• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Modal Sosial dan Partisipasi Masyarakat dalam Program Pengembangan Masyarakat

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Analisis Modal Sosial dan Partisipasi Masyarakat dalam Program Pengembangan Masyarakat"

Copied!
74
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISI

MASYARAKA

KOMUNIKA F

I DEPARTEMEN SAINS K F

I

IS MODAL SOSIAL DAN PARTISI

AT DALAM PROGRAM PENGEM

MASYARAKAT

RESTI TARYANIA

DEPARTEMEN SAINS

ASI DAN PENGEMBANGAN MASYA FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2013

KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGA FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

2013

IPASI

MBANGAN

ARAKAT

(2)
(3)

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Analisis Modal Sosial dan Partisipasi Masyarakat dalam Program Pengembangan Masyarakat adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

Bogor, September 2013

Resti Taryania

(4)

ABSTRAK

RESTI TARYANIA. Analisis Modal Sosial dan Partisipasi Masyarakat dalam Program Pengembangan Masyarakat. Dibimbing oleh IVANOVICH AGUSTA.

Pendekatan pengembangan dan pemberdayaan masyarakat di Indonesia selama ini telah banyak diupayakan melalui berbagai kegiatan pembangunan sektoral maupun regional. Akan tetapi berbagai kegiatan itu masih dianggap kurang efektif dan dilaksanakan secara parsial dan tidak berkelanjutan sehingga digulirkanlah program pengembangan masyarakat dimana masyarakat menjadi pelaku utama dari program tersebut, strategi ini digunakan bertujuan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam upaya membuat suatu program yang berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat. Modal sosial sebagai salah satu aspek penting yang menunjang keberhasilan dan keberlanjutan suatu program pengembangan masyarakat. Di antara urgensi tersebut adalah melalui peranan modal sosial dalam meningkatkan partisipasi masyarakat. Di daerah pedesaan, modal sosial yang terbangun lebih erat (tinggi) terkait dengan budaya masyarakat pedesaan. Modal sosial akan cenderung lebih terlihat ketika di pedesaan tersebut terdapat suatu program pengembangan masyarakat yang mampu mewadahi aspirasi dan kebutuhan masyarakat. Penelitian ini dilakukan untuk melihat pengaruh modal sosial terhadap partisipasi masyarakat dalam program pengembangan masyarakat yang ada di Kampung Cangkurawok, Desa Babakan.

Kata kunci: modal sosial, partisipasi, program pengembangan masyarakat

ABSTRACT

RESTI TARYANIA. Analysis Capital Social and Participation in Development Community Program. Supervised by IVANOVICH AGUSTA.

Approach to development and community development in Indonesia has been widely pursued through a variety of sectoral and regional development activities. However, various activities were still considered to be less effective and partially implemented and unsustainable, so established community development program where the community is the main actor of the program, the strategy used aimed to increase community participation in efforts to create a sustainable program for the welfare of the community. Social capital as an important aspect to the success and sustainability of a community development program. Among the urgency is over the role of social capital in community participation. In rural areas, social capital is believed to be more tightly woke up (high) associated with the culture of rural communities. This social capital is likely to be more noticeable when in the countryside there is a community development program that is able to accommodate the aspirations and needs of the community. This study was conducted to see the effect of social capital on community participation in community development programs in Kampung Cangkurawok, Babakan village.

(5)

ANALISIS MODAL SOSIAL DAN PARTISIPASI

MASYARAKAT DALAM PROGRAM PENGEMBANGAN

MASYARAKAT

RESTI TARYANIA

Skripsi

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat pada Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat

DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

(6)
(7)
(8)

NIM : I34090074

Disetujui oleh

Dr Ivanovich Agusta, SP, MSi. Pembimbing

Diketahui oleh

Dr Ir Soeryo Adiwibowo, MS. Ketua Departemen

(9)

PRAKATA

Segala puji bagi Allah SWT Tuhan yang Maha Esa yang kebenaran dan keberadaan-Nya tidak dapat diragukan oleh siapapun. Berkat rahmat nikmat dan karunia-Nya lah penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Analisis Modal Sosial dan Partisipasi Masyarakat dalam Program Pengembangan Masyarakat” sebagai syarat perolehan gelar sarjana pada Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor. Ucapan terima kasih kepada Bapak Dr Ivanovich Agusta, SP, Msi selaku pembimbing skripsi penulis yang senantiasa memberikan semangat dan saran kepada penulis selama proses penulisan hingga penyelesaian karya tulis ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tua yang selalu memberi nasihat dan materi, juga kepada orang terkasih yang senantiasa memberi semangat dan juga membantu dalam proses penulisan.

Semoga karya tulis ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak.

Bogor, September 2013

(10)

DAFTAR TABEL xi

DAFTAR GAMBAR xiii

DAFTAR LAMPIRAN xiv

PENDAHULUAN 1

Latar Belakang 1

Perumusan Masalah 2

Tujuan Penelitian 2

Kegunaan Penelitian 3

PENDEKATAN TEORITIS 5

Tinjauan Pustaka 5

Konsep Modal Sosial 5 Konsep Partisipasi Masyarakat 6 Konsep Pengembangan Masyarakat 10

Kerangka Pemikiran 11

Hipotesis 12

Definisi Operasional 12

METODE PENELITIAN 17

Lokasi dan Waktu 17

Teknik Sampling 17

Pengumpulan Data 17

Pengolahan dan Analisis Data 18 GAMBARAN LOKASI PENELITIAN 19 Letak dan Keadaan Fisik 19 Profil Lembaga Posdaya Geulis Bageur 20 Profil Progam-Program Posdaya Geulis Bageur 20 Program Lingkungan 20 Program Pendidikan 21

Program Kesehatan 21

Program Ekonomi 21

KONDISI SOSIAL EKONOMI PESERTA PROGRAM POSDAYA GEULIS BAGEUR

23

Usia 23

Status Pernikahan 24

Tingkat Pendidikan 24

Pekerjaan 25

Tingkat Pendapatan 26

Ikhtisar 27

TINGKAT PARTISIPASI PESERTA PROGRAM POSDAYA GEULIS BAGEUR

(11)

PROGRAM POSDAYA GEULIS BAGEUR

Tingkat Kepercayaan dan Partisipasi dalam Perencanaan 36 Tingkat Kepercayaan dan Partisipasi dalam Pelaksanaan 37 Tingkat Kepercayaan dan Partisipasi dalam Pemanfaatan Hasil 37 Tingkat Kepercayaan dan Partisipasi dalam Evaluasi 38 TINGKAT NORMA TERHADAP PARTISIPASI PESERTA PROGRAM POSDAYA GEULIS BAGEUR

41

Tingkat Norma dan Partisipasi dalam Perencanaan 41 Tingkat Norma dan Partisipasi dalam Pelaksanaan 42 Tingkat Norma dan Partisipasi dalam Pemanfaatan Hasil 43 Tingkat Norma dan Partisipasi dalam Evaluasi 43 TINGKAT JARINGAN TERHADAP PARTISIPASI PESERTA PROGRAM POSDAYA GEULIS BAGEUR

45

Tingkat Jaringan dan Partisipasi dalam Perencanaan 45 Tingkat Jaringan dan Partisipasi dalam Pelaksanaan 46 Tingkat Jaringan dan Partisipasi dalam Pemanfaatan Hasil 47 Tingkat Jaringan dan Partisipasi dalam Evaluasi 47

SIMPULAN DAN SARAN 49

Simpulan 49

Saran 49

DAFTAR PUSTAKA 51

LAMPIRAN 53

(12)

melalui tahapan partisipasi Uphoff (1979)

Tabel 2 Kombinasi tahapan partisipasi Uphoff (1979) dengan tingkat partisipasi Arnstein (1969)

15

Tabel 3 Jumlah Penduduk Desa Babakan Berdasarkan Jenis Kelamin 19 Tabel 4 Jumlah dan Persentase Pemeluk Agama Berdasarkan Jenis

Kelamin Penduduk Desa Babakan

20

Tabel 5 Jumlah dan Persentase Responden Berdasarkan Golongan Usia dan Jenis Kelamin

23

Tabel 6 Jumlah dan Persentase Responden Berdasarkan Status Pernikahan dan Jenis Kelamin

24

Tabel 7 Jumlah dan Persentase Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan dan Jenis Kelamin

25

Tabel 8 Jumlah dan Persentase Responden Berdasarkan Pekerjaan dan Jenis Kelamin

26

Tabel 9 Jumlah dan Persentase Responden Berdasarkan Tingkat Pendapatan dan Jenis Kelamin

26

Tabel 10 Jumlah dan Persentase Responden Berdasarkan Tingkat Partisipasi dalam Perencanaan

29

Tabel 11 Jumlah dan Persentase Responden Berdasarkan Tingkat Partisipasi dalam Pelaksanaan

30

Tabel 12 Jumlah dan Persentase Responden Berdasarkan Tingkat Partisipasi dalam Perencanaan Hasil

31

Tabel 13 Jumlah dan Persentase Responden Berdasarkan Tingkat Partisipasi dalam Evaluasi

32

Tabel 14 Jumlah dan Persentase Tingkat Kepercayaan Peserta Program Posdaya Geulis Bageur

35

Tabel 15 Jumlah dan Persentase Responden Berdasarkan Tingkat Kepercayaan dan Tingkat Partisipasi pada Perencanaan

36

Tabel 16 Jumlah dan Persentase Responden Berdasarkan Tingkat Kepercayaan dan Tingkat Partisipasi pada Pelaksanaan

37

Tabel 17 Jumlah dan Persentase Responden Berdasarkan Tingkat Kepercayaan dan Tingkat Partisipasi pada Pemanfaatan Hasil

38

Tabel 18 Jumlah dan Persentase Responden Berdasarkan Tingkat Kepercayaan dan Tingkat Partisipasi pada Evaluasi

38

Tabel 19 Jumlah dan Persentase Responden Berdasarkan Tingkat Norma Peserta Posdaya Geulis Bageur

41

Tabel 20 Jumlah dan Persentase Responden Berdasarkan Tingkat Norma dan Tingkat Partisipasi pada Perencanaan

42

Tabel 21 Jumlah dan Persentase Responden Berdasarkan Tingkat Norma dan Tingkat Partisipasi pada Pelaksanaan

42

Tabel 22 Jumlah dan Persentase Responden Berdasarkan Tingkat Norma dan Tingkat Partisipasi pada Pemanfaatan Hasil

43

Tabel 23 Jumlah dan Persentase Responden Berdasarkan Tingkat Norma dan Tingkat Partisipasi pada Evaluasi

44

(13)

Jaringan Peserta Program Posdaya Geulis Bageur

Tabel 25 Jumlah dan Persentase Responden Berdasarkan Tingkat Jaringan dan Tingkat Partisipasi pada Perencanaan

46

Tabel 26 Jumlah dan Persentase Responden Berdasarkan Tingkat Jaringan dan Tingkat Partisipasi pada Pelaksanaan

46

Tabel 27 Jumlah dan Persentase Responden Berdasarkan Tingkat Jaringan dan Tingkat Partisipasi pada Pemanfaatan Hasil

47

Tabel 28 Jumlah dan Persentase Responden Berdasarkan Tingkat Jaringan dan Tingkat Partisipasi pada Evaluasi

48

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Delapan Tingkatan dalam Tangga Partisipasi Masyarakat 9 Gambar 2 Kerangka Pemikiran Analisis Modal Sosial dan Partisipasi

Masyarakat dalam Program Pengembangan Masyarakat

12

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Sketsa Kampung Cangkurawok, Desa Babakan, Kecamatan Darmaga, Kabupaten Bogor

53

(14)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Peningkatan kualitas manusia sebagai sumber daya pembangunan merupakan prasyarat utama untuk memperbaiki derajat kesejahteraan rakyat. Tujuan utama pembangunan millenium (MDGs) di Indonesia dengan prioritas pengentasan kemiskinan ditargetkan bahwa proporsi penduduk miskin pada tahun 2015 turun menjadi 8,2% dari jumlah penduduk. Keputusan itu merupakan tekad dan kebijaksanaan pemerintah yang perlu didukung semua instansi dan institusi pembangunan. Agar upaya itu berhasil dengan baik perlu diikuti pengembangan gerakan pemberdayaan keluarga yang dilaksanakan secara intensif. Pembangunan ekonomi yang akan menghasilkan pertumbuhan ekonomi perlu melibatkan partisipasi masyarakat agar pembangunan yang dilakukan seimbang dan mencapai sasaran (Muljono 2010).

Pembangunan ekonomi harus diimbangi dengan peningkatan partisipasi sosial. Sosial advokasi juga perlu dilakukan agar komitmen pembangunan lebih kuat Mengacu pada kondisi bahwa berbagai program pengentasan kemiskinan yang dijalankan pada saat yang lalu kurang dapat menjalankan fungsi sesuai dengan yang diharapkan, maka salah satu potensi dan peluang untuk melakukan program pemberdayaan masyarakat dan pengentasan kemiskinan saat ini adalah melalui model pos pemberdayaan keluarga (Posdaya).

Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) merupakan suatu Forum Silaturahmi, advokasi, komunikasi, informasi, edukasi, dan sekaligus bisa dikembangkan menjadi wadah koordinasi kegiatan penguatan fungsi-fungsi kekeluargaan secara terpadu. Penguatan fungsi-fungsi utama tersebut diharapkan memungkinkan setiap keluarga makin mampu membangun dirinya menjadi keluarga sejahtera, keluarga yang mandiri dan keluarga yang sanggup menghadapi tantangan masa depan dengan lebih baik. Dapat dikatakan bahwa Posdaya merupakan wahana pemberdayaan 8 fungsi keluarga secara terpadu, utamanya fungsi agama, atau ketuhanan yang maha esa, fungsi budaya, fungsi cinta kasih, fungsi perlindungan, fungsi reproduksi dan kesehatan, fungsi pendidikan, fungsi ekonomi atau wirausaha dan fungsi lingkungan.

Posdaya merupakan gagasan baru guna menyambut anjuran pemerintah untuk membangun sumberdaya manusia melalui partisipasi keluarga secara aktif. Proses pemberdayaan itu diprioritaskan pada peningkatan kemampuan keluarga untuk bekerja keras mengentaskan kebodohan, kemalasan dan kemiskinan dalam arti yang luas. Sasaran kegiatan yang dituju adalah terselenggarakannya upaya bersama agar setiap keluarga mempunyai kemampuan melaksanakan delapan fungsi keluarga. Dalam rangka pelaksanaan Millenium Development Goals

(MDGs), pengembangan fungsi keluarga tersebut diarahkan kepada lima prioritas sasaran utama, yaitu (1) komitmen pada pimpinan dan sesepuh tingkat desa dan pedukuhan, kecamatan dan kabupaten, (2) pengembangan fungsi keagamaan, fungsi KB dan kesehatan, (3) fungsi pendidikan, (4) fungsi kewirausahaan dan (5) fungsi lingkungan hidup yang memberi makna terhadap kehidupan keluarga yang bahagia dan sejahtera.

(15)

seperti sakit, baik yang berupa sakit dalam pengertian jasmani maupun sakit dalam pengertian sakit sebagai akibat terganggunya hubungan antara individu (penderita sakit) dengan lingkungan fisik atau lingkungan sosialnya, karena itu segala bentuk pengobatan yang diberikan ditujukan untuk menormalkan kembali permasalahan yang dihadapi. Dalam kaitannya dengan pemberdayaan upaya meningkatkan kesejahteraan dan kesehatan masyarakat tidak hanya berfokus pada upaya membuat individu yang belum berdaya hanya mampu berdaya dalam memenuhi “kebutuhan perut’’ saja, akan tetapi mampu membuat individu tersebut memenuhi kebutuhan-kebutuhan lainnya. Oleh karena itu posdaya diharapkan mampu membangun modal sosial yang kuat ditataran pelaksana program sehingga dapat mempengaruhi tingginya tingkat partisipasi dan tingkat kepercayaan masyarakat, dengan keberdayaan masyarakat sebagai hasil akhir yang diharapkan dari program-program yang dijalankan sehingga menjadi penting untuk menganalisa mengenai modal sosial ekonomi rumah tangga dan modal sosial pada berbagai tingkat partisipasi peserta program Posdaya.

Perumusan Masalah

Keberhasilan suatu program Posdaya memiliki hubungan dengan partisipasi dari peserta program Posdaya itu sendiri. Partisipasi peserta program memiliki hubungan dengan modal sosial yang dimiliki oleh peserta program tersebut. Untuk itu perlu dikaji lebih lanjut mengenai:

1. Sejauhmana tingkat partisipasi peserta program pengembangan masyarakat?

2. Sejauhmana hubungan tingkat kepercayaan terhadap tingkat partisipasi masyarakat dalam program pengembangan masyarakat?

3. Sejauhmana hubungan norma terhadap tingkat partisipasi masyarakat dalam program pengembangan masyarakat?

4. Sejauhmana hubungan jaringan terhadap tingkat partisipasi masyarakat dalam program pengembangan masyarakat?

Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang telah dipaparkan di atas, maka tujuan dari penulisan proposal penelitian ditetapkan sebagai berikut:

1. Mengidentifikasi tingkat partisipasi peserta program pengembangan masyarakat.

2. Menganalisis pengaruh tingkat kepercayaan dengan tingkat partisipasi peserta dalam program pengembangan masyarakat.

3. Menganalisis pengaruh norma dengan tingkat partisipasi peserta dalam program pengembangan masyarakat.

(16)

Kegunaan Penelitian

Penelitian ini diharapkan sebagai pengenalan lebih lanjut mengenai kondisi modal sosial masyarakat dan pengaruh terhadap tingkat partisipasi masyaraka dalam suatu program pengembangan masyarakat. Melalui penelitian ini, terdapat juga beberapa hal yang ingin penulis sumbangkan pada berbagai pihak, yaitu:

1. Akademisi, dimana penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi peneliti yang ingin mengkaji lebih lanjut mengenai modal sosial dan pengaruhnya terhadap tingkat partisipasi suatu program.

2. Masyarakat, dimana penelitian ini diharapkan dapat memberi dampak positif bagi masyarakat, khususnya untuk menambah pengetahuan tentang kondisi modal sosial masyarakat sekitar.

(17)
(18)

PENDEKATAN TEORITIS

Tinjauan Pustaka

Konsep Modal Sosial

Menurut Bourdieu (1986), modal sosial merupakan wujud nyata (sumberdaya) dari suatu interaksi kelompok. Modal sosial merupakan jaringan kerja yang bersifat dinamis dan bukan alamiah. Modal sosial merupakan investasi strategis baik secara individu maupun kelompok. Sadar ataupun tidak sadar bahwa modal sosial dapat menghasilkan hubungan sosial secara langsung dan tidak langsung dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Merujuk pada Ridell (1997), terdapat tiga parameter kapital sosial yang meliputi kepercayaan (trust), norma-norma (norms), dan jaringan-jaringan (networks).

Kepercayaan

Kepercayaan adalah harapan yang tumbuh di dalam sebuah masyarakat yang ditunjukkan oleh adanya perilaku jujur, teratur, dan kerjasama berdasarkan norma-norma yang dianut bersama. Kepercayaan sosial merupakan penerapan terhadap pemahaman ini. Cox (1995) menyebutkan bahwa dalam masyarakat yang memiliki tingkat kepercayaan tinggi, aturan-aturan sosial cenderung bersifat positif, hubungan-hubungan juga bersifat kerjasama. Adanya kapital sosial yang baik ditandai oleh adanya lembaga-lembaga sosial yang kokoh. Kapital sosial melahirkan kehidupan sosial yang harmonis (Putnam 1995). Rasa percaya diri (trust) adalah suatu bentuk keinginan untuk mengambil resiko dalam hubungan-hubungan sosialnya yang didasari oleh perasaan yakin bahwa yang lain akan melakukan sesuatu seperti yang diharapkan dan akan senantiasa bertindak dalam suatu pola tindakan yang saling mendukung, paling tidak yang lain tidak akan bertindak merugikan diri dan kelompoknya.

Norma

Norma-norma terdiri dari pemahaman-pemahaman, nilai-nilai, harapan-harapan dan tujuan yang diyakini dan dijalankan bersama oleh sekelompok orang. Norma-norma dapat bersumber dari agama, panduan moral, maupun standar-standar sekuler seperti halnya kode etik profesional. Norma-norma dibangun dan berkembang berdasarkan sejarah kerjasama di masa lalu dan diterapkan untuk mendukung iklim kerja sama. Norma-norma dapat merupakan pra-kondisi maupun produk dari kepercayaan sosial.

Jaringan

Infrastruktur dinamis dari kapital sosial berwujud jaringan-jaringan kerjasama antar manusia. Jaringan tersebut memfasilitasi terjadinya komunikasi dan interaksi, memungkinkan tumbuhnya kepercayaan dan memperkuat kerjasama. Masyarakat yang sehat cenderung memiliki jaringan-jaringan sosial yang kokoh.

(19)

1. Hubungan sosial (jaringan); yang merupakan pola-pola hubungan pertukaran dan kerjasama yang melibatkan materi dan non materi. Hubungan ini memfasilitasi tindakan kolektif yang saling menguntungkan dan berbasis pada kebutuhan atau hubungan biasa. Komponen ini termasuk ke dalam kategori struktural,

2. Norma; merupakan kesepakatan-kesepakatan tentang aturan yang diyakini dan disetujui bersama. Komponen ini termasuk ke dalam kategori kognitif, 3. Kepercayaan; komponen ini menunjukkan norma tentang hubungan timbal balik, nlai-nilai untuk menjadi orang yang layak dipercaya. Komponen ini termasuk ke dalam kategori kognitif,

4. Solidaritas; terdapat norma untuk menolong orang lain, kebersamaan, sikap-sikap kepatuhan dan kesetiaan terhadap kelompok serta keyakinan bahwa anggota lain juga akan melaksanakan hal yang serupa. Komponen ini termasuk ke dalam kategori struktural,

5. Kerjasama; terdapat norma untuk bekerja sama, sikap kooperatif, keinginan untuk membaktikan diri, akomodatif serta menerima tugas untuk kepentingan bersama. Komponen ini termasuk ke dalam kategori kognitif.

Dimensi kapital sosial menggambarkan segala sesuatu yang membuat masyarakat bersekutu untuk mencapai tujuan bersama atas dasar kebersamaan, serta di dalamnya diikat oleh nilai-nilai dan norma-norma yang tumbuh dan dipatuhi (Dasgupta dan Serageldin 1999). Dimensi modal sosial inheren dalam struktur relasi sosial dan jaringan sosial di dalam suatu masyarakat yang menciptakan berbagai ragam kewajiban sosial, menciptakan iklim saling percaya, membawa saluran informasi, dan menetapkan norma-norma, serta sanksi-sanksi sosial bagi para anggota masyarakat tersebut (Coleman 1990). Namun demikian Fukuyama (1995) dengan tegas menyatakan, belum tentu norma-norma dan nilai-nilai bersama yang dipedomani sebagai acuan bersikap, bertindak, dan bertingkah laku itu otomatis menjadi modal sosial. Akan tetapi hanyalah norma-norma dan nilai-nilai bersama yang dibangkitkan oleh kepercayaan (trust). Dimana trust ini merupakan harapan-harapan terhadap keteraturan, kejujuran, dan perilaku kooperatif yang muncul dari dalam sebuah komunitas masyarakat yang didasarkan pada norma-norma yang dianut bersama oleh para anggotanya. Norma-norma tersebut bisa berisi pernyataan-pernyataan yang berkisar pada nilai-nilai luhur (kebajikan) dan keadilan.

Konsep Partisipasi Masyarakat dan Pengembangan Masyarakat

(20)

1) Tahap perencanaan, ditandai dengan keterlibatan masyarakat dalam kegiatan-kegiatan yang merencanakan program pembangunan yang akan dilaksanakan di desa, serta menyusun rencana kerjanya.

2) Tahap pelaksanaan, yang merupakan tahap terpenting dalam pembangunan, sebab inti dari pembangunan adalah pelaksanaannya. Wujud nyata partisipasi pada tahap ini dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu partisipasi dalam bentuk sumbangan pemikiran, bentuk sumbangan materi, dan bentuk keterlibatan sebagai anggota proyek.

3) Tahap menikmati hasil, yang dapat dijadikan indikator keberhasilan partisipasi masyarakat pada tahap perencanaan dan pelaksanaan proyek. Selain itu, dengan melihat posisi masyarakat sebagai subjek pembangunan, maka semakin besar manfaat proyek dirasakan, berarti proyek tersebut berhasil mengenai sasaran.

4) Tahap evaluasi, dianggap penting sebab partisipasi masyarakat pada tahap ini dianggap sebagai umpan balik yang dapat memberi masukan demi perbaikan pelaksanaan proyek selanjutnya.

Dalam makalahnya yang berjudul “A Ladder of Citizen Participation” dalam Journal of The American Planning Association (1969), Arnsterin mengemukakan delapan tangga atau tingkatan partisipasi. Delapan tingkat tersebut diuraikan sebagai berikut:

1. Manipulation (Manipulasi)

Dengan mengatasnanmakan partisipasi, masyarakat diikutkan sebagai “stempel karet” dalam badan penasihat. Tujuannya adalah untuk dipakai sebagai formalitas semata dan untuk dimanfaatkan dukungannya. Tingkat ini bukanlah tingkat partisipasi masyarakat yang murni, karena telah diselewengkan dan dipakai sebagai alat publikasi oleh penguasa.

2. Therapy (Terapi)

Pada tingkat terapi atau pengobatan ini, pemegang kekuasaan sama dengan ahli kesehatan jiwa. Mereka menganggap ketidakberdaayan sebagai penyakit mental. Dengan berpura-pura mengikutsertakan masyarakat dalam suatu perencanaan, mereka sebenarnya menganggap masyarakat sebagai sekelompok orang yang memerlukan pengobatan. Meskipun masyarakat dilibatkan dalam berbagai kegiatan namun pada dasarnya kegiatan tersebut bertujuan untuk menghilangkan lukanya dan bukannya menemukan penyebab lukanya.

3. Informing (Menginformasikan)

Dengan memberi informasi kepada masyarakat akan hak, tanggung jawab, dan pilihan mereka merupakan langkah awal yang sangat penting dalam pelaksanaan partisipasi masyarakat. namun seringkali pemberian informasi dari penguasa kepada masyarakat tersebut bersifat satu arah. Masyarakat tidak memiliki kesempatan untuk memberikan umpan balik dan tidak memiliki kekuatan untuk negosiasi. Apalagi ketika informasi disampaikan pada akhir perencanaan, masyarakat hanya memiliki sedikit kesempatan untuk mempengaruhi program. Komunikasi satu arah ini biasanya dengan menggunakan media pemberitahuan, pamflet dan poster.

4. Consultation (Konsultasi)

(21)

tidak ada jaminan bahwa pendapat mereka akan diperhatikan. Cara yang sering digunakan dalam tingkat ini adalah jajak pendapat, pertemuan warga dan dengar pendapat. Jika pemegang kekuasaan membatasi usulan masyrakat, maka kegiatan tersebut hanyalah partisipasi palsu. Masyarakat pada dasarnya hanya dianggap sebagai abstraksi statistik, karena partisipasi mereka diukur dari frekuensi kehadiran dalam pertemuan, seberapa banyak brosur yang dibawa pulang dan juga seberapa banyak dari kuesioner dijawab. Dengan demikian, pemegang kekuasaan telah memiliki bukti bahwa mereka telah mengikuti rangkaian pelibatan masyarakat.

5. Placation (Menenangkan)

Pada tingkat ini masyarakat sudah memiliki beberapa pengaruh meskipun dalam beberapa hal pengaruh tersebut tidak memiliki jaminan akan diperhatikan. Masyarakat memang diperbolehkan untuk memberikan masukan atau mengusulkan rencana akan tetapi pemegang kekuasaanlah yang berwenang untuk menentukan. Salah satu strateginya adalah dengan memilih masyarakat miskin yang layak untuk dimasukkan ke dalam suatu lembaga. Jika mereka tidak bertanggung jawab dan jika pemegang kekuasaan memiliki mayoritas kursi, maka mereka akan dengan mudah dikalahkan dan diakali.

6. Partnership (Kemitraan)

Pada tingkatan ini kekuasaan disalurkan melalui negosiasi antara pemegang kekuasaan dan masyarakat. Mereka sepakat untuk sama-sama memikul tanggung jawab dalam perencanaan dan pengambilan keputusan. Aturan ditentukan melalui mekanisme take and give, sehingga diharapkan tidak mengalami perubahan secara sepihak. Kemitraan dapat berjalan efektif bila dalam masyarakat ada kekuasaan yang terorganisir, pemimpin bertanggung jawab, masyarakat mampu membayar honor yang cukup bagi pemimpinnya serta adanya sumber dana untuk menyewa teknisi, pengacara dan organisator masyarakat. dengan demikian masyarakat benar-benar memiliki posisi tawar menawar yang tinggi sehingga akan mampu mempengaruhi suatu perencanaan.

7. Delegated Power (Kekuasaan didelegasikan)

Negosiasi antara masyarakat dengan pejabat pemerintah bisa mengakibatkan terjadinya dominasi kewenangan pada masyarakat terhadap rencana atau program tertentu. Pada tingkat ini masyarakat menduduki mayoritas kursi, sehingga memiliki kekuasaan dalam memntukan suatu keputusan. Selain itu masyarakat juga memegang peranan penting dalam menjamin akuntabilitas program tersebut. Untuk mengatasi perbedaan, pemegang kekuasaan tidak perlu meresponnya akan tetapi dengan mengadakan proses tawar menawar.

8. Citizen Control (Kontrol warga negara)

Pada tingkat ini masyarakat menginginkan adanya jaminan bahwa kewenangan untuk mengatur program atau kelembagaan diberikan kepada mereka, bertanggung jawab penuh terhadap kebijakan dan aspek-aspek manajerial dan bisa mengadakan negosiasi apabila ada pihak ketiga yang akan mengadakan perubahan. Dengan demikian, masyarakat dapat berhubungan langsung dengan sumber-sumber dana untuk memperoleh bantuan atau pinjaman tanpa melewati pihak ketiga.

(22)

membuat pemegang

g kekuasaan untuk “menyembuhkan” at i, Konsultasi termasuk dalam level “Tokenis nformasi dan menyuarakan pendapat akan apat komunitas akan diakomodasi. Placatio

nisme, komunitas bisa memberikan saran ke nentuan tetap berada pada pemegang kekuas s dapat bernegosiasi dan terlibat dalam gasian Kewenangan dan Kontrol, komun lan keputusan dan kekuatan pengelolaan. Tig

evel Kekuatan Warga Negara (Citizen Po

dilihat secara lebih jelas pada gambar di bawa

969)

an Tingkatan dalam Tangga Partisipasi Masy

byarto (1985), partisipasi sebagai kesadaran ogram sesuai dengan kemampuan setiap ora ntingan diri sendiri. Apabila dikaitkan dengan 992) dalam Sumardjo dan Saharudin (200

pembangunan ada tiga syarat utama ya anya kesempatan, (3) adanya kemauan untu nting dalam pembangunan, karena pembangu kesinambungan. Dalam pembangunan sep n orang sebanyak mungkin.Sehingga tanpa

embangunan sukar dapat berjalan dengan bai

mempengaruhi partisipasi

asyarakat dalam proses pembangunan akan t ata apabila terpenuhi adanya tiga fakto

u (1) kemauan, (2) kemampuan, dan (3) k

(23)

masyarakat untuk berpartisipasi (Slamet 1992 dalam Sumardjo dan Saharudin 2003). Ketiga faktor tersebut akan dipengaruhi oleh berbagai faktor di seputar kehidupan manusia yang saling berinteraksi satu dengan lainnya, seperti psikologis individu (needs, harapan, motif, reward), pendidikan, adanya informasi, keterampilan, teknologi, kelembagaan yang mendukung, struktur dan stratifikasi sosial, budaya lokal serta peraturan dan pelayanan pemerintah. Menurut Oppenheim (1973) dalam Sumardjo dan Saharudin (2003), ada unsur yang mendukung untuk berperilaku tertentu pada diri seseorang (Person inner determinations) dan terdapat iklim atau lingkungan (Enviromental factors) yang memungkinkan terjadinya perilaku utama.

Menurut Sahidu (1998) bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kemauan masyarakat untuk berpartisipasi adalah motif, harapan, needs, rewards

dan penguasaan informasi. Faktor yang memberikan kesempatan masyarakat untuk berpartisipasi adalah pengaturan dan pelayanan, kelembagaan, struktur dan stratifikasi sosial, budaya lokal, kepemimpinan, sarana dan prasarana. Sedangkan faktor yang mendorong adalah pendidikan, modal dan pengalaman yang dimiliki.

Konsep Pengembangan Masyarakat

Menurut Budimanta (2008), pengembangan masyarakat adalah kegiatan pembangunan komunitas yang dilakukan secara sistematis, terencana dan diarahkan untuk memperbesar akses komunitas guna mencapai kondisi sosial, ekonomi dan kualitas kehidupan yang lebih baik apabila dibandingkan dengan kegiatan pembangunan sebelumnya. Dalam kaitan dengan karakteristik pengembangan masyarakat. Ruang lingkup program-program pengembangan masyarakat (community development) dapat dibagi berdasarkan tiga kategori yang secara keseluruhan akan bergerak secara bersama-sama yang terdiri dari:

1. Community Relation; yaitu kegiatan-kegiatan yang menyangkut pengembangan kesepahaman melalui komunikasi dan informasi kepada para pihak yang terkait. Dalam kategori ini, program cenderung mengarah pada bentuk-bentuk kedermawanan (charity) perusahaan. Dari hubungan ini, maka dapat dirancang pengembangan hubungan yang lebih mendalam dan terkait dengan bagaimana mengetahui kebutuhan-kebutuhan dan masalah-masalah yang ada di komunitas lokal sehingga perusahaan dapat menerapkan program selanjutnya.

2. Community Services; merupakan pelayanan perusahaan untuk memenuhi kepentingan komunitas ataupun kepentingan umum. Dalam kategori ini, program-program dilakukan dengan adanya pembangunan secara fisik sektor kesehatan, keagamaan, pendidikan, transportasi, dan sebagainya yang berupa puskesmas, sekolah, rumah ibadah, jalan raya, sumber air minum, dan sebagainya. Inti dari kategori ini adalah kebutuhan yang ada di komunitas dan pemecahan tentang masalah yang ada di komunitas dilakukan oleh komunitas sendiri dan perusahaan hanya sebagai fasilitator dari pemecahan masalah yang ada di komunitas. Kebutuhan-kebutuhan yang ada di komunitas dianalisis oleh para community development officer.

(24)

dasarnya, kategori ini melalui kategori tahapan-tahapan lain seperti melakukan community relation pada awalnya, yang kemudian berkembang pada community sevice dengan segala metodologi panggilan data dan kemudian diperdalam melalui ketersediaan pranata sosial yang sudah lahir dan muncul di komunitas melalui program kategori ini.

Abbott (1996) menguraikan 5 karakteristik dari pengembangan masyarakat (community development), yaitu:

1. Berdasarkan pada kondisi di mana pemerintah menjadi terbuka kepada upaya keterlibatan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan, tingkat keterlibatan masyarakat yang menggambarkan tingkat keterbukaan secara efektif diatur oleh pemerintah.

2. Aktivitas pengembangan masyarakat dibangun terutama sekitar masalah-masalah sosial, di mana orang dalam masyarakat berhubungan secara mudah. Di lain pihak, melalui manajemen masyarakat terdapat suatu komponen ekonomi dan atau teknik yang kuat. Meskipun demikian, proyek manajemen masyarakat tetap melaksanakan usaha-usaha yang dapat diidentifikasi secara jelas dalam suatu dasar homogenitas yang terbuka.

3. Bercirikan masyarakat lokal yang memiliki keutamaan atau kekuasaan, dapat diidentifikasikan secara jelas dan mengandung muatan diri.

4. Proses pengembangan masyarakat diarahkan kepada kepuasan terhadap kebutuhan masyarakat.

5. Berpusat pada kegiatan pelatihan yang netral secara politik dan terpisah dari berbagai pertikaian atau debat politik.

Di dalam penjelasan yang lain, Ife (1995) menyatakan bahwa kegiatan pengembangan masyarakat ini harus mendasarkan pada perspektif ecological

dengan prinsip holism (menyeluruh dari segala aspek lingkungan), sustainability

(kelestarian kegiatan), diversity (keanekaragaman), dan equilibrium

(keseimbangan). Menurut Ife (1995), konsekuensi dari perspektif ecological ini adalah melukiskan bahwa prinsip holistic akan mengarahkan pada pemikiran untuk memusatkan pada filosofi lingkungan, menghormati hidup dan alam, menolak solusi yang linier, dan perubahan yang terus menerus. Prinsip

sustainability akan membawa pada konsekuensi untuk memperhatikan konservasi, mengurangi konsumsi, tidak mementingkan pertumbuhan ekonomi, pengendalian perkembangan teknologi dan anti kapitalis.Prinsip diversity membawa konsekuensi pada penilaian terhadap perbedaan, jawaban atau alternative yang tidak tunggal, desentralisasi, jaringan kerja dan komunikasi lateral serta penggunaan teknologi tepat guna. Sementara prinsip equilibrium akan membawa pada penggunaan isu-isu global atau lokal, gender, hak dan pertanggungjawaban, kedamaian dan kooperatif.

Kerangka Pemikiran

(25)

suatu program pengemban

ngan masyarakat dimana partisipasi dibagi (1979) yaitu perencanaan, pelaksanaan, eva

elah digabungkan dengan delapan derajat anipulasi, terapi, informasi, konsultasi, men

angan, dan kontrol warga.

a tingkat partisipasi Uphoff dan Arnstein adal iukur derajatnya menggunakan tingkatan dikaitkan dengan partisipasi yaitu diman ma, dan tingkat jaringan dihubungkan deng

abungan antara partisipasi Uphoff dan Arnste

ngaruh

Pemikiran Analisis Modal Sosial dan dalam Program Pengembangan Masyarakat

Hipotesis Penelitian

ikiran di atas, maka hipotesis penelitian ini ad n antara kepercayaan masyarakat denga kat dalam program pengembangan masyaraka n antara norma masyarakat dengan tingkat

p program pengembangan masyarakat an antara jaringan masyarakat dengan

p program pengembangan masyarakat

Definisi Operasional

merupakan bentuk jaringan kerja sosial dan e di antar individu dan kelompok baik forma

(26)

a. Tingkat Kepercayaan (trust) adalah perasaan tanpa saling curiga, baik dengan pelaksana program maupun sesama anggota kelompok, cenderung saling ingin memajukan diantara anggota kelompok. Pengukurannya didasarkan pada:

1) Pernyataan percaya terhadap sesama warga. Terdiri dari 3 pernyataan dengan nilai 4= tidak percaya, 3= kurang percaya, 2= percaya, dan 1= sangat percaya. Skor untuk pernyataan ini maksimal 12 dan minimal 3. 2) Pernyataan percaya terhadap pihak-pihak terkait. Terdiri dari 9

pernyataan. Skor untuk pernyataan ini maksimal 36 dan minimal 9. Pengukuran Tingkat Kepercayaan individu dikategorikan menjadi 3, yaitu rendah, sedang dan tinggi. Penilaian dari masing-masing kategori berdasarkan rumus selang baku dimana skor minimum untuk tingkat kepercayaan kelompok adalah 3+9 = 12 dan skor maksimumnya adalah 12+36 = 48. Setelah skor minimum dan skor maksimum diketahui, maka jarak intervalnya adalah (48-12)/3 = 12 Dengan demikian dapat diketahui derajat modal sosial untuk tingkat kepercayaan anggota kelompok adalah: Skor: 3-15 = Rendah 15,1-27 = Sedang 27,1-36 = Tinggi

b. Kuat Jaringan (networking)adalah interaksi dan relasi individu (anggota kelompok) dengan individu lain dalam kelompok atau dengan individu di luar komunitas (pasar, pemodal, pelaksana program). Pengukurannya didasarkan pada:

1) Pernyataan tentang mengikuti organisasi yang sedang diikuti selain Posdaya.

2) Pernyataan tentang mengenal orang-orang yang menjadi pelaksana/pengurus program posdaya, dan pihak yang terkait.

Pengukuran Kuat Jaringan individu dikategorikan menjadi 3, yaitu rendah, sedang dan tinggi. Penilaian dari masing-masing kategori berdasarkan rumus selang baku, dimana maka skor minimum untuk kuat jaringan adalah 9x1 =9 dan skor maksimumnya adalah 9x4 = 36. Setelah skor minimum dan skor maksimum diketahui, maka jarak intervalnya adalah (36-9)/3 = 9. Dengan demikian dapat diketahui derajat modal sosial untuk kuat jaringan anggota kelompok posdaya adalah:

Skor: 9-18 = lemah 18,1-27 = Sedang 27,1-36 = Kuat

c. Norma Sosial (Social Norm) adalah kesepakatan-kesepakatan dalam kelompok yang dijadikan sebagai panduan dalam bertingkah laku. Pengukurannya didasarkan pada:

1) Pernyataan tentang kepedulian terhadap lingkungan masyarakat dan Posdaya. Terdiri dari 3 pernyataan dengan nilai 1= Tidak Penting, 2= Kurang Penting, 3= Penting, 4= Sangat Penting. Skor untuk pernyataan ini minimal 12 dan minimal 3.

2) Pernyataan tentang kegiatan yang paling penting untuk berkumpul dengan rumahtangga lain di desa ini. Pernyataan ini terdiri dari 9 pernyataan dengan nilai 1= Tidak Penting, 2= Kurang Penting, 3= Penting, 4= Sangat Penting. Skor untuk pernyataan ini minimal 36 dan minimal 9.

(27)

sosial adalah 3+9 = 12 dan skor maksimumnya adalah 12+36 = 48. Setelah skor minimum dan skor maksimum diketahui, maka jarak intervalnya adalah (48-12)/3 = 12. Dengan demikian dapat diketahui derajat modal sosial untuk norma sosial anggota kelompok posdaya adalah:

Skor: 3-15 = lemah 15,1-27 = Sedang 27,1-36 = kuat

2. Tingkat Partisipasi adalah keikutsertaan yang tinggi (keterlibatan langsung semua anggota kelompok program posdaya), memiliki hak dan kesempatan yang sama dalam tahapan perencanaan, pelaksanaan, pemanfaatan maupaun evaluasi, yang dicapai masyarakat dalam tangga partisipasi Arnstein (1996), dalam pendampingan program posdaya. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 1 Indikator Pengukuran Tingkat partisipasi Arnstein (1969) melalui tahapan partisipasi Uphoff (1979)

Tahapan Definisi Operasional Pengukuran

Perencanaan keikutsertaan

Tidak hadir (manipulation)

Hadir hanya untuk memenuhi undangan (therapy).

Hadir hanya untuk memperoleh informasi tanpa menyampaikan pendapat (informing).

Hadir untuk memperoleh informasi dan menyampaikan pendapat, namun pendapat tidak diperhitungkan (Consultation).

Hadir dan memberikan pendapat, namun ada pembatasan pendapat yang diperhitungkan (Placation).

Hadir dan memiliki kedudukan yang setara dalam pengambilan keputusan (Patnership). Hadir dan memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari lembaga dalam membuat keputusan (Delegation Power).

Hadir dan memiliki hak penuh dalam pengambilan keputusan (Citizen Control)

Pelaksanaan keikutsertaan dan keaktifan dalam

Tidak terlibat (manipulation). Terlibat hanya ikut-ikutan (therapy).

Terlibat tanpa mendapat kesempatan menyampaikan ide-ide (information).

Terlibat dan berkesempatan menyampaikan ide, namun tidak diperhitungkan (consultation).

Terlibat, namun ada pembatasan ide yang diperhitungkan (placation).

Terlibat dan memiliki kedudukan yang setara dalam pengambilan keputusan pelaksanaan ide (patnership).

(28)

Delapan tangga Partisipasi Arstein tersebut diberi skor masing-masing berkisar 1-8, sehingga skor minimum bagi setiap individu adalah 4 x 1 = 4. Adapun skor maksimum bagi setiap individu adalah 4 x 8 = 32. Setelah skor minimum dan skor maksimum diketahui, maka jarak interval untuk tingkat

kehadiran/keaktifan

dalam tiap-tiap kegiatan tersebut.

power).

Terlibat dan mampu membuat keputusan (citizen power).

Tidak terlibat (manipulation).

Terlibat dan merasakan manfaat program (therapy).

Terlibat merasakan manfaat sebagai mitra dampingan (information).

Terlibat dan berkesempatan memanfaatkan sarana dan prasarana hasil program Klaster Mandiri (consultation).

Terlibat, namun ada pembatasan pemanfaatan sarana program (placation)

Terlibat dan memiliki kedudukan yang setara dalam memanfaatan yang disediakan untuk program (patnership).

Terlibat dan memiliki kedudukan yang lebih tinggi dalam memanfaatkan sarana dan prasarana yang tersedia untuk program (delegation power). Terlibat dan mampu membuat keputusan dalam mengelola sarana dan prasarana program (citizen power). di evaluasi oleh tenaga pelaksana program di lapang.

Tidak terlibat (manipulation).

Terlibat atas kemauan sendiri (therapy).

Terlibat tanpa membuat kesempatan menyampaikan penilaian (information).

Hadir dan berkesempatan menyampaikan penilaian, namun tidak diperhitungkan (consultation).

Hadir, namun ada pembatasan penilaian yang diperhitungkan (placation).

Hadir dan memiliki hak yang setara dalam melaksanakan penilaian (patnership).

Hadir dan memiliki hak tertinggi dalam melaksanakan penilaian (delegation power).

(29)

partisipasi individu (anggota kelompok) adalah (32-4)/8 = 3,5. Dengan demikian dapat diketahui tingkat partisipasi individu adalah:

1. Manipulation (4-7,5) 2. Therapy (7,6-11) 3. Informing (11,1-14,5) 4. Consultation (14,6-18) 5. Placation (18,1-21,5) 6. Patnership (21,6-25)

7. Delegation Power (25,1-28,5) 8. Citizen Power (28,6-32)

Tangga partisipasi Arnstein (1969) disederhanakan menjadi tiga kategori, yaitu: (1) Non-partisipasi (tangga 1 dan 2); (2) tokenisme (tangga 3-5); dan (3)

Citizen Power (kontrol masyarakat) (tangga 6-8). Dari kedelapan tangga partisipasi Arstein tersebut, sebelumnya dipersempit menjadi tiga kategori yaitu non-partisipasi (tangga 1 dan 2), tokenisme (tangga 3 – 5) dan Citizen Power

(kontrol masyarakat) (tangga 6 –8). Pengukuran tangga partisipasi secara lebih jelas dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Tabel 2 Kombinasi Tahapan Partisipasi Uphoff (1979) dan Tingkat Partisipasi Arnstein (1969)

Tingkatan Partisipasi

Uphoff (1979)

Tingkatan Partisipasi Arnstein (1969)

Non-partisipasi Tokenisme Citizen Power

Manipulasi Terapi Informasi Konsultasi Menenangkan Kemitraan Delegasi Kewenangan

Kontrol Warga Evaluasi

Pemanfaatan Hasil

Pelaksanaan

(30)

METODE PENELITIAN

Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian analisis modal sosial dan partisipasi masyarakat dalam program pengembangan masyarakat dilaksanakan di Kampung Cangkurawok, Desa Babakan, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Penentuan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive). Pertimbangan lokasi penelitian Kampung Cangkurawok, Desa Babakan termasuk kedalam kawasan pelaksanaan Program Pengembangan Masyarakat Posdaya. Penelitian ini dilaksanakan di Bulan Maret sampai dengan September 2013. Pencarian data primer di lapang dilaksanakan dalam waktu 6 minggu. Kegiatan penelitian meliputi penyusunan proposal skripsi, kolokium, pengambilan data lapangan, penulisan draft skripsi, pengolahan dan analisis data, penulisan draft skripsi, sidang skripsi, dan perbaikan laporan penelitian.

Teknik Sampling

Populasi sasaran dalam penelitian ini adalah seluruh warga peserta program Posdaya Geulis Bageur Kampung Cangkurawok, Desa Babakan, Kecamatan Darmaga, Kabupaten Bogor sebanyak 100 orang (Lampiran 2). Unit analisanya adalah individu. Responden adalah individu yang menjadi peserta program Posdaya Geulis Bageur.

Dalam pendekatan kuantitatif, responden dipilih untuk nantinya menjadi target survei. Pemilihan sampel dilakukan melalui teknik pengambilan sampel acak sederhana (simple random sampling). Sebanyak 100 orang peserta program kemudian diambil secara acak sebanyak 35 responden (Lampiran 3).

Pendekatan kualitatif diperoleh melalui observasi dan wawancara mendalam kepada informan. Informan dipilih secara purposive atau sengaja. Informan adalah orang dari pihak lembaga/perusahaan yang andil dalam program pengembangan masyarakat dan juga dari unsur masyarakat. Terdapat sebanyak 3 informan yaitu SUP (Ketua Posdaya Geulis Bageur), AMD (Tokoh Masyarakat), dan SUH (Ketua Program Ekonomi Posdaya Geulis Bageur).

Pengumpulan Data

Pengumpulan data kuantitatif dilakukan melalui wawancara dengan kuesioner kepada responden yang sebelumnya telah dipilih secara acak melalui teknik pengambilan sampel acak sederhana. Sementara untuk pengumpulan data kualitatif dilakukan melalui observasi, serta wawancara mendalam dengan informan yang dipilih. Wawancara mendalam diarahkan dengan panduan pertanyaan wawancara mendalam.

(31)

berupa dokumen-dokumen yang berhubungan dengan kebijakan, program serta kegiatan pengembangan masyarakat, data demografi penduduk, juga data-data lain yang diperlukan terkait dengan topik penelitian.

Pengolahan dan Analisis Data

Pengolahan data kuantitatif dilakukan dengan tabulasi silang dan uji korelasi

Rank Spearman untuk melihat hubungan antara variabel dengan data ordinal, yaitu mengukur tingkat kepercayaan dan tingkat jaringan serta hubungannya dengan tingkat partisipasi, serta hubungan antara tingkat partisipasi dengan manfaat yang diperoleh masyarakat.

Klasifikasi keeratan hubungan dijelaskan oleh Guilford (Rakhmat, 1997) sebagai berikut:

<0.200 : hubungan sangat lemah/sangat rendah 0.200 – 0.400 : hubungan lemah/rendah

0.401 – 0.700 : hubungan yang sedang/cukup berarti 0.701 – 0.900 : hubungan yang tinggi/kuat

>0.900 : hubungan sangat tinggi/sangat kuat, dapat diandalkan

Tingkat kesalahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebesar 5 persen atau pada taraf nyata α 0.05, yang berarti memiliki tingkat kepercayaan 95 persen. Nilai probabilitas (P) yang diperoleh dari hasil pengujian dibandingkan dengan taraf nyata untuk menentukan hubungan apakah hubungan antara variabel nyata atau tidak. Bila nilai P lebih kecil dari taraf nyata α 0.05 maka hipotesis diterima, terdapat hubungan nyata, dan nilai koefisien korelasi γs digunakan untuk melihat keeratan hubungan antara dua variabel. Sebaliknya bila nilai P lebih besar dari taraf nyata α 0.05 maka hipotesis tidak diterima, yang berarti tidak terdapat hubungan nyata dan nilai koefisien korelasi γs diabaikan.

(32)

GAMBARAN UMUM LOKASI

Letak dan Keadaan Fisik

Lokasi penelitian ini berada di Desa Babakan, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor. Desa Babakan merupakan salah satu wilayah lingkar kampus IPB Dramaga Bogor. Desa Babakan secara administratif berbatasan dengan Desa Cikarawang di sebelah utara, Desa Balumbang Jaya di sebelah selatan, Desa Darmaga di sebelah timur, dan Desa Cibanteng di sebelah barat. Daerah Desa Babakan terdiri dari Kampung Leuwi Kopo, Babakan Raya Darmaga (Radar), Babakan Tengah (Bateng), Babakan Lebak, dan Kampung Cangkurawok. Luas wilayah Desa Babakan sekitar 334.384 ha. Desa Babakan berada pada ketinggian 400 meter di atas permukaan laut dengan curah hujan rata-rata 4.561 milimeter pertahun dan suhu rata-rata 25-33°C.

Desa Babakan merupakan desa yang cukup padat penduduk dengan jumlah mencapai 10.910 orang dengan kepala keluarga 2.430. kepadatan penduduk Desa Babakan mencapai 100 per Km. Mayoritas penduduk di Desa Babakan adalah perempuan, namun perbedaannya tidak terlalu signifikan. Perincian penduduk Desa Babakan dapat dilihat dalam Tabel 3.

Tabel 3 Jumlah Penduduk Desa Babakan Berdasarkan Jenis Kelamin

Jenis Kelamin Jumlah

Laki-laki 5.204 Orang

Perempuan 5.706 Orang

Total 10.910 Orang

Sumber: Data dan Profil Desa 2010.

Desa Babakan memiliki beberapa etnis. Etnis yang terdapat di Desa Babakan adalah Sunda, Jawa, Betawi, Minang, dan Makasar. Namun, mayoritas etnis di Desa Babakan adalah etnis Sunda. Kebanyakan etnis selain Sunda adalah pendatang dari daerah lain.

(33)

Tabel 4 Jumlah dan Persentase Pemeluk Agama Berdasarkan Jenis Kelamin Penduduk Desa Babakan

Agama

Jenis Kelamin

Laki-Laki Perempuan

f (%) f (%)

Islam 5.006 96,20 5.086 89,13

Kristen 75 1,44 307 5,38

Khatolik 80 1,53 283 4,96

Hindu 26 0,50 20 0,35

Budha 17 0,33 10 0,18

Total 5.204 100,00 5.706 100,00

Sumber: Data dan Profil Desa 2010.

Profil Lembaga Pelaksanaan Program

Konsep Bottom-Up Planning adalah konsep pembangunan yang mengedepankan masyarakat sebagai pemeran utama dalam proses pembangunan tercangkup di dalamnya proses perencanaan, pelaksanaan dan juga evaluasi pembangunan. Posdaya adalah wadah kegotongroyongan di masyarakat dengan prinsip dari, oleh, dan untuk masyarakat dengan misi meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dengan fokus utama keluarga-keluarga miskin. Titik sentral kegiatan Posdaya adalah pendidikan, ekonomi, kesehatan, dan lingkungan. Metode pengembangan Posdaya adalah “Bottom up Planning” dengan mengutamakan kemandirian dan keswadayaan (Muljono et al. 2010). Posdaya bertujuan untuk:

1. Menyegarkan modal sosial seperti hidup gotong royong dalam masyarakat untuk membantu pemberdayaan keluarga secara terpadu dan membangun keluarga bahagia dan sejahtera.

2. Ikut memelihara lembaga sosial kemasyarakatan yang terkecil, yaitu keluarga, yang dapat menjadi perekat masyarakat sehingga tercipta kehidupan yang rukun, damai, dan memiliki dinamika tinggi.

3. Memberi kesempatan kepada setiap keluarga untuk memberi atau menerima pembaharuan yang dapat dipergunakan dalam proses pembangunan keluarga yang bahagia dan sejahtera.

(34)

Profil Program-Program Posdaya

Posdaya Geulis Bageur yang dibentuk dari program lingkungan KS Beriman dan Geulis Plus ini memiliki program-program diantaranya program lingkungan, pendidikan, kesehatan dan ekonomi. Seperti layaknya posdaya lain, setiap program memiliki kegiatan masing-masing untuk meningkatkan kinerja dari Posdaya Geulis Bageur tersebut. Beberapa kegiatan dapat dilihat dalam profil program di bawah ini.

Program Lingkungan

Program lingkungan merupakan program pertama yang dibentuk dari Posdaya Geulis Bageur hasil lanjutan dari KS Beriman dan Geulis Bageur. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam program lingkungan diantaranya adalah penanggulangan sampah, penggalangan kerja bakti, menggali potensi kerajinan lokal, dan pemilahan sampah.Penanggulangan sampah bertujuan untuk menjaga kesehatan lingkungan daerah sekitar terutama wilayah Desa Babakan. Penanggulangan sampah dilakukan dengan pengayaan tempat pembuangan akhir dan pemilahan sampah antara sampah organik dan sampah anorganik. Sampah organik biasanya dapat dijadikan pupuk untuk keperluan pertanian sedangkan sampah anorganik dipilah kembali mana yang dapat didaur ulang, dan mana yang tidak dapat didaur ulang. Menggali potensi kerajinan lokal bertujuan untuk meningkatkan ciri khas lingkungan wilayah Desa Babakan. Layaknya daerah-daerah lain seperti Tasikmalaya yang terkenal dengan bordir dan anyaman bambu, pada program menggali potensi kerajinan di wilayah Desa Babakan membuat kerajinan berbagai macam tas dari sampah yang didaur ulang.

Program Pendidikan

Program pendidikan merupakan program yang bergerak dalam memajukan pendidikan bagi masyarakat wilayah Desa Babakan. Pendidikan tentu merupakan hal yang penting dalam kehidupan baik sejak dini hingga masa tua. Pada program pendidikan dalam Posdaya Geulis Bageur memiliki kegiatan diantaranya adalah penggalangan kerjasama dengan lembaga pendidikan yang ada di wilayah atau lingkungan dan mengadakan pelatihan atau pembelajaran.

Program Kesehatan

(35)

Program Ekonomi

(36)

KONDISI SOSIAL EKONOMI PESERTA PROGRAM

POSDAYA GEULIS BAGEUR

Usia

Usia responden dalam penelitian ini dibagi kedalam kategori usia menurut Havighurst dalam Mugniesyah (2009). Rentang usia tersebut dibagi tiga, antara lain usia masa mula/ dewasa awal (18-30), usia pertengahan (31-55), dan masa tua (55 tahun ke atas). Jumlah responden dari setiap golongan usia dibagi ke dalam dua jenis kelamin antara lain perempuan dan laki-laki beserta presentase dari masing-masing jumlah. Golongan usia penerima program Posdaya Geulis Bageur dapat dilihat dalam Tabel 5.

Tabel 5 Jumlah dan Persentase Responden Berdasarkan Golongan Usia dan Jenis Kelamin

Golongan Usia

Jenis Kelamin

Total Perempuan Laki-laki

f (%) f (%) f (%)

18-30 2 11,76 2 11,11 4 11,44 31-55 11 64,71 15 83,33 26 74,02 >55 4 23,53 1 5,56 5 14,54 Total 17 100,00 18 100,00 35 100,00

Jumlah perempuan dan laki-laki yang menjadi responden dalam penelitian ini hampir sama yaitu perempuan 17 responden dan laki-laki 18 responden. Hasil penelitian menunjukkan hanya 2 responden perempuan dan 2 responden laki-laki dalam masa usia dewasa awal, 11 responden perempuan dan 15 responden laki-laki pada masa usia pertengahan, dan 4 responden perempuan dan 1 responden laki-laki pada masa usia tua atau di atas 55 tahun.

Hasil penelitian dalam tabel menunjukkan bahwa usia tua atau lebih dari 55 tahun pada perempuan lebih banyak yang ikut berpartisipasi dalam program dibandingkan usia muda atau antara 18 hingga 30 tahun. Perempuan pada usia tua yang telah janda umumnya ikut berpartisipasi dalam program Posdaya mencari pendapatan tambahan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Berkaitan dengan memenuhi kebutuhan keluarga, secara tidak langsung dengan adanya program Posdaya Geulis Bageur ikut membantu mensejahterakan masyarakatnya.

(37)

Status Pernikahan

Status pernikahan responden dibagi dalam tiga kategori yaitu menikah, belum menikah, dan cerai (janda/duda). Status pernikahan peserta program Posdaya Geulis Bageur dapat dilihat dalam Tabel 6.

Tabel 6 Jumlah dan Persentase Responden Berdasarkan Status Pernikahan dan Jenis Kelamin

Status Pernikahan

Jenis Kelamin

Total Perempuan Laki-laki

f (%) f (%) f (%) Menikah 15 88,24 17 94,44 32 91,34 Belum Menikah 0 0,00 1 5,56 1 2,78 Cerai (Duda/Janda) 2 11,76 0 0,00 2 5,88 Total 17 100,00 18 100,00 35 100,00

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 15 responden perempuan dan 17 responden laki-laki sudah menikah. Hanya 1 responden laki-laki yang belum menikah dan 2 reponden perempuan telah menjadi janda. Responden peserta program 91,34 persen memiliki status menikah, maka mayoritas peserta program Posdaya Geulis Bageur telah menikah.

Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa 11,76 persen perempuan sudah menjadi janda dan 5,56 persen laki-laki yang belum menikah ikut berpartisipasi dalam program Posdaya Geulis Bageur. Hal ini diketahui bahwa perempuan yang telah menjadi janda ikut berpartisipasi dalam program Posdaya untuk mencari tambahan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Sedangkan laki-laki yang belum menikah tertarik untuk mengikuti program Posdaya karena dengan mengikuti program Posdaya, mereka dapat memiliki penghasilan tambahan untuk persiapan menikah kelak.

Tingkat Pendidikan

(38)

Tabel 7 Jumlah dan Persentase Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan dan Jenis Kelamin

Tingkat Pendidikan

Jenis Kelamin

Total Perempuan Laki-laki

f (%) f (%) f (%)

SD 3 17,65 6 33,33 9 25,49 SMP 7 41,18 5 27,78 12 34,48 SMA/Sederajat 7 41,18 4 22,22 11 31,70 Perguruan Tinggi 0 0,00 3 16,67 3 8,33 Total 17 100,00 18 100,00 35 100,00

Hasil penelitian menunjukkan responden peserta program Posdaya Geulis Bageur yang memiliki tingkat pendidikan SD sebanyak 3 responden perempuan dan 6 responden laki-laki, tingkat pendidikan SMP sebanyak 7 responden perempuan dan 5 responden laki-laki, tingkat pendidikan SMA atau sederajat sebanyak 7 responden perempuan dan 4 responden laki-laki, dan tingkat pendidikan PT sebanyak 3 responden laki-laki. Dapat dikatakan seluruh responden pernah mengenyam pendidikan formal. Tabel 7 memperlihatkan bahwa mayoritas responden peserta program memiliki tingkat pendidikan terakhir SMP sebanyak 12 dari 35 responden atau sebanyak 34,48 persen. Berbeda sedikit dengan responden yang mengenyam pendidikan terakhir SMA yaitu sebanyak 11 dari 35 responden atau 31,70 persen.

Hal ini memberikan gambaran bahwa peserta program telah cukup sadar akan pentingnya pendidikan walaupun masih banyak responden yang hanya tamatan SD. Adapun yang menjadi faktor mengapa laki-laki lebih banyak tamatan SD dibanding perempuan, adalah karena setelah tamat SD mereka telah bekerja sebagai petani juga laki-laki cenderung lebih cepat ingin mandiri dan memiliki pendapatan.

Pekerjaan

(39)

Tabel 8 Jumlah dan Persentase Responden Berdasarkan Pekerjaan dan Jenis Kelamin

Pekerjaan

Jenis Kelamin

Total Perempuan Laki-laki

f (%) f (%) f (%) Petani 3 17,65 6 33,33 9 25,49 Pedagang 2 11,76 6 33,33 8 22,55 Karyawan 0 0,00 2 11,11 2 5,56 Wiraswasta/Lainnya 12 70,59 4 22,22 16 46,41 Total 17 100,00 18 100,00 35 100,00

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 3 responden perempuan dan 6 responden laki-laki memiliki pekerjaan sebagai petani, sebanyak 2 responden perempuan dan 6 responden laki-laki memiliki pekerjaan sebagai pedagang, sebanyak 2 responden laki-laki memiliki pekerjaan sebagai karyawan, dan sebanyak 12 responden perempuan dan 4 responden laki-laki memiliki pekerjaan sebagai wiraswasta atau lainnya. Mayoritas peserta program memiliki pekerjaan sebagai wiraswasta atau lainnya. Faktor yang melatarbelakangi hal tersebut yaitu pendidikan peserta program yang mayoritas SMP, tempat tinggal yang dekat dengan kampus menyebabkan memberi peluang yang lebih untuk berwirausaha, lahan pertanian yang mulai berkurang akibat dibangunnya pemukiman, hasil dari pertanian kurang mencukupi.

Tingkat Pendapatan

Tingkat pendapatan adalah hasil pendapatan responden yang diperoleh setiap bulannya.Responden memiliki pendapatan yang cukup beragam, maka pendapatan dibagi menjadi tiga tingkatan yaitu rendah, sedang, dan tinggi. Pendapatan rendah jika pendapatan seseorang Rp 400.000,- s.d Rp 1000.000,- , pendapatan sedang jika pendapatan seseorang Rp 1000.001,- s.d 2000.000,- dan pendapatan tinggi jika pendapatan seseorang lebih dari Rp 2000.000,-. Tingkatan pendapatan responden peserta program Geulis Bageur dapat dilihat dalam Tabel 9.

Tabel 9 Jumlah dan Persentase Responden Berdasarkan Tingkat Pendapatan dan Jenis Kelamin

Tingkat Pendapatan

Jenis Kelamin

Total Perempuan Laki-laki

f (%) f (%) f (%)

(40)

Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 3 responden perempuan dan 5 responden laki-laki memiliki pendapatan rendah, sebanyak 10 responden perempuan dan 10 responden laki-laki memiliki pendapatan sedang, dan sebanyak 4 responden perempuan dan 3 responden laki-laki memiliki pendapatan yang tinggi. Baik laki-laki maupun perempuan mayoritas memiliki pendapatan sedang dilihat dari tabel yang menunjukkan 58,82 persen responden perempuan dan 55,56 persen laki-laki berpendapatan sedang.

Hasil penelitian dalam tabel menunjukkan bahwa perempuan memiliki penghasilan lebih banyak dibandingkan dengan laki-laki. Hal ini diketahui karena jenis pekerjaan yang dilakukan perempuan lebih banyak di bidang wiraswasta atau lainnya (usaha makanan). Penghasilan peserta program perempuan yang bekerja di bidang wiraswasta atau lainnya tersebut dapat diperoleh sekitar sebulan sekali, seminggu sekali, bahkan harian. Sedangkan laki-laki lebih banyak yang memilih pekerjaan sebagai petani yang penghasilannya didapatkan setiap musim panen atau beberapa bulan sekali.

Ikhtisar

(41)
(42)

TINGKAT PARTISIPASI PESERTA PROGRAM POSDAYA

GEULIS BAGEUR

Perencanaan

Tingkat perencanaan dalam penelitian ini adalah tingkat partisipasi dalam tahap perencanaan. Tahap perencanaan merupakan tahap pertama dalam partisipasi menurut Uphoff (1979) yang dalam penelitian ini digabungkan dengan partisipasi menurut Arnstein (1969) sehingga hasil dari partisipasi dalam perencanaan tersebut adalah hasil partisipasi dari delapan tingkatan partisipasi Arnstein (1969). Partisipasi Arnstein dibagi ke dalam tiga tingkat antara lain rendah (non-partisipasi), sedang (tokenisme), dan tinggi (citizen power). Pertanyaan diberikan dalam bentuk kuesioner yang dibacakan kepada responden.Tingkat partisipasi dalam perencanaan dapat dilihat dalam Tabel 10.

Tabel 10 Jumlah dan Persentase Responden Berdasarkan Tingkat Partisipasi dalam Perencanaan

Tingkat Perencanaan Jumlah (n) Persentase (%)

Rendah 4 11,43

Sedang 13 37,14

Tinggi 18 51,43

Total 35 100,00

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 4 atau 11,43 persen peserta program memiliki tingkat partisipasi dalam perencanaan yang rendah, sebanyak 13 atau 37,14 persen peserta program memiliki tingkat partisipasi dalam perencanaan yang sedang, dan sebanyak 18 atau 51,43 persen peserta program memiliki tingkat partisipasi dalam perencaaan yang tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas peserta program memiliki tingkat partisipasi dalam perencanaan yang tinggi. Adapun hasil wawancara mendalam terhadap peserta, berikut penuturan dari salah satu peserta program yang menjadi responden:

“Kalau awal-awal pembentukan program biasanya peserta banyak yang datang. Kan biar pada tau program yang mau dibikin apa, dari situ juga direncanakan bagaimana pendanaannya, hal-hal seperti itu pasti peserta banyak yang mau mengutarakan pendapat, makanya banyak yang hadir.”

(Bapak AMD, 30 tahun)

(43)

program atas anjuran dari tokoh atau orang yang disegani. Pada peserta program yang tingkat partisipasi dalam perencanaan yang rendah disebabkan oleh beberapa faktor yaitu kesibukan dari peserta program sehingga tidak dapat hadir pada saat dilaksanakan kumpul bersama untuk merencanakan program, minat dari peserta yang kurang untuk berpartisipasi karena kekecewaan yang dialami pada program pengembangan masyarakat sejenis yang pernah dilaksanakan sebelumnya.

Pelaksanaan

Tingkat pelaksanaan dalam penelitian ini adalah tingkat partisipasi dalam tahap pelaksanaan. Tahap pelaksanaan merupakan tahap kedua dalam partisipasi menurut Uphoff (1979) yang mana dalam penelitian ini digabungkan dengan partisipasi menurut Arnstein (1969) sehingga hasil dari partisipasi dalam perencanaan tersebut adalah hasil partisipasi dari delapan tingkatan partisipasi Arnstein (1969). Partisipasi Arnstein dibagi ke dalam tiga tingkat antara lain rendah (non-partisipasi), sedang (tokenisme), dan tinggi (citizen power). Pertanyaan diberikan dalam bentuk kuesioner yang dibacakan kepada responden. Tingkat partisipasi dalam pelaksanaan dapat dilihat dalam Tabel 11.

Tabel 11 Jumlah dan Persentase Responden Berdasarkan Tingkat Partisipasi dalam Pelaksanaan

Tingkat Pelaksanaan Jumlah (n) Persentase (%)

Rendah 1 2,86

Sedang 23 65,71

Tinggi 11 31,43

Total 35 100,00

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 1 atau 2,86 persen peserta program memiliki tingkat partisipasi dalam tahap pelaksanaan yang rendah, sebanyak 23 atau 65,71 persen peserta program memiliki tingkat partisipasi dalam tahap pelaksanaan yang sedang, dan sebanyak 11 atau 31,43 persen memiliki tingkat partisipasi dalam tahap pelaksanaan yang tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas peserta program memiliki tingkat partisipasi dalam tahap pelaksanaan yang sedang.

(44)

“Sebenarnya banyak orang tertarik sama programnya, tapi pas pelaksanaan ada yang bsa ada yang enggak. Kita juga kan punya kerjaan lain, kadang-kadang memang tidak bisa ditinggalkan yang pada akhirnya hadir pada pelaksanaan program. Biasanya seperti itu.”

(Bapak SUP, 42 tahun)

Adapun penuturan dari peserta program lain yang menjadi responden:

”Saya kadang bisa ikut kadang enggak. Kan saya punya anak juga masih kecil gak bisa ditinggal-tinggal terus. Kalo kayak pembuatan kerajinan yang bias dikerjain dirumah saya lebih suka. Selain anak saya bisa keurus, saya juga bisa menghasilkan sesuatu.”

(Ibu ASH, 24 tahun)

Faktor lainnya yang menyebabkan tingkat partisipasi peserta program dalam pelaksanaan sedang adalah pada saat pelaksanaan program tidak semuanya dilibatkan, contohnya pada saat ada kunjungan dari luar atau lembaga yang ingin melihat secara langsung kegiatan yang dilaksanakan Posdaya Geulis Bageur, pelaksana program hanya melibatkan melibatkan sebagian peserta program sebagai sample, terutama peserta program yang berhasil dalam program.

Pemanfaatan Hasil

Tingkat pemanfaatan hasil dalam penelitian ini adalah tingkat partisipasi dalam tahap pemanfaatan hasil. Tahap pemanfaatan hasil merupakan tahap ketiga dalam partisipasi menurut Uphoff (1979) yang mana dalam penelitian ini digabungkan dengan partisipasi menurut Arnstein (1969) sehingga hasil dari partisipasi dalam perencanaan tersebut adalah hasil partisipasi dari delapan tingkatan partisipasi Arnstein (1969). Partisipasi Arnstein dibagi ke dalam tiga tingkat antara lain rendah (non-partisipasi), sedang (tokenisme), dan tinggi (citizen power). Pertanyaan diberikan dalam bentuk kuesioner yang dibacakan kepada responden.Tingkat partisipasi dalam pelaksanaan dapat dilihat dalam Tabel 12.

Tabel 12 Jumlah dan Persentase Responden Berdasarkan Tingkat Partisipasi dalam Perencanaan Hasil

Tingkat Pemanfaatan Hasil Jumlah (n) Persentase (%)

Rendah 1 2,86

Sedang 22 62,86

Tinggi 12 34,29

Total 35 100,00

(45)

persen peserta program memiliki tingkat pemanfaatan hasil yang sedang, dan sebanyak 12 atau 43,29 persen peserta program memiliki tingkat pemanfaatan hasil yang tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas peserta program memiliki tingkat pemanfaatan hasil yang sedang.

Hasil penelitian dalam tabel menunjukkan tingkat pemanfaatan hasil yang sedang. Hal ini diketahui karena berkaitan dengan sumber daya yang dimiliki peserta program untuk menjalankan program, tingkat partisipasi peserta program secara keseluruhan terhadap pelaksanaan program, kesesuaian atau ketaatan peserta program dalam menjalankan program seperti apa yang telah diarahkan oleh peserta program, juga jaringan yang dimiliki untuk memasarkan dan menjual hasil dari program.

Evaluasi

Tingkat evaluasi dalam penelitian ini adalah tingkat partisipasi dalam tahap evaluasi. Tahap evaluasi merupakan tahap keempat dalam partisipasi menurut Uphoff (1979) yang mana dalam penelitian ini digabungkan dengan partisipasi menurut Arnstein (1969) sehingga hasil dari partisipasi dalam perencanaan tersebut adalah hasil partisipasi dari delapan tingkatan partisipasi Arnstein (1969). Partisipasi Arnstein dibagi ke dalam tiga tingkat antara lain rendah (non-partisipasi), sedang (tokenisme), dan tinggi (citizen power). Pertanyaan diberikan dalam bentuk kuesioner yang dibacakan kepada responden.Tingkat partisipasi dalam evaluasi dapat dilihat dalam Tabel 13.

Tabel 13 Jumlah dan Persentase Responden Berdasarkan Tingkat Partisipasi dalam Evaluasi

Tingkat Evaluasi Jumlah (n) Persentasi (%)

Rendah 3 8,57

Sedang 15 42,86

Tinggi 17 48,57

Total 35 100,00

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 3 atau 8,57 persen peserta program memiliki partisipasi dalam tahapan evaluasi yang rendah, sebanyak 15 atau 42,86 persen peserta program memiliki tingkat partisipasi dalam tahap evaluasi yang sedang, dan sebanyak 17 atau 48,57 persen peserta program memiliki tingkat partisipasi dalam evaluasi yang tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas peserta program memiliki tingkat partisipasi dalam tahap evaluasi yang tinggi.

(46)

dan saran untuk program yang akan datang sehingga peserta merasa perlu untuk menghadiri evaluasi tersebut. Berikut penuturan dari salah satu peserta program yang menjadi responden:

“Saya sering hadir saat kumpul untuk evaluasi karena saya ingin tahu seberapa berhasil dari program, bagaimana baik buruknya, saya juga bisa ikut berpendapat dari pengalaman saya sendiri waktu menjalankan program.”

(Bapak EMN, 43 tahun)

Ikhtisar

(47)

Gambar

Gambar 1 Delapaan Tingkatan dalam Tangga Partisipasi Masy
Gambar 2 Kerangka PPemikiran Analisis Modal Sosial dan
tabel  di bawah ini.
Tabel 2 Kombinasi Tahapan Partisipasi Uphoff (1979) dan Tingkat Partisipasi
+3

Referensi

Dokumen terkait

Walaupun mean yang dihasilkan berada pada kategori setuju, namun saat diuji secara parsial dengan menggunakan uji t nilai manfaat memiliki pengaruh yang tidak signifikan terhadap

Untuk menentukan layak atau tidaknya masalah sosial dalam kumpulan cerpen Juragan Haji karya Helvy Tiana Rosa sebagai bahan ajar sastra di SMA harus sesuai dengan kognisi

PT Jaya Fermex juga memperlihatkan kinerja yang baik pada sub kriteria yang diprioritaskan yaitu kemampuan memenuhi pesanan (0,333), kemampuan mengirimkan pesanan tepat

Nilai kini kewajiban imbalan pasti ditentukan dengan mendiskontokan estimasi arus kas di masa depan dengan menggunakan tingkat bunga obligasi pemerintah (dikarenakan tidak

Pada musim 1, Anies IPB memiliki buah yang lebih panjang dibanding dengan varietas Tit Super dan Trisula di lokasi penanaman Sumedang dan Boyolali sedangkan di Bogor

Pihak pertama pada tahun 2015 ini berjanji akan mewujudkan target kinerja tahunan sesuai lampiran perjanjian ini dalam rangka mencapai target kinerja jangka menengah

Untuk perencanaan pencapaian kecukupan daging sapi di Papua Barat adalah dengan melihat hubungan data jumlah Induk dan jumlah anak sapi (output), hasil yang terbaik

Puji dan syukur peneliti panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala kasih setia dan karunia-Nya, sehingga peneliti saat ini dapat menyelesaikan penelitian