiasaan masyarakat sekitar15
Walaupun telah dibangun lebih baik, ternyata jumlah pedagang setiap
tahunnya terus bertambah. Hal ini menyebabkan Onan Nainggolan tidak dapat lagi
menampung banyaknya para pedagang, sehingga banyak di antaranya yang berjualan
di luar pasar dengan memanfaatkan badan jalan sebagai tempat berjualannya.
Kebanyakan dari mereka berasal dari wilayah Nainggolan itu sendiri, dan hanya
sebagian saja yang berasal dari luar Nainggolan.
.
15 Wawancara dengan A. Deddy lumban Siantar di Kecamatan Nainggolan, Kabupaten
Para pedagang yang berasal dari luar Nainggolan biasanya menggunakan kuda
beban sebagai alat transportasi mereka untuk mengangkut barang dagangannya, saat
itu belum ada angkutan kendaraan bermotor. Mereka yang datang berasal dari Onan
Runggu, Dolok, Palipi, Mogang dan Sitinjak.
Barang dagangan yang diperjual belikan pada masa itu tidak jauh berbeda
dengan tahun 1946, akan tetapi berubah secara kuantitas. Barang dagangan yang
sebelumnya dijual hanya untuk pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari saja telah
berubah menjadi motif untuk mencari keuntungan lebih yang mampu digunakan
untuk hari berikutnya. Harga barang dagangan yang dijual pada masa itu pun
bervariasi tergantung kepada harga di pasaran. Setelah itu akan terjadi tawar menawar
antara pedagang dan pembeli untuk mencapai kesepakatan harga16
Kondisi seperti ini berlangsung cukup lama, hingga dimulainya kedatangan
pedagang dari luar Pulau Samosir (Muara, Balige, Sibandang, Parapat, dll) pada
tahun 1985. Pada tahun 1994 dibangunlah bangunan baru yang lebih mewah. Pasar
yang dulunya hanya terbuat dari papan dirubah menjadi pasar dengan bangunan yang
lebih bagus. Bangunannya berubah menjadi bangunan beton dengan ukuran merata
yaitu 4x5m keseluruhannya. Sementara itu, menunggu pembangunannya selesai,
lokasi Onan Nainggolan untuk sementara waktu dipindahkan ke tanah lapang yang
masih berada di sekitar wilayah Nainggolan itu juga
.
17
16
Wawancara dengan Op. Parpandua di Kampung Nainggolan, Kecamatan Nainggolan, Kabupaten Samosir, Tanggal 2 Agustus 2013.
.
17 Wawancara dengan A. Deddy Lumban Siantar di Kecamatan Nainggolan, Kabupaten
Awalnya pemindahan tersebut mendapatkan perlawanan dari masyarakat
setempat. Bentuk perlawanan mereka ditunjukkan dengan cara berjualan bukan di
Onan Nainggolan melainkan di sepanjang jalan dari Pelabuhan Nainggolan hingga ke
jalan besar Nainggolan (berjarak sekitar 500M dari Pelabuhan ke jalan besar
Nainggolan menuju simpang tiga dan simpang empat juga tanah lapang). Hal ini
sangat mengganggu aktifitas lalu lintas., atas himbauan pemerintah setempat, yang
juga masih merupakan Raja Bius, maka warga setempat mau pindah ke tanah lapang
sebagai tempat berjualan untuk sementara waktu18
Pada tahun 1995 pembangunan Onan Nainggolan yang baru dengan bangunan
beton telah rampung. Pedagang pun dipindahkan kembali dari tanah lapang ke Onan
Nainggolan yang baru. Masyarakat pun menerima dengan bangga hasil pembangunan
pasar yang baru. Akan tetapi pada tahun 1995 terjadi perubahan yang sangat jauh
berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Pasar dibagi atas beberapa kelas
yaitu:
.
1. Kelas I
Pada lokasi ini dikhususkan kepada para pedagang yang menjual pakaian,
barang pecah belah dan alat dapur seperti keramik, piring, gelas, kaca,
ember, dan lain-lain, jenis ikan dan daging serta aksesoris. Dalam hal ini
pada kelas pertama ini mereka dikenakan biaya retribusi yang lebih besar
18 Wawancara dengan A. Karmila Parhusip di Kecamatan Nainggolan, Kabupaten Samosir,
yakni 3000 rupiah per hari sebagai sewa lahan. Dengan kata lain mereka
harus membayar sewa lahan sesuai dengan tarif yang sudah ditetapkan oleh
pemerintah setempat. Letaknya berada langsung di depan pintu masuk ke
Onan Nainggolan dari pelabuhan.
2. Kelas II
Pada lokasi ini dikhususkan kepada para pedagang yang menjual
sayur-sayuran, buah-buahan, dan bahan pangan seperti beras, gula, minyak, dan
lain-lain. Dalam hal ini, pada kelas kedua para pedagang dikenakan biaya
retribusi sebesar 2000 rupiah per harinya sebagai sewa lahan. Letaknya
berada tepat di belakang kelas pertama.
3. Kelas III
Pada lokasi ini dikhususkan kepada para pedagang yang menjual makanan
tradisional seperti pecal, mie sop, the manis, attirha dan lain sebaginya.
Dalam hal ini, pada kelas ketiga para pedagang dikenakan biaya 1000 rupiah
per harinya sebagai sewa lahan. Letaknya lebih ke belakang pasar, tepatnya
di belakang kelas kedua19.
Sebenarnya, hal ini bertujuan agar tidak terjadi tumpang tindih, di mana pada
satu lokasi terdapat berbagai jenis barang dagangan dan juga menjaga kenyamanan
bagi setiap pembeli yang berbelanja di pasar tersebut. Retribusi yang dikenakan per
19 Wawancara dengan A. Deddy Lumban Siantar di Kecamatan Nainggolan, Kabupaten
orang dan per hari pekan pun tidak lagi diberikan kepada Marga Parhusip, melainkan
sepenuhnya diserahkan kepada Dinas Pasar Kecamatan Onan Runggu. Dalam hal
pengutipan retribusi pun tidak ada lagi pengecualian kepada Marga Parhusip. Dengan
kata lain, semua pedagang memiliki kewajiban yang sama dalam hal membayar
retribusi termasuk dari keluarga Parhusip sekali pun20
Permasalahan baru muncul pada tahun 1998, di mana Onan Nainggolan yang
telah dirancang dan dibangun sedemikian rupa demi kesejahteraan masyarakat
mengalami kebakaran. Kebakaran terjadi pada malam hari sehingga tidak ada dari
kalangan pedagang yang mengalami kerugian. Kerugian dari kebakaran pasar hanya
pada bangunan dan tidak ada korban jiwa sama sekali. Dampak dari kebakaran Onan
Nainggolan terhadap para pedagang adalah dengan dipindahkan lagi areal
perdagangan ke tanah lapang menunggu pembangunan Onan Nainggolan yang baru. .
3.2 Pengelolaan Onan Nainggolan
Pasar tradisional merupakan pusat aktifitas sebagian besar masyarakat dalam
memenuhi kebutuhan hidupnya mulai dari kebutuhan sandang, pangan, papan,
maupun kebutuhan sosial lainnya. Keberadaan pasar tradisional terus mengalami
perkembangan dan semakin banyak pula masyarakat yang menggantungkan hidupnya
dari keberadaan pasar tradisional tersebut.
. Dalam hal pengelolaan, Onan Nainggolan lebih bersifat pelayanan kepada
masyarakat yang dikelola oleh pemerintah daerah setempat. Onan Nainggolan
20 Wawancara dengan A. Jumses, di Kecamatan Nainggolan, Kabupaten Samosir, Tanggal 1
dipegang oleh Petugas Peraturan Pasar (PERPAS). Tugas pokok dari PERPAS adalah
menyiapkan bahan perencanaan dan program kerja, pelayanan administrasi dan teknis
pembinaan dan bimbingan, evaluasi dan pelaporan bidang pengelolaan pasar yang
meliputi pendapatan serta sarana kebersihan, keamanan, dan ketertiban.
Petugas PERPAS Onan Nainggolan mengelola segala kegiatan yang
berhubungan dengan aktifitas di pasar. Pengelolaannya meliputi pembangunan
bangunan fisik pasar