MARAH
HALIM
CUP
1972
–
1995
SKRIPSI SARJANA
DIKERJAKAN
OL
E
H
NAMA
: Eri Arianto
NIM
: 080706032
DEPARTEMEN SEJARAH
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
i
LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING SKRIPSI
MARAH HALIM CUP 1972 -1995
SKRIPSI SARJANA Dikerjakan
O L E H
ERI ARIANTO 080706032 Pembimbing
NIP. 19570711985031003 Drs. Wara Sinuhaji, M.Hum
Skripsi ini diajukan kepada panitia ujian Fakultas Ilmu Budaya USU Medan, untuk melengkapi salah satu syarat ujian Sarjana Fakultas Ilmu Budaya dalam bidang Ilmu Sejarah.
DEPARTEMEN SEJARAH
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
LEMBAR PERSETUJUAN UJIAN SKRIPSI
MARAH HALIM CUP 1972 – 1995
Yang diajukan oleh :Nama : Eri Arianto Nim : 080706032
Telah disetujui untuk diujikan dalam ujian skripsi oleh: Pembimbing,
Dr. Wara Sinuhaji. M.Hum NIP. 19570711985031003
Tanggal
Ketua Departemen Sejarah
Drs. Edi Sumarno. M. Hum NIP. 196409221989031001
Tanggal
DEPARTEMEN SEJARAH
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
iii
LEMBAR PERSETUJUAN KETUA DEPARTEMEN SEJARAH
Disetujui Oleh :
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
DEPARTEMEN SEJARAH
Ketua Departemen,
Drs. Edi Sumarno, M. Hum
NIP 196409221989031001
LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI OLEH DEKAN DAN PANITIA UJIAN
PENGESAHAN Diterima oleh:
Panitia ujian Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara untuk melengkapi salah satu syarat ujian Sarjana Sastra
dalam bidang Ilmu Sejarah pada Fakultas Ilmu Budaya USU Medan
Pada :
Hari :
Tanggal :
Fakultas Ilmu Budaya USU Dekan,
NIP 195110131976031001 Dr. Syahron Lubis. M.A.
Panitia Ujian:
No. Nama Tanda Tangan
1. Drs. Edi Sumarno, M. Hum ( )
2. Dra. Nurhabsyah, M.Si ( )
3. Drs. Wara Sinuhaji, M.Hum ( )
4. Dra. Farida Hanum Ritonga, MSP ( )
i
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kita ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan rahmat serta hidayah-Nya kepada kita. Hingga saat ini penulis masih
diberikan rezeki yang berlimpah ruah, sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini.
Adapun skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan program sarjana
pada Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.Skripsi
ini berjudul,
MARAH HALIM CUP 1972 – 1995
, dalam skripsi ini, penulis membahas mengenai turnamen sepakbola serta latar belakang lahirnya turnamen ini,dimulai pada tahun 1972 hingga tahun 1995.
Penulis menyadari skripsi ini belum sempurna, oleh karena itu dengan rendah
hati penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca untuk penyempurnaan
skripsi ini. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi pembaca, khususnya bagi penulis
sendiri.
Medan, Maret 2015
Penulis
UCAPAN TERIMA KASIH
Puji dan syukur penulis ucapkan ke hadirat Allah SWT yang telah
memberikan rahmat, karunia, kesehatan, kesempatan, kekuatan dan kasih sayang
sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini
Dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih atas
bantuan tenaga, pikiran, serta bimbingan yang telah diberikan dalam menyelesaikan
skripsi ini, kepada yang terhormat:
1. Bapak Dr. Syahron Lubis, M.A. selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Sumatera Utara, beserta Pembantu Dekan I Dr. M. Husnan Lubis,
M.A, Pembantu Dekan II Drs. Samsul Tarigan, dan Pembantu Dekan III Drs.
Yuddi Adrian Muliadi, M.A, berkat bantuan dan fasilitas yang penulis peroleh
di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara, maka penulis dapat
menyelesaikan studi.
2. Bapak Drs. Edi Sumarno, sebagai Ketua Departemen Sejarah Fakultas Ilmu
Budaya USU dan juga kepada Ibu Dra. Nurhabsyah, Msi, sebagai Sekretaris
Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya USU yang telah banyak
memberikan nasihat dan motivasi selama penulis kuliah.
3. Terkhusus untuk Alm. Bapak Drs. Indera M.Hum, sebagai dosen penasehat
akademik penulis yang telah banyak memberi nasihat dan arahannya bagi
iii
penulis tidak bisa bertemu dengan bapak sampai selesai kuliah, semoga bapak
tenang dan tersenyum disana.
4. Bapak Drs. Wara Sinuhaji, M.Hum. selaku dosen pembimbing yang selalu
mengingatkan penulis agar cepat menyelesaikan skripsi ini dan meluangkan
waktu untuk berdiskusi serta memberi masukan dengan penulis guna
membantu dalam penyelesaian penulisan skripsi ini.
5. Bapak/Ibu dosen Fakultas Ilmu Budaya USU khususnya di Departemen
Sejarah, terima kasih banyak ilmu yang diberikan semoga dapat penulis
amalkan dan juga kepada Abang Amperawira selaku Tata Usaha Departemen
Sejarah ( terima kasih atas nasehat dan arahannya )
6. Kepada Orangtua penulis, mungkin tanpa mereka saya tidak hadir dan ada di
dunia ini Ayahanda Ucik Harianto dan Ibunda Erlina yang telah melahirkan,
merawat, membesarkan, mendidik dan selalu menyayangi penulis dengan
penuh cinta dan kasih sayang. Kedua kakak tersayang ( Kurniawati dan Sri
Wahyuni ), Keponakan yang lucu dan imut Myisha, Syahdu dan Fathan (
semoga menjadi anak berbakti ) dan seluruh keluarga besar yang selalu
memberikan nasihat dan semangat.
7. Saudara-saudaraku seangkatan 2008 (Albert, Alpian, Artono, Azis, Cahaya,
Deni, Dewi, Edyta, Eko, Elegus, Erni, Evi, Fahmi, Frider, Glorika, Hotman,
Husein, Iqbal, Jans, Jakob, Johannes, Kuasa, Mangihut, Novita, Puspita, Putri,
Rihanna, Royandi, Suranta, Weni, Wilman, Yani, Yogi, Yuni ) terkhusus
kepada Arenda dan Resti yang selama ini selalu banyak memberikan
Seperjuangan Marco Limbong yang sama-sama berjuang di detik-detik akhir
kuliah, terima kasih atas kebersamaan yang kita lewati semasa kuliah. Semoga
kita semua sukses dan berguna bagi semua orang.
8. Seluruh kawan-kawan Himpunan Mahasiswa Ilmu Sejarah USU dari
abang-abang senior maupun adik-adik junior yang selama ini menemani penulis
bercerita, berdiskusi hingga canda dan tawa dari pagi hingga malam, maaf
tidak bisa penulis sebutkan satu persatu. Terlebih kepada pengurus HIMIS
periode 2014-2015 yang telah memberikan sedikit ruang dari sekretariatnya
untuk penulis sehingga penulis bisa menyelesaikan skripsi ini dengan lancar.
9. Keluarga Besar Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat Fakultas Ilmu
Budaya Kawan-kawan Pengurus Periode 2009-2010 ( Ketua Dera, Kak Indah,
Ibnu, Dodi, Fahri, Fitri, Cuya, Takim, Ika, Putra Jabal, Ketua Hasan, Bobby,
Bg Karo, Tari, Ofi, Budi, Annur, Saddam, Ryan, Maya, Liska) yang selalu
mewarnai dinamika kampus saat penulis kuliah sehingga mendapat banyak
pelajaran yang menambah kedewasaan serta wawasan untuk penulis.
10.Kepada Tim sepakbola dan futsal Fakultas Ilmu Budaya ( Om Zul Kantin,
Mala, Nugi, Eko, Adit, Hendra, Surya, Hero, Patra, Tomo, Freico, Alan, Rudi,
Darma ) dan semua anggota tim yang tidak bisa disebutkan satu persatu yang
telah sama-sama memberikan waktu dan tenaga untuk pencapaian juara
sehingga kita dapat memberikan prestasi terbaik kepada Fakultas Ilmu Budaya
yang kita cintai. Terima kasih juga kebersamaanya selama ini sehingga
v
menghasilkan bakat sepakbola agar prestasi dan nama baik FIB tetap terjaga.
FIB Uyeee!
11.Seluruh rekan Fungsionaris Pemerintahan Mahasiswa USU Periode
2011-2012 yang tidak bisa disebutkan satu persatu terkhusus kepada tiga serangkai
Bang Mitra Presma Usu, Bang Vay Sekjen dan Oki Ferianda Bendum. Terima
kasih banyak atas pengalaman yang saya dapatkan.
Dengan rasa suka cita penulis mohon doa kepada Tuhan Yang Esa agar selalu
diberkati dalam melakukan pekerjaan maupun aktivitas sehari-hari. Sekali lagi
penulis ucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
menyelesaikan skripsi ini.
Penulis menyadari skripsi ini tidak luput dari kekurangan maupun kesalahan,
karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi
kesempurnaan skripsi ini semoga skripsi ini dapat menambah referensi dalam
penulisan sejarah dan menjadi kenangan yang tak terlupakan.
Medan, Maret 2015 Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...i
UCAPAN TERIMAKASIH...ii
DAFTAR ISI...vi
DAFTAR TABEL...viii
ABSTRAK...ix
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah...1
` 1.2 Rumusan Masalah...3
1.3 Tujuan dan Manfaat...4
1.4 Tinjauan Pustaka...6
1.5 Metode Penelitian...7
BAB II LATAR BELAKANG PENYELENGARAAN MARAH HALIM CUP 2.1 Mengenal Sosok Marah Halim...10
2.2 Ide Lahirnya Marah Halim Cup...16
2.3 Marah Halim Cup...19
2.3.1 Marah Halim Cup Sebagai Turnamen Nasional...22
vii
BAB III KOMPETISI DAN PENYELENGGARAAN MARAH HALIM
CUP 1972-1995
3.1 Marah Halim Cup Dekade 1972 – 1979...25
3.2 Marah Halim Cup Dekade 1980 – 1989...74
3.3 Marah Halim Cup Dekade 1990 – 1995...104
3.4 Terhentinya Kompetisi Marah Halim Cup……….123
BAB IV KONTRIBUSI MARAH HALIM CUP TERHADAP SEPAKBOLA DI SUMATERA UTARA 4.1 Pengaruhnya Terhadap Sepakbola di Sumatera Utara...126
4.2 Marah Halim Cup Sebagai Kebanggaan Masyarakat Sumatera Utara...127
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan...132
5.2 Saran...134
DAFTAR PUSTAKA...136
DAFTAR INFORMAN...140
DAFTAR TABEL
ix
ABSTRAK
Skripsi ini berjudul “Marah Halim Cup 1972 – 1995”. Merupakan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui bagaimana proses latar belakang penyelenggaraan turnamen sepakbola yang awalnya diikuti tim-tim di Indonesia menjelma menjadi turnamen internasional yang dijadikan kalender tahunan FIFA dan AFC.
Dalam penelitian ini digunakan metode sebagai acuan dalam penulisan sejarah yaitu heuristik tahap awal yang dilakukan untuk mencari data melalui berbagai sumber tertulis yang relevan dengan penelitian yang dilakukan dan menggunakan penelitian lapangan melalui wawancara. Kemudian kritik sumber merupakan proses yang dilakukan peneliti untuk mencari nilai kebenaran data melalui kritik intern dan ekstern sehingga didapat keobjektifan dalam penelitian, tahap selanjutnya interpretasi melakukan perbandingan dan analisa data terhadap sumber-sumber yang didapat sebelumnya. Metode terakhir yaitu historiografi melakukan pemaparan dan penyusunan hasil-hasil penelitian ke dalam karaya tulis sejarah yang deskriptif analisis.
Pemberian nama “MARAH HALIM CUP” tidak lain sebagai tanda terima kasih masyarakat Olahraga di Sumatera Utara khususnya atas pembinaan Gubernur Sumatera Utara Marah Halim Harahap terhadap semua cabang olahraga terutama sepakbola.
Uniknya turnamen yang dimulai dari tahun 1972-1995 ini belum sekalipun memunculkan juara bertahan tetap atau juara tiga kali berturut-turut untuk mendapatkan piala bergilir, selalu ada saja tim yang dikalahkan jika telat merebut juara dua tahun berturut-turut. Tercatat hanya tiga tim dari Indonesia saja yang berhasil menjadi juara turnamen ini yaitu PSMS, Persija dan Medan Jaya. Selebihnya Piala Marah Halim Cup melanglang buana ke luar negri.
Turnamen Marah Halim Cup sendiri mempunyai andil besar dalam perkembangan sepakbola Indonesia terutama Sumatera Utara. Marah Halim Cup ini pula yang ikut mengangkat prestasi sepak bola Sumatera Utara yang disegani baik di dalam dan luar negeri.
1 BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Dalam beberapa dekade terakhir prestasi sepakbola di Sumatera Utara
semakin menurun. Terakhir kali klub sepakbola Sumatera Utara menjuarai Liga
Perserikatan tahun 1985, dimana liga ini masih belum tergolong profesional. Hal ini
dilihat dari tidak adanya klub sepakbola perwakilan Sumatera Utara di ajang Liga
Super Indonesia yang merupakan kompetisi sepakbola tertinggi di persepakbolaan
Indonesia yang dimulai pada tahun 2008 menggantikan divisi utama1
Sementara itu Sumatera Utara memiliki nama baik tentang persepakbolaan di
era 1970-an. Adapun yang dapat membuktikan reputasi tersebut adalah . Dapat dilihat
hanya klub sepakbola Persatuan Sepakbola Medan dan Sekitarnya (PSMS) yang
bermain di Liga tersebut pada musim kompetisi 2008 dan 2012 setelah itu
terdegradasi ke divisi utama.
Berdasarkan catatan sejarah klub sepakbola, Sumatera Utara tidak pernah
merasakan gelar juara Liga Indonesia sepanjang kompetisi profesional liga sepakbola
Indonesia, PSMS saja pun hanya mampu merebut peringkat kedua pada gelaran liga
Indonesia ke-13 yaitu musim 2007-2008.
1 Liga Indonesia adalah kompetisi sepakbola antarklub profesional di Indonesia. Liga
terselenggaranya turnamen Marah Halim atau yang populer dikenal oleh masyarakat
Indonesia sebagai “MARAH HALIM CUP”. Turnamen ini merupakan yang
terpopuler saat itu dari Indonesia hingga ke tingkat Internasional.
Turnamen yang diselenggarakan pertama kali pada tahun 1972 ini dibidani
oleh Ketua Komisaris Daerah Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI)
Sumatera Utara, Kamarudin Panggabean. Ide realisasi turnamen tersebut
mempertemukan 6 kesebelasan besar PSSI. Pertandingan-pertandingan ini turut
menyemarakkan perayaan hari jadi ke-63 tahun Kota Medan. Selain turut
menyemarakkan perayaan hari jadi Kota Medan turnamen ini bertujuan untuk
meningkatkan mutu persepakbolaan di daerah Sumatera Utara serta membuka mata
para pecinta sepakbola dengan semakin banyaknya peserta yang mengikuti turnamen
ini, sampai pada akhirnya turnamen sepakbola Marah Halim Cup menjadi turnamen
yang berskala internasional.
Pemberian nama “MARAH HALIM CUP” tidak lain sebagai tanda terima
kasih masyarakat olahraga di Sumatera Utara khususnya atas pembinaan Gubernur
Sumatera Utara Marah Halim Harahap terhadap semua cabang olahraga terutama
sepakbola. Pada tahun 1975, Marah Halim diberi penghargaan oleh PSSI sebagai
pembina olahraga terbaik 1974/1975.
Turnamen ini berlangsung dari tahun 1972-1995. Pada tahun pertama
turnamen ini hanya diikuti oleh 6 klub perserikatan PSSI. Setelah melihat kelancaran
dan kesuksesan turnamen ini pada tahun pertama. Pada tahun 1973 Gubernur Marah
3
ketingkat internasional dengan mengundang kesebelasan-kesebelasan dari luar negeri
yaitu Hongkong, Myanmar, Thailand, Singapura dan Malaysia. Puncaknya pada
tahun 1975 turnamen ini diakui menjadi turnamen internasional dan terdaftar menjadi
agenda FIFA.2
Dalam melakukan sebuah penulisan, sudah seharusnya ada yang menjadi
pokok permasalahan yang akan dibahas. Seperti yang diungkapkan oleh Albert Dengan diakui dan terdaftar menjadi agenda FIFA menjadikan
turnamen ini memiliki prestise dan kebanggaan bagi Indonesia secara umum dan
Sumatera Utara secara khususnya.
Dari paparan di atas, tentu menjadi suatu pembahasan yang sangat menarik
untuk diamati dan diteliti perkembangan sejarah Turnamen Marah Halim Cup yang
peranannya pada masa sekarangmulai terlupakan. Bagaimana perjalanan kompetisi
kebanggaan masyarakat Sumatera Utara ini dapat memberikan peranan terhadap
sepakbola di Sumatera Utara. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk menjadikan
turnamen Marah Halim Cup sebagai objek untuk diteliti. Untuk itu, diangkatlah
sebuah judul MARAH HALIM CUP. Adapun skop temporal yang diangkat adalah
sekitar tahun 1972 sampai dengan 1995. Tahun 1972 adalah tahun turnamen ini
dilaksanakan pertama kali. Sedangkan tahun 1995 merupakan batas akhir skop
temporal penelitian sejarah. Hal ini dikarenakan mulai mundurnya turnamen tersebut
dan menjadi tahun terakhir turnamen ini terlaksana.
1.2 Rumusan Masalah
2 FIFA ialah Federation International de Football Asosiciation atau Federasi Sepak bola
Einstein: “Perumusan sebuah permasalahan sering lebih esensial dibandingkan
dengan pemecahannya itu sendiri”. Rumusan masalah merupakan alasan mengapa
sebuah penelitian dilakukan, dan petunjuk yang mengarahkan tujuan
penelitian.3
1. Bagaimana latar belakang terlaksananya Turnamen MARAH HALIM
CUP ?
Pokok permasalahan ini sangat penting karena menjadi landasan dan dasar
sebuah penelitian. Dengan adanya pokok permasalahan akan sangat membantu
peneliti agar penelitian yang dilakukan menjadi terarah dan tepat sasaran sesuai
dengan objek yang telah ditentukan.
Adapun yang menjadi pokok permasalahan dalam penulisan ini adalah
sebagai berikut:
2. Bagaimana penyelenggaraan MARAH HALIM CUP selama tahun 1972-
1995 ?
3. Mengapa Turnamen MARAH HALIM CUP tidak lagi dilaksanakan sejak
tahun1996 ?
4. Bagaimana kontribusi MARAH HALIM CUP terhadap perkembangan
dan prestasi sepakbola di Sumatera Utara ?
1.3 Tujuan dan Manfaat
Dalam melakukan sebuah penulisan tentang Sejarah Turnamen Marah Halim
Cup 1972-1995 ini tentu mempunyai tujuan dan manfaat yang dapat diberikan kepada
5
pembaca dan seluruh jajaran sejarahwan serta akademisi dan masyarakat Sumatera
Utara. Adapun tujuannya antara lain:
1. Menjelaskan latar belakang terlaksananya Turnamen Marah Halim Cup.
2. Menjelaskan penyelenggaraan Marah Halim Cup selama 1972 – 1995
3. Menjelaskan Turnamen Marah Halim Cup tidak terlaksana sejak tahun
1996
4. Menjelaskan kontribusi Marah Halim Cup terhadap sepakbola di Sumatera
Utara.
Adapun manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah:
1. Mendukung perkembangan ilmu pengetahuan terutama dalam penulisan
sejarah olahraga dewasa ini, khususnya sepakbola.
2. Memperkaya khasanah penelitian sejarah olahraga, khususnya sejarah
sepakbola di Sumatera Utara.
3. Sebagai sumber informasi untuk meneliti bagi para akademisi, sejarahwan,
dan masyarakat bahwa sepakbola memiliki peranan lain, selain sebagai
olahraga manusia juga sebagai kebanggaan masyarakat.
4. Sebagai sumber informasi peneliti lain apabila membahas tentang sejarah
olahraga khususnya sepakbola, maupun perkembangan sepakbola di
1.4 Tinjauan Pustaka
Ketika kita menulis karya ilmiah, maka diperlukanlah beberapa literatur untuk
mendukung penulisan tersebut. Literatur-literatur itulah yang peneliti sebut dengan
tinjauan pustaka. Tinjauan adalah literatur yang relevan dan memiliki keterkaitan
secara dekat dengan pokok permasalahan yang akan ditulis. Tinjauan pustaka berisi
tentang uraian-uraian yang mengarahkan penulis betapa pentingnya literatur sehingga
digunakan sebagai sumber acuan yang menimbulkan ide, sumber informasi dan
pendukung penelitian. Adapun literatur yang digunakan untuk mendukung penelitian
ini adalah sebagai berikut :
Srie Agustina Palupi bukunya “Politik dan Sepakbola di Jawa, 1920-1942
tahun 2004” menguraikan awal masuknya sepakbola ke Indonesia pada zaman
kolonial serta perkembangannya dan proses terbentuknya induk organisasi sepakbola
indonesia yaitu PSSI. Selain itu buku ini juga mengkaitkan perkembangan sepakbola
di Jawa pada masa kolonialisme dengan nasionalisme di mana sepakbola bisa
memperjuangkan nasionalisme serta digunakan sebagai sarana untuk meningkatkan
harga diri bangsa Indonesia.
Sorip Harahap bukunya “Sejarah Olahraga Sumatera Utara tahun 1992 Buku
ini menceritakan perkembangan olahraga dan lahirnya organisasi-organisasi olahraga
di Sumatera Utara. Dalam buku ini dinyatakan bahwa organisasi sepakbola sudah ada
sejak masa Hindia Belanda yang ditandai dengan beridirnya Oast Sumatera Voetbal
7
pada 1950 berdirilah PSMS, perserikatan sepakbola kebanggaan kota Medan yang
menjadi salah satu peserta Marah Halim Cup.
1.5 Metode Penelitian
Di dalam suatu penelitian sejarah yang ilmiah pemakaian metode sejarah
sangatlah penting.4 Metode sejarah adalah suatu tahapan yang digunakan dalam
penelitian sejarah ilmiah. Metode sejarah adalah proses menguji dan menganalisa
secara kitis rekaman peninggalan masa lampau.5
1. Heuristik adalah tahapan paling awal dalam metode sejarah. Tahapan ini
peneliti berusaha mengumpulkan sumber atau data melalui dua metode,
yaitu metode kepustakaan ( library research ) dan metode penelitian
lapangan ( field research ). Penelitian dengan metode kepustakaan
bertujuan untuk memperoleh data tertulis melalui buku-buku, arsip, artikel
ataupun sumber tertulis lainnya. Sumber-sumber tertulis tersebut diperoleh
dari artikel koran seperti Waspada yang merekam
pertandingan-pertandingan Marah Halim Cup. Perpustakaan Daerah dan Perpustakaan
Universitas Sumatera Utara. Sedangkan pengumpulan data metode Dengan adanya metode penelitian
dapat menjadi petunjuk peneliti untuk memperoleh sumber-sumber yang relevan
terhadap pokok pembahasan sehingga dapat dipertanggung jawabkan hasilnya.
Adapun tahap-tahap yang harus dilakukan dalam metode sejarah adalah :
4 Kuntowijoyo, Metodologi Sejarah, Yogyakarta: Tiara Wacana, 1994, hlm. 94-97.
5 Louis Gottschalk, Mengerti Sejarah, terjemahan Nugroho Notosusanto, Jakarta: UI Press,
penelitian lapangan dilakukan dengan teknik wawancara terhadap
beberapa informan yang terkait dengan penelitian. Hal ini dapat dilakukan
karena masih terdapatnya beberapa informan yang mengetahui perjalanan
turnamen Marah Halim Cup seperti Nobon Kayamuddin, Parlin Siagian
dan para mantan pemain PSMS tahun 1970-an. Akan digali informasi dari
orang-orang yang menyaksikan turnamen Marah Halim Cup di masa lalu
terutama para wartawan seperti Muhammad TWH dan Habibul
Chair.Dalam rencana penelitian lapangan yang akan dilakukan penulis
akan menggunakan metode wawancara yang terbuka. Wawancara yang
dilakukan ditujukan kepada informan yang berhubungan dengan topik
penelitian.
2. Kritik Sumber adalah tahapan kedua dalam metode sejarah. Pada tahapan
ini peneliti bertugas untuk mengkritik terhadap sumber-sumber yang
diteliti agar peneliti lebih dekat lagi dengan nilai kebenaran dan keaslian
dari sumber yang diperoleh. Dalam melakukan kritik terhadap sumber
dapat dilakukan dengan cara mengcroscheck data dengan menelaah
kembali kebenaran isi atau fakta dari sumber buku, arsip ataupun hasil
wawancara dengan informan, dan kemudia diuji kembali keaslian sumber
tersebut demi menjaga keobjektifan suatu data.
3. Interpretasi adalah tahapan ketiga dalam metode sejarah . pada tahapan ini
peneliti hendaknya menafsirkan data-data yang diperoleh agar menjadi
suatu data yang objektif. Dalam hal ini, peneliti menginterprestasi
9
Dengan adanya interpretasi ini diharapkan dapat menjadi data sementara
sebelum peneliti menuangkannya ke dalam bentuk tulisan.
4. Historiografi adalah tahapan terakhir dalam metode sejarah. Tahapan ini
dapat disebut juga sebagai penulisan laporan. Pada tahap ini, peneliti
menjabarkan secara kronologis dan sistematis fakta-fakta yang diperoleh
agar menghasilkan tulisan yang ilmiah dan bersifat objektif. Pada
penulisan sejarah Marah Halim Cup ini, penulis dalam menjelaskan atau
menerangkan sepakbola tentu memiliki pendekatan tertentu. Dengan
adanya pendekatan ilmiah ini diharapkan dapat memudahkan orang lain
BAB II
LATAR BELAKANG PENYELENGGARAAN MARAH HALIM CUP
2.1 Mengenal Sosok Marah Halim Harahap
Pria dari Tabusira6, Tapanuli Selatan ini, lahir pada 28 Februari 1921. Tahun
1967 Marah Halim dilantik menjadi Gubernur Sumatera Utara. Dia menjadi Gubernur
menggantikan P.R. Telaumbanua7
Setelah lulus sekolah dasar, Marah Halim, anak keempat dari enam
bersaudara, sesungguhnya ingin melanjutkan pendidikan ke sekolah MULO (sekolah
menengah) di Padang Sidempuan. Namun ini semua terkendala karena kemampuan
orangtua yang terbatas. ‘Marsaba di huta
. Orangtua Marah Halim adalah petani biasa.
Ayahnya, Jabbar Harahap adalah seorang petani yang mengusahakan sawah dan
ladang sebagaimana umumnya penduduk kampong Tabusira. Ayahnya adalah
penduduk biasa, tetapi Marah Halim sewaktu kecil adalah seorang anak yang luar
biasa. Di kampungnya memang terdapat sekolah rakyat yang dibangun swadaya oleh
penduduk tetapi kelas tertinggi hanya sampai kelas tiga.
8
6
Tabusira, suatu kampung kecil di Padang Sidempuan yang letaknya dekat dengan perbatasan Sipirok. Dari kampung ini terpapar dibawah sebuah lembah yang indah yang ditengahnya mengalir sungai Aek Batang Tura yang menjadi hulu terjauh dari sungai Barumun. Lembah ini sungguh sangat subur, karena iklim campuran antara berhawa panas (dari Padang Lawas) dan berhawa dingin (dari Sipirok).
7 Telaumbanua lahir di Gunung Sitoli, 30 September 1919. Menyelesaikan pendidikan pada
H.I.S. di Sigumpolon, Tarutung dan pendidikan MULO juga di Sigumpolon dan H.I.K. di Solo, Jawa Tengah dan Sekolah Pendeta di Gunung Sitoli, Nias. Ia terpilih sebagai Gubernur Sumatera Utara pada tahun 1965-1967. Telaumbanua tutup usia pada 16 Februari 1987.1
8 Marsaba di Huta ialah Bahasa Suku Batak Angkola yang berarti bersawah di kampung
tidak berminat, bersekolah yang lebih
11
lalu jalan keluarnya apa?’. Mungkin kegalauan ini menjadi beban pemikiran
tersendiri bagi Marah `Halim. Lantas, Marah Halim terpikir untuk merantau ke Deli
(maksudnya Medan). Pemahaman ini muncul karena Marah Halim sudah banyak
berinteraksi dengan pemuda-pemuda sebaya di luar kempungnya. Pada masa itu,
sudah banyak anak-anak Padang Sidempuan, anak-anak Sipirok dan juga anak-anak
Pargarutan yang telah berhasil di Pematang Siantar dan di Medan. Marah Halim
kemudian bersiap-siap hijrah ke Medan untuk menyusul abangnya nomor dua,
Sjamsoedin yang telah duluan merantau ke Tanah Deli.
Dengan bekal ijazah sekolah dasar, Marah Halim siap rohani dan jasmani
untuk memulai perantauan ke Medan. Dari Sipirok, Marah Halim menumpang bis
Sibualbuali menuju Padang Sidempuan dan dengan bis yang sama dari Padang
Sidempuan menuju Sibolga, lalu Tarutung dan hingga tiba di Pematang Siantar.
Marah Halim tidak sampai ke Medan hanya di Pematang Siantar. Di kota ini Marah
Halim diterima bekerja di perkebunan. Namun sebagai juru tulis bukanlah bakatnya,
karena boleh jadi Marah Halim terbiasa memegang pangkur sejak kecil di
kampungnya. Kemudian sejak pendudukan Jepang, Marah Halim melanjutkan
perantauan ke Medan. Namun situasi Kota Medan saat itu secara sosial ekonomi
tengah memburuk. Di Medan, Marah Halim tinggal bersama abangnya dan kemudian
berminat masuk pelatihan militer Jepang. Setelah proklamasi Agustus 1945
kehidupan Marah Halim tidak menentu. Ketika Belanda kembali, dengan
pengetahuan pelatihan tempur, Marah Halim yang sudah matang di usia jelang 25
Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Sumatra Timur. TKR ini kemudian berganti nama
menjadi Tentara Rakyat Indonesia (TRI). Selama agresi militer Belanda pertama
Marah Halim diangkat sebagai Letnan.
Setelah berakhirnya agresi militer Belanda dan pasca pengakuan kedaulatan
Republik Indonesia (27 Desember 1949), Marah Halim kembali ke ‘pangkalan’ di
Medan dan mulai mengisi pos jajaran militer dengan fungsi staf perwira di wilayah
militer Sumatra Timur di Medan.
Selama Abdul Hakim menjabat sebagai Gubernur Sumatra Utara (25 Januari
1951-23 Oktober 1953), Kapten Marah Halim merupakan satu-satunya perwira
militer yang bebas keluar masuk kapan saja ke rumah sang Gubernur. Marah Halim
dikenal sebagai sosok yang tegas di lingkungan militer tetapi sangat komunikatif
dengan pihak-pihak sipil. Karena itu Abdul Hakim sebagai petinggi sipil tertinggi di
Sumatra Utara tidak sulit menjalin hubungan dengan Marah Halim. Konon,
kemampuan berbicara (mangkobar) yang hebat dari Marah Halim menjadi salah satu
alasan mengapa Marah Halim yang dipilih menjadi hakim militer di Aceh. Marah
Halim pada tahun 1952 ditugaskan untuk menjadi hakim militer di wilayah Aceh di
Kutaradja (kini Banda Aceh).
Nama Marah Halim Harahap mungkin lebih dikenal banyak orang sebagai
gubernur yang mencintai sepakbola. Pada masanya, pesepakbolaan Sumatera Utara
13
Medan Sekitarnya ) menjadi fenomenal. Referensi kebangkitan sepakbola Sumatera
Utara selalu merujuk pada masa ini
Ketika Marah Halim awal mulanya memangku jabatan sebagai Gubernur
Sumatera Utara, keadaan bangsa Indonesia masih belum pulih akibat luka-luka yang
ditimbulkan dari peristiwa Gerakan 30 September. Ia membersihkan pemerintahan
dari unsur komunis. Setelah keadaan terkendali, Marah Halim memulai pembangunan
di Sumatera Utara. Pada masa kepemimpinan Marah Halim Harahap bangunan fisik
di Sumatera Utara cukup meningkat. Hal itu dimungkinkan karena adanya ‘oil boom’
(dana yang cukup besar dari pemerintah pusat)9
Sejatinya pada masa itu rakyat Sumatera Utara sangat mendambakan
kehadiran sosok pemimpin, gubernur kepala daerah yang mampu mengatasi
masalah-masalah yang kompleks di Sumatera Utara. Untuk melancarkan roda pemerintahan . Pada masa itu juga cukup banyak
dibangun gedung olahraga di Sumatera Utara terutama di daerah-daerah tingkat II,
seperti di Tebing Tinggi dan Pematang Siantar.
Krisis kepemimpinan di Sumatera Utara karena akibat peristiwa G30S
merupakan prioritas utama pemikiran wakil-wakil rakyat di DPRD-GR Sumatera
Utara untuk mengambil langkah-langkah strategis sebagai hari depan Sumatera Utara.
Pimpinan di DPRD-GR ketika itu ialah J.H. Hutauruk selaku Dewan Ketua.
9
menuju ketertiban demi hukum dan konstitusi serta menempatkan UUD 1945 dan
Pancasila pada jalan yang benar sesuai dengan cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945.
Maka setelah melalui proses dan mekanisme pemilihan sesuai dengan
peraturan dan perundangan (undang-undang No. 18 Tahun 1965) akhirnya DPRD
(GR) Provinsi Sumatera Utara memilih Kolonel Marah Halim Harahap sebagai
Gubernur Kepala Daerah Provinsi Sumatera Utara.
Tahun pertama Marah Halim sebagai Gubernur Kepala Daerah Tingkat I
Sumatera Utara program beliau lebih menitik-beratkan kepada meningkatkan
komunikasi dan hubungan kerja sama dengan para legislatif serta menggalang tali
silahturahmi dengan Sembilan parpol, ormas pemuda, ulama, tokoh pejuang/
angkatan ’45, seniman dan juga wartawan.
Marah halim lebih banyak mendengar dari mereka-mereka itu untuk biasa
mengetahui masalah-masalah serta situasi perkembangan yang tengah dihadapi oleh
Negara dan Pemerintah Orde Baru.
“Masalah politik menjadi tolak ukur bagi Marah Halim untuk mengklasifikasi sikap golongan-golongan politik mana yang betul-betul dalam pandangannya mengerti akan situasi, di samping golongan-golongan politik yang setengah-setengah tahu tetapi sebenarnya tidak tahu karena mendapat informasi pura-pura tahu. Dan ada tokoh atau golongan yang tidak tahu sama sekali tapi punya semangat yang tinggi”10
Marah Halim sebagai pimpinan pemerintahan daerah mengharapkan sekali
partisipasi masyarakat dan kesadaran masyarakat Sumatera Utara akan tujuan
10 Muhammad TWH, Gubernur Sumatera dan Para Gubernur Sumatera Utara, Medan:
15
pembangunan yang telah dirumuskan oleh Pemerintahan Orde Baru di bawah
pimpinan Presiden Soeharto saat itu. Di samping itu, beliau juga ingin menciptakan
suatu iklim politik yang berorientasi pada pembangunan di Sumatera Utara,
memberikan motivasi kepada pimpinan parpol, ormas pemuda, pimpinan perguruan
tinggi dan organisasi sosial agar dapat mandiri dan bertanggung jawab membangun
Negara ini.
Marah halim juga dapat dikatakan seorang yang anti PKI, berkali-kali dalam
memberikan motivasi kepada masyarakat Sumatera Utara, tidak lupa ia terus
mengajak masyarakat untuk menyingkirkan dan membasmi orang-orang PKI di
Sumatera Utara sembari mengucapkan sumpah serapah kepada PKI yang
pemerintahan Orde Baru anggap sebagai pelaku terjadinya pembantaian misalnya
pada 30 September 1965 atau yang kemudian selama masa pemerintahan Orde Baru
dikenal dengan sebutan G30S-PKI.
Beliau juga rutin melakukan pembinaan dan menggalang kekuatan sosial
politik Orde Baru di daerah Sumatera Utara ini, karena beliau menyadari akan
pentingnya arti dari pembangunan sosial politik tak dapat dipisahkan dari
pembangunan ekonomi.
Muhammad TWH yang mempunyai hubungan cukup dekat dengan Marah
Halim mengatakan, sosok Marah Halim mempunyai pembawaan yang keras dan
terkesan seram. Namun dengan pembawaan seperti itu, menurut Muhammad TWH,
“Dia walaupun keras tapi tetap bersahabat dan enak diajak bercandaan. Bahkan, saat kami bermain tenis sama-sama ia tak jarang mendapat ejekan bercandaan dari kawan-kawannya, tapi tetap saja suasana selalu dapat ia bawa santai,” terang TWH.11
Sejak sebelumnya kegiatan olahraga memang telah memperlihatkan hasil
yang baik. Gubernur Marah Halim hanya tinggal memberi dorongan dan mengadakan
berbagai macam turnamen olahraga, sehingga kegairahan sangat terasa. Turnamen
yang bersifat Nasional diadakan di Medan yang di kenal dengan Turnamen Sepak
Bola Marah Halim Cup yang terus berlangsung kendatipun porsinya berbeda, baik
dari segi peserta maupun dari segi penyelenggaraan, tetapi kemeriahan terasa. Banyak
sekali kegiatan dan prestasi olahraga yang memperlihatkan grafik menaik, di masa
kepemimpinan Marah Halim selama dua periode. 2.2 Ide lahirnya Marah Halim Cup
12
Penabalan Marah Halim Cup tidak lain sebagai tanda terima kasih masyarakat
olahraga di Sumatera Utara khususnya, atas pembinaaan Gubernur Sumatera Utara
Marah Halim Harahap terhadap semua cabang olahraga, terutama sepakbola.
Pada mulanya Marah Halim Cup dicetuskan dan direncanakan hanyalah
sebatas turnamen tingkat daerah di Sumatera Utara. Setelah dilantik sebagai kepala
daerah tingkat I sumatera utara pada tahun 1967, Gubernur Marah Halim menyetujui
diadakannya perebutan kejuaraan Marah Halim Cup di semua daerah tingkat II.
11
Wawancara dengan Muhammad TWH 13 Oktober 2014 di Medan
12 Muhammad TWH, Mengenal Para Gubernur Sumatera Utara 1947-1998, Medan: Biro
17
Kejuaraan tersebut dimulai pada tahun 1970 dengan menetapkan secara bergiliran
tiap ibukota Kabupaten dan Kotamadya sebagai tuan rumah dari cabang olahraga
yang dipertandingkan.13
13 Sorip Harahap & Tim, Sejarah Olahraga Sumatera Utara, Medan: Hasmar, 1991, hlm. 84
Sebagai persiapan untuk menghadapi PON Turnamen Marah Halim ini amat
berguna dalam usaha meningkatkan prestasi para atlit peserta. Kemudian timbul ide
untuk meningkatkan perebutan kejuaraan Marah Halim Cup daerah ke tingkat
nasional. Pencetus ide ini adalah Ketua Harian KONI Sumatera Utara, Kamaruddin
Panggabean, yang pada masa itu juga menjadi Komisaris Daerah PSSI Sumatera
Utara.
Realisasi ide tersebut pada bulan April tahun 1972 mempertemukan enam
kesebelasan besar PSSI dalam pertandingan-pertandingan yang turut menyemarakkan
perayaan Hari Jadi ke-63 Kota Medan.Setahun berikutnya setelah melihat kelancaran
dan suksesnya pertandingan pada tahun 1972 tersebut, Gubernur Marah Halim
menyambut baik ide untuk meningkatkan Kejuaraan Marah Halim Cup ke tingkat
internasional dengan ikut sertanya kesebelasan luar negeri. Kemudian turnamen ini
akhirnya mempunyai nama resminya di ajang internasional, yaitu “Marah Halim Cup
Football Tournament”.
Selain turut menyemarakkan perayaan Hari Jadi Kota Medan, turnamen ini
bertujuan untuk meningkatkan mutu persepakbolaan di daerah Sumatera Utara
Dengan adanya partisipasi kesebelasan-kesebelasan luar negeri dalam Marah
Halim Cup Football Tournament sekaligus keindahan alam, adat istiadat dan
seni-budaya Sumatera Utara telah diperkenalkan kepada dunia luar, hal itu dapat
mendukung promosi di bidang pariwisata yang pada saat itu tengah digalakkan
dengan giat oleh Pemerintah Pusat.14
14Ibid. hlm. 85
Sejak Turnamen Marah Halim Cup ini bergulir pada tahun 1972, yang waktu
itu hanya diikuti oleh kesebelasan-kesebelasan dalam negeri, perkembangannya dari
tahun ke tahun menunjukkan grafik yang sangat positif. Pada tahun kedua turut
mengambil bahagian dari turnamen ini ialah kesebelasan Malaysia, Singapura,
Hongkong, Muangthai dan Birma, sedangkan pada tahun 1974 muncul Khmer, Korea
dan Jepang.
India, Taiwan dan Australia juga pernah tercatat turut mengambil bahagian
sebagai tim dari luar negeri yang memperbanyak jumlah peserta pada tahun 1976 dan
1977 yang menjadi tiga belas tim dengan enam kesebelasan yang berasal dari klub
Indonesia.
Dari tahun ke tahun, Panitia Penyelenggara berusaha untuk mendatangkan
kesebelasan-kesebelasan tangguh dari luar negeri dengan maksud menyajikan
19
Dari tim dalam negeri tidak selalu dapat diharapkan partisipasinya untuk ikut
serta dikarenakan berbagai halangan, demikian juga dengan tim-tim dari luar negeri
menghadapi hal yang serupa dengan tim lainnya.
Bila pada perebutan kejuaraan Marah Halim Cup tercatat jumlah terbanyak
pada turnamen ke-5 dan ke-6, masing-masing tiga belas tim, angka ini menurun pada
tahun-tahun berikutnya. Hal ini dapat dilihat sejak turnamen Marah Halim Cup ke-13
yang hanya berjumlah enam peserta. Pada tahun 1988 sampai dengan 1991 jumlah
pesertanya menjadi delapan tim.
2.3 Marah Halim Cup
Sejak turnamen dimulai untuk memperebutkan Piala Marah Halim pada tahun
1972 hingga September 1991 telah berlangsung selama 20 tahun, diikuti oleh 20
kesebelasan dalam negeri dan 24 tim luar negeri. Yang pertama pada tahun 1972
hanya diikuti oleh 6 kesebelasan dalam negeri baru kemudian pada tahun 1973
berikutnya maju selangkah dengan mengikutsertakan 5 tim dari luar negeri.
Dari tahun ke tahun telah diikuti berbagai kesebelasan untuk menyemarakkan
turnamen ini, sebagaimana tercantum dalam daftar yang tertera di bawah ini. Kota
Medan sebagai Tuan rumah penyelenggara pertandingan menampilkan PSMS pada
tahun 1972 dan 1973 sebagai juara pertama 2 kali berturut-turut. Selain PSMS tim
lokal yang juga pernah keluar sebagai peraih trofi adalah Persija Jakarta pada tahun
Dalam urutan di bawah ini tercatat nama-nama kesebelasan Asia yang pernah
menjuarai Marah Halim Football Tournament seperti Birma, Korea, Jepang, Irak,
dengan catatan bahwa Korea terbanyak menjadi juara, yaitu 4 kali. Dari Eropa,
Negeri Belanda dan Jerman Barat tampil sebagai tim terkuat yang menjuarai Marah
Halim Cup, sedang kesebelasan Australia juga pernah memboyong Piala Marah 2 kali
ke negara Kangguru.
Penyelenggaraan turnamen Piala Marah Halim berlangsung tiap tahun, kecuali
pada tahun 1987 dan 1990. Untuk jelasnya di bawah ini diuraikan kesebelasan para
21
No Waktu penyelengaraan Peserta Juara I Juara II Juara III
01
28 Agustus - 5 September 1991
16 April - 24 April 1995
Tabel. 1 Daftar Peraih Juara Marah Halim Cup 1972 – 199515
2.3.1. Marah Halim Cup sebagai Turnamen Nasional
Setelah pelantikan Kepala Daerah Tingkat I Sumatera Utara pada tahun 1967
sebagai tonggak awal dimulainya Turnamen Marah Halim Cup melalui persetujuan
Gubernur Marah Halim Harahap yang diadakan di Seluruh Daerah Tingkat II Di
Sumatera Utara. Kejuaran ini dimulai pada awalnya 1970 sebagai persiapan untuk
menghadapi pekan olahraga nasional (PON) serta untuk meningkatkan prestasi
atlet-atlet SUMUT peserta PON.
Melihat antusiasme atlit sepakbola maka timbul ide Ketua Harian KONI
SUMUT Kamaruddin Panggabean yang pada saat itu juga menjadi Ketua PSSI
Sumatera Utara untuk menjadikan turnamen ini sebagai perebutan turnamen tingkat
nasional, yang diikuti oleh 6 klub perserikatan PSSI yaitu PSMS Medan, Persija
Jakarta, Persib Bandung, Persebaya Surabaya, PSM Makassar dan Persema Malang.
2.3.2 Marah Halim Cup sebagai Turnamen Internasional
Pada tahun kedua turut mengambil bahagian kesebelasan Malaysia,
Singapura, Hongkong, Muangthai dan Birma, sedang pada tahun 1974 muncul
Kamboja, Korea Selatan dan Jepang.
India, Taiwan dan Australia tercatat sebagai Tim Luar Negeri yang turut
memperbanyak jumlah peserta pada tahun 1976 dan 1977 yang menjadi 13
23
penyelenggaraan turnamen ke-4 Marah Halim cup sejak 1975 memperoleh
pengesahan dari Asian Football Confederation atau AFC dan Federation
Internationale de Football Association (FIFA). Hal itu membuktikan adanya
kepercayaaan atas turnamen ini dari federasi internasional yang, membawahi dan
menilai turnamen sepakbola diberbagai negara di dunia.
Dari tahun ke tahun panitia penyelenggaraan berusaha untuk mendatangkan
kesebelasan-kesebelasan tangguh dari luar negeri dengan maksud menyajikan
pertandingan yang bermutu guna menarik penonton sebanyak-banyaknya sekaligus
untuk meningkatkan kualitas sepakbola di dalam negeri. Dengan adanya partisipasi
kesebelasan-kesebelasan luar negeri dalam Marah Halim Cup Football Tournament
sekaligus keindahan alam, adat istiadat dan seni-budaya Sumatera Utara turut pula
diperkenalkan kepada dunia luar, hal itu dapat mendukung promosi di bidang
pariwisata yang pada saat itu tengah digalakkan dengan giat oleh Pemerintah Pusat.
Sejak tahun 1974 Turnamen Marah Halim ini sudah terdaftar sebagai
turnamen resmi federasi sepakbola dunia FIFA. Halim Panggabean, mantan Pengurus
PSMS dan juga merupakan anak dari Kamarrudin Panggabean mengatakan bahwa
tingkat kepopuleran sepakbola Sumut mulai semakin meningkat di dalam negeri
karena adanya Marah Halim Cup.
“Gubernur Marah Halim termasuk penggila bola, dia selalu mengatakan
biarlah kalah dalam pertandingan lain asalkan jangan kalah main sepakbola,”
Tujuan utama Marah Halim menyelenggarakan ajang ini ialah untuk
merangsang pesepakbolaan Sumatera Utara agar dapat berprestasi di tingkat
internasional. Untuk itulah maka, sepanjang turnamen ini bergulir PSMS selalu
diikutsertakan sebagai salah satu peserta Tuan rumah.
Suksesnya Turnamen Marah Halim Cup yang bertaraf internasional semakin
membangkitkan gairah Marah Halim untuk memancing bakat-bakat olahraga lainnya
di Sumatera Utara untuk dapat berprestasi kelak di level internasional. Maka itu,
kemudian dibuatlah Marah Halim Cup antarkabupaten yang mempertandingkan
beberapa cabang olahraga, antara lain bola voli, badminton, atletik, dan lain-lain
25 BAB III
KOMPETISI DAN PENYELENGGARAAN MARAH HALIM CUP 1972 - 1995
3.1 Marah Halim Cup Dekade 1972 – 1979
Turnamen ini pertama kali diadakan pada april 1972 dengan mempertemukan
6 perserikatan kesebelasan besar PSSI yang turut menyemarakkan hari jadi Kota
Medan ke-63. Sebagai tempat berlangsungnya pertandingan, Stadion Teladan16
Turnamen Marah Halim ini sendiri menyediakan tiga buah Piala untuk
diberikan kepada masing-masing juara 1, 2, dan 3. Piala-piala tersebut dihiasi dengan
balutan emas murni untuk juara pertama dan kedua, sedangkan untuk trofi peserta
semifinal terbaik dibalut oleh perak murni. Trofi-trofi itu disponsori oleh beberapa
majalah yaitu, Madjalah Selecta, Madjalah Stop, Dan Madjalah Senang.
di
Medan terpilih menjadi tempat berlangsungnya turnamen ini. Inilah awal dari
dimulainya turnamen Marah Halim Cup yang pada tahun-tahun selanjutnya
meningkatkan keikutsertaan peserta dari luar negeri untuk menyajikan pertandingan
yang bermutu guna menarik penonton sebanyak-banyaknya.
17
16Stadion Teladan didirikan yang awal tujuannya untuk melengkapi arena olahraga pada pesta
pekan olahraga nasional ke III di Medan pada tahun 1953. Dalam perkembangannya pihak pengelola stadion memberikan hak pakai pinjaman dalam setiap pertandingan sepakbola PSMS Medan sebagai tim yang mewakili kota Medan dan Sumatera Utara. Pembangunan stadion Teladan memakan waktu 8 bulan. Stadion berkapasitas 30.000 tempat duduk, dengan memakan biaya 7 juta rupiah, sebuah jumlah yang cukup besar saat itu.
Acara pembukaan atau Open Ceremonial turnamen Marah Halim ini diadakan
pada 7 April dengan dihadiri oleh Komandan Upacara Letkol B. Hutasuhut. BA serta
sebagai Inspektur Upacara yaitu Gubernur Sumut, Marah Halim Harahap. Acara ini
diramaikan dengan defile keenam tim peserta turnamen yang diiringi oleh Pleton
Musik ‘Bukit Barisan’ dan ‘Brimob Men. V’. Para defile tersebut diterima langsung
oleh Gubernur Marah HalimHarahap sebagai Inspektur Upacara di tribun kehormatan
Stadion Teladan Medan.
Sementara itu Walikota Medan Sukarni juga turut hadir dalam acara
pembukaan dan memberikan pidato ‘Selamat Datang’ kepada semua peserta
sekaligus turut juga memberikan pidato dalam rangka perayaan Hari Jadi Kota Medan
ke 63. Turnamen Marah Halim Cup yang pertama ini memang disengaja
diselenggarakan tepat bersamaan dengan Hari Lahir Kota Medan.
Laga pertama dimulai di Pool A antara kesebelasan tuan rumah PSMS Medan
melawan Persema Malang. Pertandingan ini berakhir dengan kemenangan tipis bagi
PSMS (1-0), satu-satunya gola pada pertandingan itu dicetak oleh Parlin Siagian pada
menit ke-25 babak pertama. Dalam laga ini PSMS mendominasi jalannya
pertandingan, banyak peluang tercipta namun kurang tenang dalam penyelesaiannya.
Masih dari Pool A, pertandingan kedua PSMS yaitu melawan PSM yang
menjadi tim unggulan untuk menjuarai turnamen Mahal ini. PSM berhasil unggul
lebih dulu di babak pertama lewat tendangan penalti setelah bek PSMS, Zulham,
27
tersebuttidak berlangsung lama, selang beberapa menit kemudian PSMS langsung
membalasnya lewat tendangan terukur dari Anwar Udjang. Skor imbang 1-1 pun
bertahan hingga akhir pertandingan, sehingga kedua tim harus puas dengan membawa
satu poin saja.
Dari Pool B pertandingan perdana yaitu antara Persija melawan Persib,
pertandingan ini menghidangkan permainan bola-bola pendek yang mengasikkan.
Pada babak pertama kesebelasan Persib lebih mendominasi dari Persija, kiper Persija,
Nukman, berkali-kali melakukan penyelamatan gemilang.
Babak kedua permainan Persija lebih berkembang, klimaksnya terjadi dimenit
79 ketika Bob Parmadi, gelandang kiri tim Persija berhasil melesakkan gol ke
gawang Persib Bandung. Persija pun akhirnya berhasil memenangi pertandingan
pertamanya. Persib kembali melakoni pertandingan keduanya melawan Persebaya.
Dalam pertandingan ini Persib benar-benar diluluhlantakkan oleh lawannya.
Persebaya berhasil mencetak gol pertama pada menit ke-4 oleh gelandang kiri
Artono. Gol ini menjadi satu-satunya gol yang terjadi di babak pertama.
Di babak kedua Persebaya kembali menguasai jalannya pertandingan.
Terbukti Persebaya tak tanggung-tanggung membukukan dua gol di babak kedua ini
lewat sepasang gol Ahmad Kadir. Skor 3-0 pun bertahan hingga peluit akhir
pertandingan dibunyikan. Kekalahan telak ini tak pelak membuat malu seluruh staf
Setelah masing-masing tim memainkan seluruh pertandingannya maka
didapatkanlah 2 tim dari kedua grup yang berhak lolos ke babak semifinal. Dari Grup
A PSMS sebagai juara bertahan maju ke babak selanjutnya ditemani oleh Persema.
Persebaya dan Persija menjadi wakil dari Grup B yang lolos ke babak semifinal untuk
berhadapan dengan lawan-lawan dari Grup A.
Pertandingan semifinal antara PSMS dan Persija berlangsung sangat alot.
Walaupun bermain dengan tekanan penuh dari pendukung tuan rumah Persija tetap
tampil percaya diri dan berulang kali merepotkan barisan pertahanan PSMS. Namun
keberuntungan lebih berpihak kepada tim tuan rumah, di awal babak pertama
tepatnya menit ke-4 PSMS berhasil memanfaatkan kelengahan barisan pertahanan
Persija. Adalah Parlin yang membuat gol cepat tersebut. Sampai akhir pertandingan
skor tetap bertahan 1-0 untuk kemenangan tim tuan rumah. PSMS pun berhak melaju
ke final menanti pemenang antara Persema melawan Persebaya.
Persebaya akhirnya menyusul ke final untuk menantang tim tuan rumah
PSMS setelah sukses mengkandaskan perlawanan dari Persema dengan skor tipis 1-0.
Gol tunggal dalam pertandingan ini dicetak oleh Guntur pada menit ke 73. Partai final
antara PSMS dan Persebaya digelar pada 16 April 1972 di Stadion Teladan.
Pertandingan final Marah Halim Cup antara PSMS dengan Persebaya berjalan
sangat menarik dan menegangkan. Kedua kesebelasan bermain dengan tempo yang
cukup tinggi. Sunaryo dan Sukiman, yang menjadi andalan lini belakang PSMS
29
dimotori oleh Ngurah Ray dan Jacob Sisahale.18
Setelah tertinggal lewat gol Tarmilin, Persebaya berusaha mati-matian
mengepung barisan pertahanan PSMS. Untungnya Ronny Paslah kembali bermain
sangat baik dalam pertandingan ini, berkali-kali dia berhasil menahan tembakan para
pemain Persebaya dari gawangnya. Tapi nampaknya setelah serangan bertubi-tubi
yang dilancarkan hanya tinggal menunggu waktu saja bagi Persebaya untuk dapat
menciptakan gol. Hal ini menjadi kenyataan ketika pada menit ke-35 Hartono (nomor
punggung 6) berhasil melesakkan gol ke gawang PSMS yang dijaga Ronny Paslah.
Babak pertama pun berakhir dengan skor imbang (1-1).
Pada menit ke-5, berawal dari
serangan balik, PSMS berhasil mencuri gol lewat kerjasama apik antara Parlin yang
memberi passing akurat kepada Tarmilin, dan sukses dikonversi menjadi gol oleh
penyerang PSMS itu. Menurut pengamat, gol dari Tarmilin itu merupakan gol
tercantik selama turnamen ini berlangsung.
19
Babak kedua PSMS bermain lebih beringas, petaka bagi Persebaya terjadi
pada menit ke-50 ketika Nobon berhasil membuat PSMS kembali unggul, skor pun
berubah menjadi 2-1. Setelah gol kedua PSMS ini pertandingan jadi tambah
memanas, ditandai dengan banyaknya tekel-tekel keras dan benturan-benturan kepala
yang terjadi di lapangan. Wasit Salam Sunarjo yang memimpin pertandingan ini
berkali-kali juga harus menghentikan pertandingan. PSMS akhirnya berhasil
mengunci kemenangan mereka lewat gol kedua dari Nobon di menit ke 78. Skor 3-1
untuk kemenangan PSMS ini bertahan hingga akhir pertandingan. Tim berjuluk
“Ayam Kinantan” akhirnya sukses mencatat sejarah sebagai tim yang pertama kali
menjuarai Turnamen Marah Halim dan berhak menggondol Piala berbalut emas yang
telah disiapkan oleh Panitia Penyelenggara.
Grup A
1. PSMS Medan
2. PSM Makasar
3. Persema Malang
Grup B
1. Persija Jakarta
2. Persib Bandung
3. Persebaya Surabaya
Adapun hasil seluruh pertandingan Marah Halim Cup pertama sebagai berikut:
• babak penyisihan
07 April 1972 PSMS Medan VS Persema Malang 1-0
08 April 1972 Persija Jakarta VS Persib Bandung 1-0
09 April 1972 PSMS Medan VS PSM Makasar 1-1
10 April 1972 Persebaya Surabaya VS Persib Bandung 3-0
11 April 1972 Persema Malang VS PSM Makasar 2-1
31
Grup A
No Tim Main Menang Seri Kalah Selisih Gol Poin
1 PSMS 2 1 1 - 2-1 3
2 Persema 2 1 - 1 2-2 2
3 PSM 2 - 1 1 2-3 1
Grup B
No Tim Main Menang Seri Kalah Selisih Gol Poin
1 Persebaya 2 1 1 - 4-1 3
2 Persija 2 1 1 - 2-1 3
3 Persib 2 - - 2 0-4 0
• SEMIFINAL
13 April 1972 PSMS Medan VS Persija Jakarta 1-0
14 April 1972 Persebaya Surabaya VS Persema Malang 1-0
JUARA III & IV
15 April 1972 Persija Jakarta VS Persema Malang 4-1 • FINAL
JUARA I & II
Turnamen sepakbola Marah Halim Cup ke-2 Yang memperebutkan sebuah
piala emas yang bernilai 3 juta rupiah pada tanggal 11 April 1973 secara resmi dibuka
langsung oleh Gubernur Sumatera Utara Marah Halim. Sebelum gubernur
menyampaikan restu pembukaan turnamen ini lebih dulu diramaikan pertunjukkan
hiburan di Stadion Teladan yang diiringi dengan rangkaian drum band dari seluruh
Sumatera Utara serta diikuti regu pembawa bendera sebanyak 64 buah, sebagai
lambang hari jadi Kota Medan yang ke-64.20
Pertandingan pertama tahun ini dibuka dengan tim tuan rumah dan sang juara
bertahan, PSMS Medan berhadapan dengan Malaysia. Pada pertandingan ini PSMS Mengingat suksesnya tahun pertama turnamen Marah Halim, OC sebagai
penyelenggara memutuskan untuk menambah jumlah tim yang akan bertarung maka
itu untuk tahun ini terdapat 11 tim yang ikut serta meramaikan Turnamen. Tercatat
tim-tim yang berlaga tahun lalu sebagian besar masih diikutsertakan, yaitu PSMS,
Persija, Persib, dan Persebaya, ditambah juga dengan tim lokal lainnya seperti Aceh
dan Ujung Pandang. Yang lebih menarik ialah diundangnya beberapa tim dari luar
negeri untuk berlaga di turnamen ini, mereka antara lain Burma, Malaysia,
Hongkong, Thailand dan Singapura.
Dengan adanya 11 tim maka babak penyisihan dibagi menjadi 3 grup. Grup A
dihuni oleh PSMS, Persib, Malaysia dan Singapura, sedangkan Grup B diisi 3 tim
saja, Persija, Ujung Pandang dan Hongkong. Sedangkan Persebaya, Aceh, Burma dan
Thailand akan saling bertemu di Grup C.
33
berhasil keluar sebagai pemenang dengan skor telak 3-0, meskipun pada saat itu
PSMS tanpa kiper andalan mereka, Ronny Paslah yang masih menderita cedera.
Masing-masing gol PSMS dicetak oleh Sarman Panggabean dan dua gol oleh
Tumsila.21
Akan tetapi Burma berhasil bangkit di pertandingan berikutnya dengan
mencukur tim Aceh 8-1.
Skor lebih telak lagi terjadi pada pertandingan selanjutnya saat Persebaya
Surabaya berhasil menghajar Aceh dengan skor 8-2. Budi Santoso menjadi pemain
terbaik dalam laga itu setelah memborong 4 gol dari delapan gol Persebaya sore itu.
Masih di hari yang sama, tepatnya pada malam hari, Burma yang menjadi favorit
juara pada turnamen ini hanya bisa meraih hasil imbang saat meladeni Thailand.
Burma yang tertinggal lebih dulu akhirnya bisa mencetak gol untuk menyamakan
kedudukan pada menit-menit akhir pertandingan lewat sepakan Zau Min (nomor
punggung 12).
22
Sedangkan Thailand juga berhasil mengalahkan Persebaya
dengan skor 3-2. Dari Grup B Persija masih terlalu tangguh bagi Ujung Pandang dan
Hongkong. Masing-masing kedua tim dibuat takluk oleh tim ibukota tersebut dengan
3-0 (melawan Ujung Pandang) dan 5-0 (melawan Hongkong).23
Setelah seluruh tim menjalani semua pertandingannya maka terdapatlah dua
tim dari masing-masing grup yang lolos ke babak berikutnya. Dari Grup A PSMS
21Ibid.
didampingi Persib, Grup B diwakili oleh Persija dan Ujung Pandang, serta dari Grup
C yaitu Burma dan Thailand/ Muangthai.
Babak Penyisihan :
Grup A : Medan, Bandung, Malaysia dan Singapura
Medan vs Malaysia : 3-0
Bandung vs Singapura : 3-3
Malaysia vs Singapura : 3-5
Medan vs Bandung : 1-0
Medan vs Singapura : 2-0
Medan vs Malaysia : 2-0
Grup B : Jakarta, Ujung Pandang dan Hongkong
Ujung Pandang vs Jakarta : 0-3
Jakarta vs Hongkong : 5-0
Grup C : Surabaya, Aceh, Burma dan Thailand
Surabaya vs Aceh : 8-2
Thailand vs Burma : 1-1
Burma vs Aceh : 8-1
Surabaya vs Thailand : 3-3
Aceh vs Thailand : 1-2
35
Grup D : Bandung, Jakarta dan Thailand
Bandung vs Thailand : 1-1
Jakarta vs Thailand : 2-1
Bandung vs Jakarta : 0-0
Grup E : Medan, Burma dan Ujung Pandang
Burma vs Ujung Pandang : 2-1
Medan vs Ujung Pandang : 3-1
Grup D
No Tim Main Menang Seri Kalah Selisih Gol Poin
1 Medan 2 1 1 - 3-1 3
2 Burma 2 1 1 - 2-1 3
3 Ujung Pandang 2 - - 2 2-3 0
Grup E
No Tim Main Menang Seri Kalah Selisih Gol Poin
1 Jakarta 2 1 1 - 2-1 3
2 Bandung 2 - 2 - 1-1 2
3 Thailand 2 - 1 1 2-3 1
SEMIFINAL
Medan vs Bandung : 4-1
Jakarta vs Burma : 1-0
FINAL
JUARA III & IV
Burma vs Bandung : 4-1
JUARA I & II
37
Tahun 1974 Marah Halim Cup tetap diadakan dan lebih kompetitif dari
tahun-tahun sebelumnya. Masih tetap disemarakkan oleh tim-tim dari luar negeri seperti
Singapura, Thailand serta empat tim luar negeri yang baru ikut turnamen ini untuk
pertama kalinya, Jepang, Kamboja, Vietnam, dan Korea Selatan.
Myanmar atau Burma pada waktu itu tidak ikut serta dalam turnamen ini lagi
setelah pada tahun sebelumnya terkena kasus pemukulan terhadap wasit asal
Singapura pada salah satu pertandingan Marah Halim Cup tahun 1973, namun hal ini
berlainan dengan konfirmasi langusng dari pihak Burma yang menyatakan mereka
tidak ikut serta dalam turnamen karena pemainnya banyak yang menjadi pegawai
negeri.
Turnamen jilid ketiga ini dibuka tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, di
mana Gubernur Marah Halim sendiri langsung datang ke stadion Teladan dan
menendang bola ke gawang sebagai tanda resmi dibukanya turnamen tersebut.
Meskipun begitu acara pembukaan tetap meriah dan ditandai dengan pidato yang
turut memakai bahasa Inggris.
Pertandingan demi pertandingan dalam Marah Halim Cup yang ketiga ini
diwarnai intrik-intrik kericuhan. Misalnya baku hantam antara pemain Vietnam
dengan Korea Selatan di babak pendahuluan turnamen, juga bentrok pemain PSMS,
Tumsila, dengan pemain Persebaya, Jacob Sihasale serta Didiek.
Perseteruan tidak hanya terjadi antara PSMS dengan Persebaya, namun juga
bermula dari ragu-ragunya hakim garis Polinaidu menganulir gol dari pemain PSMS
yang jelas saat itu sudah berada pada posisi offside. Kapten Vietnam, Nguen Van
Mon, mengajukan keberatan kepada wasit atas hal itu. Namun ketika sang wasit
berkonsultasi dengan Polinaidu mereka malah mengesahkan gol tersebut. Selepas
pertandingan pelatih Vietnam pun melampiaskan kekecewaannya dengan menyatakan
“kalau begini caranya, tahun depan kami pikir-pikir dulu untuk ikut lagi”.
Untuk pertandingan final antara PSMS dengan kesebelasan Jepang,
Kamaruddin Panggabean selaku panitia acara turnamen diliputi rasa kesal karena
PSMS sang juara bertahan dipaksa takluk oleh tim matahari terbit itu. Anak
asuhannya tak berjaya mempertahankan piala Marah Halim, setelah melewati
perpanjangan waktu 2 x 15 menit hingga adu penalti dengan skor akhir 3-2 untuk
Jepang.
Setelah pertandingan ini berakhir, M. Syarifuddin selaku Humas OC
memberikan komentar “Pak Gubernur memang lebih senang jika piala itu dibawa ke
Jepang, dengan diboyongnya Piala Marah itu paling tidak Sumatera Utara sudah
dikenal di sana (Jepang)”. Berikut adalah hasil-hasil pertandingan dari fase
penyisihan grup sampai final Piala Marah Halim ketiga Tahun 1974:
Grup A : Medan, Bandung, Vietnam, dan Singapura
Medan vs Bandung : 2-0
Vietnam vs Singapura : 3-1
39
Medan vs Vietnam : 2-2
Bandung vs Vietnam : 0-3
Medan vs Singapura : 6-1
Grup B : Aceh, Ujung Pandang, Jepang, dan Kamboja
Ujung Pandang vs Kamboja : 0-2
Aceh vs Jepang : 0-2
Kamboja vs Aceh : 0-3
Ujung Pandang vs Jepang : 1-6
Aceh vs Ujung Pandang : 1-2
Jepang vs Kamboja : 4-0
Grup C : Surabaya, Irian Jaya, Korea, dan Thailand
Irian Jaya vs Thailand : 0-4
Surabaya vs Korea : 0-0
Irian Jaya vs Korea : 0-3
Thailand vs Surabaya : 1-1
Surabaya vs Irian Jaya : 7-0
Korea vs Thailand : 1-1
Grup A
No Tim Main Menang Seri Kalah Selisih Gol Poin
1 Medan 3 2 1 - 10-3 5
2 Vietnam 3 2 1 - 8-3 5
3 Bandung 3 1 - 2 10-5 2
Grup B
Grup D : Medan, Ujung Pandang, dan Surabaya
Surabaya vs Ujung Pandang : 1-2
Ujung Pandang vs Medan : 1-1
Medan vs Surabaya : 2-1
Grup E : Vietnam, Jepang, dan Thailand
41
Grup E
No Tim Main Menang Seri Kalah Selisih Gol Poin
1 Jepang 2 2 - - 3-0 4
2 Thailand 2 1 - 1 3-2 2
3 Vietnam 2 - - 2 0-4 0
SEMIFINAL
Medan vs Thailand : 3-2
Jepang vs Ujung Pandang : 3-1
JUARA III & IV
Ujung Pandang vs Thailand : 14-13
FINAL
JUARA I & II
Jepang vs Medan : 4-3
MARAH HALIM CUP Ke-IV 1975
Grup A : Medan, Taiwan, Bandung, Singapura, dan India
Medan vs Taiwan : 6-3
Bandung vs Singapura : 6-0
Singapura vs India : 2-5
Medan vs Bandung : 1-0
Taiwan vs India : 0-2
Medan vs Singapura : 1-1
India vs Bandung : 1-0
Taiwan vs Singapura : 0-2
India vs Medan : 3-1
Grup B : Ujung Pandang, Thailand, Surabaya, Australia, dan Jepang
Ujung Pandang vs Thailand : 2-2
Surabaya vs Australia : 1-4
Jepang vs Ujung Pandang : 1-0
Australia vs Thailand : 2-1
Jepang vs Surabaya : 1-2
Ujung Pandang vs Australia : 2-1
Jepang vs Thailand : 2-3
Surabaya vs Ujung Pandang : 3-1
Jepang vs Australia : 2-4
Surabaya vs Thailand : 2-3
Grup C : Aceh, Jakarta, Malaysia, dan Korea
Aceh vs Jakarta : 0-2
Malaysia vs Korea : 0-2
Jakarta vs Korea : 1-1
Malaysia vs Aceh : 2-2
Aceh vs Korea : 0-3
43
Grup D : Korea, Thailand, dan India
Korea vs Thailand : 2-1
Thailand vs India : 1-0
India vs Korea : 0-3
Grup E : Australia, Medan, dan Jakarta
Jakarta vs Australia : 1-2
Australia vs Medan : 2-0
SEMIFINAL
Korea vs Medan : 1-0
Australia vs Thailand : 3-1
JUARA III & IV
Medan vs Thailand : 3-1
FINAL
JUARA I & II
Australia vs Korea : 2-0
Grup D
No Tim Main Menang Seri Kalah Selisih Gol Poin
1 Korea 2 2 - - 5-1 4
2 Thailand 2 1 - 1 2-1 2
3 India 2 - - 2 0-4 0
Grup E
No Tim Main Menang Seri Kalah Selisih Gol Poin
1 Australia 2 2 - - 4-1 4
2 Medan 2 1 - 1 2-3 2
45
Kejuaraan Marah Halim Cup ke-V pada Jumat sore, 30 April 1976 resmi
dibuka langsung oleh Gubsu Marah Halim dalam suatu upacara yang meriah dan
menarik. Dalam pidatonya, Gubsu menghimbau kepada khalayak masyarakat agar
dapat menjaga nama baik dan menjadi tuan rumah yang baik kepada para tamunya.
Sebelumnya telah juga menyampaikan laporan yaitu Ketua O.C Mahal Cup
ke-V, Kamaruddin Panggabean yang mengatakan bahwa segala persiapan untuk
kejuaraan ini telah dilaksanakan dengan sempurna. Dilaporkan juga dalam gelaran
turnamen tahun ini diikuti oleh 13 kesebelasan, 6 dari dalam negeri dan 7 dari luar
negeri atau internasional. Kejuaraan Mahal Cup ke-V ini direncanakan berlangsung
sampai tanggal 16 Mei dengan catatan tidak ada satupun pertandingan pada tanggal
14 Mei.
Kesebelasan PSMS akhirnya bisa menggulingkan Persija Jakarta dengan skor
3-2.24
Babak kedua perlawanan masing-masing tim mulai sengit. Budi Riva lagi-lagi
menjadi momok yang menakutkan bagi para pemain PSMS. Ia berhasil
memanfaatkan kemelut di depan gawang PSMS dan langsung melesakkan tendangan
keras ke arah gawang Surury, Persija kembali memimpin 2-1.
Pertandingan ini sendiri sempat tertunda lebih satu jam karena lapangan
stadion tergenang air. Persija berhasil memimpin lebih dulu pada menit ke-3 lewat
pemain nomor 11, Budi Riva. Lebih kurang 10 menit setelah gol pertama Persija,
PSMS baru bisa menyamakan kedudukan lewat tendangan bebas Zulkarnain. Skor
imbang 1-1 pun bertahan sampai waktu turun minum.
Baru lebih kurang 15 menit berikutnya PSMS berhasil membuat skor imbang
lagi 2-2 lewat sebuah tendangan dari Deddy yang cukup keras setelah mendapatkan
umpan dari pemain belakang Suparjo. Setelah gol tersebut kedua tim sama-sama
mendapatkan banyak peluang untuk mencetak gol lebih banyak lagi. Barulah pada
menit ke-83 gol penentu kemenangan PSMS pun tercipta lewat penyerang mereka
Parlin Siagian. Parlin berhasil mengecoh pemain belakang Persija yang sudah
melakukan blunder karena menyangka Parlin berada pada posisi offside. Para pemain
Persija pun seakan tak terima dengan keputusan wasit, Kiper Persija, Rake menjadi
pemain yang tak terima dengan keputusan hakim garis asal Malaysia, Kebal Singh.
Namun begitu, wasit yang memimpin pertandingan tetap melihat itu adalah sebuah
gol, PSMS akhirnya menang 3-2 atas tim ‘Macan Kemayoran” itu.
Kesebelasan Persebaya Surabaya telah membuat debut cukup baik dalam
pertandingannya yang pertama dalam turnamen Marah Halim Cup ke-V. Mereka
berhasil mencukur kesebelasan Aceh dengan skor 5-0 (3-0).25
Persebaya berhasil mencetak gol pertama mereka pada menit-5 lewat
tendangan cantik Budi Santoso. Aceh sebenarnya berusaha keluar dari tekanan
Persebaya, namun petaka bagi Aceh kembali terjadi pada menit ke-35, adalah
Selamet Purnomo yang berhasil membungkam para pendukung kesebelasan Aceh. Kesebelasan Aceh
dibuat tidak berdaya menghadapi kelincahan barisan penyerang Persebaya yang
dipimpin oleh Budi Santoso. Tim Aceh yang semula diharapkan dapat memberikan
permainan yang berimbang ternyata sampai akhir tidak banyak berkutik.