• Tidak ada hasil yang ditemukan

Marah Halimcup 1972 -1995

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Marah Halimcup 1972 -1995"

Copied!
176
0
0

Teks penuh

(1)

MARAH

HALIM

CUP

1972

1995

SKRIPSI SARJANA

DIKERJAKAN

O

L

E

H

NAMA

: Eri Arianto

NIM

: 080706032

DEPARTEMEN SEJARAH

FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(2)
(3)

i

LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING SKRIPSI

MARAH HALIM CUP 1972 -1995

SKRIPSI SARJANA Dikerjakan

O L E H

ERI ARIANTO 080706032 Pembimbing

NIP. 19570711985031003 Drs. Wara Sinuhaji, M.Hum

Skripsi ini diajukan kepada panitia ujian Fakultas Ilmu Budaya USU Medan, untuk melengkapi salah satu syarat ujian Sarjana Fakultas Ilmu Budaya dalam bidang Ilmu Sejarah.

DEPARTEMEN SEJARAH

FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(4)

LEMBAR PERSETUJUAN UJIAN SKRIPSI

MARAH HALIM CUP 1972 – 1995

Yang diajukan oleh :

Nama : Eri Arianto Nim : 080706032

Telah disetujui untuk diujikan dalam ujian skripsi oleh: Pembimbing,

Dr. Wara Sinuhaji. M.Hum NIP. 19570711985031003

Tanggal

Ketua Departemen Sejarah

Drs. Edi Sumarno. M. Hum NIP. 196409221989031001

Tanggal

DEPARTEMEN SEJARAH

FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(5)

iii

LEMBAR PERSETUJUAN KETUA DEPARTEMEN SEJARAH

Disetujui Oleh :

FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

DEPARTEMEN SEJARAH

Ketua Departemen,

Drs. Edi Sumarno, M. Hum

NIP 196409221989031001

(6)

LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI OLEH DEKAN DAN PANITIA UJIAN

PENGESAHAN Diterima oleh:

Panitia ujian Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara untuk melengkapi salah satu syarat ujian Sarjana Sastra

dalam bidang Ilmu Sejarah pada Fakultas Ilmu Budaya USU Medan

Pada :

Hari :

Tanggal :

Fakultas Ilmu Budaya USU Dekan,

NIP 195110131976031001 Dr. Syahron Lubis. M.A.

Panitia Ujian:

No. Nama Tanda Tangan

1. Drs. Edi Sumarno, M. Hum ( )

2. Dra. Nurhabsyah, M.Si ( )

3. Drs. Wara Sinuhaji, M.Hum ( )

4. Dra. Farida Hanum Ritonga, MSP ( )

(7)

i

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kita ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah

memberikan rahmat serta hidayah-Nya kepada kita. Hingga saat ini penulis masih

diberikan rezeki yang berlimpah ruah, sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini.

Adapun skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan program sarjana

pada Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.Skripsi

ini berjudul,

MARAH HALIM CUP 1972 – 1995

, dalam skripsi ini, penulis membahas mengenai turnamen sepakbola serta latar belakang lahirnya turnamen ini,

dimulai pada tahun 1972 hingga tahun 1995.

Penulis menyadari skripsi ini belum sempurna, oleh karena itu dengan rendah

hati penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca untuk penyempurnaan

skripsi ini. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi pembaca, khususnya bagi penulis

sendiri.

Medan, Maret 2015

Penulis

(8)

UCAPAN TERIMA KASIH

Puji dan syukur penulis ucapkan ke hadirat Allah SWT yang telah

memberikan rahmat, karunia, kesehatan, kesempatan, kekuatan dan kasih sayang

sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini

Dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih atas

bantuan tenaga, pikiran, serta bimbingan yang telah diberikan dalam menyelesaikan

skripsi ini, kepada yang terhormat:

1. Bapak Dr. Syahron Lubis, M.A. selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya

Universitas Sumatera Utara, beserta Pembantu Dekan I Dr. M. Husnan Lubis,

M.A, Pembantu Dekan II Drs. Samsul Tarigan, dan Pembantu Dekan III Drs.

Yuddi Adrian Muliadi, M.A, berkat bantuan dan fasilitas yang penulis peroleh

di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara, maka penulis dapat

menyelesaikan studi.

2. Bapak Drs. Edi Sumarno, sebagai Ketua Departemen Sejarah Fakultas Ilmu

Budaya USU dan juga kepada Ibu Dra. Nurhabsyah, Msi, sebagai Sekretaris

Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya USU yang telah banyak

memberikan nasihat dan motivasi selama penulis kuliah.

3. Terkhusus untuk Alm. Bapak Drs. Indera M.Hum, sebagai dosen penasehat

akademik penulis yang telah banyak memberi nasihat dan arahannya bagi

(9)

iii

penulis tidak bisa bertemu dengan bapak sampai selesai kuliah, semoga bapak

tenang dan tersenyum disana.

4. Bapak Drs. Wara Sinuhaji, M.Hum. selaku dosen pembimbing yang selalu

mengingatkan penulis agar cepat menyelesaikan skripsi ini dan meluangkan

waktu untuk berdiskusi serta memberi masukan dengan penulis guna

membantu dalam penyelesaian penulisan skripsi ini.

5. Bapak/Ibu dosen Fakultas Ilmu Budaya USU khususnya di Departemen

Sejarah, terima kasih banyak ilmu yang diberikan semoga dapat penulis

amalkan dan juga kepada Abang Amperawira selaku Tata Usaha Departemen

Sejarah ( terima kasih atas nasehat dan arahannya )

6. Kepada Orangtua penulis, mungkin tanpa mereka saya tidak hadir dan ada di

dunia ini Ayahanda Ucik Harianto dan Ibunda Erlina yang telah melahirkan,

merawat, membesarkan, mendidik dan selalu menyayangi penulis dengan

penuh cinta dan kasih sayang. Kedua kakak tersayang ( Kurniawati dan Sri

Wahyuni ), Keponakan yang lucu dan imut Myisha, Syahdu dan Fathan (

semoga menjadi anak berbakti ) dan seluruh keluarga besar yang selalu

memberikan nasihat dan semangat.

7. Saudara-saudaraku seangkatan 2008 (Albert, Alpian, Artono, Azis, Cahaya,

Deni, Dewi, Edyta, Eko, Elegus, Erni, Evi, Fahmi, Frider, Glorika, Hotman,

Husein, Iqbal, Jans, Jakob, Johannes, Kuasa, Mangihut, Novita, Puspita, Putri,

Rihanna, Royandi, Suranta, Weni, Wilman, Yani, Yogi, Yuni ) terkhusus

kepada Arenda dan Resti yang selama ini selalu banyak memberikan

(10)

Seperjuangan Marco Limbong yang sama-sama berjuang di detik-detik akhir

kuliah, terima kasih atas kebersamaan yang kita lewati semasa kuliah. Semoga

kita semua sukses dan berguna bagi semua orang.

8. Seluruh kawan-kawan Himpunan Mahasiswa Ilmu Sejarah USU dari

abang-abang senior maupun adik-adik junior yang selama ini menemani penulis

bercerita, berdiskusi hingga canda dan tawa dari pagi hingga malam, maaf

tidak bisa penulis sebutkan satu persatu. Terlebih kepada pengurus HIMIS

periode 2014-2015 yang telah memberikan sedikit ruang dari sekretariatnya

untuk penulis sehingga penulis bisa menyelesaikan skripsi ini dengan lancar.

9. Keluarga Besar Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat Fakultas Ilmu

Budaya Kawan-kawan Pengurus Periode 2009-2010 ( Ketua Dera, Kak Indah,

Ibnu, Dodi, Fahri, Fitri, Cuya, Takim, Ika, Putra Jabal, Ketua Hasan, Bobby,

Bg Karo, Tari, Ofi, Budi, Annur, Saddam, Ryan, Maya, Liska) yang selalu

mewarnai dinamika kampus saat penulis kuliah sehingga mendapat banyak

pelajaran yang menambah kedewasaan serta wawasan untuk penulis.

10.Kepada Tim sepakbola dan futsal Fakultas Ilmu Budaya ( Om Zul Kantin,

Mala, Nugi, Eko, Adit, Hendra, Surya, Hero, Patra, Tomo, Freico, Alan, Rudi,

Darma ) dan semua anggota tim yang tidak bisa disebutkan satu persatu yang

telah sama-sama memberikan waktu dan tenaga untuk pencapaian juara

sehingga kita dapat memberikan prestasi terbaik kepada Fakultas Ilmu Budaya

yang kita cintai. Terima kasih juga kebersamaanya selama ini sehingga

(11)

v

menghasilkan bakat sepakbola agar prestasi dan nama baik FIB tetap terjaga.

FIB Uyeee!

11.Seluruh rekan Fungsionaris Pemerintahan Mahasiswa USU Periode

2011-2012 yang tidak bisa disebutkan satu persatu terkhusus kepada tiga serangkai

Bang Mitra Presma Usu, Bang Vay Sekjen dan Oki Ferianda Bendum. Terima

kasih banyak atas pengalaman yang saya dapatkan.

Dengan rasa suka cita penulis mohon doa kepada Tuhan Yang Esa agar selalu

diberkati dalam melakukan pekerjaan maupun aktivitas sehari-hari. Sekali lagi

penulis ucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu

menyelesaikan skripsi ini.

Penulis menyadari skripsi ini tidak luput dari kekurangan maupun kesalahan,

karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi

kesempurnaan skripsi ini semoga skripsi ini dapat menambah referensi dalam

penulisan sejarah dan menjadi kenangan yang tak terlupakan.

Medan, Maret 2015 Penulis

(12)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...i

UCAPAN TERIMAKASIH...ii

DAFTAR ISI...vi

DAFTAR TABEL...viii

ABSTRAK...ix

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah...1

` 1.2 Rumusan Masalah...3

1.3 Tujuan dan Manfaat...4

1.4 Tinjauan Pustaka...6

1.5 Metode Penelitian...7

BAB II LATAR BELAKANG PENYELENGARAAN MARAH HALIM CUP 2.1 Mengenal Sosok Marah Halim...10

2.2 Ide Lahirnya Marah Halim Cup...16

2.3 Marah Halim Cup...19

2.3.1 Marah Halim Cup Sebagai Turnamen Nasional...22

(13)

vii

BAB III KOMPETISI DAN PENYELENGGARAAN MARAH HALIM

CUP 1972-1995

3.1 Marah Halim Cup Dekade 1972 – 1979...25

3.2 Marah Halim Cup Dekade 1980 – 1989...74

3.3 Marah Halim Cup Dekade 1990 – 1995...104

3.4 Terhentinya Kompetisi Marah Halim Cup……….123

BAB IV KONTRIBUSI MARAH HALIM CUP TERHADAP SEPAKBOLA DI SUMATERA UTARA 4.1 Pengaruhnya Terhadap Sepakbola di Sumatera Utara...126

4.2 Marah Halim Cup Sebagai Kebanggaan Masyarakat Sumatera Utara...127

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan...132

5.2 Saran...134

DAFTAR PUSTAKA...136

DAFTAR INFORMAN...140

(14)

DAFTAR TABEL

(15)

ix

ABSTRAK

Skripsi ini berjudul “Marah Halim Cup 1972 – 1995”. Merupakan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui bagaimana proses latar belakang penyelenggaraan turnamen sepakbola yang awalnya diikuti tim-tim di Indonesia menjelma menjadi turnamen internasional yang dijadikan kalender tahunan FIFA dan AFC.

Dalam penelitian ini digunakan metode sebagai acuan dalam penulisan sejarah yaitu heuristik tahap awal yang dilakukan untuk mencari data melalui berbagai sumber tertulis yang relevan dengan penelitian yang dilakukan dan menggunakan penelitian lapangan melalui wawancara. Kemudian kritik sumber merupakan proses yang dilakukan peneliti untuk mencari nilai kebenaran data melalui kritik intern dan ekstern sehingga didapat keobjektifan dalam penelitian, tahap selanjutnya interpretasi melakukan perbandingan dan analisa data terhadap sumber-sumber yang didapat sebelumnya. Metode terakhir yaitu historiografi melakukan pemaparan dan penyusunan hasil-hasil penelitian ke dalam karaya tulis sejarah yang deskriptif analisis.

Pemberian nama “MARAH HALIM CUP” tidak lain sebagai tanda terima kasih masyarakat Olahraga di Sumatera Utara khususnya atas pembinaan Gubernur Sumatera Utara Marah Halim Harahap terhadap semua cabang olahraga terutama sepakbola.

Uniknya turnamen yang dimulai dari tahun 1972-1995 ini belum sekalipun memunculkan juara bertahan tetap atau juara tiga kali berturut-turut untuk mendapatkan piala bergilir, selalu ada saja tim yang dikalahkan jika telat merebut juara dua tahun berturut-turut. Tercatat hanya tiga tim dari Indonesia saja yang berhasil menjadi juara turnamen ini yaitu PSMS, Persija dan Medan Jaya. Selebihnya Piala Marah Halim Cup melanglang buana ke luar negri.

Turnamen Marah Halim Cup sendiri mempunyai andil besar dalam perkembangan sepakbola Indonesia terutama Sumatera Utara. Marah Halim Cup ini pula yang ikut mengangkat prestasi sepak bola Sumatera Utara yang disegani baik di dalam dan luar negeri.

(16)

1 BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Dalam beberapa dekade terakhir prestasi sepakbola di Sumatera Utara

semakin menurun. Terakhir kali klub sepakbola Sumatera Utara menjuarai Liga

Perserikatan tahun 1985, dimana liga ini masih belum tergolong profesional. Hal ini

dilihat dari tidak adanya klub sepakbola perwakilan Sumatera Utara di ajang Liga

Super Indonesia yang merupakan kompetisi sepakbola tertinggi di persepakbolaan

Indonesia yang dimulai pada tahun 2008 menggantikan divisi utama1

Sementara itu Sumatera Utara memiliki nama baik tentang persepakbolaan di

era 1970-an. Adapun yang dapat membuktikan reputasi tersebut adalah . Dapat dilihat

hanya klub sepakbola Persatuan Sepakbola Medan dan Sekitarnya (PSMS) yang

bermain di Liga tersebut pada musim kompetisi 2008 dan 2012 setelah itu

terdegradasi ke divisi utama.

Berdasarkan catatan sejarah klub sepakbola, Sumatera Utara tidak pernah

merasakan gelar juara Liga Indonesia sepanjang kompetisi profesional liga sepakbola

Indonesia, PSMS saja pun hanya mampu merebut peringkat kedua pada gelaran liga

Indonesia ke-13 yaitu musim 2007-2008.

1 Liga Indonesia adalah kompetisi sepakbola antarklub profesional di Indonesia. Liga

(17)

terselenggaranya turnamen Marah Halim atau yang populer dikenal oleh masyarakat

Indonesia sebagai “MARAH HALIM CUP”. Turnamen ini merupakan yang

terpopuler saat itu dari Indonesia hingga ke tingkat Internasional.

Turnamen yang diselenggarakan pertama kali pada tahun 1972 ini dibidani

oleh Ketua Komisaris Daerah Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI)

Sumatera Utara, Kamarudin Panggabean. Ide realisasi turnamen tersebut

mempertemukan 6 kesebelasan besar PSSI. Pertandingan-pertandingan ini turut

menyemarakkan perayaan hari jadi ke-63 tahun Kota Medan. Selain turut

menyemarakkan perayaan hari jadi Kota Medan turnamen ini bertujuan untuk

meningkatkan mutu persepakbolaan di daerah Sumatera Utara serta membuka mata

para pecinta sepakbola dengan semakin banyaknya peserta yang mengikuti turnamen

ini, sampai pada akhirnya turnamen sepakbola Marah Halim Cup menjadi turnamen

yang berskala internasional.

Pemberian nama “MARAH HALIM CUP” tidak lain sebagai tanda terima

kasih masyarakat olahraga di Sumatera Utara khususnya atas pembinaan Gubernur

Sumatera Utara Marah Halim Harahap terhadap semua cabang olahraga terutama

sepakbola. Pada tahun 1975, Marah Halim diberi penghargaan oleh PSSI sebagai

pembina olahraga terbaik 1974/1975.

Turnamen ini berlangsung dari tahun 1972-1995. Pada tahun pertama

turnamen ini hanya diikuti oleh 6 klub perserikatan PSSI. Setelah melihat kelancaran

dan kesuksesan turnamen ini pada tahun pertama. Pada tahun 1973 Gubernur Marah

(18)

3

ketingkat internasional dengan mengundang kesebelasan-kesebelasan dari luar negeri

yaitu Hongkong, Myanmar, Thailand, Singapura dan Malaysia. Puncaknya pada

tahun 1975 turnamen ini diakui menjadi turnamen internasional dan terdaftar menjadi

agenda FIFA.2

Dalam melakukan sebuah penulisan, sudah seharusnya ada yang menjadi

pokok permasalahan yang akan dibahas. Seperti yang diungkapkan oleh Albert Dengan diakui dan terdaftar menjadi agenda FIFA menjadikan

turnamen ini memiliki prestise dan kebanggaan bagi Indonesia secara umum dan

Sumatera Utara secara khususnya.

Dari paparan di atas, tentu menjadi suatu pembahasan yang sangat menarik

untuk diamati dan diteliti perkembangan sejarah Turnamen Marah Halim Cup yang

peranannya pada masa sekarangmulai terlupakan. Bagaimana perjalanan kompetisi

kebanggaan masyarakat Sumatera Utara ini dapat memberikan peranan terhadap

sepakbola di Sumatera Utara. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk menjadikan

turnamen Marah Halim Cup sebagai objek untuk diteliti. Untuk itu, diangkatlah

sebuah judul MARAH HALIM CUP. Adapun skop temporal yang diangkat adalah

sekitar tahun 1972 sampai dengan 1995. Tahun 1972 adalah tahun turnamen ini

dilaksanakan pertama kali. Sedangkan tahun 1995 merupakan batas akhir skop

temporal penelitian sejarah. Hal ini dikarenakan mulai mundurnya turnamen tersebut

dan menjadi tahun terakhir turnamen ini terlaksana.

1.2 Rumusan Masalah

2 FIFA ialah Federation International de Football Asosiciation atau Federasi Sepak bola

(19)

Einstein: “Perumusan sebuah permasalahan sering lebih esensial dibandingkan

dengan pemecahannya itu sendiri”. Rumusan masalah merupakan alasan mengapa

sebuah penelitian dilakukan, dan petunjuk yang mengarahkan tujuan

penelitian.3

1. Bagaimana latar belakang terlaksananya Turnamen MARAH HALIM

CUP ?

Pokok permasalahan ini sangat penting karena menjadi landasan dan dasar

sebuah penelitian. Dengan adanya pokok permasalahan akan sangat membantu

peneliti agar penelitian yang dilakukan menjadi terarah dan tepat sasaran sesuai

dengan objek yang telah ditentukan.

Adapun yang menjadi pokok permasalahan dalam penulisan ini adalah

sebagai berikut:

2. Bagaimana penyelenggaraan MARAH HALIM CUP selama tahun 1972-

1995 ?

3. Mengapa Turnamen MARAH HALIM CUP tidak lagi dilaksanakan sejak

tahun1996 ?

4. Bagaimana kontribusi MARAH HALIM CUP terhadap perkembangan

dan prestasi sepakbola di Sumatera Utara ?

1.3 Tujuan dan Manfaat

Dalam melakukan sebuah penulisan tentang Sejarah Turnamen Marah Halim

Cup 1972-1995 ini tentu mempunyai tujuan dan manfaat yang dapat diberikan kepada

(20)

5

pembaca dan seluruh jajaran sejarahwan serta akademisi dan masyarakat Sumatera

Utara. Adapun tujuannya antara lain:

1. Menjelaskan latar belakang terlaksananya Turnamen Marah Halim Cup.

2. Menjelaskan penyelenggaraan Marah Halim Cup selama 1972 – 1995

3. Menjelaskan Turnamen Marah Halim Cup tidak terlaksana sejak tahun

1996

4. Menjelaskan kontribusi Marah Halim Cup terhadap sepakbola di Sumatera

Utara.

Adapun manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah:

1. Mendukung perkembangan ilmu pengetahuan terutama dalam penulisan

sejarah olahraga dewasa ini, khususnya sepakbola.

2. Memperkaya khasanah penelitian sejarah olahraga, khususnya sejarah

sepakbola di Sumatera Utara.

3. Sebagai sumber informasi untuk meneliti bagi para akademisi, sejarahwan,

dan masyarakat bahwa sepakbola memiliki peranan lain, selain sebagai

olahraga manusia juga sebagai kebanggaan masyarakat.

4. Sebagai sumber informasi peneliti lain apabila membahas tentang sejarah

olahraga khususnya sepakbola, maupun perkembangan sepakbola di

(21)

1.4 Tinjauan Pustaka

Ketika kita menulis karya ilmiah, maka diperlukanlah beberapa literatur untuk

mendukung penulisan tersebut. Literatur-literatur itulah yang peneliti sebut dengan

tinjauan pustaka. Tinjauan adalah literatur yang relevan dan memiliki keterkaitan

secara dekat dengan pokok permasalahan yang akan ditulis. Tinjauan pustaka berisi

tentang uraian-uraian yang mengarahkan penulis betapa pentingnya literatur sehingga

digunakan sebagai sumber acuan yang menimbulkan ide, sumber informasi dan

pendukung penelitian. Adapun literatur yang digunakan untuk mendukung penelitian

ini adalah sebagai berikut :

Srie Agustina Palupi bukunya “Politik dan Sepakbola di Jawa, 1920-1942

tahun 2004” menguraikan awal masuknya sepakbola ke Indonesia pada zaman

kolonial serta perkembangannya dan proses terbentuknya induk organisasi sepakbola

indonesia yaitu PSSI. Selain itu buku ini juga mengkaitkan perkembangan sepakbola

di Jawa pada masa kolonialisme dengan nasionalisme di mana sepakbola bisa

memperjuangkan nasionalisme serta digunakan sebagai sarana untuk meningkatkan

harga diri bangsa Indonesia.

Sorip Harahap bukunya “Sejarah Olahraga Sumatera Utara tahun 1992 Buku

ini menceritakan perkembangan olahraga dan lahirnya organisasi-organisasi olahraga

di Sumatera Utara. Dalam buku ini dinyatakan bahwa organisasi sepakbola sudah ada

sejak masa Hindia Belanda yang ditandai dengan beridirnya Oast Sumatera Voetbal

(22)

7

pada 1950 berdirilah PSMS, perserikatan sepakbola kebanggaan kota Medan yang

menjadi salah satu peserta Marah Halim Cup.

1.5 Metode Penelitian

Di dalam suatu penelitian sejarah yang ilmiah pemakaian metode sejarah

sangatlah penting.4 Metode sejarah adalah suatu tahapan yang digunakan dalam

penelitian sejarah ilmiah. Metode sejarah adalah proses menguji dan menganalisa

secara kitis rekaman peninggalan masa lampau.5

1. Heuristik adalah tahapan paling awal dalam metode sejarah. Tahapan ini

peneliti berusaha mengumpulkan sumber atau data melalui dua metode,

yaitu metode kepustakaan ( library research ) dan metode penelitian

lapangan ( field research ). Penelitian dengan metode kepustakaan

bertujuan untuk memperoleh data tertulis melalui buku-buku, arsip, artikel

ataupun sumber tertulis lainnya. Sumber-sumber tertulis tersebut diperoleh

dari artikel koran seperti Waspada yang merekam

pertandingan-pertandingan Marah Halim Cup. Perpustakaan Daerah dan Perpustakaan

Universitas Sumatera Utara. Sedangkan pengumpulan data metode Dengan adanya metode penelitian

dapat menjadi petunjuk peneliti untuk memperoleh sumber-sumber yang relevan

terhadap pokok pembahasan sehingga dapat dipertanggung jawabkan hasilnya.

Adapun tahap-tahap yang harus dilakukan dalam metode sejarah adalah :

4 Kuntowijoyo, Metodologi Sejarah, Yogyakarta: Tiara Wacana, 1994, hlm. 94-97.

5 Louis Gottschalk, Mengerti Sejarah, terjemahan Nugroho Notosusanto, Jakarta: UI Press,

(23)

penelitian lapangan dilakukan dengan teknik wawancara terhadap

beberapa informan yang terkait dengan penelitian. Hal ini dapat dilakukan

karena masih terdapatnya beberapa informan yang mengetahui perjalanan

turnamen Marah Halim Cup seperti Nobon Kayamuddin, Parlin Siagian

dan para mantan pemain PSMS tahun 1970-an. Akan digali informasi dari

orang-orang yang menyaksikan turnamen Marah Halim Cup di masa lalu

terutama para wartawan seperti Muhammad TWH dan Habibul

Chair.Dalam rencana penelitian lapangan yang akan dilakukan penulis

akan menggunakan metode wawancara yang terbuka. Wawancara yang

dilakukan ditujukan kepada informan yang berhubungan dengan topik

penelitian.

2. Kritik Sumber adalah tahapan kedua dalam metode sejarah. Pada tahapan

ini peneliti bertugas untuk mengkritik terhadap sumber-sumber yang

diteliti agar peneliti lebih dekat lagi dengan nilai kebenaran dan keaslian

dari sumber yang diperoleh. Dalam melakukan kritik terhadap sumber

dapat dilakukan dengan cara mengcroscheck data dengan menelaah

kembali kebenaran isi atau fakta dari sumber buku, arsip ataupun hasil

wawancara dengan informan, dan kemudia diuji kembali keaslian sumber

tersebut demi menjaga keobjektifan suatu data.

3. Interpretasi adalah tahapan ketiga dalam metode sejarah . pada tahapan ini

peneliti hendaknya menafsirkan data-data yang diperoleh agar menjadi

suatu data yang objektif. Dalam hal ini, peneliti menginterprestasi

(24)

9

Dengan adanya interpretasi ini diharapkan dapat menjadi data sementara

sebelum peneliti menuangkannya ke dalam bentuk tulisan.

4. Historiografi adalah tahapan terakhir dalam metode sejarah. Tahapan ini

dapat disebut juga sebagai penulisan laporan. Pada tahap ini, peneliti

menjabarkan secara kronologis dan sistematis fakta-fakta yang diperoleh

agar menghasilkan tulisan yang ilmiah dan bersifat objektif. Pada

penulisan sejarah Marah Halim Cup ini, penulis dalam menjelaskan atau

menerangkan sepakbola tentu memiliki pendekatan tertentu. Dengan

adanya pendekatan ilmiah ini diharapkan dapat memudahkan orang lain

(25)

BAB II

LATAR BELAKANG PENYELENGGARAAN MARAH HALIM CUP

2.1 Mengenal Sosok Marah Halim Harahap

Pria dari Tabusira6, Tapanuli Selatan ini, lahir pada 28 Februari 1921. Tahun

1967 Marah Halim dilantik menjadi Gubernur Sumatera Utara. Dia menjadi Gubernur

menggantikan P.R. Telaumbanua7

Setelah lulus sekolah dasar, Marah Halim, anak keempat dari enam

bersaudara, sesungguhnya ingin melanjutkan pendidikan ke sekolah MULO (sekolah

menengah) di Padang Sidempuan. Namun ini semua terkendala karena kemampuan

orangtua yang terbatas. ‘Marsaba di huta

. Orangtua Marah Halim adalah petani biasa.

Ayahnya, Jabbar Harahap adalah seorang petani yang mengusahakan sawah dan

ladang sebagaimana umumnya penduduk kampong Tabusira. Ayahnya adalah

penduduk biasa, tetapi Marah Halim sewaktu kecil adalah seorang anak yang luar

biasa. Di kampungnya memang terdapat sekolah rakyat yang dibangun swadaya oleh

penduduk tetapi kelas tertinggi hanya sampai kelas tiga.

8

6

Tabusira, suatu kampung kecil di Padang Sidempuan yang letaknya dekat dengan perbatasan Sipirok. Dari kampung ini terpapar dibawah sebuah lembah yang indah yang ditengahnya mengalir sungai Aek Batang Tura yang menjadi hulu terjauh dari sungai Barumun. Lembah ini sungguh sangat subur, karena iklim campuran antara berhawa panas (dari Padang Lawas) dan berhawa dingin (dari Sipirok).

7 Telaumbanua lahir di Gunung Sitoli, 30 September 1919. Menyelesaikan pendidikan pada

H.I.S. di Sigumpolon, Tarutung dan pendidikan MULO juga di Sigumpolon dan H.I.K. di Solo, Jawa Tengah dan Sekolah Pendeta di Gunung Sitoli, Nias. Ia terpilih sebagai Gubernur Sumatera Utara pada tahun 1965-1967. Telaumbanua tutup usia pada 16 Februari 1987.1

8 Marsaba di Huta ialah Bahasa Suku Batak Angkola yang berarti bersawah di kampung

tidak berminat, bersekolah yang lebih

(26)

11

lalu jalan keluarnya apa?’. Mungkin kegalauan ini menjadi beban pemikiran

tersendiri bagi Marah `Halim. Lantas, Marah Halim terpikir untuk merantau ke Deli

(maksudnya Medan). Pemahaman ini muncul karena Marah Halim sudah banyak

berinteraksi dengan pemuda-pemuda sebaya di luar kempungnya. Pada masa itu,

sudah banyak anak-anak Padang Sidempuan, anak-anak Sipirok dan juga anak-anak

Pargarutan yang telah berhasil di Pematang Siantar dan di Medan. Marah Halim

kemudian bersiap-siap hijrah ke Medan untuk menyusul abangnya nomor dua,

Sjamsoedin yang telah duluan merantau ke Tanah Deli.

Dengan bekal ijazah sekolah dasar, Marah Halim siap rohani dan jasmani

untuk memulai perantauan ke Medan. Dari Sipirok, Marah Halim menumpang bis

Sibualbuali menuju Padang Sidempuan dan dengan bis yang sama dari Padang

Sidempuan menuju Sibolga, lalu Tarutung dan hingga tiba di Pematang Siantar.

Marah Halim tidak sampai ke Medan hanya di Pematang Siantar. Di kota ini Marah

Halim diterima bekerja di perkebunan. Namun sebagai juru tulis bukanlah bakatnya,

karena boleh jadi Marah Halim terbiasa memegang pangkur sejak kecil di

kampungnya. Kemudian sejak pendudukan Jepang, Marah Halim melanjutkan

perantauan ke Medan. Namun situasi Kota Medan saat itu secara sosial ekonomi

tengah memburuk. Di Medan, Marah Halim tinggal bersama abangnya dan kemudian

berminat masuk pelatihan militer Jepang. Setelah proklamasi Agustus 1945

kehidupan Marah Halim tidak menentu. Ketika Belanda kembali, dengan

pengetahuan pelatihan tempur, Marah Halim yang sudah matang di usia jelang 25

(27)

Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Sumatra Timur. TKR ini kemudian berganti nama

menjadi Tentara Rakyat Indonesia (TRI). Selama agresi militer Belanda pertama

Marah Halim diangkat sebagai Letnan.

Setelah berakhirnya agresi militer Belanda dan pasca pengakuan kedaulatan

Republik Indonesia (27 Desember 1949), Marah Halim kembali ke ‘pangkalan’ di

Medan dan mulai mengisi pos jajaran militer dengan fungsi staf perwira di wilayah

militer Sumatra Timur di Medan.

Selama Abdul Hakim menjabat sebagai Gubernur Sumatra Utara (25 Januari

1951-23 Oktober 1953), Kapten Marah Halim merupakan satu-satunya perwira

militer yang bebas keluar masuk kapan saja ke rumah sang Gubernur. Marah Halim

dikenal sebagai sosok yang tegas di lingkungan militer tetapi sangat komunikatif

dengan pihak-pihak sipil. Karena itu Abdul Hakim sebagai petinggi sipil tertinggi di

Sumatra Utara tidak sulit menjalin hubungan dengan Marah Halim. Konon,

kemampuan berbicara (mangkobar) yang hebat dari Marah Halim menjadi salah satu

alasan mengapa Marah Halim yang dipilih menjadi hakim militer di Aceh. Marah

Halim pada tahun 1952 ditugaskan untuk menjadi hakim militer di wilayah Aceh di

Kutaradja (kini Banda Aceh).

Nama Marah Halim Harahap mungkin lebih dikenal banyak orang sebagai

gubernur yang mencintai sepakbola. Pada masanya, pesepakbolaan Sumatera Utara

(28)

13

Medan Sekitarnya ) menjadi fenomenal. Referensi kebangkitan sepakbola Sumatera

Utara selalu merujuk pada masa ini

Ketika Marah Halim awal mulanya memangku jabatan sebagai Gubernur

Sumatera Utara, keadaan bangsa Indonesia masih belum pulih akibat luka-luka yang

ditimbulkan dari peristiwa Gerakan 30 September. Ia membersihkan pemerintahan

dari unsur komunis. Setelah keadaan terkendali, Marah Halim memulai pembangunan

di Sumatera Utara. Pada masa kepemimpinan Marah Halim Harahap bangunan fisik

di Sumatera Utara cukup meningkat. Hal itu dimungkinkan karena adanya ‘oil boom’

(dana yang cukup besar dari pemerintah pusat)9

Sejatinya pada masa itu rakyat Sumatera Utara sangat mendambakan

kehadiran sosok pemimpin, gubernur kepala daerah yang mampu mengatasi

masalah-masalah yang kompleks di Sumatera Utara. Untuk melancarkan roda pemerintahan . Pada masa itu juga cukup banyak

dibangun gedung olahraga di Sumatera Utara terutama di daerah-daerah tingkat II,

seperti di Tebing Tinggi dan Pematang Siantar.

Krisis kepemimpinan di Sumatera Utara karena akibat peristiwa G30S

merupakan prioritas utama pemikiran wakil-wakil rakyat di DPRD-GR Sumatera

Utara untuk mengambil langkah-langkah strategis sebagai hari depan Sumatera Utara.

Pimpinan di DPRD-GR ketika itu ialah J.H. Hutauruk selaku Dewan Ketua.

9

(29)

menuju ketertiban demi hukum dan konstitusi serta menempatkan UUD 1945 dan

Pancasila pada jalan yang benar sesuai dengan cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945.

Maka setelah melalui proses dan mekanisme pemilihan sesuai dengan

peraturan dan perundangan (undang-undang No. 18 Tahun 1965) akhirnya DPRD

(GR) Provinsi Sumatera Utara memilih Kolonel Marah Halim Harahap sebagai

Gubernur Kepala Daerah Provinsi Sumatera Utara.

Tahun pertama Marah Halim sebagai Gubernur Kepala Daerah Tingkat I

Sumatera Utara program beliau lebih menitik-beratkan kepada meningkatkan

komunikasi dan hubungan kerja sama dengan para legislatif serta menggalang tali

silahturahmi dengan Sembilan parpol, ormas pemuda, ulama, tokoh pejuang/

angkatan ’45, seniman dan juga wartawan.

Marah halim lebih banyak mendengar dari mereka-mereka itu untuk biasa

mengetahui masalah-masalah serta situasi perkembangan yang tengah dihadapi oleh

Negara dan Pemerintah Orde Baru.

“Masalah politik menjadi tolak ukur bagi Marah Halim untuk mengklasifikasi sikap golongan-golongan politik mana yang betul-betul dalam pandangannya mengerti akan situasi, di samping golongan-golongan politik yang setengah-setengah tahu tetapi sebenarnya tidak tahu karena mendapat informasi pura-pura tahu. Dan ada tokoh atau golongan yang tidak tahu sama sekali tapi punya semangat yang tinggi”10

Marah Halim sebagai pimpinan pemerintahan daerah mengharapkan sekali

partisipasi masyarakat dan kesadaran masyarakat Sumatera Utara akan tujuan

10 Muhammad TWH, Gubernur Sumatera dan Para Gubernur Sumatera Utara, Medan:

(30)

15

pembangunan yang telah dirumuskan oleh Pemerintahan Orde Baru di bawah

pimpinan Presiden Soeharto saat itu. Di samping itu, beliau juga ingin menciptakan

suatu iklim politik yang berorientasi pada pembangunan di Sumatera Utara,

memberikan motivasi kepada pimpinan parpol, ormas pemuda, pimpinan perguruan

tinggi dan organisasi sosial agar dapat mandiri dan bertanggung jawab membangun

Negara ini.

Marah halim juga dapat dikatakan seorang yang anti PKI, berkali-kali dalam

memberikan motivasi kepada masyarakat Sumatera Utara, tidak lupa ia terus

mengajak masyarakat untuk menyingkirkan dan membasmi orang-orang PKI di

Sumatera Utara sembari mengucapkan sumpah serapah kepada PKI yang

pemerintahan Orde Baru anggap sebagai pelaku terjadinya pembantaian misalnya

pada 30 September 1965 atau yang kemudian selama masa pemerintahan Orde Baru

dikenal dengan sebutan G30S-PKI.

Beliau juga rutin melakukan pembinaan dan menggalang kekuatan sosial

politik Orde Baru di daerah Sumatera Utara ini, karena beliau menyadari akan

pentingnya arti dari pembangunan sosial politik tak dapat dipisahkan dari

pembangunan ekonomi.

Muhammad TWH yang mempunyai hubungan cukup dekat dengan Marah

Halim mengatakan, sosok Marah Halim mempunyai pembawaan yang keras dan

terkesan seram. Namun dengan pembawaan seperti itu, menurut Muhammad TWH,

(31)

“Dia walaupun keras tapi tetap bersahabat dan enak diajak bercandaan. Bahkan, saat kami bermain tenis sama-sama ia tak jarang mendapat ejekan bercandaan dari kawan-kawannya, tapi tetap saja suasana selalu dapat ia bawa santai,” terang TWH.11

Sejak sebelumnya kegiatan olahraga memang telah memperlihatkan hasil

yang baik. Gubernur Marah Halim hanya tinggal memberi dorongan dan mengadakan

berbagai macam turnamen olahraga, sehingga kegairahan sangat terasa. Turnamen

yang bersifat Nasional diadakan di Medan yang di kenal dengan Turnamen Sepak

Bola Marah Halim Cup yang terus berlangsung kendatipun porsinya berbeda, baik

dari segi peserta maupun dari segi penyelenggaraan, tetapi kemeriahan terasa. Banyak

sekali kegiatan dan prestasi olahraga yang memperlihatkan grafik menaik, di masa

kepemimpinan Marah Halim selama dua periode. 2.2 Ide lahirnya Marah Halim Cup

12

Penabalan Marah Halim Cup tidak lain sebagai tanda terima kasih masyarakat

olahraga di Sumatera Utara khususnya, atas pembinaaan Gubernur Sumatera Utara

Marah Halim Harahap terhadap semua cabang olahraga, terutama sepakbola.

Pada mulanya Marah Halim Cup dicetuskan dan direncanakan hanyalah

sebatas turnamen tingkat daerah di Sumatera Utara. Setelah dilantik sebagai kepala

daerah tingkat I sumatera utara pada tahun 1967, Gubernur Marah Halim menyetujui

diadakannya perebutan kejuaraan Marah Halim Cup di semua daerah tingkat II.

11

Wawancara dengan Muhammad TWH 13 Oktober 2014 di Medan

12 Muhammad TWH, Mengenal Para Gubernur Sumatera Utara 1947-1998, Medan: Biro

(32)

17

Kejuaraan tersebut dimulai pada tahun 1970 dengan menetapkan secara bergiliran

tiap ibukota Kabupaten dan Kotamadya sebagai tuan rumah dari cabang olahraga

yang dipertandingkan.13

13 Sorip Harahap & Tim, Sejarah Olahraga Sumatera Utara, Medan: Hasmar, 1991, hlm. 84

Sebagai persiapan untuk menghadapi PON Turnamen Marah Halim ini amat

berguna dalam usaha meningkatkan prestasi para atlit peserta. Kemudian timbul ide

untuk meningkatkan perebutan kejuaraan Marah Halim Cup daerah ke tingkat

nasional. Pencetus ide ini adalah Ketua Harian KONI Sumatera Utara, Kamaruddin

Panggabean, yang pada masa itu juga menjadi Komisaris Daerah PSSI Sumatera

Utara.

Realisasi ide tersebut pada bulan April tahun 1972 mempertemukan enam

kesebelasan besar PSSI dalam pertandingan-pertandingan yang turut menyemarakkan

perayaan Hari Jadi ke-63 Kota Medan.Setahun berikutnya setelah melihat kelancaran

dan suksesnya pertandingan pada tahun 1972 tersebut, Gubernur Marah Halim

menyambut baik ide untuk meningkatkan Kejuaraan Marah Halim Cup ke tingkat

internasional dengan ikut sertanya kesebelasan luar negeri. Kemudian turnamen ini

akhirnya mempunyai nama resminya di ajang internasional, yaitu “Marah Halim Cup

Football Tournament”.

Selain turut menyemarakkan perayaan Hari Jadi Kota Medan, turnamen ini

bertujuan untuk meningkatkan mutu persepakbolaan di daerah Sumatera Utara

(33)

Dengan adanya partisipasi kesebelasan-kesebelasan luar negeri dalam Marah

Halim Cup Football Tournament sekaligus keindahan alam, adat istiadat dan

seni-budaya Sumatera Utara telah diperkenalkan kepada dunia luar, hal itu dapat

mendukung promosi di bidang pariwisata yang pada saat itu tengah digalakkan

dengan giat oleh Pemerintah Pusat.14

14Ibid. hlm. 85

Sejak Turnamen Marah Halim Cup ini bergulir pada tahun 1972, yang waktu

itu hanya diikuti oleh kesebelasan-kesebelasan dalam negeri, perkembangannya dari

tahun ke tahun menunjukkan grafik yang sangat positif. Pada tahun kedua turut

mengambil bahagian dari turnamen ini ialah kesebelasan Malaysia, Singapura,

Hongkong, Muangthai dan Birma, sedangkan pada tahun 1974 muncul Khmer, Korea

dan Jepang.

India, Taiwan dan Australia juga pernah tercatat turut mengambil bahagian

sebagai tim dari luar negeri yang memperbanyak jumlah peserta pada tahun 1976 dan

1977 yang menjadi tiga belas tim dengan enam kesebelasan yang berasal dari klub

Indonesia.

Dari tahun ke tahun, Panitia Penyelenggara berusaha untuk mendatangkan

kesebelasan-kesebelasan tangguh dari luar negeri dengan maksud menyajikan

(34)

19

Dari tim dalam negeri tidak selalu dapat diharapkan partisipasinya untuk ikut

serta dikarenakan berbagai halangan, demikian juga dengan tim-tim dari luar negeri

menghadapi hal yang serupa dengan tim lainnya.

Bila pada perebutan kejuaraan Marah Halim Cup tercatat jumlah terbanyak

pada turnamen ke-5 dan ke-6, masing-masing tiga belas tim, angka ini menurun pada

tahun-tahun berikutnya. Hal ini dapat dilihat sejak turnamen Marah Halim Cup ke-13

yang hanya berjumlah enam peserta. Pada tahun 1988 sampai dengan 1991 jumlah

pesertanya menjadi delapan tim.

2.3 Marah Halim Cup

Sejak turnamen dimulai untuk memperebutkan Piala Marah Halim pada tahun

1972 hingga September 1991 telah berlangsung selama 20 tahun, diikuti oleh 20

kesebelasan dalam negeri dan 24 tim luar negeri. Yang pertama pada tahun 1972

hanya diikuti oleh 6 kesebelasan dalam negeri baru kemudian pada tahun 1973

berikutnya maju selangkah dengan mengikutsertakan 5 tim dari luar negeri.

Dari tahun ke tahun telah diikuti berbagai kesebelasan untuk menyemarakkan

turnamen ini, sebagaimana tercantum dalam daftar yang tertera di bawah ini. Kota

Medan sebagai Tuan rumah penyelenggara pertandingan menampilkan PSMS pada

tahun 1972 dan 1973 sebagai juara pertama 2 kali berturut-turut. Selain PSMS tim

lokal yang juga pernah keluar sebagai peraih trofi adalah Persija Jakarta pada tahun

(35)

Dalam urutan di bawah ini tercatat nama-nama kesebelasan Asia yang pernah

menjuarai Marah Halim Football Tournament seperti Birma, Korea, Jepang, Irak,

dengan catatan bahwa Korea terbanyak menjadi juara, yaitu 4 kali. Dari Eropa,

Negeri Belanda dan Jerman Barat tampil sebagai tim terkuat yang menjuarai Marah

Halim Cup, sedang kesebelasan Australia juga pernah memboyong Piala Marah 2 kali

ke negara Kangguru.

Penyelenggaraan turnamen Piala Marah Halim berlangsung tiap tahun, kecuali

pada tahun 1987 dan 1990. Untuk jelasnya di bawah ini diuraikan kesebelasan para

(36)

21

No Waktu penyelengaraan Peserta Juara I Juara II Juara III

01

28 Agustus - 5 September 1991

16 April - 24 April 1995

Tabel. 1 Daftar Peraih Juara Marah Halim Cup 1972 – 199515

(37)

2.3.1. Marah Halim Cup sebagai Turnamen Nasional

Setelah pelantikan Kepala Daerah Tingkat I Sumatera Utara pada tahun 1967

sebagai tonggak awal dimulainya Turnamen Marah Halim Cup melalui persetujuan

Gubernur Marah Halim Harahap yang diadakan di Seluruh Daerah Tingkat II Di

Sumatera Utara. Kejuaran ini dimulai pada awalnya 1970 sebagai persiapan untuk

menghadapi pekan olahraga nasional (PON) serta untuk meningkatkan prestasi

atlet-atlet SUMUT peserta PON.

Melihat antusiasme atlit sepakbola maka timbul ide Ketua Harian KONI

SUMUT Kamaruddin Panggabean yang pada saat itu juga menjadi Ketua PSSI

Sumatera Utara untuk menjadikan turnamen ini sebagai perebutan turnamen tingkat

nasional, yang diikuti oleh 6 klub perserikatan PSSI yaitu PSMS Medan, Persija

Jakarta, Persib Bandung, Persebaya Surabaya, PSM Makassar dan Persema Malang.

2.3.2 Marah Halim Cup sebagai Turnamen Internasional

Pada tahun kedua turut mengambil bahagian kesebelasan Malaysia,

Singapura, Hongkong, Muangthai dan Birma, sedang pada tahun 1974 muncul

Kamboja, Korea Selatan dan Jepang.

India, Taiwan dan Australia tercatat sebagai Tim Luar Negeri yang turut

memperbanyak jumlah peserta pada tahun 1976 dan 1977 yang menjadi 13

(38)

23

penyelenggaraan turnamen ke-4 Marah Halim cup sejak 1975 memperoleh

pengesahan dari Asian Football Confederation atau AFC dan Federation

Internationale de Football Association (FIFA). Hal itu membuktikan adanya

kepercayaaan atas turnamen ini dari federasi internasional yang, membawahi dan

menilai turnamen sepakbola diberbagai negara di dunia.

Dari tahun ke tahun panitia penyelenggaraan berusaha untuk mendatangkan

kesebelasan-kesebelasan tangguh dari luar negeri dengan maksud menyajikan

pertandingan yang bermutu guna menarik penonton sebanyak-banyaknya sekaligus

untuk meningkatkan kualitas sepakbola di dalam negeri. Dengan adanya partisipasi

kesebelasan-kesebelasan luar negeri dalam Marah Halim Cup Football Tournament

sekaligus keindahan alam, adat istiadat dan seni-budaya Sumatera Utara turut pula

diperkenalkan kepada dunia luar, hal itu dapat mendukung promosi di bidang

pariwisata yang pada saat itu tengah digalakkan dengan giat oleh Pemerintah Pusat.

Sejak tahun 1974 Turnamen Marah Halim ini sudah terdaftar sebagai

turnamen resmi federasi sepakbola dunia FIFA. Halim Panggabean, mantan Pengurus

PSMS dan juga merupakan anak dari Kamarrudin Panggabean mengatakan bahwa

tingkat kepopuleran sepakbola Sumut mulai semakin meningkat di dalam negeri

karena adanya Marah Halim Cup.

“Gubernur Marah Halim termasuk penggila bola, dia selalu mengatakan

biarlah kalah dalam pertandingan lain asalkan jangan kalah main sepakbola,”

(39)

Tujuan utama Marah Halim menyelenggarakan ajang ini ialah untuk

merangsang pesepakbolaan Sumatera Utara agar dapat berprestasi di tingkat

internasional. Untuk itulah maka, sepanjang turnamen ini bergulir PSMS selalu

diikutsertakan sebagai salah satu peserta Tuan rumah.

Suksesnya Turnamen Marah Halim Cup yang bertaraf internasional semakin

membangkitkan gairah Marah Halim untuk memancing bakat-bakat olahraga lainnya

di Sumatera Utara untuk dapat berprestasi kelak di level internasional. Maka itu,

kemudian dibuatlah Marah Halim Cup antarkabupaten yang mempertandingkan

beberapa cabang olahraga, antara lain bola voli, badminton, atletik, dan lain-lain

(40)

25 BAB III

KOMPETISI DAN PENYELENGGARAAN MARAH HALIM CUP 1972 - 1995

3.1 Marah Halim Cup Dekade 1972 – 1979

Turnamen ini pertama kali diadakan pada april 1972 dengan mempertemukan

6 perserikatan kesebelasan besar PSSI yang turut menyemarakkan hari jadi Kota

Medan ke-63. Sebagai tempat berlangsungnya pertandingan, Stadion Teladan16

Turnamen Marah Halim ini sendiri menyediakan tiga buah Piala untuk

diberikan kepada masing-masing juara 1, 2, dan 3. Piala-piala tersebut dihiasi dengan

balutan emas murni untuk juara pertama dan kedua, sedangkan untuk trofi peserta

semifinal terbaik dibalut oleh perak murni. Trofi-trofi itu disponsori oleh beberapa

majalah yaitu, Madjalah Selecta, Madjalah Stop, Dan Madjalah Senang.

di

Medan terpilih menjadi tempat berlangsungnya turnamen ini. Inilah awal dari

dimulainya turnamen Marah Halim Cup yang pada tahun-tahun selanjutnya

meningkatkan keikutsertaan peserta dari luar negeri untuk menyajikan pertandingan

yang bermutu guna menarik penonton sebanyak-banyaknya.

17

16Stadion Teladan didirikan yang awal tujuannya untuk melengkapi arena olahraga pada pesta

pekan olahraga nasional ke III di Medan pada tahun 1953. Dalam perkembangannya pihak pengelola stadion memberikan hak pakai pinjaman dalam setiap pertandingan sepakbola PSMS Medan sebagai tim yang mewakili kota Medan dan Sumatera Utara. Pembangunan stadion Teladan memakan waktu 8 bulan. Stadion berkapasitas 30.000 tempat duduk, dengan memakan biaya 7 juta rupiah, sebuah jumlah yang cukup besar saat itu.

(41)

Acara pembukaan atau Open Ceremonial turnamen Marah Halim ini diadakan

pada 7 April dengan dihadiri oleh Komandan Upacara Letkol B. Hutasuhut. BA serta

sebagai Inspektur Upacara yaitu Gubernur Sumut, Marah Halim Harahap. Acara ini

diramaikan dengan defile keenam tim peserta turnamen yang diiringi oleh Pleton

Musik ‘Bukit Barisan’ dan ‘Brimob Men. V’. Para defile tersebut diterima langsung

oleh Gubernur Marah HalimHarahap sebagai Inspektur Upacara di tribun kehormatan

Stadion Teladan Medan.

Sementara itu Walikota Medan Sukarni juga turut hadir dalam acara

pembukaan dan memberikan pidato ‘Selamat Datang’ kepada semua peserta

sekaligus turut juga memberikan pidato dalam rangka perayaan Hari Jadi Kota Medan

ke 63. Turnamen Marah Halim Cup yang pertama ini memang disengaja

diselenggarakan tepat bersamaan dengan Hari Lahir Kota Medan.

Laga pertama dimulai di Pool A antara kesebelasan tuan rumah PSMS Medan

melawan Persema Malang. Pertandingan ini berakhir dengan kemenangan tipis bagi

PSMS (1-0), satu-satunya gola pada pertandingan itu dicetak oleh Parlin Siagian pada

menit ke-25 babak pertama. Dalam laga ini PSMS mendominasi jalannya

pertandingan, banyak peluang tercipta namun kurang tenang dalam penyelesaiannya.

Masih dari Pool A, pertandingan kedua PSMS yaitu melawan PSM yang

menjadi tim unggulan untuk menjuarai turnamen Mahal ini. PSM berhasil unggul

lebih dulu di babak pertama lewat tendangan penalti setelah bek PSMS, Zulham,

(42)

27

tersebuttidak berlangsung lama, selang beberapa menit kemudian PSMS langsung

membalasnya lewat tendangan terukur dari Anwar Udjang. Skor imbang 1-1 pun

bertahan hingga akhir pertandingan, sehingga kedua tim harus puas dengan membawa

satu poin saja.

Dari Pool B pertandingan perdana yaitu antara Persija melawan Persib,

pertandingan ini menghidangkan permainan bola-bola pendek yang mengasikkan.

Pada babak pertama kesebelasan Persib lebih mendominasi dari Persija, kiper Persija,

Nukman, berkali-kali melakukan penyelamatan gemilang.

Babak kedua permainan Persija lebih berkembang, klimaksnya terjadi dimenit

79 ketika Bob Parmadi, gelandang kiri tim Persija berhasil melesakkan gol ke

gawang Persib Bandung. Persija pun akhirnya berhasil memenangi pertandingan

pertamanya. Persib kembali melakoni pertandingan keduanya melawan Persebaya.

Dalam pertandingan ini Persib benar-benar diluluhlantakkan oleh lawannya.

Persebaya berhasil mencetak gol pertama pada menit ke-4 oleh gelandang kiri

Artono. Gol ini menjadi satu-satunya gol yang terjadi di babak pertama.

Di babak kedua Persebaya kembali menguasai jalannya pertandingan.

Terbukti Persebaya tak tanggung-tanggung membukukan dua gol di babak kedua ini

lewat sepasang gol Ahmad Kadir. Skor 3-0 pun bertahan hingga peluit akhir

pertandingan dibunyikan. Kekalahan telak ini tak pelak membuat malu seluruh staf

(43)

Setelah masing-masing tim memainkan seluruh pertandingannya maka

didapatkanlah 2 tim dari kedua grup yang berhak lolos ke babak semifinal. Dari Grup

A PSMS sebagai juara bertahan maju ke babak selanjutnya ditemani oleh Persema.

Persebaya dan Persija menjadi wakil dari Grup B yang lolos ke babak semifinal untuk

berhadapan dengan lawan-lawan dari Grup A.

Pertandingan semifinal antara PSMS dan Persija berlangsung sangat alot.

Walaupun bermain dengan tekanan penuh dari pendukung tuan rumah Persija tetap

tampil percaya diri dan berulang kali merepotkan barisan pertahanan PSMS. Namun

keberuntungan lebih berpihak kepada tim tuan rumah, di awal babak pertama

tepatnya menit ke-4 PSMS berhasil memanfaatkan kelengahan barisan pertahanan

Persija. Adalah Parlin yang membuat gol cepat tersebut. Sampai akhir pertandingan

skor tetap bertahan 1-0 untuk kemenangan tim tuan rumah. PSMS pun berhak melaju

ke final menanti pemenang antara Persema melawan Persebaya.

Persebaya akhirnya menyusul ke final untuk menantang tim tuan rumah

PSMS setelah sukses mengkandaskan perlawanan dari Persema dengan skor tipis 1-0.

Gol tunggal dalam pertandingan ini dicetak oleh Guntur pada menit ke 73. Partai final

antara PSMS dan Persebaya digelar pada 16 April 1972 di Stadion Teladan.

Pertandingan final Marah Halim Cup antara PSMS dengan Persebaya berjalan

sangat menarik dan menegangkan. Kedua kesebelasan bermain dengan tempo yang

cukup tinggi. Sunaryo dan Sukiman, yang menjadi andalan lini belakang PSMS

(44)

29

dimotori oleh Ngurah Ray dan Jacob Sisahale.18

Setelah tertinggal lewat gol Tarmilin, Persebaya berusaha mati-matian

mengepung barisan pertahanan PSMS. Untungnya Ronny Paslah kembali bermain

sangat baik dalam pertandingan ini, berkali-kali dia berhasil menahan tembakan para

pemain Persebaya dari gawangnya. Tapi nampaknya setelah serangan bertubi-tubi

yang dilancarkan hanya tinggal menunggu waktu saja bagi Persebaya untuk dapat

menciptakan gol. Hal ini menjadi kenyataan ketika pada menit ke-35 Hartono (nomor

punggung 6) berhasil melesakkan gol ke gawang PSMS yang dijaga Ronny Paslah.

Babak pertama pun berakhir dengan skor imbang (1-1).

Pada menit ke-5, berawal dari

serangan balik, PSMS berhasil mencuri gol lewat kerjasama apik antara Parlin yang

memberi passing akurat kepada Tarmilin, dan sukses dikonversi menjadi gol oleh

penyerang PSMS itu. Menurut pengamat, gol dari Tarmilin itu merupakan gol

tercantik selama turnamen ini berlangsung.

19

Babak kedua PSMS bermain lebih beringas, petaka bagi Persebaya terjadi

pada menit ke-50 ketika Nobon berhasil membuat PSMS kembali unggul, skor pun

berubah menjadi 2-1. Setelah gol kedua PSMS ini pertandingan jadi tambah

memanas, ditandai dengan banyaknya tekel-tekel keras dan benturan-benturan kepala

yang terjadi di lapangan. Wasit Salam Sunarjo yang memimpin pertandingan ini

berkali-kali juga harus menghentikan pertandingan. PSMS akhirnya berhasil

mengunci kemenangan mereka lewat gol kedua dari Nobon di menit ke 78. Skor 3-1

(45)

untuk kemenangan PSMS ini bertahan hingga akhir pertandingan. Tim berjuluk

“Ayam Kinantan” akhirnya sukses mencatat sejarah sebagai tim yang pertama kali

menjuarai Turnamen Marah Halim dan berhak menggondol Piala berbalut emas yang

telah disiapkan oleh Panitia Penyelenggara.

Grup A

1. PSMS Medan

2. PSM Makasar

3. Persema Malang

Grup B

1. Persija Jakarta

2. Persib Bandung

3. Persebaya Surabaya

Adapun hasil seluruh pertandingan Marah Halim Cup pertama sebagai berikut:

• babak penyisihan

07 April 1972 PSMS Medan VS Persema Malang 1-0

08 April 1972 Persija Jakarta VS Persib Bandung 1-0

09 April 1972 PSMS Medan VS PSM Makasar 1-1

10 April 1972 Persebaya Surabaya VS Persib Bandung 3-0

11 April 1972 Persema Malang VS PSM Makasar 2-1

(46)

31

Grup A

No Tim Main Menang Seri Kalah Selisih Gol Poin

1 PSMS 2 1 1 - 2-1 3

2 Persema 2 1 - 1 2-2 2

3 PSM 2 - 1 1 2-3 1

Grup B

No Tim Main Menang Seri Kalah Selisih Gol Poin

1 Persebaya 2 1 1 - 4-1 3

2 Persija 2 1 1 - 2-1 3

3 Persib 2 - - 2 0-4 0

• SEMIFINAL

13 April 1972 PSMS Medan VS Persija Jakarta 1-0

14 April 1972 Persebaya Surabaya VS Persema Malang 1-0

JUARA III & IV

15 April 1972 Persija Jakarta VS Persema Malang 4-1 • FINAL

JUARA I & II

(47)

Turnamen sepakbola Marah Halim Cup ke-2 Yang memperebutkan sebuah

piala emas yang bernilai 3 juta rupiah pada tanggal 11 April 1973 secara resmi dibuka

langsung oleh Gubernur Sumatera Utara Marah Halim. Sebelum gubernur

menyampaikan restu pembukaan turnamen ini lebih dulu diramaikan pertunjukkan

hiburan di Stadion Teladan yang diiringi dengan rangkaian drum band dari seluruh

Sumatera Utara serta diikuti regu pembawa bendera sebanyak 64 buah, sebagai

lambang hari jadi Kota Medan yang ke-64.20

Pertandingan pertama tahun ini dibuka dengan tim tuan rumah dan sang juara

bertahan, PSMS Medan berhadapan dengan Malaysia. Pada pertandingan ini PSMS Mengingat suksesnya tahun pertama turnamen Marah Halim, OC sebagai

penyelenggara memutuskan untuk menambah jumlah tim yang akan bertarung maka

itu untuk tahun ini terdapat 11 tim yang ikut serta meramaikan Turnamen. Tercatat

tim-tim yang berlaga tahun lalu sebagian besar masih diikutsertakan, yaitu PSMS,

Persija, Persib, dan Persebaya, ditambah juga dengan tim lokal lainnya seperti Aceh

dan Ujung Pandang. Yang lebih menarik ialah diundangnya beberapa tim dari luar

negeri untuk berlaga di turnamen ini, mereka antara lain Burma, Malaysia,

Hongkong, Thailand dan Singapura.

Dengan adanya 11 tim maka babak penyisihan dibagi menjadi 3 grup. Grup A

dihuni oleh PSMS, Persib, Malaysia dan Singapura, sedangkan Grup B diisi 3 tim

saja, Persija, Ujung Pandang dan Hongkong. Sedangkan Persebaya, Aceh, Burma dan

Thailand akan saling bertemu di Grup C.

(48)

33

berhasil keluar sebagai pemenang dengan skor telak 3-0, meskipun pada saat itu

PSMS tanpa kiper andalan mereka, Ronny Paslah yang masih menderita cedera.

Masing-masing gol PSMS dicetak oleh Sarman Panggabean dan dua gol oleh

Tumsila.21

Akan tetapi Burma berhasil bangkit di pertandingan berikutnya dengan

mencukur tim Aceh 8-1.

Skor lebih telak lagi terjadi pada pertandingan selanjutnya saat Persebaya

Surabaya berhasil menghajar Aceh dengan skor 8-2. Budi Santoso menjadi pemain

terbaik dalam laga itu setelah memborong 4 gol dari delapan gol Persebaya sore itu.

Masih di hari yang sama, tepatnya pada malam hari, Burma yang menjadi favorit

juara pada turnamen ini hanya bisa meraih hasil imbang saat meladeni Thailand.

Burma yang tertinggal lebih dulu akhirnya bisa mencetak gol untuk menyamakan

kedudukan pada menit-menit akhir pertandingan lewat sepakan Zau Min (nomor

punggung 12).

22

Sedangkan Thailand juga berhasil mengalahkan Persebaya

dengan skor 3-2. Dari Grup B Persija masih terlalu tangguh bagi Ujung Pandang dan

Hongkong. Masing-masing kedua tim dibuat takluk oleh tim ibukota tersebut dengan

3-0 (melawan Ujung Pandang) dan 5-0 (melawan Hongkong).23

Setelah seluruh tim menjalani semua pertandingannya maka terdapatlah dua

tim dari masing-masing grup yang lolos ke babak berikutnya. Dari Grup A PSMS

21Ibid.

(49)

didampingi Persib, Grup B diwakili oleh Persija dan Ujung Pandang, serta dari Grup

C yaitu Burma dan Thailand/ Muangthai.

Babak Penyisihan :

Grup A : Medan, Bandung, Malaysia dan Singapura

Medan vs Malaysia : 3-0

Bandung vs Singapura : 3-3

Malaysia vs Singapura : 3-5

Medan vs Bandung : 1-0

Medan vs Singapura : 2-0

Medan vs Malaysia : 2-0

Grup B : Jakarta, Ujung Pandang dan Hongkong

Ujung Pandang vs Jakarta : 0-3

Jakarta vs Hongkong : 5-0

Grup C : Surabaya, Aceh, Burma dan Thailand

Surabaya vs Aceh : 8-2

Thailand vs Burma : 1-1

Burma vs Aceh : 8-1

Surabaya vs Thailand : 3-3

Aceh vs Thailand : 1-2

(50)

35

Grup D : Bandung, Jakarta dan Thailand

Bandung vs Thailand : 1-1

Jakarta vs Thailand : 2-1

Bandung vs Jakarta : 0-0

Grup E : Medan, Burma dan Ujung Pandang

Burma vs Ujung Pandang : 2-1

Medan vs Ujung Pandang : 3-1

(51)

Grup D

No Tim Main Menang Seri Kalah Selisih Gol Poin

1 Medan 2 1 1 - 3-1 3

2 Burma 2 1 1 - 2-1 3

3 Ujung Pandang 2 - - 2 2-3 0

Grup E

No Tim Main Menang Seri Kalah Selisih Gol Poin

1 Jakarta 2 1 1 - 2-1 3

2 Bandung 2 - 2 - 1-1 2

3 Thailand 2 - 1 1 2-3 1

SEMIFINAL

Medan vs Bandung : 4-1

Jakarta vs Burma : 1-0

FINAL

JUARA III & IV

Burma vs Bandung : 4-1

JUARA I & II

(52)

37

Tahun 1974 Marah Halim Cup tetap diadakan dan lebih kompetitif dari

tahun-tahun sebelumnya. Masih tetap disemarakkan oleh tim-tim dari luar negeri seperti

Singapura, Thailand serta empat tim luar negeri yang baru ikut turnamen ini untuk

pertama kalinya, Jepang, Kamboja, Vietnam, dan Korea Selatan.

Myanmar atau Burma pada waktu itu tidak ikut serta dalam turnamen ini lagi

setelah pada tahun sebelumnya terkena kasus pemukulan terhadap wasit asal

Singapura pada salah satu pertandingan Marah Halim Cup tahun 1973, namun hal ini

berlainan dengan konfirmasi langusng dari pihak Burma yang menyatakan mereka

tidak ikut serta dalam turnamen karena pemainnya banyak yang menjadi pegawai

negeri.

Turnamen jilid ketiga ini dibuka tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, di

mana Gubernur Marah Halim sendiri langsung datang ke stadion Teladan dan

menendang bola ke gawang sebagai tanda resmi dibukanya turnamen tersebut.

Meskipun begitu acara pembukaan tetap meriah dan ditandai dengan pidato yang

turut memakai bahasa Inggris.

Pertandingan demi pertandingan dalam Marah Halim Cup yang ketiga ini

diwarnai intrik-intrik kericuhan. Misalnya baku hantam antara pemain Vietnam

dengan Korea Selatan di babak pendahuluan turnamen, juga bentrok pemain PSMS,

Tumsila, dengan pemain Persebaya, Jacob Sihasale serta Didiek.

Perseteruan tidak hanya terjadi antara PSMS dengan Persebaya, namun juga

(53)

bermula dari ragu-ragunya hakim garis Polinaidu menganulir gol dari pemain PSMS

yang jelas saat itu sudah berada pada posisi offside. Kapten Vietnam, Nguen Van

Mon, mengajukan keberatan kepada wasit atas hal itu. Namun ketika sang wasit

berkonsultasi dengan Polinaidu mereka malah mengesahkan gol tersebut. Selepas

pertandingan pelatih Vietnam pun melampiaskan kekecewaannya dengan menyatakan

“kalau begini caranya, tahun depan kami pikir-pikir dulu untuk ikut lagi”.

Untuk pertandingan final antara PSMS dengan kesebelasan Jepang,

Kamaruddin Panggabean selaku panitia acara turnamen diliputi rasa kesal karena

PSMS sang juara bertahan dipaksa takluk oleh tim matahari terbit itu. Anak

asuhannya tak berjaya mempertahankan piala Marah Halim, setelah melewati

perpanjangan waktu 2 x 15 menit hingga adu penalti dengan skor akhir 3-2 untuk

Jepang.

Setelah pertandingan ini berakhir, M. Syarifuddin selaku Humas OC

memberikan komentar “Pak Gubernur memang lebih senang jika piala itu dibawa ke

Jepang, dengan diboyongnya Piala Marah itu paling tidak Sumatera Utara sudah

dikenal di sana (Jepang)”. Berikut adalah hasil-hasil pertandingan dari fase

penyisihan grup sampai final Piala Marah Halim ketiga Tahun 1974:

Grup A : Medan, Bandung, Vietnam, dan Singapura

Medan vs Bandung : 2-0

Vietnam vs Singapura : 3-1

(54)

39

Medan vs Vietnam : 2-2

Bandung vs Vietnam : 0-3

Medan vs Singapura : 6-1

Grup B : Aceh, Ujung Pandang, Jepang, dan Kamboja

Ujung Pandang vs Kamboja : 0-2

Aceh vs Jepang : 0-2

Kamboja vs Aceh : 0-3

Ujung Pandang vs Jepang : 1-6

Aceh vs Ujung Pandang : 1-2

Jepang vs Kamboja : 4-0

Grup C : Surabaya, Irian Jaya, Korea, dan Thailand

Irian Jaya vs Thailand : 0-4

Surabaya vs Korea : 0-0

Irian Jaya vs Korea : 0-3

Thailand vs Surabaya : 1-1

Surabaya vs Irian Jaya : 7-0

Korea vs Thailand : 1-1

Grup A

No Tim Main Menang Seri Kalah Selisih Gol Poin

1 Medan 3 2 1 - 10-3 5

2 Vietnam 3 2 1 - 8-3 5

3 Bandung 3 1 - 2 10-5 2

(55)

Grup B

Grup D : Medan, Ujung Pandang, dan Surabaya

Surabaya vs Ujung Pandang : 1-2

Ujung Pandang vs Medan : 1-1

Medan vs Surabaya : 2-1

Grup E : Vietnam, Jepang, dan Thailand

(56)

41

Grup E

No Tim Main Menang Seri Kalah Selisih Gol Poin

1 Jepang 2 2 - - 3-0 4

2 Thailand 2 1 - 1 3-2 2

3 Vietnam 2 - - 2 0-4 0

SEMIFINAL

Medan vs Thailand : 3-2

Jepang vs Ujung Pandang : 3-1

JUARA III & IV

Ujung Pandang vs Thailand : 14-13

FINAL

JUARA I & II

Jepang vs Medan : 4-3

MARAH HALIM CUP Ke-IV 1975

Grup A : Medan, Taiwan, Bandung, Singapura, dan India

Medan vs Taiwan : 6-3

Bandung vs Singapura : 6-0

Singapura vs India : 2-5

Medan vs Bandung : 1-0

Taiwan vs India : 0-2

Medan vs Singapura : 1-1

(57)

India vs Bandung : 1-0

Taiwan vs Singapura : 0-2

India vs Medan : 3-1

Grup B : Ujung Pandang, Thailand, Surabaya, Australia, dan Jepang

Ujung Pandang vs Thailand : 2-2

Surabaya vs Australia : 1-4

Jepang vs Ujung Pandang : 1-0

Australia vs Thailand : 2-1

Jepang vs Surabaya : 1-2

Ujung Pandang vs Australia : 2-1

Jepang vs Thailand : 2-3

Surabaya vs Ujung Pandang : 3-1

Jepang vs Australia : 2-4

Surabaya vs Thailand : 2-3

Grup C : Aceh, Jakarta, Malaysia, dan Korea

Aceh vs Jakarta : 0-2

Malaysia vs Korea : 0-2

Jakarta vs Korea : 1-1

Malaysia vs Aceh : 2-2

Aceh vs Korea : 0-3

(58)

43

Grup D : Korea, Thailand, dan India

Korea vs Thailand : 2-1

Thailand vs India : 1-0

India vs Korea : 0-3

Grup E : Australia, Medan, dan Jakarta

(59)

Jakarta vs Australia : 1-2

Australia vs Medan : 2-0

SEMIFINAL

Korea vs Medan : 1-0

Australia vs Thailand : 3-1

JUARA III & IV

Medan vs Thailand : 3-1

FINAL

JUARA I & II

Australia vs Korea : 2-0

Grup D

No Tim Main Menang Seri Kalah Selisih Gol Poin

1 Korea 2 2 - - 5-1 4

2 Thailand 2 1 - 1 2-1 2

3 India 2 - - 2 0-4 0

Grup E

No Tim Main Menang Seri Kalah Selisih Gol Poin

1 Australia 2 2 - - 4-1 4

2 Medan 2 1 - 1 2-3 2

(60)

45

Kejuaraan Marah Halim Cup ke-V pada Jumat sore, 30 April 1976 resmi

dibuka langsung oleh Gubsu Marah Halim dalam suatu upacara yang meriah dan

menarik. Dalam pidatonya, Gubsu menghimbau kepada khalayak masyarakat agar

dapat menjaga nama baik dan menjadi tuan rumah yang baik kepada para tamunya.

Sebelumnya telah juga menyampaikan laporan yaitu Ketua O.C Mahal Cup

ke-V, Kamaruddin Panggabean yang mengatakan bahwa segala persiapan untuk

kejuaraan ini telah dilaksanakan dengan sempurna. Dilaporkan juga dalam gelaran

turnamen tahun ini diikuti oleh 13 kesebelasan, 6 dari dalam negeri dan 7 dari luar

negeri atau internasional. Kejuaraan Mahal Cup ke-V ini direncanakan berlangsung

sampai tanggal 16 Mei dengan catatan tidak ada satupun pertandingan pada tanggal

14 Mei.

Kesebelasan PSMS akhirnya bisa menggulingkan Persija Jakarta dengan skor

3-2.24

Babak kedua perlawanan masing-masing tim mulai sengit. Budi Riva lagi-lagi

menjadi momok yang menakutkan bagi para pemain PSMS. Ia berhasil

memanfaatkan kemelut di depan gawang PSMS dan langsung melesakkan tendangan

keras ke arah gawang Surury, Persija kembali memimpin 2-1.

Pertandingan ini sendiri sempat tertunda lebih satu jam karena lapangan

stadion tergenang air. Persija berhasil memimpin lebih dulu pada menit ke-3 lewat

pemain nomor 11, Budi Riva. Lebih kurang 10 menit setelah gol pertama Persija,

PSMS baru bisa menyamakan kedudukan lewat tendangan bebas Zulkarnain. Skor

imbang 1-1 pun bertahan sampai waktu turun minum.

(61)

Baru lebih kurang 15 menit berikutnya PSMS berhasil membuat skor imbang

lagi 2-2 lewat sebuah tendangan dari Deddy yang cukup keras setelah mendapatkan

umpan dari pemain belakang Suparjo. Setelah gol tersebut kedua tim sama-sama

mendapatkan banyak peluang untuk mencetak gol lebih banyak lagi. Barulah pada

menit ke-83 gol penentu kemenangan PSMS pun tercipta lewat penyerang mereka

Parlin Siagian. Parlin berhasil mengecoh pemain belakang Persija yang sudah

melakukan blunder karena menyangka Parlin berada pada posisi offside. Para pemain

Persija pun seakan tak terima dengan keputusan wasit, Kiper Persija, Rake menjadi

pemain yang tak terima dengan keputusan hakim garis asal Malaysia, Kebal Singh.

Namun begitu, wasit yang memimpin pertandingan tetap melihat itu adalah sebuah

gol, PSMS akhirnya menang 3-2 atas tim ‘Macan Kemayoran” itu.

Kesebelasan Persebaya Surabaya telah membuat debut cukup baik dalam

pertandingannya yang pertama dalam turnamen Marah Halim Cup ke-V. Mereka

berhasil mencukur kesebelasan Aceh dengan skor 5-0 (3-0).25

Persebaya berhasil mencetak gol pertama mereka pada menit-5 lewat

tendangan cantik Budi Santoso. Aceh sebenarnya berusaha keluar dari tekanan

Persebaya, namun petaka bagi Aceh kembali terjadi pada menit ke-35, adalah

Selamet Purnomo yang berhasil membungkam para pendukung kesebelasan Aceh. Kesebelasan Aceh

dibuat tidak berdaya menghadapi kelincahan barisan penyerang Persebaya yang

dipimpin oleh Budi Santoso. Tim Aceh yang semula diharapkan dapat memberikan

permainan yang berimbang ternyata sampai akhir tidak banyak berkutik.

Gambar

Tabel. 1 Daftar Peraih Juara Marah Halim Cup 1972 – 199515

Referensi

Dokumen terkait

Wewenang Gubernur dalam rangka pembinaan dan pengawasan Perda Kabupaten/Kota didelegasikan kepada Biro Hukum Setda Provinsi Sumatera Utara, kewenangan Gubernur

“agen pelaksana dari program pembinaan anak jalanan adalah Dinas Sosial Kota Medan, sebagai perpanjang tanggan dari Gubernur Sumatera Utara dan dalam pelaksanaannya ketika

Populasi dan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh Atlet Pusat Pembinaan Dan Latihan Olahraga Mahasiswa (PPLM) Sumatera Utara.. Yang terdiri dari

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Gubernur Sumatera Utara c.q Ketua Bappeda Provinsi Sumatera Utara yang memprogramkan bantuan dana untuk guru-guru

Atlit Dinas Pemuda dan Olahraga Sumatera Utara juga diberikan anggaran oleh pemerintah untuk melakukan pembinaan yang lebih baik agar menjadi atlit yang profesional, anggaran

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Gubernur Sumatera Utara c.q Ketua Bappeda Provinsi Sumatera Utara yang memprogramkan bantuan dana untuk guru-guru

Kepada Bapak Gubernur Propinsi Sumatera Utara dan Ketua DPRD Propinsi Sumatera Utara kami juga mengucapkan terima kasih atas segala bantuan, pemikiran dan saran yang telah