• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penerapan Bullwhip Effect Dalam Model Persediaan Q Dengan Pendekatan Hadley Within Pada Rantai Pasok PT. Budi Raya Perkasa

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Penerapan Bullwhip Effect Dalam Model Persediaan Q Dengan Pendekatan Hadley Within Pada Rantai Pasok PT. Budi Raya Perkasa"

Copied!
57
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)
(4)

DAFTAR PUSTAKA

Bahagia, S. N. 2006. Sistem Inventory. Lab ITB. Bandung.

Disney, S. M. dan Marc R. Lambrect. 2008. On Replenishment Rules,

Forecasting, and the Bullwhip Effect in Supply Chains. North America:

Publishers Inc.

Ginting, Rosnani. 2012. Sistem Produksi. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Hidayat, Syarif. 2014. Perencanaan & Penjadwalan Distribusi Pakaian Jadi

dengan Metode Distribution Resource Planning. (Teknik Industri : UAI).

Pujawan, I Nyoman. 2005. Supply Chain Management. Surabaya: Penerbit Guna

Widya

Sinio, Nanda dkk. 2014. Usulan Penentuan Jumlah Pemesanan Optimal

Komponen Menggunakan Model Persediaan Q di PT. X*. (Teknik Industri

: Institut Teknologi Nasional)

Sinulingga, Sukaria. 2014. Metode Penelitian. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Makridakis, Spyros. 1999. Metode dan Aplikasi Peramalan. Jakarta : Erlangga

Tanweer, Akhtar dkk. 2014. An Optimization Model for Mitigating

Bullwhip-Effect in a Two-Echelon Supply Chain. (ICTTS: Lanzhou Jiaotong

University).

Yandra Rahadian Perdana. 2015. Analisis Permintaan Produk Dengan

Menggunakan Metode Bullwhip Effect Di Industri Kecil Obat Tradisional

Studi Kasus : CV. Annuur Herbal Indonesia. (Teknik Industri : UIN Sunan

(5)

BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

3.1. Bullwhip Effect1

Distorsi informasi pada supply chain adalah salah satu sumber kendala

dalam menciptakan supply chain yang efisien. Sering kali informasi tentang

permintaan konsumen terhadap suatu produk relative stabil dari waktu ke waktu,

namun order dari toko ke penyalur dan dari penyalur ke pabrik jauh lebih

fluktuatif dibandingkan dengan pola permintaan dari konsumen tersebut. Sebagai

contoh dari suatu perusahaan P&G yang penjualan produknya relative stabil di

berbagai ritel. Dengan kata lain, permintaan yang sebenarnya relative stabil

ditingkat pelanggan akhir berubah menjadi fluktuatif dibagian hulu supply chain

dan semakin ke hulu peningkatan tersebut semakin besar. Fenomena ini

dinamakan dengan Bullwhip Effect.

3.1.1. Penyebab Bullwhip Effect2

Lee dan kawan-kawan (1997) mengidentifikasi 4 penyebab utama dari

Bullwhip Effect yaitu:

1. Demand Forecast Updating (Pembaharuan Ramalan Permintaan)

Peramalan permintaan dilakukan oleh hampir setiap perusahaan karena tidak

ada perusahaan yang bisa mengetahui dengan pasti berapa produk yang akan

1 I Nyoman Pujawan, Supply Chain Management Edisi Pertama, Surabaya: Guna Widya,2005),

h.193

2

(6)

diminta oleh pelanggan pada suatu periode tertentu. Ramalan ini diperlukan

untuk membuat keputusan jangka pendek, menengah dan panjang di

perusahaan tersebut. Untuk mengakomodasi informasi dan pengetahuan

terbaru ke dalam ramalan, setiap saat perusahaan harus melakukan

pembaharuan terhadap ramalan tersebut.

Ketika ritel memesan ke pusat distribusi, ukuran pesanan ditentukan

berdasarkan ramalam tersebut. Apabila perusahaan menggunakan kebijakan

persediaan reorder point atau order-up-to-level (ada batas persediaan

maksimum dan minimum, parameter-parameter persediaan seperti persediaan

pengaman, inventory maximum, reorder point, dan sebagainya juga berubah

dengan adanya pembaharuan ramalan permintaan. Pembaharuan seperti inilah

yang biasanya menyebabkan variabilitas order yang dipesan oleh ritel lebih

besar dibandingkan dengan variabilitas permintaan yang diterimanya dari

pelanggan akhir. Model ramalan yang digunakan juga bisa berpengaruh

terhadap intensitas Bullwhip Effect. Menurut studi yang dilakukan oleh Chen

et al, menunjukkan bahwa untuk permintaan yang bersifat acak dengan

distribusi yang identik, bullwhip effect bisa lebih besar kalau ritel

menggunakan model peramalan exponential smoothing dibanding dengan

menggunakan metode moving average. Mereka juga mengemukakan bahwa

ramalan yang lebih halus bisa mengurangi bullwhip effect. Jadi, kalau

misalnya perusahaan menggunakan model peramalan exponential smooting,

koefisien alpha yang lebih kecil (yang berarti bahwa permintaan terkini

(7)

2. Order Batching

Order batching diperlukan karena proses produksi dan pengiriman produk

tidak akan ekonomis bisa dilakukan dalam ukuran kecil. Pada model-model

inventoy yang berdasarkan prinsip economic order quantity (EOQ) kita bisa

mengerti bahwa ukuran pesanan yang terlalu kecil akan mengakibatkan

ongkos-ongkos pesan yang terlalu besar. Semakin besar ongkos-ongkos tetap

pemesanan, semakin besar pula ukuran pesanan yang ekonomis. Demikian

pula halnya dengan kegiatan produksi dan pengiriman.

3. Fluktuasi Harga

Ritel atau toko melakukan forward buying sebagai respon terhadap penurunan

harga yang sifatnya temporer. Sering kali reaksi dari toko-toko dan ritel ini

mengakibatkan volume penjualan meningkat bahkan tidak jarang melebihi

prediksi pusat distribusi. Akibatnya pusat distribusi akan memesan dengan

jumlah yang besar ke pabrik. Pabrik merespon kebutuhan ini dengan

meningkatkan aktivitas produksi, bisa dengan lembur atau debgab memesan

ke subkontraktor.

Pada saat material akan dikirim dari pemasok ke pabrik, penurunan harga

sudah berakhir dan ritel maupun toko-toko sekarang memilii stok yang cukup

banyak. Mereka tidak akan memesan lagi dalam waktu 2-3 bulan karena

permintaan konsumen akhir sebenarnya tidak berubah. Pabrik yang sudah

melakukan lembur dan supplier yang suda mengirim bahan baku dengan

(8)

4. Rationing & Shortage Gaming

Pada situasi dimana permintaan lebih tinggi dari persediaan, penjual sering

melakukan apa yang dinamakan rationing, yakni hanya memenuhi seratus

persen pesanan pelanggan, namun hanya sekian persen dari volume yang

dipesan. Jadi, kalau persediaan yang ada hanya 800 unit dan pesanan

seluruhnya sebesar 1000 unit maka semua pelanggan hanya dialokasikan

sebesar 80% dari permintaannya. Oleh karena itu, banyak pelanggan yang

berupaya membesarkan ukuran pesanan mereka dengan harapan jika

dilakukan rationing mereka masih memperoleh jumlah yang cukup.

3.1.2. Mengukur Bullwhip Effect3

Sebuah metrik sederhana yang sering terjadi secara alami dari bagaimana

menganalisis bullwhip effect yang sering disebut juga sebagai variance ratio.

Pengukuran bullwhip yang paling umum yang terdapat dalam beberapa literatur

adalah

Bullwhip =

Nilai bullwhip yang sama dengan satu berarti bahwa varians order sama

dengan varians permintaan atau dengan kata lain tidak terdapat varians. Nilai

bullwhip yang lebih besar dari satu menunjukkan bahwa terdapat bullwhip effect,

sedangkan nilai bullwhip yang lebih kecil dari satu disebut sebagai smoothing

yang berarti bahwa pola pesanan kurang bervariasi dibandingkan dengan pola

permintaan.

3 Stephen M.Disney dan Marc R. Lambrect, On Replenishment Rules, Forecasting, and the

(9)

3.2. Model Persediaan Q4

Karakteristik kebijakan persediaan model Q ditandai oleh dua hal

mendasar sebagai berikut:

1. Besarnya ukuran pemesanan (qo) selalu tetap untuk setiap kali pemesanan

dilakukan.

2. Pemesanan dilakukan apabila jumlah persediaan yang dimiliki telah mencapai

suatu tingkat tertentu (r) yang disebut titik pemesanan kembali (reorder

point).

Sesuai dengan karakteristik serta asumsi tersebut di atas, secara grafis

situasi inventory yang ada dalam gudang bila menggunakan metode Q dapat

digambarkan pada Gambar 3.1.

Gambar 3.1. Situasi Persediaan dengan Model Q

Karena permintaan probabilistik tidak tetap sedangkan ukuran lot

pemesanan (qo) selalu tetap maka interval waktu antara saat pemesanan

berubah-ubah (variabel).

4

(10)

BAB IV

METODOLOGI PENELITIAN

4.1. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di PT. Budi Raya Perkasa yang bergerak dalam

bidang produksi spring bed. Perusahaan ini berlokasi di Jalan Industri No. 38

Tanjung Morawa, Deli Serdang, Sumatera Utara. Waktu penelitian dilakukan

pada bulan Januari 2016 hingga bulan Mei 2016.

4.2. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan (Action

Research). Action Research adalah suatu penelitian yang dilakukan untuk

mendapatkan temuan-temuan praktis untuk keperluan pengambilan operasional.

Tujuan penelitian ini untuk pengambilan keputusan operasional guna

mengembangkan keterampilan baru atau pendekatan baru.

4.3. Objek Penelitian

Objek penelitian yang diamati adalah persediaan produk spring bed ukuran

(11)

4.4. Variabel Penelitian

Variabel adalah segala sesuatu yang dapat memiliki atau mengambil nilai

yang berbeda atau bervariasi. Nilai dari variabel dapat bersifat kuantitatif dan

kualitatif. Variabel-variabel yang terdapat dalam penelitian ini adalah sebagai

berikut:

1. Variabel Dependen

Variabel Dependen adalah variabel yang nilai atau valuenya dipengaruhi atau

ditentukan oleh variabel lain. Variabel dependen merupakan variabel utama

karena fokus investigasi pada umumnya ditekankan pada perubahan yang

terjadi pada variabel ini. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah

a. Jumlah persediaan optimum untuk memenuhi permintaan yang

berfluktuatif.

2. Variabel Independen

Variabel Independen adalah variabel yang mempengaruhi variabel dependen

baik secara positif maupun negatif. Variabel independen yang digunakan dalam

penelitian ini, yaitu:

a. Jumlah penjualan.

b. Jumlah permintaan.

c. Biaya, yaitu biaya pesan produk, biaya simpan, dan biaya akibat

kekurangan persediaan produk jadi

(12)

4.5. Kerangka Berpikir5

Kerangka atau model berpikir yang juga disebut kerangka teoritis ialah

sebuah model yang ditunjukkan dalam bentuk diagram yang memperlihatkan

struktur dan sifat hubungan logis antar variabel penelitian yang telah diidentifikasi

dari teori dan temuan-temuan hasil review artikel yang akan digunakan dalam

menganalisis masalah penelitian. Kerangka konseptual dalam penelitian ini

ditunjukkan pada Gambar 4.1.

Persediaan optimum Jumlah Penjualan

Jumlah Permintaan

Biaya Pesan Produk

Biaya Simpan

Biaya akibat kekurangan persediaan produk jadi

Lead Time

Gambar 4.1. Kerangka Berpikir

Definisi operasional ialah penegasan arti dan makna setiap variabel yang

tercakup dalam kerangka konseptual. Penegasan ini penting untuk menciptakan

5

(13)

kesatuan pengertian yang sangat dibutuhkan dalam proses pengukuran nilai dari

masing-masing variabel ketika pengumpulan data dilakukan. Berdasarkan

kerangka penelitian di atas variabel operasional yang digunakan adalah :

1. Jumlah permintaan adalah jumlah produk yang dipesan oleh distributor

kepada manufaktur dimana distributor dan manufaktur merupakan pelaku

dalam rantai pasok.

2. Jumlah penjualan adalah jumlah penjualan dari rantai manufaktur yang

dikirimkan kepada distributor dimana distributor dan manufaktur merupakan

pelaku dalam rantai pasok.

3. Biaya pesan produk adalah biaya pemesanan terdiri atas biaya untuk sekali

pesan.

4. Biaya simpan adalah biaya yang diperkirakan akibat adanya modal yang

tertanam dalam persediaan.

5. Biaya akibat kekurangan persediaan produk jadi adalah biaya yang muncul

akibat ketidaktersediaan produk jadi yang dibutuhkan karena perusahaan

tidak mampu melakukan kegiatan produksi dan memenuhi permintaan

produk jadi.

6. Lead time, yaitu jangka waktu yang dibutuhkan dari pelepasan order sampai

diterima oleh distributor.

4.6. Rancangan Penelitian

Rancangan penelitian dilaksanakan dengan mengikuti langkah-langkah

(14)

MULAI

- Prosedur pemesanan dan pengiriman produk jadi

2. Data sekunder

- Hasil ramalan perusahaan - Jumlah penjualan manufaktur - Jumlah permintaan distributor

- Biaya pesan, biaya simpan, dan biaya akibat kekurangan produk jadi

- Waktu pemesanan

Pengolahan Data

1. Peramalan permintaan dan bandingkan hasil peramalan dengan permintaan aktual 2. Perhitungan nilai bullwhip effect 3. Perhitungan persediaan dengan Model Q menggunakan pendekatan Hadley-Within 4. Pengujian analisis sensitivitas

5. Perhitungan distribution requirement planning 6. Perhitungan bullwhip effect sebelum dan sesudah menghitung persediaan optimal

(15)

BAB V

PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

5.1. Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini, data-data yang diperlukan untuk penyelesaian

masalah yakni lead time pemesanan produk, biaya pemesanan produk, biaya

simpan, biaya kekurangan persediaan (stockout cost), dan data jumlah permintaan

produk jadi.

5.1.1. Lead Time Pemesanan Produk

Lead time pemesanan adalah jangka waktu yang dibutuhkan dari pelepasan

order PT. Budi Raya Perkasa sampai diterima oleh distributor di wilayah

pemasaran. Komponen-komponen yang termasuk dalam lead time pemesanan

adalah:

a. Waktu pelepasan order

b. Waktu pemuatan barang (Loading)

c. Waktu perjalanan (In transit)

d. Waktu bongkar (Unloading)

Lead time pemesanan produk jadi dapat dilihat pada Tabel 5.1.

Tabel 5.1. Lead Time Pemesanan

No. Keterangan Lead Time (Hari)

1 Produk Jadi (Manufaktur-Distributor) 1

2 Produk Jadi (Distributor-Retailer) 1

(16)

5.1.2. Biaya Pemesanan Produk

Biaya pemesanan terdiri atas biaya untuk sekali pesan satu produk spring

bed 180 cm x 200 cm yaitu sebesar Rp 10.000.

5.1.3. Biaya Simpan Produk

Biaya simpan adalah semua pengeluaran yang timbul akibat penyimpanan

barang yang meliputi biaya memiliki inventori, biaya gudang, dan biaya

kerusakan dan penyusutan. Besarnya biaya simpan untuk distributor ditetapkan

sebesar 5% dari harga produk yaitu sebesar Rp 92.500 per unit selama tiga hari.

5.1.4. Biaya Kekurangan Persediaan Produk

Biaya kekurangan persediaan timbul karena adanya kerugian atau

kesempatan yang hilang bila barang yang diminta tidak tersedia. Besarnya biaya

kekurangan persediaan produk jadi ditetapkan oleh pihak manajemen sebesar 15%

dari harga produk yang tidak tersedia yaitu sebesar Rp 277.500.

5.1.5. Data Jumlah Permintaan Produk

Data permintaan produk untuk periode Januari 2015 – Desember 2015

untuk distributor Budi Baru, Panca Warna dan Bintang Makmur dapat dilihat pada

(17)

Tabel 5.2. Data Permintaan Distributor Tahun 2015 (Unit)

Bulan Budi Baru Panca Warna Bintang Makmur

Januari 79 68 47

Sumber: PT. Budi Raya Perkasa

Pada Tabel 5.3. disajikan data aktual permintaan dan ramalan perusahaan

periode Januari, Februari, dan Maret tahun 2016 untuk distributor Budi Baru,

Panca Warna dan Bintang Makmur.

Tabel 5.3. Data Aktual Permintaan dan Ramalan Perusahaan Distributor Tahun 2016 (Unit)

Bulan Budi Baru Panca Warna Bintang Makmur

Permintaan Ramalan Permintaan Ramalan Permintaan Ramalan

Januari 82 77 73 62 49 47

Februari 78 77 67 62 37 48

Maret 69 78 64 62 38 48

(18)

5.2. Pengolahan Data

5.2.1. Melakukan Peramalan Permintaan Produk

Peramalan permintaan pada level distributor Budi Baru dilakukan

berdasarkan permintaan retailer Budi Baru secara total. Peramalan permintaan

tidak dapat dilakukan pada level retailer karena PT. Budi Raya Perkasa hanya

menerima permintaan produk spring bed dari distributor Budi Baru, sementara

Budi Baru melayani setiap retailer dibawahnya. Begitu juga dengan distributor

Panca Warna dan Bintang Makmur.

Langkah-langkah peramalan yang akan dilakukan untuk Budi Baru adalah:

1. Tujuan Peramalan

Tujuan peramalan adalah untuk menentukan jumlah permintaan spring bed

tahun 2016.

2. Pembuatan Scatter Diagram

Data permintaan spring bed selama horison permintaan pada tahun 2015 dapat

(19)

Tabel 5.4. Data Permintaan Budi Baru Tahun 2015 (Unit)

Bulan Budi Baru

Januari 79

Februari 84

Maret 61

April 83

Mei 69

Juni 73

Juli 83

Agustus 81

September 71

Oktober 63

November 79

Desember 87

Total 913

Sumber: PT. Budi Raya Perkasa

Gambar 5.1. Diagram Pencar Permintaan Budi Baru Tahun 2015

3. Pemilihan Metode Peramalan

Berdasarkan scatter diagram pada Gambar 5.1, maka metode peramalan

yang digunakan adalah:

a. Single Exponentian Smoothing (SES)

(20)

BAB VI

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

6.1. Analisis

6.1.1. Analisis Bullwhip Effect

Hasil perbandingan peramalan permintaan dengan permintaan aktual

periode Januari sampai Maret 2016 menunjukkan bahwa masih terdapat selisih

antara jumlah permintaan forecasting dan jumlah permintaan aktual di setiap

periode. Jumlah permintaan produk yang selalu berubah-ubah serta peramalan

yang dilakukan pada setiap pelaku supply chain ini menimbulkan selisih yang

jauh antara permintaan dengan penjualan. Fenomena ini disebut bullwhip effect.

Berdasarkan hasil perhitungan nilai bullwhip effect maka diperoleh nilai

yang menunjukkan besarnya tingkat variansi permintaan. Besarnya nilai bullwhip

effect diperoleh dari hasil bagi dari koefisien variansi permintaan dengan koefisien

variansi penjualan. Perbandingan hasil peramalan usulan dan perusahaan terhadap

permintaan aktual menunjukkan bahwa hasil peramalan usulan lebih baik

dikarenakan nilai bullwhip effect yang lebih mendekati satu.

Tabel 6.1. Hasil Perbandingan Nilai Peramalan Usulan dan Perusahaan

Usulan Distributor 0,0879 0,1374 0,2240

Manufaktur 0,0614

Perusahaan Distributor 0,0856 0,0000 0,0752

Manufaktur 0,0591

(21)

Tabel 6.1. menunjukkan bahwa nilai bullwhip effect lebih kecil dari satu

yang berarti permintaan masih stabil atau tidak terjadi distorsi permintaan untuk

produk tersebut akan tetapi terjadi peningkatan variabilitas penjualan yang

menyebabkan bertambahnya biaya inventori.

6.1.2. Analisis Penyebab Bullwhip Effect

Berdasarkan hasil penelitian, penyebab terjadinya bullwhip effect adalah:

1. Demand Forecasting Updating

Tidak akuratnya ramalan permintaan yang dilakukan perusahaan karena

permintaan distributor tidak menggunakan permintaan dari konsumen akhir

langsung yang mengakibatkan terjadinya variabilitas permintaan yang besar

dalam rantai supply. Permintaan yang berasal dari distributor tidak akan sama

seperti yang diminta oleh konsumen akhir. Oleh karena itu, perusahaan dapat

melakukan survei secara periodik ke konsumen langsung untuk mendapatkan

keakuratan data permintaan.

2. Order Batching

Order batching diperlukan karena proses produksi dan pengiriman produk

tidak akan ekonomis jika dilakukan dalam ukuran kecil. Ritel yang menjual

rata-rata 2 unit spring bed tidak akan memesan tiap hari dengan rata-rata 2

unit ke distributor. Mereka mungkin akan memesan tiap 1 minggu dengan

rata-rata ukuran pesanan sekitar 14 unit. Order Batching ini memicu

terjadinya bullwhip effect pada supply chain. Permintaan pelanggan akhir

(22)

dua mingguan dari rite sehingga distributor akan menerima order yang lebih

fluktuatif dibandingkan permintaan yang dihadapi oleh ritel.

6.1.3. Analisis Sensitivitas

Besarnya jumlah permintaan produk, biaya pemesanan produk, biaya

simpan dan biaya kekurangan persediaan berpeluang mengalami kenaikan atau

penurunan pada masa yang akan datang. Oleh karena itu dibutuhkan suatu uji

sensitivitas terhadap besarnya jumlah permintaan produk, biaya pemesanan

produk, biaya simpan dan biaya kekurangan persediaan.

6.1.3.1. Analisis Sensitivitas Kenaikan Berbagai Variabel terhadap Biaya Total

Analisis sensitivitas dilakukan dengan menaikkan jumlah permintaan

produk, biaya pemesanan produk, biaya simpan dan biaya kekurangan persediaan

(23)

Tabel 6.2. Analisis Sensitivitas Kenaikan Jumlah Permintaan Produk, Biaya Pemesanan Produk, Biaya Simpan dan Biaya Kekurangan Persediaan

Terhadap Biaya Total dan Lot-Sizing

Rantai

Tabel 6.2. menunjukkan bahwa kenaikan jumlah permintaan produk, biaya

pemesanan produk, biaya simpan dan biaya kekurangan persediaan terhadap biaya

total dan lot-sizing menyebabkan kenaikan pada ukuran lot optimum kecuali pada

(24)

6.1.3.2. Analisis Sensitivitas Penurunan Berbagai Variabel terhadap Biaya Total

Analisis sensitivitas dilakukan dengan penurunan jumlah permintaan

produk, biaya pemesanan produk, biaya simpan dan biaya kekurangan persediaan

sebesar 5-20%. Berikut rekapitulasi analisis sensitivitas pada Tabel 6.3.

Tabel 6.3. Analisis Sensitivitas Penurunan Jumlah Permintaan Produk, Biaya Pemesanan Produk, Biaya Simpan dan Biaya Kekurangan Persediaan

Terhadap Biaya Total dan Lot-Sizing

(25)

BAB VII

KESIMPULAN DAN SARAN

7.1. Kesimpulan

Kesimpulan yang diperoleh dari hasil penelitian adalah sebagai berikut:

1. Nilai bullwhip effect berdasarkan hasil perhitungan peramalan permintaan

tahun 2015 dengan aktual permintaan tahun 2016 untuk distributor Budi

Baru, Panca Warna, Bintang Makmur, dan manufaktur masing-masingadalah

0,0879; 0,1374; 0,2240 dan 0,0614. Setelah dilakukan pengendalian

persediaan, nilai bullwhip effect lebih mendekati satu untuk masing-masing

distributor yaitu 0,8533; 0,7772; 0,4621 dan 0,8682.

2. Hasil analisis sensitivitas menunjukkan bahwa kenaikan jumlah permintaan

produk, biaya pemesanan produk, biaya simpan dan biaya kekurangan

persediaan terhadap biaya total dan lot-sizing menyebabkan kenaikan pada

ukuran lot optimum kecuali pada distributor Panca Warna sedangkan

penurunan jumlah permintaan produk, biaya pemesanan produk, biaya

simpan dan biaya kekurangan persediaan terhadap biaya total dan lot-sizing

menyebabkan penurunan pada ukuran lot optimum kecuali pada distributor

Budi Baru dan Bintang Makmur.

3. Cara yang dapat digunakan perusahaan untuk meminimalkan bullwhip effect

adalah information sharing, memperpendek atau mengubah struktur supply

(26)

7.2. Saran

Saran yang dapat diberikan setelah dilakukan penelitian ini adalah:

1. Seluruh pemain supply chain harus membagi informasi (information sharing)

permintaan produk guna menghindari terjadinya bullwhip effect.

2. Perusahaan harus melakukan survei secara periodik ke konsumen langsung

untuk mendapatkan keakuratan data permintaan

3. Perusahaan dapat menggunakan bantuan teknologi untuk memudahkan dalam

mendapatkan informasi yang akurat seperti penggunaan electronic

procurement ataupun membuat website.

4. Sebaiknya teknik peramalan yang dilakukan berkaitan dengan metode

smoothing agar diperoleh hasil peramalan permintaan yang lebih akurat.

5. Jika terdapat penurunan harga atau diskon, semua pihak pada supply chain

harus mengetahui program tersebut dengan baik sehingga tidak keliru dalam

(27)

BAB II

GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

2.1. Sejarah Perusahaan

PT. Budi Raya Perkasa merupakan suatu perusahaan yang bergerak di

bidang manufaktur yang memproduksi spring bed. Perusahaan ini berdiri pada

bulan Mei tahun 2011. PT. Budi Raya Perkasa berlokasi di Jalan Industri No. 38

Tanjung Morawa, Deli Serdang, Sumatera Utara.

Perusahaan ini memiliki tekad untuk menjadi perusahaan spring bed yang

dapat menguasai pasar. Produk spring bed yang diproduksi oleh perusahaan

tersebut menggunakan merek dagang Maxi Coil.

2.2. Ruang Lingkup Bidang Usaha

PT. Budi Raya Perkasa memfokuskan produksinya pada pembuatan spring

bed. Spring bed yang diproduksi merupakan tempat tidur yang siap dipasarkan

kepada distributor langsung dengan daerah pemasaran di seluruh Sumatera Utara

dengan fokus utama di sekitar Tanjung Morawa, Lubuk Pakam, Galang, Tembung

dan lainnya.

Produk yang diproduksi oleh PT. Budi Raya Perkasa adalah spring bed

yang berukuran 100 cm x 200 cm, 140 cm x 200 cm, dan 180 cm x 200 cm.

(28)

2.3. Lokasi Perusahaan

PT. Budi Raya Perkasa berlokasi di Jalan Industri No. 38 Tanjung

Morawa, Deli Serdang, Sumatera Utara

2.4. Daerah Pemasaran

PT. Budi Raya Perkasa merupakan suatu perusahaan yang masih berskala

lokal. Produk yang dihasilkan oleh PT. Budi Raya Perkasa akan dipasarkan di

seluruh daerah Sumatera Utara terutama di sekitar Tanjung Morawa, Lubuk

Pakam, Galang, Tembung dan lainnya.

2.5. Organisasi dan Manajemen 2.5.1. Struktur Organisasi Perusahaan

Stuktur organisasi PT. Budi Raya Perkasa adalah berbentuk gabungan lini

dan fungsional. Struktur Organisasi PT. Budi Raya Perkasa dapat dilihat pada Bag. Logistik Bag. Produksi Bag.

Pemasaran

(29)

2.5.2. Pembagian Tugas dan Tanggung Jawab

Proses pembagian tugas pada lantai produksi dibagi menjadi sepuluh

bagian, yaitu:

1. Direktur

a. Merencanakan arah, strategi, dan kebijakan perusahaan dalam rangka

mencapai tujuan yang diinginkan.

b. Membawahi langsung General Manager.

c. Mengawasi pencatatan transaksi dan administrasi perseroan sesuai dengan

peraturan yang berlaku bagi perusahaan.

d. Mengarahkan kegiatan perusahaan dengan jalan komunikasi dan

pelimpahan wewenang dan tanggung jawab.

2. General Manager

a. Memimpin dan mengurus semua aspek kegiatan perusahaan sesuai dengan

tujuan dan senantiasa berusaha untuk meningkatkan efisiensi perusahaan.

b. Bertanggung jawab pada Direktur Utama.

c. Membawahi langsung Bagian Personalia, Bagian Produksi, Bagian

Pemasaran dan Bagian Keuangan.

d. Membina hubungan yang baik dengan karyawan perusahaan dan seluruh

pihak yang diperlukan untuk kepentingan perusahaan.

3. Bagian Logistik

a. Mengatur ketersediaan bahan baku untuk produksi

b. Mengatur tempat penyimpanan produk jadi

(30)

4. Bagian Personalia

a. Menangani seluruh urusan yang berhubungan dengan karyawan pabrik,

seperti perekrutan dan koordinasi.

b. Melaksanakan training untuk karyawan baru maupun yang sudah ada

sesuai dengan permintaan atasan yang bersangkutan

c. Menyimpan data karyawan dan pelatihan yang pernah dilaksanakan

d. Memastikan peraturan pemerintah tentang ketenagakerjaan benar-benar

diterapkan

5. Bagian Produksi

a. Mengatur segala kegiatan di pabrik, mulai dari penerimaan bahan,

produksi, pengemasan, hingga pengiriman.

b. Mengatur pemakaian dan perawatan seluruh mesin dan peralatan yang ada

di pabrik.

c. Bertanggung jawab atas produksi dan kualitas produk yang dihasilkan.

d. Bertanggung jawab kepada General Manajer.

6. Mandor

a. Mengkoordinasi karyawan produksi yang bekerja langsung.

b. Membawahi langsung karyawan pabrik

7. Karyawan Produksi

a. Melaksanakan seluruh kegiatan produksi di pabrik sesuai dengan instruksi

dari kepala pabrik.

b. Bertanggung jawab atas kondisi peralatan dan kebersihan lingkungan

(31)

c. Bertanggung jawab kepada bagian produksi.

8. Bagian Pemasaran

a. Melakukan kegiatan pemasaran produk yang dihasilkan perusahaan.

b. Menerima pesanan produk dari konsumen.

c. Menetapkan harga jual produk untuk tiap pesanan.

d. Bertanggung jawab kepada general manager

9. Staf Pemasaran

a. Menangani segala administrasi yang berhubungan dengan kegiatan

pemasaran.

b. Bertanggung jawab kepada Bagian Pemasaran.

10. Bagian Keuangan

a. Mengatur dan mengawasi keuangan di perusahaan.

b. Bertanggung jawab atas pengeluaran dan penerimaan dana.

c. Mengawasi kegiatan pencatatan akuntansi di perusahaan.

d. Menyusun laporan aktivitas perusahaan setiap tahun.

e. Bertanggung jawab kepada general manajer.

11. Staf Keuangan

a. Menangani segala administrasi yang berhubungan dengan keuangan

perusahaan.

b. Melakukan pencatatan akuntansi dan perhitungan pajak perusahaan.

(32)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Dunia bisnis telah menjadi semakin sensitif terhadap waktu dan

persaingan pada saat ini dikarenakan banyaknya ketidakpastian yang muncul.

Salah satu ketidakpastian yang dihadapi adalah ketidakpastian informasi. Pada

rantai pasok (supply chain) terdapat fenomena fluktuasi permintaan dari hilir ke

hulu dimana semakin ke hulu peningkatan tersebut semakin besar. Peningkatan

variansi permintaan untuk masing-masing tahapan dalam supply chain yang

semakin meningkat dinamakan bullwhip effect. Kondisi ini dapat terjadi di rantai

pasok suatu perusahaan dan menyebabkan perusahaan salah dalam mengambil

keputusan, seperti keputusan dalam jumlah persediaan, peramalan dan distribusi

produk jadi. Hal ini menyebabkan tingginya persediaan produk jadi.

Permasalahan dalam tingginya variansi jumlah permintaan dengan jumlah

persediaan terjadi pada perusahaan PT. Budi Raya Perkasa. Perusahaan ini

merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang manufaktur yang merakit

spring bed. Spring bed yang dihasilkan dipasarkan kepada distributor dengan

daerah pemasaran di seluruh Sumatera Utara seperti daerah Tanjung Morawa,

Lubuk Pakam, Galang, Tembung dan lain-lain. Area pemasaran yang demikian

luas menuntut PT. Budi Raya Perkasa harus mampu merencanakan dan

mengendalikan persediaan produk jadi dengan tepat untuk memenuhi permintaan

(33)

Masalah variansi jumlah permintaan dengan jumlah persediaan yang

diteliti ialah pada spring bed ukuran 180 cm x 200 cm. Penelitian ini dilakukan

pada spring bed ukuran 180 cm x 200 cm dikarenakan permintaan terhadap spring

bed ukuran 180 cm x 200 cm paling tinggi daripada ukuran yang lain. Data

permintaan spring bed tahun 2015 dapat dilihat pada Tabel 1.1.

Tabel 1.1. Data Permintaan Spring Bed Tahun 2015

Bulan Ukuran (Unit)

Sumber : PT. Budi Raya Perkasa

Tabel 1.1. menunjukkan jumlah permintaan spring bed ukuran 180 cm x

200 cm sebesar 37 % dari seluruh jumlah permintaan distributor. Oleh karena itu

penelitian ini dilakukan pada spring bed ukuran 180 cm x 200 cm.

Data permintaan dan ramalan permintaan produk spring bed ukuran 180

(34)

Tabel 1.2. Data Permintaan dan Ramalan Permintaan Produk Spring Bed dengan Ukuran 180 cm x 200 cm Tahun 2015 (Unit)

Bulan Permintaan Distributor Ramalan Perusahaan Selisih

Januari 194 161 33

Sumber : PT. Budi Raya Perkasa

Tabel 1.2. menunjukkan bahwa terdapat selisih yang variatif antara jumlah

permintaan dengan ramalan perusahaan sebesar 11,21 % yang menimbulkan

kekurangan produk (stock out) sepanjang periode 2015 kecuali pada bulan Maret,

September, dan Oktober terjadi pertambahan biaya inventori (overstock).

Overstock dan stock out disebabkan permintaan yang cenderung mengalami

perubahan. Perubahan ini menyebabkan distorsi permintaan dari pihak-pihak

dalam supply chain. Distorsi tersebut mengakibatkan permintaan tidak akurat,

sehingga terdapat selisih variatif antara jumlah permintaan dengan ramalan

perusahaan. Fenomena ini disebut bullwhip effect. Bullwhip effect menyebabkan

(35)

Permasalahan yang dihadapi PT. Budi Raya Perkasa dapat diatasi dengan

metode bullwhip effect kemudian mengoptimalkan jumlah persediaan dengan

pendekatan Hadley Within. Metode G.Hadley dan T.M. Within merupakan

metode yang digunakan untuk kasus lost sales yang menggunakan pola

permintaan serta waktu ancang (lead time) yang konstan. Kasus ini terdapat pada

penelitian Yandra Rahadian dan Nanda Sinio.

Penelitian Yandra Rahadian Perdana pada perusahaan dihadapkan pada

permasalahan dalam menyediakan produk kunyit putih sesuai dengan kebutuhan

pelanggan. Terdapat ketidakpastian permintaan pelanggan dari waktu ke waktu.

Keputusan dalam mengatasi ketidakpasatian permintaan merupakan bagian dari

pendekatan Supply Chain Management (SCM). Fluktuasi permintaan

menyebabkan perusahaan tidak mampu mengambil keputusan dengan tepat dalam

menentukan jumlah produk yang diproduksi. Berdasarkan permasalahan tersebut,

maka dalam penelitian dilakukan pengukuran variansi tingkat permintaan produk

dibandingkan dengan kemampuan produksi perusahaan dengan metode bullwhip

effect.

Penelitian Nanda Sinio pada perusahaan pemintalan benang yang memiliki

masalah dalam mencapai target produksi dikarenakan sering mengalami

kerusakan pada mesin Windling. Mesin ini memiliki komponen dengan ukuran

cukup kecil yang bila mengalami kerusakan tidak dapat diperbaiki. Perusahaan

harus selalu menyediakan cadangan komponen agar ketika komponen mesin ini

(36)

untuk menyelesaikan permasalahan ini adalah model persediaan Q dengan

demand yang berasal dari laju kerusakan komponen.

1.2. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan, permasalahan yang

terdapat pada perusahaan adalah tingginya variansi jumlah permintaan dengan

jumlah persediaan (quantity gap) yang menyebabkan distorsi informasi (bullwhip

effect).

1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan umum dari penelitian ini adalah meminimalkan bullwhip effect

untuk memperoleh persediaan yang optimal.

Tujuan khusus dari penelitian tugas akhir ini adalah:

1. Memperoleh nilai bullwhip effect pada rantai pasok perusahaan

2. Melakukan analisis sensivitas terhadap jumlah permintaan produk, biaya

pemesanan produk, biaya simpan dan biaya kekurangan persediaan

(37)

ABSTRAK

PT. Budi Raya Perkasa adalah perusahaan manufaktur yang memproduksi spring

bed. Perusahaan memiliki masalah dalam menghadapi tingginya variansi antara

jumlah permintaan dan jumlah persediaan spring bed ukuran 180 cm x 200 cm.

Variansi yang tinggi dapat terjadi karena hasil ramalan permintaan dari

perusahaan berbeda dengan hasil ramalan permintaan dari distributor. Permintaan

pelanggan yang tidak pasti menimbulkan bullwhip effect sehingga bertambahnya

biaya inventori. Nilai bullwhip effect diperoleh dengan membandingkan koefisien

variansi hasil ramalan permintaan dengan permintaan aktual untuk distributor

Budi Baru, Panca Warna, Bintang Makmur dan manufaktur masing-masing

sebesar 0,0879; 0,1374; 0,2240 dan 0,0614. Nilai bullwhip effect yang lebih kecil

dari satu menunjukkan peningkatan variabilitas penjualan produk spring bed yang

menyebabkan perusahaan belum mampu memenuhi permintaan secara total.

Usulan perbaikan untuk mengatasi bullwhip effect yaitu dengan melakukan

kebijakan pengendalian persediaan dengan model Q menggunakan pendekatan

Hadley-Within, sehingga diperoleh ukuran pemesanan yang optimal (qo*)

masing-masing untuk distributor Budi Baru, Panca Warna, Bintang Makmur dan

manufaktur sebesar 6 unit, 5 unit, 4 unit dan 10 unit. Nilai bullwhip effect setelah

dilakukan kebijakan pengendalian persediaan untuk distributor Budi Baru, Panca

Warna, Bintang Makmur dan manufaktur masing-masing sebesar 0,8533; 0,7772;

0,4621 dan 0,8682. Nilai bullwhip effect yang mendekati satu menunjukkan

bahwa variansi antara jumlah permintaan dan jumlah penjualan hampir seimbang

sehingga dapat mengurangi biaya inventori pada perusahaan.

Kata Kunci: Spring Bed, Model Q, Bullwhip Effect, Exponential Smoothing,

(38)

PENERAPAN BULLWHIP EFFECT DALAM MODEL

PERSEDIAAN Q DENGAN PENDEKATAN HADLEY WITHIN

PADA RANTAI PASOK PT. BUDI RAYA PERKASA

TUGAS SARJANA

Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Dari

Syarat-Syarat Penulisan Tugas Sarjana

Oleh

JANUAR HANDOKO NIM. 120403043

D E P A R T E M E N T E K N I K I N D U S T R I

F A K U L T A S T E K N I K

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

M E D A N

(39)
(40)
(41)
(42)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang

senantiasa memberikan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis sehingga dapat

menyelesaikan Tugas Sarjana ini dengan baik.

Tugas Sarjana ini merupakan syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana

Teknik di Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera

Utara, Medan. Tugas Sarjana ini berjudul “Penerapan Bullwhip Effect Dalam Model Persediaan Q Dengan Pendekatan Hadley Within Pada Rantai Pasok PT. Budi Raya Perkasa”.

Penulis menyadari bahwa Tugas Sarjana ini masih jauh dari

kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan saran yang

membangun dari para pembaca sekalian demi kesempurnaan Tugas Sarjana ini.

Akhir kata, penulis berharap agar Tugas Sarjana ini berguna bagi kita semua.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA, MEDAN PENULIS

(43)

UCAPAN TERIMA KASIH

Dalam penulisan Laporan Tugas Sarjana ini sampai selesai, banyak pihak

yang telah membantu, maka dari itu penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Kedua orang tua penulis yang telah memberikan dukungan baik dari segi

moril, doa maupun materil.

2. Ibu Ir. Khawarita Siregar, MT selaku Ketua Departemen Teknik Industri,

Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara, Medan.

3. Bapak Ir. Ukurta Tarigan, MT selaku Sekretaris Departemen Teknik Industri,

Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara, Medan.

4. Bapak Ir. Mangara M. Tambunan, M.Sc selaku Dosen Pembimbing I dan

Koordinator Tugas Akhir penulis yang telah meluangkan waktu dan

memberikan masukan kepada penulis dalam penyelesaian laporan tugas

sarjana.

5. Bapak Erwin Sitorus, ST, MT selaku Dosen Pembimbing II penulis yang telah

meluangkan waktu dan memberikan masukan kepada penulis dalam

penyelesaian laporan tugas sarjana.

6. Ibu Ir. Rosnani Ginting, MT selaku Koordinator Tugas Akhir.

7. Ibu Achien selaku pihak dari PT. Budi Raya Perkasa yang telah memberikan

arahan, mengizinkan penulis untuk melakukan penelitian dan memberikan

data yang dapat mendukung penyelesaian laporan tugas sarjana ini.

8. Seluruh dosen Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas

(44)

9. Bang Tumijo, Bang Nurmansyah, Bang Ridho, Kak Aniaty, Kak Dina, Kak

Rahma, dan Kak Mia selaku staf pegawai Departemen Teknik Industri

Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara yang telah membantu semua

urusan administrasi dan peminjaman buku-buku di perpustakaan.

10. Abang dan adik penulis yang telah memberikan dukungan dalam penyelesaian

pendidikan sarjana ini.

11. Teman-teman seperjuangan selama penelitian di PT. Budi Raya Perkasa yaitu

Eric Hertanto, Dewi Surya Taniwan, dan Andy Suryadi.

12. Teman-teman diskusi selama penulisan laporan yaitu Puja Satria Lie dan

Steven.

13. Teman-teman DUABELATI yang merupakan teman-teman stambuk 2012

Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara,

(45)

ABSTRAK

PT. Budi Raya Perkasa adalah perusahaan manufaktur yang memproduksi spring

bed. Perusahaan memiliki masalah dalam menghadapi tingginya variansi antara

jumlah permintaan dan jumlah persediaan spring bed ukuran 180 cm x 200 cm.

Variansi yang tinggi dapat terjadi karena hasil ramalan permintaan dari

perusahaan berbeda dengan hasil ramalan permintaan dari distributor. Permintaan

pelanggan yang tidak pasti menimbulkan bullwhip effect sehingga bertambahnya

biaya inventori. Nilai bullwhip effect diperoleh dengan membandingkan koefisien

variansi hasil ramalan permintaan dengan permintaan aktual untuk distributor

Budi Baru, Panca Warna, Bintang Makmur dan manufaktur masing-masing

sebesar 0,0879; 0,1374; 0,2240 dan 0,0614. Nilai bullwhip effect yang lebih kecil

dari satu menunjukkan peningkatan variabilitas penjualan produk spring bed yang

menyebabkan perusahaan belum mampu memenuhi permintaan secara total.

Usulan perbaikan untuk mengatasi bullwhip effect yaitu dengan melakukan

kebijakan pengendalian persediaan dengan model Q menggunakan pendekatan

Hadley-Within, sehingga diperoleh ukuran pemesanan yang optimal (qo*)

masing-masing untuk distributor Budi Baru, Panca Warna, Bintang Makmur dan

manufaktur sebesar 6 unit, 5 unit, 4 unit dan 10 unit. Nilai bullwhip effect setelah

dilakukan kebijakan pengendalian persediaan untuk distributor Budi Baru, Panca

Warna, Bintang Makmur dan manufaktur masing-masing sebesar 0,8533; 0,7772;

0,4621 dan 0,8682. Nilai bullwhip effect yang mendekati satu menunjukkan

bahwa variansi antara jumlah permintaan dan jumlah penjualan hampir seimbang

sehingga dapat mengurangi biaya inventori pada perusahaan.

Kata Kunci: Spring Bed, Model Q, Bullwhip Effect, Exponential Smoothing,

(46)

DAFTAR ISI

BAB HALAMAN

LEMBAR JUDUL ... i

LEMBAR PENGESAHAN ... ii

SERTIFIKAT EVALUASI TUGAS SARJANA ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

UCAPAN TERIMA KASIH ... v

ABSTRAK ... vii

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL ... xiii

DAFTAR GAMBAR ... xvii

DAFTAR LAMPIRAN ... xv

I PENDAHULUAN ... I-1

1.1. Latar Belakang ... I-1

1.2. Perumusan Masalah... I-5

1.3. Tujuan Penelitian ... I-5

1.4. Manfaat Penelitian... I-5

1.5. Batasan Masalah dan Asumsi ... I-6

II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN ... II-1

2.1. Sejarah Perusahaan ... II-1

(47)

DAFTAR ISI (Lanjutan)

BAB HALAMAN

2.3. Lokasi Perusahaan ... II-2

2.4. Daerah Pemasaran ... II-2

2.5. Organisasi dan Manajemen ... II-2

2.5.1. Struktur Organisasi Perusahaan ... II-2

2.5.2. Pembagian Tugas dan Tanggung Jawab ... II-3

2.5.3. Jumlah Tenaga Kerja dan Jam Kerja ... II-7

2.5.4. Sistem Pengupahan dan Fasilitas Lainnya ... II-7

2.6. Bahan Baku, Bahan Tambahan, dan Bahan Penolong ... II-8

2.6.1. Bahan Baku ... II-8

2.6.2. Bahan Tambahan ... II-8

2.6.3. Bahan Penolong ... II-10

2.7. Uraian Proses Produksi ... II-11

2.7.1. Pembuatan Matras Spring Bed ... II-11

2.7.2. Pembuatan Divan Spring Bed ... II-13

2.7.3. Pembuatan Sandaran Spring Bed ... II-15

2.8. Mesin dan Peralatan ... II-16

2.8.1. Mesin Produksi ... II-16

2.8.2. Peralatan (Equipment) ... II-19

III LANDASAN TEORI ... III-1

(48)

DAFTAR ISI (Lanjutan)

BAB HALAMAN

3.1.1. Penyebab Bullwhip Effect ... III-1

3.1.2. Mengukur Bullwhip Effect ... III-4

3.2. Model Persediaan Q ... III-5

3.2.1. Mekanisme Pengendalian Model Q Lost Sales ... III-6

3.2.2. Komponen Model ... III-8

3.2.3. Formulasi Model Persediaan Q Lost Sales ... III-9

3.3. Peramalan Kuantitatif ... III-15

3.3.1. Metode Penghalusan (Smoothing) ... III-16

3.3.2. Metode Proyeksi Kecenderungan dengan Regresi ... III-20

3.3.3. Kriteria Performance Peramalan ... III-22

IV METODOLOGI PENELITIAN ... IV-1

4.1. Tempat dan Waktu Penelitian ... IV-1

4.2. Jenis Penelitian ... IV-1

4.3. Objek Penelitian ... IV-1

4.4. Variabel Penelitian ... IV-2

4.5. Kerangka Berpikir ... IV-3

4.6. Rancangan Penelitian ... IV-4

4.7. Pengolahan Data ... IV-6

4.8. Analisis Data ... IV-6

(49)

DAFTAR ISI (Lanjutan)

BAB HALAMAN

V PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA ... V-1

5.1. Pengumpulan Data ... V-1

5.1.1. Lead Time Pemesanan Produk ... V-1

5.1.2. Biaya Pemesanan Produk ... V-2

5.1.3. Biaya Simpan Produk ... V-2

5.1.4. Biaya Kekurangan Persediaan Produk ... V-2

5.1.5. Data Jumlah Permintaan Produk ... V-2

5.2. Pengolahan Data ... V-4

5.2.1. Melakukan Peramalan Permintaan Produk ... V-4

5.2.2. Perhitungan Bullwhip Effect ... V-17

5.2.3. Perhitungan Persediaan Optimal ... V-24

5.2.3.1. Perhitungan Inventori Optimal, Tingkat

Pelayanan, dan Biaya Total ... V-24

5.2.4. Pengujian Analisis Sensitivitas ... V-29

5.2.4.1. Analisis Sensitivitas Pengaruh Kenaikan

Jumlah Permintaan Produk, Biaya Pemesanan

Produk, Biaya Simpan dan Biaya Kekurangan

Persediaan Terhadap Biaya Total dan

(50)

DAFTAR ISI (Lanjutan)

BAB HALAMAN

5.2.4.1. Analisis Sensitivitas Pengaruh Kenaikan

Jumlah Permintaan Produk, Biaya Pemesanan

Produk, Biaya Simpan dan Biaya Kekurangan

Persediaan Terhadap Biaya Total dan

Lot-Sizing ... V-30

5.2.5. Perhitungan Distribution Requirement Planning ... V-31

VI ANALISIS DAN PEMBAHASAN ... VI-1

6.1. Analisis ... VI-1

6.1.1. Analisis Bullwhip Effect ... VI-1

6.1.2. Analisis Penyebab Bullwhip Effect ... VI-2

6.1.3. Analisis Sensitivitas ... VI-3

6.1.3.1. Analisis Sensitivitas Kenaikan Berbagai

Variabel terhadap Biaya Total... VI-3

6.1.3.2. Analisis Sensitivitas Penurunan Berbagai

Variabel terhadap Biaya Total... VI-5

6.2. Pembahasan ... VI-6

6.2.1. Pengendalian Persediaan Model Q dengan Pendekatan

Hadley Within ... VI-6

(51)

DAFTAR ISI (Lanjutan)

BAB HALAMAN

VII KESIMPULAN DAN SARAN ... VII-1

7.1. Kesimpulan... VII-1

7.2. Saran ... VII-2

(52)

DAFTAR TABEL

TABEL HALAMAN

1.1. Data Permintaan Spring Bed Tahun 2015 ... I-2

1.2. Data Permintaan dan Ramalan Permintaan Produk Spring Bed

dengan Ukuran 180 cm x 200 cm Tahun 2015 (Unit) ... I-3

2.1. Jadwal Kerja Karyawan Produksi dan Kantor ... II-7

5.1. Lead Time Pemesanan ... V-1

5.2. Data Permintaan Distributor Tahun 2015 (Unit) ... V-3

5.3. Data Aktual Permintaan dan Ramalan Perusahaan Distributor

Tahun 2016 (Unit)... V-3

5.4. Data Permintaan Budi Baru Tahun 2015 (Unit) ... V-5

5.5. Hasil Peramalan Dengan Metode Simple Exponential Smoothing

Berdasarkan Tahun 2016 (Unit) ... V-7

5.6. Parameter Regresi Linier Metode Holt ... V-7

5.7. Hasil Peramalan Dengan Metode Holt ... V-9

5.8. Perhitungan Kesalahan Peramalan Metode SES ... V-10

5.9. Perhitungan Kesalahan Peramalan Metode Holt ... V-11

5.10. Rekapitulasi Nilai MSE dan MAPE Setiap Metode Peramalan .... V-12

5.11. Perhitungan Hasil Verifikasi ... V-12

5.12. Hasil Peramalan Permintaan Budi Baru Tahun 2016 (Unit) ... V-14

5.13. Rekapitulasi Hasil Peramalan Permintaan Panca Warna dan

(53)

DAFTAR TABEL (Lanjutan)

TABEL HALAMAN

5.14. Hasil Perbandingan Peramalan Permintaan dengan Aktual

Permintaan Budi Baru Tahun 2016 ... V-15

5.15. Hasil Perbandingan Peramalan Permintaan dengan Permintaan

Aktual Panca Warna Tahun 2016 ... V-16

5.16. Hasil Perbandingan Peramalan Permintaan dengan Permintaan

Aktual Bintang Makmur Tahun 2016 ... V-16

5.17. Hasil Perbandingan Peramalan Permintaan dengan Permintaan

Aktual Manufaktur Tahun 2016... V-17

5.18. Perhitungan Bullwhip Effect Budi Baru ... V-19

5.19. Perhitungan Bullwhip Effect Panca Warna ... V-19

5.20. Perhitungan Bullwhip Effect Bintang Makmur ... V-20

5.21. Perhitungan Bullwhip Effect pada Rantai Manufaktur ... V-22

5.22. Rekapitulasi Hasil Identifikasi Nilai Bullwhip Effect ... V-23

5.23. Rekapitulasi Perhitungan Kebijakan Inventori Optimal, Tingkat

Pelayanan, dan Ongkos Total Budi Baru Tahun 2016 ... V-27

5.24. Rekapitulasi Perhitungan Kebijakan Inventori Optimal, Tingkat

Pelayanan, dan Ongkos Total Panca Warna Tahun 2016 ... V-27

5.25. Rekapitulasi Perhitungan Kebijakan Inventori Optimal, Tingkat

(54)

DAFTAR TABEL (Lanjutan)

TABEL HALAMAN

5.26. Rekapitulasi Perhitungan Kebijakan Inventori Optimal, Tingkat

Pelayanan, dan Ongkos Total Manufaktur Tahun 2016 ... V-28

5.27. Analisis Sensitivitas Kenaikan Jumlah Permintaan Produk, Biaya

Pemesanan Produk, Biaya Simpan dan Biaya Kekurangan

Persediaan Terhadap Biaya Total dan Lot-Sizing ... V-29

5.28. Analisis Sensitivitas Pengaruh Penurunan Jumlah Permintaan

Produk, Biaya Pemesanan Produk, Biaya Simpan dan Biaya

Kekurangan Persediaan Terhadap Biaya Total dan Lot-Sizing ... V-31

5.29. Distribution Requirement Planning Budi Baru ... V-32

5.30. Distribution Requirement Planning Panca Warna ... V-32

5.31. Distribution Requirement Planning Bintang Makmur ... V-33

5.32. Distribution Requirement Planning Rantai Manufaktur ... V-33

5.33. Perbandingan Aktual Permintaan Tahun 2016 dengan Order Rilis

Tahun 2016 ... V-34

5.34. Rekapitulasi Hasil Perhitungan Nilai Bullwhip Effect ... V-35

6.1. Hasil Perbandingan Nilai Peramalan Usulan dan Perusahaan ... VI-1

6.2. Analisis Sensitivitas Kenaikan Jumlah Permintaan Produk, Biaya

Pemesanan Produk, Biaya Simpan dan Biaya Kekurangan

(55)

DAFTAR TABEL (Lanjutan)

TABEL HALAMAN

6.3. Analisis Sensitivitas Penurunan Jumlah Permintaan Produk,

Biaya Pemesanan Produk, Biaya Simpan dan Biaya Kekurangan

Persediaan Terhadap Biaya Total dan Lot-Sizing ... VI-5

(56)

DAFTAR GAMBAR

GAMBAR HALAMAN

2.1. Struktur Organisasi PT. Budi Raya Perkasa ... II-2

3.1. Situasi Persediaan dengan Model Q ... III-5

3.2. Mekanisme Pengendalian Inventori Menurut Model Q ... III-7

3.3. Posisi Inventori dalam Keadaan Steady State ... III-11

3.4. Langkah-langkah Peramalan Secara Kuantitatif ... III-16

4.1. Kerangka Berpikir ... IV-3

4.2. Langkah-langkah Penelitian ... IV-5

5.1. Diagram Pencar Permintaan Budi Baru Tahun 2015 ... V-5

(57)

DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN HALAMAN

1 Tabel Nilai Kemungkinan Kekurangan ... L-1

2 Surat Permohonan Tugas Sarjana ... L-2

3 Surat Permohonan Riset Tugas Sarjana di PT. Budi Raya

Perkasa ... L-3

4 Surat Balasan Penerimaan Riset Tugas Sarjana di PT. Budi

Raya Perkasa ... L-4

5 Surat Keputusan Tugas Sarjana Mahasiswa ... L-5

6 Lembar Asistensi Dosen Pembimbing I ... L-6

Gambar

Gambar 3.1. Situasi Persediaan dengan Model Q
Gambar 4.1. Kerangka Berpikir
Gambar 4.2. Langkah-langkah Penelitian
Tabel 5.3. Data Aktual Permintaan dan Ramalan Perusahaan Distributor
+7

Referensi

Dokumen terkait

Coca-Cola Amatil Indonesia Medan, diperoleh bahwa jumlah permintaan berdasarkan hasil peramalan tahun 2013 lebih rendah dibandingkan aktual permintaan pada distributor

Usulan perbaikan untuk mengatasi bullwhip effect yaitu dengan melakukan kebijakan pengendalian persediaan dengan model Q menggunakan pendekatan Hadley- Within, sehingga

Daerah pemasaran produk tepung tapioka perusahaan ini umumnya pada daera sumatera dan lebih berfokus di daerah Medan dan berkembang ke daerah Aceh, Padang, Jambi, Pekanbaru,

Dalam penyelesaian masalah pada penelitian ini, dibutuhkan sejumlah data yang relevan, yakni lead time pemesanan produk jadi oleh distributor, biaya pemesanan produk, biaya

Pengurangan Bullwhip Effect Dengan Metode Vendor..

Berdasarkan st udi lapangan yang t elah dilakukan, diperoleh dat a produksi pabrik, j um lah order dist ribut or ke pabrik, dan j um lah perm intaan seluruh rit el sehingga t

Florindo Makmur adalah perencanaan yang tidak akurat, akibatnya terdapat kekurangan variatif antara jumlah permintaan dengan total supply yang terpenuhi, sehingga perlu

Efek bullwhipyang sering terjadi adalah ketika para supplier terlambat dalam melakukan pengiriman bahan baku kain sehingga proses penjahitan (proses produksi) akan