• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kasus Kolera pad Itik

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Kasus Kolera pad Itik"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Media Veteriner 1997, Vol. 4 (1) Kasus Klinik

KASUS KOLERA

ITIK

Wiwin

Sugyo

Bibiana W.

Telah kasus kolera pada itik yang diperiksa di Laboratorium Patologi Unggas, Fakultas Kedokteran Pertanian antara tahun 1992 hingga 1994. Kebanyakan itik terserang kolera yang akut, gejala klinis dan kematian mendadak. Beberapa itik terserang secara kronis dengan gejala klinis nafas dan kebengkakan pada gejala kepala.

Gambaran patologi yang tampak titik perdarahan pada

enteritis kartarhalis, hepatitis nekrotikan membengkak, peradangan pada kantung udara, kuning serta peradangan pada ovariurn dan sinus. Dari darah jantung dan

tulang itik dapat bakteri Kelinci yang disuntik

dengan suspensi bakteri dengan gejala septikemia yang ditandai dengan perdarahan pada epikardium dan selaput serosa. dan umum serta enteritis.

PENDAHULUAN

kolera atau Avian pastereulla adalah salah menular pada unggas yang disebabkan oleh kolera dapat menyerang ayam, itik, kalkun, angsa dan unggas lain baik domestik maupun unggas liar (Rhoades dan 1991).

biasanya bersifat akut ditandai dengan perdarahan sepsis, kematian mendadak, kematian yang tinggi serta penyebaran yang luas. Itik merupakan unggas yang

terhadap kolera

Kejadian kolera pada itik telah dilaporkan (Syamsudin , 1986). ini menimbulkan kerugian yang berupa kematian, biaya vaksinasi, biaya pengobatan dan biaya tatalaksana di peternakan (Carpenter et al. 1988). Itik biasaya terserang

Laboratorium Patologi Bagian Patologi, Kedokteran Pertanian 16151.

Laboratorium

(2)

kolera pada umur 4 atau lebih (Rhoades dan 1991). Kematian yang ditimbulkan oleh kolera pada suatu peternakan itik dapat mencapai 50 %. Unggas yang menderita kolera secara kronis merupakan penularan bagai unggas lainnya.

DAN

BAHAN

Sebanyak 72 ekor itik peternakan dan sekitarnya yang diperiksa Laboratorium Patologi Unggas IPB pada periode bulan 1992 bulan Desember 1994.

Itik dinekropsi dan diamati perubahan anatomi) pada organ tubuhnya. Jantung dan tulang itik yang menunjukkan perubahan patologi anatomi yang pada kolera diambil dilakukan isolasi dan

bakteri.

dan identifikasi dilakukan di Laboratorium IPB. Bateri dibiakkan pada media agar darah diinkubasi pada C 18-24 jam. Kemudian koloni bakteri yang diduga bakter P. multocida. dibiakkan pada media kaldu Brain Heart infusion dan dilakukan uji biokimia. Untuk lebih menguatkan diagnosa,

bakteri disuspensikan dengan Suspensi bakteri

disuntikkan pada kelinci dan diamati perubahan patologi anatomi pada organ tubuh kelinci. Kemudian dari darah dan tubuh kelinci dilakukan bakteri.

HASIL DAN PEMBAHASAN

ltik pada menderita kolera secara kematian secara

(3)

Umur itik yang terserang kolera bervariasi mulai umur 5 sampai 56

dengan perubahan makroskopi yang bervariasi 1). Serangan pada itik yang berumur lebih muda akan menyebabkan perubahan makroskopi yang lebih

dibandingkan dengan serangan pada umur yang lebih tua. Hal ini sejalan dengan yang oleh Hunter dan Wobeser (1980).

Perubahan Makroskopi yang Terserang Kolera yang Diperiksa di Laboratorium FKH-IPB Tahun 1992 1994 = 72 ekor).

Entetitis katarrhalis Hepatitis nekrotikan milier Radang kantung udara Limpa membengkak

Titik perdarahan epikardium Enteritis Katarrhalis

Hepatitis milier Radang kantung

Limpa

perdarahan pada epikardium Entetitis katarrhalis

Titik perdarahan epikardium

Enteritis katarrhalis Hepatitis

(4)

Pada umumnya itik yang kolera menunjukkan gejala septikemia. Perubahan makroskopi yang te berupa titik-titik perdarahan (ptekhie) pada epikardium, hiperemia dan permbendungan umum. peradangan pada kantung (air pada organ tampak titik-titik peradangan nekrotik (Hepaitits nekrotikan millier), hiperemia dan peradangan yang disertai eksudat yang bersifat pada (enteritis

organ limpa

Pada itik muda yang berumur lima selain te perubahan makroskopi yang diatas, pada peradangan yang lebih dengan eksudat darah (enteritis hemorrhargic). pada itik dengan pecah kuning telur dan peradangan ovarium (oophoritis).

Pada itik yang terserang kolera kronis, menunjukkan perubahan makroskopi berupa kebengkakan kepala, peradangan sinus (sinusitis), hepatitis nekrotikan milier, pecah kuning telur dan peradangan ovarium.

Kolera merupakan yang menyerang organ sistem sirkulasi dan organ-organ yang berkaitan dengan sistem (Snipes et al, 1987). Bakteri P. multocida akan pembuluh darah dan melalui sistem sirkulasi akan ke limpa dan ke tubuh dan dapat menimbulkan pada organ tubuh inang (Tsuji dan 1989). Bakteri dapat berkembang biak pada organ dan limpa, di dalam darah (Pabs-Garmon dan 1971; Tsuji dan Matsumoto, 1989). Perubahan makroskopi pada itik yang diinfeksi bakteri P. multocida mulai tampak pada jam infeksi berupa perdarahan pada epikardium dan hipermia pada (Winarsih et al, 1994).

Perdarahan, hiperemia dan pembendungan umum yang te pada organ-organ tubuh disebabkan oleh endotoksin yang dihasilkan bakteri P. multocida (Rhoades dan 1991). Kematian diduga akibat 'shock syndrome yang ditimbulkan oleh endoksin.

(5)

pada rongga darah dan organ kelinci berhasil diisolasi kembali bakten P. multocida.

kolera pada itik bersifat yang

klinis. Perubahan makroskopi yang berupa itik perdarahan pada

hepatitis nekrotikan limfa membengkak, katarrhalis dan enteritis serta peradangan kantung Kejadian pada itik petelur dengan kuning telur serta peradangan itik yang kolera menderita

dan peradangan sinus.

Bakteri P. multocida berhasil diisolasi darah dan tulang itik. Kelinci yang disuntik dengan suspensi P. multocida 18 jam infeksi dengan gejala septikemia yang ditandai dengan titik-titik perdarahan pada epikardium dan selaput serosa, enteritis katarrhalis, hiperemia serta pembendungan Dari darah organ kelinci dapat diisolasi kembali P.

UCAPAN

TERIMA

Ucapan kasih Drh. M. Sya'ban Maidie,

Drh. Ekowati MS dan Drh. Setiyono, MS yang memberikan saran pada ini.

DAFTAR

Carpenter, T.E., K.P. D. Wallis and R.H. Mc. Capes. 1989. Epidemiology and financial impact of fowl cholera in turkeys : a retrospective analysis. Avian Dis. 32. pp: 16-23 Fujihara, M. D., Onai, S. N and T. Sawada. 1986. An outbreak of fowl cholera

in wild ducks in Japan. Japan Vet. 48. : 35-43

Hitcher, S. B., C. H. Domermuth, H. G. Purchase and J. E. Williams. 1980. Isolation and avian pathogens. Creative Printing Company Inc.

(6)

L.F.

and

A. 1971. Multiplication of in the liver and blood of turkeys intravenously. Can. J. 35 :

R

and

R In Diseases of Poultry, B. W.

J. Beard,

W.

Reid and

W.

Jr State

Snipes, and C. 1987. Fate in the

system turkeys intravenous inoculation : Comparison of an

strain with its variant. Avian 3 1.

A,

E.

dan 1986.

pada

Hal:

and 1989, Pathogenesis of of on the

into

turkeys.

Avian :

Gambar

Tabel I. Perubahan Makroskopi ltik yang Terserang Penyakit Kolera yang Diperiksa di Laboratorium Patologi Unggiis FKH-IPB Tahun 1992 - 1994 (N = 72 ekor)

Referensi

Dokumen terkait

Penderita tumor ganas pada testis yang telah didiagnosa secara histopatologi Laboratorium Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara dan Instalasi

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan perubahan patologi anatomi berupa distensi dan pembengkakan usus halus babi Landrace yang terinfeksi kolibasilosis pada

Lima belas ekor kucing lokal Bali yang diperiksa dengan gejala klinis rhinitis serosa dan dispnoea menunjukkan perubahan patologi anatomi yang signifikan pada organ paru berupa

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian suplemen berprobiotik dalam ransum itik memberikan pengaruh berbeda tidak nyata (P>0,05) terhadap organ dalam (hati,

Anemia aplastik adalah suatu kegagalan anatomi dan fisiologi dari sumsum tulang yang mengarah pada suatu penurunan nyata atau tidak adanya unsur pembentuk darah dalam sumsum.. Hal

Ukuran organ sistem reproduksi itik jantan setelah disuplementasi probiotik MEP+ berbagai dosis mengalami peningkatan rerata (±SD) dari semua parameter yang

• Patologi Klinik • Analisis cairan tubuh • Patologi Anatomi • Pemeriksaan jaringan, organ dan cairan tubuh Laboratorium Klinis dibagi menjadi dua bagian utama: 3 § SITOPATOLOGI :

Dokumen ini membahas tentang anatomi dan fisiologi tubuh manusia, khususnya tentang dinding tubuh, organ-organ, dan