KEGIATAN 1
Mengklasifikasikan Monokotil dan Dikotil
I. Tujuan
Mahasiswa dapat mengidentifikasi monokotil dan dikotil
II.Landasan Teori
Tumbuhan berbiji atau Spermatophyta (Yunani,sperma = biji phyton = tumbuhan) merupakan kelompok tumbuhan yang memiliki ciri khas, yaitu adanya suatu organ yang berupa biji. Biji merupakan bagian yang berasal dari bakal biji dan di dalamnya mengandung calon individu baru, yaitu lembaga. Lembaga akan terjadi setelah terjadi penyer bukan atau persarian yang diikuti oleh pembuahan.
Tumbuhan berbiji diklasifikasikan menjadi dua yaitu Gymnospermae (tumbuhan berbiji terbuka) dan Angiospermae (tumbuhan berbiji tertutup). Menurut Moekti Ariwibowo (2009: 94) Angiospermae merupakan tumbuhan berbiji tertutup yang memiliki bunga. Ciri-cirinya adalah :
- Bentuk daun pipih dan lebar dengan tulang daun yang bervariasi.
- Biji tidak tampak karena terbungkus dalam suatu badan, sehingga disebut tumbuhan biji tertutup.
- Mengalami pembuahan ganda, yaitu pembuahan pada tumbuhan. Serbuk sari membuahi dua jenis ovum atau sel telur dalam satu bunga. Angiospermae kemudian diklasifikasikan lagi yaitu Dicotyledoneae (tumbuhan berkeping biji dua) dan Monocotyledoneae (tumbuhan berkeping biji tunggal).
A. Tumbuhan Monokotil
Secara sederhana, menurut Augustin Pyramus de Candolle dalam sistem de Candolle, monokotil diartikan sebagai tumbuhan yang bagian bijinya tunggal atau mono atau tak berkeping. Adapun karakter yang paling kuat dari tanaman berkeping tunggal ini antara lain daun lembaga, akar yang berbentuk serabut, daun yang berselang seling, bagian tulang daunnya sejajar dan cenderung berbentuk layaknya pita serta masih banyak lagi lainnya. Pengelompokannya secara lengkap bisa dilihat sebagai berikut:
1. Monocotyledoneae menurut sistem de Candolle dan sistem Engler.
2. Monocotyledones menurut sistem Bentham & Hooker dan sistem Wettstein.
3. Kelas Liliopsida menurut sistem Takhtajan dan sistem Cronquist.
4. Anak kelas Liliidae menurut sistem Dahlgren dan sistem Thorne (1992).
5. Klad monocots dalam menurut APG dan sistem APG II.
Ciri-ciri pada tumbuhan monokotil berdasarkan ciri fisik dimilikinya adalah :
Bentuk Akar Memiliki sistem akar serabut
Kaliptrogen atau tudung akar Ada tudung akar atau kaliptra
Jumlah keping biji atau kotiledon satu buah keping biji saja
Kandungan akar dan batang tidak terdapat kambium
Jumlah kelopak bunga umumnya adalah kelipatan tiga (menurut Robert F.
Thorne dalam sistem Thorne (1992).
Pelindung akar dan batang lembaga
Pertumbuhan akar dan batang tidak tumbuh berkembang menjadi membesar.
Contoh tumbuhan monokotil : 1. Suku anggrek-anggrekan
Beranggotakan berbagai jenis bunga anggrek (menurut Arthur John Cronquist dan Armen Takhtajan berdasarkan sistem Takhtajan dan sistem Cronquist).
2. Suku padi-padian
Contoh: padi, gandum, jagung, jewawut, serta sorgum. Bambu, tebu, alang-alang, serai dan rumput gajah.
3. Suku pinang-pinangan
Contoh: kolang-kaling, salak, kelapa, dan berbagai macam palem. 4. Suku bawang-bawangan
Contoh: lidah buaya, lidah mertua, bawnag merah, bawang putih, dan bunga tulip.
5. Suku pisang-pisangan
Contoh: Berbagai jenis pisang, pisang hias, pisang kipas
B. Tumbuhan Dikotil
Cronquist). Inilah yang menjadi pembeda utama antara tumbuhan dikotil dengan monokotil. Adapun ciri-ciri khusus tumbuhan dikotil sebagai berikut:
1. Akarnya tunggang dengan akar utama yang lebih besar dari akar sekunder.
2. Bentuk atau pola tulang daun (sumsum) cenderung menjari atau menyirip.
3. Bagian tudung akarnya atau kaliptrogen tidak dilengkapi dengan tudung akar.
4. Adapun jumlah kotiledonnya dua.
5. Akar berkambium untuk menyimpan cadangan makanan.
6. Jumlah kelopak bunga merupakan kelipatan dari empat terkadang juga lima.
7. Pelindung akar maupun batang lembaga tidak ada
Contoh Tumbuhan Dikotil 1. Suku jarak-jarakan.
Contoh: Singkong, karet, dan jarak
2. Suku polong-polongan
Contoh: kacang tanah, kedelai, buncis
3. Suku kapas-kapasan
Contoh: kembang sepatu, bunga kenop, bunga okra, bunga rosella
4. Suku terung-terungan
Contoh: cabai, tembakau, kentang, tomat.
5. Suku jambu-jambuan
Contoh: jambu air, jambu biji, jambu batu, cengkeh
Perbedaan Dikotil dan Monokotil
No Pembeda Monokotil Dikotil
1 Akar Serabut Tunggang
2 Batang Tak berkambium Tak bercabang Tidak membesar
Berkambium Bercabang Dapat membesar 3 Bentuk daun Sejajar
Melengkung
Menyirip Menjari 4 Keadaan biji
setelah berkecambah
Tetap utuh Terbelah dua
5 Pembuluh xilem dan
floem
Pada batang: tersebar Pada akar: berbentuk melingkar
Pada batang: teratur Pada akar: berbentuk segi 4
6 Tudung akar Ada tudung akar Tidak ada tudung akar 7 Bunga Bagian bunga kelipatan 3 Bagian bunga kelipatan 2, 4, 5
Perkecambahan III. Alat dan Bahan
1. Pisau
2. Preparat basah (tumbuhan asli).
IV. Langkah Kegiatan
1. Kumpulkan preparat basah (tumbuhan asli) yang Anda bawa dari kelompokmu.
2. Sebutkan ciri-ciri dari tumbuhan tersebut.
3. Kelompokkan tumbuhan tersebut diatas menjadi 2 kelompok monokotil dan dikotil dengan memberi tanda check ( √ ) pada kolom yang tersedia.
V.Hasil Pengamatan
3 Tebu Serabut - Sejajar √ 4 Jambu biji Tunggan
7 Rumput gajah Serabut - Sejajar √ 8 Pisang Serabut - Sejajar √ 9 Anggrek Serabut - Sejajar √ 10 Salak Serabut - Sejajar √ 11 Jagung Serabut - Sejajar √ 12 Padi Serabut - Sejajar √ 13 Putri malu Tunggan
g
+ Menyirip √
14 Kelapa Serabut - Sejajar √ 15 Palem Serabut - Sejajar √
g
Keterangan: + : Berkambium
− : Tidak Berkambium
VI. Pembahasan
Berdasarkan hasil pengamatan di atas, terdapat dua pengklasifikasian tumbuhan yaitu tumbuhan dikotil dan monokotil yang dapat dilihat dari ciri akar, batang, dan daun pada tumbuhan.
Pohon tebu, rumput gajah, pisang, anggrek, salak, jagung, padi, kelapa, dan palem termasuk dalam tumbuhan monokotil. Dilihat dari ciri akarnya yang serabut, batang tidak berkambium, dan daunnya sejajar.
Selanjutnya pohon pisang termasuk suku pisang-pisangan dengan ciri-ciri: Batangnya bercabang semu karena tersusun oleh beberapa pelepah daun yang saling membungkus, bertulangan daun sejajar sehingga mudah sobek, dan, memiliki barisan bunga yang banyak (A. Pratiwi:2006).
Kemudian Anggrek termasuk suku anggrek-anggrekan dengan ciri-ciri: akar serabut (biasanya menempel pada inang), batang beruas-ruas, dan memiliki tulang daun sejajar.
Sedangkan ketela pohon, ubi jalar, pohon jambu biji, cabai, kacang tanah, putri malu, kembang sepatu, kedelai, terong, buncis, turi dan sengon termasuk tumbuhan dikotil. Dilihat dari ciri akarnya yang tunggang, batang berkambium, dan daunnya menyirip maupun menjari.
Ketela pohon dan ubi jalar termasuk ke dalam tumbuhan dikotil, karena mempunyai ciri akar tunggang, batang berkambium dan tulang daun menjari (Arif Priadi dalam Biology 1 for senior High School Year X). Ketela pohon dan ubi jalar termasuk suku jarak-jarakan, karena memiliki ciri-ciri: daun yang pada umumnya bertulang daun menjari dan tumbuhan suku ini mengeluarkan getah berwarna putih susu bila terluka.
Lalu, pohon cabai dan terong termasuk ke dalam suku terung-terungan yang memiliki ciri-ciri: Biasanya berupa semak, perdu atau pohon, bentuk bunga terompet atau bintang, mahkota 5 helai dan saling melekat, benang sari 5 buah, putik 1 buah, dan tulang daun menyirip.
Anshori dan Joko Martono dalam Biologi untuk Sekolah Menengah Atas (SMA)-Madrasah Aliyah (MA) Kelas X halaman 166).
Jambu biji termasuk suku jambu-jambuan dengan ciri-ciri: berupa perdu (pohon berkayu), mahkota bunga kecil, benang sari banyak, tulang daun menyirip, akar tunggang.
VII. Kesimpulan
Berdasardasakan pengamatan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa:
1. Tumbuhan monokotil memiliki ciri-ciri: biji keping satu, berakar serabut, batang tidak berkambium, tidak dapat membesar, dan tidak bercabang, tulang daun sejajar maupun melengkung, dan bunga kelipatan 3.
2. Tumbuhan dikotil memiliki ciri-ciri: biji keping kedua, berakar tunggang, batang berkambium, dapat membesar, dan bercabang, tulang daun menjari maupun menjari, dan bunga kelipatan 2, 4, dan 5.
VIII. Daftar Pustaka
Anne Ahira. 2013. Pengertian Tumbuhan Dikotil dan Monokotil. Diunduh dari
http://www.anneahira.com/pengertian-dikotil-dan-monokotil.htm pada tanggal 24 September 2013.
Anshori Moch dan Joko Martono. 2008. Biologi untuk Sekolah Menengah Atas (SMA)-Madrasah Aliyah (MA) Kelas X. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.
Iqlimah Dwi. 2012. Contoh Tumbuhan Dikotil dan Monokotil. Diunduh dari
http://iqlimahdwi.blogspot.com/2012/03/contoh-tumbuhan-dikotil-dan-monokotil.html pada 24 Desember 2013.
Jayanti Negara. Ciri-ciri Tumbuhan Monokotil dan Dikotil. Diunhttp://jayantihartini.blogspot.com/2013/03/ciri-ciri-tumbuhan-monokotil-dan-dikotil.html.
Priadi Arif. 2009. Biology 1 for senior High School Year X. Jakarta: Yudhistira. Suryandari Kartika Chrysti. 2013. Petunjuk Praktikum Biologi 2013.
IX. Dokumentasi Praktikum
Macam-macam daun dan biji tumbuhan sebagai preparat basah penelitian
Membuka dan Menutup Stomata
I. Tujuan
Mengetahui letak stomata di daun serta cara membuka dan menutupnya stomata
II. Landasan Teori
Daun adalah salah satu organ tumbuhan yang tumbuh dari ranting, umumnya berwarna hijau karena mengandung klorofil dan berfungsi sebagai penangkap energi dari cahaya matahari untuk fotosintesis (Sutrian, 2004). Daun merupakan organ terpenting bagi tumbuhan dalam melangsungkan hidupnya karena tumbuhan adalah organisme autotrof obligat, ia harus memasok kebutuhan energinya sendiri melalui konversi energi cahaya matahari menjadi energi kimia.
A. Pengertian Stomata
Daun bertugas sebagai penghasil makanan bagi tumbuhan. Pada daun terdapat 3 lapisan yaitu epidermis atas, epidermis bawah, mesofil. Pada bagian epidermis bawah daun terdapat stomata. Stomata (tunggal: stoma) adalah suatu celah pada epidermis yang dibatasi oleh dua sel penutup yang mengelilingi pori-pori kecil yang disebut stoma dan yang berisi kloroplas serta mempunyai bentuk maupun fungsi yang berlainan dengan epidermis. Kata stomata berarti mulut di Yunani karena mereka mengijinkan komunikasi antara lingkungan internal dan eksternal tanaman.
Fungsi utama stomata adalah untuk memungkinkan gas seperti karbon dioksida, uap air dan oksigen untuk bergerak dengan cepat masuk dan keluar dari daun (Hidayat, 1995). Mereka terbentuk pada tahap awal perkembangan ini berbagai organ tanaman dan karena itu mencerminkan kondisi lingkungan di mana mereka tumbuh. Fungsi stomata selanjutnya adalah sebagai jalan masuknya CO2 dari udara pada proses fotosintesis dan sebagai jalan penguapan (transpirasi). Sel yang mengelilingi stomata atau biasa disebut dengan sel tetangga berperan dalam perubahan osmotik yang menyebabkan gerakan sel penutup.
C. Letak Stomata
Mayoritas dari tumbuhan memiliki letak stomata yang sejajar dengan sel epidermis. Contoh : Adam hawa ( Rhoeo discolor ). Epidermis ini terbagi menjadi epidermis atas dan epidermis bawah. Epidermis berfungsi melindungi jaringan yang terdapat di bawahnya. Epidermis atas berfungsi untuk mengurangi penguapan air yang terlalu berlebihan pada daun. Epidermis bawah berfungsi untuk mengatur menutup dan membukanya stomata serta mengendalikan pertukaran gas. Beberapa stomata, dapat ditemui pada epidermis atas. Epidermis bawah memiliki banyak stomata.
D. Proses Membuka dan Menutupnya Stomata
akan berubah sesuai dengan konsentrasi zat yang masuk atau keluar, baik zat pelarut pelarut maupun zat terlarut. Apabila konsentrasi air di luar sel lebih tinggi, maka air akan masuk ke dalam sel hingga keadaan sel menjadi turgid. Begitu pula dengan zat terlarut (misalnya garam) yang konsentrasinya lebih tinggi diluar sel, zat terlarut tersebut akan masuk kedalam sel. Akan tetapi, zat terlarut itu tidak akan membuat sel menjadi turgid atau kencang, namun menjadikan sel lembek atau flacid. Keadaan turgid dan flacidnya sel ini diindikasikan menjadi salah satu penyebab membuka dan menutupnya stomata. Oleh karena itu membuka dan menutupnya stomata tergantung pada perubahan-perubahan turgiditas dari sel-sel penutup, (Iserep, 1993).
Stomata membuka karena sel penjaga mengambil air dan menggembung dimana sel penjaga yang menggembung akan mendorong dinding bagian dalam stomata hingga merapat. Stomata bekerja dengan caranya sendiri karena sifat khusus yang terletak pada anatomi submikroskopik dinding selnya. Sel penjaga dapat bertambah panjang, terutama dinding luarnya, hingga mengembang ke arah luar. Kemudian, dinding sebelah dalam akan tertarik oleh mikrofibril tersebut yang mengakibatkan stomata membuka ( Lakitan, 2007 ). Berikut hal-hal yang menyebabkan stomata membuka maupun menutup:
No Stomata Membuka Stomata Menutup 1. Air masuk kedalam sel Air keluar dari sel
2. Zat terlarut keluar dari sel Zat terlarut masuk ke dalam sel
3. Intensitas cahaya tinggi Intensitas cahaya rendah
4. Suhu tinggi Suhu rendah
5. Kelembaban udaa rendah Kelembaban udara tinggi
6. Ion kaliun terakumulasi kedalam sel Ion kalium keluar sel
sangat berperan merangsang masuknya ion kalium ke sel penjaga dan jika tumbuhan ditempatkan dalam gelap, maka ion kalium akan kembali keluar sel penjaga.
Stomata tumbuhan pada umumnya membuka pada saat matahari terbit dan menutup saat hari gelap sehingga memungkinkan masuknya CO2 yang diperlukan untuk fotosintesis pada siang hari. Umumnya, proses pembukaan memerlukan waktu 1 jam dan penutupan berlangsung secara bertahap sepanjang sore. Stomata menutup lebih cepat jika tumbuhan ditempatkan dalam gelap secara tiba-tiba.
Mekanisme membuka dan menutupnya stomata
Terbukanya stomata pada siang hari tidak terhambat jika tumbuhan itu berada dalam udara tanpa karbon dioksida, yaitu keadaan fotosintesis tidak dapat terlaksana (Salisbury dan Ross, 1995). Oleh karena itulah di lakukan pengujian terhadap daun Rhoeo discolor.
III. Alat dan Bahan
1. Mikroskop 2. Kaca lensa 3. Pipet tetes 4. Kaca penutup 5. Pinset
7. Daun Rhoeo discolor 8. Air
9. Garam
IV. Langkah Kerja
Mengetahui letak stomata
1. Ambil daun Rhoeo discolor, robeklah bagian permukaan bawah dan atas sehingga mendapatkan bagian yang tipis. Tandailah mana permukaan atas dan mana permukaan bawah.
2. Kedua bagian tipis tersebut diletakkan pada kaca benda dan ditetesi dengan air kemudian tutup dengan kaca penutup.
4. Gambarlah pengamatanmu (permukaan atas adalah epidermis atas dan permukaan bawah adalah epidermis bawah.
Setelah stomata yang kamu temukan digambar, maka dilanjutkan dengan kegiatan berikut:
a. Dengan menggunakan pipet, teteskan air garam pada tepi kaca penutup.
b. Kemudian dengan kertas tisu isaplah air garam pada sisi yang berlawanan dengan air garam.
c. Amati dan tentukan mana sel penutup maupun stomata. Perhatikan apa yang terjadipada stomata dan sel penutup tersebut setelah bersentuhan dengan air garam dan gambarlah hasil pengamatanmu.
V. Hasil Pengamatan
Stomata pada daun Rhoeo Discolor sebelum ditetesi dengan air garam stomatanya akan membuka. Dan Stomata pada daun Rhoeo Discolor yang ditetesi dengan air garam stomatanya akan menutup.
a. Sebelum ditetesi garam
b. Setelah ditetesi garam
Berdasarkan hasil percobaan di atas, terlihat bahwa stomata pada epidermis bawah lebih banyak dari pada epidermis atas. Sebelum ditetesi air garam stomata terbuka dan sel penutup mengembang. Tetapi setelah bersentuhan dengan air garam stomata menutup dan sel penutup mengempis.
Hali ini disebabkan karena adanya perubahan tekanan turgor yang terjadi pada sel epidermis.Menurut Goldsworthy dan Fitter (1992), perubahan dalam ukuran pori-pori stomata disebabkan oleh perubahan dalam keseimbangan tugor antara sel-sel penutup dan sel-sel epidermis yang berdekatan.Suatu kenaikan turgor dalam sel penutup atau suatu penurunan tugor dalam sel epidermis menghasilkan pembukaan stomata melalui gerakan-gerakan menjauhi dinding-dinding antiklinal sel penutup.
Stomata akan membuka jika tekanan tugor kedua sel penjaga meningkat. Peningkatan tekanan tugor sel penjaga disebabkan oleh masuknya air kedalam sel penjaga.Proses masuknya air tersebut berasal dari tekanan tinggi ke daerah bertekanan rendah.Tinggi rendahnya potensial air ini bergantung pada jumlah bahan yang terlarut didalam cairan sel,semakin banyak jumlah bahan yang terlarut maka potensial osmotik akan semakin rendah.Semain rendah potensial osmotik sel maka semakin rendah pula turgiditas sel,jika sel bersifat kendor stomata akan menutup (Lakitan,2004).
Membuka dan menutupnya stomata penting bagi proses asimilasi CO2 dan juga keseimbangan air dalam tanaman. Membuka menutupnya stomata tergantung pada perubahan turgor sel penjaga (sel stomata). Turgor yang tinggi menyebabkan stomata membuka sebaliknya turgor yang rendah akan menyebabkan stomata menutup. Mekanisme mebuka dan menutupnya stomata berdasarkan suatu perubahan turgor itu adalah akibat dari perubahan nilai osmosis dari isi sel-sel penutup (Salisbury dan Ross, 1995)
Jadi, mengenai tekanan turgor yang berpengaruh pada peristiwa membuka dan menutupnya stomata maka pengamat dapat menjelaskan bahwa pada saat daun Rhoe discolor ditetesi dengan larutan garam maka jumlah zat terlarut dalam sel jauh lebih banyak dari sebelumnya sehingga menyebabkan stomata menjadi menutup.
VII. Kesimpulan
1. Jumlah stomata pada epidermis bawah lebih banyak dari pada epidermis atas.
2. Sebelum ditetesi larutan garam, stomata membuka. Setelah ditetesi larutan garam, stomatanya lalu menutup.
VIII. Daftar Pustaka
Awal Barri. 2009. Membuka dan Menutupnya Stomata. Diunduh dari
http://awalbarri.wordpress.com/2009/02/26/membuka-%E2%80%93-menutupnya-stomata/ pada tanggal 24 Desember 2013.
Puri Maulana. 212. Letak dan Struktur Stomata pada Tumbuhan. Diunduh dari http://perpustakaancyber.blogspot.com/2012/12/struktur-dan-fungsi-stomata-mulut-daun-tumbuhan.html pada tanggal 24 Desember 2013.
Suryandari Kartika Chrysti. 2013. Petunjuk Praktikum Biologi 2013.
Tanri Alim. 2013. Pengertian Stomata. Diunduh dari http://www.biologi-sel.com/2013/02/stomata-pengertian-fungsi-dan-struktur.html pada tanggal 24 Desember 2013.
Zairif. 2012. Terkanan Turgor. Diunduh dari
http://zairifblog.blogspot.com/2012/05/mekanisme-membuka-dan-menutupnya.html pada tanggal 24 Desember 2013.
IX. Dokumentasi Praktikum
Daun Rhoeo discolor alat dan bahan praktikum
Menyayat bagian bawah dan atas Meletakkan pada kaca benda daun Rhoeo discolor
Epidermis atas daun Epidermis atas daun sebelum diberi NaCl sebelum diberi NaCl
Epidermis atas daun Epidermis atas daun setelah diberi NaCl setelah diberi NaCl
X. Pertanyaan
1. Apakah ada perubahan bentuk antara sel penutup, stomata dan sel epidermis lainnya?
4. Buatlah kesimpulan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kerja stomata?
Jawaban :
1. Stomata yang berada di epidermis atas daun 2. Stomata banyak ditemukan dibagian bawah daun.
3. Ada perubahan bentuk yang terjadi pada sel penutup,stomata dan sel epidermis
4. Pada stomata dan sel penutup terjadi perubahan setelah bersetuhan dengan air garam yaitu stomata dan sel penutup menjadi menutup.
5. Kemampuan membuka dan menutup diatur oleh sel penjaga. Apabila tanaman mengalami kekurangan air, maka sel penjaga akan menutup stomata untuk mengurangi penguapan. Hal sebaliknya terjadi jika tanaman memiliki kandungan air cukup. Secara garis besar mekanisme kerja stomata bergantung pada tekanan air pada sel penjaga.
6. Faktor-faktor yang mempengaruhi laju fotosintesis : Karbondioksida(CO2),Cahaya,Suhu,Tekanan turgor, Kelembaban , Angin, Laju fotosintesis.
KEGIATAN 3
Mengamati Morfologi Jamur
I. Tujuan
Mahasiswa dapat mengidentifikasi jamur mikroskopis dan makroskopis.
A. Pengertian Jamur
Fungi adalah mikroorganisme tidak berklorofil, berbentuk hifa atau sel tunggal, eukariotik, berdinding sel dari kitin atau selulosa, berproduksi seksual atau aseksual. Dalam dunia kehidupan fungi merupakan kingdom tersendiri, karena cara mendapatkan makanannya berbeda dengan organisme eukariotik lainnya yaitu melalui absorpsi (Gandjar, 1999). B. Struktur jamur
Tubuh jamur disusun oleh sel tunggal (uniselular) atau banyak sel (multiselular). Jamur adalah organisme eukariota, taitu organisme yang nukleusnya dikelilingi oleh membran. Tubuh jamur multiselular disusun oleh hifa, yaitu benang-benang halus (filamen) yang mengandung membran sel dan sitoplasma. Biasanya hifa dilapisi oleh dinding sel dari kitin (Arif Priadi dalam buku Biology 1 for senior High School Year X, 2009).
Kumpulan hifa disebut miselium yang berbentuk spserti benang kusut. Ada 2 macam miselium, yaitu miselium vegetatif dan miselium fertil.
1. Miselium vegetatif adalah miselium yang berfungsi menyerap nutrisi dari lingkungan.
2. Miselium fertil adalah miselium yang berfungsi dalam reproduksi. Pada kebanyakan jamur, sel-sel penyusun hifa dipisahkan oleh sekat yang disebut septa yang membentuk kompartemen atau sel. Septa dapat berlubang atau berpori. Sehingga sitoplasma akan mengalir dari satu ruangan sel ke ruangan sel yang lain. Jamur yang memiliki hifa bersekat disebut hifa septat sedangkan yang tidak bersepta disebut asepta (hifa senositik). Sebagian besarjamur, kecuali khamir yang uniselular, bersifat sebositik atau dalam sitoplasmanya mengandung banyak nukleus (multinukleus).
C. Cara Hidup jamur
seperti yang hewan lakukan, serta jamur tidak dapat membuat makanannya sendiri seperti tumbuhan. Jamur mendapatkan makanan dari penyerapan nutrisi lingkungan sekitarnya (Dwidjoseputro, 1978).
Untuk memenuhi kebutuhan makanan, jamur hidup sebagai saprofit, parasit atau melakukan simbiosis dengan tumbuhan, hewan dan protista. Salah satu bentuk simbiosis antara jamur dan organisme lain adalah lichen (lumut kerak).
Jamur yang termasuk organisme saprofit memperoleh makanan dari organisme mati. Adapun jamur parasit memperoleh makanan dengan cara menyerap sari-sari makanan dari organisme hidup lain. Beberapa jamur parasit membentuk struktur hifa khusus yang dinamakan haustoria. Haustoria menembus sel organisme inang dan menyerap sarisari makanan yang dihasilkan oleh inang
D. Reproduksi Jamur
Kebanyakan jamur bereproduksi secara aseksual dan seksual. Reproduksi seksual umumnya lebih penting karena individu yang dihasilkan lebih banyak. Reproduksi seksual melibatkan penyatuan gamet jantan dan betina (melalui isogami, anisogami, dan oogami) dan pembentukan spora seksual. Ada beberapa jenis sporaseksual, yaitu askospora, basidiospora, dan zigospora (menurut Zoberi, 1972).
Ada tiga cara utama bagi jamur untuk bereproduksi secara aseksual. Pertama, Fragmentasi, stau bagian jamur akan patah dan individu lainnya akan tumbuh. Kedua, jamur bereproduksi dengan pembentukan tunas sebagai tunas kecil akan terlepas dari sel induk dan tumbuh menjadi individu baru. Ketiga dan yang paling sering dilakukan, jamur bereproduksi dengan pembentukan spora aseksual, misalnya: konidia dan sporangiospora.
E. Klasifikasi Jamur
Rhizopus orizae,Mucor mucedo dan Saccaromyces cereviseae , sedangkan jamur makroskopis adalah jamur yang dapat dilihat langsung dengan mata tanpa dengan bantuan mikroskop,contoh jamur mikroskopis adalah jamur kuping,jamur merang,dan jamur gada.Jamur diklasifikasikan lebih rinci menjadi 6 divisi (Arif Pribadi.2004 dalam biologi for senior high school 1) adalah sebagai berikut :
a. Myxomycota (Jamur lendir)
b. Oomycota (Saprolegnia sp.)
c. Zygomycota (Jamur Tempe)
d. Ascomycota (Sacharomyces cerevisae)
e. Basidiomycota (Jamur Kuping)
f. Deuteromycota ( Neurospora Sitophilla )
III. Alat dan Bahan
1. Mikroskop
2. Pisau
3. Roti berjamur
4. Agar berlendir dan berjamur
5. Gelas preparat
6. Air
IV. Cara Kerja
1. Mengamati di bwah mikroskop jamur pada roti, tempe dan agar dan Menggambarnya.
2. Mengamati bakteri pada agaryang berlendir dengan cara usapkan lendir dengan lidi pada gelas preparat dan melihatnya di bawah mikroskop.
V. Hasil Pengamatan
Jamur Mikroskopis
No Nama Jamur Gambar Keterangan
1. Jamur Tempe
Jamur Agar
Jamur Makroskopis
No Nama Jamur Gambar Keterangan
1. Jamur Kuping
2. Jamur Kayu
3. Jamur Tiram
5. Jamur Lepiota
VI. Pembahasan
Berdasarkan pengamatan yang telah dilaksanakan mengenai jamur mikroskopis dan jamur makroskopis dapat diketahui bahwa :
1. Jamur Mikroskopis
Dari hasil pengamatan yang termasuk jenis jamur mikroskopis adalah jamur tempe,jamur roti dan jamur pada agar-agar.Ketiga jenis jamur tersebut termasuk kedalam kelas Zygomycota ( bentuk spora berdinding tebal).Ciri –ciri dari kelas jamur zygomycota adalah ( Arif Pribadi.2004 dalam biologi for senior high school 1) :
Hifa tidak bersekat dan bersifat koenositik ( mempunyi beberapa inti )
Dindng sel tersusun dari kitin
Reproduksi seksual dan aseksual
Hifa berfungsi menyerap makanan yang disebut rhizoit.
Dibawah ini akan dibahas mengenai klasifikasi,ciri-ciri,manfaat serta kerugian dari masing-masing jamur yang telah diamati :
1. Jamur tempe (Rhizopus oryzae) a. Klasifikasi
Kingdom : Fungi
Divisio : Zygomycota
Kelas : Zygomycetes
Ordo : Mucorales
Famili : Mucoraceae
Genus : Rhizopus
Rhizopus oryzae dapat berkembang biak secara aseksual.Prosesnya dimulai dengan spora yang berkecambah tumbuh menjadi hifa senositik yang bercabang-cabang, lalu pada empat hifa tertentu akan tumbuh sporangium yang disangga oleh sporangiofon. Di dalam sporangium terbentuk spora aseksual dalam jumlah besar. Kumpulan sporangiofor ditunjang oleh rizoid yang menyerap makanan dan air dari substratnya.Hifa di antara dua kumpulan sporangiofor yang dinamakan stolon .Dinding sporangium yang sangat rapuh luluh ketika spora menjadi matang. Setelah sporangium pecah, spora akan bertebaran dibawa angin. Di tempat yang sesuai, spora tersebut akan berkecambah.
c. Manfaat : Pembuatan tempe
d. Kerugian : Pada saat spora tersebar di cuaca kering panas, mengandung protein alergis dengan 31 alergen yang berbeda, yang dapat menyebabkan gejala hidung pernapasan dan konsentrasi (batuk kronis, dispnea, sesak dada, dahak kronik, mendengus, rhinitis snizzle dan alergi).
2. Jamur Roti (Mucor mucedo)
a. Klasifikasi
Kingdom : Fungi
Divisio : Zygomycota
Kelas : Zygomycetes
Ordo : Mucorales
Famili : Mucoraceae
Genus : Mucor
b. Ciri-ciri : Mucor mucedo tidak mempunyai hifa dan tubuh buah,jamur dari ordo initerdiri dari miselium yang lebat serta hifa yang memiliki inti banyak,beberapa spesies rizoid yang berguna untuk berpegangan pada substrat, hidup saprofit misalnya pada roti atau kotoran hewan. Jamur ini mempunyai keturunan diploid yang lebih singkat dari Rhizopus pylobolus yang sering ditemukan tumbuh pada kotoran kuda mempunyai sporangium yang dapat menunjukkan gerak fototropi, yaitu gerak tumbuh membengkoknya sporangium ke arah datangnya cahaya.Sebagian besar anggotanya merupakan saproba atau parasit ringan pada tumbuhan.
c. Kerugian : Mucor kadang menyebabkan oportunistik, dan sering cepat menyebar, nekrosis infeksi yang dikenal sebagai zygomycosi.
3. Jamur lendir pada agar-agar
Lendir atau Myxomicota adalah sekelompok protista yang berpenampilan mirip jamur namun berperilaku menyerupai amoeba . Myxomycota berasal dari kata myxo yang artinya lendir, dan mykes yang artinya
cendawan
.
Ciri umum myxomycota adalah memiliki fase soma berupa plasmodium. Plasmodium yang mengering membentuk sklerotum .Fase reproduktifnya berupa sporangium yang berisimenjadi sel berinti yang berfungsi sebagai spora atau membentuk kantong (sporangium) tanpa tangkai yang berisi banyak spora. Jika kondisi menguntungkan lagi, spora akan memproduksi protoplas berflagela satu kemudian berpasangan, berfusi membentuk zigot yang berflagela dua. Zigot yang berflagela ganda ini kemudian melepaskan kedua flagelanya dan melakukan pembelahan sehingga terbentuk plasmodium.
2. Jamur Makroskopis
Dari hasil pengamatan yang termasuk jenis jamur makroskopis adalah jamur kayu, jamur kuping, jamur tiram,jamur beracun dan jamur lepiota.Ketiga jamur tersebut termasuk kedalam kelas Basidiomycota.Secara umum mempunyai ciri-ciri tubuh buah mempunyai 4 bagian, yaitu tangkai tubuh buah (stipe), tudung (pileus), volva, dan bilah (lamella). Stipe merupakan suatu massa miselium yang tumbuh tegak. Pileus merupakan bagian yang ditopang oleh stipe.
terletak bebas diatas tubuh buah (gimnokarp) Spora luar biasanya berguna banyak dan secara aktif dilemparkan oleh basidium.
c. Manfaat : Sebagai bahan dasar masakan dan makanan ringan. Kandungan antibiotiknya berguna untuk pencegahan penyakit anemia, menurunkan darah tinggi dan pencegahan penyakit kanker. Eritadenin dalam jamur merang dikenal sebagai penawar racun.
2. Jamur Kuping
(
Auricularia polytricha
)
a. Klasifikas
Kingdom : Fungi
Divisi : Basidiomycota
Kelas : Agaricomycetes
Ordo : Auriculariales
Famili : Auriculariaceae
Genus : Auricularia
Spesies : (Auricularia polytricha
b. Ciri- ciri :
bisnis yang tinggi adalah yang memiliki warna coklat pada bagian atas tubuh buah dan warna hitam pada bagian bawah tubuh buah, serta ukuran tubuh buah kecil.Jamur kuping merupakan salah satu jamur konsumsi yang umum dikeringkan terlebih dahulu, kemudian direndam dengan air dalam waktu relatif singkat sehingga jamur ini akan kembali seperti bentuk dan ukuran segarnya.Cara reproduksi vegetatif dari jamur kuping adalah dengan membentuk tunas, dengan konidia, dan fragmentasi miselium. Sedangkan, reproduksi generatif jamur kuping adalah dengan menggunakan alat yang disebut basidium, basidium berkumpul dalam badan yang disebut basidiokarp, yang selanjutnya menghasilkan spora yang disebut basidiospora.
c. Manfaat :
untuk mengurangi penyakit panas dalam dan rasa sakit pada kulit akibat luka bakar
Kandungan senyawa yang terdapat dalam lendir jamur kuping juga efektif untuk menghambat pertumbuhan karsinoma dan sarkoma (sel kanker) hingga 80-90% serta berfungsi sebagai zat anti koagulan (mencegah dan menghambat proses penggumpalan darah).
Manfaat lain dari jamur kuping dalam kesehatan ialah untuk mengatasi penyakit darah tinggi (hipertensi), pengerasan pembuluh darah akibat penggumpalan darah
mengatasi kekurangan darah (anemia).
mengobati penyakit wasir (ambeien) dan memperlancar proses buang air besar.
Kingdom : Fungi
Divisi : Basidiomycota
Kelas : Homobasidiomycetes
Ordo : Agaricales
Familia : Richolomataceae
Genus : Pleurotus
Spesis : Pleurotus ostreatus
b.
Ciri-ciric.
Manfaat : Sebagai makanan,menurunkan kolestrol, sebagai antibakterial dan antitumor, serta dapat menghasilkan enzim hidrolisis dan enzim oksidasi. Selain itu, jamur tiram juga dapat berguna dalam membunuh nematode.4. Jamur Lepiota
a. Klasifikasi
Kingdom: Fungi
Division: Basidiomycota
Class: Agaricomycetes
Order: Agaricales
Family: Agaricaceae
Genus: Lepiota
Species: L.aspera
digunakan. Terdapat di daerah paling utara, Inggris, Eropa, dan Afrika Utara, Amerika Utara bagian timur.Biasanya pada serasah daun, kayu atau dekat puing-puing kayu,kadang-kadang juga tumbuh dari kayu membusuk mungkin secara luas.Jamur ini memiliki kandungan Kholin, Kholin dikenal sebagai senyawa racun yang paling berbahaya dan paling mematikan. Muskarin, juga racun jamur yang cukup berbahaya dan mematikan. Dengan takaran antara 0,003-0,005 gram sudah dapat membunuh manusia.
5. Jamur Beracun
Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan pada jamur ke lima ini,pengamat dapat menyimpulkan bahwa jamur tersebut termasuk jenis jamur beracun,karena dari ciri-ciri fisik yang dapat dilihat jamur tersebut berwarna hitam kebiruan dan berbau sangat menyengat.Adapun ciri-ciri jamur beracun adalah sebagai berikut ( Wakhyu Yunita,2013) :
Jenis jamur beracun pada umumnya mempunyai warna yang mencolok: merah-darah, hitam-legam, biru-tua, ataupun warna-warna lainnya. Walaupun ada pula jenis jamur beracun yang mempunyai warna terang (kuning muda) atau putih, dan jamur yang dapat dimakan berwarna gelap, misal coklat-tua
Jenis jamur beracun dapat menghasilkan bau yang menusuk hidung, seperti bau telur busuk ataupun bau ammoniak.
Jenis jamur beracun mempunyai cincin atau cawan. Walaupun ada yang sebaliknya, seperti jamur-merang mempunyai cawan dan jamur kompos mempunyai cincin, tetapi tidak beracun.
Kalau jenis jamur beracun dikerat oleh pisau yang terbuat dari perak, atau dikerat oleh pisau biasa kemudian benda perak didekatkan kepada keratan tadi, maka pada benda perak terbentuk warna hitam atau biru, itu menandakan bahwa jamur tersebut beracun.. Senyawa beracun yang umum didapatkan pada jenis-jenis jamur, antara lain Adalah Kholin, yaitu racun yang paling berbahaya dan besar sekali daya mematikannya. Semua jenis jamur yang disebut "supa upas" (upas = racun) mempunyai senyawa ini, misal: Amanita, Lepoita, Russula, Collybia, dan Boletus. Muskarin, juga racun jamur yang cukup berbahaya dan mematikan. Dengan takaran antara 0,003-0,005 gramsudah dapat membunuh manusia.
VII. Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan maka penulis dapat menyimpulkan bahwa :
Yang termasuk jamur mikroskopis adalah jamur tempe,jamur pada roti dan jamur lendir pada agar-agar.
Yang termasuk jamur makroskopis adalah jamur kayu,jamur kuping,jamur tiram,jamur lepiota dan jamur beracun.
VIII. Daftar Pustaka
Aslam Purwanto. 2013. Klasifikasi Jamur. Diunduh dari
http://aslam02.wordpress.com/materi/biologi-kelas-x/fungi/ciri-dan-klasifikasi-jamur/ pada tanggal 30 Desember 2013.
Duwi Santosa. 2013. Struktur Jamur. Diunduh dari
http://www.galeripustaka.com/2013/09/bentuk-dan-struktur-jamur.html pada tanggal 30 Desember 2013.
Melda Yulia. 2010. Pengertian Jamur. Diunduh dari
http://meldayulia.wordpress.com/2010/12/15/pengertian-jamur/
pada tanggal 30 Desember 2013.
perpustakaancyber.blogspot.com/2012/12/cara-reproduksi-fungi-Suryandari Kartika Chrysti. 2013. Petunjuk Praktikum Biologi 2013.
IX. Dokumentasi Praktikum
Berbagai macam jamur makroskopis Roti berjamur
Agar berlendir Tempe
KEGIATAN 4
Daya Isap Daun
I.Tujuan
Untuk mengetahui naiknya air dari akar ke daun.
II. Landasan Teori
kadarnya sehingga air berpindah lagi ke arah sel yang mempunyai cairan yang lebih pekat (menurut weaver, 1972).
Pembuluh xilem pada berkas pengangkutan di dalam akar, batang dan daun sambung menyambung membentuk satuan pembuluh. Dengan hilangnya batas melintang secara vertikal antar sel pembuluh xilem maka pengangkutan air dari akar sampai ke daun dapat berlangsung cepat.
Daya hisap daun mempunyai peranan penting sehingga air tanah dapat naik ke atas. Beberapa faktor yang mempengaruhi daya hisap daun antara lain: terang teduhnya cahaya atau intensitas cahaya, banyak sedikitnya daun, kelembaban udara, dan cukupnya air tanah. Air bergerak secara vertikal melalui pembuluh xilem melawan grafitasi. Beberapa teori yang menjelaskan kenaikan air dari akar ke daun yaitu : (Tim pembina fisiologi tumbuhan. 2011: 14)
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penyerapan Air. Penyerapan air oleh tumbuhan dipengaruhi oleh faktor dalam dan faktor luar (lingkungan). Meskipun faktor lingkungan di atmosfer juga mempengaruhi, tetapi perannya dikalahkan oleh faktor tanah. Faktor dalam (disebut juga faktor tumbuhan) yaitu (menurut Moore, 1979):
1. Kecepatan transpirasi : penyerapan air hamper setara dengan transpirasi (penguapan lewat daun) bila penyediaan air tanah cukup. Hal ini terjadi karena adanya transpirasi menyebabkan daya hisap daun sebagai akibat kohesi yang diteruskan lewat system hidrostatik pada xilem. Kecepatan transpirasi antara lain ditentukan oleh banyaknya stomata dan keadaan permukaan daun.
sedikit tetapi tumbuhan memanjang dan masuk jauh kedalam tanah disebut perakaran ekstensif.
3. Pertumbuhan pucuk : bila bagian pucuk tumbuh baik, akan memerlukan banyak air, menyebabkan daya serap bertambah.
4. Metabolisme : karena penyerapan memerlukan tenaga metabolisme, maka kecepatan metabolisme terutama respirasi akan menentukan besarnya penyerapan. Metabolisme yang juga memungkinkan pertumbuhan akar lebih baik, sehingga makin banyak cabang akar/buluh akara yan terbentukan.
Beberapa faktor yang yang dapat menyebabkan terjadinya daya hisap daun dan daya tekan akar adalah sebagai berikut:
1. Tekanan akar: berdasarkan fakta bahwa jika batang tanaman dipotong dan kemudian dihubungkan dengan selang manometer air raksa, maka air di dalam selang itu akan terdorong ke atas oleh tekanan yang berasal dari akar.
2. Kapilaritas: merupakan gejala yang timbul akibat interaksi antara permukaan benda padat dengan benda cair yang menyebabkan gangguan terhadap bentuk permukaan cairan yang semula datar, misalnya di dalam pipa yang kecil, permukaan cairan menjadi naik, karena cairan tersebut ditarik oleh dinding bagian dalam pipa oleh gaya adhesi
3. Sel pemompa: pergerakan vertikal air dari akar ke daun adalah karena adanya peranan sel-sel khusus yang berfungsi memompa air ke atas, hal ini dibuktikan dengan adanya hasil penelitian, dimana pergerakan vertikal air sebagian besar melalui bagian yang mati dari tanaman (pembuluh xilem dan dinding sel), bukan melalui bagian sel-sel yang hidup.
Faktor dalam, meliputi :
o ukuran (luas) daun: Semakin luas ukuran daun, maka daya hisap daun akan semakin besar pula dan sebaliknya.
o tebal tipisnya daun: Semakin luas ukuran daun, maka daya hisap daun akan semakin besar pula dan sebaliknya.
o jumlah stomata: Semakin banyak stomata, maka daya hisap daun akan semakin besar pula dan sebaliknya.
o jumlah bulu akar (trikoma): Semakin banyak bulu akar, maka daya hisap daun akan semakin besar pula dan sebaliknya.
o jumlah daun: Semakin banyak jumlah daun, maka daya hisap daun akan semakin besar pula dan sebaliknya.
Tanaman yang berada pada daerah yang kondisi tanahnya kering atau memiliki kelembaban udara rendah akan mengalami transpirasi yang tinggi. Pada daerah ini fenomena tekanan akar tidak terlihat. Hal ini disebabkan karena air di dalam pembuluh xilem tidak dalam keadaan menerima tekanan, tetapi sebaliknya sedang mengalami tarikan (tension). Jadi air bergerak ke atas karena adanya tarikan akibat terjadinya transpirasi dari daun sehingga menimbulkan daya hisap daun (Lakitan, 2004).
III. Alat dan Bahan
1. Tumbuhan pacar air (2 buah) 2. Larutan eosin (KI)
3. Tabung reaksi 4. Air
IV. Cara Kerja
2. Pada tabung reaksi B yang berisi larutan eosin atau KI, Meletakkan tanaman pacar air yang telah dibuang daunnya pada air.
3. Menunggu kurang lebih selama 45 menit, kemudian mengamati kedua perangkat percobaan tersebut.
4. Berdasarkan hasil pengamatan pada perangkat percobaan, manakah air yang lebih cepat naik? Mengapa demikian? Mendiskusikan dan membuat laporannya.
V. Hasil Pengamatan
No Pohon Pacar Air
Ketinggian Air di Pohon Ketinggian Air di Toples
Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah
1. Pohon Pacar Air A (Banyak Daun)
0 cm 21 cm 5 cm 4 cm
2. Pohon Pacar Air B (Tanpa Daun)
0 cm 17 cm 5 cm 4,5 cm
Dari hasil percobaan didapati tumbuhan pacar air berubah warna menjadi merah (karena warna tares merah), warna merah terlihat pada batang dan daun tumbuhan pacar air.
VI. Pembahasan
Tanaman yang kami pakai untuk mengamati daya isap daun adalah Impatiens balsamina (Pacar air). Dari percobaan yang telah dilakukan dapat dilihat pada tabel membuktikan bahwa banyak daun mempengaruhi daya hisap tumbuhan. Daya hisap daun mempunyai peranan penting sehingga air tanah dapat naik ke atas. Beberapa faktor yang mempengaruhi daya hisap daun antara lain: terang teduhnya cahaya / intensitas cahaya, banyak sedikitnya daun, kelembaban udara, dan cukupnya air tanah. Air bergerak secara vertikal melalui pembuluh xilem melawan grafitasi (Mudakir, 2004).
pada : Pada pohon pacar air A air lebih cepat naik daripada pohon pacar air B. Hal ini karena tanaman dalam pohon pacar air A masih terdapat banyak daun sehingga menyebabkan semakin banyaknya air yang diperlukan dalam proses transpirasi dan menyebabkan daya isap daun besar, yaitu yang sebelumnya ketinggian air di pohon pacar air 0 cm setelah ditunggu selama sehari ketinggian air naik menjadi 21 cm. Dan ketinggian air dalam toples yang semula 5cm setelah ditunggu selama sehari, tinggi air dalam toples berkurang menjadi 4cm.
Sedangkan dalam pohon pacar air B yang berisi tanaman yang sudah tidak mempunyai daun sehingga tidak membutuhkan banyak air untuk transpirasi sehingga daya isap daun kecil yaitu yang sebelumnya 0 cm setelah ditunggu selama sehari ketinggian air naik menjadi 17 cm. Dan ketinggian air dalam toples yang semula 5cm setelah ditunggu selama sehari, tinggi air dalam toples berkurang menjadi 4,5cm.
Dari keterangan hasil pengamatan diatas dapat terlihat jelas bahwa pohon pacar air A mempunyai daya serap air yang lebih banyak dari pada pohon pacar air B yaitu selisih sebanyak 4 cm.Hal ini karena tanaman pacar air A masih terdapat banyak daun sehingga menyebabkan semakin banyaknya air yang diperlukan dalam proses transpirasi dan menyebabkan daya isap daun besar. Sedangkan dalam tabung B berisi tanaman yang sudah tidak mempunyai daun sehingga tidak membutuhkan banyak air untuk transpirasi sehingga daya isap daun kecil
VII. KESIMPULAN
Dari kegiatan yang telah dilakukan maka dapat ditarik kesimpulan:
1. Air naik dari akar ke daun, karena tumbuhan memiliki daya hisap daun.
2. Daya isap daun berhubungan dengan proses transpirasi.
Semakin banyak daun maka daya isap semakin besar, sebaliknya semakin sedikit daun maka daya isap daun semakin kecil.
VIII. VIII. Daftar Pustaka
Moeluzie. 2012. Faktor Penentu Besar Kecilnya Daya Isap Daun. Diunduh dari http://moeluzie.blogspot.com/2012/01/daya-isap-daun. html
pada tanggal 25 Desember 2013.
Rokhland Rizal. 2013. Pengertian Daya Isap Daun. Diunduh dari http://blog-
rye.blogspot.com/2013/11/laporan-praktikum-daya-isap-daun.html pada tanggal 25 Desember 2013.
Suryandari Kartika Chrysti. 2013. Petunjuk Praktikum Biologi 2013.
Tias Rahayu. 2012. Praktikum Daya Isap Daun. Diunduh dari
http://dentinganwaktu.blogspot.com/2012/11/v-behaviorurldefaultvmlo_1.html pada tanggal 25 Desember 2013. Via Devinta. 2012. Proses Penyerapan Air oleh Akar Tumbuhan. Diunduh
dari http://viadevinta.blogspot.com/2012/05/biologi-laporan-praktikum-proses.html pada tanggal 25 Desember 2013.
Vita Mustika. 2009. Hubungan Transpirasi dengan Daya Isap Daun pada Tumbuhan. Diunduh dari http://vitamustika.wordpress.com/ 2009/10/19/praktikum- transpirasi/ pada tanggal 25 Desember 2013.
Mengisi toples dengan air
Memberikan pewarna merah pada air dalam toples
Menghilangkan daun pada salah satu pohon pacar air, dan pohon air yang satunya lagi dibiarkan berdaun lebat, lalu meletakkan ke dalam toples berair
merah
KEGIATAN 5
Sistem Respirasi pada Tumbuhan
I.Tujuan
Mahasiswa dapat mengamati sistem respirasi.
II. Landasan Teori
A. Pengertian Respirasi
Dalam kehidupan sehari-hari, respirasi sering disamakan dengan proses pernapasan. Hal ini tidak sepenuhnya benar sebab proses respirasi mencakup hal yang lebih kompleks ketimbang pernapasan. Namun demikian, apa yang terjadi dalam proses pernapasan tercakup dalam respirasi.
Namun demikian respirasi pada hakikatnya adalah reaksi redoks, dimana substrat dioksidasi menjadi CO2 sedangkan O2 yang diserap sebagai oksidator mengalami reduksi menjadi H2O, yang disebut substrat respirasi adalah setiap senyawa organik yang dioksidasikan dalam respirasi atau senyawa-senyawa yang terdapat dalam sel tumbuhan yang secara relatif banyak jumlahnya dan biasanya direspirasikan menjadi CO2 dan H2O.
B. Respirasi pada Tumbuhan
Sebagaimana kita ketahui dalam semua aktivitas makhluk hidup memerlukan energi, tumbuhan juga. Respirasi terjadi pada seluruh bagian tubuh tumbuhan, pada tumbuhan tingkat tinggi respirasi terjadi baik pada akar, batang maupun daun dan secara kimia pada respirasi aerobik pada karbohidrat (glukosa) adalah kebalikan fotosintesis. Pada respirasi pembakaran glukosa oleh oksigen akan menghasilkan energi. Karena semua bagian tumbuhan tersusun atas jaringan dan jaringan tersusun atas sel, maka respirasi terjadi pada sel (jasin, 1989).
yang hidup di daerah rawa/berlumpur mempunyai akar yang mencuat keluar dari tanah. Akar ini disebut akar napas. Kandungan katalis disebut juga enzim, enzim sangat penting untuk siklus reaksi respirasi (sebaik-baiknya proses respirasi ). Beberapa reaksi kimia membolehkan mencampur dengan fungsi dari enzim atau mengkombinasikan sisi aktifnya. Penggunaan ini akan dapat dilihat hasilnya pada inhibitor dari aktivitas enzim (Kimball, 1983).
Mahluk hidup memerlukan respirasi untuk mempertahankan hidupnya, begitu pula pada tumbuhan. Respirasi pada tumbuhan menyangkut proses pembebasan energy kimiawi menjadi energy yang diperlukan untuk aktivitas hidup tumbuhan. Pada siang hari, laju proses fotosintesis yang dilakukan tumbuhan sepuluh kali lebih besar dari laju respirasi. Hal itu menyebabkan seluruh karbondioksida yang dihasilkan dari respirasi akan digunakan untuk melakukan proses fotosintesis. Respirasi yang dilakukan tumbuhan menggunakan sebagian oksigen yang dihasilkan dari proses fotosintesis, sisanya akan berdifusi ke udara melalui daun. Reaksi yang terjadi pada proses respirasi sebagai berikut : C6H12O6 + 6 O2 6 CO2 + 6 H2O
Laju respirasi dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yang dijelaskan sebagai berikut :
a. Ketersediaan substrat
Tumbuhan dengan kandungan substrat yang rendah akan melakukan respirasi dengan laju yang rendah pula. Demikian sebaliknya bila substrat yang tersedia cukup banyak maka laju respirasi akan meningkat.
b. KetersediaanOksigen
Ketersediaan oksigen akan mempengaruhi laju respirasi, namun besarnya pengaruh tersebut berbeda bagi masing-masing spesies. Bahkan, pengaruh oksigen berbedaan antara organ satu dengan yang lain pada tumbuhan yang sama.
Umumnya, laju reaksi respirasi akan meningkat untuk setiap kenaikan suhu sebesar 10°C. Namun, hal ini tergantung pada masing-masing spesies.
d. Tipe dan umur tumbuhan
Masing-masing spesies tumbuhan memiliki perbedaan metabolism sehingga kebutuhan tumbuhan untuk berespirasi akan berbeda pada masing-masing spesies. Tumbuhan muda menunjukkan laju respirasi yang lebih tinggi dibandingkan tumbuhan yang tua (Ross, 1995).
III. Alat dan Bahan
1. Plastik bening 2. Lilin
3. Kecambah
IV. Langkah Kerja
1. Meletakkan kecambah kedalam 2 plastik bening 2. Melakukan percobaan pada kecambah plastik A
3. Menyalakan lilin kemudian membuka plasti A didepan lilin,mengamati apakah lilin masih tetap menyala atau tidak.
4. Melakukan percobaan pada kecambah plastik B setelah kecambah didiamkan dalam plastik selama 1 jam
5. Menulis hasil percobaan pada tabel pengamatan
V. Hasil Pengamatan
No. Tanaman Kecambah
Banyak uap air Lilin Jam ke
1. Sebelum Pengamatan
Sedikit uap air di dinding plastik
2. Sesedah mempunyai suatu keistimewaan. Tumbuhan dapat membuat makanannya sendiri dengan memanfaatkan sesuatu yang ada disekitarnya. Proses pembuatan makanan ini disebut fotosintesis.
Selain berfotosintesis tumbuhan juga melakukan proses respirasi seperti halnya mahluk hidup pada umumnya. Seperti yang sudah dipaparkan diatas bahwa Untuk membuktikan tumbuhan melakukan proses respirasi maka diperlukan suatu pengamatan, pengamatan yang dilakukan yaitu dengan menggunakan tumbuhan muda (kecambah) sebagai objek sebab proses pernapasannya sangat aktif karena bayaknya sel-sel muda pada jaringannya dan kecambah juga merupakan jaringan tumbuhan yang masih aktif membelah karena akan membentuk tumbuhan baru (Kimball, 1983).
Dari percobaan respirasi pada tumbuhan yang telah dilaksanakan di atas, dengan menggunakan bahan percobaan berupa kecambah yang dimasukkan ke dalam plastik yang plastik dan diikat, setelah kecambah dimasukkan kedalam plastik A (sebelum pengamatan) dan kemudian plastik A tersebut dibuka didepan lilin maka yang terjadi adalah lilin tetap menyala,sedangkan saat kecambah dimasukkan kedalam plastik B (sesudah pengamatan selama 1 jam) dan dilakukan pengamatan selama satu jam didalam plastik terdapat banyak segar terlihat adanya titik-titik air (Embun) serta terjadinya peningkatana suhu.
didalam plastik dan ketika kecambah dalam plastik A tersebut dibuka didepan lilin tidak menyebabkan api pada lilin mati karena belum menghasilkan CO2.
Kecambah pada plastik B (sesudah pengamatan selama 1 jam) telah mengalami respirasi karena didalam plastik terdapat banyak uap air ( H2O) dan
ketika kecambah pada plastik B dibuka didepan lilin menyebabkan api pada lilin mati.
Indikasi ini menunjukkan bahwa respirasi pada tumbuhan menghasilkan uap air (H2O) dan CO2 (Syamsuri.2000)
VII. Kesimpulan
Respirasi pada tumbuhan menghasilkan uap air (H2O) dan CO2
VIII. Daftar Pustaka
Afif Lestiana. 2013. Pengertian Proses Respirasi pada Tumbuhan. Diunduh dari http://afiflestiana.blogspot.com/2013/ 05/respirasi-pada- tumbuhan_2.html pada tanggal 28 Desember 2013.
Ata Seulanga. 2011. Proses Respirasi pada Tumbuhan. Diunduh dari
http://ataseulanga.blogspot.com/2011/03/makalah-respirasi-pada-tumbuhan.html pada tanggal 28 Desember 2013.
blogspot.com/2009/10/faktor-yang-mempengaruhi-kecepatan.html pada tanggal 28 Desember 2013.
Suryandari Kartika Chrysti. 2013. Petunjuk Praktikum Biologi 2013.
IX. Dokumentasi Praktikum
Kecambah dalam plastik, Berespirasi dengan adanya uap air H2O
Plastik yang berisi cambah yang telah berespirasi di buka di depan lilin yang menyala
KEGIATAN 6.1
Percobaan Sach
I. Tujuan
Untuk membuktikan bahwa proses fotosintesis menghasilkan karbohidrat.
II.Landasan Teori
itu sebagai bahan organik kemudian di respirasikan dalam tubuhnya sehingga bisa menghasilkan energi yang digunakan untuk aktivitas (Dwidjoseputro, 1986).
Menurut Sumarwan dkk, fotosintesis dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu cahaya, klorofil, suhu, ketersediaan karbondioksida dan air. Tumbuhan yang mampu melakukan fotosintesis termasuk tumbuhan dalam kelompok Autotrof yang artinya tidak tergantung mahkluk hidup lain karena mampu menyediakan bahan organik sendiri dari bahan anorganik.
Fotosintesis merupakan kemampuan tumbuhan yang mengubah bahan anorganik karbon dioksida dari udara dan air dari tanah diubah menjadi bahan organik glukosa dan oksigen. Glukosa itu sebagai bahan organik kemudian di respirasikan dalam tubuhnya sehingga bisa menghasilkan energi yang digunakan untuk aktivitas.
Karena proses pengubahan itu memerlukan cahaya, maka asimilasi zat karbon disebut fotosintesis dimana energi cahaya akan dirubah menjadi energi kimia dengan bantuan klorofil pada daun (Kimball, 2002).
Cahaya
(air) + (karbondioksida) Klorofil + (glukosa) (oksigen)
Jadi fotosintesis adalah kemampuan tumbuhan yang mengubah bahan anorganik karbon dioksida dari udara dan air dari tanah diubah menjadi bahan organik glukosa dan oksigen.
dapat diikat secara bersama-sama untuk membentuk dimer, trimer dan lain-lain. Dimer merupakan gabungan antara dua monosakarida dan trimer terdiri dari tiga monosakarida (Kimball, 2002).
Karbohidrat yang dihasilkan diperlukan sebagai sumber energi utama bagi setiap organisme/ dirinya maka tumbuhan dalam rantai makanan sebagai produsen. Karbohidrat diperlukan sebagai sumber energi pokok untuk mendorong pertumbuhan dan menyusun dinding sel glikolipid dan glikoprotein pada membran sel. Tumbuhan memproduksi karbohidrat lebih banyak daripada kebutuhannya sehingga kelebihan hasil produksi disimpan dalam bentuk amilum atau pati (Syamsuri, 2000).
Julius Von Sachs (1860), membuktikan bahwa pada fotosintesis akan terbentuk karbohidrat (amilum). Dalam percobaannya, ia menggunakan daun segar yang sebagian dibungkus dengan kertas timah kemudian daun itu direbus, dimasukkan ke dalam alkohol, dan ditetesi dengan iodium. Ia menyimpulkan bahwa warna biru kehitaman pada daun yang tidak ditutupi kertas menandakan adanya amilum.
Julius Von Sachs
III. Alat dan Bahan
1. Daun ketela pohon 2. Beker gelas
3. Alkohol
4. Aluminium foil
IV. Cara Kerja
1. Pada sore hari tutuplah sebagian daun ketela pohon atau tumbuhan lain dengan menggunakan aluminium foil (AF).
2. Petiklah daun tersebut setelah cukup terkena sinar matahari.
3. Bukalah kertas karbon yang menutup daun kemudian guntinglah daun tersebut
4. Masukkan potongan daun tersebut ke dalam air panas sampai layu kemudian angkatlah.
Setelah diangkat
5. Masukkan daun yang sudah dipanaskan tersebut ke dalam beker kecil yang berisi alkohol 96%. Perhatian : Anda tidak boleh memanaskan beker gelas yang berisi alkohol dan daun tersebut secara langsung. Untuk memanaskan beker gelas tersebut masukkan ke dalam beker gelas yang lebih besar yang telah berisi air.
6. Ambillah daun tersebut kemudian tetesi dengan larutan KI atau lugol. Amati yang terjadi !
Selanjutnya ditetesi larutan lugol VI. Hasil Pengamatan
No. Perlakuan Warna Daun
Tidak ditutup AF Ditutup AF
1. Sebelum di rebus Hijau segar Hijau layu
2. Direbus menggunakan air biasa Hijau cerah Hijau kecoklatan
3. Direbus menggunakan alkohol Hijau cerah Hijau pucat
4. Ditetesi KI Biru keungunan Hijau pucat
Proses fotosintesis dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain air (H2O), konsentrasi CO2, suhu, umur daun, translokasi karbohidrat, dan cahaya. Tetapi yang menjadi faktor utama fotosintesis agar dapat berlangsung adalah cahaya, air, dan karbondioksida (Kimball, 1992).
Menurut Haryanto(2007), fotosintesis akan menghasilkan karbohidrat dan oksigen. Hasil fotosintesis makanan berupa karbohidrat akan diedarkan ke seluruh bagian tumbuhan. Makanan digunakan misalnya untuk tumbuh, berkembangbiak, dan sebagian disimpan sebagai cadangan makanan. Sedangkan oksigen dikeluarkan ke udara yang digunakan manusia dan hewan untuk bernapas.
Pada percobaan yang telah lakukan, daun ketela sebelum direbus dan ditutup dengan alumunium foil selama ± 24 jam warna daun ketela terlihat hijau layu sedangkan daun ketela yang tidak ditutup dengan alumunium foil terlihat hijau segar. Hal ini dikarenakan daun yang ditutup dengan alumunium foil tidak mengalami fotosintesis karena tidak terkena sinar matahari selama ± 24 jam sehingga warna daun ketela pohon terlihat hijau layu, berbeda dengan daun ketela yang tidak ditutup dengan alumunium foil warna daun terlihat hijau segar karna daun tersebut terkena sinar matahari dan mengalami fotosintesis.
Selanjutnya terjadi perubahan warna pada daun yang telah direbus dalam alkohol setelah ditetesi larutan KI atau Lugol. Bagian daun yang tidak ditutupi aluminium foil (AF), daun berubah warna menjadi biru keungunan setelah ditetesi lugol dan hal ini membuktikan bahwa pada bagian daun tidak ditutupi aluminium foil (AF) itu terdapat amilum sebagai hasil dari peristiwa fotosintesis, dan sebaliknya pada bagian daun yang ditutupi aluminium foil (AF) akan berwarna hijau pucat setelah ditetesi lugol dan hal ini membuktikan bahwa pada bagian daun itu tidak terdapat amilum (karbohidrat), karena ketika proses fotosintesis terjadi, bagian daun tidak mendapat sinar matahari yang cukup dan tidak dapat memperoleh karbondioksida dari udara karena bagian daun tersebut tertutup rapat oleh aluminium foil (AF) sehingga tidak terjadi proses fotosintesis, karena tidak dapat memperoleh sinar matahari untuk proses fotosintesis. Dari percobaan tersebut terbukti bahwa fotosintesis menghasilkan amilum (karbohidrat).
VII. Kesimpulan
1. Fotosintesis memerlukan cahaya, buktinya bagian daun yang terbuka terkena cahaya matahari langsung terbentuk amilum dari hasil fotosintesis
2. Fotosintesis menghasilkan amilum, buktinya bagian daun yang ditutup aluminium foil (tidak terkena cahaya) berwarna pucat / tidak mengandung amilum karena tidak berlangsung fotosintesis
VIII. Daftar Pustaka
Bambang Pramana. 2011. Percobaan Sach. Diunduh dari
http://www.praktikumbiologi.com/2011/09/test-sach-untuk-membuktikan.html pada tanggal 25 Desember 2013.
Binar Candra Auni. 2008. Proses Fotosintesis. Diunduh dari
Sandra. Fotosintesis menghasilkan Karbohidrat. Diunduh dari
http://theotherofmyself.wordpress.com/2012/02/06/percobaan-sach/
pada tanggal 25 Desember 2013.
Suryandari Kartika Chrysti. 2013. Petunjuk Praktikum Biologi 2013.
Wawang Armansyah. 2013. Penemuan Fotosintesis. Diunduh dari
http://www.biologisel.com/2013/01/penemuan-fotosintesis.html pada tanggal 25 Desember 2013.
IX. Dokumentasi Praktikum
KEGIATAN 6.2
Percobaan Ingenhouz
I. Tujuan
Untuk membuktikan bahwa proses fotosintesis menghasilkan oksigen.
II. Landasan Teori
karbondioksida berasal dari udara bebas hasil dari pernapasan organisme. Dengan bantuan cahaya matahari, fotosintesis berlangsung. Hasilnya berupa sari-sari makanan (dan oksigen).
Di dalam kloroplas air dan karbondioksida bergabung (bereaksi) membentuk gula. Energi untuk reaksi tersebut berasal dari cahaya matahari yang diserap oleh klorofil yang terdapat di dalam kloroplas. Energi tersebut digunakan untuk memecahkan molekul air menjadi oksigen dan hidrogen. Oksigen akan dilepas dari daun, sedangkan hidrogen bergabung menjadi molekul membentuk gula.
Glukosa hasil fotosintesis dimanfaatkan oleh tumbuhan itu sendiri, yaitu untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Selain itu sebagian glukosa diubah menjadi karbohidrat (zat tepung) yang disimpan di dalam akar, batang, buah atau biji sebagai cadangan makanan. Cadangan makanan inilah yang dimakan oleh manusia dan hewan.
Oksigen yang dilepas ke udara bebas, dimanfaatkan oleh tumbuhan itu sendiri dan organisme lain untuk pernapasan.
Percobaan Ingenhousz
Jan Ingenhousz
III. Alat dan bahan
1. Tumbuhan Hydrilla 2. Beker gelas
3. Corong
IV. Langkah Kerja
1. Memasukkan tumbuhan hidrilla ke dalam beker gelas yang berisi air bersih.
3. Memasang tabung reaksi yang penuh berisi air secara terbalik untuk menutupi ujung corong yang menjulang diatas permukaan air. Tabung reaksi yang dipasang terbalik harus tetap penuh berisi air.
4. Meletakkan perangkat percobaan tersebut pada tempat yang terkena sinar matahari.
5. Mengamati gejala yang terjadi selama ± 15 menit. Jika proses fotosintesis terjadi maka akan terlihat gelembung udara yang naik mendesak air yang terdapat dalam tabung reaksi.
V. Hasil Pengamatan
No .
Pengamatan
Terkena Cahaya Matahari Tidak Terkena Cahaya Matahari 1. Banyak Uap Air Sedikit Uap Air 2. Banyak Rongga Udara Sedikit Rongga Udara 3. Banyak GelombangUdara Sedikit Gelombang
Udara
VI. Pembahasan
Tanaman hidrilla yang diletakkan di tempat yang terkena sinar matahari selama sehari, tanaman tersebut mempunyai banyak gelembung udara, terdapat rongga udara dan juga terdapat banyak uap air,sedangkan tumbuhan hidrilla yang diletakkan ditempat yang tidak terkena sinar matahari secara langsung selama sehari, setelah dilakukan pengamatan diketahui bahwa tanaman tersebut terdapat rongga udara,gelembung udara dan juga uap air yang jumlahnya jauh lebih sedikit dibandingkan dengan tanaman hidrilla yang diletakkan di tempat yang terkena sinar matahari langsung.
Di tempat yang terkena cahaya matahari dihasilkan gelembung udara lebih banyak daripada di tempat teduh. Hal ini disebabkan karena dalam proses fotosintesis, matahari sangat diperlukan sebagai sumber energi. Makin tinggi intensitas cahaya, makin banyak aktivitas fotosintesis yang dapat dilakukan sehingga gelembung udara O2 lebih banyak dihasilkan.
Hasil Percobaan Ingenhousz
VII. Kesimpulan
Proses fotosintesis menghasilkan oksigen.
VIII. Daftar Pustaka
Deyas Madani. 2010. Laporan Praktikum Ingenhousz. Diunduh dari
http://www.deyasmadani.blogspot.com/2010/04/percobaan-ingenhousz.html pada tanggal 30 Desember 2013.
Dyah Kusumawardhani. 2012. Percobaan Ingenhousz. Diunduh dari
http://tugasbiologiaku.blogspot.com/2012/04/percobaan-ingenhousz.html
pada tanggal 30 Desember 2013.
Fitri Hidayanti. 2013. Percobaan Ingenhousz. Diunduh dari
http://fitribby.blogspot.com/2013/04/biologi-percobaan-ingenhousz.html
pada tanggal 30 Desember 2013.
Suryandari Kartika Chrysti. 2013. Petunjuk Praktikum Biologi 2013.
Proses Praktikum