• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA PERBUATAN TIDAK MENYENANGKAN (Studi Putusan Pengadilan Nomor : 155/Pid/B/2012/PNTK)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA PERBUATAN TIDAK MENYENANGKAN (Studi Putusan Pengadilan Nomor : 155/Pid/B/2012/PNTK)"

Copied!
61
0
0

Teks penuh

(1)

ABSTRAK

PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA PERBUATAN TIDAK MENYENANGKAN (STUDI PUTUSAN PENGADILAN NOMOR :

155/Pid/B/2012/PNTK)

Oleh Ratna Pertiwi

Ungkapan perbuatan tidak menyenangkan pada dasarnya sudah tidak asing terdengar dalam kehidupan sehari-hari, akan tetapi banyak diantara masyarakat menganggap remeh ungkapan tersebut dan dianggap sebagai hal yang biasa. Padahal sesungguhnya perbuatan tidak menyenangkan khususnya dalam perampasan kemerdekaan seseorang sangatlah penting menurut pandangan hukum, karena hal itu dapat membahayakan orang bahkan dapat menyebabkan hilangnya nyawa seseorang. Dibalik setiap perbuatan sekecil apapun itu, apabila telah dibuktikan dalam persidangan maka pelaku wajib untuk dimintai pertanggungjawaban pidananya. Dari hal ini maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian tentang pertanggungjawaban pidana perbuatan tidak menyenangkan dengan permasalahan sebagai berikut; bagaimanakah pertanggungjawaban pidana terhadap pelaku perbuatan tidak menyenangkan dan apakah yang menjadi dasar pertimbangan hakim dalam menjatuhkan putusan pidana perbuatan tidak menyenangkan kepada pelaku tindak pidana.

(2)

Ratna Pertiwi

Berdasarkan pembahasan atas penelitian yang telah dilakukan, maka penulis mengambil kesimpulan sebagai berikut; yang menjadi dasar pertanggungjawaban pidana adalah apabila pelaku tindak pidana terbukti memenuhi unsur pertanggungjawaban pidana yaitu adanya perbuatan, adanya peraturan perundang-undangan yang dilanggar, dan adanya kesalahan yang dilakukan pelaku, dan juga berdasarkan dengan fakta-fakta yang terjadi pada persidangan yang menunjukkan bahwa pelaku adalah orang yang mampu bertanggungjawab atas kesalahannya dan hakim juga tidak menemukan sesuatu alasan penghapusan pidana bagi pelaku maka sudah selayaknya pelaku tindak pidana mempertanggungjawabkan perbuatan pidananya. Berdasarkan putusan Pengadilan Negeri Tanjung Karang Nomor : 155/Pid/B/2012/PNTK, yang menjadi dasar pertimbangan hakim dalam penjatuhan putusan pidana adalah dilihat dari empat unsur yaitu fakta hukum dalam persidangan, hal-hal yang memberatkan dan meringankan, rasa keadilan, serta kayakinan dari hakim sendiri dalam memutuskan pidana bagi terdakwa dengan sepantasnya. Hakim dengan seadil-adilnya memutuskan terhadap terdakwa dalam putusan tersebut di atas dengan masing-masing 8 (delapan) bulan pidana perjara dengan masa percobaan selama 10 (sepuluh) bulan. Hakim dalam menjatuhkan pidana tersebut menggunakan teori gabungan sebagai tujuan pemidanaan, yaitu selain sebagai sarana pembalasan terhadap terdakwa agar menimbulkan efek jera juga sebagai pencegahan agar tidak terjadi hal serupa di masyarakat.

(3)

PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA PERBUATAN TIDAK

MENYENANGKAN

(Studi Putusan Pengadilan Nomor : 155/Pid/B/2012/PNTK)

Oleh

Ratna Pertiwi

Ratna Pertiwi

Ratna Pertiwi

Ratna Pertiwi

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar

SARJANA HUKUM

Pada

Bagian Hukum Pidana

Fakultas Hukum Universitas Lampung

UNIVERSITAS LAMPUNG

BANDAR LAMPUNG

(4)

PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA PERBUATAN TIDAK MENYENANGKAN (Studi Putusan Pengadilan Nomor :

155/Pid/B/2012/PNTK)

(Skripsi)

Oleh

RATNA PERTIWI

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS LAMPUNG

(5)

DAFTAR ISI

ABSTRAK

RIWAYAT HIDUP

MOTTO

PERSEMBAHAN

SANWACANA

DAFTAR ISI

Halaman

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ……….……… 1

B. Permasalahan dan Ruang Lingkup …………..….………...……….. 7

1. Permasalahan ………..………... 7

2. Ruang Lingkup ……….. 7

C. Tujuan dan Kegunaan Penulisan ………... 8

1. Tujuan Penulisan ………... 8

2. Kegunaan Penulisan ……….………... 8

D. Kerangka Teoritis dan Konseptual ………... 9

1. Kerangka Teoritis ………... 9

2. Konseptual ………..………... 16

E. Sistematika Penulisan ……….. 17

II. TINJAUAN PUSTAKA A. Tindak Pidana …….…………... 19

B. Pelaku Perbuatan Pidana ………...….………... 21

C. Pertanggungjawaban Pidana ………... 23

D. Sanksi Pidana terhadap Pelaku Perbuatan Tidak Menyenangkan ………..……… 31

(6)

III. METODE PENELITIAN

A. Pendekatan Masalah ………..………. 37

B. Sumber dan Jenis Data ………..…... 37

C. Penentuan Populasi dan Sampel ………...……….. 38

D. Prosedur Pengumpulan dan Pengolahan Data ……….………... 39

1. Prosedur Pengumpulan Data ………... 39

2. Prosedur Pengolahan Data ………... 40

E. Analisis Data ……… 41

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Karakteristik Responden ……….. 42

B. Bentuk Pertanggungjawaban Pidana terhadap Pelaku Perbuatan Tidak Menyenangkan ……….. 43

C. Dasar Pertimbangan bagi Hakim dalam Menjatuhkan Putusan Pidana Perbuatan Tidak Menyenangkan kepada Pelaku ………..………. 48

D. Analisis Pertanggungjawaban Pidana Perbuatan Tidak Menyenangkan Berdasarkan Pertimbangan Hakim dalam Menjatuhkan Putusan Pidana ……… 52

V. PENUTUP A. Kesimpulan ………... 56

B. Saran ………. 57

(7)

Judul Skripsi : PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA

PERBUATAN TIDAK MENYENANGKAN (Studi Putusan Pengadilan Nomor :

155/Pid/B/2012/PNTK)

Nama Mahasiswa :

Ratna Pertiwi

Ratna Pertiwi

Ratna Pertiwi

Ratna Pertiwi

No. Pokok Mahasiswa : 091011363

Bagian : Hukum Pidana

Fakultas : Hukum

Menyetujui

1. Komisi Pembimbing

Prof. Dr. Sunarto D.M., S.H., M.H. Eko Raharjo, S.H., M.H.

NIP 19541112 198603 1 003 NIP 19610406 198903 1 003

2. Ketua Bagian Hukum Pidana

(8)

MOTTO :

!

"

!

"

!

"

!

"

!

"

!

"

!

"

!

"

#

$

#

$

#

$

#

$

!%

&

!%

!%

&

&

(9)

MENGESAHKAN

1. Tim Penguji

Ketua : Prof. Dr. Sunarto D.M., S.H., M.H. …………

Sekretaris/Anggota : Eko Raharjo, S.H., M.H. …………

Penguji Utama : Tri Andrisman, S.H., M.H. …………

2. Dekan Fakultas Hukum

Dr. Heryandi, S.H., M.S. NIP 19621109 198703 1 003

(10)

PERSEMBAHAN

!

"

!

(11)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Bandar Lampung pada tanggal 14 April 1991,

sebagai anak kedua dari tiga bersaudara dari pasangan Bapak

Bandiyo dan Ibu Ustilah.

Penulis memulai pendidikan di Taman Kanak-kanak Al-Hidayah Sukarame Bandar

Lampung yang diselesaikan pada tahun 1997, kemudian melanjutkan ke Sekolah

Dasar Negeri 1 Surabaya Kedaton Bandar Lampung dari tahun 1997 sampai dengan

tahun 2003, setelah itu melanjutkan kembali studi pada Sekolah Lanjutan Tingkat

Pertama Negeri 12 Bandar Lampung dari tahun 2003 sampai tahun 2006, dan

mengakhiri sekolah di Sekolah Menengah Atas Negeri 15 Bandar Lampung dari

tahun 2006 sampai tahun 2009. Pada tahun 2009 penulis diterima dan terdaftar

sebagai Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Lampung, dan penulis memilih

Hukum Pidana sebagai minat konsentrasi dalam penjurusan perkuliahan. Pada tahun

2012 penulis melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Puramekar

(12)

SANWACANA

Puji syukur kehadirat Allah SWT, atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga

penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan,

bimbingan dan petunjuk dari berbagai pihak, maka pada kesempatan ini izinkan

penulis mengcakpan penghargan dan terimakasih yang setulus-tulusnya kepada:

1. Bapak Dr. Heryandi, S.H., M.H. selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas

Lampung.

2. Ibu Diah Gustiniati M, S.H., M.H. selaku Ketua Jurusan Hukum Pidana.

3. Ibu Rohaini, S.H., M.H. selaku Dosen Pembimbing Akademik yang dengan iklas

memberikan bimbingan dan bantuannya selama penulis menempuh masa studi.

4. Bapak Prof. Dr. Sunarto. DM, S.H., M.H. selaku Dosen Pembimbing I yang telah

berkenan menuangkan waktu dan pikiran untuk membaca, mengoreksi,

mengarahkan, dan mendukung penulis selama penulisan skripsi ini.

5. Bapak Eko Raharjo, S.H., M.H. selaku Dosen Pembimbing II yang telah

berkenan menuangkan waktu dan pikiran untuk membaca, mengoreksi,

mengarahkan, dan mendukung penulis dengan penuh kesabaran sehingga proses

(13)

6. Bapak Tri Andrisman, S.H., M.H. selaku Dosen Pembahas I atas waktu, kritik,

saran, serta masukan yang membangun dalam penyempurnaan skripsi ini.

7. Ibu Dona Raisa M, S.H., M.H. selaku Dosen Pembahas II yang telah

memberikan kritik, saran serta masukan dalam penyempurnaan skripsi ini.

8. Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Hukum Universitas Lampung yang telah banyak

memberikan ilmu, khususnya ilmu hukum kepada penulis.

9. Terima kasih kepada orang tuaku, Bandiyo, S.H. dan Ustilah kupersembahkan

atas kasih sayang, dukungan dan doa yang kalian berikan sehingga

terselesaikanlah skripsiku ini. Terima kasih atas semua cinta, kasih sayang,

didikan serta pelajaran yang kalian berikan, yang sangat berguna dalam

perjalanan menuju proses kedewasaan ini.

10.Kakakku Dimas Hanugrah Putra dan adikku Galang Yudha Perwira yang selalu

memberikan kebahagiaan dalam keluarga sehingga perasaan sedihku berubah

menjadi kebahagiaan.

11.Sahabat-sahabat terbaikku : Anderia Sakti, Tian Terina, dan Annisa Prima CH,

terima kasih karena telah memberikan persahabatan yang baik dalam menjalani

suka dan duka bersama.

12.Saudara-saudara Mahusaku : Mozes D Tonapa, Chandra Bangkit S, M. Rodi

Maiza, M. Thariq Ch, Yohanes Aritonang, dan seluruhnya yang tidak bisa

disebutkan satu persatu, terima kasih atas kenangan yang tak terlupakan selama

(14)

13.Teman-teman KKN desa Puramekar : Jasmine Hanafi, Septi Amelia, Alicia

Larasati, Widhi Astuti, Leoni Febriani, Feby Liestya, Zemy Herda, dan

seluruhnya, terima kasih atas kebersamaan selama 40 hari dalam menjalani suka

cita dari pengalaman baru yang tak terlupakan.

14.Teman-teman Fakultas Hukum Universitas Lampung ankatan 2009 yang tidak

bisa penulis sebutkan satu persatu, terima kasih karena telah memberikan

kebersamaan, kerjasama, pertemanan, dan kebahagiaan yang takkan terlupakan.

15.Koresponden dari Pengadilan Negeri Tanjung Karang, Pengacara, dan Dosen

Fakultas Hukum Universitas Lampung yang telah membantu dalam penyelesaian

skripsi ini.

16.Almamaterku tercinta yang telah memberikan banyak kenangan dan wawasan

yang berharga.

Penulis hanya bisa memanjatkan doa, semoga semua kebaikan, ketulusan, dan

bantuan yang diberikan kepada penulis diberikan balasan yang lebih besar oleh Allah

SWT. Akhir kata penulis berharap semoga karya ini dapat bermanfaat bagi kita

semua. Amin

Bandar Lampung, April 2013

Penulis

(15)

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Tindak Pidana

Istilah tindak pidana pada dasarnya merupakan terjemahan dari bahasa Belanda

Strafbaar feit yang memiliki banyak istilah lain yaitu delik, peristiwa pidana,

perbuatan pidana, perbuatan-perbuatan yang dapat dihukum, hal yang diancam

dengan hukum, perbuatan-perbuatan yang diancam dengan hukum, dan tindak

pidana. Menurut Moeljatno tindak pidana adalah perbuatan yang dilarang oleh suatu

aturan hukum, larangan mana disertai ancaman atau sanksi yang berupa pidana

tertentu, bagi barangsiapa melanggar larangan tersebut.17

Tindak pidana berarti suatu perbuatan yang pelakunya dapat dikenakan hukuman

pidana. Dan pelaku ini dapat dikatakan merupakan subjek tindak pidana. Didalam

KUHP dikenal istilah strafbaar felt, sedangkan dalam kepustakaan dikenal dengan

istilah delik. Pembuat undang-undang menggunakan istilah peristiwa pidana,

perbuatan pidana dan tindak pidana.18

Tindak pidana merupakan perbuatan yang dilakukan oleh seseorang dengan

melakukan suatu kejahatan atau pelanggaran pidana yang merugikan kepentingan

Tri Andrisman, Hukum Pidana, Universitas Lampung, Bandar Lampung, 2009, hlm. 69. 18

(16)

orang lain atau merugikan kepentingan umum. Beberapa sarjana hukum pidana di

Indonesia menggunakan istilah yang berbeda-beda dalam menyebut kata pidana ada

beberapa sarjana menyebutkan tindak pidana, perbuatan pidana atau delik.

Untuk mengetahui pengertian tindak pidana, maka akan diuraikan pendapat sarjana

yang lain baik pengertian perbuatan pidana, tindak pidana atau “strafbaar felt”.

Pengertian dati strafbaar felt menurut Pompe antara lain:19

a. Definisi menurut teori memberikan pengertian “strafbaar felt” adalah suatu

pelanggaran terhadap norma, yang dilakukan karena kesalahan si pelanggar dan

diancam dengan pidana untuk mempertahankan tata hukum dan menyelamatkan

kesejahteraan umum.

b. Definisi menurut hukum positif merumuskan “strafbaar” adalah suatu kejadian

yang oleh peraturan perundang-undangan dirumuskan sebagai perbuatan yang

dapat dihukum.

Menurut Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) istilah umum yang dipakai

adalah tindak pidana karena bersifat netral, dan pengertian tersebut meliputi

perbuatan pasif dan aktif. Jadi dapat dikatakan bahwa pengertian tindak pidana

mempunyai arti perbuatan melawan hukum atau melakukan sesuatu yang oleh

peraturan perundang-undangan dinyatakan sebagai perbuatan yang dilarang dan

diancam dengan pidana.

19

(17)

Berdasarkan pendapat-pendapat di atas jelaslah bahwa dalam perbuatan tindak

pidana tersebut didapatkan unsur-unsur adanya suatu kejadian tertentu, serta adanya

orang-orang yang berbuat guna menimbulkan suatu akibat karena melanggar

peraturan perundang-undangan yang disertai ancaman/sanksi yang berupa pidana

tertentu. Dengan demikian, dalam perbuatan pidana harus mengandung unsur-unsur

penyebab dan orang-orang yang terlibat didalam perbuatan tersebut.

B. Pelaku Perbuatan Pidana

Pelaku perbuatan pidana merupakan orang yang melakukan perbuatan melawan

hukum yang dikenai sanksi pidana akibat dari perbuatannya tersebut. Agar seseorang

pelaku perbuatan pidana dapat dimintai pertanggungjawaban secara hukum, maka

orang tersebut harus mempunyai suatu kewajiban, yaitu kewajiban untuk bertindak

hati-hati (duty of care) terhadap orang lain agar tidak menimbulkan perbuatan

pidana.20

Unsur kewajiban kehati-hatian merupakan syarat pelaku pidana dapat dikatakan

melakukan sesuatu kelalaian, dengan alasan orang normal lainnya juga akan

melakukan hal yang sama apabila dalam kondisi serupa. Yang termasuk kriteria

orang normal yang dimaksudkan adalah manusia normal pada umumnya, dengan

pengecualian:21

a. Kebutaan pelaku;

b. Keadaan mental pada umumnya;

20

Munir Fuady, Perbuatan Melawan Hukum, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2002, hlm. 87. 21

(18)

c. Kegilaan pelaku;

d. Keterbelakangan mental pelaku;

e. Pelaku adalah anak dibawah umur;

f. Kebiasaan masyarakat;

g. Keadaan darurat atau mendesak;

h. Antisipasi pelaku terhadap perbuatan dari pihak lain;

i. Kurang kesadaran/mabuk dari pelaku;

j. Pengetahuan umumnya, orang ahli atau spesialis memiliki tanggung jawab yang

lebih besar dari orang biasa, sepanjang keahliannya tersebut berhubungan dengan

tindakan yang seharusnya dilakukan. Tanggung jawab professional seorang ahli

lebih tinggi dari orang biasa pada umumnya, dan diatur dalam hukum yang

mempunyai kaidah yuridis tersendiri;

k. Sifat dari perbuatannya, yang timbul secara alami dengan sendirnya.

Kewajiban yang juga harus dilaksanakan pelaku perbuatan pidana yaitu apabila

perbuatannya tersebut mengakibatkan penderitaan mental bagi korban. Contoh dari

penderitaan mental karena perbuatan pidana antara lain rasa sakit, rasa malu, tekanan

jiwa/stres, jatuhnya nama baik, rasa takut yang berlebihan, dan lain-lain.22

Pada umumnya tanggung jawab yang dilakukan akibat dari penderitaan mental dari

perbuatan pidana selain menerima sanksi pidana adalah ganti kerugian. Ganti

kerugian ini biasanya berupa pemberian sejumlah uang kepada korban dari perbuatan

pidana, dalam prakteknya biasa disebut dengan istilah ganti rugi “immaterial”. Ganti

22

(19)

kerugian ini tidak dapat diperhitungkan secara matematis tetapi lebih merupakan dari

kebijakan hakim, dengan syarat jumlah ganti rugi tersebut haruslah wajar. Kewajaran

dari ganti rugi tersebut bergantung kepada banyak hal, antara lain:23

a. Beratnya beban mental yang dipikul oleh korban;

b. Status dan kedudukan dari korban;

c. Situasi dan kondisi dimana perbuatan tersebut terjadi;

d. Situasi dan kondisi mental dari korban;

e. Situasi dan kondisi mental dari pelaku;

f. Latar belakang pelaku melakukan perbuatan pidananya tersebut;

g. Jenis perbuatan pidana, yaitu apakah karena kesengajaan, kelalaian, atau

tanggung jawab mutlak.

C. Pertanggungjawaban Pidana

Pertanggungjawaban pidana adalah kewajiban terhadap segala sesuatu fungsi

menerima pembebanan sebagai akibat dari sikap tindak sendiri atau pihak lain. Van

Hammel menyatakan pertanggungjawaban yaitu suatu keadaan normal dari

kematangan psikis yang membawa 3 (tiga) macam kemampuan untuk:24

a. Memahami arti dan akibat perbuatannya sendiri.

b. Mamahami bahwa perbuatannya itu tidak dibenarkan atau dilarang oleh

masyarakat.

c. Menetapkan kemampuan terhadap perbuatan-perbuatan itu sehingga dapat

23Ibid. 24

(20)

disimpulkan bahwa pertanggungjawaban (teorekensvatbaarhee) mengandung

pengertian kemampuan atau kecakapan.

Seseorang dikatakan secara hukum bertanggungjawab untuk suatu perbuatan tertentu

adalah bahwa dia dapat dikenakan suatu sanksi dalam kasus perbuatan yang

berlawanan. Normalnya, dalam kasus sanksi dikenakan terhadap delinquent adalah

karena perbuatannya sendiri yang membuat orang tersebut harus

bertanggungjawab.25

Didalam hal kemampuan bertanggungjawab bila dilihat dari keadaan batin orang

yang melakukan perbuatan pidana merupakan masalah kemampuan

bertanggungjawab dan menjadi dasar yang penting untuk menentukan adanya

kesalahan, yang mana keadaan jiwa orang yang melakukan perbuatan pidana

haruslah sedemikian rupa sehingga dapat dikatakan normal, sebab karena orang yang

normal, sehat inilah yang dapat mengatur tingkah lakunya sesuai dengan

ukuran-ukuran yang di anggap baik oleh masyarakat.26

Sementara bagi orang yang jiwanya tidak sehat dan normal, maka ukuran-ukuran

tersebut tidak berlaku baginya tidak ada gunanya untuk diadakan

pertanggungjawaban, sebagaimana ditegaskan dalam ketentuan Bab III Pasal 4

KUHP yang berbunyi sebagai berikut:27

25

Jimly Asshiddiqie, Teori Hans Kelsen Tentang Hukum, KonPress, Jakarta, 2012, hlm. 56.

Andi Hamzah, Bunga Rampai HUkum Pidana dan Acara Pidana, Ghalia Indonesia , Jakarta, 1986, hlm. 78.

(21)

1. Barang siapa mengerjakan sesuatu perbuatan, yang tidak dapat di

pertanggungjawabkan kepadanya karena kurang sempurna akalnya atau karena

sakit berubah akal tidak boleh di hukum

2. Jika nyata perbuatan itu tidak dapat di pertanggungjawabkan kepadanya karena

kurang sempurna akalnya karena sakit berubah akal maka hakim boleh

memerintahkan menempatkan di rumah sakit jiwa selama-lamanya satu tahun

untuk diperiksa.

3. Yang di tentukannya dalam ayat di atas ini, hanya berlaku bagi Mahkamah

Agung, Pengadilan Tingi dan pengadilan negeri.

Hukum primitif melihat bahwa hubungan antara perbuatan dan efeknya tidak

memiliki kualifiksi psikologis. Apakah tindakan individu telah diantisipasi atau

dilakukan dengan maksud menimbulkan akibat atau tidak adalah tidak relevan.

Adalah cukup bahwa perbuatan telah membawa efek yang menunjukkan hubungan

eksternal antara pebuatan dan efeknya. Tidak dibutuhkan adanya sikap mental pelaku

dan efek dari perbuatan tersebut. Pertanggungjawaban semacam ini disebut dengan

pertanggungjawaban absolut. 28

Sedangkan menurut Moeljatno menyatakan bahwa pertanggungjawaban pidana tidak

cukup dengan dilakukan perbuatan pidana saja, akan tetapi disamping itu harus ada

kesalahan atau sikap batin yang dapat dicela, ternyata dalam asas hukum yang tidak

(22)

tertulis, tidak dipidana jika tidak ada kesalahan (green straf zonder schuld, ohne

schuld keine strafe).29

Perbuatan pidana hanya untuk menunjuk pada dilarangnya suatu perbuatan oleh

Undang-Undang. Apakah orang yang melakukan perbuatan itu kemudian juga

dipidana, tergantung pada persoalan apakah ia dalam melakukan perbuatannya

mempunyai kesalahan atau tidak. Apabila orang yang telah melakukan perbuatan itu

memang mempunyai kesalahan, maka ia dapat dipidana. Berarti setiap orang yang

melakukan tindak pidana akan dikenai pidana apabila mempunyai kesalahan.

Menurut Roeslan Saleh yang mengikuti pendapat Moelijatno bahwa

pertanggungjawaban pidana adalah kesalahan, sedangkan unsur-unsur kesalahan

adalah :30

1. Kemampuan bertanggung jawab

Moeljatno menyimpulkan bahwa untuk adanya kemampuan bertanggung jawab

harus ada:

- Kemampuan untuk membeda-bedakan antara perbuatan yang baik dan yang

buruk, sesuai dengan hukum dan yang melawan hukum (faktor akal);

- Kemampuan untuk menentukan kehendaknya menurut keinsyafan tentang baik

dan buruknya perbuatan tadi (faktor perasaan/kehendak).

29

Pipin Syarifin, Op Cit., hlm. 73. 30

(23)

1. Kesengajaan (dolus) & Kealpaan (culpa)

a. Kesengajaan (dolus/opzet)

Ada 3 (tiga) kesengajaan dalam hukum pidana:31

1) Kesengajaan sebagai maksud untuk mencapai tujuan (opzet als oogmerk) atau

dolus directus. Merupakan kesengajaan biasa yaitu perbuatan si pembuat

bertujuan untuk menimbulkan akibat yang dilarang.

2) Kesengajaan dengan sadar kepastian (opzet met zekerheidsbewustzijn).

Mempunyai dua akibat yaitu akibat yang memang dituju si pembuat dan akibat

yang tidak diinginkan tetapi merupakan suatu keharusan untuk mencapai tujuan

dimana akibat itu pasti timbul atau terjadi.

3) Kesengajaan dengan sadar kemungkinan (voorwaardelijk opzet) atau dolus

eventualis. Ada keadaan tertentu yang semula mungkin terjadi kemudian

benar-benar terjadi.

b. Kurang hati-hati (kealpaan/culpa)

Kurang hati-hati/kealpaan (culpa) arti dari alpa adalah kesalahan pada umumnya,

tetapi dalam ilmu pengetahuan mempunyai arti teknis yaitu suatu macam

kesalahan si pelaku tindak pidana yang tidak seberat seperti kesengajaan yaitu

kurang berhati-hati, sehingga berakibat yang tidak disengaja terjadi.32

(24)

3. Alasan penghapus pidana

Terdapat 2 (dua) alasan penghapus pidana yaitu :33

a. Alasan tidak dapat dipertanggungjawabkannya seseorang yang terletak pada diri

orang itu, dan

b. Alasan tidak dapat diprtanggungjawabkannya seseorang yang terletak di luar

orang itu.

Ilmu pengetahuan hukum pidana juga mengadakan pembedaan lain terhadap alasan

penghapus pidana sejalan dengan pembedaan antara dapat dipidananya perbuatan

dan dapat dipidananya pembuat. Penghapusan pidana dapat menyangkut perbuatan

atau pembuatnya, maka dibedakan 2 (dua) jenis alasan penghapus pidana , yaitu :34

1. Alasan pembenar yaitu menghapuskan sifat melawan hukumnya perbuatan,

meskipun perbuatan ini telah memenuhi rumusan delik dalam undang-undang.

Kalau perbuatannya tidak bersifat melawan hukum maka tidak mungkin ada

pemidanaan.

2. Alasan pemaaf atau alasan penghapus kesalahan yaitu menyangkut pribadi si

pembuat, dalam arti bahwa orang tidak dapat dicela atau ia tidak bersalah atau

tidak dapat dipertanggungjawabkan, meskipun perbuatannya bersifat melawan

hukum. Di sini ada alasan yang menghapuskan kesalahan si pembuat, sehingga

tidak dipidana.

33

(25)

Dalam hukum pidana tidak semua orang yang telah melakukan tindak pidana dapat

dipidana, hal ini terkait dengan alasan pemaaf dan alasan pembenar. Alasan pemaaf

yaitu suatu alasan tidak dapat dipidananya seseorang dikarenakan keadaan orang

tersebut secara hukum dimaafkan. Hal ini dapat dilihat dalam Pasal 44, 48, dan 49

ayat (2) KUHP.

Pasal 44 KUHP berbunyi:

a. Barangsiapa melakukan perbuatan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan

kepadanya karena jiwanya cacat dalam pertumbuhan atau targanggu karena

penyakit, tidak dipidana.

b. Jika ternyata perbuatannya itu tidak dapat dipertanggungkan kepada pelakunya

karena pertumbuhan jiwanya cacat atau terganggu karena penyakit, maka hakim

dapat memerintahkan supaya orang itu dimasukkan ke rumah sakit jiwa, paling

lama satu tahun sebagai waktu percobaan.

c. Ketentuan dalam ayat (2) hanya berlaku bagi Mahkamah Agung, pengadilan

Tinggi, dan Pengadilan Negeri.

Pasal 44 KUHP berbunyi barangsiapa melakukan perbuatan karena pengaruh daya

paksa, tidak dipidana.

Pasal 49 ayat (2) KUHP berbunyi:

a. Tidak dipidana, barangsiapa melakukan perbuatan pembelaan terpaksa untuk diri

(26)

orang lain, karena serangan atau ancaman serangan yang sangat dekat pada saat

itu yang melawan hukum.

b. Pembelian terpaksa yang melampaui batas, yang langsung disebabkan oleh

keguncangan jiwa yang hebat karena serangan atau ancaman serangan itu tidak

dipidana.

Pasal 50 KUHP menyatakan bahwa barangsiapa melakukan perbuatan untuk

melaksanakan ketentuan Undang-Undang, tidak dipidana.

Pasal 51 KUHP berbunyi:

a. Barangsiapa melakukan perbuatan untuk melaksanakan perintah jabatan yang

diberikan oleh penguasa yang berwenang, tidak dipidana.

b. Perintah jabatan tanpa wewenang, tidak menyebabkan hapusnya pidana, kecuali

dalam lingkungan pekerjaannya.

Menurut Van Hammel, pada delik-delik yang oleh undang-undang telah disyaratkan

bahwa delik-delik itu harus dilakukan dengan sengaja, opzet itu hanya dapat

dtujukan kepada:35

a. Tindakan-tindakan, baik tindakan untuk melakukan sesuatu maupun tindakan

untuk tidak melakukan sesuatu.

b. Tindakan untuk melakukan suatu akibat yang dilarang oleh undang-undang.

c. Dipenuhi unsur-unsur selebihnya dari delik yang bersangkutan.

35

(27)

Tindakan kesengajaan (dolus/opzet) sudah pasti harus dipertanggungjawabkan oleh

pelaku karena pelaku telah melakukan kesalahan yang menurut aturan dasar hukum

pidana “tidak ada pidana tanpa kesalahan”.

Berdasarkan hal di atas, dapat diketahui bahwa pertanggungjawaban pidana dalam

hukum pidana ada 2 (dua) macam yaitu yang dilakukan karena kesengajaan

(dolus/opzet) dan kealpaan (culpa). Pertanggungjawaban pidana yang terjadi akibat

kealpaan atau kurang hati-hati hukumannya juga tidak seberat seperti

pertanggungjawaban pidana yang disebabkan oleh kesengajaan, karena tindak pidana

kealpaan terjadi diakibatkan dengan ketidaksengajaan.

Suatu perbuatan yang oleh hukum peraturan telah disebut secara tegas sebagai suatu

pelanggaran ketertiban umum. Jadi, ada kemungkinan seseorang melakukan

perbuatan yang pada hakikatnya merupakan kejahatan, tetapi karena tidak disebutkan

oleh hukum sebagai suatu pelanggaran ketertiban umum, ia menjadi tidak terhukum.

D. Sanksi Pidana Terhadap Pelaku Perbuatan Tidak Menyenangkan

Sanksi mengandung inti berupa suatu ancaman pidana (strafbedreiging) kepada

mereka yang melakukan pelanggaran norma. Sanksi mempunyai tugas agar norma

yang sudah ditetapkan ditaati dan dilaksanakan. Sanksi merupakan alat pemaksa agar

seseorang menaati norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Adapun sanksi

dari pelanggaran norma-norma adalah sebagai berikut:36

36

(28)

a. Sanksi terhadap pelanggaran norma kesusilaan ialah bahwa pelanggar akan

dikucilkan dari pergaulan masyarakat.

b. Sanksi terhadap pelanggaran norma kesopanan ialah bahwa pelanggar kelak akan

mendapat siksa di akhirat.

c. Sanksi terhadap pelanggaran norma kesopanan ialah bahwa pelanggar akan

mendapatkan perlakuan yang tidak terhormat dalam pergaulan masyarakat.

d. Sanksi terhadap pelanggaran norma hukum ialah bahwa pelanggar akan

mendapatkan sanksi sebagai alat pemaksa yaitu diserahkan kepada pemerintah

atau penguasa.

Dari sanksi di atas tampak bahwa sanksi norma lainnya, yaitu menyerahkan

pelanggaran kepada penguasa. Sanksi norma hukum mencakup sanksi norma hukum

tata negara, administrasi negara, dan sanksi norma hukum pidana.

Seperti telah dikatakan di atas, sanksi mengandung inti berupa suatu ancaman

pidana, dan mempunyai peran agar aturan yang sudah ditetapkan itu diataati. Jika

sanksi itu merupakan alat pemaksa yang berfungsi sebagai alat preventif, dan

sekaligus sebagai alat refresif bila terjadi suatu pelanggaran hukum.

Berkenaan dengan perbuatan tidak menyenangkan maka bagi pelakunya dikenakan

sanksi pidana sebagaimana diatur dalam Bab XVIII tentang Kejahatan.

Terhadap Kemerdekaan Orang Pasal 335 ayat (1) ke-1 KUHP yang rumusannya

(29)

(1) Diancam dengan pidana penjara lama satu tahun atau denda paling banyak tiga

ratus rupiah;

Ke-1: Barangsiapa secara melawan hukum memaksa orang lain supaya melakukan

atau membiarkan sesuatu, dengan memakai kekerasan, sesuatu perbuatan lain

maupun perlakuan yang tidak menyenangkan, atau dengan memakai ancaman

kekerasan, sesuatu perbuatan lain maupun perlakuan yang tidak menyenangkan,

baik terhadap orang itu sendiri atau orang lain.

Sebagaimana telah disebutkan di atas, bahwa perbuatan tidak menyenangkan

tersebut dimasukkan dalam KUHP, hal ini karena menyangkut kemerdekaan

ditafsirkan ialah agar jangan terjadi perbuatan balas membalas atau main hakim

sendiri antara pelaku dan korban. Hukum positif menciptakan cara membuat

keseimbangan yaitu untuk menetralisir perasaan yang tidak enak tersebut, perlu

campur tangan institusi penengah yaitu peradilan agar pihak yang lemah terlindungi,

dan pihak yang kuat disadarkan.

E. Dasar Pertimbangan Putusan Pengadilan

Menjatuhkan suatu putusan perlu ada dasarnya, sebab kalau tidak (menjatuhkan

putusan tanpa alasan-alasan yang kuat), dapat berakibat fatal. Antara lain putusan itu

tidak akan dipatuhi secara iklas oleh yang dikenal putusan, karena hati nurani dan

(30)

karena terpaksa dan hatinya akan selalu menentang, sementara masyarakat tidak

akan pernah menjadikannya pegangan disebabkan tidak adilnya putusan tersebut.

Mengenai putusan pengadilan ini, disebutkan dalam Pasal 50 ayat (1) dan Pasal 53

ayat (2) Undang-undang No.48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman yang

berbunyi sebagai berikut:

“Putusan pengadilan selain harus memuat alasan dan dasar putusan, juga memuat

pasal tertentu dari peraturan perundang-undangan yang bersangkutan atau sumber

hukum tak tertulis yang dijadikan dasar untuk mengadili”.

“Penetapan dan pututsan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memuat

pertimbangan hukum hakim yang didasarkan pada alasan dan dasar hukum yang

tepat dan benar”.

Ketentuan putusan pengadilan ini tidak hanya diadasarkan pada dasar hukum tertulis

juga harus didasarkan pada sumber hukum tak tertulis. Oleh karena itu, untuk dapat

memutus suatu perkara dengan adil, tidak bisa kita mengabaikan aspirasi yang

sedang tumbuh dalam masyarakat. Dengan kata lain, berhasilnya kita menumbuhkan

wibawa hukum banyak bergantungan pada kemampuan hakim kmembaca keadaan

lingkungan social. Artinya, para hakim harus mampu menyerap aspirasi masyarakat

dan menjadikannya sebagai pertimbangan dalam menjatuhkan putusan.

Mengenai pelaksanaan putusan pengadilan pada Pasal 270 KUHAP ditegaskan

(31)

“Pelaksanaan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap

dilakukan oleh jaksa yang untuk itu panitera mengirimkan salinan surat putusan

kepadanya”.

Sebagaimana tersebut pada Pasal 270 KUHAP di atas, jaksalah yang melaksanakan

putusan pengadilan. Dalam pelaksanaan keputusan pengadilan ini dengan tegas

KUHAP menyebut “Jaksa”, berbeda pada penuntutan seperti penahanan, ini berate

jaksa yang tidak menjadi penuntut umum utuk suatu perkara boleh melaksakan

keputusan pengadilan.

Penuntut umum dan hakim dalam persidangan, berusaha untuk membuktikan dan

memeriksa melalui alat-alat bukti tentang apakah perbuatan terdakwa telah atau tidak

memenuhi unsur-unsur yang dirumuskan dalam pasal undang-undang tentang tindak

pidana. Apabila ternyata perbuatan terdakwa memenuhi unsur-unsur dari setiap pasal

yang dilanggar, berarti terbuktilah menurut hukum kesalahan terdakwa melakukan

perbuatan seperti dalam pasal yang didakwakan kepadanya.

Menurut Pasal 197 huruf f KUHAP salah satu yang harus dimuat dalam surat

putusan pemidanaan adalah pasal peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar

pemidanaan. Pasal-pasal yang didakwakan oleh penuntut umum menjadi dasar

(32)

Menurut Sudarto, perkataan Pemidanaan itu adalah sinonim dengan perkataan

penghukuman, yaitu:37

“Penghukuman itu berasal dan kata dasar hukum, sehingga dapat diartikan sebagai

menetapkan hukum atau memutuskan tentang hukumnya. Penetapkan hukum untuk

suatu peristiwa itu tidak hanya menyangkut bidang hukum pidana saja, akan tetapi

juga hukum perdata. OIeh karena tulisan ini berkisar pada hukum pidana, maka

istilah tesebut harus disempitkan artinya yakni penghukuman dalam perkara pidana,

yang kerapkali sinonim dengan pemidanaan atau pemberian atau penjatuhan pidana

oleh hakim”.

Adapun dasar pembenaran dan tujuan pemidanaan pada umumnya dibagi dalam 3

(tiga) kelompok teori, yaitu:38

a. Teori Absolut atau Teori Pembalasan (vergeldings theorien)

Tokoh-tokoh terkenal yang mengemukakan teori pembalasan ini antara lain adalah

Kant dan Kegel. Mereka menganggap bahwa hukuman itu adalah suatu akibat

dilakukannya suatu kejahatan. Sebab, melakukan kejahatan maka akibatnya harus

dihukum. Hukuman itu bersifat mutlak bagi yang melakukan kejahatan. Semua

perbuatan yang berlawanan dengan keadilan harus menerima pembalasan. Manfaat

hukuman bagi masyarakat bukanlah hal yang menjadi pertimbangan tetapi hukuman

harus dijatuhkan.

P.A.F Lamitag, Hukum Penitensier Indonesia, CV. Armico, Bandung, 1984, hlm. 49.

(33)

b. Teori Relatif atau Teori Tujuan (Doel Theorien)

Para pengajar teori relatif ini tidak melihat hukuman itu sebagai pembalasan, dan

karena itu tidak mengakui bahwa hukurnan itu sendirilah yang menjadi tujuan

penghukuman, melainkan hukuman itu adalah suatu cara untuk mencapai tujuan

yang daripada pemidanaan itu sendiri. Hukuman, dengan demikian mempunyai

tujuan, yaitu untuk melindungi ketertiban. Para pengajar teori relatif itu menunjukan

tujuan hukuman sebagai usaha untuk mencegah terjadinya pelanggaran hukum.

Dengan demikian maka hukuman itu mempunyai dua sifat, yaitu sifat prevensi

umum dan sifat prevensi khusus. dengan prevensi umum, orang akan menahan diri

untuk melakukan kejahatan. Sedangkan pada prevensi khusus, para penganjurnya

menitikberatkan bahwa hukuman itu bertujuan untuk mencegah orang yang telah

dijatuhi hukuman untuk tidak mengulangi lagi perbuatannya. Selanjutnya bagi

mereka yang hendak melakukan pelanggaran akan mengurungkan maksudnya

sehingga pelanggaran tidak dilaksanakan.

c. Teori Gabungan / Modern (Vereningings Theorien)

Teori gabungan atau teori modern merupakan kombinasi teori absolut dan teori

retatif. Teori ini mensyaratkan bahwa pemidanaan itu selain memberikan penderitaan

jasmani juga psikologis dan terpenting adalah memberikan pemidanaan dan

(34)

III. METODE PENELITIAN

A. Pendekatan masalah

Penulisan skripsi ini mengunakan metode pendekatan yuridis normatif dan pendekatan yuridis empiris. Pendekatan yuridis normatif dilakukan dengan mempelajari dan menelaah teori-teori, konsep-konsep serta peraturan yang berkaitan dengan pokok bahasan. Pendekatan yuridis empiris yaitu dengan mengumpulkan data primer yang diperoleh secara langsung melalui penelitian terhadap objek dengan cara observasi dan wawancara dengan responden dan narasumber yang berhubungan dengan permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini.

B. Sumber dan Jenis Data

Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

(35)

38

2. Data sekunder, yaitu data yang diperoleh dari penelitian kepustakaan. Data sekunder diperoleh dengan mempelajari dan mengkaji literatur-literatur dan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan Analisis Putusan Hakim terhadap Pertanggungjawaban Pidana Perbuatan Tidak Menyenangkan.

3. Data sekunder dalam penelitian ini terdiri dari:

a. Bahan hukum Primer, yaitu bahan-bahan hukum yang mengikat, antar lain: KUHP, KUHAP,dan sebagainya.

b. Bahan hukum sekunder, yaitu bahan hukum yang erat hubungannya dengan bahan hukum primer, seperti rancangan undang-undang, hasil-hasil penelitian, dan petunjuk pelaksanaan maupun teknis yang berkaitan dengan Analisis Putusan Hakim terhadap Pertanggungjawaban Pidana Perbuatan Tidak Menyenangkan.

c. Bahan hukum tersier, yaitu bahan hukum penunjang yang mencakup bahan- bahan yang memberi petunjuk dan penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder, seperti bibliografi, ensiklopedi, kamus dan sebagainya.

(36)

39

Populasi adalah jumlah keseluruhan dari seluruh unit analisa yang ciri-cirinya akan diduga.38 Karena masalah perbuatan tidak menyenangkan ini menyangkut masalah penegakan hukum dan eksistensi hukum pidana terhadap masyarakat, maka yang menjadi populasi adalah para penegak hukum dan instansi terkait yang menangani masalah ini,tokoh masyarakat, dan akademisi hukum.

Penentuan sample, digunakan metode “proposional purposive sampling”, yaitu penentuan sekelompok subjek yang didasarkan atas pertimbangan maksud dan tujuan yang telah ditetapkan serta seuai ciri-ciri tertentu pada masing-masing responden yang di pandang mempunyai sangkut paut yang erat dengan ciri-ciri populasi. Berdasarkan metode sampling tersebut diatas, maka yang menjadi sample responden dalam penelitian ini adalah :

1. Dosen Fakultas Hukum jurusan Pidana : 1 orang

2. Advokad atau Pengacara : 1 orang

3. Hakim Pengadilan Negeri Kelas I Tanjung Karang : 1 orang +

Jumlah 3 orang

D. Prosedur Pengumpulan dan Pengolahan Data 1. Prosedur Pengumpulan Data

a. Studi Kepustakaan

Studi Kepustakaan adalah prosedur yang dilakukan dengan serangkaian kegiatan seperti membaca, menelaah dan mengutip dari buku-buku literatur

38

(37)

40

serta melakukan pengkajian terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan terkait dengan permasalahan.

b. Studi Lapangan

Studi lapangan adalah prosedur yang dilakukan dengan kegiatan wawancara (interview) kepada responden penelitian sebagai usaha mengumpulkan berbagai data dan informasi yang dibutuhkan sesuai dengan permasalahan yang dibahas dalam penelitiaan.

2. Prosedur Pengolahan Data

Pengolahan data dilakukan untuk mempermudah analisis yang telah diperoleh sesuai dengan permasalahan yang diteliti. Pengolahan data dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:

a. Seleksi data, adalah kegiatan pemeriksaan untuk mengetahui kelengkapan data, selanjutnya data dipilih sesuai dengan permasalahan yang diteliti dalam penelitian ini.

b. Klasifikasi data, adalah kegiatan penempatan data menurut kelompok-kelompok yang telah ditetapkan dalam rangka memperoleh data yang benar-benar diperlukan dan akurat untuk dianalisis lebih lanjut.

(38)

41

d. Sistematika yaitu data yang telah diklasifikasikan kemudian ditempatkan sesuai dengan posisi pokok permasalahan secara sistematis.

E. Analisis Data

(39)

V. PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan atas penelitian yang telah dilakukan sebagaimana telah

dijelaskan pada Bab sebelumnya maka penulis mengambil kesimpulan sebagai

berikut;

1. Berdasarkan perkara Nomor: 155/Pid/B/2012/PNTK, yang menjadi dasar

pertanggungjawaban pidana adalah apabila pelaku tindak pidana terbukti

memenuhi unsur pertanggungjawaban pidana yaitu adanya perbuatan, adanya

peraturan perundang-undangan yang dilanggar, dan adanya kesalahan yang

dilakukan pelaku, dan juga berdasarkan dengan fakta-fakta yang terjadi pada

persidangan yang menunjukkan bahwa pelaku adalah orang yang mampu

bertanggungjawab atas kesalahannya dan hakim juga tidak menemukan

sesuatu alasan penghapusan pidana bagi pelaku maka sudah selayaknya

pelaku tindak pidana mempertanggungjawabkan perbuatan pidananya.

2. Berdasarkan putusan Pengadilan Negeri Tanjung Karang Nomor :

155/Pid/B/2012/PNTK, yang menjadi dasar pertimbangan hakim dalam

penjatuhan putusan pidana adalah dilihat dari empat unsur yaitu fakta hukum

(40)

keadilan, serta kayakinan dari hakim sendiri dalam memutuskan pidana bagi

terdakwa dengan sepantasnya. Maka dengan seadil-adilnya hakim

memutuskan terhadap terdakwa dalam putusan tersebut diatas dengan

masing-masing 8 (delapan) bulan pidana perjara dengan masa percobaan

selama 10 (sepuluh) bulan. Hakim dalam menjatuhkan pidana tersebut

menggunakan teori gabungan sebagai tujuan pemidanaan, yaitu selain

sebagai sarana pembalasan terhadap terdakwa agar menimbulkan efek jera

juga sebagai pencegahan agar tidak terjadi hal serupa di masyarakat.

B. Saran

Berdasarkan penelitian yang telah penulis lakukan, maka penulis memberikan

beberapa saran yang diharapakn dapat berguna:

1. Perbuatan yang dilakukan setiap orang haruslah didasari dengan rasa

tanggung jawab si pembuatnya. Apabila seseorang telah terbukti melakukan

tindak pidana dan terbukti dapat mempertanggungjawabkannya maka

penyesalanlah yang akan muncul dikemudian. Karena itu dalam melakukan

perbuatan dalam hal ini perbuatan pidana baiklah dipikirkan terlebih dahulu

apakah diri sendri dapat mempertanggungjawabkannya atau tidak.

2. Sekecil apapun perbuatan yang terjadi di masyarakat ada peraturannya. Maka

sebagai bagian dari masyarakat, haruslah berhati-hati dalam berbuat sesuatu

terutama yang merugikan orang lain. Karena pada dasarnya tidak semua

(41)

kekeluargaan. Masyarakat yang mengerti hukum akan menyelesaikan segala

perbuatan yang merugikannya ke jalur hukum. Untuk itu setiap masyarakat

hendaknya dapat mengerti hukum agar suatu saat tidak terjerat oleh hukum

(42)

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Negara Indonesia adalah Negara yang berdasarkan atas hukum (rechtstaat) bukan

berdasarkan atas kekuasaan (machtstaat). Demikianlah penegasan yang terdapat

dalam Undang-Undang Dasar 1945. Hal ini berarti bahwa Negara Indonesia

sebagaimana digariskan adalah Negara hukum yang demokratis berdasarkan

Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 dengan menjunjung tinggi Hak Asasi

Manusia dan menjamin kedudukan yang sama dan sederajat bagi setiap warga

negara dalam hukum dan pemerintahan, yang mana implementasi dari konsep

Negara hukum ini tertuang dalam Pasal 27 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945

yaitu: “Segala warga Negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan

pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada

kecualinya”.

Penegakan hukum akan dapat terlaksana dengan baik, benar dan adil apabila hukum

tidak dipengaruhi oleh kepentingan politik atau

kepentingan-kepentingan lainnya. Oleh karena itu, kekuasaan kehakiman yang merdeka atau

(43)

2

ini merupakan konsepsi ideologi yang dicetuskan bersamaan dengan revolusi yang

melahirkan aliran “Trias Politica”. Lahirnya faham Trias Politica sekaligus

memperkuat konsepsi “Negara Hukum” dan “Negara Demokratis” dengan semboyan

“Supremasi Hukum” (the law issupreme). Hukum berada di atas segala-galanya.

Pengoreksi supremasi hukum diberikan fungsi dan kewenangannya kepada

kekuasaan kehakiman yang merdeka dari pengaruh penguasa (executive power).1

Menurut Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman,

kekuasaan Kehakiman adalah kekuasaan negara yang merdeka untuk

menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan

Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, demi

terselenggaranya Negara Hukum Republik Indonesia. Hal ini memberi kewenangan

kepada badan peradilan menjadi “Katup Penekan” atau “preassure valve” atas setiap

pelanggaran hukum yang dilakukan siapa dan pihak manapun tanpa kecuali.

Kewenangan itu, meliputi pelanggaran atas segala bentuk perbuatan yang tidak

konstitusional (unconstitusional), ketertiban umum (public policy) dan kepatutan

(reasonableness). Sehubungan dengan kewenangan kekuasaan kehakiman dengan

sendirinya menempatkan kedudukan badan-badan peradilan sebagai “tempat

terakhir” atau “the last resort” dalam upaya penegakan kebenaran dan keadilan (to

inforce the treeth and justice).2

1

M. Yahya Harahap, Kekuasaan Kehakiman Yang Merdeka, Al-Hikmah, Jakarta, 1998, hlm. 38. 2

(44)

3

Lembaga pengadilan merupakan tumpuan dan harapan bagi semua pihak, karena di

tangan pengadilanlah (hakim) dipastikan berhak atau tidaknya seseorang terhadap

sesuatu, putus atau tidaknya hubungan seseorang, melanggar atau tidaknya sesorang.

Demikianlah misi pengadilan, yaitu untuk menegakkan keadilan, kebenaran,

ketertiban dan kepastian hukum. Dalam rangka menegakkan hukum dan keadilan

sehingga dapat memberikan pengayoman bagi masyarakat banyak bergantung pada

profesionalisme hakim, di samping pada aspek moral dan etika hakim, putusan yang

dijatuhkan harus mengandung tiga hal yang sangat essensial, yaitu keadilan

(Gerechtigheit), kemanfaatan (Zwechtighelt) dan kepastian (Rechsecherheit).

Menurut Leon Duguit, Hukum adalah semua aturan tingkah laku para anggota

masyarakat, aturan dan daya penggunaannya pada saat tertentu diindahkan oleh

anggota masyarakat sebagai jaminan dari kepentingan bersama dan jika yang

dilanggar menimbulkan reaksi bersama terhadap orang yang melakukan pelanggaran

itu.3 Jadi pada dasarnya hukum mengatur semua tingkah laku anggota masyarakat

baik sekecil apapun itu. Dalam kehidupan sehari-hari tidak asing kita dengar

ungkapan perbuatan tidak menyenangkan, akan tetapi banyak diantara kita

menganggap remeh ungkapan tersebut dan dianggap sebagai hal biasa, padahal

sesungguhnya masalah tersebut sangat besar menurut pandangan hukum. Dalam

hukum atau dalam pengertian hukum pidana pada khususnya, perbuatan tidak

menyenangkan dapat berakibat fatal bagi pelakunya jika perbuatan yang tidak

menyenangkan tersebut tidak disukai atau tidak dapat diterima oleh pihak yang

(45)

4

menjadi korban dari perbuatan yang tidak menyenangkan, memang akibat

perbuatannya tidak membahayakan jiwa korban atau penderita, akan tetapi ada

perasaan yang sungguh tidak enak dirasakan oleh si penderita atau korban, oleh

karenanya dari sudut pandang hukum positif, perbuatan yang tidak menyenangkan

sebagai ancaman terhadap kemerdekaan orang perorangan, dan oleh sebab itu hukum

positif perlu berperan aktif dan mengambil langkah-langkah penyelamatan,

perlindungan, pemulihan atas kejahatan dan pelanggaran terhadap kemerdekaan

orang. 4

Sebagai bukti bahwa perbuatan tidak menyenangkan yang dianggap remeh oleh

masyarakat yaitu diatur dalam hukum pidana perbuatan tidak menyenangkan

sebagaimana telah disebutkan dalam Pasal 335 KUHP tentang Perbuatan Tidak

Menyenangkan yang rumusannya berbunyi: 5

(1) Diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun atau denda paling

banyak empat ribu lima ratus rupiah;

Ke-1: Barangsiapa secara melawan hukum memaksa orang lain supaya

melakukan atau membiarkan sesuatu, dengan memakai kekerasan,

sesuatu perbuatan lain maupun perlakuan yang tak menyenangkan, atau

dengan memakai ancaman kekerasan, sesuatu perbuatan lain maupun

Perbuatan Tidak Menyenangkan, diakses dari http://www.tanyahukum.com/pidana/211/perbuatan-tidak-menyenangkan/ pada tanggal 13 Februari 2013, pukul 12.33

5

Supriyadi Widodo, Perbuatan Tidak Menyenangkan, diakses dari

(46)

5

perlakuan yang tak menyenangkan, baik terhadap orang itu sendiri atau

orang lain;

Ke-2: barangsiapa memaksa orang lain supaya melakukan, tidak melakukan

atau membiarkan sesuatu dengan ancaman pencemaran atau

pencemaran tertulis.

(2) Dalam hal diterangkan ke-2, kejahatan hanya dituntut atas pengaduan orang

yang terkena.

Perbuatan tidak menyenangkan dalam hal ini dikhususkan pada perampasan

kemerdekaan orang dapat menyebabkan kefatalan bahkan dapat merenggut nyawa

seseorang, karena berawal dari perbuatan yang tidak menyenangkan akan dapat

menimbulkan tindak pidana lainnya juga. Sebagai contoh kasus yang nyata terjadi

yaitu kasus yang terjadi pada tahun lalu tepatnya pada tanggal 30 September 2012

sekitar pukul 09.00 WIB bertempat di lingkungan kantor PT. Indomarco Adi Prima

yang beralamat di Jalan Tembesu Kel.Campang Raya Kec. Tanjung Karang Timur

Bandar Lampung, seorang karyawan PT. Indomarco Danan Widiyatmoko menjadi

korban perbuatan tidak menyenangkan yang dilakukan oleh atasannya R. Arief Setia

Budi dan Mujiarto Ari Tyas dalam kasus ini berstatus sebagai terdakwa. Korban

Danan ditahan dan disandera oleh kedua atasannya karena korban Danan yang

dengan tuduhan telah mengakui menggelapkan dana perusahaan sebesar Rp.

(47)

6

Setelah korban Danan mengakui menggelapkan uang perusahaan, korban Danan

diminta oleh kedua terdakwa untuk mengembalikannya. Karena korban Danan tidak

mampu untuk membayar uang tersebut maka atasannya tersebut memanggil keluarga

korban untuk datang ke kantor PT. Indomarco Adi Prima dengan maksud

menyelesaikannya secara kekeluargaan. Setelah terjadi perundingan antara pihak

perusahaan dan keluarga Danan, maka disepakati pihak keluarga harus menyetujui

untuk menandatangani surat perjanjian yang berisi “Bahwa saksi korban mengakui

telah menggelapkan uang perusahaan dan bersedia mengganti sebesar Rp.

34.299.000,- (tiga puluh empat juta dua ratus sembilan puluh sembilan ribu rupiah)

pada hari Senin tanggal 03 Oktober 2011 dan sambil menunggu hari Senin tanggal

03 Oktober 2011 saksi korban bersedia tinggal di pos satpam atas kemauan sendiri”.

Orang tua korban Danan kembali ke kantor PT. Indomarco setelah lewat 3 (tiga) hari

kurun waktu perjanjian yang telah disepakati untuk menyerahkan uang sebesar Rp.

34.299.000,- (tiga puluh empat juta dua ratus sembilan puluh sembilan ribu rupiah).

Sebelum orang tua korban Danan memberikan uang tersebut kepada kedua terdakwa,

orang tua korban meminta terdakwa untuk memberikan bukti bahwa korban Danan

telah benar menggelapkan uang perusahaan. Karena kedua terdakwa tidak dapat

meberikan bukti yang diminta dan tidak terjadi kesepakatan maka keluarga korban

Danan pada akhirnya melaporkan peristiwa perampasan kemerdekaan tersebut ke

Polresta Bandar Lampung.

Contoh kasus tersebut diatas membuktikan bahwa perbuatan tidak menyenangkan

(48)

7

Berawal dari perbuatan tidak menyenangkan yaitu merampas kemerdekaan orang

dapat mengakibatkan dilakukannya perbuatan pidana lain oleh para pelaku perbuatan

tidak menyenangkan, bahkan dapat menyebabkan hilangnya nyawa seseorang.

Berdasarkan penjelasan perbuatan tidak menyenangkan dan cotoh kasus yang

dijelaskan diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dan menyusun

skripsi dengan judul “Pertanggungjawaban Pidana Perbuatan Tidak Menyenangkan

(Studi Putusan Pengadilan Nomor : 155/Pid/B/2012/PNTK)”.

B. Permasalahan dan Ruang Lingkup

1. Permasalahan

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, maka penulis merumuskan

masalah untuk mempermudah pemahaman terhadap permasalahan yang akan

dibahas serta untuk lebih mengarahkan pembahasan. Adapun permasalahan yang

akan dikaji adalah sebagai berikut:

a. Bagaimanakah pertanggungjawaban pidana terhadap pelaku perbuatan tidak

menyenangkan?

b. Apakah yang menjadi dasar pertimbangan hakim dalam menjatuhkan putusan

pidana perbuatan tidak menyenangkan kepada pelaku tindak pidana?

2. Ruang Lingkup

Berdasarkan permasalahan yang diajukan, agar tidak terlalu luas dan tidak terjadi

(49)

8

skripsi ini, hanya terbatas pada permasalahan pertanggungjawaban pidana dan yang

menjadi dasar pertimbangan hakim dalam menjatuhkan pidana terhadap pelaku

perbuatan tidak menyenangkan dalam perkara No. 115/Pid/B/2012/PNTK yang

berlokasi di wilayah Pengadilan Negeri Kelas 1 A Tanjung Karang.

C. Tujuan dan Kegunaan Penulisan

1. Tujuan Penulisan

Berdasarkan permasalahan diatas, maka tujuan penelitian adalah:

1. Untuk mengetahui tentang pertanggungjawaban pidana terhadap pelaku

perbuatan tidak menyenangkan.

2. Untuk mengetahui tentang dasar pertimbangan Hakim menjatuhkan putusan

pidana perbuatan tidak menyenangkan kepada pelaku dalam Keputusan

Pengadilan Negeri No : 115/Pid/B/2012/PNTK.

2. Kegunaan Penulisan

a. Secara Teoritis

Penelitian ini akan memperluas perkembangan ilmu hukum dan dapat

memberikan pemikiran ilmu pengetahuan khususnya ilmu hukum pidana dalam

penanggulangan tindak pidana perbuatan tidak menyenangkan dan mengenai

(50)

9

b. Secara Praktis

Secara praktis kegunaan yang diperoleh dari penulisan ini yaitu untuk menambah

wawasan dan bahan bacaan serta memberikan informasi kepada pihak lain

mengenai ketentuan hukum pidana yang berlaku di Indonesia yang berkaitan

dengan tindak pidana perbuatan tidak menyenangkan.

D. Kerangka Teoritis dan Konseptual

1. Kerangka Teoritis

Kerangka teoritis adalah konsep yang sebenarnya merupakan abstraksi dari

hasil-hasil pemikiran atau kerangka acuan yang pada dasarnya untuk mengadakan

identifikasi terhadap dimensi yang dianggap relevan oleh peneliti.6 Teori yang

penulis gunakan untuk menjawab permasalahan ini yaitu teori pertanggungjawaban

pidana dan teori dasar pertimbangan hakim.

Pertanggungjawaban adalah sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan atas

perbuatan yang telah dilakukan, yaitu perbuatan yang tercela oleh masyarakat dan itu

dipertanggungjawabakan oleh si pembuatnya dengan kata lain kesadaran jiwa orang

yang dapat menilai, menentukan kehendaknya, tentang perbuatan tindak pidana yang

dilakukan berdasarkan putusan yang berkekuatan hukum tetap. Moeljatno

menyatakan bahwa pertanggungjawaban pidana tidak cukup dengan dilakukan

perbuatan pidana saja, akan tetapi disamping itu harus ada kesalahan atau sikap batin

yang dapat dicela, dan mengacu pada hukum yang tidak tertulis yaitu tidak dipidana

6 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum,

(51)

10

jika tidak ada kesalahan (green straf zonder schuld, ohne schuld keine strafe).7

Kaitannya dengan pernyataan Moeljatno di atas, kesalahan memiliki 3 unsur yaitu:8

1. Kemampuan bertanggung jawab

Moeljatno menyimpulkan bahwa untuk adanya kemampuan bertanggung jawab

harus ada:

a. Kemampuan untuk membeda-bedakan antara perbuatan yang baik dan yang

buruk, sesuai dengan hukum dan yang melawan hukum (faktor akal);

b. Kemampuan untuk menentukan kehendaknya menurut keinsyafan tentang baik

dan buruknya perbuatan tadi (faktor perasaan/kehendak).

2. Kesengajaan (dolus) & Kealpaan (culpa)

a. Kesengajaan (dolus/opzet)

Ada 3 (tiga) kesengajaan dalam hukum pidana:9

1) Kesengajaan sebagai maksud untuk mencapai tujuan (opzet als oogmerk) atau

dolus directus. Merupakan kesengajaan biasa yaitu perbuatan si pembuat

bertujuan untuk menimbulkan akibat yang dilarang.

2) Kesengajaan dengan sadar kepastian (opzet met zekerheidsbewustzijn).

Mempunyai dua akibat yaitu akibat yang memang dituju si pembuat dan akibat

Pipin Syarifin, Hukum Pidana di Indonesia, Pustaka Setia, Bandung, 2000, hlm.. 73. 8

(52)

11

yang tidak diinginkan tetapi merupakan suatu keharusan untuk mencapai tujuan

dimana akibat itu pasti timbul atau terjadi.

3) Kesengajaan dengan sadar kemungkinan (voorwaardelijk opzet) atau dolus

eventualis. Ada keadaan tertentu yang semula mungkin terjadi kemudian

benar-benar terjadi.

b. Kurang hati-hati (kealpaan/culpa)

Kurang hati-hati/kealpaan (culpa) arti dari alpa adalah kesalahan pada umumnya,

tetapi dalam ilmu pengetahuan mempunyai arti teknis yaitu suatu macam

kesalahan si pelaku tindak pidana yang tidak seberat seperti kesengajaan yaitu

kurang berhati-hati, sehingga berakibat yang tidak disengaja terjadi.10

3. Alasan penghapus pidana

Terdapat 2 (dua) alasan penghapus pidana yaitu :11

a. Alasan tidak dapat dipertanggungjawabkannya seseorang yang terletak pada diri

orang itu, dan

b. Alasan tidak dapat diprtanggungjawabkannya seseorang yang terletak di luar

orang itu.

Ilmu pengetahuan hukum pidana juga mengadakan pembedaan lain terhadap alasan

penghapus pidana sejalan dengan pembedaan antara dapat dipidananya perbuatan

Ibid.

(53)

12

dan dapat dipidananya pembuat. Penghapusan pidana dapat menyangkut perbuatan

atau pembuatnya, maka dibedakan 2 (dua) jenis alasan penghapus pidana , yaitu :12

1. Alasan pembenar yaitu menghapuskan sifat melawan hukumnya perbuatan,

meskipun perbuatan ini telah memenuhi rumusan delik dalam undang-undang.

Kalau perbuatannya tidak bersifat melawan hukum maka tidak mungkin ada

pemidanaan.

2. Alasan pemaaf atau alasan penghapus kesalahan yaitu menyangkut pribadi si

pembuat, dalam arti bahwa orang tidak dapat dicela atau ia tidak bersalah atau

tidak dapat dipertanggungjawabkan, meskipun perbuatannya bersifat melawan

hukum. Di sini ada alasan yang menghapuskan kesalahan si pembuat, sehingga

tidak dipidana.

Fungsi utama seorang hakim adalah memberikan putusan terhadap perkara yang

diajukan kepadanya, dimana dalam perkara pidana hal itu tidak lepas dari sistem

pembuktiann negatif (negative wetterlijke) yang pada prinsipnya menentukan bahwa

suatu hak atau peristiwa atau kesalahan dianggap telah terbukti, disamping adanya

alat-alat bukti menurut undang-undang juga ditentukan keyakinan hakim yang

dilandasi dengan integritas moral yang baik.13

Ibid.

(54)

13

Menurut Mackenzie, ada enam teori pendekatan yang dapat digunakan oleh hakim

dalam mempertimbangkan penjatuhan putusan dalam suatu perkara, yaitu:14

1. Teori Keseimbangan

Maksud dari keseimbangan dalam hal ini adalah keseimbangan antara syarat-syarat

yang ditentukan oleh undang-undang dan kepentingan piihak-pihak yang tersangkut

atau berkaitan dengan kepentingan masyarakat, kepentingan terdakwa dan

kepentingan korban, atau kepentingan pihak penggugat dan pihak tergugat.

2. Teori Pendekatan Seni dan Intuisi

Penjatuhan putusan oleh hakim merupakan kewenangan dari hakim dengan

menyesuaikan pada keadaan dan hukuman yang wajar bagi setiap pelaku tindak

pidana, yaitu pihak terdakwa dan penuntut umum. Pendekatan seni digunakan oleh

hakim dalam penjatuhan putusan yang lebih ditentukan oleh instink atau intuisi atau

juga dapat dikatakan prediksi dari pengetahuan hakim.

3. Teori Pendekatan Keilmuan

Pendekatan keilmuan ini merupakan semacam peringatan bahwa dalam memutuskan

suatu perkara, hakim tidak boleh semata-mata atas dasar intuisi atau instink semata,

tetapi harus dilengkapi dengan ilmu pengetahuan hukum dan juga wawasan

keilmuan hakim dalam menghadapi suatu perkara yang harus diputuskan.

(55)

14

4. Teori Pendekatan Pengalaman

Pengalaman seorang hakim merupakan hal yang dapat membantunya menghadapi

perkara-perkara yang dihadapinya sehari-hari, karena dari pengalaman yang

dimilikinya seorang hakim dapat mengetahui bagaimana dampak dari putusan yang

dijatuhkan dalam suatu perkara pidana yang berkaitan dengan pelaku dan juga

masyarakat.

5. Teori Retio Decidendi

Teori ini didasarkan pada landasan filsafat yang mendasar, yang mempertimbangkan

segala aspek yang berkaitan dengan pokok perkara dan kemudian mencari peraturan

perundang-undangan yang relevan dengan perkara sebagai dasar hukum dalam

penjatuhan putusan, serta pertimbangan hakim harus didasarkan pada motivasi yang

jelas untuk menegakkan hukum dan membersihkan keadilan bagi pihak yang

berperkara.

6. Teori Kebijaksanaan

Landasan dari teori ini menekankan rasa cinta terhadap tanah air, nusa, dan bangsa

Indonesia serta kekeluargaan harus dapat ditanam, dipupuk, dan dibina. Teori ini

diperkenalkan berkenaan dengan putusan hakim dalam perkara di peradilan anak.

Hakim dalam membuat putusan harus memperhatikan segala aspek di dalamnya,

mulai dari perlunya kehati-hatian, dihindari sekecil mungkin ketidakcermatan, baik

(56)

15

membuatnya. Oleh karena itu hakim tidak berarti dapat berbuat sesuka hatinya,

melainkan hakim juga harus mempertanggung jawabkan putusannya.15

Dalam memberikan putusan terhadap suatu perkara pidana, seharusnya putusan

hakim tersebut berisi alasan-alasan dan pertimbangan-pertimbangan yang bisa

memberikan rasa keadilan bagi terdakwa. Dimana dalam

pertimbangan-pertimbangan itu dapat dibaca motivasi yang jelas dari tujuan putusan diambil, yaitu

untuk menegakkan hukum (kepastian hukum) dan memberikan keadilan.16 Dalam

memberikan pertimbangan untuk memutuskan suatu perkara pidana diharapkan

hakim tidak menilai dari satu pihak saja sehingga dengan demikian ada hal-hal yang

patut dalam penjatuhan putusan hakim apakah pertimbangan tersebut memberatkan

ataupun meringankan pidana, yang melandasi pemikiran hakim, sehingga hakim

sampai pada putusannya.

Dalam hal ini, penulis lebih memfokuskan penelitian pada penjatuhan pidana dalam

tindak pidana perbuatan tidak menyenangkan. Dalam kehidupan sehari-hari kita

sering mendengar ungkapan perbuatan tidak menyenangkan, akan tetapi banyak

diantara kita tidak mengetahui tentang ancaman hukuman bagi pelaku tindak pidana

perbuatan tidak menyenangkan. Padahal sesungguhnya masalah tersebut diatur

dalam KUHP pada Pasal 335 ayat (1), yang rumusannya:

Diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun atau denda paling

banyak tiga ratus rupiah:

15

, Ibid, hlm. 94. 16

(57)

16

Ke-1 : Barangsiapa secara melawan hukum memaksa orang lain supaya melakukan,

tidak melakukan atau membiarkan sesuatu, dengan memakai kekerasan,

sesuatu perbuatan lain maupun perlakuan yang tak menyenangkan, atau

dengan memakai ancaman kekerasan, sesuatu perbuatan lain maupun

perlakuan yang tak menyenangkan, baik terhadap orang itu sendiri, maupun

orang lain.

Sesungguhnya konteks perbuatan yang diatur dalam pasal tersebut ada 2 hal yakni

perbuatan melawan hak dan pemaksaan atau memaksa orang dengan penistaan lisan

atau tulisan. Dengan memisahkan konteks perbuatan tidak menyenangkan tersebut

maka akan didapat suatu jawaban apakah benar penahanan seseorang tersangka

dalam perkara pidana perbuatan tidak menyenangkan telah mengacu pada suatu

alasan hukum seperti diduga keras melakukan tindak pidana berdasarkan bukti yang

cukup.

3. Konseptual

Konseptual adalah kerangka yang menggambarkan hubungan antara konsep-konsep

khusus yang merupakan kumpulan dari arti-arti yang berkaitan dengan istilah-istilah

yang ingin atau yang diteliti.17

Di dalam penulisan ini penulis akan menjelaskan pengertian-pengertian pokok yang

akan digunakan dalam penulisan dan penelitian ini sehingga mempunyai

batasan-batasan yang tepat tentang istilah-istilah dan maksudnya mempunyai tujuan untuk

(58)

17

menghindari kesalahpahaman dalam penulisan ini. Adapun pengertian-pengertian

yang berkaitan dengan penulisan skripsi ini adalah:

1. Pertanggungjawaban pidana menurut Pasal 34 Konsep Rancangan KUHP Baru

Tahun 2010/2011 adalah diteruskannya celaan yang objektif yang ada pada

tindak pidana dan secara subjektif kepada seseorang yang memenuhi syarat

untuk dapat dijatuhi pidana karena perbuatannya itu.18

2. Yang dimaksud dengan perbuatan tidak menyenangkan adalah yang tercantum

pada Pasal 335 ayat (1) KUHP yaitu seseorang yang secara melawan hukum

memaksa orang lain supaya melakukan, tidak melakukan atau membiarkan

sesuatu dengan memakai kekerasan, sesuatu perbuatan lain maupun perlakuan

yang tak menyenangkan atau memakai ancaman kekerasan, sesuatu perbuatan

lain maupun perlakuan yang tak menyenangkan baik terhadap orang itu sendiri

maupun orang lain.

E. Sistematika Penulisan

Untuk memudahkan penulisan skripsi ini, maka penulis menguraikan secara garis

besar materi yang dibahas dalam skripsi ini dalam sistematika sebagai berikut:

I. PENDAHULUAN

Berisikan latar belakang masalah, permasalahan dan ruang lingkup, tujuan dan

kegunaan pe

Referensi

Dokumen terkait

Perbuatan tidak menyenangkan adalah suatu tindak pidana yang terjadi antara individu dengan individu yang lain. Tindak pidana perbuatan tidak menyenangkan memang tidak

Perbuatan tidak menyenangkan adalah suatu tindak pidana yang terjadi antara individu dengan individu yang lain. Tindak pidana perbuatan tidak menyenangkan memang tidak

Perbuatan tidak menyenangkan adalah suatu tindak pidana yang terjadi antara individu dengan individu yang lain. Tindak pidana perbuatan tidak menyenangkan memang tidak

Berdasarkan kesimpulan maka yang menjadi saran penulis di dalam masalah pertanggungjawaban pidana pemberian kredit fiktif ini, yaitu dalam setiap memutuskan perkara

Berdasarkan penelitian dan pembahasan maka dapat disimpulakan bahwa (1) Pertanggungjawaban pidana pelaku tindak pidana penjualan obat-obatan tidak terdaftar di BPOM dalam

Amal Hayati : Pertanggungjawaban Pidana Atas Perbuatan Pidana Yang Dilakukan Anak-Anak (Studi…, 2006 USU Repository © 2008... Amal Hayati : Pertanggungjawaban Pidana Atas

Seperti kasus yang diteliti oleh penulis, dimana ingin diketahui bagaimanakah pertanggungjawaban pidana terhadap pelaku membantu pencurian kendaraan bermotor dan

Kesimpulan berisi ringkasan pembahasan permasalahan tentang pertanggungjawaban pidana korporasi dalam tindak pidana perdagangan orang dan saran yang dapat diberikan