• Tidak ada hasil yang ditemukan

Karakteristik habitat banteng (Bos javanicus d'Alton 1832) di Taman Nasional Meru Betiri, Jawa Timur

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Karakteristik habitat banteng (Bos javanicus d'Alton 1832) di Taman Nasional Meru Betiri, Jawa Timur"

Copied!
90
0
0

Teks penuh

(1)

   

(

Bos javanicus

d’Alton 1832) DI TAMAN NASIONAL

MERU BETIRI, JAWA TIMUR

FIONA HANBERIA INNAYAH

DEPARTEMEN

KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN EKOWISATA

FAKULTAS KEHUTANAN

(2)

   

FIONA HANBERIA INNAYAH

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat untuk

Memperoleh Gelar Sarjana Kehutanan pada Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor

DEPARTEMEN

KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN EKOWISATA

FAKULTAS KEHUTANAN

(3)

   

FIONA HANBERIA INNAYAH. E34062067. Karakteristik Habitat Banteng (Bos javanicus d’Alton 1832) di Taman Nasional Meru Betiri, Jawa Timur. Dibimbing oleh ABDUL HARIS MUSTARI dan LIN NURIAH GINOGA

Banteng (Bos javanicus d’Alton 1832) merupakan salah satu mamalia besar di Taman Nasional Meru Betiri (TNMB). Data IUCN 2008 Red List of Threatened Animals menyatakan bahwa banteng termasuk dalam kategori

Endangered species (terancam punah). Banteng juga termasuk dalam satwa dilindungi menurut PP RI No. 7 Tahun 1999. Permasalahan banteng di TNMB yaitu masuknya banteng ke dalam areal perkebunan milik swasta yaitu PT. Perkebunan Bandealit dan PT. Perkebunan Sukamade Baru. Oleh karena itu, diperlukan kajian mengenai karakteristik habitat banteng untuk mengetahui ketersediaan pakan, air, dan cover sebagai dasar upaya pelestarian banteng.

Penelitian ini dilakukan di tiga Seksi Wilayah Pengelolaan TNMB yaitu SPTN W I Sarongan, SPTN W II Ambulu, dan SPTN W III Kalibaru. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli-Agustus 2010. Pengukuran struktur dan komposisi vegetasi dilakukan dengan analisis vegetasi metode garis berpetak. Pengamatan terhadap jenis-jenis pakan banteng dilakukan melalui pengamatan bekas renggutan, studi literatur, dan wawancara. Pengukuran produktivitas, palatabilitas, dan daya dukung dilakukan dengan membuat plot sampel 1x1 m². Pengamatan karakteristik cover dilakukan dengan cara mengidentifikasi jenis-jenis cover yang digunakan banteng. Data karakteristik sumber air diperoleh dengan cara inventarisasi sumber air yang terdapat di tiap lokasi pengamatan.

Banteng bersifat intermediet yaitu antara grazer dan browser. Jenis-jenis tumbuhan pakan banteng yang ditemukan di lokasi penelitian sebanyak 25 jenis yang sebagian besar diperoleh dari perkebunan. Produktivitas pakan banteng untuk Blok Banyuputih yaitu 463,92 kg/ha/hari dapat menampung 16 ekor banteng. Pakan yang memiliki palatabilitas tertinggi pada Blok Banyuputih dan Blok Sikapal yaitu jenis paitan (Paspalum conjugatum). Sebagian besar cover yang digunakan banteng berupa tajuk pohon dan rumpun bambu yang berfungsi sebagai pelindung dari sinar matahari. Sumber air minum sebagian besar berupa aliran sungai menuju muara. Sumber air yang ditemukan di lokasi penelitian yaitu Sungai Sumbersari, Sungai Cawang, Sungai Kali Sanen dan Sungai Banyuputih. Habitat yang paling diminati banteng di TNMB yaitu Blok Banyuputih dengan terdapatnya areal perkebunan dan hutan hujan tropis dataran rendah yang menyediakan pakan, air dan cover. Kurang optimalnya fungsi habitat banteng di TNMB mengakibatkan perpindahan banteng ke areal perkebunan dan memicu terjadinya perburuan liar oleh masyarakat. Untuk menanggulangi hal tersebut diperlukan pengelolaan habitat banteng secara intensif agar banteng tidak memasuki areal perkebunan.  

(4)

   

Banteng (Bos javanicus d'Alton 1832) in Meru Betiri National Park, East Java. Under supervision of ABDUL HARIS MUSTARI and LIN NURIAH GINOGA

Banteng (Bos javanicus d'Alton 1832) is one of the large mammals in Meru Betiri National Park (MBNP). IUCN 2008 Data Red List of Threatened Animals listed banteng as endangered species. Banteng is a protected species according to The Government Regulation of Republic of Indonesia No. 7 / 1999. The main problem of banteng in Meru Betiri National Park was invasion banteng to the private plantation area of PT. Perkebunan Bandealit and PT. Perkebunan Sukamade Baru. Therefore, study of banteng habitat characteristics was needed to determine food, water, and cover availability as basis for banteng conservation effort.

This research was held in three National Park Management Sections (SPTN), including SPTN W I Sarongan, SPTN W II Ambulu, and SPTN W III Kalibaru. This research was held in July-August 2010. Structure and composition of vegetation studied using line transect method of vegetation analysis. The observation of banteng’s food plants was done through by observation of browsing signs. Measuring of productivity, palatability, and carrying capacity was done by making of plot sampling 1x1 m². Cover characteristics observation was done by identifying of cover types which used by banteng. The data of water sources characteristic was obtained by water resources inventory in each location.

Banteng included to the intermediate group between grazer and browser ungulata. The types of banteng’s feed in study sites contained of 25 species, mostly obtained from the plantation area. Productivity of banteng’s feed in Banyuputih Block is 463,92 kg/ha/day for 16 banteng. The highest palatability of banteng’s feed at Banyuputih Block and Sikapal Block is paitan (Paspalum conjugatum). Most of cover used by banteng was tree canopy and bamboo which has the function as a protection from the sun. Most of water sources for drink are the river flow to the estuary. The water sources in location are Sumbersari River, Cawang River, Sanen Kali River and Banyuputih River. The preferable habitat of banteng was Banyuputih Block which contains plantation area and low land rain forest that provide feed, water and cover. Habitat function in TNMB is less than optimal caused by banteng moved to the plantation areal and it rendered wild hunting by local people. To overcome the problem, it is required intensive habitat management for banteng in order to prevent banteng enter the plantation area.

(5)

   

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Karakteristik Habitat Banteng (Bos javanicus d’Alton 1832) di Taman Nasional Meru Betiri adalah benar-benar hasil karya saya sendiri dengan bimbingan dosen pembimbing dan belum pernah digunakan sebagai karya ilmiah pada perguruan tunggi atau lembaga manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Bogor, Maret 2011

(6)

   

Judul Skripsi : Karakteristik Habitat Banteng (Bos Javanicus d’Alton 1832) di Taman Nasional Meru Betiri, Jawa Timur

Nama : Fiona Hanberia Innayah NRP : E34062067

Departemen : Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas : Kehutanan

Menyetujui,

Pembimbing I, Pembimbing II,

Dr. Ir. Abdul Haris Mustari, M.Sc .F Ir. Lin Nuriah Ginoga, M.Si. NIP 196510151991031003 NIP: 196511161992032001

Mengetahui,

Ketua Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan

Institut Pertanian Bogor

Prof. Dr. Ir. Sambas Basuni, MS NIP 195809151984031003

(7)

   

Penulis memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT atas segala curahan rahmat dan kasih sayang-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan pada Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Judul yang dipilih pada skripsi ini yaitu “Karakteristik Habitat Banteng (Bos Javanicus

d’Alton 1832) di Taman Nasional Meru Betiri, Jawa Timur”.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Dr. Ir. Abdul Haris Mustari, M.Sc.F dan Ibu Ir. Lin Nuriah Ginoga, M.Si. selaku pembimbing pertama dan kedua dalam skripsi ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyususnan skripsi ini. Dengan segala kekurangan, penulis berharap skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak yang berkepentingan. Penulis mencoba untuk menyususn skripsi ini dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritik demi penyempurnaan dan pengembangan penelitian selanjutnya.

Bogor, Maret 2011

(8)

   

Penulis bernama lengkap Fiona Hanberia Innayah dilahirkan di Banyumas, Jawa Tengah pada tanggal 8 Januari 1989. Penulis adalah anak pertama dari dua bersaudara pasangan Bernadi Susanto dan Hanum Rakhmi. Mempunyai seorang adik bernama Dzikrina Qori. Pendidikan formal yang ditempuh yaitu Taman Kanak-kanak Tunas Harapan Bangsa Jatinegara, Jakarta Timur dilanjutkan dengan Sekolah Dasar Negeri Perwira I Bekasi Utara pada tahun 1993-2000. Kemudian penulis melanjutkan Sekolah Menengah Pertama Negeri 5 Bekasi pada Tahun 2000-2003 dan Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Bekasi pada tahun 2003-2006. Pada tahun 2006 penulis diterima di Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB). Pada tahun 2007 program mayor minor penulis mendapatkan mayor Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan,IPB.

Selama menjadi mahasiswa penulis aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa IPB Tahun 2006-2007, Bela diri pencak silat Merpati Putih tahun 2006-2010, Anggota Himpunan Mahasiswa Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (HIMAKOVA). Pada tahun 2007 penulis menjabat sebagai anggota Kelompok Pemerhati Ekowisata (KPE) dan Fotografi Konservasi (FOKA).

Kegiatan lapang yang pernah diikuti penulis adalah RAFFLESIA di Cagar Alam Gunung Simpang, SURILI (Studi Konservasi Lingkungan) di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya Kalimantan Barat. Praktek Pengenalan Ekosisitem Hutan (PPEH) di Cilacap-Baturaden, Praktek Pengelolaan Hutan (PPH) di Hutan Pendidikan Gunung Walat, Sukabumi. Pada tahun 2010 penulis melakukan Praktek Kerja Lapang Profesi (PKLP) di Taman Nasional Baluran.

(9)

   

Puji Syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat dan hidayah-Nya serta shalawat serta salam kepada Nabi Besar Muhammad SAW yang telah memberikan kekuatan kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi ini. Penulis menyadari bahwa terlaksananya penelitian hingga penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari dukungan dan bantuan dari berbagai pihak baik secara langsung maupun tidak langsung dalam bentuk moril maupun materil, oleh karena itu pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :

1. Orang tua tercinta Bapak Bernadi Susanto (papa), Hanum Rakhmi (mama), Dzikrina Qori (adik) serta anggota keluarga lainnya atas doa, kasih sayang dan dukungannya

2.

Dosen pembimbing Bapak Dr. Ir. Abdul Haris Mustari, M.Sc.F dan Ibu Ir. Lin

Nuriah Ginoga, M.Si. yang telah memberikan arahan, bimbingan serta saran selama penelitian hingga penulisan skripsi ini.

3. Dosen penguji Bapak Prof. Dr. Ir. Surdiding Ruhendi, M.Sc., Bapak Prof. Dr. Ir. Hardjianto, MS. Dan Ir. Iwan Hilwan, MS

4. Dosen beserta staf KPAP atas bimbingan serta pelayanan selama penulis mendapat ilmu di Departemen Konservasi Sumbersaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan, IPB

5. Dosen, seluruh staf, dan teman-teman Fakultas Kehutanan dari MNH, THH, dan SVK,

6. Taman Nasional Meru Betiri yang telah memberikan izin melakukan penelitian di kawasan Taman Nasional

7. Seluruh staf Taman Nasional Meru Betiri baik yang di kantor maupun di lapangan yang memberi bantuan demi kelancaran penelitian ini. Bapak Wiwied Widodo, Bapak Seno, Ibu Nisa, Ibu Sulis, Mas Nugroho, Bapak Djoel.

(10)

   

Sandy, Rahmi, Nanda, Wafi, Adi, Yudi atas bantuannya dan dukungannya selama di lapang.

10.Kakak-kakak kelas dan adik-adik kelas di DKSHE 11.Keluarga besar HIMAKOVA

12.Semua pihak yang telah membantu di lapangan mas Fendi, mas Ketut, mas Andri, mas Eko, mas Parno, mas Jumadi, Bapak Slamet, Bapak Warno, Bapak Budi, Bapak Hasyim, Bapak Dedi, Bapak Luki, Bapak Sam dll.

13.Pihak-pihak lain yang tidak bisa disebutkan satu per satu

Bogor, Maret 2011

(11)

   

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... ii

DAFTAR TABEL ... iv

DAFTAR GAMBAR ... v

DAFTAR LAMPIRAN ... vi

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Tujuan Penelitian ... 2

1.3 Manfaat Penelitian ... 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Taksonomi ... 3

2.2 Morfologi dan Fisiologi ... 3

2.3 Perilaku ... 5

2.4 Populasi dan Penyebaran ... 5

2.5 Reproduksi ... 6

2.6 Habitat ... 7

2.7 Pakan ... 8

2.8 Status Konservasi ... 10

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 12

3.2 Alat dan Bahan ... 13

3.3 Jenis Data ... 13

3.4 Metode Pengumpulan Data ... 14

3.5 Analisis Data ... 17

BAB IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Potensi Fisik Kawasan ... 20

4.2 Potensi Biotik Kawasan ... 23

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Komposisi dan Struktur Vegetasi ... 26

(12)

   

(13)

   

No. Halaman

1. Ciri fisik berdasarkan kelas umur banteng jantan ... 4

2. Ciri fisik berdasarkan kelas umur banteng betina ... 4

3. Lokasi penelitian ... 12

4. Alat yang digunakan dalam penelitian ... 13

5. Data primer penelitian ... 14

6. Hasil analisis vegetasi hutan hujan tropis dataran rendah ... 26

7. Jenis-jenis vegetasi yang berfungsi cover dan pakan di hutan hujan tropis dataran rendah ... 28

8. Hasil analisis vegetais kebun ... 30

9. Jenis-jenis vegetasi yang berfungsi sebagai cover dan pakan di habitat perkebunan ... 31

10. Hasil analisis vegetasi tumbuhan bawah di Savana Sumbersari ... 33

11. Hasil analisis vegetasi tumbuhan bawah di Savana Pringtali ... 34

12. Indeks keanekaragaman jenis tiap tingkat pertumbuhan ... 37

13. Jenis-jenis pakan yang dijumpai di TNMB ... 38

14. Hasil produksi hijauan di Blok Banyuputih ... 41

15. Hasil produksi hijauan di Blok Sikapal ... 42

16. Hasil pengamatan palatabilitas pakan banteng Blok Banyuputih ... 45

17. Hasil pengamatan palatabilitas pakan banteng Blok Sikapal ... 45

18. Hasil pengamatan bentuk dan fungsi cover ... 46

(14)

   

No. Halaman

1. Kondisi fisik (a) Banteng jantan, (b) Banteng betina dan anak ... 4

2. Peta penyebaran banteng di Jawa dan Kalimantan ... 6

3. Peta lokasi penelitian ... 12

4. Metode analisisi vegetasi garis berpetak ... 15

5. Habitat hutan hujan tropis dataran rendah ... 29

6. Habitat perkebunan ... 31

7. Habitat Savana Sumbersari ... 34

8. Habitat Savana Pringtali ... 35

9. Hasil renggutan banteng ... 39

10. Persentase keberadaan potensi pakan banteng ... 40

11. Plot pengamatan produktivitas Blok Banyuputih ... 42

12. Plot pengamatan produktivitas Blok Sikapal ... 43

13. Bentuk-bentuk cover banteng di TNMB, (a) Blok Sikapal; (b) Blok Banyuputih; (c) Blok Balsa dan Kedungwatu; (d) Savana Pringtali; (e) Savana Sumbersari; (f) Blok 90an Coklat dan Karet (f) ... 49

(15)

   

No. Halaman

1. Hasil perhitungan analisis vegetasi savana ... 62

2. Hasil perhitungan analisis vegetasi perkebunan ... 63

3. Hasil perhitungan analisis vegetasi hutan hujan tropis datarn rendah ... 67

4. Profil pohon hutan Blok Banyuputih ... 71

5. Profil pohon hutan Blok Sikapal ... 72

6. Denah lokasi habitat banteng, Resort Sukamade ... 73

7. Denah lokasi habitat banteng, Resort Bandealit ... 74

(16)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Banteng merupakan salah satu mamalia besar yang penyebarannya terdapat di Burma, Thailand, Indo China, dan Indonesia. Banteng dapat dijumpai di beberapa daerah di Indonesia, antara lain: Pulau Jawa, Kalimantan, dan Bali (Lekagul dan McNeely 1977). Di Pulau Jawa, banteng (Bos javanicus) tersebar di Taman Nasional Ujung Kulon, Taman Nasional Meru Betiri, Taman Nasional Alas Purwo, dan Taman Nasional Baluran yang menjadi pertahanan terakhir hewan asli Asia Tenggara ini. Berdasarkan IUCN Red List of Threatened Species

(2008), banteng termasuk dalam kategori endangered (terancam punah) namun tidak termasuk dalam daftar CITES. Sedangkan di Indonesia, pemerintah memasukan banteng dalam Peraturan Pemerintah RI No. 7 Tahun 1999 tentang pengawetan tumbuhan dan satwa sebagai salah satu satwa yang dilindungi keberadaannya.

Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) merupakan kawasan pelestarian alam yang memiliki potensi satwa mamalia besar yang dilindungi yaitu banteng. Lokasi habitat banteng di TNMB tersebar pada tiga lokasi, yaitu SPTN W I Sarongan, SPTN W II Ambulu, dan SPTN W III Kalibaru. Berdasarkan pengamatan Tim Taman Nasional Meru Betiri di SPTN II Ambulu populasi banteng di Taman Nasional Meru Betiri mengalami peningkatan yakni pada tahun 2002 sebanyak 93 ekor/100 ha dan tahun 2009 menjadi sekitar 102 ekor/100 ha.

Keberadaan suatu populasi sangat dipengaruhi oleh kondisi habitatnya. Habitat adalah suatu ekosistem sehingga untuk menjamin kelestarian habitat, kelangsungan hubungan di dalam sistem tersebut harus dipertahankan. Interaksi antara satwa dengan habitatnya (pakan, air, dan cover) merupakan salah satu bentuk interaksi yang berperan dalam keseimbangan ekosistem. Pakan, air, dan

(17)

pakannya. Hal ini diduga terjadi pada populasi banteng di TNMB yang merambah areal perkebunan masyarakat di dalam kawasan taman nasional (PKLP TNMB 2010). Masuknya banteng ke perkebunan milik warga dapat mengancam kehidupan banteng dengan adanya perburuan liar, karena dianggap sebagai perusak perkebunan. Oleh karena itu diperlukan kajian mengenai karakteristik habitat banteng yang meliputi pakan, air, dan cover sebagai salah satu upaya untuk mengatasi permasalahan yang terdapat dalam habitat banteng.

1.2 Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik habitat banteng di Taman Nasional Meru Betiri yang meliputi:

1. Ketersediaan pakan (potensi pakan, keanekaragaman jenis, produktivitas, palatabilitas, dan daya dukung).

2. Karakteristik lindungan/cover. 3. Ketersediaan air.

1.3 Manfaat

(18)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Taksonomi

Banteng (Bos javanicus) memiliki nama lain sapi alas (Jawa), klebo dan temadu (Kalimantan). Menurut Lekagul dan McNeely (1977) serta Alikodra (1983), secara taksonomi banteng dapat diklasifikasikan dalam kelas Mamalia dan masuk dalam famili Bovidae dan sub famili Bovinae, memiliki genus Bos dan spesies Bos javanicus d’Alton 1832. Subspecies di Jawa dan Bali yaitu B. javanicus javanicus, di Kalimantan B. javanicus lowi, dan di Asian mainland B. javanicus birmanicus. Hooijer (1956), menyatakan beberapa nama lain dari Bos javanicus d’Alton yaitu Bos leucoprymnus Quoi and Gairmand 1830, Bos sondaicus Muller 1940, Bos banteng Temminck 1836, dan Bos bantinger Schlegel and Muller 1845 (Alikodra 1983).

2.2 Morfologi dan Fisiologi

(19)

(a) (b)

Gambar 1 Kondisi fisik (a) banteng jantan; (b) banteng betina dan anak. Menurut Hoorgerwerf (1970) serta Lekagul & McNeely (1977) umur maksimum banteng berkisar diantara 10–25 tahun. Banteng jantan yang berumur 8–10 tahun mempunyai tinggi bahu 170 cm, sedangkan banteng betina mempunyai tinggi bahu 150 cm dan berat banteng dapat mencapai 900 kg (Hoorgerwerf 1970). Secara umum terdapat perbedaan ciri fisik dari masing-masing kelas umur banteng (Tabel 1 dan 2). Hal ini terlihat dari panjang tanduk, warna tubuh, dan alat kelamin.

Tabel 1 Ciri fisik berdasarkan kelas umur banteng jantan Kelas umur Umur

(bulan)

Panjang tanduk (cm)

Keterangan lain

Bayi 0-6 1-6 Warna tubuh coklat terang sampai cokat

kecerahan

Muda 7-14 7-15 Mulai diketahui jenis kelamin dari perubahan warna

Dewasa 15-30 16-24 Tanduk mulai memutar ke depan, warna tubuh hitam dan adanya tonjolan penis pada tubuh

Sumber: Santosa (1985) dan Alikodra (1983)

Tabel 2 Ciri fisik berdasarkan kelas umur banteng betina Kelas umur Umur

(bulan)

Panjang tanduk (cm)

Keterangan lain

Bayi 0-6 1-4 Komposisi umur anak banteng tidak dibedakan

jenis kelaminnya

Muda 7-14 5-10 Mulai diketahui jenis kelaminnya dari

perubahan warna

Dewasa 15-30 10-16 Warna tubuh coklat tua dan adanya putting susu serta vagina pada tubuh

(20)

Slijper (1984) dalam Alikodra (1983) menyatakan bahwa kerabat dekat banteng yaitu gaur (Bos gaurus) dan kerbau air (Bubalus bubalis) yang sudah dikenal sejak zaman Alluvium. Banteng merupakan spesies ketiga yang termasuk dalam genus Bos di Asia Tenggara, dua spesies lainnya yaitu gaur atau seladang (Bos gaurus) dan kouprey (Bos sauveli) (Lekagul & McNeely 1977; Medway 1977). Selain itu, terdapat spesies banteng yang telah mengalami domestikasi yaitu sapi bali (Bos sondaicus) (Anonim 1979 dalam Alikodra 1983).

2.3 Perilaku

Banteng termasuk jenis satwaliar yang hidup berkelompok, sehingga bergerak dalam kelompok yang terdiri dari individu jantan, betina, dan anak-anaknya yang dipimpin oleh banteng betina dewasa yang lebih tua. Pengelompokkan yang dilakukan merupakan strategi dasar untuk mempertahankan kelestarian hidupnya dan pemanfaatan pakan yang optimal, perkawinan, mengasuh dan membesarkan anaknya, serta mempertahankan diri dari pemangsa (Alikodra 1983). Banteng yang sudah tua dan mendekati waktu kematian akan memisahkan diri dan menjadi banteng soliter sehingga rawan untuk menjadi mangsa satwa predator (Hoorgerwerf 1970).

2.4 Populasi dan Penyebaran

(21)

alam seperti Taman Nasional Ujung Kulon, Taman Nasional Baluran, Taman Nasional Alas Purwo dan Taman Nasional Meru Betiri. Di Kalimantan banteng hidup di sepanjang Sungai Mahakam dan di Kalimantan Barat bagian tengah (Lekagul & McNeely 1977), sedangkan di Bali banteng berada di Taman Nasional Bali Barat (Gambar 2).

Gambar 2 Peta penyebaran banteng di Jawa dan Kalimantan.

Hoorgerwerf (1970), menduga bahwa sekitar tahun 1940 populasi banteng di Jawa tidak lebih dari 2.000 ekor, sebagian besar terdapat dalam kawasan perlindungan dan di dataran rendah sebelah selatan Jawa. Populasi tersebut menurun terus menerus dari tahun ke tahun, hingga tahun 1978 populasi banteng yang ada di Pulau Jawa diperkirakan tidak lebih dari 1.500 ekor. Berdasarkan pengamatan Tim Taman Nasional Meru Betiri (2002 dan 2009) di SPTN II Ambulu populasi banteng di Taman Nasional Meru Betiri mengalami peningkatan yakni pada tahun 2002 sebanyak 93 ekor/100 ha dan tahun 2009 menjadi sekitar 102 ekor/100 ha.

2.5 Reproduksi

(22)

banteng di Thailand adalah dalam bulan Mei dan Juni. Sedangkan Hoogerwerf (1970) menyatakan bahwa musim kawin banteng di Taman Nasional Ujung Kulon adalah bulan Juli, September dan Oktober, kadang-kadang juga dalam bulan November dan Desember. Musim kawin di TNMB diduga antara bulan Juli sampai Oktober. Perkawinan biasanya dilakukan pada malam hari. Lamanya kebuntingan adalah 9,5–10 bulan. Jumlah anak setiap induk 1-2 ekor tetapi umumnya satu ekor. Anakan dilahirkan dalam waktu satu menit, 40 menit kemudian anakan sudah bisa berdiri, 60 menit kemudian menyusu pada induknya. Selanjutnya anakan akan disapih dalam umur 10 bulan. Banteng termasuk

monoestroes atau mempunyai satu musim kawin dalam satu tahun. Umur termuda banteng betina untuk mulai berkembang biak adalah 3 tahun, sedangkan banteng jantan lebih dari 3 tahun. Banteng dapat mencapai umur 21-25 tahun, sehingga seekor banteng betina sepanjang hidupnya dapat menghasilkan anak sebanyak 21 kali (Hoogerwerf 1970).

2.6 Habitat

Menurut Alikodra (1990) habitat merupakan suatu tempat yang dapat memenuhi kebutuhan satwa yang digunakan untuk tempat mencari makan, minum, berlindung, bermain, dan berkembang biak. Alikodra (1983) menyatakan bahwa lingkungan hidup banteng yang paling ideal, terdiri atas komposisi hutan alam yang berfungsi sebagai tempat berlindung dan bersembunyi dari segala macam gangguan, baik cuaca, manusia maupun pemangsa. Padang penggembalaan digunakan sebagai tempat mencari makan, istirahat, mengasuh, dan membesarkan anaknya, serta melakukan hubungan sosial lainnya. Banteng membutuhkan sumber air tawar sebagai tempat minum, sedangkan hutan pantai atau payau digunakan sebagai daerah penyangga yang melindungi banteng dari pemburu. Daerah pantai digunakan sebagai tempat mencari garam yang dibutuhkan banteng untuk membantu pencernaan. Secara garis besar habitat memiliki tiga komponen utama, tempat yang menyediakan pakan, sumber air, dan

(23)

semak dan daun (browser). Menurut Alikodra dan Palete (1980), banteng sangat menyukai fungsi dan komponen lingkungan hidup yang meliputi:

1. Hutan alam primer dipergunakan banteng sebagai tempat berlindung dari serangan musuh/predator, tempat istirahat, tempat tidur dan tempat berkembang biak.

2. Padang rumput/savana, sebaiknya terletak pada daerah yang berbukit sampai datar serta dibatasi oleh hutan alam primer ke arah darat dan hutan pantai/payau ke arah laut.

3. Sumber air, yang berdekatan dengan padang rumput.

4. Hutan pantai atau hutan payau sebagai “buffer zone”, yaitu sebagai pencegahan intrusi garam ke arah darat dan tempat berlindung atau beristirahat.

5. Air laut, sangat penting untuk keperluan hidup guna mencukupi kebutuhan mineral bagi satwa banteng, sebagaimana yang dilakukan oleh beberapa herbivora besar.

2.7 Pakan

Banteng memiliki perilaku yang dominan berupa kegiatan merumput. Alikodra (1983) menyatakan bahwa pada waktu siang hari banteng lebih memilih padang terbuka dan biasanya mereka terdiri dari beberapa kawanan banteng yang berkisar antara 10-12 ekor terdiri dari banteng jantan dewasa, induk dan anak-anaknya. Banteng merumput sambil berjalan berlawanan dengan arah mata angin dan selalu bersikap waspada serta selalu memperhatikan keadaan sekitarnya. Hoogerwerf (1970) menyatakan banteng akan mulai merumput jika cuaca cukup cerah, kelompok banteng tersebut akan memilih hari yang agak berawan dibandingkan hari yang amat terik. Alikodra (1983), menyatakan bahwa jenis rerumputan yang dimakan oleh banteng diantaranya: jampang piit (Cytococum patens), rumput geganjuran (Paspalum commersonii), rumput bambu (Panicum montanum), rumput memerakan (Themeda arquens), ki pait (Axonopus compresus) dan alang-alang (Imperata cylindrical).

(24)

lebih sering berada di padang penggembalaan dan kadang pula banteng terlihat beristirahat di tepi pantai (Lekagul & McNeely 1977).

2.7.1 Produktivitas padang rumput

Padang rumput adalah salah satu komponen habitat yang berfungsi sebagai tempat makan, istirahat, bermain, dan berkembang biak banteng. Luas padang rumput, produktivitas, kualitas, dan palatabilitas pakan yang tinggi akan mempengaruhi jumlah banteng yang menempatinya. Produktivitas merupakan hasil yang dipungut atau dipanen per satuan bobot, luas, dan waktu. Sedangkan biomas merupakan hasil yang dipungut atau dipanen per satuan luas dan bobot. McIlory (1977) menyatakan bahwa produktivitas padang rumput tergantung dari beberapa faktor yaitu:

1. Persistensi (daya tahan) kemampuan untuk bertahan hidup dan berkembang secara vegetatif

2. Agresivitas (daya saing) kemampuan untuk memenangkan persaingan dengan spesies-spesies lain yang hidup bersama.

3. Kemampuan untuk tumbuh kembali setelah mengalami kerusakan 4. Sifat tanah kering dan tahan kering

5. Penyebaran produksi musiman

6. Kemampuan menghasilkan cukup banyak biji yang dapat tumbuh baik atau dapat berkembang biak secara vegetatif

7. Kesuburan tanah

8. Iklim terutama besarnya curah hujan dan distribusi hujan

Tidak semua bagian rumput dimakan oleh satwa, tetapi ada sebagian yang ditinggalkannya untuk menjamin pertumbuhan selanjutnya. Bagian rumput yang dimakan oleh satwa disebut proper use (Susetyo 1980).

2.7.2 Palatabilitas pakan

(25)

kesempatan memilih hijauan lain, tata laksana terhadap hijauan, pemupukan, dan sifat-sifat satwa.

Palatabilitas dapat diuji dengan sistem prasmanan, yaitu dengan cara menyediakan petak-petak tanah yang ditanami dengan sejumlah hijauan yang berbeda. Satwa diberi kebebasan merumput menurut seleranya di petak-petak tersebut, dan waktu yang dihabiskan di tiap-tiap petak atau jumlah hijauan yang direnggut memberikan indeks palatabilitas relatif dari tiap jenis hijauan yang bersangkutan (Mcllroy 1977).

2.7.3 Daya dukung

Daya dukung adalah kemampuan suatu areal atau kawasan untuk mendukung satwa pada suatu periode tertentu dalam hubungannya dengan kebutuhan hidup satwa seperti reproduksi, pertumbuhan, pemeliharaan, dan pergerakan. Faktor-faktor yang mempengaruhi daya dukung adalah iklim, tanah, topografi dan tingkat pengelolaan (Ontario 1980 dalam Siswanto 1982). Besarnya daya dukung suatu areal dapat dicari melalui pengukuran salah satu faktor habitat, diantaranya melalui pendekatan terhadap pakan (Syarief 1974). Alikodra (1979) menyatakan faktor yang perlu diketahui dari daya dukung areal adalah kebutuhan makan bagi satwa dan produksi rumput makanan satwa.

2.8 Status Konservasi

Sebagai satwa langka dan terancam kelestariannya, maka perlindungan akan banteng sangat diperlukan, terutama dari perburuan yang dilakukan oleh pemburu liar serta terdesaknya habitat banteng oleh pemukiman manusia. Kegiatan pelestarian dilakukan dengan penetapan peraturan dalam berdasarkan IUCN Red List of Threatened Species (2008) masuk dalam kategori endangered

(26)
(27)

BAB III

METODOLOGI

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di Kawasan Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) di Kabupaten Jember dan Kabupaten Banyuwangi tepatnya di enam lokasi keberadaan Banteng (Tabel 3). Peta lokasi penelitian disajikan pada Gambar 3. Waktu penelitian dilaksanakan selama lima minggu yaitu bulan Juli-Agustus 2010.

Gambar 3 Peta lokasi penelitian. Tabel 3 Lokasi penelitian

Lokasi Nama tempat Tipe habitat

SPTN W I Sarongan (Resort Sukamade)

Blok 90-an Savana Sumbersari

Perkebunan coklat dan karet Padang rumput buatan

SPTN W II Ambulu (Resort Bandealit)

Blok Balsa Perkebunan

Blok Kedungwatu Perkebunan

Blok Banyuputih Perkebunan

Hutan hujan tropis dataran rendah Savana Pringtali Padang rumput buatan

SPTN W III Kalibaru (Resort Malangsari)

(28)

3.2 Alat dan Bahan

Objek pengamatan adalah satwa banteng dan habitatnya. Bahan yang digunakan adalah vegetasi tumbuhan bawah. Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain: GPS, kalkulator, kamera, kompas, meteran, pita ukur, tali rafia, tali tambang, golok, sabit, dan beberapa peralatan lainnya (Tabel 4). Tabel 4 Alat yang digunakan dalam penelitian

No Nama Alat Kegunaan

1 Global Positioning System (GPS) Menentukan titik awal jalur pengamatan dan

Mengetahui posisi keberadaan cover dan air

ditemukan

2 Kalkulator Menghitung dalam analisis data

3 Kamera Mengambil gambar kondisi habitat dan satwa

4 Kompas Mengetahui arah tajuk

5 Meteran Mengukur panjang jalur dalam analisis vegetasi

6 Pita ukur Mengukur keliling pohon

7 Tali raffia Membuat batas-batas plot

8 Tali Tambang Membuat jalur analisis vegetasi

9 Golok/sabit Memotong rumput

10 Patok/pagar Memagari plot produktivitas

11 Thermometer Mengukur suhu

12 Bola pingpong Untuk mengukur debit air

13 Pengukur waktu Mengetahui waktu dimulai dan diakhiri

pengamatan dan mengetahui lamanya waktu

pengukuran suhu dan debit air

14 Field guide tumbuhan Mengidentifikasi jenis-jenis tumbuhan

15 Tally sheet Membantu dalam pengambilan data di lapangan

16 Alat tulis Membantu dalam pencatatan data di lapangan

17 Timbangan rumput Menimbang berat rumput dari padang

penggembalaan

3.3 Jenis Data 3.3.1 Data primer

(29)

Tabel 5 Data primer penelitian

Jenis Data Metode Pengumpulan Data Lokasi Pengamatan Pengukuran Wawancara

A. Struktur dan Komposisi

Vegetasi √

e. Substrat dominan √

3. Ketersediaan Air

Data sekunder yang diambil yaitu informasi mengenai banteng berupa lokasi keberadaan banteng, data populasi, dan perilaku yang diperoleh dari wawancara dan studi pustaka.

3.4 Metode Pengumpulan Data 3.4.1 Komposisi dan Struktur Vegetasi

(30)

yang digunakan adalah metode garis berpetak yaitu dengan membuat petak-petak contoh di sepanjang jalur pengamatan. Tahapan kegiatan analisisi vegetasi meliputi:

1. Pembuatan titik-titik sampling sepanjang 100 m memotong kontur dengan menggunakan metode garis berpetak (Gambar 4).

2. Pembagian vegetasi hutan ke dalam tipe semai, pancang, tiang, dan pohon. a. Semai : Permudaan mulai dari kecambah sampai anakan dengan tinggi

kurang dari 1,5 m diamati pada petak berukuran 2x2 meter² b. Pancang : Permudaan dengan tinggi 1,5 m sampai anakan berdiameter

kurang dari 10 cm, diamati pada petak berukuran 5x5 meter² c. Tiang : Pohon muda berdiameter 10 cm sampai kurang dari 20 cm.

diamati pada petak berukuran 10 x 10 meter²

d. Pohon : Pohon dewasa berdiameter 20 cm atau lebih, diamati pada petak berukuran 20 x 20 meter ²

Data yang dikumpulkan untuk tingkat pertumbuhan pohon dan tiang adalah jenis pohon, diameter setinggi dada, tinggi bebas cabang, dan tinggi total. Sedangkan data yang diambil pada tingkat pertumbuhan pancang dan semai meliputi jenis tumbuhan dan jumlah individu setiap jenis. (Soerianegara dan Indrawan 2002).

   

Keterangan : (a) = 20 m x 20 m (c) = 5 m x 5 m

(b) = 10 m x 10 m (d) = 2 m x 2 m

Gambar 4 Metode analisis vegetasi garis berpetak.

Pengamatan/pengukuran pada padang penggembalaan dilakukan dengan menganalisis vegetasi tumbuhan bawah, dengan metode petak sampling. Petak contoh diletakan tersebar dengan ukuran setiap petak contoh adalah 1x1 m².

 

(31)

3.4.2 Karakteristik Habitat a. Ketersediaan Pakan 1. Jenis pakan

Identifikasi jenis-jenis pakan dilakukan dengan pengamatan langsung terhadap bekas renggutan pada tumbuhan yang dimakan dan dilakukan di plot analisis vegetasi. Selain itu dilakukan pengumpulan informasi jenis pakan dari pemandu dan masyarakat yang pernah melakukan perjumpaan langsung. Selanjutnya dilakukan cek silang dari berbagai buku/literatur dari taman nasional.

2. Produktivitas dan daya dukung

Analisis potensi pada habitat padang penggembalaan meliputi biomasa, produktivitas, dan daya dukung. Petak 1m x1m dibuat secara acak dengan menentukan petak awal pada bagian yang paling sering dijadikan tempat makan banteng. Data yang diperoleh dari setiap petak contoh adalah: (1) nama dan jumlah serta (2) biomasa dan produktivitas jenis pakan banteng. Biomasa diukur dengan cara memotong tumbuhan pakan pada setiap petak contoh setinggi 3-4 cm di atas permukaan tanah lalu ditimbang beratnya. Sedangkan produktivitas diukur setelah bekas potongan tersebut berumur 30 hari lalu dipotong dan ditimbang beratnya. Petak contoh tersebut dipagari agar tidak dimakan oleh satwa, sehingga dapat mengurangi bias dalam perolehan data produktivitas. Daya dukung lingkungan diperoleh dari perhitungan besarnya produktivitas dan proper use terhadap konsumsi pakan banteng per hari.

3. Palatabilitas

(32)

b. Karakteristik Cover

Data karakteristik cover diperoleh melalui pengamatan langsung pada plot analisis vegetasi yang diperkuat dengan adanya jejak kaki dan feses dari banteng. Selain itu dilakukan wawancara dengan masyarakat sekitar hutan dan petugas sebagai informasi tambahan. Selanjutnya dilakukan cek silang dari data sekunder berupa dokumen taman nasional. Cover dibedakan menurut fungsi dan bentuknya yaitu berupa tipe cover, fungsi cover, tipe habitat keberadaan cover, ketinggian, dan substrat dominan.

c. Ketersediaan Air

Data ketersediaan air yang diambil berupa parameter fisik yaitu lebar dan kedalaman sungai, lokasi sumber air, ketersediaan sumber air, intensitas penggunaannya oleh banteng, dan habitat keberadaan sumber air. Pada air sungai yang mengalir dilakukan penghitungan debit air. Debit air dihitung dengan menggunakan bola pingpong yang dialirkan mengikuti arus air sepanjang 2 meter kemudian dihitung waktunya. Pengulangan perhitungan dilakukan sebanyak tiga kali yaitu di tepi kiri, di tengah, dan di tepi kanan.

3.5 Analisis Data

3.5.1 Komposisi dan Struktur Vegetasi

Data vegetasi hutan yang terkumpul selanjutnya dianalisis dengan dihitung nilai-nilai: indeks nilai penting dan indeks keanekaragaman spesies. Untuk mengetahui struktur dan komposisi vegetasi, maka pada masing-masing petak ukur dilakukan analisis kerapatan, frekuensi dan dominansi untuk setiap jenis tumbuhan (Soerianegara dan Indrawan 2002). Perhitungan dilakukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

Kerapatan suatu spesies (K)

Kerapatan relatif suatu spesies (KR) 100%

(33)

Frekuensi relatif suatu spesies (FR) 100%

Dominasi relatif suatu spesies (DR) ×100% spesies

Indeks Nilai Penting (INP)

Tingkat semai dan pancang : INP = KR + FR Tingkat pohon/ tiang : INP = KR + FR + DR

Total Indeks Nilai Penting (INP) untuk setiap tingkat pohon, tiang, pancang, semai, dan tumbuhan bawah, dihitung untuk setiap tipe ekosistem. Nilai INP setiap tipe ekosistem menggambarkan kondisi vegetasi. Untuk menghitung keanekaragaman spesies digunakan Indeks Keanekaragaman Shannon (H’) dengan persamaan sebagai berikut :

H’ = - ∑ [ Pi. ln. Pi]

Keterangan :

H’ : Indeks Keanekaragaman Shannon Pi : Proporsi Nilai Penting

Ln : Logaritma Natural ni : Jumlah INP suatu spesies N : Jumlah INP seluruh spesies

3.5.2 Produktivitas dan Daya Dukung

Untuk mengetahui produksi hijauan seluruh areal dipergunakan rumus Susetyo (1980).

P = Produksi Hijauan seluruh areal (Kg) L = Luas seluruh areal (ha)

p = Produksi hijauan pada areal contoh (kg)

(34)

l = luas areal contoh (ha)

Untuk mengetahui daya dukung padang penggembalaan digunakan rumus Susetyo (1980) sebagai berikut:

C

P = Produktivitas hijauan (Kg /m²/hari)

p.u = Guna nyata (0.65) untuk daerah yang datar sampai bergelombang (kemiringan 0º-5º)

A = Luas seluruh areal

C = Kebutuhan Makan Banteng (Kg/ekor/hari)

3.5.4 Palatabilitas

Palatabilitas dihitung menggunakan rumus Alikodra (2000) sebagai

P = palatabilitas, nilainya berkisar 0-1

x = jumlah petak contoh dimana sesuatu jenis dimakan banteng y = jumlah seluruh petak contoh dimana jenis tersebut ditemui

(35)

BAB IV

KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

4.1 Potensi Fisik Kawasan 4.1.1 Letak dan Luas

Berdasarkan letak administrasi pemerintahan, kawasan TNMB terletak di dua wilayah Kabupaten Provinsi Jawa Timur. Bagian barat termasuk Kabupaten Jember dengan luas 37.626 ha dan bagian timur termasuk Kabupaten Banyuwangi dengan luas 20.374 ha. Kawasan TNMB secara geografis terletak antara 113º58'48’’ - 113º58'30’’ BT dan 8º20'48’’ - 8º33'48’’ LS.. Batas-batas wilayah kawasan Taman Nasional Meru Betiri berdasarkan TNMB (2009) meliputi:

a. Sebelah utara, berbatasan dengan kawasan PT. Perkebunan Treblasala dan Perum Perhutani RPH Curahtakir.

b. Sebelah timur, berbatasan dengan Desa Sarongan, Kecamatan Pesanggaran Kabupaten Banyuwangi dan kawasan PTPN XII Sumberjambe.

c. Sebelah selatan, berbatasan dengan Samudera Indonesia

d. Sebelah barat, berbatasan dengan Desa Curahnongko, Desa Andongrejo, Desa Sanenrejo Kecamatan Tempurejo Kabupaten Jember, kawasan PTPN XII Kalisanen PTPN XII Kota Blater dan Perum Perhutani RPH Sabrang.

4.1.2 Topografi

Secara umum kawasan Taman Nasional Meru Betiri berupa perbukitan yang berbatasan dengan kawasan pantai (bagian selatan). Kawasan ini berada pada ketinggian antara 900-1.223 m dpl. Kondisi kelerangan tanah sangat beragam, mulai dari keadan datar, landai hingga memiliki kelerangan dengan tingkat yang curam. Kawasan Meru Betiri didominasi dengan bukit-bukit yang relatif tersebar secara merata.

(36)

m dpl) yang merupakan gunung tertinggi, G. Gendong (840 m dpl), G. Sukamade (806 m dpl), G. Sumberpacet (706 m dpl), G. Permisan (568 m dpl), G. Sumberdadung (520 m dpl), dan G. Rajegwesi (160 m dpl). SPTN W III masih menjadi bagian wilayah SPTN W I dan SPTN W II, baru pada tahun 2008 dipisahkan menjadi wilayah tersendiri.

Pada umumnya keadaan topografi di sepanjang pantai berbukit-bukit sampai bergunung-gunung dengan tebing yang curam. Sedangkan pantai datar yang berpasir hanya sebagian kecil, dari timur ke barat adalah Pantai Rajegwesi, Pantai Sukamade, Pantai Permisan, Pantai Meru dan Pantai Bandealit. Sungai-sungai yang berada di kawasan TNMB antara lain Sungai Sukamade, Sungai Permisan, Sungai Meru dan Sungai Sekar Pisang yang mengalir dan bermuara di Pantai Selatan Jawa (TNMB 2009).

4.1.3 Geologi dan Tanah

Secara umum jenis tanah di kawasan TNMB merupakan asosiasi dari jenis aluvial, regosol dan latosol. Tanah alluvial umumnya terdapat di daerah lembah dan tempat rendah sampai pantai, sedangkan regosol dan latosol umumnya terdapat di lereng dan punggung gunung. Menurut Suganda et al. (1992) dalam

Tim PKLP TNMB (2010) geologi kawasan TNMB terdiri atas: a. Aluvium meliputi kerakal, kerikil, pasir dan lumpur.

b. Formasi Sukamade meliputi batu gunung terumbu bersisipan batu lanau dan batu berpasir.

c. Formasi Puger meliputi batu gunung terumbu bersisipan breksi batu gunung dan batu gamping hutan.

d. Formasi batu ampar meliputi perselingan batu pasir dan batu lempung bersisipan tuf, breksi, dan konglomerat.

e. Anggota batu gamping formasi Meru Betiri meliputi batu gamping, batu gamping tufan, dan napal.

f. Formasi Meru Betiri meliputi perselingan breksi gunung api, lava dan tuf, terpropilitan

g. Formasi Mandiku meliputi breksi gunung api dan tuf, breksi berkomponen andesit dan basal bersisipan tuf.

(37)

Aluvium, Formasi Sukamade, Formasi Puger, Formasi Batu Ampar, dan anggota batu gamping Formasi Meru Betiri berasal dari batuan endapan permukaan, dan batuan sedimen. Formasi Meru Betiri dan Formasi Mandiku berasal dari batuan gunung api. Sedangkan batuan terobosan berasal dari batuan terobosan. Aluvium terbentuk pada zaman Holosen Kuartier, Formasi Batu Ampar terbentuk pada Zaman Oligosen, Formasi Mandiku, dan Formasi Puger terbentuk pada Zaman Akhir Miosen Tersier, Batuan terobosan terbentuk pada Zaman Tengah Miosen Tersier sedangkan Formasi Meru Betiri, Formasi Sukamade, anggota batu gamping Formasi Meru Betiri terbentuk pada Zaman Awal Miosen Tersier.

4.1.4 Iklim

Berdasarkan klasifikasi iklim Schmidt dan Ferguson, tipe iklim kawasan taman nasional bagian utara dan tengah termasuk iklim B dan C, dengan curah hujan rata-rata berkisar antara 2.544 – 3.478 mm per tahun dengan rata-rata bulan kering selama empat sampai lima bulan dan bulan basah selama tujuh sampai sampai delapan bulan. Sedangkan kawasan TNMB bagian barat mempunyai tipe iklim C dengan curah hujan rata-rata 2.300 mm per tahun, dan kawasan sebelah timur mempunyai curah hujan rata-rata 1.300 mm per tahun sehingga kondisinya lebih kering.

(38)

4.2 Potensi Biotik

4.2.1 Flora dan tipe habitat

Kawasan Taman Nasional Meru Betiri mempunyai flora sebanyak 518 jenis, terdiri atas 15 jenis yang dilindungi dan 503 jenis yang tidak dilindungi. Taman Nasional Meru Betiri memiliki formasi vegetasi yang lengkap dan juga beberapa jenis flora langka antara lain bunga rafflesia (Rafflesia zollingeriana), juga terdapat Balanophora fungosa yaitu tumbuhan parasit yang hidup pada jenis pohon Ficus spp. Selain itu, terdapat pula jenis flora yang digunakan sebagai bahan baku obat/jamu tradisional sebanyak 239 jenis. Berikut ini merupakan jenis flora yang diprioritaskan untuk dikembangkan sebagai bahan baku obat adalah cabe Jawa (Piper retrofractum), kemukus (Piper cubeba), kedawung (Parkia roxburghii), kluwek/pakem (Pangium edule), kemiri (Aleurites moluccana), pule pandak (Rauwolfia serpentina), kemaitan (Lunasia amara), anyang-anyang (Elaeocarpus grandiflora), sintok (Cinnamomum sintok), dan kemuning (Murray paniculata).

Kawasan Taman Nasional Meru Betiri merupakan hutan hujan tropis yang mempunyai 5 tipe vegetasi yaitu vegetasi hutan pantai, vegetasi hutan mangrove, vegetasi hutan rawa, vegetasi hutan rheophyte dan vegetasi hutan hujan dataran rendah. Kondisi setiap tipe vegetasi di kawasan Taman Nasional Meru Betiri berdasarkan TNMB (2009) dapat dijelaskan sebagai berikut:

a. Tipe Vegetasi Hutan Pantai

(39)

yang bertopografi datar, misalnya di Teluk Permisan, Teluk Meru, Teluk Bandealit, dan Teluk Rajegwesi.

b. Tipe Vegetasi Hutan Mangrove

Vegetasi ini dapat dijumpai di bagian timur Teluk Rajegwesi yang merupakan muara Sungai Lembu dan Karang Tambak, Teluk Meru dan Sukamade merupakan vegetasi hutan yang tumbuh di garis pasang surut. Jenis-jenis yang mendominasi adalah bakau-bakauan (Rhizophora sp), api-api (Avicennia sp), dan tancang (Bruguiera sp). Di muara Sungai Sukamade terdapat nipah (Nypa fruticans) yang baik formasinya.

c. Tipe Vegetasi Hutan Rawa

Jenis vegetasi yang banyak dijumpai diantaranya mangga hutan (Mangifera sp), sawo kecik (Manilkara kauki), ingas/rengas (Gluta renghas), pulai (Alstonia scholaris), kepuh (Sterculia foetida), dan Barringtonia spicata. Vegetasi ini dapat dijumpai di belakang hutan payau Sukamade.

d. Tipe Vegetasi Hutan Rheophyt

Tipe vegetasi ini terdapat pada daerah-daerah yang dibanjiri oleh aliran sungai dan jenis vegetasi yang tumbuh diduga dipengaruhi oleh derasnya arus sungai, seperti lembah Sungai Sukamade, Sungai Sanen, dan Sungai Bandealit. Jenis yang tumbuh antara lain glagah (Saccharum spontaneum), rumput gajah (Penisetum curcurium), dan beberapa jenis herba berumur pendek serta rumput-rumputan.

e. Tipe Vegetasi Hutan Hujan Tropika Dataran Rendah

(40)

speciosa), segawe (Adenanthera microsperma), aren (Arenga pinnata), langsat (Lansium domesticum), bendo (Artocarpus elasticus), suren (Toona sureni), dan durian (Durio zibethinus). Terdapat pula vegetasi bambu seperti: bambu bubat (Bambusa sp), bambu wuluh (Schizastychyum blumei), dan bambu lamper (Schizastychyum branchyladium). Di dalam kawasan juga terdapat beberapa jenis rotan, diantaranya: rotan manis (Daemonorops melanocaetes), rotan slatung (P. longistigma) dan rotan warak (P. elongata).

4.2.2 Fauna

(41)

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Komposisi dan Struktur Vegetasi 5.1.1 Hutan hujan tropis dataran rendah

Hutan hujan tropis dataran rendah merupakan salah satu habitat yang penting bagi banteng di kawasan TNMB. Tipe vegetasi ini mendominasi sebagian besar kawasan TNMB. Pada lokasi ini dilakukan analisis vegetasi untuk berbagai tingkat pertumbuhan. Lokasi yang menjadi pengukuran vegetasi merupakan hutan hujan tropis primer dan sekunder. Berdasarkan hasil pengukuran diperoleh 38 jenis tumbuhan dengan 24 famili (Tabel 6).

Tabel 6 Hasil analisis vegetasi hutan hujan tropis dataran rendah

Area Tingkat Nama

lokal Nama ilmiah

KR

Semai Bambu Schizoschyum blumea 94,11 57,14 - 151,25

Jenti Sesbania sesban 2,35 28,57 - 30,92

Jerukan Polyalthia rumphii 3,52 14,28 - 17,80

Pancang Bambu Schizoschyum blumea 90,90 40 - 130,90

Jerukan Polyalthia rumphii 4,95 20 - 24,95

Kopi Coffea robusta 2,06 20 - 22,06

Tiang Kopi Coffea robusta 33,33 25 26,71 85,04

Jerukan Polyalthia rumphii 26,66 25 28,89 80,56

Jenti Sesbania sesban 20 25 20,47 65,47

Pohon Walangan Pterospermum

diversifolium

28,57 13,33 18,50 60,41

Kelapa Cocos nucifera 14,28 20 20,79 55,08

Timo Kleinhovia hospital 14,28 13,33 14,80 42,42

Blok

(42)

Tabel 6 lanjutan.

Pada hutan hujan tropis dataran rendah Blok Banyuputih diperoleh 14 jenis tumbuhan dengan 12 famili. Blok Banyuputih memiliki tanah kering dengan topografi yang relatif datar sampai dengan bergelombang. Suhu rata-rata pada blok ini yaitu 29°C dengan kelembaban 65% dan berada pada ketinggian ± 20 m dpl. Jenis tanaman kopi (Coffea robusta) dan jenti (Sesbania sesban) merupakan tanaman perkebunan, karena letak hutan hujan tropis dataran rendah di pinggir perkebunan maka plot diambil dari areal perkebunan untuk mengambil data daerah cover banteng. Rumpun bambu mendominasi di perbatasan antara hutan dan perkebunan sehingga digunakan banteng untuk berlindung. Lebatnya rumpun bambu membuat banteng sulit ditemukan ketika masuk ke dalam hutan.

Sumber air diperoleh dari Sungai Banyuputih dan untuk kebutuhan mengasin banteng dapat mengunakan Pantai Bandealit karena lokasi perkebunan hanya berjarak ± 1 km dari pantai. Pada hutan hujan tropis dataran rendah Blok Sikapal diperoleh 25 jenis tumbuhan dengan 20 famili (Lampiran 5). Pada blok ini terdapat ruang-ruang terbuka yang kecil dan ditumbuhi dengan tumbuhan bawah pakan banteng. Kondisi tanah sebagian besar basah dan memiliki topografi bergelombang.

Suhu rata-rata pada blok ini yaitu 26°C berada pada ketinggian 600 m dpl dengan kelembaban 69%. Pada jalur menuju plot analisis vegetasi dan plot produktivitas Blok Sikapal ditemukan rumpun bambu yang letaknya dekat dengan sungai dan berada di tepi hutan hujan tropis dataran rendah, serta berbatasan dengan areal perkebunan. Rumpun bambu tersebut dijadikan koridor lintasan bagi banteng, hal ini dibuktikan dengan adanya jejak-jejak baru dan jejak-jejak lama. Hutan hujan tropis dataran rendah Blok Sikapal masih alami dilihat dari vegetasinya yang rapat, lokasinya yang sulit dijangkau, tidak adanya aktivitas

(43)

manusia, dan masuknya kawasan Blok Sikapal dalam zona inti TNMB. Pada Tabel 7 disajikan vegetasi yang berfungsi cover dan pakan bagi banteng di hutan hujan tropis dataran rendah.

Tabel 7 Jenis-jenis vegetasi yang berfungsi cover dan pakan di hutan hujan tropis dataran rendah.

Kondisi tumbuhan hutan hujan tropis dataran rendah di TNMB masih baik, hal ini dapat dilihat dari penutupan vegetasi yang rapat dan diameter pohon yang besar serta topografi yang relatif datar sampai dengan bergelombang dan tidak terganggu aktivitas manusia. Medway (1977) menyatakan bahwa banteng sangat menyukai habitat yang berhutan sekunder dan banyak tempat terbuka tetapi tidak terganggu oleh manusia. Kawasan TNMB sebagian besar merupakan hutan hujan tropis dataran rendah, hampir 70% luasan TNMB merupakan hutan hujan tropis dataran rendah baik primer maupun sekunder. Hasil pengamatan jenis vegetasi di habitat banteng diperoleh 38 jenis vegetasi dengan 24 famili. Pada kawasan Taman Nasional Alas Purwo diperoleh 40 jenis (Delfiandi 2006) dan pada Taman Nasional Ujung Kulon diperoleh 27 jenis (Destriana 2006) pada lokasi habitat banteng hutan hujan tropis dataran rendah.

Berdasarkan hasil analisis vegetasi, banteng banyak mendapat pakan dari tumbuhan bawah yang terdapat di sela-sela tegakan dan merupakan tempat lintasan banteng. Banteng memanfaatkan vegetasi yang rapat dan tutupan tajuk

Areal

Jenis vegetasi

Fungsi Pakan Fungsi Cover

Nama lokal Nama ilmiah Nama lokal Nama ilmiah Blok

Banyuputih

Babadotan Ageratum conyzoides Walangan Pterospermum

diversifolium

Kariya Mikania micrantha Bambu

wuluh

Schizoschyum blumea

Lagetan Spilanthes acmelia Jenti Sesbania sesban

Bambu wuluh Schizoschyum blumea

Kopi Coffea robusta

Jenti Sesbania sesban

Blok Sikapal

Paitan Paspalum

conjugatum

Luwingan Ficus hispida

Kariya Mikania micrantha Kemunduh Baccauera

recemosa

Kirinyuh Chromolaena

odorata

Apak Ficus benjamina

Luwingan Ficus hispida

(44)

yang lebat di dalam hutan untuk berlindung dari berbagai macam gangguan dan juga sebagai tempat istirahat (Gambar 5). Banteng memilih rumpun bambu sebagai tempat berteduh selain tajuk pohon dan terdapat hamparan pakan yang dijadikan sebagai bahan makanan tambahan, karena banteng ketika beristirahat juga sambil memamah biak (Alikodra 1983). Jika banteng bertemu dengan manusia maka akan berlari masuk hutan dengan tegakan bambu yang rapat sehingga sangat sulit untuk menemukannya. Banteng memilih hutan hujan tropis dataran rendah sebagai lokasi berlindung karena jarang terdapat aktivitas manusia. Alikodra (1983) mengemukakan hutan hujan tropis dataran rendah dijadikan sebagai tempat bersembunyi dari berbagai macam gangguan dan dijadikan sebagai tempat berlindung dari kondisi cuaca yang tidak menentu. Pada kawasan Taman Nasional Alas Purwo bambu mendominasi 40% dari luasan hutan hujan tropis dataran rendah (Delfiandi 2006). Pada kawasan TNMB bambu mendominasi di daerah tepi antara areal perkebunan dan hutan hujan tropis dataran rendah.

Gambar 5 Habitat hutan hujan tropis dataran rendah. 5.1.2 Perkebunan

(45)

Tabel 8 Hasil analisis vegetasi di areal perkebunan untuk jenis dominan

Areal Tingkat Nama

lokal Nama ilmiah

KR

Bawah Lagetan Spilanthes acmelia

82,75 50 - 132,75

Bawah Lagetan Spilanthes acmelia,

61,11 25 - 86,11

Bawah Babadotan Ageratum conyzoides

47,19 25 - 72,19

Bawah Babadotan Ageratum conyzoides

40,88 30 - 70,88

Semai - - - - - -

Pancang Waru Hibiscus tiliaceus 78,57 75 - 153,57

Tiang - - - - - -

Pohon Waru Hibiscus tiliaceus 50 50 50,44 150,44

(46)

Tabel 9 Jenis-jenis vegetasi yang berfungsi sebagai cover dan pakan di habitat perkebunan

Areal perkebunan merupakan habitat yang disukai oleh banteng di kawasan TNMB, karena selain tersedianya pakan banteng yang berlimpah juga tersedia air dan tempat istirahat di sekitarnya. Menurut Alikodra (2002) satwaliar juga banyak yang menggunakan tanaman perkebunan sebagai habitatnya, sehingga untuk beberapa hal sering menjadi hama tanaman. Beberapa satwa yang sering menggunakan habitat perkebunan antara lain, gajah, rusa, babi hutan, banteng dan kera ekor panjang. Aktivitas banteng di TNMB lebih banyak ditemui di areal perkebunan (Wirawan 2011). Pada perkebunan sangat banyak dijumpai banteng baik secara langsung maupun tidak langsung.

Gambar 6 Habitat perkebunan. Areal

Jenis vegetasi

Fungsi Pakan Fungsi Cover

Nama lokal Nama ilmiah Nama lokal Nama ilmiah Blok 90an

Coklat

Lagetan Spilanthes acmelia Coklat Theobroma cacao

Coklat Theobrroma cacao

Sintru Clitoria ternatea

Blok 90an Karet

Lagetan Spilanthes acmelia Karet Hevea brasiliensis

Kirinyuh Chromolaena odorata

Sintru Clitoria ternatea

Babadotan Ageratum conyzoides

Blok Balsa Rambusa Passiflora foetida Balsa Ochroma lagopus

Babadotan Ageratum conyzoides

Sintru Clitoria ternatea

Kirinyuh Chromolaena odorata

Blok Kedungwatu

Babadotan Ageratum conyzoides Waru Hibiscus tiliaceus

Sintru Clitoria ternatea

Krayutan Mikania micrantha

Kirinyuh Chromolaena odorata

Waru Hibiscus tiliaceus L.

(47)

Pengelolaan areal perkebunan di TNMB masih cukup baik, sehingga tumbuhan bawah dapat tumbuh dengan subur karena adanya perawatan, seperti pemupukan. Meskipun banyak lokasi perkebunan yang telah rusak, lokasi yang masih produktif tetap dirawat. Menurut Setiawati (1986) kondisi rumput yang tumbuh di bawah tegakan kelapa milik perkebunan jauh lebih baik dibanding rumput yang tumbuh di padang penggembalaan. Keadaan ini menguntungkan bagi banteng sehingga selalu tersedia pakan yang segar meskipun tiap blok perkebunan dijaga oleh manusia. Banteng dapat mencari kesempatan untuk mendapatkan makanan di areal perkebunan. Ketika melihat manusia banteng akan pergi ke hutan di sekitarnya dan kembali ketika keadaan telah aman (Alikodra 1983). Habitat perkebunan disukai banteng karena topografinya yang sebagian besar datar sehingga memudahkan banteng untuk mengetahui kemungkinan adanya gangguan (Alikodra 2010).

Pemanfaatan areal perkebunan sebagai salah satu habitat sering menimbulkan permasalahan bagi pihak perkebunan. Masuknya banteng ke dalam areal perkebunan yang baru ditanami mengakibatkan tanaman perkebunan milik warga menjadi rusak. Oleh karena itu, pihak perkebunan melakukan pengamanan terhadap banteng melalui patroli yang dilakukan oleh pekerja perkebunan untuk menghalau banteng agar tidak masuk ke areal perkebunan. Penghalauan hanya dilakukan pada lokasi perkebunan yang sedang ditanami tanaman pertanian karena rentan akan injakan dan potensi dimakan oleh banteng. Tingkat kerawanan populasi banteng pada perkebunan dipengaruhi oleh kegiatan manusia saat mengambil hasil perkebunan dan mencari kayu atau bambu. Tingkat perburuan terhadap banteng juga sudah sangat jarang (Tim TNMB 2009). Keberadaan satwa pemangsa (predator) tidak ditemukan di habitat tersebut karena keberadaannnya yang telah punah yaitu harimau jawa (Panthera tigris sondaica).

5.1.3 Padang Rumput

(48)

(Lantana camara) dan bambu jajang (Giganthochloa apus). Feeding ground

buatan tersebut sudah sangat jarang digunakan oleh banteng. Hal ini dibuktikan dengan sulitnya ditemukan jejak keberadaan bateng tersebut. Berdasarkan analisis vegetasi yang dilakukan di Savana Sumbersari, ditemukan 12 jenis tumbuhan yang didominasi oleh famili Verbenaceae dan Poaceae (Tabel 10).

Tabel 10 Hasil analisis vegetasi tumbuhan bawah di Savana Sumbersari No Nama lokal Nama Ilmiah Famili KR

1 Telekan Lantana camara Verbenaceae 30,48 15,15 45,64

2 Plumpung Panicum respens Poaceae 28,22 15,15 43,37

3 Sintru Clitoria ternatea Leguminosae 10,84 15,15 25,99

4 Kerayutan Mikania micrantha Asteraceae 8,83 12,12 20,95

5 Paitan Paspalum

conjugatum

Poaceae 6,82 9,09 15,91

6 Rumput gambir - - 5,62 9,09 14,71

7 Lagetan Spilanthes acmelia Asteraceae 3,21 6,06 9,27

8 Rumput kawat Cynodon dactylon Poaceae 2,00 6,06 8,06

9 Kacang2an Desmodium

puchellum

Fabaceae 1,20 3,03 4,23

10 Rumput teki Cyperus rotundus Cyperaceae 1,20 3,03 4,23

11 Kemukus Piper cubeba Piperaceae 0,80 3,03 3,83

12 Putri malu Mimosa pudica Fabaceae 0,80 3,03 3,83

Hasil pengukuran vegetasi ditemukan 12 jenis tumbuhan pada Savana Sumbersari. Jenis tumbuhan yang mendominasi dilihat dari INP terbesar yaitu telean (Lantana camara) dan plumpung (Panicum respens) yang merupakan jenis yang tidak disukai banteng. Jenis-jenis tumbuhan seperti sintru (Clitoria ternatea), krayutan (Mikania micrantha), dan paitan (Paspalum conjugatum) yang merupakan pakan banteng juga terdapat pada savana dengan jumlah banyak terlihat dari INP tumbuhan tersebut. Walaupun jenis tersebut terdapat pada savana, namun keberadaan telean (Lantana camara) dan plumpung (Panicum respens) lebih dominan sehingga menutupi keberadaan jenis pakan lain.

(49)

pengelolaan habitat dengan mengetahui luasan efektif dari savana tersebut kemudian dilakukan pembersihan dan pembuatan bak untuk mengasin bagi banteng. Savana ini memiliki suhu 33°C dengan kelembaban 61% dan berada pada ketinggian ± 20 m dpl. Kondisi Savana Sumbersari dapat dilihat pada Gambar 7.

Gambar 7 Habitat Savana Sumbersari.

Pada pengukuran vegetasi ditemukan 9 jenis tumbuhan di Savana Pringtali. Pada INP terbesar diperoleh telean (Lantana camara) yang mendominasi dan merupakan jenis yang tidak disukai banteng. Jenis lain yang merupakan pakan banteng dan memiliki INP yang besar yaitu paitan (Paspalum conjugatum), sintru (Mikania micrantha), kirinyuh (Chromolaena odorata), dan kawatan (Cynodon dactylon). Jenis-jenis pakan banteng tersebut terinvasi oleh telean sehingga banteng sulit menemukan makanannya. Hasil analisis vegetasi dapat dilihat pada Tabel 11.

Tabel 11 Hasil analisis vegetasi tumbuhan bawah di Savana Pringtali No Nama lokal Nama Ilmiah Famili KR

(%)

FR (%)

INP (%)

1 Telean Lantana camara Verbenaceae 32,40 14,89 47,29

2 Paitan Paspalum conjugatum Poaceae 25,75 14,89 40,64

3 Sintru Clitoria ternatea Leguminoceae 15,91 14,89 30,80

4 Kerinyu Chromolaena odorata Asteraceae 6,48 14,89 21,37

5 Kawatan Cynodon dactylon Poaceae 8,44 12,76 21,21

6 Krayutan/kariya Mikania micrantha Asteraceae 2,55 10,63 13,19

7 Sidagori Sida glabra Malvaceae 1,96 8,51 10,47

8 Babadotan Ageratum conyzoides Compositae 2,16 4,25 6,41

9 Pulutan Urena lobata Malvaceae 0,78 4,25 5,04

(50)

camara) sehingga jenis-jenis pakan yang disukai oleh banteng tertutup oleh adanya telean. Savana ini memiliki bak untuk mengasin bagi banteng, namun untuk kebutuhan mengasin, banteng biasanya mengunjungi pantai karena jarak antara savana dengan pantai ± 1 km. Terdapat sungai yang hanya mengalir pada musim hujan. Lokasi savana ini kurang strategis yaitu berada diantara areal perkebunan yang menjadi lintasan banteng ketika turun dari hutan hujan tropis dataran rendah sehingga banteng lebih memilih berada di areal perkebunan sekitarnya. Jenis pohon yang terdapat pada savana yaitu timo (Kleinhovia hospita), apak (Ficus benjamina), gintongan (Bischofia javanica), bungur (Lagerstroemia speciosa), dan gondang (Ficus variegata). Pada tahun 2010 dilakukan pembinaan habitat Savana Pringtali dengan membersihkan tanaman pengganggu yaitu Lantana camara sampai ke akarnya sehingga jenis-jenis pakan banteng dapat tumbuh. Dari hasil pengamatan tumbuhan yang tumbuh selama 30 hari di Savana Pringtali diperoleh jenis-jenis pakan yang disukai banteng. Suhu di Savana Pringtali sebesar 30°C dengan kelembaban 72% dan berada pada ketinggian ± 15 m dpl. Kondisi habitat Savana Printali dapat dilihat pada Gambar 8.

Gambar 8 Habitat Savana Pringtali.

(51)

padang rumput ini kurang memenuhi kriteria tersebut. Pada habitat Savana Sumbersari tidak terdapat ruang yang luas untuk banteng leluasa dalam mencari makan karena invasi dari telean (Lantana camara) dan plumpung (Panicum respens).Lokasi yang jauh dari tempat mengasin dan kembalinya savana menjadi rumpun bambu mengakibatkan tak ada tempat bermain bagi banteng, sedangkan pada Savana Pringtali tidak terdapat sumber air sepanjang tahun terdekat dan invasi telean (Lantana camara) yang mulai menutupi pakan banteng.

Padang rumput di TNMB tidak lagi diminati karena banteng lebih memilih areal perkebunan sebagai habitatnya. Hal ini dikarenakan selain menyediakan pakan, perkebunan memiliki sumber air yang merupakan faktor penting bagi kelangsungan hidup banteng. Selain itu, lokasinya yang dekat dengan hutan hujan tropis dataran rendah sehingga memudahkan untuk bersembunyi atau beristirahat. Perbaikan padang rumput diperlukan untuk mengembalikan banteng ke savana agar mengurangi intensitas aktifitasnya di dalam areal perkebunan. Upaya pembinaan habitat perlu dilakukan diantaranya, pembuatan sumber air seperti

springkel yang di butuhkan untuk savana yang tidak memiliki sumber air sepanjang tahun, pemberantasan tanaman pengganggu, pemulihan spesies pakan banteng, pembuatan bak mengasin, pemantauan secara rutin dan evaluasi. Pada dasarnya padang rumput di TNMB cukup berpotensi karena letaknya yang berada dekat dengan hutan hujan tropis dataran rendah, sehingga memberikan rasa aman bagi banteng. Selain itu terdapat shelter yang berfungsi sebagai peneduh yaitu pohon walangan (Pterospermum diversifolium), bungur (Lagerstroemia speciosa)

dan bambu, serta memiliki lokasi untuk mengasin. Padang rumput yang ideal yaitu yang memiliki luasan 10-20 ha, tersebar pada beberapa lokasi, komposisinya terdiri dari hutan alam, padang rumput, sumber air, hutan pantai/mangrove, dan air laut (Alikodra 2010). Permasalahannya yaitu perawatan terhadap savana yang kurang efektif sehingga savana tidak terawat dan penyediaan air lokasi yang sulit air.

5.1.4 Keanekaragaman jenis tumbuhan

(52)

pertumbuhan. Jumlah lokasi yang digunakan untuk analisis Indeks Shanon-Wiener adalah sebanyak delapan lokasi (Tabel 12).

Tabel 12 Indeks keanekaragaman jenis tiap tingkat pertumbuhan

Lokasi

Indeks Keanekaragaman Jenis Tumb,

Bawah Semai Pancang Tiang Pohon

Blok Banyuputih 0,89 0,71 1,09 1,52 2,09

Berdasarkan Tabel 12 dapat dilihat bahwa untuk tingkat pohon keanekaragaman tertinggi terdapat pada tipe habitat hutan hujan tropis dataran rendah yaitu Blok Sikapal. Keanekaragaman pada hutan hujan tropis dataran rendah terlihat dari tersedianya tiap tingkat pertumbuhan antara lain pohon, tiang dan pancang yang mendominasi dari habitat lainnya. Vegetasi hutan hujan tropis primer dan sekunder dengan berbagai tingkat pertumbuhan ini menunjukan tingkat regenerasi tumbuhan yang lebih baik dibanding tipe habitat lainnya. Menurut Endarwin (2006) dalam Destriana (2008) hutan hujan tropis dataran rendah memiliki komposisi dan keanekaragaman baik tumbuhan maupun satwaliar yang cukup tinggi dibandingkan formasi hutan lainnya.

Areal perkebunan memiliki jenis-jenis tanaman yang homogen yang ditunjukan dengan nilai 0, sehingga hanya terdapat jenis-jenis tingkat pertumbuhan tertentu. Pada Blok 90-an Coklat dan Karet didominasi oleh tumbuhan bawah, pada Blok Balsa dan Kedungwatu juga didominasi oleh tumbuhan bawah. Tumbuhan bawah mendominasi tipe vegetasi perkebunan, sehingga perkebunan menyediakan jenis-jenis tumbuhan pakan bagi banteng. Pada savana yang sebagian besar adalah tumbuhan bawah memiliki indeks keanekaragaman yang tinggi untuk tingkat tumbuhan bawah, namun jenis-jenis yang disukai banteng telah terinvasi sehingga banteng kesulitan memilih makanannya. Banteng makan pada tingkat tumbuhan bawah, semai dan beberapa pancang. Karena banteng tidak hanya grazer (pemakan rumput) tapi juga browser

(53)

menyusun kawasan konservasi merupakan salah satu potensi yang mendukung keberadaan banteng dalam kelangsungan hidupnya.

Keanekaragaman jenis berdasarkan Indeks Shannon-Wienner di TNMB termasuk dalam kategori sedang (2-3) yaitu untuk hutan hujan tropis dataran rendah Blok Banyuputih dan Sikapal serta Savana Sumbersari, sedangkan keanekaragaman jenis pada areal perkebunan termasuk jenis rendah (<2). Hutan hujan tropis memiliki tingkat keanekaragaman yang tinggi karena keadaannya yang masih alami dan merupakan penutupan lahan terbesar di kawasan TNMB.

5.2 Karakteristik Habitat 5.2.1 Ketersediaan Pakan 5.2.1.1 Jenis pakan

Banteng merupakan jenis satwaliar yang bersifat grazer namun pada kawasan TNMB banteng lebih bersifat browser (pemakan semak dan tunas-tunas muda). Berdasarkan hasil pengamatan adanya renggutan di tiap tipe vegetasi, studi literatur, dan keterangan petugas, ditemukan 25 jenis pakan banteng yang berasal dari 3 tipe habitat yaitu savana, perkebunan, dan hutan. Jenis-jenis pakan banteng yang ditemukan disajikan dalam Tabel 13.

Tabel 13 Jenis-jenis pakan yang dijumpai di TNMB

No Nama local Famili Nama ilmiah Tempat tumbuh

1 Kerayutan Asteraceae Mikania micrantha Perkebunan, savana

2 Bambu jajang Poaceae Panicum respens Savana

3 Kacang-kacangan Fabaceae Desmodium puchellum Savana

4 Lagetan Asteraceae Spilanthes acmelia Perkebunan, savana,

hutan

5 Paitan Poaceae Paspalum conjugatum Perkebunan, hutan

6 Rumput kawat Poaceae Cynodon dactylon Perkebunan, savana

7 Coklat Sterculiaceae Theobrroma cacao Perkebunan

8 Kirinyuh Asteraceae Chromolaena odorata Perkebunan, hutan,

savana

9 Babadotan Compositae Ageratum conyzoides Perkebunan, hutan

10 Bambu wuluh Poaceae Schizoschyum blumea Hutan, savana,

perkebunan

11 Mat-mat Annonaceae Polyalthia rumphii Hutan

12 Ketangi/bungur Lythraceae Lagerstroemia

speciosa

Hutan, savana

13 Apak Moraceae Ficus benjamina Hutan, savana

14 Jenti Fabaceae Sesbania sesban Perkebunan

15 Rambusa Passifloraceae Passiflora foetida Perkebunan

16 Waru Malvaceae Hibiscus tiliaceus Perkebunan

17 Kinura/sembung sukmo

Compositae Gynura procumbent Perkebunan, hutan

Gambar

Tabel 2 Ciri fisik berdasarkan kelas umur banteng betina
Gambar 2  Peta penyebaran banteng di Jawa dan Kalimantan.
Gambar 3  Peta lokasi penelitian.
Tabel 4  Alat yang digunakan dalam penelitian
+7

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Taman Nasional Alas Purwo. Graftk hubungan an tara jarak dari pusat aktivitas man usia dan jumlah jejak/kotoran banteng Uumbant) di padang Sadengan (A) dan TNAP (B). lokasi

Prioritas program yang dapat dikolaborasikan dalam pengelolaan banteng di TNMB dan TNAP secara berurutan yaitu: (1) peningkatan kualitas habitat dengan tingkat kolaborasi faktual