• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS DANA PIHAK KETIGA (DPK), SERTIFIKAT BANK INDONESIA SYARIAH (SBIS) DAN NON PERFORMING FINANCING (NPF) TERHADAP PEMBIAYAAN PADA BANK SYARIAH DI INDONESIA 2007-2014; MODEL VECTOR AUTO REGRESSION (VAR)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "ANALISIS DANA PIHAK KETIGA (DPK), SERTIFIKAT BANK INDONESIA SYARIAH (SBIS) DAN NON PERFORMING FINANCING (NPF) TERHADAP PEMBIAYAAN PADA BANK SYARIAH DI INDONESIA 2007-2014; MODEL VECTOR AUTO REGRESSION (VAR)"

Copied!
136
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS

ANALISISANALISISANALISIS DANADANADANADANA PIHAKPIHAKPIHAKPIHAK KETIGAKETIGAKETIGAKETIGA (DPK),(DPK),(DPK),(DPK), SERTIFIKATSERTIFIKATSERTIFIKATSERTIFIKAT BANKBANKBANKBANK INDONESIAINDONESIAINDONESIAINDONESIA SYARIAH

SYARIAH SYARIAH

SYARIAH (SBIS)(SBIS)(SBIS)(SBIS) DANDANDANDANNONNONNONNON PERFORMINGPERFORMING FINANCINGPERFORMINGPERFORMINGFINANCINGFINANCINGFINANCING(NPF)(NPF)(NPF)(NPF) TERHADAPTERHADAPTERHADAPTERHADAP PEMBIAYAAN

PEMBIAYAAN PEMBIAYAAN

PEMBIAYAAN PADAPADAPADAPADA BANKBANKBANKBANK SYARIAHSYARIAHSYARIAHSYARIAH DIDIDIDI INDONESIAINDONESIAINDONESIAINDONESIA 2007-2014;2007-2014;2007-2014;2007-2014; MODELMODELMODELMODEL

VECTOR VECTOR VECTOR

VECTOR AUTOAUTOAUTOAUTO REGRESSIONREGRESSIONREGRESSIONREGRESSION(VAR)(VAR)(VAR)(VAR) ANALYSIS

ANALYSIS

ANALYSISANALYSIS OFOFOFOF THIRDTHIRDTHIRDTHIRD PARTYPARTYPARTYPARTY FUNDSFUNDS (DPK),FUNDSFUNDS(DPK),(DPK),(DPK), BANKBANKBANKBANK INDONESIAINDONESIAINDONESIAINDONESIA SHARIASHARIASHARIASHARIA CERTIFICATES

CERTIFICATES CERTIFICATES

CERTIFICATES (SBIS),(SBIS),(SBIS),(SBIS), ANDANDANDAND NONNONNONNON PERFORMINGPERFORMINGPERFORMINGPERFORMING FINANCINGFINANCINGFINANCINGFINANCING (NPF)(NPF)(NPF)(NPF) TOTOTOTO FINANCING

FINANCING

FINANCINGFINANCING ONONONON ISLAMICISLAMICISLAMICISLAMIC BANKBANKBANKBANK ININININ INDONESIAINDONESIAINDONESIAINDONESIA 2007-2014;2007-2014;2007-2014;2007-2014; METODEMETODEMETODEMETODE VECTOR

VECTOR

VECTORVECTOR AUTOAUTOAUTOAUTO REGRESSIONREGRESSIONREGRESSIONREGRESSION (VAR)(VAR)(VAR)(VAR)

Oleh MALIK

MALIK MALIK

MALIK IBRAHIMIBRAHIMIBRAHIMIBRAHIM HAFLYHAFLYHAFLYHAFLY 20120430014

20120430014 2012043001420120430014

FAKULTAS FAKULTAS

FAKULTASFAKULTAS EKONOMIEKONOMIEKONOMIEKONOMI UNIVERSITAS

UNIVERSITAS UNIVERSITAS

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAHMUHAMMADIYAHMUHAMMADIYAHMUHAMMADIYAH YOGYAKARTAYOGYAKARTAYOGYAKARTAYOGYAKARTA 2016

(2)

ANALISIS

ANALISISANALISISANALISIS DANADANADANADANA PIHAKPIHAKPIHAKPIHAK KETIGAKETIGAKETIGAKETIGA (DPK),(DPK),(DPK),(DPK), SERTIFIKATSERTIFIKATSERTIFIKATSERTIFIKAT BANKBANKBANKBANK INDONESIAINDONESIAINDONESIAINDONESIA SYARIAH

SYARIAH SYARIAH

SYARIAH (SBIS)(SBIS)(SBIS)(SBIS) DANDANDANDANNONNONNONNON PERFORMINGPERFORMING FINANCINGPERFORMINGPERFORMINGFINANCINGFINANCINGFINANCING(NPF)(NPF)(NPF)(NPF) TERHADAPTERHADAPTERHADAPTERHADAP PEMBIAYAAN

PEMBIAYAAN PEMBIAYAAN

PEMBIAYAAN PADAPADAPADAPADA BANKBANKBANKBANK SYARIAHSYARIAHSYARIAHSYARIAH DIDIDIDI INDONESIAINDONESIAINDONESIAINDONESIA 2007-2014;2007-2014;2007-2014;2007-2014; MODELMODELMODELMODEL

VECTOR VECTOR VECTOR

VECTOR AUTOAUTOAUTOAUTO REGRESSIONREGRESSIONREGRESSIONREGRESSION(VAR)(VAR)(VAR)(VAR) ANALYSIS

ANALYSIS

ANALYSISANALYSIS OFOFOFOF THIRDTHIRDTHIRDTHIRD PARTYPARTYPARTYPARTY FUNDSFUNDS (DPK),FUNDSFUNDS(DPK),(DPK),(DPK), BANKBANKBANKBANK INDONESIAINDONESIAINDONESIAINDONESIA SHARIASHARIASHARIASHARIA CERTIFICATES

CERTIFICATES CERTIFICATES

CERTIFICATES (SBIS),(SBIS),(SBIS),(SBIS), ANDANDANDAND NONNONNONNON PERFORMINGPERFORMINGPERFORMINGPERFORMING FINANCINGFINANCINGFINANCINGFINANCING (NPF)(NPF)(NPF)(NPF) TOTOTOTO FINANCING

FINANCING

FINANCINGFINANCING ONONONON ISLAMICISLAMICISLAMICISLAMIC BANKBANKBANKBANK ININININ INDONESIAINDONESIAINDONESIAINDONESIA 2007-2014;2007-2014;2007-2014;2007-2014; METODEMETODEMETODEMETODE VECTOR

VECTOR

VECTORVECTOR AUTOAUTOAUTOAUTO REGRESSIONREGRESSIONREGRESSIONREGRESSION (VAR)(VAR)(VAR)(VAR)

SKRIPSI

SKRIPSI

SKRIPSI

SKRIPSI

Diajukan Guna Memenuhi Persyaratan untuk Memperoleh Gelar Sarjana pada Fakultas Ekonomi Program Studi Ilmu Ekonomi

Universitas Muhammadiyah Yogykarta

Oleh MALIK

MALIK MALIK

MALIK IBRAHIMIBRAHIMIBRAHIMIBRAHIM HAFLYHAFLYHAFLYHAFLY 20120430014

20120430014 2012043001420120430014

FAKULTAS FAKULTAS

FAKULTASFAKULTAS EKONOMIEKONOMIEKONOMIEKONOMI UNIVERSITAS

UNIVERSITAS UNIVERSITAS

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAHMUHAMMADIYAHMUHAMMADIYAHMUHAMMADIYAH YOGYAKARTAYOGYAKARTAYOGYAKARTAYOGYAKARTA 2016

(3)

i

ANALISIS DANA PIHAK KETIGA (DPK), SERTIFIKAT BANK INDONESIA SYARIAH (SBIS) DAN NON PERFORMING FINANCING (NPF) TERHADAP PEMBIAYAAN PADA BANK SYARIAH DI INDONESIA 2007-2014; MODEL

VECTOR AUTO REGRESSION (VAR)

ANALYSIS OF THIRD PARTY FUNDS (DPK), BANK INDONESIA SHARIA CERTIFICATES (SBIS), AND NON PERFORMING FINANCING (NPF) TO

FINANCING ON ISLAMIC BANK IN INDONESIA 2007-2014; METODE VECTOR AUTO REGRESSION (VAR)

Oleh

MALIK IBRAHIM HAFLY 20120430014

FAKULTAS EKONOMI

(4)

ii

ANALISIS DANA PIHAK KETIGA (DPK), SERTIFIKAT BANK INDONESIA SYARIAH (SBIS) DAN NON PERFORMING FINANCING (NPF) TERHADAP PEMBIAYAAN PADA BANK SYARIAH DI INDONESIA 2007-2014; MODEL

VECTOR AUTO REGRESSION (VAR)

ANALYSIS OF THIRD PARTY FUNDS (DPK), BANK INDONESIA SHARIA CERTIFICATES (SBIS), AND NON PERFORMING FINANCING (NPF) TO

FINANCING ON ISLAMIC BANK IN INDONESIA 2007-2014; METODE VECTOR AUTO REGRESSION (VAR)

SKRIPSI

Diajukan Guna Memenuhi Persyaratan untuk Memperoleh Gelar Sarjana pada Fakultas Ekonomi Program Studi Ilmu Ekonomi

Universitas Muhammadiyah Yogykarta

Oleh

MALIK IBRAHIM HAFLY 20120430014

FAKULTAS EKONOMI

(5)

iii

SKRIPSI

ANALISIS DANA PIHAK KETIGA (DPK), SERTIFIKAT BANK INDONESIA SYARIAH (SBIS) DAN NON PERFORMING FINANCING (NPF) TERHADAP PEMBIAYAAN PADA BANK SYARIAH DI INDONESIA 2007-2014; MODEL

VECTOR AUTO REGRESSION (VAR)

ANALYSIS OF THIRD PARTY FUNDS (DPK), BANK INDONESIA SHARIA CERTIFICATES (SBIS), AND NON PERFORMING FINANCING (NPF) TO

FINANCING ON ISLAMIC BANK IN INDONESIA 2007-2014; METODE VECTOR AUTO REGRESSION (VAR)

Diajukan oleh

MALIK IBRAHIM HAFLY 20120430014

Telah disetujui Dosem Pembimbing

Pembimbing

(6)

iv

SKRIPSI

ANALISIS DANA PIHAK KETIGA (DPK), SERTIFIKAT BANK INDONESIA SYARIAH (SBIS) DAN NON PERFORMING FINANCING (NPF) TERHADAP PEMBIAYAAN PADA BANK SYARIAH DI INDONESIA 2007-2014; MODEL

VECTOR AUTO REGRESSION (VAR)

Diajukan oleh

MALIK IBRAHIM HAFLY 20120430092

Skripsi ini telah Dipertahankan dan Disahkan di depan Dewan Penguji Program Studi Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Tanggal 26 Juli 2016 Yang terdiri dari

Dr.Masyhudi Muqarrobin, M.Sc., Akt. Ketua Tim Penguji

Dr.Imamuddin Yuliadi, M.Si Anggota Tim Penguji

Dr. Nano Prawoto, SE.M., M.Si Anggota Tim Penguji

Mengetahui Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah

Yogyakarta

(7)

v

PERNYATAAN

Dengan ini saya,

Nama : Malik Ibrahim Hafly

Nomor Mahasiswa : 20120430014

Menyatakan bahwa skripsi ini dengan judul: “ANALISIS DANA PIHAK KETIGA (DPK), SERTIFIKAT BANK INDONESIA SYARIAH (SBIS) DAN NON PERFORMING FINANCING (NPF) TERHADAP PEMBIAYAAN PADA BANK SYARIAH DI INDONESIA 2007-2014; MODEL VECTOR AUTO REGRESSION (VAR)” tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu Perguruan Tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam Daftar Pustaka. Apabila ternyata dalam skripsi ini diketahui terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain maka saya bersedia karya tersebut dibatalkan.

Yogyakarta, Materai, 6.000

(8)

vi MOTTO

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan ?” (QS.Ar Rohman: 13)

“Setiap balasan itu ternilai dari perbuatannya” (Al-hikmah)

“Setiap Manusia dipastikan untuk memliki target dalam hidupnya, akan tetapi Target itu harus Realistis”

(9)

vii

PERSEMBAHAN

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang….

Dengan ini saya persembahkan karya ini untuk :

 Kedua orang tua saya, Drs. Didi Juhaedi dan Suyem binti H.Rois yang selalu

mendoakan saya walaupun tanpa diminta dan mendorong saya dari segala

arah.

 Kedua adek saya, Iqbal Muhammad dan Fauziya Sabrina yang selalu saya

jadikan motivasi dan semangat untuk menjadi contoh yang baik dan

bertanggung jawab.

 Seluruh keluarga besar Bani Mansur dan keluarga H Rois yang selalu

mendukung saya sampai dapat menempuh pendidikan S1.

 Sohib- sohib Grade20 khususnya yang di Jogja Yusuf katra, Irvan saputra,

Arif Bahtiar, Farid Ma’ruf, Alma Almahi. Yang telah menjadi keluarga kecil

saya sejak awal berada di jogja.

 Teman-teman HIMIE UMY, Generasi Bakti Negri dan Ilmu Ekonomi 2012

yang selalu memberikan semangat dan dukungan atas terseleseikannya skripsi

ini.

 Sahabat dan mentor saya : Fadly Y.S, Wafi M, Endah F, Adillah A, Weni S,

Ida S, Fitra P, Wida F, terima kasih atas semua untuk kalian, kalau bukan

dengan izin Allah yang diwasilahi kalian, aku mah apa atuh Cuma anak

(10)

viii

 Gengs bimbingan Pak Imam yang selalu memberi dukungan dan bantuan.

 Terima kasih untuk seseorang yang masih menjadi rahasia illahi, yang pernah

(11)

ix INTISARI

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Dana Pihak Ketiga (DPK), Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS), dan Non Performing Financing (NPF) terhadap Pembiayaan pada Bank Syariah tahun 2007-2014. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah Model Vector Autoregression (VAR)

Berdasarkan hasil analisis yang digunakan dalam penelitian diperoleh semua variabel memiliki pengaruh terhadap Pembiayaan. Model regresi VAR menunjukkan variabel DPK berpengaruh positif terhadap Pembiayaan, sedangkan variabel SBIS dan NPF berpengaruh negatif terhadap Pembiayaan. Analisis IRF menunjukkan variabel DPK, SBIS berpengaruh positif terhadap Pembiayaan, sedangkan variabel NPF berpengaruh negatif.

(12)

x

ABSTARCT

This research aimed to analyze the Third Party Funds (DPK), Bank Indonesia Sharia Certificates (SBIS), and Non Performing Financing (NPF) towards financing the Islamic Bank in 2007-2014. The analysis used in this study is Autoregression Vector Model (VAR)

Based on the analysis used in the study obtained all variables have an influence on Financing. The regression model showed variable VAR DPK positive effect on financing, while variable SBIS and NPF negative effect on financing. IRF analysis showed variable DPK, SBIS positive effect on financing, while the variable NPF negative effect.

(13)

xi

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kemudahan, karunia dan

rahmat dalam penulisan skripsi dengan judul “Analisis Dana Pihak Ketiga (DPK),

Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS) Dan Non Performing Financing (NPF)

Terhadap Pembiayaan Pada Bank Syariah Di Indonesia 2007-2014; Model Vector

Auto Regression (VAR).

Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam memperoleh

gelar Sarjana pada Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Penulis mengambil topik ini dengan harapan dapat memberikan masukan bagi

perkembangan perbankan syariah di Indonesia agar dapat berkontribusi positif

terhadap perkonomian dan memberikan ide pengembangan bagi penelitian

selanjutnya.

Penyelesaian skripsi ini tidak lepas dari bimbingan dan dukungan berbagai

pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang

sebanyak-banyaknya kepada :

1. Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang telah

memberikan petunjuk, bimbingan dan kemudahan selama penulis menyelesaikan

studi.

2. Bapak Dr.Imamudin Yuliadi, S.E, M.Si selaku dosen pembimbing sekaligus

(14)

xii

yang dengan penuh kesabaran telah memberikan masukan dan bimbingan selama

proses penyelesaian karya tulis ini.

3. Seluruh staf dosen dan administrasi Program Studi Ilmu Ekonomi Universitas

Muhammadiyah Yogyakarta yang telah membantu memfasilitasi kelancaran

proses penelitian ini.

4. Seluruh keluarga khususnya ayahanda tercinta Drs.Didi Juhaedi M.Pd dan ibunda

tersayang Suyem Rois yang selalu mendoakan perjuanganku menempuh kuliah,

beserta kedua adikku Iqbal Muhammad dan Fauziya Sabrina yang selalu

memberikan dukungan terhadap kesuksesan dalam menyelesaikan penelitian ini.

5. Semua pihak yang telah memberikan dukungan, bantuan, kemudahan, dan

semangat dalam proses penyelesaian tugas akhir (skripsi) ini.

Sebagai kata akhir, kesempurnaan hanya milik Allah semata dan tiada gading

yang tak retak, penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam skripsi ini. Oleh

karena itu, kritik, saran, dan pengembangan penelitian selanjutnya sangat diperlukan

untuk kedalaman karya tulis dengan topik ini.

Yogyakarta,26 April 2016

(15)

xiii DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL... i

HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING... ii

HALAMAN PENGESAHAN... iii

A.Latar Belakang Penelitian... 1

B.Batasan Masalah... 10

C.Rumusan Masalah... 10

D.Tujuan Penelitian... 11

E. Manfaat Penelitian... 11

BAB II TINJAUAN PUSTAKA... 13

A.Landasan Teori... 13

1. Perbankan Syariah... 13

2. Pembiayaan Syariah... 18

3. Dana Pihak Ketiga... 23

4. Sertifikat Bank Indonesia Syariah... 26

5. Non Performing Financing... 27

B.Hasil Penelitian Terdahulu... 30

C.Kerangka Pemikiran... 35

BAB III METODE PENELITIAN... 36

A.Objek Penelitian... 36

B.Jenis Penelitian... 36

C.Jenis Data….. ... 36

(16)

xiv

E. Definisi Operasional Variabel... 37

F. Uji Kualitas Data... 39

G.Uji Hipotesis dan Analisis Data... 40

1. Vector Autoregression (VAR)... 40

BAB IV GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN... 47

A.Perkembangan Pembiayaan Berdasarkan Golongan Pembiayaan pada Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah... 47

B.Perkembangan Dana Pihak Ketiga (DPK) pada Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah di Indonesia... 48

C.Perkembangan Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS) pada Pembiayaan Berdasar Golongan Pembiyaan pada Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah di Indonesia... 49

D.Perkembangan Non Performing Financing (NPF) pada Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah di Indonesia... 50

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN... 53

A.Uji Kualitas Data... 53

1. Hasil Uji Stasioneritas... 53

B.Hasil Penelitian... 55

1. Uji Stabilitas VAR... 55

2. Uji Optimum Lag... 56

3. Uji Kointegrasi... 57

4. Estimasi Model VAR... 58

5. Uji Kausalitas... 62

6. Analisis Impulse Response Function (IRF)... 67

7. Analisis Forecast Error Variance Decomposition (FEVD)... 73

C.Pembahasan... 74

1. Perbandingan Penelitian Terdahulu... 74

2. Analisis Ekonomi ………... 75

BAB VI SIMPULAN, SARAN, DAN KETERBATASAN PENELITIAN... 78

A. Simpulan... 78

B. Saran... 78

C. Keterbatasan Penelitian... 80 DAFTAR PUSTAKA

(17)

xv

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Jaringan Kantor Perbankan Syariah di Indonesia 2011-2015... 5

Tabel 1.2 Pembiayaan-Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah Berdasar golongan pembiayaan 20011-Juni 2015... 6

Tabel 1.3 Jumlah DPK dan Tingkat NPF Perbankan Syariah (BUS/UUS) Berdasarkan golongan Pembiayaan di Indonesia... 8

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu... …... 32

Tabel 4.1 Pembiayaan-Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah Berdasar golongan pembiayaan 2009-Juni 2015... 47

Tabel 4.2 Total Aset Dana Pihak Ketiga pada Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah... 48

Tabel 4.3 Pembiayaan SBIS Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah 2009-Juni 2015…... 50

Tabel 4.5 Perkembangan Jumlah NPF pada Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah 2011-2015... 51

Tabel 5.1 Hasil Uji Stasioneritas... ……. 53

Tabel 5.2 Hasil Uji Stasioneritas (First Difference)... 54

Tabel 5.3 Hasil Uji Stabilitas VAR... ……. 55

Tabel 5.4 Hasil Uji Optimum Lag... ……. 56

Tabel 5.5 Hasil Uji Kointegrasi... ……. 57

Tabel 5.6 Hasil Uji Kausalitas... ……. 63

Tabel 5.7 Hasil Regresi Model VAR... ……. 66

(18)

xvi

DAFTAR GRAFIK

Grafik 5.1 Response of (PBY) to Chohesky one S.D (PBY)

Innovation... 68 Grafik 5.2 Response of (PBY) to Chohesky one S.D (DPK)

Innovation... 69 Grafik 5.3 Response of (PBY) to Chohesky one S.D (SBIS)

Innovation... 70 Grafik 5.4 Response of (PBY) to Chohesky one S.D (NPF)

(19)

xvii

DAFTAR GAMBAR

(20)

xviii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Data Variabel Penelitian

Lampiran 2 Data Variabel Penelitian (First Difference)

Lampiran 3 Hasil Uji Stasioneritas (Level)

Lampiran 4 Hasil Uji Stasioneritas (First Difference)

Lampiran 5 Hasil Uji Stabilitas VAR Lampiran 6 Hasil Uji Optimum Lag Lampiran 7 Hasil Uji Kointegrasi Lampiran 8 Estimasi Model VAR

(21)
(22)
(23)
(24)

INTISARI

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Dana Pihak Ketiga (DPK), Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS), dan Non Performing Financing (NPF) terhadap Pembiayaan pada Bank Syariah tahun 2007-2014. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah Model

Vector Autoregression (VAR)

Berdasarkan hasil analisis yang digunakan dalam penelitian diperoleh semua variabel memiliki pengaruh terhadap Pembiayaan. Model regresi VAR menunjukkan variabel DPK berpengaruh positif terhadap Pembiayaan, sedangkan variabel SBIS dan NPF berpengaruh negatif terhadap Pembiayaan. Analisis IRF menunjukkan variabel DPK, SBIS berpengaruh positif terhadap Pembiayaan, sedangkan variabel NPF berpengaruh negatif.

(25)

ABSTARCT

This research aimed to analyze the Third Party Funds (DPK), Bank Indonesia Sharia Certificates (SBIS), and Non Performing Financing (NPF) towards financing the Islamic Bank in 2007-2014. The analysis used in this study is Autoregression Vector Model (VAR)

Based on the analysis used in the study obtained all variables have an influence on Financing. The regression model showed variable VAR DPK positive effect on financing, while variable SBIS and NPF negative effect on financing. IRF analysis showed variable DPK, SBIS positive effect on financing, while the variable NPF negative effect.

(26)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penelitian

Sistem ekonomi islam merupakan bagian dari sistem islam yang mengatur

masalah-masalah ekonomi agar berjalan dalam aturan syariah Islam. Pengertian sistem ekonomi

terletak pada aturan keseluruhan yang menentukan kegiatan-kegiatan ekonomi bagi semua

unit ekonomi yang ada dalam suatu masyarakat atas dasar prinsip-prinsip tertentu dan untuk

mencapai tujuan tertentu pula. Pengertian ekonomi sebagai suatu sistem mencakup tiga

komponen pokok yang harus dimiliki yaitu : (1) Prinsip dasar atau sistem nilai yang

melandasi segala kegiatan ekonomi yang dilandaskan oleh setiap unit ekonomi. (2) Adanya

tujuan atau cita-cita yang hendak dicapai. (3) Adanya patokan yang menyeluruh yang

mengatur operasi unit-unit yang ada.

Islam mengajarkan umatnya untuk menjalankan syariah islam secara keseluruhan

(kaffah). Islam tidak hanya mengatur aspek ibadah mahdhah saja yang menyangkut

hubungan vertikal antara manusia dan Allah SWT sang pencipta tapi juga menyangkut semua

bentuk aktivitas yang berimplikasi sosial. (Imamudin Yuliadi,2007:26)

Pada masa Rasulullah, yang membawa risalah islam sebagai petunjuk bagi umat

manusia, telah memberikan rambu-rambu tentang bentuk-bentuk perdagangan mana yang

berlaku dan dapat dikembangkan pada masa-masa berikutnya. Serta bentuk-bentuk usaha

mana yang dilarang karena tidak sesuai dengan ajaran islam. Salah satu larangan itu adalah

larangan usaha yang mengandung riba, di mana ayat tentang larangan riba ini diperkirakan

(27)

menjelaskan secara rinci tentang riba ini. Dalam hubungan inilah peranan ijtihad para

cendekiawan muslim sangat diharapkan untuk menggali konsep di dasar tentang sistem

perbankan modern yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariah Islam.(Warkum

Sumitro.2004:7-8)

Seiring dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi, perbankan sariah saat ini masih

pada tahap perkembangan dengan tetap gencar untuk meningkatkan pangsanya, salah satunya

dari sisi pembiayaan. Selama tahun 2010 perbankan syariah, yang merupakan instrument

pengembangan ekonomi nasional telah mampu memberikan dukungan besar terhadap

pengembangan sector riil yang ada selama ini. Bank Indonesia mencatat pada bulan oktober

2010 total asset perbankan syariah sudah mencapai Rp.86 triliun. Dorongan untuk

meningkatnya pangsa inilah kemudian, bank syariah memerlukan analisa yang lebih matang

baik dalam konteks persaingan dengan bank konvensional maupun dalam konteks merespon

kondisi pasar.(Wuri Arianti dan Harjum Muharam. 2012)

Menurut Warkum Sumitro (2004) bank-bank yang ada sekarang dikatakan tidak

berhasil di dalam upaya pemerataan pendapatan, karena pranata pembayaran bunga tetap

menjamin arus sumber dari debitur secara terus menerus ke arah kreditur. Jumlah debitur

semakin lebih banyak dari pada jumlah kreditur, pinjaman yang diperoleh pada umumnya

tidak mampu menjadi nilah tambah bagi debitur untuk membayar bunga kepada kreditur,

terutama untuk jenis pinjaman yang bersifat konsumtif. Sementara itu debitur-debitur yang

memperoleh fasilitas kredit produktif, justru kelompok pemilik modal atau pemilik

perusahan.Walhasil bank dengan pranata bunga memciptakan suatu keadaan yang kaya

(28)

Akhirnya, secara realistis, gagasan berdirinya bank islam tanpa bunga adalah

didasarkan konsep hukum syirkah dan mudharabah yang secara bertahap tetap berevolusi

selama tiga puluh tahun/sebelumnya yang kemudian menimbulkan modal perbankan yang

cukup lengkap diawal decade tujuh puluhan (Muhammad Nejatullah, 1984)

Bank syariah adalah bank yang didirikan untuk memenuhi kebutuhan manusia akan

jasa perbankan, dengan cara perbankan yang dilakukan terjauh dari yang bertentangan dengan

ajaran agama islam.(Agus tri basuki, Nano prawoto. 2014:308)

Berdasarkan UU No. 21 tahun 2008 tentang perbankan syariah, perbankan syariah

diartikan segala sesuatu yang menyangkut bank syariah dan unit usaha syariah, mencakup

kelembagaan, kegiatan usaha, serta cara dan proses pelaksanaan kegiatan usahanya. Salah

satu bagian perbankan syariah di Indonesia adalah Bank Umum Syariah dan Unit Usaha

Syariah (BUS dan UUS) yang juga memberikan pelayanan kepada nasabah khususnya

dibidang pembiayaan/kredit. Pada undang-undang yang sama dijelaskan bahwa pembiayaan

adalah penyediaan dana atau tagihan yang dipersamakan dengan berupa : (a) Transaksi bagi

hasil dalam bentuk mudharabah dan musyarakah (b) Transaksi sewa menyewa dalam bentuk

piutang murabahah, salam, dan istishna’ (c) Transaksi jual beli dalam bentuk piutang qardh

dan (d) Transaksi sewa menyewa jasa dalam bentuk ijarah untuk transaksi multijasa.

Mayoritas penduduk di Indonesia adalah muslim, bahkan Indonesia disebut sebagai

Negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, dengan ini mengakibatkan perbankan

syariah mengalami peningkatan dari tahun ke tahun yang cukup pesat, baik dari sisi

pendanaan, pembiayaan maupun jumlah kantor yang ada di Indonesia.

Faktor lain yang melandasi besarnya peluang pengembangan bank syariah yaitu

(29)

bank-bank yang beroperasi dengan sistem bunga mengalami kebangkrutan massal yang berujung

pada campur tangan pemerintah untuk menyelamatkan bank-bank nasional tersebut melalui

instrument Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI).

Perkembangan bank islam baik dari sisi jumlah maupun jaringan kantor pelayanan

dari waktu ke waktu terus mengalami peningkatan yang signifikan. Perkembangan yang

menggembirakan tersebut disebabkan karena adanya dua faktor yaitu pertama, adanya bank

konvensional yang melakukan konversi ke bank syariah, kedua, dibukanya unit-unit syariah

dari bank-bank konvensional. Melihat perkembangan yang cukup menggembirakan ini

menandakan bahwa peluang pengembangan bank syariah pada masa yang akan datang masih

cukup baik.(Imamudin Yuliadi,2007)

Tabel 1.1

Jaringan KantorPerbankan Syariah Di Indonesia 2009-2015

INDIKATOR 2011 2012 2013 2014 2015*

Pada tabel 1.1 menunjukkan perkembangan jaringan kantor Bank Umum Syariah

(BUS), Unit Usaha Syariah (UUS) dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS). Pada

tahun 2011 BUS memiliki jumlah bank sebanyak 11 dan bertahan sampai pada tahun 2013,

dan jumlah kantor 1.401 pada tahun 2011 menjadi 2.151 pada tahun 2014. UUS memiliki

(30)

dengan jumlah kantor 336 pada tahun 2011 dan mengalami penurunan menjadi 320 pada

tahun 2014. Pada tahun 2011 BPRS memiliki jumlah bank sebanyak 155 dan meningkat

menjadi 163 pada tahun 2014, dengan jumlah kantor 364 pada tahun 2011 menjadi 433 pada

tahun 2014. Total kantor jaringan perbankan syariah di Indonesia pada tahun 2011 sebanyak

2.101 dan terdapat peningkatan manjadi 2.881 kantor pada tahun 2014.

Bertambahnya jumlah bank dan kantor Perbankan Syariah di Indonesia menandakan

ketertarikan masyarakat terhadap produk-produk perbankan syariah khususnya dalam produk

atau sektor pembiayaan, di dalam Perbakan Syariah salah satu pos pembiayaan adalah

pembiayaan berdasarkan golongan. Pembiayaan ini meliputi pembiayaan yang dilakukan

oleh pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dan selain UKM.

Tabel.1.2

Pembiayaan – Berdasarkan Golongan Pembiayaan 2009-Juni 2015 (Miliar Rupiah)

Indikator 2011 2012 2013 2014* 2015**

Usaha Kecil Menengah (UKM)

71.810 90.860 110.086 59.806 51.603

SelainUKM 30.845 56.645 74.034 139.524 152.291

TOTAL 102.655 147.505 184.120 199.330 203.894 *Angka desember 2014, **Angka juni 2015

Sumber : Statistik Perbankan Syariah, juni 2015

Pada tabel 1.2 terlihat bahwa pembiayaan berdasarkan golongan pada Bank Umum

Syariah dan Unit Usaha Syariah selalu ada kenaikan dan fluktuasi tiap tahunnya dari sisi

UKM. Dari sisi pembiayaan UKM sendiri terlihat mencapai angka Rp.71.810.000.000,- pada

tahun 2011 dan pada 2012 meningkat menjadi Rp.90.860.000.000,- dan terus meningkat

sampai pada tahun 2013 yaitu mencapai Rp.110.086.000.000.- menjadi Rp.59.806.000.000.-

pada tahun 2014 bahkan menyentuh angka Rp.51.603.000.000.- pada juni 2015.

Pada sisi lain pembiayaan selain UKM selalu mengalami peningkatan jumlah

(31)

mencapai angka Rp.30.845.000.000.- kemudian meningkat mencapai angka

Rp.56.645.000.000.- pada tahun 2012, dan meningkat kembali pada tahun 2014 tembus pada

angka Rp.139.524.000.000.- dan terus selalu ada peningkatan jumlah pembiayaan pada

golongan selain UKM.

Adapun dana pihak ketiga pada bank syariah terdiri dari Giro wadiah dengan akad

wadiah, dalam hal ini bank syariah menggunakan prinsip wadiah yad dhamanah dimana bank

syariah dapat menggunakan dana tersebut serta berhak atas pendapatan yang diperoleh dari

pemanfaatan harta titipan tersebut, bank juga harus menjamin pengembalian nominal

simpanan wadiah apabila pemilik dana menarik kembali dananya pada saat tertentu atau

sewaktu-waktu, baik sebagian maupun seluruhnya. Dalam bentuk tabungan dengan akad

wadiah yang juga menggunakan prinsip wadiah yad dhamanah dan akad mudharabah, dan

dalam bentuk deposito dengan akad mudharabah yang memiliki jangka waktu 1 bulan sampai

lebih dari 12 bulan.

Pembiayaan macet atau yang disebut dengan Non Performing Financing adalah salah

satu faktor yang mempengaruhi yang bermasalah dalam perbankan syariah di Indonesia

karena NPF akan berpengaruh terhadap Dana Pihak Ketiga maupun pembiayaan itu sendiri.

Hal tersebut dapat terlihat dari peningkatan NPF yang ada pada pembiayaan berdasarkan

golongan pada perbakan syariah di Indonesia pada tahun 2009-2014.

Tabel .1.3

Jumlah DPK dan NPF Perbankan Syariah (BUS/UUS) Berdasarkan Golongan Pembiayaan di Indonesia (Miliar Rupiah)

Tahun Jumlah

Pembiayaan

Jumlah DPK Jumlah NPF

2011 102.655 115.415 2.588

2012 147.505 147.512 3.269

2013 184.120 183.534 4.828

2014 199.330 217.858 9.608

(32)

*Angka Juni 2015

Sumber: Data Statistik Perbankan Syariah, Juni 2015

Table 1.4 menunukkan korelasi positif antara tingkat NPF dan jumlah DPK terhadap

Pembiyaaan pada BUS dan UUS di Indonesia atau menjelaskan peningkatan jumlah

pembiayaan terus diikuti meningkatnya jumlah DPK dan NPF. Pada tahun 2014 dengan

jumlah pembiayaan mencapai Rp 199.330.000.000,- , jumlah DPK mencapai Rp.

217.858.000.000,-, adapun NPF telah mencapai Rp 9.608.000.000,- . Perbandingan tersebut

meningkat dari tahun tahun 2011 yaitu dengan pembiayaan sebesar Rp 102.655.000,-, jumlah

DPK sebesar Rp. 115.415.000.000,- dan jumlah NPF sebesar Rp 2.588.000.000,-. Hal ini

tentunya menimbulkan kekhawatiran terus meningkatnya jumlah DPK yang dibarengi

dengan meningkatnya NPF pada pembiayan produktif seperti pembiayaan berdasar golongan

pembiayaan pada BUS dan UUS di Indonesia.

Sertifikat Bank Indonesia Syariah adalah instrumen moneter yang dikeluarkan oleh

Bank Indonesia sebagai kebijakan untuk mengatur kelebihan dana likuiditas perbankan

syariah selain instrumen Sertifikat Investasi Mudharabah Antarbank (SIMA) dan

aturan-aturan tentang pasar Keuangan Antarbank Dengan Prisip Syariah (PUAS). Instrument

Sertifikat Bank Indonesia Syariah ini juga akan mempercepat pertumbuhan bank syariah.

Pangsa pasar bank syariah ditargetkan mengembang hingga mencapai 5 persen dari total

pasar perbankan nasional.

Pertumbuhan setiap bank sangat dipengaruhi oleh perkembangan kemampuannya

dalam inovasi produk agar masyarakat lebih antusias dalam bertransaksi di perbankan

syariah, baik berskala kecil maupun besar dengan masa pengendapan yang memadai. Sebagai

(33)

bank tidak dapat berbuat apa-apa, atau dengan kata lain bank menjadi tidak berfungsi sama

sekali. Sehubungan dengan latar belakang diatas maka penulis tertarik untuk melakukan

penelitian dengan judul” Analisis Dana Pihak Ketiga (DPK), Sertifikat Bank Indonesia

Syariah (SBIS) Dan Non Performing Finance (NPF) Terhadap Pembiayaan Pada Bank

Syariah Di Indonesia; Model Vector Auto Regression (VAR)”.

B. Batasan Masalah Penelitian

Dalam penelitian ini, peneliti membatasi masalah pada beberapa aspek antara lain :

1. Lembaga keuangan syariah yang menjadi objek kajian adalah Bank Umum

Syariah dan Unit Usaha Syariah di Indonesia.

2. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Pembiayaan, Dana Pihak

Ketiga (DPK), Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS), Non Performing

Financing (NPF).

3. Pembiayaan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pembiayaan berdasar

golongan pembiayaan (UKM dan selain UKM)

4. Penelitian menggunakan dasar data bulanan (kuartal) dari tahun 2007-2014 yang

memberikan gambaran tiap variabel.

C. Rumusan Masalah Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan batasan masalah penelitian, maka dapat dirumuskan beberapa

(34)

1. Bagaimana respon dari DPK terhadap yang terjadi pada pembiayaan bank syariah

?

2. Bagaimana respon dari Sertifikat bank Indonesia Syariah (SBIS) terhadap yang

terjadi pada pemiayaan bank syariah ?

3. Bagaimana respon dari NPF terhadap yang terjadi pada pembiayaan bank syariah

?

D. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini antara lain :

1. Untuk mengetahui respon Dana Pihak Ketiga terhadap pembiayaan Bank Syariah

di Indonesia.

2. Untuk mengetahui respon SBIS terhadap pembiayaan Bank Syariah di Indonesia.

3. Untuk mengetahui respon NPF terhadap pembiayaan Bank Syariah di Indonesia.

E. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian yang akan didapat dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bagi penulis

Menerapkan ilmu yang didapat selama mengikuti kuliah. Menambah wawasan

bagi penulis mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pembiayaan Bank

Syariah di Indonesia.

2. Bagi Bank Syariah

Manfaat bagi Bank Syariah adalah sebagai sumber referensi dan informasi untuk

mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pembiayaan Bank Syariah.

(35)

Manfaat bagi masyarakat adalah untuk menambah informasi dan refrensi tentang

faktor-faktor yang mempengaruhi pembiayaan Bank Syariahdi Indonesia.

4. Bagi jurusan Ekonomi dan Perbankan Islam

Manfaat bagi jurusan ekonomi perbankan Islam yakni sebagai referensi untuk

(36)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA TEORI

A. Landasan Teori 1. Perbankan Syariah

a. Pengertian Bank Syariah

Bank syariah atau disebut bank islam adalah bank yang beroprasi sesuai dengan

prinsip-prinsip syariah. Keberadaaan lembaga keuangan dalam sistem ekonomi

sangatlah penting, karena tanpa lembaga keuangan yang baik dan professional akan

mengganggu aktivitas bisnis dan roda ekonomi. Secara umum bank syariah adalah

lembaga keuangan yang usaha pokoknya memberikan pembiayaan dan jasa-jasa lain

dalam lalu lintas pembayaran serta peredaran uang yang pengoprasiannya disesuaikan

dengan prinsip syariat Islam.(Imamudin Yuliadi,2007:127)

Definisi Perbankan Syariah yang sesuai dengan UU No 21 Tahun 2008 adalah

segala sesuatu yang menyangkut tentang Bank Syariah dan Unit Usaha Syariah (BUS

dan UUS), mencakup kelembagaan, kegiatan usaha, serta cara dan proses dalam

melaksanakan kegiatan usahanya. Perbankan Syariah dalam melakukan kegiatan

usahanya berasaskan Prinsip Syariah, demokrasi ekonomi, dan prinsip kehati-hatian.

(37)

rangka meningkatkan keadilan, kebersamaan, dan pemerataan kesejahteraan rakyat.

(UU No 21 Tahun 2008, Tentang Perbankan Syariah).

Pedoman akuntansi perbankan syariah indonesia (PAPSI), Bank Indonesia

mendefinisikan perbankan syariah sebagai berikut : “ bank syariah ialah bank yang

berasaskan antara lain pada sasa kemitraan, keadilan, transparansi dan universal serta

melakukan kegiatan usaha perbankan berdasarakan prinsip syariah. Kegiatan bank

syariah merupakan implementasi dari prinsip ekonomi islam dengan karakteristik antara

lain sebagai berikut :

a) Pelarangan riba dalam berbagai bentuknya

b) Tidak mengenal konsep waktu dan ruang

c) Konsep uang sebagai alat tukar bukan sebagai komoditas.

d) Tidak diperkenankan melakukan kegiatan bersifat spekulatif,

e) Tidak diperkenankan menggunakan dua harga untuk satu barang.

f) Tidak diperkenankan dua transakasi dalam satu akad.

g) Fungsi dan Tujuan Perbankan Syariah

Dalam menjalankan kegiatannya, bank syariah memiliki 4 fungsi (Harap dkk, 2006)

yaitu:

1. Fungsi Manajer Investasi

Bank syariah merupakan manajer investasi dari pemilik dana yang dihimpun,

(38)

yang dihimpun sangat tergantung pada keahlian, kehati-hatian, dan

profesionalisme dari bank syariah.

2. Fungsi Investor

Bank syariah dalam penyaluran dana berfungsi sebagai investor, dimana bank

syariah tersebut harus menanamkan dana pada sektor-sektor yang produktif

dengan risiko yang minimal dan sesuai dengan syariah.

3. Fungsi Sosial

Terdapat dua instrumen yang digunakan bank syariah dalam memenuhi fungsi

sosialnya yaitu instrumen zakat, infaq, shodaqoh, dan waqaf (ZISWAF) dan

instrumen qardhul hasan.

4. Fungsi Jasa Keuangan

Dalam menjalankan fungsinya sebagai jasa keuangan, bank syariah tidak jauh

berbeda dengan bank konvensional, misalanya bank syariah menyediakan jasa

atau layanan kliring, transfer, inkaso, pembayaran gaji, letter of guarantee, dan

letter of credit.

Selain itu, untuk mengoptimalkan kinerja perbankan syariah, terdpat beberapa

tujuan yang hasrus dicapai (Rivai,2010:33-34) antara lain :

1. Menawarkan jasa keuangan

Fokusnya adalah menawarkan transaksi perbankan yang melekat pada prinsip

(39)

2. Menjaga stabilitas nilai uang

Islam mengakui uang sebagai alat tukar dan bukan sebagai komoditi, dimana

harga dapat digunakan. Jadi, sistem tanpa bunga membawa stabilitas dalam nilai

uang sehingga bisa menjadi alat tukar yang dapat dipercaya dan unit transaksi.

3. Pengembangan ekonomi

Bank syariah mengembangkan ekonomi melalui fasilitas seperti musyarakah,

mudharabah, murabahah, dan lainnya, dengan prinsip pembagian keuntungan dan

kerugian yang khusus.

4. Alokasi sumber dana yang optimum

Bank syariah optimis dalam mengalokasikan sumber dana melalui investasi dari

sumber keuangan ke proyek-proyek yang diyakini sangat menguntungkan,

diizinkan oleh agama, dan memberikan keuntungan secara ekonomi.

5. Pendekatan yang optimis

Prinsip pembagian keuntungan mendorong bank untuk memilih proyek-proyek

dengan keuntungan jangka panjang dari pada keuntungan jangka pendek. Hasil

yang tinggi kemudian didistribusikan ke shareholder yang memberikan

keuntungan sosial dan membawa kemakmuran secara ekonomi.

6. Untuk penyelamatan ketergantungan umat islam terhadap bank non-syariah.

Menurut handbook of Islamic Banking, tujuan dasar dari perbankan syariah ialah

(40)

keuangan (financial instrumen) yang sesuai dengan ketentuan dan norma-norma

syariah. Bank islam berbeda dengan bank tradisional (Konvensional) dilihat dari

segi partisipasinya yang aktif dalam proses pengembangan sosio-ekonomis

negara-negara islam. Perbankan islam bukan ditujukan terutama untuk

memaksimumkan keuntungannya sebagaimana halnya sistem perbankan yang

berdasar bunga, melainkan untuk memberikan keuntungan-keuntungan

sosio-ekonomis bagi orang-orang muslim. (Sjahdeini,1999:21)

b. Pengertian Bank Umum Syariah (BUS) dan Unit Usaha Syariah (UUS).

Bank Umum Syariah adalah Bank Syariah yang dalam kegiatannya memberikan

jasa dalam lalu lintas pembayaran. (UU No.21 Tahun 2008, Pasal 1 Ayat 8).

Unit Usaha Syariah, yang selanjutnya disebut UUS, adalah unit kerja dari kantor

pusat Bank Umum Konvensional yang berfungsi sebagai kantor induk dari kantor

atau unit yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan Prinsip Syariah, atau unit

kerja di kantor cabang dari suatu Bank yang berkedudukan di luar negeri yang

melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional yang berfungsi sebagai kantor

induk dari kantor cabang pembantu syariah dan/atau unit syariah. (UU No 21 Tahun

(41)

2. Pembiayaan Syariah

a. Pengertian Pembiayaan Syariah

Menurut undang-undang No. 10/1998 pembiayaan berdasarkan prinsip syariah

adalah berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara bank dengan mengembalikan

uang atau tagihan tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan bagi hasil.

Menurut Muhammad (2002) pembiayaan secara luas berarti finansial atau

pembelanjaan, yaitu pendanaan yang dikeluarkan untuk mendukung investasi yang

telah direncanakan, baik dilakukan sendiri maupun dijalankan oleh orang lain.

Sedangkan, dalam arti sempit pembiayaan dipakai untuk mendefinisikan yang

dilakukan oleh lembaga pembiayaan.

Menurut Syafi’i Antonio (2001) pada perbankan syariah penggunaan kata

pinjam meminjam kurang tepat digunakan sebagai sumber definisi kredit dan

pembiayaan. Hal ini dikarenakan dua hal, pertama, pinjaman merupakan salah satu

metode hubungan finansial dalam islam. Kedua, pinjam meminjam adalah akad

komersial yang artinya bila seseorang meminjam sesuatu ia tidak boleh diisyaratkan

untuk memberikan tambahan atas poko pinjamannya, karena setiap pinjaman yang

menghasilkan manfaat adalah riba, sedangkan ulama sepakat bahwa riba itu haram.

Oleh karena itu, dalam perbankan syariah, pinjaman tidak disebut kredit akan tetapi

disebut pembiayaan.

(42)

Dalam perbankan syariah terdapat beberapa produk pembiayaan antara lain :

1. Pembiayaan Mudharabah

Pembiayaan ini merupakan bentuk pembiayaan bagi hasil ketika bank

sebagai pemilik dana/modal, biasa disebut shahibul maal menyediakan

modal 100 persen kepada pengusaha sebagai pengelola (mudharib) untuk

melakukan aktifitas produktif atau kegiatan usaha dengan syarat bahwa

keuntungan yang dihasilkan akan dibagi antara mereka menurut kesepakatan

yang ditentukan sebelumnya dalam akad. (Rivai, Arifin,2010:192).

Mudharabah atau penanaman modal disini artinya adalah menyerahkan

modal uang kepada orang yang berniaga sehingga dia menadapatkan

persentase keuntungan. Bentuk usaha ini melibatkan dua pihak, yaitu pihak

yang memiliki modal namun tidak berbisnis, dan pihak yang pandai

berbisnis namun tidak memiliki modal. Melalui usaha ini keduanya saling

melengkapi. (Almuslih,2001:168)

2. Pembiayaan Musyarakah

Transaksi musyarakah dilandasi adanya keinginan para pihak yang bekerja

sama untuk meningkatkan nilai aset yang mereka miliki secara

bersama-sama. Semua bentuk usaha yang melibatkan dua pihak atau lebih dimana

mereka secara bersama-sama memadukan seluruh bentuk sumber daya baik

(43)

Pembiayaan ini merupakan bentuk pembiyaan bagi hasil ketika bank sebagai

pemilik modal/dana turut serta sebagai mitra usaha, membiayai investasi

usaha pihak lain. Perjanjian antara pengusaha dengan bank, dimana modal

kedua pihak digabungkan untuk sebuah usaha yang dikelola secara

bersama-sama. Keuntungan dan kerugian ditanggung bersama sesuai kesepakatan

awal. Musyarakah merupakan pembiayaan yang berjalan terus sepanjang

usaha yang dibiayai bersama terus beroperasi (Rivai,Arifin, 2010:193)

3. Pembiayaan Murabahah

Murabahah adalah transaksi jual beli dimana bank menyebut jumlah

keuntungannya. Bank bertindak sebagai penjual, sementara nasabah sebagai

pembeli. Harga jual adalah harga beli bank dari pemasok ditambah

keuntungan (margin). (Karim,2004:88)

Kedua belah pihak harus menyepakati harga jual dan jangka waktu

pembayaran. Harga jual dicantumkan dalam akad jual beli dan jika telah

disepakati tidak dapat berubah selama berlangsungnya akad.

4. As-salam

Salam adalah transaksi jual beli dimana barang yang diperjual belikan belum

ada. Oleh akrena itu barang diserahkan secara tangguh sedangkan

pembayaran dilakukan secara tunai. Bank bertindak sebagai pembeli,

(44)

namun dalam transaksi ini kuantitas, kualitas, harga, dan waktu penyerahan

barang harus ditentukan secara pasti.

Dalam praktik perbankan, ketika barang telah diserahkan kepada bank, maka

bank akan menjualnya kepada rekanan nasabah atau kepada nasabah itu

sendiri secara tunai atau secara cicilan. Harga jual yang ditetapkan oleh bank

adalah harga beli bank dari nasabah ditambah keuntungan. Dalam hal bank

menjualnya secara tunai biasanya disebut pembiayaan talangan. Sedangkan

dalam hal bank menjualnya secara cicilan, kedua pihak harus menyepakati

harga jual dan jangka waktu pembayaran. (Karim,2004:89)

5. Isthisna

Produk istishna menyerupai produk salam, tapi dalam istishna

pembayarannya dapat dilakukan oleh bank dalam beberapa kali (termin)

pembayaran. Sistem istishna dalam bank syariah umumnya diaplikasikan

pada pembiayaan manufaktur dan konstruksi. (Karim,2004:90)

Ketentuan umum pembiayaan istishna adalah spesifikasi barang pesanan

harus jelas seperti jenis, macam ukuran, mutu, dan jumlahnya. Harga jual

yang telah disepakati dicantumkan dalam akad istishna dan tidak boleh

berubah selama berlakunya akad. Jika terjadi perubahan dari kriteria pesanan

dan terjadi perubahan harga setelah akad ditandatangani, seluruh biaya

(45)

6. Ijarah

Transaksi ijarah dilandasi adanya perpindahan manfaat. Jadi pada dasarnya

prinsip ijarah sama saja dengan prinsip jual beli, tetapi perbedaannya

terletak pada objek transaksinya. Bila pada jual beli objek transaksinya

adalah barang, pada ijarah objek transaskinya adalah jasa. (Karim,2004:91)

b) Pembiayaan Berdasar Golongan Pembiayaan

Berdasarkan pengertian Statistik Perbankan Syariah, pembiayaan berdasar

golongan oleh perbankan syariah (BUS/UUS) ditinjau dari dua aspek yaitu 1) Jumlah

Usaha Kecil dan Menengah (UKM), 2) Jumlah selain UKM/Non-UMKM. Sehingga

dapat ditinjau dari pembiyaan yang dilakukan oleh dua golongan tersebut pada

perbankan syariah. Berdasarkan UU No.20 Tahun 2008, pengetian UMKM dibagi

antara lain:

1) Usaha Mikro

Usaha Mikro adalah usaha yang memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp

50.000.000,- (lima puluh juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan

tempat usaha atau memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp

300.000.000,- (tiga ratus juta rupiah).

2) Usaha Kecil

Usaha Kecil adalah entitas yang memiliki kriteria sebagai berikut : (1)

(46)

dengan paling banyak Rp 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah) tidak

termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; dan (2) memiliki hasil penjualan

tahunan lebih dari Rp 300.000.000,- (tiga ratus juta rupiah) sampai dengan

paling banyak Rp 2.500.000.000,- (dua miliar lima ratus juta rupiah).

3) Usaha Menengah

Usaha Menengah adalah entitas usaha yang memiliki kriteria sebagai berikut:

(1) kekayaan bersih lebih dari Rp 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah)

sampai dengan paling banyak Rp 10.000.000.000,- (sepuluh miliar rupiah)

tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; dan (2) memiliki hasil

penjualan tahunan lebih dari Rp 2.500.000.000,- (dua miliar lima ratus juta

rupiah) sampai dengan paling banyak Rp 50.000.000.000,- (lima puluh miliar

rupiah).

3. Dana Pihak Ketiga (DPK)

. Menurut Muhammad dalam Rohmiati (2012), dana yang digunakan sebagai

alat operasional bank bersumber dari dana-dana sebagai berikut :

a. Dana Pihak Pertama, yaitu dana modal sendiri yang berasal dari para pemegang

saham. Terdiri dari modal disetor, agio saham, cadangan-cadangan dan laba

(47)

b. Dana Pihak Kedua, yaitu dana pinjaman dari pihak lain. Terdiri dari dana

pinjaman harian antar bank, pinjaman dari lembaga non bank, dan pinjaman dari

bank Indonesia.

c. Dana Pihak Ketiga, yaitu dana berupa simpanan dari masyarakat.

Dana pihak ketiga (DPK) merupakan dana yang dipercayakan masyarakat (di

luar bank) kepada bank berdasarkan perjanjian penyimpanan dana (Rinaldy,2008).

Peraturan BanK Indonesia No.10/19/PBI/2008 menjelaskan DPK sebagai kewajiban

bank kepada penduduk dalam rupiah dan valuta asing. Umumnya dana yang

dihimpun oleh perbankan dari masyarakat akan digunakan untuk pendanaan aktivitas

sektor riil melalui penyaluran kredit.

Sumber DPK berasal dari pos-pos antara lain giro, deposito, dan tabungan

atau yang dalam perbankan syariah disebut giro wadiah, deposito mudharabah, dan

tabungan mudharabah.

Dana Pihak Ketiga = Giro + Deposito + Tabungan

a. Giro

Simpanan yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan menerbitkan

cek untuk penarikan tunai atau biliyet giro untuk pemindah bukuan, sedangkan cek

atau bilyet giro ini oleh pemiliknya dapat digunakan sebagai alat pembayaran. Dalam

perbankan syariah, terdapat dua giro syariah (Karim,2004), yaitu giro wadiah dan giro

(48)

yakni titipan murni yang setiap saat dapat diambil jika pemiliknya menghendaki. Giro

mudharabah adalah giro yang dijalankan berdasarkan akad mudharabah. Dalam hal

ini, bank syariah bertindak sebagai mudharib (pengelola dana), sedangkan nasabah

bertindak sebagai shahibul mal (pemilik dana).

b. Deposito

Simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu pada

saat penyerahannya atas beban rekening penarikan cek. Deposito syariah contohnya

adalah mudharabah mutlaqah dan mudharabah muqayyadah. Mudharabah mutlaqah

adalah pemilik dana tidak memberikan batasan atau persyaratan tertentu kepada bank

syariah dalam mengelola investasinya, baik berkaitan dengan tempat, cara maupun

objek investasinya (Karim,2004). Sedangkan mudharabah muqayyadah adalah

pemilik dana memberikan batasan atau persyaratan tertentu kepada bank syariah

dalam mengelola investasinya, baik berkaitan dengan temapat, cara maupun objek

investasinya.

Pada dasarnya bank dengan sistem bebas bunga, deposito diganti dengan

simpanan yang memperoleh bagian dari laba/rugi bank. Oleh karena itu, bank syariah

menyebutnya rekening investasi atau simpanan investasi.

c. Tabungan

Menurut Dewan Syariah Nasional (DSN) telah mengeluarkan fatwa yang

(49)

prinsip wadiah dan mudharabah. Tabungan wadiah diartikan tabungan yang

menggunakan akad wadiah, yakni titipan murni yang harus dijaga dan dikembalikan

setiap saat sesuai dengan kehendak pemiliknya (Karim,2004). Sedangkan tabungan

mudharabah adalah tabungan yang dijalankan berdasarakan akad mudharabah.

DPK dapat mempengaruhi budget bank. Jika dana dari pihak ketiga bertambah,

maka budget bank akan bertambah pula. Budget pada suatu bank berhubungan

dengan jumlah dana yang dimiliki bank tersebut. Dana yang akan dialokasikan bank

dalam berbagai bentuk termasuk untuk pembiayaan (Anggraini,2005).

Secara operasional perbankan, DPK merupakan sumber likuiditas untuk

memperlancar pembiayaan yang terdapat pada sisi aktiva neraca bank. Sehingga

semakin banyak DPK yang berhasil dihimpun oleh bank, maka akan semakin banyak

pula pembiyaan yang dapat di salurkan oleh bank tersebut.Dalam penelitian Moch.

Soedarto (2004:63), simpanan masyarakat yang terdiri dari tabungan dan deposito

berpengaruh positif dan signifikan terhadap besar kecilnya penyaluran kredit.

penelitian lain menunjukkan ketika DPK naik akan berpengaruh terhadap naiknya

penyaluran kredit (Hasnuddin dan Prihatiningsih, 2010:31).

4. Sertifikat Bank Indonesia Syariah.

Berdasarkan peraturtan Bank Indonesia No.10/11/PBI/2008 tentang Sertifikat

Bank Indonesia Syariah (SBIS), mendefinisikannya sebagai surat berharga

(50)

diterbitkan oleh Bank Indonesia. Tujuan SBIS adalah sebagai salah satu instrumen

pasar terbuka dalam rangka pengendalian moneter yang dilakukan berdasarkan

prinsip syariah.

Adapun karateristik SBIS antara lain 1) satuan unit sebesar Rp 100.000,00 (Satu

juta rupiah), 2) berjangka waktu paling kurang 1 (satu) bulan paling lama 12 (dua

belas) bulan, 3) diterbitkan tanpa warkat, 4) dapat digunakan kepada Bank Indonesia,

4) tidak dapat diperdagangkan di pasar sekunder.

5. Non Performing Financing (NPF)

Non Performing Financing (NPF) adalah pembiayaan yang tidak dapat atau

berpotensi untuk tidak mampu mengembalikan pembiayaan berdasarkan syarat-syarat

yang telah disetujui dan ditetapkan bersama secara tiba-tiba tanpa menunjukkan

tanda-tanda terlebih dahulu. Definisi lain menjelaskan bahwa NPF adalah pembiyaan

yang masuk dalam kategori pembiyaan kurang lancar, diragukan, dan macet

berdasarkan kriteria yang sudah ditetapkan oleh Bank Indonesia terhadap total

pembiayaan yang disalurkan. (Djohanputro dan kountor:2007:3).

Non performan Financing pada perbankan syariah atau Non Performing Loan

pada perbankan konvensional adalah jumlah kredit/pembiayaan yang tergolong tidak

lancar/macet yaitu dengan kualitas kurang lancar, diragukan, dan macet berdasarkan

ketentuan Bank Indonesia tentang kualitas aktiva produktif. Profil resiko pembiyaan

(51)

cadangan (Cash Provision). Semakin tinggi NPF, semakin tinggi resiko yang dihadapi

bank, karena akan mempengaruhi permodalan bank tersebut karena dengan NPF yang

tinggi akan membuat bank mempunyai kewajiban untuk memenuhi Penyisihan

Penghapusan Aktiva Produktif (PPAP) yang terbentuk. Sehingga dengan demikian,

bank menginginkan NPF yang rendah, nilai NPF yang rendah akan meningkatkan

nilai profitabilitas bank syariah (Nur Kurnaliyah,2011:32).

Berdasarkan Surat Edaran Bank Indonesia No.9/24/DPbS Tahun 2007, kriteria

penilaian Non Performing Financing (NPF) adalah sebagai berikut :

a. Peringkat 1, NPF < 2%

Kualitas asset sangat baik dengan risiko portofolio yang sangat minimal.

b. Peringakt 2, 2% ≤ NPF < 5%

Kualitas asset baik namun terdapat kelemahan yang tidak signifikan.

c. Peringkat 3, 5% ≤ NPF < 8%

Kualitas asset cukup baik namun diperkirakan akan terjadi penurunan apabila tidak

dilakukan perbaikan.

d. Peringkat 4, 8% ≤ NPF < 12%

Kualitas asset kurang baik dan diperkirakan akan mengancam kelangsungan hidup

bank apabila tidak dilakukan perbaikan secara mendasar.

(52)

Kualitas asset tidak baik dan diperkirakan mempengaruhi kelangsungan hidup

bank dan sulit untuk diselamatkan.

NPF juga memberikan gambaran seberapa jauh manager menjalankan pola

pengelolaan kredit yang prudent. Kredit macet dapat menjadi indikator kelesuan

sektor riil sebagai respon kondisi perekonomian secara umum. (Bank Indonesia,2002)

Menghitung tingakat NPF dapat dianalisis melalu dua metode yaitu Non

Performing Financing (Penyedia Dana Bermasalah) Gross dan Non Performing

Financing (Penyedia Dana Bermasalah) Net.

1) Non Performing Financing Gross (NPF Gross)

NPF Gross adalah perbandingan antara jumlah pembiayaan yang diberikan

dengan tingkat kolektabilitas 3 sampai dengan 5 dibandingkan dengan total

pembiayaan yang diberikan oleh bank. Terdapat 5 kategori tingkat kolektabilitas

pembiayaan yaitu : 40ancer (40ancer40), dalam perhatian khusus (special mention),

kurang 40ancer (sub-standar), diragukan (doubtful), dan macet (loss) (Septiana

Ambarwati,2008:65). Rumusnya sebagai berikut :

NPF Gross =

Keterangan :

a. Penyediaan/penyaluran dana berupa piutang dan ijarah.

b. Pembiayaan merupakan pembiayaan yang diberikan kepada pihak ketiga (tidak

(53)

c. Penyediaan dana bermasalah adalah penyediaan dana dengan kualitas kurang

41ancer, diragukan, dan macet.

d. Penyediaan dana bermasalah dihitung secara gross tidak dikurangi PPAP.

e. Angka dihitung perposisi (tidak disetahunkan).

2) Non Performing Financing Net (NPF Net)

Rumus untuk NPF Net adalah sebagai berikut :

NPF Gross =

PPAP adalah Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif sesuai ketentuan tentang

PPAP yang berlaku bagi bank syariah.

B. HASIL PENELITIAN TERDAHULU

Beberapa penelitian yang telah dilakukan yang membahas tentang faktor-faktor

yang mempengaruhi Dana Pihak Ketiga Bank Syariah di Indonesia adalah sebagai

berikut:

Menurut Endang Nurjaya (2011), dalam penelitiannya “Analisis Pengaruh

Inflasi, Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS), Non Performing Financing (NPF)

Dan Dana Pihak Ketiga (DPK) Terhadap Pembiayaan Murabahah Pada Bank Syariah

Di Indonesia (Periode Januari:2007-Maret :2011)”.Simpulan dari penelitian ini adalah

Hasil dari penelitian adalah inflasi mempunyai pengaruh positif terhadap pembiayaan

murabahah, SBIS mempunyai pengaruh negative terhadap pembiayaan murabahah,

(54)

Lifstin Wardiantika dan Rohmawati Kusumaningtias dalam penelitian pada

tahun 2014 “Pengaruh DPK, CAR, Dan SWBI Terhadap Pembiayaan Murabahah

Pada Bank Umum Syariah Tahun 2008-2012” Hasil analisis menunjukkan variabel

yang simoultantly DPK, CAR, NPF, dan SWBI mendapatkan pengaruh pembiayaan

murabahah. Sebagian DPK berpengaruh positif terhadap pembiayaan murabahah.

NPF mendapatkan pengaruh negatif terhadap pembiayaan murabahah. Sementara

CAR dan SWBI belum berpengaruh terhadap pembiayaan murabahah.

Menurut Indah Khoirun Nisa pada tahun 2014 dalam penelitiannya yang

berjudul “Faktor-Fakor Yang Mempengaruhi Pembiayaan Pada Bank Syariah Dan

Unit Usaha Syariah Di Indonesia” Dari hasil pengujian secara simultan dengan

analisis regresi linier berganda menunjukkan bahwa variabel NPF berpengaruh positif

dan tidak signifikan terhadap pembiayaan, variabel CAR berpengaruh positif dan

tidak signifikan terhadap pembiayaan, variabel ROA berpengaruh positif dan

signifikan terhadap pembiayaan variabel DPK berpengaruh positif dan signifikan

terhadap pembiayaan, dan variabel inflasi berpengaruh positif dan tidak signifikan

terhadap pembiayaan pertanian, kehutanan dan sarana pertanian.

Selanjutnya dalam penelitian Liliani Khairunnisa,SE., MM “Pengaruh Dana

Pihak Ketiga (DPK), Non Performing Financing (NPF), Return On Asset (ROA), Dan

Capital Adequacy Ratio (CAR) Terhadap Pembiayaan Bagi Hasil Pada Bank Umum

(55)

NPF, ROA, dan CAR secara simultan memiliki pengaruh terhadap pembiayaan

bagihasil.secara parsial DPK memiliki pengaruh positif signifikan terhadap

pembiayaan bagi hasil, sedangkan NPF, ROA, danCAR tidak berpengaruh signifikan

terhadap pembiayaan bagi hasil.

Dan yang terakhir Wuri Arianti dan Harjum Muharam pada tahun 2011

“Analisis Pengaruh Dana Pihak Ketiga (DPK), Capital Adequacy Ratio (CAR), Non

Performing Financing (NPF) Dan Return On Asset (ROA) Terhadap Pembiayaan

Pada Perbankan Syariah (Studi Kasus Pada Bank Muamalat Indonesia Periode

2001-2011)” Dari hasil menunjukkan analisis yang hanya DPK memiliki pengaruh

signifikan positif pembiayaan, sementara CAR, NPF, dan ROA tidak berpengaruh

terhadap pembiayaan. Stimulatingly yang DPK, CAR, NPF, dan ROA memiliki

signifikansi pengaruh pembiayaan.

No Judul Penelitian Metode Hasil Penelitian

1. “Analisis Pengaruh Inflasi, Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS), Non

Hasil dari penelitian adalah inflasi mempunyai pengaruh positif terhadap pembiayaan murabahah, SBIS mempunyai pengaruh negative terhadap pembiayaan murabahah, adapun NPF dan DPK mempunya pengaruh positif terhadap pembiayaan murabahah.

(56)

Pada Bank Umum Syariah Tahun 2008-2012” oleh Lifstin Wardiantika. Rohmawati

Kusumaningtias, 2014

pembiayaan murabahah. Sebagian DPK berpengaruh positif terhadap pembiayaan murabahah. NPF mendapatkan pengaruh negatif terhadap pembiayaan murabahah. Sementara CAR dan SWBI belum berpengaruh terhadap pembiayaan murabahah.

3. “Faktor-Fakor Yang Mempengaruhi Pembiayaan Pada Bank Syariah Dan Unit Usaha Syariah Di

Indonesia” oleh Indah Khoirun Nisa, 2014

Regresi Linier Berganda

Dari hasil pengujian secara simultan dengan analisis regresi linier berganda menunjukkan bahwa variabel NPF berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap pembiayaan, variabel CAR berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap pembiayaan, variabel ROA berpengaruh positif dan signifikan terhadap pembiayaan variabel DPK berpengaruh positif dan signifikan terhadap pembiayaan, dan variabel inflasi berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap pembiayaan pertanian, kehutanan dan sarana pertanian. Capital Adequacy Ratio

(CAR) Terhadap

Hasil penelitian menunjukan bahwa DPK, NPF, ROA, dan CAR secara simultan memiliki pengaruh terhadap pembiayaan bagi

hasil.secara parsial DPK memiliki pengaruh positif signifikan terhadap pembiayaan bagi hasil, sedangkan NPF, ROA, danCAR tidak

berpengaruh signifikan terhadap pembiayaan bagi hasil.

5. Analisis Pengaruh Dana Pihak Ketiga (DPK), Capital

Regresi Berganda

(57)

Adequacy Ratio (CAR), Non Performing Financing (NPF) Dan Return On Asset

(ROA) Terhadap

Pembiayaan Pada Perbankan Syariah (Studi Kasus Pada Bank Muamalat Indonesia Periode 2001-2011)” oleh Wuri Arianti, Harjum Muharam, 2011

(58)

C. KERANGKA PEMIKIRAN

Gambar 2.1

Sumber : Agus Tri Basuki (2015), Ribut Wahyudi (2009) Pembiayaan (Y), DPK

(X1), SBIS (X2), dan NPF (X3)

Pengumpulan Data Time Series

Uji Stasioneritas Data

VAR Bentuk Level Stasioner

Stasioner Di Deferensi

Data

Tidak Stasioner

Tidak

Impulse Response dan Variance Decomposition

Terjadi Kointegrasi VAR Bentuk

Diferensi

Pembahasan

Dan Kesimpulan

(59)
(60)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Objek Penelitian

Penilitian ini adalah pengaruh Dana Pihak Ketiga (DPK) , Sertifikat Bank Indonesia

Syariah (SBIS), dan Non Performing Financing (NPF) terhadap Pembiayaan pada Bank

Syariah di Indonesia.

B. Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan analisis kuantitatif dengan jenis data sekunder dalam

bentuk data triwulan/quartal selama delapan tahun, yaitu data Dana Pihak Ketiga (DPK),

Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS), Non Performing Financing (NPF), dan

pembiayaan berdasarkan golongan di Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah yang

terjadi di Indonesia dalam kurun waktu Maret 2007 sampai dengan Desember 2014.

C. Jenis Data

Data dalam penelitian ini diperoleh dari Statistik Perbankan Indonesia (SPI) Bank

Indonesia (www.bi.go.id), Statistik Perbankan Syariah Bank Indoensia dan Otoritas Jasa

Keuangan (OJK), serta arsip/publikasi Badan Pusat Statistik (BPS).

D. Teknik Pengumpulan Data

Data-data yang diperlukan tersebut dikumpulkan dengan melakukan non paticipant

(61)

dengan kesesuaian kebutuhan data, mencatat dan atau menyalin data dari berbagai data

publikasi laporan keuangan dan berbagai studi pustaka ilmiah yang terkait.

E. Definisi Operasional Variabel a. Definisi Variabel Penelitian

Variabel didenifisikan sebagai segala sesuatu yang akan menjadi objek pengamatan

penelitian. Pengertian yang dapat diambil dari definisi tersebut ialah bahwa dalam penelitian

terdapat sesuatu yang menjadi sasaran, yaitu variabel. Sehingga variabel merupakan

fenomena yang menjadi pusat perhatian dan untuk diobservasi atau diukur.

Adapun pembatas pengertian dari variabel yang akan diteliti yaitu :

1. Pembiayaan

Pembiayaan adalah pembiayaan berdasarkan golongan pembiayaan sebagai jumlah

total keseluruhan pembiayaan yang diberikan kepada golongan Usaha Kecil

Menengah (UKM) dan selain UKM melalui Bank Syariah.

2. Dana PihakKetiga

DPK adalah kewajiban bank kepada penduduk dalam bentuk rupiah yang umumnya

dana tersebut dari masyarakat yang dihimpun oleh perbankan akan digunakan untuk

pendanaan aktivitas sector riil melalui penyaluran pembiayaan pada Bank Syariah.

3. Sertifikat Bank Indonesia Syariah

Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS), mendefinisikannya sebagai surat berharga

(62)

diterbitkan oleh Bank Indonesia termasuk juga Sertifikat Wadiah Bank Indonesia

(SWBI).

4. Non Performing Financing

Jumlah pembiayaan yang tergolong tidak lancar/macet yaitu dengan kualitas kurang

lancar, diragukan, dan macet berdasarkan ketentuan Bank Indonesia tentang kualitas

aktiva produktif.

Berdasrkan variabel di atas maka dapat dibuat model VAR standar menurut Enders

yaitu :

Yt =β_11y-(t-1) + β_12Z_(t-1) + ε_y………...(1)

Zt = β21yt-1 + β22yt-1+ εZ………..(2)

Dimana (Y,Z) masing-masing adalah variabel tansmit dan while norse yang dapat

berkolerasi satu sama lain. Jika variabel-variabel tersebut dimasukkan dalam model,

maka model penelitiannya sebagai berikut :

Zt = ∑ ∑ ∑ ∑

∑ ……….(3)

Dimana :

Var PBY : pembiayaan berdasar golongan pembiayaan

DPK : Dana Pihak Ketiga

SBIS : Sertifikat Bank Indonesia Syariah

NPF : Non Performing Financing

Gambar

Tabel 1.1 Jaringan KantorPerbankan Syariah Di Indonesia 2009-2015
Tabel.1.2
Tabel .1.3
 Gambar 2.1 Pembiayaan (Y), DPK
+7

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Dana Pihak Ketiga (DPK), Capital adequacy Ratio (CAR) dan Non Performing Financing (NPF) terhadap Likuiditas

Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan dalam latar belakang masalah tersebut, maka penelitian ini diberi judul “ Pengaruh Dana Pihak Ketiga (DPK), Non Performing Financing

Terdapat pengaruh yang signifikan secara simultan antara Dana Pihak Ketiga (DPK) dan Non Performing Financing (NPF) terhadap pembiayaan mudharabah pada Bank Umum

Peneliti tertarik untuk melakuakan sebuah penelitian dengan judul “ Pengaruh Dana Pihak Ketiga (DPK), Pendapatan Margin, Non Performing Financing (NPF), dan

Analisis Pengaruh Jumlah Dana Pihak Ketiga (DPK), Non Performing Financing (NPF) Dan Tingkat Inflasi Terhadap Total Pembiayaan Yang Diberikan Oleh Bank Pembiayaan Rakyat Syariah

Dengan tidak berp[engaruhnya dana Pihak Ketiga DPK, Non Performing Financing NPF, Dan Sertifikat Bank Indonesia Syari’ah SBIS, Secara simultan tidak berpengaruh terhadap[ pembiayaan

Jurnal Manajemen dan Perbankan Syariah 1 PENGARUH JUMLAH DANA PIHAK KETIGA DPK NON PERFOMING FINANCING NPF DAN SERTIFIKAT BANK INDONESIA SYARI’AH SBIS TERHADAP PENYALURAN

4.7 Pembahasan Berdasarkan dari hasil dari penelitian diatas terkait pengaruh variabel Non Performing Finance NPF, Dana Pihak Ketiga DPK, dan Financing to Deposit Ratio FDR terhadap