PENERAPAN METODE PENEMUAN TERBIMBING UNTUK
MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR
MATEMATIKA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 2
KOTA BENGKULU
Devi Yunita, Effie Efrida Muchlis, Dewi Rahimah
Program Studi Pendidikan Matematika JPMIPA FKIP Universitas Bengkulu Jalan W.R. Supratman, Talang Kering, Kota Bengkulu
ABSTRAK
Pembelajaran matematika di sekolah lebih sering menggunakan metode ceramah dan kurang memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengonstruksikan pengetahuan mereka. Dalam pembelajaran, siswa cenderung pasif dalam menerima materi dari guru karena siswa hanya menghapal rumus-rumus bukan memahaminya sehingga minat siswa untuk belajar matematika menjadi rendah. Hal ini berakibat pada rendahnya hasil belajar matematika siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui cara penerapan metode penemuan terbimbing sehingga terjadi peningkatan aktivitas dan hasil belajar matematika siswa. Jenis penelitian yang dilaksanakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan teknik pengumpulan data melalui lembar observasi aktivitas siswa dan tes hasil belajar. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 20 April – 1 Juni 2015 dengan subjek penelitian adalah seluruh siswa kelas VIIIG SMPN 2 Kota Bengkulu tahun ajaran 2014/2015. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode penemuan terbimbing dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar matematika siswa. Aktivitas siswa ditingkatkan dengan pemberian masalah pada Lembar Kerja Siswa (LKS), guru membimbing siswa dalam mengerjakan LKS, pembentukan kelompok diskusi yang tepat, dan proses belajar yang menekankan pada aktivitas dan hasil belajar siswa. Peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa dapat dilihat dari peningkatan skor rata-rata dua pengamat dimana pada siklus I yaitu 27 (kriteria cukup), siklus II meningkat menjadi 39 (kriteria baik), dan siklus III meningkat lagi menjadi 46,5 (kriteria baik). Sementara itu, peningkatan hasil belajar siswa dapat dilihat dari peningkatan nilai rata-rata siswa dari siklus I hingga siklus III yaitu : 73,3; 79,1; dan 85,81 dengan persantase ketuntasan belajar klasikal dari siklus I hingga siklus III yaitu : 52,78%; 72,22%; dan 94,44%.
Kata Kunci : Aktivitas Siswa, Hasil Belajar, Metode Penemuan Terbimbing
PENDAHULUAN
Pendidikan adalah suatu proses atau usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik agar berperan aktif dan positif dalam hidupnya pada saat sekarang maupun yang akan datang. Pendidikan merupakan proses perubahan tingkah laku individu atau sekelompok orang sebagai hasil dari pengalamannya melalui kegiatan bimbingan, pembelajaran, atau pelatihan. Dalam dunia pendidikan, matematika merupakan salah satu bagian yang
memegang peranan penting. Semua pendidikan formal mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi diwajibkan mempelajari matematika sesuai dengan tingkatannya masing-masing. Namun, fakta di lapangan menunjukkan kondisi yang berbeda dengan apa yang diharapkan dengan tujuan pendidikan matematika itu sendiri.
Lapangan (PPL – 2) di SMP Negeri 2 Kota Bengkulu yang dilaksanakan pada tanggal 29 September – 4 Oktober 2014, dapat dikemukakan bahwa permasalahan yang dihadapi dalam proses pembelajaran matematika adalah siswa kurang terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran, dalam kegiatan pembelajaran guru masih menggunakan metode ceramah dan bersifat teacher-centered learning (pembelajaran yang berpusat pada guru), pembelajaran yang dilakukan bersifat monoton dan kurang bervariatif, mayoritas siswa menggunakan buku ajar yang tersedia dari sekolah saja dan catatannya untuk bahan belajar mereka, sehingga siswa cenderung pasif menerima materi dari guru tanpa adanya usaha untuk mengali informasi itu sendiri dan kesempatan untuk mengkonstruksikan pengetahuan mereka menjadi rendah.
Permasalahan tersebut dikarenakan, dalam proses pembelajaran siswa cenderung menghafal rumus atau cara-cara yang ada di buku ajar atau buku catatan mereka tanpa memahami konsep dasar dari rumus tersebut, sehingga kemampuan berpikir dan daya analisis siswa menjadi kurang berkembang. Selain itu, ketika guru memberikan soal yang sedikit berbeda dengan contoh soal yang diberikan sebelumnya, siswa mengalami kesulitan dalam memahami dan memecahkan persoalan tersebut dan siswa juga mengalami kesulitan ketika guru meminta siswa untuk menjelaskan kembali mengenai materi yang telah dipelajari tadi. Dari permasalahan tersebut, dapat dikatakan bahwa tujuan dari pembelajaran matematika belum tercapai dengan baik. Dengan demikian, diperlukan suatu upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan menerapkan metode penemuan terbimbing.
Dengan menerapkan metode penemuan terbimbing, maka akan meningkatkan pemahaman konsep siswa. Hal ini dikarenakan, metode penemuan terbimbing yang berlandaskan pendekatan
konstruktivisme dapat membantu siswa menemukan konsep atau pengetahuan dengan cara mereka sendiri, dimana siswa tidak hanya mengerjakan suatu urutan yang dirancang oleh guru, melainkan juga dapat memodifikasikannya dengan ide-ide mereka sendiri, sehingga konsep baru yang mereka temukan tersebut akan bertahan lama dalam ingatan siswa dan siswa akan menjadi paham mengenai manfaat dan keterkaitan antara konsep tersebut dengan konsep-konsep yang lainnya. Dalam pembelajaran siswa bukan hanya menjadi penghafal rumus tetapi juga paham dengan konsep dasar rumus tersebut, dan kegiatan ini akan meningkatkan daya pikir dan kritis siswa, sehingga siswa dapat memperoleh kesimpulan akhir mengenai pembelajaran tersebut.
Penerapan metode penemuan terbimbing dapat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan bermakna, sehingga dapat meningkatkan minat serta hasil belajar siswa. Berdasarkan hasil observasi di kelas VIII SMP Negeri 2 Kota Bengkulu, diketahui bahwa permasalahan yang dihadapi oleh guru seperti yang dijelaskan di atas merupakan permasalahan yang terjadi di Kelas VIIIG. Hal ini disebabkan, aktivitas dan hasil belajar kelas VIIIG masih tergolong rendah. Oleh karena itu, peneliti melaksanakan penelitian yang berjudul “Penerapan Metode Penemuan Terbimbing untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Kota Bengkulu”.
Metode Penemuan Terbimbing
Metode pembelajaran penemuan adalah suatu rangkaian kegiatan atau upaya yang dilakukan oleh guru dengan tujuan agar siswa mampu menemukan suatu informasi atau konsep baru berdasarkan pengalaman belajarnya. Metode penemuan merupakan salah satu metode yang dapat diterapkan dalam pembelajaran matematika. Menurut Ilahi (2012 : 69), keistimewaan metode penemuan bagi para siswa tidak sekedar keterampilan dalam mengkaji suatu persoalan, melainkan juga kemampuan dalam mengkaji informasi dan fakta konkret mengenai suatu hal yang dianggap penting. Dengan kata lain, kemampuan menemukan sesuatu yang baru mengindikasikan bahwa siswa mempunyai potensi yang perlu dikembangkan secara kontinuitas.
Metode penemuan dibedakan menjadi metode penemuan murni dan metode penemuan terbimbing. Menurut Markaban (2006 : 9), metode penemuan murni merupakan metode pembelajaran yang menuntut siswa untuk menemukan sendiri apa yang hendak ditemukannya. Namun untuk jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP), metode ini kurang tepat digunakan karena pada umumnya sebagian besar siswa masih membutuhkan konsep dasar untuk dapat menemukan sesuatu dan memerlukan bantuan atau bimbingan dari guru dalam proses belajarnya. Di samping itu, penemuan tanpa bimbingan guru dapat memakan waktu yang lebih lama dalam pelaksanaannya.
Sementara itu, metode penemuan terbimbing merupakan metode penemuan yang terjadi dengan interaksi atau komunikasi dua arah. Sistem dua arah ini melibatkan para siswa dalam menjawab pertanyaan guru. Siswa melakukan penemuan dengan bantuan guru membimbing ke arah yang tepat. Menurut Sani (2013 : 221), guided discovery atau penemuan terbimbing merupakan metode yang digunakan untuk membangun konsep di bawah pengawasan dan bimbingan dari
guru. Dengan kata lain, metode ini melibatkan suatu dialog atau interaksi antara siswa dengan guru dimana siswa mencari kesimpulan yang diinginkan melalui suatu urutan pertanyaan yang diatur oleh guru.
Fungsi guru dalam metode penemuan terbimbing adalah membuat siswa mampu menyelesaikan masalah sendiri dengan bantuan guru apabila diperlukan. Dengan kata lain, proses belajar mengajar melibatkan secara maksimal baik pengajar maupun siswa. Menurut Markaban (2006 : 16), dalam kegiatan pembelajaran dengan metode penemuan terbimbing terdapat beberapa langkah yang perlu ditempuh oleh guru matematika yaitu sebagai berikut :
1. Merumuskan masalah yang akan diberikan kepada siswa dengan data yang secukupnya, dengan syarat perumusannya harus jelas dan hindari pertanyaan yang menimbulkan salah tafsir sehingga arah yang ditempuh siswa tidak salah.
2. Dari data yang diberikan guru, siswa menyusun,memproses, mengorganisir, dan menganalisis data tersebut. Dalam hal ini, bimbingan guru dapat diberikan sejauh yang diperlukan saja. Bimbingan ini sebaiknya mengarahkan siswa untuk melangkah ke arah yang hendak dituju, yaitu melalui pertanyaan-pertanyaan atau melalui Lembar Kerja Siswa (LKS). 3. Siswa menyusun konjektur (prakiraan)
dari hasil analisis yang dilakukan. 4. Bila dipandang perlu, konjektur yang
telah dibuat siswa tersebut diperiksa oleh guru. Hal ini bertujuan untuk menyakinkan kebenaran prakiraan siswa, sehingga akan menuju ke arah yang hendak dicapai.
6. Sesudah siswa menemukan apa yang dicari, hendaknya guru menyediakan soal latihan atau soal tambahan untuk memeriksa apakah hasil penemuan itu benar.
Dengan mengacu pada langkah pembelajaran menurut Markaban, maka Rachmadi dalam Putri (2008 : 24) mengklasifikasi langkah pembelajaran tersebut ke dalam beberapa tahapan pembelajaran. Tahapan tersebut meliputi tahapan perumusan masalah, pengumpulan data dan verifikasi data, menyusun jawaban sementara, membimbing kelompok bekerja dan belajar, dan menyimpulkan hasil penemuan. Berdasarkan pada pendapat Markaban dan Rachmadi, maka langkah-langkah pembelajaran dengan metode penemuan terbimbing sebagai berikut :
1. Tahap merumuskan masalah
Pada tahap ini, guru memberikan informasi atau data secukupnya tentang materi yang akan dipelajari. Perumusan masalah yang diberikan kepada siswa harus jelas, dan hindari pernyataan yang menimbulkan salah tafsir sehingga arah yang ditempuh siswa tidak salah.
2. Tahap penggumpulan data dan verifikasi data
Dari data yang diberikan guru tadi, siswa menyusun, memproses, mengorganisir, dan menganalisis data-data tersebut. Dan guru membimbing siswa dalam memahami masalah untuk mengembangkan data, menyusun data, dan atau menambah data. Dalam hal ini, bimbingan guru dapat diberikan sejauh yang diperlukan saja. Bimbingan ini sebaiknya mengarahkan siswa untuk melangkah ke arah yang hendak dituju, yaitu melalui pertanyaan-pertanyaan atau melalui Lembar Kerja Siswa (LKS).
3. Tahap menyusun jawaban sementara Pada tahap ini, guru membimbing siswa membuat jawaban sementara (konjektur) berdasarkan hasil analisis yang dilakukan. Kemudian, guru memeriksa jawaban sementara yang telah dibuat oleh siswa, yang bertujuan untuk menyakinkan
kebenaran jawaban sementara siswa sehingga akan menuju ke arah yang hendah dicapai.
4. Tahap membimbing kelompok bekerja dan belajar
Pada tahap ini, guru membimbing siswa dalam kelompok diskusi, membimbing siswa menerapkan konsep yang ada untuk menyelesaikan permasalahan, dan
membimbing siswa dalam
mempresentasikan hasil kerja kelompoknya. Selain itu, guru juga memberi bimbingan dan umpan balik selama presentasi untuk menemukan jawaban yang benar.
5. Tahap menyimpulkan hasil penemuan Sesudah siswa menemukan apa yang dicari, guru membimbing siswa menyimpulkan materi yang dibahas pada pertemuan tersebut. Selain itu, guru menyediakan soal latihan atau soal tambahan untuk memeriksa apakah hasil penemuan itu benar.
Setiap metode memiliki kelebihan dan kekurangan. Begitu juga dengan metode penemuan terbimbing. Menurut Marzano dalam Markaban (2006 : 287), kelebihan dari metode penemuan terbimbing adalah sebagai berikut :
1. Siswa dapat berpartisipasi aktif dalam pembelajaran yang disajikan.
2. Menumbuhkan dan menanamkan sikap inqury (mencari-temukan). 3. Mendukung kemampuan pemecahan
masalah (problem solving) siswa. 4. Memberikan wahana interaksi antar
siswa maupun siswa dengan guru, sehingga siswa juga berlatih untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
5. Materi yang dipelajari dapat mencapai tingkat kemampuan yang tinggi dan lebih lama membekas dalam ingatan siswa, karena siswa terlibat langsung dalam proses menemukannya.
metode penemuan terbimbing menurut Faizi (2013 : 95) sebagai berikut :
1. Tidak semua topik matematika dapat diterapkan dalam metode penemuan. Umumnya topik-topik yang berhubungan dengan prinsip dapat diterapkan dalam metode penemuan. 2. Bila jumlah siswa terlalu banyak,
maka akan memberatkan guru dalam memberikan bimbingan penemuan. 3. Bagi siswa yang lamban akan
mengalami kesulitan karena tidak dapat menyelesaikan temuannya. 4. Memerlukan waktu yang relatif lebih
lama.
Pendekatan Konstruktivisme
Pendekatan dalam pembelajaran merupakan titik tolak atau acuan yang digunakan dalam pembelajaran, dan konstruktivisme adalah proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman yang diperolehnya. Menurut Abidin (2014 : 110), pendekatan pembelajaran berfungsi sebagai pedoman atau panduan dasar tentang mengajarkan sesuatu dan bagaimana sesuatu itu dapat dipelajari dengan lebih mudah. Pendekatan konstruktivisme merupakan salah satu pendekatan dalam pembelajaran yang menekankan pada kemampuan siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan barunya berdasarkan pengalaman atau pengetahuan yang sudah dimilikinya. Menurut Wardoyo (2013 : 4), konsep pembelajaran konstruktivisme merupakan pembelajaran yang didasarkan pada pemahaman bahwa proses belajar yang dilakukan oleh siswa merupakan proses membangun (konstruksi) pengetahuan, pemahaman, dan pengalamannya, sedangkan guru dalam proses pembelajaran dituntut untuk menjadi fasilitator yang baik dan mampu menggali potensi yang dimiliki oleh siswa. Dengan demikian, pendekatan konstruktivisme dapat menyajikan suatu pembelajaran yang dapat merangsang siswa untuk berpikir inovatif dan mengembangkan ide-ide
mereka secara optimal. Pembelajaran konstruktivisme menekankan pada permasalahan sehari-hari atau pengalaman nyata sebagai acuan yang dapat mendorong rasa ingin tahu siswa, sehingga siswa dianggap sebagai pemikir yang mampu menghasilkan sebuah pengetahuan baru. Sementara itu, dalam pembelajaran guru bersikap interaktif yaitu bertindak sebagai moderator dan fasilitator bagi siswa serta mencoba mengerti persepsi siswa agar dapat melihat pola pikir siswa dan apa yang sudah diperolehnya untuk pembelajaran selanjutnya.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pembelajaran dengan pendekatan konstruktivisme adalah sebagai berikut : 1. Pemberian apersepsi kepada siswa
dengan hal-hal yang diketahui dan dipahami oleh siswa dengan tujuan sebagai konsep awal yang dimiliki oleh siswa dalam pembelajaran. 2. Pemberian motivasi kepada siswa agar
mereka tertarik untuk mengetahui hal-hal atau materi baru yang akan dipelajari.
3. Menekankan pada kemampuan minds-on (berpikir) dan hands-on (bekerja), dengan cara mendorong siswa agar dapat mengaitkan materi tersebut dengan pengetahuan yang sudah ada pada siswa.
4. Proses pembelajaran melibatkan siswa secara aktif dalam menafsirkan dan memahami materi baru, sehingga terjadi perubahan konseptual.
5. Melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran, karena pengetahuan tidak dapat diperoleh secara pasif. 6. Mengutamakan terjadinya interaksi
sosial melalui kelompok belajar atau kelompok diskusi.
pembelajaran yang menuntut anak menemukan sesuatu dengan bimbingan dari guru dan pendekatan konstruktivisme merupakan pendekatan pembelajaran yang mengacu pada cara anak untuk membangun pengetahuan baru berdasarkan pengalaman atau pengetahuan yang telah dimilikinya. Pendekatan ini tidak hanya memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kemampuan kognitifnya saja, melainkan juga mengembangkan aktivitas sosialnya. Pengoptimalan kemampuan berpikir individu dan interaksi sosial dalam proses pembelajaran dapat dilakukan melalui penerapan metode penemuan terbimbing yang penerapanya didasari oleh pendekatan konstruktivisme.
Dengan menerapkan metode penemuan terbimbing, siswa dapat bekerjasama dalam kelompok belajarnya untuk menemukan suatu informasi atau pengetahuan baru, dan pendekatan konstruktivisme dalam kegiatan penemuan dapat membuat siswa berpikir kreatif dalam menyelesaikan permasalahan. Hal ini dikarenakan siswa dapat menggunakan berbagai macam cara atau menggunakan ide-ide mereka untuk menemukan informasi baru tersebut dengan mengaitkannya pada pengalaman atau pengetahuan yang mereka miliki. Selain itu, siswa diberi kesempatan dalam mengeksplorasi pengetahuan yang mereka miliki dan hal ini dapat meningkatkan penguasaan konsep dan berpikir siswa.
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian yang dilakukan adalah Penelitian Tindakan Kelas yang menggunakan lembar observasi aktivitas siswa dan tes hasil belajar sebagai instrumen pengumpulan data. Lembar observasi digunakan untuk mengamati aktivitas siswa selama penerapan metode penemuan terbimbing. Tes hasil belajar yang diperoleh dari setiap siklus, dianalisis secara deskriptif untuk mengetahui nilai rata-rata hasil belajar dan persentase ketuntasan belajar siswa. Subjek penelitian
ini adalah seluruh siswa kelas VIIIG yang berjumlah 36 orang, terdiri dari 13 siswa laki-laki dan 23 siswa perempuan. Penelitian ini dilaksanakan dalam 3 siklus dan setiap siklus terdiri dari empat kegiatan yaitu: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Tahapan dalam penelitian ini dapat dilihat pada gambar 1 berikut.
Gambar 1 Alur Model PTK
Indikator keberhasilan penelitian tindakan kelas adalah : (1) Keaktifan siswa meningkat diketahui dari hasil lembar observasi aktivitas siswa secara umum mencapai kriteria baik, yaitu berada pada interval 37 x 48, dan (2) indikator keberhasilan tercapai apabila nilai hasil belajar siswa meningkat setiap siklusnya. Secara klasikal nilai rata-rata siswa mencapai ≥ 70 dan ketuntasan belajar tercapai jika minimal 80 % dari jumlah siswa yang memperoleh nilai ≥ 70.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Analisis Aktivitas Siswa Tiap Siklus. Hasil analisis lembar observasi aktivitas siswa pada setiap siklus menunjukkan terjadi peningkatan aktivitas siswa dari siklus I hingga siklus III.
Tabel 1 Hasil Pengamatan Aktivitas Siswa Tiap Siklus
rata-rata dua orang pengamat 27. Skor ini masih sangat rendah karena hampir berada pada kriteria kurang. Salah satu penyebab rendahnya hasil aktivitas siswa pada siklus I ini dikarenakan dalam proses pembelajaran siswa belum terbiasa dengan guru yang menerapkan pembelajaran dengan metode penemuan terbimbing. Selain itu, pada proses pengerjaan LKS siklus I masih banyak siswa yang kurang percaya diri dan proses diskusi masih belum berlangsung dengan baik.
Pada siklus II aktivitas siswa berada pada kriteria baik dengan skor rata-rata dua orang pengamat 39. Skor ini cukup tinggi karena mayoritas siswa sudah mulai terbiasa dengan penerapan metode penemuan terbimbing. Pada siklus III aktivitas siswa berada pada kriteria baik dengan skor rata-rata dua orang pengamat 46,5. Skor ini mengalami peningkatan dari siklus II dan sudah tergolong tinggi karena hampir seluruh siswa sudah mulai terbiasa dengan penerapan metode penemuan terbimbing.
Aktivitas yang diamati oleh pengamat dalam siklus I, II, dan III terdiri dari 16 aspek dan secara garis besar lembar observasi yang diamati pengamat meliputi perhatian siswa terhadap penjelasan yang disampaikan oleh guru (yaitu mengenai penjelasan apersepsi, tujuan, motivasi pembelajaran, dan pengarahan dari guru) yang merupakan langkah awal pembelajaran dengan pendekatan konstruktivisme, aktivitas siswa dalam proses penemuan yang dibimbing melalui serangkaian kegiatan dan pertanyaan yang ada di LKS, aktivitas siswa selama diskusi kelompok maupun diskusi kelas, kemampuan siswa dalam melakukan pengukuran, kemampuan siswa mengaitkan materi sebelumnya terhadap materi yang sedang dipelajari (memanfaatkan pengetahuan yang telah dimilikinya), aktivitas siswa dalam proses menyimpulkan hasil penemuan secara keseluruhan, perhatian siswa terhadap penjelasan konsep baru yang disampaikan
oleh guru, dan aktivitas siswa dalam menerapkan hasil penemuannya.
Pada refleksi awal diketahui bahwa perhatian siswa terhadap penjelasan yang disampaikan oleh guru masih kurang baik. Pada saat guru menjelaskan, mayoritas siswa tidak memperhatikan, mengobrol, menganggu teman bahkan ada yang sibuk dengan kegiatannya sendiri seperti bermain handphone, menggambar atau mencoret-coret bukunya. Melihat permasalahan tersebut, guru mengambil tindakan yaitu dengan cara menegur siswa yang tidak memperhatikan, mengobrol, menganggu teman, atau sibuk dengan kegiatan sendiri dan kemudian menasehati mereka untuk dapat mengikuti pelajaran dengan baik. Tindakan ini mengacu pada prinsip mendorong dan memotivasi keaktifan siswa yang disampaikan oleh Gage & Berliner dalam Hosnan (2014 : 8) yang mengatakan bahwa prinsip-prinsip belajar tersebut dapat menjadi acuan atau landasan bagi guru agar proses pembelajaran menjadi lebih baik dan bermakna.
kriteria cukup dengan skor rata-rata yang diberikan kedua pengamat pada aktivitas ini adalah 2,4.
Pada proses pembelajaran siklus II, perhatian siswa terhadap penjelasan yang disampaikan oleh guru sudah baik. Ketika awal proses pembelajaran berlangsung, mayoritas siswa telah memperhatikan penjelasan dari guru dan sudah mau mendengarkan arahan serta petunjuk dari guru. Hal ini terlihat, dari perhatian siswa yang sudah mulai disiplin dan mau menghargai guru ketika guru memberikan penjelasan maupun arahan kepada siswa. Karena tindakan yang dilakukan oleh guru untuk mengoptimalkan perhatian siswa ini adalah dengan memberikan nasihat dan teguran kepada siswa yang tidak memperhatikan untuk dapat memperhatikan dan mengikuti pelajaran dengan baik. Jika siswa masih tidak memperhatikan maka guru menunjuk siswa tersebut untuk menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru dan menyita barang yang membuat mereka tidak memperhatikan guru seperti handphone atau buku PR pelajaran lain hingga akhir pelajaran. Adapun tindakan yang dilakukan oleh guru ini mengacu pada prinsip mendorong dan memotivasi keaktifan siswa serta prinsip pemberian tantangan yang disampaikan oleh Gage & Berliner dalam Hosnan (2014 : 8) bahwa prinsip-prinsip tersebut dapat dilakukan oleh guru demi terciptanya proses pembelajaran yang lebih baik dan bermakna.
Tindakan yang dilakukan guru pada siklus II mengakibatkan proses pembelajaran pada siklus III sudah lebih baik. Hal ini dikarenakan perhatian siswa terhadap penjelasan yang disampaikan oleh guru sudah sangat baik. Ketika awal proses pembelajaran berlangsung, seluruh siswa telah memperhatikan penjelasan dari guru dan sudah mau mendengarkan arahan serta petunjuk dari guru. Hal ini terlihat, dari perhatian siswa yang sudah disiplin dan mau menghargai guru ketika guru
memberikan penjelasan maupun arahan kepada siswa.
Selain itu, kegiatan pembelajaran dengan penerapan metode penemuan terbimbing juga mengamati aktivitas individual siswa. Hasil observasi oleh dua orang pengamat menunjukkan bahwa selama proses pembelajaran siklus I siswa masih kurang aktif. Aktivitas siswa ini diamati selama tahap mengamati atau merumuskan masalah yang ada pada LKS. Pada proses mengamati tersebut, mayoritas siswa belum berani untuk menanyakan kepada guru mengenai hal-hal yang ia tidak pahami. Berdasarkan hasil pengamatan dua pengamat, terdapat 22 siswa yang belum berani bertanya kepada guru mengenai hal-hal yang ia tidak pahami. Dalam menyelesaikan permasalahan yang ada di LKS, siswa masih belum dapat merumuskan permasalahan yang ada di dalam LKS dengan benar. Selain itu, hasil observasi oleh dua pengamat menunjukkan bahwa terdapat lima kelompok yang masih kesulitan dalam merumuskan permasalahan yang ada di LKS.
Tindakan yang dilakukan oleh guru pada siklus II mengakibatkan aktivitas individual siswa pada siklus III mengalami peningkatan daripada siklus-siklus sebelumnya. Hasil observasi oleh dua orang pengamat menunjukkan bahwa selama proses pembelajaran siklus III mayoritas siswa sudah aktif. Pada proses mengamati, mayoritas siswa sudah berani untuk menanyakan kepada guru mengenai hal-hal yang ia tidak pahami. Berdasarkan hasil pengamatan dua pengamat, terdapat 25 siswa yang sudah aktif bertanya kepada guru mengenai hal-hal yang ia tidak pahami dan dalam menyelesaikan permasalahan yang ada di LKS, siswa sudah bisa merumuskan permasalahan yang ada di dalam LKS dengan benar.
Disamping mengamati aktivitas individual siswa, metode penemuan terbimbing juga mengamati aktivitas siswa selama diskusi kelompok maupun diskusi kelas. Pada siklus I, interaksi yang terjalin antar anggota kelompok belum optimal. Hal ini terlihat, selama diskusi kelompok siswa cenderung mengandalkan anggota kelompok yang mereka anggap lebih pandai dalam menyelesaikan permasalahan yang ada di LKS dan siswa masih belum mendiskusikan ide-ide yang mereka miliki. Selain itu, dalam memberi bimbingan selama diskusi kelompok guru mengalami kesulitan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Faizi (2013 : 95) bahwa bila jumlah siswa terlalu banyak maka akan memberatkan guru dalam memberi bimbingan penemuan, sehingga diperlukan suatu strategi untuk mengatasi permasalahan tersebut. Berdasarkan hasil observasi dua pengamat pada siklus I, terdapat lima kelompok yang belum aktif dalam diskusi kelompok dan dalam diskusi kelompok masih terdapat 4-6 siswa yang sering keluar masuk kelas dengan berbagai alasan. Selain itu, siswa belum terlibat aktif dalam kegiatan diskusi kelas (presentasi kelas) dan siswa belum berani dalam menanggapi hasil presentasi temannya. Akan tetapi, siswa sudah cukup
berani dalam menyampaikan hipotesis atau jawaban sementara mereka.
Untuk lebih mengaktifkan diskusi kelompok, guru membagi ulang kelompok belajar pada siklus II. Guru juga memberikan motivasi dan teguran kepada siswa yang belum aktif dalam diskusi kelompok agar berani bertanya dan mendiskusikan ide-ide yang mereka miliki serta memberikan tanggung jawab kepada siswa yang pandai untuk dapat memberikan bimbingan kepada anggota kelompoknya yang lain. Selain memberikan tanggungjawab kepada setiap kelompok diskusi, guru juga mengatur sistem bimbingan kepada kelompok diskusi. Tindakan yang dilakukan oleh guru adalah dengan mengatur dan menetapkan waktu bimbingan untuk setiap kelompok serta memberikan kesempatan kepada kelompok yang sudah bisa untuk melakukan penemuannya sendiri. Hal ini dimaksudkan agar siswa terbiasa mendiskusikan ide-ide mereka dengan teman sekelompoknya dan guru lebih memperhatikan kelompok yang belum dapat melakukan penemuannya sendiri. Selain itu, guru juga menegur siswa yang sering keluar masuk lebih dari 3 kali dan melakukan pendekatan kepada siswa tersebut agar dapat mengikuti pelajaran dengan baik.
bisa melakukan penemuannya sendiri. Dari hasil pengamatan diketahui bahwa pada siklus II ini masih ada tiga kelompok yang belum aktif dalam kegiatan diskusi kelompok. Hal ini disebabkan proses diskusi dari ketiga kelompok tersebut belum berlangsung dengan baik karena terdapat siswa dari masing-masing kelompok yang sering ribut dan mengobrol dengan anggota kelompok yang lainnya, serta terdapat 2-3 siswa masih sering keluar masuk kelas saat diskusi kelompok berlangsung.
Selain melakukan tindakan untuk mengefektifkan diskusi kelompok, guru juga melakukan tindakan untuk mengefektifkan diskusi kelas (presentasi kelompok). Tindakan yang dilakukan guru adalah dengan memberikan motivasi kepada siswa untuk lebih percaya diri dan berani tampil ke depan kelas, dan guru juga memilih secara acak kelompok yang tampil ke depan kelas untuk mempresentasikan hasil diskusi mereka. Dari hasil pengamatan siklus II yang dilakukan oleh dua orang pengamat, terdapat 3-4 kelompok yang telah bersedia untuk tampil ke depan kelas mempresentasikan hasil diskusi mereka secara sukarela dan terdapat 10-15 siswa yang sudah cukup berani dalam menanggapi hasil temuan temannya.
Aktivitas siswa selama diskusi kelompok maupun diskusi kelas pada siklus III mengalami peningkatan dari siklus II. Untuk mengefektifkan diskusi kelompok, guru membagi ulang kelompok belajar dan menggelompokkan siswa yang tidak aktif menjadi satu kelompok diskusi yang bertujuan agar mereka dapat lebih bertangungjawab atas pekerjaan mereka. Tindakan ini mengakibatkan proses diskusi kelas pada siklus III sudah berlangsung dengan lebih optimal dan interaksi yang terjalin antar anggota kelompok sudah berlangsung dengan baik. Hal ini terlihat dari aktivitas siswa yang saling mendiskusikan ide-ide mereka dengan baik dan seluruh anggota kelompok sudah terlibat aktif dalam
kegiatan diskusi kelompok, sehingga membantu guru dalam memberi bimbingan penemuan yang lebih efektif. Tindakan ini membuktikan bahwa strategi pengaturan waktu dan cara pemberian bimbingan yang baik dapat mengatasi kekurangan dari metode penemuan terbimbing. Di samping itu, siswa sudah mulai aktif dalam kegiatan diskusi kelas (presentasi kelas), siswa sudah berani dalam menanggapi hasil presentasi temannya, dan siswa sudah berani dalam menyampaikan hipotesis atau jawaban sementara mereka kepada guru. Namun, selama pembelajaran berlangsung masih terdapat 2 siswa yang sering terlambat masuk ke kelas dengan alasan dari toilet atau dari kantin walaupun guru telah memberikan teguran kepada siswa yang sering keluar masuk kelas lebih dari 3 kali.
Pada siklus I, siswa masih kurang teliti dalam melakukan pengukuran baik pengukuran panjang ruas garis maupun mengukur besar sudut dalam sebuah lingkaran. Namun, siswa sudah cukup baik dalam memanfaatkan pengetahuan yang telah ia miliki sebelumnya untuk menemukan pengetahuan yang baru diperolehnya. Berdasarkan hasil observasi dua pengamat, terdapat 17 siswa yang sudah mulai memanfaatkan pengetahuan yang telah ia miliki sebelumnya untuk menemukan pengetahuan baru yang diperolehnya. Selain itu, aktivitas siswa dalam proses menyimpulkan hasil penemuan secara keseluruhan masih kurang optimal. Hal ini dikarenakan, siswa masih belum bisa menyatakan pendapatnya mengenai kesimpulan dari hasil temuan mereka secara keseluruhan.
menyelesaikan permasalahan yang ada. Tindakan yang dilakukan guru ini mengakibatkan pada siklus II, siswa sudah cukup teliti dalam melakukan pengukuran dan siswa sudah cukup baik dalam memanfaatkan pengetahuan yang telah ia miliki sebelumnya untuk menemukan pengetahuan yang baru diperolehnya. Berdasarkan hasil observasi dua pengamat, terdapat 23 siswa yang sudah bisa memanfaatkan pengetahuan yang telah ia miliki sebelumnya untuk menemukan pengetahuan baru yang diperolehnya. Selain itu, guru juga memotivasi dan membimbing siswa dalam proses menyimpulkan hasil penemuan secara keseluruhan, sehingga aktivitas siswa dalam proses menyimpulkan hasil penemuan secara keseluruhan sudah berlangsung dengan cukup baik. Hal ini dikarenakan, siswa sudah cukup berani menyatakan pendapatnya mengenai kesimpulan dari hasil temuan mereka secara keseluruhan. Namun, pada siklus II ini masih terdapat 12 siswa yang belum terlibat aktif dalam diskusi kelas.
Pada siklus III, siswa sudah lebih teliti dalam melakukan pengukuran dan siswa sudah cukup baik dalam memanfaatkan pengetahuan yang telah ia miliki sebelumnya untuk menemukan pengetahuan yang baru diperolehnya. Berdasarkan hasil observasi dua pengamat, terdapat 2-4 siswa yang masih kesulitan dalam memanfaatkan pengetahuan yang telah ia miliki sebelumnya untuk menemukan pengetahuan baru yang diperolehnya. Selain itu, aktivitas siswa dalam proses menyimpulkan hasil penemuan secara keseluruhan sudah berlangsung dengan baik. Hal ini dikarenakan, guru lebih memberikan motivasi kepada siswa yang belum aktif dalam mengajukan pendapatnya dengan menunjuk siswa tersebut untuk lebih berani dalam berkomentar atau bertanya, sehingga pada siklus III mayoritas siswa sudah mulai berani menyatakan pendapatnya mengenai kesimpulan dari hasil temuan mereka secara keseluruhan.
Pada tahap akhir pembelajaran, perhatian siswa terhadap penjelasan konsep baru yang disampaikan oleh guru juga menjadi salah satu poin yang penting dalam lembar observasi aktivitas siswa. Hal ini dikarenakan, penjelasan konsep baru yang disampaikan oleh guru juga termasuk tahap pembelajaran dalam metode penemuan terbimbing. Berdasarkan hasil observasi dua pengamat pada siklus I diketahui bahwa 22 siswa sudah mau memperhatikan penjelasan guru mengenai konsep baru yang disampaikan oleh guru dan hal ini menunjukkan bahwa perhatian siswa tersebut sudah cukup optimal. Namun, aktivitas siswa dalam menerapkan hasil penemuannya masih tergolong kurang optimal. Hal ini dikarenakan, terdapat 20 siswa yang masih belum dapat menerapkan hasil penemuannya untuk menyelesaikan soal-soal latihan yang diberikan guru dan aktivitas ini diamati ketika guru memberikan soal latihan pada akhir pembelajaran dan pada waktu awal pembelajaran ketika guru membahas soal-soal yang dianggap susah oleh siswa.
Sementara itu, berdasarkan hasil observasi dua pengamat pada siklus III diketahui bahwa mayoritas siswa sudah mau memperhatikan penjelasan guru mengenai konsep baru yang disampaikan oleh guru dan hal ini menunjukkan bahwa perhatian siswa tersebut sudah optimal. Di samping itu, aktivitas siswa dalam menerapkan hasil penemuannya sudah optimal. Hal ini dikarenakan, siswa sudah mulai menerapkan hasil penemuannya untuk menyelesaikan soal-soal latihan yang diberikan oleh guru dimana aktivitas ini diamati ketika guru memberikan soal latihan pada akhir pembelajaran dan pada waktu awal pembelajaran ketika guru membahas soal-soal yang dianggap susah oleh siswa.
2. Analisis Hasil Belajar Setiap Siklus Penerapan metode penemuan terbimbing menunjukkan bahwa hasil belajar siswa dilihat dari nilai rata-rata dan ketuntasan belajar klasikal meningkat setiap siklusnya. Nilai rata-rata siswa pada siklus I yaitu 73,3 kemudian pada siklus II nilai rata-ratanya meningkat menjadi 79,1 dan nilai rata-rata siswa meningkat lagi menjadi 85,81 pada siklus III. Peningkatan nilai rata-rata siswa dapat dilihat pada Gambar 2 berikut.
Gambar 2 Diagram Peningkatan Nilai Rata-Rata Siswa
Peningkatan hasil belajar tidak hanya terjadi pada nilai rata-rata siswa, tetapi juga pada ketuntasan belajar kasikal. Hal ini terlihat dari ketuntasan belajar klasikal siklus I yang hanya 52,78% dengan 19 orang siswa yang tuntas dan 17 orang siswa yang tidak tuntas, kemudian pada siklus II ketuntasan belajar klasikal meningkat menjadi 72,22% dengan 26 orang siswa yang tuntas dan 10 orang siswa yang tidak tuntas, dan ketuntasan
belajar klasikal mengalami peningkatan lagi pada siklus III menjadi 94,44% dengan 34 orang siswa yang tuntas dan 2 orang siswa yang tidak tuntas. Peningkatan ketuntasan belajar klasikal tersebut dapat dilihat dari Gambar 3 berikut.
Gambar 3 Diagram Peningkatan Ketuntasan Belajar Klasikal
Gambar 3 tersebut menunjukkan bahwa pada siklus III ketuntasan belajar klasikal mencapai 94,44%. Hal ini berarti pada siklus III ketuntasan belajar klasikal siswa sudah mencapai kriteria keberhasilan tindakan yaitu 80%.
Secara individu persentase siswa yang tidak pernah mencapai nilai ketuntasan belajar 70 selama siklus I hingga siklus III hanya 5,56% atau ada dua siswa. Berdasarkan hasil tes siklus III menunjukkan masih terdapat 4 siswa yang belum mencapai kriteria ketuntasan minimal ( 70), adapun nilai tes keempat siswa tersebut adalah 53,1, 54,6, dan 66,9. Karena nilai tes dianalisis dengan nilai LKS yang telah diperoleh selama pembelajaran, maka terdapat dua siswa yang berhasil mendapatkan nilai akhir 70 sedangkan dua siswa yang lainnya belum berhasil mendapatkan nilai akhir 70. Kedua siswa yang berhasil mendapatkan nilai akhir 70 tersebut adalah IO dan MF. Sedangkan kedua siswa yang belum berhasil mendapatkan nilai akhir 70 adalah RDN dan YWP.
penyebab dan cara mengatasi permasalahan siswa tersebut. Tindakan guru ini dilakukan pada luar jam pelajaran atau setelah pulang sekolah. Upaya yang dilakukan guru ini mengakibatkan terjadi perkembangan yang cukup signifikan dari kedua siswa tersebut, walaupun perkembangannya lebih lambat dari siswa yang lainnya.
Pemberian bimbingan yang lebih banyak untuk siswa yang lamban dalam menerima materi pelajaran dapat menjadi salah satu cara guru untuk mengatasi kekurangan dari metode penemuan terbimbing. Tindakan yang dilakukan oleh guru menunjukkan bahwa tujuan pembelajaran metode penemuan telah tercapai dengan baik.
SIMPULAN DAN SARAN
Penerapan metode penemuan terbimbing dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa dengan cara : (1) Guru menyiapkan serangkaian pertanyaan yang dapat membimbing siswa dalam merumuskan suatu permasalahan dengan benar, memotivasi setiap anggota kelompok untuk saling mendiskusikan ide-ide yang mereka miliki dengan teman sekelompoknya, dan membimbing siswa untuk memanfaatkan pengetahuan yang telah ia miliki sebelumnya untuk memperoleh pengetahuan barunya; (2) Guru membentuk kelompok belajar yang efektif untuk setiap siklusnya dimana pembentukan kelompok tersebut ditentukan berdasarkan aktivitas siswa selama proses pembelajaran sebelumnya dan kemampuan akademis (nilai tes) siswa; (3) Guru memotivasi siswa untuk berani tampil ke depan kelas dan mengemukakan pendapat mereka, baik dalam diskusi kelas maupun bertanya kepada guru mengenai hal-hal yang ia tidak pahami; (4) Guru mengatur waktu dan cara memberi bimbingan yang efektif selama kegiatan penemuan berlangsung agar dapat mengatasi kesulitan guru dalam mengatur bimbingan bila jumlah siswa terlalu banyak.
Dan penerapan metode penemuan terbimbing dapat meningkatkan hasil belajar siswa dengan cara : (1) Guru memberikan soal-soal latihan yang dapat membantu siswa dalam mengaplikasikan pengetahuan yang telah ia peroleh dan agar siswa terbiasa untuk memahami soal-soal pada tes siklus nantinya. Selain itu, guru juga mengingatkan kepada siswa agar lebih teliti dalam melakukan perhitungan matematika dan menuliskan satuan yang tepat dari setiap jawaban yang ditulis dalam soal tes siklus; (2) Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan pengetahuan yang dipelajarinya, sehingga pengetahuan tersebut lebih lama membekas dalam ingatan siswa; (3) Guru mengingatkan siswa tentang materi prasyarat agar siswa lebih mudah dalam proses penemuannya dan membimbing siswa agar dapat mengaitkan antara konsep yang dipelajari dengan konsep yang telah dipelajari sebelumnya; (4) Guru memberikan jam tambahan atau bimbingan yang lebih banyak untuk siswa yang lamban dalam menyelesaikan suatu permasalahan agar siswa dapat memahami materi pelajaran dengan lebih baik.
Kegiatan tersebut terbukti dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa dari siklus I sampai siklus III. Analisis tes siklus I menunjukkan nilai rata-rata siswa 73,3 dengan ketuntasan belajar klasikal siswa 52,78% dengan aktivitas siswa berada pada kriteria cukup (skor rata-rata 27), kemudian pada siklus II hasil belajar meningkat dengan nilai rata-rata siswa 79,1 dengan ketuntasan belajar klasikal 72,22% dan aktivitas siswa berada pada kriteria baik (skor rata-rata 39), serta mengalami peningkatan kembali pada siklus III dengan nilai rata-rata siswa 85,81 dengan ketuntasan belajar klasikal 94,44% dan aktivitas siswa berada kriteria baik (skor rata-rata 46,5).
guru juga dapat menggunakan media pembelajaran (seperti macromedia flash atau media power point) untuk membantu siswa dalam memahami konsep-konsep penting yang disampaikan guru; (2) Penentuan kelompok diskusi dalam pembelajaran sebaiknya berdasarkan tingkat kemampuan akademis siswa dan
keaktifan siswa yang heterogen selama proses pembelajaran sebelumnya; (3) Dalam menerapkan metode penemuan terbimbing hendaknya guru mampu mengelola kelas dengan baik, agar proses pembelajaran berlangsung efektif sesuai yang telah direncanakan.
DAFTAR PUSTAKA
Abidin, Yunus. 2014. Desain Sistem Pembelajaran dalam Konteks Kurikulum 2013. Bandung : PT Refika Aditama.
Faizi, Mastur. 2013. Ragam Metode Mengajarkan Eksakta pada Murid. Jogjakarta : DIVA Press.
Illahi, Mohammad Takdir. 2012. Pembelajaran Discovery Strategy & Mental Vocational Skills. Jogjakarta : DIVA Press.
Markaban. 2006. Model Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Penemuan Terbimbing. Yogyakarta : Departemen Pendidikan Nasional.
Putri, Reti. 2012. Perbandingan Hasil Belajar Matematika Siswa antara
Pembelajaran Penemuan
Terbimbing dengan Pembelajaran Pengajaran Terbalik di Kelas VII SMP N 13 Kota Bengkulu. Skripsi tidak diterbitkan. Bengkulu : UNIB.
Sani, Ridwan Abdullah. 2013. Inovasi Pembelajaran. Jakarta : PT. Bumi Aksara.