• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tatalaksana kesehatan peternakan sapi perah rakyat di Kecamatan Cisarua Kabupaten Bogor (Studi kasus KTTSP Baru Sireum)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Tatalaksana kesehatan peternakan sapi perah rakyat di Kecamatan Cisarua Kabupaten Bogor (Studi kasus KTTSP Baru Sireum)"

Copied!
66
0
0

Teks penuh

(1)

ABSTRAK

FARAH NURUL MAULIDA. Tatalaksana Kesehatan Peternakan Sapi Perah Rakyat di Kecamatan Cisarua Kabupaten Bogor (Studi Kasus KTTSP Baru Sireum). Dibimbing oleh ABDUL ZAHID ILYAS dan CHAERUL BASRI.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran manajemen paternakan sapi perah rakyat di Cisarua, Bogor. Penelitian ini dilakukan sejak bulan Januari sampai Juli 2012. Responden terdiri dari 13 peternak rakyat dari KTTSP Baru Sireum. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara menggunakan kuesioner dan checklist tentang karakteristik peternak, manajemen pemeliharaan ternak, manajemen kesehatan dan reproduksi, dan manajemen sanitasi. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan tidak adanya hubungan yang nyata antara karakteristik peternak dengan tatalaksana peternakan. Sebagian besar peternak di daerah tersebut termasuk ke dalam kategori baik dalam mengelola peternakan sapi perah rakyat, kecuali dalam pengelolaan manajemen kesehatan dan reproduksi dan manajemen penanganan limbah.

Kata kunci: peternakan sapi perah rakyat, manajemen, sapi perah, kesehatan

ABSTRACT

FARAH NURUL MAULIDA. Health Management of Smallholder Dairy Farming in Cisarua, Bogor. (Case Study in KTTSP Baru Sireum). Supervised by ABDUL ZAHID ILYAS and CHAERUL BASRI.

The aim of this study was to describe the smallholder dairy farming’s management at Cisarua, Bogor. This study was conducted during January until July 2012. Respondent were consisting of 13 smallholder dairy farmer from KTTSP Baru Sireum. The data were collected by interview used questionnaires and checklist about farmers characteristic, management practices of farmers, health and reproduction management, and sanitation. Data were analyzed by using rank Spearman correlation test. The research showed that characteristics of farmers has not significantly correlation with farm management. Majority of farmers in those area were included in good category in managing their smallholder dairy farm, except in health and reproduction management and waste management.

(2)

TATALAKSANA KESEHATAN PETERNAKAN SAPI PERAH

RAKYAT DI KECAMATAN CISARUA KABUPATEN BOGOR

(Studi Kasus KTTSP Baru Sireum)

FARAH NURUL MAULIDA

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(3)
(4)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN

SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Tatalaksana Kesehatan Peternakan Sapi Perah Rakyat di Kecamatan Cisarua Kabupaten Bogor (Studi Kasus KTTSP Baru Sireum) adalah benar karya Saya dengan arahan dari Dosen Pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari Penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis Saya kepada Institut Pertanian Bogor.

Bogor, Januari 2013

Farah Nurul Maulida

(5)

ABSTRAK

FARAH NURUL MAULIDA. Tatalaksana Kesehatan Peternakan Sapi Perah Rakyat di Kecamatan Cisarua Kabupaten Bogor (Studi Kasus KTTSP Baru Sireum). Dibimbing oleh ABDUL ZAHID ILYAS dan CHAERUL BASRI.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran manajemen paternakan sapi perah rakyat di Cisarua, Bogor. Penelitian ini dilakukan sejak bulan Januari sampai Juli 2012. Responden terdiri dari 13 peternak rakyat dari KTTSP Baru Sireum. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara menggunakan kuesioner dan checklist tentang karakteristik peternak, manajemen pemeliharaan ternak, manajemen kesehatan dan reproduksi, dan manajemen sanitasi. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan tidak adanya hubungan yang nyata antara karakteristik peternak dengan tatalaksana peternakan. Sebagian besar peternak di daerah tersebut termasuk ke dalam kategori baik dalam mengelola peternakan sapi perah rakyat, kecuali dalam pengelolaan manajemen kesehatan dan reproduksi dan manajemen penanganan limbah.

Kata kunci: peternakan sapi perah rakyat, manajemen, sapi perah, kesehatan

ABSTRACT

FARAH NURUL MAULIDA. Health Management of Smallholder Dairy Farming in Cisarua, Bogor. (Case Study in KTTSP Baru Sireum). Supervised by ABDUL ZAHID ILYAS and CHAERUL BASRI.

The aim of this study was to describe the smallholder dairy farming’s management at Cisarua, Bogor. This study was conducted during January until July 2012. Respondent were consisting of 13 smallholder dairy farmer from KTTSP Baru Sireum. The data were collected by interview used questionnaires and checklist about farmers characteristic, management practices of farmers, health and reproduction management, and sanitation. Data were analyzed by using rank Spearman correlation test. The research showed that characteristics of farmers has not significantly correlation with farm management. Majority of farmers in those area were included in good category in managing their smallholder dairy farm, except in health and reproduction management and waste management.

(6)

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Hewan pada

Fakultas Kedokteran Hewan

TATALAKSANA KESEHATAN PETERNAKAN SAPI

PERAH RAKYAT DI KECAMATAN CISARUA KABUPATEN

BOGOR (Studi Kasus KTTSP Baru Sireum)

FARAH NURUL MAULIDA

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(7)
(8)

Judul Skripsi : Tatalaksana Kesehatan Peternakan Sapi Perah Rakyat di

Kecamatan Cisarua Kabupaten Bogor (Studi Kasus KTTSP Baru Sireum)

Nama : Farah Nurul Maulida NIM : B04080077

Disetujui oleh

Drh. Abdul Zahid Ilyas, MSi Pembimbing I

Drh. Chaerul Basri, M. Epid Pembimbing II

Diketahui oleh

Drh. Agus Setiyono, MS. PhD. APVet Wakil Dekan

(9)

PRAKATA

Puji dan syukur Penulis panjatkan kepada Allah Subhanahu Wa ta’ala atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Januari 2012 ini ialah peternakan sapi perah, dengan judul Tatalaksana Kesehatan Peternakan Sapi Perah Rakyat di Kecamatan Cisarua Kabupaten Bogor (Studi Kasus KTTSP Baru Sireum).

Terima kasih Penulis ucapkan kepada Bapak drh. Abdul Zahid Ilyas, M.Si dan Bapak drh. Chaerul Basri, M.Epid selaku Pembimbing, serta Ibu Dr. Ir. Etih Sudarnika, M.Si yang telah banyak memberi saran. Di samping itu, penghargaan Penulis sampaikan kepada Bapak H. Erif Kemal Syarif dan drh. M. Dwi Satrio dari KTTSP Baru Sireum, Arpha yang telah membantu selama pengumpulan data, dan drh. Indra Dwi Rasmana yang selalu setia mendampingi Penulis. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada Mamah, Apa, Aa, Teteh, keluarga, teman-teman Paguyuban, serta Avenzoar atas segala doa dan kasih sayangnya.

Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

Bogor, Januari 2013

(10)

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL vi

DAFTAR LAMPIRAN vi

PENDAHULUAN 1

Latar Belakang 1

Tujuan Penelitian 1

METODE 2

Waktu dan Tempat Penelitian 2

Instrumen Penelitian 2

Persiapan 2

Perizinan 2

Penentuan responden dan teknik sampling 2

Pengembangan kuesioner dan checklist 2

Pengumpulan Data 2

Analisis Data 3

HASIL DAN PEMBAHASAN 3

Karakteristik Responden 3

Manajemen Pemeliharaan 5

Manajemen Kesehatan 7

Manajemen Reproduksi 9

Manajemen Sanitasi 10

Penilaian Tatalaksana Peternakan 11

Aspek lokasi, bangunan dan fasilitas kandang 11

Aspek higiene dan sanitasi 13

Aspek manajemen kesehatan dan reproduksi 14

Aspek penanganan limbah 15

Aspek Tatalaksana Peternakan 16

Hubungan antara Karakteristik Peternak dengan Tatalaksana Peternakan 16

SIMPULAN DAN SARAN 17

Simpulan 17

(11)

DAFTAR PUSTAKA 17

LAMPIRAN 19

RIWAYAT HIDUP 26

DAFTAR TABEL

1 Karakteristik peternak sapi perah KTTSP Baru Sireum 4

2 Manajemen perkandangan di KTTSP Baru Sireum 5

3 Manajemen pakan, sumber air dan limbah di KTTSP Baru Sireum 6 4 Manajemen kesehatan ternak di KTTSP Baru Sireum 8

5 Manajemen reproduksi di KTTSP Baru Sireum 9

6 Manajemen sanitasi di KTTSP Baru Sireum 10

7 Penilaian aspek lokasi, bangunan dan fasilitas kandang secara umum 11 8 Penilaian aspek lokasi, bangunan dan fasilitas kandang secara spesifik 12 9 Penilaian aspek higiene dan sanitasi secara umum 13 10 Penilaian aspek higiene dan sanitasi secara spesifik 13 11 Penilaian aspek manajemen kesehatan dan reproduksi secara umum 14 12 Penilaian aspek manajemen kesehatan dan reproduksi secara spesifik 14 13 Penilaian aspek penanganan limbah secara umum 15 14 Penilaian aspek penanganan limbah secara spesifik 15

15 Penilaian tatalaksana peternakan 16

16 Hubungan karakteristik peternak dengan tingkat tatalaksana peternakan 16

DAFTAR LAMPIRAN

1 Kuesioner Tatalaksana Kesehatan Peternakan Sapi Perah Rakyat di KTTSP

(12)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Sapi perah merupakan salah satu penghasil protein hewani yang sangat penting. Produk utama dari usaha ternak sapi perah adalah susu. Susu sapi mengandung semua bahan yang dibutuhkan untuk pertumbuhan anak sapi yang dilahirkan. Susu mengandung zat gizi bernilai tinggi yang dibutuhkan bagi kehidupan masyarakat dari segala lapisan umur untuk menjaga kesehatan, pertumbuhan, dan kecerdasan berpikir (Rusdiana dan Sejati 2009).

Keberhasilan usaha peternakan sapi perah sangat tergantung dari keterpaduan langkah terutama di bidang pembibitan (breeding), pakan (feeding), dan tatalaksana (management). Ketiga bidang tersebut kelihatannya belum dapat dilaksanakan dengan baik. Hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan dan keterampilan peternak serta masih melekatnya budaya pola berfikir jangka pendek tanpa memperhatikan kelangsungan usaha sapi perah jangka panjang. Oleh karena itu, dibutuhkan peningkatan pengetahuan dan pemahaman peternak tentang manajemen sapi perah yang baik sehingga akan meningkatkan produksi susu yang dihasilkan dan berdampak positif terhadap peningkatan ekonomi peternak.

Beberapa permasalahan penting yang menyebabkan pengembangan sapi perah di Indonesia mengalami kelambanan menurut Siregar (1992), yaitu:

1. Permintaan akan komoditi susu segar tidak menunjukkan peningkatan yang pesat.

2. Kurangnya tenaga inseminator pada daerah yang memiliki populasi sapi perah yang tinggi.

3. Terbatasnya ketersediaan hijauan makanan ternak pada daerah yang memiliki populasi sapi perah yang tinggi.

4. Masalah penyakit yang dapat menyerang ternak sapi perah.

5. Tidak semua peternak dapat memasarkan hasil produksinya dengan baik dan lancar.

Kecamatan Cisarua merupakan kecamatan di Kabupaten Bogor yang memiliki populasi sapi perah yang tinggi disamping kecamatan sentra sapi perah lainnya yaitu Cibungbulang, Pamijahan, dan Cijeruk (Zandos 2011). Dilihat dari segi lokasi, daerah ini cocok untuk peternakan sapi perah karena memiliki ketinggian 955 m di atas permukaan laut (dpl) dengan suhu lingkungan berkisar antara 18 – 22 oC. Selain itu ketersediaan sumber daya alam (rumput) yang cukup dan baik juga membuat usaha ini dapat berjalan dengan lancar (Hertika 2008).

Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah :

1. Mengetahui karakteristik peternak, manajemen pemeliharaan, manajemen kesehatan, manajemen reproduksi, dan sanitasi.

(13)

2

METODE

Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada Kelompok Tani Ternak Sapi Perah (KTTSP) Baru Sireum, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor. Waktu penelitian dilakukan pada bulan Januari - Juli 2012.

Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian yang digunakan mencakup kuesioner untuk mewawancarai peternak dan checklist untuk penilaian (assesment) tatalaksana kesehatan dan reproduksi. Selain itu, juga digunakan alat tulis untuk mencatat data-data hasil observasi.

Persiapan

Perizinan. Sebelum pelaksanaan penelitian, terlebih dahulu dilakukan pengurusan perizinan dengan Ketua KTTSP Baru Sireum untuk kelancaran dalam melakukan studi.

Penentuan responden dan teknik sampling. Responden adalah seluruh peternak yang terdaftar di KTTSP Baru Sireum, Kecamatan Cicarua, Kabupaten Bogor. Teknik yang digunakan adalah metode sensus.

Pengembangan kuesioner dan checklist. Kuesioner yang digunakan terdiri atas pertanyaan yang meliputi karakteristik peternak, manajemen pemeliharaan, kesehatan ternak, reproduksi, dan sanitasi. Checklist tatalaksana kesehatan dan reproduksi terdiri dari aspek lokasi, bangunan, dan fasilitas kandang; aspek higiene dan sanitasi; aspek kesehatan dan reproduksi, dan; penanganan limbah. Penilaian dalam checklist menggunakan kalimat negatif dan penyimpangannya dikategorikan sebagai baik, cukup, dan buruk.

Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan cara mewawancarai peternak responden dengan menggunakan kuesioner yang telah disusun secara terstruktur. Penilaian menggunakan checklist dilakukan dengan cara pengamatan dan pencatatan langsung oleh peneliti di lokasi peternakan. Keseluruhan checklist terdiri dari 32 pernyataan, jika terjadi penyimpangan diberi nilai 0 dan apabila tidak terjadi penyimpangan atau baik diberi nilai 1.

Kriteria aspek lokasi, bangunan, dan fasilitas kandang ditentukan melalui penilaian berdasarkan 15 pernyataan. Total nilai aspek ini berjumlah 15. Penilaian mengenai aspek lokasi, bangunan, dan fasilitas kandang yaitu:

 Aspek dinilai buruk jika nilai < 6

(14)

Kriteria aspek higiene dan sanitasi terdiri dari 7 pernyataan. Total nilai aspek ini berjumlah 7. Penilaian mengenai aspek higiene dan sanitasi yaitu:  Aspek dinilai buruk jika nilai < 3

 Aspek dinilai cukup jika nilainya 3 - 5  Aspek dinilai baik jika nilai > 5

Kriteria aspek kesehatan dan reproduksi ditentukan melalui penilaian berdasarkan 8 pernyataan. Total nilai aspek ini berjumlah 8. Penilaian mengenai aspek kesehatan dan reproduksi yaitu:

 Aspek dinilai buruk jika nilai < 4

 Aspek dinilai cukup jika nilainya antara 4 – 6  Aspek dinilai baik jika nilai > 6

Kriteria aspek penanganan limbah ditentukan melalui penilaian berdasarkan 2 pernyataan. Total nilai aspek ini berjumlah 2. Penilaian mengenai penanganan limbah yaitu:

 Aspek dinilai buruk jika nilai 0  Aspek dinilai cukup jika nilainya 1  Aspek dinilai baik jika nilai 2

Tatalaksana peternakan ditentukan berdasarkan penilaian keseluruhan aspek (aspek lokasi, bangunan, dan fasilitas kandang; aspek higiene dan sanitasi; aspek manajemen kesehatan dan reproduksi, dan; aspek penanganan limbah). Total nilai berjumlah 32. Penilaian mengenai tatalaksana peternakan yaitu:

 Peternakan dinilai buruk jika nilai < 11

 Peternakan dinilai cukup jika nilai antara 11 – 22  Peternakan dinilai baik jika nilai > 22

Analisis Data

Data yang diperoleh dan dikumpulkan dianalisis secara deskriptif menggunakan program Microsoft Excell 2007 dan SPSS 16.0. Data yang telah dikumpulkan diolah dalam tabel beserta variabelnya. Hubungan antar variabel ditentukan dengan menggunakan uji korelasi Spearman. Variabel yang diuji yaitu karakteristik peternak terhadap tatalaksana peternakan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Karakteristik Responden

Karakteristik responden yang diamati dalam penelitian ini meliputi jenis kelamin, umur, pendidikan terakhir, penyuluhan atau pelatihan bidang peternakan, lama beternak, status pekerjaan, pendapatan per bulan, dan total populasi. Karakteristik responden dapat dilihat pada Tabel 1.

(15)

4

Tabel 1 Karakteristik peternak sapi perah KTTSP Baru Sireum

No. Karakteristik responden Jumlah

responden

8. Total populasi ternak

1 – 10 ekor 5 38.5

> 10 ekor 8 61.5

Responden yang berada di KTTSP Baru Sireum seluruhnya berjenis kelamin laki-laki, berkisar antara umur 30-80 tahun. Umur responden terbagi atas dua kategori, yaitu peternak yang berumur kurang dari atau sama dengan 50 tahun dan peternak yang berumur lebih dari 50 tahun. Komposisi umur tersebut mengindikasikan bahwa sebagian besar responden dalam umur produktif. Semakin muda usia responden (usia produktif) rasa keingintahuan terhadap sesuatu semakin tinggi dan semakin tinggi pula minat untuk mengadopsi kemajuan teknologi. Sebagian besar responden telah beternak sapi perah lebih dari sepuluh tahun. Menurut Lestariningsih dan Basuki (2008) pengalaman beternak berpengaruh terhadap keterampilan dan tingkat pengetahuan peternak mengenai ternaknya. Selain itu pengalaman beternak dapat dijadikan suatu pedoman dan penyesuaian terhadap suatu permasalahan yang dihadapi peternak pada masa yang akan datang.

(16)

tua atau melalui pelatihan dan penyuluhan yang dilakukan oleh kelompok tani atau dinas peternakan setempat. Sebanyak 69.2% responden menyatakan pernah mendapatkan pelatihan atau penyuluhan bidang peternakan. KTTSP Baru Sireum telah aktif melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan pendidikan para peternak melalui kegiatan penyuluhan, pelatihan dan pertemuan-pertemuan. Kegiatan penyuluhan akan mengubah perilaku peternak ke arah yang diharapkan sehingga pengetahuannya akan lebih meningkat, sikapnya akan lebih positif terhadap perubahan dan penerimaan inovasi, dan akan lebih terampil di dalam melaksanakan usaha ternaknya (Yunasaf dan Tasripin 2011).

Pada Tabel 1 dapat dilihat hampir seluruh responden berstatus sebagai pemilik peternakan. Hal ini mengindikasikan tingkat perhatian dan kualitas kerja yang baik karena beternak sapi adalah mata pencaharian utama bagi para responden. Pendapatan bersih peternak adalah hasil pengurangan dari penerimaan yang diperoleh dengan jumlah biaya yang dikeluarkan selama proses produksi (Saefullah et al. 2012). Peternak yang menerima penghasilan bersih per bulan kurang dari 2.5 juta rupiah (46.2%), 2.5 – 5 juta rupiah (23.1%), tidak tentu dan di atas 5 juta rupiah per bulan masing-masing sebesar 15.4%. Jumlah kepemilikan ternak sapi perah pada penelitian ini berada pada dua kelompok, yaitu 1 – 10 ekor (38.5%) dan di atas 10 ekor (61.5%). Dapat dilihat bahwa masih cukup banyak peternak yang memiliki sapinya kurang dari 10 ekor, hal tersebut dapat mempengaruhi tingkat pendapatan bagi peternak itu sendiri. Jumlah kepemilikan sapi perah yang ideal agar usaha ini menguntungkan dan dapat menjamin pendapatan peternak adalah minimal 10 ekor (Sudono 1999).

Manajemen Pemeliharaan

Manajemen pemeliharaan sapi perah mencakup manajemen perkandangan, serta manajemen pakan dan sumber air. Tabel 2 menunjukkan manajemen perkandangan di KTTSP Baru Sireum.

Tabel 2 Manajemen perkandangan di KTTSP Baru Sireum

No. Perkandangan Jumlah

(17)

6

Keseluruhan responden menggunakan lantai kandang padat yang terbuat dari semen. Lantai kandang dibuat dengan posisi sedikit miring agar mudah dibersihkan dan selalu kering. Selain itu juga dibuat selokan atau parit agar tidak terjadi genangan air. Dengan adanya parit ini maka air pembersih lantai, air untuk memandikan sapi, urin, dan kotoran sapi dapat mudah terkumpul, yang selanjutnya dapat disalurkan ke penampungan biogas atau langsung ke selokan. Sebagian besar responden menggunakan asbes sebagai atap kandang. Pada daerah-daerah yang banyak angin tidak dianjurkan memakai bahan atap dari genteng. Sedangkan pada daerah-daerah yang berhawa dingin, bahan atap dapat dari asbes ataupun seng (Siregar 1996). Menurut Soetarno (2003) ditinjau dari fungsinya kandang sapi perah dapat dibedakan menjadi kandang induk, kandang pedet, kandang pejantan, dan kandang isolasi. Masing-masing kandang tersebut memiliki ukuran dan konstruksi yang berbeda.

Manajemen pakan dan sumber air merupakan salah satu aspek yang dinilai dalam pemeliharaan sapi perah. Secara rinci manajemen pakan dan sumber air dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3 Manajemen pakan dan sumber air di KTTSP Baru Sireum

No. Pakan dan sumber air Jumlah

responden

% dari total responden

1. Pemberian pakan dalam satu hari

1 kali 0 0.0

2 kali 10 76.9

> 2 kali 3 23.1

2. Waktu pemberian hijauan

Sebelum pemerahan 1 7.7

Setelah pemerahan 11 84.6

Ad libitum 1 7.7

3. Jumlah pemberian hijauan

1 - 30 kg/ekor/hari 6 46.2

5. Jumlah pemberian konsentrat

1- 6 kg/ekor/hari 0 0.0

≥ 7 kg/ekor/hari 10 76.9

Tidak tentu/seadanya 3 23.1

6. Sumber air peternakan

Sungai 5 38.5

Mata air gunung 8 61.5

(18)

Pemberian hijauan dan konsentrat sebagai komponen ransum sapi perah perlu diperhatikan jumlah, kandungan dan kualitasnya karena ransum tidak hanya mempengaruhi produksi tetapi juga mempengaruhi kualitas bahan padat susu (Pangestu et al. 2003). Seluruh responden memberikan hijauan dan konsentrat dalam ransum ternaknya. Pakan hijauan dapat berupa rumput gajah maupun rumput lapang. Pakan konsentrat yang digunakan responden merupakan konsentrat siap pakai yang disediakan oleh KUD. Umumnya responden memberikan pakan dua kali sehari. Pakan hijauan yang diberikan responden untuk sapi dewasa sebanyak kurang dari 30 kg/ekor/hari (46.2%), 30-40 kg/ekor/hari (38.5%), dan lebih dari 50 kg/ekor/hari (15.4%). Pemberian pakan pada sapi perah dilakukan dua kali sehari rata-rata sebanyak 35-40 kg per ekor per hari untuk sapi yang diperah (Siregar 2007). Semua responden mendapatkan hijauan dengan cara mencari sendiri di lahan pegunungan yang berada di kawasan Cisarua.

Mayoritas responden memberikan konsentrat pada sapi dewasa sebanyak lebih dari atau sama dengan 7 kg per ekor per hari. Jumlah pemberian konsentrat tersebut telah sesuai dengan pemberian konsentrat ideal menurut Siregar (2007) yaitu 7 kg per ekor per hari. Sebagian besar responden memberikan konsentrat sebelum dilakukan pemerahan dan memberikan pakan hijauan setelah pemerahan. Pemberian konsentrat dilakukan setiap setengah jam sebelum pemerahan, sering pula pemberian konsentrat dilakukan pada waktu pemerahan. Pemberiannya sedikit saja agar sapi yang sedang diperah lebih tenang, sedangkan pemberian hijauan sesudah selesai pemerahan (Siregar 1996). Pemberian konsentrat dan hijauan yang hampir bersamaan waktunya dapat menurunkan kecernaan hijauan. Hal ini terjadi karena mikroorganisme dalam rumen mempunyai preferensi untuk mencerna konsentrat lebih dahulu karena konsentrat lebih mudah dicerna dari pada rumput (Siregar 1992).

Untuk pemenuhan kebutuhan air minum ternak, air untuk kandang dan peralatan, responden memperolehnya dari mata air gunung dan air sungai yang mengalir di dekat peternakan. Letak desa Cibeureum yang berada di daerah pegunungan memungkinkan peternak untuk mendapatkan sumber air yang sangat melimpah, baik dari mata air maupun aliran sungai yang belum banyak tercemar limbah. Namun kualitas air yang berasal dari mata air tentunya lebih baik daripada air yang diperoleh dari sungai.

Manajemen Kesehatan

(19)

8

Tabel 4 Manajemen kesehatan ternak di KTTSP Baru Sireum

No. Aspek kesehatan Jumlah responden % dari total

responden

4. Tindakan yang dilakukan bila ada ternak sakit

Diobati sendiri 5 38.5

Diobati dokter hewan/mantri 8 61.5

5. Pelaporan ternak sakit/mati

Dilaporkan 11 84.6

Tidak dilaporkan 2 15.4

6. Vaksinasi rutin ternak

Ya 12 92.3

Tidak 1 7.7

Seluruh responden menyatakan bahwa mereka melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap ternaknya. Pemeriksaan kesehatan dilakukan oleh dokter hewan dan mantri/paramedis. Frekuensi pemeriksaan kesehatan hewan dilakukan oleh sebagian besar responden secara tidak tentu atau tidak teratur. Bila terdapat ternak yang sakit sebanyak 38.5% responden mengobati ternaknya sendiri, sedangkan 61.5% responden lainnya menyatakan ternaknya diobati oleh doker hewan. Pengetahuan tata cara dan dosis pemberian obat-obatan terutama antibiotik sangat penting agar tidak meninggalkan residu pada produk asal hewan (Gustiani 2009). Oleh karena itu pemberian obat-obatan sebaiknya diberikan oleh dokter hewan. Mayoritas responden melaporkan ternak yang sakit atau mati kepada kelompok tani atau pihak terkait.

(20)

Manajemen Reproduksi

Manajemen reproduksi yang diamati dalam penelitian ini meliputi cara mengawinkan ternak, faktor inseminator, pemeriksa kebuntingan, proses kelahiran, pemberian kolostrum, dan penyapihan pedet. Manajemen reproduksi di KTTSP Baru Sireum dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5 Manajemen reproduksi di KTTSP Baru Sireum

No. Manajemen reproduksi Jumlah responden % dari total

responden

1. Cara mengawinkan ternak

IB 13 100.0

4. Pembantu proses kelahiran

Dokter hewan 1 7.7 mengawinkan ternaknya dengan cara IB. Sistem IB dinilai lebih menguntungkan karena praktis, hemat waktu, hemat tenaga, hemat biaya, serta menekan tingkat penyebaran penyakit. Setelah 2-3 bulan dilakukan IB selanjutnya dilakukan pemeriksaan kebuntingan. Jika sapi tidak menunjukkan tanda-tanda kebuntingan maka inseminator akan melakukan IB setelah sapi tersebut birahi kembali. Inseminasi dan pemeriksaan kebuntingan dilakukan oleh dokter hewan atau mantri. Dalam menangani proses kelahiran sebagian besar responden (53.8%) mempercayakan kepada para pekerjanya, dan 38.5% menangani kelahiran bersama dengan dokter hewan.

(21)

10

mengandung vitamin dan mineral jauh lebih besar dari susu biasa, bersifat pencahar, dan membantu membersihkan intenstinum pada sapi muda dari kotoran yang bergumpal (Williamson dan Payne 1993). Disamping itu kolostrum juga mengandung antibodi yang baik untuk pertumbuhan anak sapi. Anak sapi dapat dipisahkan dari induknya segera sesudah lahir, tetapi harus diberikan kolostrum untuk beberapa hari pertama dan sesudah itu dapat diberi minum susu atau makanan pengganti lain susu. Cara lain, pedet dapat dipelihara penuh bersama induknya dan kemudian biasanya disapih pada umur 6-8 bulan (Mangkoewidjojo 1988).

Manajemen Sanitasi

Menurut Siregar (1996) pencegahan penyakit pada sapi perah dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan sapi perah, kandang, peralatan yang digunakan, dan orang yang memelihara atau merawatnya. Gambaran manajemen sanitasi tersaji pada Tabel 6.

Tabel 6 Manajemen sanitasi di KTTSP Baru Sireum

No. Aspek Sanitasi Jumlah responden % dari total

responden

1. Membersihkan kandang

1 kali sehari 1 7.7

2 kali sehari 5 38.5

3 kali sehari 7 53.8

2. Membersihkan peralatan kandang

Setelah digunakan 7 53.8

Sebelum dan setelah digunakan 6 46.2

3. Frekuensi memandikan ternak

2 kali sehari 12 92.3

3 kali sehari 1 7.7

4. Mencuci tangan sebelum/sesudah kontak dengan ternak

Selalu 13 100.0

Kadang-kadang 0 0.0

5. Cara mencuci tangan

Dengan air dan sabun 13 100.0

Hanya air 0 0.0

(22)

Mayoritas reponden memandikan ternaknya dua kali sehari. Sapi-sapi mudah menjadi kotor terutama akibat kotoran mereka sendiri yang menempel pada kulit atau rambut ketika mereka berbaring, ditambah dengan kotoran debu yang bercampur dengan keringat sapi. Kotoran mengandung parasit sehingga menimbulkan rasa gatal dan merupakan sumber penyakit. Selain itu tubuh sapi yang kotor dan rambut yang rontok akan mencemari susu yang dihasilkan. Oleh karena itu sapi dimandikan secara rutin dua kali sehari sebelum dilakukan pemerahan.

Seluruh reponden selalu mencuci tangan dengan air dan sabun sebelum dan sesudah kontak langsung dengan ternak. Dengan demikian risiko serangan penyakit yang disebabkan oleh virus, bakteri, dan parasit dapat dikurangi Kebersihan pekerja yang merawat sapi harus selalu terjaga dengan baik, jangan sampai sapi-sapi perah tertular penyakit tertentu dari tangan para pekerja (Siregar 1996).

Penilaian Tatalaksana Peternakan

Penilaian mengenai tatalaksana peternakan terdiri dari aspek lokasi, bangunan, dan fasilitas kandang, praktik higiene dan sanitasi, aspek kesehatan dan reproduksi, serta praktik penanganan limbah.

Aspek lokasi, bangunan dan fasilitas kandang

Secara keseluruhan (100%) penilaian aspek lokasi, bangunan dan fasilitas kandang masuk ke dalam kategori baik. Sebagian besar peternakan dinilai baik pada seluruh aspek, seperti yang dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7 Penilaian aspek lokasi, bangunan, dan fasilitas kandang secara umum Lokasi, bangunan, dan fasilitas

kandang

Total

n %

Baik 13 100.0

Cukup 0 0

Buruk 0 0

Total 13 100.0

(23)

12

Tabel 8 Penilaian aspek lokasi, bangunan, dan fasilitas kandang secara spesifik

No Penyimpangan

pembatas dengan lingkungan sekitar 13 100.0 0 0.00

3 Bangunan kandang terbuat dari bahan

(24)

Keberadaan tempat sampah merupakan aspek penting yang harus tersedia di peternakan agar sampah tidak berserakan dan menjadi sumber penyakit.

Aspek higiene dan sanitasi

Dalam hal aspek higiene dan sanitasi, sebagian besar peternakan (76.9%) dapat dimasukkan ke dalam kategori baik, sedangkan 23.1% peternakan masuk ke dalam kategori cukup. Tabel 9 memperlihatkan penilaian aspek higiene dan sanitasi secara umum.

Tabel 9 Penilaian aspek higiene dan sanitasi secara umum

Higiene dan Sanitasi Total

n %

Baik 10 76.9

Cukup 3 23.1

Buruk 0 0

Total 13 100.0

Penyimpangan yang paling jelas terlihat adalah lingkungan sekitar kandang kotor serta tidak bebasnya kandang dari rodentia dan hewan lain dengan persentase masing-masing penyimpangan sebesar 23.1% (Tabel 10).

Tabel 10 Penilaian aspek higiene dan sanitasi secara spesifik

No Penyimpangan Tidak Ya

5 Tidak dilakukan pembersihan kandang

(25)

14

sumber penyebaran penyakit yang perlu diperhatikan, oleh karena itu perlu diadakan pengawasan dan pengendalian agar hewan-hewan tersebut tidak dapat masuk ke dalam peternakan.

Aspek manajemen kesehatan dan reproduksi

Dari penilaian aspek manajemen kesehatan dan reproduksi dapat disimpulkan bahwa 53.8% peternakan masuk dalam kategori baik dan 46.2% masuk dalam kategori cukup. Penilaian aspek manajemen kesehatan dan reproduksi secara umum tersaji pada Tabel 11.

Tabel 11 Penilaian aspek manajemen kesehatan dan reproduksi secara umum Kesehatan dan Reproduksi

Penilaian aspek praktik manajemen kesehatan dan reproduksi meliputi delapan butir penilaian seperti yang tercantum pada Tabel 12. Penyimpangan yang paling banyak terjadi adalah tidak adanya pemisahan antara ternak yang sakit (61.5%) dan proses kelahiran yang tidak dibantu oleh dokter hewan atau paramedis (23.1%).

Tabel 12 Penilaian aspek manajemen kesehatan dan reproduksi secara spesifik

No Penyimpangan Tidak Ya

n % n %

1 Kesehatan ternak tidak diperiksakan

secara rutin oleh petugas kesehatan 12 92.3 1 7.7

2 Tidak dilakukan tindakan apapun bila ada

ternak sakit 13 100.0 0 0.0

3 Ternak yang sakit tidak dipisahkan 5 38.5 8 61.5

4 Tidak melapor bila ada ternak sakit atau

mati 12 92.3 1 7.7

5 Ternak tidak divaksinasi 12 92.3 1 7.7

6 Tidak dilakukan pemeriksaan kebuntingan

oleh petugas kesehatan 13 100.0 0 0.00

7 Proses kelahiran tidak dibantu dokter

hewan atau paramedik 10 76.9 3 23.1

8 Pedet tidak diberikan kolostrum 13 100.0 0 0.0

(26)

pemeliharaan ternak yang sakit. Keberadaan dokter hewan atau paramedis pada saat ternak melahirkan cukup penting untuk menghindari terjadinya kasus reproduksi yang bisa terjadi pada saat partus/melahirkan akibat penanganan yang tidak baik oleh peternak atau pekerja, atau bila terjadi kasus reproduksi dapat langsung ditangani.

Aspek penanganan limbah

Aspek penanganan limbah yang dinilai difokuskan pada penanganan limbah cair dan limbah padat. Limbah cair dapat berupa urin sapi, sisa air mandi, air pembersihan kandang, dan ceceran air minum, sedangkan limbah padat dapat berupa kotoran sapi dan ceceran sisa pakan. Tabel 13 menunjukkan penilaian penanganan aspek limbah secara umum.

Tabel 13 Penilaian aspek penanganan limbah secara umum Penanganan Limbah penilaian aspek penanganan limbah dapat dilihat pada Tabel 14.

Tabel 14 Penilaian aspek penanganan limbah secara spesifik

No Penyimpangan

(27)

16

Aspek Tatalaksana Peternakan

Berdasarkan penilaian terhadap keempat aspek tersebut diatas, dapat disimpulkan bahwa aspek tatalaksana peternakan di KTTSP Baru Sireum secara umum (92.3%) termasuk ke dalam kategori baik, sedangkan sebagian kecil lainnya (7.7%) termasuk ke dalam kategori cukup. Penilaian tatalaksana peternakan dapat dilihat pada Tabel 15.

Tabel 15 Penilaian tatalaksana peternakan Kategori peternakan

Hubungan antara Karakteristik Peternak dengan Tatalaksana Peternakan Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat tatalaksana peternakan dapat ditinjau dari karakteristik peternak. Berdasarkan hasil pengujian dengan menggunakan uji korelasi Spearman, keseluruhan karakteristik yaitu umur, tingkat pendidikan, status kepemilikan, pengalaman, penyuluhan, tingkat pendapatan, dan jumlah ternak tidak memperlihatkan hubungan yang nyata dengan tatalaksana peternakan (Tabel 16).

Tabel 16 Hubungan antara karakteristik peternak dan tatalaksana peternakan

Karakteristik peternak Tatalaksana peternakan

P r

Umur 0.653 0.138

Tingkat pendidikan 0.326 0.296

Status kepemilikan 0.798 0.079

Pengalaman 0.484 0.214

Penyuluhan 0.767 0.091

Tingkat pendapatan 0.545 0.185

Jumlah ternak 0.099 0.477

Keterangan:

P : Nilai korelasi antara dua variabel yang diuji, p < 0.05 menunjukkan hubungan dua arah r : Koefisien korelasi

(28)

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Penilaian tatalaksana peternakan secara umum di KTTSP Baru Sireum menunjukkan bahwa sebagian besar (92.3%) masuk ke dalam kategori baik. Pada umumnya seluruh peternak telah melaksanakan manajemen peternakan dengan baik, kecuali dalam aspek manajemen kesehatan dan reproduksi serta manajemen penanganan limbah. Dalam penelitian ini tidak memperlihatkan adanya hubungan nyata antara karakteristik peternak dengan tatalaksana peternakan.

Saran

1. Diharapkan KTTSP Baru Sireum lebih menggiatkan lagi kegiatan penyuluhan dan pelatihan manajemen peternakan terutama dalam bidang kesehatan dan reproduksi serta penanganan limbah terhadap peternak anggotanya.

2. Perlu dilakukan perbaikan manajemen penanganan limbah, misalnya dengan cara pembuatan biogas maupun kompos agar tidak mencemari lingkungan sekitar peternakan sekaligus memberikan nilai tambah bagi peternak.

DAFTAR PUSTAKA

Gustiani E. 2009. Pengendalian cemaran mikroba pada bahan pangan asal ternak (daging dan susu) mulai dari peternakan sampai dihidangkan. J Litbang Pertanian 28(3): 96 – 100.

Hertika S. 2008. Analisis pendapatan usaha ternak sapi perah (studi kasus di perusahaan x, Desa Cibeureum Kecamatan Cisarua Kabupaten Bogor [skripsi]. Bogor: Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.

Lestariningsih M, Basuki EY. 2008. Peran serta wanita peternak sapi perah dalam meningkatkan taraf hidup keluarga. Ekuitas 12(1): 117 -137.

Luanmase CM, Nurtini S, Haryadi FT. 2011. Analisis motivasi beternak sapi potong bagi peternak lokal dan transmigran serta pengaruhnya terhadap pendapatan di Kecamatan Kairatu, Kabupaten Seram Bagian Barat. Buletin Peternakan 35(2): 113 -123.

Mangkoewidjodjo. 1998. Pemeliharaan Pembiakan dan Percobaan di Daerah Tropis. Jakarta: Universitas Indonesia Press.

[Kemenristek] Kementerian Negara Riset dan Teknologi. 2005. Teknologi tepat guna, tentang budidaya peternakan, budidaya ternak sapi perah [internet].

[diacu 2012 Oktober 15]. Tersedia dari:

http://www.iptek.net.id/ind/warintek/?mnu=6&ttg=4&doc=4a13

(29)

18

Pangestu E, Toharmat T, Tanuwiria UH. 2003. Nutritive value of agriculture byproduct based diets in lactating dairy cows. J Indo Trop Anim Agri 28(3): 166 – 171.

Rusdiana S, Sejati WK. 2009. Upaya pengembangan agribisnis sapi perah dan peningkatan produksi susu melalui pemberdayaan koperasi susu. Forum Penelitian Agro Ekonomi 27(1): 43–51.

Sihombing DTH. 2000. Teknik Pengelolaan Limbah Kegiatan/Usaha Peternakan. Bogor: Pusat Penelitian Lingkungan Hidup, Institut Pertanian Bogor.

Saefullah R, Marzuki S, Handayani M. 2012. Komparasi biaya pendapatan usaha peternakan sapi perah rakyat anggota koperasi unit desa dan non anggota koperasi unit desa di Kabupaten Banyumas. Anim Agri J 1(1): 845 -858.

Siregar SB. 1992. Jenis dan Teknik Pemeliharaan Sapi Perah. Jakarta: Penebar Swadaya.

Siregar SB. 1996. Sapi Perah, Jenis Teknik Pemeliharaan, dan Analisa Usaha. Jakarta: Penebar Swadaya.

Siregar SB. 2007. Manajemen Agribisnis Sapi Perah yang Ekonomis dan Kiat Melipatgandakan Keuntungan. Jakarta: Penebar Swadaya.

Soehadji. 1992. Kebijakan Pemerintah dalam Industri Peternakan dan Penanganan Limbah Peternakan. Jakarta: Direktorat Jenderal Peternakan, Departemen Pertanian.

Soetarno T. 2003. Manajemen Budidaya Sapi Perah. Yogyakarta: Laboratorium Ternak Perah, Fakultas Peternakan UGM.

Sudibyo A. 1995. The difference of serological responses between naturally infected, experimentally infected, and vaccinated cattlle with Brucella abortus

strain 19 vaccine. J Ilmu Ternak 1(2): 117 – 122.

Sudono A. 1999. Ilmu Produksi Ternak Perah. Bogor: Jurusan Ilmu Produksi Ternak, Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor.

Sudono A, RF Rosdiana, BS Setiawan. 2003. Beternak Sapi Perah Secara Intensif. Jakarta: Agromedia Pustaka.

Williamson G, WJA Payne. 1993. Pengantar Peternakan di Daerah Tropis. Yogyakarta: UGM Press.

Yunasaf U, Tasripin DS. 2011. Peran penyuluh dalam proses pembelajaran peternak sapi perah di KSU Tandangsari Sumedang. J Ilmu Ternak 11(2): 98 – 103.

(30)

Lampiran 1 Kuesioner Tatalaksana Kesehatan Peternakan Sapi Perah Rakyat di

KTTSP “Baru Sireum” Kecamatan Cisarua Kabupaten Bogor

No. Kuesioner : Enumerator : Tanggal : Waktu :

PERNYATAAN PERSETUJUAN

Nama saya Farah Nurul Maulida dari Fakultas Kedokteran Hewan IPB. Saya akan mengadakan survei tatalaksana reproduksi dan kesehatan hewan sapi perah di KTTSP Baru Sireum. Saya mengharapkan partisipasi Bapak/Ibu dalam survei ini. Survei ini kira-kira membutuhkan waktu 30 menit. Informasi yang Bapak/Ibu berikan dalam survei ini akan dijaga kerahasiaannya, nama dan nomor telepon Bapak/Ibu yang dicatat pada kuesioner hanya sebagai tindakan jika kami butuh untuk menghubungi Bapak/Ibu dikemudian hari.

Partisipasi dalam survei ini bersifat sukarela, namun kami sangat mengharapkan Bapak/Ibu berpartisipasi karena informasi bapak/Ibu berikan akan sangat berharga bagi keberhasilan survei ini.

Apakah Bapak/Ibu bersedia diwawancarai? Ya

Tidak

Jika tidak, mohon berikan alasan mengapa Bapak/Ibu tidak bersedia diwawancara. ... ...

A. DATA DASAR RESPONDEN

Nama : ... Alamat lengkap :

...

Dusun/Kampung :...

A.1 Nomor telepon rumah/hp Bapak/Ibu

Silangilah jawaban yang dianggap paling sesuai

B. KARAKTERISTIK PETERNAK

B.1 Jenis kelamin : a. Laki-laki b. Perempuan

B.2 Umur : ... tahun

B.3 Tingkat pendidikan formal terakhir yang pernah Bapak/Ibu ikuti :

a. Tidak Sekolah

b. SD/sederajat

c. SMP/sederajat

d. SMA/sederajat

(31)

20

B.4 Tingkat pendidikan informal (penyuluhan/pelatihan) bidang peternakan dalam 1 tahun terakhir

a. Ya b. Tidak

B.5 Berapa lama Bapak/Ibu beternak sapi? ...tahun

B.6 Sebagai apakah Bapak/Ibu di peternakan ini?

a. Pemilik

b. Pekerja

c. Lain-lain, sebutkan...

B.7 Berapa pendapatan bersih per bulan yang Bapak/Ibu dapatkan dari peternakan? a. < 1 juta

b. 1 – 2,5 juta c. 2,5 – 5 juta d. > 5 juta e. Tidak tentu

B.8 Berapa jumlah ternak yang dipelihara Bapak/Ibu?...ekor

C. PEMELIHARAAN

C.1. Perkandangan

C.1.1 Terbuat dari bahan apa lantai kandangnya?

a. Lantai padat (semen/paving)

b. Lantai panggung (kayu/papan)

c. Lain-lain...

C.1.2 Terbuat dari bahan apa atap kandangnya? (jawaban boleh lebih dari satu)

a. Genteng

b. Seng

c. Asbes

d. Rumbia/Alang-alang

e. Lain-lain...

C.1.3 Apakah Bapak/Ibu menyediakan kandang khusus untuk pedet?

a. Ya b. Tidak

C.1.4 Apakah Bapak/Ibu menyediakan kandang untuk pejantan?

a. Ya b. Tidak

C.2. Pakan dan Sumber Air

C.2.1 Pakan yang diberikan? (jawaban boleh lebih dari satu) a. Hijauan

b. Konsentrat c. Supplement

d. Lain-lain...

C.2.2 Berapa kali pakan dibeikan dalam satu hari?

(32)

b. 2 kali

c. > 2 kali

d. Tidak tentu

C.2.3 Kapan waktu pemberian pakan hijauan?

a. Sebelum dilakukan pemerahan

b. Setelah dilakukan pemerahan

c. Selalu tersedia di tempat pakan

d. Lain-lain...

C.2.4 Berapa banyak pakan hijauan yang diberikan? (kg/ekor/hari) a. 0

b. 1 – 30 c. 30 – 40 d. > 40

e. Lain-lain...

C.2.5 Kapan pakan konsentrat diberikan?

a. Sebelum dilakukan pemerahan

b. Setelah dilakukan pemerahan

c. Selalu tersedia di kandang

d. Lain-lain...

C.2.7 Berapa banyak pakan konsentrat yang diberikan? (kg/ekor/hari)

a. 0

b. 1 – 6

c. ≥ 7

d. Tidak tentu/seadanya

C.2.8 Apakah sumber air untuk peternakan? (jawaban boleh lebih dari satu)

a. Sumur/Sumur pompa

b. Sungai

c. PDAM

d.Lain-lain...

D. KESEHATAN

D.1 Apakah ada pemeriksaan kesehatan ternak

a. Ya b.Tidak

JIKA TIDAK, LANGSUNG KE PERTANYAAN D.3

D.2 Siapakah yang memeriksa kesehatan ternak Bapak/Ibu?

a. Dokter hewan

(33)

22

D.3 Dalam satu tahun berapa kali ternak diperiksakan? a. < 1 x

b. 1 x c. 2 x

d. > 3 x

e. Tidak tentu/tidak teratur

D.4 Apa yang Bapak/Ibu lakukan bila ada ternak sakit?

a. Diobati sendiri

b. Tunggu kedatangan dokter hewan/mantri hewan

D.5 Apakah Bapak/Ibu melaporkan bila ada ternak yang mati atau sakit?

a. Ya b. Tidak

D.6 Apakah Bapak/Ibu memberikan vaksinasi rutin terhadap ternak?

a. Ya b. Tidak

D. MANAJEMEN REPRODUKSI

E.1 Bagaimana cara Bapak/Ibu mengawinkan sapi?

a. Secara alami (dengan sapi pejantan sendiri)

b. Inseminasi Buatan

c. Lain-lain...

JIKA JAWABAN SELAIN B LANGSUNG KE PERTANYAAN E.3

E.2 Siapakah yang memberikan layanan IB?

a. Dokter Hewan

b. Paramedik

c. Lain-lain...

E.3 Siapakah yang melakukan pemeriksaan kebuntingan?

a. Dokter Hewan

b. Paramedik

c. Lain-lain...

E.4 Siapakah yang membantu proses kelahiran?

a. Dokter Hewan

b. Paramedik

c. Lain-lain...

E.5 Apakah Bapak/Ibu memberi kolostrum/susu jolong untuk pedet?

a. Ya b. Tidak

JIKA TIDAK, LANGSUNG KE PERTANYAAN E . 7

E.6 Berapa lama kolostrum/susu jolong diberikan?

a. < 7 hari

(34)

c. >7 hari

E.7 Pada umur berapa pedet disapih?

a. < 6 bulan

b. 6 – 8 bulan

c. > 8 bulan

F. SANITASI

F.1 Bagaimana Bapak/Ibu menjaga kebersihan kandang?

a. Dibersihkan 1x per hari

b. Dibersihkan 2x per hari

c. Tidak tentu

d. Lain-lain...

F.2 Bagaimana Bapak/Ibu menjaga kebersihan peralatan kandang?

a. Dibersihkan sebelum digunakan

b. Dibersihkan setelah digunakan

c. Dibersihkan setelah dan sebelum digunakan

d. Dibersihkan hanya pada saat terlihat kotor

e. lain-lain...

F.3 Bagaimana cara yang Bapak/Ibu lakukan untuk menjaga kebersihan sapi?

a. Memandikan 1x per hari

b. Memandikan 2x per hari

c. memandikan 3x per hari

d. Lain-lain...

F.4 Apakah Bapak/Ibu mencuci tangan sebelum atau sesudah kontak dengan ternak?

a. Selalu

b. Sering

c. Kadang-kadang

d. Tidak pernah

F.5 Bagaimana cara mencuci tangannya?

a. Dengan air dan menggunakan sabun

b. Hanya menggunakan air

(35)

24

Lampiran 2 Checklist Tatalaksana Kesehatan Peternakan Sapi Perah

Berikan tanda checklist ( kolom yang dianggap sesuai dengan pernyataan di bawah ini.

No Penyimpangan Ya Tidak Keterangan

I Lokasi Kandang

1 Lokasi kandang berada tidak jauh dari pemukiman atau

tempat tinggal

2 Lokasi kandang tidak memiliki pagar pembatas dengan

lingkungan sekitar

II Bangunan dan Fasilitas Kandang

1 Bangunan kandang terbuat dari bahan yang tidak permanen

2 Lantai terbuat dari bahan yang tidak mudah dibersihkan

3 Atap terbuat dari bahan yang tidak mudah dibersihkan

4 Atap tidak melindungi ternak dari panas maupun hujan

5 Tidak memiliki sistem drainase yang baik

6 Tidak memiliki ventilasi yang cukup

7 Tidak memiliki penerangan yang baik

8 Situasi di dalam kandang padat

9 Tidak terdapat sumber air bersih yang memadai

10 Tidak terdapat kandang khusus untuk pedet

11 Tidak ada kandang khusus untuk beranak

12 Tidak terdapat tempat sampah yang memadai dan

(pembuangan limbah sementara)

13 Tempat pakan dan minum tidak terbuat dari bahan yang

mudah dibersihkan

III Higiene

1 Pekerja yang berhubungan langsung dengan ternak tidak

(36)

2 Kebersihan pekerja yang kontak dengan ternak tidak terjaga

dengan baik

3 Pekerja tidak mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak

dengan ternak

IV Sanitasi

1 Lingkungan sekitar kandang kotor

2 Tidak dilakukan pembersihan kandang secara rutin (tiap

hari)

3 Peralatan kandang tidak dijaga kebersihannya

4 Kandang tidak bebas dari serangga, rodentia dan hewan

lain dan tidak dilakukan usaha pengendaliannya

V Manajemen Kesehatan dan Reproduksi

1 Kesehatan ternak tidak diperiksakan secara rutin oleh

petugas kesehatan (dokter hewan/paramedik)

2 Tidak dilakukan tindakan apapun bila ada ternak sakit

3 Ternak yang sakit tidak dipisahkan

4 Tidak melaporkan ke petugas dinas bila ada ternak mati

atau sakit

5 Ternak tidak divaksinasi secara rutin mengikuti aturan

pemerintah

6 Tidak dilakukan pemeriksaan kebuntingan oleh petugas

kesehatan

7 Proses kelahiran tidak dibantu dokter hewan/paramedic

8 Pedet tidak diberikan kolostrum/susu jolong

VI Penanganan Limbah

1 Limbah cair langsung dialirkan pada selokan umun

(37)

26

RIWAYAT HIDUP

Penulis lahir di Rangkasbitung, Kab. Lebak, Banten pada tanggal 30 September 1990 sebagai anak kedua dari dua bersaudara pasangan Bapak Adi Supriyadi dan Ibu Yully Sofiati. Penulis menyelesaikan pendidikan di SD Negeri Kejaksaan, Rangkasbitung pada tahun 2002. Penulis melanjutkan pendidikan di SMPN 2 Rangkasbitung dan lulus pada tahun 2005. Tahun 2008 Penulis lulus dari SMAN 1 Rangkasbitung dan pada tahun yang sama diterima sebagai mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor (FKH IPB) melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI).

(38)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Sapi perah merupakan salah satu penghasil protein hewani yang sangat penting. Produk utama dari usaha ternak sapi perah adalah susu. Susu sapi mengandung semua bahan yang dibutuhkan untuk pertumbuhan anak sapi yang dilahirkan. Susu mengandung zat gizi bernilai tinggi yang dibutuhkan bagi kehidupan masyarakat dari segala lapisan umur untuk menjaga kesehatan, pertumbuhan, dan kecerdasan berpikir (Rusdiana dan Sejati 2009).

Keberhasilan usaha peternakan sapi perah sangat tergantung dari keterpaduan langkah terutama di bidang pembibitan (breeding), pakan (feeding), dan tatalaksana (management). Ketiga bidang tersebut kelihatannya belum dapat dilaksanakan dengan baik. Hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan dan keterampilan peternak serta masih melekatnya budaya pola berfikir jangka pendek tanpa memperhatikan kelangsungan usaha sapi perah jangka panjang. Oleh karena itu, dibutuhkan peningkatan pengetahuan dan pemahaman peternak tentang manajemen sapi perah yang baik sehingga akan meningkatkan produksi susu yang dihasilkan dan berdampak positif terhadap peningkatan ekonomi peternak.

Beberapa permasalahan penting yang menyebabkan pengembangan sapi perah di Indonesia mengalami kelambanan menurut Siregar (1992), yaitu:

1. Permintaan akan komoditi susu segar tidak menunjukkan peningkatan yang pesat.

2. Kurangnya tenaga inseminator pada daerah yang memiliki populasi sapi perah yang tinggi.

3. Terbatasnya ketersediaan hijauan makanan ternak pada daerah yang memiliki populasi sapi perah yang tinggi.

4. Masalah penyakit yang dapat menyerang ternak sapi perah.

5. Tidak semua peternak dapat memasarkan hasil produksinya dengan baik dan lancar.

Kecamatan Cisarua merupakan kecamatan di Kabupaten Bogor yang memiliki populasi sapi perah yang tinggi disamping kecamatan sentra sapi perah lainnya yaitu Cibungbulang, Pamijahan, dan Cijeruk (Zandos 2011). Dilihat dari segi lokasi, daerah ini cocok untuk peternakan sapi perah karena memiliki ketinggian 955 m di atas permukaan laut (dpl) dengan suhu lingkungan berkisar antara 18 – 22 oC. Selain itu ketersediaan sumber daya alam (rumput) yang cukup dan baik juga membuat usaha ini dapat berjalan dengan lancar (Hertika 2008).

Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah :

1. Mengetahui karakteristik peternak, manajemen pemeliharaan, manajemen kesehatan, manajemen reproduksi, dan sanitasi.

(39)

2

METODE

Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada Kelompok Tani Ternak Sapi Perah (KTTSP) Baru Sireum, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor. Waktu penelitian dilakukan pada bulan Januari - Juli 2012.

Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian yang digunakan mencakup kuesioner untuk mewawancarai peternak dan checklist untuk penilaian (assesment) tatalaksana kesehatan dan reproduksi. Selain itu, juga digunakan alat tulis untuk mencatat data-data hasil observasi.

Persiapan

Perizinan. Sebelum pelaksanaan penelitian, terlebih dahulu dilakukan pengurusan perizinan dengan Ketua KTTSP Baru Sireum untuk kelancaran dalam melakukan studi.

Penentuan responden dan teknik sampling. Responden adalah seluruh peternak yang terdaftar di KTTSP Baru Sireum, Kecamatan Cicarua, Kabupaten Bogor. Teknik yang digunakan adalah metode sensus.

Pengembangan kuesioner dan checklist. Kuesioner yang digunakan terdiri atas pertanyaan yang meliputi karakteristik peternak, manajemen pemeliharaan, kesehatan ternak, reproduksi, dan sanitasi. Checklist tatalaksana kesehatan dan reproduksi terdiri dari aspek lokasi, bangunan, dan fasilitas kandang; aspek higiene dan sanitasi; aspek kesehatan dan reproduksi, dan; penanganan limbah. Penilaian dalam checklist menggunakan kalimat negatif dan penyimpangannya dikategorikan sebagai baik, cukup, dan buruk.

Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan cara mewawancarai peternak responden dengan menggunakan kuesioner yang telah disusun secara terstruktur. Penilaian menggunakan checklist dilakukan dengan cara pengamatan dan pencatatan langsung oleh peneliti di lokasi peternakan. Keseluruhan checklist terdiri dari 32 pernyataan, jika terjadi penyimpangan diberi nilai 0 dan apabila tidak terjadi penyimpangan atau baik diberi nilai 1.

Kriteria aspek lokasi, bangunan, dan fasilitas kandang ditentukan melalui penilaian berdasarkan 15 pernyataan. Total nilai aspek ini berjumlah 15. Penilaian mengenai aspek lokasi, bangunan, dan fasilitas kandang yaitu:

 Aspek dinilai buruk jika nilai < 6

(40)

Kriteria aspek higiene dan sanitasi terdiri dari 7 pernyataan. Total nilai aspek ini berjumlah 7. Penilaian mengenai aspek higiene dan sanitasi yaitu:  Aspek dinilai buruk jika nilai < 3

 Aspek dinilai cukup jika nilainya 3 - 5  Aspek dinilai baik jika nilai > 5

Kriteria aspek kesehatan dan reproduksi ditentukan melalui penilaian berdasarkan 8 pernyataan. Total nilai aspek ini berjumlah 8. Penilaian mengenai aspek kesehatan dan reproduksi yaitu:

 Aspek dinilai buruk jika nilai < 4

 Aspek dinilai cukup jika nilainya antara 4 – 6  Aspek dinilai baik jika nilai > 6

Kriteria aspek penanganan limbah ditentukan melalui penilaian berdasarkan 2 pernyataan. Total nilai aspek ini berjumlah 2. Penilaian mengenai penanganan limbah yaitu:

 Aspek dinilai buruk jika nilai 0  Aspek dinilai cukup jika nilainya 1  Aspek dinilai baik jika nilai 2

Tatalaksana peternakan ditentukan berdasarkan penilaian keseluruhan aspek (aspek lokasi, bangunan, dan fasilitas kandang; aspek higiene dan sanitasi; aspek manajemen kesehatan dan reproduksi, dan; aspek penanganan limbah). Total nilai berjumlah 32. Penilaian mengenai tatalaksana peternakan yaitu:

 Peternakan dinilai buruk jika nilai < 11

 Peternakan dinilai cukup jika nilai antara 11 – 22  Peternakan dinilai baik jika nilai > 22

Analisis Data

Data yang diperoleh dan dikumpulkan dianalisis secara deskriptif menggunakan program Microsoft Excell 2007 dan SPSS 16.0. Data yang telah dikumpulkan diolah dalam tabel beserta variabelnya. Hubungan antar variabel ditentukan dengan menggunakan uji korelasi Spearman. Variabel yang diuji yaitu karakteristik peternak terhadap tatalaksana peternakan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Karakteristik Responden

Karakteristik responden yang diamati dalam penelitian ini meliputi jenis kelamin, umur, pendidikan terakhir, penyuluhan atau pelatihan bidang peternakan, lama beternak, status pekerjaan, pendapatan per bulan, dan total populasi. Karakteristik responden dapat dilihat pada Tabel 1.

(41)

3 Kriteria aspek higiene dan sanitasi terdiri dari 7 pernyataan. Total nilai aspek ini berjumlah 7. Penilaian mengenai aspek higiene dan sanitasi yaitu:  Aspek dinilai buruk jika nilai < 3

 Aspek dinilai cukup jika nilainya 3 - 5  Aspek dinilai baik jika nilai > 5

Kriteria aspek kesehatan dan reproduksi ditentukan melalui penilaian berdasarkan 8 pernyataan. Total nilai aspek ini berjumlah 8. Penilaian mengenai aspek kesehatan dan reproduksi yaitu:

 Aspek dinilai buruk jika nilai < 4

 Aspek dinilai cukup jika nilainya antara 4 – 6  Aspek dinilai baik jika nilai > 6

Kriteria aspek penanganan limbah ditentukan melalui penilaian berdasarkan 2 pernyataan. Total nilai aspek ini berjumlah 2. Penilaian mengenai penanganan limbah yaitu:

 Aspek dinilai buruk jika nilai 0  Aspek dinilai cukup jika nilainya 1  Aspek dinilai baik jika nilai 2

Tatalaksana peternakan ditentukan berdasarkan penilaian keseluruhan aspek (aspek lokasi, bangunan, dan fasilitas kandang; aspek higiene dan sanitasi; aspek manajemen kesehatan dan reproduksi, dan; aspek penanganan limbah). Total nilai berjumlah 32. Penilaian mengenai tatalaksana peternakan yaitu:

 Peternakan dinilai buruk jika nilai < 11

 Peternakan dinilai cukup jika nilai antara 11 – 22  Peternakan dinilai baik jika nilai > 22

Analisis Data

Data yang diperoleh dan dikumpulkan dianalisis secara deskriptif menggunakan program Microsoft Excell 2007 dan SPSS 16.0. Data yang telah dikumpulkan diolah dalam tabel beserta variabelnya. Hubungan antar variabel ditentukan dengan menggunakan uji korelasi Spearman. Variabel yang diuji yaitu karakteristik peternak terhadap tatalaksana peternakan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Karakteristik Responden

Karakteristik responden yang diamati dalam penelitian ini meliputi jenis kelamin, umur, pendidikan terakhir, penyuluhan atau pelatihan bidang peternakan, lama beternak, status pekerjaan, pendapatan per bulan, dan total populasi. Karakteristik responden dapat dilihat pada Tabel 1.

(42)

Tabel 1 Karakteristik peternak sapi perah KTTSP Baru Sireum

No. Karakteristik responden Jumlah

responden

8. Total populasi ternak

1 – 10 ekor 5 38.5

> 10 ekor 8 61.5

Responden yang berada di KTTSP Baru Sireum seluruhnya berjenis kelamin laki-laki, berkisar antara umur 30-80 tahun. Umur responden terbagi atas dua kategori, yaitu peternak yang berumur kurang dari atau sama dengan 50 tahun dan peternak yang berumur lebih dari 50 tahun. Komposisi umur tersebut mengindikasikan bahwa sebagian besar responden dalam umur produktif. Semakin muda usia responden (usia produktif) rasa keingintahuan terhadap sesuatu semakin tinggi dan semakin tinggi pula minat untuk mengadopsi kemajuan teknologi. Sebagian besar responden telah beternak sapi perah lebih dari sepuluh tahun. Menurut Lestariningsih dan Basuki (2008) pengalaman beternak berpengaruh terhadap keterampilan dan tingkat pengetahuan peternak mengenai ternaknya. Selain itu pengalaman beternak dapat dijadikan suatu pedoman dan penyesuaian terhadap suatu permasalahan yang dihadapi peternak pada masa yang akan datang.

(43)

5 tua atau melalui pelatihan dan penyuluhan yang dilakukan oleh kelompok tani atau dinas peternakan setempat. Sebanyak 69.2% responden menyatakan pernah mendapatkan pelatihan atau penyuluhan bidang peternakan. KTTSP Baru Sireum telah aktif melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan pendidikan para peternak melalui kegiatan penyuluhan, pelatihan dan pertemuan-pertemuan. Kegiatan penyuluhan akan mengubah perilaku peternak ke arah yang diharapkan sehingga pengetahuannya akan lebih meningkat, sikapnya akan lebih positif terhadap perubahan dan penerimaan inovasi, dan akan lebih terampil di dalam melaksanakan usaha ternaknya (Yunasaf dan Tasripin 2011).

Pada Tabel 1 dapat dilihat hampir seluruh responden berstatus sebagai pemilik peternakan. Hal ini mengindikasikan tingkat perhatian dan kualitas kerja yang baik karena beternak sapi adalah mata pencaharian utama bagi para responden. Pendapatan bersih peternak adalah hasil pengurangan dari penerimaan yang diperoleh dengan jumlah biaya yang dikeluarkan selama proses produksi (Saefullah et al. 2012). Peternak yang menerima penghasilan bersih per bulan kurang dari 2.5 juta rupiah (46.2%), 2.5 – 5 juta rupiah (23.1%), tidak tentu dan di atas 5 juta rupiah per bulan masing-masing sebesar 15.4%. Jumlah kepemilikan ternak sapi perah pada penelitian ini berada pada dua kelompok, yaitu 1 – 10 ekor (38.5%) dan di atas 10 ekor (61.5%). Dapat dilihat bahwa masih cukup banyak peternak yang memiliki sapinya kurang dari 10 ekor, hal tersebut dapat mempengaruhi tingkat pendapatan bagi peternak itu sendiri. Jumlah kepemilikan sapi perah yang ideal agar usaha ini menguntungkan dan dapat menjamin pendapatan peternak adalah minimal 10 ekor (Sudono 1999).

Manajemen Pemeliharaan

Manajemen pemeliharaan sapi perah mencakup manajemen perkandangan, serta manajemen pakan dan sumber air. Tabel 2 menunjukkan manajemen perkandangan di KTTSP Baru Sireum.

Tabel 2 Manajemen perkandangan di KTTSP Baru Sireum

No. Perkandangan Jumlah

(44)

Keseluruhan responden menggunakan lantai kandang padat yang terbuat dari semen. Lantai kandang dibuat dengan posisi sedikit miring agar mudah dibersihkan dan selalu kering. Selain itu juga dibuat selokan atau parit agar tidak terjadi genangan air. Dengan adanya parit ini maka air pembersih lantai, air untuk memandikan sapi, urin, dan kotoran sapi dapat mudah terkumpul, yang selanjutnya dapat disalurkan ke penampungan biogas atau langsung ke selokan. Sebagian besar responden menggunakan asbes sebagai atap kandang. Pada daerah-daerah yang banyak angin tidak dianjurkan memakai bahan atap dari genteng. Sedangkan pada daerah-daerah yang berhawa dingin, bahan atap dapat dari asbes ataupun seng (Siregar 1996). Menurut Soetarno (2003) ditinjau dari fungsinya kandang sapi perah dapat dibedakan menjadi kandang induk, kandang pedet, kandang pejantan, dan kandang isolasi. Masing-masing kandang tersebut memiliki ukuran dan konstruksi yang berbeda.

Manajemen pakan dan sumber air merupakan salah satu aspek yang dinilai dalam pemeliharaan sapi perah. Secara rinci manajemen pakan dan sumber air dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3 Manajemen pakan dan sumber air di KTTSP Baru Sireum

No. Pakan dan sumber air Jumlah

responden

% dari total responden

1. Pemberian pakan dalam satu hari

1 kali 0 0.0

2 kali 10 76.9

> 2 kali 3 23.1

2. Waktu pemberian hijauan

Sebelum pemerahan 1 7.7

Setelah pemerahan 11 84.6

Ad libitum 1 7.7

3. Jumlah pemberian hijauan

1 - 30 kg/ekor/hari 6 46.2

5. Jumlah pemberian konsentrat

1- 6 kg/ekor/hari 0 0.0

≥ 7 kg/ekor/hari 10 76.9

Tidak tentu/seadanya 3 23.1

6. Sumber air peternakan

Sungai 5 38.5

Mata air gunung 8 61.5

(45)

7 Pemberian hijauan dan konsentrat sebagai komponen ransum sapi perah perlu diperhatikan jumlah, kandungan dan kualitasnya karena ransum tidak hanya mempengaruhi produksi tetapi juga mempengaruhi kualitas bahan padat susu (Pangestu et al. 2003). Seluruh responden memberikan hijauan dan konsentrat dalam ransum ternaknya. Pakan hijauan dapat berupa rumput gajah maupun rumput lapang. Pakan konsentrat yang digunakan responden merupakan konsentrat siap pakai yang disediakan oleh KUD. Umumnya responden memberikan pakan dua kali sehari. Pakan hijauan yang diberikan responden untuk sapi dewasa sebanyak kurang dari 30 kg/ekor/hari (46.2%), 30-40 kg/ekor/hari (38.5%), dan lebih dari 50 kg/ekor/hari (15.4%). Pemberian pakan pada sapi perah dilakukan dua kali sehari rata-rata sebanyak 35-40 kg per ekor per hari untuk sapi yang diperah (Siregar 2007). Semua responden mendapatkan hijauan dengan cara mencari sendiri di lahan pegunungan yang berada di kawasan Cisarua.

Mayoritas responden memberikan konsentrat pada sapi dewasa sebanyak lebih dari atau sama dengan 7 kg per ekor per hari. Jumlah pemberian konsentrat tersebut telah sesuai dengan pemberian konsentrat ideal menurut Siregar (2007) yaitu 7 kg per ekor per hari. Sebagian besar responden memberikan konsentrat sebelum dilakukan pemerahan dan memberikan pakan hijauan setelah pemerahan. Pemberian konsentrat dilakukan setiap setengah jam sebelum pemerahan, sering pula pemberian konsentrat dilakukan pada waktu pemerahan. Pemberiannya sedikit saja agar sapi yang sedang diperah lebih tenang, sedangkan pemberian hijauan sesudah selesai pemerahan (Siregar 1996). Pemberian konsentrat dan hijauan yang hampir bersamaan waktunya dapat menurunkan kecernaan hijauan. Hal ini terjadi karena mikroorganisme dalam rumen mempunyai preferensi untuk mencerna konsentrat lebih dahulu karena konsentrat lebih mudah dicerna dari pada rumput (Siregar 1992).

Untuk pemenuhan kebutuhan air minum ternak, air untuk kandang dan peralatan, responden memperolehnya dari mata air gunung dan air sungai yang mengalir di dekat peternakan. Letak desa Cibeureum yang berada di daerah pegunungan memungkinkan peternak untuk mendapatkan sumber air yang sangat melimpah, baik dari mata air maupun aliran sungai yang belum banyak tercemar limbah. Namun kualitas air yang berasal dari mata air tentunya lebih baik daripada air yang diperoleh dari sungai.

Manajemen Kesehatan

(46)

Tabel 4 Manajemen kesehatan ternak di KTTSP Baru Sireum

No. Aspek kesehatan Jumlah responden % dari total

responden

4. Tindakan yang dilakukan bila ada ternak sakit

Diobati sendiri 5 38.5

Diobati dokter hewan/mantri 8 61.5

5. Pelaporan ternak sakit/mati

Dilaporkan 11 84.6

Tidak dilaporkan 2 15.4

6. Vaksinasi rutin ternak

Ya 12 92.3

Tidak 1 7.7

Seluruh responden menyatakan bahwa mereka melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap ternaknya. Pemeriksaan kesehatan dilakukan oleh dokter hewan dan mantri/paramedis. Frekuensi pemeriksaan kesehatan hewan dilakukan oleh sebagian besar responden secara tidak tentu atau tidak teratur. Bila terdapat ternak yang sakit sebanyak 38.5% responden mengobati ternaknya sendiri, sedangkan 61.5% responden lainnya menyatakan ternaknya diobati oleh doker hewan. Pengetahuan tata cara dan dosis pemberian obat-obatan terutama antibiotik sangat penting agar tidak meninggalkan residu pada produk asal hewan (Gustiani 2009). Oleh karena itu pemberian obat-obatan sebaiknya diberikan oleh dokter hewan. Mayoritas responden melaporkan ternak yang sakit atau mati kepada kelompok tani atau pihak terkait.

(47)

9 Manajemen Reproduksi

Manajemen reproduksi yang diamati dalam penelitian ini meliputi cara mengawinkan ternak, faktor inseminator, pemeriksa kebuntingan, proses kelahiran, pemberian kolostrum, dan penyapihan pedet. Manajemen reproduksi di KTTSP Baru Sireum dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5 Manajemen reproduksi di KTTSP Baru Sireum

No. Manajemen reproduksi Jumlah responden % dari total

responden

1. Cara mengawinkan ternak

IB 13 100.0

4. Pembantu proses kelahiran

Dokter hewan 1 7.7 mengawinkan ternaknya dengan cara IB. Sistem IB dinilai lebih menguntungkan karena praktis, hemat waktu, hemat tenaga, hemat biaya, serta menekan tingkat penyebaran penyakit. Setelah 2-3 bulan dilakukan IB selanjutnya dilakukan pemeriksaan kebuntingan. Jika sapi tidak menunjukkan tanda-tanda kebuntingan maka inseminator akan melakukan IB setelah sapi tersebut birahi kembali. Inseminasi dan pemeriksaan kebuntingan dilakukan oleh dokter hewan atau mantri. Dalam menangani proses kelahiran sebagian besar responden (53.8%) mempercayakan kepada para pekerjanya, dan 38.5% menangani kelahiran bersama dengan dokter hewan.

Gambar

Tabel 1 Karakteristik peternak sapi perah KTTSP Baru Sireum
Tabel 2 Manajemen perkandangan di KTTSP Baru Sireum
Tabel 3 Manajemen pakan dan sumber air di KTTSP Baru Sireum
Tabel 4 Manajemen kesehatan ternak di KTTSP Baru Sireum
+7

Referensi

Dokumen terkait

Hasil uji serologi in vitro dengan uji SN menunjukkan bahwa titer antibodi anti anti-idiotipe (Ab 3 ) antara perlakuan Ab 2 dengan vaksin AI H5N1 tidak ditemukan perbedaan

Persamaan dasar fluida dua lapisan diturunkan berdasarkan asumsi fluida tak mampat dan tak kental yang tak berotasi.Persamaan dasar yang diperoleh berupa persamaan

Beribu manfaat tentang informasi dan teknologi di bidang pendidikan dan kebudayaan bisa didapatkan oleh masyarakat melalui kanal-kanal di laman http://kemdikbud.go.id sesuai dengan

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh retrun on equity(ROE), ukuran perusahaan, deviden payout ratio(DPR) dan price earning ratio (PER) terhadap

Tujuan Penelitian : Menganalisis hubungan antara asupan zat gizi mikro (vitamin B1, vitamin B6, vitamin C, dan zat besi) dan komposisi lemak tubuh dengan tingkat kebugaran

Bapak Suep selaku pemilik warung soto ayam ini tidak mengalami kerugian jika harga sotonya dijual dengan harga Rp 5000, karena menurutnya dengan harga tersebut sudah dapat

Teknik sampling yang digunakan pada penelitian ini adalah dengan menggunakan total sampling yakni seluruh kasus baru kecelakaan yang dibawa ke UGD UPT

PROCRAM STUDI ILMU KEHTRAWATAN FAKULTAS KIiDOKTf, iRAI{. UNIWRSITAS