• Tidak ada hasil yang ditemukan

Persepsi Perawat Terhadap Prinsip Perawatan Atraumatik Pada Anak Di Ruang III RSU Dr. Pirngadi Medan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Persepsi Perawat Terhadap Prinsip Perawatan Atraumatik Pada Anak Di Ruang III RSU Dr. Pirngadi Medan"

Copied!
79
0
0

Teks penuh

(1)

Persepsi Perawat Terhadap Prinsip Perawatan Atraumatik

Pada Anak Di Ruang III RSU Dr.Pirngadi Medan

Sri Kurniawati

Skripsi

Program Studi Ilmu Keperawatan

(2)

Judul : Persepsi Perawat Terhadap Prinsip Perawatan Atraumatik Pada Anak Di Ruang III RSU Dr. Pirngadi Medan

Nama : Sri Kurniawati

NIM : 071101076

Tahun Akademik : 2008/2009

Pembimbing Penguji

... ... Penguji 1 Cholina T Srg, M.Kep, Sp. KMB Cholina T Srg, M.Kep, Sp. KMB NIP. 132 299 795 NIP. 132 299 795

... Penguji 2

Reni Asmara A, S.Kp, MARS

NIP. 132 296 508

... Penguji 3 Farida L. S Srg, S.Kep, M.Kep

NIP. 132 307 220

Program Studi Ilmu Keperawatan telah menyetujui ini sebagai bagian persyaratan kelulusan untuk Sarjana Keperawatan

... ... (Erniyati, S.Kp, MNS) Prof. Guslihan Dasa Tjipta, Sp.A (K) NIP. 132 238 510 NIP. 140 105 363

(3)

Judul : Persepsi perawat terhadap prinsip perawatan atraumatik pada anak di Ruang III Rumah Sakit Umum Dr.Pirngadi Medan

Peneliti : Sri Kurniawati

Nim : 071101076

Jurusan : Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokeran Universitas Sumatera Utara

Tahun Akademik : 2008/2009

ABSTRAK

Perawatan atraumatik adalah perawatan terapeutik yang diberikan kepada anak sebagai intervensi terpenting dalam perawatan anak untuk mencapai tumbuh kembang optimal ketika berada di rumah sakit. Apabila seorang perawat memiliki persepsi yang baik, maka perawat juga akan bersikap dan berperilaku baik dalam memberikan asuhan keperawatan. Prinsip perawatan atraumatik meliputi 5 komponen yaitu mencegah dampak dari perpisahan keluarga, meningkatkan kemampuan orang tua dalam mengontrol perawatan anak, mencegah terjadinya trauma dan mengurangi nyeri, tidak melakukan kekerasan pada anak dan modifikasi lingkungan fisik.

Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk mengidentifikasi persepsi perawat terhadap 5 prinsip perawatan atraumatik di Ruang III Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan. Desain penelitian ini adalah deskriptif dengan jumlah sampel 25 orang dengan teknik total sampling. Pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner yang terdiri dari data demografi perawat dan persepsi perawat terhadap prinsip perawatan atraumatik pada anak.

Persepsi perawat terhadap prinsip perawatan atraumatik secara keseluruhan menunjukkan bahwa 16 (64%) perawat telah memiliki persepsi cukup baik dan 9 (36%) perawat yang memiliki persepsi baik. Analisa perkomponen dapat dilihat dari persepsi perawat cukup baik (60%) berkaitan dengan mencegah dampak dari perpisahan keluarga, persepsi perawat cukup baik (68%) berkaitan dengan meningkatkan kemampuan orang tua dalam mengontrol perawatan anak, persepsi perawat cukup baik (96%) dalam mencegah cedera dan mengurangi nyeri pada anak, dan persepsi perawat cukup baik (80%) terhadap modifikasi lingkunag fisik. Untuk itu diharapkan kepada perawat agar lebih memahami prinsip perawatan atraumatik dan dapat menerapkannya sebagai intervensi terpenting dalam melakukan perawatan anak di rumah sakit dan dapat mempercepat proses penyembuhan dan mengoptimalkan tumbuh kembang anak.

Kata Kunci : Persepsi Perawat, Prinsip perawatan atraumatik pada anak

(4)

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim

Alhamdulillah segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya yang tidak terkira sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan Judul “Persepsi perawat terhadap prinsip perawatan atraumatik pada anak di Ruang III Rumah Sakit Umum Dr.Pirngadi Medan”, yang merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih banyak kekurangan, sehingga dengan kerendahan hati penulis sangat mengharapkan saran dan kritik demi kesempurnaan skripsi ini.

Penyelesaian skripsi ini tidak terlepas dari berbagai pihak, untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Prof. Gontar A. Siregar. Sp. PD-KGEH selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, Bapak Prof. Guslihan Dasa Tjipta, Sp.A (K) selaku pembantu Dekan I Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, Ibu Erniyati, S.Kp, MNS selaku Ketua Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedoteran Universitas Sumatera Utara, Ibu Cholina Trisa Siregar. S.Kep, M.Kep Sp. KMB selaku dosen pembimbing dan penguji I sidang skripsi yang telah bersedia meluangkan waktunya dalam memberikan bimbingan dan arahan serta memberikan sumbangsih pikiran kepada penulis, ibu Reni Asmara Ariga, S.Kp, MARS selaku dosen penguji II dan Ibu Farida L.S. S.Kep, M.Kep selaku penguji III, ibu Anna Kasfi, S.Kep, Ns selaku dosen Pembimbing Akademik, dan seluruh staf pengajar Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, bapak direktur RSU Dr.Pirngadi Medan, seluruh staf keperawatan maupun administrasi RSU Dr.Pirngadi Medan dan seluruh perawat yang bersedia menjadi responden dalam penelitian ini

(5)

kesemua itu tidak mampu ku ungkapkan dan ku lukiskan lewat kata dan lisanku, untuk setiap belaian sayang dan pengorbanan panjangmu, aku tahu bahwa setiap langkah berbalut peluh engkau simpan sejuta harapan untuk kebahagiaanku, aku juga tahu hidup ini sangat singkat untuk berfikir kerdil, untuk itu aku ingin menjadi seseorang yang pantas engkau banggakan dan kebanggaan terbesarku adalah karena akun terlahir sebagai putrimu. Abang ku (Syafriadi, S.E) dan adik-adikku (Arif Kurniawan Hidayatullah, A.Md, Nurhidayati dan Ilham Rabikhi) tersayang yang selalu senantiasa menghadiahkan keceriaan, dorongan serta semangat ketika aku menghadapi semua masalah dan menjadi alasan bagi ku untuk tetap semangat, terus maju dan berusaha, dan kepada Irwan, S.T adalah seseorang yang menjadi inspirasi penulis dan memberikan semangat serta dorongan dalam menyelesaikan Skripsi ini, dan tidak lupa juga kepada kak Ana dan Bapak Syarif Purba dan adik-adikku di kos (Ety, Inoer, Ummil yang usil abiez), dan sahabat-sahabatku tersayang Boreg, Arika, Rina, dan seluruh sahabat PSIK-B Stambuk 2007 yang telah memberikan semangat dan bantuan serta sama-sama berjuang di PSIK FK USU. Semoga persahabatan kita tetap abadi. Harapan penulis semoga skripsi ini bermanfaat nantinya demi kemajuan ilmu pegetahuan khususnya ilmu keperawatan.

Medan, 12 Maret 2009

(6)

DAFTAR ISI

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang... 1

B. Pertanyaan Penelitian... 4

C. TujuanPenelitian... 4

a. Tujuan Umum... 4

b. Tujuan Khusus... 4

D. Manfaat Penelitian ... 5

a. Praktek Keperawatan... 5

b. Pendidikan Keperawatan... 5

c. Rumah Sakit... 5

d. Penelitian Keperawatan... 5

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA A. Persepsi... 7

a. Defenisi Persepsi... 7

b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Persepsi... 8

B. Perawat... 9

a. Defenisi Perawat... 9

b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Persepsi Perawat dalam Asuhan Keperawatan Bermutu... 10

c. Peran Perawat Anak... 10

d. Persepsi Perawat Terhadap Prinsip Perawatan Atraumatik pada Anak... 12

C. Konsep Anak... ... 14

a. Paradigma Keperawatan Anak... 14

b. Asuhan yang Berpusat pada Keluarga... 15

c. Prinsip-prinsip Perawatan Anak... 15

D. Konsep Keamanan Fisik... 17

a. Pengertian Keamanan Fisik... 17

b. Karakteristik Keamanan... 18

(7)

D. Perawatan Atraumatik pada Anak... 21

a. Defenisi Perawatan Atraumatik... 21

b. Prinsip Perawatan Atraumatik pada Anak... 22

c. Prosedur yang Berhubungan dengan Mempertahankan Keamanan ... 27

d. Pencegahan Kecelakaan Pada Anak... 28

e. Pengelompokan Masalah Keperawatan Anak yang Dirawat di Rumah Sakit... 29

f. Pedoman Orientasi Ruangan pada Penderita Anak... 29

BAB 3 KERANGKA PENELITIAN A. Kerangka Konseptual.. ... 31

B. Defenisi Operasional... ... 32

BAB 4 METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian ... 34

B. Populasi dan Sampel Penelitian ... 34

a. Populasi Penelitian... 34

b. Sampe Penelitian... 34

C. LokasidanWaktuPenelitian... ... 34

D. Pertimbangan Etik... 35

E. Instrumen Penelitian ... 35

a. Kuesiuner Data Demografi... 35

b. Kuesioner Persepsi Perawat... 36

F. Validitas Instrumen... . 36

G. Uji Reliabilitas... 37

H. Pengumpulan Data... 37

I. Analisa Data... 38

BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian... 40

a. Karakteristik Responden... 40

c. Persepsi Perawat berkaitan dengan Mencegah Dampak dari Perpisahan Keluarga... 41

d. Persepsi Perawat berkaitan dengan Meningkatkan KemampuanOrang Tua dalam Mengontrol Perawatan Anak... 42

e. Persepsi Perawat dalam Mencegah Cedera (injury) dan Mengurangi Nyeri (dampak psikologis)... 42

f. Persepsi Perawat berkaitan dengan Tidak Melakukan Kekerasan pada Anak... 43

(8)

h. Persepsi Perawat Terhadap Prinsip Perawatan

Atraumatik pada Anak... 44

B. Pembahasan... . 44

a. Karakteristik Responden... 44

b. Persepsi Perawat berkaitan dengan Mencegah Dampak dari Perpisahan Keluarga... 47

c. Persepsi Perawat berkaitan dengan Meningkatkan KemampuanOrang Tua dalam Mengontrol Perawatan Anak... 48

d. Persepsi Perawat dalam Mencegah Cedera (injury) dan Mengurangi Nyeri (dampak psikologis... 49

e. Persepsi Perawat berkaitan dengan Tidak Melakukan Kekerasan pada Anak... 50

f. Persepsi Perawat Terhadap Modifikasi Lingkungan Fisik... 51

g. Persepsi Perawat Terhadap Prinsip Perawatan Atraumatik pada Anak... 52

BAB 6 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. Kesimpulan... 53

B. Rekomendasi... . 53

a. Praktek Keperawatan... 53

b. Institusi Pendidikan Keperawatan... 54

c. Penelitian Keperawatan Selanjutnya... 54

DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR LAMPIRAN

1. Formulir persetujuan menjadi responden penelitan 2. Instrumen penelitian

3. Uji reliabilitas kuesioner persepsi perawat terhadap prinsip perawatan atraumatik pada anak

4. Hasil pengolahan data demografi responden

5. Hasil pengolahan data persepsi perawat terhadap prinsip perawatan atraumatik pada anak

6. Surat izin penelitian dari PSIK FK USU

(9)

DAFTAR SKEMA

Skema Halaman

1. Keranka konseptual penelitian perseps perawat terhadap prinsip perawatan atraumatik di Ruang III

(10)

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 3.1. Defenisi operasional variabel dan Sub variabel penelitian.... 32 Tabel 5.1. Distribusi frekuensi karakteristik responden

di Ruang III RSU Dr.Pirngadi Medan

Tahun 2009 (N=25)... 41 Tabel 5.2. Distribusi dan persentase persepsi perawat

perawat dalam mencegah dampak dari perpisahan keluarga di Ruang III RSU Dr.Pirngadi Medan

Tahun 2009 (N=25)... 41 Tabel 5.3. Distribusi dan persentase persepsi perawat berkaitan

Dengan meningkatkan kemampuan orang tua dalam Mengontrol perawatan anak di Ruang III

RSU Dr.Pirngadi Medan Tahun 2009 (N=25)... 42 Tabel 5.4. Distribusi dan persentase persepsi perawat dalam

mencegah terjadinya cedera (injury) dan mengurangi nyeri (dampak psikologis) di Ruang III

RSU Dr.Pirngadi Medan Tahun 2009 (N=25)... 43 Tabel 5.5. Distrbusi dan persentase persepsi perawat berkaitan

dengan tidak melakukan kekerasan pada anak di Ruang III RSU Dr.Pirngadi Medan

Tahun 2009 (N=25)... 43 Tabel 5.6. Distribusi dan persentase persepsi perawat terhadap

modifikasi lingkungan fisik di Ruang III

RSU Dr.Pirngadi Medan Tahun 2009 (N=25)... 44 Tabel 5.7. Distibusi dan persentase persepsi perawat terhadap

prinsip perawatan atraumatik pada anak di Ruang III

RSU Dr.Pirngadi Medan Tahun 2009 (N=25)... 44

(11)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam kehidupan sehari-hari, terkadang apa yang kita inginkan, orang lain tahu maksud kita. Kenyataannya, tidak semua orang yang kita harapkan mengerti, Begitu juga berhadapan dengan pasien, dan yang perlu kita tanyakan apakah yang dimaksud pasien sama yang kita pikirkan. Karena persepsi yang salah dapat menyebabkan seseorang menjadi tegang, tidak suka, tidak nyaman, dan tidak puas, oleh karena itu kita perlu memahami persepsi (Mustikasar, 2006).

Seorang perawat adalah individu yang bertanggung jawab dan berwewenang memberikan pelayanan keperawatan, akan tetapi memiliki persepsi yang berbeda. Karena persepsi dapat dipengaruhi oleh individu yang bersangkutan, sasaran persepsi dan situasi (Siagian, 2004). Apabila seorang perawat memiliki persepsi yang positf, maka perawat juga akan bersikap dan berperilaku yang positif dalam memberikan asuhan keperawatan (Satiadarma, 2001).

(12)

Hospitalisasi pada anak merupakan proses karena suatu alasan yang berencana atau darurat mengharuskan anak untuk tinggal di rumah sakit menjalani terapi dan perawatan sampai pemulangan kembali kerumah. Selama proses tersebut, anak dapat mengalami berbagai kejadian yang menunjukkan pengalaman yang sangat trauma dan penuh dengan stres (Nursalam, 2005).

Tindakan yang dilakukan dalam mengatasi masalah anak, apapun bentuknya harus berlandaskan pada prinsip atraumatik care atau asuhan yang terapuetik karena bertujuan sebagai terapi bagi anak. Perawatan atraumatik pada anak tidak terlepas dari peran serta orang tua (Supartini, 2004). Sebuah hasil penelitian yang dilakukan oleh Hanna dan Sherlock (1989) menyebutkan bahwa 90 % anak yang berusia 4 sampai 11 tahun menginginkan orang tua mereka menemani selama proses perawatan di rumah sakit (Wong, 2002).

Hasil penelitian dari Sherlock (1990) dalam Supartini (2007) menunjukkan bahwa lingkungan rumah sakit yang dapat menimbulkan trauma pada anak adalah lingkungan fisik rumah sakit, tenaga kesehatan baik dari sikap maupun pakaian putih, alat-alat yang digunakan dan lingkungan sosial antar sesama pasien. Dengan adanya stresor tersebut, distres yang dapat dialami anak adalah gangguan tidur, pembatasan aktivitas, perasaan nyeri, dan suara bising sedangkan distres psikologis mencakup kecemasan, takut marah, kecewa, sedih, malu, dan rasa bersalah.

(13)

kemampuan orang tua dalam mengontrol perawatan pada anak, mencegah atau mengurangi cedera dan nyeri, tidak melakukan kekerasan pada anak dan modifikasi lingkungan fisik. Selain itu perilaku petugas dan ruangan perawatan anak tidak dapat disamakan seperti orang dewasa (Hidayat, 2005).

Oleh karena itu perlunya peran serta perawat dan persepsi yang baik terhadap perawatan atraumatik yang bertujuan untuk tidak terjadinya trauma pada anak baik fisik maupun psikis (Supartini, 2004). Dari hasil penelitan yang dilakukan oleh (Sitio, 2008) menyebutkan bahwa 11 orang (44%) perawat memiliki persepsi yang baik dan 14 orang (56%) perawat yang memiliki persepsi cukup baik terhadap keterlibatan orang tua dalam perawatan anak yang merupakan salah satu prinsip perawatan atraumatik pada anak.

Rumah Sakit Umum Dr.Pirngadi Medan merupakan salah satu rumah sakit yang memberikan pelayanan keperawatan anak, dari hasil wawancara pada 4 orang anak berumur 5-7 tahun yang di rawat di ruang III dan diperoleh mereka merasa takut dan terasa sakit ketika diberikan tindakan medis misalnya pemberian obat melalui injeksi, pembersihan luka, dan lain-lain. Hal ini menunjukkan mereka masih mengalami trauma fisik dan psikis.

(14)

B. Pertanyaan Penelitian

Bagaimana persepsi perawat terhadap prinsip perawatan atraumatik pada anak di Ruang III RSU Dr. Pirngadi Medan.

C. Tujuan Penelitian

a. Tujuan Umum

Mengidentifikasi persepsi perawat terhadap prinsip perawatan atraumatik pada anak di Ruang III RSU Dr. Pirngadi Medan.

b.Tujuan Khusus

1. Untuk mengidentifikasi karakteristik demografi perawat yang berada di Ruang III RSU Dr.Pirngadi Medan.

2. Untuk mengidentifikasi persepsi perawat mengenai pencegahan dampak dari perpisahan keluarga.

3. Untuk mengidentifikasi persepsi perawat mengenai peningkatkan kemampuan orang tua dalam mengontrol perawatan anak.

4. Untuk mengidentifikasi persepsi perawat mengenai pencegahan cedera atau pengurangan nyeri.

5. Untuk mengidentifikasi persepsi perawat berkaitan dengan tidak melakukan kekerasan pada anak.

(15)

D. Manfaat penelitian

a. Praktek Keperawatan

Hasil penelitian diharapkan dapat digunakan sebagai masukan bagi perawat untuk melakukan peraktek keperawatan profesional dalam upaya meningkatkan pelayanan keperawatan khususnya pemberian perawatan atraumatik pada anak.

b. Pendidikan Keperawatan

Hasil penelitian ini dapat memberikan informasi bagi pendidikan perawatan tentang gambaran praktek keperawatan yang ada di rumah sakit,. Sehingga dapat memotivasi pendidikan keperawatan untuk menciptakan lulusan perawat yang siap mengimplementasikan praktek keperawatan professional khususnya dalam keperawatan anak.

c. Rumah Sakit

Hasil peneitian ini dapat digunakan sebagai data dasar untuk mengimplementasikan perawatan atraumatik pada anak di RSU Dr. Pringadi Medan.

d. Penelitian Keperawatan

(16)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

A. Persepsi

a. Defenisi persepsi

Ada banyak ahli yang mendefenisikan persepsi. Desiderato (1976) mendefenisisikan persepsi merupakan pengalaman tentang objek, peristiwa atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan atau memberikan makna pada stimulasi indera (Rahmat, 2005).

Persepsi adalah proses pengorganisasian, penginterpretasian terhadap rangsang yang diterima oleh organisme atau individu sehingga merupakan sesuatu yang berarti dan merupakan aktivitas yang merupakan aktivis yang integrated dalam diri individu (Bimo, 2001 dalam Sunaryo, 2004).

(17)

Demikian juga disampaikan oleh Hanna bahwa persepsi adalah proses menyeleksi, mengorganisir, dan menginterpretasikan stimulus, untuk membentuk gambaran yang berkaitan dan memiliki arti (Wozniak, 2001).

b. Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi

Siagian (2004), menyatakkan bahwa diri orang yang bersangkutan, sasaran persepsi, dan faktor situasi merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi seseorang.

1. Diri orang yang bersangkutan sendiri

Apabila seseorang melihat sesuatu dan berusaha memberikan interpretasi tentang apa yang dilihatnya itu. Dalam hal ini yang berpengaruh adalah karakteristik individual sikap, motif, kepentingan, minat, pengalaman dan pengharapan. Melalui pengalaman, seseorang bisa mendapatkan informasi baik secara langsung maupun tidak langsung. Langsung artinya pengalaman tertentu dialami sendiri oleh individu yang bersangkutan dan tidak langsung artinya individu yang bersangkutan memperoeh informasi dari buku atau sumber lain

2. Sasaran persepsi tersebut

(18)

3. Faktor situasi

Persepsi harus dilihat secara kontekstual yang berarti dalam situasi mana persepsi itu timbul perlu pula mendapatkan perhatian memiliki hubungan yang bersifat timbal balik. Persepsi tentang sesuatu hal akan mengarahkan seseorang untuk memperhatikan hal-hal tertentu. Sebaliknya, apabila seseorang menaruh perhatian pada suatu hal tertentu maka perhatian seseorang tersebut akan mempengaruhi persepsinya (Satiadarma, 2001). Situasi merupakan faktor yang turut berperan dalam penumbuhan persepsi seseorang. Misalnya, seorang anak akan menunjukkan suatu pola prilaku tertentu bila berhadapan dengan orang tua seperti sopan, tertib dan sejenisnya, berbeda dengan prilakunya apabila berada di tengah-tengah rekan sebayanya.

B. Perawat

a. Defenisi perawat

Menurut Undang-Undang Kesehatan RI Nomor 23/1992 mendefenisikan perawat sebagai orang yang memiliki kemampuan dan kewenangan melakukan tindakan keperawatan berdasarkan ilmu yang dimilikinya yang diperoleh dari pendidikan keperawatan (Gaffar, 1999)

(19)

Pelayanan keperawatan dilakukan dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan, mencegah penyakit, penyembuhan, pemulihan serta pemeliharaan kesehatan dengan penekanan pada upaya pelayanan kesehatan utama untuk memungkinkan setiap penduduk mencapai kemampuan hidup sehat dan produktif yang dilakukan sesuai dengan wewenang, tanggung jawab dan etika profesi keperawatan (Gaffar, 1999).

b. Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi perawat dalam asuhan keperawatan Bermutu (Herymrt, 2008).

1. Pemberian kewenangan utuh untuk mendesain, mengatur, melaksanakan, dan mengevaluasi pelayanan keperawatan karena hanya perawat yang tahu kondisi pasien dan lingkungan sekitarnya.

2. Pelayanan keperawatan diberikan dalam lingkungan kerja pratek profesional

3. Kualifikasi keperawatan yang memadai ini bertujuan untuk mengoptimalkan pelayanan pada pasien di rumah sakit

4. Tersedianya sarana dan prasarana yang dapat mempelancar kegiatan keperawatan seperti peralatan keperawatan (alat tenun yang cukup, meteri pencegah infeksi, pencegahan trauma).

5. Diberlakukannya sistem penghargaan (promosi dan kompensasi) memadai yang memungkinkan perawat tidak harus berfikir tentang kepentingan sendiri, pendidikan, dan masa depan karirnya.

c. Peran perawat anak

(20)

penyuluhan atau pendidikan kesehatan pada orang tua anak maupun secara tidak langsung dengan menolong orang tua atau anak memahami pengobatan dan perawatan anaknya. Tiga domain yang dapat diubah oleh perawat melalui pendidikan kesehatan adalah pengetahuan, keterampilan, serta sikap keluarga dalam hal kesehatan, khususnya perawatan anak sakit.

Suatu waktu anak dan keluarganya mempunyai kebutuhan psikologis berupa dukungan atau dorongan mental. Sebagai konselor, perawat dapat memberi konseling keperawatan ketika anak dan orang tuanya membutuhkan.

Perawat berada pada posisi kunci untuk menjadi koordinator pelayanan kesehatan karena 24 jam berada disamping pasien. Keluarga adalah mitra perawat, oleh karea itu kerja sama dengan keluarga juga harus terbina dengan baik, tidak hanya saat perawat membutuhkan informasi dari keluarga saja, melainkan rangkaian proses perawatan anak harus melibatkan keluarga secara aktif. Dengan pendekatan interdisiplin, perawat melakukan koordinasi dan kolaborasi dengan anggota tim kesehatan lain, dengan tujuan terlaksananya asuhan yang holistik dan komprehensif.

(21)

usulan tentang perencanaan pelayanan keperawatan yang diajukan dapat memberikan dampak terhadap peningkatan kualitas asuhan keperawatan.

Perawat juga berperan sebagai peneliti, yang membutuhkan keterlibatan penuh dalam upaya menemukan masalah-masalah keperawatan anak yang harus diteliti, melaksanakan penelitian langsung, menggunakan hasil penelitian kesehatan atau keperawatan anak dengan tujuan meningkatkan kualitas asuhan keperawatan pada anak.

d. Persepsi perawat terhadap prinsip perawatan atraumatik pada anak

(22)

Atraumatic care atau asuhan yang tidak menimbulkan trauma pada

anak da keluarganya merupakan asuhan yang terapeutik karena bertujuan sebagai terapi bagi anak. Dasar pemikiran pentingnya asuhan terapeutik ini adalah bahwa walaupun ilmu pegetahuan dan teknologi di bidang pediatrik telah berkembang pesat, tindakan yang dilakukan pada anak tetap menimbulkan trauma, rasa nyeri, marah, cemas dan takut pada anak. Sangat disadari bahwa sampai saat ini belum ada teknologi yang dapat mengatasi masalah yang timbul sebagai dampak perawatan tersebut diatas. Hal ini memerlukan perhatian khusus dari tenaga kesehatan, khususnya perawat dalam melaksanakan tindakan pada anak dan orang tua (Supartini, 2004).

Dan hasi penelitian yang dilakukan oleh (Sitio, 2008) yang berjudul persepsi perawat terhadap keterlibatan orang tua dalam perawatan anak menyebutkan 11 orang (44%) perawat memiliki persepsi yang baik dan 14 orang (56%) perawat yang memiliki persepsi cukup baik yang merupakan salah satu prinsip dari perawatan atraumatik pada anak.

(23)

C. Konsep anak

a. Paradigma keperawatan anak

Paradigma keperawatan anak menurut (Supartini, 2004) dikelompokkan 4 komponen yaitu:

1. Manusia (Anak)

Manusia sebagai klien dalam keperwatan anak adalah individu yang berusia antara 0 sampai 18 tahun, yang sedang dalam proses tumbuh kembang, mempunyai kebutuhan yang spesifik (fisik, psikologik, dan spiritual) yang berbeda dengan orang dewasa.

2. Sehat

Sehat dalam keperawatan anak adalah sehat dalam rentang sehat-sakit. Sehat adalah keadaan kesejahteraan optimal antara fisik, mental, dan sosial yang harus dicapai sepanjang kehidupan anak dalam rangka mencapai tingkat pertumbuhan dan perkembangan yang optimal sesuai dengan usianya.

3. Lingkungan

(24)

4. Keperawatan

Untuk memperoleh pertumbuhan dan perkembangan yang optimal, perawat dapat membantu anak dan keluarganya memenuhi kebutuhan yang spesifik dengan cara membina hubungan terapeutik dengan anak atau keluarga melalui perannya sebagai pembela, pemulih atau pemelihara kesehatan, koordinator, kolabolator, pembuat keputusan etik dan perencana kesehatan.

b. Asuhan yang berpusat pada keluarga

Hal ini bertujuan agar dengan difasilitasnya hubungan antara orang tua dan anaknya, orang tua diharapkan mempunyai kesempatan untuk meneruskan peran dan tugasnya merawat anak selama di rumah sakit. Perawat juga mempunyai peran penting untuk meningkatkan kemampuan orang tua dalam merawat anaknya ( Supartini, 2004).

Elemen pokok yang berpusat pada keluarga menurut (Supartini, 2004). 1. Hubungan anak dan orang tua adalah unik, berbeda antara yang satu dan

yang lainnya. Setiap anak mempunyai karakteristik yang berbeda dan berespon terhadap sakit dan perawatan di rumah sakit secara berbeda pula. Demikian pula orang tua mempunyai latar belakang individu yang berbeda dalam berespon terhadap kondisi anak dan perawatan di rumah sakit.

(25)

invasive. Dengan demikian, tujuan asuhan akan tercapai dengan baik apabila ada kerja sama yang baik antara perawat dan orang tua.

3. Kerja sama dalam model asuhan adalah fleksibel dan menggunakan konsep dasar asuhan keperawatan anak yaitu perawat dapat melakukan asuhan keluarga dan keluarga dapat melakukan asuhan keperawatan. 4. Keberhasilan dari pendekatan ini bergantung pada kesepakatan tim

kesehatan untuk mendukung kerja sama yang aktif dari orang tua. Kesepakatan untuk menggunakan pendekatan Family centred tidak cukup hanya dari perawat, tetapi juga seluruh petugas kesehatan yang lain.

c. Prinsip-prinsip perawatan anak

Diantara prinsip dalam asuhan keperawatan anak menurut (Hidayat, 2005). 1. Anak bukan miniature orang dewasa tetapi sebagai individu yang unik.

Prinsip ini mengandung arti bahwa tidak boleh memandang anak dari ukuran fisik saja, karena anak mempunyai pola pertumbuhan dan perkembangan menuju proses kematangan

2. Anak adalah sebagai individu yang unik dan mempunyai kebutuhan sesuai dengan tahap perkembangan.

3. Pelayanan keperawatan anak berorientasi pada upaya pencegahan penyakit dan peningkatan derajat kesehatan untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian.

(26)

komprehensif dalam memberikan asuhan keperawatan anak misalnya

anak tidak merasakan gangguan psikologis, rasa cemas dan takut.

5. Praktik keperawatan anak mencakup kontrak dengan anak dan keluarga untuk mencegah, mengkaji, mengintervensi, dan meningkatkan kesejahteraan hidup, dengan menggunakan proses keperawatan yang sesuai dengan aspek moral (etik) dan aspek hukum (legal).

6. Tujuan keperawatan anak dan remaja adalah untuk meningkatkan maturasi atau kematangan yang sehat bagi anak dan remaja sabagai makhluk biopsikososial dan spiritual dalam konteks keluarga dan masyarakat.

7. Pada masa yang akan datang kecendrungan keperawatan anak berfokus pada ilmu tumbuh kembang .

D. Konsep keamanan fisik

a. Pengertian keamanan fisik

(27)

Secara umum keamanan (safety) adalah status seseorang dalam keadaan aman, kondisi yang terlindungi secara fisik, sosial, spiritual, finansial, politik, emosi, pekerjaan, psikologis atau berbagai akibat dari sebuah kegagalan, kerusakan, kecelakaan, atau berbagai keadaan yang tidak diinginkan. Menurut Craven (2000) keamanan tidak hanya mencegah rasa sakit dan cedera tetapi juga membuat individu merasa aman dalam aktifitasnya. Keamanan dapat mengurangi stres dan meningkatkan kesehatan umum (Patmawati, 2007).

b. Karakteristik keamanan

Menurut Fatmawati (2007) ada 3 karakteristik keamanan yaitu:

1. Periveness (insidensi) keamanan bersifat pervasive artinya luas mempengaruhi semua hal. Artinya klien membutuhkan keamanan pada seluruh aktifitasnya seperti makan, bernafas, kerja, dan bermain.

2. Perception (persepsi) persepsi seseorang tentang keamanan dan bahaya mempengaruhi aplikasi keamanan dalam aktifitas sehari-harinya. Tindakan penjagaan keamanan dapat efektif jika individu mengerti dan menerima bahaya secara akurat.

(28)

c. Jenis-jenis bahaya yang mengancam keamanan fisik

Beberapa bahaya yang sering mengancam klien baik yang berada di tempat pelayanan kesehatan, rumah, maupun komunitas diantaranya (Patmawati, 2007).

1. Api atau kebakaran.

Api adalah bahaya umum baik di rumah maupun rumah sakit. Penyebab kebakaran yang paling sering adalah rokok dan hubungan pendek arus listrik. Kebakaran dapat terjadi jika terdapat tiga elemen sebagai berikut: panas yang cukup, bahan yang mudah terbakar, dan oksigen yang tidak cukup.

2. Luka bakar (scalds and burns).

Scald adalah luka bakar yang diakibatkan oleh cairan atau uap panas, seperti uap air panas. Burn adalah luka bakar diakibatkan terpapar oleh panas tnggi, bahan kimia, listrik, atau agen radioaktif. Klien di rumah sakit yang berisiko terhadap luka bakar adalah klien yang mengalami penurunan sensasi suhu dipermukaan kulit.

3. Jatuh.

Terjatuh bisa terjadi pada siapa saja terutama bayi dan lansia. Jatuh dapat terjadi akibat lantai licin dan berair, alat-alat yang berantakan, lingkungan dengan pencahayaan yang kurang.

4. Keracunan.

(29)

anak-anak adalah penyimpanan bahan berbahaya atau beracun yang sembarangan, pada remaja adalah gigitan serangga dan ular atau upaya bunuh diri. Pada lansia biasanya akibat salah makan obat (karena penurunan pengelihatan) atau akibat overdosis obat (karena penurunan daya ingat).

5. Sengatan listrik.

Sengatan listrik dan hubungan arus pendek adalah bahaya yang harus diwaspadai oleh perawat. Perlengkapan listrik yang tidak baik dapat menyebabkan sengatan listrik bahkan kebakaran, contoh: percikan listrik didekat gas anestesi atau oksigen konsentrasi tinggi.

6. Suara bising.

Suara bising adalah bahaya yang dapat menyebabkan hilangnya fungsi pendengaran, tergantung dari: tingkat kebisingan, frekuensi terpapar kebisingan, dan lamanya terpapar kebisingan serta kerentanan individu. Suara diatas 120 desibel dapat menyebabkan nyeri dan gangguan pendengaran walaupun klien hanya terpapar sebentar. Terpapar suara 85-95 desibel untuk beberapa jam per hari dapat menyebabkan gangguan pendengaran yang progressive. Suara bising dibawah 85 desibel biasanya tidak mengganggu pendengaran.

7. Radiasi

(30)

fluoroscopy, dan pengobatan nuklir. Contoh isotop yang sering digunakan

adalah calsium, iodine, dan fosfor .

8. Suffocation (asfiksia) atau choking (tersedak).

Tersedak (suffocation atau asphyxiation) adalah keadaan kekurangan

oksigen akibat gangguan dalam bernafas. Suffocation bisa terjadi jika sumber udara terhambat atau terhenti contoh pada klien tenggelam atau kepalanya terbungkus plastik. Suffocation juga bisa disebabkan oleh adanya benda asing di saluran nafas atas yang menghalangi udara masuk ke paru-paru. Jika klien tidak segera ditolong bisa terjadi henti nafas dan henti jantung serta kematian.

9. Lain-lain

Kecelakaan bisa juga disebabkan oleh alat-alat medis yang tidak berfungsi dengan baik (equipment-related accidents) dan kesalahan prosedur yang tidak disengaja (procedure-related equipment).

E. Perawatan atraumatik pada anak

a. Defenisi perawatan atraumatik pada anak

(31)

Dengan demikian, atraumatik care sebagai bentuk perawatan terapeutik dapat diberikan kepada anak dan keluarga dengan mengurangi dampak psikologis dari tindakan keperawatan yang diberikan seperti memperhatikan dampak tindakan yang diberikan dengan melihat prosedur tindakan atau aspek lain yang kemungkinan berdampak adanya trauma (Hidayat, 2005).

Menurut (Whaley and Wong 1995) dalam Wong (2005) atraumatic

care merupakan sebagai ketetapan dan kepedulian dari tim pelayanan

kesehatan melalui intervensi yang meminimalkan atau meniadakan stressor yang dialami oleh anak dan keluarga di rumah sakit baik fisik maupun psikis. Perawatan atraumatik juga disebut dengan perawatan yang terapeutik yang meliputi pada pencegahan trauma, hasil diagnosa, dan mengurangi dampak kondisi-kondisi yang akut maupun kronis. Dan Wiggins (1994) dalam (Wong, 2005) mengungkapkan bahwa stresor lingkungan yang sering dialami oleh anak adalah lingkungan rumah sakit yang tidak nyaman bagi mereka yang mengakibatkatkan anak stress selam dirawat dirumah sakit.

b. Prinsip Perawatan Atraumatik pada Anak

(32)

menangis. Untuk mengatasi masalah tersebut adalah memberikan perawatan atraumatik.

Ada beberapa prinsip perawatan atraumatik yang harus dimiliki oleh perawat anak (Hidayat, 2005).

1. Menurunkan atau mencegah dampak perpisahan dari keluarga.

Dampak perpisahan dari keluarga, anak akan mengalami gangguan psikologis seperti kecemasan, ketakutan, kurangmya kasih sayang, gangguan ini akan menghambat proses penyembuhan anak dan dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak. Bila anak dirawat di rumah sakit dan selama itu tidak boleh berhubungan dengan orang tuanya, maka ia akan merasa ditolak oleh keluarga dan mengakibatkan anak cendrung emosi saat kembali pada keluarganya. Pada umumnya anak bereaksi negatif waktu pulang ke rumah (Mc.Ghie, 1996) dalam Juli (2008). Selama anak mengalami hospitalisasi, keluarga memainkan peran bersifat dukungan moril seperti kasih sayang, perhatian, rasa aman, dan dukungan materil berupa usaha keluarga untuk memenuhi kebutuhan anggota keluarga. Jika dukungan tersebut tidak ada, maka keberhasilan untuk penyembuhan sangat berkurang.

(33)

kontak dengan kegiatan sekolah, diantaranya dengan memfasilitasi pertemuan dengan guru, teman sekolah dan lain-lain (Supartini, 2004).

2. Meningkatkan kemampuan orang tua dalam mengontrol perawatan

pada anak.

Melalui peningkatan kontrol orang tua pada diri anak diharapkan anak mampu dalam kehidupannya. Anak akan selalu berhati-hati dalam melakukan aktivitas sehari-hari, selalu bersikap waspada dalam segala hal. Serta pendidikan terhadap kemampuan dan keterampilan orang tua dalam mengawasi perawatan anak. Dan fokuskan intervensi keperawatan pada upaya untuk mengurangi ketergantungan dengan cara memberi kesempatan anak mengambil keputusan dan melibatkan orang tua.

3. Mencegah atau mengurangi cedera (injury) dan nyeri (dampak

psikologis)

Mengurangi nyeri merupakan tindakan yang harus dilakukan dalam keperawatan anak. Proses pengurangan rasa nyeri tidak bisa dihilangkan secara cepat akan tetapi dapat dikurangi melalui berbagai teknik misalnya, distraksi, relaksasi, imaginary. Apabila tindakan pencegahan tidak dilakukan maka cedera dan nyeri akan berlangsung lama pada anak sehingga dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak.

(34)

anak, misalnya dengan bercerita yang berkaitan dengan tindakan atau prosedur yang akan dilakukan pada anak.

Aktivitas bermain dilakukan perawat pada anak akan memberikan keuntungan seperti meningkatkan hubungan antara klien (anak dan keluarga dan perawat karena bermain merupakan alat komunikasi yang efektif antara perawat dan klien, aktivitas bermain yang terprogram akan memulihkan perasaan mandiri pada anak, dan bisa mengekspresikan perasaan anak. Pertimbangkan untuk menghadirkan orang tua pada saat dilakukan atau prosedur yang menimbulkan rasa nyeri apabila mereka tidak dapat menahan diri, bahkan menangis bila melihatnya. Dalam kondisi ini, tawarkan pada anak dan orang tua untuk mempercayakan kepada perawat sebagai pendamping anak.

Tunjukkan sikap empati sabagai pendekatan utama dalam mengurangi rasa takut akibat prosedur yang menyakitkanPada tindakan pembedahan elektif, lakukan persiapan khusus jauh hari sebelumnya apabila memungkinkan. Misalnya, dengan mengorientasikan kamar bedah, tindakan yang akan dilakukan dan lain-lain.

4. Tidak melakukan kekerasan pada anak

(35)

Kekerasan pada anak akan menimbulkan gangguan psikologis yang sangat berarti dalam kehidupan anak. Apabila ini terjadi pada saat anak dalam proses tumbuh kembang maka kemungkinan pencapaian kematangan akan terhambat, dengan demikian tindakan kekerasan pada anak sangat tidak dianjurkan karena akan memperberat kondisi anak seperti melakukan tindakan keperawatan yang berulang-ulang (dalam pemasangan IVFD).

5. Modifikasi lingkungan fisik.

Melalui modifikasi lingkungan fisik rumah sakit yang bernuansa anak dapat meningkatkan keceriaan, perasaan aman, dan nyaman bagi lingkungan anak sehingga anak selalu berkembang dan merasa nyaman di lingkungannya. Modifikasi ruang perawatan dengan cara membuat situasi ruang rawat seperti di rumah dan Ruangan tersebut memerlukan dekorasi yang penuh dengan nuansa anak, seperti adanya gambar dinding berupa gambar binatang, bunga, tirai dan sprei serta sarung bantal yang berwarna dan bercorak binatang atau bunga, cat dinding yang berwarna, serta tangga yang pegangannya berwarna ceria.

(36)

sedang dirawat serta memberikan pendidikan kesehatan tentang kondisi sakit yang dialami anak.

c. Prosedur-prosedur yang berhubungan dengan mempertahankan

keamanan menurut (Wong, 2003)

1. Pastikan bahwa tindakan penjagaan keamanan lingkungan sudah dilakukan misalnya : kebiasaan tidak merokok, pencahayaan baik, dan lantai tidak licin dan lain-lain.

2. Tempat tidur pasien ambulasi dikunci pada ketinggian yang memungkinkan akses mudah ke lantai.

3. Tempatkan anak yang dapat memanjat di atas sisi boks yang dirancang khusus yang bagian atasnya ditutupi dengan jaring pengaman. Ikatkan jaring tersebut ke kerangka tempat tidur untuk bersiap-siap jika terjadi suatu kegawatan.

4. Kaji keamanan mainan yang dibawa ke rumah sakit dengan orang tua dan tentukan apakah mainan tersebut sesuai dengan usia dan kondisi anak. 5. Jaga terus bayi atau anak kecil yang ada di boks yang pagarnya tidak

(37)

d. Pencegahan kecelakaan pada anak

Ada beberapa cara pencegahan kecelakaan terhadap anak sebagai berikut (Sacharin, 1996).

1. Jatuh dari tempat tidur

Hal ini merupakan kecelakaan yang umum terjadi pada anak-anak di bangsal rumah sakit. Tempat tidur harus dirancang sehingga bagian sisi tempat tidur dapat dikunci dan cukup tinggi sehingga anak yang mulai berjalan tidak dapat memanjat keluar. Karena itu perawat harus menjamin bahwa sisi tempat tidur terkunci setelah menyelesaikan suatu tindakan. 2. Mandi

Terseduh air panas dan tenggelam merupakan konsekuensi dari perencanaan dan prosedur yang sembrono. Olek karena itu suhu air harus aman bagi anak. Untuk mencegah tenggelam maka diperlukan pengawasan yang konstan selama mandi. Tidak selalu memungkinkan untuk mencegah anak masuk kamar mandi, karena hal ini sebagian besar tergantung pada penataan bangsal.

3. Obat-obatan

Penyimpanan obat-obatan secara aman merupakan ketentuan hukum yang mengikat semua perawat. Selama pembagian obat harus dibawah pengawasan perawat.

4. Peralatan (rumah sakit)

(38)

e. Pengelompokan Masalah Keperawatan Anak yang Dirawat di

Rumah Sakit (Nursalam, 2004).

1. Masalah fisik

Masalah fisik yan terjadi bisa berupa perubahan tanda- tanda vital : suhu, pernafasan, nadi dan tekanan darah, gangguan terhadap kebutuhan cairan dan nutrisi, gangguan terhadap aktivitas dan istirahat, penurunan respon imun.

2. Masalah psikis

Masalah psikis pada anak yang sering terjadi adalah perasaan tidak berdaya karena perpisahan dengan keluarga atau pengasuh (caregiver), protes, apatis (despair), penolakan, Cemas serta takut terhadap lingkungan baru (alat- alat, peraturan, dan sikap petugas kesehatan).

Masalah sosial yang sering terjadi pada anak adalah perasaan terisolasi dan suka menyendiri. Sedangkan masalah ketergantungan bisa berupa perasaan bersalah, dan memerlukan pertolongan.

f. Pedoman orientasi ruangan pada penderita anak( Dikembangkan

dari Skripsi Agung P, 2001, dalam Nursalam, 2004).

1. Mengenalkan kepada perawat jaga.

(39)

4. Menunjukkan tempat khusus : tempat bermain, tindakan medis, dapur, dan ruangan lain.

5. Memberitahukan peraturan di rumah sakit : jam berkunjung, siapa yang boleh berkunjung jam makan dan aturan membawa makanan, waktu istirahat, dll.

6. Melaksanakan kegiatan rutin : observasi tanda – tanda vital dan hal – hal yang lain

(40)

BAB 3

KERANGKA PENELITIAN

A.Kerangka Penelitian

Perawatan atraumatik pada anak adalah merupakan asuhan keperawatan yang terapeutik yaitu perawatan yang tidak menimbulkan trauma bagi anak.

Skema 1: Kerangka Konsep Persepsi Perawat Terhadap Perawatan Atraumatik Pada Anak di Ruang III RSU Dr. Pringadi Medan. Keterangan: 2. Sasaran persepsi

tersebut 3. Faktor situasi Karakteristik

Demografi Perawat

Prinsip Perawatan Atraumatik 1. Menurunkan atau mencegah

dampak dari perpisahan keluarga 2. Meningkatkan kemampuan

orangtua dalam mengontrol perawatan pada anak. 3. Mencegah atau mengurangi

cedera dan nyeri.

4. Tidak melakukan kekerasan pada anak.

5. Modifikasi lingkungan fisik.

Persepsi Perawat - Baik

- Cukup baik - Kurang baik - Tidak baik

(41)

B. Defenisi Operasional

Tabel 1. Uraian variabel dan sub variabel penelitian

Variabel Defenisi

Operasional

Suatu aturan yang harus dipatuhi perawat untuk melakukan perawatan yang tidak menimbulkan trauma pada anak yang terdiri dari 5 komopnen.

Kuesiner yang terdiri dari 20 pernyataan dengan pilihan jawaban: 1= Sangat Tidak

Setuju 2= Tidak Setuju 3= Setuju

4= Sangat Setuju

Kuesioner terdiri 4 pernyataan

Kuesioner terdiri dari 4 peryataan

Kuesioner terdiri dari 5 pernyataan

(42)

d). Tidak melakukan kekerasan pada anak

e). Modifikasi lingkungan fisik

Kuesioner terdiri dari 3 pernyataan

Kuesioner terdiri dari 4 pernyataan

-Baik: 10-12

- Cukup baik: 8-9

- Kurang baik:6-7 - Tidak baik:

3-5 - Baik: 14-16

- Cukup baik: 11-13 - Kurang

baik: 8-10 - Tidak baik:

(43)

BAB 4

METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif yang bertujuan untuk mengidentifikasi persepsi perawat terhadap prinsip perawatan atraumatik pada anak di Ruang III RSU Dr. Pirngadi Medan.

B. Populasi dan Sampel Penelitian

a. Populasi Penelitian

Populasi adalah jumlah keseluruhan objek yang memungkinkan untuk diteliti (Notoadmodjo, 2002). Populasi dalam penelitian ini adalah perawat yang bekerja di Ruang III RSU Dr. Pirngadi Medan.

b. Sampel Penelitian

Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruahan objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Arikunto, 2006). Pengambilan sampel dilakukan dengan cara total sampling, yaitu semua populasi dijadikan sampel yaitu berjumlah 25 orang.

C. Lokasi dan Waktu Penelitian

(44)

D. Pertimbangan Etik

Penelitian ini dilakukan setelah mendapat izin penelitian dari Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatra Utara dan Direktur RSU Dr. Pringadi Medan. Kemudian peneliti mendekati calon responden penelitian. Apabila calon responden bersedia, maka akan dijelaskan tujuan, manfaat, dan prosedur penelitian, kemudian responden dipersilahkan menandatangani Informed Consent. Tetapi jika calon responden tidak bersedia, maka responden berhak menolak.

Untuk menjaga kerahasiaan responden, peneliti tidak akan mencantumkan nama lengkap tapi hanya mencantumkan inisial nama responden atau memberi kode pada masing-masing lembar kuesioner. Kerahasiaan informasi dijamin oleh responden hanya diberikan oleh responden hanya digunakan untuk keperluan penelitian ini saja.

Selama proses pengambilan data tidak akan menimbulkan tekanan psikologis pada responden yang akan diteliti, sehingga tidak menimbulkan efek yang merugikan terhadap responden.

E. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian dibuat berdasarkan studi kepustakaan dan dimodifikasi oleh peneliti. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner yang dibagi menjadi 2(dua) bagian, yaitu kuesioner data demografi dan kuesioner persepsi perawat terhadap prinsip perawatan atraumatik pada anak.

a. Kuesioner data demografi

(45)

b. Kuesioner persepsi perawat

Bagian kedua adalah kuesioner persepsi perawat tentang prinsip perawatan atraumatik pada anak yang meliputi 5 aspek, yaitu komponen perawatan atraumatik yang meliputi: (1) menurunkan atau mencegah dampak perpisahan dari keluarga, yang terdiri dari 4 pernyataan, yaitu nomor 1 sampai nomor 4; (2) meningkatkan kemampuan orang tua dalam mengontrol perawatan pada anak, yang terdiri dari 4 pernyataan, yaitu nomor 5 sampai nomor 8; (3) mencegah dan mengurangi cedera (injury) dan nyeri (dampak psikologis), yang terdiri dari 5 pernyataan, yaitu nomor 9 sampai nomor 13; (4) tidak melakukan kekerasan fisik pada anak, yang terdiri dari 3 pernyataan, yaitu nomor 14 sampai nomor16; (5) modifikasi lingkungan fisik, yang terdiri dari 3 pernyataan, yaitu nomor 17 sampai nomor 20. pernyataan dibuat 2 jenis, yaitu pernyataan positif yang terdiri dari nomor 1,4,5,7,10,11,13,14,17,18, dan pernyataan negatif yaitu 2,3,6,8,9,12,15,16,19 dan 20. Masing-masing pernyataan menggunakan skala likert dengan penilaian untuk pernyataan positif, jawaban Sangat Tidak Setuju = 1; Tidak Setuju = 2; Setuju = 3; Sangat Setuju = 4. Sedangkan penilaian untuk pernyataan negatif, jawaban Sangat Tidak Setuju =4; Tidak Setuju =3; Setuju =2; Sangat Setuju = 1.

F. Validitas Instrumen

(46)

apabila mampu mengukur apa yang diinginkan dan dapat mengungkapkan data dari variabel yang diteliti secara tepat (Arikunto, 2006).

Dalam penelitian ini dilakukan uji validitas instrumen yaitu suatu pengujian apakah instrumen dapat menggali yang diinginkan oleh sipeneliti atau untuk menilai apakah instrumen itu valid atau tidak (Arikunto, 2006). Uji validitas intrumen dilakukan dengan uji content validity yaitu suatu pengujian instrument dilakukan oleh orang yang ahli dibidangnya dalam hal ini instrumen diuji oleh salah satu tim Keperawatan Anak PSIK - FK USU Medan.

G. Uji Reliabilitas

Alat ukur yang baik adalah alat ujur yang memberikan hasil yang sama meskipun digunakan beberapa kali pada kelompok sanpel (Ritonga, 2003). Uji reliabilitas ini dilakukan dengan menggunakan program komputerisasi untuk analisis Cronchbach Alpa mengenai persepsi perawat tentang prinsip perwatan atraumatik di rumah sakit. Untuk instrumen yang baru akan reliabel jika memiliki reliabilitas lebih dari 0,70 (Polit & Hungler, 1995). Berdasarkan uji reliabilitas yang telah dilakukan dan diperoleh hasil 0,750, dengan demikian instrumen ini reliabel untuk digunakan.

H. Pengumpulan Data

Ada beberapa prosedur yang dilakukan dalam pengumpulan data yaitu:

a. Mengajukan permohonan izin kepada Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

b. Mengajukan permohonan izin kepada direktur RSU Dr. Pirngadi Medan. c. Setelah mendapat izin dari RSUD. Pirngadi Medan, peneliti kemudian

(47)

d. Peneliti mendekati kepala ruangan kemudian menjelaskan tentang tujuan penelitian dan menyerahkan Informed Consen kepada perawat.

e. Menyerahkan kuesioner melalui kepala ruangan untuk diisi oleh perawat yang ada di Ruang III RSU Dr.Pirngadi Medan.

f. Pengolahan atau analisa data dilakukan setelah semua data yang diperlukan terkumpul.

I. Analisa data

Analisa data dilakukan setelah semua data terkumpul melalui baberapa tahap dimulai dari editing untuk memeriksa kelengkapan data, kemudian memberi kode (coding) untuk memudahkan melakukan tabulasi. Selanjutnya memasukkan (entry) data kedalam komputer dan dilakukan pengolahan data dengan teknik komputerisasi dimana data akan dianalisa secara statistik deskriptif dan disajikan dalam bentuk narasi, tabel distribusi frekuensi (Arikunto, 2006).

(48)

66-80: Baik 51-65: Cukup Baik 36-50: Kurang Baik 20-35 : Tidak baik

(49)

BAB 5

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.Hasil Penenelitian

Pada bab ini akan diuraikan data hasil penelitian serta hasil pembahasan penelitian mengenai persepsi perawat terhadap prinsip perawatan atraumatik pada anak di Ruang III RSU Dr.Pirngadi Medan.

a. Karakteistik Responden

(50)

Tabel 5.1. Distribusi frekuensi dan persentase karakteristik responden di Ruang III RSU Dr.Pirngadi Medan Tahun 2009 (N=25).

Karakteristik Frekuensi Persentase (%) Usia

b.Persepsi perawat berkaitan dengan mencegah dampak dari

perpisahan keluarga

Dari hasil penelitian diperoleh data perawat sebagian besar memiliki persepsi cukup baik sebanyak 15 orang (60%). Data tentang persepsi perawat mengenai dampak perpisahan keluarga dapat dilihat pada tabel 5.2.

Tabel 5.2. Distribusi dan persentase tentang persepsi perawat dalam mencegah dampak perpisahan keluarga di Ruang III RSU Dr.Pirngadi

Medan Tahun 2009 (N=25)

Prinsip perawatan atraumatik F (%)

(51)

c. Persepsi perawat berkaitan dengan meningkatan kemampuan orang tua dalam mengontrol perawatan anak

Dari hasil penelitian diperoleh data perawat sebagian besar memiliki persepsi cukup baik sebanyak 17 orang (68%). Data mengenai persepsi perawat berkaitan dengan meningkatan orang tua dalam mengontrol perawatan anak dapat dilihat pada tabel 5.3.

Tabel 5.3. Distribusi dan persentase persepsi perawat berkaitan dengan meningkatkan kemampuan orang tua dalam mengontrol

perawatan anak di Ruang III RSU Dr.Pirngadi Medan Tahun 2009 (N=25)

Prinsip perawatan atraumatik F (%)

Meningkatkan kemampuan orang tua dalam mengontrol perawatan anak

- Persepsi baik

d. Persepsi perawat dalam mencegah cedera (injury) dan mengurangi nyeri (dampak psikologis)

Dari hasil penelitian diperoleh data perawat sebagian besar memiliki persepsi cukup baik sebanyak 24 orang (96%). Data tentang persepsi perawat dalam mencegah cedera dan mengurangi nyeri dapat dilihat pada tabel 5.4.

Tabel 5.4. Distribusi dan persentase persepsi perawat dalam mencegah cedera (injury) dan mengurangi nyeri (dampak psikologis) di Ruang III

RSU Dr.Pirngadi Medan Tahun 2009 (N=25)

Prinsip perawatan atraumatik F (%)

Mencegah atau mengurangi cedera (injury) dan nyeri (dampak psikologis)

(52)

e. Persepsi perawat berkaitan dengan tidak melakukan kekerasan pada

anak

Dari hasil penelitian diperoeh data perawat sebagian besar memiliki persepsi cukup baik sebannyak 14 orang (56%). Data perespsi perawat berkaitan dengan tidak melakukan kekerasan pada anak dapat dilihat pada tabel 5.5.

Tabel 5.5. Distribusi dan persentase persepsi perawat berkaitan dengan tidak melakukan kekerasan pada anak di Ruang III RSU Dr.Pirngadi

Medan Tahun 2009 (N=25)

Prinsip perawatan atraumatik F (%)

Tidak melakukan kekerasan pada anak - Persepsi baik

f.Persepsi perawat terhadap modifikasi lingkungan fisik

Dari hasil penelitian diperoleh data perawat yang memiliki persepsi cukup baik cukup baik sebanyak 20 orang (80%). Data tentang persepsi perawat terhadap modifikasi lingkungan fisik dapat dilihat pada tabel 5.6.

Tabel 5.6 Distribusi dan persentase persepsi perawat terhadap modifikasi lingkungan fisik di Ruang III RSU Dr.Pirngadi Medan

Tahun 2009 (N=25)

Prinsip perawatan atraumatik F (%)

(53)

g. Persepsi perawat terhadap prinsip perawatan atraumatik

Berdasarkan hasil kuesioner yang diberikan kepada 25 orang perawat yang bekerja di ruang III RSU Dr.Pirngadi Medan diperoleh perawat yang mempunyai persepsi baik sebanyak 9 orang (36%), memiliki persepsi cukup baik sebanyak 16 orang ( 64%). Bukti kelengkapan data tentang persepsi perawat terhadap prinsip perawatan atraumatik dapat dilihat pada tabel 5.7.

Tabel 5.7 Distribusi dan persentase tentang persepsi perawat terhadap prinsip perawatan atraumatik di Ruang III RSU Dr.Pirngadi

Medan Tahun 2009 (N=25)

Prinsip Perawatan Atraumatik pada anak F (%)

- Persepsi baik - Persepsi cukup baik - Persepsi kurang baik - Persepsi tidak baik

9

Persepsi merupakan suatu bentuk kesesuaian antara reaksi dengan stimulus. Proses terjadinya persepsi diperoleh dari adanya rangsangan melalui panca indera yang didahului oleh perhatian tentang hal yang diamati. Dengan persepsi seseorang dapat menyadari dan mengerti tentang apa yang ada di sekitarnya. Dalam penelitian ini akan dibahas tentang persepsi perawat terhadap prinsip perawatan atraumatik di Ruang III RSU Dr.Pirngadi Medan.

a. Karakteristik Perawat

(54)

perawatan anak, ini dikarenakan pada usia tersebut rata-rata perawat atau pada umumnya wanita telah mempunyai anak.

Begitu juga dengan persepsi seorang perawat dalam melakukan tindakan keperawatan dapat dipengaruhi oleh usianya (Kusnanto, 2007). Karena semakin tinggi umur seseorang maka akan memiliki daya analistis yang lebih tinggi sehingga persepsi yang dihasilkan juga berbeda. Pernyataan yang sama diungkapkan oleh Sofiana (2004) bahwa perawat yang berusia diatas 30 tahun memiliki daya analistis yang lebih tinggi dari pada kelompok umur yang lainnya.

Jika dilihat dari jenis kelamin responden semuanya adalah perempuan yaitu sebanyak 25 orang (100%), kemungkinan ini terjadi karena dunia keperawatan identik dengan ibu atau wanita yang lebih dikenal dengan mother

instinc. Sehingga untuk mencari perawat yang berjenis kelamin laki-laki

sangatlah terbatas. Ditambah lagi output perawat yang dihasilkan dari perguruan tinggi yang rata-rata juga wanita lebih banyak dibandingkan dengan laki-laki. Oleh karena wanita memiliki naluri seorang ibu, sehingga ia lebih menyayangi anak-anak walupun bukan anaknya sendiri. Hal serupa juga diungkapkan oleh Sularyo (2005) bahwa perempuan lebih menyayangi dan lebih memahami sifat anak dari pada laki-laki.

(55)

sedangkan yang berpendidikan DIII Keperawatan diberi kesempatan untuk melanjutkan studi S1 keperawatan dengan izin belajar, tetapi ada juga perawat yang tidak mau melanjutkan studi yang lebih tinggi dikarenakan alasan usia.

Tingkat pendidikan seseorang perawat akan mempengaruhi persepsinya dalam melakukan tindakan keperawatan dalam hal ini perawatan pada anak. Karena semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka akan semakin tinggi pula tingkat pengetahuannya dalam memberikan asuhan keperawatan. Hal senada juga diungkapkan oleh (Carpenito, 1995 dalam Tobing, 2007) bahwa tingkat pendidikan dapat mempengaruhi seorang dalam melakukan tindakan keperawatan terhadap kliennya

(56)

pengalaman dalam bekerja maka akan semakin profesional seorang perawat dalam menjalani profesinya. Hal ini sesuai dengan pendapat Rahmad (1992) bahwa pengalaman seseorang dalam bekerja dapat mempengaruhi persepsinya dalam melakukan suatu tindakan keperawatan.

Jika dilihat dari jabatan perawat rata-rata adalah perawat pelaksana sebanyak 24 orang (96%) dan 1 orang (4%) sebagai kepala ruangan. Ini menandakan bahwa di Ruang III RSU Dr.Pirngadi Medan telah memperhatikan tingkat ketergantungan pasien anak dengan jumlah perawat yang ada di ruangan tersebut dalam memberikan asuhan keperawatan. Hal ini bisa dilihat dari rata-rata jumlah pasien anak perbulan pada tahun 2008 yaitu sekitar 255 pasien, jadi jumlah pasien anak rata-rata perhari bisa sekitar 8 atau 9 pasien. Ini sesuai dengan perhitungan jumlah pasien dan jumlah tenaga yang dibutuhkan menurut rumus perhitungan tenaga keperawatan (Dep.Kes RI, 2002) dengan hasil 10-11 orang perawat yang dibutuhkan dalam merawat anak perhari.

a. Persepsi perawat berkaitan dengan mencegah dampak dari perpisahan keluarga

(57)

Friedman (1999) menambahkan bahwa keluarga dapat menjadi sumber kesehatan yang efektif dan utama dalam proses perawatan atraumatik pada anak. Akan tetapi jika tidak memungkinkan untuk rooming in beri kesempatan kepada orang tua untuk melihat anak setiap saat guna mempertahankan kontak antara mereka (Supartini, 2004). Sebaliknya jika selama anak dirawat di rumah sakit diberi batasan untuk berhubungan dengan orang tuanya maka akan terjadi jarak antara anak dan orang tua yang nantinya akan memperlambat proses penyembuhan dan tumbuh kembang anak.

Hal senada juga diungkapkan oleh Hidayat (2005) bahwa selama anak di rumah sakit, ia akan merasa dikucilkan oleh keluarga dan teman-temannya oleh karena itu memfasilitasi pertemuan dengan guru dan teman-teman sekolah merupakan upaya agar tidak terjadi gangguan psikologis yang akan mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak selama dirawat.

b. Persepsi perawat dalam meningkatkan kemampuan orang tua dalam mengontrol perawatan anak

(58)

Mefokuskan intervensi perawatan dengan mengurangi ketergantungan pada perawat merupakan upaya untuk meningkatkan kemampuan orang tua dalam merawat anaknya. Hidayat (2005) menambahkan bahwa melalui peningkatan kontrol orang tua pada perawatan anak diharapkan anak mampu dalam kehidupannya dan anak akan selalu berhati-hati dalam melakukan aktivitas sehari-hari yaitu dengan cara memberi kesempatan pada orang tua untuk mengambil keputusan dalam perawatan anak

c. Persepsi perawat dalam mencegah atau mengurangi cedera (injury) dan nyeri (dampak psikologis)

Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi yang baik dalam mencegah atau mengurangi cedera (injury) dan nyeri (dampak psikologis) sebanyak 1 orang (4%) dan persepsi cukup baik sebanyak 24 orang (96%). Untuk mencegah terjadinya cedera (injury) dan mengurangi nyeri (dampak psikologis) pada anak tidak mudah dilakukan. karena hanya perawat yang keterampilan khusus dan profesinal yang bisa melakukan hal tersebut. Hal ini juga terkait dengan informasi yang sangat diperlukan oleh orang tua selama proses perawatan anaknya dan orang tua perlu mengetahui tentang kondisi anaknya serta tindakan medis yang akan dilakukan pada anaknya (Nursalam, 2003).

(59)

perkembangan anak. Dalam melakukan perawatan anak, seorang perawat harus mempertimbangan untuk menghadirkan orang tua pada saat dilakukan prosedur yang menimbulkan rasa nyeri, apabila mereka tidak dapat menahan diri bahkan menangis bila melihatnya, dalam kondisi ini tawarkan pada orang tua untuk mempercayakan perawat serta tunjukkan sikap empati sebagai pendekatan utama dalam mengurangi rasa takut akibat prosedur yang menyakitkan (Hidayat, 2005).

d. Persepsi perawat berkaitan dengan tidak melakukan kekerasan pada

anak

Berdasarkan hasil penelitian persepsi yang baik berkaitan dengan tidak melakukan kekerasan pada anak sebanyak 10 orang (40%), persepsi cukup baik sebanyak 14 orang (56%) dan persepsi kurang baik sebanyak 1 orang (4%). Dari hasil ini dapat dilihat bahwa masih ada perawat yang mempunyai persepsi yang kurang baik walaupun hanya 1 orang (4%) kemungkinan ini terjadi masih kurangnya pemahaman prinsip perawatan atraumatik mengenai tidak melakukan kekerasan pada anak dan ini didukung oleh hasil wawancara peneliti pada 4 orang anak yang berusia 5-7 tahun yang dirawat di ruang III bahwa mereka merasa takut kepada petugas kesehatan dan merasa sakit ketika diberikan tindakan medis misalnya pemberian obat melalui suntikan, pembersihan luka, dan lain-lain.

(60)

memaksa anak ketika makan atau minum obat, merestrein anak terlalu lama, hal ini bisa ditandai dengan menangis terus menerus, tidak kooperatif terhadap petugas kesehatan, penolakan dalam melakukan tindakan, dan lain-lain sesuai dengan tahap pertumbuhan dan perkembangan anak.

Hal serupa diungkapkan oleh Hidayat (2005) bahwa kekerasan pada anak akan menimbulkan gangguan psikologis yang sangat berarti dalam kehidupan anak dan apabila ini terjadi pada saat anak dalam proses tumbuh kembang maka kemungkinan pencapaian kematangan akan terhambat, dengan demikian tindakan kekerasan akan mengakibatkan kondisi anak semakin berat.

e. Persepsi perawat terhadap modifikasi lingkunga fisik

Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi yang baik terhadap modifikasi lingkungan fisik sebanyak 5 orang (20%) dan cukup baik sebanyak 20 orang (80%). Melalui modifikasi lingkungan fisik rumah sakit yang bernuansa anak dapat meningkatkan keceriaan, perasaan aman dan nyaman bagi lingkungan anak sehingga anak selalu berkembang dan merasa nyaman dilingkungannya, akan tetapi jika lingkungan tidak nyaman seperti suara bising, tercium bau yang tidak sedap ini akan mengakibatkan anak menjadi stress dan menghambat proses pertumbuhan dan perkembangan (Supartini, 2004) .

(61)

bunga, tirai dan sprei serta sarung bantal yang berwarna dan bercorak binatang atau bunga, cat dinding yang berwarna, serta tangga yang pegangannya berwarna ceria (Hidayat,2005)

f. Persepsi perawat terhadap prinsip perawatan atraumatik pada anak

(62)

BAB 6

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

A.Kesimpulan

Penelitian yang dilakukan pada tanggal 19 Januari sampai dengan 10 Februari 2009 bertujuan untuk mengidentifikasi persepsi perawat terhadap prinsip perawatan atraumatik pada anak di Ruang III RSU Dr.Pirngadi Medan dengan jumlah responden 25 orang.

Persepsi perawat terhadap prinsip perawatan atraumatik secara keseluruhan menunjukkan bahwa 16 (64%) perawat telah memiliki persepsi cukup baik dan 9 (36%) perawat yang memiliki persepsi baik. Analisa perkomponen dapat dilihat dari persepsi perawat cukup baik (60%) berkaitan dengan mencegah dampak dari perpisahan keluarga, persepsi perawat cukup baik (68%) berkaitan dengan meningkatkan kemampuan orang tua dalam mengontrol perawatan anak, persepsi perawat cukup baik (96%) dalam mencegah cedera dan mengurangi nyeri pada anak, dan persepsi perawat cukup baik (80%) terhadap modifikasi lingkunag fisik.

B. Rekomedasi

a. Rekomendasi untuk Praktek Keperawatan

(63)

melakukan prinsip dari perawatan atraumatik, sehingga dalam pencapaian tumbuh kembang anak lebih optimal.

b. Rekomendasi untuk Pendidikan Keperawatan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi informasi tambahan dan masukan dalam pengembangan pendidikan keperawatan khususnya keperawatan anak sehingga perlu diberikan pelatihan-pelatihan secara kontiniu tentang perawatan atraumatik pada anak khususnya di rumah sakit.

c. Rekomendasi untuk Penelitian Selanjutnya

1. Untuk penelitian selanjutnya disarankan dalam penambahan jumlah sampel sehingga dapat diketahui secara keseluruhan persepsi perawat terhadap prinsip perawatan atraumatik di RSU Dr.Pirngadi Medan.

2. Untuk penelitian selanjutnya disarankan untuk melakukan penelitian tentang :

a. Faktor-faktor yang mempengaruhi terlaksananya perawatan atraumatik pada di rumah sakit

(64)

DAFTAR PUSTAKA

Aisiah. I. (2006), Keperawatanpprofesional, dianduh melalui

Arikunto. S. (2006), Prosedur penelitian suatu pendekatan praktik, Rineka Cipta, Jakarta.

Basford. L. (2006), Teori dan praktik keperawatan, EGC, Jakarta

Gaffar L.O. J. (1999), Pengantar keperawatan profesional, EGC, Jakarta.

Gunarsa. S.D (2000), Pendekatan psikologis terhadap anak yang dirawat dan

sikap orang tua, dianduh melalui

Fatmawati. I. (2007), Biologic safety, dianduh melalui

Friedman.M.M (1999) Teori dan praktek keperawatan keluarga, EGC. Jakarta. Herymrt (2008), Pelayanan rumah sakit yang bermutu, dianduh melalui

pada tanggal 20 Mei 2008.

Hidayat, A.A. (2005), Pengantar ilmu keperawatan anak I, Salemba Medica, Jakarta.

______, A.A (2007), Riset keperawatan dan teknik penulisan ilmiah, Salemba Medica, Jakarta.

______, A.A (2007), Metode penelitian keperawatan dan teknik analisa data, Salemba Medica, Jakarta..

Juli. S. (2008), Dukungan keluarga terhadap kepatuhan pada anak dalam

memerima tindakan keperawatan selama sakit, dianduh melalui

pada tanggal 21 Januari 2009

Kusnanto.S.R (2007), Tesis, hubungan motivasi kerja dengan karakteristik

individu perawat di RSD Dr.H.Moh Anwar Madura dianduh melalui

(65)

Notoadmodjo. S (2002), Metodologi penelitian kesehatan, Rineka Cipta, Jakarta. Mustikasar (2007), Komunikasi dalam pelayanan keperawatan, dianduh melalui pada tanggal 16 Mei 2008.

______, (2007), Riset keperawatan, dianduh melalui

Salim.(2002),dianduh melalu

pada tanggal 16 Mei 2008.

Nursalam. S (2003), Konsep dan penerapan metodologi penelitian ilmu

keperawatan: pedoman skripsi, tesis dan instrumen penelitian keperawatan, Salemba Medika, Jakarta

Nursalam. dkk. (2004), Asuhan keperawatan bayi dan anak, Salemba Medica, Jakarta.

Polit. D.F &Hungler, B. P.(1995). Nursing research principle and method. Philadelphia: J. B. Lippincot Company

Rahmat. J. (2005), Psikologi komunikasi, Rineka Cipta, Jakarta

Rahmat (1992) dalam jurnal Keperawatan rufaidah Fakultas Kedokteran

Universitas Sumatera Utara. Vol 1 (2005)

Riwidikdo. R (2008) Statistik kesehatan, Mitra Cendikia Pres, Yogyakarta Sacharin. R. N. (1996), Prinsip keperawatan pediatrik, EGC, Jakarta.

pada

tanggal 16 Mei 2008

Satiadarma, M.P (2001), Persepsi orang tua membentuk prilaku anak: dampak

pymalio di dalam keluarga, EGC, Jakarta.

Siagian. P. S. (2002), Teori motivasi dan aplikasinya, EGC, Jakarta.

Sitio. L (2008), Skripsi, Persepsi perawat terhadap keterlibatan orang tua dalam perawatan anak di RSUP H.Adam Malik Medan. Tidak untuk

dipublikasikan

Sofiana.N.A (2004), Analisis Faktor Lingkungan dan Individu yang Berpengaruh

terhadap Peningkatan Kinerja Perawat (Studi Kasus Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Annisa Cikarang, dianduh melalui

(66)

Suan. C. G. (2005), Nursing Of Journal, dianduh melalui

pada tanggal 28 Juni 2008.

Sudjana (2002), Metode statistika, Tarsito, Bandung.

Sujono.R (2005), Kepuasan kerja perawat yang profesinal, dianduh melalui pada tanggal 25 Januari 2009.

Sugiarno (2007), Aspek klinis kekerasan pada anak dan upaya pencegahannya, di anduh melalu pada tanggal 27 Januari 2009.

Sularyo.P (2005), Kasih sayang wanita dan mencintai anak, dianduh melalui pada tanggal 23 Januari 2009.

Sunaryo (2002), Psikologi untuk keperawatan, EGC, Jakarta.

Supartini. Y (2004), Konsep dasar keperawatan anak, EGC, Jakarta.

_______, Y (2006), Profesional student nursing, melalui semarang, dianduh melalui tanggal 16 Mei2008.

_______, Y (2007), Konsep dasar keperawatan anak, dianduh melalui

pada tanggal 20 Mei 2008.

Walgito.B (2001), Psikologi sosial (Suatu Pengantar), Penerbit Andi, Yogyakarta Wong. D. L (2003), Pedoman klinis keperawatan pediatrik, EGC, Jakarta.

______, D. L (2005).Wong on web paper Beyond do no harm: Principles of

atraumaticcare, dianduh melalui

2009

Wozniak (2006), Persepsi Perawat, dianduh melalui

(67)
(68)

Lembar Persetujuan Menjadi Responden

Saya yang bernama Sri Kurniawati / 071101076 adalah mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Saat ini saya sedang melakukan penelitian mengenai “Persepsi Perawat Terhadap Prinsip Perawatan Atraumatik pada Anak di Ruang III RSU Dr. Pirngadi Medan. Penelitian ini juga merupakan salah satu kegiatan dalam menyelesaikan tugas akhir di Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Sumatera Utara.

Untuk keperluan tersebut saya mohon kesediaan saudara-saudara untuk menjadi responden dalam penelitian ini. Selanjutnya saya mohon kesediaan saudara-saudara untuk mengisi kuesioner dengan jujur dan apa adanya. Jika bersedia, silahkan menandatangani lembar persetujuan ini sebagai bukti kesukarelaan saudara.

Partisipasi saudara-saudara dalam penelitian ini bersifat sukarela, sehingga bebas untuk membebaskan diri setiap saat tanpa ada sanksi apapun. Identitas pribadi saudaradan semua informasi yang saudara berikan akan dirahasiakan dan hanya digunakan untuk keperluan penelitian ini.

Terima kasih atas partisipasi saudara-saudara dalam penelitian ini.

Peneliti Medan, Januari 2009

Responden

Gambar

Tabel 3.1. Defenisi operasional variabel dan Sub variabel  penelitian....
Tabel 1. Uraian variabel dan sub variabel penelitian
Tabel 5.2.  Distribusi dan persentase tentang persepsi perawat dalam mencegah dampak perpisahan keluarga di Ruang III RSU Dr.Pirngadi
Tabel 5.3. Distribusi dan persentase persepsi perawat berkaitan dengan meningkatkan kemampuan orang tua dalam mengontrol
+3

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil penelitian yang diperoleh peneliti, menurut ketujuh partisipan mengenai persepsi keluarga pasien terhadap perilaku caring perawat di ruang ICU terdapat empat tema

Variabel gaji yang diukur dalam penelitian ini adalah meliputi besar gaji yang diterima perawat sesuai dengan pekerjaan dan jenjang pendidikan, gaji perawat sesuai waktu

Pada penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi komunikasi terapeutik perawat dan tingkat stres hospitalisasi anak usia sekolah serta mengidentifikasi hubungan antara

Hal ini tergambar dari tema-tema yang diperoleh yaitu perawat mempunyai pandangan bahwa pelibatan keluarga dalam perawatan anak merupakan peluang bagi mereka

Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan komunikasi terapeutik perawat terhadap tingkat stres hospitalisasi anak usia sekolah yang dirawat

1.2.3 Bagaimana hubungan komunikasi terapeutik perawat terhadap tingkat stres hospitalisasi anak usia sekolah di ruang III RSUD Dr. Pirngadi

Aspek kemampuan pelayanan yang akurat adalah berkaitan dengan kehandalan kemampuan perawat di rumah sakit untuk memberikan pelayanan segera, akurat sejak pertama kali

Distribusi Perawat Berdasarkan Perilaku dalam Menjalankan Perawatan Atraumatik Pada Anak Pada Anak di Ruang Rawat Anak RSAB Harapan Kita, April 2014 (n=70) Prinsip Perawatan